Kereta kuno peninggalan masa lampau kerajaan di Sumenep. Foto: NewsMadura.
Melalui SK Bupati Sumenep yang dikeluarkan pada Juli 2016 lalu, sejumlah Tim Ahli Cagar Budaya kini tengah melakukan penelitian di kawasan Keraton Sumenep yang dinyatakan sebagai cagar budaya.
Kepala Dinas Pariwisata, Budaya, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Sumenep Sufiyanto SE MSi mengatakan, sudah ada 200 objek yang telah diverifikasi dan dinyatakan sebagai cagar budaya di Kabupaten Sumenep.
“Namun surat rekomendasi terkait masalah itu masih belum dikirim ke Bupati,” tuturnya seperti dikutip NewsMadura, beberapa waktu lalu.
“200 objek tersebut yang ditetapkan sebagai cagar budaya di kota wisata ini sudah diserahkan kepada Tim Ahli beberapa bulan lalu. Diantara objek yang telah diverifikasi adalah benda, bangunan, situs, dan kawasan setempat,” imbuhnya.
Dia menjelaskan bahwa objek yang telah diserahkan kepada Tim Ahli itu ada 58 objek yang sudah ditelaah. Satu diantaranya sudah selesai. Oleh karena itu, masih ada 57 lagi yang sedang dalam proses kajian.
“Adapun tugas dan fungsi adanya Tim ahli itu diantaranya untuk menelaah apakah sejumlah objek yang diduga sebagai cagar budaya benar-benar pantas dikatakan cagar budaya atau bukan. Kemudian hasilnya akan diajukan kepada Bupati untuk memberi keputusan akhir,” ujar Sufiyanto.
Tim Ahli Cagar Budaya yang menerima SK Bupati Sumenep adalah R Tajul Arifin, Mohammad Saleh, Khairil Anwar, RB Muhtar, Kholiq Yulianto, Renita Salanti dan Roeska Panji Adinda.
Tim ahli tersebut yang nantinya melakukan verifikasi dan kajian apakah benda, tempat, atau situs yang didaftarkan patut dijadikan cagar budaya atau tidak.
Kawasan Keraton yang merupakan peninggalan sejarah dan cagar budaya di Kabupaten Sumenep, menjadi perhatian utama tim. “Untuk sementara, yang selesai dibahas dan dinyatakan sebagai cagar budaya oleh tim ahli hanya kawasan keraton,” kata Sufiyanto.
Meski sudah ditetapkan sebagai cagar budaya melalui kajian internal tim ahli, lanjut Sufi, pihaknya sampai saat ini masih belum menerima surat rekomendasi secara tertulis sehingga belum dapat dijadikan dasar untuk penetapan. “Surat rekomendasinya masih belum kami terima atau belum turun ke bapak Bupati,” ujarnya.
Sufiyanyo mengatakan di Sumenep banyak terdapat bangunan atau situs yang pantas dijadikan sebagai cagar budaya. Sebab, Kabupaten yang sudah berusia 747 tahun itu memiliki banyak bangunan atau situs peninggalan sejarah.
Peninggalan itu baik bangunan peninggalan Belanda seperti kota tua di Kecamatan Kalianget atau peninggalan masa kerajaan dulu. “Kami memang akan menjadikan bangunan peninggalan Belanda ini, akan dijadikan sebagai wisata kota tua,” ucapnya. (sak)
Pentas seni dan budaya bakal digelar rutin Pemkot Surabaya di Balai Pemuda. Foto: Humas Pemkot Sby.
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Budaya dan Pariwisata berencana mengadakan penampilan seni budaya secara reguler dalam setahun di Balai Pemuda Surabaya. Di awali penampilan wayang orang “Baladewa Lena” dari grup Pamor Katon pada Sabtu (28/1) pada pukul 19.00 WIB, warga Surabaya nantinya akan disuguhkan berbagai macam jenis seni budaya hingga setahun ke depan.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surabaya (Disbudpar) Widodo Suryantoro mengatakan, untuk penampilan seni budaya tersebut, warga Surabaya bisa menikmatinya secara gratis tanpa biaya. “Sementara ini gratis tanpa biaya, bila ada perubahan lebih lanjut akan kita berikan informasi tambahan,” kata Widodo.
Menurut dia, kapasitas penonton di Balai Pemuda Surabaya sebanyak 750 orang. Dengan lokasi yang berada di tengah kota, diharapkan mampu mempermudah akses warga Surabaya yang ingin melihat seni pertunjukkan ini.
Terlebih, di sekitar lokasi tersebut sering dikunjungi para pemuda-pemudi. Dengan begitu, harapannya para pemuda-pemudi tertarik untuk menikmati dan belajar seni pertunjukkan tradisional itu.
“Harapannya melalui edukasi seperti ini, pemuda dan pemudi Surabaya bisa mengerti tentang budaya bangsa. Selain itu, hal ini juga dimaksudkan sebagai bentuk pelestarian budaya,” ujarnya.
Widodo menambahkan, dengan ikut menonton seni pertunjukkan ini, para pemuda-pemudi tersebut bisa ikut dalam upaya melestarikan pertunjukkan wayang orang. Selain itu, hal ini juga merupakan bentuk dan upaya pelestarian dan edukasi Pemkot Surabaya kepada warganya.
Nantinya, setelah penampilan wayang orang “Baladewa Lena”, Disbudpar berencana mengadakan berbagai penampilan seni secara reguler dua kali dalam sebulan, pada hari Sabtu. Selain wayang orang, akan ada penampilan seni Ludruk, Siswo Budoyo, Srimulat, dan yang lainnya.
Selain itu, total ada 8 grup penampil yang akan mengisi secara bergantian dalam setahun ini. Penampilan yang disajikan secara berbeda-beda ini agar masyarakat juga memahami dan mengerti tentang budaya di Surabaya.
“Balai Pemuda merupakan tempat berkumpulnya para pemuda dalam berkesenian. Pemuda juga harus tahu tentang kesenian ini,” kata Kadisbudpar.
Perlu diketahui, wayang orang “Baladewa Lena” yang akan tampil bercerita tentang Prabu Nurindra Kawaca yang ingin menuntut balas kepada Prabu Parikesit. Untuk itu, dia menyiapkan pasukan untuk pergi ke Kerajaan Hastina.
Dalam Perjalanan, Raden Poncokusumo dari pertapaan Andong Cinawi di tengah hutan bertemu dengan Raden Kertiwindu. Saat itu, Raden Poncokusumo dihasut untuk merebut kerajaan Hastina. Oleh karena itu, dia pun berangkat untuk menegur Prabu Parikesit.
