Maksidaya UMM Angkat Eksotisme Indonesia Timur

foto
Maksidaya adalah program rutin Lembaga Kebudayaan UMM bakal terus dikembangkan. Foto: Humas UMM.

Budaya Indonesia Timur itu sangat eksotis dan beragam. Namun, belum semua budaya itu terekspos apik dan mendapat perhatian penuh. Hal ini mendasari Lembaga Kebudayaan Universitas Muhammadiyah Malang (LK UMM) melalui Malam Ekspresi Seni dan Budaya (Maksidaya) memilih tema Indonesia Timur untuk penampilan yang disajikan di atas panggung.

Seperti dilaporkan Suaramuhammadiyah.id, Maksidaya digelar di helipad UMM. Mereka menampilkan Tari Soya-soya Sisi yang dibawakan 6 mahasiswa dari Organisasi Daerah (orda) Ternate Maluku Utara.

Tari Soya-soya Sisi menceritakan tentang perang di Ternate pada zaman penjajahan. Ada salah satu gerakan yang menyimbolkan masyarakat yang tengah mengangkat mayat korban perang dan mengusir penjajah.

Tak hanya tarian, Orda Ternate Maluku Utara juga menyuguhkan kuliner khas Ternate, yaitu kue pelita.

Sebutan kue pelita mengandung kisah sejarah bagi Ternate. Kue yang terbuat dari terigu, santan dan gula merah dan dicetak di atas daun pisang berbentuk mangkuk kecil ini hadir sejak zaman lampu (pelita) belum masuk di Ternate.

“Daun berbentuk mangkuk lonjong ini biasanya dipakai sebagai alas lilin yang jadi alat penerang atau pelita utama penduduk Ternate saat itu,” terang Fistiqlal, mahasiswa asal Ternate yang tengah magang di FPP UMM.

Selain Orda Ternate, ada juga Orda Mataram yang menampilkan tarian Gandrung, perkusi, dan aksi presean. Mereka juga menyuguhkan kuliner dan benda-benda khas Lombok seperti nasi puyung, tas tenun, serta kain songket.

Sementara itu, Orda Ikatan Mahasiswa/Pelajar Indonesia Sulawesi Selatan (Ikami Sulsel) membawakan tarian Mapapenda dan menyediakan es pisang ijo sebagai kuliner khas Sulses. Orda lain yakni dari Sumbawa yang membawakan tarian Samalewa.

Asisten rektor bidang akademik, Dr Budi Suprapto MSi menyatakan, Maksidaya yang merupakan program rutin Lembaga Kebudayaan (LK) UMM sangat bagus bila terus dikembangkan. Menurut Budi, LK menjadi salah satu lembaga di UMM yang paling produktif.

Ke depan, Budi berharap selain pagelaran budaya, LK mulai menginventarisasi nilai budaya, minimal yang berkembang di Malang Raya.

“Contohnya bahasa walikan. Sepengetahuan saya, belum ada yang mengkaji bahasa khas Malang ini secara ilmiah, baik dimensi historis maupun sosial budaya. Kalau LK bisa mengkaji tentang bahasa walikan ini, akan memberi konstribusi menyejarah bagi masyarakat Malang,” harapnya Budi.

Tak hanya itu, Budi juga berharap LK mampu mendokumentasikan beragam budaya dengan lebih baik. “Sehingga UMM bisa menjadi database kebudayaan di Jawa Timur,” imbuhnya.

Pada gelaran Maksidaya kali ini, LK bekerja sama dengan kelompok praktikum Public Relation “Palace” prodi Ilmu Komunikasi UMM. Rijal Choirudin, ketua pelaksana sekaligus anggota kelompok praktikum menyatakan tiap-tiap Orda akan mendapatkan kompensasi berupa plakat.

Hal ini merupakan apresiasi dari panitia akan generasi muda yang masih peduli dengan budaya daerah. “Budaya itu identitas suatu bangsa. Percuma mengaku mahasiswa sebagai agen perubahan kalau tidak menciptakan aksi untuk perubahan bagi bangsanya sendiri,” tegas mahasiswa semester 6 itu.

Selain penampilan Orda, UKM Fotografi Focus UMM juga memamerkan hasil jepretan anggotanya tentang makanan tradisional. Berbagai stan makanan tradisional juga berjajar di area helipad. Pagelaran yang diadakan malam menjelang wisuda ini dapat menjadi salah satu alternatif hiburan bagi orang tua mahasiswa yang akan menghadiri wisuda. (ist)

Daerah Ini Terkenal Budaya Pasang Susuk

foto
Budaya pasang susuk masih ada di sebagian daerah di Indonesia. Foto: ilustrasi.

Susuk adalah sebuah ritual memasukkan sebuah benda ke dalam tubuh manusia. Biasanya benda itu berupa loga mulia seperti emas, hingga berlian dan juga bunga.

Seseorang melakukan ritual ini untuk mendapatkan manfaat tertentu semisal memberikan pesona, memiliki perkataan yang mudah dituruti hingga memperoleh kekebalan tubuh.

