Kampung Budaya Kini Punya Perpustakaan

foto
Perpustakaan di Kampung Budaya Polowijen Malang. Foto: Republika.co.id.

Kota Malang terus berupaya meningkatkan budaya literasi di lingkungan masyarakat. Salah satunya dengan menyediakan perpustakaan di Kampung Budaya Polowijen yang diinisiasi Universitas Widya Gama.

Perpustakaan di Kampung Budaya Polowijen di Kecamatan Blimbing itu diresmikan Wakil Wali Kota Malang Sutiaji yang didampingi Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang Zubaidah, anggota DPRD Kota Malang Erni Farida, dan Rektor Universitas Widya Gama Malang Iwan Nugroho di Malang, pekan lalu.

Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Malang Sutiaji seperti dikutip Antaranews.com menyatakan, apresiasinya atas inisiatif mahasiswa Universitas Widya Gama yang awalnya melakukan kunjungan lapangan di Kampung Polowijen.

“Perpustakaan di Kampung Budaya Polowijen ini terealisasi atas bantuan civitas akademika Universitas Widya Gama yang menyumbangkan buku lebih dari 1.100 buah,” katanya.

Menurut Sutiaji, selama ini budaya baca buku di Indonesia, termasuk di Kota Malang masih rendah, sehingga harus ditingkatkan melalui berbagai upaya. Berbeda dengan negara-negara tetangga (luar negeri), minat baca sangat tinggi sehingga mereka bisa berkreasi.

Sutiaji berharap ke depan koleksi buku yang ada di Perpustakaan Kampung Budaya ini perlahan ditambah dan disesuaikan dengan minat masyarakat dan pengunjung, sehingga bisa menambah nilai positif di kampung tersebut.

Ia menambahkan, kehadiran Kampung Budaya ini harus terus didorong sehingga keberadaannya bisa diketahui masyarakat luas dan mampu menghadirkan wisatawan dari berbagai penjuru Nusantara.

“Kami berharap ke depan perpustakaan di kampung-kampung lainnya juga bermunculan sehingga budaya literasi di Kota Malang kian meningkat,” ujarnya.

Rektor Universitas Widya Gama Malang Iwan Nugroho berharap buku yang disumbangkan ini dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. “Mudah-mudahan dengan membaca buku bisa meningkatkan pengetahuan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Iwan.

Dalam kesempatan itu, Iwan Nugroho mengemukakan pendapatan per kapita di Kota Malang cukup tinggi. Hal itu ditandai dengan tumbuhnya ruang ekspresi, salah satunya ruang budaya di Kampung Budaya Polowijen.

“Harapan kami, Kampung Budaya Polowijen ini juga mampu mendatangkan wisatawan karena dunia wisata bisa mendongkrak perekonomian,” ucapnya.

Perpustakaan Kampung Budaya Polowijen tersebut diinisiasi mahasiswa Universitas Widya Gama Malang. Mereka melihat antusiasme warga yang memiliki budaya membaca cukup bagus, sehingga mereka tergerak untuk membuat perpustakaan mini dan menyumbangkan berbagai jenis buku yang bermanfaat bagi masyarakat.

Sebelumnya, Pos Kamling di Kelurahan Pandanangi juga membuka perpustakaan yang diinisiasi warga setempat yang didukung mahasiswa asing IKIP Budi Utomo Malang. Berbagai koleksi buku, mulai dari buku bacaan untuk anak-anak hingga resep masakan tersedia di perpustakaan Pos Kamling tersebut. (ant)

Saat Goresan Dullah Menyempurnakan Garuda

foto
Lambang Garuda Pancasila beberapa kali direvisi. Foto: ist.

Rekaman cerita lahirnya Pancasila yang jatuh pada 1 Juni 1945 membubuhkan peristiwa yang tidak biasa. Termasuk hadirnya goresan tinta Dullah, sang pelukis pribadi Presiden Soekarno, yang turut andil dalam pengembangan konsep garuda sebagai lambang negara.

Lewat pulasan tintanya ia mempertegas gambar Garuda pertama yang dibuat oleh Sultan Hamid II, putra sulung Sultan Pontianak ke-6.

Lambang Garuda muncul sekitar tahun 1950, usai pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda dalam Konferensi Meja Bundar di Den Hagg. Dari situlah pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) menggelar sayembara desain lambang negara.

Setelah melalui tahap seleksi yang panjang, terpilihlah desain karya Sultan Hamid II yang dirasa cukup mempresentasikan keutuhan Indonesia lewat Garuda.

