UU Kebudayaan harus mampu membentuk karakter moral yang baik. Foto: Kampoengilmu.com.
Peran budaya dalam membangun sebuah negara sangat penting karena nilai-nilai kehidupan yang baik akan membentuk karakter moral manusia yang baik yang pada akhirnya akan meningkatkan mutu kualitas sumber daya manusia di suatu negara.
Pentingnya kebudayaan ini menjadi tema sentral dalam perancangan undang-undang kebudayaan (RUU Kebudayaan) yang dilakukan oleh pemerintah dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Pembahasan tentang kebudayaan semakin penting di tengah era dimana paham-paham asing mulai memasuki negeri ini, dan dapat digunakan untuk memecah belah nilai-nilai persatuan bangsa.
Ketua Panja RUU Kebudayaan Komisi X DPR Ferdiansyah mengatakan ketahanan budaya akan membentuk masyarakat yang memiliki hubungan sosial yang sehat dan tidak gampang terpecah belah, dan undang-undang kebudayaan bisa mengakomodasi hal ini dengan legal.
Dengan melihat penting dan urgensinya undang-undang kebudayaan, maka rapat kerja terakhir Komisi X DPR dengan pemerintah menyepakati mengesahkan RUU Kebudayaan selambat-lambatnya pada minggu ketiga atau keempat April 2017.
Subtansi RUU Kebudayaan ini rencananya akan berisi pengaturan umum, pemajuan, hak dan kewajiban, tugas dan wewenang, kelembagaan, pendanaan, penghargaan, hingga ketentuan pidana terkait pelaku dan institusi budaya di Indonesia.
Menurut Ferdiansyah, ada beberapa hal menarik yang disepakati dalam RUU kebudayaan. Pertama, budaya bukanlah sebuah biaya, tapi investasi.
Investasi bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan, dalam jangka panjang, investasi bagi ekonomi bangsa melalui industri manufaktur, seperti yang telah dilakukan Korea Selatan dengan budaya K-Popnya.
Menurutnya, kebudayaan Indonesia harus mempunyai dua fungsi, yaitu berperan dalam budaya dunia serta sebagai alat untuk mempertahankan nilai-nilai asli bangsa, namun tidak alergi terhadap kebudayaan orang lain.
Selain itu, pemerintah dan komisi X DPR juga menyepakati bahwa budaya pers yang akan dibangun adalah budaya pers yang berorientasi pada solusi serta kritik yang objektif dan konstruktif.
Ini berkaitan juga dengan butir kesepakatan lain dalam RUU kebudayaan, yaitu kebebasan berekspresi yang harus berlandaskan nilai-nilai di Pancasila dan UUD 1945.
Hal lain yang disepakati adalah penghargaan yang diberikan kepada para pelaku budaya yang membawa nama harum bangsa. Para pelaku budaya ini harus dihormati layaknya pahlawan nasional yang berjasa besar bagi negara. (ist)
Kitab Pararaton menyebut Kampung Polowijen dulu bernama ‘Panawidyan’ atau ‘Panawijen’. Foto: Suara.com.
Dalam Kitab Pararaton disebutkan, Kampung Polowijen yang berada di Kota Malang, dulu bernama ‘Panawidyan’ atau ‘Panawijen’. Kampung Panawijen, diketahui memang mempunyai potensi besar dan kekayaan sejarah panjang dan menjadi daerah yang menginspirasi bagi tumbuhnya peradaban besar di tanah Jawa.
Juru bicara Kampung Budaya Polowijen, Isa Wahyudi mengungkapkan, Polowijen terkenal dengan tanah kelahiran Ken Dedes. Dalam sejarahnya, Ken Dedes dikenal sebagai ‘ibu’ yang melahirkan keturunan raja-raja besar di tanah Jawa.
“Adanya petilasan Sumur Windu memperkuat keberadaan Ken Dedes yang dilahirkan di sini,” kata Isa pada sarasehan bertajuk ‘Upaya Mencari Hari Jadi Polowijen’ di Polowijen, Malang, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.
Selain itu, lanjut Isa, keberadaan batu bata merah yang tersusun dalam struktur bangunan yang masih tertimbun tanah ditengarai sebagai Mandala Empu Purwa, seorang brahmana ayah dari Ken Dedes.
Isa yang biasa disapa Ki Demang, menambahkan, keberadaan petilasan Joko Lulo dipercaya sebagai tempat “moksa” ketika pemuda dari Dinoyo yang bernama Joko Lulo tidak berhasil mempersunting Ken Dedes, karena diculik seorang Akuwu dari Tumapel bernama Tunggul Ametung melalui terowongan yang ditemukan di rumah warga Polowijen.
“Ketiga situs itu juga telah ditetapkan oleh Direktorat Cagar Budaya sebagai situs Budaya di Polowijen, Kota Malang,” ujar dia seperti dikutip Suara.com.
Budayawan Malang, Yongki Irawan mengatakan, keberadaan makam Mbah Tjondro Suwono (Mbah Reni) atau berjuluk Ki Sungging Adi Linuwih yang dikenal sebagai penemu dan penyungging Topeng Malangan pertama kali, dan Mbok Gundari adalah anak sekaligus penari Topeng Malangan, merupakan bukti yang makin menguatkan bahwa Kampung Polowijen layak disebut kampung sejarah yang memiliki peradaban besar di Jawa Timur.
