Situs Ngurawan Usianya Bisa 10 Ribu Tahun

foto
Situs purbakala di Dolopo Madiun. Foto: Antaranews.com.

Tim Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta melakukan kembali penggalian atau ekskavasi di Situs Ngurawan yang berada Dusun Ngrawan, Desa Dolopo, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, guna menyelidiki tinggalan budaya di lokasi tersebut.

Menurut Ketua Tim Ekskavasi Rita Istari di Madiun, ekskavasi kali ini melibatkan tim yang lebih besar, yakni 12 arkeolog. Ini merupakan pengembangan dari penelitian dan ekskavasi sebelumnya pada 2014 dan 2016. Meski demikian, pengembangan, penelitian, dan ekskavasi kali ini berbeda dengan tahun lalu karena ahlinya lebih banyak.

Kali ini para arkeolog tersebut membentuk dua tim. Dari 12 arkeolog, sembilan ahli diantaranya fokus pada penggalian, sedangkan tiga lainnya fokus pada survei daerah.

Pada kegiatan survei, tim tidak hanya menginventarisasi temuan-temuan warga di Dusun Ngurawan, tetapi juga mendata temuan warga hingga ke desa-desa di sekitar Desa Dolopo. “Survei yang meluas tersebut disebabkan karena dari penggalian tahun lalu, kami mendapatkan banyak rekomendasi lokasi yang minta digali,” kata Rita istari seperti dikutip Republika.

Ia menjelaskan survei dan penggalian yang meluas tersebut juga mengacu dari hasil ekskavasi tahun lalu yang menyimpulkan bahwa Situs Ngurawan adalah bekas permukiman peradaban. Hal itu merujuk dari banyaknya temuan tembikar yang notabene merupakan peralatan rumah tangga. “Situs ini sangat istimewa. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menentukan bangunan apa ini. Tidak bisa instan,” kata Rita.

Seperti diketahui, penelitian dan penggalian di Situs Ngurawan dilakukan setelah warga sekitar sering menemukan benda-benda kuno yang diduga merupakan peninggalan kerajaan pada masa lalu, seperti umpak, yoni, tembikar kuno, ambang pintu, panil relief dan ‘jobong sumuran’.

Di wilayah tersebut juga terdapat arca nandi (lembu), arca Dewi Parwati, jaladuwara (saluran air), dan miniatur candi. Warga juga menemukan susunan batu bata yang duduga merupakan bagian dari struktur bangunan.

Pemkab Madiun sendiri sangat mendukung penelitian dan ekskavasi dari Balar Yogyakarta tersebut. Bahkan, pemkab serius dan mengembangkan Situs Ngurawan ke depannya sebagai objek wisata budaya dan sejarah di wilayah setempat.

Dua Periodisasi
Pada penggalian tersebut, tim ekskavasi langsung membuka tiga kotak galian sekaligus di area kedaton yang merupakan halaman rumah sebelah belakang milik Gatot Suhanto, warga setempat

Adapun kotak pertama dan kedua dibuat di sisi utara berjarak 5 meter dari galian tahun lalu. Dari penggalian sedalam 40 sentimeter dengan ukuran 4 x 2 meter itu, mulai ditemukan pecahan-pecahan benda kuno di dua kotak tersebut.

Tim ekskavasi mendapati pipisan batu berukuran 40×20 sentimeter. Kondisi alat penumbuk bumbu, rempah, dan dedaunan herbal di masa lalu itu masih utuh. Cekungan di bagian tengah menandakan pipisan itu sering dimanfaatkan untuk alas menggilas.

“Sesuai fungsinya, pipisan selalu berpasangan dengan gandik. Sebuah batang batu untuk menggilas. Dari ekskavasi sebelumnya, kami sudah menemukan pecahan gandik,” kata Rita seperti dilaporkan RadarSukabumi.com.

Temuan pipisan dan pecahan gandik itu melengkapi temuan temuan pecahan tembikar dari proses ekskavasi sebelumnya. Pipisan batu itu digunakan kalangan masyarakat biasa. Namun, kelas sosial (kasta) dari penduduk kuno yang bermukim di kawasan setempat belum dapat dipastikan. Sebab, temuan pecahan tembikar sejauh ini terbilang beragam.

Sebagian permukaan pecahan tembikar bertekstur sangat halus, sedangkan lainnya cenderung kasar. “Di masa lalu, jika barangnya halus, tentunya digunakan masyarakat berkasta tinggi. Begitu pula sebaliknya,” terangnya. Referensi lain menyebutkan, pipisan berasal dari zaman mesolitikum atau zaman batu tengah.

Masyarakat di masa prasejarah itu mengisi harinya dengan berburu atau mengumpulkan makanan. Di masa itu, sebagian masyarakatnya telah memiliki tempat tinggal dan bercocok tanam secara sederhana. Sebagian lagi masih menjalani hidup secara nomaden.

Namun, tempat tinggal yang dipilih umumnya di tepi pantai dan gua. Diperkirakan masa itu berlangsung sekitar 10 ribu tahun silam.Temuan dasar lantai berbahan batu boulder di kotak galian keenam tak kalah misterius. Ornamen batu alam itu dipecahpecah untuk menjadi dasaran lantai.

Sementara pada kotak galian pertama dan kedua, dasar lantai yang ditemukan berbahan batu bata kuno. Padahal, jarak antara kotak galian pertama dan kedua dengan kotak galian keenam hanya terpaut empat meter. Namun, ornamen dari kedua dasar lantai sangat berlainan. “Jika dilihat dari masanya, ornamen batu boulder lebih muda dari batu bata,” ungkapnya.

Dari temuan itu, dapat ditarik kesimpulan sementara bila bangunan besar di antara permukiman dibuat pada dua periodisasi. Sebab, suatu tradisi tidak bisa langsung terputus. Melainkan berlanjut dari satu masa ke masa selanjutnya.

Semula masyarakat menggunakan batu bata sebagai dasar lantai. Namun, seiring berkembangnya zaman, tradisi itu berganti dengan batu boulder. “Jadi, mereka tetap mempertahankan tradisi lama. Tidak ganti zaman langsung hilang begitu saja,” paparnya.

