Dusun Bedander, Tempat Persembunyian Jayanegara?

foto
Dusun Bedander, Desa Sumbergondang, Kabuh menyimpan sejarah. Foto: Ricky/Jawa Pos Radar Jombang.

Dalam teks Pararaton dijelaskan jika Gajah Mada membawa Raja Majapahit Jayanegara ke wilayah Bedander. Badri, juru pelihara prasasti Kusambyan menuturkan jika Raja Jayanegara diamankan ke wilayah Bedander lantaran terjadi pemberontakan oleh pasukan yang dipimpin Kuti.

”Nah wilayah Bedander yang jadi persembunyian Raja Jayanegara ini diidentifikasi di Dusun Bedander Desa Sumbergondang Kecamatan Kabuh ini,” lontar Hadi Ali, koordinator juru pelihara Kabupaten Jombang.

Ia menyampaikan, terdapat beberapa daerah yang bernama Bedander diantaranya di Kabupaten Blitar, Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Jombang. Namun hal itu tidak didukung bukti data historis dan arkeologis jika Bedander berada di Blitar maupun Bojonegoro.

”Justru banyak bukti arkeologis seperti petilasan gunung jeladri, sumur-sumur kuno, toponimi wilayah dan sebagainya yang ditemukan disini (Jombang, Red),” sambungnya kepada Jawapos.com.

Ditambahkannya jika saat itu Jayanegara didampingi pasukan Bhayangkara sebanyak 15 orang yang dipimping langsung Gajah Mada.

Setelah hampir satu minggu menyamar di Bedander, Jayanegara pun akhirnya kembali ke Majapahit setelah situasi aman dan pemberontak berhasil dikalahkan. ”Tanda bukti jejak kehidupan jaman majapahit di petilasan ini memang banyak. Termasuk adanya sumber air di atas bukit ini,” lanjutnya. (jpg)

Lima Warisan Budaya Jatim Ditetapkan Nasional

foto
Tradisi jamasan pusaka Kyai Pradah di Blitar. Foto: istimewa.

Setelah melalui seleksi ketat dan persidangan, Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) asal Jawa Timur ditetapkan sebagai WBTB Nasional dalam Sidang Penetapan WBTB Indonesia yang berlangsung di Hotel Millenium Sirih, Jakarta, pekan lalu.

Kelima WBTB Jatim tersebut adalah Sandur Manduro (Jombang), Ceprotan (Pacitan), Jamasan Pusaka Kyai Pradah (Blitar), Nyader (Sumenep) dan Damar Kurung (Gresik).

Acara tahunan ini seperti dikutip Brangwetan.wordpress.com diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sejak tahun 2013.

Pada mulanya penetapan WBTB Nasional dilakukan oleh Tim Ahli namun sejak tahun 2014 diberikan kesempatan kepada Dinas Kebudayaan masing-masing provinsi untuk mengajukan usulan, dan setelah lolos seleksi administratif kemudian dilakukan sidang terbuka.

Kali ini sidang terbuka diadakan 21-24 Agustus dan akan dilakukan penyerahan sertifikat WBTB Nasional pada Oktober oleh Mendikbud.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, dalam sidang penetapan kali ini, masing-masing WBTB tersebut juga dipresentasikan langsung oleh wakil daerah masing-masing, baik dari Dinas Kebudayaan setempat maupun pelakunya langsung.

Sandur Manduro misalnya, langsung diwakili Warito, pimpinan Grup Sandur Gaya Rukun Jombang, didampingi Kabid Kebudayaan Disbudar Jombang. Sandur Manduro adalah sebuah seni pertunjukan berbentuk teater tradisional dimana pemainnya menggunakan topeng dalam dua jenis, yakni kedok (topeng) binatang dan kedok wajah tokoh manusia.

Pewarnaan yang mendominasi kedok Manduro yaitu warna hitam, merah, dan putih yang merupakan pencerminan dari karakter etnis Madura. Pertunjukan ini berisi banyak tarian yaitu Tari Bapang, Klana, Sapen, Punakawan, Gunungsari, Panji, jaranan, burung dan sebagainya.

Ceprotan adalah ritual tahunan masyarakat Desa Sekar Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, pada bulan Dzulqaidah (Longkang), pada hari Senin Kliwon untuk mengenang pendiri desa Sekar yaitu Dewi Sekartaji dan Panji Asmorobangun melalui kegiatan bersih desa.

Upacara ini diyakini dapat menjauhkan desa dari bencana dan memperlancar kegiatan pertanian. Dinamakan Ceprotan lantaran ada adegan saling melempar buah kelapa muda (cengkir) yang sudah lunak yang dilakukan dua kelompok.

Sedangkan Jamasan atau Siraman Kyai Pradah adalah ritual memandikan benda pusaka berupa sebuah gong dengan menggunakan air kembang setaman. Upacara ini dimaksudkan sebagai sarana memohon berkah kepada kekuatan gaib atau roh leluhur yang ada di dalam Kyai Pradah. Masyaraat percaya bahwa air bekas siraman Kyai Pradah dapat membuat awet muda dan dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Sementara Nyader adalah ritual di Sumenep sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan dan menghormati para leluhurnya yang telah mengajarkan cara membuat garam. Masyarakat setempat yang pekerjaan utamanya sebagai petani garam melakukan hal ini di makam keramat yaitu Syekh Anggosuto dan di bekas rumahnya.

