‘Pembersihan’ Pusaka di Candi Songgoriti

foto
Acara Puja Agung dan Sidikara di Candi Songgoriti. Foto: RadarMalang.id.

Ratusan benda pusaka disucikan kembali oleh tokoh pemangku adat Malang Raya di Candi Songgoriti, Desa Songgokerto, Kecamatan Batu, Kota Batu. Terdiri dari pusaka keris, pedang, dan tombak.

Acara Puja Agung dan Sidikara Candi Songgoriti itu seperti dilaporkan RadarMalang.id, diikuti 300-an orang, dari pemangku adat, budayawan, padepokan, dan masyarakat umum. Mereka ingin mendoakan leluhur dan mengembalikan zirah pusaka yang diamanahkan leluhur tersebut.

Puja Agung merupakan ritual doa bersama yang ditujukan pada leluhur untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar alam tetap selaras dan nusantara bangkit. Sedangkan, Sidikara merupakan ritual untuk menyelaraskan energi pusaka supaya kembali selaras dengan energi alam.

Ketua Pelaksana Agenda Puja Agung dan Sidikara Candi Songgoriti Kanjeng Raden Aryo Panji (KRAP) Prasena Cakra Adiningrat menyampaikan, Candi Songgoriti dipilih karena jadi petilasan Mpu Purwa, kakak Ken Dedes, untuk penyepuhan keris.

Kegiatan ini dimulai sejak zaman Kerajaan Singhasari hingga Kerajaan Majapahit. ”Mpu Purwa dulu melakukan penyepuhan keris di sini. Makanya candi ini kami pilih untuk acara Puja Agung dan Sidikara,” kata Prasena CakraAdiningrat usai acara kepada media, pertengahan Maret lalu.

Turut hadir juga dalam acara ini, Paguyuban Tosan Aji Sanggrabaja Kota Batu, Paguyuban Payung Tunggal Agung, Singhasari Creative Centre, Kadatuan Singhasari, Kadatuan Komunitas Candra Pradnya Paramita, Kepala BNN Kota Batu Heru Cahyo Wibowo, dan beberapa komunitas lain.

Ritual tersebut dibuka dengan tarian Beksan Kudomataya Sekar Mayang Sari yang dibawakan oleh penari spiritual Nyai Dadak Purwa tepat pukul 21.00. (ist)

Bila Warga Tanjungsari Adakan Sedekah Bumi

foto
Warga berperan mirip Dimas Kanjeng, warga berharap rezeki berlipat. Foto: Jawapos.com.com.

Perayaan sedekah bumi ternyata tidak cuma bisa ditemui di desa. Sebagian warga metropolis seperti Surabaya masih melestarikan perayaan tersebut. Meski jumlah lahan semakin sempit, warga tetap konsisten memanjatkan rasa syukur atas nikmat berkah yang keluar dari bumi maupun turun dari langit.

Pada hari Minggu (23/4) pagi, pemandangan berbeda terlihat di pelataran kantor RW II Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukomanunggal, Surabaya.

Ratusan warga berkumpul dengan kostum ala adat Jawa. Para pria mengenakan beskap, lengkap dengan keris di punggung mereka. Sementara itu, para perempuan berlomba-lomba tampil cantik dengan kebaya warna-warni.

Namun, ada pula yang mencoba tampil nyentrik dengan kostum lain. Misalnya, warga RT XII Mochammad Safrian. Siswa kelas XII SMK tersebut mengenakan kostum putih panjang. Dandanannya terlihat familier. Jika warga lain berjalan kaki, dia justru menaiki becak dengan tulisan ”Dimas Kanjeng Taat Sekali” di depannya.

Safrian mengakui, warga di RT-nya memang memilih tema Dimas Kanjeng pada kirab tumpeng kali ini. ”Harapannya, berkah warga bisa berlipat ganda, sama seperti kesaktian Dimas Kanjeng,” candanya seperti dilaporkan Jawapos.com.

Acara kirab tumpeng itu merupakan puncak dari rangkaian sedekah bumi warga RW II Kelurahan Tanjungsari. Sedekah bumi dilaksanakan dalam rangka bersih desa, tradisi yang selama ini jarang ditemui di lingkungan perkotaan.

”Dulu Tanjungsari ini kan kebun. Karena itu, kami tetap melestarikan sedekah bumi,” tutur Markaji, 65, salah seorang sesepuh desa. Setiap tahun sedekah bumi mereka rayakan pada bulan Rajab menurut kalender Hijriah.

Tradisi sedekah bumi itu, menurut Markaji, diturunkan sejak zaman Raden Mas Cokro Binnoto II yang pernah tinggal di wilayah Tanjungsari. ”Raden Mas Cokro Binnoto ini punya istri, yakni Raden Ajeng Nyai Roro Jonggrang,” jelas Markaji. Tak heran, nuansa sakral terasa selama kirab. Sesajen diletakkan di beberapa titik.

Banyak acara yang bisa dinikmati warga selama rangkaian sedekah bumi. Di antaranya, ada pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dan hiburan campursari serta orkes Melayu.

Kirab tumpeng pun dilombakan untuk menambah semarak acara itu. Selain perwakilan 18 RT, lomba tumpeng tersebut diikuti oleh Paguyuban Pemuda Tanjungsari (PPT) dan Paguyuban PNS/TNI/Polri Tanjungsari.

Sebelum dinilai oleh juri, semua tumpeng itu diarak keliling wilayah kelurahan. Masing-masing RT juga tampil dengan ciri khas masing-masing. Jika RT XII tampil dengan tema Dimas Kanjeng, lain lagi RT IV yang berada di barisan terdepan.

