Dibuka Program Seniman Mengajar Gelombang 2

foto
Ada kesempatan seniman mengajar kesenian kepada masyarakat/ komunitas/ sanggar di daerah 3T. Foto: Istimewa.

Kemendikbud melalui Direktorat Kesenian, Ditjen Kebudayaan, kembali membuka pendaftaran untuk program Seniman Mengajar, yaitu program seniman mengajar kesenian kepada masyarakat/ komunitas/ sanggar yang berada di daerah dengan predikat 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) yang berada di Indonesia.

Kegiatan Seniman mengajar tahap 2 untuk akan dilaksanakan di tujuh daerah 3T, yaitu di wilayah Bengkulu Tengah; Bulungan, Kalimantan Utara; Pulau Morotai, Sulawesi Tenggara; Wakatobi, Sulawesi Tenggara; Tanjung Lesung, Banten; Mandalika, Nusa Tenggara Barat; dan Danau Toba, Sumatera Utara.

“Kegiatan ini berlaku khusus bagi seniman yang peduli, bermental tangguh, siap mengambil tantangan dan bernyali terhadap kondisi di daerah 3T,” bunyi siaran pers Kemendikbud, Senin (10/7).

Pendaftaran program seniman mengajar ini dibuka mulai 5 Juli hingga 20 Juli 2017 melalui laman http://senimanmengajar.kemdikbud.go.id. Pengumuman hasil seleksi akan dilaksanakan pada 27 Juli 2017, sementara pelaksanaan kegiatan Seniman Mengajar tahap 2 akan berlangsung pada tanggal 4 Agustus hingga 7 September 2017.

Para peminat harus memenuhi persyaratan, antara lain usia 30–60 tahun, bukan PNS, profesional dan berdedikasi tinggi terhadap seni, memiliki pengalaman berkesenian minimal 5 tahun dalam berkesenian.

Serta mampu beradaptasi dengan lingkungan di lokasi mengajar, dapat berkomunikasi dengan baik dan aktif, sehat jasmani dan rohani, menguasai management seni, pengemasan seni dan penggalian kesenian lokal, serta belum pernah mengikuti kegiatan Seniman Mengajar.

Para peminat yang terpilih memperoleh hak berupa insentif, sertifikat, sarana pendukung/ keperluan belajar, akomodasi (tinggal bersama masyarakat setempat) dan konsumsi, serta transportasi dari daerah asal ke lokasi kegiatan dan transportasi di lokasi kegiatan.

Disebutkan juga menyebutkan, kegiatan Seniman Mengajar bertujuan menggali potensi kearifan lokal daerah, menjalin jejaring antara seniman dengan masyarakat/pelaku seni/komunitas/budayawan untuk mengangkat kembali dan mengembangkan kesenian daerah melalui lima bidang seni yaitu seni tari, seni musik, seni rupa, seni pertunjukan, dan seni media.

Sebelumnya, Seniman Mengajar tahap 1 telah berlangsung pada Mei 2017 di tiga daerah 3T, yaitu Natuna, Kepulauan Riau; Kapuas Hulu, Kalimantan Barat; dan Belu, Nusa Tenggara Timur.

“Dengan program ini masyarakat di daerah 3T dapat terbuka wawasannya dan dapat menjalin kerja sama dengan para seniman sehingga dapat meningkatkan kualitas ekspresi seni dan penguatan identitas budaya di daerah 3T,” bunyi siaran pers itu.

Dalam melaksanakan program Seniman Mengajar ditekankan prinsip–prinsip : partisipatif, dialogis, dan transformasi. Format kegiatan residensi seniman dalam kurun waktu yang ditentukan dengan target paket kegiatan selesai. Seniman berbagi ilmu dan keahlian dengan seniman lokal yang mewakili sanggar/ komunitas. (sak)

Ditemukan Uang Emas Asli Banyuwangi

foto
Uang emas diduga asli Banyuwangi. Foto: Tempo/Maya Ayu.

Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Banyuwangi menemukan empat keping uang emas yang diduga asli berasal dari daerah setempat.

Praktisi logam Tim Ahli Cagar Budaya Banyuwangi Bonavita Budi Wijayanto menjelaskan dugaan ini sangat kuat karena motif yang terukir dalam uang emas itu belum pernah ditemukan di koin-koin lainnya.

“Saya sangat yakin itu asli Blambangan (sebutan untuk Kabupaten Banyuwangi),” ujar Bonavita saat ditemui Tempo di Banyuwangi, Senin (3/7).

Empat keping uang emas yang ditemukan di Desa Tlogosari, Banyuwangi, itu berbentuk pipih. Satu bunga besar tampak terukir di tengah. Bunga-bunga kecil mengitari sekelilingnya.

Menurut Bonavita keping uang ini tak sengaja ditemukan. Awalnya, timnya berniat mencari keping uang gobok atau uang Cina yang banyak beredar di abad ke-12 hingga ke-16 Masehi.

Pada 2015, praktisi barang antik Tim Ahli Cagar Budaya Banyuwangi Winarso Yusuf Sumardi bertemu dengan seorang warga Desa Tlogosari bernama Katirin. Kepada Winarso, Katirin menceritakan bahwa dulu di dekat rumahnya ada orang yang menemukan uang gobok.

Namun, karena zaman dahulu orang masih percaya klenik, uang-uang itu dikubur kembali lantaran banyak bayi menangis saat uang itu dibawa pulang.

Beberapa pekan kemudian, Winarso dan Bonavita memutuskan untuk mencari keping uang gobok itu. Keduanya lantas menemui Katirin untuk meminta petunjuk lokasi uang gobok ditemukan.

“Dengan bantuan alat pendeteksi anomali bawah tanah, ternyata betul ada dari lokasi yang ditunjuk Pak Katirin,” kata Bonavita seperti dikutip Tempo.co.

