Struktur unik batuan di Begaganlimo terbentuk alami. Foto: Merdeka.com.
Dari hasil penelitian Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur (Jatim) di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, situs yang baru ditemukan warga Dusun Begagan, Desa Begaganlimo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto usai banjir bandang bukan situs. Namun hanya merupakan fenomena alam biasa.
Staf BPCB Jatim, Agung Vidi mengatakan, tim sudah melakukan penelitian susunan batu yang ditemukan warga di Desa Begaganlimo. “Sebenarnya, temuan itu hanya singkapan batuan yang tampak pasca banjir dan longsor di Begaganlimo itu merupakan fenomena alam biasa,” ungkapnya seperti dikutip Beritajatim.com, beberapa waktu lalu.
Agung yang juga arkeolog ini menjelaskan, jika dilihat dari segi geologi, wilayah Gondang termasuk dalam zona kendeng bagian timur. Yang terdapat endapan kenozoikum akhir dan umur pliosen-pliatosen. Zona tersebut diperkirakan berumur kurang lebih 2 sampai 5 juta tahun lalu.
“Kalau dari jenis batuannya berupa batu pasir berlapis napalan, batu pasir gampingan dan perlapisan napal pasiran. Nah… Kejadian ini pernah booming di Sidomulyo, Purworejo, Jateng. Jadi intinya batu di Begaganlimo bukanlah hasil budaya manusia, itu terbentuk karena alam,” katanya.
Terkait munculnya batu tersebut terbuka ke permukaan, lanjut Agung, karena kontak antara clay dan bedrock-nya tersebut ada media yang jadi bidang gelincir longsor. Sehingga air hujan yang masuk jenuh, sedangkan media luncurnya clay atau lempung sehingga air yang masuk sampe bedrock itu yang membuat longsor.
“Sehingga batu terbuka, jadi intinya bahwa struktur itu terbentuk secara alam bukan situs kuno,” pungkasnya.(ist)
Ribuan lontar klasik dari Bali bakal dipulangkan dari Belanda. Foto: ilustrasi.
Ternyata lontar klasik dari Bali yang ditulis sejak ratusan tahun sebelum masuknya zaman penjajahan masih tersimpan cukup apik di negeri kincir angin, Belanda. Rencananya ribuan lontar tersebut akan dipulangkan ke Bali dari Belanda. Terlaporkan ada 13.000 lontar yang tersimpan di Leiden University, Belanda. Lontar tersebut dikabarkan hampir 100 persen dari Karangasem Bali.
“Isi dari lontar tersebut dikatakan ada yang berupa cerita atau babad, Kekawin (tembang), tatwa, usadha atau ilmu pengobatan hingga kediatmikan sampai ilmu Pengeleakan (Leak Bali),” tutur salah seroang staff pegawai di perpustakaan daerah Karangasem, seperti dikutip Merdeka.com, beberapa waktu lalu.
Menurut dia, terkait dengan keberadaan belasan ribu karya sastra Karangasem Belanda itu, Pemkab Karangasem saat ini tengah berusaha melakukan berbagai pendekatan dan penjajakan dengan pihak Leiden University guna pemulangan 13.000 cakep (lembaran) lontar Karangasem tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan Karangasem, I Putu Arnawa, membenarkan terkait keberadaan lontar tersebut termasuk upaya pengembalian lontar milik Karangasem di negeri yang pernah menjajah Bangsa Indonesia 3,5 abad lamanya itu.
Bahkan, kata Arnawa, Bupati Karangasem IGA Mas Sumatri akan langsung melakukan penjajakan ke pihak Leiden University. Selain di Belanda pihaknya memperkirakan ada ribuan karya sastra Karangasem dalam bentuk lontar di beberapa negara di belahan eropa.
“Kita akan melakukan inventarisasi karya sastra lontar Karangasem utamanya pemulangan 13.000 berbagai jenis lontar yang tersimpan di Leiden University,” kata Arnawa.
Sejauh ini Pemkab Karangasem sudah menjalin komunikasi dengan pihak Leiden University terkait pemulangan belasan ribu lontar bersejarah itu. Dan pihak Leiden University sudah memberikan sinyal positif atau bersedia melepas lontar tersebut.
Menurut pihak Leiden University, lontar yang usianya sudah tua itu sangat rentan mengalami kerusakan jika perawatannya tidak bagus.
“Pada dasarnya mereka sudah memberikan sinyal positif, namun mereka (Leiden University,red) ingin mendapat kepastian bahwa lontar itu nantinya dirawat dengan baik. Termasuk penyimpanannya juga harus baik karena lontar sangat rentan rusak,” tegas Putu Arnawa.
Terkait perawatan lontar tersebut, Pemkab Karangasem nantinya akan membangun Museum Lontar di atas lahan seluas lima are di Lapangan Chandra Buana. “Penataan Chandra Buana saat ini kan masih proses, di sini nantinya lontar tersebut kita simpan dan rawat,” tutupnya. (ist)
Bahasa Jawa bisa ditemukan di beberapa negara. Foto: Kisahasalusul.blogspot.co.id.
Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa daerah di Indonesia yang berasal dari suku Jawa, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta dan sebagian Jawa Barat. Bahasa Jawa pun terbagi dalam beberapa varian dialek, seperti bandek dan ngapak.
Dialek bahasa Jawa bandek terdapat di daerah Semarang, Yogyakarta, Solo, Jawa Timur dan sekitarnya. Sedangkan ngapak terdapat di daerah Banyumas, Tegal, Purwokerto, Kebumen, Brebes, Bumiayu dan sekitarnya. Kedua jenis varian bahasa Jawa ini juga masih terbagi lagi, yaitu bahasa ngoko dan krama inggil.
Bahasa ngoko bisanya digunakan untuk berkomunikasi antara sesama masyarakat pada umumnya. Sedangkan krama inggil ini lebih halus, biasanya digunakan di lingkungan keraton, untuk berkomunikasi antara orang yang lebih tua dan lain sebagainya.
Hampir di setiap daerah di Indonesia terdapat suku Jawa, yang dalam kesehariannya berdialog menggunakan bahasa Jawa, terutama untuk daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta.
Berdasarkan hasil survei suku Jawa mencapai 40% dari total penduduk Indonesia. Oleh karena itu bahasa Jawa menjadi bahasa yang paling banyak digunakan dalam bahasa percakapan sehari-hari.
