Komunitas Sejarah di Tapal Kuda Dideklarasikan

foto
Komunitas Sejarah Tapal Kuda Dideklarasikan di Situs Duplang Jember. Foto: Tribunenews.com.

PEGIAT sejarah ujung timur Pulau Jawa mendeklarasikan Komunitas Pegiat Sejarah Tapal Kuda, Minggu (5/2) di Situs Duplang, Desa Kamal, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember.

Saat matahari masih mengintip di balik pohon, karpet sudah disiapkan. Aneka penganan rebus, dari ubi ungu, singkong, pisang, aneka buah, dan air disiapkan panitia. Peserta mulai berdatangan sambil mengisi absen, saling berkenalan, ngobrol santai, ada pula beberapa keamanan dari masyarakat maupun polisi bertugas di sana.

Dihadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember beserta instansi pemerintah terkait, beberapa dosen sejarah dan delegasi dari komunitas pegiat sejarah dari Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Jember dan Lumajang.

Hari Wijayadi, Kepala Disparbud Jember mengatakan, banyak situs yang perlu digali. Ke depannya semoga banyak yang lebih perhatian pada Jember. Dengan adanya perda baru, menjadi penyemangat untuk saling bersinergi membangun situs sejarah, harapnya seperti ditulis Moh Imron (Pegiat Literasi di Komunitas Penulis Muda Situbondo) di TribuneNews.com.

Menjelang siang, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh perwakilan kota, diteruskan dengan orasi sejarah dan pembacaan deklarasi bersama dengan tema ‘Bersatu Tekad Melakukan Perjuangan Bersama untuk Melindungi Aset Sejarah se-wilayah Tapal Kuda’ dalam sembilan butir kesepakatan demi terjaganya aset budaya Indonesia khususnya di timur Jawa.

Peserta kemudian bersama-sama melihat tiga situs peninggalan masa megalitikum, yakni kuburan batu, menhir atau batu tegak yang digunakan sebagai benda pemujaan terhadap arwah leluhur, dan batu kenong, berupa batu persembahan kepada arwah atau roh leluhur.

Situs batu ini ditata secara rapi dalam lahan sekitar 10×10 meter dengan menggunakan pagar gedung, di atasnya terdapat tali kawat berjajar. Di dalamnya terdapat tanaman hias, pohon yang membuat tempat ini menjadi teduh.

Di sekitar situs Duplang saat ini banyak pepohonan, persawahan, sungai kecil yang jernih, dan tempat salat. Kegiatan berikutnya dilanjut dengan makan nasi tumpeng bersama. Pada acara inti sekaligus acara terakhir, diskusi sejarah masa kerajaan hingga kolonial khususnya di bagian timur.

Masing-masing perwakilan kota saling memberikan argumen terkait informasi yang dibutuhkan dalam diskusi. Mereka sadar akan pentingnya aset dan pengetahuan sejarah untuk diwariskan kepada generasi muda. (sak)

UU Kebudayaan, Menjaga Jati Diri Bangsa

foto
Seminar Nasional Kebudayaan membahas Rancangan Undang-Undang Kebudayaan. Foto: Republika.co.id.

RANCANGAN Undang-Undang (RUU) Kebudayaan telah memasuki tahap akhir, yaitu pembahasan antara tingkat II Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dengan Pemerintah melalui Panitia Kerja atau Panja. Sebagai masukan terhadap RUU Kebudayaan, Kemendikbud berpartisipasi di dalam Seminar Nasional Kebudayaan yang diselenggarakan di Hotel Atlet Century Park, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Saat menghadiri Seminar Nasional RUU Kebudayaan, Direktur Jendreral Kebudayaan (Dirjenbud) Kemdikbud Hilmar Farid menggarisbawahi fokus perhatian dari pembahasan Seminar RUU Kebudayaan tersebut.

Pertama, persoalan terkait jati diri atau identitas, seperti anak-anak yang sudah tidak mengenal sejarahnya sendiri, kalangan muda yang tidak terlalu peduli terhadap tradisi, lebih senang mencontoh keadaan diluar.

“Kita sekarang di dalam in limbo, artinya yang dituju belum dicapai yang mau ditinggalkan sudah lewat, jadi kita berada ditengah-tengah ini mengambang saja, yang membuat kita tidak tahu arah mau kemana,” ujarnya seperti dirilis situs Kemdikbud.

Kemudian, kedua, segi ekonomi, lanjut Dirjen Hilmar, seperti kata Presiden RI dalam sidang bersama rektor-rektor Indonesia, kita ini susah sekali untuk menjadi negara industri yang hebat dalam manufaktur, teknologi tinggi dan lain sebagainya. Tetapi kalau dilihat seni budaya, kita ini mungkin tidak ada tandingannya, mungkin DNA kita ini adalah DNA kebudayaan.

