Dorong Daerah Buat Film Sejarah dan Budaya

foto
Daerah didorong membuat film bertema sejarah dan budaya. Foto: Kemendikbud.go.id.

Lembaga Sensor Film (LSF) mendorong sineas di daerah membuat film-film berbasis lokal yang mengandung nilai sejarah dan budaya. Kemendikbud akan membantu pembuatan film-film tersebut bagi yang memenuhi kriteria.

Menurut Ketua Komisi III LSF Mukhlis Paeni film adalah media transformasi yang sangat cepat. Karenanya, harus dimanfaatkan untuk membuat suatu film dokumenter yang mengangkat tentang sejarah, budaya, dan kearifan lokal daerah.

“Ini dibiayai oleh Kemendikbud. Dan, sekarang ada 25 judul film yang disiapkan,” kata Mukhlis saat menjadi pembicara dalam acara Sosialisasi Penyerapan Kearifan Budaya Lokal yang digelar oleh LSF di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Seperti di Kalimantan Timur misalnya, Mukhlis percaya di daerah ini memiliki banyak sejarah yang bisa diangkat menjadi film. Ada sejarah kerajaan Hindu tertua dari abad 5 yakni Kutai.

Atau, kisah kepahlawanan Sultan Muhammad Idris, seorang pejuang dari Kalimantan Timur yang gugur di Sulawesi Selatan. “Kalau digali pasti ada kisah-kisah bernilai sejarah yang menarik,” kata Mukhlis seperti dikutip Republika.co.id.

Menurut Mukhlis, daerah yang sudah mengangkat banyak film bertema sejarah, budaya, dan kearifan lokal adalah Sulawesi Selatan. Di mana, dalam satu tahun, sineas di daerah ini bisa memproduksi sebanyak 12 film. Atau, di Jawa Timur yang bisa memproduksi sebanyak 80 film dalam setahun.

Menurut Mukhlis, film-film yang memenuhi kriteria itu akan dibeli Kemendikbud. Kemudian, bisa menjadi bahan ajar untuk konten lokal di daerah.

Anggota anggota Komisi I LSF, Sudama Dipawikarta menambahkan saat ini Pusat Pengembangan (Pusbang) Perfilman Kemendikbud sedang gencar-gencarnya membantu komunitas dalam memproduksi film. “Segera saja jika sudah memiliki bahan untuk diajukan ke Kemendikbud,” katanya.

Di tempat yang sama, Ketua DPD Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Samarinda, Henri Hermawan mengatakan, dia bersama dengan rumah produksinya sudah membuat 80 judul film dokumenter yang mengangkat kearifan lokal sejak 2010.

Namun, yang menjadi kendala adalah, film-filmnya itu tidak bisa ditayangkan ke siaran publik seperti TVRI daerah ataupun televisi swasta daerah. Ini karena belum mendapatkan tanda lulus sensor dari LSF.

Di mana, sebuah tayangan publik harus mendatkan tanda lulus sensor dari LSF. “Nah, saya patuh pada peraturan untuk ditayangkan ke publik harus ada lulus sensornya. Tapi apakah ini berarti saya harus ke Jakarta,” kata Henri.

Menanggapi hal itu, Mukhlis Paeni menjelaskan pihaknya memang sejak 2014 lalu tengah memproses pembentukan perwakilan LSF di daerah. Pada awalnya, ada 10 daerah yang akan dibentuk, termasuk Kalimantan Timur.

Namun, karena pada 2016 lalu ada pemotongan anggaran dari pemerintah pusat, Kalimantan Timur ditunda. “Tapi saya yakin nanti pasti terbentuk perwakilan LSF Kalimantan Timur,”kata Mukhlis.

Dengan adanya perwakilan LSF daerah ini, lanjut Mukhlis, maka ada beberapa kemudahan yang didapat. Selain tidak perlu mengurus ke Jakarta, juga LSF setempat bisa lebih mengetahui karakter budaya setempat.

Sedangkan Sekretaris Komisi III LSF, Wahyu Tri Hartati, menyarankan, jika LSF daerah belum ada, sineas di daerah diminta untuk mencari mitra sebanyak-sebanyaknya agar bisa membantu pengurusan sensor LSF di Jakarta.

“Pemerintah daerah juga harus turun tangan membantu karya anak-anak daerah ini ke Jakarta ke tingkat nasional. Saya kira kita bisa bersinergi dengan baik. Dan kepada para pembuat film jangan pernah putus asa,” kata Wahyu. (ist)

Berkat Tangan Terampil Para Konservator

foto
Tangan terampil para konservator menentukan kualitas koleksi museum. Foto: Dok Museum Nasional.

Banyak orang hampir selalu mengagumi koleksi museum, baik dalam ruang pameran tetap maupun dalam ruang pameran temporer. Ada yang menyebutnya luar biasa karena berkilau. Ada yang menyebutnya bagus sekali karena bersih. Entah, sebutan-sebutan apa lagi yang menandakan kekaguman mereka.

Benda-benda koleksi itu mampu “disulap” sedemikian rupa berkat orang-orang di belakang layar museum. Mereka bekerja dalam sunyi, bukan dalam hiruk-pikuk kemewahan. Di Museum Nasional upaya perawatan benda-benda koleksi menjadi tanggung jawab Bidang Konservasi.

Konservasi merupakan istilah teknis, mengacu pada upaya pemeliharaan dan perawatan benda-benda cagar budaya, termasuk koleksi museum. Tujuannya memberi sentuhan pada koleksi agar lebih bagus, lebih tahan lama, atau untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

Sebagai bahan alami, memang suatu koleksi tidak mampu bertahan lama, apalagi yang terbuat dari bahan organik. Namun dengan teknik konservasi, suatu koleksi mampu diperpanjang umurnya melalui tangan-tangan terampil para konservator.