Bahasa Jawa ini juga tidak hanya digunakan orang suku Jawa. Di beberapa daerah, seperti di Sematera, banyak masyarakat penduduk lokal daerah tersebut yang juga menggunakan bahasa Jawa dalam dialog sehari-hari.
Namun selain di Indonesia, ternyata ada negara-negara di dunia yang dalam kesehariannya juga menggunakan bahasa Jawa. Dari berbagai sumber, merahputih.com merangkum negara-negara di dunia yang kesehariannya masih ada yang menggunakan bahasa Jawa.
Singapura
Ternyata di negara Singapura ada sebuah tempat bernama ‘Kampong Jawa’. Tempat ini terletak di tepi sungai Rochor. Kawasan ini adalah tempat pemukiman orang-orang Jawa dari Jawa Tengah. Orang-orang Jawa di daerah ini sudah ada sejak 1825.
Mereka didatangkan untuk dipekerjakan sebagai buruh di kontruksi jalan, perkebunan, serta pembuatan rel kereta.
Hingga saat ini, orang-orang Jawa peranakan yang sudah menjadi warga negara Singapur tersebut dalam kesehariannya masih menggunakan bahasa Jawa. Selain ‘Kampong Jawa’, orang-orang berkebangsaan Singapur dari suku Jawa peranakan ini juga terdapat di Kallang Airport Estate, Singapura. Mereka hidup berdampingan dengan orang Melayu dan Cina.
Malaysia
Malaysia merupakan negara serumpun dengan Indonesia. Sebagian penduduknya adalah Rumpun Melayu. Keunikan Suku Jawa di Malaysia memiliki populasi yang cukup signifikan.
Di beberapa wilayah seperti Johor dan Selanggor warga suku Jawa berjumlah sekitar 20% dari total penduduk yang ada di daerah tersebut.
Masyarakat Jawa yang berada di Malaysia saat ini merupakan suku Jawa generasi ketiga dan keempat. Walaupun masih menggunakan sebagian adat dan kebudayaan Jawa, mereka sudah dianggap Melayu pribumi yang sah sesuai undang-undang Malaysia.
Hingga saat ini, masyarakat Jawa peranakan yang ada di wilayah tersebut, dalam kesehariannya masih menggunakan dialek bahasa Jawa. Bahkan adat istiadat Jawa pun masih melekat di kehidupan mereka.
Keledonia Baru
Kaledonia Baru, atau dalam penggunaan resmi digunakan nama New Caledonia, adalah sebuah wilayah yang berstatus jajahan sui generis Perancis. Wilayah ini terletak di sub-benua Melanesia di Samudra Pasifik sebelah barat daya.
Penduduk asli dari pulau Kaledonia Baru adalah suku Kanak yang berasal dari ras Melanesia. Pada tahun 1896 sebanyak 170 keluarga Jawa migrasi ke neegara ini. Rata-rata mereka dipekerjakan sebagai buruh kontrak.
Sejarah migrasi ini bermula pada masa 42 tahun sebelumnya (1854), Napoleon III membuat aturan bahwa Kaledonia Baru dijadikan tempat pengasingan bagi narapidana hukuman Perancis. Sebagian besar narapidana yang dibawa ke kepulauan ini adalah tahanan politik dari Komune Paris.
Pada tahun 1894, Gubernur Perancis di Kaledonia Baru, Paul Feillet, menghapuskan imigrasi narapidana dan menggantinya para pekerja di kepulauan ini dengan tenaga kerja penjara imigran dari Asia, terutama dari Jepang, Jawa dan Vietnam, yang datang untuk bekerja di tambang dan perkebunan.
Dan sejak tahun 1949, migrasi orang jawa ke Pasifik telah dihentikan. Saat ini ada sekitar 7000 hingga 11.000 orang keturunan berbagai etnis Indonesia tinggal di Kaledonia baru. Saat ini orang Jawa di Kaledonia tetap menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari hingga sekarang.
Kepulauan Cocos di Australia
Kepulauan Cocos adalah sebuah daerah yang berada di wilayah teritorial Australia. Mayoritas penduduk di pulau ini adalah orang Melayu sehingga dikehidupan sehari-hari mereka menggunakan bahasa Melayu. Dari keselurahn orang Melayu yang berada di negara ini, tidak sedikit dari mereka yang berasal dari etnis Jawa.
Orang Jawa yang berada di kepulauan ini berasal dari keturunan para pekerja yang didatangkan oleh Inggris dari Pulau Jawa pada masa abad ke-19. Keturunan dari Jawa yang berada di negara ini masih memegang kebudayaan Jawa.
Bahkan banyak dari mereka yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bagian dari bahasa sehari-hari. Oleh karena itu tidak heran bila Australia pernah menjadikan gambar wayang kulit sebagai gambar perangko nasional Australia.
Banyak wayang-wayang di Pulau Cocos ini dibuat dengan menggunakan bahan kulit yang berasal dari kulit ikan hiu yang sudah di keringkan. Saat ini kepulauan Cocos menjadi salah satu destinasi wisata yang diminati di Australia dengan ciri khas suasana Islami yang amat kental.
Belanda
Banyak orang Belanda yang tertarik dengan kebudayaan serta sastra Jawa. Belanda sendiri merupakan bekas negara penjajah Jawa ternyata memiliki gudang orang yang mempunyai minat khusus terhadap bahasa serta kebudayaan Jawa.
Universiteit Leiden, merupakan universitas tertua di Belanda yang didirikan 1575. Universitas yang didirikan Pangeran Willem van Oranje ini merupakan tempat dari sekitar 17 ribu mahasiswa menimba ilmu tentang kebudayaan dan juga bahasa Jawa.
Di Universiteit Leiden kita bisa melihat naskah-naskah kuno mengunakan huruf Jawa atau sastra Jawa kontemporer yang masih terawat.
Suriname
Republik Suriname, dulu bernama Guyana Belanda atau Guiana Belanda adalah sebuah negara di Amerika Selatan dan merupakan bekas jajahan Belanda. Negara ini berbatasan dengan Guyana Perancis di timur dan Guyana di barat.
Negara ini adalah negara bekas jajahan Belanda. Ketika zaman penjajahan Belanda dulu banyak suku Jawa yang dipaksa bekerja oleh Belanda dan dikirim ke negara ini. Ketika masa penjajahan selesai suku Jawa Suriname memilih menetap.
