Cara Melestarikan Budaya Jawa di Perantauan

foto
Dalang Ki Heri Guntoro membawakan lakon ‘Cekel Indroloyo’. Foto: Bontang Post/Fahmi Fajri.

“Ia tidak merasa menjadi yang terpenting, dan ia juga tidak ingin dipentingkan. Sebagai seorang cekel diniatkannya pada sebuah pengabdian. Ia melangkah maju meski dihiasi berbagai gonggongan, kafilah tetap berlalu. Tidaklah ia sedang mencari tangga untuk memanjat ketinggian. Karena harapannya, niat bersih tidak tersisih karena pamrih.

Dalam sibuknya sebagai pertapa, Cekel Indraloyo harus rea keluarganya menjadi korban. Namun ia yakin itu rencana Tuhan, ia yakin sesuatu akan kembali kepada yang hak. Berkat kesetiaan, keteguhan, dan kesabarannya, angkara sirna. Dewi Subadra pun kembali dipertemukan dengan jantung hatinya Hujana dalam ikatan cinta hakiki”

Begitulah sinopsis lakon ‘Cekel Indroloyo’ yang dibawakan dalang Ki Heri Guntoro dari Kediri dalam pagelaran wayang kulit semalam suntuk di lapangan MTQ Jalan HM Parikesit, Bontang Baru, Kalimantan Timur, Sabtu (19/8) malam.

Turut hadir dalam kesempatan ini seperti dilaporkan Bontangpost.id Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni, Sekertaris Daerah (Sekda) Artahnan Saidi, dan Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Setiono.

Melalui pagelaran wayang kulit semalam suntuk ini Ketua DPD II Ikapakarti (Ikatan Keluarga Paguyuban Tanah Jawi) Dasuki mengajak seluruh warga Jawa yang ada di perantauan agar senantiasa selalu melestarikan budaya leluhur Jawa di perantauan. Sehingga, budaya Jawa tidak punah dan tidak tenggelam oleh budaya-budaya asing.

“Ikapakarti mengajak kepada seluruh warga Jawa di Bontang untuk senantiasa membangun harmonisasi dengan seluruh elemen masyarakat di Bontang. Karena Bontang ini masyarakatnya majemuk. Sehingga diharapkan ketentraman, keamanan, kenyamanan dapat terwujud karena ini akan menjadi modal dasar Pemerintah dalam pembangunan di semua bidang,” ungkap Dasuki.

Dirinya juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pendukung acara, panitia, dan para sesepuh sehingga kegiatan pelantikan dan segala rangkaiannya bisa terlaksana dengan baik dan lancar. Lewat kesempatan ini pula, Dasuki mengajak warga yang datang menyaksikan pagelaran wayang kulit, mengambil hikmah dan filosofi dari lakon ‘Cekel Indroloyo’ tersebut.

“Hikmah dan filosofinya yaitu, setiap kehidupan itu tentu akan dipertangung jawabkan. Siapa saja yang jahat, akan dikalahkan dengan yang baik walau prosesnya lama. Orang jawa harus senantiasa memiliki sifat tidak sombong, kaya jiwa, dan selalu mengalah untuk menang demi terciptanya guyub rukun,” tandas Dasuki.

Sementara itu, mewakili Wali Kota Bontang, Sekda Artahnan Saidi mengungkapkan apresiasinya terhadap apa yang dilakukan pengurus DPD Ikapakarti Bontang. Menurutnya, ini bisa menjadi perekat antar warga Bontang yang majemuk. Gelaran kesenian Jawa ini sendiri merupakan rangkaian dari pelantikan Pengurus DPD II Ikapakarti Bontang masa bakti 2017-2021. (ist)

Memperkenalkan Keris Panjalu Lewat Pameran

foto
Pemkot Kediri dan komunitas pecinta keris menggelar pameran ‘Gugat Keris Jenggala’. Foto : iNewsTV/Afnan Subagio.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengenalkan kekayaan budaya Indonesia. Di Kediri, Pemkot dan para pecinta keris menggelar pameran di sebuah pusat perbelanjaan modern. Dengan pameran ini diharapkan generasi muda bisa memahami dan mengenal keris, yang telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

Ratusan keris dari berbagai jenis dan pamor dipamerkan oleh komunitas pecinta keris Kediri. Pameran keris yang digelar Pemkot Kediri dan pecinta keris bertajuk ‘Gugat Keris Jenggala’ ini merupakan bagian dari rangkaian ulang tahun Kota Kediri ke 1138.

Berbagai keris yang ditampilkan dalam pameran tersebut berasal dari beberapa zaman kerajaan, seperti zaman kerajaan Majapahit, Singosari, Panjalu dan Mataram. Sejumlah aksesori pelengkap keris juga ikut dipamerkan dalam acara tersebut.

