Aneka baju batik bermotif Suryo Mojopahit rancangan Owens Joe. Foto: Koran-Sindo.com.
MOTIF dan corak batik khas Indonesia sangat kaya dan beragam. Dari ribuan motif batik, salah satu yang digadang-gadang akan menjadi tren adalah batik dengan motif Suryo Mojopahit yang digagas oleh Desainer Satrio Juli Wiyoto atau yang lebih dikenal dengan sebutan Owens Joe.
Pria paruh baya ini sengaja mengusung tren 2017 dengan konsep batik Suryo Mojopahit karena kecintaannya terhadap batik dan segala keunikannya.
Bahkan beberapa tahun terakhir, Owens Joe tertarik menggali sejarah lokal, khususnya candi-candi yang ada di wilayah Mojokerto. Kemudian dari pengamatan itu, tercetuslah ide untuk merancang motif Suryo Mojopahit.
Motif yang dituangkannya jadi batik bukan sembarangan karena ia memilih motif berdasarkan penelitian yang telah dilakukan. Motif yang ada pada batik Suryo Mojopahit, di antaranya kawung, truntum Majapahit, tirto tedjo Gajah Mada, selobok, selarak, dan perpaduan garis.
“Motif yang ada pada Suryo Mojopahit ini bukan asal ada begitu saja, tetapi saya meneliti dulu hingga ke candi dan perkampungan di Mojokerto sana, apa yang khas dan menarik untuk dikembangkan. Motif Suryo Mojopahit inilah yang sangat mewakili kekhasan itu,” kata Satrio saat dijumpai di Grand City Mall Surabaya, seperti dikutip Koran-Sindo.com, belum lama ini.
Motif Suryo Mojopahit menggambarkan sebuah matahari yang berbentuk lancip pada beberapa bagian. Umumnya gambar ini terdapat pada dinding candi-candi di Mojokerto. Bentuknya lebar dan besar.
Soal warna juga tidak sembarangan, Satrio menggunakan warna-warna tanah, seperti merah bata dan cokelat yang identik dengan warna candi. Selain itu, batik Suryo Mojopahit rancangannya memiliki ciri khas tersendiri dari unsur warna. Sebagian kain batik warnanya juga mirip warna gula Jawa sehingga terlihat indah dan cantik.
Warna dan motif yang ada pada batik Suryo Mojopahit juga menggambarkan kearifan lokal. Soal busana, tentu saja desainer ramah ini juga mendesain batik Suryo Mojopahit ini menjadi busana ready to wear (siap pakai).
Beragam model diusungnya terutama untuk gaya palaso dan celana komprang. Menurutnya, dua jenis celana itu termasuk menjadi tren pada 2017 sehingga ia pun mendesainnya dengan kain batik kreasinya.
“Supaya motifnya kelihatan menarik, rata-rata busana dengan bahan batik Suryo Mojopahit ini saya desain lebih longgar atau oversize, tapi tetap ada kesan seksi pada beberapa bagian, sekadar untuk mempermanis tampilan,” ujar Satrio.
Meski rata-rata didesain dengan tampilan longgar, kesan feminin juga ditonjolkan. Terlihat pada beberapa busana untuk atasannya terdapat perpaduan garis tegas.
Busana ini menurutnya tak harus dikombinasikan seperti yang dikenakan oleh para model, melainkan bisa dipadupadankan sesuai dengan selera tiap orang. Busana yang terkesan elegan tersebut tak hanya cocok digunakan untuk pesta ataupun pergi menghadiri acara resmi. Busana tersebut juga cocok dikenakan untuk jalan-jalan ke mal. (sak)
Keberadaan Candi Penataran menjadi syarat utama Desa Penataran menjadi Desa Wisata Budaya. Foto: Ist.
DESA Penataran terletak di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa timur atau berada di lereng barat daya gunung Kelud. Desa ini berkembang pesat karena sejarah suatu tinggalan warisan cagar budaya yaitu situs Candi Penataran.
Nama desa ini sama dengan penamaan candi karena menurut sejarah berdirinya candi di desa ini di latar belakangi adanya tiga kerajaan Hindu yang berkuasa di daerah Blitar.
Desa Penataran ini layak dan memiliki potensi besar sebagai desa wisata budaya nasional maupun internasional karena candi Penataran yang ada di desa ini juga telah di daftarkan kepada UNESCO untuk mendapat status World Heritage.
History
Sejarah merupakan hal yang paling penting untuk diketahui dari adanya suatu desa yang berpotensi sebagai desa wisata budaya. Hal tersebut dapat membantu untuk mengetahui identitas dan asal usul suatu wilayah. Sejarah desa Penataran tidak lepas dari keberadaan candi Penataran.
Desa Penataran merupakan pusat dimana kerajaan Kadiri, Singhasari, dan Majapahit membangun sebuah bangunan suci yang bernama Palah (dalam kitab Negarakertagama) yang digunakan sebagai tempat pemujaan sebagai upaya untuk menangkal mara bahaya yang disebabkan letusan Gunung Kelud.
Bangunan candi dibangun pada 1194 M oleh Sri Maharaja Sri Sarweqwara Triwikramawataranindita Crengalancana Digwijayottunggadewa yang merupakan raja kerajaan Kadiri yang berkuasa pada tahun 1190–1200 M.
Kemudian, bangunan candi dilanjutkan Kertanegara mulai tahun 1286, lalu dilanjutkan Jayanegara, Tribuanatunggadewi, serta Hayam Wuruk. Bangunan candi ini diperkirakan dibangun sekitar 250 tahun yang meliputi 3 masa kerajaan Kadiri, Singhasari dan Majapahit.
Ketika kerajaan Majapahit yang dipimpin Hayam Wuruk berkunjung ke bangunan candi ini dan melakukan pemujaan di tempat ini, kerajaan terbesar di Jawa Timur ini memberikan pengaruh besar pada wilayah Kota Blitar khususnya desa Penataran.
Dilihat dari relief candi, mengungkap bahwa Indonesia merupakan asal peradaban dunia. Hal tersebut terlihat dari relief yang menceritakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia pernah melakukan ekspansi hingga benua Amerika dengan mengalahkan bangsa Indian serta sempat berperang dengan bangsa Maya.
Selain itu, beberapa relief menggambarkan beberapa bangsa seperti bangsa Han (China), Campa, Maya, Yahudi, dan Mesir telah tunduk pada leluhur kita.
