Tahun ini Kemendikbud akan bangun 19 Rumah Budaya Indonesia di luar negeri. Foto: Antara.com.
KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan berencana membentuk 19 Rumah Budaya Indonesia (RBI) di sejumlah negara pada tahun ini.
Adapun, negara-negara tersebut antara lain Amerika Serikat, Australia, Arab Saudi, Belanda, Filipina, dan China. Program ini merupakan lanjutan dari 10 unit RBI yang sudah terbentuk di 10 negara berbeda.
“Anggaran yang disiapkan sekitar Rp 5 miliar untuk membangun RBI itu. Untuk tahun lalu, anggaran sedikit lebih besar yakni Rp 10 miliar. Kami mengharapkan RBI bisa menjadi acuan informasi warga negara lain mengenai Indonesia,” kata Pejabat Fungsional Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud Wahyu Warsita kepada Bisnis.com.
Sebagai embrio RBI, Kemendikbud mulai merintis Indonesia Corner dengan alternatif lokasi di KBRI/KJRI setempat, universitas dan sekolah. Nantinya, masyarakat setempat akan disuguhkan beragam informasi mengenai Indonesia mulai dari koleksi buku bacaan, pemutaraan film, festival budaya, dan festival kuliner.
Setidaknya pada tahun ini, Kemendikbud memprioritaskan target tujuan diplomasi budaya ke 46 negara. Diplomasi budaya tersebut akan diupayakan melalui pembentukan RBI, kerja sama internasional, pengiriman misi budaya, dan keikutsertaan delegasi RI ke Festival Europalia Indonesia.
Menurutnya, diplomasi budaya tersebut merupakan salah satu cara pemerintah untuk memperkuat citra Indonesia, menjalin jejaring budaya, tukar menukar informasi mengenai budaya dengan negara lain, dan branding mengenai potensi pariwisata Indonesia.
Tak hanya itu, diplomasi budaya itu akan diperkuat dengan penempatan guru Bahasa Indonesia untuk mengajarkan Bahasa Indonesia secara gratis kepada masyarakat setempat.
“Di beberapa negara, misalnya Afghanistan sudah ada permintaan mengenai Indonesia Corner. Belum bisa segera kami layani karena keterbatasan soal administrasi dan anggaran,” ucapnya.
Lebih lanjut, Kemendikbud akan menindaklanjuti sejumlah kesepakatan, perjanjian, dan dan letter of intent yang sudah diteken pemerintah dengan negara mitra.
Sampai dengan Desember 2016, terdapat 57 negara mitra Indonesia terkait perjanjian kebudayaan dengan komposisi Asia Pasifik dan Afrika (28 negara), serta Amerika dan Eropa (29 negara). (ist)
Warga Desa Sukowean di Trenggalek menemukan Arca yang diduga era Majapahit. Foto: Detik.com.
MASHUDI, warga Desa Sukowetan, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek, menemukan sebuah arca dan sejumlah batuan yang diduga merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit. Benda purbakala itu ditemukan saat menggali ladang untuk kolam lele.
“Kemarin itu saya bersama istri rencanaya mau membuat kolam lele di belakang rumah, namun saat menggali sekitar kedalam 30 sentimeter cangkul saya membentur batu dan ternyata arca ini,” kata Mashudi kepada detikcom, Rabu (1/2).
Saat pertama kali ditemukan, arca yang memiliki tinggi 54 sentimeter ini dalam posisi tengkurap dan tertutup oleh beberapa batu lain. Penasaran dengan keberadaan benda itu, akhirnya ia melakukan penggalian lagi hingga menemukan dua potongan arca yang saling terkait.
Awalnya, Mashudi mengaku tidak menyangka jika batu tersebut merupakan arca, karena selama ini di warga di sekitar rumahnya tidak pernah ada yang menemukan benda sejenis.
“Yang ada itu batu yang bentuknya hampir persegi, tapi itu ada kaitannya dengan ini atau tidak saya tidak tahu,” ujarnya.
Temuan arca tersebut, kini menjadi perhatian masyarakat, puluhan warga yang penasaran beramai-ramai mendatangi rumah Mashudi untuk menyaksikan langsung arca dan beberapa batu yang lain.
Sementara itu Kasi Pelestrian Budaya dan Sejarah, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Trenggalek, Agus Prasmono menjelaskan, dari analisa awal, patung yang ditemukan Mashudi tersebut merupakan arca Siwa.