Bahkan, pada kotak galian di tahun sebelumnya yang berada di pojok barat juga ditemukan dasar lantai. Bukan menggunakan ornamen batu bata dan batu boulder, melainkan remukan batu bata yang dipadatkan. Kedalaman seluruh dasar lantai yang ditemukan dari tiga empat kotak galian berbeda, yakni hanya 140 sentimeter. “Nah, kalau lantai berbahan remukan batu bata ini jauh lebih tua lagi,” bebernya.

Sejauh ini, ekskavasi masih difokuskan pada bagian dalam bangunan Situs Kedaton Ngurawan. Itu terlihat dari hasil temuan berupa pecahan tembikar peralatan rumah tangga hingga ketiga dasar lantai yang berlainan bahan.

Diperkirakan, Situs Kedaton Ngurawan terbilang istimewa lantaran dikelilingi pagar keliling atau benteng. “Untuk bagian luarnya, masih belum kami teliti. Masih diperlukan survei ke lokasi lain untuk memastikan perlu tidaknya ekskavasi,” terangnya. (ist)

Makna Adiluhung Dibalik Tarian Tayub

foto
Filosofi tayub adalah tentang jati diri manusia. Foto: ist.

Anggapan bahwa tayub sebagai tarian mesum merupakan penilaian yang keliru. Sebab, tidak seluruh tayub identik dengan hal-hal yang negatif. Dalam tayub, ada kandungan nilai-nilai positif yang adiluhung. Selain itu, tayub juga menjadi simbol yang kaya makna tentang pemahaman kehidupan dan punya bobot filosofis tentang jati diri manusia.

Kesan tayub sebagai tarian mesum, seperti ditulis Suara Merdeka, muncul pada abad 19. Pada 1817, GG Rafles dari Inggris, dalam bukunya berjudul ‘History of Java’, menulis tayub sebagai tarian ronggeng mirip pelacuran terselubung. Kesan sama juga dituliskan oleh peneliti asal Belanda, G Geertz dalam bukunya ‘The Religion of Java’.

Tapi, menurut koreografer Tayub Wonogiren, S Poedjosiswoyo BA, orang Jawa akan protes bila kesan Rafles dan Gertz itu diterima secara utuh. Sebab, kata dia, kesan mesum yang diberikan pada tayub hakikatnya terbatas pada pandangan sepintas yang baru melihat kulitnya saja, tanpa mau mengenali isi maupun kandungan nilai filosofisnya.

Dalam buku ‘Bauwarna Adat Tata Cara Jawa’ karangan Drs R Harmanto Bratasiswara disebutkan, tayuban adalah tari yang dilakukan oleh wanita dan pria berpasang-pasangan. Keberadaan tayub berpangkal pada cerita kadewatan (para dewa-dewi), yaitu ketika dewa-dewi mataya (menari berjajar-jajar) dengan gerak yang guyub (serasi).

Menurut Poedjosiswoyo, berdasarkan sejarahnya, tayub lahir sebagai tarian rakyat pada abad 19. Waktu itu, Raja Kediri berkenan mengangkatnya ke dalam puri keraton dan membakukannya sebagai tari penyambutan tamu keraton. Betapa tayub memiliki kandungan nilai adiluhung, kiranya dapat disimak dari tulisan dalam buku ‘Gending dan Tembang’ yang diterbitkan Yayasan Paku Buwono X.

Dalam buku itu disebutkan, tayub telah dipakai untuk penobatan Prabu Suryowiseso sebagai Raja Jenggala, Jawa Timur pada abad 12. Keraton Jenggala kemudian kemudian membakukan tayub sebagai tari adat kerajaan, yang mewajibkan permaisuri raja menari ngigel (goyang) di pringgitan untuk menjemput kedatangan raja.

Nilai Agamis
Tayub juga diyakini memiliki kandungan nilai agamis. Hal itu terjadi pada abad 15, ketika tayub digunakan sebagai media syiar agama Islam di pesisir utara Jawa oleh tokoh agama Abdul Guyer Bilahi, yang selalu mengawali pagelaran ayub dengan dzikir untuk mengagungkan asma Allah.

Budaya kejawen penganut paham tasawuf menilai tayub kaya kandungan filosofis akan gambaran jati diri manusia lengkap dengan anasir keempat nafsunya.

Dalam tarian itu selalu ada penari pria yang menjadi tokoh sentral, sebagai visualisasi keberadaan mulhimah. Kemudian dilengkapi dengan empat penari pria pendamping, yang disebut sebagai pelarih, sebagai penggambaran anasir empat nafsu manusia, terdiri atas aluamah (hitam), amarah (merah), sufiah (kuning) dan mutmainah (putih).

Selain itu, pemeran penari tledhek wanita sebagai penggambaran dari cita-cita keselarasan hidup yang diidamkan manusia. ”Yang inti kesimpulannya, untuk meraih cita-cita, harus terlebih dahulu mampu mengendalikan anasir empat nafsu. Yang ini identik dengan pakem wayang lakon Harjuno Wiwoho-Dewi Suprobo,” kata Poedjosiswoyo. (ist)

Entas-Entas, Tradisi Upacara Kematian di Tengger

foto
Prosesi upacara kematian Entas-entas pada Suku Tengger. Foto: kkn62umm.blogspot.co.id.

Indonesia kaya akan keberagaman budaya, mulai dari tradisi pernikahan, kelahiran, hingga kematian. Salah satunya adalah tradisi Entas-entas milik masyarakat Tengger di Gunung Bromo Jawa Timur.

Tradisi ini merupakan upacara kematian, khususnya di Desa Tengger Ngadas, Poncokusumo. Jika ditelaah lebih lanjut, tradisi Entas-entas ini memiliki keterkaitan dengan budaya pada masa Megalitikum.

Entas-entas sendiri seperti ditulis Ngalam.co diartikan gambaran dari meluruhkan atau mengangkat derajat leluhur yang telah meninggal agar mendapatkan tempat yang lebih baik di alam arwah.

Di dalam tradisi ini, menurut sejarawan Blasius Suprapta, terdapat beberapa rangkaian urutan di dalamnya, yakni ngresik, mepek, mbeduduk, lukatan, dan bawahan. Saat pelaksanaan yang meninggal didatangkan kembali dengan bentuk boneka.

Boneka yang diberi nama boneka petra tersebut terbuat dari dedaunan dan bunga. Boneka ini selanjutnya disucikan oleh pemangku adat setempat. Sebelumnya juga dibuat kulak atau wadah bambu yang diisi dengan beras oleh keluarga yang bersangkutan.

