Perusakan Situs Majapahit, Saksi Dapat Ancaman

foto
Foto di Facebook memperlihatkan penjarahan batubata bersejarah di Desa Kumitir, Jatirejo, Mojokerto. Foto: ist.

Sebuah situs bersejarah berupa struktur batu bata yang diduga peninggalan Kerajaan Majapahit di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, dilaporkan mengalami kerusakan akibat dijarah sekelompok orang.

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCG) Jawa Timur, yang telah menurunkan timnya ke lokasi kejadian, Sabtu (08/04) siang, membenarkan adanya perusakan situs cagar budaya tersebut dan tengah menelusuri kejadian tersebut.

“Saat ini saya berada di lokasi kejadian. Kami sedang melakukan pendataan dulu, dan kami akan mengajak Polsek Trowulan untuk ikut melihat kondisinya, dan kita akan menelusuri (siapa yang menjarahnya),” kata Kepala BPCG Jawa Timur, Andi Said kepada BBC Indonesia.

Seorang warga Kota Mojokerto, Deni Indianto, Sabtu (08/04), mengunggah sebuah foto di laman Facebooknya yang memperlihatkan sejumlah orang menjarah potongan batubata dari struktur bangunan bersejarah di Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.

Dalam foto itu, terlihat pula sebuah truk yang menampung potongan-potongan batu bata yang diduga bagian dari struktur batubata bersejarah tersebut.

Unggahan foto ini menimbulkan reaksi kemarahan masyarakat setelah disebarkan oleh ahli arkeologi dari Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, melalui laman Facebooknya.

Sebagian di antara mereka kemudian meminta otoritas terkait, seperti polisi setempat, pemerintah kota setempat serta Balai Cagar Budaya Jawa Timur dan Mojokerto untuk segera bertindak cepat.

‘Diancam dengan pistol’
Kepada BBC Indonesia, Deni Indianto, yang mengunggah pertama kali foto tersebut ke Facebook, mengaku peristiwa itu diabadikan oleh temannya pada Jumat (07/04) di sebuah lokasi yang kaya situs bersejarah di Desa Kemitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.

“Teman saya itu takut untuk mengupload sendiri (ke Facebook). Karena, selama ini ada yang diintimidasi (kalau ada yang melaporkan). Kita hanya bisa share (membagi ke Facebook) untuk diperhatikan,” ungkap Deni yang juga anggota komunitas peduli situs peninggalan Mojopahit.

Dia kemudian menceritakan pengalaman anggota komunitasnya yang pernah “diancam” oleh orang-orang yang disebutnya menjarah atau merusak situs bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit.

Saat itu, sambungnya, mereka hendak memotret aktivitas penjarahan tersebut. “Yang datang kemudian preman, (lalu) mengintimidasi, tidak boleh memfoto (di lokasi penjarahan). Kadang sampai ditodong pistol,” ungkap pria kelahiran 1979 ini.

Deni mengaku berulangkali mendatangi situs bersejarah tersebut yang letaknya kira-kira 100 meter dari salah-satu situs penting peninggalan Majapahit, yaitu Candi Tikus. “Kebetulan rumah saya tidak jauh dari lokasi itu,” ungkap Deni yang sehari-hari bekerja sebagai pemahat.

Sebagian besar sudah hilang
Dari temuan sementara, menurut Kepala BPCG Jawa Timur, Andi Said, sebagian besar struktur batu bata kuno itu sudah hilang. “Masih ada yang tersisa (struktur batu bata) di dalam tanah, tapi sebagian besar sudah hilang, sudah diangkut,” ungkapnya.

Dia membenarkan bahwa dari temuan batu bata yang tersisa, ukurannya sama dengan batu bata peninggalan Majapahit. “Ukurannya besar. Kami juga temukan batu yang berelief,” ungkapnya.

Menurutnya, kasus pengrusakan situs-situs bersejarah yang diduga peninggalan Majapahit selama ini sudah sering terjadi. “Hampir setiap minggu, ada laporan seperti ini.”

Andi Said tidak meyakini bahwa pengrusakan situs ini dilakukan pada Jumat (07/04). Hal ini didasarkan keterangan warga yang tinggal tidak jauh dari lokasi kejadian.

“Masyarakat di sekitar sini menceritakan kejadiannya sudah tiga pekan lalu,” kata Andi. Masyarakat yang dimaksud adalah para pembuat bata yang bekerja tidak jauh dari lokasi kejadian.

Lagipula, “sisa-sisa bekas jalan sudah kering semua, tidak mungkin kemarin terjadi.” Warga setempat, lanjutnya, tidak mengetahui persis mau di bawah kemana batu bata hasil jarahan itu. “Mau dijual, tetapi mereka tidak tahu mau dibawa ke mana batu bata itu.”

Bagaimanapun, Andi Said mengatakan seharusnya struktur batu bata di Desa Tumikir itu harus dilindungi, walaupun belum diketahui secara persis fungsi dari struktur batu bata tersebut. “Karena ini masuk cagar budaya.”

Dia mengatakan bahwa pihaknya dan jajaran di bawahnya sudah memberikan sosialisasi bahwa kawasan yang letaknya tidak jauh dari Candi Tikus ini merupakan kawasan cagar budaya yang tidak boleh diganggu.

Arkeolog: Bentuk unit reaksi cepat!
Dihubungi secara terpisah, ahli arkeologi dari Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono mengatakan, terungkapnya kasus perusakan salah-satu situs bersejarah di kawasan Trowulan dan sekitarnya merupakan sesuatu yang ironis.

“Tentu pihak dan otoritas setempat sangat tahu (situs bersejarah). Masak gajah di pelupuk mata, masak tak tampak,” kata Dwi Cahyono, mengutip sebuah peribahasa, saat dihubungi BBC Indonesia.

Dia kemudian mendesak agar semua pihak terkait, mulai kepolisian, pemerintah kota Mojokerto dan BPCG setempat untuk bertindak cepat. “Untuk menangani (secara cepat) yang darurat semacam ini, harus cepat. Tapi tindakannya sangat terlambat,” kata Dwi.

Dwi meminta semua pihak terkait untuk tidak saling menunggu ketika muncul kasus-kasus perusakan situs bersejarah. “Jangan terjebak pada prosedur administratif yang membelenggu untuk bergerak,” katanya lagi.

Memperhatikan foto yang beredar tersebut, Dwi meyakini bahwa yang “dijarah” adalah batu bata bersejarah dari struktur yang ada dan bukan pasir atau tanah di sekelilingnya. Kenyataan inilah yang sangat disayangkan Dwi. “Struktur (batu bata) itu masih memungkinkan bisa dikejar, apakah (struktur) itu bagian dari waduk kuno Kumitir. Struktur itu dapat memberikan petunjuk,” paparnya.

Dia juga memastikan struktur batu bata itu adalah bagian dari situs kerajaan Majapahit. Dia menduga reruntuhan itu berusia lebih dari 500 tahun. “Sehingga temuan di Kumitir itu bagian dari area bagian dalam kadatuan Majapahit,” ungkapnya.