Ritual ini dilakukan tiga kali dalam setahun, yaitu bulan Juni menjelang panen garam, bulan Agustus ketika panen masih berlangsung dan bulan September pada masa akhir panen.

Dan yang terakhir, Damar Kurung digolongkan sebagai kemahiran tradisional yang khas Gresik berupa lampion dengan lukisan unik yang berasal dari tradisi Wayang Beber. Kesenian yang nyaris punah ini berhasil dipertahankan oleh perajin terakhir yaitu Mbah Masmundari yang menjelang kepergiannya (2005) mengalami perkembangan luar biasa menjadi seni rupa dua dimensi dan mendapatkan apresiasi masyarakat dan pemerintah daerah Gresik sehingga menjadi ikon Kabupaten Gresik. (hn)

Cerita Keluarga Pesinden asal Kota Pasuruan

foto
Endah, Lina dan Rusimin sama-sama mahir melantunkan langgam Jawa. Foto: Muhamad Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo.

Menjadi pesinden bukan hal mudah. Butuh kemampun mengolah suara sekaligus memahami maknanya. Di era modern saat ini, sangat jarang seseorang menekuninya. Apalagi ketika kemampuan itu diturunkan pada anak-anaknya.

Di pelataran Gedung P3GI Kota Pasuruan pagi itu, sayup terdengar suara merdu yang menyanyikan lagu berbahasa Jawa. Bukan sekadar lagu biasa yang dilantunkan. Akan tetapi, sebuah langgam Jawa untuk prosesi pernikahan. Semakin merdu karena nyanyian itu diiringi gamelan.

Begitu memasuki salah satu gedung di ujung selatan, tampak tiga orang tengah menggenggam mikrofon. Harmonisasi suara ketiganya enak didengar. Siapa sangka, ketiganya merupakan satu keluarga, yakni suami, istri, dan anak. Yakni, pasangan Rusimin dan Endah Tyas Ratnawati, serta anak ketiganya, Afasilina Retno Widyaningrum.

Terlahir dari keluarga Jawa, Endah memang telah menjadi sinden sejak 1985. Di usianya yang masih terbilang muda itu, Endah mempelajari seluk beluk tentang dunia sinden. Menariknya, ia berlatih secara otodidak.

Ia memulai latihan dengan sejumlah koleksi kaset album kumpulan langgam Jawa miliknya. Hampir setiap hari, Endah selalu meluangkan waktunya untuk berlatih. Ia harus pintar-pintar membagi waktu. Pasalnya, selain sebagai ibu rumah tangga, Endah juga aktif sebagai guru di SD Negeri 1 Mandaran.

“Awalnya, saya ikuti macam-macam langgam dari kaset. Ya, cukup sulit memang, karena langgam Jawa memiliki khasnya sendiri,” ungkap Endah seperti dikutip Jawapos.com.

Seiring waktu, ia pun perlahan dapat melantunkan langgam Jawa layaknya sinden. Selanjutnya, Endah mempelajari makna dari langgam-langgam Jawa itu.

Sebagai seorang siden, Endah memang tak hanya dituntut bisa bernyanyi. Akan tetapi, penghayatan makna juga harus dikuasai. Sebab, setiap langgam Jawa yang dilantunkan, memiliki makna tersendiri. Seperti lagu Laras Mulyo, yang dinyanyikan saat ketiganya mengisi acara pernikahan.

Nah, aktivitas Endah tersebut, lama kelamaan juga menarik minat Rusimin, suaminya. Saat mengandung anak ketiganya, Afasalina, Rusimin tiba-tiba tertarik untuk belajar nyinden. “Tahun 2001, saya mengandung Lina. Ternyata, suami tertarik dan ingin belajar,” imbuh Endah.

Sejak itu, Rusimin ikut latihan bersama Endah. Tak membutuhkan waktu lama, perwira polisi berpangkat Iptu itu telah mahir melantunkan sejumlah langgam Jawa. Sementara itu, ketertarikan Rusimin terhadap dunia sinden itu, juga nurun ke Afasalina, putri ketiganya.

Lina –sapaan akrab Afasalina – sedikit berbeda dengan ketiga saudaranya yang memiliki kecenderungan hobi dengan alat musik seperti piano. Gadis yang kini berusia 15 tahun itu, memang tumbuh saat ibunya menekuni hobi sebagai sinden. Lina kecil memang kerapkali menemani ibunya berlatih.

Hal itu, membuat Lina juga punya hobi yang sama dengan kedua orang tuanya. Tanpa paksaan, Lina pun mengikuti latihan. “Anak saya yang memang tertarik, akhirnya sering mengikuti latihan,” ujar Endah.