Disamping hal tersebut, terdapat relief yang menggambarkan 3 spesies yaitu ras manusia kera, ras raksasa, dan manusia biasa yang membantah teori darwin bahwa jasad manusia jaman dahulu diperabukan. Tapi hal tersebut masih belum tentu kebenarannya karena pendapat tersebut hanya berasal dari beberapa ahli.
Pada kala tersebut, nama Blitar masih bernama Balitar (bali dadi latar). Candi Penataran merupakan ikon sejarah terbesar yang dimiliki Blitar.
Di candi tersebut dan atau di wilayah desa Penataran pernah berlangsung upacara-upacara pengangkatan raja Kadiri, Singhasari, dan Majapahit. Di desa dan candi ini pula, Mahapatih Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa untuk menyatukan Nusantara.
Walau Candi Penataran telah menjadi destinasi wisata, tetapi lingkup desa ini belum menjadi perhatian banyak pihak sebagai lokasi desa wisata budaya.
Padahal, wilayah desa Penataran tersebut juga perlu dikelola karena berpotensi menjadi desa wisata budaya. Wilayah desa Penataran perlu dikembangkan lebih lanjut, karena desa tersebut juga menyimpan banyak sejarah perjalanan tiga kerajaan besar yang pernah singgah di kota Blitar.
Heritage
Heritage dalam kasus ini merupakan situs cagar budaya atau tinggalan arkeologis yang menyebabkan suatu desa yang memiliki situs tersebut layak dijadikan sebagai desa wisata budaya.
Candi Penataran dibangun sebagai tempat pemujaan Hayam Wuruk (Majapahit) untuk menyembah Hyang Acalapati atau dikenal sebagai Girindra (Raja Gunung).
Beberapa ahli mengatakan pula bahwa candi ini merupaan tempat perabuan Ken Arok (pendiri kerajaan Singhasari), serta Raden Wijaya (pendiri kerajaan Majapahit).
Yang menarik dari candi ini untuk dikunjungi yaitu bangunan-bangunan serta cerita atau pesan moral yang dituangkan dalm bentuk relief-relief yang terpahat pada dinding candi.
Selain itu, pemandangan di wilayah candi Penataran sangat indah serta udara di sekitar lokasi tersebut sangat sejuk karena berada di lereng gunung.
Candi Penataran berlatar Gunung Kelud ini memiliki tinggi 7,19 meter yang membuat candi ini tampak megah serta adanya relief-relief pada bagian dinding pilar, pahatan arca singa bersayap dan naga bersayap dengan posisi kepala menghadap ke depan semakin menambah nilai estetika pada candi ini.
Candi penataran dibangun di atas lahan dengan luas ± 1,3 hektar. Candi ini sejak 1995 telah didaftarkan sebagai calon Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO dalam kategori budaya.
Habitat
Habitat merupakan definisi lingkungan beserta kebudayaan dan tradisi yang ada di dalamnya. Pada desa Penataran ini, lingkungan sekitar beserta isinya merupakan habitat dari desa tersebut.
Desa Penataran secara administratif terletak di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar Jatim. Desa ini berada pada lereng atau kaki gunung Kelud sehingga wilayah desa ini masih subur dan sejuk.
Selain suasana desa yang masih alami, terdapat juga kebudayaan dan tradisi yang masih dilestarikan masyarakat hingga sekarang. Ada 2 tradisi yang selalu dilakukan warga Desa Penataran di Kompleks Candi Penataran yaitu Pagelaran Purnama Seruling Penataran dan Tumpeng Agung Nusantara.
Pagelaran Purnama Seruling Penataran atau disingkat PSP merupakan acara atau tradisi rutin yang dilaksanakan setiap 3 bulan sekali di Candi Penataran yang merupakan festival budaya bergengsi di Blitar.
Sedangkan Tumpeng Agung Nusantara merupakan acara atau ritual yang diselenggarakan setiap tanggal 27 Juni untuk memperingati berdirinya Candi Penataran pada 27 Juni 1197. Tumpeng Agung Nusantara ini biasanya dikirab dari situs Umpak Balekambang menuju situs Komplek Candi Penataran.
Kedua tradisi tersebut merupakan bukti bahwa dahulu, Desa Penataran merupakan desa yang berperan penting dan menjadi saksi sejarah kebudayaan yang tumbuh di wilayah tersebut.
Handcraft
Handcraft merupakan kerajinan yang dibuat manusia menggunakan tangan langsung baik dengan bantuan mesin maupun murni karya tangan manusia.
Di Desa Penataran terdapat beberapa kerajinan tangan yang dihasilkan sebagai oleh-oleh dan pernak—pernik dari kompleks situs Candi Penataran.
Beberapa hasil karya masyarakat Desa Penataran tersebut antara lain pakaian atau topi bertuliskan Penataran atau I Love Blitar. Sedangkan cidera mata lain yang khas dengan adanya situs tinggalan arkeologis di desa tersebut yaitu miniatur candi Penataran baik yang terbuat dari kaca maupun kayu.
Masyarakat telah memproduksi pernak-pernik tersebut sejak Candi Penataran dikenal di kalangan umum dan dijadikan sebagai lokasi wisata. Beberapa pengerajin miniatur candi tersebut membuka kios-kios untuk menjual hasil kerajinan mereka.
Dengan adanya situs arkeologis yang telah menjadi tujuan wisata serta potensi desa Penataran yang dapat menjadi desa wisata budaya merupakan hal yang dapat menguntungkan di bidang ekonomi dan mata pencaharian masyarakat sekitar.
Oleh sebab itu, dengan adanya masyarakat yang dapat membuat hasil karya sebagai pernak pernik yang khas dari desa tersebut, tidak salah jika wilayah Desa Penataran menjadi Desa Wisata Budaya yang dikenal hingga ke mancanegara. (ist/sumber student.unud.ac.id)
Kesenian Reog Ponorogo mampu menjadi daya tarik wisatawan mancanegara. Foto: Humas Pemkot Sby.
INDONESIA dikenal kaya akan keragaman budaya, suku, dan bahasa. Keragaman suku bangsa, budaya dan bahasa diikuti lahirnya beragam seni tradisi yang begitu melimpah. Keragaman itu sekaligus menjadi pelengkap kekayaan alam Bumi Pertiwi.
Ragam seni budaya warisan nenek moyang membuat khazanah kehidupan berbangsa di Tanah Air kian indah. Kekayaan seni budaya menjadi anugerah yang luar biasa. Kekayaan ini menjadi magnet luar biasa dan sangup mendatangkan pelancong ke Tanah Air.