Diperkirakan sekitar 75.000 orang Jawa yang tinggal dan menjadi warga negara Suriname. Jadi tak heran, jika dalam kesehariannya warga negara Suriname ini berdialog menggunakan bahasa Jawa. Seni dan budaya Jawa di negara ini pun tumbuh subur.
Bahkan, tak jarang, artis-artis Jawa dari Indonesia seperti Didi Kempot, Sony Josz, dan Mantoes sering dipanggil untuk acara konser di negeri itu. Termasuk pada dalang wayang kulis seperti Ki Mantep Soedarsono juga sering pentas wayang di negara tersebut. (sak)
Permainan gamelan Jawa oleh orang asing. Foto: wacana.co.
Mahasiswa dari perguruan tinggi Royal Conservatoire of Scotland (RCS) Skotlandia belajar gamelan dari Indonesia. Untuk memperdalam ilmu seni musik tradisional Jawa ini, mahasiswa yang tergabung dalam komunitas pencinta serta penggiat gamelan di Skotlandia tersebut mendatangkan pengajar gamelan dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Prasadiyanto.
“Kedatangan pengajar gamelan di Royal Consrevatoire of Scotland yang merupakan perguruan tinggi bidang seni terbaik ketiga di dunia ini sudah sejak lama dinantikan oleh para mahasiswa dan komunitas pecinta gamelan di Skotlandia,” ujar Pensosbud KBRI London, Dethi Silvidah Gani seperti dilansir Antara, beberapa waktu lalu.
Dikatakannya Prasadiyanto direncanakan melatih gamelan di RCS dan beberapa komunitas gamelan di Skotlandia selama tiga bulan.
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London, E. Aminudin Aziz, mengatakan, kedatangan pengajar gamelan di Inggris itu merupakan inisiatif pihaknya bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
“Hal ini sebagai bentuk upaya mempopulerkan kebudayaan negara kita di Inggris,” ujar E Aminudin Aziz, yang mengantar Prasadiyanto ke RCS di Skotlandia.
Dikatakan dipilihnya gamelan utamanya adalah atas pertimbangan kian banyaknya jumlah peminat seni tabuh tersebut di Inggris. Diperkirakan terdapat sekitar 150 set alat gamelan di Inggris dengan jumlah komunitas pecinta gamelan yang terus meningkat.
Selain melatih, Prasadiyanto juga akan membantu menyiapkan materi untuk rencana pertunjukan gamelan di Skotlandia. Selain itu konser gamelan pada Juni mendatang serta konser simfoni akbar pemutaran film bisu “Setan Jawa” karya Garin Nugroho dengan komposisi gamelan oleh Rahayu Supanggah di kota Glasgow.
Kesepakatan kerja sama perhelatan kedua konser tersebut telah disepakati dengan pihak Royal Conservatoire of Scotland yang diwakili oleh Direktur Musik RCS Gordon Monroe, ujarnya.
Dalam waktu dekat beberapa pengajar gamelan lainnya juga akan didatangkan dari Indonesia untuk melatih gamelan di sejumlah perguruan tinggi ternama di Inggris yang berlomba-lomba meminta dijadikan sebagai basis pengajaran dan pelatihan seni tabuh tersebut.
KBRI London bekerja sama dengan Kemdikbud juga akan mendatangkan tenaga pengajar bahasa dan budaya Indonesia untuk mengajar di sejumlah sekolah dasar dan menengah serta komunitas pecinta Indonesia di Inggris.
KBRI London optimis bahwa seiring dengan meningkatnya intensitas upaya mempromosikan kebudayaan negeri ini, pemahaman dan kecintaan publik Inggris terhadap Indonesia kian menguat. (sak)
Sisa batu bata kuno diduga dari era Majapahit. Foto: Merdeka.com
Situs tembok kembar di kebun tebu milik almarhum Tuminah seluas 1.800 meter persegi di Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Mojokerto dijarah selama dua tahun. kini kondisi situs berupa tumpukan bata rusak parah. Batu bata berukuran 35 x 20 cm ini dibuang ada juga yang dijual seharga Rp 3 ribu per balok.
Warga Kumitir, Mohammad Yasin (57) menceritakan, dahulunya lahan di sana menyerupai bukit kecil, setelah digali ditemukan tumpukan batu bata kuno. Kemudian sejak lima bulan lalu, lahan milik Tuminah disewa Badri.
“Dulu batu bata kuno ini ada yang dibuang saja karena tanahnya dipakai kerajinan bata merah, ada yang dijual ke pembeli seharga Rp 3 ribu per biji. Tapi setelah disewa sejak 5 bulan lalu, tumpukan batu itu diangkut menggunakan truk oleh yang menyewa lahan, tapi tidak mau dibawa ke mana,” ujar Yasin kepada wartawan.
Penjarahan batu bata situs Majapahit ini sudah ditangani Polres Mojokerto. Polisi melakukan penyelidikan untuk mengungkap kasus penjaharan warisan kerajaan besar di Pulau Jawa tersebut.
“Kami akan selidiki kasus ini, ada kemungkinan pemilik lahan dan orang yang mengambil batu bata situs peninggalan Majapahit ini tidak memahami kalau benda itu merupakan cagar budaya dan tidak boleh diambil. Tapi kalau nanti hasil penyelidikan pengambil batu situs ini sudah memahami kalau itu situs yang dilindungi kita akan tangkap,” kata Kapolres Mojokerto AKBP Rachmad Iswan Nusi seperti dikutip Merdeka.com.
Meski pengambilan batu bata kuno situs Majapahit ini sudah berlangsung lama, namun pihak Desa Kumitir tidak mengetahui. Kepala Desa Kumitir Beny mengaku tidak tahu pengambil batu bata kuno tersebut.
“Selama ini saya tidak tahu kalau ada pengambilan batu bata Situs peninggalan Majapahit. Selama ini yang saya tahu, lahan milik almarhumah Tuminah disewa untuk diambil tanahnya digunakan bahan baku kerajinan bata merah,” kata Beny.
Balah Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur di Trowulan bergerak cepat untuk membantu mengungkap kasus ini. Namun saat meninjau ke lokasi, hanya ditemukan beberapa bongkahan batu bata kuno saja, tidak terlihat tumpukan batu bata seperti di foto yang sudah viral.