Dilansir dari Liputan 6, susuk tergolong ritual atau aktivitas yang melibatkan hal-hal berbau mistik. Terlebih cara memasukkan bendanya juga sangat ajaib bahkan tanpa membuat kulit luka.

Dalam beberapa hal, susuk juga berhubungan dengan makhluk halus yang diwujudkan benda lalu dimasukkan ke dalam tubuh manusia.

Di Indonesia, ritual-ritual semacam ini banyak ditemukan di berbagai tempat. Namun, daerah ini dikenal paling manjur dalam susuk ke tubuh manusia. Berikut selengkapnya.

Susuk dari Kalimantan
Susuk bukanlah hal baru bagi suku-suku yang ada di Kalimantan. Mereka sudah sejak lama percaya dengan hal-hal berbau mistik mulai dari praktik sihir seperti dukun hingga susuk. Di Kalimantan, susuk banyak dipasangkan kepada wanita yang menginginkan pesona dalam dirinya. Biasanya jenis susuk pemikat akan dimasukkan ke dalam bentuk jarum tipis terbuat dari emas atau berlian.

Selain digunakan untuk memberi pesona. Susuk juga digunakan untuk membangun rumah atau memberi pengelarisan saat berdagang. Susuk seperti berlian sering dipasang pada pasak agar menjadi kuat dan orang jadi nyaman untuk tinggal. Sementara itu susuk emas juga dipasang pada pintu toko untuk mendatangkan banyak rezeki.

Susuk dari Jawa Tengah

Daerah selanjutnya yang mengenal praktik susuk adalah di Jawa Tengah dan sekitarnya. Di daerah ini banyak wanita yang memasang susuk kantil (cempaka putih) di dalam tubuhnya. Konon bunga kantil akan membuat aura kecantikannya semakin memancar. Bahkan yang awalnya tidak rupawan akan nampak lebih menarik saat dilihat oleh pria mana pun.

Bunga kantil dipilih karena secara budaya selalu berkaitan dengan hal-hal berbau mistis. Bahkan banyak makhluk astral yang menginginkan bunga kantil ada dalam sesajennya. Selain bunga kantil, di Jawa Tengah juga mengenal susuk besi dan susuk baja untuk memberikan kekuatan dan kekebalan pada tubuh.

Susuk dari Melayu
Orang-orang di daerah Melayu mengenal apa yang namanya susuk dari rempah dan bunga. Biasanya rempah-rempah seperti merica, ketumbar, dan bawang lalu bunga seperti kenanga, melati, dan mawar. Rempah dan bunga ini akan dikeringkan lalu dibuat dalam bentuk serbuk sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam tubuh.

Selain rempah dan bunga, susuk dalam bentuk emas cair juga kerap dimasukkan ke dalam tubuh. Biasanya susuk ini berguna untuk memikat hati lawan jenis. Dengan memakai ini, seseorang akan sangat mudah mendapatkan kekasih meski awalnya tidak pernah laku.

Susuk dari Jawa Timur
Daerah Jawa Timur seperti Banyuwangi dan sekitarnya terkenal sekali dengan hal-hal berbau magis, termasuk susuk. Di kawasan ini mengenal dengan apa itu yang namanya susuk aura. Susuk ini tak menggunakan benda fisik seperti emas, besi, atau berlian. Sesuatu yang dimasukkan ke dalam tumbuh manusia adalah aura yang kadang berasal dari makhluk halus atau dibuat oleh si pemasang itu sendiri.

Susuk aura akan memberikan efek yang sangat cepat kepada pengguna. Seseorang yang awalnya biasa saja akan menjadi bercahaya hingga disukai banyak sekali orang. Sayangnya susuk seperti ini tidak bertahan lama. Terlebih jika melanggar pantangan seperti tidak salat atau melakukan ibadah lainnya sesuai tuntunan agama yang diyakini.

Susuk dari Indonesia Timur
Indonesia Timur juga memiliki tradisi susuk meski tak sama dengan yang ada di Jawa. Biasanya susuk dari daerah ini berasal dari benda-benda seperti mutiara hitam yang nanti akan dihaluskan. Susuk jenis ini akan memberikan manfaat berupa vitalitas terutama para pria yang mengalami gangguan pada fungsi alat vitalnya.

Selain berupa mutiara hitam, susuk lain dari daerah ini bisa berupa susuk logam mulia yang akan memberikan manfaat keberkahan dan juga melancarkan jodoh. Orang-orang dari ibu kota pun banyak yang datang ke sini untuk sekadar merasakan dahsyatnya susuk dari timur Indonesia.

Inilah lima daerah di Indonesia yang terkenal akan budaya memasang susuk magis ke dalam tubuh. Menurut sobat semuanya, memasang susuk itu bermanfaat tidak ya? Kalau secara agama pasti dilarang karena percaya dengan hal-hal mistik. (ist)

Pranata Mangsa: Penanggalan Kuno Nusantara

foto
Sebagian petani di Jawa masih menggunakan Pranata Mangsa. Foto: Surojayan.wordpress.com.

Beberapa daerah di Nusantara memiliki sistem penanggalan lokal, salah satunya adalah kalender Pranata Mangsa. Kalender ini digunakan oleh masyarakat Jawa, Sunda, dan Bali tradisional.