Selanjutnya, ketiga, fokus mengenai ketahanan. “Jaman sekarang ini bukan sekedar perang senjata, perang sekarang adalah perang pengaruh dan pengaruh itu salah satu jalannya melalui kebudayaan. Jika dilihat sehari-hari, mengapa anak-anak sekarang pintar bahasa Korea?” jelasnya.

Menurutnya, fenomena tersebut terjadi karena kegemaran anak Indonesia untuk menonton Film Korea dibandingkan dengan film dengan bahasa daerahnya sendiri.

Ferdiansyah, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, mengungkapkan harapan akan pembahasan RUU. DPR menurutnya mengharapkan bahwa UU ini dapat menyelesaikan permasalahan bangsa.

“Termasuk diantaranya adalah pedesaan, jika kita melihat, guyup di masyarakat desa juga mulai berkurang, seperti kegotong-royongan, kepedulian dan kepekaan antar sesama. Untuk itu kebudayaan menjadi daya tawaran cara untuk melalui saat genting ini, mudah-mudahan terselesaikan.” ungkapnya.

Semangat pembahasan RUU ini adalah untuk melaksanakan amanat Pasal 32 ayat (1) UUD 1945, yaitu mengenai peran Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.

Dirjen Hilmar berharap, usai disahkan, UU ini dapat mampu berinovasi berbasis pengetahuan dan identitas, adaptif tentang khas dalam menghadapi perubahan-perubahan, membangun komunitas lintas budaya, berpikir terbuka dan kritis, serta menumbuhkan jiwa kolaborasi.

“UU ini dibuat memang karena ada relevan dengan tujuan negara ini, sangat jelas di dalam alinea terakhir pembukaan UUD 1945; negara dibentuk untuk melindungi segenap bangsa dan tanah air, untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan turut menjaga tertib dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial,” tutupnya. (sak)

Sidoarjo Tuan Rumah Festival Kesenian Pesisir Utara

foto
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim saat audiensi dengan Bupati Sodoarjo. Foto: Antara.

Kabupaten Sidoarjo akan menjadi tuan rumah alias host pelaksanaan Festival Kesenian Pesisir Utara (FKPU) 2017 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim Jarianto mengatakan pada pelaksanaan festival tersebut nantinya akan ada 14 kabupaten atau kota di Jawa Timur sebagai peserta kegiatan.

“Kegiatan tersebut akan diselenggarakan tanggal 10 Maret sampai dengan 12 Maret mendatang,” katanya dikutip Antara saat melakukan pembahasan dengan Bupati Sidoarjo Saiful Ilah.

Ia mengemukakan, tahun ini memang giliran Kabupaten Sidoarjo yang menjadi tuan rumah FKPU. “FKPU sendiri bertujuan untuk menggali kearifan lokal suatu daerah dan kami berharap melalui FKPU tersebut akan meningkatkan seni budaya di Jawa Timur,” katanya.

Selain itu, kata dia, dengan adanya pelaksanaan FKPU seperti ini sebagai bentuk pembinaan kepada pelaku seni budaya di Jawa Timur. “Nantinya FKPU 2017 akan diikuti sebelas kabupaten dan tiga kota di Jawa Timur.

Kesebelas kabupaten tersebut masing-masing Kabupaten Sidoarjo, Tuban, Sumenep, Gresik, Lamongan, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Pasuruan, Probolinggo dan Kabupaten Situbondo,” katanya. Sedangkan kotanya adalah kota Surabaya, Pasuruan dan Kota Probolinggo.

“Dalam FKPU tersebut akan diselenggarakan berbagai kegiatan seperti pawai budaya, sarasehan seni budaya maupun pagelaran seni budaya. Selain itu, promosi produk-produk budaya oleh 14 peserta juga dipamerkan dalam FKPU Jawa Timur tahun ini,” katanya.

Sementara itu, Bupati Sidoarjo Saiful Ilah menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut dan meminta kepada dinas terkait untuk mempersiapkan pelaksanaannya dengan baik.

“Saya meminta kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo untuk serius menanganinya dan selalu berkoordinasi dengan dinas lainnya demi suksesnya pelaksanaan kegiatan ini,” katanya. (ist)

Situs Krapyak, Batu Bata Bermotif Dua Jari

foto
Situs purbakala kembali ditemukan di Dusun Krapyak, Desa Kutogirang, Kecamatan Ngoro, Mojokerto. Foto: Jawapos.com.

BERAWAL dari keinginan menggali tanah untuk membuat kolam ikan, Sodikin, 50, warga Dusun Krapyak, Desa Kutogirang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto malah menemukan sebuah situs purbakala.

