Pemerintah bakal mengajukan gamelan sebagai warisan budaya tak benda dari Indonesia untuk dunia. Hal itu diungkapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy saat membuka Internasional Gamelan Festival (IGF) 2018 di Benteng Vastenburg Solo beberapa waktu lalu.
Muhadjir mengatakan rencana gamelan sebagai warisan budaya tak benda akan diajukan ke Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan dunia (UNESCO) tahun depan.
“Kemendikbud dan tim penilai untuk pengusulan warisan budaya tak benda indonesia ke UNESCO telah menetapkan gamelan untuk diajukan sebagai nominasi indonesia yang akan dikirim ke sekretariatan UNSECO pada maret 2019 dan nantinya akan dibahas tahun 2021,” kata Muhadjir, seperti dikutip Republika.co.id.
Ia pun meminta dukungan pada seluruh komunitas gamelan agar penyusunan naskah nominasi tersebut bisa diterima UNESCO. Sehingga, kesenian gamelan dapat masuk menjadi daftar representatif warisan budaya tak benda untuk kemanusiaan.
Sementara itu mengangkat tema homecoming, pembukaan IGF 2018 berlangsung meriah. Tiga komposer tanah air Rahayu Supanggah (Solo), I Wayan Gede Yudane (Bali), dan Taufiq Adam (Jakarta) sukses memukau penonton dengan sajian musik gamelan yang dipadukan dengan penampilan tari sesuai corak khasnya masing-masing.
Muhadjir mengatakan event yang berlangsung hingga 16 Agustus tersebut menjadi momentum silaturahmi para seniman gamelan dari berbagai penjuru tanah air bahkan dari luar negeri. Tak kurang dari 265 pengembang gamelan luar negeri dan 950 pengembang gamelan dalam negeri menjadi peserta IGF tahun ini.
“Saya beri apresiasi yang besar kepada maestro dan penggiat gamelan yang mengabdikan dirinya untuk terus berkarya dan mengembangkan kultur gamelan baik dari dalam maupun dari luar negeri. Festival ini memberikan ruang interaksi untuk dialog antar budaya tentang bagaimana spirit gamelan telah beresonansi melewati batas ilmu wilayah geografis maupun kelompok sosial,” katanya. (ist)
Sejumlah pekerja di Goa Grogol Bojonegoro. Foto: Antara Jatim/Slamet Agus Sudarmojo.
Kesatuan Pemangkutan Hutan (KPH) Bojonegoro mengembangkan kawasan hutan di Desa Ngunut, Kecamatan Dander, sebagai objek wisata karena memiliki potensi goa, sumber mata air, juga potensi yang lainnya.
“Pengembangan kawasan hutan di Ngunut sebagai objek wisata diltangani langsung Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH),” kata Administratur KPH Bojonegoro Daniel B Cahyono, di Bojonegoro, dikutip Antara Jatim.
Menurut dia, dalam pengembangan kawasan hutan sebagai objek LMDH harus menjalin perjanjian kerja sama (PKS) dengan Perhutani.
“Kawasan hutan Ngunut memiliki potensi yang bisa dikembangkan sebagai objek wisata, mulai lokasi goa, swafoto berupa pohon jati, batu besar, serta sejumlah potensi lainnya, seperti sumber mata air,” kata Ketua LMDH Desa Ngunut, Kecamatan Dander, Luskandam.
Di kawasan hutan setempat terdapat Goa Grogol yang terdiri dari tiga ruangan yang bisa menambah daya tarik wisdom berkunjung.
“Saat ini Goa Grogol dalam proses dibersihkan. Goa memiliki tiga ruangan,” ucapnya.
Selain itu, lanjut dia, LMHD juga mulai menanam 125 pohon Kelengkeng di kawasan setempat sejak empat bulan lalu.”Pohon Kelengkeng yang kami tanam juga bisa berkembang dengan normal. Perkiraan tiga tahun sudah berbuah,” ucapnya.
Ia menyebutkan kawasan hutan yang sudah ditangani LMDH untuk lokasi objek wisata srkitar 1,2 hektare, yang kemudian akan dikembangkan menjadi seluas 4 hektare juga di Ngunut.
Meskipun belum dikelola secara komersial, lanjut dia, lokasi kawasan hutan di Ngunut, acapkali memperoleh kunjungan wisatawan domestik (wisdom) yang datang untuk beristirahat karena lokasi setempat dipenuhi dengan pohon rimba yang besar.
“Lokasi disini baru saja dimanfaatkan untuk “outbond” para pelajar. Rencananya kalau sudah tertata pengunjung akan dikenai biaya karcis hanya Rp 2.000 per pengunjung,” ucapnya.