Kasus perusakan situs bersejarah peninggalan Majapahit ini bukanlah yang pertama, kata Dwi. “Karena itulah saya mengusulkan semacam URC, unit reaksi cepat dari BPCG. Sehingga kalau ada yang darurat-darurat semacam ini, bisa bergerak cepat,” katanya.

Dibantah
Namun kabar pengancaman terhadap sejumlah orang pecinta sejarah oleh penjarah bata kuno situs Majapahit yang baru ditemukan di Dusun Bendo, Desa Kumitir disangkal.

Deni Indianto, salah seorang pecinta sejarah, warga Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, menegaskan pemberitaan yang menjadikan dirinya narasumber itu tidak benar. Intimidasi itu kabarnya dialami saat komunitas tersebut saat mengambil foto di galian C Jabung, Jatirejo tiga tahun yang lalu.

“Itu sudah saya klarifikasi, salah paham. Memang pernah dulu tiga tahun yang lalu, tapi lokasi bukan di situ (Situs Kumitir). Teman pecinta sejarah dapat ancaman di galian Jabung, kata teman-teman dicegah sama preman, akhirnya suatu saat motret lagi harus sembunyi-sembunyi,” kata Deni saat dihubungi detikcom, Minggu (9/4). (ist)

Pemprov Jatim Bangkitkan Seni Budaya Daerah

foto
Pemukulan kentongan tanda dimulainya Gelar Budaya Kabupaten Trenggalek di UPT Taman Budaya. Foto: Humas Pemprov Jatim.

Provinsi Jatim terus membangkitkan seni budaya daerah, dan selalu mensupprot Kabupaten/ Kota untuk mengembangkan dan mempromosikan budaya dan pariwisata masing-masing. Termasuk Kabupaten Trenggalek banyak potensi yang bisa digali dan terus dikembangkan.

Hal itu dikatakan Sekretaris Daerah Provinsi Jatim Dr H Akhmad Sukardi, MM pada Pembukaan Gelar Seni Budaya (GSB) Daerah Kab Trenggalek, di UPT Taman Budaya Jl Gentengkali Surabaya, Jumat (8/4) malam.

Meski jauh dari ibukota, tapi kedepan Trenggalek yang dipimpin yang dipimpin pasangan Bupati Dr Emil Elestianto MSc dan Wakil Bupati M Nur Arifin yang masih sangat muda diharapkan bisa membawa Trenggalek terus bangkit dan lebih mensejahterakan masyarakatnya.

Sekda mengapresiasi Bupati dan Wakil Bupati Trenggalek yang telah memilih sektor budaya dan pariwisata sebagai salah satu program unggulan untuk mengembangkan daerahnya, karena Trenggalek memiliki potensi dan peluang yang bagus untuk kedua aspek tersebut.

Menurutnya, Gelar Seni Budaya Daerah ini salah satu model kegiatan untuk mendorong dan memperluas produk UMKM, serta memperkuat posisinya agar kedepan mampu bersaing dengan produk-produk negara ASEAN.

Kegiatan Gelar Seni budaya daerah ini merupakan bentuk sinergi Pemprov Jatim – Kabupaten/ Kota dalam mendorong pengembangan dan promosi seni budaya, pariwisata, dan produk UMKM di Jatim.

Dengan GSB ini, katanya, akan berdampak memperkenalkan tempat-tempat wisata, misalnya pantai prigi dan gua lowo terbesar terpanjang (800 meter) dan terindah di Asia. Bahkan Sukardi mengutarakan kekagumannya terhadap Kuliner ‘ayam lodho’ yang diolah dari ayam kampung, sego geguk, lontong sumpil.

Otonomi daerah yang benar akan memberdayakan daerah dalam mengelola potensi sumber dayanya sediri, baik sumber daya enterpreneur maupun sumber daya teknis ekononomi lainnya. “Dengan basis daerah-daerah otonom yang kuat akan memperkuat posisi negara dalam persaingan MEA maupun Global,” ujarnya

Jatim yang salah satu kekuatan ekonominya ditopang dari sektor UMKM mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di Jatim selalu lebih besar dari rata-rata nasional. Atraksi seni budaya dan kesenian yang bisa menghadirkan penonton mempunyai ‘Multy Player Effect” terhadap pergerakan ekonomi masyarakat. Selain masyarakat mendapat hiburan, dari sisi ekonomi juga merupakan peluang untuk mendapat nilai tambah ekonomi.

Sementara Wakil Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin mengatakan, promosi yang dilakukan Kab Trenggalek sewajarnya saja, sambil melakukan pembenahan. “Jangan melebih-lebihkan, kalau memang kondisinya masih kurang baik, jangan sampai orang mempunyai ekspektasi yang berlebih, ketika berkunjung lalu kecewa,” ujar Wakil Bupati Trenggalek, yang hari itu bertepatan dengan HUT ke-27.

Pagelaran seni dan budaya Kab Trenggalek yang dikemas dalam ‘Trekah Trah Bumi Ageng Galek” ini untuk melestarikan dan mengembangkan seni budaya, potensi unggulan Kab Trenggalek yang mempunyai nilai-nilai kearifan lokal dan karakteristik, keagungan.

“Kegiatan ini sebagai dukungan dan fasilitasi pelestarian serta pengembangan potensi seni budaya Kab Trenggalek.yang sekarang ini dalam rangka pembinaan dan meningkatkan kesejahteraan pelaku seni masyarakat Trenggalek. Saya harap seniman dan pengrajin terdorong meningkatkan kemampuannya sehingga memiliki daya saing di tingkat regional, nasional maupun global,” harapnya.

Eknomi kreatif dalam bidang industri dan budaya adalah bagian tak terpisahkan dari konsep pembangunan Kab. Trenggalek. Pengembangan dan pemberdayaan bidang kebudayaan, ekonomi kreatif berbasis seni dan budaya juga penting, guna mendukung sektor pariwisata.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov Jatim Dr H Jarianto MSi mengatakan, kegiatan Gelar Seni Budaya (GSB) ini untuk mendorong pengembangan dan peningkatan kualitas karya seni dan kehidupan berkesenian di Jatim

Disamping meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni budaya dan produk ungulan daerah, juga memperluas pasar produk unggulan daerah dan produk ekonomi kreatif. Juga, memperkuat sinergitas antara pelaku seni dan pemangku kepentingan dalam pelestarian dan pengembangan seni budaya dan pariwisata di Jatim.

Selain itu melalui kegiatan ini, dapat menjadi ajang silaturahmi bagi anggota Paguyuban warga Trenggalek yang domisili di Surabaya dan sekitarnya. GSB Kab Trenggalek yang berlangsung 8–10 April itu diawali dengan tari budaya ‘Tirwo wening’ dan tari “Tri widi ing karyo”, pagelaran fragmen tari dan lagu-lagu daerah. (sak)

Ada Jalur Mistis Pendakian di Gunung Arjuno

foto
Banyak arca dan petilasan di jalur Purwosari pendakian Gunung Arjuno. Foto: manusialembah.blogspot.com.