Tampak sosok Cak dan Ning RT IV yang memimpin barisan, disusul permainan musik patrol yang dimainkan anggota karang taruna. ”Cak dan Ning ini adalah maskot untuk memeriahkan sedekah bumi,” jelas Cicik Nofindarwati yang berperan sebagai Ning.

Lurah Tanjungsari Kamari menjelaskan, kirab tumpeng tersebut diadakan sebagai doa untuk keselamatan bersama. ”Biasanya, orang tasyakuran kan pasti membuat tumpeng,” ujarnya. Menurut dia, pergelaran sedekah bumi merupakan indikator kemakmuran masyarakat. Semakin meriah sedekah bumi, semakin melimpah rezeki.

Momen sedekah bumi itu merupakan yang pertama bagi Camat Sukomanunggal Achmad Zaini. Achmad yang sebelumnya menjabat di kecamatan lain mengaku antusias mengikuti acara tersebut. ”Tradisi ini punya dua esensi, yakni bersyukur atas hasil bumi dan mempererat keguyuban warga,” ujarnya.

Dia berharap generasi muda di Tanjungsari terus melestarikan tradisi unik tersebut agar keguyuban warga tetap terjalin di tengah zaman modern yang semakin individualistis. (ist/JPG)

Tradisi Perjalanan Asmara Mantenan Tebu

foto
Kirab pengantin tebu mengawali musim giling di PG Madukismo Jogja. Foto: Detik.com.com.

Ada saja cara masyarakat dalam mensyukuri hasil bumi. Salah satunya seperti yang terjadi di Pabrik Gula (PG) Meritjan, Mojoroto, Kediri.

“Kalau di tempat kami sebelum masuk musim giling, ya diadakan beberapa kegiatan seni rakyat dan puncaknya adalah upacara mantenan tebu,” kata Pudjianto, Ketua APTR Mojoroto, Kediri seperti ditulis eastjavatraveler.com.

Beberapa hari menjelang prosesi mantenan tebu, jalanan di kawasan Pabrik Gula Meritjan dipenuhi lapak-lapak pedagang kaki lima. Bahkan panitia acara mulai pagi hingga malam hari menyuguhkan berbagai kesenian rakyat sebagai hiburan. Suasana pun pun berubah makin ramai.

Untuk prosesi mantenan tebu sendiri diadakan oleh masyarakat setempat, Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) dan jajaran pengurus Pabrik Gula Meritjan.

Mantenan ini digelar sebagai pertanda musim giling tebu telah dibuka. Setelah para petani tebu menuai hasil panen melimpah. Karenanya untuk mengiring rasa syukur pada Sang Kuasa digelar mantenan tebu.

Dengan dipimpin tokoh adat setempat, ritual mantenan dimulai. Lengkap diiringi beberapa orang berpakaian berpakaian ala Jawa dengan mengenakan beskap. Mereka mengawali prosesi ini dengan melakukan kirab terlebih dahulu.

Di dalam kirab yang menempuh jarak 2 kilometer, di baris paling depan beberapa orang berpakaian adat Jawa itu membawa tandu yang dinaiki sepasang pengantin tebu. Pasangan pengantin ini hanyalah boneka yang terbuat dari tebu. Layaknya pasangan manusia, warga begitu kreatif dalam menciptakannya. Mirip sekali. Ada yang lelaki dan ada pula yang wanita.

Kirab berjalan perlahan menuju ke Pabrik Gula Meritjan untuk dilanjutkan masuk ke tempat penggilingan tebu. Sampai di pabrik rombongan pengantin disambut meriah oleh tarian jaranan Kediri.

Sayup-sayup bebunyian gending Jawa terdengar lirih bersama sorak sorai warga yang bermaksud menonton mantenan ini. Sementara itu beberapa pejabat Muspida Kediri dan administratur PG Meritjan bersiap untuk menerima seserahan pasangan manten tebu, yang dibawa oleh sesepuh desa setempat.

Pasangan manten tebu pun telah diserahkan. Untuk kemudian dibawa beramai-ramai menuju tempat penggilingan tebu. Menuju ke sana di belakang tandu pengantin, ada 13 batang tebu yang dibawa oleh para pengiring mantenan sebagai simbol rendemen kali ini. Selain itu, ada pula beberapa orang yang membawa kembang mayang, dan janur kuning.

Setelah pasangan mantenan tebu, 13 batang tebu, kembang mayang, dan janur kuning dibawa masuk ke ruang penggilingan tebu. Di dalam sana sudah menanti ratusan orang untuk menyaksikan puncak dari prosesi mantenan tebu. Riuh mereka bersaing dengan suara mesin penggilingan yang telah menyala hidup.

Tak berselang lama, sepasang boneka mantenan tebu dimasukkan ke dalam mesin penggilingan. Menyusul kemudian 13 batang tebu, kembang mayang, dan janur kuning. Semua digilas habis hingga berurai oleh mesin penggilingan.

Momen inilah yang paling dinanti-nantikan warga. Maksud hati ingin berebut sisa dari penggilingan mantenan tebu. Tapi ketatnya beberapa petugas yang mengamankan jalannya prosesi mantenan, memaksa warga tak berhasil meraih sisa-sisa penggilingan yang konon dipercaya membawa berkah.

“Sisa penggilingan mantenan tebu itu dapat membawa berkah pada hasil panen kedepan. Tapi sayang jika tidak diperbolehkan mengambilnya,” gerutu salah seorang warga.