Peninggalan sejarah itu berupa tumpukan batu bata merah dengan bentuk struktur memanjang. Sodikin menuturkan, semula, pada saat menggali, dia tidak mempunyai firasat apa pun.

Awalnya, dia hanya berniat membuat kolam yang dimanfaatkan sebagai tempat budi daya ikan lele. Namun, saat menggali dia menemukan banyak remukan batu bata kuno.

“Ada pecahan-pecahan, tapi saya tidak mengira bahwa itu bentuknya begitu,” ungkapnya sambil menunjuk ke lokasi situs.

Kemudian, penggalian terus dilakukan. Saat mencapai kedalaman sekitar 50 sentimeter atau setengah meter, dia mulai menemukan sebuah bidang batu bata yang berbentuk utuh.

Bata tersebut memiliki ukuran sekitar 30 x 20 cm dengan ketebalan 5–7 cm. “Rata-rata bentuknya sama dan memiliki cap dua jari,” ujarnya seperti dikutip Jawapos.com.

Uniknya, motif garis dua jari itu berbentuk setengah lingkaran. Mungkin bata tersebut dibuat berpasangan. Sebab, jika dua bata digabungkan dengan yang lainnya, apabila garisnya simetris, tercipta sebuah lingkaran.

Bapak dua anak itu selanjutnya mengambil satu per satu batu bata untuk dibawa ke rumahnya. Namun, ketika menggali semakin dalam, semakin banyak bata utuh yang dia temukan.

Sodikin pun semakin penasaran dengan sesuatu di balik tanah bekas kebun tanaman bambu tersebut. Kecurigaan itu mulai terungkap ketika dia menemukan struktur batu bata yang tertata rapi.

Bangunan menyerupai sebuah fondasi tersebut dibangun memanjang dengan lebar sekitar 60 cm. Hingga saat ini, penggalian yang dilakukan Sulistiyo mencapai panjang 8 meter.

“Mungkin lebih panjang lagi karena sebagian masih tertutup tanah,” paparnya. Sementara itu, sebagian lainnya berada tepat di bawah rumah penduduk sekitar.

Menurut dia, temuan benda bersejarah tersebut baru kali pertama dideteksi. Karena itu, dia sempat kaget dan tidak menyangka bahwa ada situs purbakala yang terkubur di pekarangan rumahnya.

“Sebelumnya, saat menggali fondasi rumah atau sumur, tidak pernah menemukan apa-apa,” jelasnya. Namun, di Desa Kutogirang penemuan situs kali ini merupakan yang kedua setelah temuan situs Kutogirang puluhan tahun lalu.

Jadi, kuat dugaan, temuan tersebut berkaitan dengan situs Kutogirang yang berjarak kurang lebih 1 kilometer itu. Basuni, juru pelihara (jupel) situs Kutogirang, menyatakan, situs di Dusun Krapyak memang memiliki kemiripan dengan situs Kutogirang.

Baik struktur penataan bangunan maupun sama-sama terbuat dari batu bata. “Kalau di Kutogirang, bentuknya mirip kolam Segaran Trowulan. Kalau yang itu (situs Krapyak, Red), kami belum tahu. Nanti biar diteliti pihak arkeologi dulu,” ujarnya.

Dia sudah melaporkan penemuan tersebut kepada pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur di Trowulan. Dengan begitu, untuk sementara, penggalian dihentikan sebelum BPCB melakukan penelitian lebih lanjut.

“Kalau perkiraan, mungkin peninggalan masa Kerajaan Majapahit karena bangunannya terbuat dari batu bata,” ungkapnya.

Basuni menambahkan, hal itu semakin memperkuat cerita rakyat bahwa dulu Desa Kutogirang merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Kahuripan saat kepemimpinan Raja Airlangga dan berlanjut pada masa awal Kerajaan Majapahit. (ist/JP)

Budaya Pendalungan Dikenalkan di Objek Wisata

foto
Pentas Tari Lengger, kesenian khas Jember. Foto: Benyaminlakitan.files.wordpress.com.

KEPALA Seksi Budaya, Seni dan Adat Tradisi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jember Sirajudin mengatakan sejumlah objek wisata mulai mengenalkan budaya pendalungan Jember kepada wisatawan yang datang berkunjung ke objek wisata setempat.

“Penampilan kesenian tradisional akan disuguhkan di setiap objek wisata, namun kesenian tradisional disesuaikan dengan potensi lokal daerah setempat,” katanya di Kantor Disparbud Jember, Selasa (7/2) lalu.

Menurutnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember sudah mendeklarasikan diri sebagai kabupaten yang memiliki budaya pendalungan yakni budaya campuran Jawa dan Madura yang merupakan mayoritas penduduk kabupaten setempat.