Adegan-adegan drama wayang orang ini, juga diceritakan mengenai peperangan hebat. Hingga akhirnya, tokoh Prabu Resi Baladewa meninggal akibat peperangan yang terjadi.
Tidak hanya penampilan wayang orang saja yang tampil, tapi juga ada juga penampilan tari gambyong. Dua orang penari tersebut, yaitu bernama Dea Margaretha dan Wuri. Sedangkan para pelaku drama wayang orang, akan diisi oleh 13 orang. (sak)
Keberadaan lanskap budaya yang sangat melimpah belum banyak digali. Foto: Whenonearth.net.
Tulisan hasil karya dosen Jurusan Biologi FMIPA Universitas Brawijaya (FMIPA-UB), Dr Luchman Hakim berhasil masuk pada salah satu buku yang diterbitkan Springer. Mengangkat judul “Landscape Ecology in Asian Cultures”, buku ini diterbitkan pada Januari 2011.
Dimuat dalam bab pertama mengenai “Understanding Asian Cultural Landscapes”, dalam tulisannya Luchman mengangkat tentang “Cultural Landscapes of the Tengger Highland, East Java”.
Melalui email kepada Prasetya Online, Luchman menerangkan, melalui tulisan tersebut ia mencoba menjelaskan status lanskap budaya Tengger sebagai salah satu representasi lanskap budaya Indonesia.
Luchman menyampaikan bahwa konservasi pada level lanskap saat ini telah menjadi pertimbangan utama dalam pengelolaan biosfer. Fokus utama konservasi lanskap ini adalah mengurangi berbagai ancaman terhadap bentang alam dan meningkatkan peran bentang alam bagi kesejahteraan manusia.
Pendekatan konservasi lanskap, menurutnya sangat penting karena permasalahan lingkungan hidup saat ini semakin kompleks dan melibatkan banyak komponen yang saling terkait.
“Pendekatan ini memungkinkan lahirnya desain-desain dan skenario bagi pemanfaatan lestari sumberdaya alam dimana aspek-aspek dan kepentingan ekonomi, lingkungan hidup dan kepentingan sosio-kultural masyarakat terakomodir,” ujarnya seperti dikutip Prasetya.ub.ac.id.
Hal ini mengingat pendekatan lanskap melingkupi semua proses ekologis dan faktor sosiokultural sehingga sangat relevan dengan krisis global yang saat ini menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan kehidupan di biosfer.
“Lanskap adalah potensi suatu bangsa, dimana pengelolaan yang tepat akan mendorong kuatnya daya saing bangsa,” katanya.
Di Indonesia, Luchman menambahkan, salah satu potensi yang belum digali adalah keberadaan lanskap budaya (cultural landscape) yang sangat melimpah.
Lanskap budaya adalah salah satu menifestasi dari pengelolaan alam terkait budaya masyarakat setempat yang terbukti lebih berkesinambungan dan tahan terhadap krisis.
Studi tentang lanskap budaya ini bersifat interdisipliner, dimana berbagai ilmu pengetahuan saling terkait di dalamnya. “Di berbagai kawasan di dunia, kajian-kajian konservasi lanskap budaya saat ini sedang digalakkan,” kata dia.
Namun demikian, penelitian tentang lanskap budaya di Indonesia sangat rendah dan bahkan jarang. Akibatnya, pemahaman tentang arti, peran, manfaat dan struktur lanskap budaya sangat kurang.
Lebih lanjut disampaikan, lanskap budaya merupakan manifestasi dari pengelolaan lahan dan sumberdaya dengan pendekatan kultural untuk menjamin keberlangsungan hidup komunitas masyarakat setempat.
Lanskap budaya ini berperan penting dalam penyediaan sumberdaya pangan bagi masyarakat lokal.
“Karena tingkat hayatinya yang tinggi, banyak lanskap budaya berperan dalam penyimpanan cadangan diversitas genetik bagi pemuliaan tanaman dan hewan masa depan,” kata dia.
Selain peran tersebut, lanskap budaya juga mempunyai potensi dalam pengembangan wisata desa yang sampai saat ini belum banyak dikaji secara mendalam. Hal ini, menurut Luchman, terutama tampak pada lanskap budaya Tengger.
“Pendekatan kultural dalam pengelolaan tidak saja ditujukan kepada pemenuhan nilai-nilai spiritual dan kultural masyarakat, namun juga diarahkan untuk menjamin kesinambungan sumberdaya di alam agar tetap mampu dimanfaatkan masyarakat,” Luchman melanjutkan.
Teknik-teknik pengelolaan ini telah dikenal luas sebagai indigenous knowledge, ethnoecology, ethnobiology atau istilah-istilah lain yang merujuk pada peran pengetahuan lokal dalam pengelolaan sumberdaya.
“Dengan memperhatikan aspek-aspek budaya dalam pengelolaan lanskap, diharapkan kedepan dapat disusun strategi pengelolaan lanskap yang lebih dapat diterima oleh masyarakat,” katanya.
Sehingga partisipasi publik dapat muncul secara aktif, mencirikan karakter lokal dan dengan demikian bersifat adaptif, dan mempunyai keaslian yang tinggi sehingga berdaya saing dalam pengembangan wisata desa, pungkasnya. (ist)
Para seniman membuat sketsa Candi Tawang Alun dari posisi yang paling cocok di hatinya masing-masing. Foto: JawaPos.com.
PULUHAN pelukis sketsa berkumpul di Candi Tawang Alun. Candi di Desa Buncitan, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo itu menjadi objek utama para perupa.
Mereka berasal dari sejumlah komunitas di Jawa Timur. Ada komunitas Perupa Delta (Komperta), Sketsapora, serta Komunitas Pelukis (Kopi) Gresik dan Kopi Jombang.
Sejumlah seniman muda dari STKW Surabaya, SMK Penerbangan, dan SMK Senopati juga berpartisipasi.
Tampak pula perwakilan Dewan Kesenian Jawa Timur Taufik Hidayat dan juru kunci Candi Tawang Alun yang juga pelaku seni di Sidoarjo Saiful Munir.
Karya yang mereka hasilkan bakal dipamerkan bersama sketsa di titik lain. Misalnya, Candi Pari, Candi Dermo, dan lokasi tanggul lumpur.
”Sketsa itu kuncinya adalah realis, asli, nyata, ada,” kata Juniarto, Ketua Komperta, seperti dikutip JawaPos.com beberapa waktu lalu.
Menurut dia, sebuah karya sketsa diharapkan tidak hanya merekam visual fisik objek, namun juga segi spiritualnya.
”Sekaligus buat memperkenalkan keberadaan candi dan kampanye (promosi kepada masyarakat, Red) supaya mau berkunjung,” lanjut pria 45 tahun itu.