Melestarikan Budaya
Mantenan tebu di Meritjan, Mojoroto, Kediri adalah salah satu tradisi yang melanjutkan adat budaya yang pernah ada. Menurut sejarahnya, mantenan ini telah ada puluhan tahun silam. Namun sayangnya, di tahun 2000-an tradisi sakral ini sempat berhenti.

Beruntung berkat kesadaraan warga setempat akan pentingnya acara ini, maka pada mulai tahun 2007 mantenan tebu kembali digelar. Mantenan tebu ini tetap lestari hingga kini meski acara dikemas sedikit berbeda tiap tahunnya.

Dari keterangan panitia acara menjelaskan jika sejarah mantenan tebu, bermula dari kebiasaan Raden Sardono yang sangat mencintai tumbuh-tumbuhan. Salah satunya adalah tebu.

Dalam hidupnya Raden Sardono tak pernah berhenti untuk mensyukuri hasil bumi ini. Dan, bentuk syukur itu bermacam-macam wujudnya. Tergantung warga yang mau tetap melestarikannya.

Hingga suatu saat Raden Sardono berpesan pada sang isteri Dewi Sri, sebagai lambang kesuburan, dirinya harus terus melestarikan segala jenis tumbuhan maupun tanaman. Karena dengan merawat dan menjaga dengan baik, niscaya Sang Kuasa memberikan hasil bumi yang melimpah ruah.

Karena itu, untuk menghargai jasa Raden Sardono dan Dewi Sri. Masyarakat petani tebu di Mojoroto Kediri menggelar upacara adat mantenan tebu.

Di samping itu inti daripada acara ini adalah untuk meminta berkah kepada Sang Kuasa, agar dalam proses memasuki musim giling tebu di PG Meritjan dapat berjalan lancar, hasil panen senantiasa melimpah, dan semua orang yang terlibat selamat.

Tradisi mantenan tebu ini juga dilakukann di sejumlah daerah yang memiliki pabrik gula. Di Cirebon, Jogja, Solo, Klaten, Tulungagung dan seterusnya.

Beberapa harapan inilah yang dijadikan alasan digelarnya mantenan tebu. Yang kiranya dapat menjadi bukti asmara di balik kisah mantenan tebu. Rasa syukur dan harapan warga akan tebu yang dihasilkan dari lahan garapan, melebur menjadi panjatan hati pada Sang Kuasa. (ist/easjavatraveler)

Sedekah Bumi, Wujud Syukur dan Perekat Warga

foto
Sedekah bumi di Desa Banjaran sebagai wujud syukur warga. Foto: rakyatindependen.com.

Pagi itu, suasana langit cerah dan lalu-lalang kendaraan terutama roda dua cukup ramai di Dusun Banggle, Desa Banjaran yang berada di wilayah Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Ternyata, di Dusun Banggle itu, sedang ada hajat rakyat berupa kegiatan sedekah bumi alias bersih desa yang diselenggarakan, Rabu (19/4) lalu.

Kegiatan sedekah bumi yang sudah melekat sebagai sebuah adat istiadat turun temurun dari nenek moyang warga Dusun Banggle, hingga kini masih terpelihara dengan baik.

Dimana, setiap hari Rabu Wage, warga di Dusun Banggle menyelenggarakan sedekah bumi yang bertujuan mensyukuri nikmat Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa, yang telah memberikan hasil penen sehingga mereka bisa menjalankan kehidupanya dengan hidup berdampingan yang rukun dan damai.

Kegiatan sedekah bumi dilaksanakan dengan menggelar tasyakuran, yaitu tumpengan. Seperti dilaporkan Rakyatindependen.com, dihadiri Kepala desa Banjaran Subchan, perangkat desa setempat, tokoh masyarakat dan warga setempat.

Mereka ‘selametan’ dengan tumpengan untuk bersama-sama memanjatkan doa kepada Allah SWT, agar warga Dusun Banggle khususnya dan Desa Banjaran pada umumnya diberikan kesehatan, keselamatan, rejeki yang barokah dan selalu berhasil dalam sebuah tujuan atau cita-citanya.

Pada acara tasyakuran tersebut, Kepala Desa Banjaran Subchan dalam sambutanya mengatakan, melalui sedekah bumi diharapkan warga selalu mensyukuri nikmat dari Allah SWT dengan panen yang cukup melimpah di tahun ini.

“Sedekah bumi merupakan wujud syukur kepada Allah SWT atas nikmat panen yang melimpah yang bisa dipakai untuk sangu ibadah kepada Sang penguasa jagat raya seisinya yaitu Allah SWT. Selain itu, juga perlu menyisihkan sebagian hasil panennya untuk bersedekah kepada sesamanya,” tega pria yang sudah menjabat dua periode itu.

Tidak hanya itu, menurut Subchan, dengan sedekah bumi juga mengingat dan berdoa untuk ahli waris atau leluhur yang telah pergi untuk selamanya. Melalui sedekah bumi juga akan terjalin komunikasi yang baik sesama warga yang bermuara pada masyarkat yang hidup berdampingan, rukun dan damai.

Guna memeriahkan sedekah bumi Dusun Banggle, juga digelar Pagelaran Tayub Bojonegoro. Kegiatan tayub dilaksanakan baik siang hingga malam hari. Pada siangnya, acara di halaman Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang berada di utara dusun dan malam harinya tayub digelar di rumah warga setempat. (ist)

Jaran Kencak, Si Nila Ambhara Tunggangan Raja

foto
Kesenian Jaran Kencak menjadi Warisan Budaya Tak Benda sejak 2016. Foto: WartaLumajang.com.