Tidak hanya itu, menurut Kepala Resor Pemangkuan Hutan (RPH Grogolan) di Kecamatna Dander, KPH Bojonegoro Hari Prihanto, di lokasi Ngunut juga terdapat lokasi persemaian pohon jati dan pohon minyak kayu jati yang bisa menambah daya tarik wisdom.
Camat Dander, Bojonegoro Nanik Lusetiyani, mengatakan sangat mendukung pengembangan kawasan hutan di Ngunut yang memiliki Goa Grogol sebagai objek wisata.
“Pengembangan kawasan hutan setempat sebagai objek wisata akan mendukung objek wisata pemandian Dander “Park” di Kecamatan Dander,” ucapnya. (ant)
Pemerintah berencana membentuk Dewan Kerukunan Nasional (DKN). Pemerintah menegaskan pembentukan DKN merupakan upaya untuk menghidupkan kembali tradisi dan nilai-nilai kearifan bangsa Indonesia dalam penyelesaian konflik di masyarakat.
“Rakyat Indonesia memiliki budaya musyawarah mufakat, melalui lembaga adat, untuk menyelesaikan masalah antar warga,” kata Menko Polhukam Wiranto, dalam keterangan tertulisnya kepada di Jakarta.
Wiranto melanjutkan, tradisi musyawarah dan mufakat lewat lembaga adat telah berlangsung lama sebelum bangsa ini dijajah oleh kolonialisme. Belanda membawa konsep untuk menyelesaikan konflik lewat jalan peradilan, yang dilanjutkan dengan KUHP sampai sekarang.
Menurut Wiranto, bangsa Indonesia memiliki kearifan lokal untuk menyelesaikan konflik dengan jalan musyawarah dan mufakat.
“Di Papua kita mengenal ada tradisi Bakar Babi, di kalangan umat Islam dikenal dengan istilah Islah, di Tapanuli ada budaya Dalihan Natolu Di Kalimantan Tengah ada tradisi Rumah Betang, di Bali ada Menyama Braya, di NTB ada budaya Saling Jot dan di NTB ada Saling Pelarangan, di Jawa Timur ada budaya Siro yoingsun, Ingsun yosiro, Basusun Sirih di Melayu/Sumatera,” jelas Wiranto, seperti dikutip Merdeka.com.
“Seluruh tradisi dari berbagai suku di Indonesia merupakan bukti kearifan lokal untuk menyelesaikan masalah tanpa melalui jalur hukum namun melalui proses mediasi dan musyawarah mufakat,” tandasnya.
Menurut dia, penyelesaian konflik sosial dengan menggunakan KUHP, secara tak langsung justru memaksakan semua konflik di masyarakat diselesaikan lewat peradilan, yang faktanya adalah prosesnya panjang dan sulit, juga menimbulkan banyak ekses negatif.
Setiap konflik antara kelompok masyarakat atau masyarakat dengan pemerintah, juga selalu dibawa ke ranah peradilan yang seringkali masih menyisakan permasalahan yang tidak kunjung selesai.
“Kita lupa bahwa ada kebiasaan kita, kultur Indonesia asli yang dapat menyelesaikan konflik dengan musyawarah mufakat. Sehingga tidaklah salah apabila sekarang kita coba lakukan lagi apa yang pernah dilakukan oleh para pendahulu kita,” ujar Wiranto.
Dia mengatakan, pembentukan DKN ini bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Melainkan sudah melalui proses panjang dan merupakan jawaban dari berbagai konflik vertikal dan horisontal yang tak kunjung selesai.
Wiranto menegaskan, banyak permasalahan bangsa ini baik konflik-konflik yang bersifat nasional atau skala nasional antara kelompok masyarakat dengan masyarakat lain, yang tidak terselesaikan dengan peradilan. Hal itu tentu sangat mengganggu kebersamaan kita sebagai bangsa.
Menanggapi adanya beberapa kelompok yang mengkritisi dan menolak kehadiran DKN, Wiranto mengatakan, tetap membuka ruang untuk dialog.
“Bagi yang belum setuju silakan datang ke kantor Polhukam dan kita diskusikan baik-baik apa alasannya tidak setuju sehingga kita dapat memahami dan mencari cari titik temu,” kata Wiranto
Terkait dengan adanya tuduhan pembentukan DKN adalah skenario untuk menyelesaikan dugaan pelanggaran HAM masa lalu cara non jusicial, Wiranto menegaskan bahwa hal itu tidak betul.