Semasa hidup, mereka orang Panawijen yang mengembangkan topengan Malangan sampai ke beberapa daerah, antara lain, Jabung Tumpang, Glagahdowo, Pakisaji, dan daerah lain di Kabupaten Malang.
“Kekayaan budaya itulah yang menjadi icon budaya Malang yang telah ditetapkan sebagai situs budaya Polowijen oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang,” kata Yongki.
Sesepuh asli Polowijen, Suwaji menuturkan, beberapa kesenian lain yang terkenal di Kampung Polowijen, selain wayang topeng, ada juga wayang wong, wayang jedong, wayang kulit, wayang ope, ludruk, pencak silat, bantengan, dan terbangan, yang pernah populer di Polowijen.
Potensi lain, menurut Suwaji, dulu, kampung Polowijen pernah menjadi sentra mebel dan kerajinan kayu. Ini makin menegaskan bahwa Kampung Polowijen adalah daerah para pengrajin seni pahat dan topeng.
“Jadi, Kampung Polowijen merupakan daerah yang menginspirasi bagi daerah lain sehingga muncul berbagai ragam seni tradisi kebudayaan serta kerajinan yang membuat daerah-daerah lain bisa ikut berjaya pada masanya,” ungkap dia. (ist)
Pengantin di Nairobi Kenya mengedakan baju adat Jawa. Foto: Kemlu.go.id.
“Kami sangat berbahagia dapat mengenakan pakaian pernikahan asal Indonesia pada pesta pernikahan kami,” kata Joshua Mugo, warga asli Kenya, di sela-sela resepsi pernikahannya di Nairobi. Pesta pernikahan ini menggabungkan adat Kenya dan Indonesia. Kedua mempelai mengenakan pakaian adat Jawa dengan warna hitam motif keemasan dan kain jarik batik.
Resepsi unik ini dilaksanakan di halaman sebuah komplek sekolah di Nairobi dan dihadiri sekitar 400 orang tamu. Acara resepsi juga diliput oleh salah satu media cetak dan TV swasta terbesar di Nairobi.
Resepsi dibuka dengan alunan gending dan ditutup tarian pernikahan khas Kenya. Ketika memasuki lokasi pesta, pasangan pengantin melangkah dengan perlahan dengan iringan Gending Lancaran Kebo Giro, gending khas iring-iringan pengantin adat Jawa. Kedua mempelai berjalan laksana Raja dan Permaisuri.
Sesi hiburan, diisi dengan paduan suara dan penampilan Angklung. Grup Angklung ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan/DWP KBRI Nairobi bersama kelompok paduan suara asal Nairobi membawakan dua buah lagu Kenya yaitu “Jambo Bwana” dan “Malaika”.
Dilanjutkan dengan penampilan Angklung massal dipimpin oleh pengantin pria. Para tamu dengan antusias memainkan Angklung dan menyanyi bersama-sama. Sang mempelai pria secara khusus mendatangkan lebih dari 150 buah Angklung dari kota Bandung dan sekaligus membagikannya kepada tamu undangan sebagai souvenir pernikahan.
Keluarga kedua mempelai dan tamu undangan sangat gembira melihat prosesi pernikahan asal Indonesia dan penampilan alat musik Angklung. “Ini pertama kalinya masyarakat Kenya melihat pernikahan dengan adat asal Indonesia dipadukan dengan penampilan Angklung,” tutur Joshua yang sekaligus juga bertindak sebagai konduktor.
Benar-benar suatu peristiwa bersejarah, bahkan mungkin pertama di dunia. Sepasang pengantin warga asli Kenya yang belum pernah sekalipun berkunjung ke Indonesia, namun sangat cinta budaya Indonesia. Sehingga di hari pernikahan, keduanya memilih pesta pernikahan ala Indonesia.
Sang mempelai pria, Joshua Mugo, pertama kali mengenal Indonesia secara langsung saat belajar musik di sebuah universitas swasta terkemuka di Kenya, di bawah bimbingan seorang dosen asal Malang, Jawa Timur. Sejak saat itu dan terutama setelah mengenal alat musik Angklung, bersemilah kecintaannya terhadap budaya Indonesia.
“Iringan gending dan langkah pengantin beserta para pengiring yang berjalan perlahan ketika memasuki lokasi resepsi membuat suasana serasa kondangan di tanah air,” kata Laili Fauziah, pengurus DWP KBRI Nairobi yang juga bertindak sebagai penata busana pernikahan tersebut. “Benar-benar perpaduan dua budaya yang sangat harmonis,” terang Laili Fauziah.
Para tamu undangan berdecak kagum ketika di sela-sela resepsi dijelaskan sekilas tentang betapa tingginya keaneka ragaman budaya Indonesia dengan 252 juta penduduk, lebih dari 17.000 pulau serta ratusan bahasa dan suku bangsa. (ist)
Workshop tentang aksara Jawa kuno di Kediri oleh Kojakun Sutasoma. Foto: Beritajatim.com.
Komunitas Jawa Kuno (Kojakun) Sutasoma Kediri, Jawa Timur, mengajak pemuda mau lebih mendalami aksara Jawa kuno, sebagai bekal membaca beragam naskah dan tulisan kuno.
