Mahasiswa Kembangkan Gamelan Tuna Netra

foto
Mahasiswa UGM memaparkan cara kerja E-Gamatuna. Foto: ugm.ac.id.

Lima mahasiswa UGM mengembangkan gamelan untuk penyandang tunanetra. Gamelan yang diberi nama E-Gamatuna ini dapat membantu tunanetra dalam memainkan gamelan.

Mereka adalah Fadil Fajeri (SV, Teknik Elektro), Dinar Sakti Candra Ningrum (SV, Elins), Muhammad Ali Irham (SV, Elins), Sapnah Rahmawati (SV, Ekonomi Terapan), dan Musfira Muslihat (Psikologi). Kelimanya mengembangkan gamelan dibimbing oleh Ma’un Budiyanto ST MT, melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) UGM 2017.

Ketua pengembang E-Gamatuna, Fadil, mengungkapkan pengembangan E-Gamatuna sebagai media untuk meningkatkan eksistensi gamelan di masyarakat termasuk kalangan difabel seperti tunanetra. Dengan alat yang dikembangkan diharapkan dapat memudahkan tunanetra dalam memainkan gamelan.

“Butuh pembelajaran ekstra bagi tunanetra untuk bisa menggunakan gamelan. Namun, dengan E-Gamatuna ini bisa mengurangi kesulitan penyandang tunanetra untuk belajar dan memainkan gamelan dengan lebih praktis,” paparnya, Senin (5/6) saat bincang-bincang dengan wartawan di Ruang Fortakgama UGM.

Fadil menyebutkan E-Gamatuna tersusun dari dua bagian utama, yaitu hardware dan software. Alat ini dilengkapi dengan sensor finger touch yang terbuat dari alumunium foil untuk memudahkan tunanetra dalam memainkan gamelan.

“Ada sensor finger touch yang jika disentuh ke grounding akan mengirimkan data ke mikrokomputer dan data yang telah diproses dikirim ke software menjadi sebuah nada,” tuturnya.

Sensor nada ini dipasangkan di tujuh jari tangan, yaitu 4 jari kiri dan 3 jari kanan. Mampu mengeluarkan nada dengan notasi kepatihan. Notasi kepatihan ini merupakan notasi angka dalam bahasa jawa, yaitu ji, ro, lu, pat, mo, nem, pi.

Sapnah menambahkan saat ini E-Gamatuna masih berupa prototipe dengan instrumen saron. Namun, kedepan akan dikembangkan instrumen lainnya seperti demung dan peking.

Pengembangan alat ini ini tidak hanya membantu penyandang tunanetra memainkan gamelan. Namun demikian, juga semakin memperluas upaya promosi kebudayaan tradisional Indonesia.

“Dengan adanya E-gamatuna diharapkan tuna netra dapat ikut serta berkontribusi dalam mempromosikan budaya Indonesia,” ujarnya. (sak)

Bangun Taman Budaya di Api Tak Kunjung Padam

foto
Lokasi Api Tak Tak Kunjung padam di Tlanakan Pamekasan. Foto: Sibolang.web.id.

Pemerintah Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, berencana membangun Taman Budaya Madura di lokasi wisata Api Tak Kunjung Padam di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan.

Menurut Bupati Pamekasan Achmad Syafii pihaknya telah membuat detailed engineering design (DED) terkait pengembangan wisata di sekitar Api Tak Kunjung Padam itu. “Di sana nanti akan kita bangun miniatur budaya Madura dan kami telah berkoordinasi dengan masyarakat di sekitar lokasi wisata,” ujar Achamd Syafii seperti dilaporkan Antarajatim.

Ia menjelaskan, nantinya pemkab akan membangun khawasan khusus yang akan menjadi tempat rumah adat Madura, serta berbagai jenis seni dan budaya Madura. “Kami sudah menginstruksikan kepada Dinas Periwisata dan Kebudayaan untuk membeli rumah-rumah kuno untuk dipajang di sekitar lokasi wisata Api Tak Kunjung Padam itu,” katanya menjelaskan.

Menurut Bupati, pihaknya menjadikan objek wisata Api Tak Kunjung Padam tersebut sebagai pusat budaya Madura, karena lokasinya sangat strategis, yakni berada di jalur penghubung empat kabupaten di Pulau Madura.

Sehingga, wisatawan yang hendak berkunjung ke Sumenep bisa dengan mudah mampir ke Api Tak Kunjung Padam itu, baik untuk melihat secara langsung api abadi tersebut, ataupun untuk menikmati taman seni budaya Madura yang akan dibangun itu.