“Setelah menerima informasi dan tahu foto di medsos, tim BPBC langsung ke lokasi penemuan situs hanya mendapati beberapa bongkahan saja, dan tidak menemukan tumpukan batu bata kuno seperti di foto yang beredar di medsos,” kata Kepala Humas BPCB Jatim Sudaryanto di Trowulan.
Terpisah, Kepala Sub Unit Penyelamatan BPCB Jawa Timur Ahmad Hariri usai melakukan pengecekan lokasi situs di Desa Kumitir mengatakan, situs itu merupakan struktur kuno yang terdiri dari batu bata merah berukuran besar. Luas situs diperkirakan 8 meter x 100 meter dan diperkirakan ketinggian struktur situs ini mencapai 1,28 meter.
“Kalau melihat dari sisa-sisa strukturnya awalnya merupakan struktur yang menjadi satu. Tapi ternyata terpisah menjadi dua bagian,” kata Ahmad Hariri.
Ditambah informasi dari warga setempat, struktur situs tersebut merupakan tembok kembar yang melintang dari Utara ke Selatan. Ditemukan juga batu-batu berbentuk balok di antara dua tembok yang diperkirakan sebagai penguat bangunan. Meskipun belum bisa memastikan, tapi diduga kuat situs itu merupakan pagar.
“Kami memperkirakan ini peninggalan zaman Majapahit. Kemungkinan ini karena kami membandingkan dengan temuan terdekat, yakni Candi Tikus dan Gapura Bajang Ratu di Trowulan,” terangnya.
Kalau melihat dari sisa-sisa strukturnya, situs Kumitir diperkirakan cukup luas mencapai radius 250 meter dari lokasi penjarahan. Areal dengan jarak 250 meter, ternyata ditemukan struktur batu bata merah kuno. Hasil penelitian yang sudah dilakukan akan dilaporkan ke Kemendikbud.
Bukan kali ini saja ancaman terhadap situs Kerajaan Majapahit terjadi. Di tahun 2013 lalu, rencana pembangunan pabrik baja PT MSB di Kecamatan Trowulan menuai kecaman dari Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI). Sebab area pembangunan berada persis di kawasan situs Kerajaan Majapahit.
Rencana pembangunan pabrik tersebut, dinilai mengancam keberadaan situs-situs kerajaan yang didirikan Raden Wijaya. Chairman of Board of Trustees BPPI Hashim Djojohadikusumo kala itu menegaskan, pembangunan pabrik baja di lokasi tersebut harus digagalkan.
“Ini (pembangunan pabrik baja) mengancam keberadaan situs-situs Majapahit dan akan menuai kehancuran. Untuk itu, kami akan segera menemui Bupati Mojokerto agar membatalkan proyek pembangunan pabrik baja tersebut. Karena Pemkab Mojokerto yang paling berwenang,” kata Hashim, (18/10).
Pembangunan pabrik pengecoran baja itu berada di sekitar 2 kilometer dari Gapura Wringin Lawang yang merupakan pintu masuk Kerajaan Majapahit.
Usaha penolakan dari berbagai pihak itu berbuah manis. Gubernur Jatim Soekarwo akhirnya membatalkan izin pendirian pabrik baja di lahan seluas 2 hektare di Desa Bejijong dan Wates Umpak, Trowulan. Pembatalan ini spontan membuat perusahaan kecewa. (ist)
Hasta Brata dalam lakon Wahyu Makutharama. Foto: ist.
Hasta Brata ini berasal dari delapan wejangan Begawan Kesawasidhi yang diberikan kepada Arjuna, dalam kisah pewayangan dengan lakon Wahyu Makutharama.
Hasta Brata seperti ditulis Dr Suyanto SKar MA, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta di websitenya http://suyanto.dosen.isi-ska.ac.id, berupa delapan ajaran yang mentauladani watak alam. Berikut lanjutannya:
5. Watak Kisma (Bumi)
Bumi adalah tempat berpijak semua makhluk yang ada di atasnya, manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, bahkan segala sumber kekayaan alam.
Meski bumi diinjak-injak manusia setiap hari, dicangkul petani, bahkan digali, dikeduk, diambil hasil tambangnya, bumi tak pernah mengeluh. Bumi selalu memberi kebahagiaan kepada semua makhluk yang menempatinya.
Tumbuhan dapat tumbuh subur dan berkembang biak karena kesuburan bumi, bahkan segala kebutuhan manusia dan makhluk-makhluk lainnya telah tersedia di bumi ini.
Bumi menerima sinar matahari dan jatuhnya air hujan, mengakibatkan segala macam tumbuhan tumbuh subur, dan semua itu untuk memenuhi kebutuhan manusia dan semua makhluk yang membutuhkannya.
Bumi tidak pernah meminta imbalan apapun kepada manusia ataupun makhluk-makhluk lain yang memanfaatkan jasanya. Meskipun demikian, bukan berarti manusia sebagai makhluk berpikir bebas berbuat apa saja asal terpenuhi kebutuhannya, dengan tanpa memperhitungkan kelestarian bumi.
Perlunya memahami watak bumi tidak sekedar mentauladani secara simbolik, akan tetapi manusia perlu memahami watak-watak bumi ini agar dapat mengerti bagaimana mensikapi dan memperlakukan bumi ini agar selalu terjaga keseimbangan dan keserasian dalam hidup bersama secara tertib dan damai.
Dengan demikian manusia akan terhindar dari terjadinya berbagai bencana di bumi yang merupakan akibat dari perbuatan manusia sendiri.
6. Watak Dahana (Api)
Api merupakan salah satu anasir alam yang memiliki daya panas. Energi api dapat digunakan untuk melebur apa saja, bergantung yang memanfaatkan.
Jika api itu dimanfaatkan secara positif, membuahkan hasil positif pula. Misalnya, api digunakan untuk membakar besi hingga meleleh, besi dijadikan pisau, atau pun peralatan pertanian, berguna untuk mengolah tanah, bercocok tanam.
Api digunakan untuk memasak bahan makanan, menghasilkan masakan yang menjadi sehat untuk dimakan. Api digunakan untuk melehkan logam mulia, menghasilkan perhiasan, dan sebagainya.