Namun, seiring berjalannya waktu, dan seiring kian massive-nya pengaruh globalisasi. Ditambah limpahan arus informasi yang begitu dashyat berkat kecanggihan tehnologi khususnya internet, membuat seni tradisi lambat laun mulai terpinggirkan. Seni tradisi adiluhung perlahan mulai ditinggalkan terutama oleh generasi muda.
Generasi internet, lebih gandrung dengan kehidupan yang terlihat ‘mapan’, gandrung dengan budaya pop. Seni tradisi terlihat lebih kuno. Apresiasi terhadap pegiat seni tradisi pun, terus memudar. Akhirnya kesenian tradisi yang memiliki nilai luar biasa ini seperti mati suri. Hidup segan, mati pun tak mau.
Kesadaran akan kekayaan budaya bangsa kembali menyeruak tatkala muncul klaim atas kekayaan negeri oleh bangsa lain. Seperti yang terjadi pada kesenian tradisional Reog Ponorogo. Kesenian ini sempat menjadi polemik kala diklaim jadi kekayaan negara tetangga.
Tapi sayangnya, setelah polemik berakhir, atensi terhadap kesenian tradisional belum juga membaik. Padahal, para pelaku seni tradisi merupakan para pengabdi sejati.
Para pelestari seni budaya warisan leluhur, yang rela menghabiskan waktu tenaga dan pikiran demi melestarikannya. Tanpa dukungan nyata, para pelaku dan pelestari ini akan kehabisan darah sebelum akhirnya mati.
Tak ingin itu terjadi, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) turut ambil bagian. Badan usaha Milik Negara (BUMN) ini tergerak ikut melestarikan seni tradisi dengan melakukan pendampingan terhadap kelompok seni tradisi yang terkesan ‘mati suri’ Reog Ponorogo Singo Mangkujoyo di Jl Gubeng Kertajaya V, Surabaya.
Bantuan uang pembinaan diberikan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) PLN Peduli. Bantuan sebesar Rp 150 juta diberikan secara bertahap demi menghidupkan kembali kelompok seni tradisi ini. Perlahan, suntikan kepedulian PLN berhasil membuat Reog Ponorog Singo Mangkujoyo hidup kembali.
Kini Reog Ponorogo Singo Mangkujoyo binaan PLN sudah melalang buana untuk tampil di berbagai event. Salah satunya, tampil pada Parade Budaya dan Bunga Surabaya 2016 pertengahan tahun lalu. Event yang digelar dalam rangkaian HUT Kota Surabaya mengambil titik start di Tugu Pahlawan dan finish di Balaikota Surabaya.
“Masyarakat cukup antusias menyambut grup reog binaan PLN. Banyak mengunjung yang mengajak swafoto atau selfie baik dengan reog maupun mobil bunga PLN,” ucap Deputi Manager Komunikasi dan Bina Lingkungan PT PLN (Persero) Distribusi Jatim, Pinto Raharjo, seperti dirilis Humas PLN Jatim di Koran Sindo.
Hidupkan Kesenian Ludruk
Berhasil membangkitkan kembali Reog Ponorogo Singo Mangkujoyo tak membuat atensi PLN terhadap pelestarian seni tradisi berakhir. PLN menambah target sasaran pembinaan pada kesenian tradisi lain. Masih dengan dana CSR PLN Peduli, perusahaan listrik ini menyasar kesenian ludruk.
Kesenian asli Jatim yakni ludruk dihidupkan kembali dengan dana CSR senilai Rp 200 juta yang disalurkan secara bertahap. Dengan langkah itu, diharapkan kesenian tradisional khas Indonesia seperti ludruk dan reog tidak lagi diklaim sebagai seni budaya negaralain.
Manager Komunikasi Hukum dan Administrasi PT PLN Distribusi Jatim G Wisnu Yulianto mengatakan, bantuan CSR yang ditujukan untuk seni tradisional Jatim sengaja dititikberatkan pada kenyataan kelestarian ludruk yang kini juga seakan mati suri. Seperti halnya pada Reog Ponorogo.
“Siapa lagi yang peduli terhadap kesenian tradisional jika bukan dari perusahaan yang memiliki kepedulian seperti yg dilakukan PLN. Kami berharap perusahaan lain maupun BUMN lainnya memiliki kepedulian yang sama dalam upaya menghidupkan seni tradisional ini,” harapnya.
Kesenian ludruk yang beruntung mendapat suntikan bantuan dana CSR adalah Ludruk Karya Budaya Mojokerto. Selain bantuan uang, PLN juga melakukan pendampingan manajemen agar lebih baik lagi.
“Kami yakin, ludruk akan tumbuh menjadi lebih besar dan bertahan diantara seni budaya dari negara lain. Dan masyarakat Indonesia khususnya Jawa Timur masih suka menonton ludruk,” terang Wisnu.
Pimpinan Ludruk Karya Budaya Mojokerto, Eko Edy Susanto mengemukakan, sangat bangga dengan bantuan dari PLN tersebut. Dana yang sudah diterimanya siap digunakan untuk beberapa keperluan seperti perbaikan ‘lighting’, pembelian genset, ‘dimmer’ (tata lampu), kaos pengrawit dan honor personel pelawak.
”Kami sangat bersyukur karena bantuan dari PLN memang di luar dugaan. Bahkan, mimpi yang sebenarnya dan akan memacu kami insan seniman ludruk untuk bangkit dan berusaha untuk hidup lagi,” katanya.
Ia meyakini, dengan semakin banyaknya kegiatan CSR yang salurkan perusahaan terutama untuk kesenian tradisional maka akan memacu ludruk tumbuh menjadi lebih besar. Selain itu, ludruk bisa menjadi seni budaya tradisional yang selalu bertahan baik di dalam negeri maupun di masyarakat internasional. (sak)
Dr Lydia Kieven, penulis buku ‘Menelusuri Figur Bertopi Dalam Relief Candi Zaman Majapahit’. Foto: Budayapanji.com.
BAGI awam, sederetan relief pada dinding candi seringkali tidak dimengerti. Hal ini bisa dimaklumi, sebab untuk dapat mengerti memang diperlukan ikonografi, yaitu cabang sejarah seni yang mempelajari identifikasi, deskripsi dan interpretasi isi gambar.
Dengan ilmu ini, pembacaan relief candi dapat memberi gambaran kepada sejarawan, sosiolog, antropolog bahkan masyarakat perihal sikap budaya di masa silam untuk kita pakai merancang masa depan.
Sebagai contoh, relief perahu pada Candi Borobudur. Dari panel itu dapat diketahui telah berkembang teknologi pertukangan perahu dan hebatnya budaya maritim nenek moyang kita di abad ke-9.
