SMP Ini Buka Kelas Khusus Seni dan Budaya

foto
SMP kelas khusus untuk siswa berbakat seni dan budaya. Foto: Radar Tulungagung.

Sedikitnya lima lembaga SMP Negeri di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur masing-masing membuka kelas khusus untuk siswa yang memiliki bakat dan talenta di bidang seni budaya daerah.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tulungagung Suharno mengatakan, kelas khusus dibuka untuk memandu bakat berkesenian calon peserta didik, terutama di bidang seni budaya daerah.

“Kelas khusus ini berbeda dengan jalur kompetensi. Tujuan dari pembukaan kelas ini adalah untuk melestarikan seni budaya daerah,” kata Suharno menanggapi pertanyaan wartawan di Tulungagung, awal pekan seperti dilaporkan Okezone.com.

Suharno mengatakan, kelas khusus telah diuji coba di dua lembaga SMP negeri setempat, yakni di SMPN 2 Tulungagung dan SMPN 1 Ngunut.

Dan hasilnya, Suharno mengklaim program kelas khusus efektif dan bahkan bisa dibilang berhasil karena beberapa kali mewakili Tulungagung dalam perlombaan maupun kegiatan penting tingkat Jatim. “Tahun ini coba dikembangkan ke tiga sekolah lain,” ujarnya.

Tiga SMP negeri yang berencana mengadopsi program serupa masing-masing adalah SMPN 1 Tulungagung, SMPN 3 Tulungagung dan SMPN 1 Kauman.

Ditegaskannya, kelas khusus yang sudah berjalan dan akan terus dipertahankan mewadahi bakat dan minat di bidang kesenian tradisional. “Pengajuan sudah disampaikan dan akan kami verifikasi secepatnya agar program bisa dimulai,” ucap Suharno.

Senada, Sekretaris Dikpora Tulungagung Hariyo Dewanto mengatakan kelas khusus untuk mengawal prestasi siswa saat masih SD. Kelas khusus ini kegiatannya akan berbeda dengan kelas reguler, misalnya, mereka sering meninggalkan sekolah untuk melaksanakan kegiatan mereka.

“Makanya mereka perlu dikumpulkan di kelas yang sama, agar tidak memicu rasa iri siswa yang lain. Saat para siswa di kelas khusus ini tidak masuk sekolah, yang lain bisa memahaminya,” kata Hariyo Dewanto yang akrab dipanggil Yoyok itu.

Dijelaskan, kelas khusus menjadi tanggung jawab pihak sekolah, terutama menyangkut harus penyediaan guru pengajar, sampai fasilitas untuk peserta didik dengan bakat khusus ini. Hal itu termasuk mengganti jam pelajaran, saat para siswa ada kegiatan di luar sekolah.

“Kalau kurikulumnya sebenarnya sama dengan kelas reguler. Tapi waktunya fleksibel, dan guru yang memastikan anak-anak ini tetap mendapat pelajaran,” ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala SMPN 2 Tulungagung Eko Purnomo mengatakan, kelas khusus di di tempatnya memang diperuntukkan hanya untuk siswa dengan bakat seni tradisional.

Dikatakannya, proses penerimaan siswa kelas khusus mealui seleksi piagam penghargaan serta tes praktik. Sebab, kata dia, setiap calon peserta didik tidak diambil dari peserta tes akademik, melainkan dari ujian praktik kemampuan seni budaya daerah.

Dari seleksi peserta didik kelas khusus ini akan meliputi banyak keahlian, misal pedalang, keahlian bermain per alat musik tradisional, hingga menari dan menyanyi (sinden).

“Kalau jalur prestasi penjaringannya kan prestasi akademik dan nonakademik. Nonakademik biasanya olahraga, tidak menjurus pada seni tradisional,” tutur Eko.

Hasil dari kelas khusus ini pun sudah bisa dirasakan. SMPN 2 Tulungagung kini mempunyai grup seni tradisional yang bisa dipentaskan sewaktu-waktu, misalnya, seni jaranan maupun reog kendang yang populer di Tulungagung. (ist)

Polrestabes Surabaya Kini Semakin Klasik

foto
Bangunan Polrestabes Surabaya masuk cagar budaya. Foto: Detik.com.

Restorasi atau pengembalian wujud asli bangunan Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya dimulai saat Kombespol Yan Fitri Halimansyah menjabat sebagai Kapolrestabes Surabaya (sekarang pangkatnya Brigjen). Saat itu dilakukan perombakan total terhadap bangunan bagian depan yang merupakan cagar budaya.

