Saatnya Daerah Beri Perhatian Kesenian

foto
Sekdaprov Jatim saat membuka Festival Karya Tari Jatim. Foto: Humas Pemprov Jatim.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur meminta pemerintah kabupaten/kota agar memperhatikan pengembangan kesenian.

Permintaan tersebut disampaikan melalui Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Dr H Akhmad Sukardi MM saat membuka Festival Karya Tari Jatim, di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jatim Jl Gentengkali 85 Surabaya, Kamis (18/5) malam.

Menurutnya, Jatim memiliki kekayaan seni budaya yang tinggi. Ada banyak ragam etnis dan adat istiadat, seperti Jawa, Madura, dan Mataraman. Produk seni budaya tersebut sebagai hasil dari kreativitas kearifan lokal yang dikemas secara artistik dan memberikan spirit tersendiri bagi para seniman.

”Keanekaragaman seni budaya yang mempesona dan mengagumkan merupakan aset daerah yang perlu dikembangkan dan dipromosikan agar kedepannya dapat menjadi kekuatan ekonomi daerah yang handal.” katanya.

Untuk mengembangkan semua itu, diperlukan sinergi program antara pemprov dengan pemkab/kota, dan juga dengan stakeholder lainnya, bisa berupa gelar seni atau festival seperti ini.

Melalui festival karya tari, diharapkan bisa mendorong para pelaku seni untuk terus berinovasi mencipta dan mengembangkan karya-karyanya. Karya tersebut berupa produk seni kreatif yang diterima dan diminati oleh masyarakat luas. Sasaran akhirnya adalah meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara untuk datang ke Jatim.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim Dr H Jarianto MSi mengatakan, festival tari yang dilaksanakan rutin setiap tahun ini untuk meningkatkan produktfitas, kreativitas, kualitas, dan kuantitas seniman di Jatim.

Melalui kegiatan ini, selain meningkatkan jalinan komunikasi, kerjasama, serta tukar pengalaman antar sesama pelaku seni, juga mempromosikan dan menyebarluaskan produk karya seni daerah, khususnya seni tari garapan baru bernuansa tradisi daerah kabupaten kota di Jatim.

Festival Karya Tari 2017 yang digelar 18–20 Mei dan diikuti 30 Kabupaten/Kota se Jatim ini merupakan tari garapan baru, yang berpijak pada seni tradisi daerah dengan tema/ sumber gagasan kreativitas tari pada proses rangkaian adat masyarakat daerah berbasis tari kerakyatan, dan belum pernah ditampilkan.

Bertindak sebagai pengamat juri Drs Sultiyo Tirtokusumo (Jakarta), Deasy Lina (Semarang) dan Sabar (STKW). Nantinya selain mendapat piagam, dan uang pembinaan, tiga penyaji terbaik akan dikirim mengikuti kompetisi/ parade tari nasional di Taman Mini Indonesia Indah pada Agustus mendatang. Dalam kesempatan itu dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten/ Kota se Jatim, pengamat karya tari, seniman dan budayawan. (sak)

Kirab Sedekah Bumi Sebagai Wujud Syukur

foto
Gunungan sayur mayur mulai dikirab keliling desa. Foto: Malangtoday.net.

Mewujudkan rasa syukur atas hasil bumi, warga Kelurahan Temas, Kota Batu menggelar kirab sedekah hasil bumi. Gunungan palawija diarak mengelilingi desa Kelurahan Temas. Panitia acara Festival Kampung Tani Temas, Ika Dian Anggraeni mengatakan kirab sedekah hasil bumi dimeriahkan 11 RW se-Kelurahan Temas.

“Kirab menyuguhkan arakan gunungan palawija, arakan memedi sawah, pawai topi caping petani dan rantang kiriman dan pawai sandukan, sebuah tarian tradisional,” paparnya seperti dikutip Malangtoday.net, pekan lalu.

Setelah diarak keliling desa, hasil sedekah bumi dihantarkan di tengah lapangan luas, areal pertanian Kelurahan Temas. Di lapangan tersebut, dilangsungkan prosesi seserahan sedekah hasil bumi secara simbolis kepada calon walikota terpilih, Dewanti Rumpoko.

“Seserahan diwakili oleh lembaga adat temas sebagai wujud syukur atas kesuburan tanah dan hasil bumi yang melimpah,” sambungnya.