Sebuah pertunjukan tradisional Jaran Kencak dari Kabupaten Lumajang dipertunjukkan di Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya, beberapa waktu lalu. Pemain utamanya adalah seekor kuda yang sanggup menari menurut perintah pawangnya.

Lantaran keunikannya itulah Jaran Kencak sudah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional dari Jawa Timur tahun 2016 lalu.

Bupati Lumajang, As’at Malik mengatakan dengan status Jaran Kencak ditetapkan sebagai warisan budaya Indonesia, maka Lumajang ambil bagian dalam sebuah peradaban, karena adanya kesenian yang menggunakan hewan kuda menari berasal dari kaki Gunung Semeru.

“Jaran Kencak sudah bisa sejajar dengan Reog dan Batik,” paparnya dengan nada bangga, kepada Beritajatim.com.

Bupati akan memperhatikan para seniman Jaran Kencak dan akan terus dibudayakan agar bisa menjadi daya tarik wisata. Karena, kesenian khas daerah ini mulai diminati wisatawan asing. “Selain itu, para seniman akan meningkat perekonomiannya,” terang As’at.

Jaran Kencak merupakan salah satu seni tradisional yang cukup terkenal di Jawa Timur, khususnya di wilayah Malang dan Pasuruan bagian timur terutama di wilayah Suku Tengger, sedang di Lumajang, Probolinggo, Jember, Situbondo, dan Bondowoso keberadaannya hampir merata di seluruh wilayah.

Tarian kuda ini sangat menarik karena gayanya megal-megol, maju mundur, dan kadang berdiri. Kegemulaian gerakan tarian kuda tergantung keterampilan sang pawang dalam melatih dan musik yang mengiringinya.

Musik yang mengiringi seperangkat gamelan sederhana berupa kendang, slompret, kempul, dan kenong. Penabuhan atau cara memainkan gamelannya amat terpengaruh empat budaya yakni Jawa pada kenong dan kempul, peniupan slompret pengaruh reog Ponorogo dan pencak Madura, sedang pemukulan kendang seperti gaya Bali dengan cara bagian kiri memakai tangan sedang bagian kanan memakai tangan dan tetabuh.

Menjadi kebiasaan bagi masyarakat Kota Pisang ini, jika memiliki hajat maka tidak afdol jika tidak mendatangkan kelompok kesenian ini untuk menghibur masyarakat, khususnya para tetangga. Malah, ketika acara khitan, seolah menjaid gengsi tersendiri jika yang dikhitan dinaikkan ke pelana Jaran Kencak lalu diarah keliling kampung.

Kesenian Jaran Kencak memiliki filosofi dan sejarah penting bagi perjalanan Kabupaten Lumajang di masa silam. Dipaparkan Aak Abdullah Al Kudus, aktivis Jaran Kencak dari Desa Tegalrandu, Kecamatan Klakah, bahwa sejarah kesenian Jaran Kencak ini lahir pada masa Kerajaan Wirabhumi dibawah Kepemimpinan Arya Wiraraja, yang wilayahnya meliputi Tapal Kuda dan Madura.

“Dengan pusat kerajaannya yang berada di wilayah Lumajang, tepatnya di Dusun Biting, Desa Kutorenon yang merupakan Kota Raja Lamajang,” tuturnya. Diyakini orang yang pertama kali menciptakan kesenian ini bernama Klabisajeh, yakni seorang pertapa suci yang tinggal di lereng Gunung Lemongan.

“Berkat kesaktiannya, Klabisajeh bisa membuat kuda liar menjadi tunduk dan pandai menari. Sehingga, jadilah Jaran Kencak yang terdiri dari dua suku kata, yakni Jaran artinya Kuda dan Kencak artinya Menari,” jelas aktivis lereng Gunung Lemongan Klakah tersebut.

Pada jamannya, kesenian ini adalah bentuk-bentuk ekspresi suka cita masyarakat, dari sebuah wilayah yang makmur dan sejahtera, gemah ripah loh jinawi.

“Ada juga yang menyebutkan, bahwa kesenian ini sebagai bentuk penghormatan kepada kuda kesayangan Ranggalawe, putra dari Arya Wiraraja yang bernama Nila Ambhara, yang terkenal sebagai kuda paling tangguh dan pintar pada jaman itu. Sebagaimana diketahui, baik Arya Wiraraja maupun Ranggalawe merupakan raja yang sangat dicintai rakyatnya,” ungkapnya. (ist)

Menguak Mpu Sindok di Prasasti Cunggrang

foto
Seorang pengunjung menunjukkan prasasti Cunggrang berbahasa Sanksekerta. Foto: Terakota.id.

Sebuah pendapa mungil berdiri di kawasan permukiman padat penduduk di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Pagar besi setinggi satu meter mengelilingi seluruh pendapa, menyisakan sepetak pintu masuk.

Di dalam pendapa, tegak berdiri prasasti terpahat di batu andesit setinggi lebih dari satu meter dengan bentuk berbeda. Satu berbentuk silinder, satu lagi pipih dengan ketebalan sekitar 10 sentimeter. Guratan aksara sanksekerta di prasasti itu telah aus, sulit terbaca. Ada dua bongkah batu berbentuk lumpang di sisi kiri.