Sebaliknya bila digunakan untuk hal-hal negatif, kemungkinan akan merusak dan merugikan kehidupan ini. Api untuk membakar rumah, membakar hutan, membakar pasar, dan sebagainya, jelas hal itu berakibat merugikan bagi kehidupan masyarakat.
Ini merupakan simbol semangat yang ada dalam diri manusia, semangat itu jika diarahkan kepada hal-hal yang positif niscaya akan membuahkan hasil yang maslahah bagi kehidupan.
Sebaliknya jika semangat itu tidak dikendalikan, cenderung mengarah kepada hal-hal negatif, pasti akan merugikan bagi kehidupan, baik diri sendiri maupun orang lain.
Api membara selalu dalam posisi tegak dan berpijar ke atas, ini merupakan simbol sifat tegas dalam menegakkan keadilan. Sebagai pemimpin hendaknya bersikap seperti bara api, selalu bersemangat, bersikap tegas dalam menegakkan keadilan.
Tanpa pandang bulu, siapa saja yang menjadi penghalang dan perusuh negara harus ditumpas, yang berbuat salah harus dijatuhi hukuman sesuai dengan undang-undang yang berlaku. sebaliknya bagi siapa saja yang patuh kepada peraturan negara harus diayomi.
7. Watak Tirta (Air)
Air adalah anasir alam yang selalu menjadi sarana kehidupan. Di mana-mana ada air di situlah ada kehidupan. Meskipun demikian air tidak selalu memiliki sifat ramah, suatu ketika juga menunjukkan sifat kejam.
Air di laut menghidupi segala macam isi lautan, dari makhluk hidup yang paling kecil sampai yang paling besar hidup karena air. Manusia dan segala macam binatang di daratan, serta tumbuh-tumbuhan yang menancap di muka bumi, semuanya membutuhkan air. Begitu pula tumbuh-tumbuhan yang ada di atas bukit, di pucuk gunung hidup karena air.
Akan tetapi suatu ketika air juga dapat membahayakan; air laut meluap menimbulkan tsunami. Ketika manusia memperlakukan air secara proporsional, mungkin tidak akan terjadi hal-hal yang membahayakan.
Akan tetapi ketika manusia memperlakukan lingkungan tidak sesuai dengan aturan atau norma ekosistem yang berlaku, kemungkinan akan berakibat fatal. Perubahan sifat-sifat hakiki air itu sangat dipengaruhi perilaku manusia.
Tetapi pada hakikatnya air bersifat rata, di mana ada tempat rendah selalu terisi oleh air sesuai dengan luas dan kedalamannya.
Seorang pemimpin hendaknya dapat menjamin kesejahteraan rakyatnya secara adil, proporsional sesuai kemampuan, kedudukan, dan beban kebutuhan yang harus disandang rakyatnya.
Air menjadi sumber penghidupan. Yang dimaksud penghidupan dalam hal ini tidak hanya bagi makhluk manusia, tetapi mencakup segala makhluk termasuk binatang dan tumbuhan. Jadi seorang pemimpin harus dapat memberi penghidupan kepada siapa saja yang mempunyai hak untuk dihidupi (Nartasabda, Kusuma Rec. : 8A).
8. Watak Samirana (Angin)
Angin adalah anasir alam yang selalu menelusuri berbagai ruang dan waktu, yang sempit, yang luas, yang tinggi, yang rendah, di puncak gunung, di dasar lautan, baik di waktu siang maupun malam, semuanya dilalui oleh angin.
Hal ini sesuai dengan pandangan Jawa bahwa pemimpin harus dapat manjing ajur-ajèr, artinya harus bersifat ‘luwes’ atau fleksible dalam bergaul atau srawung di dalam masyarakat.
Seorang pemimpin harus dapat menyelami segala keadaan lingkungan di sekitarnya, cara memperhatikan rakyatnya tidak membeda-bedakan derajat, pangkat dan golongan, serta tempat tinggal, semuanya dapat merasakan pancaran kasih sayang pemimpinnya.
Selain itu seorang pemimpin harus bersikap empan-papan, artinya selalu dapat menyesuaikan diri dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi yang dihadapi. Ketika menjalankan kedinasan seorang pemimpin harus bersikap disiplin sesuai dengan kewajiban kedinasan.
Ketika di rumah, seorang pemimpin harus menjadi pengayom keluarga dan suri tauladan masyarakat sekitarnya sebagai seorang penduduk masyarakat yang baik, jangan sampai terjadi urusan kedinasan dibawa-bawa ke keluarga ataupun masyarakat. Dalam pandangan Jawa dikatakan mbédakaké pribadi lan makarti.
Angin sebagai tauladan, seorang pemimpin harus berwatak supel dalam bergaul. Karena rakyat yang dipimpin bermacam-macam golongan atau kasta, ada kasta brahmana, waisya, dan sudra, yang semuanya berada dalam golongannya masing-masing, maka para pemimpin harus mampu menyelami mereka dengan sikap yang menyenangkan (karya nak tyasing sesama).
Brahmana akan tenang bersemadi jika merasa tentram hatinya, para waisya akan tekun bekerja jika dilindungi ketentraman, begitu pula para sudra akan senang hatinya jika merasa tenteram hidupnya (Kusuma Rec.: 8A). (ist/seri 2 dari 2 tulisan)
Hasta Brata dalam lakon Wahyu Makutharama. Foto: Nguriuriyossy.blogspot.co.id.
Lakon Wahyu Makutharama merupakan salah satu lakon populer dalam pertunjukan wayang. Lakon ini pada hakikatnya adalah ajaran kepemimpinan yang mentauladani sifat-sifat delapan anasir alam semesta, yang disebut Hasta Brata.
Ajaran ini merupakan jalan pemahaman kosmologis menuju ‘kemanunggalan’ antara jagad cilik (alam individu) dan jagad gedhé (alam semesta).
Barang siapa dapat melaksanakan delapan jalan utama tentang alam semesta akan disebut raja, sebaliknya manusia yang tidak dapat menjalankan delapan jalan utama itu akan disebut raja tak bermahkota.
Seperti yang disampaikan Ki Nartasabda, wejangan Hasta Brata (kadang juga ditulis Hastha Brata) berasal dari Begawan Kesawasidhi yang diberikan kepada Arjuna.