Demikian pula yang terbaca dalam relief candi-candi di era Kerajaan Majapahit, banyak hal menarik dapat dipelajari, salah satunya hadir relief figur bertopi yang tidak dijumpai pada relief candi periode Jawa Tengah.
Relief bertopi yang sangat spesifik ini telah menarik perhatian Dr Lydia Kieven, seorang antropolog lulusan University of Sydney, untuk datang ke Pulau Jawa dan mengadakan penelitian dalam waktu yang panjang.
Figur bertopi dalam relief candi di periode akhir Majapahit, bertutur beragam kisah dengan beragam fungsi yang mencerminkan sikap budaya dan masyarakatnya.
Pada relief Teras Pendopo di kawasan situs Candi Panataran Blitar, serta pada dinding Petirtaannya, di bagian belakang, dipahatkan figur bertopi yang dimengerti sebagai tokoh Panji.
Menurut Dr Lydia Kieven, figur tersebut terbaca sebagai tokoh utama yang cukup menarik ditelusuri, figur itu memang bernama Panji Asmarabangun atau biasa disebut Raden Panji.
Salah satu ciri khas yang menonjol dari figur ini adalah memakai topi setengah bundar yang disebut tekes.
Selain itu figur ini tampil sederhana, tanpa memakai baju (dada terbuka), mengenakan kain panjang pada bagian bawah, memakai gelang, cincin dan anting di telinga dan senantiasa diiringi kadeyan / embannya bernama Punta dan Kertala.
Kisah singkatnya, Raden Panji Asmarabangun adalah seorang Pangeran dari kerajaan Jenggala (abad 9), memiliki kekasih bernama Dewi Sekartadji atau Dewi Galuh Candra Kirana, putri dari kerajaan Panjalu.
Sayangnya sang ayah Sekartaji tidak berkenan dengan percintaan tersebut dengan alasan sudah menjodohkan putrinya dengan pria lain. Mendapati penolakan ini, maka Dewi Sekartaji bertekad melarikan diri sebab tidak berkenan dijodohkan.
Keadaan ini akhirnya membuat Raden Panji memutuskan diri berkelana, mencari sang kekasih yang menghilang tersebut. Kisah ini berakhir bahagia dengan menyatukan mereka berdua kembali.
Secara politis, perkawinan Panji dan Sekartaji telah menyatukan dua kerajaan besar yakni Jenggala dan Panjalu. Sifat, sikap dan perilaku Raden Panji yang bijak serta merakyat selama berkelana inilah yang menarik dikaji dan diwarisi sebagai moral etik budaya bangsa Indonesia yang adiluhung.
Di era Kerajaan Majapahit, maka klaim pemersatu itu dimiliki Raja Hayam wuruk dengan perjalanan keliling negara sebagaimana tercatat dalam Desawarnana (Negarakrtagama).
Kalau diamati berbagai relief di candi yang melukiskan tokoh bertopi yang dikaitkan dengan makna simbolisasi tokoh Panji di banyak candi, seringkali figur bertopi ini memiliki peran berbeda-beda. Pada relief Candi Kendalisodo (lereng gunung Penanggungan), Panji memegang peran pemandu ke ranah religious/esoteris.
Sedangkan di pemujaan Candi Yudha, Panji memandu bangsawan muda untuk menunjukkan kepada mereka jalan menuju kekesatriaan.
Figur bertopi hadir juga pada relief Candi Jago, Candi Surawana, Candi Mirigambar dan beberapa candi di Gunung Penanggungan. Kehadirannya teridentifikasi dalam beragam status, dapat mencerminkan rakyat biasa, bangsawan, pangeran atau raja (Panji).
Hasil penelitian Dr Lydia Kieven, perihal relief figur bertopi pada candi-candi zaman Majapahit periode Jawa Timur sungguh detil dan memberikan tafsir yang baik.
Tulisan perempuan peneliti ini kini dapat dibaca dalam buku setebal 452 halaman. Judulnya ‘Menelusuri Figur Bertopi Dalam Relief Candi Zaman Majapahit, Pandangan Baru terhadap Fungsi Religius Candi-Candi Periode Jawa Timur Abad ke-14 dan ke-15’.
Sebagai penerjemah Arif Bagus Prasetyo, penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) bekerja sama dengan Ecole Franqaise d’Extreme-Orient dan InstitutFranqais d’Indonesie, Desember 2014.
Versi Bahasa Inggris, ‘Following the Cap-Figure in Majapahit Temple Reliefs A New Look at The Religious Funtion of East Javanese Temples, 14th and 15th centuries’, Koninklijke Brill NV, 2013, Leiden, The Netherland.
Sebagaimana kata penulisnya, buku ini memberi tafsir baru perihal peranan figur bertopi yang terukir pada relief candi-candi era akhir Kerajaan Majapahit.
Figur bertopi yang dikenali bernama Panji, terdeteksi memiliki fungsi beragam, kadang sebagai pengajaran, tuntunan bahkan mediasi untuk ‘peziarah’ dalam mempersiapkan sikap dan mental menjelang pertemuan dengan yang suci di candi.
Selain mengamati sosok figur bertopi, dalam buku ini banyak dikupas perihal percandian di Jawa Timur. Buku ini yang sangat menarik dan pantas mengisi rak buku sebagai koleksi yang bermutu.
Buku ini ditulis secara serius, detil dan teliti, hal ini tercermin dari banyaknya literatur yang digunakan. Di sisi lain juga melihat spirit Dr Lydia Kieven dalam penjelajahannya ke berbagai lokasi candi untuk mengadakan penelitian, meski seringkali tidak mudah untuk menjangkau lokasi tersebut. (ist/Resensi oleh Bambang AW-perupa dan penulis tinggal di Kota Malang diupload di Padmagz.com)
Uang Gobog Wayang Majapahit dari buku The History of Java. Foto: Pidipedia.com.
INDONESIA merupakan negara kepulauan dengan keadaan alam sangat melimpah dan terletak di jalur khatulistiwa. Letak tersebut membuat kepulauan Nusantara ini menjadi destinasi pedagang asing singgah ke Indonesia.
Pedagang asing dari berbagai negara mulai singgah ke Nusantara sejak jaman kerajaan-kerajaan besar yang berkuasa di Indonesia. Kekayaan alam Nusantara yang melimpah membuat kerajaan-kerajaan tersebut mendapat kerjasama perdagangan dengan negara lain.
Namun dalam urusan mata uang, Nusantara masih terbilang muda dalam mengenal mata uang sebagai alat pembayaran. Karena pada masa itu, kebanyakan mereka masih menggunakan cara barter, baik hasil perkebunan, ternak ataupun beberapa jenis keping logam tarmasuk perak dan emas, tapi bukan berupa mata uang resmi kerajaan.