Rangkaian acara yang paling ditunggu warga ialah, Bancakan Kembul Rantang yaitu acara makan bareng di tengah sawah dari bekal makanan yang dibawa di rantang oleh masing-masing warga.

Hal ini merupakan gambaran keseharian warga petani. Mengirim makanan dalam wadah rantang yang kemudian dilahap bareng sekeluarga entah di saung ataupun di tengah sawah.

“Hal ini paling ditunggu-tunggu karena keharmonisan dan kekompakan antar warga Temas banyak terjalin di momen ini,” tandasnya.

Gelaran acara yang dilabeli Festival Kampung Tani Temas #4 juga dimeriahkan oleh stan pameran hasil olahan pangan organik dari Dinas Ketahanan Pangan, stan daur ulang sampah oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Belife Organic dan stan masyarakat desa lain. (ist)

Tayub Meriahkan Tradisi Sedekah Bumi

foto
Tradisi sedekah bumi kerap diisi hiburan seni tradisional tayub. Foto: RakyatIndependen.com.

Masih banyak desa atau daerah di Jawa Timur yang menjaga tradisi dan adat istiadat warisan nenek moyang. Salah satu desa yang masih menjaga hal tersebut adalah Desa Pancur, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa timur. Hal itu, bisa dilihat dengan masih dilaksanakannya sedekah bumi dengan acara syukuran dan digelarnya langen tayub, Jumat (12/5).

Syukuran dengan menggelar selamatan atau tumpengan di halaman Sendang Panji yang berada di Brang Wetan Desa Pancur, dihadiri kepala desa Pancur berikut seluruh para perangkat desa, BPD, LPMD, Ketua RT, RW, tokoh masyarakat dan warga desa.

Menurut Kepala Desa Pancur Lulus Pujiono sedekah bumi atau yang biasa disebut manganan itu merupakan wujud syukur warga atas nikmat rejeki berupa penen yang melimpah di tahun ini.

“Sedekah bumi merupakan wujud syukur warga Desa Pancur kepada Allah SWT, atas rejeki berupa panen yang melimpah tahun ini. Sekaligus, untuk memelihara tradisi dan adat istiadat dari nenek moyang yang telah diwariskan kepada kita semua,” tegas Lulus Pujiono seperti dikutip RakyatIndependen.com.

Usai selamatan, siang hingg sore harinya dilaksanakan pagelaran tayub Bojonegoro yang digelar di halaman rumah kepala desa. Dalam gelar seni tayub tersebut tampil para waranggana yang semuanya berasal dari Bojonegoro, diiringi karawitan Wahyu Taruno Budoyo dan penata beksan Ki Gentho.

Warga berbondong-bondong ke lokasi pagelaran tayub, baik yang tua, muda hingga anak-anak, tumplek blek di acara pagelaran tayub dalam acara sedekah bumi Desa Pancur tersebut. (ist)

Tradisi Lombe, Karapan Kerbau di Pulau Kangean

foto
Tradisi Lombe adalah lomba karapan kerbau di Pulau Kangean. Foto: Surabayaonline.co.

Beragam budaya di Indonesia memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. arapan sapi di Pulau madura sudah dikenal luas dan popularitasnya tak perlu dipertanyakan lagi.

Tetapi ada tradisi Karapan Kerbau yang biasa disebut ‘Lombe’ hanya ada di Pulau Kangean, sebuah pulau yang berada di ujung timur Pulau Madura.

Kepulauan Kangean adalah gugusan pulau yang merupakan bagian paling timur di Pulau Madura, Laut Jawa. Kepulauan ini terdiri dari 60 pulau, dengan luas wilayah 487 km2, pulau besarnya salah satunya adalah Pulau Kangean (188 km2).

Tradisi Lombe seperti ditulis InspirasiBangsa.com, adalah sepasang kerbau diadu kecepatannya dengan sepasang kerbau lainnya tanpa joki. Tidak seperti karapan sapi, pasangan kerbau itu digiring oleh kuda-kuda yang masing-masing dinaiki joki.

Fungsi joki kuda untuk menggertak kerbau-kerbau itu sambil memukuli dari arah samping kanan kiri, agar pasangan kerbau melaju lebih cepat sampai finish.