Objek Wisata Api Tak Kunjung Padam ini terletak sekitar 7 kilometer ke arah selatan Kota Pamekasan. Lahan di sekitar lokasi objek wisata itu merupakan milik perorangan. Tapi pemilik lahan sudah sepakat lahan mereka bersedia dijadikan sebagai taman budaya, dengan sistem bagi hasil.

“Jadi, sudah ada kesepakatan antara pemilik lahan dengan pemkab, makanya, kami bisa membangun lokasi itu sebagai taman budaya Madura, sebagai objek wisata pendukung,” ujar bupati. Menurutnya, pembangunan taman budaya Madura di sekitar objek wisata Api tak Kunjung Padam itu, atas bantuan pemerintah pusat melalui Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS).

Ada sedikit legenda dari fenomena Api Tak Kunjung Padam ini. menurut cerita rakyat disana, kenapa daerah tersebut dapat memancarkan nyala api yang tak pernah mati adalah berawal dari seorang pemuda bernama Hadagi yang belajar agama dan kemudian menyebarkan ajaran Islam di Larangan Tokol tersebut.

Karena kepandaiannya ia memperoleh julukan Ki Moko dari warga. Suatu ketika Ki Moko ingin mempersunting seorang putri Palembang dengan mas kawin berupa mata ikan yang ia dapatkan di sungai timur.

Ikan itu sejenis lele yang kata orang Madura disebut dengan juko’ ketteng. Kemudian mata ikan itu dibawa untuk dipersembahkan kepada putri palembang sebagai mas kawinnya. Peristiwa ajaib pun terjadi, mata ikan itu berubah menjadi mutiara.

Pesta pernikahan pun dilangsungkan tepat di bawah pohon Palembang, karena keadaan yang gelap, maka Ki Moko menancapkan tongkatnya ke tanah. Peristiwa ajaib kembali terjadi. Seketika muncullah api dari bekas tancapan tongkat tadi. Dan titik api itulah hingga kini masih terus menyala. (ist)

Unair Teliti Sukses Osing Lestarikan Kebo-keboan

foto
Pelaku Kebo-keboan melakukan atraksi saling beradu. Foto: Istimewa.

Ritual adat Kebo-keboan bagi masyarakat Osing di Kabupaten Banyuwangi merupakan tradisi upacara adat yang harus dilestarikan. Ibaratnya ini sudah mendarah-daging sebagai keharusan tradisi.

Bahkan ketika masyarakat tidak melaksanakan upacara adat yang sudah berlangsung sejak abad 18 itu, diyakini mereka akan terserang berbagai penyakit. Itu yang diyakini masyarakat Desa Alas Malang dan Desa Aliyan, di kabupaten paling timur di Pulau Jawa ini.

Itulah yang mendorong mahasiswa FISIP Universitas Airlangga (Unair)melakukan penelitian ritual adat Kebo-keboan sebagai upaya meningkatkan eksistensi nilai budaya oleh petani Penghayat Kepercayaan bagi Suku Osing di Banyuwangi.

Keempat mahasiswa FISIP tersebut, yaitu Muhammad Yaumal Yusril, Piping Tri Wahyuni, Dian Rizkita Puspitasari, dan Leny Yulyaningsih.

Mereka kemudian menuangkan penelitian itu dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang penelitian sosial humaniora (PKMSH) yang berjudul ‘Ritual Adat Kebo-keboan Sebagai Upaya Meningkatkan Eksistensi Nilai Budaya Oleh Petani Penghayat Kepercayaan di Suku Osing Banyuwangi’.

Setelah diseleksi oleh Kemenristekdikti, proposal PKMSH yang diketuai Muhammad Yaumal Yusril ini berhasil lolos, sehingga meraih pendanaan penelitian dari Dirjen Dikti dalam PKM tahun 2016.

Ritual adat Kebo-keboan merupakan salah satu dari beragamnya ritual atau upacara adat tradisional, baik yang secara keagamaan maupun kepercayaan leluhur yang dilaksanakan dan dilestarikan oleh masing-masing masyarakat pendukungnya.

Hal ini menunjukkan bahwa keberagaman budaya telah menunjukkan masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk, dan salah satu akibat dari kemajemukan tersebut adalah beraneka ragam ritual dan upacara adat tadi.

Seperti dirilis PIH Unnair, Muhammad Yaumal Yusril menjelaskan, dalam menjaga tradisinya itu masyarakat asli Desa Alas Malang dan Aliyyan selalu mengadakan ritual ini secara turun-temurun setiap tahun yang bertepatan pada bulan Suro atau Muharam.

Warga setempat sangat antusias dalam melaksanakan upacara adat ini, bahwa warga asal dua desa itu yang tinggal di luar daerah, bahkan luar Jawa, rela untuk pulang ke Banyuwangi untuk mengikuti proses ritual Kebo-keboan, walaupun secara materi tidak memperoleh (materi) apa-apa.