Beberapa ornamen bangunan disingkirkan dan dihilangkan agar bangunan kembali ke wujud asalnya. Dari situ, Yan Fitri menjadikan bangunan bagian depan Polrestabes Surabaya sebagai museum hidup, sebuah museum yang bangunannya masih dipergunakan untuk beraktivitas.

Hal ini berlanjut saat Kombespol Mohammad Iqbal menjabat sebagai Kapolrestabes Surabaya. Iqbal berusaha meneruskan dan menyempurnakan apa yang telah dimulai Yan Fitri. Restorasi ini masih berlangsung. Berangsur-angsur, wujud Polrestabes Surabaya yang pada zaman perjuangan disebut Hoofdbureau ini mulai terlihat.

“Saya bukan pencetus, saya follower. Pencetusnya Pak Yan Fitri. Mungkin karena waktu beliau singkat, saya meneruskan. Saya buka, semua saya ekspose, saya cat putih, kayu dan lantai saya kembalikan,” ujar Iqbal kepada Detikcom, beberapa waktu lalu.

Iqbal mengatakan, mustahil untuk membuat persis antara bangunan lama dengan yang baru. Yang bisa dilakukan hanyalah mendekati atau semirip mungkin. Yang sudah dilakukan Iqbal adalah mengecat bagian luar bangunan seluruhnya dengan cat putih. Sebelumnya ada kombinasi cat hitam dan merah.

Kemudian untuk atap, Iqbal menjebol semua plafon yang menutupi bagian atas bangunan. Sekarang ini, atap bangunan utama terlihat lebih tinggi dan menjulang karena tak ada yang menghalangi.

Yang terlihat adalah kayu-kayu jati berwarna coklat sebagai penopang atap. Udara di ruangan pun relatif lebih adem karena tingginya atap yang mencapai lebih dari 4 meter.

Hal lain yang diubah adalah penggantian keramik yang ada di museum hidup. Keramik yang dulu berwarna terang, diganti dengan keramik berwarna coklat bermotif. Penggantian warna keramik itu membuat ruangan lebih teduh.

Iqbal juga mengubah pencahayaan di museum hidup dengan lampu berwarna putih, sehingga lebih terang. Sebelumnya pencahayaan museum hidup diterangi oleh cahaya temaram. Terangnya cahaya putih disambut oleh teduhnya warna coklat keramik sehingga tak menyilaukan pandangan.

Kemudian museum hidup yang ada di tengah ruangan kini tak lagi dijejali berbagai barang sejarah. Iqbal mengeluarkan sebagian benda bersejarah itu.

Sebagai gantinya, sebuah sofa berwarna coklat diletakkan di bagian samping kanan dari ruangan. Benda bersejarah yang dikeluarkan kini ditempatkan di bagian luar museum hidup atau di ruang tunggu pengunjung.

“Ada kursi pengunjung agar pengunjung bisa duduk santai di situ. Barang dikeluarkan sebagian agar museumnya tidak hanya terbatas di situ. Begitu masuk, sudah ada museum, sudah melihat barang bersejarah,” jelasnya.

Perpaduan antara atap, keramik, dan sofa cokelat membuat suasana menjadi lebih vintage, lebih klasik, dan lebih kuno. Bukan tanpa alasan Iqbal memasang benda dominasi warna cokelat.

“Saya kan pernah sekolah di Belanda 1 tahun. Saya tahu persis tidak ada (bangunan bersejarah) di Belanda itu warna merah kuning, tidak ada,” lanjut Iqbal.

Iqbal menyebut bahwa restorasi yang dilakukan sudah mendekati 85%. Yang kurang menurut Iqbal adalah sejumlah lemari display dan sepeda motor zaman Belanda yang akan di-display. “Ini untuk kota dan masyarakat Surabaya. Juga untuk Polri. Kita bangga bisa punya sejarah,” tandas Iqbal. (dtc)

Strategi Kebudayaan Menuju Indonesia Hebat

foto
Simposium Strategi Kebudayaan Menuju Indonesia Hebat. Foto: Kemdikbud.go.id.

Situasi kehidupan kebangsaan yang bergerak ke arah mencemaskan serta ujian kebangsaan atas ancaman perbedaan membuat UGM menginisiasi simposium tentang kebangsaan.

Simposium Budaya Kebangsaan tentang “Strategi Kebudayaan Menuju Indonesia Hebat” diselenggarakan pekan lalu di Auditorium Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Pada simposium yang dibuka oleh Rektor UGM Prof Panut Mulyono, Ditjen Kebudayaan yang diwakil Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid menjadi pembicara kunci yang membahas tentang kebudayaan dan kebangsaan.