Gunung Arjuno, salah satu gunung tertinggi di Jawa Timur berketinggian 3.339 mdpl ini, punya beberapa jalur pendakian. Salah satunya adalah jalur Purwosari yang dikenal sebagai jalur pendakian spiritual. Jalur ini jarang dilalui oleh para pendaki karena dipercaya menjadi tempat banyak ‘siluman’.

Tapi, salah satu pendaki membuktikan bahwa jalur tersebut tidak semenyeramkan seperti yang dibayangkan. Pemilik akun Instagram @wagesumeru, justru merekomendasikan jalur tersebut saat akan mendaki Gunung Arjuno.

“Kalau ingin mendaki gunung Arjuno cobalah jalur Purwosari. Jalur ini memang banyak dihindari karena cerita mistisnya. Tidak heran memang, karena hampir setiap pas memiliki minimal satu buah makam dan tempat pemujaan, dan katanya di beberapa pos banyak silumannya,” tulisnya seperti dikutip okezone.

Jalur tersebut dipenuhi banyak candi serta arca peninggalan zaman Kerajaan Singasari dan Majapahit. Namun, justru hal itu yang memberikan pengalaman yg berbeda dari pendakian gunung yang lainnya, katanya.

“Jika tiba-tiba suatu sosok muncul dari semak ruyuk atau suatu makam, jangan lari! Karena biasanya itu adalah peziarah atau petapa. Jangan sungkan jika diajak ngobrol atau minum teh bareng, mereka justru asik untuk diajak ngobrol ngalor ngidul soal sejarah dan makna kehidupan manusia di dunia,” lanjut Wage Sumeru.

Terdapat Alas Lali Jiwo yang sering diperbincangkan dikalangan pendaki. Alas Lali Jiwo adalah nama dari hutan yang terletak sebelum puncak. Konon ceritanya jika ada seseorang yang berniat jahat akan diseret ke tempat ini. Selanjutnya akan dibawa ke alam jin untuk dikawinkan dengan bangsa jin tersebut.

Cerita mistis di Gunung Arjuno memang kerap terdengar dan sudah menjadi bahan pembicaraan masyarakat sekitar, seperti tentang adanya lantunan musik Ngunduh Mantu. Para pendaki kadang mendengar suara gamelan Jawa untuk acara pernikahan.

Menurut masyarakat, jika mendengar Ngunduh Mantu maka lebih baik tidak meneruskan pendakian ke puncak tersebut; karena jika memaksa meneruskan pendakian maka si pendaki biasanya akan tersesat dan hilang

Tempat lain yang menjadi cerita mistis yaitu pasar Dieng. Pasar Dieng merupakan tanah yang cukup luas yang terletak sebelum puncak. Banyak cerita yang menyebutkan bahwa pendaki pernah mendengar kegaduhan. Ternyata sumber suara tersebut adalah pasar di balik tenda mereka saat bermalam di pasar Dieng.

“Setelah berjalan beberapa lama sambil menikmati candi dan arca yg dilewati, percayalah, kesan mistis akan lenyap karena kita justru dibuat sadar akan kayanya alam dan budaya di Indonesia yang diajarkan dari gunung ini,” pungkasnya. (ist)

Sosok Buyut Cili Dibalik ‘Barong Ider Bumi’

foto
Warga menyantap ayam dan nasi yang dijadikan sesaji pada kunjungan di makam Buyut Cili. Foto: Tikarmedia.or.id

Tak salah ‘menitik’ Banyuwangi sebagai Kabupaten yang menyimpan potensi wisata alam dan seni budaya. Salah satu andalan yang cukup menarik hadirnya masyarakat asli Banyuwangi yang biasa disebut suku Using atau kadang juga ditulis Osing.

Masyarakat Using menampati desa Wisata Budaya Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Desa Using ini berjarak 6 km ke arah utara kota Banyuwangi. Desa kecil di kaki bukit pegunungan Ijen dengan ketinggian 144 mdpL ini memiliki udara cukup sejuk (22-26 derajat Celcius).

Saat memasuki desa ini, ada sambutan gerbang desa melintang di atas jalanan bertulis “Kawasan Desa Wisata Adat Using Kemiren”. Desa Kemiren ini konon lahir pada 1830-an. Semula desa ini masih berupa hamparan sawah milik penduduk Using di desa Cungking (5 km arah timur desa Kemiren). Kemudian karena beberapa alasan, sebagian penduduk desa Cungking pindah ke desa Kemiren hingga sekarang.

Menurut Sutrisno, salah satu tokoh desa Kemiren, penduduk disini hampir 100% masih keturunan suku Using dan masih memegang teguh adat istiadat yang ada. Satu sifat masyarakat Using adalah terbuka atau egaliter. Bahasa yang dipakai tanpa ada tingkatan bahasa (misal Kromo Inggil dan Ngoko dalam bahasa Jawa).

“Kami memperlakukan semua masyarakat setara, namun tetap memakai etika sopan santun. Orang Using cukup ramah dalam menyambut setiap tamu yang berkunjung ke desa kami,” ujar Sutrisno seperti dikutip MalangUpdate.com.

Laskar Majapahit
Profesor Leckerkerker, peneliti Belanda (1923:1031) menulis Suku Using yang berdiam di desa Kemiren ini merupakan laskar Majapahit yang ‘menyingkir’ tatkala mendapati kerajaannya mulai runtuh (tahun 1478 M). Dengan kekalahan itu, masyarakat dan laskar Majapahit melakukan eksodus ke berbagai arah, akibat tekanan kerajaan Demak.

Mereka yang melakukan eksodus sebagian menetap di Gunung Bromo (sebagai suku Tengger), menetap di Pulau Bali (sebagai suku Bali) dan sebagian lagi menetap di Blambangan (sebagai suku Using) yang menetap di beberapa desa: desa Kemiren, Olehsari, Mangir dll.

Namun dalam literatur Belada Pegeaud (Scholte,1972) dikatakan bahwa suku Using adalah penduduk asli Banyuwangi, sisa laskar kerajaan Blambangan yang menyingkir akibat perang Puputan Bayu (1771-1772) melawan kolonial Belanda dibawah pimpinan Raden Mas Rempeg atau Pangeran Jagapati.

Sebagai penduduk asli Banyuwangi, suku Using di Kemiren memiliki banyak budaya dan upacara. Ritual yang sering dilakukan masyarakatnya hingga hari ini antara lain Upacara Sedekah Bumi, Upacara Sedekah Penampan, Upacara Kupatan, Upacara Barong Ider Bumi, Upacara Tumpeng Sewu, Upacara Rebo Wekasan (selamatan untuk air).

Ada Upacara Adeg-adeg Tandur, Upacara Mecuti Pari (mencambuk saat padi mulai berisi), Selamatan Pari (saat padi mulai dipanen), Selamatan Sapi (dilakukan usai waktu membajak), Selamatan Kebonan, Selamatan Jenang Sumsum, Selamatan Syuraaan, Selamatan Nduduk Lemah, Selamatan Suwunan, Selamatan Ngebangi Umah dan masih banyak lagi.

