Budaya Jawa Timur dalam Tandak dan Playon

foto
Royyan Julian dan kumpulan cerpennya berjudul Tandak. Foto: ist.

Jawa Timur terbentuk dari beragam suku dengan ciri khas budaya masing-masing. Kekayaan budaya Jawa Timur telah dikenal dan dikagumi khalayak di dalam maupun luar negeri. Namun kekayaan budaya tersebut lama-kelamaan tergerus oleh arus globalisasi yang begitu kuat.

Generasi muda yang seharusnya melestarikan kebudayaan tersebut justru mulai tak mengenali kebudayaannya sendiri. Berbagai cara dilakukan oleh lembaga budaya untuk mengangkat kembali budaya Jawa Timur, salah satunya lewat karya sastra.

Budaya Jawa Timur seperti dilansir TribunNews.com, terbaca dengan jelas dalam dua karya sastra pemenang sayembara buku cerpen dan puisi Dewan Kesenian Jawa Timur 2015. Karya tersebut antara lain kumpulan cerpen Tandak karya Royyan Julian dan kumpulan puisi Playon karya F Aziz Manna. Kedua judul karya sastra juara itu sangat kental unsur Jawa Timur, bahkan mungkin hanya dipahami maknanya oleh warga Jawa Timur saja.

Tandak mengangkat lokalitas Madura yang sarat etnik dan intrik. Fenomena blater menjadi sorotan utama cerita, menjadikan cerita dalam buku ini begitu khas. Saya memahami blater dalam buku ini seperti seorang mafia yang ditakuti sekaligus dijadikan tempat mengayom. Pesona blater dipaparkan secara humanis tanpa tendensi yang berlebihan.

Sepak terjang blater dapat dilihat dalam cerpen berjudul Tandak dan Calon Istri Phu Chau Phu. Budaya karapan sapi, pertunjukan penari tandak atau tayub serta identitas pondok pesantren melengkapi kekokohan cerita antara lain terpadak dalam cerpen Memburu Gogor, Sirkuit Jahanam, Muang Sangkal, dan Biografi Pohon Sidrah. Cerita dalam buku ini membahas sisi lain dari dinamika Madura dalam rentang waktu masa kerajaan Hindu-Buddha kuno sampai masa kontemporer.

Kekayaan budaya Jawa Timur dalam bentuk bahasa maupun permainan anak diangkat secara apik dalam kumpulan puisi Playon. Penyair menelusupkan istilah-istilah Jawa Timur secara pas dalam balutan diksi-diksi yang puitis. Istilah mulai dari Contong Bolong, Suket Tarung, Endog-endogan, Bendan, Pikatan sampai Mungar dinarasikan dalam kata penuh makna yang seringkali mengejutkan. Penuh perenungan agar pembaca mampu merefleksikan pesona sekaligus dilema budaya Jawa Timur.

Kedua karya sastra ini layak diapresiasi sebagai catatan yang mewariskan kekayaan intelektual budaya Jawa Timur. Saya salut pada Dewan Kesenian Jawa Timur yang telah mencari, mengurasi, dan menerbitkan karya-karya terbaik tersebut untuk menunjukkan keindahan budaya Jawa Timur.

Masyarakat Jawa Timur bisa membaca karya tersebut untuk menggali kembali kenangan tentang budaya Jawa Timur. Siapa tahu hasil pembacaan tersebut dapat menimbulkan inspirasi untuk membangkitkan kembali budaya Jawa Timur dalam bentuk yang lain. (ist)

Jejak Pertemuan Terakhir Brawijaya dan Sabdopalon

foto
Candi Alas Purwo di pesisir Teluk Panggang Banyuwangi. Foto: ist.

Kabupaten Banyuwangi yang dahulu dikenal dengan Blambangan menyimpan banyak kisah sejarah. Salah satunya Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) di wilayah Kecamatan Tegaldlimo.

Di kawasan hutan alami ini, terdapat bangunan Candi Alas Purwo yang disakralkan. Konon, tempat ini menjadi lokasi terakhir bertemunya Raja Majapahit Prabu Brawijaya dengan Sabdopalon, beberapa saat setelah Majapahit runtuh.

Candi Alas Purwo berada di pesisir Teluk Pangpang. Secara administrasi masuk Dusun Pondok Asem, Kecamatan Tegaldlimo. Lokasinya berada di tengah hutan bakau, sangat sunyi dan indah.

Di dekat candi terdapat muara, pertemuan sungai dengan air laut. Hulu dari kawasan ini berada di Semenanjung Sembulungan, Muncar. Bangunan candi terlihat menjulang, ukirannya bernuansa khas Majapahit.

Tempat ini kerap dikunjungi sebagai lokasi wisata religi. Terutama, umat Hindu Bali dan umat Hindu dari Tegaldlimo. Bahkan, ada juga pengikut Kejawen yang kerap mendatangi lokasi ini untuk melakukan semedi.

Warga juga menyebut lokasi candi ini dengan Gumuk Gadung. Sepintas, memang lokasinya berada di ketinggian. Versi warga, bukit ini menjadi saksi bisu pertemuan antara Raja Majapahit Prabu Brawijaya dengan sang abdi dalem terdekatnya, Sabdopalon.

