Baju Adat Basofian, Warisan Budaya Sang Gubernur

foto
Baju adat Jawatimuran kerap disebut Baju Basofian. Foto: Istimewa.

KABAR duka tersebar luas di jagad maya, berita lelayu atas kepergian salah satu putra terbaik bangsa itu menghentak publik Jawa Timur. Sang Gubernur telah tiada. Meninggalkan beragam kenangan suka duka yang cukup mendalam. Putra pejuang kemerdekaan itu telah meninggalkan kita semua, asal sepi bali marang sepi, kembali ke pangkuan Sang Maha Pencipta.

Basofi Sudirman adalah simbol penyatuan antara ketegasan dan kelembutan sekaligus. Seorang jenderal yang ditempa oleh kerasnya aturan kedisiplinan khas keluarga militer. Di sisi lain jiwa seni Sang Gubernur mengalir deras bak aliran kali Brantas yang membelah propinsi di ujung timur pulau Jawa tersebut.

Lantunan tembang ‘Tidak Semua Laki-Laki’ selalu mengiringi sambutan dan pidato resmi Sang Gubernur dibanyak momentum. Sangat berfungsi guna mencairkan suasana protokoler birokrat yang kerap terjadi pada era kuasa Orde Baru.

Basofi berhasil mengangkat derajat musik dangdut yang sangat digemari masyarakat pinggiran menjadi konsumsi umum segala lapisan. Mantan Gubernur Jawa Timur ini telah berhasil mengharmonisasikan banyak elemen politik dengan cara menyanyi dangdut bersama para stakeholders.

Warisan Sang Gubernur yang tak kalah penting adalah baju adat khas Basofian. Disebut demikian karena hampir di setiap acara resmi Basofi Sudirman selalu menggunakan pakaian adat yang telah didesain ulang sesuai dengan perkembangan jaman tersebut. Pakaian adat ala Basofian merupakan pakaian hasil kreasi baru yang menggabungkan beberapa unsur pakaian adat asli Jawa Timuran.

Baju hitam mewakili unsur Islam Kejawen, yang banyak dianut oleh masyarakat Jatim di pedalaman, pegunungan dan pesisir selatan. Kain jarit bermotif khas pesisiran mewakili unsur tradisi pakaian adat pesisir utara Jawa Timur. Blangkon khas Suroboyoan mewakili unsur budaya subkultur Madura, Jenggala dan Pendalungan.

Rantai jam di saku merupakan simbol persatuan segenap subkultur yang mendiami wilayah Jawa Timur. Jam adalah simbolisasi dari prinsip kerja keras, kerja cerdas dan kerja cepat ala Brang Wetanan.

Sebuah penanda bagi pemakainya yang selalu menghargai waktu, seperti yang tergambar dalam motif ikonik relief Kala di candi-candi Jawa Timuran. Bentuk jam yang bundar mengingatkan akan prinsip Cakramanggilingan khas tradisi Jawa.

Lengan panjang dan kerah pendek mewakili unsur pesantren yang biasa menggunakan pakaian koko, menunjukkan spirit religiusitas yang senantiasa dijunjung tinggi oleh masyarakat di propinsi ini. Kancing baju besar-besar di tengah dada menunjukkan sikap terbuka dan lambang keperwiraan. Mengingatkan kita kepada jargon politik Bung Karno dalam menghadapi bangsa penjajah “ini dadaku, mana dadamu !”

Pakaian yang praktis dan tidak ribet menggambarkan karakter JawaTimuran yang tidak mbulet, selalu berbicara pada inti pokok permasalahan yang ada. Selop adalah model sandal semi sepatu yang mencirikan ketrengginasan orang lapangan, pantas dipakai di acara seremonial ataupun acara santai. Termasuk memudahkan pemakainya jika akan sembahyang di Masjid.

Baju adat Basofian sangat populer di kalangan seniman tradisi. Dipakai oleh dalang, pengrawit, wiraswara, pemain ludruk, pembawa acara (MC), ponang pinanganten kakung (pengantin pria), spiritualis, hingga para pemain hadrah. Sangat pantas dipakai dalam segala situasi seremonial mulai tingkat kampung hingga acara protokoler kenegaraan. Serta sangat layak digunakan oleh para lelaki di semua jenjang umur dan strata sosial.