Bila ditilik dari seni budaya yang ada maka bisa disebutkan Tari Gandrung, Tari Kuntulan, Tari Barong, Gedhogan, Mocoan Lontar Yusuf, Burdah, Jaran Kencak, Kiling, Angklung Pajak, Angklung Caruk, Angklung Tetek, Kenthulitan, Seni Ukir, seni arsitekturan (rumah adat Using), batik Gajah Uling dll.

Barong Ider Bumi
Salah satu seni budaya dan upacara suku Using di Kemiren yang menarik adalah upacara adat “Barong Ider Bumi”. Ritual unik ini terasa magis dalam pelaksanaannya. Acara ini selalu dilaksanakan pada hari kedua Idul Fitri atau tanggal 2 Syawal.

Tradisi ini dalam masyarakat suku Jawa dimaknai kurang lebih sebagai upacara “Bersih Desa”, yang juga dilaksanakan setiap tahun menurut hari jadi desanya masing-masing. Upacara Barong Ider Bumi dan Upacara Bersih Desa sama-sama dimaknai sebagai ucapan syukur atas hasil panen yang berlimpah serta keselamatan masyarakat desa selama tahun yang silam. Selain itu juga memohon berkah keselamatan untuk tahun mendatang.

Barong Kemiren ini tampil spesifik, Barong ini diwarnai merah, hijau, kuning, putih dan hitam yang menyimpan arti simbolisasi khusus. Barong Kemiren memiliki wujud unik. Barong ini memiliki sayap berjumlah empat dengan mahkota dan jamang di bagian kepalanya. Kesan sepintas yang muncul adanya pengaruh budaya Islam (“Buroq” ) kuda berkepala manusia dan bersayap, menjadi tunggangan kanjeng Nabi ketika naik ke Surga.

Jamang bundar besar warna merah mengesankan gada “Besi kuning” pusaka Minak Jingga, raja Blambangan dalam kisah pertunjukkan Ketoprak, Prabuloro dan janger Blambangan (Banyuwangi). Tafsir ini muncul setelah mempelajari sifat atau karakter masyarakat suku Using dengan ciri budaya Using yang sinkretis, yakni dapat menerima dan menyerap budaya masyarakat lain untuk diproduksi kembali menjadi budaya Using, tulis Heru SP Saputra dalam buku “Memuja Mantra” terbitan LKIS Jogja 2007.

Sesuai aturan bakunya, acara ritual “Barong Ider Bumi” ini harus tepat dimulai pada pukul 14.00 WIB. Pemilihan waktu ini (jam 2 siang) memiliki arti filosofis yang diyakini suku Using secara turun-temurun. Menurut mereka, angka 2 adalah angka yang disuka oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Angka 2 menyiratkan berbagai hal dan anasir kehidupan. Sebagai contoh, Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan, menciptakan siang dan malam, menciptakan benar dan salah, menciptakan suka dan duka dan banyak lagi yang sifatnya berpasang-pasangan.

Bagi “lare (orang) Using”, mereka dilarang memulai acara diluar jam 14.00 WIB tersebut, karena apabila pantangan itu dilanggar, diyakini akibatnya akan mendatangkan petaka bagi masyarakat dan desanya.

Ritual “Barong Ider Bumi” dibuka dengan tarian Gandrung anak-anak kemudian dilanjutkan tari “Jaranan Bhuto” khas Blambangan. Jaranan Bhuto ini ditampilkan berdelapan orang. Dengan dandanan serupa raksasa, wajah bertaring nampak garang namun tetap artistik. Rambut menjuntai panjang sebahu ditutup mahkota warna emas.

Usai acara jaranan Buto inilah grup “Barong” mulai diiderkan (diarak) ke sepanjang jalanan desa sejauh 3 km, dengan diiringi musik yang meriah, berirama rancak. Arak-arakan Barong ini dilantuni bacaan mocopatan dan bakaran dupa oleh para sesepuh dan diikuti masyarakat umum dengan suka cita.

Berjalan paling depan dalam ritual Barong Ider Bumi adalah sesepuh desa yang bertugas “Sembur Othik-othik” (melempar sesaji berupa beras kuning dicampur bunga dan uang koin recehan) sejumlah 99.900.

Alasan memilih bilangan tersebut karena Allah ditafsirkan suka pada angka ganjil, dan angka 99 merujuk pada Asmaul Husna, Allah yang Maha Suci. Upacara “Sembur Othik-othik” ini ditujukan kepada masyarakat penonton yang berada di sepanjang kiri kanan jalan. Ritual yang disebut Lukiran oleh masyarakat Using ini dimaksudkan sebagai ‘sembur rejeki’ dan berkah keselamatan bagi masyarakat.

Usai “Barong Ider Bumi” dinyatakan selesai, maka sampailah pada puncak acara yakni selamatan bersama masyarakat sepanjang jalan desa dengan sajian “Tumpeng Pecel Pitik”, yaitu nasi putih yang gurih dengan urap ayam bakar bumbu kelapa.

Menurut Sutrisno acara “Barong Ider Bumi” ini selalu diadakan setiap tahun pada hari kedua Idul Fitri. Tradisi ini wajib dilaksanakan sebagai rasa syukur atas hasil panen dan keselamatan selama setahun yang lewat.

Selain itu juga dimohonkan menjaga keselamatan di tahun berikutnya. Tradisi ini sangat ditunggu-tunggu masyarakat dan sudah dilaksanakan secara turun-temurun sejak ratusan tahun lalu. ”Acara yang sakral ini berakhir dengan sukses dan meriah sebelum tabuh Magrib,” katanya.

Buyut Cili
Tinjauan secara mitologi, “Barong Ider Bumi” ini konon diawali ratusan tahun lalu. Keberadaan Barong Kemiren ini tak bisa dilepaskan dengan keberadaan Buyut Cili. Danyang desa yang menjadi punden desa Kemiren dan Olehsari. Masyarakat Using percaya bahwa Buyut Cili adalah orang sakti Majapahit yang beragama Hindu.

Dalam mitosnya, beliau sesungguhnya adalah pelarian dari kerajaan Macan Putih, sambungan kerajaan Blambangan dan Majapahit. Hal ini sesuai namanya “Cili” yang dalam bahasa Using berarti “pelarian”. Ikhwal kisah, Buyut Cili adalah pendeta Hindu-Budha.

Beliau bersama sang istri terpaksa melarikan diri dari kerajaan Macan Putih, sebab sang Raja yang bengis itu juga seorang kanibalis. Sang raja hendak merebut sang istri untuk dimakan. Karena Buyut Cili tidak bermaksud bertentangan, maka beliau memilih menyingkirkan diri sampai akhirnya tiba di desa Kemiren. Namun versi lain mengisahkan bahwa Buyut Cili menyingkir ke desa Kemiren ini akibat tekanan kerajaan Demak.

Babak selanjutnya, dikisahkan suatu hari desa Kemiren terserang wabah penyakit mengerikan. Banyak orang sakit pagi, sore harinya meninggal. Selain itu juga datangnya musim “pagebluk” berkepanjangan, membuat persawahan diserang hama dan gagal panen.