Saat pertama kali terdeteksi, rupanya tim hanya menemukan bokor persembahan yang terbuat dari perunggu. Kondisinya sudah terpatina sehingga warna perunggu yang seharusnya merah dan kuning keemasan berubah menjadi biru kehijauan. “Itu menunjukkan benda itu sudah tertanam dan berusia ratusan tahun,” ujar Bonavita.

Sekitar 10 meter dari titik ditemukannya bokor, tim akhirnya menemukan ribuan keping uang gobok. Tak jauh, alat pendeteksi anomali bawah tanah kembali berbunyi dan tim menemukan pasu atau tempat air yang terbuat dari perunggu.

Di dalam pasu itu, tim menemukan mangkuk-mangkuk kecil yang biasa disebut cupu lengkap dengan tutupnya. Bonavita menerangkan pasu dan cupu itu berasal dari Dinasti Ming Cina yang menunjukkan dibuat pada abad 14 hingga 16 Masehi.

“Setelah diangkat, di dalamnya ditemukan empat keping uang emas,” ujar Bonavita. “Kami yakin itu uang karena bukan berbentuk perhiasan.”

Menurut Bonavita, motif keping uang yang ditemukan itu sangat langka dan unik. Motif uang itu tak ada di British Museum yang memiliki koleksi 13 ribu keping uang di seluruh penjuru dunia.

“Kami ambil referensi dari Museum Nasional dan dicocokkan dengan data tujuh koin emas yang ditemukan di Indonesia ternyata juga tidak sama,” katanya.

Akhirnya, Tim Ahli Cagar Budaya Banyuwangi menyimpulkan bahwa uang emas ini adalah varian baru mata uang emas yang ada di wilayah Banyuwangi. “Ini bisa memperkaya inventaris mata uang nusantara,” ucap dia. (ist)

Perlunya Prasasti di Cagar Budaya Surabaya

foto
Kawasan Surabaya wilayah utara memiliki banyak bangunan kuno. Foto: Yanuarachbar.files.wordpress.com.

Legislator mengusulkan kepada Dinas Pariwisata Kota Surabaya agar semua bangunan cagar budaya di Kota Pahlawan diberi prasasti atau piagam yang ditulis pada bahan yang keras dan tahan lama.

“Ini dilakukan agar bangunan cagar budaya di Surabaya tidak mudah hilang,” kata anggota Komisi D DPRD Surabaya Anugrah Ariyadi di Surabaya kepada Kompas.com.

Menurut dia, selama ini bangunan cagar budaya di Surabaya hanya diberi plakat atau petanda yang tidak tahan lama dan mudah dilepas. Pemasangan prasasti yang terbuat dari marmer pada bangunan cagar budaya sudah dilakukan di Kota Bandung.

“Pada saat Komisi D melakukan kunjungan kerja ke Bandung, kami melihat semua bangunan cagar budaya diberi prasasti,” katanya.

Hal itu dilakukan agar masyarakat mengetahui kalau bangunan tersebut merupakan cagar budaya. “Sehingga kalau ada yang mau berbuat jahat akan pikir-pikir dulu,” ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, jika terjadi transaksi atau diperjualbelikan antara pemilik bangunan cagar budaya kepada orang lain akan cepat mudah diketahui. Termasuk jika nantinya bangunan tersebut akan dibongkar atau diubah peruntukannya.

Ia berharap agar kasus pembongkaran sepihak seperti yang terjadi bangunan Rumah Radio Bung Tomo di Jalan Mawar yang masuk kategori cagar budaya tidak terulang kembali.

Apalagi bangunan rumah bersejarah tersebut tidak diberi prsasti, melainkan hanya diberi plakat yang mudah dibongkar. “Akibatnya pemilik rumah dengan mudahnya membongkar, “Akibatnya pemilik rumah dengan mudahnya membongkar bangunan bersejarah itu,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut dia, pihaknya meminta Dinas Pariwisata Pemkot Surabaya melakukan infentarisir jumlah bangunan yang masuk kategori cagar budaya di Surabaya.

“Dengan adanya data itu, dinas pariwisata beserta tim cagar budaya melakukan prioritas bangunan mana yang perlu segera diberi prasasti,” katanya. (sak)

Tradisi dan Musik Islam di Nusantara

foto
Anne K Rasmussen memainkan musik gambus dan bernyanyi syair Arab. Foto: Terakota/Eko Widianto.

Sekitar seratusan anak muda dan pegiat lembaga seniman dan budayawan muslim Indonesia (Lesbumi) duduk meriung di selasar kantor Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama Kota Malang.

Mengakhiri bulan ramadan, dengan menggelar tadarus budaya yang melibatkan sejumlah pegiat ikatan seni hadrah (Ishari) Kota Malang memegang rebana, memukul dan memainkan sembari bersalawat.

Mereka bermain dan menerangkan secara filosofis tentang hubungan seni dan religi. Guru besar etnomusikologi University of California Los Angeles (UCLA) Anne K Rasmussen memperhatikan dan berdialog dengan mereka.

Serta menggali kesenian yang digali dan berkembang dalam tradisi Islam di nusantara. Anne tengah melakukan penelitian dan bakal menyusun buku kesenian dan musik Islami di nusantara.

Katib Majelis Hadi Ishari Cabang Malang, Nur Asmari menjelaskan Ishari berdiri sejak 1924 atau dua tahun sebelum Nahdlatul Ulama berdiri. Awalnya beranama Jam’iyyah Hadrah atau kelompok kesenian rebana.

Mereka memadukan bunyi rebanan, tepuk tangan dan sambil membaca Kitab Maulid Syaroful Anam dan Kitab Diwan Al Hadroh tentang sejarah lahir dan perjuangan Nabi Muhammad. “Jam’iyyah didirikan Kiai Haji Abdurrokhim bin Abdul Hadi di Pasuruan,” katanya. terperti dikutip Terakota.id.