Tradisi khas ini sampai kini masih bertahan dan dilakukan secara turun temurun di Kangean. Tradisi Lombe dilakukan setelah menanam padi yang kemudian berangsur-angsur dilakukan hingga menjelang panen.

Ketika berlangsung pertunjukan ini, para pengunjung juga ikut berebut untuk memukul kerbau yang lari kencang di lapangan sepanjang jalan lapang. Biasanya menggunakan sepanjang jalan desa, tempat karapan atau lomba itu berlangsung.

Alat pukulnya dari kayu dengan berbagai ukuran. Bahkan, para pengunjung ikut mengejar kerbau untuk bisa memukul berulang-ulang. Dari situlah fungsi joki kuda juga untuk menghalang-halangi penonton agar tidak banyak memukuli kerbau yang dilepas.

Menurut keyakinan masyarakat setempat, setiap kali seseorang dapat memukul kerbau yang sedang berlari itu, hanya sebagai diniatkan untuk memukul dan mengusir roh halus yang disimbolkan sebagai roh jahat yang bergentayangan menyusup atau menyerupai binatang.

Sebab di dalam kerbau disimbolkan terdapat sejumlah penyakit dan mara bahaya yang bisa mengganggu keselamatan dan ketentraman warga, khususnya dalam pertumbuhan hasil pertanian. (ist)

Raja se-Nusantara Ikut Diklat Pancasila

foto
Ketua MK dan pengurus FSKN dan perwakilan Raja dan Kesultanan se-Nusantara. Foto: Makassar.tribunnews.com.

Raja-raja se-Nusantara mengikuti kegiatan Sosialisasi Pemahaman Hak Konstitusional Warga Negara bagi Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) bertempat di Pusdiklat Mahkamah Konstitusi RI, Cisarua, Bogor, pekan lalu.

Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat dalam sambutannya mengharapkan pihak kerajaan melalui FSKN dapat menjadi panutan terhadap peningkatan pemahaman, kesadaraan dan ketaatan terhadap nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.

Seperti dilaporkan Tribun-Timur.com, hadir kurang lebih 75 perwakilan dari Keraton, Kesultanan, Kesepuhan seluruh Nusantara yang sengaja diundang khusus yang nantinya akan bersama-sama merumuskan sebuah rekomendasi mengenai hak konstitusional keraton se-Nusantara bagi pemerintah.

Sosialisasi ini dikemas dalam bentuk ceramah dan studi kasus menghadirkan sejumlah narasumber antara lain pakar hukum Mahfud MD, Yudi Latif, Susi Dwi Hariyanti, Hesti Armiwulan, dan mantan Sekjen MK Janedjri M Gaffar serta Laksamana Yani Antariksa.

Selama empat itu, para raja, pemangku adat dan pengurus keraton/kerajaan ini akan memperoleh materi dan berdiskusi mencakup reaktualisasi implementasi Pancasila, konstitusi dan konstitusionalisme, penyelenggaraan negara menurut UU, hak konstitusional dan HAM, dan Mahkamah Konstitusi dalam Sistem Ketatanegaraan.

Kerajaan ataupun kesultanan yang hadir meliputi Kerajaan-kerajaan Sumatera yaitu Kerajaan Karang, kedatuan lampung, kesultanan serdang, Kesultanan Jambi, Kesulatan Skala brak, Kesultanan Deli, dan Kerajaan Jambu Lipo. Kesultanan Palembang darussalam

Kerajaan yang berada di pulau Jawa sendiri yakni Puro Pakualaman Jogjakarta, Kesultanan Kesepuhan Cirebon, Masyarakat Adat Bandung, Masyarakat Adat Pasundan, Masyarakat adat Cirebon, Keraton Sumedang Larang, Kesultanan Sumenep.

Selain itu juga kerajaan lainnya seperti Kedatuan Pejanggik Lombok (NTB), Kerajaan Lanrantuka Flores (NTT), Kerajaan Tetnai (NTT), Kerajaan Kupang (NTT), Kerajaan Muna (Sultra), Kerajaan Kalisusu (Sultra), Kerajaan Polaeng (Sulteng), Kerajaan Buton, Masyarakat Adat Bajo, Kerajaan Moro Nene (Sulteng), Kerajaan Kabena (Sultra).