Melihat hal demikian, Buyut Cili segera memohon petunjuk Sang Maha Agung. Dan dalam petunjukNya, masyarakat desa Kemiren diminta segera menggelar ritual selamatan desa bersama-sama dengan menu Tumpeng Pecel Ayam Bakar bumbu kelapa.

Selain itu diingatkan pula sebelum melakukan selamatan, hendaknya terlebih dahulu menggelar arak-arakan Barong untuk menolak bencana (Tolak Bala). Konon Barong yang dipercaya sebagai binatang mistis itu menjadi peliharaan Buyut Cili.

Tak jauh dari jalan utama desa, terdapat petilasan Buyut Cili pada areal kebun. Sampai sekarang petilasan Buyut Cili masih dikeramatkan dan didatangi pengunjung, terutama malam Jumat dan Minggu sore sambil mengadakan selamatan Tumpeng Pecel Ayam Urap Kelapa. (ist)

Tersapu Banjir, Situs Kuno Tersingkap

foto
Sebuah situs kuno ditemukan warga Dusun Begagan, Gondang, Kabupaten Mojokerto. Foto: Koransindo.com.

Sebuah situs kuno ditemukan warga Dusun Begagan, Desa Begaganlimo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto. Belum diketahui secara pasti asal-usul struktur kuno yang terbuat dari bebatuan itu yang ditemukan di lereng Gunung Anjasmoro beberapa waktu lalu itu.

Situs ini ditemukan setelah terjadi banjir bandang. Secara tak sengaja warga menjumpai tumpukan lempengan batu yang tersusun dan tertata rapi berukuran sangat besar pada salah satu tebing aliran sungai. Struktur unik yang berjarak sekitar 500 meter tersebut terbongkar setelah ada bagian tebing yang tergerus banjir.

Dari pantauan Koran Sindo Jatim, situs berupa tumpukan lempengan batu tersebut berada di beberapa sisi tebing sungai. Bahkan beberapa titik di antaranya berada di tengah- tengah sungai dengan aliran. Lempengan batu dengan berbagai ukuran itu tersusun rapi. Namun beberapa di antaranya mengalami kerusakan akibat longsoran.

Lempengan batu itu beberapa di antaranya mudah dilepas. Sementara Di sisi tebing lainnya, terlihat lempengan batu berukuran raksasa sepanjang sekitar 30 meter dengan tinggi sekitar empat meter. Lempengan-lempengan batu kuno itu berjajar sepanjang sekitar 100 meter.

Belum diketahui bentuk pasti situs yang diperkirakan berukuran sangat besar lantaran sebagian bangunan yang masih tertimbun tebing. Situs ini berada tepat lokasi yang sering disebut warga sebagai situs Watu Piring itu.

“Kalau lempengan besar yang berbentuk seperti tebing ini dinamakan warga Watu Piring. Situs yang baru berada di sekitarnya dan ini baru diketahui setelah ada longsor beberapa hari lalu,” ujar Kardi, salah satu warga Dusun Begagan.

Situs Watu Piring, kata Kardi, sebenarnya telah lama diketahui oleh warga. Meski warga sendiri tak mengetahui nilai sejarah dari situs tersebut. Situs baru yang ditemukan dan diyakini memiliki hubungan dengan Watu Piring ini, memiliki bentuk yang hampir sama, namun dengan ukuran yang berbeda.

Situs yang baru ditemukan itu terbuat dari lempengan- lempengan dengan ukuran yang lebih kecil dengan ketebalan lempengan batu yang bervariasi juga. “Yang ada tepat di sungai ini sudah lama juga kami temukan,” ujarnya sembari menunjuk lempengan batu yang tertata rapi di sepanjang sungai.

Kepala Desa Begaganlimo, Darto Utomo, mengaku tak mengetahui persis asal-usul situs yang baru ditemukan itu. Begitu juga dengan situs Watu Piring yang sudah lama ditemukan warga. Namun menurutnya, situs ini diyakini merupakan peninggalan masa sebelum Kerajaan Majapahit.

Dugaan itu juga dikuatkan dengan ditemukannya situs kuno sebelumnya yang tak jauh dari lokasi temuan, yakni situs Petilasan Putri Windu Dewi. Situs ini berupa beberapa benda kuno berupa Lingga dan Yoni dan bentuk lainnya yang terbuat dari batu andesit.

Darto mengakui di wilayahnya memang terdapat beberapa situs kuno yang terbuat dari batu. Selain benda kuno di Petilasan Windu Dewi, ada pula situs Watu Bancik yang berada di kawasan hutan dan tak jauh dari pemukiman warga.

Dia pun meyakini masih banyak struktur bangunan kuno yang menempel di tebing sungai. “Kami melihat ini ada hubungan dengan situs Watu Piring. Diperkirakan situs ini merupakan bangunan dari lempengan batu yang ukurannya sangat besar,” ucap Darto.

Rencananya dia akan melaporkan temuan tersebut ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim di Trowulan. Selain untuk mengetahui asal usul situs, dia juga akan meminta BPCB melakukan penggalian menyeluruh di lokasi sekitar temuan. “Kami akan segera laporkan dan ini bisa menjadi obyek wisata yang bisa dinikmati masyarakat luas,” katanya.

Dengan banyaknya situs yang berada di wilayah Desa Begaganlimo, Darto berharap, wilayah yang dipimpinnya bisa menjadi obyek wisata sejarah. Sebelumnya, pohon besar dengan banyak akar besar menjadi destinasi wisata yang berada di Dusun Begagan menjadi destinasi baru masyarakat Mojokerto

Situs temuan warga ini memang terbilang unik dan diperkirakan berukuran sangat besar. Dilihat dari dominasi batu dan berada di ketinggian dan sarat dengan air, diduga situs ini merupakan peninggalan Kerajaan Kahuripan dengan rajanya yang terkenal Airlangga pada sekitar 1006 masehi. Situs ini memiliki kemiripan dengan situs petirtaan Jolotundo di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.(ist)

Kebudayaan RI Pukau Hungaria Lewat ‘Art Kalamakara’

foto
Art Kalamakara 2017, pameran seni KBRI Budapest di Hongaria. Foto: KBRI Budapest.

Tim Budaya Kedutaan besar Republik Indonesia (KBRI) Budapest, menggelar roadshow Pameran Seni “Art Kalamakara” 2017. Kegiatan tersebut dibuka pada 1 April 2017 di kota Miskolc, Hungaria.

‘Art Kalamakara’ merupakan kolaborasi pertunjukan antara seni budaya Tim KBRI Budapest dengan pameran lukisan, batik, dan fotografi karya tiga orang seniman berbakat asal Hungaria yaitu Balogh Laszlo, Ur Eleonora, dan Bardos Yvette.

Balogh Lazlo dan Yvette Bardos merupakan penerima beasiswa darmasiswa pada tahun 1990-an. Sementara itu Ur Eleonora adalah pecinta Indonesia yang belajar membatik dari pengrajin di Yogyakarta.