“DKN dibentuk untuk kepentingan masa kini dan yang akan datang. Namun apabila kenyataannya ada pelanggaran HAM masa lalu yang tidak dapat diselesaikan dengan cara judicial, berhubung sulitnya upaya pembuktian dalam penyelidikan dan tidak pernah berhasil mendapatkan cukup bukti untuk dibawa ke proses hukum, hal inilah yang membutuhkan jalan keluar. DKN dapat menjadi alternatif dan wadah untuk penyelesaiannya,” tegas Wiranto.
Dia menekankan, bangsa Indonesia harus terus maju dan bergerak ke depan dan tidak bisa hanya terjebak dengan persoalan masa lalu. Karena itu, lanjutnya, diperlukan sebuah alternatif penyelesaiakan masalah yang tepat yakni melalui jalan musyawarah dan mufakat.
“Kita harus menyelesaikan masalah dengan tuntas agar tidak malah menimbulkan ekses-ekses negatif dikemudian hari yang akan mengganggu kerukunan kehidupan bangsa,” ujarnya. (ist)
Visualisasi sejarah di Museum Tugu Pahlawan. Foto: Ulinulin.com.
Timur Lawu adalah komunitas Nirlaba yang bergerak dalam bidang penyadaran serta penguatan identitas kebudayaan, sejarah, lingkungan, dan sosial.
Tujuannya adalah menjaga kelestarian alam dan budaya yang ada di dalamnya untuk masa depan yang lebih baik. Komunitas itu didirikan alumni Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.
Bertempat di Auditorium Museum 10 November di Jalan Pahlawan Kota Surabaya, komunitas tersebut mengadakan kegiatan bertema ‘Lokakarya Visualisasi Sejarah’.
Sejumlah pakar sejarah dihadirkan. Misalnya, Ikhsan Rosyid, sejarawan Unair; Rojil Nugroho Bayu Aji, sejarawan Unesa; Ayos Purwoaji, penulis dan kurator; serta Yogi Ishabib videografer dan filmaker.
Kegiatan itu dihadiri 39 peserta dari berbagai macam latar belakang. Di antaranya, pelajar, mahasiswa, karyawan, peneliti, dan pegiat kebudayaan.
Sebelum memulai kegiatan, Ardi selaku anggota komunitas mengajak seluruh peserta mengelilingi Museum Tugu Pahlawan. Hal itu bertujuan peserta memndapatkan gambaran maket, patung, dan infografis tentang sejarah di Surabaya.
”(Sambil menunjuk gambar) Ini Oude Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (Rumah Sakit Simpang, Red) sebuah rumah sakit yang paling tua di Surabaya. Pada tahun 1945, pernah menjadi saksi bisu pertempuran 10 November,” katanya, melalui PIH Unair.
Berikutnya, dalam sambutannya, Rian salah seorang founder (pendiri) komunitas tersebut mengatakan banyak yang menganggap sejarah saat ini sangat membosankan. Dengan mengikuti kegiatan ini, pandangan tersebut diharapkan bisa sedikit berubah.
”Sekaligus membantu ilmu kita untuk bisa menyesuaikannya dengan zaman. Agar sejarah tidak lagi membosankan dan menarik untuk semua khalayak,” tuturnya.
Acara dilanjutkan dengan materi yang disampaikan Ikhsan Rosyid. Dosen mata kuliah pengantar teknologi infomasi itu memberikan paparan berjudul ‘Pentingnya Visualisasi Sejarah’.
Bagi dia, sejarah tidak hanya mengenai sebuah peristiwa yang direkonstruksi menjadi sebuah tulisan. Namun, sejarah juga ditujukan untuk bisa digambarkan melalui media visual.
”Hari ini kita akan belajar bagaimana output (luaran, Red) sejarah bukan lagi tulisan. Akan tetapi visual. Dengan syarat, tetap menggunakan metode sejarah seperti heuristik (pengumpulan sumber), verifikasi (kritik sumber), interpretasi (penulisan), dan historiografi (penulisan sejarah),” ungkapnya.
Di sisi lain, memberikan materi berjudul ‘Memasyarakatkan Sejarah Melalui Visualisasi Sejarah’, Rojil menjelaskan tantangan sejarah pada masa depan.
Meliputi minat dan ketertarikan terhadap sejarah; perkembangan serta kemajuan teknologi, informasi, dan komunikasi; serta menjadikan sejarah menjadi sebuah kajian akademis dan media edukasi yang menyenangkan bagi siapa saja.
Menurut Rojil, bentuk visualisasi sejarah terbagi menjadi tiga hal. Yakni, film (movie) yang merupakan serangkaian gambar diam, yang ketika ditampilkan pada layar akan menciptakan ilusi gambar bergerak.