“Dalam aksara Jawa Kuno banyak makna filosofi, simbol yang hanya diketahui oleh kalangan asli Jawa sendiri,” kata Ketua Kojakun Sutasoma Kediri Aang Pambudi Nugroho di Kediri, Sabtu (25/3).
Pihaknya juga sengaja mengadakan workshop tentang aksara Jawa ini di basement Simpang Lima Gumul (SLG) Kabupaten Kediri. Kegiatan ini dilakukan dalam rangkaian Hari Jadi Kabupaten Kediri ke-1213. Harapannya, masyarakat akan tertarik dan mau belajar serta memahami tentang aksara Jawa.
Ia menyebut, aksara Jawa sangat penting, misalnya untuk membaca beragam tulisan di prasasti maupun serat, sebab tanpa memahami tentang aksara Jawa, sangat sulit bisa membaca naskah kuno.
Ia pun mencontohkan, di Kabupaten Kediri ada Prasasti Lusem, yang terletak di Kecamatan Semen serta Prasasti Harinjing yang menjadi cikal bakal Kabupaten Kediri, dimana sesuai dengan isi prasasti penanggalan 25 Maret, diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Kediri. Jika tanpa bisa membaca aksara Jawa kuno, sulit memahami isi dari prasasti itu.
Pihaknya menyebut, banyak masyarakat tidak memahami aksara Jawa kuno. Salah satunya terbukti dalam workshop, dimana peserta sedikit sekali yang bisa membaca tulisan aksara Jawa kuno tersebut. Selain itu, para peserta juga banyak yang sulit membedakan aksara Jawa kuno dengan aksara Jawa modern.
Padahal, aksara ini, merupakan salah satu warisan budaya nonbenda. Ia khawatir jika hal itu diabaikan, justru Indonesia bisa kehilangan sumber daya manusia (SDM) untuk membaca sejarah. Di sejumlah negara lain, misalnya India dan Thailand, pemerintah juga sangat memperhatikan serta terus mengembangkan aksara lokal mereka.
“Takutnya, kalau ada penelitian sejarah kita kekurangan SDM. Lalu, ada prasasti diteliti oleh peneliti asing. Saya prihatin, orang asing belajar aksara Jawa Kuno, sementara kita sendiri gak bisa,” ujarnya seperti dikutip Antara.
Walaupun banyak yang tidak memahami aksara Jawa kuno, ia mengapresiasi masih ada komunitas lain yang peduli untuk pelestarian budaya jawa tersebut,
Saat ini, sudah mulai bermunculan warga serta komunitas lain yang berupaya mengembangkan aksara Jawa. Bahkan, upaya itu sudah dibuat dalam sistem yang lebih canggih, dalam format digital. “Saat ini, ada digitalisasi font aksara Jawa Kuno yang dilakukan oleh mahasiswa asal Jakarta namanya Aditya Bayu,” ujarnya.
Ia berharap, dengan kegiatan seperti yang dilakukan oleh komunitasnya ini bisa semakin meningkatkan partisipasi masyarakat, terutama para pemuda untuk mau semakin belajar dan memahami tentang aksara Jawa.
Sementara Plt Kabid Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri Eko Priyatno mendukung acara ini. “Kami mendukung acara ini. Di Kediri, banyak prasasti ditemukan. Kediri juga terkenal dengan cerita Panji, yang diserat dalam aksara Kuno Jawa,” katanya.
Pihaknya juga mengadakan pameran naskah kuno yang berhubungan dengan Panji, yang diserat dalam aksara Jawa kuno dan bali. Masyarakat bisa mengetahui langsung dengan melihat pameran tersebut. (ist)
Wakil Ketua DPD RI, Farouk Muhammad. Foto: Antara.com.
Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI mendorong agar setiap daerah mempunyai regulasi yang mengatur perlindungan budaya lokal, seperti bahasa dan kesenian. Karena itu, DPD juga mengajukan rancangan undang-undang (RUU) bahasa dan kesenian daerah yang akan terus diperjuangkan.
Hal tersebut ditegaskan Wakil Ketua DPD RI, Farouk Muhammad, di Semarang, Sabtu (18/3/2017) malam. “Saya dengar di Jawa Tengah sudah memiliki perda seperti itu. Kami dorong daerah lain untuk membuatnya,” ujarnya seperti dikutip Antara.
Provinsi Jateng saat ini memiliki Peraturan Daerah (Perda) No 9 Tahun 2012 tentang Bahasa, Sastra dan Aksara Jawa yang sudah diimplementasikan dalam beberapa kebijakan, seperti penggunaan Bahasa Jawa di instansi pemerintah provinsi/kabupaten/kota setiap Kamis.
Hal itu diungkapkannya saat kegiatan publikasi anggota DPD RI asal Jawa Tengah Bambang Sadono melalui kesenian lokal yang digelar di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang.
Dalam kegiatan itu, kelompok kesenian wayang orang Ngesti Pandowo Semarang tampil membawakan lakon “Kresna Duta” di Gedung Kesenian Ki Narto Sabdo, Kompleks TBRS, Semarang.
