Brantas Merajut Kehidupan Masa Lalu hingga Kini

foto
Situs Ganesha di Desa Karangkates, Sumberpucung, Malang lebih tertata. Foto: Travel.kompas.com.

BRANTAS, sungai terpanjang di Jawa Timur yang melintasi paling tidak 12 kabupaten/kota, memiliki peran vital sejak dahulu kala. Kehidupan masyarakat sejak zaman kerajaan, seperti Singasari, Kadiri, dan Majapahit, pernah menghiasi alur sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa itu.

Sepekan lebih kawasan persawahan di Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu tidak diguyur hujan. Selain puluhan petani yang sibuk menyambut datangnya kemarau dengan menanam bawang prei, sebuah bangunan mungil di tengah hamparan terasering di lembah Sungai Brantas juga menarik perhatian.

Bangunan gazebo permanen yang terbuat dari semen berukuran sekitar 1,5 meter x 1,5 meter dengan tinggi lebih dari 3 meter itu menaungi sebuah arca Ganesha yang menghadap ke Sungai Brantas, berjarak sekitar 700 meter dari arca itu.

Rumah arca di lereng Gunung Wukir itu dibangun Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu untuk menggantikan rumah arca dari bambu yang rusak dibakar orang tak dikenal.

”Sudah sekitar dua tahun ini bangunan itu berdiri. Tadinya hanya rumah biasa, dari bambu, seperti gubuk lain yang ada di tengah sawah,” ujar Da’i (60-an), warga yang lahannya hanya berjarak sekitar 200 meter dari lokasi arca, seperti dikutip Travel.Kompas.com.

Da’i tidak tahu pasti sejarah bagaimana asal mula arca tersebut berdiri. Ia hanya tahu bahwa situs tersebut merupakan peninggalan zaman dahulu.

Bahkan, tidak semua anggota keluarganya pernah mendekati arca yang terbuat dari batu andesit tersebut. Pada waktu-waktu tertentu, tempat itu kerap didatangi orang dari luar daerah yang ingin melakukan ritual.

Bergeser 2 kilometer ke arah timur, masih di tepian Sungai Brantas, tepatnya di pinggiran Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, terdapat situs lain yang biasa disebut warga sebagai Punden Kajang.

Tidak tampak adanya arca atau bangunan besar di lokasi ini. Hanya ada sejumlah potongan batu andesit mirip bagian candi yang disusun sejajar di bawah pohon tua. Sebuah papan bertuliskan benda cagar budaya berdiri di dekat bangunan semipermanen dari kayu.

Warga umumnya mengaku tidak tahu pasti bagaimana sejarah Punden Kajang. ”Kalau orang-orang dulu mungkin tahu. Orang sekarang, ya, tahunya di situ ada punden,” ujar Mardi (53), warga.

Berbeda dengan situs Ganesha dan Punden Kajang di Kota Batu, kondisi situs Ganesha di Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, itu terlihat lebih tertata.

Siang itu, situs yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Torongrejo itu dikunjungi empat wisatawan domestik. Seorang warga tengah membersihkan dedaunan kering yang mengotori area arca.

Meski sama-sama menghadap ke utara dan ada di tepi Brantas, arca Ganesha di Karangkates itu lebih besar. Ia dikelilingi tembok dari batu dan dilengkapi empat cungkup mirip gazebo di sisi kanan dan kiri serta belasan anak tangga di luar pintu gerbang.

Misiah (60-an), warga, menuturkan, sebelum proyek Waduk Ir Sutami (Bendungan Karangkates) dibangun pada 1975-1977, arca itu sudah ada. Tempatnya persis di belakang rumah Misiah yang berdekatan dengan makam Tiongkok. ”Ia (arca Ganesha) ramai didatangi orang saat hari Minggu atau hari-hari tertentu,” ucapnya.

Ketiga situs di atas hanyalah sebagian kecil peninggalan purbakala yang banyak terdapat di sepanjang DAS Brantas. Situs-situs lainnya tersebar, baik di wilayah Malang Raya maupun kabupaten lain.

Benang air
Arkeolog dari Universitas Negeri Malang, M Dwi Cahyono, mengatakan, Brantas merupakan benang air yang merajut belasan subarea wilayah tengah Jawa Timur, mulai dari hulu di Kota Batu hingga hilir di Surabaya dan Sidoarjo.

Situs-situs masa lalu ada di semua sub-DAS meski kerapatannya berbeda. Jumlahnya cukup banyak dan temuan paling padat ada di antara Blitar hingga di sisi utara Mojokerto.

”Mengapa banyak temuan? karena sub-DAS dari Blitar sampai Mojokerto menjadi pusat pemerintahan masa lalu, mulai dari Mataram Dinasti Isyana-Sindok, Kediri, hingga Majapahit. Dan, kerajaan-kerajaan itu ada di sub-DAS Brantas, termasuk Singasari yang tidak jauh dari hulu sungai,” ucap Dwi yang belum lama ini menemukan struktur bangunan kuno di tengah Sungai Brantas di wilayah Kabupaten Tulungagung.

Peninggalan masa lalu yang terdapat di DAS Brantas tidak serta-merta merupakan hasil karya pendahulu saat zaman kerajaan berdiri.

Ada beberapa temuan yang merupakan peninggalan tahun-tahun sebelumnya atau prasejarah. Homo Mojokertensis, misalnya, fosilnya yang ditemukan di Perning tahun 1936 juga berada di DAS Brantas.

Jejak peradaban kuno yang tertinggal di DAS Brantas tidak hanya peninggalan masa Hindu-Budha, tetapi juga Islam. Banyak peninggalan masa Islam, seperti masjid dan makam, di DAS sepanjang 320 kilometer itu.

Contohnya Situs Setono Gedong di Kediri yang dibangun pada abad ke-15 dan makam Islam abad ke-16 di Gondanglor, Tulungagung.

Contoh lain peninggalan masa lalu yang masih dipakai adalah tempat penyeberangan (tambangan) di sungai yang menggunakan bantuan perahu yang ditarik menggunakan tali.

Dwi dalam Prasasti Canggu pada masa Hayamwuruk (Majapahit) menyebutkan sejumlah desa perdikan atau sima. Di desa-desa itu terdapat tempat tambangan. Di sejumlah tempat di Jawa Timur, aktivitas tambangan ini masih berlangsung.