Juga ada Kesultanan Ternate (Maluku), Kesultanan Jailolo (Maluku), Kesultanan Jailolo (Maluku), Kerajaan Matan Tanjung pura (Kalimantan), Kerajaan Cantung (Kalsel), Kerajaan Bulungan (Kaltara), Kesultanan Kutai Kartanegara, Kesultanan Paser, Kesultanan Sekar Sorong Papua.

Kerajaan di Sulawesi Selatan sendiri menjadi peserta terbanyak. Nampak hadir Kesultanan Gowa I Maddusila Daeng Manyonri Karaeng Katangka Sultan Aluddin II, Raja Gowa ke-37 bersama Perdana Menterinya Andi Bau Malik Barammasse, Hj Andi Yulianti.

Selanjutnya Kedatuan Luwu diwakili Opu Cenning dan Andi Canna, Dewan Adat Karaeng Galesong Aminuddin Salle, Kerajaan Enrekang Andi Ibrahim, Kedatuan Sidenreng Firdaus Dg Sirua, Kerajaan Cinnong Andi Johar, Kerajaan Balusu Toraja Susana Seli Matandung, Kerajaan Garasingkang, dan Kerajaan Suppa diwakili Nur Bau Massepe.

Sesi penutupan para Yang Mulia, dan pimpinan kerajaan, kesultanan dan kedatuan dan dewan adat ini dibagi kedalam beberapa komisi yang akan bertugas memberi rekomendasi kepada MK terkait masalah-masalah terkini kaitannya dengan adat istiadat, budaya serta masalah sengketa antara keraton dan pemerintah daerah.

Asian African Carnival
Usai mengikuti diklat di MK mereka menghadiri acara Asian African Carnival 2017 di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu (14/5). Selain raja-raja se-Nusantara, gelaran untuk memperingati 62 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) ini juga dihadiri delegasi dari 20 negara sahabat.

Para raja adalah peserta Musyawarah Agung Keraton 2017 yang akan berlangsung di Kota Cirebon. Mereka sengaja hadir untuk memeriahkan karnaval yang mengusung semangat persahabatan itu. Raja-raja se-Nusantara bukan hanya hadir menyaksikan karnaval, tapi turut ambil bagian.

Seperti, Kerajaan Gowa Sulawesi Selatan, Kesultanan Bulungan Kalimantan Utara, Kesultanan Kasepuhan Cirebon, dan Kesultanan Buton Sulawesi Tenggara, menampilkan tarian dan pakaian adat mereka.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Kenny Dewi Kaniasari mengatakan acara ini bertajuk “Celebrating Culture, Celebrating Differences” alias Merayakan Budaya, Merayakan Perbedaan. Tema tersebut memiliki makna perbedaan adalah pemersatu, seperti Bhineka Tunggal Ika.

“Perbedaan budaya dan adat istiadat tidaklah menjadi hal penting untuk diperdebatkan. Justru sebaliknya, perbedaan tersebut harus menjadikan kita bersatu, sehingga keberagaman ini akan menjadi sesuatu yang mempererat hubungan antarnegara,” kata Kenny.

Sebelumnya, FSKN menganugerahi Ridwan Kamil, Bupati Bandung sebagai Tokoh Budaya Nusantara atas jasa dan dedikasinya terhadap bangsa dan negara dalam memajukan kebudayaan sebagai Nusantara. (ist)

Nyadran : Antara Jagad Cilik dan Alam Kelanggengan

foto
Nyadran, tradisi mendoakan leluhur dan nyekar diikuti membersihkan kuburan. Foto: Maulinniam.files.wordpress.com.

Kompleks pemakaman yang biasanya singup serta lengang, hari-hari ini sedikit ramai. Setiap memasuki bulan Ruwah, orang-orang tampak keluar masuk kawasan yang dianggap wingit tersebut untuk nyadran.

Mereka mendoakan arwah leluhur dan nyekar diikuti dengan membersihkan kuburan dari gulma. Sebagian besar masyarakat yang diasuh oleh kebudayaan Jawa, masih nguri-uri tradisi nyadran yang dikerjakan setahun sekali itu.

Kendati hidup di zaman internet, manusia Jawa tetap menjalankannya demi menjaga ingatan sejarah, merawat silsilah, dan mengenang segepok jasa para pendahulu.