Saat masih duduk di kelas II SD, Lina mulai tampil sebagai sinden cilik. Ia telah dipercaya untuk menjadi salah satu peserta dalam kemeriahan HUT Kota Pasuruan. Bagi Lina, itulah pengalaman pertama yang paling berharga. Kini, Lina pun telah menguasai beberapa tembang.

“Untuk belajar langgam Yen Ing Tawang itu lebih mudah,” akunya. Kendati demikian, Lina mengungkapkan masih ada beberapa langgam yang sulit dipelajari. Salah satunya yaitu Laras Mulyo, langgam Jawa untuk prosesi perkawinan. Itu, memang cukup sulit, kata Lina. Sebab, dibutuhkan nada tinggi.

“Sampai sekarang saya masih belajar,” ujarnya. Ia pun mengungkapkan, apa yang dilakukan ibunya, ia ikuti. Termasuk memahami arti dari langgam-langgam Jawa itu. “Karena bisa menyanyikan saja tidak cukup, harus mengerti makna yang terkandung,” tuturnya.

Sejauh ini, Lina yang duduk di bangku kelas X SMA itu kerap menjadi pusat perhatian kawan-kawannya. Tak jarang, Lina dimintai untuk mengajari kawan sekelasnya untuk nyinden. Tak pelak, sesekali kesempatan saat jam istirahat pun dimanfaatkan Lina untuk mengajari kawannya. “Awalnya mereka tak percaya saya bisa nyinden. Akhirnya, saya disuruh menyanyikan lagunya. Mereka pun tertarik,” jelasnya.

Menjadi sinden, menurut Lina, sebagai wujud kebanggaannya sebagai orang Jawa. Oleh sebab itu, sebagai keluarga sinden, mereka pun cukup bangga bisa melestarikan budaya leluhur itu. Terlebih, menularkannya. (jpg)

Tur Jawa Siswa Sukra, Kelompok Gamelan asal Inggris

foto
Siswa Sukra sempat grogi saat main dihadapan para dosen ISI Surakarta. Foto: Jawapos.com.

Kombinasi tabuhan kendang, petikan siter, gesekan rebab, dan pukulan gong berpadu. Ditingkahi suara sinden yang melengking lembut. Menghanyutkan para penonton di Pendopo Agung ISI Surakarta pada beberapa waktu lalu. Tidak kurang dari seratus hadirin yang terdiri atas dosen, mahasiswa, dan warga sekitar memberikan aplaus meriah tiap kali satu repertoar selesai.

Padahal, di belakang panggung, para pemain sebenarnya mengaku grogi. ”Soalnya, ini tampil dihadapan para dosen ISI Surakarta, para ahlinya. Takut-takut ada yang salah, hehehe,” kata Peter Smith, pemimpin Siswa Sukra, kelompok yang bermain pada malam itu.

Siswa Sukra seperti dilaporkan Jawapos.com adalah kelompok gamelan asal Inggris. Mereka yang berada di belakang kendang, siter, rebab, bonang, saron, dan gong itu adalah para bule yang berasal dari berbagai negara. Dari berbagai latar belakang.

Malam itu mereka bertransformasi jadi Jawa tulen. Para pemain pria mengenakan kain, beskap dan blangkon. Sedangkan para pemain perempuannya tampil cantik dengan kain dan kebaya jumputan. Tidak ketinggalan sanggul berhias kembang melati. Sang Sinden, Cathy Eastburn, terlihat agak berbeda dengan kebaya brokat berwarna toska.

Sejak 5 Agustus lalu, Siswa Sukra menjalani tur Jawa mereka. Penampilan di Pendopo Agung malam lalu menjadi penampilan penutup tur mereka.

Pada malam itu, mereka juga mengiringi penampilan beberapa tarian. Di antaranya Tari Srimpi Sangupati yang dibawakan Komunitas Langen Mataya. Juga, Tari Gambyong Pareanom yang dibawakan Komunitas Langen Mataya serta Tari Driasmara yang dibawakan pasangan Dona Dhian Ginanjar dan Andreatiningsih.

“Ini pangggung terbesar yang pernah kami jajal. Bayangkan saja, kami sekelompok pemain gamelan amatir pentas di panggung sebesar ini,” tutur Peter dalam bahasa Inggris yang sesekali ditimpali bahasa Jawa.

Sehari-hari, di antara para pemain Suara Sukra, ada yang berprofesi guru SD, ahli hukum, dan ahli marketing hingga ibu rumah tangga dan kuli di gudang bir.

Sebagian di antara mereka berasal dari Kanada dan Amerika Serikat. Tapi, mayoritas anggota kelompok yang bermarkas di Southbank Center London tersebut berasal dari Inggris.

Adalah Peter yang mempersatukan mereka. Melatih mereka dan membawa mereka tur ke kampung halaman gamelan.

Semua berawal sekitar 30 tahun lalu. Kala itu, dia masih berstatus mahasiswa Universitas York. Seorang profesor di tempatnya kuliah mendapat kiriman satu set gamelan.

Peter lalu menawarkan bantuan untuk membuka paket paket tersebut. Saat melihat isinya, dia seolah menemukan harta karun. Satu per satu paket dibukanya. Semakin banyak paket yang sudah terbuka, Peter semakin terpesona.