Kulak tersebut sebagai lambang dari yang meninggal tersebut. Selanjutnya, keluarga mulai menyiapkan kain panjang untuk dibentangkan. Para keluarga dan kerabat berkumpul di bawahnya untuk mulai membakar boneka petra.

Dalam upacara Entas-entas, warga Tengger biasanya menggunakan sejumlah hewan ternak, seperti kambing, kerbau, atau lembu. Salah satu hewan yang kerap dipakai dalam upacara adat itu adalah kambing putih yang diyakini bisa berperan sebagai kendaraan untuk menuju alam arwah.

Makna Entas-entas
Rangkaian pelaksanaan Entas-entas ini memakan waktu yang panjang, bahkan bisa hingga tiga bulan. Biasanya dilaksanakan pada hari ke-1.000 atau minimal pada hari ke-44 setelah meninggalnya seseorang.

Oleh karena itu, Entas-entas masih boleh dilakukan selang beberapa hari setelah kematian. Sebab, kesanggupan keluarga juga menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan.

Tradisi ini bukan hanya sekedar upacara kematian biasa seperti di daerah-daerah lainnya. Di balik pelaksanannya, Entas-entas memiliki makna yakni mengembalikan kembali unsur-unsur penyusun tubuh manusia. Unsur-unsur tersebut ialah tanah, kayu, air, dan panas.

Makna yang diambil dari tanah, yaitu setiap ada manusia yang meninggal akan dikubur di dalam tanah. Selanjutnya adalah kayu. Sebab, untuk menandai lokasi orang meninggal menggunakan kayu yang ditancap bahkan ditanam sebagai nisan.

Lalu ada air yang digunakan untuk memandikan yang meninggal. Dengan kata lain sebagai pembersih. Juga sekaligus sebagai penghormatan kepada Dewa Baruna, dewa air. Terakhir ada panas. Untuk mengembalikan unsur yang satu ini caranya adalah dengan dibakar.

Boneka petra yang sudah dibuat tadi akan dibakar. Cara pengembalian unsur panas ini hampir sama dengan upacara Ngaben di Bali. Namun, bedanya adalah jika di Entas-entas hanya membakar boneka petranya saja. (ist)

Kisah Andong Sari Dibalik Tari ‘Parang Barong’

foto
Tari Parang Barong asal Bojonegoro. Foto: Infobudayaindonesia.com.

Festival Karya Tari se-Jawa Timur alias FKT adalah acara besar yang menampilkan tarian Jawa Timur. Tari-tarian akan dibawakan para penari pilihan. Acara Festival Karya Tari yang diikuti para penari dari Jawa Timur ini akan diselenggarakan di Surabaya 18 Mei mendatang.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro, siap menampilkan Tari “Parang Barong” dalam event tersebut. Seperti apa keunikan salah satu kesenian dari Bojonegoro ini?

“Bojonegoro dalam festival se-Jawa Timur di Surabaya, akan menampilkan tari Parang Barong karya koreografer guru SMPN 5 Regi dengan kawan-kawannya,” kata Kasi Budaya dan Kesenian Disbudpar Bojonegoro Yanto Munyuk, Rabu (3/5) seperti dilaporkan Antara.

Tari Parang Barong, katanya, akan dibawakan sembilan penari perempuan yang sudah menjalani latihan selama 2,5 bulan. Para penari yang terlibat itu merupakan hasil seleksi dari para penari yang ada di sejumlah sanggar tari di daerahnya.

Menurut dia, latihan Tari Parang Barong hanya tinggal penyempurnaan sehingga sudah siap tampil di Surabaya dalam FKT. “Sesuai ketentuan penyelenggara Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur itu waktunya tujuh menit,” katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan Tari Parang Barong mengadopsi kisah sejarah Ki Andong Sari di Kelurahan Ledokkulon, Kecamatan Kota. Di dalam kisah Ki Andong Sari dan Nyi Sari (Istrinya), sebagai keturunan keraton, menetap di Kelurahan Ledokkulon, Kecamatan Kota, karena sedang menyamar.

Nama Ki Andong Sari adalah samaran dari Tumenggung Aryo Mentaun, penguasa (bupati) Ngurawan Badander yang tengah sembunyi dari kejaran tentara Panembahan Cakraninngrat Madura. Karena Aryo Mentaun dinilai mbalelo, tidak mau menghadap ke Mataram.

Aryo Mentaun menyamar menjadi penari kentrung dan mengembara, tak kembali ke Ngurawan Badander. Pengembaraannya sampai di Lekok dan bertemu dengan gadis bernama Sari. Aryo Mentaun mengaku bernama Andong dan keduanya menikah.

Kepada istrinya Ki Andong Sari berpesan jangan mengenakan jarit dengan motif Parang Barong, tetapi kemudian larangan itu dilanggar Nyi Sari yang nekad mengenakan jarit motif itu. “Nyi Sari sengaja melanggar larangan itu karena ingin tahu penyebab tidak diperbolehkan mengenakan kain motif Parang Barong,” jelas Yanto.

Melihat istrinya Nyi Andong Sari mengenakan pakaian jarit Parang Barong, Ki Andong marah dan melarang kelak kalau meninggal dunia mereka berdua makamnya jangan dijadikan satu.

Oleh karena itu, lanjut dia, di pemakaman umum Kelurahan Ledokkulon, makam Ki Andong Sari berada di cungkup, sedangkan Nyi. Andong Sari berada di luarnya dengan jarak sekitar 4 meter. “Unsur edukasinya bahwa setiap larangan kalau dilanggar ada sanksinya,” ujarnya.

Ia mengharapkan Tari Parang Barong di dalam festival karya tari nantinya bisa tampil lebih bagus dibandingkan karya tari peserta lainnya, bahkan bisa keluar sebagai juara. “Bojonegoro pernah keluar sebagai juara dalam Festival Karya Tari se-Jatim pada 2015 ketika menampilkan karya tari Kahyangan Api, bahkan karya tari itu mampu menjuarai dalam festival tingkat nasional,” paparnya. (ist)

Banyak Aset Budaya di Desa Belum Tercatat

foto
Walau di negara tetangga juga ada tapi Silat Indonesia memiliki filosfi berbeda. Foto: olahragabagus.blogspot.com.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengatakan saat ini masih banyak aset-aset kebudayaan di berbagai desa di Indonesia, baik benda maupun tak benda yang belum tercatat.