Meski sama-sama memotret bangunan candi, sudut pandang yang digunakan para seniman cukup beragam. Sebagian besar perupa dari Kopi Gresik dan Jombang, misalnya, menerapkan gaya realis.
Sementara itu, Juniarto, Taufik, dan Munir lebih memilih gaya ekspresionis. Sebagian yang lain menambahkan unsur imajinasi ke dalam karya sketsanya.
Alhasil, ada sketsa yang menggambarkan bangunan candi secara utuh. (ist/JPG)
Sanggar Pamujan bagian dari komplek Siti Inggil, dimana Raden Wijaya Wahyu Keprabon. Foto: TimurJawa.com.
MENYEBUT nama Raden Wijaya otomatis angan kita tertuju pada agungnya Kerajaan Majapahit. Puing-puing peninggalan kerajaan besar itu bisa disaksikan secara kasat mata di berbagai desa di wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Satu diantaranya Siti Inggil, sebuah petilasan Raden Wijaya yang jadi cikal bakal lahirnya Majapahit di tahun 1293 Saka atau sekitar 1500 Masehi. Petilasan yang sebelumnya populer dengan istilah Lemah Geneng itu berada di dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Petilasan raja yang masa kecilnya dipanggil Djoko Suruh berbentuk makam dengan panjang sekitar 2 meter lebih. Masyarakat desa sekitar turun temurun meyakini jika di dalam komplek bangunan makam itu bukan jenazah Raden Wijaya. Melainkan hanya sebagian abu dari jenazahnya yang dibakar.
Mengingat dalam era Majapahit dikenal agama ’budi’ dengan sebagian Hindu. Agama Islam-lah yang mengajarkan pemakaman bagi yang meninggal dunia. Masyarakat era Majapahit mengenalnya dengan istilah mukso (menghilang) atau diperabukan. Abu inilah yang kemudian disimpan di candi ataupun dilarung ke laut.
Abdul Ghofur juru kunci Siti Inggil mengatakan, jika Siti Inggil merupakan petilasan dari raja yang bergelar Kertarajasa Jayawardhana atau Brawijaya pertama. “Ini petilasan sang Prabu Raden Wijaya,” kata juru kunci berusia 54 tahun tersebut.
Di dalam kompleks petilasan yang berbentuk makam terdapat beberapa nisan. Selain makam Raden Wijaya yang paling besar dan panjang. Juga terdapat empat makam lainnya. Yaitu, Permaisuri Brawijaya pertama Gayatri. Juga dua isteri selir, Ndoro Petak dan Ndoro Jinggo.
“Selir pertama disebut Ndoro Petak karena kulitnya putih karena beliau memang dari Tiongkok. Begitupun dengan Ndoro Jinggo artinya perempuan terhormat berkulit kuning dari Kamboja,” terang Ghofur. Selain itu ada juga makam dari abdi kinasih atau abdi dalem dari Hayam Wuruk dan permaisuri.
Sapuangin dan Sapujagad
Diantara bangunan makam yang ada di komplek Siti Inggil terdapat dua makam cukup mencolok untuk diamati. Selain posisinya di luar komplek bangunan utama petilasan Raden Wijaya, dua makam itu berada tepat di sebelah kiri sebelum memasuki bangunan petilasan yang selalu terkunci.
Pada batu nisan di dua makam itu tertuliskan huruf besar. Sapu Angin dan Sapu Jagad. Kuncup nisannya selalu dibungkus dengan kain berwana kuning. Dupa yang ada di dalam anglo kecil mengepul asap dan tampak bunga segar. Jelas jika makam tersebut selalu dikunjungi.
Ghofur mengatakan, jika dua makam berukuran panjang 2 meter lebih itu merupakan makam asli. Artinya, ada kerangka manusia dengan panjang sekitar 170 cm.
“Kami tahu persis karena pernah dibongkar di tahun 1970 lalu. Kerangkanya dibawa ke pendopo sebelah atas itu dan kemudian disempurnakan dan dikuburkan kembali. Sampai sekarang,” kata Ghofur.
Dua nama Sapu Jagad dan Sapu Angin menurutnya bukan nama asli mereka. Melainkan gelar dari Kerajaan Majapahit atas ilmu yang dimiliki. Dua sosok itu merupakan ajudan dari Raden Wijaya. Sebelumnya, dua sosok yang tidak diketahui namanya dikenal sebagai prajurit dan pengikut setia menantu Kertanegara Raja Singosari tersebut.
Pada masa-masa sulitnya Raden Wijaya, dua sosok inilah yang terus mendampingi. Hingga menumpas Raja Jayakatwang yang memimpin Kerajaan Doho di Kediri. Tentu saja melalui muslihat dan mengelabuhi pasukan tentara Mongol yang bermaksud menumpas kerajaan Singosari.
“Eyang Sapu Jagad itu gelar untuk ajudan yang menguasai kekuatan alam. Sedangkan eyang Sapu Angin gelar yang diberikan untuk ajudannya yang punya kemampuan menguasai kekuatan angin,” tutur Ghofur tentang dua makam teresbut. )
Sanggar Pamujan
Diantara beberapa bangunan yang ada di komplek Siti Inggil terhadap bangunan yang menyita perhatian. Itulah Sanggar Pamujan atau tempat pemujaan yang dipakai Raden Wijaya melakukan semedi atau bertapa.
Pada bangunan yang tingginya sekitar 3 x 3 meter dari permukaan tanah itulah untuk pertama kalinya Raden Wijaya mendapatkan ‘Wahyu Keprabon’. Atau bisa diartikan mendapatkan wangsit untuk mendirikan Kerajaan Majapahit.
Menariknya, bangunan dari bata merah yang hanya ditumpuk-tumpuk tersebut bentuknya menyerupai tempat Imam memimpin sholat dalam sebuah musholah atau masjid.
Akan halnya melakukan ritual semedi, Raden Wijaya melakukannya dengan cara menghadap ke Barat. Sama persis kaum muslim saat melakukan sholat menghadap kiblat. Padahal, kala itu, agama Islam belum dikenal di kerajaan yang didirikan di tanggal 15 tahun Saka 1215 tersebut.
“Jadi kalau dibanding-bandingkan dengan agama Islam, rasanya ada persamaan. Khususnya dalam Sanggar Pamujaan Sinuwun Raja Brawijaya pertama,” kata Ghofur. Dicontohkan, selain tempat bersemedi yang seukuran dengan sajadah sholat, bangunan Sanggar Pamujaan juga berbentuk persegi empat. Berbentuk kubus atau kotak. Sama dengan Ka’bah yang ada di Makkah.