Tercatat pada sejarah, bahwa negeri ini baru mempunyai uang resmi pada sekitar abad ke-8, yang disebaban karena adanya pengaruh dari mitra negara-negara tetangga, yang juga berdagang disaat itu namun sudah mempunyai mata uangnya sendiri (seperti Arab, China dan India).
Sejarah uang Indonesia dimulai sejak masa jaya Kerajaan Mataram Kuno, yakni sekitar tahun 850 M. Kerajaan ini menggunakan koin-koin emas dan perak berbentuk kotak sebagai alat tukarnya.
Sedangkan mata-uang Indonesia dicetak pertama kali sekitar tahun 850/860 Masehi, yaitu pada masa kerajaan Mataram Syailendra yang berpusat di Jawa Tengah. Koin-koin tersebut dicetak dalam dua jenis bahan emas dan perak, mempunyai berat yang sama, dan mempunyai beberapa nominal:
– Masa (Ma), berat 2.40 gram; sama dengan 2 Atak atau 4 Kupang
– Atak, berat 1.20 gram; sama dengan ½ Masa, atau 2 Kupang
– Kupang (Ku), berat 0.60 gram; sama dengan ¼ Masa atau ½ Atak
Sebenarnya masih ada satuan yang lebih kecil lagi, yaitu ½ Kupang (0.30 gram) dan 1 Saga (0,119 gram).
Koin emas jaman Syailendra berbentuk kecil seperti kotak, dimana koin dengan satuan terbesar (Masa) hanya berukuran 6 x 6/7 mm saja. Pada bagian depannya terdapat huruf Devanagari “Ta”.
Dibelakangnya terdapat incuse (lekukan kedalam) yang dibagi dua bagian, masing-masing semacam bulatan. Dalam bahasa numismatik, pola ini dinamakan “Sesame Seed”.
Sedangkan koin perak Masa mempunyai diameter antara 9-10 mm. Pada bagian muka dicetak huruf Devanagari “Ma”, singkatan dari Masa, dan di bagian belakangnya terdapat incuse dengan pola “Bunga Cendana”.
Kerajaan Syailendra akhirnya meluaskan wilayahnya hingga ke daerah-daerah timur Jawa. Dimana pelabuhan-pelabuhannya seperti Tuban, Gresik, dan Surabaya banyak kedatangan para pedagang dari manca negara.
Jawa Timur dengan pelabuhan-pelabuhannya merupakan daerah maritim, akhirnya semakin maju dibandingkan dengan kerajaan induknya di Jawa Tengah yang merupakan daerah agraris.
Pada jaman Dinasti Tang di China (618-907 Masehi), orang-orang China mulai berdatangan ke tanah Jawa untuk melakukan perdagangan.
Mereka membawa dan memperkenalkan mata-uangnya yang disebut Cash atau Caixa, Cassie, Pitje, atau orang Jawa menyebutnya Kepeng atau Gobok, dengan ciri khas terdapat lubang persegi di tengah. Koin-koin China ini lambat laun dapat diterima penduduk sebagai alat pembayaran.
Pada kira-kira tahun 928 Masehi, Gunung Merapi meletus dahsyat, yang mengakibatkan rusaknya hampir seluruh sendi-sendi perekonomian kerajaan.
Karena alasan diatas, disamping semakin majunya daerah Jawa Timur, maka pada tahun 929 diputuskan memindahkan ibukota kerajaan, dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Nantinya Raja Mpu Sendok membagi wilayah Jawa Timur menjadi dua untuk dibagikan kepada dua orang anaknya, menjadi wilayah Daha dan Jenggala.
Pada era Kerajaan Jenggala (1042-1130-an) dan Kerajaan Daha (1478-1526) uang-uang emas dan perak tetap dicetak dengan berat standar, walaupun mengalami proses perubahan bentuk dan desainnya.
Koin emas yang semula berbentuk kotak berubah desain menjadi bundar, sedangkan koin peraknya mempunyai desain berbentuk cembung dengan diameter antara 13-14 mm.
Pada waktu itu, uang kepeng China yang didatangkan pedagang Cina sebagai alat tukar dan barter begitu banyak. Sedemikian banyaknya maka dipakai juga secara ‘resmi’ sebagai alat pembayaran, menggantikan fungsi mata uang lokal emas dan perak.
Adapun alasan-alasan dari penggantian fungsi ini adalah ukuran koin emas dan perak lokal terlalu kecil, sehingga mudah jatuh atau hilang. Sedangkan uang kepeng China mempunyai lubang ditengah. Direnteng dengan tali sebanyak 200 keping, sehingga praktis dibawa kemana-mana dan tidak mudah hilang.
Koin emas dan perak lokal adalah mata-uang dalam pecahan besar, sedangkan koin-koin kepeng berfungsi sebagai uang kecil atau uang receh, yang sangat dibutuhkan dalam perdagangan.
Nilai tukar untuk 1 Masa perak berharga 400 buah Chien. Dan pada akhir abad ke-9, dengan 4 Masa perak saja bisa membeli seekor kambing.
Sebenarnya koin-koin emas dan perak yang sudah mengalami perubahan bentuk adalah produk dari Daha dan Jenggala. Namun karena Kerajaan Majapahit (1293-1528) pada waktu itu merupakan kerajaan besar di Asia Tenggara, maka biasanya orang menamai koin itu sebagai uang Majapahit.
Uang Gobog Wayang
Mata uang Jawa dari emas dan perak yang ditemukan kembali termasuk di situs kota Majapahit ini, kebanyakan berupa perkembangan dari dinasti sebelumnya.
Ada uang “Ma”, zaman dinasti Syailendra yang dalam huruf Nagari atau Siddham, kadang kala dalam huruf Jawa Kuno. Juga beredar mata uang emas dan perak dengan satuan tahil. Yang ditemukan kembali berupa uang emas dengan tulisan “ta” dalam huruf Nagari. Kedua jenis mata uang tersebut memiliki berat yang sama, antara 2,4–2,5 gram.
Selain itu masih ada beberapa mata uang emas dan perak berbentuk segi empat, ½ atau ¼ lingkaran, trapesium, segitiga, bahkan tak beraturan sama sekali.
Uang ini terkesan dibuat apa adanya, berupa potongan-potongan logam kasar; yang dipentingkan adalah cap yang menunjukkan benda itu dapat digunakan sebagai alat tukar.