“Banyak kebudayaan baik yang benda maupun tak benda yang ada di desa belum tercatat,” kata Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud Nadjamuddin Ramly seperti dikutip dari Antara di Kemendikbud, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ramly mengatakan bahwa Kemendikbud akan mengajak Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi untuk mendukung kebudayaan yang ada di desa-desa.

“Jadi kita akan bekerja sama dengan Kemendes untuk mendukung kebudayaan tersebut karena mereka punya anggaran untuk kebudayaan di desa,” kata dia.

Lebih lanjut Ramly menjelaskan bahwa Kemendikbud akan segera mengundang Kemendes untuk membahas kerja sama tersebut.

Ramly menjelaskan, sejak 2013 hingga 2016 Indonesia baru mencatat 444 budaya tak benda, padahal masih ada jutaan warisan budaya tak benda yang ada di Indonesia.

Menurut dia, Indonesia memiliki sekitar 72 ribu desa. Dia juga mencontohkan jika satu desa dapat mendaftarkan 10 saja warisan budaya tak benda, maka budaya mereka dapat diselamatkan dan dilestarikan.

Warisan budaya tak benda, kata dia, bisa berbentuk makanan, permainan, tata cara bergaul, tata cara pernikahan, tata cara pemakaman, pengobatan, busana, arsitektur dan seni pertunjukkan.

Untuk itu, ia mendorong pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota untuk aktif mendaftarkan warisan budaya yang ada di daerahnya, dengan tujuan agar budaya itu dapat diakui.

“Mendaftarkan warisan budaya adalah tanggung jawab pemerintah daerah. Banyak dari mereka tidak mampu menemukan warisan budaya yang harusnya didaftarkan. Tidak hanya itu saja , banyak pemerintah daerah yang belum memprioritaskan kebudayaan sehingga tidak ada anggaran yang dialokasikan untuk hal tersebut,” kata dia.

Dia berharap agar Undang-Undang Kebudayaan bisa segera disahkan, agar dapat mendorong pemerintah daerah mendaftarkan kebudayaan yang ada di desa.

Sementara itu, UNESCO telah mengakui tujuh kebudayaan Indonesia antara lain wayang, keris, batik, angklung, tari saman, noken, dan tiga jenis tari tradisional.

Indonesia juga telah mengajukan tiga kebudayaan lainnya yaitu kapal pinisi, pantun dan pencak silat untuk menjadi kebudayaan tak benda UNESCO.

Ramly mengatakan Kemendikbud telah mengirimkan dokumen dossier ke UNESCO untuk ketiga warisan budaya tak benda tersebut. “Pinisi akan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada Desember 2017 setelah melalui sidang UNESCO, sementara itu Pantun akan dibahas dalam sidang UNESCO 2018 dan Pencak silat akan dibahas pada 2019,” kata dia.

Dari ketiga warisan budaya tersebut, pantun menjadi satu-satunya warisan budaya tak benda yang diajukan oleh Pemerintah Indonesia bersama dengan Pemerintah Malaysia sebagai Multinational Nomination pada 2017.

Sementara silat tidak diajukan sebagai warisan multinasional walaupun negara tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam juga Thailand Selatan memiliki silat karena silat Indonesia memiliki filosfi yang berbeda.

“Silat yang diajukan adalah silat Indonesia yang ada di beberapa daerah seperti Banten, Jawa Barat, Riau dan daerah lainnya yang memiliki filosifi berbeda dengan negara lainnya,” kata dia.

Ke depan Indonesia juga akan mengajak negara lain untuk mengajukan jalur rempah sebagai warisan multinasional UNESCO.

Sementara itu hingga 2016 ada tujuh warisan budaya tak benda Indonesia yang sudah masuk daftar UNESCO antara lain wayang, keris, batik, angklung, tari saman, noken dan tiga jenis tarian bali.

Ramly berharap dengan diakuinya kebudayaan Indonesia itu oleh UNESCO dapat meningkatkan apresiasi dan pelestarian terhadap budaya tersebut, serta dapat meningkatkan kesejahteraan bagi pelakunya. (ist)

Kisah Rebutan Drupadi di Relief Jajaghu

foto
Kisah kehidupan Pandawa tertera di relief Candi Jajaghu. Foto: Terakota.id.

Candi Jago terletak di desa Jago, Kec Tumpang, Kabupaten Malang, didirikan pada masa kerajaan Singhasari, yaitu sekitar abad ke-13 oleh raja Kertanegara untuk menghormati Ayahandanya Wisnuwardhana.

Candi Jajaghu atau Jago terdiri dari enam relief, meliputi relief tantri atau binatang, relief Aridarma atau Anglingdarma, relief Kunjarakarna, relief Arjunawiwaha, relief Krisnayana dan relief Parthayadnya atau Mahabarata.

Relief Parthayadnya di teras dua bidang pahat paling lebar, selebar tiga jengkal sedangkan relief lain hanya dua jengkal.

Relief Parthayadnya terlihat paling mencolok dipahat detail dengan gaya wayang seperti bentuk tokoh pewayangan.

Untuk membaca cerita relief candi yang berlokasi di Jalan Wisnuwardana Dusun Jago Desa Tumpang Kabupaten Malang harus berlawanan dengan arah jarum jam atau Pasawya.

Cerita relief Candi Jago merupakan salah satu dari 18 bagian atau hasta dasa parwa dalam kisah Mahabarata. Yakni cerita tentang kehidupan Pandawa di hutan atau wara parwa setelah terusir dari singgasananya. “Banyak seniman terinspirasi relief di Candi Jago,” kata Suryadi, juru pelihara Candi Jago kepada Terakota.id.

Cerita diawali adegan judi dadu yang antara Pandawa dengan Kurawa. Tampak Yudistira duduk bersimpuh menghadap dadu sedangkan Bima, Arjuna, Sakula atau Nakula dan Sadewa berdiri dalam sebuah bangunan terbuka. Mereka mempertaruhkan kekayaan, tapi dengan tipuan licik Sengkuni, Pandawa kalah.

Dalam memaknai harta, kata Suryadi, Kurawa menilai taruhannya meliputi istana beserta isinya, harta benda, serta wanita menjadi istri jarahan.

Kurawa tergoda Draupadi atau Drupadi yang cantik dan digambarkan memiliki kulit mengkilat seperti kaca, kaki halus, saat berjalan kerikil menyingkir. Sedangkan Pandawa tersinggung dan menolak, mereka dikenal sangat menyayangi dan melindungi Drupadi.