Pendekatan budaya dianggap dapat menjadi strategi meredam dan memediasi konflik, baik yang bersifat vertikal maupun horisontal. Simposium ini merupakan kerja sama Direktorat Jenderal Kebudayaan dan Pusat Studi Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada.

Dirjen Kebudayaan juga menyampaikan tentang bagaimana strategi kebudayaan terkait dengan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan. Dirjen Kebudayaan menjelaskan hal ini dalam pernyataannya: “Tidak banyak strategi kebudayaan di masa dahulu, namun UU Pemajuan Kebudayaan yang dibahas selama lebih dari 30 tahun merupakan buah dari olah pikir tentang strategi kebudayaan”.

Pada simposium yang dihadiri sekitar 200 peserta yang terdiri dari akademisi, praktisi kebudayaan, mahasiswa dan masyarakat umum ini menitik beratkan tentang kehadiran pemerintah dalam kebudayaan dan kebangsaan.

UU No 5 Tahun2017 tentang Pemajuan Kebudayaan menjelaskan bahwa praktek kebudayaan begitu tersebar dan beragam. Titik singgung atas berbagai interaksi tersebut dapat terjadi dengan kehadiran negara yang mengembangkan platform tersebut.

“Yang terpenting dalam UU Pemajuan Kebudayaan ialah metode atau cara untuk memobilisasi pikiran menjadi kekuatan dan strategi yang konkrit” ujar Hilmar Farid.

“Kita adalah kita hari ini, dan kita harus membangun berdasarkan sesuatu yang apa yang kita miliki saat ini” merupakan ujaran yang tepat dalam menghadapi tantangan bangsa, ditekankan oleh Hilmar Farid, sekaligus kesimpulan dari simposium ini. (sak)

Wayang ’Timplong’ Nganjuk yang Hampir Punah

foto
Mahasiswa Unair meneliti wayang Timplong di Nganjuk. Foto: PIH Unair.

Wayang Timplong merupakan salah satu dari puluhan jenis wayang yang ‘hidup’ dalam khasanah seni budaya di Nusantara. Wayang khas Nganjuk ini sangatlah unik. Wujud badannya terbuat dari kayu pahatan, sedangkan tangannya terbuat dari kulit.

Kisah-kisah cerita yang dimainkan pun berkisar sejarah di Pulau Jawa. Ini berbeda dengan wayang Purwa umumnya yang menceritakan kisah Mahabarata ataupun Ramayana.

Namun sayangnya, sekarang ini pertunjukan wayang kayu khas Kabupaten Nganjuk ini sudah tak seramai di era tahun 1990-an.

Seakan ikut tergerus oleh gemerlapnya dunia hiburan modern. Fakta inilah yang menggelitik lima mahasiswa FISIP Universitas Airlangga (Unair) untuk melakukan penelitian dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Sosial Humaniora (PKM-SH).

Lima mahasiswa FISIP itu adalah Julia Permata Maulidhia, Hanavia Ria Pratiwi, Widya Ayu Kartikasari, Rizal Gunawan, dan Nur Alif Nugroho.

Mereka kemudian menuangkan idenya dalam proposal PKM-PSH dengan judul “Eksistensi Wayang Timplong Sebagai Upaya Pelestarian Kebudayaan Lokal di Desa Kepanjen, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk.” Proposal ini pada tahap pertama berhasil lolos penilaian Kemenritekdikti 2016 dan meraih pendanaan.

Seperti juga wayang-wayang lazimnya, wayang Timplong juga sebagai alat menyosialisasikan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Tentu saja melalui cerita-cerita yang dipertunjukkan.

Sayangnya, saat ini sudah jarang terlihat ada pertunjukan wayang tradisional ini, bahkan banyak remaja yang belum pernah mendengar nama wayang Timplong.

”Pertunjukan wayang Timplong saat ini hanya sebatas untuk acara bersih desa. Itupun hanya berlangsung pada beberapa dusun dan yang meminati pertunjukan pun hanya kalangan orang-orang tua,” kata Julia Permata Maulidhia, ketua Tim PKM-SH ini.

Tim mahasiswa FISIP itu antara lain juga melakukan wawancara dengan Pak Suyadi, dalang Wayang Timplong di Desa Kepanjen, Kecamatan Pace, Kab. Nganjuk, juga dengan pihak Dinas Pariwisata, Kepemudaan, Olahraga, dan Kebudayaan Kabupaten Nganjuk.