“Gaung seni Indonesia mencuri perhatian masyarakat Hungaria,” sebut Duta Besar Indonesia untuk Hungaria, Wening Esthyprobo, sesaat setelah secara resmi membuka Pameran ‘Art Kalamara’.

Seperti pernyataan tertulis yang diterima dari KBRI Budapest, ketertarikan tersebut terlihat dari banyaknya permintaan untuk mengisi acara seni Indonesia oleh museum ataupun pusat budaya di Hungaria. Selain itu penonton pun selalu penuh di setiap acara budaya Indonesia.

“Catatan saya menyebutkan, hingga bulan April 2017 ini Indonesia/KBRI sudah melakukan tujuh kali pertunjukan budaya dan dalam waktu dekat akan berpartisipasi dalam tiga pertunjukan lagi,” ujar Dubes Wening.

“Kami bangga menjadi orang Indonesia. Bagaimana tidak, orang Hungaria bisa begitu mencintai budaya Indonesia bahkan menuangkannya ke dalam karya seni. Karenanya malam ini KBRI hadir di Miskolc sebagai ekspresi dukungan terhadap artis-artis Hungaria yang cinta kepada Indonesia,” imbuh dia.

Dalam acara pembukaan di teater Muveszetek Haza, 500 kursi terlihat dipenuhi oleh pengunjung yang ingin melihat pertunjukan Budaya Indonesia. Penonton pun bertepuk tangan riuh disetiap akhir segmen pertunjukkan budaya.

Gamelan Jawa, Tari Joget dengan live musik Rindik Bali, Tari Satria Tangguh dari Jawa Tengah, Tari Nandak dari Jakarta, dan Tari Topeng Pujangga dari Jawa Timur disuguhkan pada malam itu untuk memperkaya pengalaman penonton mengenai budaya Indonesia.

Setelah disuguhi oleh pertunjukkan, pengunjung juga bisa menikmati sajian kudapan khas Indonesia yang disajikan oleh Tim Kuliner KBRI Budapest, yakni kroket dan kue pukis.

Dukungan KBRI Budapest dalam Pameran ‘Art Kalamakara’ merupakan langkah strategis untuk membina pecinta Indonesia dan memberikan dorongan keapda para seniman Hungaria yang cinta Indonesia. Hal tersebut kelak akan menjadi salah satu media promosi yang efisien dan tepat sasaran.

Setelah digelar Debrecen dan Miskolc, ‘Art Kalamakara’ juga akan dipamerkan di Szentendre, Budapest, dan Szeged. (ist)

Legenda Mata Air Sumber Jenon di Malang

foto
Sumber Jenon, sumber mata air di kaki Gunung Ronggo. Foto: Merdeka.com.

Selain Sumber Sira, Malang juga punya satu sumber mata air andalan yang keindahannya mampu menyihir setiap pengunjung yang datang. Sumber mata air ini berasal dari pegunungan di kaki Gunung Ronggo. Sumber Jenon terletak di kawasan Gunung Ronggo, kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang.

Sumber Jenon berbentuk seperti kolam dengan bagian dasar tertutupi batako. Kedalaman sumber mata air ini mencapai kedalaman hingga 4 meter. Bagi yang tak bisa berenang, bisa menyewa ban yang berfungsi sebagai pelampung saat menikmati kesegaran air.

Uniknya, seperti dilaporkan Merdeka.com, terdapat batang pohon Jenu yang membujur dari arah barat ke arah timur dalam Sumber Jenon. Tak hanya itu, keindahan paling menonjol dari Sumber Jenon adalah airnya yang jernih dan berwarna biru kehijau-hijauan.

Mitos yang paling santer terdengar dari Sumber Jenon terkait dengan efeknya yang menyembuhkan. Rumor mangatakan bahwa mata air Sumber Jenon diyakini mampu menyembuhkan berbagai jenis penyakit, termasuk penyakit kulit. Tak hanya itu, dalam sumber mata air ini terdapat ikan Sengkaring yang diyakini memiliki usia ratusan tahun.

Ikan Sengkaring adalah ikan berwarna hitam dan merah yang berukuran sekitar 50-170 centimeter. Jumlah ikan Sengkaring ini diyakini tak pernah berubah. Meskipun telah berkali-kali dipancing, ikan Sengkaring ini diyakini tetap berjumlah 37 ekor.

Awal mula kemunculan sumber mata air yang kini dikenal luas dengan nama Sumber Jenong cukup menarik. Berdasarkan cerita yang diyakini warga sekitar, kemunculan Sumber Jenon berawal dari kisah pasangan Rantung Grati dan Irogat.

Pasangan ini hidup pada masa Kerajaan Mataram. Setelah terjadinya peperangan, pasangan suami-istri ini mengungsi ke daerah yang kini dikenal dengan nama Sumber Jenong. Hidup bercocok tanam adalah jalan yang dipilih untuk menyambung hidup. Beruntungnya, pasangan ini mampu menghasilkan panen berlimpah.

Sayang saat musim kemarau melanda, tanaman yang dirawat tak mendapatkan air yang cukup. Alhasil, hampir semua tanaman mati yang berakibat pada menipisnya simpanan pangan yang dimiliki.

Tak lama menunggu, Rantung Grati segera berpamitan pada Irogat untuk mencari pengairan yang cukup untuk tanamannya. Rantung Grati memilih bertapa di atas Gunung Harimau, tepatnya dibawah pohon Jenu.

Konon, saat sedang berada dalam masa pertapaan Rantung Grati tersebut, muncul angin kencang yang menumbangkan pohon Jenu, tempat dirinya bertapa. Tak disangka, dari bongkahan pohon yang tumbang tersebut keluar sumber air yang deras.

Saking derasnya, sumber mata air terebut membentuk genangan air besar yang kini dikenal dengan nama Sumber Jenong. (ist)

Ceng Beng, Tradisi Unjuk Bakti pada Leluhur

foto
Ceng Beng, tradisi masyarakat Tionghoa untuk unjuk bakti pada Leluhur. Foto: Jawapos.com.

Ada bakti yang tak boleh putus. Yakni, bakti kepada para leluhur. Spirit itulah yang terasa dalam momen menjelang peringatan ceng beng atau qing ming jie. Tahun ini, prosesi ziarah ke makam leluhur untuk warga Tionghoa itu berpuncak pada 5 April. Tapi, ziarah makam boleh dilakukan sejak dua pekan sebelumnya.

Ceng beng diambil dari bahasa Hokkian yang berarti bersih-bersih makam. Momen itu juga disebut hari arwah atau hari ziarah. ”Ziarah boleh dilakukan sebelum 5 April. Tapi, tak boleh setelahnya,” ucap Ketua Harian Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia Jawa Timur (PSMTI) Handjojo Limono seperti dikutip jawapos.com.

Tradisi tersebut berlangsung secara turun-temurun. Menurut Handjojo, tradisi itu bermula pada masa pemerintahan Kaisar Zhu Yuan Zhang yang hidup pada 1271–1368. Dia meninggalkan orang tuanya untuk pergi berperang. Namun, ketika kembali, orang tuanya sudah meninggal dan tak diketahui makamnya.