Prasasti itu adalah dikenal dengan Prasasti Cunggrang. Ini adalah salah satu prasasti tertua yang ditemukan di Jawa Timur. Dibuat pada tahun 851 Saka atau 929 Masehi oleh Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewa alias Mpu Sindok.

Mpu Sindok adalah raja pertama Kerajaan Medang atau Mataram periode Jawa Timur sekaligus pendiri Wangsa Isana.

Arkeolog Universitas Negeri Malang, Muzakir Dwi Cahyono menyebut Prasasti Cunggrang adalah sebuah prasasti penting yang memiliki makna ganda era Wangsa Isana.

Prasasti ini menjadi bukti bahwa sistem pengarsipan telah berjalan baik pada masa itu. Sekaligus menguak silsilah Mpu Sindok.

“Ada tiga Prasasti Cunggrang yang dikeluarkan Mpu Sindok dengan bahan berbeda, yaitu bahan tembaga, daun tal atau lontar dan bahan batu ini,” kata Dwi Cahyono seperti dikutip Terakota.id.

Bentuk daun lontar adalah draft awal yang memuat isi prasasti. Setelah naskah dinyatakan sempurna, berikutnya dipermanenkan dalam guratan di prasasti berbahan batu andesit atau disebut juga prasasti linggo.

Inilah Prasasti Cunggrang A atau aslinya yang kemudian diserahkan ke Desa Cunggrang selaku penerima anugerah dari kerajaan.

Sementara prasasti berbahan tembaga atau Prasasti Cunggrang B sebagai kopiannya, ditemukan di lereng Gunung Kawi. Kini disimpan di Gereja Paroki Hati Kudus Yesus di kawasan Kayu Tangan Kota Malang.

“Prasasti Cunggrang bahan batu juga disebut batu sima, karena ditancapkan ke tanah desa perdikan yang dibebaskan dari pajak atas perintah Mpu Sindok,” papar Dwi Cahyono.

Penetapan desa perdikan bebas pajak itu ditandai dengan prosesi membanting telur ke lumpang oleh Mpu Sindok. Sebagai penanda mengubah status Desa Cunggrang dari semula desa biasa menjadi desa istimewa. Itulah sebabnya di prasasti ini juga terdapat lumpang.

“Membanting telur simbol sabda pandita ratu, bahwa keputusan raja tak bisa dicabut,” ucap Dwi Cahyono.

Selain menetapkan desa perdikan sebagai desa sima atau bebas pajak, Prasasti Cunggrang juga menguak jati diri Mpu Sindok.

Bahwa Mpu Sindok memiliki permaisuri bernama Sri Parameswari Dyah Kebi putri dari Dyah Wawa. Artinya, Mpu Sindok adalah memantu dari raja terakhir Kerajaan Medang periode Jawa Tengah atau lazim disebut Mataram Kuno.

Menegaskan bahwa sebelum mendirikan Wangsa Isana, Mpu Sindok adalah pejabat karir. Dari semula sebagai Rakai Mahamantri Halu, naik pangkan menjadi Rakai Mahamantri Rakai Hino. Hingga pada akhirnya diangkat menantu oleh Dyah Wawa sekaligus menjadi raja dan mendirikan Wangsa Isana.

“Prasasti ini menguak identitas Mpu Sindok yang seorang pejabat karir sebelum menjadi raja,” ucap Dwi Cahyono. (ist)

Srawung Seni Keliling ke Kantong Budaya

foto
Bathara melakukan latihan mengeksplorasi alam Banyuwangi. Foto: Beritasatu.com.

Srawung Seni yang merupakan ajang kontak sosial dan kolaborasi antar sesama seniman melalui karya-karyanya akan digelar di berbagai kantong budaya di sejumlah wilayah di Indonesia.

“Srawung Seni adalah kontak sosial antar sesama seniman melalui karya-karyanya. Menjalin kerjasama yang saling membutuhkan. Sehingga melahirkan ikatan spirit seni antar pelaku seni,” ujar Pendiri Yayasan Swargaloka, Suryandoro dalam rilisnya di Jakarta, Selasa (18/4) lalu.

Menurut Suryandoro, seperti dikutip Beritalima.com tahap awal kegiatan seni budaya ini dilaksanakan di Banyuwangi, wilayah paling ujung timur pulau Jawa. Setelah itu, menurut rencana akan digelar di wilayah paling barat dan utara pulau Sumatera.

Di Banyuwangi, ‘Srawung Seni’ diisi pementasan seni Teater, berjudul ‘Kursi-Kursi.’ Persembahan dari Padepokan Seni Alang-Alang Kumitir Banyuwangi ini dipentaskan di Gedung Wanita Kabupaten Banyuwangi.

‘Kursi-Kursi’ merupakan karya Punjul Ismuwardoyo, Sarjana (S1) Tari alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, yang saat ini menjadi anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi.

‘Kursi-Kursi’ merupakan refleksi jagad kekuasaan pragmatisme politik praktis. Penyimpangan kepentingan para elit masyarakat dan Pemerintah yang cenderung pada kepentingan sesaat.

Sementara seniman muda, Bathara Saverigadi Dewandoro, dari Sanggar Swargaloka Jakarta, tampil dengan karyanya bertajuk ‘Tari Refusing.’ Pementasan jug digelar di Gedung Wanita Kabupaten Banyuwangi.

Sebelum pementasan kedua seniman lintas generasi ini, Punjul Ismuwardoyo dan Bathara Saverigadi Dewandoro, tampil menjadi nara sumber pada acara workshop seni menyoal ‘Seni Pertunjukan di Tengah Geliat Industri Kreatif’. Acara dilaksanakan di Hotel Mahkota, Plengkung, Banyuwangi.

Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Yayasan Swargaloka, dan Padepokan Awu-Awu Langit.

Melibatkan para pelajar, mahasiswa, guru, dosen, anggota sanggar, penggiat seni, seniman dan budayawan, sebagai peserta. Acara ini dipandu oleh aktor film dan sinetron yang juga wartawan senior, Eddie Karsito.

Fenomena etnik Osing, dengan kesenian utamanya ‘Gandrung’ tampaknya menjadi idealisasi Bathara Saverigadi Dewandoro. Ia menyerap nilai-nilai kearifan budaya Osing yang kemudian ia ekspresikan dalam karya seninya bertajuk ‘Tari Refusing.

“Refusing artinya penolakan; sebuah karya berdasar pada seni Gandrung Banyuwangi. Saya terinspirasi dari adegan Paju pada Gandrung Banyuwangi. Di mana penata tari melihat sebuah penolakan yang diberikan penari gandrung kepada pemaju agar ia tidak tercium atau tersentuh,” terang Bathara Saverigadi Dewandoro.

Karya ini, tambah Bathara, mengekspresikan tentang perasaan ketika menentukan penolakan. “Begitu besar dampaknya bagi kelangsungan kesenian akibat penolakan. Ketika semua generasi menolak dijadikan gandrung profesional, maka dikemudian hari anak cucu kita tak akan melihat kesenian asli Gandrung Banyuwangi,” ungkapnya.

Gandrung, kata Bathara, merupakan seni budaya lokal yang sebenarnya sudah mulai terdesak pentas-pentas populer, seperti dangdut dan campursari. Untuk pementasan ini, Bathara bersama tim kreatifnya telah melakukan latihan melalui eksplorasi alam di kawasan Banyuwangi.

Bathara Saverigadi Dewandoro baru saja menuntaskan lawatannya ke New Zealand, Selandia Baru, dalam rangka pertukaran budaya yang difasilitasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, November 2016 lalu.

Di bulan yang sama, Bathara ditetapkan sebagai salah satu Penari Terbaik, serta karyanya berjudul ‘Si Tuan Jingga’ mendapat predikat Juara III Festival Tari Betawi, yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta. (sak)

Bagaimana Mencegah Kerusakan Situs?

foto
Salah satu temuan penting di situs bekas Majapahit. Foto: Mundardjito/BBC.com.

Situs cagar budaya yang diperkirakan merupakan ibukota Kerajaan Majapahit terancam hancur jika tak ada upaya pencegahan. Perusakan yang masif terungkap akhir-akhir ini. Apa yang dapat dilakukan untuk menjaganya?

Beberapa arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim kembali menemukan struktur bangunan yang diduga merupakan bagian dari peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan. Temuan itu berjarak sekitar 200 meter dari lokasi perusakan situs yang baru saja terungkap.

Kepala Sub Unit Penyelamatan dan Pengamanan BPCB Jatim Ahmad Hariri mengatakan penelitian yang dilakukan sejak perusakan situs terungkap pada pekan lalu, menemukan sejumlah benda kuno.

“Ada pecahan arca, ada temuan struktur ada beberapa umpak, batu balok batu yang dipahat masyarakat menyebutnya sebagai batu candi, kami bertemu dengan warga dekat lokasi yang menyerahkan temuan berupa lampu kuno atau lampu gantung,” jelas Hariri kepada wartawan BBC Indonesia.

Penemu lampu kuno tersebut merupakan pengrajin batu bata merah yang banyak terdapat di sekitar lokasi situs cagar budaya. Penelitian kembali dilakukan di sekitar situs Trowulan untuk mencari benda-benda peninggalan Kerajaan Majapahit.

Situs Trowulan kembali disoroti setelah sebuah foto perusakan situs yang diunggah di media sosial memperlihatkan sebuah truk mengangkut bata merah yang diduga merupakan bagian dari struktur bangunan peninggalan abad ke 13.

Polisi telah memeriksa sejumlah orang, dan menurut keterangan mereka mengambil tanah dan tidak mengetahui adanya situs purbakala. Belum ada tersangka yang ditetapkan.

Tanah di kawasan situs Trowulan seringkali diambil untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan batu bata merah atau linggan. Linggan dianggap sebagai ancaman kerusakan Situs Trowulan.

Berdasarkan penelitian BPCB Jatim, diketahui jumlah linggan terus meningkat. Data citra satelit memperlihatkan pada 2011, bangunan linggan di Kecamatan Trowulan mencapai 2.418, jauh lebih banyak dibandingkan data pada 1998 dengan tak lebih dari 5.000 linggan.

“Peninggalan purbakala itu ada di dalam tanah, dan aktivitas pembuatan bata itu melakukan penggalian, dan di banyak lokasi mereka menemukan peninggalan Majapahit,” kata Hariri.

Meski Situs Trowulan telah ditetapkan sebagai cagar budaya pada ahkir 2013 lalu, tak semua warga menyadarinya. Diki warga Dusun Bendo mengaku selama ini tak mengetahui adanya situs cagar budaya. “Tahu ada penggerukkan, tapi tidak tahu kalau ada candi begitu,” jelas Diki.

Dia juga mengaku selama ini tak pernah ada sosialisasi mengenai keberadaan Situs Trowulan. Meski begitu, Hariri mengatakan selama ini BPCB Jatim melalukan sosialisasi secara berjenjang kepada pihak kelurahan dan mereka yang akan meneruskan kepada warga.