Di Museum Nasional benda-benda koleksi yang biasanya dikonservasi adalah benda yang akan dipajang dalam pameran temporer. Memang sesuai prosedur di Museum Nasional, benda yang sudah dipilih kurator, ditangani terlebih dulu oleh konservator.

Di luar itu benda-benda koleksi lainnya tetap diberikan penanganan. Menurut Kepala Bidang Konservasi Museum Nasional, Dani Wigatna, langkah awal melakukan konservasi adalah observasi.

Pada tahap ini kurator memeriksa benda koleksi. Setelah itu dinyatakan tingkat kerusakan suatu koleksi, misalnya utuh, rusak sedikit, hancur, dan lain-lain.

Dari sini kurator mengeluarkan rekomendasi, antara lain pembersihan, pengendalian lingkungan, dan restorasi. Untuk koleksi yang sudah amburadul, konservator tidak segan-segan memberikan rekomendasi “tidak layak dipamerkan”.

Dalam tahap observasi, konservator meneliti kerusakan koleksi sekaligus meneliti penyebabnya. Maka tindakan yang dilakukan sesuai hasil observasi tersebut. Perawatan dan pengawetan merupakan upaya utama untuk menangani koleksi.

Menurut Dani Wigatna, koleksi-koleksi batu dan perunggu relatif lebih mudah perawatannya. Yang lebih sulit adalah benda koleksi terbuat dari bahan organik, seperti kayu, kain, kertas, kulit, bambu, dan ijuk. Selain serangga, termasuk rayap, faktor penyebab utama biasanya jamur.

Yang paling repot, kata konservator Dian Novita Lestari, adalah kain yang sudah rusak tapi langka. Karena itu kain tersebut dibuatkan alas khusus dan tidak dipamerkan. Jadi kalau mau diangkat, bukan kainnya secara langsung tetapi alasnya. Dian sendiri berlatar disiplin Kimia.

Konservator lain, Dyah Sulistiyani, mengatakan untuk perawatan kayu dilakukan dengan berbagai cara. Tergantung tingkat kerusakan koleksi. Ada yang menggunakan vacum cleaner khusus, ada pula menggunakan bahan kimia untuk membersihkan noda. “Kalau penyebabnya serangga, biasanya dilakukan fumigasi,” kata Dyah yang berlatar disiplin Biologi.

Dulu fumigasi dilakukan dengan cara tradisional: membakar kayu. Seperti orang memasak dengan kayu bakar. Karena asap, bagian atap rumah menjadi hitam. Sesungguhnya, pada bagian hitam itu membuat serangga enggan datang.

Tapi kini fumigasi menggunakan peralatan modern. Dalam melakukan fumigasi, prinsip yang paling utama adalah aman bagi manusia, benda, dan lingkungan.

Masalah utama dalam konservasi koleksi adalah kelembaban. Tiap jenis koleksi mengalami kelembaban berlainan. Untuk mengurangi uap air, langkah yang sering dilakukan adalah menaruh silika gel.

Banyak sedikitnya silika gel tergantung volume vitrin. Jika silika gel sudah penuh uap air, kemudian dikeringkan dengan oven sehingga bisa dipakai kembali.

Menurut Dani, seharusnya pendingin udara atau AC dinyalakan 24 jam. Hal itu akan memberikan rasa aman pada koleksi. Saat ini AC menyala sesuai jam kantor. Gonta-ganti suhu justru merusak benda koleksi.

Agar kain umur panjang, Dian menyarankan, disimpan dengan cara digulung. Dengan demikian lipatan kain tidak terbentuk. Saat ini beberapa museum memiliki koleksi kain atau tekstil. Tidak ada salahnya mengikuti petunjuk Dian.

Museum Nasional selalu melakukan perputaran koleksi lebih cepat pada koleksi yang terbuat dari bahan organik. Setiap museum yang memiliki koleksi berlebih memang selalu mengganti koleksi yang dipajang setiap periodik.

Saat ini Museum Nasional agak kewalahan menangani sekitar 140.000 koleksi. “Target dalam setahun mengonservasi 20.000 koleksi. Sementara tenaga yang ada cuma 15 orang,” kata Dani.

Dalam bidang manapun, perawatan memang jauh lebih sulit daripada pekerjaan apapun. Padahal merawat koleksi museum, ibarat merawat segudang ilmu pengetahuan atau kearifan-kearifan nenek moyang. Tentu saja perlu peran pemerintah yang lebih arif, ataupun masyarakat, termasuk generasi muda yang peduli. (ist/Djulianto Susantio)

Aura Magis di Festival Jaranan Buto Banyuwangi

foto
Banyuwangi pernah kehabisan even, kali ini Festival Jaranan Buto. Foto: Banyuwangikab.go.id.

Festival Jaranan Buto bakal digelar 11 Maret 2017 di Lapangan Jajag, Gambiran, Banyuwangi. Lebih dari 30 grup kesenian yang masing masing terdiri dari penari dan penabuh akan tampil memeriahkan festival. Pertunjukan Seni Tari Jaranan Butho akan dipentaskan mulai pukul 10.00 hingga pukul 17.00 WIB.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas didampingi Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi MY Bramuda mengatakan, dalam perhelatan ini lebih dari 30 grup kesenian yang masing masing terdiri dari penari dan penabuh akan menghidupakan Lapangan Jajag, Gambiran, Banyuwangi tempat perhelatan tersebut.