Baju adat Basofian meleburkan basis massa abangan dan santri dalam satu kesatuan budaya. Baju adat Basofian adalah perlawanan kultural terhadap tesis Clifford Gertz yang membelah pulau Jawa dalam kategorisasi Abangan, Priyayi dan Santri. Baju adat Basofian adalah wujud kecerdasan wong Jawa Timur yang cinta akan persatuan serta tidak mau dibenturkan dengan saudara sendiri se petarangan.

Baju adat Basofian merupakan bukti lapangan bahwa rakyat Jawa Timur bisa menjadi model percontohan persatuan nasional. Baju adat tersebut dipopulerkan oleh Basofi Sudirman mantan Gubernur Jawa Timur. Baju ini merupakan gabungan bentuk dari beskap, surjan, baju koko dan blazer sekaligus. Cara cerdas dalam menangkap kemajuan jaman. (Ditulis Cokro Wibowo Sumarsono di politik.rmol.co)

Kejar Target 200 Destinasi Wisata Baru

foto
Ratusan pengunjung menikmati tempat wisata Sumber Maron di Desa Karangsuko, Kecamatan Pagelaran Malang. Foto: Radarmalang.id.

Bermunculannya destinasi wisata baru yang berasal dari inisiatif warga diapresiasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang. Hingga Juli ini, tercatat ada 149 tempat wisata anyar di wilayah kabupaten.

Sebanyak 76 tempat wisata di antaranya merupakan kerja sama dengan Perhutani. Sementara itu, sisanya merupakan destinasi wisata baru yang dikembangkan warga bersama pemerintah.

”Target kami sampai akhir tahun 2017 nanti paling tidak ada 200 destinasi baru,” kata Kadisparbud Kabupaten Malang Made Arya Wedhantara seperti ditulis Radar Malang.

Dia menyebut, munculnya inisiasi dari masyarakat untuk mengembangkan potensi wisata merupakan dukungan terhadap tiga program besar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang yang salah satunya di bidang wisata.

”Apalagi, mayoritas wisata yang muncul juga dikelola sendiri oleh mereka. Ini menunjukkan kian tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pengembangan sektor wisata,” ujar Made.

Peran media sosial dan media massa, menurut Made, juga memegang andil besar. ”Wisata-wisata ini kebanyakan ramai dikunjungi setelah menjadi viral di media sosial. Selain menarik pengunjung, ide-ide ini memunculkan motivasi bagi masyarakat yang ada di tempat lain untuk menggali potensi wisata di desanya masing-masing,” tambahnya.

Kian banyaknya jujukan berwisata ini, Made menyampaikan, juga diikuti dengan kemunculan desa-desa wisata baru. Made menyebut, pihaknya pun berupaya melakukan pendampingan dan pengarahan agar desa wisata yang baru bisa menjadi destinasi wisata yang matang.

”Kami bisa mengarahkan, masing-masing desa wisata harus punya detail engineering design (DED) sehingga pembangunan mereka akan terarah,” ujarnya.

Ke depannya, tidak menutup kemungkinan disparbud bakal membantu warga setempat untuk mencarikan investor guna mengelola wisata desa. ”Untuk sementara, kalau warga mau urunan, atau memanfaatkan dana parkir untuk mengelola ya monggo, nanti kami bantu bina dan mem-blow up,” tukasnya. (ist)

Altar Situs Calon Arang Dibongkar Warga

foto
Altar situs yang dibongkar warga. Foto: Rizal Ari Andani/RadarKediri/JawaPos.com.

Makam abal-abal di area Situs Sukorejo (Calon Arang) Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri akhirnya dibongkar. Salah satunya, bangunan mirip altar yang diduga telah digunakan sebagai tempat pemujaan. Pembongkaran ini mampu menyelamatkan sebelas batuan kuno yang sebelumnya dicor semen.

Seperti diungkapkan Kepala Desa Sukorejo Supandi, aktivitas yang melibatkan warga setempat itu dimulai sejak pukul 07.00.

Sesuai dengan arahan pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur, sejumlah warga memulai kegiatan tersebut dengan membersihkan makam abal-abal. “Makamnya kami bongkar,” ujar Supandi seperti dikutip Jawapos.com, beberapa waktu lalu.