Warga desa tradisi juga sadar untuk melakukan regenerasi untuk melestarikan budaya ini. Mereka pun mendirikan lembaga adat secara terstruktur.

Regenerasi itu dinilai berhasil, salah satu tolok ukurnya, orang-orang muda sangat menginginkan untuk menjadi pelaku upacara adat Kebo-keboan itu, karena dengan menjadi pelakunya maka kaum muda Osing berharap imbalan berupa kenikmatan, kesehatan, kesejahteraan, dan rezeki yang berlimpah.

”Tingginya kepercayaan masyarakat untuk melestarikan tradisi adat ‘Kebo-keboan’ inilah yang membuat kami tertarik menelitinya untuk menelusuri lebih dalam akan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut,” kata Muhammad Yaumal Yusril. (sak)

Seni Jawa Timuran Mahasiswa Indonesia di RRT

foto
Aksi budaya jawa Timurran di RRT dorong jumlah kedatangan wisatawan RRT. Foto: Ppitiongkok.org.

Budaya khas Jawa Timuran yang diusung sejumlah mahasiswa Indonesia di kampus Guangxi Normal University, Kota Guilin, mampu menyita perhatian para mahasiswa asing di wilayah tenggara RRT itu.

“Ada sekitar 1.000 mahasiswa dari berbagai negara yang menghadiri acara kami,” kata Wakil Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPIT) Cabang Guilin Rivka Ainunnisa di Beijing, seperti dilaporkan Antara.

Menurut dia, kegiatan dengan tema ‘Wonderful East Java’ yang digelar itu dimeriahkan dengan suguhan khas Jawa Timuran, pentas seni angklung, reog Ponorogo, tari kuda lumping, tari remo.

Serta pentas cerita rakyat Ngawi berjudul ‘Jaka Budug’. Pementasan cerita rakyat tersebut yang paling banyak menyita perhatian mahasiswa asing.

Dalam pementasan tersebut diceritakan bahwa Raja Seto yang sangat bijaksana memiliki seorang putri yang cantik jelita bernama Putri Kemuning.

Namun pada suatu hari kecantikan Putri Kemuning sirna akibat penyakit kulit yang menjalar di seluruh tubuhnya.

Sang ayah kemudian mengeluarkan sayembara untuk mengambil bunga sirna ganda di tengah hutan rimba yang dikuasai siluman ular.

Singkat cerita Jaka Budug berhasil mendapatkan bunga tersebut dan kecantikan Putri Kemuning kembali seperti sedia kala. Jaka Budug pun akhirnya menikah dengan Putri Kemuning dan hidup bahagia.

Di tengah pertunjukan tersebut juga diselipkan beberapa tarian, seperti tari Jejer Gandrung dari Banyuwangi dan beberapa mahasiswa asing turut berpartisipasi dalam tarian Suka Ria yang dikombinasikan dengan joget Oplosan.(ant)

Rawat Ruwat Ranu, Budaya Melestarikan Lingkungan

foto
Acara Rawat Ruwat Ranu Klakah Lumajang diatas danau. Foto: Lumajangsatu.com.

Kegiatan “Rawat Ruwat Ranu” di Ranu (danau) Klakah, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur merupakan kampanye pelestarian lingkungan melalui jalan kebudayaan.

“Kegiatan ini digagas juga dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dan dengan menggelar acara ini masyarakat diajak untuk merawat dan meruwat sumber kehidupan yang berada di Ranu Klakah,” kata Koordinator Laskar Hijau A’ak Abdullah Al-Kudus seperti dikutip Antarajatim di Lumajang.

Menurutnya Gunung Lemongan yang merupakan benteng ekologi Kabupaten Lumajang wilayah utara yang memiliki total 13 ranu dan tujuh danau di antaranya berada di wilayah Kabupaten Lumajang, sedangkan sisanya berada di Kabupaten Probolinggo.

“Ranu-ranu itu memiliki fungsi yang sangat vital bagi masyarakat, khususnya untuk air minum, irigasi, perikanan, juga sektor parwisata, sehingga perlu dijaga dengan baik,” tuturnya beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan pembalakan liar yang terjadi pada kisaran tahun 1998-2002 telah meluluhlantakkan kawasan hutan lindung di Gunung Lemongan, sehingga berdampak langsung pada 13 ranu yang indah tersebut.

“Salah satunya Ranu Klakah, yakni tidak kurang dari 25 mata air di Ranu Klakah yang kemudian mati akibat perusakan hutan di Gunung Lemongan, dan sekarang tinggal enam mata air saja,” katanya.