Arkeolog Universitas Negeri Malang Mudzakir Dwi Cahyono menjelaskan jika tokoh Drupadi hanya muncul dalam tiga panil dalam relief Parthayadnya. Yakni saat Dursasana menggelandang Drupadi, pakaian sarinya ditarik hingga berputar seperti gasing.

Pakaian sari terlepas, Drupadi telanjang. Drupadi merasa dipermalukan di depan umum. Drupadi menjaga kehormatannya dengan menutup aurat atau tubuh dengan rambutnya yang panjang dan tebal atau asinjang rambut (Berbusana rambut).

Busana, katanya, penting bukan hanya untuk tampil indah tapi juga untuk menjaga kehormatan. Meski tak berbusana lengkap, dengan berbusana rambut Drupadi tetap menjaga kehormatan. Drupadi bersumpah akan terus menggerai rambut untuk menutup tubuhnya sampai Darsasana terbunuh dan jamasi atau keramas darahnya.

Adegan kedua Drupadi muncul saat Pandawa membawa Drupadi meninggalkan istana. Perempuan berada di depan, Kunti disusul Drupadi. Sedangkan Pandawa berurutan berada di belakangnya diikuti Punakawan. Mereka masuk hutan atau wana parwa. Serta adegan ketiga Drupadi muncul saat meninggalkan Kadatwan atau Kedaton. “Tak ada cerita khusus Drupadi dalam relief tersebut,” kata Mudzakir Dwi Cahyono.

Sosok Drupadi, katanya, menjadi misterius karena hubungan terselubung. Sejumlah referensi menyebutkan jika Drupadi kekasih kelima tokoh Pandawa. Menurutnya, tokoh Drupadi merupakan tokoh penting dalam kaitan wanita dalam budaya. Drupadi, katanya, merupakan sosok perempuan yang lembut, welas asih, dan teguh menjaga kehormatan. “Tokoh Drupadi pantas dipentaskan dalam sebuah sendratari,” katanya.

Candi Jago, katanya, merupakan pandermaan Wisnuwardana raja keempat Singhasari. Selain pandermaan di Candi Jago, serta di Candi Mleri, Gunung Pegat, Srengat Kabupaten Blitar. Candi Jago dibangun pada masa pemerintahan Kertanegara untuk memberikan penghormatan kepada ayahnya Wisnuwardana. Sebutan Candi Jajaghu tertulis dalam kitab kuno Pararaton dan kitab sastra kuno Nagarakertagama.

Wisnuwardana, katanya, didarmakan sebagai sugata atau buddhis. Tampak di halaman candi seluas separuh lapangan sepak bola sebuah arca Buddhi Sattwa dalam bentuk Amoga Pasya dengan pengiring di empat penjuru mata angin.

Arsitektur candi mengalami perombakan besar-besaran pada jaman Majapahit saat pemerintahan Hayam Wuruk. Renovasi dipimpin Adityawarman pada 1350 an. Sehingga tampak jelas jika seni pahat dalam relief bergaya wayang merupakan gaya masa kerajaan Majapahit yang dipengaruhi agama Hindu.

“Renovasi juga dilakukan terhadap 25 candi di Jawa Timur untuk menghormati leluhurnya,” kata Dwi. Hanya satu relief di Candi Jago yang dipengaruhi Buddhis. Sebagian pahatan di relief masih terjaga apik, tapi sejumlah relief lapuk dimakan zaman. Sehingga sulit untuk membaca relief di badan Candi Jago. (ist)

Tradisi Sambut Ramadhan di Berbagai Daerah

foto
Menjelang Ramadhan ada tradisi pembersihan makam leluhur atau yang populer disebut nyadran. Foto: SuaraMerdeka.com.id.

Keragaman tampak dalam kebiasaan kaum muslim di tanah air dalam menyambut Ramadhan. Namun, intinya tetap satu: menyucikan diri lahir dan batin sebelum menjalani ibadah puasa sebulan penuh. Selain larut dalam kegembiraan dan rasa syukur, warga juga beramai-ramai merawat kearifan lokal.

Sambutan untuk Ramadhan sejatinya bisa disebut serupa ‘Lebaran kecil’ bagi warga beberapa daerah. Tradisi silaturahmi dan bermaaf-maafan dilengkapi dengan memasak makanan khas daerahnya dan disantap bersama. Bahkan, di beberapa daerah, para perantau sengaja mudik untuk bersilaturahmi dan menikmati sahur pertama bersama keluarga besar. Berikut beberapa tradisi menyambut Ramadhan seperti dilaporkan Femina.co.id beberapa waktu lalu.

1. Tradisi Malamang, Sumatra Barat
Masyarakat Sumatra Barat memiliki tradisi malamang. Kaum ibu disana bersama-sama membuat lemang untuk dijadikan antaran ke sanak saudara. Lemang adalah makanan khas Minang yang terbuat dari beras ketan, santan, dan pisang. Sementara itu, para bapak bertugas membeli daging sapi untuk lauk di acara doa bersama pada malam harinya.

2. Tradisi Meugang, Aceh
Warga Aceh pun memiliki tradisi yang tak kalah meriah. Dua hari menjelang Ramadhan, mereka melaksanakan tradisi meugang atau menyembelih ternak yang akan dimasak sebagai jamuan makan keluarga. Memang, di hari itu setiap keluarga berkumpul dan menikmati sajian masakan daging, baik itu yang disembelih sendiri atau dibeli. Karena semua harus kebagian daging, imbasnya harga daging biasanya ikut melonjak drastis.

3. Tradisi Sadranan, Jawa
Meski tak memiliki tradisi masak bersama, masyarakat di Jawa biasanya menyambut Ramadhan dengan nyadran atau sadranan. Saat nyadran, mereka berdoa dan makan bersama (kendurian) di sepanjang jalan yang digelari tikar dan daun pisang.

Demikian juga dengan masyarakat Parahyangan. Mereka memiliki tradisi munggahan atau berkumpul dan makan bersama kelaurga sebelum Ramadhan tiba. Sebelumnya, biasanya masyarakat Jawa dan juga Sunda juga berziarah ke makam keluarga.

4. Tradisi Munggahan, Sunda
Tradisi ini merupakan bentuk syukur atas akan datangnya Ramadhan. Pelaksanannya selalu diadakan sehari sebelum dan saat hari pertama puasa.