Desain Garuda yang disuguhkan Sultan Hamid II seperti dilaporkan Kemdikbud.go.id menghadirkan Garuda tunggangan suci dewa Wisnu yang mengacu pada arca dan relief di candi-candi kuno. Sebut saja Prambanan, Mendut, Penataran, Sukuh dan sebagainya.

Secara ringkas, sosok Garuda berdiri di atas bunga teratai, dengan dada terlindung oleh perisai. Dikelilingi kata-kata bertuliskan ‘Republik Indonesia Serikat’ dan belum ada pencantuman ‘Bhinneka Tunggal Ika’ di dalamnya.

Di sana tak ada gambar bintang maupun rantai, yang ada hanya keris, kepala banteng, tiga batang padi dan pohon beringin.

Secara keseluruhan, Sultan Hamid II pun berkonsultasi dengan Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Muhammad Hatta untuk meninjau kembali tentang sosok Garuda yang sudah ia gambarkan.

Hasilnya, Bung Karno pun mengusulkan untuk adanya perbaikan. Diantaranya pencantuman lima lambang negara dan dibuatkan tangan garuda seolah-olah ia tengah memegang perisai.

Perbaikan demi perbaikan terus dilakukan oleh Sultan Hamid II. Berbagai masukan yang diterima Soekarno juga mengantarkan ia meminta bantuan Dullah.

Kemudian Soekarno meminta pada Dullah mendesain ulang buatan Sultan Hamid II dengan mengubah posisi cakar yang semula mencengkram dari belakang helai kain menjadi tampak depan.

Demikian dengan bentuk kepala yang semula botak ditambahkan jambul sehingga garuda terlihat gagah seperti yang digambarkan cerita-cerita Nusantara.

Tak luput, Sultan Hamid II pun ambil bagian menyelaraskan warna dan skala agar lambang garuda semakin indah dipandang mata. Setelah rampung, Soekarno pun mengesahkan desain yang telah diperbaiki oleh Dullah dan Sultan Hamid II pada Maret 1950. (sak)

Mengangkat Derajat Seniman Jalanan

foto
Uji gelar pentas ekspresi bagi seniman jalanan. Foto: Kemdikbud.go.id.

Sebagai dukungan terhadap karya-karya seniman jalanan, Direktorat Kesenian, Ditjen Kebudayaan Kemendikbud menggelar Uji Gelar Pentas Ekspresi Seniman Jalanan di Jakarta, menghadirkan 46 seniman jalanan terpilih dari wilayah Depok, Jakarta, Tangerang dan Bekasi.

Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan kehadiran seniman jalanan lewat karya-karyanya dirasa mampu mengimbangi suasana di Tanah Air yang penuh intimidatif.

“Ini cara yang bagus untuk mengimbangi suasana yang penuh intimidatif dan tidak mendidik. Kita tidak mungkin melawan sesuatu yang jelek dengan yang jelek juga. Saya meminta dukungan dari semua pihak, program ini bisa berjalan lebih meluas tidak hanya di Jabodetabek saja,” ujar Mendikbud.

“Mari kita beri ruangan seluas-luasnya untuk mereka berekspresi dan berkreasi. Jusru dari kita berharap ada karya-karya otentik, bukan karya artifisial yang sudah terlalu membanjiri jagat musik kita,” imbuhnya.

Dirjen Kebudayan Hilmar Farid juga menyambut baik terselenggaranya acara tersebut. Ia menilai sudah seharusnya para seniman ini memperoleh akses di ruang publik, sehingga karya-karyanya dapat dinikmati oleh siapa saja.

“Kami juga mengundang para pengelola gedung dan tempat-tempat publik lainnya. Sebab tempat publik bisa menjadi rumah untuk seniman jalanan ini. Harapannya tentu kegiatan ini bisa terus ditingkatkan, sekarang mulai dari Jabodetabek. Saya kira ini sudah waktunya kesenian lebih kuat lagi di ruang publik,” tambahnya.

Sebelumnya, dari 154 seniman jalanan yang mendaftar terpilih 46 seniman terbaik. Peningkatan kompetisi seniman jalanan yang diselenggarakan Kemendikbud bekerja sama dengan Institut Musik Jalanan (IMJ), wadah bermusik yang berlokasi di Depok, Jawa Barat. Mereka dibina seniman ternama Indonesia, sebut saja Gilang Ramadan dan Ridho ‘Slank’.