Abdurrokhim belajar dari Habib Syekh Boto Putih Surabaya, seorang ulama keturunan Yaman. Ishari, katanya, dikembangkan dari musik tradisi yang dimainkan Habib Syekh. Setiap pukulan rebana, katanya, berirama lazimnya berdzikir.

Saat bermain rebana, mereka bisa berjam-jam. Bahkan sambil membaca Kitab Maulid Syaroful Anam dan Kitab Diwan Al Hadroh bisa dilakukan selama lima jam. Dalam sebuah pertunjukan, sedikitnya dilakukan sebanyak 50 orang. Sampai saat ini Pasuruan menjadi daerah yang paling banyak kelompok dan terus berkembang.

Sedang di Malang, mengalami jatuh bangun dalam mengembankan kesenian yang digali dan berkembang di nusantara ini. Pada medio 80-an, banyak berdiri kelompok seni hadrah tersebut. Namun, saat ini hanya tersisa sekitar lima kelompok seni hadrah. Seni hadrah ini bermain berdasarkan pakem dan tak dimungkinkan ada kreasi.

Bersalawat dengan Seni
Jika membaca salawat saja, katanya, akan bosan dan menjemukan. Sedangkan saat membaca salawat dengan seni menjadi lebih khusuk dan sekaligus menjadi seni pertunjukan religi. Ishari, ditampilkan dalam beragam kegiatan tahunan seperti haul ulama besar atau saat Maulid Nabi.

Ketua PCNU Kota Malang, Isroqunnajah menjelaskan jika penyebaran Islam di nusantara berkembang dengan tetap mempertahankan seni dan tradisi. Wali songo, katanya, yang menyebarkan Islam justru memanfaatkan kesenian untuk berdakwah. “Wali Songo tak pernah menghancurkan peradaban, kesenian, situs dan candi,” katanya.

Sehingga budaya lokal terus tumbuh dan berkembang. Ketua Pengurus Pusat Lesbumi, Kiai Haji Agus Sunyoto mengatakan perkembangan Islam di nusantara tak bisa dilepaskan dari kesenian tradisi. Pada jaman Wali Songo, katanya, diciptakan tarian, dan lagu yang digunakan dalam siar agama Islam.

Dalam sejarah perkembangan Islam, kata Agus, Toriqot Arrifaiyah menggunakan rebana dan terbang untuk mengiringi berdzikir. Sedangkan untuk menguji kekhusukan dan konsentrasi pimpinan Toriqot Syekh Ahmad Rifai dalam berdzikir, para jamaah dibakar, ditusuk jarum dan dipatok ular berbisa.

Jika jamaah masih merasakan kesakitan berarti belum khusuk dalam berdzikir. “Setelah berkembang di Indonesia, menjadi kesenian debus,” katanya.

Sehingga menjadi kesenian pertunjukan. Termasuk Hadrah, yang berkembang dan dibawa imigran muslim dari Yaman. Dikenal dengan istilah Yaman Music Orchrestra. Kesenian ini berkembang, katanya, berkaitan dengan toriqot.

Sementara, di Jawa juga berkembang dengan menggali potensi tradisi salawatan mataraman dengan langgam Jawa. Tradisi itu, menjadi bagian dari adaptasi salawatan. Sedangkan di Malang berkembang seni salawatan khas yang terkenal dengan sebutan terbang jidor.

Kesenian itu dibawa pengikut Diponegoro yang tak mau tunduk kepada Belanda. Mereka menyingkir dan menempati pesisir selatan Malang sampai Banyuwangi. “Seni Hadrah merupakan seni bersifat sufistik,” katanya.

Selain itu, beragam kesenian yang berkembang di nusantara yang berkaitan dengan penyebaran Islam. Menurut Agus Sunyoto, Gamelan dan wayang merupakan kesenian tradisi yang berkembang di jalam perkembangan Islam. “Jaman Majapahit tak ada wayang dan gamelan. Itu tradisi Islam dikembangkan Wali Songo,” katanya.

Pengaruh Budaya Arab
Guru besar etnomusikologi UCLA Anne K Rasmussen meneliti seni musik dan perempuan dalam tradisi Islam. Dia meneliti di Mesir, Yunani dan Lebanon selama 25 tahun saat menjalani pendidikan doktoral di UCLA sejak 1995. Dia meneliti dan menulis buku yang berkaitan dengan kesenian tradisi Islam.

Dia harus beralajar Bahasa Arab untuk meneliti kesenian di Arab. Telinganya akrab dengan pukulan perkusi aneka musik tradional Arab. Selama di Indonesia sejak 1996, dia melakukan kajian mendalam tentang Islam.

Berawal dari belajar seni baca Al Quran di Institut Ilmu Al-Qur’an. Dilanjutkan dengan bersafari ke sejumlah pesantren di Jombang, Gontor, Jember dan Sumatera.

“Seorang Qori pasti memiliki jiwa seni, suka menyanyi dan bersalawat. Seni pertunjukan, dan lagu sangat berkaitan,” katanya. Dia jumlah sempat mengikuti Emha Ainun Najib dan Kiai Kanjeng dalam lawatan dan tur ke seluruh daerah pada medio 1999-2004. “NU merupakan kunci untuk kebudayaan Islam di Indonesia,” katanya.

Kesenian dan budaya tumbuh dan berkembang di bawah NU. NU, katanya, terbuka untuk mengembangkan musik dan tradisi budaya nusantara. Bahkan juga terbuka untuk suara perempuan sehingga NU penting untuk penelitiannya.

Dia tengah menyelesaikan buku hasil penelitiannya. Tahun depan akan diluncurkan buku hasil penelitiannya berjudul perempuan, islam dan seni musik di Indonesia. Beragam kesenian musik nusantara berkembang yang dipengaruhi oleh musik dari Timur Tengah.