Padahal Ranu Klakah itu menjadi tumpuan irigasi bagi 620 hektare areal persawahan yang ada di sekitarnya. Degradasi ekologi itu juga terjadi pada ranu-ranu yang lain, bahkan Ranu Kembar di Desa Salak, Kecamatan Randuagung, menjadi kering.

“Kondisi kerusakan itulah yang memantik para relawan Laskar Hijau untuk melakukan gerakan konservasi di Gunung Lemongan dan di ranu-ranu yang ada di sekitarnya sejak 2005,” ujarnya.

Selain melakukan penghijauan, para relawan Laskar Hijau tersebut juga melakukan kampanye-kampanye pelestarian lingkungan, salah satunya dengan jalan kebudayaan, seperti ruwatan di Ranu Klakah.

“Kegiatan serupa pernah dilakukan di tempat yang sama oleh Laskar Hijau sejak tahun 2006- 2010 dengan tema ‘Maulid Hijau’. Bedanya, kali ini panggung yang digunakan mengapung di atas air dengan ukuran 20 x 10 meter,” ucapnya.

Acara ‘Rawat Ruwat Ranu’ diawali dengan istighosah kubro bersama warga sekitar Ranu Klakah dan dihadiri Bupati Lumajang As’at Malik, kemudian dilanjutkan dengan pergelaran budaya yang meliputi seni tari, musik dan teater dari seniman-seniman Lumajang, Malang dan Probolinggo.

“Mereka berpartisipasi secara sukarela karena kepeduliaannya kepada pelestarian budaya dan lingkungan. Panggung ini adalah panggung rakyat, siapapun boleh hadir menyaksikan dan menampilkan karya seninya,” ujarnya.

A’ak mengatakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lumajang sebagai pendukung kegiatan tersebut berencana akan menjadikan acara “Rawat Ruwat Ranu” sebagai kegiatan tahunan pemkab.

Bupati Lumajang As’at Malik mengapresiasi kegiatan pelestarian lingkungan yang menggabungkan dengan kebudayaan berbasis kearifan lokal wilayah setempat.

“Acaranya memang unik karena digelar di atas air. Semoga dengan acara ini dapat memberikan motivasi kepada masyarakat untuk terus melakukan penghijauan, agar keberadaan Ranu Klakah tetap lestari dan memberikan manfaat kepada masyarakat, khususnya warga di sekitar Ranu Klakah,” tuturnya.

Ia mengatakan Ranu Klakah merupakan salah satu aset wisata di Lumajang yang cukup potensial, sehingga keberadaannya harus dijaga dan dilestarikan. (ant)

Tari Parang Barong Bojonegoro Bakal Wakili Jatim

foto
Tari Parang Barong mengadopsi cerita di Bojonegoro. Foto: Foto: Detakpos.com.

Tari Parang Barong karya koreografer Regy Amadhona Prastika yang meraih penyaji dan penata tari terbaik dalam Fesival Karya Tari se-Jawa Timur, berpeluang mengikuti ajang Festival Karya Tari Nusantara di Jakarta, pada Oktober 2017.

Kasi Budaya dan Kesenian Disbudpar Bojonegoro Yanto Munyuk di Bojonegoro, menjelaskan Tari Parang Barong meraih penyaji dan penata tari terbaik dalam Festival Karya Tari se-Jawa Timur, di Surabaya Mei 2017 lalu.

Dengan perolehan penghargaan itu, kata dia, Dinas Pariwisata Jawa Timur, sudah memberikan sinyal bahwa Tari Parang Barong yang mengadopsi ceritera Ki Andong Sari maju mewakili Jawa Timur, di ajang festival Karya Tari Nusantara di Jakarta.

“Kami ketika di Surabaya setelah Tari Parang Barong meraih penyaji dan penata tari terbaik oleh pihak Dinas Pariwisata Jatim sudah disuruh bersiap-siap untuk mewakili Jawa Timur,” tegasnya seperti dilaporkan Antarajatim.

Di ajang Festival Karya Tari se-Jawa Timur itu, kata dia, masih ada dua tari lagi yang juga menyabet penjaji dan penata tari terbaik yaitu Tari Ombyak Trimurti karya Fahmida dan Nihaya asal Ponorogo, dan Tari Omprog Trimurti karya Subari Sofyan asal Banyuwangi. “Kami masih belum tahu langkah selanjutnya untuk persiapan di ajang Festival Karya Tari Nusantara di Jakarta,” ucapnya.

Yang jelas, menurut dia, di ajang Festival Karya Tari Nusantara di Jakarta bisa saja para penarinya tetap memanfaatkan sembilan penari yang tampil di Jawa Timur. “Tapi bisa juga penarinya diganti disesuaikan,” ucapnya.

Ia memberikan gambaran Tari Kahyangan Api karya koreografer Deny Ike Kirmayanti yang pernah mewakili Jawa Timur di ajang Festival Karya Tari Nusantara di Jakarta, pada 2015 juga diadakan perubahan penari.