Untuk memajukan pariwisata Banyuwangi, Pemkab tidak hanya melibatkan pemerintahan saja, tapi juga bekerja sama dengan komunitas dan masyarakat setempat.

“Penyelenggaraan Festival Jaranan Buto ini tidak hanya untuk mendongkrak sektor wisata, tetapi juga sekaligus untuk mewadahi dan menumbuhkan kreativitas rakyat Banyuwangi, maka dari itu, kami tunggu di Banyuwangi dan nikmati keindahan alam dan budaya kami, ini acara yang sangat menarik,” ungkap Bupati Azwar Anas.

Anas menambahkan, tari Jaranan Buto adalah tari yang menggunakan properti kuda buatan. Menyaksikan kesenian ini sepintas mirip dengan kesenian Kuda Lumping, Jaran Kepang atau Tari Jathilan.

Bedanya, properti kuda pada tarian Jaranan Buto yang digunakan tidaklah menyerupai bentuk kuda secara nyata, melainkan kuda tersebut berwajah raksasa atau Buto.

Begitu pula dengan para pemainnya yang juga menggunakan tata rias sadis dan menyeramkan layaknya seorang raksasa (buto) yang lengkap dengan muka merah bermata besar, bertaring tajam, berambut panjang dan gimbal.

Bramuda menambahkan, bahwa 30 grup bisa bertamabah sampai nanti hari Pelaksananan. Seni Tari Jaranan Butho 2017 akan dipentaskan mulai pukul 10.00 hingga pukul 17.00 WIB.

Satu grup biasanya terdiri 6-8 orang penari dengan 8-12 orang penabuh musik. Mereka nantinya akan menari dengan menggunakan replika Kuda Kepang yang terbuat dari kulit lembu yang dipahatkan karakter raksasa.

Tari Jaranan Buto dalam pementasannya diiringi alunan musik seperti kendang, dua bonang, dua gong besar, kempul terompet, kecer (seperti penutup cangkir) yang terbuat dari bahan tembaga dan seperangkat gamelan.

Seni tari Jaranan buto dalam perkembangannya memiliki inovasi yang diantaranya adalah variasi musik pengiringnya dan tata rias penarinya, kostum yang dikenakan oleh penarinya mengalami inovasi begitu pesat setiap tahun. “Klimaksnya para penari yang mentas bisa sampai kesurupan dan asik untuk ditonton,” katanya.

Bramuda menambahkan unsur magis kesurupan memang kerap malah menjadi atraksi yang ditunggu-tunggu pengunjung. Saat kesurupan penari tersebut tidak sadar dan akan mengejar orang yang menggodanya dengan siulan.

Bahkan saking agresif dan kegilaanya penari yang sudah dalam keadaan tak sadarkan diri tersebut mampu memakan kaca, api, ayam hidup dengan mengigit kepalanya hingga ayam tersebut mati.

“Tidak hanya para penari saja yang bisa kesurupan, bahkan para penonton yang berada di sekitar lokasi tak jarang terkena juga. Jadi sangat unik,” katanya berpromosi.

Tetapi jangan panik! dalam kesenian masyarakat paling timur ujung Jawa ini, telah dikendalikan pawang yang bertanggung jawab untuk menyadarkan kembali para penari atau penonton yang ikut kesurupan.

“Filosofi yang terkandung merupakan perwujudan upaya manusia untuk menjadikan hawa nafsu angkara murka buto di wujudkan gambaran kesatria yang menaiki sosok buto,” tambahnya.

Kesenian ini memiliki beberapa kisah (cerita) dan gerakan tari yang berbeda-beda, sehingga hal ini menjadi sebuah pementasan yang unik. Keunikan seni ini meliputi inti cerita, (sinopsis cerita) kostum penari, dan iringan gamelan yang berbeda dengan kesenian jaranan secara umum.

Kesenian Jaranan Buto sendiri adalah akulturasi kesenian jaranan Sendrewi, Pegon dengan budaya lokal Banyuwangi.

Istilah Jaranan Buto mengadopsi nama tokoh legendaris Minakjinggo, berdasarkan anggapan bahwa Minakjinggo adalah seorang yang berkepala raksasa, yang dalam bahasa Jawa disebut buto.

Sedangkan pemakaian replika kuda dalam kesenian ini ada filosofinya bahwa kuda menggambarkan semangat perjuangan, sikap ksatria dan unsur kerja keras tanpa kenal lelah didalam setiap kondisi.

Menurut literatur, sejarah kesenian Tari Jaranan Buto dimulai dari Dusun Cemetuk, yakni sebuah dusun kecil sebagai bagian dari wilayah administratif Desa Cluring dalam lingkup Kabupaten Banyuwangi.

Letak Dusun Cemetuk yang berbatasan dengan wilayah kecamatan Gambiran menjadikan masyarakatnya mendapatkan pengaruh kebudayaan masyarakat Jawa Mataraman dari wilayah Gambiran. Masyarakat Gambiran sendiri sebagian besar masih memiliki garis keturunan trah Mataram.

Dari pengaruh-pengaruh tersebut kelahiran kesenian Jaranan Butho dikatakan sebagai bentuk Akulturasi Budaya yang sangat unik, yakni merupakan perpaduan Kebudayaan Osing (Suku asli Banyuwangi) dengan kebudayaan Jawa Mataraman.

Beberapa tokoh yang menjadi pencetus kesenian Jaranan Buto adalah Darni Wiyono (76), warga Dusun Cemetuk, Kecamatna Cluring, Setro Asnawi dan Usik asal Dusun Tanjungrejo, Kecamatan Bangorejo.