Konon, kala itu, ketika Majapahit runtuh, Brawijaya ke Blambangan. Lalu, di bukit inilah terjadi diskusi terakhir antara Brawijaya dengan Sabdopalon. Hasilnya, Brawijaya memilih pergi ke Gunung Lawu. Sedangkan Sabdopalon yang setia dengan ajaran leluhur, lenyap. Hilang ke alam nirwana.

Dulu, sebelum dibangun candi, terdapat sebuah pohon kelampis ireng. Nama Candi Purwo ini juga memiliki makna mendalam. Harapannya, masyarakat tetap ingat dengan kawitan atau sejarah. Candi juga sebagai simbol kebesaran Nusantara dengan kebhinekaan.

Ketua Parisadha Hindu Dharma (PHDI) Kecamatan Tegaldlimo, Joko Setiyoso seperti dikutip JatimTimes.com mengatakan, Pura Agung Candi Purwa itu dibangun tahun 1996. Dananya dari swadaya umat Hindu Tegaldlimo, dibantu donator dari Bali.

Lalu, 11 September 2011 digelar pamelaspas atau upacara peresmian. Kala itu, diyakini, tonggak sejarah kembalinya Sabdapalon ke tanah Jawa. Sekaligus, tonggak sejarah Nusantara.

Lokasi candi cukup jauh dari keramaian. Bangunannya perpaduan khas Jawa dan Bali. Namun, dominan Jawa, terutama mirip peninggalan era Majapahit. Bangunannya menghadap ke timur arah matahari terbit. Ini simbul kawitan atau awal.

Menuju lokasi candi, dibutuhkan sedikit perjuangan. Dari kota Banyuwangi butuh sekitar 2 jam. Jalur menuju candi ini satu arah dengan Taman Nasional Alas Purwo. Begitu masuk ke kawasan hutan, akan muncul papan nama menuju candi. Jalannya masih sempit.

Memasuki Dusun Pondok Asem, Desa Kedungasri, pengunjung harus menyusuri jalan makadam, sekitar 3 kilometer. Lalu, jalan setapak dikelilingi hutan bakau rindang. Medannya cukup sulit. Setelah itu, pengunjung harus berjalan kaki hingga ke pelataran candi. Sebab, tak bisa dilalui kendaraan.

Bagi yang suka berpetualang spiritual, kawasan candi ini sangat cocok. Tempatnya hening, jauh dari hiruk pikuk warga. Di hari-hari tertentu, banyak pengunjung menginap di tempat ini. Beberapa juga datang dari luar daerah. Salah satunya, dari Bali.

Bagi yang ingin menginap, di dekat candi dibangun sebuah balai. Bisa menampung sekitar 50 orang. Sebagai kawasan wisata religi, Candi Purwo belum dilengkapi fasilitas umum. Seperti warung. Sehingga, bagi yang ingin bermalam, sebaiknya membawa perbekalan sendiri.

Deretan hutan bakau dan sekumpulan burung menjadi obyek menarik. Pengunjung juga tak perlu mengeluarkan biaya saat masuk ke kawasan ini.

Ditempat terpisah, Kepala Desa Kedungasri Sunaryo pada media ini mengatakan, bahwa situs itu tentu tak hanya sekedar menjadi magnet sejarah. Pihak pemerintah desa melalui niatnya ingin menjadikan tempat itu sebagai tempat wisata baru bagi warga. Tak hanya wisata alam, melainkan juga sebagai wisata religi.

“Tentu kita harus mendukung dengan pembangunan akses jalan untuk menuju ke Candi Alas Purwo. Karena ini dirasa sangat penting sebagai penguatan, tidak hanya sejarah maupun religi, tetapi juga memberikan nilai ekonomi yang mampu dikembangkan bagi warga,” papar Sunaryo, Kepala Desa Kedungasri. (ist)

Tragedi Cinta Dibalik Coban Rondo

foto
Ada tragedi kisah cinta tragis di Coban Rondo. Foto: Merdeka.com

Coban Rondo adalah objek wisata air terjun yang cukup diminati di Pujon Kabupaten Malang. Terlebih Coban Rondo kini dilengkapi berbagai wahana permainan seperti labirin, paint ball, fun tubing, panahan, kereta kelinci, persewaan sepeda gunung dan lainnya.

Air terjun, dalam istilah Jawa disebut coban, Rondo mulai dibuka sebagai objek wisata sejak 1980. Selain suasana yang sejuk salah satu yang tak kalah menarik disimak adalah legenda cinta tragis yang menyelimuti keberadaan Coban Rondo.

Penamaan Coban Rondo sebenarnya bermula dari legenda kisah sepasang pengantin yang kala itu baru saja melangsungkan pernikahan. Mempelai wanita bernama Dewi Anjarwati dan mempelai pria Baron Kusuma. Dewi Anjarwati berasal dari Gunung Kawi, sedangkan Baron Kusuma berasal dari Gunung Anjasmoro.

Setelah usia pernikahan mencapai usia selapan (35 hari), Dewi Anjarwati mengajak suaminya berkunjung ke Gunung Anjasmoro. Sayangnya, ide perjalanan tersebut tak direstui orangtua Dewi Anjarwati.

Pasalnya, usia pernikahan mereka baru saja mencapai selapan. Hal ini diyakini bisa mendatangkan kesialan bagi pasangan tersebut. Meskipun begitu, pasangan suami-istri ini bersikeras melakukan perjalanan.