Oleh karena itu, sang kaisar memerintah rakyatnya untuk membersihkan makam dan menaruh kertas kuning di atasnya. Dari sana, dia bisa melihat beberapa makam yang tidak dikunjungi. Kemudian, sang kaisar beranggapan bahwa makam tersebut adalah milik orang tuanya.

Kini, menyesuaikan libur dan senggang, makam ramai dikunjungi pada akhir pekan. Jumlah dan ragam seserahan yang dibawa oleh keluarga tidak dibatasi. ”Biasanya, kalau kepercayaan Konghucu bawa hio, ayam tim, kertas-kertas, dan lain-lain. Kalau yang Kristen atau Katolik, ya berdoa saja. Bawa bunga juga boleh,” terang Handjojo.

Karena itu, Minggu (2/3) terasa betul deretan mobil memadati jalan masuk TPU Kembang Kuning, Kecamatan Sawahan. Sejak pukul 07.00, ratusan peziarah datang. Antrean menurun saat siang, pukul 11.00–14.00, dan kembali ramai pukul 15.00.

Sebagian besar peziarah datang berombongan. Baik memakai mobil pribadi, menyewa angkutan umum, atau sepeda motor. Para peziarah membawa berbagai perlengkapan yang dipercaya sebagai kebutuhan leluhur di alam berikutnya.

Tengok saja rombongan keluarga besar Soetjianto yang datang dengan empat mobil. ”Saya ke sini bersama anak dan cucu. Semoga besuk mereka juga melakukan hal yang sama untuk menjaga tradisi,” ucap Rosalia Soetjianto.

Perempuan 59 tahun tersebut berkunjung ke pusara ayah dan ibunya bersama sanak saudara. Rombongan keluarga juga datang dari luar kota, yakni Blitar, Kediri, dan Jakarta.

Sesampainya di depan makam, putra ketiga mendiang Soetjianto, Thomas Soetjianto, langsung menyiapkan persembahan yang akan dibakar. Sementara itu, anggota keluarga yang lain membersihkan makam dan rerumputan di sekitarnya.

”Ini bawaan kami komplet. Pokoknya, apa yang disukai almarhum semasa masih hidup,” papar Thomas sambil menunjukkan beberapa bawaannya.

Dia dan keluarga membawa replika uang dolar, sepatu, tas, paspor, kosmetik, jam tangan, kosmetik, baju, HP, perak, dan emas. Dia membeli semua perlengkapan ziarah di daerah Jagalan.

Setelah membersihkan makam dan menabur bunga, semua perlengkapan untuk leluhur dibakar di lahan kosong samping makam. ”Menurut kepercayaan kami, ini cara untuk mengirim segala perlengkapan ke sana,” jelas Rosalia sambil menunjuk ke langit.

Kemeriahan juga terasa di Kelenteng Sanggar Agung, Kenjeran. Sejak pukul 06.00, warga Tionghoa datang bersama keluarga besarnya. Di bagian belakang kelenteng, terlihat peziarah menebarkan bunga ke laut.

Ada mawar, melati, dan kenanga. Wangi sekali. Lilin-lilin berjajar rapi di antara berbagai jenis makanan dan buah-buahan. Itulah yang akan dikirim untuk leluhur ke alam lain.

Memang tidak ada aturan atau prosesi baku dalam penziarahan tersebut. Sebab, itu adalah tradisi masyarakat. ”Ceng beng tidak terikat pada agama karena ini merupakan tradisi warga Tionghoa,” ujar Romo Sakya, rohaniwan dari Vihara Budayana Putat Gede.

Keluarga Tobeng Koesnodiharjo, misalnya, yang membawa dua miniatur kapal layar berisi uang kertas yang dibentuk seperti teratai. Ada pula emas batangan dari kertas. Dua kapal itu lantas dibawa ke tengah laut untuk dibakar dan dilarung. (ist/jawapos)

Melongok Toleransi Beragama di Masa Lampau

foto
Menara Masjid Kudus mirip candi di Jawa Timur. Foto: ist.

Ketika pertama kali dibangun pada abad ke-8, Candi Borobudur jelas-jelas ditujukan sebagai tempat pemujaan agama Buddha. Namun, sepuluh abad kemudian setelah muncul dari semak belukar yang menutupinya, candi itu telah menjelma menjadi peninggalan masa lampau yang bersifat lintas agama.

Karena merupakan monumen mati (dead monument), artinya tidak digunakan secara terus-menerus oleh pendukung agama Buddha, maka banyak pakar tertarik mengkaji bangunan ini. Ada yang membahasnya dari aspek-aspek filsafat, arsitektur, sejarah, dan planologi. Ada pula yang mengulasnya dari segi seni, teknik, budaya, dan sebagainya.

Lebih dari itu, Candi Borobudur telah dianggap sebagai monumen milik dunia. Karena itu, ketika candi ini mengalami kerusakan parah dan perlu dipugar secara besar-besaran, banyak negara ikut berpartisipasi tanpa memandang keagamaan yang diwakilinya.

Mereka menganggap Candi Borobudur adalah milik semua agama. Terbukti, banyak pemeluk non-Buddha amat mengagumi candi ini dan terus berdatangan ke sini hingga sekarang. Candi Borobudur merupakan contoh nyata dari adanya kerukunan dan toleransi beragama di tanah air kita.

Pemerhati sejarah Djulianto Susantio dalam situsnya Hurahura.wordpress.com menulis bahwa sebenarnya, bukan hanya Candi Borobudur yang menyontohkan adanya kepedulian seperti itu. Banyak peninggalan masa lampau menjadi bukti betapa kerukunan beragama sudah terjalin sejak lama.

Hingga saat ini adanya toleransi beragama yang paling tua ditemukan pada situs Batujaya, Karawang (Jawa Barat). Pertanggalannya ditaksir dari masa abad ke-5 Masehi. Sebagaimana laporan Tim Arkeologi UI, di situs ini pernah ditemukan candi Buddha dan candi Hindu yang berdekatan letaknya.

Situs Batujaya juga tergolong istimewa karena pernah memiliki tradisi berciri megalitik sebagai agama asli waktu itu. Tradisi tersebut berkembang sebelum zaman Hindu Buddha. Tiga agama hidup berdampingan secara damai, tanpa ada rasa saling bermusuhan tentu menunjukkan betapa toleransi beragama benar-benar dijunjung tinggi masyarakat kala itu.

Toleransi beragama juga terdapat pada Candi Jawi di Jawa Timur. Atap candi yang berbentuk stupa atau genta, menandakan bangunan suci agama Buddha. Sementara di halaman candi pernah ditemukan sejumlah arca seperti Durga, Siwa, Ganesa, Mahakala, dan Nandiswara yang mewakili agama Hindu.

Kitab kuno Nagarakretagama pernah menyebutkan suatu bangunan Jajawa (identik dengan Candi Jawi) sebagai tempat pendharmaan Raja Singasari Kertanegara (1268-1292) dalam perwujudannya sebagai Siwa-Buddha. Siwa adalah salah satu dewa Trimurti dalam agama Hindu. Ditinjau dari kacamata arkeologi, candi Jawi termasuk unik dan langka karena mewakili dua agama sekaligus.