Seiring dengan meredupnya pertunjukan, jumlah dalang pun dapat dihitung dengan jari. Dalang yang tersisa pun usianya sudah dibilang tua. Dari keadaan inilah, simpul sementara, wayang Timplong perlu dukungan generasi penerus untuk melanjutkan dan melestarikan.

Selama ini, tambah Julia, penerus dalang yang terbatas hanya pada lingkup garis keturunan, diperkirakan inilah yang membuat para dalang juga kesulitan dalam mencari penerusnya. Sebab minat masyarakat dan peran serta pemerintah akan turut andil terhadap keberlangsungan wayang kayu khas Nganjuk ini.

”Padahal apabila dikembangkan dengan adanya program pemerintah, misalnya, serta adanya minat masyarakat, maka wayang Timplong ini dapat menjadi media pembelajaran untuk pendidikan formal, sebab dalam cerita-ceritanya dapat memberikan pendidikan berkarakter untuk anak-anak dan remaja,” kata Julia Permata.

Selain itu juga dapat dikembangkan ke dalam bidang industri kreatif, yaitu industri wisata dimana suatu kebudayaan lokal dikembangkan dan dipromosikan sebagai ikon suatu daerah. Jika upaya seperti berhasil, diyakini akan bisa memberikan nilai tambah bagi keberlangsungan kesenian itu sendiri maupun untuk daerah. (sak)

Jaga Situs Terung Wetan, Bangun Paduraksa

foto
Petugas BPCB Trowulan saat melakukan ekskavasi pertama 2012. Foto: Kompas.com.

Sudah lima tahun berlalu, belum ada kelanjutan mengenai situs bersejarah yang ditemukan di Desa TerungWetan, Krian. Padahal, sejak 2012, petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan melakukan ekskavasi pertama.

Saat itu, ditemukan sisa bangunan yang diduga kuat merupakan peninggalan Kadipaten Terung, yang masuk Kerajaan Majapahit. ”Hingga kini, belum ada ekskavasilanjutan. Padahal, yakin banyak situs bersejarah yang perlu digali lebih lanjut di Wilayah ini,” kata Jansen Jasien, salah seorang seniman sekaligus pemerhati budaya seperti dikutip Jawapos.com, Senin (19/6).

Sekadar informasi, sebelum eksvakasi pertama, seorang warga menemukan batu ukir yang mirip buah manggis tak jauh dari lokasi. Batu tersebut mirip kendi air minum dengan berat 30 kilogram. Setelah diteliti, batu tersebut diduga merupakan ukiran pada zaman Majapahit.

Penemuan-penemuan itu terus berlanjut. Beberapa kali warga menemukan pecahan piring yang diketahui peninggalan zaman prasejarah. Kemudian, temuan-temuan itu disimpan dalam kompleks pemakaman Raden Ayu Putri Ontjat Tondo Wurung, 50 meter dari lokasi penemuan.

Sebagai penanda, warga bahu membahu membuat paduraksa. Itu semacam pintu gerbang masuk ke sebuah situs atau candi. Sejak awal Ramadan, pekerjaan itu dilakukan dengan sukarela. Paduraksa tersebut dibangun setinggi lebih dari 5 meter.

Memiliki delapan anak tangga di bagian depan dan belakangnya. Juga, terdapat pintu selebar 80 sentimeter dengan tinggi 180 sentimeter.

Saat ini pembangunan baru menyelesaikan tahap dasari Jansen menyatakan, pembangunan paduraksa itu berada di lahan milik Sahuri. ”Pak Sahuri sudah menyetujui. Jadi, tidak ada masalah,” lanjutnya.

Untuk membangun paduraksa secara keseluruhan, Jasien memprediksi dibutuhkan 21 ribu batu bata. Dengan dikerjakan secara swadaya, dia memprediksi bangunan tersebut selesai akhir tahun. (ist)

Akulturasi Budaya, Senjata Dakwah Sunan Giri

foto
Pintu masuk makam Sunan Giri yang dihiasi ukiran Jawa. Foto: Jawapos.com.

Gresik disebut sebagai Kota Santri bukan tanpa alasan. Sejarah kota yang berjarak 20 kilometer dari Kota Surabaya itu sejatinya berawal dari sebuah pesantren.

Selain menjadi pusat dakwah, pesantren yang didirikan Raden Paku alias Sunan Giri berkembang menjadi pemerintahan pada abad ke-14 hingga abad ke-15 Masehi.