Kilauan warna emas pada gamelan membuat Peter tersihir. Ukiran kayu mewah nan cantik makin membuat dia tertarik. Ukiran naga yang gagah membuat Peter melayang dalam angannya.

”Ini seperti masuk ke gua naga dimana ema-semas tersimpan. Cantik sekali. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama,” ungkap pria asal Oxford, Inggris itu.

Kekaguman Peter tidak berhenti sampai di situ. Begitu mendengar suaranya, Peter makin tersihir. Menurut dia, suara yang dihasilkan gamelan itu aneh. Tidak familiar di telinganya. Tapi, hal tersebut justru terdengar indah. “Saya seperti dirangkul suara itu. Saya merasakannya masuk ke tubuh saya,” cerita Peter.

“Saat mendengar suaranya, saya seperti berenang di danau pekat yang berisi suara-suara gamelan. Suling, siter, sinden dan yang lain,” tambahnya.

Hal lain yang membuat Peter begitu tertarik pada gamelan adalah cara memainkannya. Peter seorang pianis. Tanpa adanya instrumen musik lain, piano bisa berjalan sendiri. Sementara itu, instrumen gamelan tidak bisa. Gamelan harus dimainkan secara berkelompok.

”Gamelan itu tentang bagaimana kamu berada di dalam sebuah grup. Ini sangat penting,” tegasnya.

Semenjak itu, Peter bertekad mendalami gamelan. Pada 1992, dia mendapat beasiswa Darmasiswa untuk belajar gamelan di ISI Surakarta.

Awalnya dia hanya ingin setahun di Solo. Tapi malah molor hingga tiga tahun lamanya. Selama tinggal di Surakarta, Peter tak hanya belajar gamelan. Dia juga belajar bahasa Jawa. Dari sana pula dia mendapat panggilan Mas Parto.

”Saya hanya berbicara deugan bahasa lnggris dan bahasa Jawa. Tapi tidak bisa bahasa lndonesia, hanya sedikit-sedikit,” ungkap Peter yang sesekali mengeluarkan celetukan dalam bahasa Jawa.

Setelah kembali ke Inggris, Peter memperkenalkan gamelan ke masyarakat di sana. Dia juga mengajar kelas gamelan advance di Soothbank Center. Kelas yang dibuka setiap Kamis malam itulah yang kemudian menjadi Siswa Sukra.

Dari sana pula nama Siswa Sukra berasal. Sukra diambil dari bahasa Jawa yang berarti Jumat. Nakna bebasnya ”malam Jumuah” yang merupakan waktu berlatih mereka.

”Awalnya tidak ada nama. Tapi, kepikiran golek judul rombongan opo, nama yang kami pakai untuk pentas,” ungkap Peter.

Menjalani tur Jawa merupakan tantangan terbesar mereka. Kendati mereka sudah berlatih secara rutin di London, tetap saja ada faktor yang membuat mereka sulit bermain sempurna disini.

Salah satunya adalah faktor cuaca yang membuat mereka cepat kelelahan dan kehilangan konsentrasi. Maklum, temperatur di sini jauh lebih tinggi daripada di Inggris.

Disana, mereka bisa melakukan banyak kegiatan dalam sehari tanpa merasa kelelahan. Tapi, disini sebaliknya. Baru sebentar saja berkegiatan, tubuh rasanya sudah capek.

Sebelum pentas di Pendopo Agung, Siswa Sukra melakukan beberapa kali pertunjukan. Misalnya, di Museum Wayang Jakarta (6/8) dan Festival Kesenian Jogjakarta (9/8).

Para personel Siswa Sukra juga mengikuti beberapa kelas dari dosen di ISI Surakarta. Mereka sempat pula mampir ke Desa Wirun dan Desa Jatitekan di Sukoharjo.

Dua desa tersebut dikenal sebagai pusat pembuatan gamelan. Gamelan dari desa itu juga banyak diekspor ke luar negeri. Salah satunya ke Inggris, negara asal para anggota Siswa Sukra.

”Saya ingin mengajak mereka (para pemain gamelan) menyaksikan sendiri bagaimana gamelan yang mereka mainkan di Inggris dibuat,” ujar Peter.

Disana, Siswa Sukra juga sempat melakukan pertunjukan singkat. Peter menuturkan, dirinya ingin menunjukkan kepada para perajin gamelan bahwa gamelan karya mereka diapresiasi baik di luar negeri.

Siswa Sukra ikut pula meramaikan car free day pada Minggu (20/8) lalu. Penampilan bule pala pemain Siswa Sukra cukup membuat warga yang datang ke CFD penasaran. Tidak sedikit juga yang meminta foto bersama Siswa Sukra. ”Penontone okeh banget,” ujar Peter.

Selain penampilan fisiknya yang tidak seperti orang Jawa, cara bermain Siswa Sukra agak berbeda dari kelompok gamelan pada umumnya. Setiap selesai memainkan repertoar, mereka sibuk berpindah posisi.