Selanjutnya, tanaman sejenis puring yang ada di sekitar lokasi tersebut juga dicabuti. Sementara batu bata dari makam abal-abal tersebut disingkirkan. Pasalnya, sebagian dari bata tersebut adalah bata berukuiran besar yang disinyalir adalah bata kuno.

Usai membersihkan makam abal-abal tersebut, warga pun langsung diarahkan untuk membongkar bangunan mirip altar. “Dari altar tersebut, warga dan petugas pertama-tama menyelamatkan batu berbentuk persegi panjang. “Ada tiga buah,” ujar Kasubdit Pengamanan BPCB Jawa Timur Jamiat Rukmono Adi.

Setelah itu, petugas menyelamatkan dua buah umpak yang berada di bawah tiga batu persegi tersebut. Baru kemudian petugas menyelamatkan sebuah lumping, dua buah ambang pintu (regol), dan sejumlah batu kuno lainnya.

Setelah berhasil diselamatkan, batu tersebut ditata di sebelah timur cungkup. “Nanti akan kami kembalikan posisinya seperti saat pertama kali kita teliti tahun 2010 lalu,” ujar Adi.

Namun, ia mengaku belum tahu kapan waktu pasti pelaksanaan penataan tersebut. Alasannya, penataan tersebut harus presisi. Karena tu, ia harus mencocokkan dengan hasil dokumentasi proses ekskavasi tahun 2010 lalu.

Setelah menyelamatkan batuan kuno dari altar yang sebelumnya dibangun juru kunci situs Suyono Joyo Koentoro, 93, warga Desa Kerkep, Gurah, Adi pun memutuskan untuk mengakhiri aktivitas tersebut. Oleh karena itu, bangunan berupa cungkup, kamar mandi, dan kolam ikan hias pun masih dibiarkan sedemikian rupa.

Menurut Adi, tiga bangunan tersebut memang sengaja tidak dibongkar. Hal itu, terkait manfaat dan letaknya yang tidak mengganggu proses penataan batuan kuno tersebut.

“Misalkan saja bangunan ini (cungkup), Karena lokasi situs jauh dari pemukiman, kalau ada pengunjung yang datang dan kehujanan kan bisa berteduh di sini (cungkup),” ujar Adi.

Untuk diketahui, permasalahan terkait Situs Sukorejo tersebut mencuat karena ulah sejumlah orang yang tidak bertanggung jawab. Mereka melakukan vandalisme dan membongkar sebagian altar yang dibangun Suyono.

Beruntung, peristiwa yang terjadi pada Sabtu, 22 Juli tersebut tidak sampai merusak fisik batuan kuno di situs tersebut. (jpr)

Tarian dan Gamelan Pukau Warga Jepang

foto
Tarian dan gamelan dari Jawa dan Bali pukau masyarakat Nara, Jepang. Foto: Kemlu.go.id.

KJRI Osaka bekerja sama dengan Asosiasi Persahabatan Indonesia – Nara dan Pemerintah Kota Nara telah menyelenggarakan acara kebudayaan di Nara Chubu Kominkan, Nara (29/7).

Pagelaran budaya kali menyugguhkan kolaborasi seni tari budaya Jawa dan Bali dengan iringan gamelan Jawa dan Bali secara live.

Pengisi acara adalah Sanggar Tari dan Gamelan Hana Hoss untuk budaya Jawa serta Sanggar Tari dan Gamelan Gita Kencana untuk budaya Bali.

Sebagian besar anggota kedua sanggar tersebut adalah orang Jepang yang pandai bermain gamelan dan membawakan seni tari Indonesia.

Tarian Jawa dan Bali ditampilkan secara silih berganti dengan tarian kolaborasi kedua budaya tersebut sebagai penutup acara. Pelaksanaan pagelaran ini adalah untuk yang pertama kalinya KJRI Osaka lakukan di Nara.

Acara dibuka sambutan dari Konjen RI Osaka, serta sambutan dari Wakil Walikota Nara, Mr Yasuyuki Tsuyama, dan Ketua Asosiasi Persahabatan Indonesia Nara, Mr Masahiko Kotani, serta pembacaan sambutan yang diterima dari Walikota Nara, Mr Gen Nakagawa.