Farouk Muhammad, senator asal Nusa Tenggara Barat (NTB), mengakui belum tentu setiap daerah memiliki perda perlindungan budaya lokal, termasuk di daerah pemilihannya sehingga kebijakan semacam itu akan didorong penerapannya.
“Ya, daerah-daerah lain belum tentu punya. Kami harapkan masing-masing anggota DPD bisa mendorong daerahnya, dengan merujuk ke sini. Kalau perlu, studi banding,” kata mantan Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) tersebut.
Upaya pelestarian budaya lokal, menurut dia, juga dilakukan DPD RI dengan mengajukan rancangan undang-undang (RUU) bahasa dan kesenian daerah yang akan terus diperjuangkan.
Bersamaan dengan itu, dilakukan pula peluncuran dua buku Bambang Sadono berjudul “60 Tahun Bambang Sadono: Menjadi Tua Tetap Berkarya Masih Bergaya” dan “60 Tahun Bambang Sadono: Kenangan Sepanjang Jalan”.
Bambang Sadono mengaku sengaja memilih pergelaran wayang orang untuk menyemarakkan peluncuran bukunya karena kesenian lokal itu merupakan salah satu bagian kebudayaan masyarakat Jateng.
“Komitmen saya sebagai orang yang mewakili Jateng. Kenapa wayang orang? Selama ini pementasan wayang orang paling jarang mendapatkan perhatian,” kata mantan Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) itu.
Padahal, ia menilai, Wayang Orang (WO) Ngesti Pandowo pernah diundang tampil di Istana Negara oleh Presiden Soekarno, namun sekarang kondisi kelompok kesenian itu memprihatinkan.
“Pemerintah harus mengambil peran, terutama Pemerintah Kota Semarang, karena kalau tidak, kesenian lokal, seperti WO Ngesti Pandowo ini akan kalah seiring perkembangan teknologi dan ekonomi,” katanya.
Apalagi, Bambang Sadono menambahkan, kesenian wayang orang bisa menjadi andalan potensi pariwisata Kota Semarang dan orang-orang luar negeri justru sangat tertarik dengan kesenian semacam ini. (ist)
Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI I Made Sukadana potong tumpeng tanda renovasi dimulai. Foto: Beritalima.com.
Setelah selama 51 Tahun tak tersentuh perbaikan, Pemerintah menganggarkan dana Rp 6,9 miliar guna merenovasi Pendopo Agung Towulan Kab Mojokerto yang ditandai dengan peletakan batu pertama dan penandatanganan prasasti oleh Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI I Made Sukadana, pekan lalu.
Dalam hal ini Kodam V/Brawijaya sebagai pemangku wilayah telah merancang guna merehab pembangunan tempat Mahapatih Gajah Mada mengucapkan Sumpah Amukti Palapa tersebut dengan kawasan seluas 5 hektar itu sebagai salah satu budaya tingkat Propinsi Jawa Timur.
Pangdam V/Brawijaya dalam sambutannya seperti dikutip Beritalima.com, mengucapakan banyak terima kasih kepada pihak pemerintah dan seluruh instansi yang mendukung dalam pelaksanaan Renovasi Pendopo Agung Towulan ini, semoga dalam pelaksanaannya dapat berjalan dengan lancar sehingga hasilnya segera dapat kita nikmati.
Pangdam mentargetkan proyek Renovasi Pendopo Agung Towulan ini bisa diselesaikan sampai bulan September mendatang sebelum kawasan wisata budaya ini dibuka untuk umum. Karena menurut Pangdam bahwa kawasan ini layak dijadikan salah satu destinasi wisata budaya tingkat Propinsi.
Usai penandatangan prasasti, pemotongan tumpeng dan peletakan batu pertama, Mayjen TNI I Made Sukadana melakukan ritual keagamaan di sebelah Ruang Paku Gajah yang terletak di belakang bangunan Pendopo Agung, sementara itu Doa bersama yang dipandu secara Agama Islam juga di laksanakan di dalam Pendopo Agung.
Peletakan batu pertama Renovasi Pendopo Agung Towulan tersebut dihadiri Pangdam V/Brw Mayjen TNI I Made Sukadana, Danrem 082/CPYJ Kolonel Kav Gathut Setyo Utomo, Para Asisten Kasdam V/Brw, Forpimda Kab. Mojokerto, Ketua Persit KCK PD V/Brw, Ketua Persit KCK Koorcabrem 082, Toga, Tomas, Todat dan sejumlah warga yang berada disekitar Pendopo Agung Towulan. (sak)
Proyek geothermal di Gunung Lawu mendapat penolakan. Foto: SiagaIndonesia.com.
Masyarakat dari berbagai elemen menyuarakan seruan yang sama, menyikapi rencana eksplorasi panas bumi yang akan dilakukan oleh Pertamina selaku perusahaan Negara pemenang tender senilai trilyunan rupiah di gunung Lawu.
Selain tokoh masyarakat, para pecinta alam dan pemerhati budaya, penolakan juga dilakukan oleh Dewan Pemerhati Penyelamat Seni dan Budaya Indonesia ( DPPSBI ) dengan cara memasang spanduk Save Lawu di jalur pendakian dan beberapa titik jalan di kawasan wisata Tawangmangu.