Hasta Brata seperti ditulis Dr Suyanto SKar MA, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta di websitenyahttp://suyanto.dosen.isi-ska.ac.id, berupa delapan ajaran yang mentauladani watak alam, yang terdiri atas: surya atau matahari, candra atau bulan, kartika atau bintang, himanda atau awan, kisma atau bumi, dahana atau api tirta atau air, dan samirana atau angin.
Simbol-simbol tersebut tak semata-mata lambang sebagai ketauladanan watak saja, tapi juga mengandung nilai pendidikan untuk memahami sifat-sifat dari tiap-tiap unsur alam itu.
Sehingga memberi pemahaman bagi manusia betapa pentingnya keberadaan semua unsur alam itu bagi kehidupannya. Dengan demikian manusia tidak memperlakukan alam ini secara semena-mena.
1. Watak Surya (Matahari)
Matahari memiliki daya kekuatan menyinari alam semesta. Membuat segala makhluk dan tumbuhan dapat hidup, tak memandang besar kecil, tinggi rendah, baik dan buruk, semua mendapat sinar matahari.
Di dalam alam individu (kosmis) manusia juga memiliki daya semangat yang didorong oleh kekuatan nafsu dan kehendak dalam hidup manusia. Semangat dalam jiwa manusia ini mempunyai peran sama seperti matahari dalam dunia makro.
Ketika manusia masih memiliki daya semangat yang besar, akan selalu memanfaatkan hidupnya untuk mencapai segala sesuatu yang diinginkannya.
Semangat manusia itu akan menyinari semua unsur biologis yang berhubungan dengan kehendak, cita-cita, ide, dan pikiran, sehingga semua unsur itu akan bergerak secara terus menerus sesuai dengan peranannya dalam kehidupan ini.
Tetapi apabila semangat itu padam, maka semua unsur itu tidak akan bergerak lagi, artinya hidup manusia ini tidak berguna lagi. Maka seorang pemimpin bagsa, selain perlu mentauladani sifat matahari, harus memahami pula kedudukan matahari itu dalam keteraturan semesta.
Dengan memahami kedudukan matahari di dunia ini, maka manusia akan menyadari betapa pentingnya matahari ini bagi kehidupan semesta, atas kesadaran itu tentunya manusia akan tersentuh nuraninya untuk selalu menjaga segala perbuatannya yang sekiranya akan mengganggu kelestarian alam.
2. Watak Candra (Bulan)
Bulan memantulkan cahaya karena mendapat sinar dari matahari, cahaya itu memantul ke bumi menerangi di waktu malam hari. Cahaya bulan memiliki daya sejuk dan menenteramkan hati yang memandang. Bulan dapat dikatakan sebagai lentera kehidupan.
Bagi orang Jawa, Rembulan juga digunakan sebagai pertanda waktu (penanggalan), rotasi bulan mengitari bumi selama 30 hari sebulan.
Di lihat dari bentuk penampilan bulan dalam satu bulan, orang Jawa mengelompokkannya dalam tiga tahap, sepuluh hari pertama disebut wulan tumanggal, purnamasidhi, dan panglong atau pangreman.
Hal ini dapat dipahami sebagai perlambang kehidupan manusia, bahwa kehidupan ini semua selalu lahir dari kecil. Dalam perjalanan ruang dan waktu manusia berkembang menjadi besar, dan suatu saat mengalami puncak kesuksesan dalam hidup.
Tapi manusia yang sukses itu tidak akan selamanya dapat menikmatinya, karena usia manusia terbatas, jasmani manusia dapat rusak suatu saat harus kembali ke asal mulanya melalui jalan kematian.
3. Watak Kartika (Bintang)
Bintang menjadi simbol panutan dan keindahan. Orang Jawa sejak dulu telah mengenal ilmu falak atau astronomi, yaitu ilmu tentang posisi, gerak, struktur, dan perkembangan benda-benda di langit, serta sistem-sistemnya (Bagus, 2005: 91).
Nenek moyang orang Jawa hidup sebagai pelaut, maka bintang menjadi petunjuk arah yang utama. Bintang-bintang yang dianggap sebagai petunjuk itu diberi nama-nama dalam bahasa Jawa sesuai dengan kelompok dan bentuk posisinya.
Misalnya lintang luku, yaitu kelompok bintang yang posisinya membentuk luku atau bajak; lintang gubug pèncèng, yakni kelompok bintang yang posisinya membentuk rumah reot; lintang kemukus yaitu bintang berekor (commet) yang muncul pada saat-saat tertentu saja, bintang ini dipandang sebagai pertanda buruk; lintang Bhimasakti atau galaksi, yaitu kelompok bintang yang membentuk tubuh wayang Bhima, kakinya sedang digigit naga. Dan seterusnya.
Bintang ini apabila posisinya berada di tengah-tengah langit, menjadi pertanda waktu tengah malam. Gerak dan posisi semua bintang selalu diikuti masyarakat Jawa tempo dulu, karena perjalanan bintang itu ada hubungannya dengan pergantian musim atau pranata mangsa.
Nelayan yang akan melaut atau petani yang akan bercocok tanam selalu mengikuti perjalanan bintang, agar mendapatkan panen yang memuaskan.
Orang Jawa juga mengenal horoskop. Nama-nama bintang digunakan sebagai lambang meramalkan watak orang dilihat dari hari kelahiranya. Hal ini dalam ngilmu Jawi disebut Palintangan.
Watak orang dapat dibaca menurut bintangnya, adapun bintang itu dapat diketahui melalui hari dan pasaran kelahirannya.
Orang Jawa juga telah mengenal astrologi, yaitu ilmu meramalkan sesuatu yang akan terjadi berdasarkan bintang-bintang. Astrologi ini dalam budaya Jawa lebih dikenal dengan istilah Pawukon, berasal dari kata Wuku.
4. Watak Himanda (Awan)
Awan dipandang sebagai lambang watak adil. Awan adalah uap air yang berasal dari tempat yang rendah seperti laut, sungai, rawa, dan lembah-lembah.
Disebabkan oleh terik matahari, air menguap menjadi awan. Gumpalan-gumpalan awan itu dibawa oleh angin membubung ke angkasa. Di angkasa gumpalan-gumpalan awan itu menyatu dengan lainnya hingga mampu menutup angkasa yang terang menjadi gelap gulita.
Akan tetapi ketika awan itu mencapai ketinggian tertentu dan suhu dingin tertentu, akan mencair dan menjadi air hujan yang akhirnya jatuh kembali ke bumi serta menyejukkan semua kehidupan di bumi.