Konon katanya, sistem kalender ini sudah ada sejak zaman Raja Aji Saka yang bertakhta di Medang Kamulan. Itu berarti usianya sudah mencapai ribuan tahun. Dan, meskipun sudah berkembang sejak zaman kuno dulu, kalender ini bersifat lengkap dan komprehensif.

Kalender Pranata Mangsa merupakan salah satu penanggalan tradisional masyarakat Nusantara. Suku Batak di Sumatra mengenal ‘Parhalaan”. Suku dayak di Kalimantan Barat mengenal sistem kalender ‘Papan Katika’. Masyarakat Bali memiliki sistem kalender yang didasarkan atas ilmu astronomi yang disebut ‘Wariga’ .

Seperti Pranata Mangsa, penanggalan-penanggalan tradisional tersebut memiliki fungsi sebagai pedoman bagi masyarakat dalam kegiatan keseharian mereka.

Pranata Mangsa sendiri berasal dari kata ‘pranata’ yang berarti aturan, dan ‘mangsa’ yang berarti masa atau musim. Jadi, Pranata Mangsa sejatinya memberi informasi tentang perubahan musim yang terjadi tiap tahunnya. Informasi ini kemudian digunakan digunakan oleh para petani dan pelaut sebagai pedoman dalam kerja mereka.

Kalender Pranata Mangsa menggambarkan kedekatan masyarakat tradisional Nusantara dengan alam. Kearifan untuk menjaga keselarasan dengan alam merupakan ciri khas masyarakat tradisional Nusantara. Alam bukanlah lawan yang harus ditaklukkan, melainkan dunia di mana manusia menjadi bagian darinya.

Kesadaran sebagai bagian dari alam inilah yang membuat masyarakat Nusantara berusaha mengakrabi dan mempelajari perilaku alam. Hasilnya mereka rumuskan dalam bentuk penanggalan.

Dengan demikian, Pranata Mangsa memiliki akar latar belakang kosmografi dan bioklimatologi. Kalender asli masyarakat Jawa ini disusun berdasarkan pengamatan terhadap alam, baik perubahan iklim di bumi, maupun pergerakan benda-benda angkasa.

Sejak zaman kuno dulu, sejatinya bangsa Indonesia sudah akrab dengan pola pergerakan bintang yang mendasari pola pergantian musim dari tahun ke tahun.

Kalender Pranata Mangsa sudah berusia ribuan tahun. Bahkan sebelum kedatangan agama Hindu, masyarakat Nusantara sudah akrab dengan pergerakan benda-benda angkasa yang mendasari pergantian musim. Kalender yang diwariskan secara turun-temurun ini kemudian dimodifikasi oleh Sultan Agung.

Sejak itu, kalender ini semakin populer dan dijadikan dasar bagi kegiatan bertani. Pada 22 Juni 1856, kalender ini dibakukan oleh Sri Susuhunan Pakubuwana VII di Surakarta. Upaya ini dilakukan untuk lebih memperkuat sistem penanggalan yang dapat dijadikan pedoman bagi pertanian.

Kalender Pranata Mangsa dibuat berdasarkan peredaran bumi mengelilingi matahari. Satu tahun dibagi ke dalam 4 mangsa utama yang dibagi lagi menjadi 12 mangsa. Namun, jangan salah, meski jumlah hari dalam satu tahunnya sama dengan tahun Masehi (365 hari), jumlah hari dalam satu mangsa bervariasi, dari 24 sampai 43 hari.

Jumlah hari dalam kedua belas mangsa bukan hasil dari pembagian sederhana, tetapi berkaitan erat dengan terjadinya pergantian musim. Masing-masing mangsa menggambarkan pola alam pada mangsa yang bersangkutan.

Karena pengamatan hanya dilakukan di daerah Jawa dan Bali maka di luar dua daerah itu, Pranata Mangsa tidak bisa dijadikan pedoman bagi pertanian. Oleh sebab itu, kalender ini termasuk kalender lokal.

Kelemahan Pranata Mangsa sebagai pedoman pertanian adalah bahwa ia tidak bisa mengantisipasi gejala-gejala alam tertentu, seperti terjadinya El Nino dan La Nina. Perubahan iklim global juga menjadi tantangan apakah kalender ini masih bisa dijadikan pedoman kegiatan bertani saat ini.

Kalender ini juga agak bermasalah karena sebagian hewan dan tumbuhan yang menjadi indikator bagi pergantian musim telah hilang. Meski di sisi lain, masih bisa menjelaskan perilaku hewan-hewan yang masih ada sampai sekarang. Oleh karena itu, perannya sebagai pedoman pertanian harus dilengkapi oleh prakiraan cuaca yang bersifat modern seperti yang dibuat oleh BMKG.

Terlepas dari apakah Pranata Mangsa secara praktis bisa atau tidak digunakan saat ini, kalender ini memiliki peran sentral dalam sejarah Nusantara. Kalender ini pastinya telah ikut menyumbang kebesaran kerajaan-kerajaan di Jawa dari Mataram Kuno hingga Mataram Islam.