Di Banyuwangi kesenian Jaranan Buto sangat populer. Ini bisa dibuktikan dengan adanya paguyuban Jaranan Buto di hampir semua Kecamatan di Banyuwangi. Setidaknya terdapat 150 kelompok Jaranan Buto yang terdaftar, namun yang aktif sekitar 126 kelompok.

Hal ini terjadi karena ada penari yang bergabung dengan dua paguyuban yang berbeda. Dan dalam setiap penampilan Jaranan Buto, bisa dipastikan selalu mengundang banyak penonton. (sak)

Menguak Nilai Luhur Sendang Duwur

foto
Komplek masjid dan makam Sendang Duwur di Kabupaten Lamongan. Foto: Kekunaan.blogspot.co.id.

Jauh sebelum jatuh ke tangan VOC Belanda, pesisir utara Pulau Jawa merupakan salah satu gerbang masuk dan berkembangnya Islam. Berbagai peninggalan dan jejak sejarahnya begitu mudah dijumpai. Tak heran bila hampir di sepanjang pesisir utara banyak ditemukan petilasan hingga makam para wali.

Salah satu jejak perjumpaan Islam dengan warga pesisir, bisa ditelisik dari tinggalan Sunan Sendang Duwur di bukit Amintuno, Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Nama asli Sunan Sendang Duwur ialah Raden Noer Rahmad, diyakini sebagai putera dari Abdul Qohar dan masih murid dari Sunan Drajad.

Semasa hidupnya, Sunan Sendang Duwur menyebarkan Islam ke warga pesisir Lamongan. Sebagaimana kisah yang kerap diwariskan secara lisan oleh warga lokal pada umumnya, kisah tentang Sunan Sendang Duwur juga berbau mitologi.

Masjid yang terletak satu wilayah dengan pusara Sunan Sendang Duwur ini menyimpan mitos dari kisah lokal tersebut. Masjid yang berdiri di bukit Amintuno, dahulu diboyong dari Mantingan dalam waktu semalam. Tentu sesuatu yang sulit diterima nalar. Namun menjadi lumrah bagi mereka yang diberikan kelebihan.

“Ratu Kalinyamat berkata apabila masjid ini bisa dipindahkan dalam waktu satu malam dari Mantingan ke bukit Amintuno, maka Sunan Sendang diperbolehkan untuk membawanya,” tutur Rohman, warga Sendang Duwur seperti dikutip Harian Surya.

Letak masjid di atas bukit, juga bukan tanpa alasan. Ada nilai yang tersemat, bahwa letak tertinggi merupakan simbol penghormatan.

Di masjid ini terdapat sumber mata air yang tentu saja bermanfaat bagi warga sekitar kala itu. Pada salah satu sisi masjid, ada lantai yang bisa dibuka dan akan nampak ujung batu yang merupakan puncak dari bukit.

Setidaknya dari sini bisa dipelajari, bagaimana cara manusia zaman dahulu mendirikan bangunan di atas bukit berbatu cadas. Tentu teknologi yang luar biasa pada masanya.

Bentuk bangunan di area pusara Sunan Sendang Duwur juga sangat artistik. Terdapat perpaduan budaya Hindu pada gapura yang dihiasi beragam ukiran beserta ornamen hias yang bernilai luhur.

Temuan-temuan tersebut memberi gambaran mengenai konsep yang dikembangkan manusia dalam mendirikan bangunan. Ada nilai artistik dan nilai luhur yang disematkan.

“Sudah sewajarnya, rumah maupun bangunan lain tak hanya menjadi tempat tinggal bagi manusia, namun juga menjadi identitas yang mampu memberikan gambaran pada siapapun tentang siapa yang berdiam serta tinggal di dalamnya,” pungkas Rohman. (ist)

Pesan Moral di Relief Cantik Candi Surowono

foto
Candi Surowono di Pare Kabupaten Kediri. Foto: Soloraya.com.

Manusia mewariskan pesan kepada generasi penerusnya lewat beragam cara. Pesan tersebut kemudian menjelma dalam beragam bentuk. Salah satunya relief yang terpahat di dinding candi maupun bangunan peninggalan sejarah.

Candi Surowono merupakan sebuah candi Hindu dari jaman Kerajaan Majapahit, berukuran kecil namun dengan relief cantik, yang berada di Desa Canggu, Kecamatan Pare, 28 kilometer dari Kota Kediri atau 105 km dari Surabaya. Candi Surowono diperkirakan dibangun pada tahun 1390 M sebagai tempat pendharmaan bagi Wijayarajasa, Bhre Wengker.

Candi Surowono, yang nama aslinya adalah Wishnubhawanapura, keadaan sepenuhnya belum utuh. Banyak sekali batuan candi yang diletakkan di daerah terbuka pada pelataran candi yang luas, menunggu untuk disusun kembali menjadi sebuah candi yang utuh dan indah.

Papan nama Candi Surowono, dengan latar belakang Candi Surowono dan balok-balok beton memanjang tempat diletakkannya bebatuan candi yang belum tersusun pada tempatnya semula.

Balok-balok beton dan taman yang cukup asri menunjukkan bahwa telah ada perhatian yang cukup memadai dari instansi terkait terhadap Candi Surowono yang sudah berusia lebih dari 600 tahun ini.

Sebuah arca sebatas dada bertangan empat yang diletakkan terpisah dari Candi Surowono dengan wajah yang sudah agak rusak.

Arca batu lainnya tanpa bagian bawah dan bagian atas rusak, yang tampak seperti seorang pendeta berjanggut bertubuh bungkuk dengan hiasan di telinga dan lehernya, sementara posisi tangannya tampak menyangga ke atas.