“Benda ini kemungkinan adalah peninggalan Kerajaan Majapahit, karena di sekitar wilayah Trenggalek juga banyak ditemukan benda-benda sejenis dari era yang sama,” terangnya.
Rencananya, untuk mengetahui secara pasti asal usul arca tersebut, pihaknya akan berkoordinasi dengan Balai Arkeologi Yogjakarta serta Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto guna dilakukan penelitian lebih lanjut.
“Untuk sementara arca masih disimpan oleh Pak Mashudi, nanti selanjtnya akan ada tindak lanjut dari pemerintah dan instansi yang berwenang,” ujarnya saat meninjau lokasi penemuan. (ist/detikcom)
Makam Setono Gedong menjadi Wisata Religi di Kota Kediri. Foto: Strangerinparadise.com.
PEMERINTAH Kota Kediri berencana membenahi wisata religi makam Al-Wasil Syamsudin atau Mbah Wasil di Setono Gedong, Kota Kediri, sebagai upaya menarik kunjungan wisatawan ke kota ini.
“Kami sudah melakukan untuk rencana perbaikan, termasuk koordinasi melibatkan BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Mojokerto,” kata Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Kediri Nur Muhyar di Kediri seperti dikutip AntaraJatim, pekan lalu.
Ia mengatakan, dalam rencana perbaikan lokasi wisata religi makam Mbah Wasil tersebut memang harus melibatkan BPCB, sebab lokasi tesebut merupakan sebuah situs.
Tim dari BPCB tersebut bahkan sudah meninjau langsung ke lokasi makam akhir Desember 2016, guna memantau rencana perbaikan apakah akan merusak situs atau tidak.
Dari hasil pertemuan itu, ternyata diizinkan dan tidak perlu ada kajian khusus untuk proses perbaikan. “Hasil rekomendasi tidak perlu ada kajian khusus untuk proses rehab,” ujarnya.
Nur mengatakan, selain koordinasi dengan tim BPCB, pemkot juga harus koordinasi dengan ahli waris. Hal itu dilakukan, agar proses perbaikan bisa berjalan dengan lancar, serta tidak ada masalah ke depannya.
Menyangkut besarnya anggaran, Nur mengaku belum mengetahui dengan pasti. Saat ini masih dilakukan pembahasan intensif oleh tim khusus. Jika terpaksa tidak dilakukan pada 2017, rencananya akan dilakukan pada 2018.
Di situs Setono Gedong, selain terdapat makam Syaikh Syamsuddin Al-Wasil, juga terdapat makam Sunan Amangkurat Mas III, yang merupakan Raja Solo ke-3, serta sejumlah tokoh lainnya.
Syaikh Syamsuddin Al Wasil yang di dalam Kitab Kakawin Hariwangsa disebutkan sebagai guru spiritual Prabu Joyoboyo.
Syaikh Syamsuddin Al-Wasil sendiri dari Negeri Ngerum/Rum (Persia).
Datang ke Kediri untuk berdakwah dan atas permintaan Raja Kadiri Sri Maharaja Mapanji Jayabhaya untuk membahas kitab Musyarar yang berisi ilmu pengetahuan khusus seperti perbintangan (ilmu falak) dan nujum (ramal-meramal).
Situs yang merupakan peninggalan abad ke-12 itu juga menjadi salah satu destinasi kunjungan wisata religi di Jatim. Di situs yang diperkirakan peninggalan Prabu Joyoboyo itu menjadi sentra pendidikan Islam serta pengajian rutin yang dihadiri ribuan orang dari berbagai daerah.
Di situs tersebut, beberapa kali mengalami perbaikan. Misalnya, proses perluasan masjid yang dilakukan sejak 2013. Biaya yang diperlukan untuk perluasan itu sekitar Rp 3,5 miliar, dengan rentang perbaikan sekitar empat tahun. (ant)
Pengurus Dewan Lembaga Pelestari Adat dan Kebudayaan Majapahit. Foto: RadarMojokerto.JawaPos.com.
BUPATI Mojokerto Mustofa Kamal Pasa mengapresiasi ide-ide segar Dewan Lembaga Pelestari Adat dan Kebudayaan Majapahit terkait dengan pelestarian budaya dan upaya menghidupkan nuansa Majapahit di kabupaten itu.
“Peran aktif dan sinergi lembaga adat dengan pemerintah, mampu membangkitkan kembali gairah seni budaya maupun kearifan lokal,” kata bupati yang sering disebut MKP itu di sela audiensi dengan Dewan Lembaga Pelestari Adat dan Kebudayaan Majapahit di peringgitan rumah dinas bupati, seperti dikutip AntaraJatim, pekan lalu.