”Jadi, banyak sekali temuan lintas abad di DAS Brantas. Konsep sungai saat itu tidak hanya menjadi media untuk transportasi, tetapi juga penyebaran aktivitas sosial dan budaya masyarakat. Karena itu, ibu kota kerajaan dulu tidak jauh-jauh dari sungai atau anak sungai,” katanya.

Kabupaten Malang sebagai salah satu daerah yang kaya akan peninggalan masa lalu pun tidak tinggal diam. Upaya menjaga agar peninggalan tetap lestari terus dilakukan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang Made Arya Wedanthara mengatakan, Malang memiliki beberapa candi, salah satunya Candi Kidal yang memiliki relief garuda (Garudayedha) paling lengkap dari candi-candi yang ada.

Pihaknya pun berharap, peninggalan masa lalu ini tidak hanya lestari, tetapi juga menjadi daya tarik bagi wisatawan. ”Ada yang mengatakan bahwa sejarah Indonesia ada di Candi Kidal. Ada kawan-kawan, termasuk dari Bali, yang tertarik dan ingin mendatangkan banyak wisatawan ke tempat itu. Bagaimanapun, pariwisata tidak bisa lepas dari budaya dan kita berusaha ke sana,” ucapnya. (ist)

Belajar Sejarah Lewat Nada dan Lirik Lagu

foto
Personel Devaraj Band belajar memahami sejarah lewat lagu. Foto: Jawapos.com.

BELAJAR sejarah tidak sekadar melalui buku. Memahaminya dari lirik-lirik lagu ternyata juga menyenangkan. Cara itu pula yang dikembangkan Devaraj Band. Mereka mengajak masyarakat belajar sejarah dengan berlagu.

Alunan nada gamelan Bali mengawali latihan Devaraj Band di studio musik Backbeat di Ruko Sakura Regency, Jalan Ketintang Baru, Kamis (9/2) lalu. Sebentar kemudian, nada bas terdengar. Disusul suara gebukan drum dan melodi gitar. Paduan beragam alat musik tersebut cukup khas.

Di antara alunan nada pembuka, lamat-lamat liriknya mulai terdengar. ”Om Name Siwaya, Om Namo Siwaya.” Suara samar itu lantas berubah menjadi nada tinggi ketika sang vokalis 2, Akbar Satria Putra, bernyanyi. ”Di malam yang sesunyi ini, di malam yang sehening ini, ingin aku sendiri dalam gelap sepi.”

”Sepenggal lagu tersebut merupakan lagu andalan di album mini pertama kami. Judulnya, Linggayoni,” jelas produser Devaraj Band Yohanes Hanan Pamungkas seperti dikutip Jawapos.com.

Lelaki kelahiran 1 Januari 1960 itu menerangkan, perpaduan musik tradisional dengan lirik unik dalam Linggayoni tersebut memang sengaja dibuat lantaran Devaraj Band mengusung genre musik yang berbeda dengan band kebanyakan. Yakni, mengolah musik tradisional dan modern menjadi musik yang enak didengar.

Selain alunan musik yang khas, unsur sejarah dimasukkan dalam lirik lagu yang dibuat. Misalnya, dalam lagu Linggayoni, citra leka dan sojaroitun. Lagu tersebut menggambarkan betapa sentralnya peran lingga yoni dalam kehidupan masyarakat masa lampau. Lingga menggambarkan kejantanan dan yoni melambangkan kesuburan.

Khusus untuk lagu Linggayoni, Hanan mengatakan sudah meminta izin menggunakan lirik tersebut kepada Parisadha Hindu Dharma Indonesia. Izin itu diajukan Hanan untuk menghindari dampak yang terjadi setelah lagu dirilis.

”Dan, akhirnya kami mendapatkan izin tersebut,” jelasnya. ”Lingga yoni merupakan perwujudan dari keseimbangan dunia yang harus dijaga. Ibarat filosofi Tiongkok, perannya mirip yin dan yang,” jelas dosen sejarah Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.

Untuk memperkuat kesan sejarah, di beberapa bait lirik, Devaraj memasukkan kata asing seperti gabra yang berarti bilik candi. Selain lebih terdengar puitis, lirik itu berguna untuk memancing rasa penasaran pendengar sehingga mencari informasi terkait dengan kata tersebut. ”Dengan kata-kata yang tidak lazim, orang pasti akan penasaran dan ingin cari tahu,” tuturnya.

Lirik lagu bernuansa sejarah itu sengaja dipilih lantaran minimnya alternatif pembelajaran sejarah di masyarakat. Menurut dia, belajar sejarah selama ini hanya berdasar pada textbook. Minimnya variasi yang tersedia tidak jarang membuat masyarakat ogah mempelajari sejarah.

Saat ini, untuk memudahkan masyarakat memahami makna lirik pada Linggayoni, Devaraj Band membuat klip video yang bisa diunduh melalui website devarajband.com. Meski baru kumpulan foto dan sedikit video, melalui klip berdurasi 3,43 menit itu, masyarakat akan terbantu dalam memahami makna lagu Linggayoni.

Kemampuan menuliskan lirik bernuansa sejarah tersebut juga tidak terlepas dari latar belakang para personelnya. Yakni, Afrandianto (drumer), Muhammad Rizky Taufan (keyboardist), Najib Khilmi (vokalis 1), Akbar Satria Putra (vokalis 2), Irwan Dwi (gitaris 1), Shofwin Nafi (gitaris 2), dan Iwan Khusman (bas). Mayoritas anggota Devaraj Band merupakan mahasiswa dan alumni prodi sejarah Unesa.

Hanan yang juga ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Jawa Timur mengisahkan awal pendirian band tersebut. Dia mulanya hanya melakukan olah vokal dengan Najib. Ketika itu, sudah ada beberapa lagu yang mereka ciptakan. Namun, setelah beberapa bulan, mereka merasa perlu membentuk band.

Ide itu lantas membuat keduanya mencari personel yang cocok. Awalnya Najib mengajak Arfan. Setelah itu, Arfan menggandeng teman lain. ”Dari situ, kami mulai mencari beberapa posisi yang cocok untuk mengisi karakter Devaraj,” tuturnya.

Setelah masuk dapur rekaman, tujuh personel tersebut memperkenalkan diri dengan manggung di berbagai tempat. Mulai acara jurusan, kampus, hingga stasiun televisi lingkup Provinsi Jawa Timur. ”Dari beberapa pertunjukan itu, kami bersyukur mayoritas pendengar mengatakan musik Devaraj unik, tapi tetap enak didengar,” jelasnya.