Lantaran pada 1950-1960 banyak mahasiswa Indonesia yang belajar di Mesir dan belajar seni musik di sana. “Musik Melayu meminjam melodi dari Arab. Seperti lagu berjudul pengantin baru, khas melodi Arab,” ujarnya.

Anne juga menunjukkan kemampuan memainkan musik gambus dengan menyanyikan lirik berbahasa Arab. Selama 20 tahun dia memimpin sebuah kelompok musik Arab dan merekamannya dalam cakram padat. Tujuh lagu karya sendiri dan sejumlah lagu kolaborasi dengan musisi tamu dari Maroko. (terakota.id)

Perbaiki Administrasi Pengelolaan Cagar Budaya

foto
Rumah Radio Bung Tomo yang sudah rata dengan tanah. Foto: istimewa.

Peristiwa pembongkaran bangunan bekas tempat siaran Radio Bung Tomo, masih menjadi perbincangan serius. Maklum, bangunan itu sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh Pemkot Surabaya sebagai salah satu bukti pertempuran arek-arek Suroboyo dalam memperjuangkan kemerdekaan RI.

Kala itu, Radio Bung Tomo merupakan sarana komunikasi vital sebagai alat perjuangan. Radio ini mulai mengudara pada tanggal 15 Oktober 1945, tiga hari sesudah PPRI berdiri (Soeara Rakjat, diakses pada 15 Oktober 1945).

Bangunan tersebut berdiri tahun 1935 yang juga masuk dalam daftar Cagar Budaya sesuai SK Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/004/402.1.04 tahun 1998. Namun faktanya bangunan tersebut kini sudah rata dengan tanah.

”Itulah yang mendorong kami mahasiswa FISIP Universitas Airlangga melakukan penelitian tentang fenomena pembongkaran Bangunan Cagar Budaya Radio Bung Tomo itu,” kata Leny Yulyaningsih, ketua kelompok peneliti, seperti dirilis PIH Unair. Selain dia juga ada Parlaungan Iffah Nasution, dan Lisda Bunga Asih.

Mereka kemudian menuangkan penelitiannya ini ke dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Sosial Humaniora (PKM-SH) dengan judul “Fenomena Pembongkaran Bangunan Cagar Budaya Radio Bung Tomo Terkait UU No 11 Tahun 2010 dan Perda Kota Surabaya No 5 Tahun 2005”.

Setelah diseleksi Kemenristekdikti, proposal PKM-SH pimpinan Leny Yulyaningsih ini berhasil lolos, sehingga berhak memperoleh dana penelitian dari Dirjen Dikti dalam program PKM 2016-2017.

Berdasarkan UU No 11 Tahun 2010, kriteria bangunan cagar budaya adalah yang berusia minimal 50 tahun. Namun berdasarkan wawancara dengan tim Ahli Cagar Budaya di Surabaya, tahun 1997 bangunan tersebut pernah dipugar, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai bangunan Cagar Budaya.

Hal tersebut senada dengan penjelasan Prof Ir Johan Silas, Tim Ahli Cagar Budaya bahwa si pemilik bangunan itu mengajukan ijin untuk memugar. Kemudian tim cagar budaya dengan pertimbangan itu mengijinkan pemugaran. Tetapi terjadi kekosongan atau kaget dengan undang-undang. Sehingga pengertian pembongkaran itu kemudian terjadi salah interpretasi.

“Bila ada ijin, maka menurut Perda itu, si pemilik bangunan bisa membongkar bangunan. Jadi, dia membongkar bangunan itu karena tidak ada undang-undang yang secara spesifik melarang. Nah itu yang terjadi. Jadi ijin pemugaran itu tidak mengaitkan dengan ijin membongkar, oleh karena itu dipersoalkan juga yang membuat Perda itu,” kata Johan Silas.

Jadi kalau dibaca kata-kata dalam Perda tersebut, bahwa “Seseorang dapat mengajukan ijin bukan merusak”. Sehingga dia membongkar. Artinya pada Perda itu ada kelemahan. Akhirnya menjadi salah kaprah semua.

“Makanya ketika digugat ke pengadilan, hal itu dianggap sebagai pelanggaran ringan, karena tidak ada artikel Undang-undang yang spesifik melanggar,” tambah ahli tata-kota ITS itu.

Namun, proses kasus pemugaran tersebut hanya dapat ditindaklanjuti dengan Perda Kota Surabaya No 5 Tahun 2005. Alhasil, PT Jayanatha (selaku pemugar Bangunan tersebut) dikenai denda Rp 15 juta dan menawarkan diri untuk membangun kembali bangunan Radio Bung Tomo.

“Jadi menurut tim kami, terhadap persoalan ini perlu adanya perbaikan administrasi dalam pengelolaan cagar budaya di Kota Surabaya,” kata Leny.

Solusi yang ditawarkan oleh Tim PKM-SH Leny Dkk ini, agar tidak terjadi kasus yang serupa pada cagar budaya lainnya, yaitu adanya policy brief berupa membentuk model jaringan koordinasi antara pihak terkait untuk mencegah kesalahan komunikasi.

Juga merevisi beberapa bagian Perda Kota Surabaya No 5 Tahun 2005 agar sesuai dengan kebijakan yang baru yaitu UU No 10 Tahun 2011. Dan menyusun kembali struktur tim cagar budaya Kota Surabaya untuk mendukung pemeliharaan cagar budaya di kota surabaya. (sak)

Halal bi Halal, Tradisi Asli Indonesia

foto
Bung Karno dan KH Abdul Wahab Chasbullah. Foto: istimewa.

Halal bi halal tak ada dalam tradisi Arab. Namun Wagub Jawa Timur Saifullah Yusuf mengatakan tradisi halal bi halal bisa menjadi sarana dakwah sebagai bagian dari pembentukan karakter melalui tausiyah memotivasi ukhuwah dan ketaatan setelah puasa Ramadan.