“Bupati Jember Ibu Faida sudah mendeklarasikan Jember sebagai Kota Pendalungan, sehingga pengembangan wisata juga harus berbasis seni, budaya, dan religi, sehingga kami ingin mengenalkan lebih jauh kepada wisatawan yang datang ke sejumlah objek wisata tentang budaya pendalungan,” tuturnya seperti dikutip Antara.

Sirajudin mengatakan kesenian tradisional dan budaya yang ditampilkan di objek wisata tidaklah sama antara satu objek wisata dengan objek wisata lain karena berbasis seni tradisional di sekitar lokasi wisata.

Sehingga kesenian tradisional yang ditampilkan di kawasan pesisir selatan Jember tidak sama dengan objek wisata yang berada di kawasan Jember bagian barat atau timur.

“Kami akan coba melatih warga setempat dengan kesenian tradisional warga lokal dan setelah dilakukan pembinaan, maka mereka bisa tampil di hadapan wisatawan yang berkunjung ke objek wisata itu,” kata Sirajudin.

Ia berharap dengan hadirnya kesenian tradisional dan budaya pendalungan di tengah-tengah objek wisata semakin meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan di Kabupaten Jember.

“Budaya pendalungan akan dikenalkan secara maksimal baik melalui edukasi maupun penampilan kesenian tradisional, sehingga wisatawan bisa mengenal lebih jauh dengan budaya Jember,” ujarnya menambahkan.

Jumlah objek wisata alam dan buatan baik yang dikelola maupun yang belum dikelola di Kabupaten Jember tercatat sebanyak 59 objek wisata, namun hanya 13 objek wisata yang melaporkan jumlah kunjungan wisatawan kepada Disparbud Jember.

Kunjungan wisatawan ke Jember selama 2016 berdasarkan data Disparbud Jember tercatat sebanyak 1.998.297 wisatawan dengan rincian sebanyak 1.994.924 wisatawan domestik dan sebanyak 3.373 wisatawan mancanegara. (ant)

Melestarikan Peninggalan dengan Jelajahi Candi

foto
Siswa SMPN 1 Porong bersama guru pembinanya saat berkunjung ke Candi Pari, Sidoarjo. Foto: Jawapos.com.

PULUHAN siswa dan guru sejarah SMPN 1 Porong Sidoarjo mengunjungi Candi Pari di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong. Lokasi situs bersejarah warisan Kerajaan Majapahit itu tak jauh dari SMPN 1 Porong.

Hanya dibutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk mencapai tempat tersebut dari sekolah. Tak heran, beberapa siswa sudah sering mengunjungi Candi Pari. Mulai berjalan-jalan hingga mempelajari dan memperdalam ingatan mengenai sejarah.

“Kadang anak-anak bersepeda ke sana,” ujar Kepala SMPN 1 Porong Abdul Mujib. Setiap ada event di Candi Pari, para siswa ikut memeriahkannya. “Biasanya, waktu acara peringatan Agustusan, ada acara di Candi Pari. Kami ikut gerak jalan dari Pasar Baru Porong sampai ke lokasi Candi Pari,” timpal guru IPS SMPN 1 Porong Agus Sulistiawan.

Menurut Agus yang mendampingi siswa ke Candi Pari, anak-anak harus dikenalkan dengan sejarah tempat mereka lahir sejak dini. Selain membangkitkan kebanggaan, anak didik diharapkan tidak melupakan potensi daerahnya. “Kami mempelajari sejarah secara tematik. Mulai peninggalan sejarah hingga budaya masyarakat tertentu,” terangnya.

Agar siswa tidak bosan, pembelajaran sejarah di SMPN 1 Porong dikemas kreatif. “Kami belajar pakai media juga,” kata Tunjung Seto, siswa 8H. Dia mencontohkan, saat menjelaskan asal usul seni pewayangan, gurunya langsung membawa banyak wayang. Materi disesuaikan dengan cerita dalam pertunjukan wayang.

Para siswa juga belajar membuat wayang. Mulai menggambar di kertas hingga memotongnya berdasar pola yang sudah dibuat. Selain itu, mereka kerap diminta menyusun naskah drama tentang kisah sejarah tertentu, lalu mementaskannya di depan kelas.

Pelajaran sejarah pun menjadi menarik. Materi lebih mudah diserap. “Biasanya menggelar drama cerita rakyat dan (mengadakan, Red) forum (diskusi) di kelas,” imbuh Seto yang juga ketua OSIS.