Agar tidak terkesan monoton, rencananya Devaraj juga memasukkan unsur rock n roll hingga blues. ”Kami sepakat tetap membawa warna musik berbeda, tapi tetap enak di telinga pendengar,” tuturnya.

Afrandianto mengatakan, dirinya bergabung dalam band tersebut lantaran tertarik dengan jenis musiknya. Menurut dia, Devaraj memiliki akar yang kuat dalam bermusik.

Menurut pemuda yang berprofesi sebagai guru sejarah itu, setiap lirik lagu yang diciptakan Devaraj selalu membawa pesan moral. Suatu hal yang jarang ditemui dalam lirik musik di Indonesia yang mayoritas mengusung tema percintaan.

Kesan senada disampaikan Muhammad Rizky Taufan, keyboardist. Menurut dia, Devaraj memiliki karakter khas. Musiknya memang berbeda, tetapi tidak jauh dari apa yang dialami masyarakat. ”Kalau mendengar lagunya, orang pasti merasa dekat meski jarang mendengarkannya,” jelas mahasiswa sejarah Unesa tersebut.

Dengan konsep itu, ke depan Taufan berharap Devaraj bisa masuk ke ranah musik nasional dan menambah khazanah musik tanah air. ”Semoga bisa,” tegasnya. (ist/JPG)

Potensi Wisata Pra Sejarah Batu So’on

foto
Anggota DPR RI Eva Sundari saat berkunjung ke wana wisata Batu So’on. Foto: Ist.

Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Eva Kusuma Sundari berkunjung ke wana wisata Batu So’on yang terletak di desa Solor, Kecamatan Cermee, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Minggu (26/2).

Dalam kunjungan tersebut, Eva mendorong agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso segera memfokuskan arah pembangunan Batu So’on menjadi kawasan wisata pra sejarah.

Menurut Eva, wana wisata Batu So’on ini lebih bagus dari situs purba Stonehenge yang ada di Britania. Oleh karenanya, Pemkab Bondowoso perlu memikirkan bagaimana strategi mengemas Batu So’on menjadi ikon wisata pra sejarah pertama yang ada di Indonesia.

“Dari pengalaman saya mengunjungi Stonehenge di Inggris, yang di Bondowoso jauh lebih dahsyat karena lebih tinggi. Oleh karena itu Pemkab Bondowoso perlu memikirkan apa platform yang akan diusung,” ujarnya.

Sebagai sebuah destinasi wisata pra sejarah, Eva mengatakan selain harus ada fasilitas pendukung seperti education center, dan perpustakaan yang dapat digunakan pengunjung mengakses pengetahuan tentang situs purba Batu So’on.

“Harus menyediakan fasilitas pendukung juga seperti sebuah Lab yang bisa digunakan para pengunjung. Seperti kapan ini dibuat, untuk apa dan lain-lain, itu harus ada,” katanya.

Menurut Eva, Pemkab Bondowoso juga bisa nerinisiatif dengan mendaftarkan Wisata Batu So’on sebagai Cagar Budaya Nasional bahkan internasional seperti Candi Borobudur.

“Kalau wisata ini sudah menjadi cagar budaya internasional, maka pembiayaan juga akan dilakukan oleh UNESCO,” ungkapnya.

Pembiayaan dimaksud menurut Eva, dalam reklame, promosi dan bahkan pembangunan dan pemeliharaan fasilitas tambahan juga akan dibantu UNESCO.

Selain dapat menghemat anggaran kata dia, hal itu juga dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan internasional untuk mengunjungi situs batu purba yang mirip Stonehenge Inggris tersebut.

Namun untuk langkah awal, pemerintah daerah tetap harus berkontribusi terlebih dulu.”Langkah awal memang harus Pemerintah dulu. Kan kita harus ikut iuran dulu,” katanya.

Eva menyakini jika Batu So’on ini digarap dengan serius dan telah memfokuskan arah pembangunan menjadi wisata pra sejarah akan mendongkrak kunjungan wisatawan dari dalam dan luar negeri.

“Pasar dalam negeri kita saja juga menguntungkan. Saya yakin jika digarap dengan serius bisa menjadikan wisata pra sejarah nomor satu,” ucapnya.

Eva yang kini duduk di Komisi XI mengunjungi wana wisata Batu So’on didampingi anggota DPRD Kabupaten Bondowoso Sinung Sudrajat dan Ketua PA GMNI Bondowoso Andre Mustofa, (sak)

Hasto Kristiyanto jadi Sekjen Senapati Nusantara

foto
Hasto Kristiyanto terpilih secara aklamasi sebagai Sekjen Senapati Nusantara 2017-2021. Foto: ist.

Hasto Kristiyanto terpilih secara aklamasi sebagai Sekretaris Jenderal Serikat Nasional Pelestari Tosan Aji Nusantara (Senapati Nusantara) masa bakti 2017-2021 saat Musyawarah Agung Senapati Nusantara di Bantul, Yogyakarta, Minggu (26/2). Tosan aji adalah istilah dalam bahasa Jawa untuk segala jenis senjata tradisional yang terbuat dari besi yang dianggap sebagai pusaka.

Seusai terpilih, Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan itu selaku ketua formatur menyusun kepengurusan Senapati Nusantara. Terpilih sebagai Ketua Dewan Pembina Idham Samawi yang juga politisi PDI Perjuangan.

Hasto mengapresiasi dirinya ditunjuk menjadi sekjen. Di Senapati Nusantara, Sekjen menjadi posisi tertinggi. Karena ini paguyuban maka diharapkan setiap organisasi berkembang dengan keunikan masing-masing.

Hasto mengatakan dalam mewujudkan salah satu ajaran Trisakti Bung Karno yakni mewujudkan berkepribadian dalam kebudayaan maka kita diharapkan memahami kebudayaan kita.

“Keris dengan segala unsur filosofi didalamnya telah diakui oleh UNESCO sebagai karya agung warisan budaya dunia,” kata Hasto dalam pidatonya usai didaulat menjadi sekjen dalam keterangan persnya kepada media.

Hasto mengatakan akan melakukan konsolidasi organisasi termasuk kerjasama dengan pemerintah.”Kami mendorong kerjasama strategis dengan pemerintag dan pemerhati tosan aji sehingga hasil proses kebudayaan ini bisa dilestarikan dan dipamerkan bersifat nasional,” ucap Hasto.