Menurut Gus Ipul, tradisi silaturahim yang dikemas dalam halal bi halal usai puasa Ramadan ini, merupakan budaya asli dan hanya ada di Indonesia.

Dalam sejarahnya, masih kata Gus Ipul, halal bi halal memang sengaja digagas untuk mempersatukan umat dari berbagai kalangan dan semua tokoh masyarakat.

“Tradisi halal bi halal ini adalah khas Indonesia yang orang Arab bahkan tidak mengenal tradisi tersebut. Dengan halal bi halal, harapannya kita semua akan kembali bersih. Selain itu juga untuk mempererat rasa persatuan dan persaudaraan antar sesama,” terang Gus Ipul.

Gus Ipul menambahkan, halal bihalal juga bisa menjadi sarana dakwah sebagai bagian dari pembentukan karakter melalui tausiyah memotivasi ukhuwah dan ketaatan setelah bulan Ramadhan.

Karenanya halal bi halal adalah bentuk majelis amar makruf nahi mungkar. “Halal bi halal juga bentuk konsolidasi untuk menyikapi berbagai kemajuan zaman. Oleh sebab itu, lewat mejelis ini, diharapkan semua bisa tabayyun dalam menanggapi berita atau opini yang sudah beredar di masyarakat,” tandas Gus Ipul.

Asal Usul
Penggagas pertama istilah halal bi halal adalah KH Abdul Wahab Chasbullah, yang juga merupakan penggagas berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama.

Pasca Indonesia merdeka, pada 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun.

Pada pertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan saran mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat.

Kemudian Kyai Wahab memberi saran menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahim.

Lalu Bung Karno menjawab, “Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain”. “Itu gampang,” jawab Kyai Wahab.

“Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah halal bi halal,” tegas Kyai Wahab.

Dari saran kyai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul ‘Halal bi Halal’ dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan halal bi halal yang kemudian diikuti juga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama.

Jadilah halal bi halal sebagai kegiatan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang.

Kegiatan halal bi halal sendiri dimulai sejak KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Setelah Idul Fitri, beliau menyelenggarakan pertemuan antara raja dengan punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana di Solo. Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri.

Kemudian budaya seperti ini ditiru oleh masyarakat luas termasuk organisasi keagamaan dan instansi pemerintah. Akan tetapi itu baru kegiatannya bukan nama kegiatannya. Kegiatan seperti dilakukan Pangeran Sambernyawa belum menyebutkan istilah halal bi halal, meskipun esensinya sudah ada. (ist)

Ludruk Daya Tarik Turis ke Jatim

foto
Pentas ludruk Irama Budaya di THR Surabaya. Foto: timurjawa.com.

Salah seorang tokoh yang juga Ketua Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Provinsi Jatim Drs Nurwiyatno MSi menilai kesenian ludruk merupakan salah satu potensi dan daya tarik mendatangkan turis ke Jatim.

“Ludruk adalah kesenian lokal yang tak tergantikan dan tidak sedikit wisatawan sangat menyukainya, termasuk turis,” ujar Cak Nur, sapaan akrabnya ketika dikonfirmasi wartawan di Surabaya, Minggu (2/7) pagi.

Pria yang menyatakan niatannya maju sebagai calon Wakil Gubernur Jatim di Pilkada 2018 tersebut juga mengaku sangat mengapresiasi seniman-seniman, terutama pemeran ludruk yang terus berusaha tampil terbaik meski saat ini kurang mendapat perhatian.

Menurut dia, perubahan zaman dan maraknya sinetron serta film di televisi sangat mempengaruhi kehidupan kesenian ludruk yang setiap penampilannya mengedepankan kearifan lokal dengan nilai luhur budaya sangat tinggi.

“Tapi bagaimana pun juga, saya sangat mengapresiasi dan memuji eksistensi kesenian ludruk di Jatim, beserta seluruh pihak yang terus berupaya menjadikan ludruk tetap ada,” ucapnya.

Selain itu, Inspektur Provinsi Jatim tersebut mengingatkan kepada para seniman bahwa kesenian asli Jatim ini sangat memiliki potensi ekonomis jika dapat dikemas dengan baik.

Terlebih, kata dia, kekhususan atau kekhasannya inilah yang membuat ludruk tidak dapat di temui di daerah lain selain di Jatim sehingga diharapkan menjadi pemicu pergerakan ekonomi karena sebagai bagian dari pengembangan sektor ekonomi kreatif yang sedang digalakkan oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo saat ini.

“Harapannya, dengan keuletan penggiat seni di Jatim, kesenian tradisional semacam ludruk dapat kembali berjaya dan bisa dibanggakan oleh masyarakat,” kata mantan Penjabat Wali Kota Surabaya tersebut.

Cak Nur pada Sabtu (1/7) malam berkesempatan menyaksikan pertunjukan ludruk di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya bersama sejumlah pengurus Dewan Kesenian Jatim (DKJT) yang digelar oleh kelompok kesenian ludruk Irama Budaya dengan mengangkat lakon “Ayahku Pulang”.

Kedepan, ia mengaku akan berusaha membantu memecahkan masalah kesenian ini dengan memikirkan bersama para penggiat seni yang ada di Dewan Kesenian Jatim mencari jalan keluar agar kesenian dan budaya Jatim terus terlestarikan. (ist)

Harta Karun Kuno di Galeri Warisan Maritim

foto
Menteri Susi saat pembukaan Galeri Warisan Maritim di Jakarta. Foto: Agolf.xyz.

Belum banyak orang tahu keberadaan tempat ini. Maklum baru diresmikan 13 Maret 2017 lalu. Begitu orang masuk ke dalam, yang tersaji adalah benda-benda yang kelihatannya kurang menarik. Namun siapa sangka benda-benda tersebut bernilai ilmu pengetahuan tinggi.