Pameran keris ini menarik perhatian sejumlah pengunjung pusat perbelanjaan modern tersebut. Mereka meluangkan waktu untuk melihat, dan mengenal lebih dekat tentang keris. Para pengunjung pameran juga bisa mengetahui jenis keris melalui tulisan keterangan yang disiapkan oleh panitia di setiap keris.

Pihak panitia sengaja memilih lokasi halaman parkir sebuah pusat perbelanjaan untuk mengenalkan keris ke generasi muda, yang selama ini lebih dikenal suka bermain ke tempat tersebut. Diharapkan generasi muda bisa mencintai kebudayaan Indonesia, serta memahami seluk beluk tentang keris.

Imam Mubarok, panitia pameran seperti dikutip Sindonews.com mengatakan memilih tajuk gugat keris jenggala berdasar dari sejarah keris dimana Kediri merupakan kota yang memiliki sejarah panjang tentang Nusantara.

Dahulu, di kota ini pernah berdiri salah satu kerajaan yang sangat terkenal, yaitu Kerajaan Panjalu di bawah kepemimpinan Prabu Jayabaya. Dengan slogan Panjalu Jayati, Jayabaya kemudian menyatukan Panjalu dengan Kerajaan Jenggala.

Kediri sebagai Panjalu ini memiliki ciri keris yang dilupakan. Sebab, kebanyakan orang mengira keris Kediri adalah keris Jenggala. Padahal wilayah Kediri adalah wilayah Panjalu dimana kearifan lokal itu digunakan sebagai bentuk gugat keris Jenggala.

Pameran ini diikuti peserta dari hampir seluruh nusantara. Keris yang dipamerkan alah keris tangguh sepuh, dari era Panjalu hingga era Hamengkubuwono.

Sementara itu, Wali Kota Kediri Abdullah Abubakar mengatakan, tujuan mengadakan pameran keris di sebuah pusat perbelenjaan adalah untuk menarik minat kunjungan warga Kota Kediri untuk menyaksikan berbagai macam keris yang dipamerkan.

Pemkot Kediri diharapkan bisa mengedukasi pengunjung tentang keistimewaan keris karena kemajuan teknologi yang telah digunakan pada zaman dahulu.

Keris merupakan salah satu kebudayaan Indonesia, yang telah diakui oleh dunia internasional. Selain sebagai senjata, keris juga memiliki nilai falsafah yang belum banyak diketahui secara umum. (ist)

Gelorakan Budaya Khas Desa di Situbondo

foto
Penampilan peserta Festival Seni Desa 2017. Foto: RRI.co.id.

Bangga menjadi anak desa, karena desa kaya dengan budaya. Beberapa perangkat desa dari ujung barat hingga timur Situbondo menggelar Festival Seni Desa 2017 di halaman Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kab Situbondo. Tujuannya mengeksplor beragam seni dan budaya khas setiap desa.

Kepala DPMD Drs Suradji menuturkan, semua kegiatan tersebut diatur sepenuhnya oleh panitia dari perangkat desa. DPMD hanya memfasilitasi lokasi kegiatan. Panitia memilih di halaman DPMD, lantaran ada pohon beringin besar yang mengambarkan suasana desa.

“Bahkan ditawari Sekda untuk digelar di alun-alun. Namun, mereka bersikukuh menggunakan halaman DPMD, karena, view di bawahnya benar-benar seperti suasana desa yang asri dan sejuk,” terangnya seperti dikutip Jawapos.com.

Suradji mengungkapkan, perangkat desa memahami bagaimana event tersebut dapat memotivasi masyarakat desa untuk memunculkan potensinya.

Apapun yang ditampilkan desa, entah seni musik, seni teater, budaya kuliner, semuanya dilombakan dalam festival seni itu. Event ini merupakan dari desa untuk desa.

“Saya juga sudah mengingatkan agar kegiatan ini tidak berhenti hanya di sini saja. Sehingga, kemungkinan nanti event ini menjadi event tahunan,” ujarnya.

Dijelaskan, kegiatan ini menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat desa. Jumlah peserta yang ikut baru ada 14 desa dari 132 desa. Karena ini baru permulaan dan terhalang oleh waktu jika semua desa menampilkan seni budayanya.

“Meskipun sedikit pesertanya, namun perwakilan desa dari setiap wilayah barat, tengah, dan timur Situbondo itu ada,” tandasnya.