Sebagai Lembaga Pemerhati dan Penyelamat Seni Budaya Indonesia, DPPSBI pada 9 Maret 2017 telah mendaftarkan gunung Lawu ke Balai Pelestari Cagar Budaya Jawa Tengah di Prambanan, sebagai kawasan lanskap cagar budaya yang di terima langsung oleh Kepala sub Bagian Tata Usaha BPCB Jawa Tengah di Prambanan.
Didaftarkanya gunung Lawu sebagai kawasan lanskap cagar budaya menurut Ketua DPPSBI , demi menjaga kelestarianya. Kelestarian tidak hanya keselarasan alam saja, tetapi kelestarian budaya juga termasuk di dalamnya.
Kusuma menegaskan, melalui kajian Litbang DPPSBI, gunung Lawu layak menjadi kawasan cagar budaya berdasarkan Pasal 1 Undang Undang Cagar Budaya Nomer 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya, bahwa cagar budaya tidak hanya bersifat kebendaan, struktur cagar budaya dan situs cagar budaya, tetapi kawasan cagar budaya yang ada di darat atau di air juga perlu di lestarikan.
“Karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan , pendidikan, agama dan kebudayaan usai melalui proses penetapan,” kata Ketua DPPSBI BRMH Kusuma Putra SH MH seperti dikutip SiagaIndonesia.com.
Kusuma mengacu kriteria cagar budaya Pasal 6 UU Cagar Budaya Nomer 11 Tahuan 2010, bahwa cagar budaya dapat berupa benda alam atau buatan manusia yang di manfaatkan oleh manusia, serta sisa sisa biota yang dapat di hubungkan dengan kegiatan manusia atau dapat dihubungkan dengan sejarah manusia.
Ditambahkan, gunung Lawu melahirkan peradaban, hal ini di buktikan dengan adanya peninggalan puluhan situs dan candi candi kuna dari berbagai jaman di gunung Lawu. Selain peradaban jaman, gunung Lawu juga melahirkan tradisi budaya kearifan local yang sampai sekarang masih tetap terus di pertahankan oleh penduduk sekitar.
Gunung Lawu memiliki banyak kriteria sebagai kawasan lanskap cagar budaya. Selain kawasan yang memiliki banyak situs peninggalan baik yang sudah di ekploitasi untuk umum ataupun yang masih terpendam. Gunung Lawu juga memperlihatkan pengaruh manusia masa lalu pada proses pemanfaatan ruang berskala luas.
Gunung Lawu memperlihatkan adanya bukti pembentukan lanskap budaya dan memiliki bukti kegiatan manusia yang terpendam.
“Kriteria tersebut sebagaimana di atur pada Pasal 5 UU Cagar Budaya Nomer 11 Tahun 2010, serta penetapan soal kawasan ruang geografis yang akan ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya seperti di atur di Pasal 10 UU Cagar Budaya Nomer 11 Tahun 2010,” terang Kusuma menegaskan kriteria dan satuan ruang geografis cagar budaya seperti yang di atur oleh Undang Undang Cagar Budaya.
“Dengan diterimanya pendaftaran gunung Lawu sebagai lanskap cagar budaya dari DPPSBI ke BPCB Jawa Tengah, secara otomatis gunung Lawu harus di perlakukan sebagaimana layaknya cagar budaya,” imbuhnya.
Di katakan di Pasal 29 ayat 2 UUCB Nomer 11 Tahun 2010, setiap orang dapat berpartisipasi dalam melakukan pendaftaran benda, bangunan, struktur dan lokasi yang di duga sebagai cagar budaya meskipun tidak memiliki dan menguasainya. “Pasal ini menjadi dasar DPPSBI mendaftarkan gunung Lawu sebagai lanskap cagar budaya,” tandasnya.
Selama ini Pemerintah menurut DPPSBI, memberikan lampu hijau untuk mengeksplorasi panas bumi di gunung Lawu. Padahal jika berpedoman para Undang Undang Cagar Budaya Nomer 11 Tahun 2010 Pasal 26, Pemerintah seharusnya berkewajiban melakukan pencarian benda, bangunan, struktur atau lokasi yang di duga sebagai cagar budaya.
“Karena masih banyak peninggalan situs sejarah di gunung Lawu seperti Cemara pogog, Sendang Raja, Ringin Jenggot dan situs cagar budaya lainnya yang belum di ekplorasi,” ujarnya.
Gunung Lawu patut ditetapkan sebagai cagar budaya Nasional, karena banyak peninggalan yang mencerminkan karya adiluhung kekhasan kebudayaan bangsa Indonesia. Gunung Lawu juga menjadi lanskap budaya sekaligus bukti peradaban bangsa.
Oleh karena itu Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib melakukan perlindungan. Sekaligus mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan serta meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab akan hak dan keawjiban masyarakat dalam pengelolaan cagar budaya.
DPPSBI menegaskan jika ada orang yang sengaja mencegah atau menghalang halangi upaya pelestarian cagar budaya seperti yang tertulis pada Pasal 104 UUCB Nomer 11 Tahun 2017 maka akan di pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling sedikit Rp 10 juta dan paling banyak Rp 500 juta. (ist)
Mbah Soegito, sudah puluhan tahun mengajar gamelan di Australia. Foto: Detik.com.