Galeri Warisan Maritim, begitulah nama tempat tersebut. Terletak di lantai 2, Gedung Mina Bahari IV milik Kementerian Kelautan dan Perikanan di Jakarta. Peresmian galeri dilakukan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Semua koleksi di galeri ini, semula disebut Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam (BMKT). BMKT merupakan hasil eksplorasi sejumlah perusahaan swasta di perairan Nusantara atas izin pemerintah.

Seperti ditulis Djulianto Susantio di Hurahura.wordpress.com, BMKT mulai dikenal pada 80-an ketika sindikat internasional menjarah muatan kapal kargo yang tenggelam di perairan Riau. Dalam kasus itu, seorang arkeolog Indonesia hilang ketika tengah melakukan investigasi. Yang membuat fantastis, hasil jarahan tersebut laku dalam pelelangan di mancanegara sebesar puluhan juta dollar AS.

Karena pemerintah tidak punya dana, maka diajaklah investor bekerja sama dengan sistem bagi hasil. Namun sebelum dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi, pemerintah (Kemendikbud) menyeleksi benda-benda yang unik dan langka untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Benda-benda tersebut kemudian didistribusikan untuk beberapa museum. Selebihnya diserahkan kepada investor, termasuk kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Kejayaan Laut
Pengelolaan BMKT merupakan bagian dari upaya mengembalikan kejayaan laut menyusul visi Indonesia menuju Poros Maritim dunia. Menurut Menteri Susi, BMKT memiliki nilai sejarah tinggi, tidak ternilai. Karena itu, pemerintah ingin mengelola BMKT agar pemanfaatannya terorganisasi dan mandiri.

Galeri Warisan Maritim memajang lebih dari 1.500 keping BMKT. Benda-benda tertua berasal dari masa Dinasti Tang (abad ke-9) dan Dinasti Song (abad ke-11–12). Kedua dinasti berasal dari Tiongkok, negeri penghasil keramik terkenal di dunia.

Berbagai jenis dan bentuk keramik merupakan bagian terbesar koleksi galeri. Tanda-tanda bekas terendam lama dalam air laut tampak jelas. Bekas karang dan adanya fosil tumbuhan merupakan ciri utama.

Selain benda keramik, ada juga benda kaca, benda batu, benda logam, dan mata uang. Benda-benda tersebut berasal dari beberapa negara, seperti Tiongkok, Spanyol, Inggris, dan Belanda. Menurut Sonny Wibisono, arkeolog yang ikut terlibat sebagai narasumber, koleksi galeri berasal dari abad ke-9 hingga ke-13 Masehi.

Sebenarnya barang-barang di galeri, baru sebagian kecil dari total BMKT yang dimiliki pemerintah. Tempat ini boleh dikatakan baru berupa galeri mini.

Sebagian besar koleksi BMKT masih berada di gudang Cilengsi. Untuk menampung semua barang di galeri tentu memerlukan satu gedung, bukan lagi satu lantai.

Sonny bercerita, koleksi di galeri mini berasal dari tiga situs, yakni perairan Belitung, Pulau Buaya, dan Cirebon. Sebenarnya ada sekitar sepuluh situs yang sudah dieksplorasi perusahaan swasta sebagaimana buku Katalog Peninggalan Bawah Air di Indonesia.

Kargo Belitung ditemukan pada 1998 di kedalaman 16 meter. Dari hasil analisis terhadap sisa-sisa lambung, kargo Belitung diidentifikasi sebagai kapal kuno Arab yang disebut dhow.

Sekitar 60.000 potong keramik berhasil diangkat dari kargo Belitung. Karena keramiknya berasal dari dinasti Tang abad ke-9, maka dikenal sebagai kargo Tang.

Keramik memang merupakan barang dagangan yang paling laku. Ada yang dibuat khusus untuk para pembesar atau pejabat di negara yang disinggahi. Ada pula produk masal, seperti piring dan mangkok.

Kargo Pulau Buaya ditemukan pada 1989 di perairan Riau. Sayang karena sudah berantakan, struktur kapalnya tidak diketahui. Muatan yang diangkat dari kapal ini sekitar 31.000 artefak.

Belasan ribu artefak lainnya kemungkinan sudah pecah karena pengangkatan tidak sesuai prosedur. Keramik temuan Pulau Buaya bertarikh abad ke-12 sampai ke-13 masa Dinasti Song-Yuan.

Kargo Cirebon ditemukan pada 2004. Struktur bangkai kapal yang masih tersisa berukuran panjang 21,80 meter dan lebar 10,40 meter. Keramik dari kargo Cirebon berasal dari tungku Zhejiang abad ke-10.

Diantara barang masal itu ditemukan barang keramik seni yang langka, misalnya vas Liao, figur ikan, kepala phoeniks, dan kijang. Keberadaan temuan keramik tentu saja sangat penting. Keramik merupakan artefak bertanggal mutlak. Jadi fungsinya bisa untuk memberi tarikh pada temuan-temuan kuno lain.

Benda-benda dari kargo Cirebon bervariasi. Pastinya dari segi ekonomi bernilai tinggi. Dari kargo Cirebon juga ditemukan logam dan batu mulia. Yang paling menarik adalah gagang pedang oktagonal terbuat dari emas. Bentuknya menyerupai tanduk dengan permukaan berukiran rumit.

Ada lagi benda-benda ritual agama Buddha berupa gantha (lonceng) dan khakkhara (ujung mahkota dari tongkat pendeta). Karena uniknya, benda-benda ini menjadi ‘koleksi negara’.

Sebuah istilah khusus untuk menunjukkan benda-benda yang sudah dipilih para arkeolog. Nantinya benda-benda ‘koleksi negara’ akan dipamerkan di museum. Kemungkinan besar akan ditempatkan di Museum Nasional di Jakarta.

Tujuan Wisata Baru
Sebagai ‘barang baru’ tempat ini lumayan menarik. Luas, terang, dan sejuk dilengkapi kursi untuk beristirahat, cukup memberi kenyamanan kepada pengunjung. Penataan tergolong bagus, begitu pula keletakan benda, sehingga bisa dilihat pengunjung secara leluasa.