Tanda “tera” atau cap pada uang-uang tersebut berupa gambar sebuah jambangan dan tiga tangkai tumbuhan atau kuncup bunga teratai (?) dalam bidang lingkaran atau segi empat.
Jika dikaitkan dengan kronik China dari zaman Dinasti Song (960–1279) yang memberitakan bahwa di Jawa orang menggunakan potongan-potongan emas dan perak sebagai mata uang, mungkin itulah yang dimaksud.
Pada zaman Majapahit, keping koin ini dikenal atau disebut sebagai “Gobog Wayang”. Untuk pertama kalinya diperkenalkan Thomas Raffles, dalam bukunya ‘The History of Java’. Bentuknya bulat dengan lubang kotak ditengah karena pengaruh dari koin China.
Koin Gobog Wayang adalah asli buatan lokal, namun tidak digunakan sebagai alat tukar. Hanya sebagai koin token. Koin-koin ini digunakan untuk persembahan di kuil-kuil seperti yang dilakukan di Cina ataupun di Jepang sehingga disebut juga sebagai ‘koin-koin kuil’. (sak/sumber: student.unud.ac.id)
Batik bermotif candi diperkenalkan UNESCO di Jogja. Foto: Aktual.com.
United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) Jakarta memperkenalkan batik bermotif relief candi sebagai situs warisan dunia di atrium Galeria Mal Yogyakarta.
Batik-batik itu ditampilkan dalam pameran bertajuk ‘Crossroad of Cultures: Bamiyan and Borobudur’, mengaitkan warisan budaya UNESCO yaitu Candi Borobudur di Indonesia dan Lembah Bamiyan di Afganistan. Pameran berlangsung 10-15 Januari 2017. Pameran yang sama juga akan digelar di Museum Kamawibhangga Candi Borobudur pada 20 Januari-2 Februari 2017.
Indonesia punya empat situs budaya dan empat situs alam yang masuk dalam daftar warisan dunia. Dalam pameran itu, pembatik menorehkan malam (tinta batik) pada kain batik menggunakan canting dalam pameran itu.
Ada juga batik bermotif relief dekoratif Candi Borobudur, Pawon, dan Mendut produksi perajin. Motif relief ada yang berupa gambar gajah. Mereka yang ikut pameran merupakan perajin binaan UNESCO yang tinggal di sekitar candi.
Siti Rahayu, satu di antara anggota Kelompok Rumah Batik Borobudur yang mendapat pelatihan dari UNESCO. Setahun lalu, ia dan delapan anggota kelompok memperoleh modal dan pelatihan hingga menghasilkan produksi batik tulis bermotif relief candi.
“Kami produksi kain batik motif relief Candi Mendut dan Pawon,” kata Siti seperti dikutip Tempo.co, Rabu (11/).
Batik-batik tulis produksi mereka dibawa ke sejumlah pameran dan galeri. Harganya paling murah Rp 400 ribu per kain. Produksi batik tulis memakan waktu yang lama dan prosesnya lebih rumit ketimbang batik cap. Kelompok Rumah Batik Borobudur per bulan hanya menghasikan dua kain.
Siti berujar, hasil pendampingan itu cukup membantu ekonomi warga yang tinggal di sekitar Candi Borobudur. Semula mereka tak punya kemampuan membatik atau bukan perajin.
Setiap setengah tahun mereka bisa menghasilkan rata-rata 20 kain batik di showroom yang berdiri di dekat Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Batik motif relief candi itu digemari turis asing dari banyak negara yang mampir berwisata di Candi Borobudur.
Fasilitator lapangan yang menjadi mitra UNESCO, Veronika Fajarwati, mengatakan ada empat kelompok perajin batik yang mendapat pendampingan dari UNESCO. Tiga di antaranya batik dan satu untuk jumputan.
Selain Rumah Batik Borobudur, kelompok perajin lain yang didampingi yakni batik tulis Dewi Wanu dari Desa Borobudur dan Wanurejo Kecamatan Borobudur, Magelang. Ada pula batik tulis Sojiwan di Kadipaten Kidul, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah.
Juga ada kelompok Lapak Jumputan Candi Ijo di Sambirejo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta. “Kami fokus di kelompok perajin di Candi Borobudur dan Prambanan sebagai warisan dunia,” kata Veronika.
Mereka dilatih untuk manajemen organisasi dan marketing. Misalnya bagaimana memasarkan batik di pameran-pameran. Lewat batik tulis itu, mereka berharap kekayaan relief situs warisan dunia bisa lestari, terjaga, dan dikenal luas oleh publik di berbagai belahan dunia. (ist)
Warga melihat tumpukan batu bata dalam kondisi rusak di lokasi galian C Desa Sugihwaras, Ngoro, Jombang. Foto: Okezone.com.
Struktur bangunan kuno yang ditemukan di Desa Sugihwaras Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang akhir Desember 2016 lalu diduga merupakan peninggalan dari zaman pra-Majapahit.
Menurut Ketua Pelestari Sejarah-Budaya Kadhiri (Pasak), Novi BMW sejumlah temuan di Jombang teridentifikasi cukup kuno. Misal Istana Watugaluh Raja Sindok hingga Dharmawangsa yang diidentifikasi berada di wilayah Jombang.
“Kemudian masa Raja Airlangga prasastinya tersebar di Jombang bagian utara. Hingga Masa Majapahit kita temukan beberapa candi pada masanya. Ada kemungkinan situs Sugihwaras merupakan kontinuitas budaya antar masa kerajaan-kerajaan tersebut,” papar Novi seperti dikutip JatimTimes.com, Jumat (6/1).
Namun demikian, kata Novi, pihaknya tidak berani memastikan usia bangunan kuno itu. Temuan artefak itu perlu dianalisis terlebih dahulu oleh arkeolog.
“Untuk waktu, belum dapat diungkap karena secara artefaktual yang menyatakan tahun belum ada,” jelasnya.
Novi mengatakan, temuan struktur bangunan di Sugihwaras itu cukup unik. Terbukti dengan ditemukannya dasar pondasi dengan struktur selatan lebih rendah dari pada dasar pondasi sisi barat.
“Ada indikasi bahwa struktur dahulu dibangun pada topografi yg berbeda, berundak-undak,” ujarnya.
Soal tindak lanjut temuan itu, Novi mendorong Pemerintah Daerah Kabupaten Jombang segera membentuk Tim Ahli Cagat Budaya sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
“Dibutuhkan kordinasi yang lebih serius antar stakeholder terkait dengan pelestarian dan pemanfaatan situs Sugihwaras. Baik untuk kepentingan ilmu pengetahuan, budaya serta ekonomis yang berupa wisata budaya,” pungkas Novi.