Sekitar 270 masyarakat Jepang di Nara dan sekitarnya terpukau menyaksikan penampilan seni tari dan gamelan yang memiliki ciri khas masing-masing.

Sebagian besar dari penonton baru pertama kali menyaksikan kolaborasi kedua budaya tersebut menyatakan kekagumannya akan perbedaan budaya Jawa dan Bali.

Tarian yang ditampilkan dalam pagelaran tersebut adalah: Tari Panjembrana, Tari Sekar Pudyastuti, Tari Gambyong, Tari Margapati, Tari Srikandi Surodewati, Tari Cenderawasih, Tari Jathilan dan Kolaborasi Tari Jawa dan Bali. (sak)

Geosite Kedungmaor Dimasukkan Cagar Alam Geologi

foto
Peneliti UPNV Jogja di lokasi geosite Kedungmaor, Bojonegoro. Foto: Slamet Agus Sudarmojo/Antara.

Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta tetap memasukkan geosite Kedungmaor, di Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro dalam cagar alam geologi yang harus dilindungi.

“Geosite Kedungmaor tetap masuk cagar alam geologi, meskipun titik geosite berupa rumah Yuyu Laut tertutup longsoran beberapa waktu lalu,” kata peneliti UPN “Veteran” Jogja Dr Jatmika Setiawan di Bojonegoro, Kamis (3/8).

Sebab, lanjut dia, tidak jauh dari lokasi rumah Yuyu laut juga ditemukan lagi rumah Yuyu Laut di lokasi yang tidak jauh di bekas longsoran. “Nama geosite tetap cagar alam Kedungmaor,” jelasnya seperti dikutip Antara.

Menurut dia, Kedungmaor, Kecamatan Temayang, tetap masuk geosite yang diusulkan kepada Badan Geologi Nasional di Bandung untuk memperoleh penetapan sebagai cagar alam geologi bersama 18 geosite lainnya.

Dengan dasar penetapan itu, lanjut dia, akan mendukung Bojonegoro sebagai ‘petroleum geopark’ Nasional yang ditetapkan Kementerian ESDM.

“Target kami tahun ini Bojonegoro memperoleh dua penetapan yaitu sebagai cagar budaya geologi dari Badan Geologi Nasional Bandung dan petroleum geopark Nasional dari Kementerian ESDM,” jelasnya seperti dikutip Antara.

Ia menyebutkan geosite yang masuk cagar alam geologi dan petroleum geopark yaitu petroleum geoheritage Wonocolo di Kecamatan Kedewan, gesoite antiklin Kawengan, juga di Kecamatan Kedewan dan geosite Kahyangan Api di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem.

Selain itu, lanjut dia, geosite Kedungmaor, di Kecamatan Temayang, geosite Kedung Lantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, geosite gigi hiu, dan geosite undak Bengawan Solo.

Lainnya geosite Gunung Watu, Watu Gandul, Selo Gajah dan Banyu Kuning, semuanya di Kecamatan Gondang, sedangkan yang masuk geopark yaitu Sendang Gong di Desa Gunung Sari, Kecamatan Baureno, Gunung Pegat, Gua Soka, dan makam orang Kalang.

“Keberadaan geosite cagar alam geologi akan mendukung geopark,” ucapnya. Ia menambahkan kawasan ‘Negeri Atas Angin’ di Desa Ndeling, Kecamatan Sekar, hanya sebagai pendukung pariwisata.

“Semua geosite yang diusulkan menjadi cagar alam geologi dan petroleum geopark merupakan potensi pariwisata, sebab memiliki keindahan alam dan sejarah geologi di dunia,” ucapnya menambahkan. (ant)

Program BUMN: Siswa Mengenal Nusantara

foto
Siswa kelas XI SMA/SMK/SLB berprestasi dari Jatim yang turut program “Siswa Mengenal Nusantara” ke Provinsi Sulawesi Tenggara. Foto: Koran-jakarta.com.

Indonesia merupakan sebuah negeri yang berlimpah kekayaan alam dan dihiasi dengan berbagai keragaman, mulai dari ribuan pulau yang menghiasi khatulistiwa, dengan ragam budaya, bahasa daerah, suku bangsa, ras, agama dan kepercayaan, dan lainnya.