Dari satu instrumen ke instrumen lain. Menurut Peter, hal tersebut memang jadi kekhasan kelompok yang dipimpinnya.

Sebenarnya, kekhasan itu bukan sesuatu yang disengaja_ Di Siswa Sukra, dan kebanyakan kelompok gamelan di Inggris, setiap orang punya keinginan untuk bisa memainkan beragam instrumen. Mereka tidak puas hanya dengan bisa memainkan satu instrumen.

“Aku durung ngerti iki, aku pindah nang iki. Itulah orang Inggris. Kami ingin mempelajari setiap instrumen,” ungkap Peter.

Namun, hal tersebut jadi agak susah dilakukan saat mereka melakoni pentas di Jawa. Terutama saat mereka tampil dengan menggunakan busana Jawa lengkap seperti pada pentas malam itu.

”Angel nganggo kejawen (baju adat Jawa, Red) pindah-pindah,” tutur Peter lalu tertawa.

Dia menyatakan, yang dilakukan kelompoknya tesebut memang tidak lazim di Indonesia. Di sini, satu pemain biasanya akan terus memainkan instrumen yang sama. Karena itu juga, hampir di setiap pentas yang mereka lakukan, selalu ada yang mengomentari hal tersebut.

”Ini apa pindah-pindah? Yang seperti ini yang memang tidak ada di Jawa,” tutur Peter.

Meski demikian, tur Jawa tetap sangat berkesan bagi Siswa Sukra. Selain ilmu baru tentang gamelan dan pengalaman pentas, mereka jadi punya kesempatan mencicipi beragam kuliner Nusantara meski sebenarnya kurang cocok di lidah.

“Bagi orang Inggris, (masakan) pedas itu sulit, begitu juga dengan masakan manis. Padahal, di Solo ini eneke pedes karo legi thok, hehehe,” cerita Peter. (jpg)

Pekerja Budaya Budayakan Anak Nyanyi Lagu Anak

foto
Peserta menyanyikan lagu ‘Aku Senang Bisa Jujur’ di Lapangan Gulun Kota Madiun. Foto: Siswo/Antara Jatim.

Aktivis Jaringan Pekerja Budaya menggelar lomba menyanyi lagu anak berjudul ‘Aku Senang Bisa Jujur’ bagi anak-anak usia lima hingga sembilan tahun di Lapangan Gulun, Kota Madiun.

Jaringan Pekerja Budaya yang dimotori seniman, budayawan sekaligus sastrawan Harry Tjahjono ingin membudayakan kembali anak-anak menyukai lagu bertema anak-anak.

Itulah makanya Harry Tjahjono bersama anaknya, Harry Krisna Triastantya menciptakan lagu ‘Aku Senang Bisa Jujur’ yang dilombakan untuk anak-anak tersebut, dengan harapan lagu bertema anak-anak dan kejujuran tersebut bisa pupuler.

“Kalau lagu ‘Aku Senang Bisa Jujur’ itu bisa menjadi lagu pelengkap Nina Bobo, paling tidak itu bisa gunakan untuk menanamkan nilai kejujuran kepada anak sejak dini,” ujar Harry Tjahjono di sela-sela lomba menyanyi yang diikuti 25 anak.

Lagu Nina Bobo yang sudah terlalu lama didendangkan kaum ibu, untuk menidurkan anak-anak. “Dalam syair lagu itu ‘kan ada kalimat ‘digigit nyamuk’ yang bisa menakut-nakuti anak balita. saya berpikir apakah tidak bisa lagu itu digantikan syairnya yang lebih positif, kemudian saya buatkan lagu bersama anak saya. saya bikin lagu ‘Aku Senang Bisa Jujur’,” katanya kepada AntaraJatim.com.

Dalam waktu dekat, Harry akan menggelar lomba menyanyikan lagu anak-anak ‘Aku Senang Bisa Jujur’ tersebut untuk ibu-ibu di tempat yang sama.

“Dalam waktu dekat, saya akan gelar lomba untuk ibu-ibu juga di tempat ini. Saya juga akan menawarkan kepada penyanyi Yuni Shara agar menyanyikan lagu tersebut. Saya sudah hubungi Yuni melalui pesan lewat WA namun belum dijawab, saya yakin dia mau,” kata Harry berharap.

Harry mengatakan kegiatan lomba menyanyi lagu anak tersebut juga mrupakan gerakan budaya yang dia rintis sejumlah aktivis seperti Arswendo Atmowiloto, Butet Kertaradjasa, Roy Marten, Sys NS dan para aktivis lain.

“Kegiatan budaya di Madiun ini untuk membangun Indonesia tanah air kejujuran. Jadi memang saya sengaja memulainya dari lokal, tidak dari Jakarta. Karena kalau dari Jakarta pasti banyak ribetnya,” ujar Harry. (ant)

Dinilai Bertuah, Sumber Air Sering untuk Ritual Adat

foto
Udara di sumber mata air Ubalan di desa Ngampungan Kecamatan Bareng Jombang masih sejuk. Foto: Anggi/Jawa Pos Radar Jombang.