Hanya ada beberapa lemari terlalu tinggi. Dengan demikian pengunjung hanya bisa melihat koleksi dari jarak jauh tanpa mampu mengamati detail koleksi.

Betapa pun masih ada kekurangan, keberadaan museum mini ini patut diberi apresiasi. Pengunjung bisa mengetahui perdagangan dan hubungan antarbangsa di masa lalu.

Cuma perlu diperhatikan, biasanya benda-benda yang sudah lama berada di dalam laut, akan mengalami kerusakan bila berada di daratan. Karena itu konservasi benda secara periodik perlu dipertimbangkan oleh pengelola.

Galeri Warisan Maritim buka Senin sampai Jumat pukul 09.00-12.00 dan 13.00-15.00 pada jam kantor. Tidak ada karcis masuk. Pengunjung cukup mengisi buku tamu yang tersedia. Bukan tidak mungkin kalau dikelola profesional, museum mini ini akan menjadi tujuan wisata pendidikan, wisata sejarah, dan wisata budaya sekaligus. (ist)

Potensi Benteng Pendem jadi Cagar Budaya

foto
Benteng Pendem Ngawi Berpotensi jadi Cagar Budaya. Foto: Ngawikab.go.id.

Benteng Van Den Bosch atau yang dikenal dengan sebutan Benteng Pendem di Kelurahan Pelem, Ngawi, Jawa Timur, berpotensi untuk dijadikan sebagai cagar budaya nasional.

Wakil Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono mengatakan potensi tersebut muncul setelah pihaknya mendapat kunjungan Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Wisata Budaya Kementrian Pariwisata (Kemenpar), Lokot Ahmad Enda baru-baru ini.

“Pemkab Ngawi akan terus mendorong upaya pengembangan destinasi wisata di kabupaten setempat, termasuk benteng pendem yang sangat menyita perhatian Asdep. Butuh dukungan dari semua pihak termasuk pemerintah pusat untuk merevitalisasi Benteng Pendem dan menjadikannya cagar budaya,” ujar Ony kepada wartawan seperti dikutip Antarajatim.com.

Menurut dia, hasil tinjauan Asdep Pengembangan Destinasi Wisata Budaya, Benteng Pendem Ngawi sangat luar biasa. Benteng tersebut memiliki keunikan tersendiri, yakni pilar asli benteng yang berdiri sejak tahun 1845 dan hal itu tidak dimiliki benteng lain di Indonesia.

“Itulah nilai plusnya Benteng Pendem Ngawi hingga berpotensi menjadi cagar budaya nasional,” kata dia lanjut.

Ony menjelaskan, dalam kunjungannya tersebut, Asdep juga memberikan arahan dalam pengembangan destinasi wisata maupun potensi cagar budaya yang ada di Ngawi.

Dalam arahan tersebut, Pemkab Ngawi diminta mengajukan izin ke Kemendikbud agar bisa mendorong audiensi Benteng Pendem menjadi cagar budaya. Apalagi benteng tersebut sudah didukung dengan ‘masterplan’ lengkap. Hal itu menunjukkan bahwa rencana induk pengembangan wisata di Ngawi sudah berjalan.

Selain Benteng Pendem, Ngawi juga memiliki Museum Trinil yang tak kalah potensinya. Menurut Asdep, dua hal tersebut bisa menjadi ikon Ngawi. Dimana saat ke Ngawi, otomatis akan ingat Benteng Pendem dan Museum Trinil.

Untuk itu, komitmen pemkab setempat menjadikan sektor pariwisata sebagai prioritas juga perlu dan harus didukung masyarakat. Karenanya, Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Ngawi juga harus memiliki rencana detail demi pengembangan destinasi wisata tersebut. (ant)

Menjaga Living Artefak di Pulau Bawean

foto
Potensi arkeologi maritim di Pulau Bawean. Foto: Batampos.co.id.

Pulau Bawean adalah sebuah pulau yang terletak di Laut Jawa yaitu sekitar 80 mil atau 120 kilometer sebelah utara Gresik. Secara administratif sejak tahun 1974, pulau Bawean ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Gresik, Jawa Timur di mana tahun sebelumnya sejak pemerintahan kolonial pulau Bawean masuk dalam wilayah Kabupaten Surabaya.

Pulau Bawean dengan luas 196,3 km2 ini merupakan salah satu pulau di Laut Jawa yang mempunyai posisi strategis secara geografis dan memegang peranan sebagai salah satu lokasi transit alat perhubungan laut di masa lalu hingga masa sekarang.

Mengingat kedudukannya sebagai salah satu mata rantai dari jalur perdagangan dan pelayaran di Laut Jawa tidaklah mengherankan apabila Pulau Bawean sejak dulu merupakan wilayah yang menarik untuk dilakukan penelitian dalam berbagai bidang.

Beberapa penulis asing membahas tentang Pulau Bawean walaupun tidak secara khusus meneliti data arkeologi yakni JE Jasper (1906) dan C Lekkerker (1935). Selain itu, peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pernah melakukan penelitian ke pulau tersebut pada tahun 1970-an.

Diluar hasil kerja mereka, informasi yang berhubungan dengan sumberdaya arkeologi di Pulau Bawean dan sekitarnya masih sangat terbatas. (Koestoro, 1998: 12). Balai arkeologi Yogyakarta pada tahun 1985/1986 pernah melakukan penelitian arkeologi dengan tema ‘Survei Arkeologi Islam di Pulau Bawean Jawa Timur’ dengan hasil berupa tinggalan arkeologi seperti makam-makam kuna serta obyek/situs yang berkaitan dengan bentuk okupasi pertahanan, perdagangan, dan keagamaan (Koestoro, 1985/1986:27)

Dalam laporannya seperti ditulis Arkeologijawa.kemdikbud.go.id, disebutkan Balai Arkeologi DI Yogyakarta pada tahun 2015 kembali melakukan penelitian di Pulau bawean dengan kajian arkeologi maritim. Penelitian tahun 2015 ini mempunyai tujuan untuk melakukan identifikasi potensi tinggalan arkeologi maritim di Pulau Bawean secara bertahap.