Beberapa waktu lalu wargas menemukan puing bangunan kuno yang diduga situs bersejarah di Desa Sugihwaras, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.
Setiap hari warga terus berdatangan untuk melihat dari dekat reruntuhan bangunan yang diduga peninggalan dari zaman Majapahit tersebut. Belum diketahui pasti bangunan apa ini apakah candi rumah bangsawan atau bangunan keraton.
Penemunya adalah para penambang galian C yang setiap hari bekerja mengeruk tanah untuk dijual di lokasi tersebut.
Akibatnya sebagian bangunan kondisinya hancur oleh aktivitas penambangan. Namun sebagian lainnya masih utuh dan berdiri kokoh di bawah tanah.
Warga meyakini bangunan ini peninggalan dari zaman Majapahit karena strukturnya terbuat dari batu bata merah yang ukurannya sangat besar sama dengan struktur bangunan candi-candi Majapahit pada umumnya.
Namun yang membuatnya berbeda adalah ukuran bangunan ini yang sangat besar dengan panjang dan lebar mencapai lebih dari 40 meter.
Selain batu bata merah berukuran besar dari lokasi ini warga juga mengaku menemukan berbagai benda kuno lainnya diantaranya adalah uang logam kuno guci kuno dan timbangan kuno.
Sayang benda-benda tersebut kini raib dibawa warga yang menemukannya. Agar bangunan kuno ini tidak semakin hancur Pemerintah Desa Sugihwaras langsung melarang warga melanjutkan penambangan di lokasi situs.
Feri Mulyatno Kepala Desa Sugihwaras mengaku juga sudah melaporkan adanya penemuan bangunan kuno ini ke Pemerintah Kabupaten Jombang serta BP3 Trowulan. (ist)
Karina Pradinie Tucunan (kanan) bersemangat menunjukkan Itrip Budaya bersama mahasiswanya, Wahyu Septiana. Foto: JawaPos.com.
KEDUA mata Karin, panggilan akrab Karina, terlihat sembap. Sambil menikmati bandeng bakar, perempuan 32 tahun itu sibuk mengutak-atik ponselnya. Senyumnya mengembang.
”Setelah susah payah, akhirnya jadi. Aplikasi ini belum sempurna,” ujar Karin semringah seperti dikutip JawaPos.com. Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) itu memamerkan karyanya: sebuah aplikasi Android bernama Itrip Budaya.
Isinya produk tentang objek-objek wisata di Kota Pudak. Karin mengaku dirinya sebagai penggagas program tersebut. Namun, dia tidak sendirian menggarapnya. Ibu satu anak itu dibantu Tim Cagar Budaya Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITS.
“Program ini hasil penelitian tahun 2016. Untuk survei, saya juga dibantu anak-anak kesayangan,” kata Karin. Dia lantas menoleh ke arah salah seorang mahasiswanya, Wahyu Septiana.
ITrip Budaya diluncurkan pada pertengahan Desember 2016 lalu. Aplikasi itu mengupas objek-objek wisata di Kota Pudak. Selain makam-makam Islam sebagai wisata religius, program tersebut memuat peta jalur kunjungan ke Kampung Kemasan dan pantai-pantai di Gresik.
Muatan materi lain akan ditambahkan. Sebab, ITrip Budaya masih dikembangkan. Misalnya, tambahan daftar penginapan di sekitar objek wisata. Termasuk tarif kunjungan. Karin dan teman-temannya tiada berhenti berkreasi.
Dia menambahkan pula fitur macam-macam kuliner. Acara penting yang diagendakan pemkab juga di-update. Dengan begitu, pangakses program tidak sulit berselancar di seputar dunia wisata Kota Giri.
“Mungkin aplikasi lain banyak. Namun, tetap ada yang membedakan,” imbuh Karin. Putri pertama di antara tiga bersaudara itu menjelaskan, ITrip dilengkapi kotak saran dan pertanyaan secara online.
Peselancar bisa menemukan informasi yang tak tersaji dalam aplikasi. Karin girang. Berdasar pengamatannya, program itu mulai diburu. Pengunduhnya semakin banyak.
Tentu, dosen pengajar bidang perencanaan kota di ITS tersebut belum puas. Dia optimistis minat masyarakat untuk berkunjung ke Gresik terus bertambah. Termasuk warga asing.
“Saya bermimpi, objek wisata jadi pusat ekonomi masyarakat. Jadi, pelaku usaha bisa merasakan manisnya keberadaan cagar budaya,” ujar Karin.
Mengapa ngotot ingin mengembangkan wisata Gresik? Karin menilai Kota Pudak sebagai daerah unik. Gresik memiliki banyak objek wisata berupa makam Islam. Selain itu, cagar budaya Kampung Kemasan berdiri kukuh.
Karin melihat potensi itu belum tergarap maksimal. Keinginan Karin juga tidak terlepas dari kehidupannya sewaktu kecil. Perempuan yang murah senyum tersebut masih ingat betul saat tinggal di Kampung Kemasan.
Tingkah laku dan pengalaman main petak umpet masih menggoda memorinya. “Sebenarnya saya masih ada hubungan darah dengan salah satu masyarakat pemilik rumah di Kampung Kemasan. Meski, jauh,” imbuhnya.
Banyak cerita di objek wisata tersebut. Dia ingin cagar budaya itu semakin termasyhur. Anak Sri Priyantini tersebut ingin potensi wisata di kota kelahirannya semakin berkembang. Gresik kaya budaya.
Kota unik yang masih memiliki adat-adat kerukunan di masyarakat. “Sekarang sudah lahir batik Gajah Mungkur. Saya ingin masyarakat lain berkreasi,” ujar penghobi membaca tersebut.
Karin ingin setiap cagar budaya ditata ulang. Wisata harus memberikan spot untuk pelaku usaha. Harapannya, di masing-masing lokasi rekreasi tumbuh pusat oleh-oleh khas Gresik. ”Produk pelaku usaha akan kami masukkan ke aplikasi ITrip,” ucapnya, lantas tersenyum. (ist/JP)
Banyak obyek wisata religi bersejarah di Jawa Timur, termasuk Makam Sunan Sendang Duwur di Lamongan. Foto: beritahu.net.
KEPALA Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur Jarianto mengemukakan bahwa destinasi wisata religi tetap menjadi andalan pada tahun 2017 karena Jawa Timur memiliki banyak lokasi bersejarah.
“Mayoritas kawasan wisata religi di Jatim tetap menjadi destinasi favorit karena salah satu faktornya memiliki penduduk dan budaya yang masih dikenal agamis,” ujar Jarianto kepada wartawan di Surabaya, seperti dikutip AntaraJatim, Rabu (11/1).