Soal itu, Rojil membaginya lagi menjadi dua macam. Yaitu, film dokumenter yang mengisahkan kehidupan seseorang dan kejadian nyata serta film sejarah yang merekonstruksi peristiwa sejarah yang syarat akan perdebatan objektif dan subjektif.
Kemudian, fotografi, yakni suatu proses atau metode menghasilkan gambar atau foto dari objek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai objek tersebut di media yang peka cahaya. Dan, terakhir adalah infografik. Yakni, representasi visual informasi atau data atau ilmu pengetahuan secara grafis dengan keterangan gambar yang singkat dan jelas.
Sementara itu, di temui pada sela-sela acara, Yehuda Abiel mengungkapkan sangat senang dan turut mendukung kegiatan tersebut. Bagi dia, mengemas sejarah Indonesia agar bisa dikonsumsi Kids Jaman Now (pemuda sekarang) perlu didorong. Sebab, sejarah sangat penting.
”Contohnya kalau bilang NKRI harga mati, kita tidak harus ikut berperang, tapi mengikuti kegiatan seperti ini. Hal itu merupakan salah satu wujud nyata kita dalam merealisasikan anggapan tersebut,” ujar staf perpustakaan di salah satu kampus swasta di Surabaya itu.
Perlu diketahui, acara De Grote Postweg tersebut adalah serangkaian kegiatan Komunitas Timur Lawu kepada masyarakat untuk mengenalkan warisan budaya dan sejarah di sepanjang Jalan Pos Daendels Jawa Timur.
Kegiatannya, antara lain, Lokakarya Visualisasi Sejarah pada Minggu (29/7); Jelajah Sejarah Jalan Pos Pantai Utara Jawa Timur Sabtu–Minggu (11–12/8); Lomba Fotografi dan Video Rabu–Jum’at (1–3/8); Pameran Foto dan Video Sabtu–Sabtu (6–13/10); dan Seminar Sejarah Kamis (15/11). Acara itu didanai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (sak)
Candi Tikus peninggalan Majapahit di Trowulan Mojokerto. Foto: Istimewa.
Mandala Majapahit UGM (ManMa UGM) adalah salah satu unit kajian berupa tempat pusat informasi terkait Majapahit. Didirikan atas kerja sama Yayasan Arsari Djojohadikusumo dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada yang dikoordinasikan oleh Departemen Arkeologi FIB UGM.
Pada tahun 2018, ManMa UGM akan melakukan kegiatan penerbitan buku seri “Inspirasi Majapahit” dengan tema “Pengelolaan Warisan Budaya Majapahit dalam Perspektif Lingkungan”.
Peluncuran buku direncanakan akan dilakukan bersamaan dengan agenda Seminar Nasional 725 Tahun Majapahit di Universitas Gadjah Mada pada 27 November 2018.
Kegiatan ini dikelola ManMa UGM dibawah tanggung jawab Departemen Arkeologi FIB UGM. Informasi detail bisa dilihat ditautan: http://ugm.id/Bmjp.
Penulisan Buku
Citra Majapahit sebagai pemersatu Nusantara ini telah mengangkat kerajaan ini menjadi inspirasi bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Oleh karena itu Kerajaan Majapahit merupakan salah satu ‘ikon’ penting sejarah dan budaya bangsa Indonesia.
Kesadaran terhadap nilai penting warisan budaya Majapahit harus menjadi agenda pelestarian dan menjadi tanggung jawab setiap anak bangsa.
Pelestarian terhadap warisan budaya Majapahit telah berlangsung sejak beberapa dekade, baik dalam bentuk pelindungan, pengembangan, maupun pemanfaatannya.
Usaha-usaha maupun apresiasi terhadap bentuk-bentuk pelestarian ini telah melibatkan para stakeholders yang terdiri atas golongan masyarakat, pemerintah, dan akademisi.
Pihak-pihak ini kemudian tampil sebagai pengelola, pelestari, pemerhati, atau sebagai pihak yang memiliki kepentingan terhadap warisan budaya Majapahit.
Disadari pula bahwa aspek lingkungan memiliki peran yang sangat penting dan berpengaruh dalam usaha-usaha pelestarian warisan budaya Majapahit.
Perspektif lingkungan yang dipahami meliputi aspek yang luas, baik berupa fisik maupun non fisik, dapat pula berupa aspek alam, manusia, bahkan budayanya.
Cara pandang, fokus, dasar pragmatis yang berbeda dari aspek lingkungan tersebut diyakini berpengaruh penting pada usaha pelestarian warisan budaya Majapahit baik yang telah lampau, saat ini, maupun proyeksi rencana yang akan datang.
Penulisan buku mengenai pengelolaan warisan budaya Majapahit dalam perspektif lingkungan ini diharapkan dapat melaporkan, mengulas, dan/atau menawarkan gagasan terhadap upaya pelestarian.