Saat sedang menempuh perjalanan, keduanya dikejutkan dengan kehadiran sosok asing. Sosok asing ini ternyata dikenal dengan nama Joko Lelono. Melihat kecantikan Dewi Anjarwati, Joko Lelono terpikat dan ingin merebutnya dari Baron Kusuma.

Tentu Baron tak rela istrinya direbut Joko Lelono. Akhirnya pertarungan hebat pun tak terhindarkan. Para punakawan yang mengiringi perjalanan pasangan suami-istri tersebut kemudian membawa Dewi Anjarwati bersembunyi. Baron Kusuma berpesan pada para punakawan untuk menyembunyikan Dewi Anjarwati di suatu tempat yang memiliki air terjun (coban).

Pertarungan berujung kematian atas keduanya. Maka secara otomatis Dewi Anjarwati menjadi rondo (istilah Jawa bagi janda). Sejak saat itulah, air terjun tempat persembunyian Dewi Anjarwati dikenal dengan nama Coban Rondo.

Jika berkunjung ke Coban Rondo, akan menemukan batu besar yang berada di bawah air terjun. Batu tersebut diyakini sebagai tempat duduk sang putri. Tak hanya berujung penamaan, tapi juga menuai mitos cinta. Mitos tersebut menyebutkan, siapapun yang datang ke Coban Rondo bersama pasangannya, maka jalinan cintanya tak akan berumur panjang. (ist/merdeka.com)

Disayangkan, Situs Purbakala Bukan Prioritas Daerah

foto
Peran pemerintah daerah terhadap penanganan situs purbakala minim. Foto: Detik.com.

Masih banyak situs purbakala peninggalan kerajaan Majapahit di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto yang kurang terawat dengan baik. Terbatasnya anggaran membuat pemerintah pusat melalui Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim tak bisa berbuat banyak.

Seperti Situs Tribuwana Tungga Dewi di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko yang dirawat ala kadarnya sehingga tak dilirik wisatawan. Candi Minakjinggo di Trowulan juga kondisinya cukup memprihatinkan. Penelitian yang tak tuntas membuat rekonstruksi candi sesuai bentuk aslinya jalan ditempat.

Dan masih banyak lagi situs-situs lain yang kondisinya tak kalah memprihatinkan. Kondisi itu diperparah dengan sikap Pemkab Mojokerto yang hanya menyedot pendapatan asli daerah (PAD) tanpa mau ikut merawat.

Di sela-sela kunjungannya ke Museum Majapahit di Trowulan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy sempat menyindir Pemkab Mojokerto, yang dinilai hanya mengambil keuntungan atas keberadaan situs Cagar Budaya Majapahit, namun tidak memberikan imbal balik untuk perawatan.

Sindiran tersebut disampaikan pria kelahiran Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun usai mendengar penjelasan dari pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur di Trowulan. Pihak BPCB menyatakan jika selama ini tidak ada kontribusi dari Pemkab Mojokerto, padahal Pemkab Mojokerto mengambil retribusi di sejumlah situs.

“Yang memungut restribusi disini Pemkab tapi tidak memberikan bantuan apapun untuk perawatan situs. Mereka memungutnya dimana, pintu masuk itu? Pemkab ini sak enak-enake udel ae (Pemkab ini seenaknya saja),” ungkapnya seperti dikutip Beritajatim.com, beberapa waktu lalu.

Muhadjir menginginkan pihak pemda maupun BPCB duduk bersama mengatasi persoalan ini. “Dengan anggaran yang terbatas kami terus urus (situs-situs terbengkalai), agar tahap demi tahap situs-situs bisa terpelihara dengan baik, perlu ada cara-cara kreatif supaya berlangsung cepat,” katanya.

Ke depan, lanjut Muhadjir, situs-situs purbakala harus direvitalisasi supaya menjadi destinasi wisata yang menarik turis mancanegara. Pihaknya berharap kunjungan wisatawan bisa menghasilkan pendapatan negara bukan pajak (PNBP).

“Seperti situs Trowulan ternyata pihak pengelola (BPCB Trowulan) tak memungut apa-apa. Untuk siswa tak masalah, kalau turis asing tidak betul. Kami revitalisasi tempat parkir, tempat ibadah, souvenir seusai ciri khas situs,” ujarnya.

Oleh sebab itu, tambah Muhadjir, pihaknya berharap ada sinergi antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat. Pasalnya, selama ini sebagian pemda menganggap merawat situs purbakala tak menjadi prioritas dan membebankan sepenuhnya tanggungjawab perawatan ke pemerintah pusat. Di sisi lain pemda menikmati PAD dari situs-situs yang menjadi destinasi wisata, seperti dari retribusi parkir dan tiket masuk.

“Ada juga pemerintah daerah yang belum menjadikan situs purbakala sebagai prioritas tergantung daerahnya dan besar kecilnya PAD. Saya minta duduk bersama agar kedua belah pihak bisa mengambil manfaat. Memang ini wilayah pemerintah pusat, namun pemda banyak mengambil manfaat salah satunya sebagai destinasi wisata,” terangnya.