Kalender ini juga membuktikan kecerdasan masyarakat tradisional dalam membaca pola-pola perubahan alam dan menuangkannya dalam bentuk penanggalan yang bisa digunakan sebagai pedoman praktis dalam kehidupan keseharian. (ist/1001indonesia.net)

Sanggar Baladewa, Anak dan Seni Tradisional

foto
Hario mengajarkan cara menggunakan wayang di sanggar Baladewa Cak Durasim Surabaya. Foto: Jawapos.com.

Belasan anak duduk sambil sesekali bercanda di tengah ruangan yang sore itu tampak lengang. Gedung Sawungsari UPT Taman Budaya Jawa Timur. Tidak banyak peralatan yang tersisa di dalam ruang gamelan tersebut.

”Gamelane dipake untuk acara. Jadi, hari ini cuma bisa latihan wayang,” tutur Hario Widyoseno, penanggung jawab Sanggar Baladewa sekaligus pelatih wayang kepada Jawapos.

Ya, sanggar tersebut memang tidak hanya mengajarkan tentang bagaimana menjadi dalang. Para anggota yang masih belia pun diharuskan belajar menabuh gamelan dan menjadi sinden khusus untuk anak perempuan.

Baladewa memang memfokuskan diri pada kesenian tradisional. Pada awalnya, Rio –sapaan akrab Hario– bersama rekan-rekannya ingin memanfaatkan fasilitas di UPT Taman Budaya Jawa Timur.

Berlatar belakang kecintaan pada seni tradisional, muncul ide membentuk Sanggar Baladewa yang berfokus pada anak-anak. Semua itu berawal pada Juli 2010.

”Awalnya, cuma lima atau enam anak. Itu pun anaknya teman-teman kita,” kenang Rio. Meski sedikit kecewa, mereka tetap mendidik anak-anak tersebut dengan serius. Hingga akhirnya datang tawaran untuk pentas dalam suatu acara.

Namun, kegembiraan itu hanya sebentar. Tawaran manggung ternyata dibatalkan secara sepihak. Mereka sama sekali tidak tahu alasannya. ”Untung, waktu itu gamelannya belum dibawa ke sana. Kalau sudah, kan kecewanya jadi bertambah,” lanjutnya.

Pembatalan itu tidak lantas membuat pelatih dan anggota sanggar merasa putus asa. Mereka tetap berlatih setiap Sabtu dan Minggu sore di Taman Budaya bersama dengan sanggar lain. Dari sanalah kiprah Sanggar Baladewa mulai terlihat.

Sering bertemu saat latihan membuat beberapa orang tua melirik Baladewa. Anak-anak mereka yang belum ikut sanggar pun dimasukkan ke Baladewa. Bahkan, ada yang rela berhenti dari sanggar tari untuk masuk secara total ke Baladewa.

”Ada juga yang berawal dari nganter kakaknya. Terus, lama-lama tertarik hingga akhirnya ikut bergabung,” tutur staf Taman Budaya itu.

Salah satunya adalah Nadhif Ikmalsyah. Bocah kelas VII SMP itu sebenarnya sama sekali tidak tertarik pada wayang maupun seni tradisional lainnya. Namun, karena sering mengantar sang kakak berlatih, akhirnya Nadhif penasaran ingin mencoba.

”Dikatain gini sama orang tua. Kalau cuma nganterin, ya enggak berguna,” tutur siswa SMPN 7 Surabaya tersebut. Karena itu, dia akhirnya ikut menjadi anggota Sanggar Baladewa. Lama-kelamaan, Nadhif justru jatuh cinta pada seni karawitan. Bahkan, segala jenis alat karawitan bisa dia mainkan.

Cerita berbeda datang dari Ernanda Bima Megantara. Bocah yang akrab disapa Nanda itu memang tertarik pada wayang sejak dahulu. Apalagi dia juga mewarisi darah dalang dari kakeknya.

Dia bahkan pernah dipercaya mewakili Surabaya dalam lomba dalang bocah se-Jawa Timur. ”Tetapi, tetap belajar karawitan. Soalnya, kalau di sanggar, semua harus serbabisa,” jelasnya.

Gaung nama Sanggar Baladewa mulai terdengar sejak tampil di Unesa sekitar 2011. Setelah itu, mereka mulai berani tampil di berbagai lomba. Apalagi, jumlah anggotanya semakin bertambah. ”Awalnya, kita ikut kompetisi supaya anak punya motivasi. Bukan untuk menang,” ucap Rio.

Para pelatih tidak ingin membuat mental mereka down. Pasalnya, mereka adalah orang baru. Jika ikut kompetisi dan kalah, mereka dikhawatirkan tidak mau lagi belajar dalang.

Karena itu, pada 2013, Sanggar Baladewa memboyong anak-anak untuk mengikuti Temu Dalang Bocah Nusantara di Solo. Satu orang berperan sebagai dalang dan 20 orang lain sebagai pengrawit maupun sinden.

Dalam acara tersebut, tidak ada kategori menang-kalah. Semua mendapatkan piala dengan kategori yang berbeda-beda. ”Sistem kayak gini juga menjadi siasat agar mental anak-anak tidak jatuh,” lanjut pria kelahiran 12 September 1977 tersebut.