Ia mengemukakan, peranan aktif dari lembaga pemerhati seni adat dan budaya maupun kearifan lokal, sangat dibutuhkan demi eksisnya identitas budaya asli di Kabupaten Mojokerto.
“Kami menyambut positif ide-ide segar dari Dewan Lembaga Pelestari Adat dan Kebudayaan Majapahit. Selanjutnya akan kami komunikasikan lebih lanjut bagaimana langkah selanjutnya,” kata bupati yang didampingi Plt Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Mojokerto Didik Chusnul Yakin.
Sementar juru bicara Dewan Lembaga Pelestari Adat dan Kebudayaan Majapahit, Ki Gitut menyampaikan beberapa program kerja jangka panjang maupun pendek, di antaranya adalah harapan untuk mereplika kembali Kerajaan Majapahit.
“Nantinya ada suatu kawasan yang bisa dimanfaatkan sebagai objek wisata, dengan kekhasan Majapahit yang kental sebagai daya tariknya. Mencari nasab atau keturunan Majaphit, dan sowan ke paguyuban raja-raja Nusantara juga merupakan bagian dari impian kami,” katanya.
Sementara itu, ketua rombongan kegiatan, Purwanto, menyampaikan maksud yang senada dengan Gitut. Dirinya menambahkan jika mereka ingin membentuk badan pelestari desa di tiap wilayah Kabupaten Mojokerto.
“Kami ingin bersinergi dengan pemerintah maupun masyarakat, yang memiliki pandangan serta harapan sejalan dengan visi misi kami,” katanya.
Menurutnya, jika kawasan khas Majapahit bisa segera direalisasikan, pihaknya juga berharap ada bangunan tempat-tempat ibadah seluruh agama yang diakui di Indonesia.
“Tidak lupa fasilitas dan sarana pendukung seperti sentra kerajinan khas Majapahit dan pusat kuliner. Itu mimpi kami, semoga bisa diwujudkan segera,” Purwanto dalam keterangan pers.
“Kami juga mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Kabupaten Mojokerto yang sangat serius meletakkan Majapahit dalam tiap sendi pembangunan. Contohnya Kampung Majapahit, pembangunan pendopo kecamatan, serta infrastruktur jalan,” imbuhnya. (ant)
Museum Mpu Purwa saat masih direnovasi. Foto: Malangvoice.com.
MUSEUM Mpu Purwa yang berlokasi di Jalan Soekarno Hatta, Kota Malang, dalam waktu dekat ini segera dibuka kembali untuk umum, setelah ditutup selama hampir satu tahun karena direnovasi total.
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni kepada AntaraJatim di Malang, mengatakan meski sudah tuntas pembangunan ruang-ruang pamer berbagai benda bersejarah, museum tersebut baru akan dibuka paling cepat April mendatang.
“Kami masih menunggu pembenahan penataan taman dan halaman museum. Sekarang kami masih mengajukan anggaran ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Pembangunan museum menggunakan dana APBN, jadi pembenahan halaman juga pakai APBN,” urainya, pekan lalu.
Jumlah anggaran yang dipakai untuk revitalisasi Museum Mpu Purwa sebesar Rp 4,7 miliar. Sebenarnya, Disbudpar menerima anggaran sebesar Rp 5 miliar, namun sisanya dikembalikan ke kas negara karena ada beberapa pembangunan yang tidak bisa direalisasikan.
Ia menerangkan di lantai satu bangunan museum, ada sekitar 100 arca dan prasasti di tata lengkap dengan informasi pendek dan barkode, serta didesain modern. Sementara di lantai dua sebagaian besar berisi diorama cerita masa lalu. Pencahayaan dan konsep bangunannya juga sudah siap.
Sementara itu, anggota Tim Ahli Cagar Budaya Dwi Cahyono meyakini Museum Mpu Purwa akan menjadi museum terbesar di Malang Raya milik pemerintah.
Selain Museum Mpu Purwa, pemerintah juga memiliki museum di Singosari, Kabupaten Malang, namun hingga kini museum tersebut masih berupa bangunan dan belum berisi arca atau prasasti.
Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) itu mengakui secara keseluruhan penataan Museum Mpu Purwa sangat bagus, tapi dari segi konten masih banyak yang harus ditambah. “Keberadaan museum ini masih perlu dibenahi dan dikuatkan,” katanya.