Jika sinergi itu berjalan dengan baik, Muhadjir juga berharap keberadaan situs purbakala menjadi wahana pendidikan karakter para generasi penerus bangsa. “Sehingga nanti kami harapkan situs-situs semacam ini menjadi tujuan para siswa dalam rangka menanamkan rasa cinta tanah air, bahwa nenek moyang kita tak kalah hebat dengan bangsa lain,” tandasnya. (sak)

Terowongan Surowono, Irigasi Era Majapahit

foto
Masih ada misteri dalam Terowongan Surowono. Foto: Sarkawijayaharahap.blogspot.co.id.

Konon, para raja Majapahit bersembunyi di terowongan bawah tanah alas (hutan) Surowono di masa peperangan. Juga tersiar kabar adanya sistem pengairan dan irigasi yang dibangun di bawah permukaan tanah alas Surowono oleh kerajaan tersohor itu.

Adalah Terowongan Surowono, terowongan bawah tanah yang selalu terisi air mengalir. Hawanya sejuk berselimut rimbun bambu dan akar beringin yang semakin menguat.

Terletak di Dukuh Surowono, Desa Canggu, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri. Masyarakat setempat mempercayai bahwa selain candi dan pemandian, terowongan tersebut adalah awal peradaban dusun Surowono. Dipercayai pula, terowongan ini sudah ada sejak jaman Majapahit.

Salah satu pemandu terowongan, Slamet (48) kepada LensaIndonesia.com mengatakan, terowongan ini digunakan untuk tempat persembunyian para raja Majapahit di masa peperangan. Selain itu juga digunakan untuk pelarungan sesaji dalam upacara keagamaan.

Sejatinya, terowongan ini adalah terowongan air bawah tanah yang berjarak sembilan meter dari permukaan tanah. Mempunyai dua sisi, yakni Utara dan Selatan. Terowongan sisi Selatan mengarah ke sungai. Terdiri dari lima sumur dengan jarak antar sumur sekitar 50-100 meter. Mulut terowongan berbentuk kubah, mempunyai tinggi sekitar 160-180 sentimeter.

Di beberapa bagian, ketinggiannya hanya 150 sentimeter. Bahkan di antara sumur keempat dan kelima, jarak dasar terowongan dengan langit-langit hanya sekitar 60 sentimeter. Pada dinding-dindingnya banyak rembesan air, sehingga membuat ruangan selalu terisi air dengan ketinggian bervariasi, mulai setinggi mata kaki hingga perut orang dewasa.

Sedangkan terowongan sisi Utara fisiknya tak jauh beda dengan terowongan sisi Selatan. Namun hingga saat ini masih belum diketahui terowongan tersebut mengarah ke mana.

Juru kunci terowongan, Samsul mengatakan, tim penjelajah dari warga setempat tak bisa meneruskan perjalanan. Karena kadar oksigen di dalam terowongan sisi Utara lebih rendah daripada sisi Selatan.

Kasub Inventaris Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Kholis menyatakan, terowongan Surowono adalah kanal atau sistem pengairan yang dibangun pada masa Kerajaan Majapahit.

Hal itu dikuatkan dengan adanya penjelasan dari kitab Negarakertagama Pupuh 82 yang ditulis oleh Prapanca. Dijelaskan, Sri Nata Wengker (raja Wengker) membuka hutan Surabana, Pasuruan, Pajang. Disebutkan pula, Hayam wuruk juga membuka hutan di Tigawangi.

Arkeolog Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono menyatakan, terowongan Surowono adalah sistem pengairan yang jelas direncanakan untuk kepentingan irigasi.

Diperlukan bagi persawahan yang dikelola untuk kepentingan candi. Itu pula yang menyebabkan terowongan di Surowono bersambungan dengan sungai yang mengairi persawahan di Dukuh Sumberagung yang bersebelahan dengan Surowono.

Kenyataannya, menurut Slamet, di Surowono dan Sumberagung masa tanam bisa dilakukan tiga kali tanpa pernah mengalami kekeringan. Banjir juga belum pernah melanda.

Suasananya nan teduh, airnya yang menawarkan kesegaran dan track terowongan yang menantang adrenalin menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang menggemari wisata alam.

Tak sedikit wisatawan domestik maupun asing yang berkunjung ke terowongan ini untuk menikmati kesegaran air, susur terowongan bahkan hanya untuk bersantai-santai saja. “Di kala akhir minggu dan hari libur pengunjung bisa mencapai 100 orang setiap harinya,” jelas Slamet.

Di dalam terowongan, pengunjung akan dihadapkan dengan kondisi ruangan yang gelap, lembab, dingin dan pengap. Untuk dapat menyusur terowongan tak diperkenankan masuk tanpa kawalan pemandu. Karena banyak persimpangan di beberapa bagian terowongan. Tak jarang pengunjung yang tersesat dan pingsan saat melakukan penyusuran. (ist)

Pemprov Jatim Gelar Wayang Kulit 20 Kali Setahun

foto
Pemprov Jatim berkomitmen rutin gelar wayang kulit. Foto: Humas Pemprov Jtm.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan pentas wayang kulit sebanyak 20 kali dalam setahun. Ini karena wayang adalah salah satu budaya asli Jatim yang menjadi tontonan sekaligus tuntunan, karena dalam setiap pagelarannya senantiasa mengajarkan nilai-nilai luhur yang bermanfaat bagi kehidupan.