Ditambahkannya, Senapati Nusantara akan membuka ruang bagi generasi muda sehingga kalangan muda tertarik dengan tosan aji. Usai pelantikan pengurus Senapati Nusantara, Hasto dan pengurus mengunjungi pameran keris dan melihat proses pembuatan keris di arena.(sak)

Prasasti Kawambang Kulwan Aus Tergerus Zaman

foto
Prasasti Sendang Kamal, letaknya tak jauh dari kolam pemandian di Kecamatan Maospati Magetan. Foto: Tribunenews.com.

PRASASTI merupakan peninggalan sejarah yang dapat memberikan informasi mengenai peristiwa yang pernah terjadi di masanya. Di Kabupaten Magetan diketemukan prasasti yang memuat informasi mengenai penetapan sima, atau wilayah yang dibebaskan dengan hak istimewa.

Dikenal dengan nama Prasasti Sendang Kamal, karena letaknya tak jauh dari kolam pemandian di Kecamatan Maospati. Ada pula yang menyebutnya Prasasti Kawambang Kulwan.

“Prasasti Kawambang Kulwan, menggunakan aksara Jawa kuno dan bahasa yang digunakan juga Jawa kuno,” ungkap Ismail Lutfi, dosen Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang seperti dikutip TribuneNews.com.

Prasasti Kawambang Kulwan telah dibaca dan diterjemahkan oleh JLA Brandes, ilmuwan Belanda. Meski hanya dua belas baris yang terbaca, informasi yang didapat tentang penetapan sima yang diterima oleh Samgat Kanuruhan Pu Burung untuk mendirikan bangunan suci untuk pemujaan dewa.

Ismail Lutfi menambahkan, perlu ditelaah lebih jauh eksistensi wilayah tersebut, baik sebelum penetapan sima maupun sesudahnya.Hal ini berkait dengan luas wilayah pendudukan kerajaan beserta siapa pemimpinnya.

Pada prasasti berangka tahun 913 Saka atau 992 Masehi ini memiliki beberapa bagian yang aus. Padahal, aksara Jawa kuno terpahat melingkar di badan prasasti. Hanya dua prasasti yang bisa terbaca dari empat prasasti yang diketemukan. Satu di antaranya menjadi koleksi Museum Nasional.

Diperkirakan nama penguasa pemberi perintah pendirian bangunan suci ini ada di bagian yang tak bisa dibaca tersebut. Sebagai pembanding dari beberapa sumber sejarah, lebih jauh dapat ditaksir, prasasti ini diterbitkan kurun waktu pemerintahan Mpu Sendok dan Airlangga.

Bila demikian adanya, Prasasti Kawambang Kulwan merupakan jejak sejarah yang lahir pada masa pemerintahan Raja Medang, Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa.

Bagian yang aus tentu cukup menyulitkan proses penelitian dan penulisan sejarah. Namun melalui sumber-sumber sejarah berkait, rekonstruksi ulang terhadap sebuah peristiwa, masih memungkinkan untuk ditelaah lebih lanjut.

Pada dasarnya sejarah dipelajari, dipahami, serta dituliskan kembali melalui beragam sumber berkait, sehingga terdapat kesatuan yang utuh dalam melihat peristiwa. (sak)

Candi Gambarkan Ruang Sakral Simbol Kosmos

foto
Candi gambaran ruang sakral simbol kosmos. Foto: Jogjakharismatransport.com.

CANDI dan lingkungannya sebagai produk budaya masyarakat abad IX-X Masehi, masa Mataram Kuna, disusun sebagai gambaran ruang sakral simbol kosmos. Sebagai ruang sakral, gambaran kosmos ditunjukan melalui lingkungan candi yang dikelilingi lahan subur, dekat dengan sumber air dan tersedianya bahan bangunan.

“Selain itu, wujud tata ruang halaman candi ditata berundak-undak dan ekspresi candi mempresentasikan Gunung Meru simbol pusat kosmos,” kata dosen Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Dra Niken Wirasanti MSi, saat ujian terbuka program doktor di Sekolah Pascasarjana UGM, beberapa waktu lalu.

Niken menyampaikan untuk mewujudkan candi dan lingkungannya sebagai simbol kosmos digunakan tanda-tanda yang sama dan menunjukkan keteraturan.

Misalnya, desain tata ruang halaman baik candi Hindhu maupun Budha ditata berundak-undak dengan halaman pusat di tempat tertinggi.

Demikian halnya arsitektur candi menggambarkan tiga lapis dunia yang terbagi atas kaki candi (kamadatu), tubuh candi (rupadatu), dan atap candi (arupadatu).

Namun demikian, kata Niken, tanda sama tentang lingkungan candi dapat dimaknai secara beragam oleh masyarakat pada waktu itu. Hal itu dibuktikan dari sumber prasasti dan naskah kesusastraan.

Meskipun memiliki tanda-tanda yang sama untuk memperesentasikan simbol kosmos, candi dan lingkungannya memiliki ekspresi dan konteks berbeda.

“Ekspresi candi dan lingkungan di masing-masing lokasi menyiratkan beragam pesan bermakna,” tuturnya saat mempertahankan disertasi berjudul “Lingkungan Candi Abad IX-X Masehi Masa Mataram Kuna di Poros Kedu Selatan-Prambanan”.

Candi di lereng gunung api menunjuk pada konsep wanasrama. Sementara candi di dataran menunjuk pada konsep tata wilayah lingkungan kerajaan. Sementara itu, candi di wilayah perbukitan menunjuk pada konsep gunung sebagai pusat kosmos.

Dari penelitian yang dilakukan Niken pada candi-candi yang berada di Poros Kedu Selatan-Prambanan, yaitu Candi Mendut, Candi Pawon, dan Candi Borobudur diketahui adanya sistem tanda yang terbingkai dalam satu kesatuan perlambang simbol kosmos.

Hal ini ditunjukkan dengan rangkaian tanda yang terstruktur. Ketiga candi ini terletak dalam satu garis imajiner yang menggambarkan ajaran Budha Mahayana.

Niken menyebutkan sifat struktural antara lain bisa ditelusuri dari tanda yang tersusun secara linier membentuk sistem tanda tiga serangkai yang menggambarkan perjalanan ritual umat Budha menuju kesempurnaan ajaran Budha Mahayana.

Perjalanan dimulai dari Candi Mendut (sambaramarga) berlanjut ke Candi Pawon (prayogamarga) dan berakhir di Candi Borobudur mendaki tahap demi tahap hingga puncak tertinggi (darsanamarga, bhavanamarga, asaikamarga).