Di kawasan Candi Pari kemarin, Seto sangat aktif bertanya soal asal candi tersebut kepada Muhammad Saroni, si juru kunci. Seto beserta rekan-rekannya mendengarkan dengan saksama sambil menyusuri candi dengan tinggi 13,8 meter, lebar 13,4 meter, dan panjang 13,55 meter itu.

“Kalau belajar langsung seperti ini, rasanya lebih mengena. Kami bisa bertanya kepada pengelola dan melihat bukti fisiknya,” tuturnya.

Sambil menaiki tangga candi, Saroni menjelaskan bahwa candi tersebut dibangun pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk, raja Kerajaan Majapahit. Tepatnya pada 1293 Saka atau bertepatan dengan 1371 Masehi. Candi itu menjadi simbol kesuburan desa setempat atas produksi padi mereka.

“Pernah, waktu Majapahit gagal panen, padi diambil dari kawasan ini. Sebab, tanaman padinya subur,” jelas juru pelihara Candi Pari selama 23 tahun tersebut.

Sebagai bentuk penghargaan, Hayam Wuruk mengundang dua pasangan suami istri yang dianggap berperan atas suburnya lokasi itu untuk tinggal di kerajaan. “Semacam diberi jabatan,” katanya.

Pasangan suami istri, yaitu Jaka Walang Tinunu dan Nyai Roro Walang Sangit, sebenarnya bersedia datang ke istana. Namun, pasangan yang lain, yaitu Jaka Pandelegan dan Nyai Roro Walang Angin, enggan datang. Perwakilan kerajaan sampai turun tangan dengan sedikit memaksa.

Akhirnya, Jaka Pandelegan dan Nyai Roro Walang Angin mengalah. Namun, sebelum berangkat, Jaka ingin menengok lumbung padinya.

Sementara itu, istrinya ingin lebih dulu mengambil air di sumur yang berjarak sekitar 50 meter dari lumbung padi. Ternyata, keduanya menghilang di dua tempat tersebut. Tak ada yang tahu ke mana perginya.

Sebagai pengingat atas hilangnya pasangan itu, dibangunlah candi. Di lokasi lumbung padi, dibangun Candi Pari. Di sumur tempat istri Jaka menghilang, dibangun Candi Sumur.

“Kami biasanya ceritakan sejarahnya kepada pengunjung biar mereka tahu kisah di balik bangunan ini,” ujar Saroni.

Selain warga Sidoarjo, banyak pengunjung yang datang dari luar daerah. Ada yang beragama Hindu untuk beribadah, ada pula warga umum dan pelajar. Mulai tingkat SD hingga perguruan tinggi. “Biasanya ada festival yang digelar di sini setahun sekali,” imbuhnya. (ist/JP)

UU Kebudayaan Tingkatkan Ketahanan Budaya

foto
RUU Kebudayaan bakal mendorong ketahanan budaya dan pembentukan karakter bangsa. Foto: ist.

KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan berharap Undang Undang tentang Kebudayaan yang masih dalam pembahansan RUU dapat meningkatkan ketahanan budaya bangsa.

“RUU Kebudayaan ini isu dasarnya mendorong ketahanan budaya dan pembentukan karakter bangsa. Perang jaman sekarang menggunakan kebudayaan,” kata Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid saat Seminar Nasional Kebudayaan di Jakarta, Rabu (8/2), seperti dikutip Antara.

Dia mengatakan anak-anak sekarang lebih memahami bahasa asing dibandingkan bahasa daerahnya karena bahasa daerah tidak ada di layar kaca.

Oleh sebab itu Ketahanan budaya menjadi isu dasar untuk muncul dalam undang-undang ini. Selain itu dalam undang-undang tersebut diharapkan dapat membentuk karakter masyarakat yang mampu berinovasi berbasis ilmu pengetahuan dan identitas.

“Saat ini sekolah hanya memberikan ilmu pergi. Setelah mendapat ilmu lalu pergi meninggalkan identitasnya sebagai bangsa Indonesia. Dapat menguasai bahasa lain dianggap sebagai kemajuan. Kita tidak ingin masyarakat meninggalkan identitasnya,” kata dia.

Selain itu diharpkan dengan adanya Undang-Undang Kebudayaan akan membentuk masyarakat yang adaktif dalam menghadapi perubahan, menjalin komunikasi lintas budaya, berfikir terbuka dan kritis serta kolaborasi.

“Komunikasi lintas budaya adalah prinisp yang lebih maju satu langkah dari keragaman. Keragaman hanya mengakui perbedaan saja tetapi tidak menyatu, semua bergerak masing-masing,” kata dia.

Sementara itu Ketua Panja RUU Kebudayaan Komisi X DPR Ferdiansyah mengatakan ketahanan budaya akan membentuk masyarakat yang memiliki hubungan sosial yang sehat dan tidak gampang terpecah belah.