Andre Moller (2005) yang memotret aktivitas Ramadhan di Jawa juga mengungkapkan bahwa tujuan mengunjungi kuburan hingga Idul Fitri tiba berdasarkan keinginan untuk dimaafkan anggota keluarga yang telah tiada.

Kultur Agraris
Bakdi Soemanto dalam kolom Glenak Glenik di Koran Kedaultan Rakyat (8/8/2012), sesorah perihal kegiatan nyadran yang terus dilestarikan. Lewat tokoh Mansieur Rerasan, guru besar UGM tersebut menceritakan, semenjak masih kecil, menjelang bulan Siyam atau Puasa, dirinya bersama keluarga besar trah Tinalan dari garis Kasunanan Surakarta acap menjalankan ritual nyadran.

Menurut sastrawan yang lahir dan besar di kampung Kratonan Solo ini, nyadran memiliki makna penting bagi keluarga besar yang menyambangi makam tempat para leluhur dikebumikan.

Mereka, para anggota keluarga besar itu, berjongkok atau duduk bersila di depan makam setiap leluhur untuk mendoakan agar yang sudah wafat diampuni oleh Gusti Allah.

Nyadran memang tumbuh subur dalam kultur agraris. Kepercayaan lokal yang diusung oleh pendukung kebudayaan pertanian ini menekankan pentingnya relasi tiga alamat: masyarakat manusia, ‘masyarakat’ kakek moyang yang telah tiada, dan ‘masyarakat’ roh-roh abadi.

Dalam kosmologi Jawa, hidup itu suatu kesatuan antara orang-orang yang masih hidup di jagad cilik, leluhur yang sudah tutup buku kehidupan, serta alam kelanggengan.

Jangan terheran walau kuburan hanya berbentuk gundukan tanah dan ditumpangi batu nisan namun dinilai sakral oleh manusia Jawa.

Saking sakralnya akan keberadaan kuburan, dalam koran Darmo Kondo permulaan abad XX yang ditemukan penulis kala riset di Perpustakaan Nasional Jakarta, memuat sederet sinonim tentangnya: kramatan, makaman, hastana, pasarean, danjaratan.

Secuil fakta ini membuktikan, masyarakat tidak sembarangan dalam memandang kuburan, alih-alih merusaknya lantaran dituding sumber klenik karena diyakini bakal kuwalat.

Bahkan, agar tampil indah (menyingkirkan aroma wingit dan keruh), sekeliling pagar tembok area makam lumrah ditanami bunga-bunga nan harum.

Ambillah contoh, alamanda, mawar, melati, dan seruni. Guna menjamin kebersihan dan keamanan permakaman, diangkatlah petugas juru kunci dengan bayaran yang tak seberapa meski saban hari berperang melawan senyap.

Tak jarang melalui juru kunci ini pula, kuburan menjelma menjadi monumen yang menyimpan kepingan riwayat sejarah sekaligus penanda peradaban. Seperti pengalaman sejarawan Universitas Indonesia, Kasijanto Sastrodinomo (2015) tatkala nyadran ke makam tua di Desa Ngarengan, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Di kuburan lawas itu, menurut penuturan juru kunci, terbaring jasad Pak Sep, Pak Hop, dan Pak Siner, yang tutup usia sekian tahun silam.

Lantaran penasaran akan secuil infomasi tersebut, Kasijanto ‘menodong’ keterangan dari simbahnya yang berumur 83 tahun. Diketahui, ketiga almarhum yang sare di kuburan ini merupakan priyayi alus yang terpandang di desanya.

Menenun Kisah
‘Sep’ ialah perubahan bunyi dari chef, kata Prancis yang diserap Belanda lantas dilempar ke negeri koloni, lengkapnya stationschef ‘kepala stasiun’. Sedangkan ‘hop’ adalah pribumisasi hoofd; lengkapnya hoofdonderwijzer atau hoofdschool ‘kepala sekolah’.

Dan ‘siner’ dipenggal dari opziener ‘pengawas’. Jelas, sistem kolonial mengakrabkan kata-kata asing ini sampai ke pelosok desa.

Demikianlah, tradisi nyadran sejatinya bukan sekadar kegiatan budaya yang mengingatkan kita terhadap kakek moyang, tapi juga menenun kisah sejarah lokal (kampung halaman) yang terserak.