Selain itu, warga yang menemukan benda kuno dan melaporkannya pada BPCB Jatim akan diberikan imbalan. “Besar imbalannya ditentukan oleh tim yang dibentuk setiap tahun, tim itu terdiri dari arkeolog yang akan menaksir harga benda tersebut,” kata dia.

Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Harry Widianto mengatakan pelibatan warga untuk menjaga situs cagar budaya seperti Trowulan sangat penting. Dia memberikan contoh yang berhasil dilakukannya di Situs Manusia Purba Sangiran, Jawa Tengah.

“Penetapan cagar budaya itu, jangan sampai membuat masyarakat itu rugi, masyarakat dianggap sebagai aset potensial, syukur-syukur bisa dilibatkan, seperti Sangiran itu sangat sangat signifikan, masyarakat diberikan imbalan dalam bentuk sertifikat dan uang yang cepat,” jelas Harry.

Harry mengatakan sosialiasi dan pelibatan masyarakat merupakan salah satu upaya pencegahan kerusakan yang lebih parah dari Situs Trowulan harus dilakukan. Jika situs Trowulan hancur, menurut Harry, merupakan kerugian besar bagi sejarah bangsa Indonesia.

Sejauh ini belum ada tersangka yang ditetapkan dalam kasus perusakan situs Trowulan, tetapi Harry berharap pelaku dapat dihukum berat karena telah menghancurkan bagian dari sejarah.

Ibukota Majapahit

Situs Trowulan berada di wilayah enam kecamatan di Kabupaten dan Kota Mojokerto, sebagian besar wilayahnya berada di bawah permukiman penduduk, dan diperkirakan luasnya mencapai 11×11 kilometer persegi.

Temuan yang sudah digali para arkeolog, memperlihatkan adanya struktur kota, seperti disampaikan oleh Arkeolog Universitas Indonesia, Prof Agus Aris Munandar.

“Itu kota Majapahit itu sangat ada senjata ada peralatan dari besi dan juga bekas kota, ada aktivitas kota pada abad ke 14 dan 15 banyak sekali, karena itu para arkeolog yakin (kawasan itu) merupakan peninggalan Majapahit, dan juga diperkuat dengan sumber catatan dari Cina,” kata Agus.

Dia mengatakan untuk mencegah kerusakan situs bisa dilakukan pembebasan zona-zona kawasan cagar budaya.

“Dulu ada yang namanya sistem pembebasan blok dan sel, kalau sistem blok pembebasan agak meluas banguan dan ruang diantara bangunan itu, rupanya yang sekarang dipakai sistem sel, kalau pembebasan besar-besaran kan tidak mungkin, tapi sistem sel bisa digunakan lagi jika ada gejala atau fenomena temuan arkeologi di suatu lokasi bisa dibebaskan menjadi sistem sel,” jelas Agus.

Keberadaan situs ini, telah diungkap sejak 200 tahun lalu oleh orang Inggris yang pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa dan Bengkulu Thomas Stamford Raffles. Dalam bukunya History of Java yang terbit pada 1817, dia menulis tentang keberadaan situs peninggalan Majapahit ini berdasarkan laporan penduduk setempat.

Pada 1815, Raffles mengutus Wardenaar untuk melakukan pencatatan arkeologis di Mojokerto, dan dalam bukunya menyebut situs itu sebagai peninggalan Kerajaan Majapahit.

Setelah Wardenaar, penelitian terhadap situs Trowulan dilakukan sejumlah pakar Belanda dan negara lainnya antara lain WR Van Hovell (1849), RDM Verbeek (1889), JVG Brumund dan Jonathan Rigg. Peneliti lokal tercatat BUpati Mojokerto yaitu RAA Kromodjojo Adinegoro pada 1849-1916. Ada pula J Knebel (1907) dan Harry Maclaine Pont yang meneliti situs Trowulan pada 1921-1924.

Pada 2012, pembangunan Pusat Informasi Majapahit (PIM) di situs Trowulan ditolak sejumlah arkeolog karena dianggap merusak situs Trowulan. Proyek ini akhirnya dihentikan. (bbc.com)

Dalang Harus Kreatif dan Inovatif

foto
Pada Pekan Wayang Tahun 2017 juga menampilkan peserta dalang muda. Foto: Dalangbocah.com.

Wayang kulit sebagai produk budaya unggulan, dapat berumur panjang sampai saat ini. Hal tersebut disebabkan oleh dua hal pokok, yaitu: konsisten pada nilai moral dan adaptif terhadap perkembangan zaman, artinya di dalam pertunjukan wayang sarat dengan nilai-nilai ajaran luhur.

Dan secara artistik, pertunjukan wayang terus menggeliat untuk selalu tampil menarik dan aktual.

Walaupun demikian, bukan berarti upaya pelestarian dan pengembangannya tidak memiliki tantangan, terutama di tengah arus hiburan melalui media elektronik saat ini yang begitu gencar, maka dalang dituntut harus mampu menunjukkan kreativitas dan inovasinya.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Dr H Akhmad Sukardi MM, saat membuka Festival Dalang Muda dalam rangka Pekan Wayang Tahun 2017 di UPT Taman Budaya Jawa Timur Jl Gentengkali Surabaya, Selasa (18/4) lalu. “Dalang dituntut untuk kreatif dan inovatif sesuai dengan kemajuan teknologi,” pintanya, seperti dikutip Beritalima.com.