Sejak tampil di Solo, nama Baladewa semakin melejit. Perlahan-lahan, pemerintah Kota Surabaya melalui dinas pendidikan mulai memberikan kepercayaan. Baladewa sering didapuk untuk tampil mewakili Surabaya. Berbagai piagam penghargaan telah diraih anak-anak sanggar.

Lantas, apa rahasia para pelatih hingga bisa membuat anak-anak mau belajar semua jenis kesenian? ”Yang penting itu telaten. Kalau anak lagi nggak, mood ya sudah. Jangan dipaksa,” tutur Rio. Apa yang mereka sukai, biasanya itulah yang lebih dahulu diajarkan. Baru secara pelan-pelan mereka dikenalkan pada kesenian lain.

Tidak jarang, ada anak yang sama sekali tidak mau belajar kesenian lain, maunya berfokus pada satu jenis. Kalau sudah begini, para pelatih akan memaksa mereka untuk berlatih. ”Biasanya, kami carikan event. Lalu, anak itu kami pilih untuk jadi wakil. Kalau begitu, mau tidak mau kan dia harus belajar,” lanjut bapak tiga anak itu, lantas tertawa.

Materi yang diberikan pun tidak langsung berupa wayang purwa. Bagi anak-anak yang tidak mempunyai dasar suka wayang, pelatih sanggar biasa menggunakan wayang karakter untuk belajar. Misalnya, Barbie dan hewan-hewan. ”Kalau dikasih wayang purwa, ya mereka bisa bingung dan jadi malas belajar,” imbuhnya.

Namun, bagi yang memang memiliki dasar kecintaan terhadap wayang, seperti Nanda, cerita wayang purwa lah yang diajarkan. Ceritanya sudah disederhanakan. Unsur-unsur yang kurang sesuai untuk anak dihilangkan. Misalnya, adegan asmara laki-laki dan perempuan.

Hampir tujuh tahun berlalu. Tak banyak yang berubah dari Baladewa. Mereka masih konsisten mengajarkan wayang, sinden, dan karawitan kepada anak-anak. Dua pelatih wayang, satu pelatih karawitan, dan satu pelatih vokal.

Hanya jumlah muridnya yang bertambah. Dari enam orang, kini sudah 45 orang. Dari yang pernah dibatalkan, kini jadi sering diundang ke berbagai acara. Pelatih pun harus pandai membujuk agar tidak ada anak yang iri karena tidak bisa ikut pentas. (ist)

Teladani Sesepuh dengan Pentas Wayang

foto
Pergelaran wayang kerap jadi puncak acara ruwah desa. Foto: Jawapos.com.

Tangan dalang Ki Abbas mengangkat tokoh yang berciri khas busana kebesaran berupa Kutang Antakusuma. Kisah kesatria sakti mandraguna tersebut sukses menyedot perhatian para penonton.

Gatotkaca menjadi lakon utama dalam pergelaran wayang berjudul ‘Temurune Wahyu Sudi Tomo’ di Desa Modong, Kec Tulangan, Kab Sidoarjo, Sabtu (20/5) malam.

Penonton yang memenuhi Balai Desa Modong malam itu bukan hanya masyarakat desa setempat. Warga dari berbagai desa yang ingin melihat pertunjukan tersebut pun berduyun-duyun datang. Ada yang dari wilayah Kecamatan Tulangan. Banyak pula yang dari Krembung dan Wonoayu.

Lukman Amirullah, warga Desa Kepatihan, Tulangan, mengatakan menyukai pertunjukan wayang. “Teman seusia saya ya bisa dihitung yang masih suka (wayang). Tapi, menurut saya, wayang itu kebudayaan yang berharga,” tuturnya, seperti dikutip Jawapos.com.

Lukman selalu penasaran dengan tokoh utama di setiap pertunjukan wayang. “Biasanya dikisahkan sesuai dengan penggambaran sebuah daerah di momen tertentu,” katanya.

Pernyataan tersebut klik dengan pertunjukan wayang di Desa Modong waktu itu. Pergelaran wayang merupakan acara puncak dari rangkaian Ruwah Desa.

Kepala Desa Modong Masduqi menyatakan, alur cerita Gatotkaca menerima wahyu dari Betoro sengaja dipilih untuk menggambarkan jasa para leluhur desa.

“Gatotkaca ini kan istilahnya manusia terpilih yang bisa membawa pengaruh baik ketika mendapat pesan dari Betoro. Ya seperti Ki Gede Modong Mbah Ibrahim dahulu,” paparnya.

Dia berupaya menyampaikan pesan kepada masyarakatnya bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang menyebarkan kebaikan. Achmad Sholehuddin, Kasi Kesejahteraan Desa Modong, menambahkan bahwa kegiatan Ruwah Desa merupakan agenda wajib setiap tahun.

Salah satu acara yang tidak pernah ketinggalan adalah mengadakan pengajian masal di makam Ki Gede Modong Mbah Ibrahim yang merupakan leluhur desa.

“Tujuan utamanya dua. Merefleksikan kembali perjuangan sesepuh yang babat desa ke generasi sekarang dan berdoa supaya jauh dari bencana,” ucapnya.