Saat pementasan wayang kulit di Canberra, Australia ada satu sosok yang begitu mencolok di belakang panggung. Bukan sang dalang, namun sesosok lelaki berumur sekitar 70 tahun yang begitu dihormati semua pemain yang terlibat dalam pementasan wayang itu.
Namanya adalah Mbah Soegito, staff KBRI Canberra yang menjadi pengajar gamelan. Malam itu, Mbah Soegito terlihat begitu gagah dengan pakaian beskap lengkap dengan keris.
Saat masuk ke ruang ganti pemain, semua menyalami Mbah Soegito. Pemain gamelan yang kebanyakan merupakan warga Australia itu tetap menyapa Mbah Soegito dengan sebutan ‘Mbah’. Mbah Soegito bukanlah orang baru di KBRI Canberra. Sudah 30 tahun lebih, Soegito bekerja di bagian kebudayaan KBRI Canberra.
Saat pementasan wayang, Mbah Soegito begitu sibuk sehingga tidak memiliki waktu untuk berbincang. Dia lalu mengajak media yang difasilitasi Australia Plus ABC International yang tengah berada di Canberra untuk datang ke kantornya keesokan harinya.
Hari berikutnya sangat dikunjungi, Mbah Soegito tengah mengajar gamelan. Saat itu hari Senin malam, rupanya memang jadwal para warga Australia berlatih gamelan di KBRI Canberra.
Usai mengajar, meski hari sudah malam, Mbah Soegito tetap menyempatkan diri untuk berbincang. Sosoknya begitu ramah dan terlihat sangat sabar ketika mengajar.
Mbah Soegito lalu bercerita kegiatannya saat ini, seharusnya dia sudah pensiun, namun pihak KBRI Canberra masih membutuhkan tenaganya untuk mengajarkan gamelan. Mbah Soegito pun menerima tugas itu dengan senang hati dan penuh dedikasi.
“Saya setiap Senin malam melatih mereka di sini. Kalau siangnya, biasanya ada anak-anak sekolah datang ke sini, untuk belajar gamelan juga,” kata Mbah Soegito seperti dikutip Detik.com.
Lelaki yang masih terlihat gagah itu kemudian berkisah awal cerita dia pergi ke Australia. Kala itu di tahun 1970-an, Soegito muda datang ke Australia untuk bekerja. Di beberapa waktu terbesit keinginan di hati Soegito untuk bermain gamelan, namun apa daya, dia tidak memiliki partner untuk bermain.
“Ya akhirnya satu-satunya cara ya saya harus mengajar teman-teman saya main gamelan. Kan jadinya saya bisa main di sini,” jelas Soegito.
Seiring berjalannya waktu, nama Soegito didengar Dubes Indonesia untuk Australia. Untuk diketahui, sejak masih di Indonesia, Soegito sudah malang melintang dari panggung ke panggung bermain gamelan. Bahkan dia pernah beberapa kali mengikuti muhibah seni di beberapa negara.
Pada tahun 1983, Soegito diminta bergabung dengan Kedutaan Indonesia untuk Australia, tugasnya satu, yakni mempromosikan budaya Indonesia terutama gamelan. Tugas yang disampaikan langsung oleh duta besar kala itu tak ditolak Soegito. Dia lalu bergabung dengan kedutaan.
“Saya masuk kedutaan diminta, saat itu saya mengajar di Universitas New England. Tahun 1983, saya belajar bahasa dulu,” ungkapnya.
Sejak tahun 1983 itu Soegito aktif mengajarkan gamelan kepada para warga Australia. Saat ada acara kebudayaan di berbagai tempat di Australia, Soegito diminta untuk tampil.
Seiring berjalannya waktu, nama Soegito mulai dikenal di kalangan seniman di Australia. Hingga akhirnya dia diminta untuk mengajar di berbagai universitas di Australia. Setidaknya ada 8 universitas yang meminta Soegito untuk mengajar gamelan, antara lain Melbourne University, Monash University, Adelaide University, Australian National University dan beberapa universitas lain.
Hari-hari Soegito dihabiskan untuk mengajarkan gamelan. Dia melakukan pekerjaannya sepenuh hati dan begitu menikmati aktifitas setiap harinya.
“Saya dipesani pemerintah untuk mengembangkan gamelan, ya walaupun hanya sekedar kecil, itu saya mempromosikan. Saya bergelud dengan kesenian itu sudah lama banget,” kisahnya.
Lelaki asal Pedan, Klaten, Jawa Tengah itu mengaku tidak pernah belajar gamelan di institusi resmi. Dia mengenal gamelan sejak usia 13 tahun.
Ayahnya yang dulu seorang lurah yang mengenalkan Soegito kecil dengan gamelan. Menurut Soegito, dahulu orang yang bisa main gamelan sangat dihargai para pemudi desa. Hal tersebut menjadi salah satu motivasinya.
:Saya ini hanya seniman desa, tidak belajar di sekolah. Ya hanya belajar di desa. Dulu ayah saya yang membuatkan gamelan dan menyuruh saya bermain. Sebelumnya saya bermain keroncong,” urainya.