Di setiap kota di Jawa Barat mungkin memiliki sedikit perbedaan dalam menjalani tradisi ini, namun tradisi ini adalah hal wajib bagi masyarakat Sunda. Salah satu kesamaannya yakni berkumpulnya anggota keluarga untuk bersilaturahmi, berdoa bersama, dan makan sahur bersama.

Kata Munggahan sendiri berasal dari “munggah” yang berarti naik. Salah satu maknanya adalah ketika memasuki Ramadhan, masyarakat naik ke waktu atau bulan yang luhur derajatnya, dan diharapkan masyarakat juga menjadi pribadi yang lebih baik seiring dengan tibanya bulan suci Ramadhan, khususnya dalam urusan menahan hawa nafsu selama berpuasa.

5. Pesta Rakyat Dugderan, Semarang
Silaturahmi warga juga dirayakan bersama lewat pesta rakyat dengan arak-arakan di jalan-jalan utama, dipusatkan di masjid atau di tengah kota. Di Semarang, Dugderan atau pesta rakyat dengan menabuh beduk masjid menandai awal puasa. Arak-arakan ini dimulai di halaman balai kota menuju Masjid Besar Kauman, Pasar Johar, Semarang.

6. Festival Meriam Karbit, Pontianak
Sementara itu, dentuman meriam memeriahkan suasana Ramadhan di Pontianak lewat Festival Meriam Karbit yang diadakan di Sungai Kapuas. Festival tersebut rutin dilakukan masyarakat Melayu Pontianak untuk mengingat sejarah kota yang didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman.

Dulu meriam juga ditembakkan sebagai penanda waktu magrib, karena masjid-masjid belum punya alat pengeras suara. Kini meriam yang digunakan bukan lagi meriam seperti di zaman penjajahan, tetapi meriam tradisional dari kayu durian atau kayu kelapa.

7. Lomba Pacu Jalur, Riau
Sama-sama diadakan di sungai, Pacu Jalur atau lomba dayung diadakan masyarakat Kuantan Singingi, Riau, di sungai Kuantan. Lomba ini ditutup dengan mandi balimau kasai menjelang matahari terbenam hingga malam hari.

8. Festival Gunungan/Grebeg Apem, Jombang
Warga Jombang, Jawa Timur punya festival unik yang memperebutkan ribuan apem di Festival Gunungan/Grebeg Apem. Kue-kue apem itu dibuat oleh ibu-ibu dari komunitas pangan. Gunungan apem juga dimanfaatkan oleh pemerintah daerah untuk mengampanyekan pangan nonberas kepada masyarakat. Di Yogyakarta, Festival Ruwahan Apeman biasanya diramaikan juga dengan kirab hasil bumi dan festival seni.

9. Mandi Balimau, Riau
Selain bersilaturahmi dan bermaaf-maafan dengan sahabat dan kerabat, masyarakat di beberapa daerah melakukan tradisi mandi untuk menyucikan diri lahir dan batin sebelum Ramadhan. Tradisi ini masih hidup di masyarakat Minang dan Riau.

Tradisi balimau, atau mandi di tempat pemandian dengan limau jeruk nipis sebagai pengganti sabun untuk menyegarkan tubuh ini diyakini telah dilakukan selama berabad-abad. Di Riau, selain limau, warga juga menggunakan kasai, pengharum rambut saat keramas sehingga disebut balimau kasai.

Kasai diyakini dapat membersihkan sifat buruk seperti iri hati atau dengki. Balimau kasai dilakukan oleh warga dengan menceburkan diri di Sungai Kampar dan kerap menarik perhatian turis.

10. Tradisi Padusan, Jawa Tengah
Di Jawa, tradisi serupa disebut padusan (adus = mandi). Jika dulu mandi berendam ini menggunakan air dari tujuh sumber, kini padusan bisa dilakukan di sumber air mana pun.

Tidak mengherankan, biasanya warga dari berbagai daerah seperti Klaten, Boyolali, dan Yogyakarta beramai-ramai mendatangi sumber air yang juga tempat wisata. Air terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu, Jawa Tengah, misalnya, dikunjungi lebih dari dua ribu orang dalam sehari menjelang puasa. (ist)

Naik Turun Gunung Merawat Masa Lalu

foto
Para juru pelihara membersihkan Candi Naga di Gunung Penanggungan. Foto: Okezone.com.

Empat orang tengah sibuk membersihkan bangunan candi di ketinggian 1.112 mdpl. Dengan sapu korek mereka membersihkan kotoran dan lumut yang baru saja dibersihkan dari batuan Candi Naga.

Mereka adalah para juru pelihara candi yang masuk di wilayah Kedungudi, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.

Menurut koordinator kelompok Kedungudi, Lisnoadi, ada dua kelompok di kawasan Kedungudi. Masing-masing kelompok ada empat orang petugas dan berkewajiban memelihara lima buah candi.

Kelompok pertama dikoordinatori oleh Lisnoadi yang sudah sejak tahun 1989 menjadi juru pelihara candi di situ. Pada awal-awal bekerja, diberi honor Rp 75 ribu per bulan untuk merawat lima buah candi yang menjadi tanggung jawabnya dan khusus di hari Jumat turut membantu perawatan di situs Patirtan Jolotundo.

“Niat saya sejak awal memang ingin memelihara peninggalan orang terdahulu, tidak ingin kaya,” kata Lisnoadi, saat ditemui Okezone.com disela-sela membersihkan Candi Naga di lereng Gunung Penanggungan.

Selama kurang lebih 16 tahun, meski honornya tidak seberapa besar, mereka tetap merawat dan menjaga keberadaan peninggalan purbakala yang ada di lereng-lereng Gunung Penanggungan (Pawitra). Jalan terjal naik turun gunung biasa dijalani demi anak-anak cucu tetap bisa melihat peninggalan-peninggalan masa lampau.

Dan sejak 2007, para juru pelihara di kawasan cagar budaya Gunung Penanggungan diangkat menjadi pegawai negeri sipil sehingga honornya lumayan besar, Rp 2,3 juta per bulan dan ditambah tunjangan lainnya.

Semangat merawat dan menjaga candi-candi di lereng Penanggungan pun kian bertambah sehingga candi-candi yang menjadi tanggung jawabnya bisa nampak bersih dan rapi.