Benda-benda yang bisa dilacak lokasi asalnya, lanjut Dwi, harus digambarkan dengan gamblang (jelas). Sebab, pengunjung museum perlu tahu bagaimana gambarannya. Contohnya, dengan memasang gambar lokasi temuan di latar belakang dinding dekat arca.
Sedangkan untuk koleksi di Museum Mpu Purwa masih sebatas peninggalan Hindu-Budha. Koleksi arca, prasasti, atau peninggalan lain, sementara peninggalan budaya Islam sangat minim, bahkan praktis tidak terlihat. Disbudpar harus menyisipkan unsur itu sebagai tambahan informasi bagi pengunjung.
“Harapan saya, secara bertahap koleksi Museum Mpu Purwa ini semakin lengkap. Benda-benda bersejarah, baik berupa arca atau prasasti yang masih ‘berserakan’ di sejumlah tempat bisa disatukan dan menjadi koleksi museum ini,” ucap Dwi. (ant)
Banyuwangi Festival (B-Fest) 2017 dilaunching di bawah kaki Gunung Ijen. Foto: KompasTravel.
SELAMA tahun 2017 ada 72 event yang digelar di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Ada event seni, budaya, olahraga dan musik dan wisata. Banyuwangi Festival (B-Fest) 2017 di-launching, Rabu (25/1) di Desa Banjar, Kecamatan Licin yang berada di bawah kaki Gunung Ijen.
Pada launching tersebut juga diresmikan festival sedekah oksigen dengan penanaman pohon trembesi oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan dikuti oleh forum pimpinan daerah Banyuwangi di sepanjang jalan utama Desa Banjar.
Banyuwangi Festival (B-Fest) tetap menyajikan agenda yang telah menjadi ikon daerah, seperti Internasional Tour de Banyuwangi Ijen (27-30 September), Banyuwangi Ethno Carnival (11 November), Festival Gandrung Sewu (8 Oktober), Banyuwangi Beach Jazz Festival (2 September), dan Jazz Ijen (6-7 Oktober).
Selain itu, ada deretan acara anyar yang akan menjadi magnet baru pariwisata Banyuwangi seperti Banyuwangi Sail Yacht Festival (15 September) dan Festival Bambu (12-13 Mei).
“Selain di Desa Banjar nanti kita juga akan launching di Jakarta difasilitasi Kementerian Pariwisata dan Banyuwangi juga akan hadir di Fashion Week yang menjadi rangkaian B-Fest 2017 digelar di Convention Centre, Jakarta, 4 Februari nanti. Jadi di Indonesia Fashion Week, akan mengusung tema Banyuwangi,” jelas Abdullah Azwar Anas kepada KompasTravel, Rabu (25/1).
Anas mengatakan, Banyuwangi Festival digelar setiap tahun bukan hanya untuk mendongkrak sektor wisata, tetapi sekaligus upaya untuk mewadahi dan menumbuhkan kreativitas komunitas-komunitas yang ada di Banyuwangi seperti Festival Sastra yang akan digelar pada 26-30 April 2017.
“Selain festival sastra, ada juga Festival Teknologi Inovatif yang tujuannya tak lain untuk merangsang minat anak muda pada sastra dan inovasi teknologi. Kalau difestivalkan, tumbuh perhatian pada dua bidang tersebut,” ujar Anas.
Menurut Anas, B-Fest 2017 akan menjadi ajang istimewa bagi industri fashion daerah. Tahun ini ada 5 agenda untuk memamerkan potensi desainer daerah, mulai dari ajang Indonesia Fashion Week (4 Februari), Green & Recycle Fashion Week (25 Maret), Kebaya Festival (22 April), Banyuwangi Batik Festival (29 Juli), dan Banyuwangi Fashion Festival (14 Oktober).
Pada B-Fest 2017 mewadahi sektor ekonomi kreatif seperti Festival Video Kreatif (26 Juli) yang menampilkan potensi tiap desa dan Festival Dandang Sewu (4-5 Agustus) yang menyajikan kreasi di sentra produksi alat masak yang sentranya berada di Kecamatan Kalibaru.
Sejumlah tradisi asli Banyuwangi juga masuk dalam B-fest 2017 antara lain Barong Ider Bumi (26 Juni), Seblang (30 Juni dan 5 September), Tumpeng Sewu (24 Agustus), Kebo-keboan (14 September dan 1 Oktober), hingga Petik Laut (4 dan 23 Oktober).