Ketua panitia Festival Seni Desa, Angga Kristanto menyampaikan, harus bangga menjadi anak desa. Tidak boleh malu, pasalnya desa merupakan awal berjalannya suatu pemerintahan. “Bangga jadi anak desa! Karena seni dan budaya kabupaten Situbondo berawal dari desa,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Banyuputih Juharto menyatakan, mendukung penuh kegiatan itu. Karena, baru pertama kali ini diadakan festival untuk seni budaya khas desa. Desa yang unjuk kebolehan diantaranya Desa Kumbangsari, Trebungan, Olean, Patemon, Lamongan, Pasir Putih, Pokaan, Widoro Payung, Alas Malang, Asembagus dan Desa Kotakan.

“Meskipun baru 14 desa yang ikut, saya harap semoga event ini bisa menarik minat kepala desa yang lain untuk membranding daerahnya dengan seni budaya khasnya,” ulas Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia cabang Situbondo itu.

Dikatakan, pemenang festival akan mendapatkan penghargaan atas kreasi dan inovasinya dalam menampilkan seni budaya. Dia berharap penghargaan itu berupa ditampilkannya seni dan budaya pemenang di kegiatan-kegiatan pemerintah. “Karena, hal itu yang akan memancing para kepala desa lainnya saling berlomba-lomba mengemas kekhasan daerahnya dengan baik,” pungkasnya.

Masing-masing desa mempertontonkan adegan kesenian berbeda. Desa Olean menampilkan atraksi pencak silat Rangong Dema. Rangong Dema mitos yang dipercayai masyarakat Olean hingga kini, bahwa ada sejenis Belut raksasa yang memiliki telinga. Belut raksasa ini akan memperlihatkan wujudnya secara tiba-tiba di sepanjang sungai Majapahit yang terletak di antara Desa Olean tengah dan selatan.

Bupati Dadang Wigiarto, Wakil Bupati Yoyok Mulyadi, Sekretaris Daerah Syaifullah, Ketua Dewan Kesenian Situbondo (DKS) Edy Supriono, turut hadir dalam event itu. Mereka sangat mendukung kegiatan tersebut. Bahkan Bupati Dadang menjanjikan untuk dibuat acara yang lebih besar lagi, apabila para perangkat dan masyarakat desa bersungguh-sungguh untuk membranding seni khas yang ada di daerahnya. (ist)

Mengapresiasi Parade Teater Tahunan Jawa Timur

foto
Seniman Teater Universitas Kanjuruhan Malang menampilkan ‘B.O.R’. Foto: Antara/Moch Asim.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggelar Parade Teater Jawa Timur 2017. Parade ini kan menyuguhkan beragam bentuk drama yang dipentaskan oleh enam kelompok teater dari tiga kabupaten/kota.

“Kegiatan ini sebagai upaya untuk membangun ruang ekspresi dan apresiasi bagi para seniman melalui karya-karya baru yang kreatif, inovatif, dan edukatif,” ujar Kepala Disbudpar Jawa Timur Jarianto kepada Antarajatim.com usai menyaksikan pertunjukan yang berlangsung hingga Minggu (20/8) dini hari.

Kegiatan yang merupakan agenda tahunan Disbudpar Jawa Timur tahun ini berlangsung selama dua hari, 18-19 Agustus, di Gedung Cak Durasim, Kompleks Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali Surabaya.

Tampil pada hari pertama Teater Komunitas asal Kota Malang yang mementaskan lakon ‘Kekenceng adalah Situs’. Dilanjutkan penampilan Teater Universitas Kanjuruhan, yang juga asal Malang, dengan mementaskan lakon “B.O.R” karya Putu Wijaya.

Parade Teater Jawa Timur 2017 hari pertama ditutup oleh pementasan Serambi Teater dari Kampus Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya yang menyuguhkan lakon ‘Wek-Wek’.

Pada hari kedua, pentas dibuka oleh Arek Teater dari Kampus STKW Surabaya dengan lakon ‘Sarip Tambak Oso’. Dilanjutkan oleh Teater Progam Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Adi Buana Surabaya yang mementaskan lakon adaptasi dari puisi karya WS Rendra berjudul ‘Maria Zaitun’.

Pentas Parade Teater Jawa 2017 ditutup oleh Teater Ringin Contong dari Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan PGRI Jombang dengan lakon ‘Trilogi Asu’.

“Kami menyadari bahwa seni teater di Jawa Timur akhir-akhir ini perkembangannya memang terasa kurang greget. Kecuali di kalangan pelajar dan mahasiswa yang relatif masih cukup dinamis sehingga perlu ada ruang-ruang untuk unjuk kreasi yang lebih kontinu,” ucap Jarianto.