Sesuai namanya, Sanggar Pamujan, merupakan tempat Raden Wijaya melakukan pemujaan atau tempat memuji. Kepada siapa? “Ya, kepada Sang Hyang Widi Wase atau kepada Yang Maha Kuasa,” tutur Ghofur. Jadi, kata Ghofur lagi, kalau dibanding-bandingkan akan sama dengan agama-agama yang sekarang ini. Beliau, Sinuwun Prabu juga melakukan pemujaan terhadap Yang Diyakini. Sanggar Pamujan itu tidak lain tempat berdoa.
Sanggar Pamujan yang ada dalam komplek Siti Inggil tidak pernah dibangun atau dipugar keberadaannya. Melainkan hanya diperkokoh agar tidak rusak dan runtuh di makan waktu. Maklumlah, bangunan asli hanyalah berupa batu-batu merah yang hanya ditumpuk-tumpuk tanpa adanya perekat.
“Semua bangunan yang ada di sini, asli. Tidak ada yang dirubah ataupun diubah bentuknya,” kata Ghofuf lagi. Hanya saja, untuk memperkokoh dan tidak mudah rusak, hanya dipoles agar kuat saja.
Tempat Ziarah Tokoh Negara
Meskipun terletak di desa terpecil sekalipun, Sanggar Pamujan selalu ramai. Di hari-hari tertentu bahkan sangat padat. Misalkan Jumat legi atau Jumat manis. Ratusan pengunjung dari berbagai sudut kota hadir di tempat yang di kanan dan kirinya masih berupa ladang tebu itu.
Tidak sedikit tokoh dan pejabat berkunjung untuk sekedar berziarah dan mengunjungi situs bersejarah tersebut. Mulai dari politisi, pejabat lokal, pejabat negara, pengusaha hingga sekelas Presiden sekalipun. Kunjungan pejabat itu dilakukan sejak era Presiden Soekarno berkuasa.
Ghofur minta tidak menuliskan nama-nama tokoh negara yang pernah mengunjungi. Begitu juga penguasa yang pernah secara khusus datang ke lokasi makam yang dikeramatkan oleh penduduk sekitar itu.
“Tidak etislah. Pastinya banyak ya, tokoh-tokoh yang ke sini. Baik lokal maupun dari Jakarta,” terangnya.
Hanya saja, diantara tokoh negara yang punya kepedulian besar terhadap keberadaan Siti Inggil adalah mantan Presiden RI, Soeharto. Sebelum menjabat hingga menjadi Presiden, menurut Ghofur, presiden yang memimpin Indonesia selama 30 tahun itu rajin berkunjung.
Bahkan, tingginya kepedulian Presiden Kedua RI Soeharto itu dilakukan dengan cara membenahi seluruh isi bangunan yang ada di Siti Inggil. Bangunan yang awalnya hanya berupa batu-bata merah ditumpuk, oleh Soeharto diperbaiki.
“Semua masih asli seperti apa adanya dulu,” terang Ghofur. Sebagai bukti jika bangunan peninggalan Raden Wijaya itu asli, bagian bawah bangunan yang sudah dibalut keramik dibiarkan asli. Sehingga, tampak tumpukan-tumpukan batu-batanya berselimut lumut hijau. “Mengenai kepala negara yang pernah hadir itu dari cerita orangtua dan mbah-mbah saya,” tambah lelaki berkulit hitam itu. (sak)
Dr Suryo Sumpeno ST MSc, dosen ITS. Foto: Surya.co.id.
Penelitian unik dilakukan dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Dr Surya Sumpeno ST MSc tengah memindahkan Museum Mpu Tantular ke wujud virtual.
Dengan museum virtual ini, pengalaman baru belajar sejarah dan berkunjung ke museum akan dapat dirasakan oleh masyarakat.
Menurut dosen Jurusan Teknik Multimedia dan Jaringan (TMJ) itu, museum virtual memungkinkan masyarakat menikmati berbagai artefak di Museum Mpu Tantular secara panoramik atau interaksi multimedia tiga dimensi.
Pengunjung bisa melihat bentuk tiga dimensi berbagai artefak 360 derajat hanya dengan membuka situs web atau dengan situs youtube.
Sedangkan jika menggunakan interaksi multimedia, pengunjung seolah akan dibawa ke masa lampau untuk melihat artefak, bangunan dan aktivitas orang jaman dahulu.
“Bahkan, pengunjung juga bisa berinteraksi dengan tampilan yang dibuat mendekati riil tersebut,” ungkap Surya, sapaan akrabnya.
Namun, teknik penyajian untuk interaksi 3D memerlukan perangkat khusus, seperti Head Mounted Display (HMD) yang memerlukan perangkat Google Carboard plus peranti telpon pintar berbasis Android atau monitor 3D.
Menyaksikannya pun juga butuh kacamata 3D baik pasif maupun aktif. “Namun penyajian ala panoramik dapat dinikmati di situs web biasa, demikian pula nantinya video youtube 360,” ujar pria yang menamatkan magisternya di Tohoku University ini.
Jebolan Jurusan Teknik Elektro ini berharap gaung program digitalisasi warisan budaya akan melebar, beresonansi, bersinergi. “Dan tentunya, program ini dapat bermanfaat dan menjangkau lebih banyak komunitas masyarakat,” pungkasnya. (sak)
Lukisan Bali yang dibuat dari kisah dalam kitab Sutasoma. Foto: Heurist.sydney.edu.au.
KATA Bhinneka Tunggal Ika menjadi magnet semboyan bagi bangsa Indonesia, sebuah konsep multikultural yang mampu mengangkat dan menunjukkan keanekaragaman bangsa. Bhinneka Tunggal Ika sebuah warisan berharga bagi bangsa yang dilahirkan memiliki perbedaan suku, etnis dan agama. Indonesia sungguh beruntung memliki satu sikap pandangan ini.
Sebuah kata Bhinneka Tunggal Ika yang ada dalam lambang negara Burung Garuda, menghiasi dinding setiap kantor, sekolah dan rumah saja, tetapi seringkali menjadi kutipan dalam berbagai pidato pejabat, terlebih-lebih jika sedang terjadi peristiwa genting yang dianggap dapat mengancam kelangsungan persatuan bangsa dan kesatuan negara.
Bhinneka Tunggal Ika itu merupakan sebuah karya sastra agama yang diambil dari kitab Sutasoma karya Mpu Tantular. Kutipan ini berasal dari pupuh 139, bait 5. Bait ini secara lengkap akan berbunyi:
Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.
Terjemahan:
Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.
Irawan Joko Nugroho seorang penulis buku Meluruskan Sejarah Majapahit, seperti dikutip di Kemenag.go.id mengatakan Bhinneka Tunggal Ika merupakan sastra agama yang tertuang dalam kakawin Sutasoma, namun implementasi dari konsep ini dijabarkan dalam kitab NegaraKertagama yang dikarang Mpu Prapanca.