Seperti dilaporkan Jawapos.com, di Desa Sidomukti, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, terdapat satu masjid yang menyimpan setumpuk sejarah. Masjid yang berada di Bukit Giri itu dikenal dengan nama situs Giri Kedaton. Kompleks masjid serta pesantren pertama di Gresik yang berjarak 200 meter ke arah timur dari Jalan Raya Giri.

Bangunan yang didirikan pada 1487 Masehi itu menjadi bukti awal dimulainya dakwah Sunan Giri. Sebelum berdakwah, Sunan Giri banyak belajar ilmu agama di Ampel Denta (Ampel, Surabaya) bersama Makdum Ibrahim (Sunan Bonang).

Tepatnya pada 1455 Masehi, saat usia beliau menginjak 12 tahun. Setelah mondok tujuh tahun, Sunan Giri diwisuda dengan gelar Ainul Yaqin.

Menurut buku Sejarah Sunan Giri yang ditulis Yayasan Makam Sunan Giri, setelah diwisuda, Sunan Giri sejatinya ingin berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Namun, Sunan Ampel menyarankan Sunan Giri agar mampir ke Samudra Pasai untuk menimba ilmu lebih dalam. Sunan Giri diminta berguru ke Syekh Maulana Ishaq yang tidak lain adalah ayah Sunan Giri.

Setelah berguru, Sunan Giri diminta kembali ke tanah Jawa oleh Syekh Maulana Ishaq. Sebab, saat itu di tanah Jawa terjadi masa transisi dari Kerajaan Hindu-Buddha ke Islam. “Itu momentum yang harus dimanfaatkan untuk berdakwah,” ujar Achmad Shobirin, wakil ketua Yayasan Makam Sunan Giri kepada Jawapos.com.

Oleh Syekh Maulana Ishaq, Sunan Giri diberi bekal segenggam tanah. Sang ayah meminta Sunan Giri kembali ke Gresik dan mencari tanah yang serupa dengan tanah tersebut. Mulai bentuk, warna, hingga baunya.

Sebelum menemukan jenis tanah yang diminta sang ayah, Sunan Giri sempat iktikaf(bertapa) di Gunung Bathang (sekarang wilayah Gulomantung, Kebomas, Gresik) pada 1482. Hingga kini, napak tilas Sunan Giri masih bisa dilihat. Bekas wajah dan kaki Sunan Giri membekas di sebuah batu yang sekarang diabadikan di Masjid Gulomantung.

Hingga akhirnya, Sunan Giri berhasil menemukan jenis tanah yang serupa dengan yang diminta Syekh Maulana Ishaq. Lokasinya di Bukit Giri, Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kebomas. Pada 1487, Sunan Giri mendirikan masjid pertamanya yang dikenal dengan Giri Kedaton. Pusat persebaran agama Islam sekaligus pemerintahan Gresik pada masa itu.

Pada 1487, Gresik masih menjadi bagian dari kekuasaan Majapahit. Meski di Majapahit saat itu terjadi kekosongan kekuasaan gara-gara perang saudara, kepercayaan Hindu-Buddha masih sangat kental.

Menurut Shobirin, Sunan Giri pernah mengisi kekosongan kekuasaan itu selama 40 hari. Sebelum akhirnya didapuk sebagai penguasa di Kerajaan Giri Kedaton oleh Raden Patah pada 12 Rabiul Awal 894 Hijriyah atau 9 Maret 1487. Sunan Giri diberi gelar Prabu Satmoto.

Dalam berdakwah, Sunan Giri punya cara tersendiri. Shobirin menyebutkan dua metode dakwah itu. Yaitu, melalui pendidikan di pesantren dan ’blusukan’ ke acara tradisi warga setempat.

Sunan Giri kerap mengikuti acara tradisi umat Hindu-Buddha. Misalnya, tradisi tumpengan. Warga menggunakan nasi yang dibentuk kerucut itu sebagai sesajen untuk roh para dewa.

Oleh Sunan Giri, tradisi tersebut tidak lantas dihilangkan. Tradisi berdoa menggunakan tumpeng tetap dilestarikan. Bedanya, tumpeng dimakan oleh orang yang berdoa. “Masyarakat diberi pemahaman bahwa makanan itu untuk manusia. Bukan untuk roh yang bersifat gaib,” jelasnya.

Dengan cara yang santun, Sunan Giri berhasil masuk ke tradisi umat Hindu-Buddha. Secara perlahan, ajaran Sunan Giri mulai diterima masyarakat sekitar. Satu per satu warga Gresik yang awalnya menganut Hindu-Buddha berpindah ke ajaran Islam. “Banyak menggunakan akulturasi budaya sebagai media dakwah,” lanjut Shobirin.