“Secara denotatif lokasi Candi Mendut dan Candi Pawon di dataran dan kedua candi ini mengarah ke pintu sisi timur Candi Borobudur yang menjulang tinggi di atas bukit,” paparnya seperti dirilis Humas UGM.

Sementara lokasi dataran secara konotatif dimaknai sebagai suatu lingkungan yang bersifat duniawi (laukika), yaitu sebagai tempat peribadatan untuk persiapan menuju tujuan akhir ritual. Letak Candi Borobudur lebih tinggi dari Candi Mendut dan Candi Pawon secara konotasi menunjukkan Candi Borobudur sebagai simbol di atas dunia (lokattara).

Hal itu menunjukkan orientasi ritual terpusat di Candi Borobudur. Akhir laku spiritual adalah kesempurnaan dalam memperoleh pengetahuan yang didasarkan pada kebijaksanaan, yaitu perilaku, kata-kata, usaha yang benar, dan sembahyang yang benar. “Demikian gambaran hirearki makna perjalanan ritual yang dilakukan tahap demi tahap dari dataran menanjak ke puncak bukit menuju pusat kosmos,” urai Niken. (sak)

Ganesha Torongrejo, Arca Setia ‘Penunggu ‘ Persawahan

foto
Arca Ganesha dipayungi gazebo berada di areal persawahan. Foto: Malangtimes.com.

Kota Batu menyimpan berbagai cerita sejarah melalui situs-situs peninggalan bersejarah. Selain candi Songgoriti, juga terdapat arca Ganesha yang terletak di Dusun Klerek Desa Torongrejo Kecamatan Junrejo Kota Batu.

Arca yang diduga sebagai pembatas wilayah antara Kerajaan Singosari dan Daha Kediri itu berdiri di lahan pertanian milik perseorangan. Kondisinya masih utuh. Lokasinya ada di tengah-tengah persawahan yang ditanami aneka sayuran. Seperti bawang merah, sawi, jagung dan cabai.

Arca berbentuk gajah duduk dengan tinggi satu meter ini kini dipayungi oleh gazebo dari beton. Gazebo tersebut dibangun bersama-sama oleh warga Torongrejo dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu.

Pembangunan gazebo dilakukan pada 2013 lalu. Gazebo itu untuk melindungi arca Ganesha. Sebab, pada tahun tersebut, pondok bambu yang menaungi arca ini sempat dibakar orang yang ingin mencurinya.

Untuk dapat mencapai arca peninggalan Kerajaan Singosari ini, pengunjung harus melalui jalan bebatuan tanpa aspal sejauh 500 meter. Jalan bebatuan itu bisa ditemui ketika wisatawan melintasi jalan alternatif Batu-Pendem.

Meskipun tidak terlalu lebar, jalan setapak tersebut dapat dilalui oleh satu mobil. Di kanan kiri jalan, pengunjung diapit sawah milik penduduk Dusun Klerek dan Dusun Krajan.

Setelah menempuh 500 meter, pengunjung dapat menemukan arca Ganesha ini di tengah sawah. Di depan arca biasanya terdapat beberapa sesaji. Misanya bunga mawar dan sedap malam, dupa bekas dibakar, juga rokok berikut korek apinya.

Sesaji itu diberikan oleh orang-orang yang masih percaya tempat itu sebagai lokasi ritual tertentu. Bahkan tidak jarang pengunjung dari luar kota pun juga mendatangi tempat bersejarah ini. Baik untuk ritual maupun penelitian.

Mujiono, Kasi Pemerintahan Desa Torongrejo yang juga merupakan warga sekitar mengatakan, pada tahun 80-an arca Ganesha ini, tidak sendiri. Ada tiga patung lain yang ukurannya lebih kecil.

“Tapi arca-arca kecil tersebut dicuri satu persatu. Begitu juga dengan arca Ganesha ini, berulang kali ingin dicuri, tetapi karena terlalu berat, gagal,” ungkap Mujiono. Konon arca-arca kecil yang hilang tersebut berbentuk Lembu Andini, Lingga, dan Yoni.

Arca Ganesha Torongrejo yang oleh warga sekitar disebut Reco Gajah itu fungsinya sebagai vignya vignecvara atau Dewa penolak mara bahaya. Karena letaknya menghadap tempuran, dua pertemuan sungai (Kali Brantas dan Kali Lanang).

Pertemuan dua aliran sungai besar merupakan tempat yang sangat berbahaya, sehingga dalam konsep masyarakat Jawa Kuna untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan diletakkan arca Dewa Ganesha dan diharapkan mampu meredam berbagai energi negatif dan bencana yang muncul.

Dari bentuk ornamen dan penggambarannya, kemungkinan besar Arca Ganesha Torongrejo ini berasal dari masa Majapahit. Hal itu terlihat dari penggambaran arca yang terlihat kaku, gagah, dan identik dengan arca-arca dari masa Majapahit.

Dengan banyaknya situs-situs sejarah yang ada di Kota Batu, diharapkan pemerintah kota perlu mengembangkannya sebagai salah satu destinasi wisata yang unik. Berbagai situs sejarah yang ada di Batu selayaknya turut dimasukkan dalam pelajaran muatan lokal di sekolah, sehingga pelajar di Batu akan semakin bangga dengan sejarah kotanya sendiri.

Apabila sejarah mampu diolah sebagai destinasi wisata, maka masyarakat dan pemerintah akan sama-sama mendapatkan keuntungan. Diantaranya semakin meningkatnya rasa bangga dan percaya diri akan khasanah budaya bangsa ditengah lunturnya jati diri ketimuran bangsa akhir-akhir ini. (sak)

Surjadi, Sang Pembaca Relief Candi Jago

foto
Surjadi, sang pembaca relief di Candi Jago, Malang. Foto: Kompas.com.

TIDAK banyak orang di luar akademisi yang bisa membaca relief Candi Jago di Kecamatan Tumpang, Kab Malang secara cukup detail. Dari segelintir orang itu, salah satunya adalah Surjadi (58) yang bekerja sebagai penjaga Candi Jago selama 39 tahun. Hasil bacaan Surjadi dibagikan kepada orang lain dan mulai dibukukan.

Surjadi memasuki masa purna tugas per 1 Januari 2017. Namun, ia merasa hatinya terus tertambat di Jajaghu —sebutan bagi Candi Jago— tempat pendarmaan Raja Singhasari Wisnuwardhana.