Namun demikian, Indonesia mampu tegak berdiri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia ditengah keragaman tersebut sebagai perwujudan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Badan Usaham Milik Negara (BUMN) merupakan bagian merupakan bagian dari komponen bangsa, mempunyai komitmen untuk menumbuhkan dan memupuk rasa kebanggaan berbangsa dan bernegara serta menumbuhkan kesadaran bahwa keragaman itu merupakan kekuatan NKRI.

Salah satu bentuk komitmen tersebut yakni dengan menyelenggarakan Program Siswa Mengenal Nusantara Tahun 2017 (SMN 2017).

Pada Program SMN 2017, Bank BRI sebagai koordinator kegiatan bersama dengan PT INKA, PT Garam, Perum Jasa Tirta I dan PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) mengirimkan 38 siswa/siswi SMA/SMK/ SLB kelas XI yang berprestasi dari setiap Kabupaten di Provinsi Jawa Timur, dengan didampingi petugas Diknas Provinsi dan dua orang guru teladan ke Provinsi Sulawesi Tenggara.

Sebaliknya, 20 siswa dan 3 pendamping SMA/SMK / SLB dari Provinsi Sulawesi Tenggara mengunjungi Jawa Timur untuk saling mengenal seluruh ragam budaya dan bahasa nusantara sehingga menanamkan rasa bangga dan cinta tanah air sejak dini.

Adapun siswa/siswi yang mengikuti kegiatan ini merupakan siswa/siswi terpilih dan berprestasi yang diseleksi secara ketat dari masing masing Provinsi.

Siswa Mengenal Nusantara merupakan salah satu rangkaian kegiatan program ‘BUMN Hadir Untuk Negeri’ dan telah dilaksanakan sejak tahun 2015 oleh seluruh perusahaan BUMN, dengan diikuti 632 siswa di tahun 2015. 679 siswa pada tahun 2016 dan 751 siswa di tahun 2017.

“Partisipasi Bank BRI untuk menyukseskan program ini bertujuan agar para siswa dapat memperoleh wawasan kebangsaan dan kebudayaan yang utuh. Bank BRI juga memberikan program entrepreneurship dan pengenalan lembaga BUMN sebagai tambahan pengetahuan bagi peserta SMN 2017,” tutur Hari Siaga Amijarso, Corporate Secretary Bank BRI seperti dikutip Koran Jakarta.

Siswa dari Jawa Timur yang berangkat ke Sulawesi Tenggara memulai kegiatan SMN selama sepekan hingga 6 Agustus 2017.

Beberapa kegiatan yang dilakukan diantaranya yakni melakukan kunjungan ke Taman Budaya Sulawesi Tenggara, SMA 4 Kendari, Keraton Walio di Bau Bau, Pasar Wajo dan Sentra Industri Tenun di Bau Bau, serta mengunjungi kantor PT Aspal dan PT Antam.

Untuk siswa dari Sulawesi Tenggara yang berkunjung ke Jawa Timur, rangkaian acara SMN dimulai dengan kunjungan ke nasabah UMKM BRI, kunjungan ke SMA 5 Surabaya dan SMA Taruna Nala Malang serta melakukan kunjungan ke kantor PT Semen Indonesia dan PT Petrokimia Gresik.

“Melalui program SMN, saya dapat merasakan bertambahnya wawasan pada keragaman budaya Nusantara dengan lebih mengenal kearifan lokal. Harapan saya dan teman-teman, program ini dapat terus dilaksanakan ke depannya agar kami generasi muda dapat terus memperkokoh nasionalisme,” kata Anisa Dwi Pusvita, salah satu peserta SMN 2017 dari SMAN 1 Lawang, Kabupaten Malang.

Sebagai perusahaan BUMN yang memiliki fokus untuk pemberdayaan UMKM di Indonesia, Bank BRI mengenalkan wawasan entrepreneurship yang diharapkan akan menguatkan semangat berdikari para siswa.

Tidak hanya itu, program Siswa Mengenal Nusantara juga akan memberikan pemahaman yang lebih luas kepada para peserta SMN 2017 mengenai peran dan tanggung jawab sosial lembaga BUMN dalam membangun kapasitas nasionalisme remaja sebagai generasi penerus bangsa.