Shobirin mengatakan, Sunan Giri termasuk wali yang berilmu tinggi. Bentuk makamnya dibangun berbeda dengan makam sunan yang lain. Salah satu di antaranya, terlihat pada tingkatan atap dan undak-undakan sebelum masuk makam.

“Selalu ada tiga undakan. Itu melambangkan tingginya ilmu Sunan Giri. Mulai syariat, hakikat, hingga makrifatyang paling tinggi,” paparnya. (ist)

Agar Ramadhan Tak Jadi Bulan Paceklik Seniman

foto
Ramadhan, bulan paceklik bagi seniman tradisional. Foto: Kulonprogonews.files.wordpress.com.

Bulan Ramadhan sering disebut sebagai bulan paceklik bagi para seniman panggung, khususnya seni pertunjukan tradisional, karena pada bulan suci ini pertunjukan ditiadakan.

Gedung dan ‘tobong’ tempat mereka pentas ditutup dengan alasan agar tidak mengganggu kekhusyukan ummat Muslim menjalankan ibadah puasa.

“Ramadhan adalah bulan “sepi order” alias tidak “peye” (tidak payu) atau tidak laku untuk jual jasa. Padahal seniman perlu uang untuk Lebaran seperti Muslim pada umumnya,” kata seorang seniman panggung, yang dibenarkan Dr Purwadi MHum, budayawan dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan pegiat seni tradisional asal Nganjuk, Jawa Timur.

Seperti dilaporkan Kbknews.id, dalam bulan puasa jarang atau bahkan tidak ada orang yang mengadakan hajatan dengan hiburan pentas pertunjukan kesenian tradisional seperti wayang kulit, wayang orang, ludruk dan ketoprak.

Seniman tradisional kelas bawah hidupnya tergantung pada bayaran setelah pentas di panggung, yang tidak menentu, baik frekwensi maupun jumlah imbal jasanya.

Karena itu, banyak seniman tradisional termasuk kategori kaum dhuafa, yang perlu diberdayakan secara ekonomi. Sekalipun dhuafa (miskin), mereka memiliki daya ungkit karena dapat berperan sebagai pembangkit kebahagiaan dengan menyampaikan pesan-pesan budaya yang bersifat etis dan dikemas secara estetis (indah) sehingga dapat menghibur dan mencerahkan.

Dalam bulan Ramadhan yang diyakini sebagai penuh berkah, kegiatan ibadah, termasuk dakwah, dan beramal saleh meningkat. Bersamaan dengan itu, biaya untuk kebutuhan hidup juga meningkat pada bulan yang berujung pada Lebaran, Idul Fitri.

Bagi seniman yang menggantungkan hidupnya dari panggung pertunjukan, bulan puasa memang bisa berarti tidak ada ‘job’ yang berakibat tidak menerima penghasilan.

Mengetahui hal itu, Dompet Dhuafa (DD) sebagai lembaga filantropi Islam yang berkhidmat untuk pemberdayaan kaum miskin dengan pendekatan budaya tergerak melakukan prakarsa mulai Ramadhan 1348H (2017) dengan meluncurkan program gebyar budaya Ramadhan, melibatkan seniman tradisional untuk naik pentas dengan imbal jasa yang pantas.

Dakwah dengan pendekatan budaya ini mengikuti jejak Sunan Kalijaga, seorang wali penyebar Islam di Pulau Jawa abad ke 15, yang berdakwah melalui proses akulturasi Islam dan budaya lokal (Jawa).

Nilai-nilai Islam dan budaya Jawa melebur menjadi satu untuk satu tujuan: beribadah, menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, sumber segala sesuatu (Tauhid).

Program DD ini bertujuan untuk membantu pelestarian budaya tradisional lokal dan sekaligus menjaga agar dapur para seniman panggung tetap ‘mengepul’ (memberi penghasilan).

Gelar budaya Ramadhan atas prakrasa DD digelar pertama kali di Kebon Binatang Jurug Solo, yang nama resminya Taman Satwa Jurug Solo (TSJS) pada awal Ramadhan lalu. Sesuai tujuannya untuk dakwah dan pemberdayaan kaum dhuafa, acara itu dikemas dalam sebuah layanan holistik, integralistik berkat kerjasama DD dengan TSJS dan mitra kerja lokal.