Ridho ‘Slank’ berharap pembekalan yang diterima oleh seniman jalanan ini setidaknya mampu membuang stigma atau cap buruk di mata masyarakat. Sebab sekarang ini banyak preman berkedok pengamen yang justru memperburuk seniman saat mereka berkarya.

“Seniman berkedok pengamen ada saja, dengan mendapatkan tepuk tangan mereka nilai itu sudah bagian dari seni. Buat saya hal yang paling utama adalah berkarya. Kita jangan mengenyampingkan kalau sudah berada di jalanan kita main saja, perform saja. Padahal berkarya itu paling penting. Ini yang perlu diketahui teman-teman seniman jalanan,” tukasnya. (sak)

Mahasiswa AS Belajar Seni dan Budaya Indonesia

foto
Bla Bla Bla. Foto: Kampoengilmu.com.

Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) menyambut 28 mahasiswa Amerika Serikat dalam program Critical Language Scholarship (CLS), Senin (12/6) lalu.

CLS adalah program yang didanai Departemen Luar Negeri AS untuk memperkuat pengetahuan, keamanan, dan kesejahteraan melalui pembelajaran bahasa dan budaya dari negara yang penting bagi Amerika Serikat.

“Program CLS di UM sudah tahun kedelapan. Peserta akan belajar bahasa dan budaya Indonesia selama 2 bulan mulai Juni sampai Agustus 2017,” jelas Dr Gatut Susanto, Direktur BIPA UM kepada Suryamalang.com.

Peserta akan belajar bahasa dengan topik Pemberdayaan Ekonomi dan Lingkungan. “Peserta bisa memilih untuk mendalami enam seni budaya Indonesia, antara lain batik, karawitan, kuliner, pencak silat, tari, dan dangdut,” katanya.

Dangdut sengaja dimasukkan untuk menjadikan dangdut sebagai identitas Indonesia. “Jadi Dangdut akan goes to America,” guraunya.

Setiap peserta dari berbagai universitas dan jenjang pendidikan itu akan didampingi dua mahasiswa UM. “Kami juga menyediakan empat guru dalam setiap kelas. Jadi peserta dapat belajar secara cepat. Peserta pada tahun lalu sudah cukup mahir berbahasa meski hanya belajar dua bulan,” tuturnya. (ist)

Soekarwo: Kultur Sebagai Basis Solusi

foto
Gubernur Soekarwo memberikan apresiasi kepada 500 seniman di Jatim. Foto: Humas Pemprov Jatim.

Sejak jaman dulu, orang mengangkat apa saja yang menjadi pendangan hidup, gaya hidup, bangsa yang bersuku-suku, ternyata setelah dicari, mulai di Jawa Timur, dan coba lihat tentang kehidupan di Jawa Timur.

Apakah itu namanya Allah, apakah namanya Hyang Widhi, ataupun namanya apa, semua itu konsepnya kekeluargaan. Itu semuanya berangkat dari cultural masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Gubernur Jatim Dr H Soekarwo pada para wartawan usai acara apresiasi kepada 500 Seniman berprestasi dan Budayawan se-Jawa Timur di Gedung Pertemuan Dinas Pariwisata Jatim, Rabu (14/6).

Kemudian orang menjadi subyek, kemudian ia juga begitu serasinya mereka dengan kultur barat dan kultur timur itu semua terbentuk keserasian antara karena alam manusia. Itulah kemudian meletakkan dasar suatu konsep yang sekarang sudah disaksikan di seluruh dunia.

Seorang ahli fisika yang mendalami tentang kebudayaan namanya Kokoyama, mengatakan bahwa semua yang menyangkut pandangan hidup, negara atau bangsa itu semua harus berbasiskan kultur yang didukung masyarakat.

“Nah itu semua persis, disitulah kemudian budaya sebagai letak cara untuk komunikasi yang tidak ada perbedaan,” jelas Pakde.

Sehingga kalau berbicara mengenai idiologi atau apa pasti ada perbedaan. Tapi begitu berbicara kultur tentu menjadi satu, maka sebetulnya penyelesaian konflik itu sangat dikuasai oleh para wali kita, jelasnya.

Buktinya pada saat menyebarkan agama Islam, menurut Pakde, mereka menggunakan kultur. Dan sangat terkenal dengan kultur budaya, seperti di Kudus, bagaimana orang tidak boleh menyembelih sapi tapi yang disembelih adalah kerbau. Itu merupakan penghormatan terhadap ibu oleh kultur yang ada disitu.