”Kami juga menggelar Agro Expo (13-20 Mei), Festival Durian (20 Mei), dan Fish Market (3 Oktober) untuk menguatkan dan mempromosikan produk pertanian seperti durian merah yang menjadi buah khas Banyuwangi,” ujar Anas.
Dari sisi sport tourism, selain International Tour de Banyuwangi Ijen (27-30 September), ada Banyuwangi International Ijen Green Run (23 Juli), Banyuwangi International BMX (22-23 April), dan Kite and Wind Surfing Competition di Pulau Tabuhan (26-27 Agustus).
Selain itu, B-Fest masih diwarnai Festival Toilet Bersih, Festival Sedekah Oksigen, dan Festival Sungai Bersih yang digelar sepanjang tahun. Tak lupa ada Festival Banyuwangi Kuliner (12 April) dan Festival Kopi (18 Oktober).
“Tahun ini Festival Kuliner mengangkat pecel pithik, salah satu kuliner khas masyarakat Suku Osing Banyuwangi. Jadi tahun ini lebih beragam mulai dari pecel pitik sampai batik,” pungkas Anas. (ist/Kompas)
Presiden Jokowi saat acara Seni dan Budaya pada peringatan Hari Sumpah Pemuda 2016 lalu. Foto: Setneg.
PRESIDEN Joko Widodo melihat bahwa kekayaan seni budaya seperti tari-tarian, benda budaya, kuliner dan tempat wisata berpotensi untuk digali lebih dalam dan dipromosikan lebih luas, sehingga mampu menggerakan roda-roda ekonomi.
Untuk itu, Presiden berniat menjadikan kekayaan seni-budaya di Indonesia sebagai kekuatan daya tarik untuk meningkatkan ekonomi nasional.
“Saya kadang-kadang berpikir apakah kita tidak sebaiknya mengembangkan ‘core business’ kita di bidang seni-budaya, yang nanti dikaitkan dengan ekonomi pariwisata,” kata Presiden Jokowi di Balai Sidang Jakarta, Kamis (2/2), saat acara Forum Rektor Indonesia.
Menurutnya, Indonesia perlu mengkaji dasar keahlian yang berpotensi untuk dikembangkan oleh masyarakat sebagai salah satu bidang yang mampu menggerakan ekonomi.
Jokowi mengatakan bahwa negara lain tidak memiliki ribuan jenis kekayaan seni budaya seperti Indonesia, sehingga hal tersebut dianggap sebagai kekuatan yang dimiliki Indonesia.
“Di kita (Indonesia), mau cari tarian apapun dari Sabang sampai Merauke mungkin dikumpulkan lebih dari 10 ribu atau 15 ribu ada mungkin macam-macamnya dan ini kekuatan menurut saya,” tegas Jokowi seperti dikutip Antara.
Indonesia, kata dia, dapat menggabungkan potensi seni dan budaya yang dipadukan dengan destinasi pariwisata dan keindahan alam yang diharapkan mampu menggerakan ekonomi bangsa.
“DNA kita mungkin di situ dan kalau ini kita ‘link-kan’ dengan ekonomi pariwisata kita, keindahan alam kita, mungkin itu akan menjadi kekuatan negara kita ke depan, tambah Presiden Jokowi. (ist)
Arif giat menghidupkan potensi tari Jatim, bertekad menyejajarkan dengan Jogja maupun Bali yang sudah mendunia. Foto: Jawapos.com.
PENDAPA Cak Durasim terlihat semarak. Malam itu, 35 tim beradu kebolehan menampilkan tari daerah. Mereka merupakan wakil TK, SD, dan remaja (SMP dan SMA). Kebanyakan justru tak datang dari Surabaya, melainkan dari beberapa kabupaten/kota di Jawa Timur. Ada yang datang dari Blitar, Ponorogo, Jember, dan Mojokerto.
Tarian yang dibawakan juga bervariasi. Beberapa memang membawakan tari khas daerah asal masing-masing. Lengkap dengan kostum serta dandanan yang selaras dengan tema tarian.
Lomba tersebut merupakan salah satu upaya Arif untuk melestarikan tari daerah. Menurut dia, rasa cinta terhadap budaya lokal harus ditanamkan sejak kecil. Karena itu, melalui lomba tersebut, seluruh potensi tari Jawa Timur bisa bertemu. Lewat ajang itu pula dia bisa mengetahui perkembangan seni di daerah.