Diharapkan pula pengayaan khazanah Warisan Budaya Majapahit ini dapat diperoleh tidak hanya di Situs Trowulan, Mojokerto dan sekitarnya, melainkan dari seluruh tempat di Nusantara.
Buku ini merupakan pengembangan dari tema buku “Inspirasi Majapahit” (2014) yang mengangkat kemampuan nilai-nilai warisan budaya Majapahit yang dapat menginspirasi masa kini dan mendatang terhadap jati diri bangsa, aspek sosial budaya, serta aspek penciptaan budaya bendawi yang mampu menyejahterakan. (sak)
Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) RI Puan Maharini membuka pameran. Foto: Istimewa.
Untuk ketiga kalinya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) menggelar Pameran Karya Seni Koleksi Istana Kepresidenan.
Pameran yang diberi tajuk “Indonesia Semangat Dunia” ini akan digelar di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, pada 3 hingga 31 Agustus 2018. Pameran dibuka untuk umum secara gratis.
Sejak tahun 2016, Pameran Karya Seni Koleksi Istana Kepresidenan digelar setiap bulan Agustus sebagai rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Satu hal yang berbeda dari pameran dua tahun sebelumnya, tahun ini pameran tidak hanya memamerkan lukisan, melainkan karya seni lain, yakni patung dan seni kriya.
Total ada 45 karya seni dari 34 seniman Indonesia dan mancanegara yang dipamerkan dalam Pameran Karya Seni Koleksi Istana Kepresidenan tahun 2018.
Karya seni tersebut merupakan koleksi dari lima Istana Kepresidenan, yakni Istana Kepresidenan Jakarta, Istana Bogor, Istana Tampaksiring, Istana Yogyakarta, dan Istana Kepresidenan Cipanas.
Menteri Sekretaris Negara, Pratikno mengatakan setidaknya ada tiga ikon seni yang akan menarik perhatian pengunjung dalam pameran ini. Pertama, lukisan karya Raden Saleh yang berjudul “Perkelahian dengan Singa”, yang diselesaikan Raden Saleh pada tahun 1880.
Lukisan ini kemudian dihadiahkan Ratu Belanda, Juliana, kepada pemerintah Indonesia pada tahun 1970.
Karya seni kedua yang menarik perhatian adalah Patung Pemanah karya pematung Hongaria, Zsigmond Kisfaludi Strobl. Biasanya patung ini menghiasi halaman depan Istana Negara yang menghadap Jalan Veteran, Jakarta.
“Membawa patung ini sampai ke Galeri Nasional merupakan perjuangan yang luar biasa,” tutur Pratikno saat jumpa pers di Kantor Kemensetneg, Jakarta.
Karya seni yang ketiga adalah lukisan “Memanah” karya Henk Ngantung. Lukisan ini menjadi saksi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang terjadi di depan beranda rumah Bung Karno karena sudah ada di kediaman Bung Karno sebelum tanggal 17 Agustus 1945.
Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan, untuk memeriahkan pameran, sejumlah kegiatan pendukung telah disiapkan Kemendikbud yang menaungi Galeri Nasional Indonesia.
Kegiatan tersebut antara lain Lomba Lukis Kolektif Pelajar dari 34 Provinsi dan Lokakarya “Menjadi Apresiator Seni Terhebat” untuk pelajar di DKI Jakarta. Mendikbud menuturkan, pameran karya seni serupa juga akan diselenggarakan di daerah-daerah.
“Diharapkan akan memunculkan para maestro di daerah yang kualitas karya seninya tidak kalah dengan maestro seni yang kita kenal selama ini. Kita ingin mencoba memeratakan tradisi apresiasi karya lukis tokoh-tokoh seni kita,” ujar Mendikbud.
Pameran Karya Seni Koleksi Istana Kepresidenan bertujuan untuk mengajak masyarakat menikmati karya para seniman masa lalu yang mengandung nilai-nilai luhur serta semangat perjuangan.
Pameran ini merupakan kerja sama antara Kemendikbud, Kemensetneg, Kementerian Pariwisata, Badan Ekonomi Kreatif, dan Mandiri Art.
Pameran akan berlangsung di Galeri Nasional Indonesia pada 3 hingga 31 Agustus 2018, dengan waktu buka mulai pukul 10.00 – 20.00 WIB. Galeri Nasional Indonesia adalah salah satu lembaga museum dan pusat kegiatan seni yang terletak di Jalan Medan Merdeka Timur No.14, Jakarta Pusat. (sak)
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip), terus melakukan observasi mendalam untuk menggali nilai-nilai sejarah keberadaan Benteng Kedung Cowek.