Dalam Bhinneka Tunggal Ika dijabarkan tentang sebuah cerita epis yang amanat kitab ini mengajarkan toleransi antar agama, terutama antar agama Hindu-Siwa dan Buddha. Kakawin ini digubah oleh Mpu Tantular pada abad ke-14, pada masa keemasan Majapahit di bawah kekuasaan prabu Rajasanagara atau Raja Hayam Wuruk.
“Kakawin Sutasoma bisa dikatakan unik dalam khasanah sejarah sastra Jawa atau bisa dikatakan sastra agama. Karena merupakan satu-satunya kakawin bersifat epis yang bernafaskan agama Buddha. Ini menunjukan kalau Mpu Tantular memiliki toleransi keagamaan yang besar,” ujar Irawan, jebolan Sarjana Sastra Jawa Kuno, Universitas Gadjah Mada.
Menurut Irawan, Mpu Tantular seorang penganut agama Buddha, namun orangnya terbuka terhadap agama lainnya, terutama agama Hindu-Siwa. Hal ini bisa terlihat pada dua kakawin atau syairnya yang ternama yaitu kakawin Arjunawijaya dan terutama kakawin Sutasoma. Mpu Tantular memiliki pandangan tentang esesnsi nilai-nilai keagamaan yang universal.
Bahwa agama-agama yang ada harus dihormati. Karena jalan yang harus dilalui untuk menyembah Yang Maha Agung adalah seperti jalan menuju ke gunung orang dapat mencapai puncak gunung itu dari segenap penjuru, dari timur, barat, utara dan selatan.
Artinya, kata Irawan banyak cara orang untuk menmanjatkan doa melalui mediasi berbagai macam kepercayaan atau agama yang diyakini.
Disini Mpu Tantular tidak mempersoalkan latar belakang keyakinan orang, namun yang terpenting bagaiamana membangun toleransi dalam pergaulan sesama kemanusiaan sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang tertuang dalam setia ajaran agama masing-masing.
Irawan menjabarkan dimasa kejayaan Majapahit, tidak terjadi konflik antar agama, dan senantiasa terjadi semangat toleransi kebersamaan. Mpu Tantular menggunakan ungkapan itu khusus kata Bhinneka tunggal Ika untuk merumuskan perpadanan antara Buddha, Hindu dan Siwa yang berlaku di Majapahit pada abad keempatbelas.
Dalam pengertian segala macam aliran agama, alam pikiran, kebudayaan dan politik, yang pada waktu itu memang banyak terdapat di Majapahit. Bisa diartikan berbeda-beda namun mereka tetap bersatu di dalam peraturan di kitab Negara Kertagama tidak ada diskriminasi atau dualisme. Pencapaian ini sudah terbangun kebersamaan, persatuan dalam Negara keprabuan Majapahit.
Konsep ini kemudian diangkat ke dalam ranah politik. Ia menjadi bermakna ’walaupun berbeda-beda (suku, agama, ras, kesenian, adat, bahasa, dan lain sebagainya), tetap satu (satu kesatuan yang sebangsa dan setanah air Indonesia) jua. Dengan menggunakan kalimat Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan Indonesia, Indonesia mengapresiasi adanya sejarah nasional sebelumnya yaitu masa kejayaan kerajaan Majapahit.
Menurut Irawan tokoh negarawan M Yamin yang memiliki pengetahuan ketatanegaraan, menilai tentang Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar pemikiran cemerlang Mpu Tantular, yang diimplementasikan dalam kitab Negara Kertagama. Dimana Majapahit sebagai kerajaan yang dapat mempersatukan Nusantara.
M Yamin, lanjut Irawan, memiliki pemikiran yang luar biasa, bahwa wilayah Nusantara bukanlah untuk menyatakan luas daerah Majapahit, melainkan wilayah kesatuan geopolitik yang ditentukan Sang Alam sebagai tumpah darah tempat kediaman bangsa Indonesia yang sejak permulaan sejarah menyusun dan menjaga perimbangan kekuasaan terhadap keluar dan kedalam lingkungan mandala tanah dan air Nusantara itu.
Irawan menambahkan kesatuan Nusantara, juga tertulis dalam Nagarakrtagama pupuh 12.6.4 berbunyi: mwang Nusantara sarwa mandalikârastra angasraya akweh mark. Artinya: Dan Nusantara, wilayah yang melingkari, meminta perlindungan, banyak yang menghadap.
Kesatuan Nusantara tersebut terletak pada kata angasraya ‘meminta perlindungan’. Kalimat ini adalah kalimat aktif. Dengan demikian kesatuan Nusantara itu bukan dari paksaan namun dari kesadaran bersama untuk bersatu. (ist)
Launching Gelar Seni Budaya Jawa Timur 2017 di Surabaya. Foto: LensaIndonesia.
PROVINSI Jatim kini dilaunching sebagai provinsi festival seni dan budaya. Melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim, pada tahun 2017 ini akan digelar secara periodik 40 event dan kegiatan festival seni dan budaya.
Kepala Disbudpar Jatim Jarianto mengatakan acara yang dihelatnya merupakan satu langkah pembangunan kebudayaan di Indonesia.
Karena itu Disbudpar akan menggandeng para seniman dari berbagai wilayah untuk menyukseskan misinya. “Dengan demikian, akan terbentuk ketahanan budaya,” katanya, Sabtu (21/1).
Lebih lanjut dijelaskan, dengan adanya acara ini maka seniman diberi wadah untuk berkolaborasi. Bukan hanya seniman dari Jawa Timur, seniman dari Surakarta dan Jakarta juga akan digandeng.
Tak hanya itu, untuk memupuk kecintaan seni kepada anak-anak, Disbudpar juga mempunyai solusinya. “Kami akan menyelenggarakan acara duta seni pelajar se-Jawa, Bali, dan Lampung, serta pekan seni pelajar se-Jawa Timur,” ujarnya.
Sedangkan upaya lainnya, yakni Disbudpar Jatim juga berencana mengadakan festival wayang yang akan melibatkan banyak anak-anak muda, seperti festival dalang muda antar kabupaten/kota se-Jawa Timur. “Kami juga akan menggelar festival sinden remaja se-Jawa Timu,” tegas Jarianto.
Pada acara launching Gelar Seni Budaya 2017 ada 5 penampil kesenian budaya dari Banyuwangi, Trenggalek, Ponorogo, Bojonegoro dan Surabaya. “Kenapa kami memilih 5 kesenian ini, karena merata kami ambilnya baik dari sisi Utara, Selatan, Timur dan Barat,” ujarnya.