Selain situs bersejarah sumber mata air Pandansili, di Desa Ngampungan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang juga terdapat sumber mata air Ubalan. Pasokan air melimpah ruah, hingga dijadikan salah satu sumber air PDAM Jombang. Seperti apa?

Udara sejuk menggelayuti sekitar pemukiman warga Desa Ngampungan di kala pagi hari. Gemericik air, sejuknya udara di area hutan rakyat di sekitar sumber mata air Ubalan kian menambah suasana sejuk pedesaan.

Ya, di area sumber mata air Ubalan ini udaranya sangat sejuk dan asri. Letaknya ada di ujung Dusun/Desa Ngampungan. Tepatnya diapit beberapa bukit yang menjulang tinggi.

Selain dimanfaatkan sebagai air minum warga setempat, sejak 1996-an PDAM Jombang juga menggunakan air tersebut sebagai persediaan distribusi pelanggan di daerah selatan. Meliputi Kecamatan Mojowarno, Bareng dan Mojoagung.

Di sisi lain, warga setempat juga mengaku tempat tersebut sebagai lokasi yang dikeramatkan.

Karena pada hari-hari tertentu selalu digunakan untuk melakukan ritual adat. Misalnya, saat menjelang Idul Fitri puluhan warga berbondong-bondong mengikuti tradisi syukuran di sekitar sumber mata air Ubalan.

”Jadi, kalau sumber mata airnya sudah ada sejak zaman dahulu. Sepanjang tahun tetap mengalir deras dan tidak pernah berubah,” ujar Suparmo kepala dusun setempat, beberapa waktu lalu.

Setelah itu, pada orde baru sekitar 1982 pemerintah pusat memberikan bantuan pipa dan penampungan air untuk pendistribusian air bersih kepada warga tiga dusun di Desa Ngampungan. Masing-masing dusun Sumberdadi, Wungurejo dan Ngampungan.

”Itu kan dalam bentuk banpres (bantuan presiden), sekitar tahun 82-an pas Pak Harto masih menjabat,” paparnya seperti dikutip Jawapos.com.

Hingga 35 tahun ini, kondisi pipa maupun tempat penampungan air itu masih kokoh. ”Sampai saat ini masih kuat, bahkan digunakan PDAM untuk pasokan airnya,” jelas dia.

Namun, justru ia mempertanyakan kontribusi PDAM yang telah menggunakan sumber mata air Ubalan sebagai salah satu pasokan utamanya. ”Kurang tahu saya, setahu saya kalau dalam bentuk kompensasi belum ada,” tandasnya. (jpg)

Populerkan Gamelan, ‘Bule’ Dapat Penghargaan

foto
Dubes Tantowi Yahya menyerahkan penghargaan. Foto: Kemlu.go.id.

Kedutaan Besar Republik Indonesia di Wellington melaksanakan resepsi diplomatik dalam rangka perayaan HUT RI ke-72, di Wellington, Selandia Baru, pekan lalu.

Acara resepsi diplomatik dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Hon Gerry Brownlee, para pejabat tinggi pemerintahan dan militer Selandia Baru, korps diplomatik, kalangan bisnis, akademisi, pemuka masyarakat dan kalangan lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, telah dianugerahkan penghargaan kepada dua warga Selandia Baru yang dianggap telah berjasa memperkenalkan dan mempopulerkan gamelan di Selandia Baru.

Pemberian penghargaan kepada Alan Thomas dan Jack Body, dilakukan sekaligus. Keduanya adalah seniman dan dosen di Victoria University of Wellington.

Berkat jasa mereka, saat ini sudah ratusan masyarakat Selandia Baru yang bisa memainkan gamelan dan tampil secara kontinyu di berbagai tempat, termasuk beberapa kali di Indonesia.

Kedua tokoh ini juga berhasil memasukkan gamelan dalam kurikulum di the school of music di University of Victoria Wellington. Sertifikat Penghargaan disiapkan dan ditandatangani Menteri Kordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani atas nama Pemerintah RI.

Penyerahan sertifikat diwakilkan oleh Duta Besar Tantowi Yahya kepada perwakilan atau pewaris dari kedua penerima yang sudah almarhum.

“Budaya adalah diplomasi yang sangat efektif. Karena ia bisa menjembatani semua perbedaan dan sanggup menembus semua peradaban. Kedekatan kita dengan masyarakat Selandia Baru selama ini, salah satunya tercipta lewat gamelan ini,” jelas Tantowi. (sak)

Pengharapan Dibalik Tujuh Macam Bubur

foto
Aneka jenang alias bubur pada Festival Jenang Solo 2017. Foto: Soloevent.id.

Bubur ternyata tidak hanya sebuah kuliner biasa. Dalam masyarakat Jawa, bubur yang juga disebut jenang merupakan makanan yang memiliki banyak doa dan pengharapan mulia.

“Bubur terbagi jadi dua jenis, untuk konsumsi sehari-hari dan untuk keperluan ritual adat,” ujar Murdijati Gardjito (75), Guru Besar dan peneliti pangan di UGM saat dihubungi KompasTravel, beberapa waktu lalu.