Setiap penyelenggaraan Parade Teater Jawa Timur, Disbudpar Jawa Timur selalu mengundang pengamat teater asal luar Jawa Timur untuk mengevaluasi pementasan dari berbagai kelompok yang telah ditampilkan. Pengamat teater yang diundang untuk Parade Teater Jawa Timur tahun ini, Eko Santoso menilai pementasan dari enam kelompok teater yang menyuguhkan beragam bentuk drama layak diapresiasi.

“Perbedaan bentuk yang disajikan oleh masing-masing enam kelompok teater ini menunjukkan kepada masyarakat atau penonton bahwa seni teater itu tidak hanya satu macam, melainkan ekspektasinya ada berbagai macam. Ini menjadi sangat penting bagi apresiasi masyarakat terhadap pertunjukan teater,” ujarnya.

Pemerhati teater asal Jogja itu menambahkan, sekarang ini batas-batas teater dengan seni lainnya sudah mulai melebur sehingga memungkin penggiat teater untuk menggali mengeksplorasi, mengobservasi berbagai macam bentuk ekspresi. “Dengan begitu medianya bisa menjadi lebih banyak dan pola ungkapnya pun bisa menjadi lebih beragam,” terangnya.

Eko menyaksikan seluruh kelompok teater yang tampil pada Parade Teater Jawa Timur 2017 selama dua hari ini telah bereksperimen dengan berbagai macam bentuk kesenian lainnya seperti seni tari dan seni musik, bahkan ada yang mengadaptasi puisi. “Keseluruhan pentas Parade Teater Jawa TImur 2017 ini menarik untuk diapresiasi,” ucapnya. (ant)

Kerusakan Candi Patakan di Lamongan Makin Parah

foto
Situs Candi patakan di Lamongan kondisinya makin rusak. Foto: Detik.com.

Kondisi Candi Patakan di Desa Patakan, Kecamatan Sambeng, Lamongan, rusak. Kerusakannya makin parah karena cagar budaya yang masih proses dilakukan eskavasi digunakan untuk bertapa.

Itu terlihat ada beberapa dupa baru dan sofa bekas di atas reruntuhan batu dan tanah di atas candi. Sejumlah batu candi juga hilang dan tak terpasang seperti saat eskavasi sebelumnya.

Kepala Dusun Patakan, Jono membenarkan kerusakan yang terjadi di Candi Patakan tersebut. Ia menceritakan, hingga kini masih banyak orang yang memanfaatkan cagar budaya ini sebagai lokasi untuk bertapa. Warga, kata Jono, tidak bisa mengawasi secara penuh karena lokasinya yang jauh dari rumah warga.

“Untuk mencapai candi ini harus masuk ke dalam areal sawah warga untuk kemudian menuju hutan,” kata Jono kepada detikcom di lokasi, akhir pekan lalu.

Warga Desa Patakan sendiri, menurut Jono, tidak berani mendekat atau menjamah lokasi candi. Sebab, di sekitar lokasi masih dipercaya sebagai tempat angker. Sebelum dieskavasi pun warga sudah tahu jika di lokasi ada candi. Namun warga memilih diam dan tidak memberitahukan ke orang lain dari luar Desa Patakan.

Namun Jono tidak menampik, di lokasi sering digunakan untuk bertapa. Namun keberadaan sofa di atas candi, pihanya tidak tahu menahu. “Saya tidak tahu siapa yang melakukannya. Warga pun selama ini tahunya lokasi ini ya candi gitu aja, tidak tahu candi apa,” tuturnya.

Tak ingin kerusakan candi di Desa Patakan ini semakin parah, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disparbud) Lamongan mengambil langkah kongkrit. Disparbud akan melakukan ekskavasi lanjutan agar kerusakan tidak semakin parah.

Kepala Seksi Museum Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan, Muhammad Alamudin mengaku dalam waktu dekat pihaknya akan menghubungi BPCB Trowulan dan juga Balai Arkeologi Yogyakarta untuk menuntaskan eskavasi.

“Hari ini kita ada di lokasi situs cagar budaya untuk melihat kondisi terakhir dan melakukan pemetaan sebelum melaporkan ke BPCB dan Balai Arkeologi untuk eskavasi dan membuat master plan,” terangnya.

Sementara pemerhati budaya Lamongan, Supriyo menyambut baik langkah Pemkab Lamongan melakukan eskavasi lanjutan terhadap candi yang sudah ditetapkan sebagai situs cagar budaya dengan SK Bupati Lamongan.

Supriyo mengaku, banyak batu-batuan candi yang dulu sudah terpasang, sebagian sudah hilang. Selain itu, lokasi candi sudah tidak aman lagi karena sering dimanfaatkan oleh orang-orang untuk bertapa. “Kalau menilik prasasti Patakan yang kini berada di museum Nasional, Candi Patakan ini adalah peninggalan dari masa Airlangga,” tutur Priyo. (dtc)

Sumur Kuno Tak Terawat di Tengah Sawah

foto
Sebuah sumur kuno di Jombang diduga situs bersejarah. Foto: Jawapos.com.