Memang, Arif sedang giat menghidupkan potensi tari Jawa Timur. Dia menginginkan provinsi ini bisa sejajar dengan Jogja maupun Bali yang tari daerahnya sudah mendunia.
Selain memoles potensi anak-anak lewat sanggar tari miliknya, yakni Raff Dance Indonesia, Arif getol mengadakan pelatihan guru tari. “Paling cepat kalau guru yang menanamkan kepada mereka di sekolah,” ujarnya kepada Jawapos.com.
Hampir tiap tahun Arif melakukan pelatihan bagi guru tari. Diharapkan, melalui guru dan sekolah, bisa muncul generasi yang nanti bersedia melestarikan tari daerah. Harus diakui, jumlah anak muda yang bersedia menggeluti tari daerah memang tak banyak.
Contohnya, Arif menunjuk lima anak perempuan mungil yang berlatih di belakang panggung. Kelimanya tampak serius mempersiapkan diri untuk menampilkan tari dongklak.
Menurut Arif, rasa cinta terhadap budaya tak lepas dari peran guru tari. Bagi anak usia 4–5 tahun tersebut, motivasi mereka untuk tetap menari harus dipertahankan hingga besar nanti. “Caranya ya lewat sekolah. Kembali lagi karena guru,” tambah pria yang pernah menari remo di Istana Negara pada 2003 tersebut.
Selain melatih, Arif sering menciptakan karya tarian. Berbagai tarian diciptakannya dengan mengadaptasi kekhasan beberapa daerah di Jawa Timur. Misalnya, tari Kasomber dan Karapan Sapi ciptaan Arif. Dua tarian tersebut mengadopsi keunikan-keunikan budaya Madura.
Sementara itu, di Surabaya ada tari Neng Tunjungan dan Suro Waning Boyo yang kini mulai dipertontonkan dalam beragam acara. Meskipun tarian itu adalah hasil karyanya, Arif tak serta-merta menyimpan sendiri. Dia membebaskan siapa pun untuk menarikannya.
Justru dia senang jika banyak yang mempelajari dan ikut menyebarkan. Meski, terkadang ada yang iseng mengklaim karya Arif tersebut. Namun, niat melestarikan tari membuat Arif tak ingin mempermasalahkan hal tersebut.
Arif kini juga menghabiskan banyak waktu mengurusi Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya. Di sana dia menuangkan banyak ide untuk mencetak mahasiswa yang siap menjadi seniman.
Melihat jumlah mahasiswanya yang memang belum seberapa, Arif mengharapkan bibit-bibit baru tumbuh sejak dini. Sejak di TK hingga SD misalnya. Untuk itu, Arif berkomitmen terus menumbuhkan bibit-bibit itu lewat sanggar tarinya dan guru-guru tari yang dilatihnya. (ist/JP)
Ada hal-hal menarik jika kuliah Sejarah. Foto: Unair NEWS.
Sebagian dari kita, mungkin, menganggap bahwa mempelajari sejarah adalah hal yang membosankan. Hal itu disebabkan oleh banyak hal, salah satunya yakni metode pembelajaran sejarah yang kita terima di bangku sekolah tidak cukup efektif untuk membuat siswa menyenangi ilmu yang sesungguhnya penting ini.
Betapa tidak, ilmu sejarah mengajak kita mempelajari rekaman peristiwa masa lalu dari semua dimensi kehidupan yang bisa menjadi penentu langkah kebijakan di masa depan.
Koordinator Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair) Gayung Kasuma SS MHum kepada UnairNEWS mengulas tentang beberapa hal menarik jika anda kuliah di Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Unair sebagai berikut:
1. Dari Penulisan Kreatif, Membuat Film, Hingga Interpretasi Kebenaran
Pada Prodi Ilmu Sejarah Unair, ada mata kuliah Penulisan Kreatif yang mengajarkan mahasiswa untuk menulis opini, feature, artikel, puisi, hingga menulis di media massa. Karya tulis yang dihasilkan dalam mata kuliah ini kemudian diterbitkan ke dalam sebuah buku. Tentunya, topik Penulisan Kreatif ini tetap dengan nuansa sejarah.
Ada juga mata kuliah Visualisasi Sejarah. Karya yang dihasilkan mata kuliah ini yaitu film dokumenter yang berkaitan dengan peristiwa sejarah. Film merupakan media yang cukup efektif dalam penyampaian pesan, utamanya sebuah peristiwa sejarah.