Dalam kebudayaan masyarakat Jawa yang tersebar dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur, bubur atau yang juga disebut jenang untuk keperluan ritual budaya terdapat tujuh macam.

“Karena bahasa Jawa tujuh itu pitu, buat orang Jawa singkatan dari pitulungan, minta permohonan kepada Tuhan, minta pertolongan kepada Tuhan agar hajatnya dikabulkan,” kata Gardjito.

Ketujuh bubur beserta tradisinya tersebut terdiri dari dua corak yaitu bubur merah dan bubur putih, yang mengalami perpaduan. Ketujuh bubur ini adalah:

Bubur putih

Bubur ini hanya memakai garam, santan, dan daun salam. Disajikan kepada masyarakat seusai berkegiatan bersama. Sensasi wangi utamanya dari daun salam dan rasa gurihnya dari santan.

Bubur merah

Bubur merah di sini merupakan bubur yang diberi gula palma, yaitu gula yang terbuat dari tanaman palma seperti kelapa, siwalat, atau yang populer dari aren. Manis dan wanginya aren tentu akan menggoda siapa pun yang menyantapnya.

Jenang slewah dan pliringan
Keduanya merupakan campuran bubur merah dan putih sebelumnya. Bubur slewah sebagian sisinya puth, sebagian lagi merah. Sedangkan bubur pliringan menempatkan bubur putih di tengah bubur merah.

Filosofi dari keduanya ialah sebagai keseimbangan, ada siang ada malam, kadang senang kadang sudah, ada siang ada malam.

“Bubur putih itu simbol dari kekuatan atau simbol dari ayah. Merah simbol ibu atau darah saat melahirkan. Jadi itu mengingatkan kita akan kelahiran ke dunia, dikehandaki oleh Tuhan, melawati kedua orangtua,” kata Murdijati.

Jenang palang
Lalu ada yang bubur yang membentuk palang putih di antara bubur merah, seperti lambang Palang Merah Indonesia (PMI).

“Ini melambangkan hidup itu penuh dengan masalah, jadi supaya disadari, masalah itu untuk diselesaikan bukan untuk dihindari,” kata Guru Besar yang masih aktif menerbitkan buku-buku khasanah kuliner Indonesia ini.

Jenang baro-baro
Jenang atau bubur ini merupakan bubur merah yang di atasnya diberi parutan kelapa dan diberi sisiran atau parutan gula palma yang berwarna kemerahan.

Jenang manggul
Bubur ini berwujud putih, ditaburi kacang-kacangan seperti kedelai hitam goreng, kacang tanah goreng, lalu irisan telur, abon, dan sambal goreng tempe. Bubur ini bisa ditemukan setiap menjelang satu Muharam penanggalan hijriyah.

Mengandung filosofi yang dalam yaitu dari kata “manggul” yang berarti memanggul beban. Mengingatkan kepada anak dalam satu keluarga agar selalu memanggul atau menjunjung tinggi kehormatan orangtua.

“Makanya membawa panggul/manggul itu membawa tapi di atas panggul. Jadi setiap tahun itu ada peringatan, anak itu harus mikul nduwur mendem jero. Artinya menjunjung tinggi dan menjaga keamanan serta kehormatan keluarganya,” kata Murdijati.

Bubur sumsum

Terakhir yang paling populer ialah bubur sumsum yang biasa dikonsumsi sehari-hari. Ternyata bubur ini fungsinya mengembalikan stamina setelah lelah menyelenggarakan hajat atau perayaan adat, seperti pernikahan.

Bubur yang mengandung karbohidrat dan cairan kinca atau gula palma cair itu dibagikan pada semua yang membantu terselenggaranya acara. Sebagai rasa syukur, ucapan terima kasih dan pemulihan tenaga.

Bubur ini juga memiliki nama lain bubur lemu di Solo, sementara nama bubur sumsum lebih terkenal di Yogyakarta dan daerah lainnya. (ist)

Babat, Kota Tua Peninggalan Era Kolonial

foto
Bangunan bersejarah di Kecamatan Babat, Kab Lamongan. /Foto: Detik.com/Eko Sudjarwo.

Jejak kolonial bisa dirasakan di Lamongan, dengan beberapa bangunan peninggalannya. Sayangnya, sejumlah bangunan kuno peninggalan penjajah itu hampir roboh atau rusak karena kurang terawat.

Pemerhati budaya, Supriyo mengatakan, sejumlah bangunan kuno yang hingga saat ini masih berdiri di daerah Kecamatan Babat, di antaranya gedung bekas markas CTN (Corps Tjadangan Nasional), Rumah Bekas Koramil Babat, Gedung Garuda, Kantor Polsek Babat, Stasiun Babat, Jembatan Cincim, Rumah Panggung milik PT KAI.

“Ada juga beberapa bangunan kolonial lainnya yang sudah menjadi hak milik swasta atau pribadi,” terang Priyo kepada Detikcom, akhir pekan lalu.

Supriyo menerangkan, bangunan-bangunan itu mempunyai riwayat dan sejarah masing-masing. Gedung CTN misalnya, dimungkinkan adalah bangunan peninggalan Belanda yang pernah digunakan sebagai kantor kawedanan dan kemudian digunakan sebagai markas CTN pada tahun 1950-an.