“Ini sangat luar biasa, lha referensi yang seperti ini tenggelam terhadap konfilk-konflik seperti agama, suku, sehingga basis cultural seperti batang yang tenggelam dan batang pohon yang tidak dipakai itu diangkat kembali. Karena batang yang tenggelam dan tidak dipakai itu sangat kuat dan serasi antara alam dan manusia,” kata Pakde.

Pokoknya, semua yang menyangkut dengan keserasian suatu bangsa dan Negara yang berbasis dengan pandangan hidup, tu Itu kemudian menjadi dasar suatu kedamaian dan kerukunan.

Seniman itu menurut Pakde adalah penjaga persatuandan kesatuan, penjaga terhadap nilai kultur dan kebudayaan dan terakhir adalah penjaga nilai-nilai keadilan di masyarakat. “Karena kalau tidak adil, maka mereka protes melalui puisi- puisi atau frakmen-frakmen atau kesenian lain yang menceriterakan tentang keadilan,” katanya.

“Masalah ini sebetulnya sudah diangkat Ronggo Waskito yaitu ‘sak bejo bejaning wong kang lali sik bejone wong sing eling’. Itu adalah sudah merupakan konsep Ketuhanan, jadi itu sangat luar biasa,” ucapnya.

Menurut Pakde Karwo, Ronggo Waskito adalah Filosopi adalah filosopi dunia. Begitu dengan Joyoboyo, beliau juga filsuf dunia. Hanya saja orang salah mengartikan kata Satria Piningit. Karena mereka mengartikan orang calon pemimpin padahal arti yang sebenarnya dari Satrio Piningit itu adalah intergritas. Yaitu seseorang yang satrio / orang yang mempunyai intergritas.

Masih menurut Pakde Karwo, bahwa seniman itu berbanding lurus dengan kesejahteraan. Kalau tugas Gubernur di Jawa Timur adalah meningkatkan kesejahteraan. Otomatis, kalau kesejahteraan naik, seniman juga naik karena ada yang nanggap juga. Artinya kalau kebutuhan dasar tercukupi otomatis senimannya laku dan sejahtera.

“Tapi sebaliknya, kalau kondisi masyarakat tidak sejahtera dan kebutuhan makan minumnya tidak tercukupi, otomatis keadaan para senimanannya juga tidak sejahtera karena tidak laku,” tambah Pakde Karwo mengakhiri wawancaranya. (sak)

Apresiasi 500 Seniman Jatim Berprestasi

foto
Gubernur Soekarwo bersama perwakilan seniman Jatim. Foto: Humas Pemprov Jatim.

Gubernur Jawa Timur Dr H Soekarwo yang akrap disapa Pakde Karwo, pagi tadi telah memberikan apresiasi kepada 500 Seniman berprestasi dan Budayawan se-Jawa Timur di Gedung Pertemuan Dinas Pariwisata Jatim, Rabu (14/6).

Apresiasi seniman berprestasi dan budayawan yang diwakili dari 10 orang seniman dari Kab Sidoarjo, Kediri, Mojokerto, Gresik, Malang dan Banyuwangi serta Ngawi, Probolinggo dan Nganjuk ini masing- masing orang diberi uang sebesar Rp 1,5 juta dan sembako.

Dan acara seperti ini selalu dilakukan secara rutin setiap tahunnya, dengan tujuan membangun tali silahturahmi antara pemerintah dan seniman.

Sebagai wujud penghargaan dan tali kasih pemerintah kepada para seniman dan budayawan yang telah mengembangkan senibudaya di Jatim.

Sehingga kesenian yang ada di jatim masih tetap lestari dan pengembangannyapun terus dilakukan, sehingga mampu berkembang dengan baik.

Pakde Karwo mengatakan, Jawa Timur tidak pesimis tentang budaya karena anak- anak muda Jawa Timur sangat luar biasa mencintai kesenian dan budayanya.

“Saya sangat bangga dan sekali lagi ini sangat luar biasa karena anak-anak mudanya sangat mencintai seni dan budayanya,” puji orang nomor satu di Jatim ini bangga menyaksikan kiprah anak- anak muda Jawa Timur.

Menurut Gubernur, ciri masyarakat yang mempunyai peradaban dengan baik. Dan masyarakat yang beradap itu ditandai dengan perkembangan seni dan budayanya bisa berkembang dengan baik.

Oleh sebab itu, setiap seminar tentang kebudayaanKarena, jatim bisa dan mampu nguri- nguri kesenian dan kebudayaan Jawa Timur, seperti budaya Osing dan budayalain yang ada di Jatim.