Tak hanya merawat dan menjaga candi, ketika musim kemarau juga sering membantu memadamkan api yang membakar kawasan Penanggungan agar tidak sampai merusak areal peninggalan. “Kalau ada kebakaran ya kadang tidur di hutan,” ujarnya.

Menghadapi para pencuri benda-benda purbakala juga menjadi tugasnya. Ia menceritakan, dulu sebelum ada alat komunikasi, koordinasi susah sehingga kadang kesulitan menghadang pencuri. Tapi sekarang koordinasi bisa mudah antara juru pelihara sehingga untuk mencegah tindakan pencurian semakin mudah koordinasinya.

Menurutnya, untuk menjaga peninggalan-peninggalan purbakala di kawasan Gunung Penanggungan memang dirasa masih kurang tenaganya karena lokasinya tersebar di hampir semua lereng yang melingkari gunung ini dan beberapa gunung di bawahnya.

Namun, mereka tak patah arang untuk naik turun gunung demi menjaga peninggalan kejayaan masa lalu agar generasi masa depan bisa tetap melihat dan belajar dari masa lalu. (ist)

Poin-Poin Penting UU Pemajuan Kebudayaan

foto
Mendikbud Muhadjir Effendy pda sebuah acara. Foto: Kemdikbud.go.id.

Setelah melalui pembahasan yang memakan waktu hampir dua tahun, Rancangan Undang-undang (RUU) Pemajuan Kebudayaan akhirnya disahkan dalam rapat Paripurna Pembicaraan Tingkat II/Pengambilan Keputusan terhadap RUU tentang Pemajuan Kebudayaan, 27 April lalu di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jakarta.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy usai pengesahan RUU Pemajuan Kebudayaan mengatakan bahwa kebudayaan tidak hanya pada tarian atau tradisi saja, tetapi juga nilai karakter luhur yang diwariskan turun-temurun hingga membentuk karakter bangsa kita.

“Kebudayaan telah menjadi akar dari pendidikan kita, oleh karena itu, R UU Pemajuan Kebudayaan perlu menekankan pada pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan agar budaya Indonesia dapat tumbuh tangguh,” ujar Mendikbud melalui Humas Kemendikbud.

“Dalam menjalankan pelindungan dan pembinaan, arah dan strateginya dengan meningkatkan jumlah dan kualitas pelaku dan pengelola kebudayaan untuk memperkuat arsitektur pemajuan kebudayaan, meningkatkan akses masyarakat terhadap proses dan produk kebudayaan yang meluas, merata, dan berkeadilan, serta meningkatkan kerjasama antar daerah dan antar bangsa, dan meningkatkan mutu tata kelola pemajuan kebudayaan,” ujar Mendikbud.

Selanjutnya untuk pengembangan kebudayaan akan dilakukan penyebarluasan, pengkajian, dan peningkatan keberagaman obyek kebudayaan.

Mendikbud juga mengatakan dalam Pemajuan Kebudayaan, pemerintah mengajak masyarakat untuk melakukan pemanfaatan obyek kebudayaan untuk membangun karakter, meningkatkan ketahanan, meningkatkan kesejahteraan, meningkatkan kedudukan Indonesia dalam hubungan Internasional.

Poin-Poin Penting
Ada beberapa poin penting yang perlu diketahui masyarakat. Pertama, kebudayaan merupakan investasi masa depan dalam membangun peradaban bangsa.

Karena itu, pemajuan kebudayaan Indonesia bakal maju dan bertahan hingga usia bumi berakhir. UU tentang Pemajuan Kebudayaan memiliki cara pandang bahwa kebudayaan sebagai investasi, bukan dinilai dari angka-angka.

Kedua, sistem pendataan kebudayaan terpadu. Sistem data utama kebudayaan yang mengintegrasikan seluruh data utama kebudayaan yang mengintegrasikan seluruh data berbagai sumber serta kementerian dan lembaga.

Sistem itu disebut sebagai sistem pendataan kebudayaan terpadu. Isinya terkait dengan objek kemajuan kebudayaan, sumber daya manusia kebudayaan, lembaga kebudayaan, pranata, sarana dan prasarana serta data lain terkait kebudayaan.

Ketiga, pokok pikiran kebudayaan daerah. Setiap daerah melalui pemerintahan daerahnya merumuskan pokok pikiran kebudayaan daerah secara lisan, manuskrip, hingga olahraga tradisional.

Dalam penyusunan pokok pikiran kebudayaan daerah itu, para budayawan hingga pegiat budaya dan pemangku kepentingan berkumpul dalam rangka memajukan kebudayaan daerahnya.

Keempat, strategi kebudayaan. Indonesia memiliki potensi luar biasa dalam bidang kebudayaan. Sayangnya, Indonesia belum memiliki strategi dalam memajukan kebudayaan itu sendiri.

Melalui UU ini Indonesia nantinya memiliki strategi kebudayaan yang bakal disusun oleh pemerintah pusat dengan melibatkan masyarakat melalui sejumlah ahli yang memiliki kredibilitas dan kompetensi.

Kelima, rencana induk pemajuan kebudayaan. UU bakal melahirkan rencana induk pemajuan kebudayaan dalam kurun waktu 20 tahun.

Hal itu menjadi dasar dalam penyusunan rencana pembangunan jangka panjang dan menengah. Dengan begitu, arah pembangunan bangsa bakal menjadi lebih kuat dengan dilandasi kebudayaan.

Keenam, dana perwalian kebudayaan. Selain pendanaan melalui APBN dan APBD, juga melalui dana perwalian kebudayaan yang dibentuk pemerintah.

Dana perwalian dimaksud meliputi sejumlah aset finansial yang dititipkan atau dihibahkan oleh orang atau lembaga untuk dikelola sebagai sebuah lembaga wali amanat. Atau disalurkan dan dimanfaatkan untuk kepentingan pemajuan kebudayaan.

Ketujuh, pemanfaatan kebudayaan. UU Pemajuan Kebudayaan mengatur industri besar dan/atau pihak asing yang akan memanfaatkan objek pemajuan kebudayaan bagi kepentingan komersial.

Karena itu, wajib memiliki izin dari kementerian terkait dengan memenuhi persyaratan. Yakni, memiliki persetujuan atas dasar informasi awal, adanya pembagian manfaat, dan pencantuman asal-usul objek pemajuan kebudayaan.

Kedelapan, penghargaan. Terhadap orang yang berkontribusi atau berprestasi luar biasa dalam pemajuan kebudayaan bakal mendapat penghargaan.