Untuk kabupaten Banyuwangi menampilkan tari Sidem Waito Puyengan, Trenggalek dengan tarian Turonggo Yakso, Reog Ponorogo, tari Api Kahyangan dari Bojonegoro serta Surabaya menampilkan Jirolu Jazz dari STKW Wilwatikta.
Jarianto berharap kreativitas dan produktivitas seniman terus terjaga. Dengan begitu iklim berkesenian di Jawa Timur ikut tumbuh. Dampak lain yang diharapkan adalah peningkatan ekonomi kreatif berbasis seni, budaya dan pariwisata.
Heri Lentho yang menjadi koreografer dalam kegiatan ini mengaku jika festival seni dan budaya Jatim 2017 karena akan digelar merata.
“Setiap minggunya, akan ada kegiatan seni dan budaya di Jatim secara merata. Bahkan, terbaru yaitu kami hadirkan gelar pesona budaya dan pariwisata Bawean,” kata Heri Lentho.
Untuk penampilan perdana, tarian Api Kahyangan menceritakan tentang kekuatan tempat tersebut yang berada di Kabupaten Bojonegoro.
Di tempat Api Kahyangan tersebut yang kini menjadi tempat wisatawan digambarkan dalam tarian sebagai tempat ritus (upacara red) untuk membuat tayub semakin muda dan cantik. “Selain itu, di Api Kahyangan tempat empu juga membuat keris pada jaman dahulu,” tukasnya. (ist)
Para mahasiswa Desain Komunikasi Visual UK Petra Surabaya yang sedang mengumpulkan cerita rakyat Surabaya. Foto: Jawapos.com.
PADA sebuah zaman, hiduplah seorang pemuda dari Desa Wiyung. Namanya Sawunggaling. Dia adalah anak Adipati Jayengrana yang memimpin Kadipaten Surabaya saat itu. Bukan dari permaisuri, melainkan dari seorang selir bernama Dewi Sangkrah.
Saat ancaman Belanda datang menyerbu Surabaya, Sawunggaling memimpin laskar-laskar rakyat untuk memerangi kompeni di bawah kepemimpinan Jenderal De Boor. Dengan gagah berani, Sawunggaling dan pasukannya melawan Belanda yang datang membakar rumah-rumah penduduk dan menduduki Surabaya.
Pertempuran hebat pun tak terelakkan. Banyak rakyat yang gugur dalam peperangan tersebut. Sementara itu, pasukan Belanda dengan senjatanya yang lebih canggih semakin mengimpit gerak Laskar Surabaya. Posisi Sawunggaling terpojok. Namun, dia tetap melakukan perlawanan habis-habisan. Sawunggaling pun gugur di medan pertempuran dan dikenang sebagai pahlawan rakyat Surabaya.
Kisah heroik Sawunggaling tersebut menjadi santapan manis sore hari yang disajikan Mbah Ahmad. Pria 92 tahun itu menceritakan dongeng rakyat turun-temurun dari Wiyung tersebut kepada para mahasiswa UK Petra. Tidak hanya itu. Dia juga menyanyikan lagu-lagu Belanda yang diingatnya.
Mbah Ahmad memang sudah lanjut usia. Namun, ingatan terhadap kisah Sawunggaling masih kental dalam memorinya. Dia juga masih bisa menceritakan kisahnya dengan jelas. ”Tapi, Mbah tidak tahu pasti Sawunggaling dimakamkan di mana. Katanya, ada yang bilang di Tuban,” terang sesepuh di Wiyung itu.
Kisah Sawunggaling versi Wiyung merupakan tugas kuliah bagi mahasiswa semester I Desain Komunikasi Visual UK Petra. Tepatnya bagi kelompok 13 dari kelas B. Tugas itu harus diselesaikan dalam waktu dua pekan.
Selama ini, banyak versi terkait cerita Sawunggaling. Para mahasiswa diminta mencari langsung dari sumber asalnya. Ardityo Yosua dan empat rekan satu timnya yang kebagian kisah itu berangkat ke Kecamatan Wiyung untuk mencari narasumber.
Datang pukul 11.00, mereka masih bingung menentukan arah. Akhirnya, mereka berhenti di sebuah kedai susu. Satu jam kemudian, mereka memutuskan untuk memasuki kampung di dekat kedai susu. Tanya dari satu rumah ke rumah lainnya, hasilnya nihil. Tak ada satu pun orang yang tahu kisah Sawunggaling. ”Kami malah dicurigai,” ujar Yosua.
Adanya lima mahasiswa yang masuk kampung dan bertanya itu rupanya terlihat menyeramkan bagi warga. Mereka pun mengambil sikap antipati. Bahkan, ada yang langsung masuk rumah. Dua jam menyusuri kampung, lima mahasiswa tersebut kelelahan.
Hingga akhirnya tiba di sebuah warung kelontong. Mereka bertanya kepada bapak penjaga warung. Dari bapak itulah mereka mendapat petunjuk untuk menemui Mbah Ahmad. ”Rumahnya tidak jauh kok, ada di ujung gang,” kata penjaga warung itu.
Tak banyak pertimbangan, mereka bergegas menuju rumah Mbah Ahmad setelah berpamitan kepada bapak pemilik warung. Beruntung, orang yang dicari sedang berada di rumah. Mbah Ahmad menyambut mereka seperti kawan lama. Tak ada rasa canggung. Sudah akrab saja. Hingga cerita tentang Sawunggaling dan perjalanan hidup Mbah Ahmad mengalir dalam durasi dua jam.
Mendekati magrib, para mahasiswa berpamitan. Kisah Mbah Ahmad telah cukup memenuhi tugas kuliah mereka.
Joko Dolog
Lain lagi cerita yang dialami kelompok 7. Mereka mendapat tugas mencari kisah Joko Dolog. Tujuan mereka sudah jelas, datang ke Patung Joko Dolog yang ada di belakang Taman Apsari.
Mereka juga berlima. Ada Anisa Nada Suksmono, Daniel Anggoro Wiyarko, Alexandra Nadia, Ribka Dyah Pupaningrum, dan Joan Lie Rawung. Sehari sebelumnya, Anisa datang ke monumen itu untuk janjian dengan juru kunci. Hari berikutnya, dia datang bersama empat temannya untuk menggali informasi.
Sayangnya, Anisa tak mudah ingat wajah orang. Apalagi yang baru sekali ditemuinya. Pada saat dia dan kawan-kawannya datang ke Patung Joko Dolog, tidak ada satpam. Mungkin sedang patroli. Hanya ada seorang laki-laki sekitar usia 50 tahun yang berdiri di dekat patung. Dia melihat para mahasiswa berdiri di luar gerbang. “Ayo masuk,” perintahnya. Oh, itu juru kuncinya.