Bahkan, dalam menggali informasi, Pemkot menggandeng komunitas pemerhati sejarah agar bisa didapatkan data yang akurat.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip) Kota Surabaya Musdiq Ali Suhudi mengatakan, Kota Surabaya tumbuh dan berkembang tidak dengan sendirinya, pastinya tidak lepas dari masa lalu dan sejarah.
Terkait dengan adanya benteng ini, salah satu hal yang menunjukkan masyarakat Surabaya bertempur melawan penjajah. “Keberadaan benteng yang berada di pesisir laut, mencerminkan Surabaya selain dikenal sebagai Kota Pahlawan juga maritim (kelautan),” kata dia, Rabu (01/08).
Disampaikan Musdiq, terkait dengan perkembangan ke depan, benteng kedung cowek bisa menjadi salah satu spot destinasi wisata yang unik. Yakni, perpaduan antara wisata dan sejarah.
Bahkan menurutnya, Benteng Kedung Cowek ini bisa menjadi salah satu dari rangkaian wisata Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya).
Mulai dari timur yakni, Mangrove Gunung Anyar, Mangrove Wonorejo, Pantai Ria Kenjeran, THP Kenjeran, Jembatan Suroboyo, Sentra Ikan Bulak, Cable Card, Lapangan Tembak, Benteng Kedung Cowek dan megastruktur Jembatan Suromadu.
“Kalau obyek-obyek ini bisa saling diintegrasikan, ini akan menjadi salah satu obyek wisata yang kompleks dan orang yang berkunjung ke Surabaya akan mengalami irama yang berbeda-beda,” terangnya.
Menurut Musdiq, dari seluruh obyek tersebut, memang yang perlu penanganan khusus adalah benteng. Karena kondisinya sebagian besar masih tertutup dengan pepohonan.
Selain keberadaan benteng, di area ini juga terdapat sebuah sumber air yang menjadi salah satu bukti otentik digunakannya benteng pada peristiwa perang 10 November.
“Nanti mungkin kedepan akan kita koordinasikan bagaimana benteng ini bisa menjadi obyek wisata yang menarik,” imbuhnya.
Penggalian informasi benteng tidak hanya di lokasi, bahkan Dispursip juga menelusuri beberapa tempat yang ada kaitannya dengan Benteng Kedung Cowek. Kendati demikian, Dispursip masih terus melakukan penelusuran peta yang lama. Pastinya, kata Musdiq, keberadaaan benteng ini ada rangkaiannya dengan bangunan-bangunan di lokasi lain.
“Ini akan kita coba telusuri lebih lanjut, agar obyek ini betul-betul lengkaplah kalau kita pasarkan menjadi sebuah destinasi wisata,” ujar mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya ini.
Sementara itu, salah satu pendiri komunitas pemerhati sejarah, Roode Brug Soerabaia, Ady Setyawan mengungkapkan Benteng Kedung Cowek ini punya peranan penting dalam peristiwa pertempuran 10 November 1945.
Bukti begitu dahsyatnya pertempuran Surabaya masih terlihat jelas dari bekas bangunan benteng yang rusak imbas dari tembakan senjata. Bahkan dari hasil penelusuran di lokasi, ditemukan beberapa peluru yang masih bersarang di tembok benteng.
“Benteng ini pada perang 10 November, digunakan oleh bekas pasukan Heiho bentukan Jepang, merupakan orang-orang yang berasal dari Sumatera,” ungkap pria yang pernah menulis buku benteng-benteng Surabaya ini.
Bekas pasukan Heiho ini, lanjut ia, sebelumnya bertempur di Pulau Morotai dengan kondisi kalah perang. Ketika pasukan ini sampai di Surabaya, oleh Kolonel Wiliater Hutagalung mereka diminta untuk kembali membantu melawan sekutu.
Dinilai dari sisi lain, benteng ini menjadi salah satu bukti kuat bahwa tahun 1945, rasa satu nusa, satu bangsa, untuk berjuang bersama mempertahankan Indonesia dari para penjajah sudah kuat.
“Tanpa memikirkan berasal dari suku mana, mereka rela berkorban ikut berjuang bertempur di Kota Surabaya,” imbuh Ady.
Ady menambahkan keberadaan dua aset besar di Surabaya, juga menjadi alasan kuat para pejuang dari seluruh pelosok nusantara rela mati-matian mempertahankan Kota Surabaya.
Dua aset tersebut yakni pelabuhan Surabaya, tempat akses keluar dua-pertiga pabrik gula terbesar se Jawa, dan yang kedua yakni keberadaan pangkalan angkatan laut terbesar se Hindia-Belanda.