Departemen Ilmu Sejarah Unair pada tahun 2011 lalu, mendapat dana dari Program Hibah Kompetisi Institusi (PHKI) untuk sarana prasarana untuk perlengkapan membuat video oleh mahasiswa.
“Ini mata kuliah yang saya kira mendukung. Apalagi ada wacana jangka panjang, syarat lulus tidak harus berupa skripsi yang dicetak, tapi bisa jadi seseorang yang punya kemampuan merekam masa lalu melalui sebauh film,” ujar Gayung.
Selain itu, mahasiswa diajak menginterpretasi peristiwa melalui matakuliah Metodologi dan Praktik Penelitian Sejarah yang di dalamnya terdapat kritik sumber. Seringkali, peristiwa sejarah memiliki beragam versi. Melalui kritik sumber, mahasiswa diajak untuk menafsirkan peristiwa sejarah dari beragam sumber.
“Ada ucapan di kalangan akademisi bahwa sejarah itu milik orang yang menang, milik orang yang berkuasa. Kita tidak bisa menampik itu. Bisa jadi itu benar. Karena ditonjolkan untuk kepentingan tertentu. Bisa jadi ada relasi dengan kekuasaan, politik, dan beberapa kepentingan. Oleh karena itu ada kritik sumber,” ujar Gayung.
2. Peristiwa Sejarah Itu Tidak Pernah Titik
“Perlu dicatat bahwa peristiwa sejarah itu tidak pernah titik, dia koma. Tidak akan berakhir sebuah peristiwa menjadi absolut,” ujar Gayung.
Apa artinya? Selama proses temuan sumber yang baru, akan ada klarifikasi atau pelurusan sejarah. Di dalam prinsip sejarah ada istilah subjektifitas dan objektifitas. Selama penulisan sejarah hanya ditemukan sumber sebatas itu, ya hanya sebatas itu sejarah tercatat. Seperti kata Gayung, selama ada sumber-sumber sejarah yang baru, maka sejarah akan ditulis ulang.
3. Menerima Keberagaman Versi
Melalui kritik sumber, mahasiswa diajak menelaah sebuah peristiwa sejarah yang bersumber dari beragam versi. Mahasiswa harus memperhatikan beberapa hal, seperti siapa penulis sejarah dan dari mana sumber sejarah itu ditulis.
“Oleh karena itu, dalam sejarah bangsa kita ada berbagai peristiwa-peristiwa yang menjadi kontrovesi. Akhirnya, belajar sejarah itu kita menerima beragam versi. Nanti kita akan menentukan terhadap Kritik Sumber,” kata Gayung.
Misalnya saja, materi sejarah di buku sekolah mengatakan bahwa Indonesia dijajah Belanda hingga 350 tahun lamanya. Namun, ketika masuk perguruan tinggi dan mempelajari sejarah, akan kita temukan fakta-fakta yang beragam.
Sebab ternyata, Belanda membutuhkan waktu 300 tahun untuk menguasai wilayah-wilayah di Indonesia.
Hal itu seperti yang dituturkan Gj Resink dalam bukunya Bukan 350 Tahun Dijajah (2012), dan Jos Wibisono dalam artikelnya di Majalah Historia berjudul Mitos 350 Tahun Penjajahan (13/09/2011).
Hal itu adalah contoh kecil betapa peristiwa sejarah di masa lalu, memiliki beragam versi sesuai kepentingan penulisnya. Pemahaman mahasiswa menjadi banyak dan beragam.
Pada peristiwa G30S/PKI misalnya, kita tidak hanya mendapatkan cerita dari satu sumber saja. Namun bisa beragam sumber seperti versi pemerintah, versi tentara, versi pelaku, hingga versi korban.
4. Belajar dengan Berkunjung Langsung ke Sumber Sejarah
Semua mata kuliah yang ditawarkan pada prodi Ilmu Sejarah, mengharuskan mahasiswa untuk berkunjung di tempat-tempat bersejarah. Misalnya, pada mata kuliah Musiologi mahasiswa berkunjung ke museum.
Sehingga, belajar sejarah tidak melulu duduk di bangku dan membaca buku. Tapi berkunjung langsung ke objek peristiwa sejarah tersebut.
5. Museum Sejarah dan Budaya Adalah Satu-satunya di Indonesia
Sejak Desember 2016 lalu, telah resmi dibuka Museum Sejarah dan Budaya Unair yang dikelola oleh Departemen Ilmu Sejarah. Museum ini menjadi musem ketiga di Unair setelah Museum Etnografi (FISIP) dan Museum Pendidikan Dokter (FK).