Tak hanya itu, pemerintah pusat dan daerah memberikan fasilitas ke seseorang yang berjasa dalam bidang kebudayaan.

Fasilitas tersebut dalam bentuk biaya hidup, materi, dan/atau sarana prasarana sesuai dengan kemampuan keuangan negara, diberikan untuk (terus) mengembangkan karya-karyanya.

Kesembilan, pemberian sanksi. Sanksi dapat diberikan terhadap orang yang secara melawan hukum menghancurkan, merusak, menghilangkan atau mengakibatkan tidak dapat digunakannya sarana dan prasarana pemajuan kebudayaan.

Kemudian, melakukan perbuatan melawan hukum yang mengakibatkan sistem pendataan kebudayaan terpadu tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Begitu pula terhadap korporasi yang melakukan tindak pidana. (sak)

Tari Banjarkemuning Iringi Tradisi Petik Laut di Sidoarjo

foto
Iring-iringan perahu warga Banjarkemuning saat tradisi petik laut. Foto: Ghofuur Eka/Jawa Pos.

Kawasan pesisir timur Kota Delta, akhir pekan lalu tampak lebih semarak. Ratusan perahu hias berjalan beriringan. Riuh. Perahu-perahu itu adalah milik para nelayan Desa Banjarkemuning, Sedati. Mereka sedang melaksanakan tradisi tahunan. Yakni, petik laut sekaligus ruwat desa.

Tradisi petik laut Desa Banjarkemuning tahun ini terasa lebih meriah daripada tahun sebelumnya. Pengunjung melimpah. Acaranya juga menarik. Ada seni tari khas desa. Yakni, tari banjarkemuning dan tari turen. Tarian oleh anak-anak desa itu menjadi pengiring perahu sebelum berangkat dari dermaga menuju muara.

”Tapi, ada juga penari yang berasal dari desa lain,” ujar Novitri Hidayatillah, salah seorang penari asal Banjarkemuning, RT 7, RW 4, seperti dilaporkan Jawapos.

Novitri bersama tujuh anak lainnya tampil selama tujuh menit. Mereka menari di dermaga sungai sebelum perahu-perahu berangkat membawa gunungan makanan yang akan dilarung. ”Kami sebulan penuh berlatih ini di balai desa. Setelah salat magrib nanti (tadi malam, Red) kami tampil lagi di balai desa,” ujar siswi kelas XI IPS 1 MA Nurul Huda itu.

Setelah penampilan tari-tarian, perahu pun berangkat ke laut. Lantunan doa dan puji-pujian menambah ramai iring-iringan perahu. Apalagi, sejumlah sound system besar juga diletakkan di sejumlah perahu.

”Sambil menuju laut, kami bersama-sama melantunkan doa. Sebab, petik laut ini diadakan sebagai wujud syukur warga desa atas berkah selama ini,” jelas Kepala Desa Banjarkemuning Zainul Abidin.

Doa tersebut dilantunkan saat semua perahu sudah berada di muara. Di tempat pertemuan air sungai dan laut itu, seluruh perahu berhenti. Salah seorang tokoh desa memimpin doa. Suasana terasa hening sejenak.

Yang terdengar hanya suara air dan lantunan doa. Khidmat. Begitu doa bersama selesai, gunungan yang berisi nasi, sayur, dan lauk yang diletakkan di perahu kecil tersebut dilepaskan ke laut.

Ada keyakinan, mereka yang berhasil mendapatkan gunungan itu akan memperoleh banyak berkah. Tak heran, sesaat setelah gunungan tersebut dilarung, sejumlah perahu nelayan berusaha mendekat. Mereka berusaha meraih gunungan-gunungan tersebut.

Seru dan mengasyikkan. Tak butuh waktu lama, gunungan itu pun berhasil diraih warga dari desa tetangga. Gunungan tersebut lantas ditarik dengan menggunakan perahunya.

Setelah prosesi itu selesai, tidak semua perahu yang ikut petik laut kembali ke dermaga desa. Sebagian perahu langsung berangkat melaut.

”Total di sini ada 120 perahu, tapi tidak ikut semua karena ada yang diperbaiki. Ada perahu yang langsung ke laut karena nelayan memang harus bekerja,” jelas Zainul. Dari sekitar 2.000 warga Banjarkemuning, 50 persen bekerja sebagai nelayan.

Kegiatan kearifan lokal (local wisdom) itu tidak hanya dilaksanakan di perairan. Beragam acara masih diselenggarakan Desa Banjarkemuning sebagai bentuk ruwat desa penghasil kerang itu. Setelah petik laut, ada pertunjukan musik yang tidak jauh dari dermaga.

Di balai desa, kelir dan beragam gamelan untuk pertunjukan wayang sudah siap. ”Pada pukul 13.00 sampai sore, pertunjukan wayang tampil. Malam, dilanjutkan lagi,” terang Zainul.

hari berikutnya acara ruwat desa masih berlanjut. Ada pertunjukan ludruk dan musik yang dipusatkan di balai desa. ”Selalu kami peringati pada bulan Ruwah. Tanggalnya menyesuaikan. Ini wujud syukur. Harapannya, dengan kami bersyukur melalui acara semacam ini, berkah dan rezeki warga bertambah dan semakin meningkat,” harap pria berperawakan tinggi besar tersebut.

Sementara itu, Camat Sedati Ridho Prasetyo sangat mengapresiasi kegiatan kearifan lokal di Desa Banjarkemuning. ”Senang bisa turut berpartisipasi,” kata Ridho yang kemarin juga ikut ke laut. Bahkan, dia berencana membuat ikon khusus di kantor kecamatan yang menunjukkan kekhasan Sedati. Selain budaya seperti petik laut, ada potensi tambaknya.

Pernyataan senada disampaikan Plt Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporpar) Pemkab Sidoarjo Djoko Supriyadi. Dia mengatakan, kearifan lokal seperti budaya petik laut harus dilestarikan. Dia menginginkan kegiatan tersebut dilaksanakan secara konsisten dan terus dikembangkan. Baik konsisten waktu penyelenggaraan maupun konsisten acaranya.

’’Dengan demikian, akan semakin banyak pengunjung yang datang. Selain itu, unsur tradisi dan entertainment terus ditingkatkan. Kami yakin kalau itu dilakukan, acara tersebut bisa mendunia,” ujarnya. (ist/JPG)