“Program ini juga bertujuan untuk membangkitkan niat dan keinginan siswa berprestasi di seluruh Indonesia untuk bergabung dan berkarir di BUMN,” imbuh Hari Siaga. (sak)

Tari Gandrung Bakal Tampil di Istana Negara

foto
Ratusan penari Gandrung Banyuwangi bakal tampil di Istana Negara. Foto: Banyuwangikab.go.id.

Gandrung, tari kebanggaan warga Banyuwangi mendapatkan kehormatan untuk tampil di Istana Negara Jakarta pada acara peringatan kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus mendatang.

Hal tersebut disampaikan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas kepada Kompas.com, Selasa (1/8). Menurutnya, penampilan Tari Gandrung dalam acara resmi nasional merupakan kehormatan bagi warga Banyuwangi.

Tarian yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Bukan Benda oleh Kemendikbud pada 2013 lalu itu sebelumnya juga tampil pada peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 2016 di hadapan Presiden Joko Widodo.

“Tampilnya Tari Gandrung di Istana Negara adalah apresiasi tinggi dari pemerintah pusat, dari Presiden, dari kementerian terkait dan Badan Ekonomi Kretif (Bekraf) yang menjadi panitia, terhadap kekayaan seni budaya Nusantara. Artinya kita semua sepakat bahwa keragaman seni budaya nusantara ini bukan menjadi pemecah belah, tapi perekat bangsa,” ujar Anas.

Anas juga menambahkan bahwa dengan diundangnya kesenian daerah ke istana, para seniman yang membawakannya akan mendapatkan pengalaman berharga. Apalagi mayoritas peserta yang tampil adalah anak-anak muda usia SMA.

“Tampil di Istana Negara bisa bisa menjadi spirit bagi anak-anak muda untuk berkarya lebih baik dan lebih keras dalam mengejar mimpi-mimpinya,” papar Anas.

Tari Gandrung adalah tarian khas Banyuwangi yang telah ditetapkan sebagai “Warisan Budaya Bukan Benda” oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2013. Untuk mengangkat dan melestarikan kesenian daerah, Pemkab Banyuwangi setiap tahunnya menggelar atraksi kolosal Festival Gandrung Sewu.

Lebih dari seribu penari muda Gandrung tampil dalam acara yang selalu digelar di bibir Pantai Boom. Untuk tahun 2017, Festival Gandrung Sewu akan digelar pada 8 Oktober 2017. (ist)

Aksi Bersih-Bersih di Kolam Segaran

foto
Para jupel BPCB Jatim saat membersihkan ganggan di Kolam Segaran, Trowulan, Mojokerto. Foto: Farisma/Radar Mojokerto.

Kelestarian cagar budaya selalu menjadi perhatian khusus Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim di Trowulan. Termasuk situs Kolam Segaran yang sejak setahun terakhir ini banyak ditumbuhi ganggang hijau. Lantas seperti apa kegiatannya?

Hampir sebagian besar pengunjung wisata sejarah dan budaya di Trowulan pasti mengenal Kolam Segaran. Kolam yang terletak tepat di Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupten Mojokerto, ini memang menjadi salah satu destinasi primadona yang wajib dikunjungi.

Selain nilai sejarah sebagai bekas peninggalan Kerajaan Majapahit, eksotisme kolam yang tersusun atas tatanan batu bata merah dan luasnya kolam menjadi daya tarik yang cukup diperhitungkan.

Akan tetapi, eksotisme pemandangan itu tampaknya mulai memudar sejak beberapa bulan terakhir. Betapa tidak, isi kolam yang semula tampak bersih dengan puluhan habitat ikan, kini tiba-tiba berubah menjadi kotor dan rusuh. Perubahan itu tak lepas dari munculnya ganggang hijau yang tumbuh subur hingga menutupi seluruh bagian kolam.

Ya, tumbuhnya ganggang hijau atau lumut memang sangat mengganggu kolam yang ditemukan pada tahun 1926 itu. Selain karena bisa merusak situs, tumbuhnya ganggang juga cukup mengganggu ekosistem dan habitat ikan wader yang hidup di kolam berukuran panjang 375 meter dan lebar 175 meter itu.