Museum Sejarah dan Budaya Unair ini menyimpan benda-benda seperti buku kuno dan arsip penting dalam penelitian sejarah, serta foto dan benda yang merepresentasikan kegiatan sehari-hari manusia pada masa lalu, seperti proyektor kuno, keris, pedang, tombak, dan wayang.
6. Ilmumu Berguna Dimanapun Kamu Bekerja
Dari beragam ilmu yang diberikan itu, mahasiswa sejarah memiliki bekal kreatifitas dan softskill yang bisa diaplikasikan di tempat ia bekerja usai lulus kuliah. Gayung mengatakan, sebaran lulusan Ilmu Sejarah bekerja pada bidang yang beragam.
“Lulus tidak harus kerja di bidang sejarah, tapi ekspresi diri berangkat dari sejarah. Di perusahaan misalnya, mahasiswa sejarah bisa menjadi orang yang melihat rekam perusahaaan di masa lalu. Mengapa mengalami kemunduran maupun kemajuan? Analisis itu untuk memberikan kontribusi bagi pengembangan perusahaan,” ujarnya.
Jika bekerja di bidang yang linier dengan bidang sejarah, salah satu pilihannya yaitu bekerja di bidang musiologi, bekerja di permusiuman dengan menjadi kurator. (sak)
Keinginan terus aktif menggelar pameran seni rupa dengan mengangkat tema lokal sebagai langkah mempertahankan identitas kota yang lekat dengan tradisi, serta memupuk kepedulian untuk turut serta melestarikan peninggalan sejarah, mendorong 10 seniman Pasuruan dalam komunitas Bolo Kulon membuat lukisan bertema ‘Meniti Pawitra’.
‘Meniti Pawitra’ merupakan event ketiga dari rangkaian proyek bernama ‘Pasuruan Berkisah #3’, yang digagas Komunitas Bolo Kulon sebagai upaya memperkenalkan kota Pasuruan melalui karya seni.
Berbeda dengan ‘Pasuruan Berkisah #1’ (2014) maupun ‘Pasuruan Berkisah #2’ (2015) dimana para perupa bebas merespon kota, maka pada ‘Pasuruan Berkisah #3’ ini para perupa ditantang menerjemahkan Gunung Penanggungan, dahulu bernama Gunung Pawitra ke dalam karya seni.
Gunung Penanggungan yang merupakan salah satu gunung suci di Jawa dan memiliki ratusan peninggalan purbakala penegas adanya akulturasi budaya antara Jawa Kuno, Hindu-Budha, dan Islam dirasa mempunyai daya tarik yang kuat untuk diangkat.
Seperti terlihat pada karya Agung Prabowo, menampilkan karya lukis relief Gunung Penanggungan yang dibuat bersusun dan diberi judul ‘Under Contruction of Pawitra’ bercerita tentang sebuah gunung yang menyimpan banyak bukti mengenai tingginya peradaban dan etos kerja leluhur di Nusantara yang kini seolah telah pudar.
Begitu pula halnya dengan ‘Para Rsi’ karya Hafidz Ramadhan S, yang memvisualisasikan jejeran para Rsi atau kaum pertapa yang mengasingkan diri dari dunia ramai di lereng–lereng bukit gunung Pawitra gunung yang dianggap suci dan merupakan sumber kebaikan.
Tak kalah menarik karya berjudul ‘iSelfie’, karya dari Nofi Sucipto, sebuah petualangan kekinian dalam menyampaikan adanya gunung pawitra melalui foto diri.
Seniman lain yang turut melengkapi 20 karya adalah Achmad Toriq, Afif AF, Hasan Saifudin, Karyono, M. Medik, Toni Ja’far dan Yunizar Mursy.
Menghasilkan karya seni rupa dengan melibatkan kondisi sekitar sebagai materi karya merupakan cikal bakal hadirnya komunitas Bolo Kulon. Komunitas Bolo Kulon merupakan basis seni rupa yang terletak pada Pasuruan bagian Barat.
“Tercapainya interaksi antara karya dan pengunjung atau apresiator adalah inti dari pameran ini, dengan menghadirkan pengetahuan dan sudut pandang menjadi tawaran komunitas Bolo Kulon” ungkap Agung Prabowo selaku Ketua Komunitas Bolo Kulon kepada media saat pameran beberapa waktu lalu di Galeri Seni House of Sampoerna, Surabaya. (sak)