Berdasarkan data di Pemprov Jatim, wisata religi menjadi destinasi besar penyumbang wisatawan sekaligus menjadikan sesuatu yang positif bagi dunia pariwisata.
Sesuai data 2015, objek wisata religi terlaris di Jatim adalah Makam Sunan Bonang di Tuban yang per tahun jumlah pengunjungnya mencapai 2.078.453 orang.
Sedangkan di Surabaya, tempat wisata religi yang banyak dikunjungi adalah Kawasan Religi Ampel dengan jumlah wisatawan nusantara mencapai 2.040.365 orang.
Menurut dia, data pada 2016 tak berbeda jauh dari sebelumnya karena minat masyarakat Indonesia terhadap spiritual tetap yang utama.
Tak hanya sunan lima wali (Sunan Ampel, Sunan Giri, Maulana Malik Ibrahim, Sunan Bonang dan Sunan Drajat), namun kompleks pemakaman dua mantan Presiden RI, yaitu Soekarno di Blitar dan Gus Dur di Jombang menjadi daya tarik pengunjung, mulai yang berziarah atau sekadar jalan-jalan.
Selain itu, berbagai festival yang berpotensi mendatangkan banyak pengunjung masuk Jatim akan digelar, termasuk mempertahankan even-even sebelumnya.
Mantan Penjabat Bupati Trenggalek itu memisalkan Majapahit Travel Fair yang setiap tahunnya rutin digelar dan sukses mempengaruhi tingkat kunjungan, baik dari Tanah Air maupun mancanegara.
“Ada lagi festival-festival baru, salah satunya Jatim sebagai tuan rumah Festival Panji Nasional. Nanti juga ada lagi acara-acara yang berpengaruh,” ucapnya.
Tak itu saja, terobosan dan inovasi juga menjadi sebuah kewajiban agar tingkat kunjungan bertambah, seperti fasilitas sistem online atau dalam jaringan dengan memanfaatkan teknologi informasi sebagai media promosi.
Pejabat eselon II kelahiran Trenggalek itu optimistis setahun ini tingkat wisatawan bertambah hingga lima persen dari tahun ini yang jumlahnya yakni sekitar 55 juta lebih wisatawan domestik. (ist)
Relief kerbau dan buaya di Candi Penataran Blitar. Foto: Youtube.com.
MASYARAKAT kuno mempunyai berbagai cara untuk mengajar generasi mudanya. Ajaran yang bersifat mendidik dipandang merupakan tonggak untuk mencapai hidup rukun.
Pada masa sekitar seribu tahun lalu, candi merupakan tempat ibadah yang banyak didatangi masyarakat. Maka, agar segala ajaran baik tentang kecerdikan, tingkah laku, dan nasihat mudah diserap oleh masyarakat, dipahatkanlah ajaran-ajaran itu pada dinding candi-candi dalam bentuk panil relief.
Kisah dalam relief, seperti ditulis Hurahura.wordpress.com, dibuat beragam, namun yang paling dikenal dalam bentuk fabel. Kisahnya berupa pengalaman dan petualangan tokoh hewan. Dulu fabel bisa diterima dengan baik oleh anak-anak sampai orang dewasa.
Ajaran moral nenek moyang banyak tergambar dari candi-candi Buddha dan Hindu di Jawa dari berbagai masa. Salah satu kisahnya terdapat pada Candi Mendut. Candi yang bersifat Buddha ini berlokasi tidak jauh dari Candi Borobudur.
Kisah fabel pada candi-candi Buddha biasanya bertema ajaran moral, misalnya kebaikan selalu mengalahkan kejahatan, tolong-menolong selalu dibutuhkan, dan kecerdikan mampu menyelesaikan masalah.
Panil batu yang berisi relief memang tidak begitu banyak. Para arkeolog berhasil mengidentifikasi berdasarkan fungsi candi pada masa dulu. Diketahui bahwa kisah-kisah itu dipahat berdasarkan petikan dari kitab Jataka dan Tantri Kamandaka. Kedua kitab itu dikenal penuh dengan ajaran tamsil ibarat dan falsafah kehidupan yang dalam.
Cerita fabel juga terdapat pada Candi Panataran di Jawa Timur. Berbeda dengan Candi Mendut, Candi Panataran bersifat Hindu. Berbagai ajaran budi pekerti yang mengandung pembelajaran diselipkan nenek moyang kita di sini, di antara relief-relief cerita lain seperti Ramayana dan Kresnayana. Misalnya saja cerita tentang buaya yang tak tahu membalas budi.
Relief Buaya dan Kerbau
Dikisahkan, seekor buaya tiba-tiba tertimpa sebatang pohon. Beruntung, dia jatuh ke tempat yang berlubang sehingga mampu menyelamatkan diri. Ketika seekor lembu melintas di depannya, buaya meminta pertolongan. Sang lembu yang baik hati itu pun berhasil menyingkirkan pohon yang tumbang.
Sang buaya yang sudah terbebas kemudian meminta pertolongan lagi agar sang lembu bersedia mengantarkannya ke sungai. Setibanya di sungai, sang buaya bukannya berterima kasih malah menggigit sang lembu.
Terjadilah perkelahian seru. Namun karena sang buaya terkenal dengan julukan ’raja air’, maka sang lembu pun terdesak.
Sekonyong-konyong datanglah sang kancil bertindak sebagai wasit perkara. Kancil meminta agar buaya dikembalikan ke tempat kejadian semula sewaktu tertimpa pohon.
Alasannya untuk memudahkan penilaian siapa yang benar dan siapa yang salah. Di tempat itu buaya ditinggal sendirian sampai menemui ajal.
Relief ini terdapat pada dinding kolam sisi barat dan bagian belakang arca dwarapala yang terletak di sebelah kanan tangga masuk bagian candi induk sisi utara.
Pelajaran yang bisa diambil tentu saja adalah persoalan balas budi dan kebaikan yang dibalas dengan kejahatan. Sebenarnya di Candi Mendut dan Candi Panataran masih banyak terdapat relief fabel. Belum lagi pada candi-candi lain.
Ajaran moral ini telah terpahat selama ratusan tahun di dinding-dinding candi, bahkan ada yang lebih dari seribu tahun. Meskipun begitu, ajaran moral demikian tetap relevan dan abadi sampai kapanpun.
Kearifan dari masa lampau ini tentu saja patut menjadi perhatian generasi masa kini. (Djulianto Susantio, Majalah Arkeologi Indonesia)