Kondisi sumur kuno diduga salah satu situs bersejarah yang terletak di Dusun/Desa Watugaluh Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang cukup memprihatinkan. Kini, kondisinya tak terawat.

Sumur kuno tersebut memiliki diameter sekitar 50 centimeter, dengan kedalaman sekitar tujuh sampai sepuluh meter. Letaknya di tengah-tengah sawah warga. Yang unik sumur ini, dibangun dari batu bata yang ukuranya tak wajar.

Memiliki ukuran sekitar 45 x 20 centimeter. Dalam sumur tersebut ada air yang konon tak pernah surut meski musim kemarau panjang.

Dari cerita masyarakat, sumur tersebut sudah ada sebelum Desa Watugaluh diresmikan. Bahkan, ada pula yang mengatakan sumur tersebut dipercaya untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Sayang, kini keberadaanya kurang diperhatikan. Bahkan, pagar pun tidak ada.

“Memang sumur ini sudah ada sejak dulu, dan airnya katanya bisa menyembuhkan penyakit,” ujar Imam Suwardi, 64 salah satu warga ditemui Jawapos.com beberapa waktu lalu.

Dia menyebut, sumur tua tersebut memiliki sebutan sumur upas. Karena kandungan air dari sumur tersebut dipercaya memiliki unsur senyawa yang dapat menetralisir segala bentuk racun atau penyakit. “Pada 2015, pemerintah pusat pernah kesini untuk meninjau sumur ini,” jelas dia.

Dijelaskan, saat itu, tepatnya saat penentuan hari jadi Kabupaten Jombang, sumur tersebut pernah dijadikan salah satu acuan untuk melakukan kajian terhadap penentuan hari jadi Jombang.

Namun sayang, hingga kini tak ada keberlanjutan. Bahkan, setelah dilakukan penelitian baik pemerintah pusat dan pemerintah daerah terkesan mengabaikan situs yang menjadi bukti sejarah itu.

Dikonfirmasi terpisah, Arif Afandi, Kades Watugaluh membenarkan adanya sumur tua yang diduga situs bersejarah di desanya. “Memang benar, sumur tersebut memiliki diameter sekitar setengah meter, dengan kedalaman sekitar sepuluh meter,” paparnya.

Dahulu warga setempat, lanjut Arif, masih sering memanfaatkan sumur tersebut untuk keperluan ritual. Namun, seiring berkembangnya zaman kepercayaan tersebut mulai luntur.

Hingga kini sumur tersebut tak lagi mendapat perhatian. “Biasanya, ya hanya digunakan untuk keperluan irigasi tanaman warga,” jelasnya. Karena letaknya di tengah-tengah sawah milik warga. Ia pun tak bisa berbuat banyak.

Sehingga, agar tetap berfungsi biasanya warga maupun petani setempat masih menyiram tanaman mereka dari air dalam sumur. “Masih tetap digunakan warga, misalnya menyiram tanaman jagung dan cabai menggunakan gayung,” tandasnya.

Lantas bagaimana sikap pemerintah desa terhadap keberadaan sumur tersebut? Ia menegaskan, pihaknya sudah melaporkan ke pemerintah daerah. Bahkan, beberapa kali pernah dipantau. “Sudah kami laporkan dan juga sudah mereka pantau juga,” pungkasnya.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, melalui sekretaris Wiwik Emy Tjitrawati mengatakan, pihaknya sudah menerima laporan dari penemuan sumur tua yang diduga situs bersejarah di Desa Watugaluh Kecamatan Diwek itu.

Sejauh ini, pihaknya berencana akan melakukan kajian, namun karena terbentur masalah anggaran. Hingga kini masih sebatas angan-angan. “Jadi kami harus melakukan kajian terlebih dahulu, tidak semudah membalikan tangan untuk menentukan situs tersebut bersejarah apa tidak. Apalagi saat ini kami belum ada anggaran,” ujar dia dikonfirmasi terpisah.

Untuk melakukan sebuah kajian, lanjut Cicik sapaan akrabnya, harus dilakukan sesuai prosedur. Misalnya mendatangkan arkeolog, ataupun ahli purbakala yang ahli di bidangnya. Kemudian, proses selanjutnya akan dilakukan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur di Trowulan untuk memperoleh register cagar budaya yang dilindungi.

Saat ini, pihaknya belum bisa berbuat banyak lantaran untuk melakukan tahapan itu, dana yang dibutuhkan tidak sedikit.