Oleh karena itu seorang pemimpin perlu memahami sifat-sifat awan, bahwa sesungguhnya tidak ada keberhasilan dalam kehidupan ini yang dicapai secara tiba-tiba. Setiap manusia perlu mengingat asal-usul dan riwayatnya, sehingga pada saat menghadapi segala sesuatu yang terjadi pada dirinya akan mudah selalu introspeksi.
Ketika ia menghadapi kesusahan tidak putus asa, dan ketika hidupnya sukses tidak lupa daratan. Sekarang banyak dijumpai figur-figur pemimpin yang senang mengumbar janji, pada hal janji itu hanyalah sekedar janji yang tidak pernah ada realisasinya.
Ini merupakan salah satu gejala krisis moral, karena manusia didorong oleh kehendak yang tidak disertai ketajaman nuraninya. Manusia cenderung berpikir prakmatis, sehingga buta terhadap nilai-nilai filosofis.
Dengan memahami sifat-sifat awan ini, paling tidak manusia akan memiliki watak bijaksana; jika menjadi seorang pemimpin bangsa akan berwatak adil paramarta, sebagaimana awan ketika menjadi air hujan menyirami bumi seisinya. (ist/seri 1 dari 2 tulisan)
Gunung Lawu di perbatasan Jateng-Jatim konon menjadi pusat spiritual tanah Jawa. Foto: Koran SINDO.
Gunung Lawu (3.265 mdpl) yang terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur banyak menyimpan cerita misteri. Gunung dengan nama asli Wukir Mahendra ini memilik tiga puncak yang masing-masing puncaknya menjadi tempat sakral di Tanah Jawa.
Puncak pertama, Harga Dalem diyakini sebagai tempat pamoksan Prabu Brawijaya V. Puncak kedua, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon penasihat spritual sang Prabu Brawijaya.
Sementara puncak ketiga, Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.
Seperti ditulis Koran SINDO, setiap orang yang hendak pergi ke puncak Lawu harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar si pelaku diyakini bakal bernasib nahas.
Sejak jaman Prabu Brawijaya V inilah hingga Kesultanan Mataram banyak upacara spiritual diselenggarakan di Gunung Lawu. Sehingga Gunung Lawu akhirnya dijadikan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa.
Di kaki gunung sebelah barat ini juga terletak Kompleks pemakaman kerabat Praja Mangkunagaran: Astana Girilayu dan Astana Mangadeg.
Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat yakni, Air Terjun Gerojogan Sewu, di areal taman gerojogan disini terdapat banyak kera.
Konon tempat ini dikaitkan dengan cerita wayang Prabu Baladewa pada saat menjelang perang Baratayudha, disuruh Kresna bertapa di Gerojogan Sewu. Hal ini untuk menghindari Baladewa ikut bertempur di medan perang, sebab kesaktiannya tanpa ada musuh yang sanggup menandinginya.
Ada juga air terjun Pringgodani, sesuai namanya tempat tersebut konon merupakan tempat bertapanya Prabu Anom Gatotkaca anaknya Bima.
Untuk menuju kesana melawati jalanan yang sempit dan terjal. Disini terdapat bertapaan yang juga ada sebuah kuburan yang konon merupakan kuburan Gatotkaca. Kuburan ini dikeramatkan dan banyak peziarah yang datang. Di atasnya terdapat hutan Pringgosepi.
Di Gunung Lawu juga terdapat sebuah mata air yang disebut Sendang Drajad, sumber air ini berupa sumur dengan garis tengah 2 meter dan memiliki kedalaman 2 meter. Meskipun berada di puncak gunung sumur ini airnya tidak pernah habis atau kering walaupun diambil terus menerus.
Selain itu ada juga sumur kuno, namun meski namanya sumur namun bentuknya adalah sebuah gua kecil yang disebut Sumur Jolotundo. Tempat ini gelap dan sangat curam turun ke bawah kurang lebih sedalam lima meter lebih dan berbentuk seperti spiral.
Gua ini dikeramatkan oleh masyarakat dan sering dipakai untuk bertapa. Menurut cerita dari sini bisa terdengar suara debur ombak pantai laut selatan yang jauhnya mencapai ratusan kilometer dari Puncak Lawu.
Tak hanya Gunung Lawu yang penuh dengan misteri, bangunan yang ada di lereng Gunung Lawu inipun juga diselimuti misteri.
Seperti keberadaan dua candi purba Cetho dan Sukuh yang masih menjadi satu rangkaian dari misteri Gunung Lawu.
Konon kedua candi tersebut sudah ada jauh sebelum era Brawijaya V . Hasil pahatan yang terdapat pada relief Candi Cetho dan Sukuh sangat simple dan sederhana. Berbeda dengan pahatan jaman Majapahit yang lebih detil juga dan rapi.
Bukti lain yang menunjukkan usia candi di bawah lereng Gunung Lawu ini tertua dibandingkan candi-candi lain di dunia, saat utusan peneliti dari Suku Maya dari Amerika Latin datang ke Candi Sukuh pada tahun 1982 silam.
Ketika itu peneliti dari Suku Maya datang ke Candi Sukuh dengan di dampingi oleh pecinta alam asal Australia. Yang sangat tertarik dan ingin meneliti lebih lanjut adanya candi di Indonesia yang memiliki bentuk sama dengan candi pada peradaban Inca.
Mereka sengaja melakukan penelitian untuk mengetahui jarak pembuatan candi di Indonesia dengan candi yang ada di Suku Maya.
Mereka mengambil sempel lumut dan batu untuk diteliti pada tahun 1982. Hasilnya sangat mengagetkan peneliti Suku Maya ini. Setelah diteliti, ternyata Candi Sukuh usianya jauh lebih tua dibandingkan dengan candi milik Suku Maya.
Candi di bawah lereng Gunung Lawu ini dibangun menghadap ke arah kiblat atau ke arah barat tidak seperti kebanyakan candi lain di Indonesia selalu menghadap ke timur.
Lokasi candi yang terletak di ketinggian kaki Gunung Lawu ini juga seringkali diselimuti kabut tebal yang turun dengan tiba-tiba, memiliki kesan mistis yang membuat penasaran bagi yang melihatnya.