Puluhan tahun mengajar gamelan untuk warga Australia, Soegito mengaku sangat menikmati pekerjaannya. Dia sangat senang ketika para muridnya belajar gamelan dengan sepenuh hati. Tanpa bermaksud membandingkan, Soegito mengaku lebih enjoy mengajar warga Australia.
“Kalau warga Australia itu belajar disiplin dan sungguh-sungguh, mereka bekerja sepenuh hati,” tegasnya.
Namun, tetap ada kekurangan dari warga Australia yang dirasakan Soegito saat bermain gamelan. Menurut Soegito, pemain gamelan dari Australia sangat sulit mendapatkan feeling. Padahal, bermain gamelan juga harus melibatkan rasa, bukan hanya bermain notasi dan memukul alat musik.
“Feelingnya memang susah didapat, ya mereka seperti mekanis saja. Notnya apa, ya dimainkan,” imbuhnya.
Hingga kini, Mbah Soegito masih aktif mengajar gamelan, meski tidak sebanyak dahulu. Soegito pun sudah menganggap beberapa muridnya seperti anak dan cucunya sendiri.
Lalu sampai kapan Mbah Soegito akan mengajar gamelan? “Ya selama saya masih bisa mengajar, ya akan saya lakukan. Selama saya dibutuhkan, ya saya akan kerjakan,” tuturnya dengan penuh ketenangan. (dtc)
Direktur Edukasi Ekonomi Kreatif Bekraf, Poppy Savitri bersama Pengurus Teater Wayang Indonesia (TWI). Foto: Bekraf.go.id.
Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) mengharapkan, agar para pelaku seni dan penggiat budaya, dapat memanfaatkan momentum dan mengembangkan kreasinya ke arah yang lebih dinamis dan kreatif. Karya yang diusung mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan masyarakat abad ini.
“Kebudayaan bukanlah sesuatu yang stagnan. Nilai-nilai yang disampaikan adalah nilai-nilai yang juga mudah dipahami dalam konteks kekinian,” ujar Direktur Edukasi Ekonomi Kreatif, Bekraf, Poppy Savitri, dalam pertemuannya dengan Pengurus Teater Wayang Indonesia (TWI), di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan No13 Jakarta.
Menurut Poppy Savitri, kesenian dalam konteks kebudayaan, memiliki ciri adaptif, integratif, dan dinamis. Oleh karena itu, ia mendorong, seni pertunjukan wayang, juga seharusnya dapat dikemas lebih kekinian tanpa mengurangi nilai-nilai kearifan dan filosofi yang ingin disampaikan.
“Bekraf sebagai pelaksana pembinaan dan pemberi dukungan, punya tanggung jawab bagaimana potensi seni budaya ini dapat dikemas lebih atraktif dan kreatif. Sehingga lebih menarik, khususnya di kalangan anak muda,” ujar Poppy.
Hadir juga dalam pertemuan antara Pengurus TWI, dengan Deputi I Riset, Edukasi, dan Pengembangan Bekraf tersebut, Direktur TWI Suryandoro dan Kepala Bidang Humas TWI Eddie Karsito.
Pada kesempatan tersebut Poppy Savitri menerima pemberian buku berjudul ‘Cakrawala Wayang Indonesia’ yang diterbitkan Senawangi (Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia), dan poster pementasan Drayang (Drama Wayang) ‘Sukesi Saskara Alengka’ dari Pengurus TWI.
“Melalui pertemuan ini kami mengharapkan ada pembinaan, dukungan teknis dan supervisi, atas pelaksanaan berbagai kegiatan yang diselenggarakan Teater Wayang Indonesia (TWI),” terang Suryandoro.
TWI dalam program kerjanya akan menggelar tujuh kali pertunjukan selama tahun 2017. Beberapa pertujukan yang telah diagendakan antara lain, persembahan ‘Wayang Topeng Malangan’ dari Malang Jawa Timur, dan Wayang Orang (WO) ‘Sriwedari’ dari Solo Jawa Tengah.
Sebagai pergelaran perdana, TWI mementaskan Drayang (Drama Wayang) Swargaloka, bertajuk “Sukesi Saskara Alengka” yang akan digelar di Teater Kautaman Gedung Pewayangan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Minggu (26/3) mendatang.
Selain pergelaran bersifat massal, TWI juga menggelar pertunjukan apresiatif dan edukatif, yang mendatangkan dan melibatkan penonton wayang pemula (muda). TWI akan melibatkan para pelajar, mahasiswa dan generasi muda pecinta wayang, di setiap pertunjukan yang mereka gelar.
“Selama proses produksi, dari sejak proses development naskah, latihan, hingga pementasan, mereka kami libatkan. Sehingga akan terjadi proses edukasi; workshop, yang kami harapkan semakin menumbuhkan kecintaan mereka terhadap kesenian wayang,” ujar Suryandoro. (sak)
Situs Belik Putri Ngrayud di Demangan Ngawi. Foto: SiagaIndonesia.com.
Patut disayangkan, situs Demangan salah satu bukti peninggalan bersejarah di Desa Ngrayudan, Kecamatan Jogorogo, Ngawi, kondisinya kini makin terabaikan.
Warisan budaya leluhur tersebut terlihat acak-acakan bahkan terkesan tidak adanya upaya pelestarian dari pihak pemerintah daerah maupun pusat.