Acara dimulai dengan aksi layanan sehat, pemeriksaan mata dan pemberian kaca mata gratis kepada kaum dhuafa, termasuk anak-anak, sejak pagi hari, lomba membuat foto dan video jurnalistik tentang satwa, tabligh akbar, berbuka puasa bersama, sholat tarawih dan puncaknya pentas ketoprak dengan lakon Dakwah Sunan Kalijaga dan pentas wayang kulit Tauhid.

Ketoprak itu hanya berdurasi selama sekitar satu jam dan wayang Tauhid juga satu jam, mulai pukul 20.00 wib, melibatkan seniman/budayawan Solo dan anggota Paguyuban Kraton Surakarta dari Solo dan daerah sekitarnya dengan imbal jasa yang memadai. Setelah gelar budaya, masih tersedia cukup waktu bagi Muslim untuk melakukan ibadah malam hari.

Hadir antara lain Gusti Kanjeng Ratu Wandansari dan sejumlah kerabat kraton Surakarta Hadiningrat. Konon, dalam sejarah baru pertama kali itu seorang ratu hadir di Bonbin Solo. Dirut TSJS Bimo Wahyu Widodo terlibat aktif dalam perhelatan itu. (ist)

Jam Matahari, Penanda Waktu Salat dan Kiblat

foto
Melihat penanda waktu salat dan kiblat dengan jam matahari. Foto: Detik.com.

Perkembangan teknologi modern tidak serta merta menggeser ilmu pengetahuan dan teknologi sederhana yang ada sejak ratusan tahun silam. Salah satu buktinya adalah jam matahari atau kompas matahari yang hingga kini masih digunakan untuk menentukan waktu salat bagi umat Islam.

Jam matahari atau yang biasa disebut jam bencet ini berada di komplek Pondok Pesantren (Ponpes) Babul Ulum, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek. Tidak seperti penunjuk waktu pada umumnya, jam matahari tersebut berbentuk cekungan setengah lingkaran dari tembaga dengan satu jarum yang tepat berada di tengahnya.

Pada bagian setelah lingkaran tertera sejumlah angka yang menunjukkan jam serta waktu salat. Jam kuno itu diletakkan di tanah lapang yang ada di lingkungan pesantren, sehingga bisa mendapatkan sinar matahari yang bagus, mulai pagi hingga sore hari.

Pengasuh Ponpes Babul Ulum, KH Fattah Mu’in mengatakan, untuk mengetahui waktu salat, cukup dengan melihat bayangan dari jarum yang terkena paparan sinar matahari. “Bayangan itu akan menunjukan ke angka sesuai waktunya. Kalau waktunya salat asar maka akan bayangannya juga akan menunjukkan ke jam itu,” katanya kepada Detik.com, pekan lalu.

Menurutnya, keberadaan jam kuno tersebut telah ada sejak tahun 1965 yang lalu. Jam buatan salah satu perusahaan di Bandongan, Magelang, Jawa Tengah itu hingga kini masih tetap digunakan.

“Kalau jam ini sama sekali tidak membutuhkan baterai, karena mengandalkan sinar matahari. Sebelum bentuknya setengah lingkaran ini, dulu ada jam matahari yang bentuknya segi delapan dengan satu jarum yang tegak lurus, tapi tanpa angka,” ujarnya.

Fattah Mu’in menjelaskan, jam kuno itu sebetulnya bernama Bin Jarot. Nama tersebut diambil dari nama penemunya yakni Abdullah Bin Jarot. Namun di tanah Jawa sebutan Bin Jarot berubah menjadi Bencet.

Meski terkesan sederhana, proses pemasangan jam ini membutuhkan keahlian khusus, karena harus benar-benar presisi dan sesuai dengan pergerakan matahari, mulai terbit hingga terbenam. “Karena selain penunjuk waktu, di situ juga terdapat garis sebagai petunjuk arah kiblat,” imbuhnya. (dtc)

DKJT: Bantuan ke Seniman Dorong Kualitas

foto
Ketua DKJT Taufik Monyong bersama Gubernur Soekarwo. Foto: Antarajatim.com.

Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) menilai bantuan Gubernur Jawa Timur terhadap 500 seniman yang dinilai berprestasi dapat mendorong peningkatan kualitas bagi para seniman yang menerimanya.

Ketua DKJT Taufik “Monyong” Hidayat menyatakan apresiasi setinggi-tingginya terhadap Gubernur Jawa Timur yang telah rutin setahun sekali memberi bantuan kepada ratusan seniman setempat sejak era Gubernur Imam Utomo.