Untuk itu, setiap kegiatan tentang kebudayaan baik tingkat nasional maupun regional pasti Jawa Timur menjadi tempat atau ketempatan bukan Jateng ataupun Jogja. Jatim sudah menjadi tempat tapi sekaligus juga Jatim menjadi penyelenggaranya.

Kalaupun tempat seminar budaya diadakan Jawa Tengah atau Jogja, sumbangannya atau donaturnya ya.. tetap Jawa Timur. “Sebab Jateng ataupun Jogja itu hanya batas sebagai tempat dan panitia saja. Tapi untuk masalah dana panitia tidak tahu apa- apa, karena kalau tidak ada dana atau uang pasti panitia tidak bisa bekerja,” jelasnya.

Jadi, tambahnya, banyak itu menjadi relative tapi kepedulian itu menjadi bagian yang sangat penting. Dan Alhamdulillah, Jawa Timur menjadi provinsi yang sangat peduli terhadap kesenian dan budaya sehingga setiap ada seminar budaya pasti Jatim selalu menjadi donaturnya.

“Saya juga sangat berterima kasih kepada Pak Taufik yang telah ditunjuk sebagai Ketua Dewan Kesenian Jatim. Karena dengan keberadaannya, maka Pak Taufik selalu mengajak dan menyapa para seniman yang ada di seluruh pelosok Jatim. (sak)

Festival Nasional Budaya Panji 2017 di Kediri

foto
Tari Cerita Panji Topeng Malangan. Foto: Brangwetan.wordpress.com.

Kediri menjadi tuan rumah Festival Nasional Budaya Panji Tahun 2017 pada 16-22 Juli 2017 mendatang. Acara bakal berlangsung di kompleks Simpang Lima Gumul (SLG) Kediri dan beberapa tempat lain di wilayah Kabupaten dan Kota Kediri.

Penyelenggara even ini adalah Pemkab dan Pemkot Kediri, bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim serta Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI.

Kepala UPT Laboratorium Pendidikan dan Pelatihan (LPPK) Disbudpar Jatim Efie Wijayanti SSos MMPd menjelaskan, Cerita Panji adalah karya sastra lisan asli Jawa Timur.

Cerita ini diperkirakan muncul sejak era keemasan Kediri (Daha) yang kemudian sangat populer pada zaman Majapahit. Kemudian tumbuh dan berkembang ke seluruh Nusantara, bahkan sampai ke kawasan Melayu, Thailand, Laos dan Kamboja.

Persoalannya, pusaka budaya yang telah menjadi arus utama kebudayaan (kesusastraan) di masa lalu itu belakangan ini “nyaris lenyap” tanpa jejak justru di tanah kelahirannya sendiri.

Festival Nasional Budaya Panji Tahun 2017 ini mengangkat tema ‘Panji Merajut Keharmonisan Nusantara’ yang disajikan dalam bentuk pawai dan pergelaran berbagai kesenian berbasis Budaya Panji dari berbagai daerah di Indonesia.

Lalu ada pameran karya seni kreatif yang terinspirasi oleh Budaya Panji, pameran tematik umbul-umbul ‘Panji Indonesia’ dan seminar nasional.

Pawai bakal diisi berbagai kesenian berbasis Panji seperti Kethek Ogleng, Reog Ponorogo, Turangga Yaksa, Reog Kendang, Jaranan Panji, Barongan Panji dan berbagai kesenian Panji dari Kota dan Kabupaten Kediri.

Acara pembukaan menampilkan pergelaran kolosal Panji Candrakirana dan parade tari hasil workshop Tari Panji Remaja se-kabupaten Kediri pada 16 Juli.

Disusul esok malamnya pergelaran Topeng Malangan dan Kinanti Sekar Rahina (DIY) – 17/7; kemudian Dalang Jemblung dan Topeng Losari Cirebon (18/7), Ketoprak Panji Semirang dan Panji Gandrung ISBI Bandung (19/7), Wayang Topeng Jatiduwur Jombang, Panji Melayu dari Sumsel dan Janger Banyuwangi (20/7), Dramatari Anglingdarmo (Bojonegoro) dan Wayang Kulit Ki Enthus (21/7) dan dipungkasi dengan Tari Seribu Barong (siang hari), Wayang Beber Pacitan dan Panji Inu Swargaloka – Jakarta (22/7).