Arca batu lainnya yang tanpa bagian bawah juga, namun dengan posisi badan yang lebih tegak, hiasan telinga yang lebih pendek dan wajah yang masih lebih utuh, dengan posisi tangan yang juga menyangga ke atas.

Bagian bawah Candi Surowono dilihat dari samping depan, dengan bentuk dasar candi yang cukup utuh terutama di bagian sampingnya. Bagian depan Candi Surowono tampak masih memerlukan perbaikan dan penyempurnaan. Sedangkan bagian atas Candi Surowono ini sudah lenyap tak berbekas, entah dikarenakan apa.

Candi Surowono diperkirakan dibangun pada 1390, namun baru selesai pada 1400 saat candi ini digunakan. Candi Surowono dibuat sebagai tempat pensucian atau pendharmaan bagi Wijayarajasa, Bhre Wengker, yang merupakan paman dari Rajasanagara, Raja Majapahit. Bhre Wengker meninggal pada 1388.

Upacara sraddha bagi Bhre Wengker, yang merupakan sebuah upacara ritual yang dilakukan 12 tahun setelah kematiannya, diselenggarakan pada 1400, tahun yang kemudian diduga sebagai tahun perkiraan selesainya bangunan Candi Surowono ini.

Pada Candi Surowono terdapat beberapa relief yang dikerjakan dengan halus. Pada kaki Candi Surowono terdapat relief-relief fabel dan juga tantri, sedangkan pada badan Candi Surowono terdapat relief Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa yang digubahnya pada 1035.

Bubuksah dan Gagang Aking
Relief yang terpahat pada batu andesit masih terlihat cukup jelas, tak ubahnya pesan moral yang dibalut dalam kisah.

Terdapat kisah Sri Tanjung dan Sidapaksa, Bubuksah dan Gagang Aking, serta kisah lain. Pada relief Sri Tanjung dan Sidapaksa, ada pesan tersirat tentang bhakti dan kesetiaan. Kisah yang dipercaya telah berkembang semenjak masa Majapahit, kemudian lebih erat dengan cerita rakyat di Banyuwangi.

Kisah dua pertapa Bubuksah dan Gagang Aking tak kalah menarik. Keduanya mendapat ujian dari Dewa dengan turun ke bumi menjalani ujian kehidupan dan pencarian spiritual.

Bubuksah mencoba mensyukuri setiap nikmat yang ada dengan tetap makan dan minum sehingga badannya menjadi gemuk dan berisi.

Sementara Gagang Aking menempuh jalan berbeda. Ia mejalani laku hidup prihatin dan memilih untuk tak mengumbar hawa nafsu. Tubuh Gagang Aking menjadi kurus.

Tiba waktunya menguji pencapaian keduanya selama melaksanakan tapa, seekor harimau yang merupakan jelmaan Kalawijaya diutus untuk menguji keduanya.

Harimau mendatangi Gagang Aking dan bermaksud memakannya. Namun ditolak secara halus oleh Gagang Aking. Tak ada daging yang bisa dimakan dari tubuh yang kurus kering, kata Gagang Aking.

Penjelmaan Kalawijaya pun pergi menuju Bubuksah dan mengutarakan maksud yang sama. Bubuksah justru dengan sukarela menyerahkan tubuhnya untuk menjadi santapan harimau.

Mendengar jawaban Bubuksah, Kalawijaya kembali pada wujud aslinya. Kalawijaya mengatakan bila Bubuksah lulus dari ujian dan pertapaan serta diperkenankan kembali ke Nirwana.

Namun, Bubuksah menolak, karena tak mungkin meninggalkan Gagang Aking sendirian. Singkat cerita, kedua pertapa ini kembali ke Nirwana, Bubuksah naik di atas punggung Kalawijaya dan Gagang Aking diperkenankan untuk berpegangan pada ekornya.

Secara bijak, nenek moyang kita telah mewariskan nilai luhur dari kisah yang terpahat pada dinding candi. Tentang kesetiaan, tentang bhakti, juga keikhlasan. Hidup adalah bagaimana kita menjaga kesetiaan pada hal yang benar dan ikhlas merupakan kunci utama dalam menjalani setiap ujian dalam kehidupan. (ist)

Angklung Caruk, Upaya Pelestarian Budaya

foto
Ajang Festival Angklung Caruk Pelajar bagian upaya pelestarian budaya. Foto: Humas Pemkab Banyuwangi.

Ajang Festival Angklung Caruk Pelajar 2017, yang digelar di Gesibu Blambangan Banyuwangi beberapa waktu lalu, mampu menghibur ribuan pecinta kesenian angklung dari berbagai daerah di Banyuwangi.

Tak hanya itu, ajang ini sebagai nostalgia bagi masyarakat. Karena sudah 25 tahun lebih kegiatan perlombaan seperti ini tak ada di Banyuwangi.

Angklung caruk adalah kesenian khas Banyuwangi yang mempertemukan dua kelompok angklung untuk diuji kelihaiannya bermain angklung. Yang unik dari gelaran ini adalah permainan caruknya.

Dua kelompok angklung saling tebak lagu layaknya berpacu dalam melodi versi angklung. Yang tak bisa menebak lagu, dianggap kalah.

Tak pelak suasana Gesibu yang biasanya sepi langsung riuh membahana. Anak-anak yang tampil pun tak sekedar piawai bermain angklung, tetapi juga menjaga penampilan dan kekompakan arasement lagunya. Karena ini yang menjadi salah satu point penilaian dalam festival ini.