Tapi, ada satu masalah. “Pak, tapi ini gerbangnya dikunci,” kata Anisa. “Lompat saja,” jawab bapak itu meminta mereka memanjat gapura pagar setinggi 2,5 meter. Mereka kebingungan. Tapi, karena perintah juru kunci, akhirnya dituruti juga. Satu per satu memanjat pagar tersebut. Tak terlalu susah karena gapuranya besar dan bertingkat. Tapi, sedikit seram karena tinggi.
Tanpa basa-basi, pria itu langsung bercerita tentang hal-hal mistis Patung Joko Dolog kepada para mahasiswa. ”Kalau difoto bagian selendangnya itu, nanti kelihatan ada tiga permata yang bersinar,” katanya. Daniel, salah seorang anggota rombongan, penasaran. Dia segera mengeluarkan telepon genggamnya dari saku dan memotret selendang patung.
”Mana? Nggak ada permatanya,” tanya mahasiswa asal Sidoarjo itu kebingungan. Zoom in-zoom out, tetap yang dicari tidak kelihatan. ”Pakai kamera HP saya bisa kok,” kata bapak itu.
Daniel semakin penasaran. Bagaimana mungkin handphone-nya yang lebih canggih daripada milik juru kunci bisa kalah dalam menangkap fokus benda tersebut. Daniel pun memotret berkali-kali dan hasilnya nihil. Dia menyerah.
Satu jam si bapak bercerita ngalor-ngidul. Setiap mahasiswa bertanya tentang Joko Dolog, jawabannya selalu meleset. Malah bercerita tentang the end of the world yang katanya ramai sekitar 2013–2014 dengan bahasa Inggris amburadul. ”Di sini sampai penuh orang, bahkan Ratu Inggris juga ke sini,” katanya menggebu-gebu.
Joan Lie yang sejak tadi tidak terlalu memperhatikan akhirnya curiga. ”Nggak papa ta bapak ini?” tanyanya kepada Daniel. Mendapat pertanyaan dari temannya itu, Daniel melirik ke arah pos satpam. Rupanya, sejak tadi pak satpam sudah berusaha mengode para mahasiswa. Hanya, mereka tidak tahu. ”Jangan didengar, bapak itu gila,” kata satpam sambil mengisyaratkan jari telunjuk membentuk garis miring di dahinya.
Joan Lie dan Daniel segera memberi tahu teman-teman yang lain dengan hati-hati. Satu per satu mundur. Si ”juru kunci” masih terus melanjutkan ceritanya yang sudah tak keruan sampai di mana. ”Bapak, kami pamit dulu. Sudah waktunya menyerahkan tugas ke kampus. Ini sudah telat,” ujar Nadia dengan sopan.
”Oh, iya-iya, saya doakan kalian sukses,” kata bapak itu lantas mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah seperti menyalurkan doa-doa kepada para mahasiswa.
Anak-anak itu pun segera berlari menuju pos satpam. Untung, hari itu 10 November. Semua penjagaan dialihkan ke upacara bendera di Tugu Pahlawan. Kalau tidak, anak-anak tersebut bisa ditangkap satpol PP karena memanjat pagar monumen Joko Dolog.
Hati mereka dipenuhi perasaan dongkol sekaligus lega. Bisa-bisanya tertipu orang gila. Untung, ada yang memberi tahu bahwa bapak yang ditemuinya tadi juru kunci palsu dan gila. “Mana pulangnya masih harus manjat pagar lagi, nggak dibukain gerbangnya,” kata Anisa masih kesal.
Sepekan kemudian, para mahasiswa kembali ke Patung Joko Dolog untuk bertemu dengan juru kunci yang asli. Saat mereka datang, pintu gerbang terbuka lebar. Namun, si juru kunci palsu juga berada di sekitar lokasi. Sambil duduk, dia membawa sapu lidi untuk menggebuk pantat orang yang lewat di depannya.
Pertemuan dengan juru kunci asli menuntaskan tugas kuliah mereka. Namun, kisah si juru kunci palsu tetap mewarnai pencarian mereka. Kalau diingat-ingat, rasanya masih kesal. Tapi, mereka juga ketawa-ketawa sendiri mengingat tingkah aneh juru kunci palsu. Apalagi Daniel yang sempat termakan omongan tentang permata yang terlihat saat difoto.
Keraton Surabaya
Sementara itu, sulitnya pencarian sumber cerita dialami Ardika Priyata dan kawan-kawannya dari kelompok 11. Tugas yang diberikan kepada mereka memang cukup menantang. Yakni, mencari cerita tentang Keraton Surabaya. “Apalagi, tak ada satu pun dari kami yang asli Surabaya,” ujar Dika seperti dikutip Jawapos.com beberapa waktu lalu.
Pencarian dimulai dari Gang Keraton yang dipercaya sebagai lokasi Keraton Surabaya. Letaknya antara Jalan Pahlawan dan Kramat Gantung. Namun, tak ada satu pun warga yang tahu tentang kisah itu. Hanya sebuah bangunan kecil diimpit gedung tinggi yang dipercaya sebagai gerbang keraton menjadi saksi bisu kisah Keraton Surabaya.
Sejak pukul 10.00–17.00, Dika dan kawan-kawan melakukan pencarian. Mereka menyusuri area sekitar gang. Kemudian, ke Kepatihan, Kramat Gantung, hingga Keputran. Tak ada satu pun warga yang tahu. Bahkan, sesepuh di daerah itu hanya tahu kisah mulai zaman penjajahan Belanda. ”Kalau tentang keraton itu, nenek saya yang tahu,” ujar seorang nenek kepada mereka.
Tujuh jam menyusuri kampung tanpa hasil, para mahasiswa itu putus asa tidak bisa menyelesaikan tugas kuliah. Lemas pulang dengan tangan kosong.
Sebelum pulang, mereka mampir ke warung untuk membeli minum. Dari ibu penjaga warung itulah akhirnya Dika dan kawan-kawan mendapat setitik harapan. Ibu penjaga warung menyarankan mereka menemui guru besar Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember Prof Johan Silas. Tak hanya dahaga di tenggorokan mereka yang lega, tapi juga benang ruwet di pikiran mereka mulai terurai.
Meski tidak bertemu langsung dengan Prof Johan Silas, mereka mendapat gambaran tentang Keraton Surabaya melalui buku-buku ahli tata kota tersebut. Selain itu, bantuan datang dari teman lainnya yang memberikan buku Soerabaia Tempo Doeloe karya Dukut Imam Widodo.