Seminar Nasional dilangsungkan hari Senin (17/7) pagi di ruang seminar SLG Lantai V dengan tema ‘Cerita Panji sebagai Sumber Kreatif Penciptaan Karya Seni’ dengan narasumber Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, Prof Wardiman Djojonegoro dan Prof I Wayan Dibya (dalam konfirmasi). Terbuka kesempatan siapa saja mengirimkan makalah yang setelah diseleksi akan dimasukkan dalam prosiding seminar.

Festival ini juga menjadi satu dengan Pekan Budaya dan Pariwisata Kabupaten Kediri yang antara lain menampilkan: Lomba Instalasi Panji dan Wong-wongan Sawah (16/7), Parade Musik Akustik (17/7), Lomba Teater Panji (18/7), Pemilihan Putera-Puteri Batik (20/7), Festival Nasional Layang-layang (22/7), dan aneka Pentas Kreativitas Seni (16-22/7).

Selama seminggu juga diselenggarakan pameran Zona Kampung Panji dan Rumah Peradaban, Zona Pembangunan dan Investasi Kepariwisataan di areal lapangan SLG. Info lebih detil acara ini bisa menghubungi Henri Nurcahyo: 0812 3100 832 (Surabaya), henrinurcahyo@gmail.com atau Nadlirin : 0856 4972 8370 (Kediri). Atau UPT LPPK, Jl Embong Sawo 36 Surabaya, Telp/Fax 031 -547 3850. (sak)

Bina Potensi Anjal untuk Lestarikan Budaya

foto
Anak jalanan anggota SSC Surabaya seusai latihan. Foto: Dok PKMM.

Anak jalanan (anjal) merupakan satu masalah krusial di Indonesia. Sekitar setengah dari 3,15% jumlah total anak terlantar di Indonesia, atau sekitar 124.332 anak, berada di kota besar seperti Surabaya.

Padahal anjal merupakan salah satu asset bangsa yang dilindungi Undang-undang bahwa ‘Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara’ (UUD 1945 Pasal 34 ayat 1). Namun kenyataannya ‘berlian’ aset bangsa itu terabaikan.

Tertarik dengan persoalan itu, lima mahasiswa FISIP Universitas Airlangga (Unair) melakukan pengabdian masyarakat (pengmas) dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2017, yakni membina anjal dengan kegiatan pelestarian seni budaya.

Proposal PKMM Tim ‘Takasimura’ FISIP Unair ini akhirnya disetujui dan memperoleh dana hibah pengembangan dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI.

Dalam survey yang telah dilakukan bersama Save Street Child (SSC) Surabaya, bahwa kegiatan seni budaya seperti tari-tarian tradisional pada komunitas anjal di Kota Surabaya diketahui pernah ada. Misalnya Tari Jaranan yang dipentaskan dalam perayaan ulang tahun komunitas SSC.

Karena itu pihak SSC sangat berharap adanya pengembangan program seni budaya di komunitas ini dengan menyetujui kerjasama pengmas bersama tim ‘Takasimura’ FISIP Unair.

Kelima anggota PKMM ‘Takasimura’ ini adalah Ulpa Jinatul Jannah (FISIP 2016/ketua), Aisyah Nusa Ramadhana (FISIP 2016), Andik Prasetyo (Vokasi 2016), Muhammad Azharuddin (FH 2016) dan Dwi Viviani (FISIP 2014).

”Anjal sering dijadikan bahan cemoohan dan tatapan miring. Pemerintah dan masyarakat semestinya memerhatikan mereka dengan program yang melibatkan peran anjal. Kehidupan mereka di jalanan itu karena keterpaksaan. Mereka tidak seperti yang dibayangkan selama ini, mereka punya bakat luar biasa,” kata Ulpa Jinatul Jannah, Ketua Tim PKMM ‘Takasimura’ FISIP Unair seperti dirilis PIH Unair.

Tim PKMM ini melakukan pengmas melalui kerjasama dengan SSC Surabaya, Komunitas Airlangga Taruna Budaya, dan Sanggar Bathoro Katong. Konsep pengmas yang dilakukan dengan melakukan latihan gerak tari, seminggu sekali, di Skatepark Taman Bungkul Surabaya.

Kegiatannya antara lain pemutaran kartun animasi mengenai Reog Ponorogo, membagikan started kit seperti gantungan kunci, kaos Reog Takasimura sebagai identitas kebanggaan dan misi pelestarian budaya.

Tim percaya bahwa dengan memberikan pembinaan dan penanganan serta kesempatan pada anak-anak jalanan maka bakat mereka akan tersalurkan, terwadahi, dan akan mengubah mindset buruk masyarakat bahwa anak jalanan sebenarnya membanggakan juga.