“Saya orang yang paling bahagia saat ini. Karena 25 tahun lalu saya ikut ajang seperti ini. Saya dulu penabuh angklung. Seperti nostalgia saja malam ini. Dulu main sekarang saya jadi pembina mereka,” ujar Jayadi (56) pembina salah satu grup Angklung Banyuwangi, seperti dikutip Detikcom.

Hal yang sama diungkapkan oleh dr Taufik Hidayat. Kesenian Angklung Caruk ini tenar tahun medio 80 anda. Ajang itu merupakan perlombaan kesenian antar grup kesenian Angklung Banyuwangi yang digelar setiap tahun. Disana nanti akan terlihat siapakah yang piawai dalam bermain angklung.

Tak jarang karena permainan ini juga dibalut emosi, dua grup angklung yang sedang bermain bisa bentrok. “Disini kita melakukan pembinaan. Kalau dulu sering bentrok tapi saat ini kita buang saja. Bentrok kita ganti persaudaraan,” ujarnya.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, festival ini untuk kali pertama digelar dalam balutan Banyuwangi Festival 2017.

“Bagi kami seni dan budaya adalah bagian dari kekayaan potensi Banyuwangi yang terus dikembangkan agar tidak hilang. Festival angklung caruk ini, merupakan salah satu cara kami dalam melestarikan budaya tradisional Banyuwangi,” ujarnya.

Ditambahkan Anas, melestarikan budaya dibutuhkan kaderisasi. “Digelarnya festival angklung caruk pelajar ini, supaya generasi muda kita lebih tertarik dan greget untuk mempelajarinya,” kata Anas.

Festival angklung caruk ini, diikuti oleh 16 grup, yang terdiri atas grup pelajar tingkat SD dan SMP. Dari 16 grup yang mengikuti festival ini hanya akan diambil lima penyaji terbaik. Sementara untuk hadiah, para penyakit terbaik tersebut mendapatkan seperangkat alat angklung dengan total Rp 20 juta.

“Kita lakukan pembinaan kepada anak-anak ini dengan alat musik. Dan kita harap ditahan kedepan mereka bisa tampil lebih baik lagi,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, MY Bramuda. (ist)

Pemerintah Bakal Sertifikasi Pekerja Seni

foto
Gagasan membentuk lembaga sertifikasi profesi seni disampaikan Menristekdikti M Nasir. Foto: Jawapos.

Dunia seni memiliki potensi besar sebagai penggerak perekonomian. Pemerintah sedang menggagas pembentukan sebuah lembaga yang bertugas melakukan sertifikasi profesi seni. Selain sebagai acuan keterampilan, lembaga tersebut menjadi patokan standar bayaran.

Gagasan membentuk lembaga sertifikasi profesi seni itu disampaikan Menristekdikti M Nasir seusai kuliah umum di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Sumatera Barat, beberapa waktu lalu.

”Sebagai lulusan yang memiliki keterampilan, saat lulus tidak sekadar mendapatkan lembar ijazah, tetapi juga sertifikat profesi,” katanya seperti dikutip Jawapos.com.

Nasir berharap setiap lulusan ISI memiliki keahlian tertentu yang menonjol. Dia mencontohkan, di ISI Surakarta yang menonjol adalah bidang karawitan dan perdalangan.

Dengan demikian, kampus ISI tertentu nanti bisa sekaligus menjadi lembaga sertifikasi profesi seni tertentu. Nasir menuturkan, sudah waktunya pekerja seni disertifikasi layaknya pekerja sektor pariwisata.

Dengan bekal sertifikasi, pelaku seni bisa memiliki daya tawar kepada user atau pengguna. Menurut Nasir, target pemerintah mendatangkan 20 juta wisatawan asing merupakan potensi besar bagi pelaku seni.

Asalkan pelaku seni benar-benar menjiwai dalam berkesenian. ”Seperti di Bali, sehari-hari masyarakatnya sudah lekat dengan kesenian,” ucapnya.

Rencana membuka lembaga sertifikasi profesi seni itu disambut baik Rektor Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Een Herdiani. Dengan sertifikasi tersebut, terang dia, bisa diklasifikasikan seniman yang mahir sampai maestro.

”Berpengaruh juga pada income atau bayaran yang diterima. Tentu beda antara seniman pemula dan yang sangat mahir,” jelasnya.

Seni memang abstrak. Namun, dengan indikator-indikator, sertifikasi pekerja seni juga bisa dilakukan. Caranya ialah membuat indikator-indikator kompetensi. Tentu yang menyusun adalah komunitas kesenian masing-masing.

”Sekarang yang segera terbentuk itu organisasi profesi seni fotografi,” katanya. Een berharap profesi kesenian lain seperti tari dan lukis segera menyusul. (ist/JPG)

Tradisi Kopi Cethe dan Nyethe di Tulungagung

foto
Kopi cethe di Tulungagung ibarat membatik di rokok. Foto: ist.

Di Tulungagung, yang namanya ngopi dan nyethe adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Nyethe adalah mengoleskan endapan kopi ke rokok. Kopi untuk nyethe disebut dengan kopi cethe. Di Tulungagung, warung yang menawarkan menu kopi cethe ini banyak sekali, sehingga Tulungagung juga terkenal dengan kota warung kopi cethe.

Sejarah nyethe bermula saat para petani selesai bekerja dari sawah, kebiasaan mereka mampir di warung untuk ngopi dan bertemu dengan sesama petani lain untuk sekedar ngobrol maupun mendiskusikan hal-hal seputar pertanian mereka.