Selain itu dia mengatakan Undang-Undang Kebudayaan ini bukanlah bentuk pembatasan bagi penggiat kebudayaan untuk berekspresi. “Kebebasan ekspresi tetap dijamin, namun harus sesuai dengan prinsip-prinsip Pancasila,” kata dia.

Pembahasan RUU ini adalah untuk melaksanakan amanat Pasal 32 ayat (1) UUD 1945 mengenai peran Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budaya.

Anang: Harus Dikonkretkan
Sebelumnya secara terpisah, anggota Komisi X DPR RI Anang Hermansyah mengatakan komitmen pemerintah untuk memperhatikan aspek seni dan budaya sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia harus dikonkretkan dengan kebijakan politik nyata.

“Jika tidak, niatan tersebut hanya berujung retorika saja,” kata Anang Hermansyah kepada Republika.co.id di Jakarta. Anang mengemukakan pula mengenai urgensi pembentukan badan khusus tentang kebudayaan. Terlebih, Presiden RI Joko Widodo menegaskan pentingnya penguatan sektor seni dan budaya.

Anang merespons pernyataan Presiden dalam acara Forum Rektor yang menyebutkan tentang perlunya pengembangan seni dan budaya untuk menunjang perekenomian di sektor pariwisata.

“Saya menyambut baik pernyataan Presiden tentang pengembangan seni dan budaya,” ujar anggota Fraksi PAN ini. “Harapannya, pernyataan tersebut ditindaklanjuti dengan membuat kebijakan yang konkret.”

Dalam pembahasan RUU Kebudayaan yang saat ini masih berlangsung di DPR, kata Anang, direkomendasikan agar dalam RUU Kebudayaan dibentuk lembaga kebudayaan yang sifatnya independen dengan difasilitasi Pemerintah.

Dalam rapat awal Februari lalu, disepakati paling lambat pengesahan RUU Kebudayaan menjadi UU pada 17 April 2017.

Menurut Anang, salah satu yang krusial dalam pembahasan RUU Kebudayaan, yakni terkait dengan lembaga khusus yang membidangi sektor budaya. (sak)

Sundang Majapahit, Bela Diri Asli Nusantara

foto
Seni bela diri asli Nusantara, Sundang Majapahit dipelajari di luar negeri. Foto: Groupon.sgcom.

APA seni bela diri yang Anda minati? Bagi penggemar bela diri, Anda pasti sudah tak asing lagi dengan Taekwondo, Kung Fu, Karate, Kick Boxing dan Muay Thai yang berasal dari luar negeri. Tapi tahukah Anda bahwa Nusantara pun dilimpahi ragam ilmu Bela Diri yang tak kalah dahsyatnya dengan negeri Asia lain?

Salah satunya yang sudah dikenali adalah Pencak Silat. Bela diri tradisional satu ini sudah melanglang buana ke luar negeri. Kehebatan jurus-jurusnya pun sudah diakui dunia dan bahkan disejajarkan dengan Taekwondo dari Korea Selatan serta Karate dari Jepang.

Nah, ternyata selain Pencak Silat, ada bela diri lain dari Nusantara yang usianya lebih tua, spektakuler, namun belum familiar. Namanya Sundang Majapahit. Sayangnya bela diri ini sudah jarang dipelajari lagi di Nusantara.

Seperti dirilis Suratkabar.id, Sundang Majapahit justru dikembangkan hingga sekarang dan menjadi salah satu seni bela diri khas Filipina.

Disana seni Bela Diri ini disebut sebagai Kali/Tali Majapahit. Padahal dulunya bela diri ini diajarkan pada pasukan elite Majapahit. Mengapa kini malah ada di Filipina?

Setelah kerajaan Majapahit hancur dan tak terselamatkan, Sundang Majapahit lalu menghilang dan tak bisa ditemukan lagi.

Beberapa kerajaan yang dahulu pernah diajarkan bela diri Sundang Majapahit pun sudah banyak yang punah, terkecuali kerajaan Sulu yang terletak di Filipina. Maka dari itu bela diri ini masih lestari di Filipina.

Sebagai salah satu kekayaan Nusantara yang mestinya dilestarikan, berikut beberapa fakta seputaran Sundang Majapahit yang layak diketahui.

Dipelajari Pasukan Elite
Sundang Majapahit dulu dipelajari prajurit dari Pasukan Elite Kerajaan Majapahit. Hanya pasukan terbaiklah yang boleh mempelajari bela diri ini.

Seperti yang diceritakan dalam sejarah, Kerajaan Majapahit mengajarkan teknik berperang yang unggul sampai-sampai prajuritnya sulit sekali untuk dikalahkan.