Bukti sejarah situs Demangan terbagi atas tiga nama Masinan Kidang, Petilasan Kandang Kidang dan Belik Putri Ngrayud ketiga peninggalan ini sangat erat kaitanya dengan awal berdirinya Desa Ngrayudan.
Menurut Antok Purba dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Jawa Timur situs Demangan kalau dilihat sekilas diduga kuat memang ada hubunganya dengan Majapahit era 1300 M.
“Kalau secara detail saya sendiri belum melihat seutuhnya dari situs tersebut namun kalau dilihat dari peninggalanya berupa lingga dan yoni maka untuk sementara masih menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit dimasa pemerintahan Jayanegara,” kilas Antok seperti dikutip SiagaIndonesia.com.
Namun lain apa yang dikatakan Ali Mustofa seorang sesepuh asal Desa Ngrayudan sesuai versinya situs Demangan besar kemungkinan berasal dari jaman Kesultanan Mataram abad 17. Terbukti sudah adanya silsilah Demang atau yang sekarang ini disebut kepala desa.
“Kalau dilihat sebutan Demang saya kira dari isitilah Kademangan berati dari era Mataram,” terangnya. Kemudian mengenai riwayat situs Demangan beber Ali Mustofa ada cerita klasik yang sampai sekarang ini masih diriwayatkan secara turun temurun.
Sesuai alur ceritanya semasa Ki Demang Surodimejo mempunyai seorang putri yang baru lahir namun tanpa disangka hilang tanpa meninggalkan jejak. Beberapa waktu lamanya putri kesayanganya tersebut dicari akan tetapi usaha Ki Demang Surodimejo sia-sia.
Pada suatu hari ada seorang janda dengan sebutan Mbok Rondo Mbluluk menemukan si jabang bayi putri kesayangan Ki Demang Surodimejo di hutan Jublek berjarak 4 kilometer dari Desa Ngrayudan sekarang ini.
Anehnya, kali pertama saat Mbok Rondo Mbluluk melihat bayi menangis tersebut berada dibawah dekapan seekor kidang (kijang-red). Tanpa membuang waktu bayi tersebut langsung diambilnya untuk diserahkan kepada Ki Demang Surodimejo yang sudah mencarinya beberapa hari. Saat perjalanan pulang inilah kidang yang tadinya mendekap bayi ini terus membuntuti Mbok Rondo Mbluluk.
Sesudah sampai kerumahnya Ki Demang Surodimejo, seekor kidang yang dianggap telah menyelamatkan jabang bayinya tersebut langsung dirawat dengan dibuatkan kadang yang berada disamping rumahnya.
Dan hingga sekarang petilasan berupa kandang masih terlihat bentuknya yang masih menyisakan tempat minum si kidang dan sekarang disebut ‘Petilasan Kadang Kidang’.
Sedangkan nama ‘Masinan Kidang’ sebagai bukti kalau tempat tersebut yang ditandai dua batu menjulang sebagai tempat ‘gosotan’ atau batu yang dimanfaatkan kidang untuk menggesekan bagian tubuhnya.
Masih tutur Ali Mustofa, pada jamanya tersebut Ki Demang Surodimejo karena terlalu sayang terhadap hewan piarakanya karena telah menyelamatkan putrinya ini maka dirinya memberikan semacam sabda atau biasa disebut ‘waler’.
Kata Ali, bunyinya sabda tersebut siapa saja yang sengaja atau tidak disengaja menyimpan bahkan membawa bagian dari tubuh kidang baik kulit hingga tulangnya ke Desa Ngrayudan maka akan terjadi petaka besar atau musibah secara mendadak dan mitos ini sampai sekarang masih berlaku.
“Waktu tahun 80an ada pagelaran wayang kulit yang ada di desa sini kebetulan salah satu alatnya yakni kendang dibuat dari kulit kidang maka apa yang terjadi waktu itu musibah hujang angin yang meluluhlantakan wilayah sini,” jelas Ali Mustofa.
Sementara menyangkut ‘Belik Putri Ngrayud’ diriwayatkan saat itu Putri Ngrayud dilamar seorang maling kentiri yang mempunyai kesaktian luar biasa. Karena yang meminang seorang pencuri kontan saja Ki Demang Surodimejo menolak lamaran tersebut dengan bahasa halus yang disampaikan lewat permintaan.
Dimana sesuai permintaanya pencuri itu harus membuatkan saluran air sepanjang 10 kilometer menuju sendang dari Telaga Pasir yang berada di lereng Gunung Lawu dalam waktu semalam dengan ditandai sampai ayam berkokok sebagai tanda waktu pagi.
Namun rupanya maling kentiri harus menyesali pekerjaanya membuatkan saluran air dari tatanan bongkahan batu. Menjelang waktu tengah malam ada seorang putri di Dusun Gagar, Desa Ngrayudan yang dilewati saluran air tersebut tengah menyapu dihalaman dan ayam piaraannya berkokok. Lantas Ki Demang Surodimejo menganggap pekerjaan maling kentiri gagal karena sudah pagi.
Akibatnya maling kentiri yang kecewa mengeluarkan sabda siapa saja perawan yang ada ditempat tersebut akan bernasib ‘gagar’ atau sial yakni akan melahirkan anak namun tidak diketahui siapa suaminya. (ist)