Bagi Surjadi, candi yang dibangun pada abad ke-8 Masehi itu adalah ”istri keduanya”. Istri pertama dan sesungguhnya adalah Widyaningrum (43) yang telah memberinya empat anak.

Kecintaan pria yang biasa dipanggil Ki Suryo pada Candi Jago, salah satunya, diwujudkan melalui tulisan. Surjadi yang ditemui Kompas di rumahnya yang berada tidak jauh dari Candi Jago, akhir Desember lalu, tengah sibuk menyelesaikan halaman ke-130 dari total sekitar 200 halaman buku yang ia susun.

Judul bukunya adalah Mengungkap Relief Candi Jago secara Lengkap. ”Saya membuat buku karena referensi cara membaca relief di Candi Jajaghu masih sangat kurang. Saya mencoba detail. Saat ini, prosesnya sudah 60 persen,” tuturnya seperti dikutip Kompas.com.

Surjadi menulis relief panel per panel. Adegan demi adegan ia urai sambil menyertakan dialog dan foto. Tidak lupa filosofi dari relief ia munculkan sehingga informasi yang disuguhkan lebih lengkap.

Menurut Surjadi, membaca relief sebenarnya mudah bagi mereka yang tahu sejarah. Namun, membaca relief secara detail—tidak hanya menyangkut cerita, tetapi juga menyelisik suasana dan latar belakang cerita pada tiap panel—itu susah. Apalagi, relief Candi Jago terdiri atas banyak cerita.

Candi Jago, lanjut Surjadi, merupakan perpaduan dua kepercayaan, yakni Hindu dan Buddha. Panel di bagian bawah candi berisikan ajaran dan kehidupan dalam nuansa Buddha. Adapun bagian tengah dan atas bangunan candi berisikan ajaran dan kehidupan dalam nuansa Hindu.

Relief bagian bawah, antara lain, bercerita tentang tantri atau cerita binatang sebanyak 8 panel, Angling Darma 32 panel, dan Kunjarakarna 65 panel sekaligus yang paling panjang. Untuk bagian tengah sampai atas terdapat cerita Mahabarata, Arjuna Wiwaha, dan Krisnayana.

Otodidak
Lelaki tamatan sekolah menengah atas di Tumpang ini mengatakan tidak pernah belajar secara khusus untuk menguasai cerita di balik relief Candi Jago. Sebagian pengetahuan ia peroleh dari ayahnya, Raden Bambang Sutrisno, yang juga penjaga candi. Sang ayah sering bercerita tentang isi relief Candi Jago kepada Surjadi, baik ketika berada di pelataran candi maupun di rumah.

Ayahnya juga menulis dua buku, masing-masing berjudul Mengupas secara Lengkap Candi Jago dan Sejarah Percandian di Kabupaten Malang tahun 1980-an. Sayangnya, sang ayah belum sempat menerbitkan buku hasil karyanya.

Ayah Surjadi juga memiliki sejumlah buku sejarah candi berbahasa Belanda. ”Kebetulan bapak saya dulu bisa bahasa Belanda. Nah, buku-buku (koleksi Bapak) sering saya baca,” ungkap Surjadi.

Ketika mempelajari relief Candi Jago, ayahnya berpesan kepada Surjadi agar tidak meniru mentah-mentah apa yang ia ajarkan. Atas dasar nasihat itulah, Surjadi berusaha menambah pengetahuan dengan belajar sendiri. Ia rajin mencari buku-buku penunjang di sejumlah perpustakaan. Ia juga rajin mengamati secara langsung fisik candi.

Sekitar 1978, Surjadi meneruskan pekerjaan ayahnya sebagai penjaga candi atau juru pelihara. Pada masa itu, jabatan penjaga candi memang diwariskan dari orangtua kepada anaknya, bukan ditunjuk lembaga terkait seperti yang terjadi saat ini. Pekerjaan itu ditekuni Surjadi selama 39 tahun hingga ia pensiun pada awal Januari 2017.

Bertugas sebagai penjaga candi membuat Surjadi memiliki lebih banyak waktu untuk mencermati tiap detail relief Candi Jago. Ia mencoba memadupadankan hasil bacaannya dengan informasi yang ia peroleh dari buku. ”Saya ini merasa kurang ajar, jadi perlu terus belajar,” ujar Suryadi merendah.

Suryadi mengungkapkan dirinya mempunyai filosofi dalam pemeliharaan situs kepurbakalaan. Yakni, ‘Resep 6K’. ”Memelihara situs kepurbakalaan itu butuh kecintaan, kesetiaan, keamanan, kedisiplinan, ketaatan dan keramahan,” katanya.

Kemampuan Surjadi membaca relief Candi Jago terus bertambah karena ia sering menemani akademisi yang datang ke Candi Jago. ”Setiap ada dosen yang datang ke Jago, dia rajin mencatat apa yang disampaikan para dosen tentang cerita di relief. Hal itu menambah pengetahuannya,” kata arkeolog dari Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, yang cukup akrab dengan Surjadi karena sudah saling mengenal sejak muda.

Dwi menambahkan, kemampuan Surjadi membaca relief Candi Jago lebih mumpuni dibandingkan juru pelihara candi yang lain. Hal itu wajar karena Surjadi memang rajin belajar. Ia juga sangat peduli terhadap situs yang dijaganya, sampai-sampai situs itu ia anggap sebagai istri keduanya. Pengakuan atas kemampuan Surjadi juga datang dalam bentuk penghargaan. Ia terpilih sebagai Juru Pelihara Candi Teladan Tingkat Nasional 2012.

Sendratari
Enam tahun terakhir, hasil bacaan Surjadi terhadap panel-panel relief Candi Jago ia kembangkan dan tuangkan dalam bentuk sendratari. Ia menamai sendratari garapannya dengan Maha Jajaghu.

Sendratari kolosal garapan Surjadi, antara lain, dipentaskan pada acara menyambut Pekan Nasional Petani-Nelayan XIV/2014 yang dihadiri Presiden SBY di Malang. Ada 1.000 penari yang dilibatkan pada acara pembukaan dan 500 orang pada acara penutupan.

Ia juga mengolaborasikan cerita relief Candi Jago dengan cerita yang berkembang di masyarakat, seperti Dewi Sri. ”Peran saya lebih pada (menyusun) konsep isi cerita. Kalau gerakannya menjadi tugas koreografer,” katanya.