Orang yang pertama kali memperkenalkan Sundang Majapahit sebagai seni bela diri khas Majapahit ini adalah Mahesa Anabrang. Dia merupakan salah satu pentolan Kerajaan Majapahit.

Mahesa Anabrang menggabungkan seni bela diri militer yang dimiliki Kerajaan Singosari dan Kerajaan Dharmasraya asal Sumatera Barat. Penggabungan dua seni bela diri yang unik ini akhirnya melahirkan Sundang Majapahit. Kata Sundang sendiri artinya keris dengan bilah lebar seperti pedang.

Berbekal ilmu Sundang Majapahit, seorang prajurit perang bisa menggunakan teknik patahan yang dikombinasikan dengan beberapa senjata, contohnya pedang dan keris.

Konon kombinasi Sundang Majapahit yang dipadukan dengan pedang di tangan kiri serta keris di tangan kanan dapat langsung menebas lawan tewas di tempat.

Tak Terhentikan
Sundang Majapahit ini ternyata dikenal amat sangat mematikan. Ilmu bela diri satu ini memiliki teknik pertarungan yang terbagi menjadi beberapa unsur.

Unsur pertahanan disebut dengan Sundang Gunung. Untuk menyerang dan menaklukkan, digunakan Sundang Kali dan Sundang Laut. Ada pun teknik Sundang Angin digunakan untuk bentuk penyusupan. Terakhir adalah Sundang Matahari yang digunakan untuk melindungi raja beserta keluarganya.

Kelima unsur Sundang Gunung, Kali, Laut, Angin dan Matahari tersebut dapat dikombinasikan satu dengan yang lainnya. Keseluruhannya mempunyai fungsi tersendiri yang akan membantu memenangkan sebuah pertarungan.

Segenap teknik tersebut, selama dilakukan sesuai ajaran yang baik dan benar, akan menjadi semakin mematikan lagi dengan sokongan senjata pedang dan keris.

Ilmu ini dikatakan tak terhentikan. Sekalinya Sundang Majapahit sudah digunakan untuk menyerang lawan, maka siapa saja yang jadi lawannya kemungkinan besar akan kehilangan nyawa.

Konon tidak banyak yang bisa menguasai bela diri ini. Tidak sembarang orang yang mampu mempelajari Sundang Majapahit, lantaran saking saktinya. Mahesa Anabrang lantas menurunkan ilmunya tersebut pada keturunannya yang bernama Adityawarman.

Dari Adityawarman inilah Sundang Majapahit kemudian disebarkan ke pasukan-pasukan Kerajaan Majapahit, juga kerajaan bawahannya seperti Dharmasraya yang ada di Sumatera, Bugis Gowa, dan Sulu yang ada di Filipina.

Seni bela diri merupakan salah satu ragam kesenian yang menitikberatkan pada pertahanan, perlindungan dan pembelaan terhadap dirinya sendiri.

Pada zaman kuno sebelum adanya persenjataan modern, manusia tidak memikirkan cara lain untuk mempertahankan dirinya selain dengan tangan kosong.

Pada saat itu, kemampuan bertarung dengan tangan kosong dikembangkan sebagai cara untuk menyerang dan bertahan, selain digunakan untuk meningkatkan kemampuan fisik atau badan seseorang.

Meski begitu, pada zaman-zaman selanjutnya, persenjataan pun mulai dikenal dan dijadikan sebagai alat untuk mempertahankan diri.

Dapat dikatakan bahwa seni bela diri tersebar di seluruh penjuru dunia ini. Hampir setiap negara mempunyai seni bela diri yang berkembang di daerah masing-masing.

Ada juga seni bela diri yang merupakan sebuah serapan dari seni bela diri lain yang dikembangkan dari daerah asalnya. Sebagai contoh, Pencak Silat adalah seni bela diri yang berkembang di negara ASEAN dan terdapat di Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Brunei.

Kini, Sundang Majapahit alias Kali Majapahit pun dikenal dari Filipina. Meski begitu, seni bela diri ini merupakan asli Nusantara yang adalah bukti dari keberlimpahan Tanah Air Indonesia. (ist)

Ghunong Panceng Simpan Potensi Cagar Budaya

foto
Suyanto dan Hanafi menunjukkan pecahan artefak kuno yang ditemukan. Foto: Suarajatimpost.com.

GHUNONG Panceng adalah sebuah bukit di Desa Bantal Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo. Di kawasan ini, sejak bertahun tahun lamanya, masyarakat sekitar kerap menemukan sejumlah artefak kuno.

Di tempat yang menurut warga cukup angker itu, warga sering menemukan fragmen keramik, gerabah, batu pipisan dan sejumlah manik manik.