“Kami menganggarkan pentas wayangan 20 kali dalam setahun. Ini adalah komitmen Pemprov Jatim untuk melestarikan wayang kulit sebagai warisan dari budaya Indonesia, yang juga telah menjadi warisan budaya dunia,” kata Wakil Gubernur Jawa Timur, Drs H Saifullah Yusuf saat Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk dalam rangka Memperingati HUT ke-39 LPP TVRI Jawa Timur di Kantor TVRI Jatim, Surabaya, beberapa waktu lalu.

Wagub Jatim mengatakan, alasan menggelar 20 kali pentas wayang dalam setahun karena wayang adalah salah satu warisan sejarah seni dan budaya asli Indonesia yang terus eksis hingga saat ini. Bahkan, keberadaan wayang dapat dijadikan alat untuk memperkuat kerukunan masyarakat.

“Disini tidak hanya orang yang tua saja yang menonton wayang kulit, tapi juga ada anak-anak, remaja, baik laki-laki maupun perempuan. Kita semua duduk bersama menonton wayang yang selain menghibur, juga dapat memberikan nilai-nilai luhur yang bermanfaat bagi kehidupan. Inilah yang memperkokoh kerukunan kita,” kata pria yang akrab disapa Gus Ipul itu.

Karena itu, lanjut Gus Ipul, kecintaan terhadap wayang kulit harus terus dipupuk dan dilestarikan. Dengan mencintai budaya wayang, artinya juga melestarikan budaya asli bangsa ini kepada anak cucu. “Budaya wayang tidak tergantikan, ini harus kita pertahankan kepada generasi penerus, kisah dalam wayang menunjukkan bahwa nenek moyang bangsa ini punya tuntunan, tatanan, dan nilai-nilai lurur kehidupan yang mulia” katanya.

“Sudah seharusnya masyarakat lebih mencintai budaya wayang daripada budaya-budaya asing yang menyerbu bangsa ini. Orang luar negeri saja begitu kagum dan bangga dengan budaya wayang, jangan sampai malah kita sendiri yang jadi lebih kagum dengan budaya luar yang lebih modern. Kita punya wayang sebagai kekuatan bangsa, dan kita harus bangga akan wayang kulit,” pungkasnya. (sak)

Candi Jawar Ombo, Situs Berselimut Misteri

foto
Situs berselimut misteri di Candi Jawar Ombo. Foto: Esokharinanti.com.

Terletak jauh dari keramaian, berdiri sebuah situs Candi Jawar Ombo, pertama kali ditemukan penduduk setempat tahun 1983 dalam kondisi masih terpendam tanah. Hingga kini candi Jawar Ombo masih penuh dengan misteri lantaran belum banyak kajian sejarah yang terungkap darinya.

Candi Jawar Ombo berlokasi di Pedukuhan Kaliputih, Desa Muliosari, Kecamatan Ampel Gading, Kabupaten Malang. Jika berangkat dari kota Malang, maka pengunjung harus menempuh jarak sekitar 32 kilometer.

Sebagai sebuah peninggalan purbakala, bangunan Candi Jawar Ombo menyimpan nilai estetika yang tinggi. Candi yang menghadap ke arah Gunung Semeru ini, memiliki alas berbentuk bujur sangkar berukuran 6×6 meter dan tinggi 60 sentimeter.

Lantai alas candi terdapat empat umpak batu yang lubang pada bagian tengah. Dilihat dari bentuknya, ini diperkirakan sebagai tempat berdirinya tiang kayu dengan atap rumbia atau ijuk.

Kaki candi Jawar Ombo berupa pelipit setengah lingkaran dan segi empat. Sisi alas candi dihiasi dengan relief teratai, pilaster dan tapak dara. Sisi bangunan candi berhiaskan lima teratai, empat tapak dara dan sepuluh pilater yang ditempatkan berselang-seling.

Pahatan sosok manusia pun ditemukan pada sisi bangunan ini. Relief yang dipahat terlihat seperti wayang, dan menyerupai gaya pahatan pada relief-relief candi Majapahit.

Pintu masuk candi terdapat arca batu yang memegang gada, yang diperkirakan sebagai Dwarapala. Mengingat, gada merupakan ciri paling khas dari arca Dwarapala.

Arca Dwarapala merupakan arca yang umumnya ada di setiap candi. Pasalnya, Dwarapala merupakan arca penjaga gerbang atau pintu dalam ajaran Syiwa dan Budha. Penamaan Dwarapala sendiri diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti pengawal pintu atau penjaga gerbang. (sak)

Merawat Kebhinekaan Lewat Bahasa dan Sastra

foto
Bahasa dan sastra bisa menjadi media merawat kebhinekaan Indonesia. Foto: Kemendikbud.go.id.

Peran bahasa dan sastra Indonesia melalui re-identifikasi kebhinekaan bangsa menjadi hal yang menarik untuk menjadi salah satu solusi dalam permasalahan sosial saat ini.

Keragaman bahasa daerah yang dimiliki Indonesia turut berperan besar dalam perkembangan dunia sastra Indonesia. Bahasa daerah dan nilai-nilai lokalitas pun mengambil andil besar dalam pengembangan bahasa Indonesia yang untuk merawat kebhinekaan dan kebangsaan.