Bukan hanya toleransi Hindu-Buddha yang tercipta waktu itu. Toleransi Islam-Hindu juga kerap terlihat, antara lain pada menara Masjid Kudus. Bangunan itu terbuat dari bata tanpa lepa (semacam perekat). Teknik konstruksi demikian sangat populer pada masa pra-Islam.

Beberapa pakar menyebutkan Menara Kudus mirip candi di Jawa Timur, terlebih karena bangunan itu menghadap ke Barat. Kaki bangunannya yang bertingkat-tingkat dipandang merupakan pengaruh dari masa Majapahit. Ada juga pakar yang menafsirkan Menara Kudus mirip bangunan kulkul di Bali. Banyak ornamen masjid yang diperkaya dengan seni hias Arab, Cina, Vietnam, dan Eropa, semakin menunjukkan kemajemukan kala itu sangat luar biasa.

Dihadapan para pengikutnya, Sunan Kudus pernah memerintahkan agar sapi tidak disembelih dan dikonsumsi, lantaran banyak “saudara-saudara” beragama Hindu yang menganggap seekor sapi sebagai hewan suci. Supaya tidak menyakiti hati mereka, katanya, biarlah mereka yang Muslim tidak mencicipi daging sapi. Toh jika urusannya cuma menu makanan, masih banyak daging hewan lain yang bisa disate atau disop.

Di Jawa Timur, adanya toleransi beragama diperlihatkan oleh makam kuno Tralaya di Trowulan. Sejumlah batu nisan pada kompleks makam Islam itu bertuliskan huruf Jawa Kuno dan Arab pada tiap sisi, berupa tahun Saka dan gambar sinar matahari yang biasa dijumpai pada hasil seni Majapahit. Huruf Jawa Kuno dan tahun Saka merupakan pengaruh India yang sering diidentikkan dengan agama Hindu dan Buddha.

Toleransi beragama yang kuat diperlihatkan pula oleh Kelenteng Sam Po Kong di Semarang. Pada saat-saat tertentu banyak masyarakat Islam, Buddha, Konghucu, dan etnis Tionghoa datang ke tempat itu untuk berbagai keperluan. Begitu pula kelenteng Tuban, yang dipenuhi oleh peziarah Tionghoa dan Islam ketika bulan Ramadhan tiba. Satu untuk semua, begitulah kira-kira maknanya.

Pada zaman modern ini sebenarnya toleransi beragama masih diperlihatkan masyarakat Indonesia. Pembangunan gereja di Ambon, misalnya, sering kali dibantu pengerjaan dan pembiayaannya oleh umat-umat agama lain. Begitu pula pembangunan masjid.

Kemajemukan yang rukun juga masih dapat ditemui di Bali hingga saat ini. Pembangunan masjid di tengah perkampungan umat Hindu, bukanlah hal aneh. Letaknya pun bersebelahan dengan sebuah pura dan gereja. Komunitas agama-agama itu selalu saling membantu karena beranggapan mereka adalah bersaudara. Karena itu tak ada sedikit pun kekhawatiran bagi umat Islam dan Kristiani yang tergolong minoritas untuk beribadah di Bali.

Malah setiap berlangsung perayaan Natal, sejumlah gereja dihias dengan ornamen khas Bali, seperti pura dan gapura. Ornamen demikian mengingatkan kita kepada kebudayaan Hindu. Barangkali tidak banyak orang tahu kalau arsitektur Masjid Istiqlal Jakarta, salah satu masjid terbesar di Indonesia ini, dirancang oleh arsitek F Silaban yang beragama Kristen. Setidaknya ini juga memperlihatkan bukti toleransi beragama.

Sayang, sekarang toleransi beragama sudah luntur. Meskipun pada prinsipnya semua agama mengajarkan kebaikan, tetapi ada saja oknum-oknum yang berbuat menyimpang. Akibatnya, sering terjadi penistaan terhadap golongan minoritas. Untuk itulah kita harus benar-benar belajar dari kearifan masa lampau. (ist/Djulianto Susantio)

Kembangkan Budaya Jawa, Bedah Mocopat

foto
Tembang Mocopat kerap dilantumkan saat pagelaran wayang kulit. Foto: Kampoengilmu.com.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (LHK) Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur mengadakan Bedah Mocopat dengan pembicara Drs RM Toto Widhiarto, hal itu dilakukan dalam rangka mempelajari, memahami serta mempertahankan dan mengembangkan Kebudayaan Jawa di RTH Tandjungpuri.

Acara dihadiri sekitar 50 peserta yang terdiri dari paguyuban Jenggala Manik, Donowarih (Kaliandra Sejati – Pandaan), PLKJ serta dari beberapa Paguyuban lainnya. Adapun dalam acara tersebut dibahas tentang sejarah munculnya Mocopat.

Berdasarkan Serat Tembang Smoro Dahono pengarang Mpu Wiratmojo, jadilah Asmorondono pada era jaman Jenggolo sekitar tahun 1019 yaitu tentang puisi percintaan Panji Inukertopati dan Dyah Ayu Sekartaji.

Dari angka tahun yang tertera maka diperkirakan ada di Jaman Kerajaan Jenggala di Sidoarjo (sekarang). Pada masa Mojopahit ada serat kakawin tahun 1334, Kidung Mocopat dengan nama Kidung Ronggolawe.

Mocopat sendiri terdiri dari beberapa bagian, yaitu Mas Kumambang tentang alam roh / dalam kandungan, Mijil tentang kelahiran, Kinanti tentang anak kecil, Sinom tentang anak muda, Asmoro Dono tentang remaja, Dandang Gulo tentang kehidupan manusia susah dan senang, Pangkur bisa membedakan aura negatif ataupun positif, Gambuh tentang mencari jadi diri, Durmo Dermawan tentang tidak memikirkan harta lagi, Megatruh tentang memisahkan roh dan raga, Pucung tentang saat meninggal.

Dr Bahrul Amik, Kepala Dinas LHK Sidoarjo berharap acara itu dapat menjunjung tinggi pada budaya serta dapat memakai RTH Tandjungpuri bagi para budayawan, seniman serta semua masyarakat, sehingga Sidoarjo lebih humanis dan berbudaya.

“Dan tempat ini bisa menjadi salah satu sentra kajian budaya, agar proses pengenalan budaya kepada generasi muda lebih mengena, serta pemakaian fasilitas di RTH Tandjungpuri tidak dikenakan biaya sama sekali,” harapnya.

Hal ini juga diharapkan Drs. Suwarno, Sekertaris dari Paguyuban Budaya Jawi Jenggala Manik bahwa RTH Tandjungpuri adalah tempat yang sesuai untuk mengenalkan kebudayaan Jawa kepada generasi muda. “Saya berharap agar ada kegiatan yang lebih lanjut di tempat ini, karena tempat ini cocok untuk mengenalkan budaya jawa kepada generasi muda,” tukasnya. (ist)