“Sekarang tradisi itu masih diteruskan oleh Gubernur Soekarwo,” ujarnya kepada wartawan, di sela menghadiri penyerahan bantuan terhadap 500 seniman Jawa Timur berprestasi di Surabaya, beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan itu Gubernur Soekarwo menyerahkan uang tunai senilai Rp 1,5 juta dan paket sembilan bahan kebutuhan pokok kepada masing-masing 500 seniman terpilih tersebut.

“Penghargaan dari seorang kepala daerah terhadap seniman di wilayahnya yang digelar rutin setahun sekali seperti ini adalah satu-satunya di Indonesia. Saya sudah survei, dari 34 provinsi dan 514 kota/ kabupaten di Indonesia, baru Kepala Daerah Provinsi Jawa Timur yang mengapresiasi para senimannya,” katanya seperti dikutip Antara Jatim.

Dia menilai, yang dilakukan Gubernur Jawa Timur tidak sekadar memberi dana segar kepada para senimannya. “Lebih dari itu, melalui pemberian bantuan seperti ini, pemerintah telah memberikan kekuatan besar untuk mendorong seniman meningkatkan kualitas sumber daya manusianya,” ujarnya.

Bagi Taufik, negara harus hadir memberi penghargaan kepada para seniman yang telahmelestarikan kebudayaan dan kearifan lokal Indonesia di daerahnya masing-masing .

“Seniman memang harus mendapat penghargaan dari negara. Hingga sekaran, sebelum negara memberikan sertifikasi, Jawa Timur sudah memberi ‘report’. Saya rasa ini bisa menjadi percontohan bagi daerah lain dan ‘report’ terhadap seniman yang telah diapresiasi oleh Gubernur Jawa Timur bisa dikirim ke Jakarta sebagai usulan memberi penghargaan ‘masterpiece’ dari negara,” tuturnya.

Selain bantuan rutin setahun sekali terhadap ratusan seniman oleh Gubernur di setiap bula Ramadhan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga telah rutin memberi penghargaan terhadap 10 seniman terbaik yang diserahkan Gubernur di setiap perayaan Hari Jadi Provinsi Jawa Timur, bulan Oktober.

Taufik mengusulkan agar Gubernur Jawa Timur dapat menambah jumlah penerima bantuan maupun penghargaan seniman terbaik tahun pada tahun yang akan datang.

“Semisal jumlah seniman penerima bantuan yang tahun ini berjumlah 500 orang, tahun depan bisa diupayakan menjadi dua kali lipat yang menerimanya, yaitu menjadi 1.000 orang. Sedangkan jumlah penerima penghargaan seniman terbaik, yang biasanya diberikan kepada 10 orang, bisa menjadi 15 seniman,” katanya.

Karena bantuan dan penghargaan dari gubernur tersebut, menurut Taufik, sekaligus sebagai subsidi bagi biaya produksi dalam proses kreatif para seniman di Jawa Timur, yang sekaligus sebagai pelestarian kebudayaan di wilayahnya. (ant)

Naskah UU Pemajuan Kebudayaan RI

foto
Usai Rapat Paripurna pengesahan UU Pemajuan Kebudayaan di DPR RI. Foto: Kemdikbud.go.id.

Dalam rangka melindungi, memanfaatkan, dan mengembangkan kebudayaan Indonesia, pemerintah bersama dengan Komisi X DPR RI akhirnya mengeluarkan UU Pemajuan Kebudayaan RI.

Sebelumnya, setelah melewati pembahasan yang memakan waktu selama dua tahun, RUU Pemajuan Kebudayaan akhirnya disahkan dalam rapat Paripurna Pembicaraan tingkat II/Pengambilan Keputusan pada akhir April lalu di Gedung DPR RI, Jakarta.

Sebulan kemudian, tepat pada tanggal 24 Mei 2017 RUU pemajuan Kebudayaan RI tersebut disahkan oleh Presiden RI Joko Widodo, di Jakarta, dengan Nomor 5 Tahun 2017.

UU Pemajuan Kebudayaan merupakan gagasan antar-kementerian, yang dipimpin oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Penunjukan Kemendikbud sebagai koordinator atau pimpinan antar-kementerian tersebut berdasarkan surat Presiden RI nomor R.12/Pres/02/2016, tanggal 12 Februari 2016, perihal Penunjukan Wakil untuk Membahas RUU tentang Kebudayaan.

Kementerian lain yang masuk dalam tim tersebut adalah Kementerian Pariwisata, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Kementerian Agama, dan Kementerian Hukum dan HAM.

Naskah UU No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan RI bisa didownload disini. (sak)