Pihaknya berencana akan mengajukan pada perubahan anggaran keuangan (PAK) nanti. “Ada tiga lokasi yang akan kami lakukan kajian serupa,” tambahnya.

Lebih rinci ia menjelaskan, lokasi pertama situs Damar Wulan yang terletak di desa Sudimoro Kecamatan Megaluh, kedua situs kuno di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngoro dan situs sumur kuno alias sumur upas yang terletak di Desa Watugaluh Kecamatan Diwek. “Rencananya, kalau di PAK nanti sepakati. Akan segera kami lakukan,” tandasnya.

Ditambahkan, untuk melakukan kajian sebenarnya tugas BPCB Trowulan. Namun, setelah melakukan koordinasi akhirnya tugas tersebut menjadi kewenangan pemerintah daerah. “Kalau kami di kabupaten sebenarnya hanya memonitor dan melaporkan untuk mengajukan juru pelihara saja,” jelasnya.

Disinggung apakah pemkab akan melakukan tukar guling, karena situs tersebut berada disalah satu pekarangan milik warga? Ia belum bisa menjelaskan secara pasti. “Ya kita lihat perkembanganya dulu. Karena bisanya masyarakat akan mengikhlaskan sebagian tanah milik mereka jika di lokasi tersebut ditemukan situs bersejarah,” pungkasnya. (jpg)

Undang Wisatawan ke Bawean, Gelar Festival

foto
Tarian Bawean akan membuka festival budaya di pulau ini. Foto: Yudhi/Radar Gresik.

Pemerintah Provinsi Jatim dan industri pariwisata di Jatim akan menggelar Festival Tarian Bawean 2017. Rencana ini untuk mendongkrak angka kunjungan pariwisata di Pulau Bawean.

Kepala Dinas Provinsi Jatim, Djariyanto mengatakan, festival tarian Bawean diikuti ratusan penari serta dihadiri kesenian daerah dari Jatim. “Kami terus berusaha secara konsisten menempatkan Jawa Timur pada peta pariwisata dunia atau sebagai daerah tujuan wisata nasional dan internasional,” ujarnya kepada Radar Gresik.

Dijelaskan, dipilihnya Pulau Bawean karena wilayah ini merupakan destinasi wisata yang cukup indah di Jatim. Hanya saja, selama ini belum banyak pihak atau dunia yang mengetahuinya.

Disebutkan, pihaknya menargetkan kunjungan wisman 2017 sebesar 625 ribu orang dan wisatawan nusantara 54 juta jiwa. Jumlah ini meningkat 2 persen dibandingkan tahun lalu. Tahun 2015, jumlah wisatawan dari mancanegara ini sebanyak 612 ribu orang. Setahun kemudian naik 2 persen menjadi 618.658 orang.

“Selama ini kunjungan wisatawan lokal terbanyak berasal dari peziarah yang mengunjungi makam wali lima yakni Sunan Ampel Surabaya, Sunan Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri Gresik, Sunan Drajat Lamongan, Sunan Bonang Tuban. Serta beberapa wisata religi ke makam ulama di Jawa Timur lainnya,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jatim, M Soleh, mendukung pemerintah langkah pemerintah dalam menggenjot Wisman dan Winus mengunjungi Gresik. Hal ini dikarenakan bisnis resto dan perhotelan di kota pudak sedang berkembang.

“Dipilihnya Bawean untuk event ini cukup tepat ditengah bisnis perhotelan Gresik yang sedang mulai naik daun. Event ini akan membawa dampak spirit bagi pelaku usaha hotel dan resto untuk berkompetisi mengembangan hunian mereka,”kata Soleh. (jpg)

Tergerus Zaman, Kisah Panji Mulai Dilupakan

foto
Kemdikbud menggelar Festival dan Seminar Budaya Panji di Museum Wayang di Jakarta. Foto: Travel.Kompas.com.

Memperingati HUT ke-50 ASEAN, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar Festival dan Seminar Budaya Panji di Museum Wayang di Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, beberapa waktu lalu.

Seminar menghadirkan sejumlah tokoh dan akademisi lintas budaya serta mementaskan sejumlah pertunjukan seni dan pameran karya sastra, naskah kuno dan kreasi seni rupa.

Pengamat Budaya sekaligus penggagas dan pembicara kunci dalam Seminar Sastra dan Budaya Panji, Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro menjelaskan, cerita Panji mengisahkan percintaan dan peperangan antara kerajaan Jenggala dan Panjalu.