Situasi ini yang kemudian menggerakkan BPCB sebagai lembaga pelestari cagar budaya pemerintah untuk terjun langsung menyelamatkan situs dari serbuan ganggang hijau, kemarin. Tak kurang dari 350 pegawai BPCB se-Jatim diterjunkan menguras ganggang hijau dari dalam kolam.

Aksi bersih-bersih ini dilakukan oleh semua juru pelihara (jupel) situs yang tersebar se-Jawa Timur (Jatim). “Memang sengaja kita terjunkan semua bertepatan dengan evaluasi jupel se-Jatim. Momentumnya sekalian mumpung berkumpul,” terang Andi Muhammad Said, Kepala BPCB Jatim saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Mojokerto.

Andi menilai, kondisi Kolam Segaran yang penuh ganggang hijau memang cukup krusial jika tidak secepatnya dibersihkan. Pasalnya, pertumbuhan ganggang yang begitu cepat dinilai akan merusak struktur bagunan situs. Tak hanya itu, tumbuh suburnya lumut juga dinilai mengancam habitat ikan wader yang cukup terkenal sebagai ikan asli penghuni Segaran.

Kondisi ini yang tidak diinginkan BPCB demi menghindari Segaran dari ancaman kerusakan. “Ya kolam itu kan banyak dikunjungi warga. Kalau kondisinya tidak sedap dipandang seperti itu kan jadi banyak pengunjung yang tidak tertarik. Apalagi Segaran itu kan situs paling terkenal, jadi harus dibersihkan setiap saat,” tambahnya.

Said sendiri tak tahu bagaimana ganggang hijau tersebut tumbuh dan muncul memenuhi kolam. Padahal, sejak awal dipugar tahun 1966, kondisi Kolam Segaran selalu bersih dari sampah dan tumbuhan liar lainnya. Akan tetapi, dari anggapan banyak warga di sekitar, kemunculan ganggang tak lepas dari kegiatan para pemancing yang setiap hari mencari ikan di Segaran.

Tertinggalnya lumut sebagai pakan ikan di dalam kolam membuatnya tumbuh subur hingga menyelimuti hampir seluruh volume kolam. “Ini masih anggapan saja, tapi apakah benar ya saya belum menelitinya. Apakah lumut itu juga akan merusak situs juga belum ada uji materinya. Tapi, paling tidak kita ansitipasi dulu,” pungkasnya. (jpr)

Upaya Melestarikan Budaya Tedak Siten

foto

Tak ingin tradisi Jawa punah di tanah asalnya sendiri Nanik Purwanti pemilik katering KitaKita menggelar upacara Tedak Siten bagi cucu pertamanya Nalendra Darren Ananka di rumahnya Graha Famili Surabaya.

Tradisi Jawa sengaja diusung ibu tiga anak, yang tidak ingin budaya Jawa luluh ditengah gencarnya globalisasi di Indonesia. “Supaya masyarakat tahu, jika tradisi budaya Jawa itu sangat agung dan sarat makna,” terang pemilik Hadiningrat Resto itu.

Saat putra dari sulungnya dr Caryr Nurina Sari dan dr Anugerah Wahyu Wicaksono berusia 7 bulan, menggelar upacara tradisional mengundang kenalan dan tetangga sekitar.

Tedak siten memaknai rasa syukur jika cucunya sudah mulai belajar berjalan. Tedak siten yang dimaknai memperkenalkan lingkungan sekitar pada sang cucu terbagi dalam beberapa tahapan.

Awalnya, Alend dituntun ibunya berjalan di atas 7 jadah makanan terbuat dari beras ketan dicampur kelapa, garam dikukus dan dihaluskan. Jadah yang dicetak diberi warna-warni sebagai lambang warna kehidupan.

Injakan pertama dilakukan pada jadah berwarna gelap menuju terang (putih). Maknanya setiap permasalahan yang dihadapi akan ada jalan keluarnya. Angka 7 melambangkan pitulungan atau pertolongan dari Yang Maha Kuasa.

Menyusul Alend dituntun menaiki tangga terbat dari tebu. Pilihan tebu dalam Jawa dimaknai antebing kalbu (mantapnya hati).

Menyusul dituntun diatas pasir dan anak akan mengais dengan kedua kakinya. Harapannya, kelak jika besar sang anak mampu mengais rejeki untuk memenuhi kebutuhannya.