“Dua aset itu yang menjadi alasan Surabaya dipertahankan oleh deretan perbentengan yang memanjang dari Surabaya, Gresik, dan Bangkalan. Benteng Kedung Cowek ini, yang paling besar dari deretan perbentengan itu,” pungkasnya. (ita)
Eva K Sundari (tengah), anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan. Foto: Istimewa.
Untuk pertama kalinya delapan griya batik yang ada di Kabupaten Tulungagung Jawa Timur, yaitu Griya Gayatri, Latar Putih, Gajah Mada, Yunar, Kalang Kusumo, Satrio Manah, Baronggung, dan Liris Manis Majan melakukan pameran bersama.
Pameran yang berlangsung di Hotel Crown Tulungagung pada Sabtu (4/8) lalu tersebut dibuka oleh Eva K Sundari, anggota DPR RI Dapil Jatim 6 dari Fraksi PDI Perjuangan.
Selain Eva Sundari, turut hadir dan memberikan sambutan Djoko Sutarto selaku perwakilan Bank Indonesia (BI) Kediri dan Slamet, Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Tulungagung.
Ketua pameran, Setio Hadi yang juga pemilik Griya Batik Gayatri menyatakan, pihaknya menjadikan nilai-nilai dari Budaya Panji sebagai sumber inspirasi. “Tulungagung yang disebut Bumi Gayatri ini mewariskan kekayaan masa lalu sebagai inspirasi kita berkarya di masa kini dan masa depan,” katanya.
Djoko Sutarto menegaskan komitmen BI dalam memfasilitasi perkembangan UMKM yang bergerak di bidang ekonomi kreatif berbasis budaya.
“Sebagai tantangan, Budaya Panji atau Mojopahitan harus digali dan dikembangkan untuk memacu perkembangan industri ekonomi kreatif berbasis Budaya Indonesia,” tegas Djoko Sutarto.
Eva K Sundari memberikan apresiasi tinggi atas gotong royong para seniman Tulungagung yang selama berbulan-bulan terlibat dalam penyelenggarakan Festival Budaya Panji di Tulungagung.
“Hormat saya kepada teman-teman seniman di Tulungagung yang mampu menuangkan gagasan untuk mengeksplorasi Budaya Panji ke berbagai karya seni ekonomi kreatif. Ini jauh melebihi ekspektasi saya,” kata Eva K Sundari dalam sambutannya.
“Ini kontribusi penting dalam pembentukan identitas Tulungagung setelah kegiatan khususnya berupa Grebek Bhinneka Tunggal Ika,” imbuhnya.
Festival Budaya Panji berlangsung pada 4-5 Agustus yang lalu diisi dengan workshop dan lomba lukis bertema Panji, pameran UMKM Batik Panji, seminar nilai-nilai Budaya Panji, pertunjukan dan diskusi Seni Jaranan, pentas sendratari Panji Laras dan fashion show Batik Panji. (ita)
Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid membuka ‘Gerakan Seniman Masuk Sekolah. Foto: Kemendikbud.
Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) Tahun 2018 resmi dimulai. Ditandai dengan pelaksanaan Lokakarya Gerakan Seniman Masuk Sekolah, yang dibuka secara resmi Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid, di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Pada tahun ke-2 pelaksanaan GSMS, sebanyak 1.320 seniman dari bidang seni tari, musik, teater, seni sastra, seni rupa, dan seni media ikut serta terlibat dalam gerakan ini.
Para seniman akan terjun langsung ke sekolah-sekolah di 28 provinsi, untuk mengenalkan dan mengajarkan kesenian kepada peserta didik sesuai dengan bidangnya.
Dihadapan para perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dari 28 provinsi serta para seniman, Hilmar Farid menegaskan kembali tujuan utama dari Gerakan Seniman Masuk Sekolah, yaitu memperluas akses peserta didik terhadap kegiatan berkesenian.
“Pendidikan seni di Indonesia tidak merata, ada sekolah-sekolah yang sangat maju, punya guru kesenian, ekskul, dan seterusnya. Tapi ada sekolah-sekolah yang tidak punya akses. Tujuan utama adalah memperluas akses pelajar dalam kegiatan-kegiatan artistik melalui gerakan ini,” tegas Hilmar Farid.
Gerakan Seniman Masuk Sekolah berfokus pada pembelajaran kesenian oleh seniman di luar jam pelajaran atau kegiatan ekstrakurikuler di satuan pendidikan SD, SMP, SMA dan SMK. Pembelajaran berlangsung selama 30 hari, dengan waktu belajar tiap pertemuan 2 jam.