Sebagai ketua pelaksana rangkaian acara, Sholehuddin juga tidak mau melewatkan momen bertajuk ‘Malam Penuh Sholawat’. Semalam suntuk ada penampilan salawat dan banjari dari 12 kelompok asal Tulangan dan Porong.

“Biar desa diselimuti aura baik. Masyarakatnya aman dan sejahtera,” ungkapnya. Rangkaian Ruwah Desa Modong dihelat selama empat hari.

Di Desa Cangkringturi, Kecamatan Prambon, kemeriahan Ruwah Desa juga terlihat. Minggu (21/5) puluhan warga memadati Balai Desa Cangkringturi. Mulai anak-anak hingga orang tua. Beragam makanan mereka bawa dari rumah masing-masing. Ada nasi, sayur, lauk, sampai buah-buahan.

Makanan tersebut dikumpulkan menjadi satu, lalu dibagikan secara acak kepada warga lainnya. Jadi, antarwarga bisa mencicipi makanan yang dibuat warga lain. Sebelum makan bersama, tidak lupa berdoa.

Dengan acara tersebut, mereka berharap bisa terhindar dari masalah, tetap guyub, dan rezekinya lancar. Yang bertani bisa panen melimpah. Yang berwirausaha bisa untung banyak.

Malamnya ada rutinitas tahunan dalam Ruwah Desa di Dusun Turi. Yakni, pergelaran wayang kulit dengan dalang Ki Pitoyo dari Mojokerto. “Setiap tahun warga menanti itu, selalu ada wayangan,” kata Kepala Desa Cangkringturi Abdul Karim Darsono. (ist)

Kenalkan Nyadran Hingga ke Belanda

foto
Ni Putu menerangkan program yang akan dikerjakan saat di Belanda. Foto: Jawapos.com.

Enam siswa Sekolah Mutiara Bunda Sidoarjo ini bakal berangkat ke Belanda. Selama 18 hari, mereka mengikuti program pertukaran pelajar. Mereka akan tinggal di Kota Helmond, Provinsi Brabant Utara. Misi mengenalkan budaya Sidoarjo, bahkan Indonesia, berada di pundak mereka.

Enam siswa terpilih itu adalah Muhammad Dicko Rahmadani Putra, Michael Adi Suryanto, Aprilia Cahyaningrum, Oki Maulina, Valenzia Lars, dan Ni Putu Indra Iswari.

Mereka menjadi delegasi setelah melalui beberapa tes. Mulai bahasa Inggris, pendidikan karakter, hingga wawasan budaya.

”Nanti, mereka tinggal dengan house family yang berbeda. Tapi, sekolahnya sama, yakni di Jan van Brabrant College,” jelas Kepala Yayasan Pendidikan Mutiara Bunda Linda Irene, seperti dikutip Jawapos.

Menjelang keberangkatan pada 27 Mei, mereka menyiapkan banyak hal. Termasuk membawa bahan makanan khas Indonesia, yaitu rempah-rempah. ”Sudah bawa lengkuas. Nanti masak di sana. Kami juga menyiapkan presentasi tari Bali,” kata Ni Putu.

Berbeda dengan Ni Putu yang membawakan budaya khas Indonesia, Aprilia mendapatkan tugas mengenalkan Sidoarjo. ”Saya sudah mempersiapkan tradisi nyadran. Di sana kan nggak ada yang seperti itu,” ungkapnya.

”Saya harap itu bisa jadi cultural value (nilai budaya, red) yang menarik,” ucap Aprilia. Bagi yang belum pernah pergi ke luar negeri, pengalaman menjadi delegasi pertukaran pelajar tersebut sangat luar biasa.

Sementara itu, buat Dicko, perjalanan tersebut bukan yang kali pertama. ”Sudah pernah ke Jepang, Arab Saudi, sama Singapura. Tapi, ini beda,” lanjutnya. ”Saya mau kenalkan permainan tradisional seperti engklek di sana,” ujarnya.

Melihat antusiasme itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sidoarjo Mustain sangat bangga. Dia berharap perjalanan tersebut benar-benar dijadikan misi pertukaran budaya serta pengetahuan pendidikan yang membangun. ”Ambil positifnya. Gunakan untuk membangun pribadi kalian dan Sidoarjo nanti,” ujarnya. (ist)

Hasil Bumi Disulap Jadi Garuda Pancasila

foto
Warga Kembangsore, Desa Petak di Pacet saat ruwah desa. Foto: Radarmojokerto.jawapos.com.

Ruwah bumi atau desa digelar warga di Dusun Kembangsore, Desa Petak, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto berlangsung unik, Mereka mengarak hasil bumi mengenakan pakaian adat keliling desa.

Tradisi ini juga diyakini dapat mendatangkan kesejahteraan dan menjauhkan dari bala. “Kita tidak mau budaya dan adat yang telah diwariskan leluhur hilang begitu saja,” ungkap Kades Desa Petak, Supoyo.