Sebelum Ramadan dan Lebaran tiba, manusia Jawa menyempatkan diri nyekar ke makam leluhur sebetulnya jalan kembali ke ‘rumah sejarah’ setelah terjebak dalam rutinitas. Kita diingatkan supaya tidak lupa pada akar, siapa yang melahirkan kita, dan dimana kita dibesarkan.

(Artikel ini ditulis Heri Priyatmoko MA, dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta dan dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 9 Mei 2017/ist).

Pameran 2.000 Keris di Makam Bung Karno Blitar

foto
Pameran keris bertajuk ‘Kebangkitan Keris Bumi Bung Karno untuk Pemersatu Nusantara’.Foto: Detik.com.

Sekitar 2.000 keris dari berbagai daerah di Indonesia dipajang dalam pameran di halaman parkir Makam Bung Karno Kota Blitar. Bertajuk ‘Kebangkitan Keris Bumi Bung Karno untuk Pemersatu Nusantara’, diharapkan bisa mengembalikan semangat persatuan dan kebersamaan khususnya, bagi komunitas penggemar keris se Indonesia.

“Harapan saya pameran keris yang menjadi pusaka nusantara ini dapat menjadikan pemersatu bangsa Indonesia. Saya berharap bangsa Indonesia tidak dipecah belah oleh perbedaan, namun disatukan oleh perbedaan dan kebudayaan salah satunya keris ini,” kata Wali Kota Blitar, Moch Samanhudi Anwar dalam sambutan pembukaan, Sabtu (13/5).

Keris, menurut Samanhudi, sebagai bentuk peradaban tingginya budaya Indonesia yang diakui Unesco sebagai warisan budaya dunia. Untuk itu perlu diupayakan, hasil karya seni adiluhung ini juga diturunkan ke generasi muda kita.

“Saya melihat yang masih mempunyai keris sekarang itu merupakan keturunan atau warisan dari orangtuanya. Nah sekarang ini saatnya kita juga mulai mengenalkan keris pada generasi muda kita biar karya budaya kearifan lokal ini tetap terjaga eksistensinya,” tambah Samanhudi seperti dikutip detik.com.

Sementara Ketua Panitia Pameran Keris, Eko Sumarno mengatakan, pameran ini digelar selama dua hari, yakni mulai 12-14 Mei. Ada 75 kolektor yang datang untuk memamerkan dan menjual keris koleksinya.

“Kalau biasanya ada even di Kota Blitar kita ikut, tapi kalau kali ini memang mengadakan even khusus bagi kolektor keris,” kata Eko.

Seorang pemerhati dan pecinta pusaka dari Jember, Cornelia Karundeng mengaku sengaja datang ke Kota Blitar, khusus untuk menghadiri acara ini.

“Awalnya saya berniat melestarikan budaya biar tidak punah ya, tapi lama kelamaan saya makin cinta karena keris ini mempunyai filosofi yang sangat tinggi,” ungkap pengusaha etnis Thionghoa ini.

Pria yang mengaku mengoleksi ribuan keris di setiap era ini menyatakan jika sampai saat ini dia tidak pernah berhenti mempelajari keris dari materi dan seni.

Ditanya apakah dia termasuk orang yang percaya kekuatan yang terkandung di benda pusaka tersebut. “Saya hanya belajar materi dan artistiknya saja, kalau kemudian dapat yang lainnya itu berarti bonus atas kecintaan saya,” kata Cornelius.

Dari informasi beberapa kolektor yang hadir, dalam dunia keris tidak dikenal istilah jual beli. Mereka beranggapan, jika ada orang yang ingin memiliki keris koleksinya, maka orang tersebut hanya memberi mahar kepemilikan.

“Keris itu seperti lukisan atau karya seni lainnya. Tidak ada standart baku nilai nominal, namun lebih pada menyukai. Jadi untuk nilai mahar beragam, mulai ratusan ribu sampai ratusan juta,” jelas salah satu peserta pameran, Rofiq Kamarogan.

Animo pengunjung dalam pameran keris ini sangat positif. Tidak sedikit dari mereka lalu pulang membawa keris untuk menambah koleksinya. (dtc)

Seni Tradisi Jaga Keberagaman Bangsa

foto
Seni tradisi bisa menjadi perekat keberagaman bangsa. Foto: Humas Pemprov Jatim.