Setelah itu barulah Alend dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang isinya berbagai macam benda, mulai dari buku,mainan, makanan, alat musik dan lain sebagainya. Alend ternyata memilih Al Qur’an kecil. Sesuai benda yang diambil, pranata acara menyebutkan semoga kelak Alend bisa mewujudkan apa yang ada dalam isi kitab suci Al Qur’an.

Tahapan terakhir, pemberian uang logam dicampur dengan bunga dan beras kuning oleh sang ayah dan sang kakek Heru. Ini merupakan simbol agar kelak rejeki Alend berlimpah namun bersifat dermawan.

Barulah sang bayi dimandikan dengan air bunga setaman sebagai simbol sang anak membawa nama harum keluarga. Setelah itu Alend diberi baju bagus dengan harapan akan menjalani hidup yang baik pula

Tahapan demi tahapan Tedak Siten menarik untuk disimak. Pastinya tradisi yang mulai jarang dilakukan itu melambangkan kayanya budaya Jawa. (sak)

Diplomat Asing Belajar Budaya di UMM

foto
Kampus Universitas Muhammadiyah Malang. Foto: Republika.co.id.

Sebanyak 12 diplomat dari 12 negara belajar bahasa dan budaya Indonesia di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selama sebulan ke depan selain dikenalkan beberapa destinasi wisata di di Jawa Timur.

Menurut Kepala Kepala Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM Dr Arif Budi Wurianto di Malang, Jawa Timur, Kamis (3/8), ke-12 diplomat asing minimal mempopulerkan budaya dan parawisata di Indonesia di negara masing-masing.

“Tugas mereka setelah kembali dari Indonesia tidak berbeda jauh dengan mahasiswa program Darmasiswa yang sudah berjalan selama bertahun-tahun, yakni mengenalkan dan mempromosikan budaya serta dunia kepariwisataan Indonesia di negara masing-masing,” ujarnya seperti dikutip Republika.co.id.

Ke-12 diplomat yang sedang belajar bahasa dan budaya Indonesia di UMM itu berasal dari Afrika Selatan, Fiji, Iran, Jepang, Kamboja, Kazakhstan, Kolumbia, Laos, Papua Nugini, Spanyol, Sri Lanka, dan Zimbabwe. Mereka mulai melakukan serangkaian pelatihan dan pembelajaran mulai 3 hingga 31 Agustus 2017.

Arif mengakui dipercayanya UMM untuk melatih para diplomat asing tersebut, tidak mudah, sebab harus melalui serangkaian seleksi yang dilakukan oleh Badan Diklat Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI.

“Ini pertama kalinya Kemenlu bekerja sama dengan perguruan tinggi. UMM lolos karena dinilai memiliki beberapa keunggulan, di antaranya ketersediaan fasilitas pendukung, tenaga pengajar berkualitas, serta kurikulum dan silabus yang terstandar,” kata Arif.

Selain bahasa, katanya, para diplomat asing tersebut juga akan diajarkan tentang karawitan, menari, membatik, dan pengenalan pariwisata.

Beberapa tempat pariwisata di Malang, Batu, dan Probolinggo yang memungkinkan untuk promosi di negara mereka, sekaligus sebagai lokasi tujuan pembelajaran. “Mereka nanti juga wajib mengikuti upacara peringatan atau HUT Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus nanti di kampus UMM,” ucapnya.

Rektor UMM Dr Fauzan menambahkan pembelajaran bagi diplomat asing tersebut menjadi instrumen yang penting untuk diplomasi karena seorang diplomat harus memiliki kemampuan diplomasi komunikasi dan pengalaman terkait kebudayaan di negara tempat tugasnya.

“Pengenalan budaya dan bahasa dimana seorang diplomat bertugas itu sangat penting, bahkan ketika selesai bertugas di suatu negara akan lebih elok kalau mereka juga mempromosikan budaya maupun kepariwisataan negara dimana mereka bertugas,” katanya.

Dalam melaksanakan program BIPA bagi diplomat asing tersebut, UMM juga memberdayakan mahasiswa dari berbagai jurusan untuk menjadi buddies atau teman pendamping. Tiap buddy akan membantu peserta, baik dalam pembelajaran maupun keperluan sehari-hari. (ant)