Prosesi ruwah desa diawali dengan menggelar kirap ancak atau arak-arakan keliling desa. Hasil bumi warga dan petani ini dibentuk burung Garuda Pancasila dan tumpeng raksasa. “Kami yakini juga, ruwah desa ini untuk membuang bala,” katanya, seperti dikutip Radarmojokerto.jawapos.com.

Menurutnya, di era sekarang, tradisi ruwah desa sangat positif. Hal itu sekaligus mempertahankan budaya dan adat. “Siapa lagi kalau bukan kita. Wong kita juga tinggal melestarikan saja,” ujarnya.

Setidaknya, ada lima kelompok ikut serta dalam barisan arakan-arakan hasil bumi itu. Setiap peserta mengenakan pakain adat Nusantara. Arak-arakan diiringi kesenian musik tradisional dan beragam atraksi.

Selain kirab ancak, sebelumnya masyarakat juga menggelar doa bersama. “Setidaknya kami bisa menunjukkan dan memeperkenalkan adat dan budaya ke anak cucu kita,” tandasnya. (ist)

Sedekah di Kota Santri Mensyukuri Rezeki

foto
Arak-arakan di Driyorejo Gresik diawali Reog. Foto: Jawapos.com.

Ribuan pengunjung memadati Jalan Raya Driyorejo, Kabupaten Gresik. Arak-arakan tumpeng raksasa yang digotong beberapa pemuda Dusun Cangkir, Kecamatan Driyorejo, menyita perhatian warga dan pengguna jalan.

Total, terdapat sembilan tumpeng yang diarak. Sebanyak enam tumpeng berisi buah, sayur dan hasil bumi seperti padi dan umbi-umbian. Dua tumpeng lainnya disusun dari gerabah dan alat rumah tangga lainnya. Lantas, satu tumpeng terbuat dari nasi.

Selain tumpeng, seperti dilaporkan Jawapos.com, ada aksi reog dan ogoh-ogoh yang diarak keliling kampung. Sejumlah gadis jelita berbusana khas keraton berjalan sambil menebarkan uang koin dan bunga dalam sedekah bumi Paguyuban Putro Wayah Bumi Cangkir Kecamatan Driyorejo, pekan lalu.

Tradisi yang juga menjadi ajang ruwat desa itu digelar setiap tahun. Kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk syukur masyarakat atas rejeki yang diberikan Tuhan. ”Selalu diadakan pada bulan ruwah (Syakban, red) menjelang Ramadan,” ujar Ketua Pelaksana Sedekah Bumi Kurnia Akbar.

Pemuda yang akrab disapa Akbar tersebut menyatakan, tradisi sedekah bumi sudah berlangsung lama. Namun, kirab budaya baru berjalan sekitar lima tahun yang lalu. ”Ada ritual khusus sebelumnya,” ungkapnya.

Ritual dalam ruwat desa dipimpin langsung oleh Kepala Dusun Cangkir. Hal itu merupakan bagian dari penghormatan kepada para leluhur yang kali pertama menemukan wilayah Cangkir.

Kepala Dusun Cangkir Gaguk Eko mengungkapkan, tradisi sedekah bumi harus dipertahankan. Karena itu, pemuda desa selalu dilibatkan. Dengan begitu, tradisi sedekah bumi bisa terus dipertahankan oleh generasi selanjutnya.

Dia berharap sedekah bumi memberikan banyak berkah untuk warganya. Yang paling penting, masyarakat bisa hidup rukun berdampingan. Tidak hanya antarsesama tetapi juga dengan industri-industri di sepanjang jalan yang melintasi wilayah Cangkir. ”Harus bisa guyub dan kompak,” ucapnya. (jpg)

12 Watu Gong Peninggalan Era Kanjuruhan

foto
Situs Watu Gong peninggalan Kerajaan Kanjuruhan di Malang. Foto: Pasangmata.com.

Banyak bangunan dan situs bersejarah di Kota Malang baik peninggalan kolonial Belanda maupun situs peninggalan kerajaan yang selama ini belum banyak diungkap ke permukaan. Wilayah Tlogomas konon merupakan salah satu daerah di Kota Malang yang memiliki banyak benda bersejarah peninggalan Kerajaan Kanjuruhan. Salah satunya adalah Watu Gong.

Jarak Situs Watu Gong dari jalan raya jurusan Malang-Batu tidak terlalu jauh. Tetapi petunjuk arah ke lokasi tidak ada sehingga agak sulit mencarinya. Situs Watu Gong terletak di Jalan Kanjuruhan Gang IV, RT 04 RW 03, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang; sekitar tujuh kilometer di sebelah barat pusat kota Malang.

Bagi masyarakat Malang, khususnya warga Tlogomas, apalagi para sesepuh yang hidup dizaman kerajaan, mendengar nama Kerajaan Kanjuruhan bisa jadi tidak begitu asing. Karena wilayah ini konon merupakan tempat bermukimnya Raja Ken Arok sebelum memimpin Kerajaan Singhasari.

Seperti dilaporkan MalangTIMES, situs Watu Gong berada pada pendapa yang di depannya terdapat papan bertuliskan situs Watu Gong. Suradi adalah sang juru kunci situs yang rumah hanya berjarak tiga rumah dari pendapa tersebut.