Hasil penelitian tahun 2015 diperoleh informasi mengenai tinggalan arkeologi maritim di Pulau Bawean yaitu bekas pelabuhan lama Bawean dan sarana pendukungnya di Desa Sawahmulya. Nisan-nisan kuno di Desa Sawahmulya, Expose Wreck di gosong Pulau Gili di Desa Sidogedongbatu di Kecamatan Sangkapura.

Lalu ada konsentrasi fragmen keramik asing di Pulau Cina di Desa Dedawang dan di Desa Diponggo, keramik-keramik asing yang masih utuh di rumah-rumah penduduk di Desa Diponggo dan Desa Sidogedongbatu.

Juga terdapat meriam-meriam kuno di sekitar Desa Diponggo sebanyak 2 buah dan Koramil 0817/18 Tambak sebanyak 3 buah di Kecamatan Tambak, serta tinggalan arkeologi yang berasal dari Pulau Bawean yang menjadi koleksi Museum Sunan Giri di Gresik.

Pada kegiatan penelitian tahapan kedua di tahun 2016, identifikasi potensi arkeologi maritim di Pulau Bawean diperoleh informasi, antara lain keberadaan Shipwreck di Gosong Pulau Gili dan wreck di Pulau Nusa.

Poros tata kota Kecamatan Sangkapura – pelabuhan yang meliputi Pesanggrahan, pelabuhan masa kolonial, Kampung Boom, pemecah ombak kolonial, pasar, alun-alun, masjid Jami dan kawedanan.

Terdapat sebaran keramik asing di desa-desa wilayah kecamatan Sangkapura seperti Sawah Mulya, Sungai Rujing, Pudakit, Kumalasa, Gunung Teguh, Sidogedungbatu, Teluk dalam, dan Kepuh Teluk dalam bentuk utuh maupun fragmentaris serta keramik asing yang berasal dari Cina, asing tenggara, dan Eropa.

Ditemukan mata uang kuno sebanyak 235 koin. Variasi dan karakter koin yang dijumpai yaitu dari tahun 1858–1945. Koin berbahan perak hingga perunggu, berdiameter 1,6-3,1 cm. Keberadaan meriam-meriam kuna ini sebenarnya sudah dilakukan peninjauan di tahun 1980-an oleh Balai Arkeologi Yogyakarta dan SPSP Jawa Timur.

Data artefaktual yang bernafaskan Buddhis berbentuk stupika juga masih dijumpai di Bawean. Stupika merupakan replika stupa yang bentuknya kecil dan terbuat dari terakota (tanah liat yang dibakar). Asal usul stupika menurut pemilik dan penyimpan stupika ini diinformasikan berasal dari Desa Sidogedongbatu. Temuan stupika ini juga menjadi salah satu koleksi Museum Sunan Giri Gresik. Serta Batu kenong atau menyerupai batu umpak sebanyak 8 buah.

Mengingat pentingnya wilayah Pulau Bawean dalam konteks arkeologi maritim, maka potensi tinggalan arkeologi maritim tersebut perlu diketahui dan dikaji lebih mendalam untuk dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan yaitu ilmu pengetahuan, kemasyarakatan, dan perekonomian.

Pada 4 – 17 Mei 2017 dilakukan kegiatan penelitian identifikasi potensi arkeologi maritim di Pulau Bawean. Penilitian dilakukan di perairan sekitar Pulau Baweandiperoleh informasi mengenai keberadaan cerobong asap serta artefaktual berupa tegal dan bata. Namun eksplorasi keberadaan kapal-kapal tenggelam di Pulau Bawean lainnya memperoleh hasil nihil dikarenakan masifnya pengambilan, pengrusakan dan pencurian besi tua yang berasal dari kapal tenggelam.

Sedangkan penelitian daratan Pulau Bawean fokus dilaksanakan di Desa Lebak, Pudakit Timur, Pudakit Barat, Pudakit Timur, patar Selamat di Kecamatan Sangkapura serta di desa Diponggo, Teluk Jati Dawang, dan Sukaoneng di Kecamatan Tambak.

Diperoleh informasi mengenai keberadaan keramik asing yang masih digunakan hingga sekarang, maupun bagian dari koleksi keluarga. Ada nisan kuno, glass ball fishing float, naskah kuno, serta lokasi Murtalaja yang diduga sebagai situs dengan indikasi awal berupa temuan permukaan fragmen gerabah yang dominan, dan keramik asing.

Berdasarkan kegiatan tersebut, tim peneliti merekomendasi perlunya melakukan penelitian secara bertahap untuk memperoleh data tinggalan arkeologi maritim di Pulau Bawean secara menyeluruh. Terutama informasi mengenai keberadaan jangkar-jangkar kuno di perairan sekitar Pulau Bawean.

Juga dipandang perlu melakukan perlindungan dan pengawasan secara khusus terhadap tinggalan kapal-kapal tenggelam (shipwreck) di Pulau Bawean khususnya temuan Exposed Wreck di Pulau Gili Desa Sidogedongbatu dan shipwreck di Pulau Nusa di desa Dedawang dari ancaman pengrusakan terhadap pencurian besi-besi tua yang berasal dari kapal-kapal tenggelan di sekitar Pulau Bawean.

Keberadaan keramik asing di Pulau Bawean yang hingga kini masih digunakan masyarakat setempat merupakan ‘living artefak’ mempunyai potensi kajian penelitian namun juga mempunyai potensi negatif berupa jual-beli ilegal dan pencurian. (ist)