Kini, setelah ia pensiun sebagai juru pelihara candi, aktivitas keseniannya akan terus berlanjut. Ia merasa kegiatan kesenian dan budaya telah menjadi bagian dari jiwanya. Momen-momen penting dalam hidupnya pun ia rayakan dalam bentuk kegiatan kebudayaan di pelataran Candi Jago.

Pada 2015, misalnya, Surjadi menikahkan anaknya di pelataran Candi Jago. Semua prosesi pernikahan ditata sedemikian rupa, termasuk pakaian pengantin, sehingga mirip seperti pernikahan putra-putri keraton. Tidak hanya itu, ritual tujuh bulanan atau tedak siten cucunya juga dilakukan di pelataran candi.

”Sayangnya, untuk acara pernikahan, saya salah. Saya tidak izin lebih dulu kepada lembaga yang menaungi candi. Sementara untuk acara tedak siten, saya lapor. Acaranya disatukan dengan perpisahan saya dan teman-teman sesama juru pelihara candi di Jawa Timur,” tuturnya.

Surjadi memang tidak ingin membatasi diri meski telah pensiun. Ia membuka pintu rumahnya lebar-lebar kepada siapa pun yang datang untuk bertanya dan berdiskusi seputar Candi Jago. Ia juga tidak keberatan jika diajak berkeliling ke tempatnya bekerja dulu untuk menjelaskan kisah di balik panel-panel relief candi yang terpahat indah. (ist/kompas)

Banyak Benda Sejarah Nusantara Masih di Belanda

foto
Patung Ken Dedes tahun 1978 dikembalikan Belanda ke Indonesia. Foto: UGM.ac.id.

Selama menjajah bangsa Indonesia, Belanda ternyata tidak hanya gemar eksploitasi manusia dan kekayaan alam negeri ini. Para serdadu negeri kincir angin itu juga mencuri benda-benda bersejarah warisan nenek moyang nusantara.

Banyak sekali benda-benda bersejarah yang diangkut ke Belanda di masa penjajahan dahulu. Pemerintah RI sebenarnya telah berulangkali meminta agar benda-benda bersejarah itu dikembalikan.

Namun, apesnya tidak semua berhasil dipulangkan ke Tanah Air. Berikut sejumlah benda bersejarah milik bangsa Indonesia yang tersimpan rapi di museum-museum negeri Belanda sebagaimana dikutip dari Boombastis.com.

Patung Ken Dedes
Ken Dedes adalah putri Empu Purwa, seorang pendeta Buddha Mahayana. Ia pernah diculik dan diperistri Bupati Tumapel, Tunggul Ametung. Namun, dalam perkembangannya, Tunggul Ametung tewas di tangan pemuda desa bernama Ken Arok dengan sebilah keris karya Empu Gandring.

Suatu ketika, seorang pegawai pemerintah kolonial Hindia Belanda, D Monnerean menemukan patung Ken Dedes di antara reruntuhan Candi Singosari pada tahun 1819 silam. Namun, ihwal posisi tempat ditemukannya patung tersebut hingga kini masih misterius.

Pada tahun 1820 Monnereau memberikan arca ini kepada C.G.C.Reinwardt,yang kemudian memboyongnya ke Belanda dan akhirnya arca ini menjadi koleksi Rijksmuseum voor Volkenkunde (Museum Nasional untuk Etnologi) di kota Leiden. Patung tersebut menjadi koleksi kebanggaan museum di Leiden itu.

Upaya untuk memulangkan benda ini sudah berkali-kali dicoba pemerintah Indonesia. Patung tersebut akhirnya dikembalikan Belanda ke Indonesia pada tahun 1978. Kini arca yang luar biasa halus dan indah ini ditempatkan di lantai 2 Gedung Arca,Museum Nasional,Jakarta.

Patung Ganesha dan Anusapati
Selain patung Ken Dedes yang akhirnya dikembalikan itu, ternyata Belanda juga menyimpan beberapa artefak lain yang tak kalah pentingnya bagi Indonesia. Benda penting tersebut adalah Patung Ganesha dan juga Anusapati.

Kedua benda ini diambil di tempat yang berbeda. Patung Ganesha diambil di dekat Candi Singasari, sedangkan patung Anusapati di Candi Kidal. Meskipun berbeda lokasi, keduanya masih berada di Malang.

Patung Anusapati dan Ganesha tersimpan rapi di sebuah museum yang ada di Kota Leiden, Belanda. Dua obyek bersejarah yang gagal dipulangkan pemerintah RI tersebut menjadi salah satu primadona di museum itu.

Belasan Prasasti Penting
Keberadaan Prasasti adalah hal yang penting. Dari sanalah kita bisa menelusuri jejak-jejak sejarah dengan lebih detail dan jelas. Banyak potongan kisah sejarah yang memang terkuak lebar hanya dari prasasti yang diterjemahkan. Sebenarnya, di Indonesia ini tersebar sangat banyak prasasti. Jumlahnya lebih dari yang kita ketahui di pelajaran sejarah dulu.

Ya, banyak prasasti penting ternyata diangkuti oleh Belanda ke negerinya. Tercatat, saat ini adalah beberapa buah yang duduk manis menjadi pajangan-pajangan museum di sana. Misalnya Prasati Sangsang dan Wujakana yang ada di Museum Tropen, Prasasti Guntur yang ada di Rotterdam, serta sekitar 6 buah lagi ada di Museum Leiden. Semua prasasti ini penting bagi kita. Sayangnya, pemerintah Belanda terkesan ogah mengembalikan benda-benda bersejarah ini.

Keris dan Senjata Para Raja
Hanya dari tongkatnya saja kita bisa langsung kagum akan kehebatan Bung Karno, bahkan tak hanya itu memandangi pecinya saja kita akan terbayang sosok kharismatik pembangun negeri. Memang begitulah, hanya lewat benda-benda peninggalan tokoh besar kita bisa langsung membayangkan wujudnya yang hebat. Hal yang sama mungkin juga akan terjadi ketika kita memandang deretan pusaka sangar ini.

Senjata-senjata di atas adalah milik orang-orang besar zaman dulu. Sebutlah Keris Singo Barong yang diduga adalah milik pembesar kerajaan Mataram. Sayangnya, lagi-lagi ini adalah koleksi salah satu museum yang ada di Belanda. Kita yang harusnya jadi pemilik malah hanya bisa melihatnya dari foto-foto semacam ini.