Di ajang itu Tari Kahyangan Api mampu keluar sebagai juara dan memboyong piala bergilir Presiden RI Idalam Parade Tari Nusantara ke-34 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, pada 22 Agustus 2015. “Penari asli hanya tersisa tiga orang, karena lainnya memanfaatkan penari dari Surabaya,” ucapnya.

Tari Parang Barong mengadopsi kisah sejarah Ki Andong Sari di Kelurahan Ledokkulon, Kecamatan Kota. Di dalam kisah Ki Andong Sari dan Nyi Sari (Istrinya), sebagai keturunan keraton, menetap di Kelurahan Ledokkulon, Kecamatan Kota, karena sedang menyamar.

Kepada istrinya Ki Andong Sari berpesan jangan mengenakan jarit dengan motif Parang Barong, tetapi kemudian larangan itu dilanggar Nyi Sari yang nekad mengenakan jarit motif itu.

“Nyi Sari sengaja melanggar larangan itu karena ingin tahu penyebab tidak diperbolehkan mengenakan kain motif Parang Barong,” katanya. (ant)

Lima Negara Ramaikan Pesta Kesenian Bali 2017

foto
Pesta Kesenian Bali 2017 Diikuti Negara Asing. Foto: Sportourism.id.

Reputasi Bali yang makin mendunia, membuat Pulau Dewata itu terus menjadi perhatian negara manapun. Tidak terkecuali di perhelatan Pesta Kesenian Bali (PKB) 2017 yang akan dilaksanakan 10 Juni hingga 8 Juli 2017, mendatang di Art Center, Denpasar.

Buktinya, perhelatan yang rencananya akan dibuka langsung oleh Presiden Joko Widodo dan Menteri Pariwisata Arief Yahya itu dipastikan akan diikuti 5 negara. Yakni Jepang, Timor Leste, Tunisia dan India.

”Seperti tahun lalu Jepang juga akan ikut kembali, selain Jepang yang sudah mengkondirmasi bakal hadir adalah Timor Leste, Tunisia dan India,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali AA Yuniartha Putra, yang persiapannya setiap hari terus berkembang.

Dikutip dari Sportourism.id, Kadis yang biasa disapa Agung itu mengatakan, untuk Tunisia akan turun dengan rombongan Budaya Noujourn Ermasrah Korba Tunisia dan India dengan Indian Classical & Contemporary Dance Performance. Hal itu dipastikan oleh Consul General of India.

”Timor Leste belum menjelaskan akan menurunkan apa, namun Jepang sepertinya akan tampil lagi seperti tahun lalu, warga Jepang bukan menampilkan kebudayaan Jepang, namun mereka justru tampil dengan tarian Bali,” kata Agung.

Agung bercerita, pada tahun lalu, beberapa warga Jepang mengikuti pementasan seni tari di acara PKB. Pementasan tarian di bawah naungan Sanggar Wira Kencana. ”Mereka (warga Jepang) sangat antusias, dan bersemangat, fokus dan konsisten. Ini menambah meriah PKB,” ujar Agung.

Selain akan diikuti perwakilan lima negara, perhelatan yang akan dilaksanakan selama satu bulan penuh itu juga akan diikuti daerah-daerah lain asal Indonesia. Diantaranya Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Jogja dan Aceh.

”Jadi saya pastikan akan meriah dan menarik, karena memang kami sudah menekankan kepada seluruh daerah di Bali maupun di luar Bali untuk menghadirkan pentas yang sangat unik dan menarik namun jangan sampai monoton,” ujar Agung.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Esthy Reko Astuti didampingi Kepala Bidang Wisata Budaya Asdep Segmen Pasar Personal Kemenpar Wawan Gunawan mengatakan, pihaknya memang akan fokus di perhelatan yang mengedepankan seni dan budaya daerah yang akan digelar satu bulan penuh tersebut.

Kata Esthy, PKB juga biasa disebut dengan “Annual Bali Art Festival” itu selalu menjadi pusat perhatian masyarakat Bali sendiri. Perhelatan ini pertama kali dilangsungkan pada tahun 1979 sebagai warisan dari kepemimpinan Alm Ida Bagus Mantra.

Pada waktu itu, Bagus mantra menyatakan gelar PKB ini sebagai ajang kreativitas dan inovasi para pelaku seni di Bali. Pementasan berlangsung sangat serius, dan diikuti hampir semua daerah. Untuk bisa tampil di sini, semua mempersiapkan dengan sangat serius, berlatih berbulan-bulan.