Sambil ngopi dan mengobrol, sesekali rokok yang dihisap diolesi endapan kopi yang ada di cawan. Endapan kopi yang dicethekan ke rokok dan terbakar menimbulkan sensasi tersendiri. Hal ini menambah nikmatnya ngopi sambil ngobrol di warung kopi.

Kopi untuk nyethe memakai bubuk kopi yang halus. Untuk merekatkan ke rokok, ditambah sedikit susu cair. Motifnya macam–macam, mulai sulur, tulisan, tribal bahkan tokoh pewayangan juga bisa dicethe di rokok. Sehingga nyethe bisa juga disebut batik rokok.

Tradisi unik ngopi cethe dan nyethe itu juga ditangkap Omah Kopi, di Dusun Surenpaten, Desa Balerejo, Tulungagung. Pemiliknya Sutrimo dan istrinya menginisiasi untuk membudidayakan kopi Gunung Wilis. Langkah ini kemudian diikuti beberapa petani tetangga mereka.

Produk kopi Gunung Wilis jenis arabica mereka itu kemudian diolah pengusaha Kurnia Ika Kusuma dengan mendirikan Pabrik Kopi Lintang. Sekaligus mendirikan Omah Kopi untuk pemasarannya. Upaya mengendalikan hulu hingga hilir oleh komunitas ini menghadapi kendala karena meski sudah didampangi konsultan dari BI Kediri Mas’ud Asjari.

“Produktifitas kopi para petani rendah, padahal harga dan permintaan selalu naik. Sayang banget kan?” kata anggota DPR RI Eva Sundari, saat menikmati kopi di Omah Kopi, Jumat (3/3). Anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan itu memang dikenal sebagai penikmat kopi. Apalagi undangan ngopi itu berbarengan dengan masa reses di bulan Maret 2017.

Selain ingin mendapat pendampingan, komunitas yang digagas Sutrimo juga ingin mengajak petani-petani di lima kabupaten lainnya di lereng Gunung Wilis, yaitu Kediri, Nganjuk, Blitar, Madiun, Trengalek untuk bergabung dalam bisnis kopi ini. “Peluang kopi amat menjanjikan, ada prediksi internasional yang menyatakan akan ada kelangkaan kopi dunia tahun 2025,” ujar Eva Sundari menyambut baik,

Kopi Gunung Wilis memiliki banyak faktor unggulan untuk branding. Misal ada tata cara khas minum kopi ini yaitu Kopi Gigit, dimana gula kelapa digigit sebelum menyeruput kopi.

Keistimewaan yang lain kopi Gunung Wlis ini sudah barang tentu adalah, endapan kopinya yang bisa untuk nyethe. Kuasnya bisa silet, benang atau batang korek korek api yang dilancipkan setelah dibakar. Selain batang rokok, seni lukis cethe juga bisa dipakai untuk melukis botol maupun di atas kain kanvas biasa.

Menutup diskusi dengan komunitas kopi tersebut, Eva Sundari menyarankan untuk membentuk organisasi untuk memperjuangkan aspirasi mereka yaitu koperasi. “Selain koperasi adalah amanat konstitusi, koperasi juga terbukti bisa ekspansi di luar negeri seperti Anlene, Carefur, atau Bank ABN AMRO dll,” pungka anggota Komisi XI dari Dapil Jatim 6 ini. (sak)

Bondowoso Surga Megalitikum di Jawa

foto
Peradaban Megalitikum sebelum peradaban kekinian di Kabupaten Bondowoso. Foto: Memotimur.co.id.

Tak banyak literatur sejarah dalam dunia antropologi yang mencatat tentang kehidupan zaman prasejarah di Bondowoso. Padahal Kabupaten Bondowoso memiliki ribuan situs arkeologi. Situs-situs arkelogi yang lokasinya menyebar itu berupa batu besar peninggalan zaman megalitikum. Ini menjadi daya tarik pariwisata di Kota Tape.

Untuk tujuan wisata sejarah dan purbakala di Bondowoso sangat bagus karena dari dulu sudah terkenal dengan budaya megalitiknya. Kalau situs-situs yang paling khas adalah Batu Kenong di Kecamatan Grujugan.

Selain Batu Kenong, situs-situs megalitikum di Bondowoso cukup beraneka ragam. Benda-benda peninggalan zaman batu besar tersebut seperti sarkofagus, kubur bilik, menhir, dolmen, dan batu dakon.

Tidak salah jika anggota DPR RI Eva Kusuma Sundari mengagumi potensi wisata pra-sejarah di Bondowoso tersebut. Bahkan anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan itu meminta agar Pemkab Bondowoso segara mengusulan agar situs-situs tersebut dimasukkan dalam kawasan cagar budaya.

Jumlah situs-situs megalitikum di Kabupaten Bondowoso pun berjumlah ribuan. Data terakhir ada 1.123 buah. Beberapa situs ada yang terkumpul pada satu tempat. Ada juga yang terpisah jauh. Wisatawan yang mengunjungi situs-situs megalitikum tersebut beragam. Mulai anak sekolah hingga peneliti.

Sayangnya banyak tangan tak bertanggung jawab yang melakukan aksi vandalis sehingga kondisi di beberapa situs cukup memprihatinkan. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan merawat benda penting ini untuk anak cucu nantinya. Beberapa lokasi benda pra-sejarah yang ada di Bondowoso:

Situs Pekauman
Situs Pekauman berada di Desa Grujugan Kecamatan Grujugan. Banyak temuan-temuan barang peninggalan pra-sejarah yang masih terjaga utuh, seperti kubur batu, pondasi rumah batu, batu kenong, sarkofagus dan yang paling terkenal adalah menhir yang biasa masyarakat menyebutnya dengan Beto Nyai.