Naskah Kuno Keraton
Sekitar dua tahun yang lalu, pemerintah kota Solo mengatakan Belanda ingin mengembalikan beberapa peninggalan penting Keraton Kasunanan Surakarta. Salah satunya adalah sebuah naskah kuno penting yang isinya adalah jejak-jejak para leluhur.

Masih belum jelas bagaimana upaya pengembalian tersebut. Namun yang pasti, naskah kuno yang dimaksud memang mendiami salah satu museum yang ada di Belanda. Tak hanya itu, ada satu barang penting Keraton Surakarta yang katanya juga dibawa oleh Belanda. Benda ini adalah sebuah mobil kuno milik sang raja yang dikatakan sebagai mobil pertama yang ada di Indonesia.

Sebenarnya, tak hanya di Belanda saja, ada banyak pernak-pernik bersejarah Indonesia yang tersebar di beberapa negara Eropa, seperti Jerman. Bahkan tak hanya di sana, Amerika pun ternyata juga menyimpan beberapa benda penting milik Indonesia.

Pada November 2016 lalu, Perdana Menteri Belanda Mark Rutte berkunjung ke Indonesia. Selain kunjungan kerja dan membahas kerja sama dengan Indonesia, juga menyampaikan rencananuntuk mengembalikan ribuan benda-benda bersejarah Indonesia yang selama ini tersimpan di Belanda.

PM Rutte menjelaskan, ada 1.500 artefak di The Nusantara Collection yang berada di Delft Museum. Semuanya akan dikembalikan ke Indonesia. Pengembalian ribuan artefak ini diharapkan bisa lebih memperkokoh hubungan kerja sama Indonesia dan Belanda ke depannya. Mudah-mudahan segera bisa direalisasikan. (sak)

Disini Ken Arok Suka Mengintip Ken Dedes

foto
Petirtaan Watugede, konon disini Ken Arok suka mengintip Ken Dedes. Foto: Liputan6.com.

Semilir angin nan sejuk seakan menyambut siapa pun yang bertandang ke Petirtaan Watugede di Desa Watugede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Petirtaan atau kolam pemandian ini adalah satu di antara sejumlah petirtaan yang bertebaran di daerah Singosari. Namun, ada sebuah cerita di Petirtaan Watugede yang membuatnya sangat istimewa.

Di tempat itu Ken Arok kali pertama bertemu Ken Dedes, yang dianggap sebagai perempuan yang melahirkan raja-raja besar di Tanah Jawa, khususnya Kerajaan Singasari dan Majapahit dari Dinasti Rajasa.

Sejarawan Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono kepada Liputan6.com mengatakan, Petirtaan Watugede pada masa lampau dalam Kitab Pararaton disebut dengan Petirtaan Baboji dan dipercaya sebagai Tamansari Ken Dedes.

“Ini petirtaan khusus untuk mandi Ken Dedes dengan ditemani para dayang. Di petirtaan ini pula kali pertama terjadi perjumpaan Ken Arok dan Ken Dedes,” kata Dwi Cahyono.

Dwi menceritakan, suatu hari Akuwu Tunggul Ametung dan Ken Dedes yang hamil muda datang ke petirtaan tersebut naik pedati. Ken Arok saat itu adalah seorang prajurit yang berjaga di petirtaan.

Saat turun dari pedati, Ken Dedes menjulurkan kaki lebih dahulu dan membuat kain wiru atau belahan kainnya tersingkap. Saat itulah tersingkap rahsanya atau dalam istilah lain disebut wawati atau organ kewanitaan Ken Dedes. Ken Arok juga melihat itu sebagai mudyar hamurup atau pancaran cahaya.

Karena terpesona dengan kecantikan sekaligus penasaran dengan Ken Dedes, Ken Arok lalu membunuh Akuwu Tunggul Ametung dan memperistri Ken Dedes untuk kemudian mendirikan Kerajaan Singasari.

“Petirtaan Watugede ini situs penting dan sakral. Dahulu, berderet arca yang mengalirkan air dari sumber ke dalam petirtaan. Tapi kini hanya sisa sebuah arca saja,” Dwi Cahyono menandaskan.

Pemandian ini pertama kali ditemukan tahun 1925 oleh Arkeolog Belanda, berlokasi sekitar 2 km dari Candi Singosari. Melongok ke dalam pemandian, ada kolam kuno berbentuk persegi panjang. Dinding-dinding kolam terbuat dari batu bata kuno tersusun rapi dan kuat. Pondasi dinding yang kokoh dengan kondisi sebagian sudah tak utuh seolah-olah mengentalkan kesan kuno kolam ini.

Tepi kolam dihiasi dengan beberapa patung kecil yang menjadi pintu keluar air yang nantinya akan mengisi kolam. Uniknya, air yang keluar dari mulut arca ini tak pernah berhenti, meskipun pada musim kemarau. Kolam ini memiliki sebuah tangga batu yang memudahkan pengunjung masuk ke dalam kolam.

Uniknya, salah satu batu pada tangga memiliki permukaan yang berlubang-lubang, dengan jarak lubang yang beraturan. Konon, lubang pada batu tersebut menjadi penunjuk waktu bagi putri-putri raja yang sedang mandi di kolam tersebut. Batu tangga yang berlubang tersebut dikenal dengan nama Watu Dakon.

Tak jauh dari kolam, terdapat sebuah sumur yang seringkali dijadikan sebagai tempat meletakkan sesaji. Di sekitaran sumur juga terdapat tiga buah batu yang konon sering dijadikan sebagai batu pengasah pedang. Pedang yang diasah tersebut merupakan senjata yang digunakan untuk melaksanakan hukuman pancung.

Hukuman pancung tersebut diberikan kepada lelaki yang nekat menyusup ke dalam area pemandian. Pasalnya, pemandian ini hanya boleh dikunjungi oleh putri Raja beserta dayang-dayangnya. Tak hanya itu, di dekat sumur juga terdapat gua yang berfungsi sebagai tempat berlindung bagi para putri saat bahaya mendekat. Sayangnya, gua ini sekarang telah berada dalam kondisi tertutup.

Air di Petirtaan Watugede berasal dari sumber air yang ada di bawah sebuah pohon besar di salah satu sudut petirtaan itu. Air kemudian dialirkan ke dalam kolam melalui arca. Di dasar kolam diperkirakan masih ada relief padma, lambang para dewa. (sak)