Pakar bahasa Bambang Kaswanti Purwa mengatakan, bahasa Indonesia berkembang sesuai dengan konteks lokalitas di daerah yang terdekat dengan masyarakat. Keragaman bahasa dan sastra daerah yang memperkaya bahasa dan sastra Indonesia merupakan perjalanan kultur yang terwujud dalam kebhinekaan.

Bambang mencontohkan, tegur sapa budaya dalam merajut kebhinekaan tercermin dalam salah satu puisi karya Chairil Anwar yang berjudul ‘Cerita Buat Dien Tamaela’.

Chairil Anwar yang seorang sastrawan asal Minang, Sumatera Barat, menulis puisi dengan bahasa Maluku. “Puisi itu seperti sebuah perjalanan kultur Chairil Anwar,” ujarnya dalam acara Bincang-Bincang Kebangsaan di Gedung D Kemendikbud, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Terkait pembelajaran bahasa Indonesia dan sastra di sekolah, pakar sastra Suminto A Sayuti mengatakan, anak-anak harus bisa membedakan berbahasa dengan bersastra. Siswa tidak hanya belajar tentang teori, melainkan juga bagaimana terjun langsung untuk mendalami sastra dan menghasilkan suatu karya sastra.

“Anak-anak harus bisa langsung masuk ke sana (karya sastra), dan mempraktekkannya. Misalnya novel Ayat-Ayat Cinta karya Kang Habiburrahman El Shirazy. Di novel itu siswa bisa melihat adanya keragaman budaya Indonesia, adatnya, ada juga nilai-nilai lokalitas dan nasionalitas di situ. Jadi bukan lagi mengajarkan definisi novel adalah, atau plot adalah…,” katanya.

Untuk sistem pembelajaran di sekolah, Sayuti lalu memberikan saran agar pembelajaran berbahasa dan bersastra di sekolah bisa fokus kepada tiga hal, yaitu membaca, menulis, dan mengapresiasi karya sastra. Dengan melakukan apresiasi sastra, siswa bisa mendalami keragaman budaya yang terkandung melalui kegiatan literasi.

“Literasi Indonesia berbeda jika dilihat dari sisi kebudayaan. Model literasi yang dikembangkan harus yang berbasis nusantara,” tutur Sayuti.

Acara Bincang-Bincang Kebangsaan dalam Perspektif Kebahasaan dan Kesastraan mengambil tema “Merawat Kebhinekaan Melalui Bahasa dan Sastra”. Dalam acara tersebut hadir juga pembicara lain, yaitu Habiburrahman El Shirazy (sastrawan/novelis), Tedy K Sumantri (wartawan, Forum Bahasa Media Massa), dan Puji Santosa (peneliti senior dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud).

Di akhir diskusi, Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Badan Bahasa, Hurip Danu Ismadi, membacakan kesimpulan dan rekomendasi dari hasil Bincang-Bincang Kebangsaan.

Beberapa kesimpulan itu antara lain, merawat kebhinekaan melalui bahasa dan sastra adalah suatu proses yang harus dijalankan terus menerus oleh berbagai pemangku kepentingan yang beragam.

“Penguatan pendidikan bahasa dan sastra harus diupayakan sebagai proses yang berangkat dari kebutuhan bangsa yang faktual, dan menunjukkan peran bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa,” ujarnya. (sak)

Sucipto: Penjaga Tradisi Barong Suku Using

foto
Sucipto, generasi keenam penjaga tradisi Barong Suku Using. Foto: Merdeka.com.

Dibawah kepemimpinannya Barong Kemiren mulai dikenal dunia internasional. Apalagi Pemkab Banyuwangi getol mempromosikan pariwisata. Barong Kemiren pernah pentas di di Frankrut Jerman pada 2015 dan Belanda pada 2012. Bahkan rumah Sucipto, juga sempat menjadi tempat pembuatan video clip penyanyi jazz, Syahrani.

Mayoritas semua orang kenal Sucipto. Bahkan rumah Sucipto di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah ini telah biasa didatangi tamu-tamu penting Banyuwangi, termasuk Duta Besar AS untuk Indonesia. Rumah Sucipto bergaya khas rumah Osing. Pelatarannya luas, dengan kayu sebagai bahan dasar rumahnya. Rumah itu bisa dipindahkan layaknya rumah Osing pada umumnya.

Rumah ini selalu menjadi jujukan apabila ada tamu Banyuwangi yang ingin mengetahui atau mempelajari kebudayaan kbupaten berjuluk Sunrise of Java tersebut. “Saya lahir di rumah ini,” kata Sucipto kepada TribuneNews.com.

Siapa sebenarnya Sucipto? Mengapa sosoknya begitu penting di kebudayaan Kemiren dan Banyuwangi? Melihat bapak dua anak itu, tidak menyangka apabila dia adalah orang penting. Sucipto terlihat biasa saja. Bahkan banyak orang yang datang ke rumahnya untuk pijat.

Saat bertandang ke rumah Sucipto, dia mengenakan pakaian biasa saja. Mengenakan kemeja, dan celana hitam yang penuh kantung. Apabila ada tamu, biasanya ditempatkan di pelataran samping rumahnya. Kopi dan pecel ayam menjadi suguhannya. Apabila lagi musim, durian juga disuguhkan. Kemiren itu sendiri konon berasal dari kata ‘kemiri’ dan ‘duren’.