Situs Beto Labeng
Situs ini berada di Desa Wringin Kecamatan Wringin di jalur Arak-Arak. Sebuah jalur pegunungan yang menghubungkan Kota Bondowoso dan Besuki. Peninggalan kebudayaan megalitikum yang sampai sekarang masih menjulang kokoh di Desa Wringin. Disebut batu labeng (batu pintu) sebab sepintas mirip pintu berukuran raksasa. Untuk mengunjunginya, tururn di jalur Arak-Arak di Desa Wringin, dilanjutkan berjalan kaki sekitar 500 meter dari pinggir jalan raya.

Situs Goa Arak-Arak
Lokasinya dekat Situs Beto labeng. Sama-sama berada di wilayah Desa Wringin. Goa Arak-arak ini menurut penuturan warga dahulunya adalah tempat persembunyan para prajurit. Goa ini tak begitu dalam, hanya cekungan terbentuk oleh alam sehingga menyerupai mulut goa.

Situs Goa Buto
Situs ini berada di Dusun Ampel, Desa Bajuran, Kecamatan Cermee. Goa Buto hampir mirip dengan makhluk mitologi yaitu Bhutokala. Masih ada relief yang tersisa, sayang situs ini terancam rusak oleh penjarahan kolektor benda purbakala.

Situs Batu So’on
Terletak di Desa Solor, Kecamatan Cermee. Mirip situs Stonehenge di Inggris. Kadang juga disebut Batu Solor.
Banyak peninggalan bersejarah seperti menhir dan pahatan di dinding-dinding batunya. Ada satu yang unik disana yaitu batu jabrik atau batu so’onan ( batu yang bersusun), ada juga batu lingga.

Situs Goa Si Gember

Terletak di Dusun Sumber Canting, Desa Sukorejo, Kecamatan Sumber Wringin. Sama dengan Situs Goa Buto di Cermee, Situs Goa Buto Sumber Canting atau biasa masyarakat menyebutnya dengan Goa Si Gember (diambil dari kata gambar) karena di goa ini banyak terdapat relief yang terpahat di tebing cadas dan juga di bongkahan batu. (sak)

Bersama Menjaga Agar Ludruk Tidak Mati

foto
Ngobrol gayeng Kusnadi SH MHum bersama para seniman Ludruk. Foto: Ist.

Ludruk adalah kesenian asli Jawa Timur yang harus diselamatkan. Generasi sekarang mungkin melihat Ludruk hanya sebagai tontonan belaka, namun sejarah panjangnya di masa silam menunjukkan bahwa Ludruk juga menjadi alat perjuangan bangsa.

Melalui pelestarian kesenian tradisional maka diharapkan generasi muda dapat mengenal jati dirinya sebagai bangsa Indonesia dan bangga akan kebesaran sejarah masa lalunya, sehingga dapat menumbuhkembangkan nasionalisme bagi kalangan muda saat ini.

Upaya pelestarian Ludruk itulah yang tengah dilakukan Kusnadi SH MHum, Wakil Ketua DPRD Jawa Timur yang Selasa (28/2) lalu mengunjungi ‘markas’ seniman Ludruk, di Gedung Kesenian THR Surabaya. Sambil duduk lesehan diatas panggung mereka terlihat ngobrol gayeng.

Kusnadi yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur itu berbincang dengan beberapa seniman ludruk, salah satunya Cak Lupus, pimpinan Ludruk Arboyo (Arek Suroboyo).

Selain Cak Lupus, para seniman yang ikut hadir dalam diskusi tersebut antara lain Agung pimpinan Ludruk, Indra penulis naskah Ludruk, Farid dan Obenk seniman teater, serta Ony setiawan dari Dept Konservasi Budaya Dewan Kesenian Jatim (DKJT).

Kusnadi mendengarkan penjelasan dari para seniman Ludruk tentang permasalahan Ludruk di Jawa Timur dan khususnya Surabaya. Berawal dari kalahnya persaingan hiburan tradisional dengan hiburan modern lainnya membuat satu persatu kelompok Ludruk gulung tikar.

Problem Ludruk saat ini menurut Cak Lupus, antara lain tempat pertunjukan yang kumuh, dan berada di belakang Hitech Mal, membuat orang enggan datang dan bahkan tidak tahu ada tempat pagelaran Ludruk.

Juga peralatan yang minim dan tua, serta gedung yang ala kadarnya membuat seni pertunjukan Ludruk semakin jauh dari sisi layak tonton.

Namun yang membanggakan, pada malamn tersebut masih ada siswa-siswi dari SMP Negeri 45 Surabaya yang masih mencintai kesenian tradisional ini.

Mereka berlatih di gedung kesenian Irama Budaya, dan dipandu oleh Eko sang pelatih, hingga pukul 21.00 malam.

Kusnadi mendengarkan semua keluh kesah dan berjanji akan meminta kepada Gubernur Jatim agar bisa membantu mereka seperangkat alat gamelan yang layak.

Kusnadi juga menyampaikan bahwa PDI Perjuangan akan berupaya membantu agar kesenian Ludruk dikenal kembali oleh rakyat Jatim. Misalnya melalui Festival Ludruk yang rencananya akan diselenggarakan pada bulan Juni 2017, bertepatan dengan Bulan Bung Karno.

Meski kesenian khas Jawa Timur ini sudah mulai ditinggalkan, tapi para pelaku seninya tak pernah lelah untuk terus berkarya. Bagi mereka pementasan adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk terus melestarikan kesenian Ludruk sambil terus mencari tempat di hati masyarakat modern. (sak)