Bahasanya pun masih menggunakan bahasa local Bali, sehingga tidak semua pengunjung memahami isinya. Tetapi kesenian Bali itu sangat komplet, ya isi ceritanya, gerak tari dan instrumentalianya.

Tahun 2017, PKB memasuki umur yang ke 39 dengan mengusung tema Ulun Danu.Wawan menambahkan, even ini juga dalam rangka memanjakan para Wisatawan Mancanegara (Wisman) atau Wisatawan Nusantara (Wisnus) yang sedang berlibur di Pulau seribu pura ini.

”Ini karena begitu besar makna acara ini buat rakyat Bali. Acaranya beragam dan bisa membuat wisatawan semakin nyaman di Bali dan semakin terpesona,” kata Wawan.

Dia menjelaskan bahwa PKB merupakan sebagai wadah penggalian, pelestarian dan pengembangan seni budaya, telah dirasakan memberikan kontribusi dan motivasi yang tinggi kepada masyarakat dalam mengapresiasi dan meningkatkan mutu seni budaya di Bali.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyambut positif keikutsertaan negara lain di perhelatab PKB 2017. ”Budaya itu bersifat universal, sehingga melalui perhelatan PKB ini diharapkan dapat mempererat hubungan dengan negara negara asing dan juga semakin memukau wisatawan mancanegara,” kata Menpar Arief Yahya.

Yang pasti, lanjut pria asal Banyuwangi itu, hadirnya peserta dari mancanegara itu akan membuat gengsi PKB semakin melejit. Dan itu juga akan mengundang seniman, komunitas seni dan visitor dari mancanegara untuk melihat langsung ke Pulau Dewata. (ist)

Menggugah Kesadaran Alam Lewat Permainan Tradisional

foto
Kegiatan Dolanan untuk anak-anak diselenggarakan Pendowo Bangkit di Desa Lakardowo, Mojokerto. Foto: Ecoton.

Perkumpulan Penduduk Lakardowo Bangkit (Pendowo Bangkit) menyelenggarakan kegiatan Dolanan dan Sensus Serangga Air di desa Lakardowo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Lewat kegiatan itu, mereka mengajak anak-anak untuk mengenal lingkungan sekitar.

Lebih dari 150 peserta, anak-anak hingga dewasa, seperti dilaporkan Mongabay.co.id, bermain bersama sambil menyanyikan tembang-tembang tradisional. Ada lebih dari 7 macam permainan diperagakan.

Ridho Saiful dari Komunitas Republik Dolanan menjadi pemandu. Sebelum memulai permainan, dia menjelaskan sejumlah aturan, mengingatkan untuk menaati hasil akhir, membagi peran hingga memperkenalkan nada-nada yang akan dinyanyikan.

Di akhir permainan, kelompok yang mendapatkan poin tertinggi, serta atlit dolanan yang dinilai tangkas dan cekatan, memperoleh penghargaan khusus. Kepada mereka, penyelenggara kegiatan mengalungkan medali yang terbuat dari janur.

“Wah!!!” Ridho mengungkapkan antusiasme peserta. “Dari pembukaan hingga selesai jumlah orang tidak berkurang. Mereka menikmati.”

Dia percaya, semangat peserta timbul karena permainan tradisional bisa mengintegrasikan unsur edukasi, hiburan, olahraga, kesenian dan kebudayaan.

Contohnya, Gancetan, permainan yang dilakukan dengan menautkan tumit masing-masing peserta. Sambil bermain, mereka juga menyanyikan tembang Gundul-Gundul Pacul. Sehingga, tanpa kekompakan, keseimbangan akan hilang.

“Satu kaki memang punya kita, tapi kaki lain punya orang. Ketika satu kaki kita paksakan, egois, sesuka hati, ritme akan terganggu. Bisa jatuh. Itu yang kita tanamkan,” terang Ridho beberapa waktu lalu.

Permainan tradisional juga dinilai memudahkan anak-anak untuk belajar pendidikan karakter. Mereka dapat memahami kekuatan diri, kekuatan teman atau orang lain, memahami perbedaan, serta membuka filosofi konsep kesadaran.

Konsep kesadaran, tambah Ridho, memiliki 3 aspek. Pertama, sadar alam. Artinya, hampir semua permainan tradisional bersahabat dengan alam. Itu terlihat dari sumber daya yang digunakan, misalnya batu, pasir, tanah, air, daun, rerumputan, api hingga angin.

Kedua, sadar kreasi. Ini berarti, sumber daya yang tersedia dikreasikan dalam bentuk permainan. Secara topografis permainan tradisional memiliki keunikan tersendiri, tergantung kondisi sekitarnya.

Aspek ketiga adalah sadar hukum. Sebab, ketika anak-anak sudah mengenal permainan tradisional, maka mereka sudah bisa membuat konsensus.