Indonesia diterpa isu SARA dan keberagaman bangsa, membuat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur menggelar workshop seni tradisi dengan seluruh tokoh seniman di 14 kabupaten dan kota di zona Mataraman.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim, Jarianto mengaku acara ini digelar setelah melihat kasak kusuk kondisi bangsa yang mulai ada perpecahan antar saudara dan teman karena perbedaan prinsip.

Untuk itu pihaknya selaku pengembangan tugas dalam bidang kebudayaan, berusaha merapatkan barisan untuk menyamakan persepsi tentang pentingnya menjaga keutuhan NKRI.

“Kita tidak memungkiri kondisi bangsa di tengah kasak kusuk yang tidak baik dan gembar gembor NKRI harga mati. Ini perlu ada penggalangan bagaimana menyadarkan di kalangan seniman,” kata Jarianto kepada wartawan di Hotel Insumo Kota Kediri, pekan lalu seperti dikutip Detik.com.

Dia mengingatkan para seniman agar rukun dan mengembangkan kebudayaan dengan rasa idealisme yang tinggi dan menanamkan nilai budaya secara umum serta menyeluruh. “Sehingga budaya kita tidak mudah terjajah dengan budaya lain,” imbuh Jarianto.

Sementara Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf yang membuka acara menjelaskan ada beberapa hal seni budaya yang dikembangkan para seniman.

Menurutnya budaya dan seni tradisional saat ini berada di tengah keanekaragaman. Dan seni budaya itu memiliki nilai nilai yang terkandung di dalamnya sebuah tujuan yang bisa diwariskan generasi muda.

“Untuk itu bagaimana menyajikan kesenian ini tidak hanya menjadi tontonan, namun juga harus menjadi tuntunan. Dan kita akan revitalisasi agar nantinya dibubuhi ciri khas dari masyarakat,” katanya.

Wagub Jatim mengatakan seni tradisi sebagai modal pembangunan di Jawa Timur. Dan ada beberapa upaya pemerintah provinsi untuk menjadikan seni tradisi ini mampu dijadikan modal pembangunan Jawa Timur. Di antaranya mengajak publik mendalami dan menikmati seni tradisi kita.

“Kita juga berpartisipasi untuk mengenalkan produk seniman kita dalam even nasional maupun internasional, mengkampayekan untuk mencintai, berkarya dan berinovasi seni tradisi. Berusaha mempraktekkan tradisi dalam kehidupan sehari-hari dan kompetisi,” tandasnya.

Sementara dalam workshop seni tradisi ini dihadiri seluruh tokoh seniman dari 14 kabupaten kota yang berada di wilayah mataraman. Dalam rakor ini hadir juga Sekda Kota Kediri Budwi Sunu dan Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan olahraga Kota Kediri, Nur Muhyar. (dtc)

Situs Seperti Ganesha di Wajak Bakal Diteliti

foto
Situs purbakala di Wajak Malang belum mendapat perhatian maksimal. Foto: Surya Malang.

Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan, Mojokerto akan meninjau lokasi situs purbakala yang tidak terawat di Dusun Nanasan, Desa Ngawonggo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang.

Situs diduga bekas kolam pemandian itu mulai ramai diperbincangkan di media sosial setelah Muhammad Nuraini (26) mengunggah foto-foto situs ke grup Facebook ASLI Malang beberapa waktu lalu.

“Kami akan tinjau bersama pihak kepolisian sekitar pukul 11.00 WIB nanti,” kata perwakilan BPCB Trowulan Hariyoto kepada Surya Malang.

Hariyoto yang juga merupakan juru kunci Candi Songgoriti akan melaporkan ke BPCB Trowulan di Mojokerto terkait hasil peninjauan lokasi.

Sebelumnya ia sempat meninjau temuan batu megalit peninggalam zaman megalitikum di tengah proyek jalan tol Pandaan–Malang beberapa waktu lalu.

Muhammad Nuraini sebelumnya menunjukkan foto-fotonya yang sedang sibuk membersihkan rumput yang menutupi situs purbakala di Dusun Nanasan, Desa Ngawonggo.

Warga Dusun Karanganya, Desa Karanganyar, Poncokusumo, itu mengatakan warga sudah lama tahu situs tersebut, tapi tak ada yang memperhatikannya sehingga kondisinya tidak terawat.