Menjadi juru kunci Barong, tidaklah sembarang orang. Tidak ada pungutan suara, bukan pula melalui voting. Melainkan dari wangsit yang muncul secara tiba-tiba. Setiap juru kunci merasakan hal itu. Mereka adalah orang pilihan yang dipilih secara spesial kadang tak masuk akal.

Sucipto mulai belajar Barong sejak bocah. Ketika usianya 9 tahun, dirinya mengaku dilarang ibunya belajar barong: “Cip, jangan main barong, tidak bagus,” begitu kata ibunya suatu hari.

Malam berselang dan ibunya sakit, tangannya tak dapat ditekuk, matanya berangsur buta. Sang ayah telah membawa ibunya berobat ke Jember, lima kali. Tiga ekor sapi ludes untuk biaya, tapi sang ibu tak kunjung sembuh.

Saat itulah Sucipto kecil berdoa kepada Buyut Culi, agar ibunya diberi kesembuhan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Ketika berdoa, jatuh sebuah bunga di depannya. Sucipto merendam bunga ini dengan air, dan dibasuhkan ke ibunya, termasuk matanya. Ibunya pun sembuh. Mulai saat itulah Sucipto tekun belajar tentang Barong, nguri-uri budaya Using melalui Barong.

Sucipto terpilih di usia 23 tahun. Sucipto masih ingat betul, saat itu Kamis malam. Di depan pintu rumahnya tiba-tiba muncul anak panah berwarna hijau. Saat itu, Sucipto tak berani keluar karena takut. Lama kelamaan, anak panah itu berubah menjadi cahaya mirip cahaya bulan. Sucipto kian takut bahkan menggigil. Dia tidak berani membuka pintu.

“Saya sangat ketakutan dan menggigil. Saya tidak tahu itu apa,” kata pria kelahiran 28 Agustus 1963 tersebut. Tidak berapa lama, datang Pak Safii, juru kunci generasi kelima ke rumah Sucipto. Dia langsung mengucapkan selamat pada Sucipto. “Sejak itulah saya menjadi generasi keenam,” kata suami Holilah itu.

Di bawah kepemimpinan Sucipto, Barong Kemiren kini terus berkembang. Sucipto melakukan regenerasi pada Barong Kemiren. Jika selama lima generasi hanya ada satu, yakni Tresno Budoyo, Sucipto membentuk dua generasi baru, Sapujagat dan Sawung Alit.

Tresno Budoyo diisi oleh pemain-pemain tua yang berusia 35 tahun ke atas. Saat ini terdapat 40 orang. Sedangkan Sapujagat juga dikenal dengan Barong Lancing (pemuda) yang berisi pemain berusia 20-30 tahun. Terdapat 45 orang di Sapujagat.

Sedangkan Sawung Alit merupakan Barong yang diisi pemain-pemain anak-anak dan remaja. Mereka masih duduk di bangku SMP. “Ini untuk regenerasi agar Barong Kemiren tidak punah. Karena Barong Kemiren, harus dimainkan oleh orang Kemiren asli,” kata pria yang tidak sampai lulus SMP itu.

Kini nama Barong Kemiren telah banyak dikenal, dan sering melakukan pementasan. Namun bukan berarti itu membuat Sucipto kaya raya. Uang yang didapat dari pementasan hanya cukup dibagikan pada pemain dan biaya operasional.

Bahkan Sucipto sering mengeluarkan dana pribadi untuk acara-acara adat di Kemiren. Seperti selamatan Ider Bumi, di hari lebaran kedua. Senin dan Jumat pertama pada bulan haji.

Bahkan untuk menggapai cita-citanya, membangun sanggar Barong Kemiren, Sucipto masih belum sanggup. Selama ini, tempat latihan Barong Kemiren, selalu di rumah juru kunci. Belum ada sanggar tetap yang bisa digunakan untuk melestarikan Barong Kemiren. “Satu cita-cita saya yang belum terwujud. Membangun sanggar,” kata Sucipto.

Sarat Petuah Hidup
Barong Kemiren, merupakan kesenian kuno yang dibuat pada Abad XVI. Kesenian adat Kemiren, yang juga disebut Barong Using atau Osing. Barong Kemiren yang dibuat Mbah Sapuah oleh atas petunjuk gaib Mbah Buyut Cili, pendiri Desa Kemiren, itu mengandung filosofi hidup.

“Nama barong, berarti bareng-bareng (bersama-sama) melestarikan budaya. Mulut menganga bermakna; barong tidak boleh serakah. Jika butuh makan, harus bekerja keras untuk masa depan rumah tanggamu,” terang Sucipto seperti dikutip Merdeka.com.

Barong Kemiren juga memiliki dua sayap, yaitu sayap laki-laki dan perempuan. “Makna dari dua sayap barong, jika kamu hendak kemana-mana (terbang), silakan. Suka-suka saja. Asal jangan malas, bekerjalah meski sudah kaya-raya, seperti yang dimaknakan pada mulut barong yang menganga,” kata bapak dua anak ini.