Menurut Suyanto (60) warga asli Mojokerto yang telah lebih 10 tahun domisili di Bantal, sering menemukan artefak kuno.

“Kadang saya juga menemukan tulang. Pernah juga mahkota dari kuningan, hanya dibawa adik saya dulunya. Yang banyak pecahan gerabah,” ungkap pria yang kesehariannya membuat bata merah kepada Suarajatimpost.com.

Suyanto mengisahkan jika situasi di Ghunong Panceng sepi, cenderung jauh dari permukiman.

“Tapi tanah di sini cocok untuk bikin bata merah. Jadi, benda-benda itu kita temukan secara tak sengaja saat kita menggali tanah saat bikin adonan bahan bata merah,” ujar Suyanto.

Di sisi lain, selama Suyanto bekerja di kawasan bukit dan lembah tersebut, tak jarang ia melihat penampakan harimau. “Ya, harimau jadi-jadian, bukan harimau asli, biasanya muncul malam hari kalau saya bakar bata merah,” katanya.

Tapi ia mengaku tidak takut. Ia mengaku sudah terbiasa dengan hal mistis seperti itu. Sementara itu, Hanafi Raf dari Relawan Budaya Balumbung menyatakan jika lokasi itu memang cukup wingit.

“Ada lingga patok tak jauh ke arah barat sebelah Ghunong Panceng. Kami menganalisa bahwa di sini bukan sekedar tempat yang wingit,tapi bekas sebuah permukiman kuno,” ujar Hanafi.

Ia membenarkan tentang temuan-temuan artefak itu sejak lama. “Kita masih penasaran dengan benda benda lainnya. Dulu pernah dilaporkan ada temuan struktur tapi sudah rusak. Dan gua kecil di atas bukit juga masih menyimpan misteri, karena fragmen fragmen keramik dan gerabah juga bertebaran di titik gua itu,” terangnya.

Yang pasti, kata dia, sebagai masyarakat setempat, dirinya merasa berkewajiban menyelamatkan benda benda cagar budaya itu untuk disimpan dan dilestarikan. (ist)

Menyelamatkan dan Mengemas Budaya ala Kitab

foto
Cindera mata terkait budaya Indonesia bisa disajikan dengan apik oleh Kitab. Foto: Surabaya.tribunnews.com.

SEKILAS terdengar unik mendengar nama Kitab, produk yang lahir dari tangan kreatif alumnus Universitas Ciputra, Lutfi Ariefiandi. Kitab, produk cindera mata berbahan dasar kayu jati.

Berbentuk kemasan berdesain elegan, berisikan benda yang berhubungan langsung dengan budaya Indonesia, seperti batik, wayang, dan topeng.

Uniknya, pengemasannya layaknya buku dan ketika pembeli membukanya di sisi kanan-kirinya dinding kemasan menyertakan kisah atau cerita dan petunjuk tentang produk yang terdapat di dalam kemasan.

Lutfi seperti dikutip Tribunnews menuturkan, redaksi (penjelasan) yang dimuat di dalam kemasan Kitab berisi tentang beberapa hal yang berhubungan langsung dengan sejarah maupun filosofi dari produk yang dimuat. Hal tersebut merupakan instrumen edukasi budaya yang melekat pada produk Kitab.

“Kami tidak sembarangan dalam menuliskan redaksi, bahkan untuk penulisan sejarah wayang Arjuna saja kami menggunakan translator bahasa Inggris berbayar karena memang konsepnya ada redaksi bahasa Inggris dan bahasa Jawa standarnya,” terang Lutfi saat ditemui di Kantor Kitab, Jalan Ngagel Jaya Selatan I/26 Surabaya.

Lutfi menambahkan alasan diberi nama Kitab sendiri karena secara harfiah “kitab” merupakan sesuatu yang memuat tentang informasi ataupun pengetahuan. “Ya dan juga saat kita menyebutkan kitab secara terbalik akan menjadi batik, salah satu warisan budaya indonesia,” tambahnya.

Dalam proses produksi Kitab dibantu tenaga ahli, yakni perajin wayang tiga hingga lima orang dan perajin rakit sebanyak lima hingga tujuh orang. Dengan jumlah perajin tersebut, mereka mampu membuat Kitab sebanyak 50 hingga 100 buah.

Sekarang Kitab tidak hanya berisi wayang, namun juga ada batik, dan topeng. Untuk satu unit Kitab dibanderol harga fantastis Rp 670.000.

Menawarkan konsep unik dan cemerlang, tidak heran bila konsumen penikmat Kitab adalah kalangan menengah atas dan sebagian besar adalah bule. Lutfi menambahkan, produk Kitab biasa dijadikan suvenir untuk tamu-tamu penting di kedutaan besar. (ist)