“Sebelum pecah, Jenggala dan Panjalu merupakan satu kerajaan besar bernama Panjalu (Kediri) yang dipimpin oleh Airlangga, berkuasa pada 1042-1222 di Jawa Timur. Kisah Panji dengan tokoh sentral Inu Kertapati dan Galuh Chandrakirana memiliki banyak versi dan tersebar hingga ke wilayah Asia Tenggara,” katanya dalam siaran pers yang dikutip Travel.kompas.com.

Wardiman memaparkan, begitu luar biasa keunikan sastra dan budaya Panji, Perpustakaan Nasional bersama Malaysia, Kamboja, British Library, dan Leiden Universiteit telah mendaftarkan naskah Panji sebagai Ingatan Kolektif Dunia untuk kategori naskah kuno atau Memory of the World di UNESCO yang hasilnya akan diketahui Oktober 2017.

Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid mengatakan, cerita Panji memiliki keunikan karena pengarangnya banyak, dengan berbagai versi dan diwarnai dengan budaya daerah serta disampaikan kembali dalam berbagai bahasa daerah di berbagai daerah di sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.

“Keunikan dan kepopuleran Panji menjadi inspirasi munculnya bentuk seni lain seperti tari, wayang, topeng, maupun seni rupa,” katanya.

Akan tetapi, menurut Hilmar, kisah Panji sudah mulai dilupakan orang seiring dengan perkembangan zaman. “Oleh karena itu sangat baik untuk mengangkat kisah ini sebagai upaya untuk membangkitkan kembali sekaligus merevitalisasi budaya Panji,” katanya.

Hilmar menjelaskan perhelatan ini mengambil tema “Kebangkitan Budaya Panji” di mana di dalamnya terkandung semangat untuk menggelorakan kisah Panji sebagai warisan budaya penguat identitas kawasan.

“Perhelatan festival ini juga sebagai upaya mengangkat kearifan lokal Nusantara dan membangun karakter bangsa dengan menggali nilai-nilai kepahlawanan yang terdapat dalam cerita Panji sekaligus sebagai media untuk mempromosikan budaya bangsa,” katanya. (sak)

Sumenep Raih Penghargaan Sebagai Kota Keris

foto
Sekjen Senapati Nusantara Hasto Kristiyanto memukul besi tempa untuk membuat keris di Sumenep. Foto: Beritasatu.com.

Sekretaris Jenderal Serikat Nasional Pelestari Tosan Aji Nusantara (Senapati Nusantara) Hasto Kristiyanto menyerahkan tiga kategori penghargaan terkait pelestarian sejarah Nusantara. Tiga penghargaan itu adalah Sumenep sebagai Kota Keris, Tokoh Keris, dan Maestro Keris.

Penghargaan diberikan di Sumenep, Madura, Jawa Timur, Jumat (11/8). Tampak hadir dalam acara tersebut Bupati Sumenep KH A Busyro Karim, Wakil Bupati Sumenep Achmad Fauzi, anggota DPR daerah pemilihan Madura Said Abdullah, serta para kolektor dan pelestari keris dari berbagai daerah.

Hasto menyerahkan penghargaan Kota Kers itu kepada Bupati Sumenep KH A Busyro Karim, lalu penghargaan Tokoh Keris kepada Achmad Fauzi, serta Mukaddam selaku Maestro Keris. Senapati Nusantara menjadi induk paguyuban bagi seluruh pelestari tosan aji se-Indonesia. Melalui Musyawarah Senapati Nusantara pada 26 Februari 2017, Hasto terpilih secara aklamasi menjadi Sekjen.

Hasto menyebutkan, keris merupakan daya cipta yang adiluhung dan keris tidak bisa dihasilkan tanpa roso (rasa). “Sumenep adalah penghasil keris dan memiliki ratusan empu yang luar biasa. Bahkan, keris dari Sumenep diekspor ke Malasyia, Brunei Darussalam, dan Belanda,” ujar Hasto saat memaparkan alasan Senapati Nusantara memberikan penghargaan kepada Sumenep.

Ditambahkan, Sumenep menyimpan tradisi sejarah yang luar biasa. Bahkan, dia mendapat laporan, ada sekitar 6.000 keris diproduksi setiap bulan sebagai mahakarya kebudayaan yang luar biasa. “Ini seharusnya menjadi perhatian dan menjadi energi kita untuk menguatkan tradisi budaya, supaya kita berkepribadian dalam kebudayaan,” ujarnya seperti dilansir Beritasatu.com.

Mengingat kepedulian itulah, Senapati Nusantara memberi apresiasi kepada Pemkab Sumenep yang memberikan kepedulian terhadap produk budaya Indonesia. Atas penghargaan yang diterima, Bupati Sumenep mengatakan, hal itu akan mendorong pihaknya untuk terus ikut membina pengrajin dan melestarikan keris sebagai karya budaya bangsa.