Keling atau lekukan pada topi barong dengan kepala garuda menghadap ke belakang. “Ini sebagai pengingat. Barong harus ingat bahaya dibelakang. Meski ada wanita cantik menggoda, barong harus ileng (keling) atau waspada. Barong harus selalu tepo seliro, kalau kata orang Kemiren,” sambung Sucipto.

Ada simbol angsang di kepala barong artinya, punya pikiran jangan merangsang. Kalau ada tetangga memiliki apa-apa (kaya) jangan pernah iri dengki. “Merasalah bahagia, karena esok kamu bakal mendapat apa yang kamu inginkan,” jelasnya.

Di kepala barong, juga terdapat mahkota mirip kubah masjid. Kata Pendiri Sanggar Barong Sapu Jagat ini, mahkota barong sebagai simbol keislaman barong. “Kalau keislaman itu dirangkum dengan segala perbuatan, semua akan tunduk pada pikiran, pada budi pekerti baik, yang semuanya bermuara pada Yang Maha Kuasa. Jika semua digabungkan, putihlah seperti tanda warna kain yang dikenakan barong.”

Barong Kemiren juga memiliki rumbai-rumbai yang diibaratkan sebagai keluarga besar. Jika semua keluarga bersatu, maka akan kuat. ?Kemudian ada rumbai-rumbai yang mengibaratkan anak-cucu, menantu, orang tua, canggah, kalau bersatu akan kuat. Ada kebersamaan seperti warna kain putih dikenakan Barong.

“Di kemiren, siapa yang datang harus diramahi, harus disambut dan dilayani dengan baik. Siapa yang datang ke kita, kalau berbuat jahat, biarlah kejahatan itu Tuhan yang akan membalasnya. Inilah makna wujud keseluruhan Barong Kemiren,” terang Sucipto. (ist)

Komunitas Ini Jagoan Baca Prasasti Lho!

foto
Komunitas Kalyana Mitra di Malang belajar membaca prasasti. Foto: Cendananews.com.

Buat yang tertarik dengan candi-candi dan misteri di balik prasasti, bergabung dengan komunitas yang satu itu bisa jadi pilihan menarik. Komunitas Kalyana Mitra disebut bisa membuat anggota komunitasnya bisa membaca prasasti.

Faizatun Nisa, mahasiswa semester empat Prodi Sejarah Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Malang (UM) termasuk anggota baru di komunitas Kalyana Mitra. Ia bergabung karena tertarik pada sejarah Jawa kuno. Komunitas ini secara formal berada di bawah FIS UM.

“Alasan khususnya ikut bergabung karena minat ke sejarah kuno, khususnya Jawa Kuno yang dianggap aneh. Tapi saya merasa itu ingin tahu lebih banyak,” jelas mahasiswa asal Bojonegoro seperti dikutip SuryaMalang, Minggu (5/3).

Menurut dia, dari hasil bergabung, ia sedikit bisa membaca prasasti dengan aksara Jawa kuno ketika berada di patirtan Jolotundo di Kabupaten Pasuruan, yang membicarakan soal Udayana, Raja Bali. “Senangnya disitu bisa membaca prasasti,” kata Nisa.

Kalyana Mitra atau teman baik adalah sebuah kelompok belajar bersama dan diskusi tentang sejarah Jawa kuno. Sebagai penanggungjawabnya adalah Kepala Lab Sejarah UM, Denny Uudo Wahyudi.

Menurut Rendy Aditya PE, anggota lain, kegiatan berkumpulnya setiap Kamis pukul 15.00 WIB. Selain diskusi, biasanya juga ada field trip. “Anggotanya masih mahasiswa sejarah UM. Monggo kalau yang lain berminat,” kata Rendy, mahasiswa semester delapan ini.

Selain itu, komunitas juga sosialisasi ke sekolah-sekolah hingga memandu kegiatan ke candi-candi. Seperti ke Candi Jawi, Candi Kidal, Singosari, Badut dan Sumberawan serta museum Empu Purwa. “Ini bentuk pengabdian dan tidak ada tarifnya,” kata dia ketika ditanya soal honor misalkan jadi guide. Jumlah anggota komunitas ini sekitar 39 orang.

Berdirinya dimulai pada pada 2015. Menurut dia, ia khawatir dengan generasi sekarang. “Terutama ketertarikan pada Jawa kuno. Bukan sekedar aksara tapi juga budaya, tradisi khususnya sejarahnya,” katanya.

Karena itu diperlukan kegiatan yang bersifat edukasi agar anak muda tertarik dengan sejarah Jawa kuno. Untuk menjadi anggotanya, biasanya ada proses rekrutmen. “Yang baru biasanya diberi materi sendiri dari nol,” paparnya.

Ketika ditanya suka dukanya menjadi guide saat field trip, ia merasakan banyak sukanya. “Biasanya kalau bawa anak-anak SD terlihat antusiame mereka. Misalkan ada 40 anak, separuhnya biasanya antusias,” kata dia.

Namun dukanya juga ada. Ini terjadi ketika dalam sehari, banyak situs yang harus dikunjungi. Hasilnya, siswa pada siang hari sudah lelah. Ketika dijelaskan juga sudah nggak mudheng (gak ngerti),” ceritanya.

Menurut Rendy, peninggalan sejarah berupa candi di Malang sekitarnya menarik untuk didatangi. Sehingga akan bermanfaat menambah pengetahuan. Masing-masing memiliki kekhasan. (sak)