“Enggak boleh cari celah berbuat curang. Kalau ketahuan bisa dapat hukuman. Mereka bisa secara mudah menegakkan hukum. Kamu nakalan (curang), enggak boleh ikut main,” terang Ridho. “Namun, uniknya, walau terjadi perselisihan, mereka dengan cepat bisa main bersama lagi.”

Kearifan lokal nampak pula dalam tembang-tembang dolanan, misalnya Gundul-Gundul Pacul. Dalam tembang itu, kepala dimaknai sebagai tempat berpikir, menganalisis dan mengambil sikap. Gembelengan berarti banyak tengok atau tidak fokus. Sedangkan, wakul adalah wadah untuk menampung amanat.

“Kalau nyunggi wakul tidak fokus, nasinya bisa tumpah,” Ridho menambahkan. “Maknanya, jika dilimpahi air yang baik, hutan yang baik, tapi karena pemimpinnya gembelengan, ya, hasilnya tidak bisa dinikmati.”

Contoh lain adalah tembang Kidang Talun, yang mengisahkan sejumlah satwa seperti kijang, tikus dan gajah. Menurut Ridho, tembang dolanan selalu menghadirkan metafora yang sarat keindahan, sekaligus edukatif.

“Kidang talun mangan kacang talun. Mil-kethemil, mil-kethemil. Si kidang mangan lembayung,” demikian syair pada bait pertama, yang disambung, “Tikus pithi nduwe anak siji, cit-cit cuit, cit-cit cuit.”

Kijang diumpamakan sebagai hewan yang lincah, manis, menggemaskan dan makan secukupnya. Sedangkan, tikus diartikan sebagai binatang yang hanya berani keluar ketika tidak ada orang, suka mengambil diam-diam tapi berisik.

“Maju perang wani mati berarti kalau punya tujuang baik jangan takut,” terang Ridho, “(Itu juga berarti) Perang tertinggi adalah melawan diri sendiri. Mengalahkan hawa nafsu dan tidak pamrih saat melakukan hal baik.”

Pada bait terakhir, terdapat syair “Gajah belang saka tanah sabrang. Nuk legunuk, nuk legunuk. Gedhene meh padha gunung”. Bagian ini, dinillai menguatkan peribahasa “gajah di pelupuk mata tak nampak, kuman di seberang lautan nampak”.

“Ini bangsa yang kreatif. Tiap permainan punya tujuan, dan makna filosofis. Jika kita tanamkan, dan jadi keyakinan, maka kita bisa saksikan masa depan yang punya harapan,” terangnya. (ist)

Membangunkan Orang Sahur Dengan Angklung

foto
Sekelompok pemuda Desa Sumberjo Kulon bermain angklung di teras rumah warga. Foto: JawaPos.com.

Setiap daerah memiliki tradisi tersendiri dalam memeriahkan bulan Ramadan. Masyarakatnya tidak hanya sekadar pergi ngabuburit, atau kumpul bersama menjelang waktu berbuka dengan beragam kegiatan ringan lainnya.

Di Desa Sumberjo Kulon, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur ada sekelompok pemuda yang memiliki kegiatan unik untuk membangunkan orang sahur. Yakni memainkan alat musik dari bambu atau angklung dengan berkeliling desa.

Menariknya mereka memainkan alat musik ini tanpa menggunakan alat pengeras suara. Nada yang dihasilkan pun indah dan penuh dengan beragamam sesuai dengan lagu-lagu yang sedang hits.

Radar Tulungagung (Jawa Pos Group) menyambangi sekelompok anak muda itu yang kebetulan sedang bermain alat musik bambu di Desa Sumberjo Kulon, Kecamatan Ngunut pada awal Ramadan lalu.

Saat itu para penggawanya mengaku sedang mengasah kemampuannya untuk dipersiapkan pada bulan Ramadan. Apalagi tradisi di desa setempat, memang lazim membangunkan sahur dengan alat musik bambu.

Zidni Fuadi Syahrul Munir, salah satu pemain mengatakan, tradisi memainkan alat musik bambu untuk membangunkan orang sahur sudah ada sejak lama.

Dengan alat tradisional dirasa lebih nges dibanding menggunakan sound system yang suaranya lebih menggelegar. “Ini sekaligus untuk melestarikan alat musik tradisional,” katanya seperti dikutip jawapos.com.

Menurut dia, sebelum Ramadan latihan lebih intensif. Khususnya meramu lagu-lagu baru dengan aransemen baru agar lebih enak lagi didengar. Sehingga mereka tetap mengikuti tren yang lagi hits di masyarakat. Entah lagu pop, campursari, Banyuwangen, dan lain sebagainya. “Kalau kebetulan ada orang tua yang meminta tayub, ya kami layani saja,” jelasnya sambil tertawa.