Pria dua anak tersebut lalu menceritakan asal usul Watu Gong. Menurutnya, Watu Gong merupakan rumah hunian keagamaan Hindu pada zaman Prasasti Dinoyo sekitar tahun 760 M. Memang unik, karena arca Watu Gong terbuat dari batu yang menyerupai alat musik tradisional yaitu gong. Bentuknya bulat, tebal dan di atasnya terdapat pentolan kecil.

“Situs Watu Gong ini dibuat dari batu yang awal ditemukan berjumlah 13 unit. Namun, satu unit watu gong dicuri orang tak bertanggung jawab. Jadi sekarang jumlahnya berkurang,” kata pria berusia 88 tahun itu.

Diameter watu gong sekitar 80 centimeter dan tebalnya sekitar 30 centimeter. Batu-batu itu disusun berjajar mengelilingi pendopo yang dibangun Pemkab Malang. Pendapa diresmikan 18 Juli 1985 Bupati Malang oleh Eddy Slamet, sebab saat itu Tlogomas masih bagian dari Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Di pendapa tersebut, benda peninggalan bersejarah tidak hanya watu gong saja. Juga ada lesung terbuat dari batu yang digunakan masyarakat kuno untuk menumbuk padi, bejana batu, lumpang, dan bata merah yang tebal.

Letak lesung tersebut berada di belakang tiga patung arca yang berdiri tegak di tengah pendapa. “Jadi di sini ada arca lesung, bata kuno, dan dua patung pendiri yang menemukan asal usul watu gong yaitu Mbah Nambi dan Mbah Rekso,” kata pria yang mengaku sudah 27 tahun menjadi juru kunci. (ist)

Sedekah Bertema Sandang, Pangan dan Papan

foto
Acara sedekah bumi di Desa Gisik Cemandi Sedati, Sidoarjo. Foto: Jawapos.com.

Desa Gisik Cemandi, Sedati, Sidoarjo melangsungkan sedekah bumi. “Ayune rek perangkatku.” Guyonan itu keluar dari Suwandi saat menjadi pembawa acara.

Pria yang kemarin bertugas sebagai panitia tersebut juga merupakan salah seorang perangkat Desa Gisik Cemandi. Dia melihat sejawatnya yang datang mengenakan pakaian tradisional. Berkebaya lengkap dengan jarit. Suwandi pun memulai candanya.

Sejak pukul 07.00 warga berkumpul di Balai Dusun Gebang. Mereka mengenakan kostum yang beraneka ragam. Mulai kostum daur ulang yang dipakai ibu-ibu sampai pakaian kebesaran penari reog oleh bapak-bapak. Sementara itu, para pemain musik patrol memakai batik beserta udeng.

Dalam acara tersebut, terdapat tumpeng raksasa yang berisi hasil pertanian berupa sayuran. Antara lain, terong, wortel, jagung, dan sawi. Selain itu, buah-buahan turut memperkaya hasil alam Desa Gisik Cemandi.

Di antaranya, semangka dan blewah. Gunungan tumpeng dibentuk layaknya rumah. Pelaksanaan sedekah bumi bertema Sandang, Pangan, dan Papan.

Kepala Desa Gisik Cemandi Supriyadi mengatakan, sandang yang semakin baik terlihat dari keragaman kostum masyarakat. Papan diibaratkan gunungan yang berbentuk rumah. Padi, sayuran, dan buah-buahan yang menghiasi tumpeng menjadi perlambang pangan.

“Di sini setiap tahun ruwah desa dua kali. Satu kali petik laut. Satu kali lagi sedekah bumi dari hasil pertanian,” ungkapnya seperti dilaporkan jawapos.com. Kekayaan alam Desa Gisik Cemandi ada dua. Yakni, hasil ikan dari Dusun Gisik Cemandi dan areal persawahan di Dusun Gebang.

Desa Gisik termasuk dalam program Desa Melangkah, yang sudah memasuki tahun kedua. Desa Melangkah adalah program pemberdayaan masyarakat desa yang digagas Jawa Pos dan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).

Tahun 2017 ada 154 desa dari 12 kecamatan di seluruh wilayah Kabupaten Sidoarjo yang ikut berpartisipasi. Pada Desa Melangkah 2016, yang bergabung baru 66 desa dari 10 kecamatan. Desa Melangkah 2017 resmi di-launching di Pendapa Delta Wibawa oleh Bupati Saiful Ilah.

Tahun ini banyak perbedaan dari pelaksanaan Desa Melangkah sebelumnya. Salah satunya, penekanan pelatihan pembentukan badan usaha milik desa (BUMDes) yang semakin masif. BUMDes di desa-desa yang bergabung ke dalam program Desa Melangkah ditargetkan semakin banyak. Selain itu, pengembangan kapasitas penyuluhan bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Harapannya, muncul kemandirian ekonomi desa melalui UMKM.

Namun program Desa Melangkah sama sekali tidak menghilangkan budaya lokal, bahkan memperkuat dan menjadikannya sebagai daya tarik / keunikan sebuah daerah / desa. Seperti yang dilakukan warga Desa Gisik saat melakukan sedekah bumi. (jpg)