“Penghargaan ini membangkitkan Sumenep agar pengrajin keris lebih menghargai apa yang telah dimiliki. Sebab, keris adalah salah satu potensi Sumenep,” ujar Karim.

Hasto menambahkan, organisasi Senapati Nusantara membuka komunikasi dengan berbagai kementerian, seperti Kemdagri, Kementerian Perindustrian, serta Kementerian Koperasi dan UKM agar potensi produksi keris di Sumenep bahkan di Indonesia bisa ditumbuhkembangkan.

Seusai menyerahkan Penghargaan, Hasto yang juga merupakan Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan melihat secara langsung proses pembakaran logam yang menjadi materi dasar keris. Tak hanya menonton, Hasto juga didapuk untuk menempa logam yang sedang membara itu.

Selanjutnya, Hasto juga melakukan tur mengelilingi pameran keris serta berdialog dengan para pengrajin keris. Salah satu panitia, Carto menjelaskan, lebih dari 137 paguyuban keris dihadirkan pada pameran tersebut.

Dia mengutip data Unesco pada 2012 yang menyebutkan jumlah pengrajin keris di Kabupaten Sumenep sebanyak 524 orang. Kemudian, Pemkab Sumenep bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2014 melakukan pendataan ulang dan tercatat sebanyak 684 pengrajin keris yang tersebar di tiga kecamatan di Sumenep. “Paguyuban keris se-Kabupaten Sumenep mengharapkan agar ke depan ada galeri atau ruang pamer keris di Sumenep,” ujar Carto. (ist)

Kemerdekaan RI, Banyuwangi Gelar Pawai Kebangsaan

foto
Seorang turis asing mengikuti pawai kebangsaan di Banyuwangi. Foto: Detik.com.

Memperingati Hari Kemerdekaan ke-72 Republik Indonesia, Banyuwangi menggelar pawai kebangsaan, Minggu (13/8). Pawai tersebut berlangsung meriah, tidak hanya diikuti pelajar dan masyarakat umum, namun juga melibatkan para turis asing.

Beragam kesenian Indonesia ditampilkan oleh pelajar-pelajar Banyuwangi. Ada yang membawakan kesenian Ondel-ondel Jakarta, Barongsai, serta Barong dan Leak Bali. Tak ketinggalan, ada juga kesenian asli Bumi Blambangan seperti Gandrung, Jaranan, Kuntulan, Seblang dan Barong Using.

Seperti dilaporkan Detik.com, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan pawai kebangsaan ini rutin digelar setiap tahun. Beragam kesenian dan adat budaya nusantara ditampilkan untuk mengingatkan semua warga akan kebhinnekaan bangsa ini.

“Keberagaman bangsa kita tampilkan dalam sebuah pawai. Peringatan kemerdekaan ini kita manfaatkan sebagai momentum agar kita semua selalu menjaga kebhinnekaan ini,” kata Anas kepada sejumlah wartawan.

Pawai ini diikuti ribuan peserta yang merupakan pelajar tingkat SMP/MTs, SMA/SMK/MA dan umum. Bahkan sejumlah turis asing juga tampak antusias menjadi peserta pawai. Anna Guyer salah satunya, bule asal Swiss ini mengaku senang bisa menjadi bagian dari perayaan HUT Kemerdekaan ke -72 RI di Banyuwangi.

“Saya excited sekali. Meskipun agak gerah karena cuacanya cukup terik, saya sangat senang bisa ikut pawai ini. Banyuwangi oke banget, orangnya ramah, alamnya bagus, budayanya juga wonderful,” ungkap Anna yang saat itu mengenakan kostum penari Gandrung.

Hal serupa diungkapkan oleh Sophie Rohrer. “Fantastic, saya belum pernah ikut karnaval sebelumnya, ternyata menyenangkan. Ternyata Banyuwangi punya banyak sekali kesenian dan tradisi,” akunya kagum.

Karnaval yang mengambil start dari depan Kantor Pemkab Banyuwangi dan finish di Taman Blambangan ini, diawali dengan penampilan barisan pengibar bendera merah putih, yang secara berturut-turut diikuti barisan di belakangnya.

Ada barisan drum band, lalu diikuti barisan pemuda dengan kostum yang memvisualisasikan kebhinekaan suku dan adat istiadat di bumi nusantara. Ada Suku Dayak, Madura, Minangkabau dan masih banyak lagi.

Tak ketinggalan, sajian apik fragmen yang mengisahkan beragam tradisi dari berbagai daerah di Indonesia. Seperti tradisi Ma’nene dari Tana Toraja Sulawesi, Sekaten Jogjakarta, dan Karapan Sapi Madura. (ist)