Diakui pemuda yang akrab disapa Zidni ini, kemampuan yang dimiliki setiap pemain berasal dari otodidak. Tetapi sesekali juga harus membuka YouTube untuk mencari referensi. “Untuk alat musiknya ada yang buat sendiri maupun beli,” ungkapnya sambil menunjukkan angklung yang dipesan dari Bandung, Jawa Barat.

Hal senada diungkapkan Shandy Iza Fadilla, pemain lain. Menurut dia, tradisi ini jarang ditemui di tempat lain. Meskipun sebenarnya di lingkup Tulungagung cukup banyak kelompok musik demikian. “Ada banyak sebenarnya kelompok musik demikian. Tetapi kami sesekali juga tanggapan,” ujarnya sambil tersenyum.

Disinggung apa yang akan dilakukan jika saat membangunkan orang sahur bertemu kelompok lain yang menggunakan pengeras suara, remaja berkulit sawo matang ini mengaku tidak berhenti memainkan alat musik.

Bahkan kalau perlu jor-joran agar suasana lebih ramai. “Yang penting tetap tertib, dan kami pun harus mengkader adik-adik kami agar tradisi ini tetap lestari,” akunya.

Sesaat kemudian kelompok anak muda ini kembali memainkan alat musik yang dipegang masing-masing. Tidak berselang lama mengalun lagu Suket Teki yang dipopulerkan Didi Kempot. Bahkan beberapa orang yang menonton juga ikut berdendang. (ist)

Tradisi Pawai Obor dan Tumpeng Tanjang di Gresik

foto
Ada tradisi pawai obor dan membuat lampion di Gresik. Foto: Gresiknews.co.

Indonesia memang dikenal memiliki ragam budaya. Setiap daerah memilik tradisi yang kini masih terpelihara. Membahas mengenai bulan puasa, ada tradisi menyambut Ramadan yang tak boleh terlupakan.

Seperti di Manyar Sidomukti, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Usai salat Isya, wilayah yang terletak di daerah pesisir itu mendadak ramai. Semakin malam, acara yang digawangi anak-anak dan remaja ini kian semarak.

Ratusan warga berjalan kaki dan pawai membawa obor serta puluhan tumpeng tanjang. Tanjang merupakan tanaman bakau khas Manyar yang digunakan warga pesisir untuk menjaga lingkungan perairan mereka.

“Tradisi ini sebagai bentuk rasa syukur menyambut ramadan. Ini sekaligus mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem dengan bakau atau tanjang ini,” jelas Ketua Panitia M Miftah Farid seperti yang dilansir Radar Gresik (Jawa Pos Group), beberapa waktu lalu.

Kegiatan yang digagas Komunitas Arek Manyar Pecinta Alam (Armapala) ini, diikuti masyarakat dari berbagai kalangan. Mulai anak-anak, hingga orang tua pada malam hari.

Mereka berjalan melalui perbatasan Desa Manyar Sidorukun dan Desa Manyar Sidomukti yang jaraknya mencapai 3 kilometer untuk menuju balai nelayan Manyar Sidomukti.

Tumpeng yang dibawa, diberi hiasan tanaman bakau tanjang untuk simbolis. Para peserta kirab ini membawa 60 tumpeng tanjang, dan ratusan obor kayu dengan iringan shalawatan.

Setelah tiba di balai nelayan yang dekat dengan bengawan Kalimireng, ratusan masyarakat ini melepaskan kurang lebih 300 lampion untuk penutup kirab sekaligus rangkaian festival jajanan pesisir. “Sudah menjadi tradisi warga Manyar dan sekitarnya,” ungkap dia.

Sebelum kirab berjalan, digelar juga festival jajanan pesisir yang menarik perhatian masyarakat. Jajanan pesisir ini terilang legendaris dan jarang ditemui. Di antaranya sate pasungan, bubur sagu, sego jagung, hingga beraneka ragam kerang.

Rangkaian menyambut ramadan ini bisa mengingatkan warga akan makanan tradisional juga. “Harapannya masyarakat semakin sadar akan kearifan lokal dan kondisi lingkungan yang dikelilingi pabrik. Sebab dampaknya juga akan terasa dalam penghasilan nelayan,” sebutnya.

Ketua Umum Komunitas Armapala M Najib berharap, dari kegiatan kirab ini bisa meningkatkan kerukunan warg dan menjaga budaya lokal.

Mengingat antusias masyarakat yang juga meningkat, disebut Najib menjadi salah satu kesuksesan menggait perhatian masyaakat luas. “Rasa syukur yang dilakukan bersma ini bisa menjadi hal yang bisa ditiru masyarakat pesisir lainnya,” ungkapnya. (ist)