Hilmar Farid juga mengingatkan bahwa gerakan ini bukan bermaksud menjadikan anak-anak menjadi seniman, namun lebih dari itu, agar anak-anak dapat mengekspresikan diri dengan bahasa artistik.
“Bapak Ibu juga punya tugas memperkenalkan kehidupan seni itu sebenarnya seperti apa, sehingga ketika anak-anak mempunyai pilihan sudah dengan pengetahuan cukup,” ujarnya.
Melalui program GSMS seniman juga memiliki ruang untuk berperan serta dalam dunia pendidikan. Pengajaran kesenian bukan sekadar untuk mengenali proses kreatif dalam seni, lebih dari itu.
Menjadikan kesenian sebagai wahana penguatan karakter melalui pemahaman dan penyerapan nilai-nilai positif selama program pembelajaran.
Semakin banyaknya seniman yang ingin terlibat dalam gerakan ini menjadi tantangan tersendiri bagi tim perumus GSMS.
Deni Hadiansah, seorang sastrawan dari Jawa Barat, yang juga anggota tim perumus menyampaikan, tim harus menyeleksi lebih dari 1.800 seniman yang mendaftarkan dirinya lewat daring (online).
Selain itu, penempatan seniman pun harus di lokasi yang tepat, sesuai petunjuk teknis program GSMS. “Tahun ini seniman didampingi asisten (seniman) di masing-masing sekolah, jadi menjembatani antara pihak seniman dan sekolah,” ujar Deni.
Pada akhir program, para peserta didik akan mementaskan pertunjukan atau pameran hasil belajar untuk memberikan ruang dan kesempatan agar hasil pembelajaran mereka dapat diapresiasi oleh masyarakat. (sak)
Warga melakukan kenduri masal ritual ruwatan Alas Kandung di Rejotangan, Tulungagung. Foto: Antara Jatim/Destyan Sujarwoko.
Ratusan warga tampak bersuka cita saat mengikuti kenduri masal dan purak (rebutan) tumpeng besar berisi aneka hasil bumi dalam acara ruwatan bumi di tengah hutan lindung (alas) Kandung, Desa Tanen, Kabupaten Tulungagung.
Warga yang sudah lama mengantre langsung bersimpuh saling berhadapan dengan puluhan ambengan makanan (takir) berjajar siap hidang.
Di penghujung lokasi kenduri, sebuah tumpeng berukuran sangat besar (jumbo) berisi aneka makanan dan hasil bumi diletakkan menunggu dipurak atau diperebutkan warga.
“Tradisi ruwatan ini memang masih baru empat tahunan ini jalan. Selain menyambung tradisi yang sudah lama tenggelam, kami ingin membangun kesadaran bersama warga dan pengunjung untuk mencintai dan melestarikan alam Kandung agar tetap rimbun dan memberi sumber (air) kehidupan sepanjang masa,” kata tokoh warga Desa Tanen, Suhasto dikonfirmasi Antara Jatim usai acara.
Nyadran atau ritual sedekah itu diharap warga mampu menjauhkan segala bencana ke Desa Tanen, pemukiman yang terletak persis di bawah hutan lindung perbatasan Tulungagung bagian timur-selatan dengan wilayah Kabupaten Blitar itu.
Kegiatan sengaja digelar di dekat telaga dan sumber air Kandung yang jernih, karena dianggap menjadi cikal bakal kelestarian dan kemakmuran penduduk desa setempat.
“Sungguh tidak terbayang andai hutan rusak dan sumber air mati. Warga Tanen akan sangat kesulitan,” ujarnya.
Selain menghidupkan lagi tradisi sedekah bumi yang sempat tenggelam karena pertentangan/gesekan budaya, ritual tahunan dengan kemasan purak tumpeng dan kenduri masal tersebut diharapkan juga bisa menarik wisatawan.
Menurut Suhasto maupun sejumlah pemuda desa Tanen, selama ini objek wisata Alas Kandung yang memiliki air terjun indah kurang mendapat perhatian daerah maupun perhutani selaku pemangku wilayah.
“Pelan-pelan nilai-nilai luhur budaya khas daerah kami lestarikan lagi. Selain menjaga kearifan lokal dan menjaga kelestarian alam, ritual budaya ini tentu menarik dari sisi pariwisata,” kata Dedi, pemuda Desa Tanen menimpali.
Menariknya, tekad warga Tanen menghidupkan kembali budaya ruwatan Alas Kandung yang sudah ada sejak beratus tahun itu diinisiasi para pemuda Desa Tanen dengan cara patungan atau swadaya. Tidak ada bantuan uang sepeserpun dari desa, perhutani apalagi pemerintah daerah. (ant)