Dari buku tersebut mereka jadi tahu bahwa bangunan kecil di depan gang itu dahulu adalah pintu masuk keraton. Sementara itu, Keputran adalah istana tempat putra-putra raja dan Kramat Gantung merupakan lokasi hukuman bagi para penjahat.
Tugas mencari bahan cerita pun selesai. Selanjutnya, tinggal mengasah kreativitas untuk menentukan media yang pas guna menceritakan kembali kisah-kisah itu.
Kelompok Dika tak berhasil menemukan tokoh penting dalam cerita. Karena itu, mereka membuat karakter baru untuk menyampaikan kisah. Dengan judul buku Petualangan Gani, mereka mengisahkan seorang anak bernama Gani dari masa kini yang tak sengaja masuk ke masa lampau dengan lubang waktu.
Gani tiba di zaman Surabaya masih berupa keraton. Dia bertemu seorang empu yang mengajaknya berkeliling dan memberitahukan seluk-beluk keraton.
Sementara itu, kelompok Yosua memilih wayang sebagai media penyampaian cerita. Hasil karya itu tidak hanya dipresentasikan di depan kelas. Para mahasiswa melakukan praktik langsung ke eks lokalisasi Dolly untuk menghibur anak-anak di sana dengan cerita yang berhasil mereka kumpulkan. ”Rupanya responsnya bagus. Malah mereka tanya kapan kami balik lagi ke sana,” tutur Yosua.
Pengalaman para mahasiswa DKV UK Petra membuktikan betapa Surabaya sangat kaya budaya dan cerita-cerita lokal. Sayangnya, tak banyak yang tahu tentang kisah-kisah tersebut.
Tugas kuliah di pengujung semester I itu pun menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya mengabadikan kisah nenek moyang dalam bentuk yang lebih konkret. Bukan sekadar cerita dari mulut ke mulut. (ist/jawapos)
Situs yang ditemukan di Kelurahan Urangagung Kecamatan Sidoarjo, Sidoarjo banyak didatangi warga untuk mengambil airnya. Foto: Detikcom.
TIM dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan mendatangi lokasi situs yang ditemukan di Dusun Jaretan RT 18 RW 7 Kelurahan Urangagung Kecamatan Sidoarjo Kabupaten Sidoarjo untuk melakukan pendalaman mulai bentuk batu bata, pengukuran batu bata dan melakukan pengukuran lebar, tinggi serta kedalaman genangan air di sana.
“Setelah kami mengetahui secara langsung, sekilas kalau dilihat ada semacam temuan yang serupa di Kediri. Hasil dari interpretasi awal, (situs) adalah bagian dari terowongan atau irigasi. Tapi, ketika kami lihat dibandingkan dengan temuan yang ada di Trowulan, sedikit berbeda,” kata staf perlindungan BPCB Jawa Timur, Pahadi kepada wartawan, beberapa waktu lalu.
Penyidikan lebih lanjut situs tersebut, sambung Pahadi, harus dilakukan karena temuan itu cukup signifikan. “Artinya, bentuk masih utuh walaupun apakah nanti akan memanjang ke utara atau ke selatan. Kalau dari sisi batanya, kita lihat cukup signifikan menggunakan batu lama. Jadi perlu dilakukan kajian lebih dalam, apakah (situs) ini peninggalan dari kerajaan Majapahit atau lebih tua dari itu,” imbuhnya seperti dikutip BangsaOnline.
Kalau ada masyarakat yang memanfaatkan air untuk di komsumsi, sambung Pahadi, pihaknya tidak bisa membatasinya. “Kalau masyarakat bisa nyaman dengan (konsumsi air) itu, silahkan. Karena kajian kami tidak ada kaitan dengan mistik. Kami mengedepankan kajian latar belakang sejarah,” paparnya.
Ditambahkan, hal tersebut menjadi titik awal bagi pihaknya dalam menentukan kebijakan tentang pelestariannya terutama untuk pengembanganya, pengelolaannya dengan baik antara masyarakat dengan pemerintah. “Karena tak mungkin pemerintah berjalan sendiri harus ada dukungan dari masyarakat terdekat,” imbuhnya.
Pahadi mengaku pihaknya akan melakukan pendalaman lebih detail temuan yang ada di Sidoarjo ini. “Apakah ini di masa kerajaan Majapahit atau lebih tua dari kerajaan Majapahit atau kerajaan Kediri. Ini kemungkinan adalah sistem irigasi, bukan kanal pengendali banjir berskala besar,” jelasnya.
Warga Ambil Airnya
Sebelumnya warga menemukan situs yang menyerupai candi di dusun Jenretan Kelurahan Urangagung Kecamatan Sidoarjo. Saat itu, warga setempat akan membuat sumur untuk menyirami tanaman kedelai di tengah sawah.
Sampai saat ini, masyarakat berbondong-bondong mendatangi tempat penemuan situs tersebut. Kedatangannya tak sekedar melihat bentuk bangunan yang berupa pondasi candi, tetapi mengambil air yang menggenangi tumpukan batu bata tersebut.
Bahkan, mereka meyakini air yang menggenangi bangunan candi itu memiliki khasiat yakni menyembuhkan segala penyakit. “Sehari setelah ditemukan situs ini, banyak masyarakat dari sekitar maupun dari luar desa berdatangan ke sini. Mereka membawa botol untuk mengambil air yang ada di sini,” kata Lukman (43) warga setempat.
Nurul (42) warga Desa Suko Kecamatan Sidoarjo menuturkan kedatangannya ke lokasi tersebut karena air yang menggenang bisa menyembuhkan penyakit dan awet muda.
“Saya mengambil air untuk dibawa pulang. Rencananya, saya minum karena saya punya penyakit mudah kesemutan di bagian kaki,” jelasnya.
Air di tempat penemuan tersebut menggenang di sela-sela dua bangunan tumpukan batu bata candi yang bercampur tanah. Airnya berwarna keruh keputihan, namun saat dicicipi, terasa segar tidak tercium bau tanah. Di lokasi sendiri saat ini sudah diberi pagar dari tali rafia dan dijaga 2 orang untuk pengambilan air bagi warga yang datang meminta air.
Kapolsek Kota Sidoarjo Kompol Naufil Hartono kepada wartawan mengatakan, pihaknya mengimbau warga untuk tidak percaya tahayul air candi. “Air tersebut memang memiliki rasa mirip air kelapa, segar,” ujarnya. Seharusnya, lanjut Naufil, ada penelitian dari pihak terkait untuk mengetahui kandungan yang ada.
“Kami sudah ambil sampel air dan akan kami serahkan ke Dinas Kesehatan. Sementara itu, kami harap warga tidak termakan tahayul. Bangunan ini harus dijaga dan dimanfaatkan untuk hal yang lebih berguna,” pungkasnya. (ist)