”Pandangan miring masyarakat terbantahkan dengan kenyataan dalam unjuk penampilan bahwa ketika anjal diberi kesempatan atau difasilitasi mengembangkan potensi dirinya dengan pendekatan yang baik, keterampilan mereka sungguh mengagumkan dan luar biasa. Ini bukti bahwa anjal juga aset bangsa,” tambah Aisyah Nusa, anggota tim PKMM.

Andik Prasetyo, mahasiswa D3 Pariwisata Fakultas Vokasi Unair yang juga anggota Sanggar Bathoro Katong Rungkut Surabaya menjelaskan bahwa Reog Ponorogo merupakan salah satu aset budaya bangsa Indonesia yang wajib dilestarikan, sehingga tidak diklaim oleh pihak lain.

”Melalui PKM ini kami mencoba bekerjasama dengan SSC Surabaya dan Komunitas Airlangga Taruna Budaya menggelar pelatihan tiap minggu dan unjuk hasil. Terimaksih kepada Sanggar Bathoro Katong dengan semua perangkat sanggarnya untuk menunjang proses latihan sampai pentas,” kata Andik.

”Saya senang sekali ada mahasiswa Unair yang perduli dan menjalankan pengmas ke SSC Surabaya. Kami terbuka dengan berbagai kerjasama yang membanggakan seperti ini, semoga kedepan dapat ikut memfasilitasi lagi adik-adik SSC ini,” kata salah seorang koordinator Save Street Child Surabaya. (sak)

Menghidupkan ‘Kampung Majapahit’ untuk Masyarakat

foto
Program pemberdayaan masyarakat Kampung Majapahit di Trowulan. Foto: PIH Unair.

Dibangunnya duplikat rumah khas kampung Majapahit di tiga desa di sekitar situs Kerajaan Majapahit di Desa Sentonorejo, Bejijong dan Jati Pasar, di Trowulan, Kabupaten Mojokerto diharapkan menjadi destinasi wisata dan menjadi barometer kunjungan wisatawan.

Harapan lebih jauh, hidupnya arena wisata itu akan mendongkrak perekonomian masyarakat setempat dengan tumbuhnya usaha kreatif yang menyertainya. Sayangnya, fakta yang ada, hingga saat ini tidak ada program lanjutan yang dapat mendukung adanya ‘Kampung Majapahit’ tersebut, dengan demikian harapan perekonomian baru pun terhambat.

Terdorong adanya problema inilah mahasiswa FISIP Universitas Airlangga (Unair) menerjunkan diri dan menawarkan suatu inovasi dalam pengabdian masyarakat guna mendukung lanjutan program ‘Kampung Majapahit’ berupa pemberdayaan masyarakat melalui suatu pelatihan.

Seperti diterangkan Leny Yulyaningsih, mewakili tiga temannya yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKMM), bahwa cagar budaya Trowulan ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya peringkat nasional.

Ini sesuai Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 260/M/2013 tentang Penetapan Satuan Ruang Geografis Trowulan Sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional. Tujuannya untuk mendukung pelestarian The Spirit Of Majapahit di kawasan Trowulan.

”Dari keadaan seperti itu kami memilih mengadakan pengabdian di Kampung Majapahit itu,” kata Leny, mewakili tiga anggota PKMM-nya yang lain, yaitu Piping Tri Wahyuni, Dian Rizkita Puspitasari, dan Dwi Viviani. Keempatnya adalah mahasiswa FISIP Unair.

Dengan persoalan yang memerlukan sentuhan itu, maka proposal PKMM Leny Dkk memperoleh persetujuan dan bantuan dana dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) tahun 2016. Proposal Leny Dkk ini berjudul ‘MERICA (Majapahit Heritage Education): Program Pemberdayaan Masyarakat Kampung Majapahit Sebagai Upaya Meningkatkan The Spirit Of Majapahit di Kecamatan Trowulan Mojokerto’.

Dalam pengabdian tersebut, program pelatihan yang diberikan, pertama tentang ‘menghidupkan’ kembali sajian makanan ala Majapahit. Yang kedua, edukasi mengenai home stay, dan selanjutnya pelatihan promosi wisata.

Dalam ‘menghidupkan’ kembali penyajian makanan khas era Majapahit, yaitu ikan Wader, keempat mahasiswa FISIP Unair ini memberikan sosialisasi mulai dari bagaimana mencuci ikan wader secara higienis dan memperhatikan sanitasinya. Kemudian cara penyimpanan makanan yang sudah masak.