Dicontohkan, seorang dalang bisa memasukkan potongan-potongan cerita yang paling menarik ke dalam youtube tentunya dengan durasi yang singkat, lengkap dengan suara sindennya. Dengan demikian cerita pewayangan akan lebih luas dikenal masyarakat terutama generasi muda dan pada akhirnya akan lestari dan terpelihara keberadaannya.

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa dulu sanggit (daya kreatifitas dan olah pikir) terhadap berbagai kecenderungan sosial oleh para dalang selalu dikemas dalam idiom-idiom pakeliran secara semu dan tutur sastra tinggi, karena masyarakat masih sangat apresiatif dan paham terhadap pertunjukan wayang.

Sebaliknya, betapa saat ini terjadi kesenjangan komunikasi antara penonton dan pertunjukan wayang. “Sebagian besar masyarakat sekarang, terutama generasi muda, tidak paham terhadap alur cerita yang dibawakan oleh dalang,” tuturnya.

Ketidakpahaman tersebut bukan semata-mata karena faktor bahasa, melainkan juga karena kurangnya bekal pengetahuan tentang latar belakang budaya dan nilai seni pertunjukan wayang.

Untuk itu melalui pekan wayang tahun 2017 ini, Sekda berharap masyarakat mampu mengapresiasi momentum dan proses regenerasi melalui program pemerintah provinsi tersebut, yang didukung oleh Pepadi Pusat sehingga seni pedalangan dapat tetap lestari di Jawa Timur khususnya dan Indonesia umumnya.

“Kita harapkan Pekan Wayang 2017 akan melahirkan dalang-dalang muda, dalang bocah dan sinden-sinden muda yang mampu membumikan kesenian peninggalan leluhur,” harapnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur Dr H Jarianto MSi mengatakan bahwa salah satu tujuan Pekan Wayang ke XX Tahun 2017 adalah melestarikan warisan budaya Indonesia yang diakui dan dianugrahi penghargaan dari Unesco sebagai warisan budaya tak benda, khususnya untuk kategori intangible cultural heritage of humanity yaitu Wayang Indonesia pada tahun 2003.

Pekan Wayang Tahun 2017 diadakan 18-22 April 2017, dengan peserta Dalang Muda dari 21 kabupaten/kota, dalang bocah diikuti 20 kabupaten/kota dan sinden berasal dari 21 kabupaten/kota. Adapun Dewan Pengamat berasal dari ISI Surakarta dan seniman dari Surabaya yang akan menentukan 10 penyaji terbaik. (sak).

Orang Suriname: Jangan Lupakan Budaya Jawa!

foto
Diaspora keturunan Jawa bertemu di ‘Javanese Diaspora Event III’ di Benteng Vredeburg. Foto: Detik.com.

Diaspora keturunan Jawa asal Suriname Antoon Sisal berharap meskipun bersinggungan dengan modernisasi para generasi muda keturunan Jawa tidak melupakan budaya Jawa.

“Pesan saya pada generasi muda Jawa jangan sampai lupa budaya Jawa meskipun saat ini sudah memasuki zaman modern,” kata Antoon menggunakan bahasa Jawa di sela pembukaan acara ‘Javanese Diaspora Event III’ bertema ‘Ngumpulke Balung Pisah’ di Benteng Vredeburg, Jogja, awal pekan lalu.

Menurut Antoon, selain tidak melupakan Budaya Jawa, generasi muda keturunan Jawa juga wajib melestarikan Budaya Jawa di manapun mereka berada. Sebab, meski tidak tinggal di wilayah etnis Jawa, para diaspora Jawa di Suriname hingga saat ini semangat melestarikan budaya Jawa.

“Prinsip kami Bahasa Belanda harus mengerti, Bahasa Jawa jangan sampai dilupakan,” kata dia seperti dikutip Koran Kompas.

Sementara diaspora Jawa lainnya asal Kaledonia Baru, Sherlly Timan mengatakan meski bahasa Jawa tidak secara terus menerus dipraktikkan dalam keseharian di negaranya, namun nilai budaya Jawa seperti tata krama atau unggah-ungguh melekat pada kepribadian para keturunan Jawa di Kaledonia.

“Soal tata krama, unggah-ungguh remaja keturunan Jawa di Kaledonia masih mengerti,” kata Sherlly.

Oleh sebab itu, ia juga berharap generasi muda keturunan Jawa, khususnya yang masih tinggal di wilayah etnis Jawa seperti di Jawa Tengah, Jawa Timur, serta Jogja agar tidak menyia-nyiakan kekayaan Budaya Jawa yang dimilikinya.

“Kami sendiri di Kaledonia bercita-cita mendirikan Pusat Budaya Jawa,” kata dia yang datang bersama suaminya.

Ketua Panitia Javanese Diaspora Event (JDE) III, Indrata Kusuma Prijadi mengatakan acara ‘Javanese Diaspora Event III’ yang akan berlangsung 17-23 April 2017 bertujuan memfasilitasi para keturunan suku Jawa yang sudah lama tinggal atau bahkan lahir di luar negeri untuk saling bertemu dan menengok kembali sejarah masa lalu para leluhur mereka yang berasal dari tanah Jawa.

Indrata menyebutkan, para peserta yang hadir antara lain berasal dari Suriname, Kaledonia Baru, Belanda, Meksiko, Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, dan Hong Kong. Akan hadir pula, keturunan Jawa dari dalam negeri yang berdomisili di luar Pulau Jawa seperti Sumatera, Sulawesi, Kalimantan. (ist)