Di depan bekas markas CTN, lanjut Priyo, yakni markas Polsek Babat adalah juga bangunan peninggalan Belanda yang masih terawat dan terjaga dengan baik, karena masih ditempati.

“Menurut rekam sejarahnya, gedung ini dulunya adalah sebuah bangunan Rumah Sakit milik Marbrig (Mariniers Brigade atau Koninklijk Nederlandse Marine Korps, red). Gedung ini juga menjadi saksi bisu Agresi Militer Belanda I dan II,” terang Priyo yang juga mengungkapkan setelah Agresi Militer Belanda berakhir, bangunan ini difungsikan menjadi kantor polisi dan asrama polisi pada sekitar tahun 1950-an.

Selain dua bangunan ini, lanjut Priyo, Babat juga mempunyai bangunan kolonial lainnya yang unik, seperti pada bangunan gudang yang ada di Pasar Babat. Gedung bekas gudang beras atau sembako di zaman kolonial ini, kata Priyo, pada bagian atas bangunannya terdapat logo Bintang Daud atau David Star yang mirip dengan Bendera Israel.

Priyo mengungkap, banyak bangunan peninggalan era kolonial ini sudah dalam kondisi tidak terawat, seperti bangunan bekas markas CTN yang sudah hampir roboh karena tak terawat. Bahkan, aku Priyo, bangunan-bangunan era kolonial di Babat ada yang sudah beralih status menjadi milik pribadi atau swasta.

“Yang status kepemilikannya sudah menjadi hak milik swasta maupun pribadi, masuk dalam kategori rawan punah. Pasalnya, bangunan ini mudah diperjualbelikan untuk kepentingan bisnis,” ungkapnya.

Pemerintah, kata Priyo, harus segera mengambil langkah tegas untuk penyelamatan dan perlindungan cagar budaya. Bisa dengan melakukan kajian serta pendataan dan selanjutnya ditindaklanjuti dengan penetapan cagar budaya oleh pemerintah daerah.

“Penetapan cagar budaya juga harus disertai dengan pemberian bantuan biaya perawatan, perbaikan, serta dukungan tenaga ahli agar pemilik bangunan tidak merasa keberatan dan terbebani, sehingga mereka tidak akan pernah mempunyai pikiran untuk menjualnya atau merobohkannya,” harapnya.

Sementara Kepala Seksi Museum Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan, Muhammad Alamudin dihubungi terpisah mengatakan, pihaknya akan mempelajari mengenai rumah-rumah peninggalan era kolonial ini. “Kami menerima laporan tersebut dan masih akan mempelajari untuk mencari jalan terbaik,” jelasnya. (dtc)

Kemendikbud Identifikasi 646 Bahasa Daerah

foto
Kepala Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dadang Sunendar. Foto: Istimewa.

Kepala Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dadang Sunendar mengatakan pihaknya baru berhasil mengidentifikasi sebanyak 646 bahasa daerah. “Kami baru berhasil mengidentifikasi sebanyak 646 bahasa daerah. Dalam dua bulan ke depan, diperkirakan akan semakin bertambah,” katanya di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Identifikasi itu diperlukan untuk mengetahui seberapa banyak bahasa daerah yang ada di Tanah Air. Sejumlah bahasa daerah mengalami kepunahan karena tak ada lagi yang menggunakan bahasa daerah itu.

Sejumlah bahasa daerah mengalami kepunahan seperti bahasa Hoti, Hukumina, Hulung, Serua, Teun, Palumata, Loun, Moksela, Nakaela dan Nila yang ada di Maluku. Begitu juga bahasa daerah Papua yang punah seperti Saponi dan Mapia.

Oleh karena itu, pihaknya berusaha melestarikan bahasa daerah melalui pemilihan duta bahasa. Pada tahun ini, setiap provinsi mengirimkan sebanyak dua duta bahasa.

“Untuk menjadi duta bahasa ini tidak mudah, selain bisa menggunakan Bahasa Indonesia yang baik, juga harus bisa menguasai bahasa daerah dan asing,” kata dia seperti dikutip Antarajatim.com.

Setiap duta bahasa harus bisa menggunakan bahasa daerah yang ada di provinsi itu. Dadang menjelaskan mereka mendapatkan pelatihan mengenai bahasa selama satu pekan sebelum terpilih sebagai duta bahasa mewakili provinsinya masing-masing.

“Tantangan bahasa saat ini sangat berat. Untuk itu, kami tidak bisa bekerja sendiri harus bekerja sama dengan orang tua, guru maupun media untuk mengampanyekan Bahasa Indonesia.”

Duta Bahasa dari Kalimantan Selatan, Muhammad Andri HF, mengatakan di daerahnya ada 18 bahasa daerah, namun yang lebih banyak digunakan adalah bahasa Banjar.

“Kami berusaha melestarikan bahasa lainnya, jangan sampai bahasa lain punah karena tidak ada penuturnya,” kata Andri. (ant)