Dia sempat tidak percaya dan menganggap bercanda informasi adanya situs purbakala. Dia baru membuktikan informasi tersebut beberapa hari kemudian.

Ternyata benar. Ketika berada di lokasi, banyak rerumputan yang menutupi situs. Somad bersama dua orang temannya berinisiatif membersihkan situs itu dari rerumputan. “Kondisinya tidak terawat. Jadi saya bersihkan. Kebetulan saya suka barang antik,” ungkap Somad.

Somad melihat ada pahatan dan ukiran di situs itu. Juga ada aliran air di situs itu. Situs itu berbentuk seperti kolam setinggi sekitar 1 meter dari tanah dan lebar 8 meter. Panjangnya yang ke arah belakang langsung menuju ke sungai. Jaraknya sekitar 10 meter dari sungai. “Ada yang berbentuk seperti Ganesha,” tambah dia.

Ada beberapa situs hancur akibat tetesan air. Di lahan tersebut ada tiga situs, semuanya saling terhubung. Somad berharap ada pihak yang merawat dan menjaga situ itu karena merupakan bentuk kelestarian peninggalan nenek moyang. (ist)

Salut, Mahasiswa UB Gagas Pekan Suri Jawa

foto
Pekan Suri Jawa oleh mahasiswa UB patut diapresiasi. Foto: Timesindonesia.co.id.

Sekelompok mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) menginisiasi sebuah Program Kreativitas Mahasiswa di bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-M). Program tersebut bertajuk gerakan ‘Pendidikan Kebudayaan Sebagai Upaya Rekonstruksi Identitas Budaya Jawa’ atau disingkat Pekan Suri Budaya (PSB)’.

Program ini seperti dilaporkan situs TimesIndonesia.co.id, berawal dari keprihatinan Septa Muhammad Irvan, Ersa Rizky, Ainun Fitriah, dan Rizqi Gilang melihat semakin pudarnya rasa kepemilikan akan tradisi Jawa pada generasi muda saat ini.

Program yang telah diselenggarakan di Desa Gebang, Kecamatan Pakel, Tulungagung, Jawa Timur ini mendapatkan respon antusias positif, baik dari peserta maupun pengelola desa setempat. Tingginya antusiasme masyarakat ini dilatarbelakangi pula oleh nihilnya program pendidikan di Tulungagung yang secara intensif bertujuan untuk melestarikan kebudayaan.

Ketua program PSB Septa Muhammad Irvan menyatakan bahwa program ini bertujuan untuk membangun kembali rasa cinta akan kebudayaan Jawa pada generasi muda di Tulungagung.

“Tujuan jangka panjangnya adalah agar anak muda di Jawa, khususnya di Tulungagung, bisa semakin memahami esensi dasar dari suatu kebudayaan sehingga sejauh apapun mereka merantau, tidak akan kehilangan identitas aslinya sebagai Orang Jawa,” tambahnya disela kegiatan.

Program yang dilaksanakan setiap Sabtu dan Minggu dan telah berjalan selama empat minggu ini diikuti oleh 21 siswa yang saat ini duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar.

Bekerja sama dengan karang taruna setempat dan kelompok Among Mitro selaku kelompok karawitan dan campursari di Tulungagung, program ini berfokus pada tiga kegiatan, yakni pendidikan berbahasa Jawa Halus (Kromo Inggil), aksara dan kesenian Jawa.

Agar lebih menarik, jelas Septa, program ini tidak menggunakan metode pengajaran konvensional. Melainkan mengajak para peserta untuk mendapatkan pengalaman langsung dalam kegiatan berbudaya itu sendiri.

Pendidikan berbahasa Kromo Inggil diajarkan melalui kegiatan bermain peran pasar-pasaran, penulisan aksara digabungkan dengan kegiatan membatik, serta bermain gamelan dan menari sebagai kegiatan pendidikan kesenian Jawa.

“Sehingga anak-anak akan semakin mudah menyerap materi yang diajarkan untuk selanjutnya dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari mereka,” jelas pemuda yang saat ini terdaftar sebagai mahasiswa jurusan Psikologi UB ini.

Dengan dibimbing seorang dosen Psikologi UB, Ika Adita Silviandari, program ini juga telah berhasil lolos pendanaan pada kompetisi bergengsi Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang setiap tahun rutin diselenggarakan oleh Kemenristek Dikti. (ist)