Selain itu ada fenomena lain yang terjadi di sekitar Lawu. Masyarakat sekitar lereng Gunung Lawu sering melihat sekelebat sinar (cahaya) yang membentuk portal (gerbang) yang berasal dari tiap sudut candi yang berbentuk segi delapan membentuk seperti gerbang ke atas.
Diyakini itu sebagai pintu masuk dimensi lain. Namun, tidak ada yang berani mendekat.Menurut cerita, dahulu di Gunung Lawu ada suatu desa yang hilang. Bahkan sampai sekarang tidak pernah diketahui keberadaannya.
Yang tersisa dan diketahui hanya dari barang peninggalannya saja seperti lumpang, peralatan dapur yang terbuat dari gerabah yang di gunakan pada abad pertengahan masih banyak yang berceceran. Tepatnya di pertengahan puncak Lawu. (ist)
Prihatin kondisi situs di Trowulan, Dewan Kesenian Jatim melakukan aksi teatrikal. Foto: Beritajatim.com.
Dewan Kesenian Jawa Timur menggelar aksi teatrikal di bekas Balong Bunder yang terletak 250 meter di sebelah selatan Kolam Segaran, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Aksi tersebut digelar sebagai bentuk keprihatinan terhadap sejumlah situs yang ada di Trowulan.
Teatrikal tersebut hanya dilakukan dua orang seniman. Satu orang seniman berdoa, sementara satu orang seniman lainnya mematung sambil bawa manequin (boneka pajangan) dengan wajah dilaburi bunga pacar berwarna merah. Tak hanya memakai pacar berwarna merah di wajahnya, ia juga memakai kain putih.
Warna merah sendiri diartikan simbol yang diperumpamakan sebagai darah perjuangan masyarakat untuk mempertahankan tanah air. Keduanya berjalan, seniman yang menggunakan pacar berwarna merah di wajah dan kain putih berjalan di depan, sementara satu orang seniman berdoa di belakang hanya memakai sarung dan telanjang dada.
Keduanya berjalan dari Balong Bunder yang menjadi kontroversi karena merupakan situs namun diuruk pihak Desa Trowulan yang berencana hendak dibangun sebagai parkiran dan pusat kuliner menuju Kolam Segaran. Tak hanya diam, mereka juga minta para pengunjung Kolam Segaran ikut melaburi wajah salah satu seniman.
Ketua Dewan Kesenian Jatim, Taufik Hidayat mengatakan, teatrikan tersebut simbol sebagai ikut merasakan kegetiran berjuang dengan tumpah darah. “Karena beberapa situs di Trowulan ada yang digali dan dijual batu bata kunonya dan ada juga situs yang justru diuruk untuk kepentingan lainnya,” ungkapnya, Minggu (9/4) lalu seperti dikutip Beritajatim.com.
Masih kata Taufik, DKM Jatim prihatin dengan kondisi situs yang ada. Banyaknya informasi terkait penyalahgunaan situs untuk kepentingan pribadi tersebut membuat DKM Jatim harus turun langsung melihat kondisi yang ada. Ternyata informasi yang bereda di media sosial (medsos) tersebut benar adanya.
“Informasi di medsos ada situs yang digali dan dijual batu bata kunonya hingga habis, ada juga yang diuruk. Kita turun untuk melihat langsung apakah sudah ada upaya dari pemerintah daerah, jika tidak kita akan sampaikan ke Dirjen dan Kementrian untuk mengambarkan jika benar disini ada situs yang diuruk dan ada juga situs yang bata-batanya diambil,” katanya. (bj)
Sisa-sisa situs di Kumitir, Jatirejo Mojokerto. Foto: Detik.com.
Penjarahan dan pengrusakan situs Kumitir di Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo bukan kasus pertama kali terjadi. Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim menyebut, kasus serupa sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu di kawasan cagar budaya nasional di Kecamatan Trowulan, Mojokerto.
“(Penjarahan bata kuno) sudah bertahun-tahun, sejak saya masih kelas 2 SD, sekarang usia saya 53 tahun,” kata Kepala Unit Humas dan Kesekretariatan BPCB Jatim, Sudaryanto kepada wartawan di kantor Desa Trowulan, Senin (10/4).
Menurut dia, titik penjarahan terjadi di banyak lokasi di wilayah cagar budaya peringkat nasional, Kecamatan Trowulan. Praktik itu tak lepas dari adanya warga yang kala itu berprofesi sebagai pembuat semen bata merah.
Bata-bata kuno yang ditemukan, dikumpukan lalu digiling menjadi bahan bangunan pengganti semen batu. Ada pula yang menjual bata kuno utuh dengan harga Rp 1.000-3.000 per biji, serta memanfaatkan untuk membangun pagar rumah.
“Zaman dulu, Trowulan terkenal tempat pembuatan semen batu bata, terlebih lagi dulu minim peraturan tidak seperti saat ini. Namun, BPCB tak pernah tahu kegiatan masyarakat jual beli benda cagar budaya, termasuk bata kuno. Kalau tahu kami pasti melakukan pencegahan,” terang Sudaryanto seperti dikutip detikcom.
Atas informasi dari masyarakat, kata Sudaryanto, pihaknya pernah melakukan penelusuran praktik jual-beli benda cagar budaya. Namun, pihaknya selalu menemui jalan buntu.
“Jual beli bata merah bukan hal baru, akan tetapi kegiatan mereka selalu di belakang BPCB, kami tak pernah tahu. Dari cerita masyarakat, kalau kami kembangkan, namanya sindikat kami selalu kehilangan jejak,” ungkapnya.
Sudaryanto menilai, praktik penjarahan benda cagar budaya akibat minimnya kesadaran masyarakat atas pentingnya melestarikan warisan sejarah. Padahal, pengrusakan dan penjarahan situs mengakibatkan hilangnya data penting tentang sejarah kebudayaan di masa lalu.
Selain itu, bisa dijerat dengan Pasal 105 UU RI No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun penjara.
Dia menampik jika selama ini BPCB tak pernah melakukan sosialisasi tentang SK Mendikbud No 260/M/2013 tentang Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional yang meliputi lima kecamatan di Kabupaten Mojokerto dan Jombang.
“Sekitar tahun 2015, pihak kecamatan melakukan sosialisasi dengan pembicara dari BPCB. Memang yang diundang hanya para kepala desa, harapannya ke depan kepala desa mensosialisasikan ke masyarakat,” tandasnya. (ist)