”Makanan wader yang sudah masak hendaknya ditutup dengan tudung makan agar tidak terkontaminasi bakteri dan atau dimasuki hewan dari luar,” tambah Dian Rizkita Puspitasari, ketua PKMM ini.

Pada edukasi home stay, antara lain diajarkan bagaimana melakukan greeting atau salam, memperkenalkan diri kepada tamu, membawa barang bawaan tamu, gerakan 3-S (Senyum, Sapa dan Salam).

”Ucapkan maaf untuk memperhalus permintaan, menanggapi complain dengan bijaksana serta responsive setelah mengetahui keluhan tamu,” tambah Dian.

Sedangkan pelatihan promosi wisata diajarkan menggunakan Website, kartu nama, juga brosur yang dapat digunakan untuk menjamu wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Kepada peserta pengmas masing-masing juga diberikan brosur untuk home stay mereka.

Di dalam brosur itu juga bisa menuliskan nomor kontak (telepon atau Handphone) yang bisa dihubungi jika sewaktu-waktu ada wisatawan asing atau lokal yang membutuhkan home stay atau penginapan di ‘Kampung Majapahit’ tersebut. (sak)

Temuan Fosil dan Terbatasnya Anggaran Imbalan

foto
Koleksi fosil manusia purba Museum Trinil Ngawi. Foto: Detakpos.com.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, Jawa Timur, akan segera memberi imbalan jasa pemilik fosil benda purbakala berdasarkan verifikasi Tim Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, Sragen Jawa Tengah.

“Dari banyak benda purbakala yang sudah diverifikasi Tim BPSMP Sangiran hanya delapan benda purbakala yang pemiliknya akan memperoleh imbalan jasa,” kata Arkeolog Disbudpar Bojonegoro Nunung Dianawati kepada Antarajatim, di Bojonegoro.

Permasalahannya, menurut dia, alokasi anggaran yang tersedia untuk memberikan imbalan jasa kepada pemilik fosil hanya Rp75 juta, sehingga tidak mencukupi untuk memberikan imbalan jasa kepada semua pemilik fosil.

Selain itu, lanjut dia, Museum Rajekwesi di daerahnya juga sudah memiliki fosil benda purbakala yang selesai diverifikasi Tim BPSMP Sangiran tertanggal 23 Mei 2017. “Besarnya alokasi anggaran imbalan jasa sangat terbatas, sehingga tidak semua pemilik atau penemu benda purbakala memperoleh imbalan jasa,” kata dia.

Ia menyebutkan delapan benda purbakala yang pemiliknya akan diberi imbalan jasa yaitu fosil fragmen rahang bawah (Mondibula) kuni nil yang dilengkapi dengan tiga gigi seri. Fosil itu memiliki panjang 43 centimeter, lebar 31 centimeter dan tebal 17 centimeter.

Selain itu fragmen tengkorak kuda nil panjang 47 centimeter lebar 34 centimeter dan tebal 17 centimeter, fragmen rahang atas kuda nil, fragmen tempurung bawah kura-kura/penyu, dua fragmen gigi taring kuda nil, dan fragmen gigi hiu purba raksasa dengan panjang 8,6 centimeter, lebar 5,9 centimeter setebal 2,9 centimter.

Lainnya fragmen tulang kelangkangan banteng/kerbau purba dan fragmen tengkorak kerbau purba.

Menurut dia, ada satu fosil gading Gajah Purba yang cukup panjang yang layak diamankan, tetapi imbalan jasa yang harus diberikan kepada pemiliknya mencapai Rp 30 juta. “Harga pasaran gading gajah purba yang cukup panjang itu cukup mahal mencapai Rp 30 juta, ya, Disbudpar belum bisa memberikan imbalan jasa,” ucapnya.

Yang jelas, menurut dia, dengan dasar hasil verifikasi Tim BPSMP Sangiran pemiliknya akan memperoleh imbalan jasa dengan harga yang berlaku di pasaran. “Kita belum bisa menentukan besarnya. Yang jelas secepatnya imbalan jasa segera kita berikan kepada pemiliknya,” tegasnya.

Kepala Disbudpar Bojonegoro Amir Syahid, sebelumnya menyatakan usaha mengumpulkan berbagai fosil purbakala dan benda cagar budaya dengan memberikan imbalan jasa merupakan usaha menyelamatkan benda yang memiliki nilai sejarah tinggi. “Tujuan kami hanya menyelamatkan kekayaan daerah yang tidak ternilai harganya,” ucapnya. (ant)