Menggagas Kampung Budaya Polowijen

foto
Seniman membawakan tari topeng di kawasan Situs Budaya Topeng di Polowijen, Malang. Foto: Antara.

Kampung Polowijen mempunyai potensi besar menjadi kampung budaya, membangkitkan ekonomi kreatif lokal, serta daya tarik wisata budaya Kota Malang.

Polowijen adalah sejarah tentang Ken Dedes, ibu dari raja raja besar di tanah Jawa. Mulai petilasan Sumur Windu Ken Dedes dan Mandala Empu Purwa, petilasan Joko Lulo, Makam Mbah Reni penemu Topeng Malangan.

Ada Mbok Gundari penari Topeng Malangan, kini menjadi ikon budaya Malang dan telah ditetapkan sebagai situs budaya Polowijen oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang.

Ketua Tosan Aji, Ajisaka Raden Prasena Cokro Adiningrat menceritakan, sejarah kampung Polowijen harus dipahami masyarakat bahwa keberadaan situs-situs budaya di Polowijen sudah semestinya mampu membangkitkan ekonomi kreatif.

Sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya yang menjadi khasanah dan referensi pengembangan pariwisata di Kota Malang.

“Sentra-sentra industri kreatif seperti kerajinan topeng, gerabah, seni pahat, desain, fashion, handycraft, seni pertunjukan serta kuliner dapat tumbuh seiring dengan meningkatnya sosialisasi dan informasi keberadaan situs Polowijen,” kata Ajisaka dalam Sarasehan Kampung Budaya Polowijen di Malang, akhir Desember 2016 lalu, seperti dikutip Suara.com.

Budayawan Malang, Romo Djathi Kusumo menambahkan, pada tahun 1993 dirinya telah membuat film dokumenter Ken Dedes dan bertindak menjadi sutradara. Dia berjanji akan memberikan dokumen film itu kepada masyarakat Polowijen agar bisa ditonton dan dipahami oleh khalayak ramai.

Romo Djathi menuturkan kala itu Empu Purwa datang pertama kali ke tanah Jawa tepatnya di lereng Gunung Arjuna bersama istrinya yang sedang mengandung putri Ken Dedes.

“Bahwa Panawijen sebagai tanah suci sehingga Empu Purwa mendirikan asrama perguruan yang merupakan wiyata mandala keagamaan Budha jaman itu,” ujarnya.

Sarasehan Kampung Budaya Polowijen ini dihadiri antara lain penggagas kegiatan Ki Demang (Isa Wahyudi), budayawan Romo Djathi Kusumo, Ajisaka Raden Prasena Cokro Adiningrat, Komunitas Pecinta Topeng Malangan Yudit Perdananto dan Ahmad Nasai, anggota Komisi D DPRD Kota Malang Erni Farida, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Polowijen Muhammad Effendi, akademisi, serta warga Polowijen.

Anggota Komisi D DPRD Kota Malang Erni Farida mengatakan bahwa Kampung Polowijen dulu namanya Panawijen, sebagai kampung kuno yang mempunyai banyak situs bersejarah.

Dalam hal ini, Erni mengajak masyarakat turut serta melestarikan dan membangun budaya dengan cara merawat dan membangkitkan kejayaan seni tradisi yang dulu pernah ada.

“Jika masyarakat mau kembali belajar berkesenian seperti karawitan, latihan tari topeng Malangan, serta kesenian-kesenian lainnya, saya siap memfasilitasi apa yang menjadi kebutuhan masyarakat,” katanya dalam sarasehan.

Sementara Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Polowijen Muhammad Effendi menceritakan, Polowijen telah mengalami masa 3 kejayaan yang sangat terkenal, yaitu Ken Dedes yang melahirkan raja-raja besar di Jawa dengan situs Sumur Windunya.

Kedua, Topeng Malangan yang tersebar di Malang Raya yang dalam sejarahnya berasal dari Polowijen. Dan ketiga, hasil usaha ekonomi masyarakat seperti olahan keripik buah sangat terkenal dan sudah mendunia dipasarkan di banyak negara.

“Masyarakat harus bangkit untuk membangun gerakan budaya mulai dari budaya dan berkesenian sampai dengan budaya kerja kreatif, budaya hidup sehat, budaya lingkungan bersih, budaya gotong-royong, budaya kerja yang menjadi inti dan ruh kehidupan bermasyarakat,” tegasnya.

Penggagas kegiatan sarasehan Kampung Budayawa Polowijen Ki Demang mengatakan selain situs Ken Dedes dan Mandala tempat pertapaan Empu Purwo, situs budaya Polowijen juga asal lahirnya topeng Malang yang diciptakan dan dikembangkan Tjondro Suwono atau akrab dipanggil Mbah Reni.

Mbah Reni ini kemudian mendapat julukan Kyai Sungging Adi Linuwih Bupati RAA Soeriohadiningrat (1889-1928) sebagaimana tertulis di buku Belanda terbitan 1938, yang oleh sejarawan Ong Hok Ham melakukan penelitian tentang Topeng Malang.

Topeng Malang dalam perkembangannya banyak ditemui di Kabupaten Malang, diantaranya di Tumpang, Jabung, Srenggeng, Pakisaji, dan Jatiguwi di Kabupaten Malang.

Masyarakat tak cukup mengerti cerita kebesaran dan kejayaan kampung Polowijen. Lebih dari itu, masyarakat perlu membangun kembali kesadaran masyarakat tentang arti penting berkebudayaan.

Sehingga dapat menggali potensi, membangkitkan ekonomi, memunculkan inspirasi dan kreasi-kreasi baru yang menarik sebagai salah satu upaya melestarikan warisan sejarah, kebudayaan dan wisata budaya di Polowijen. “Hal itu sebagai salah satu upaya melestarikan warisan sejarah, kebudayaan dan wisata budaya di Polowijen,” tukasnya. (ist)

Kisah Panji Kembar dari Lamongan

foto
Gentong air dan alas tikar di Masjid Agung Lamongan sebagai tanda lamaran Panji Laras dan Panji Liris. Foto: Twitter.

Salah satu wilayah yang memiliki tradisi pernikahan unik dimana pihak perempuan yang meminang pihak laki-laki terdapat di Lamongan.

Meskipun hanya berlaku di sekitar Pantai Utara Lamongan, tradisi tersebut diyakini sebagai adat yang harus dipertahankan masyarakat ditengah pesatnya perkembangan peradaban.

Munculnya tradisi tersebut tak lepas dari cerita rakyat yang berkembang, yaitu cerita Panji Laras dan Panji Liris.

Menurut buku ‘Analisis Konteks Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Lokal Jawa Timur‘, cerita rakyat Panji Laras dan Panji Liris berasal dari Desa Babadan, yang berada di tepi Kali Lamong, Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamongan.

Alkisah pada saat puncak perang saudara yang melanda Kerajaan Majapahit, yang mengakibatkan kerajaan tersebut melemah dan tidak lagi memiliki wibawa.

Menurut buku terbitan Kemendikbud tahun 2013 itu, Adipati Kediri sebagai kerajaan yang lebih tua dan keturunan sah dari Prabu Airlangga berniat mengambil alih kekuasaan Majapahit. Tapi meski keadaan Majapahit saat itu sudah semakin lemah, masih terlalu kuat dihadapi Kediri sendiri.

Apalagi Adipati Kediri masih sedikit ragu, apakah orang-orang yang berada di pesisir utara Jawa seperti Gresik, Lamongan, Tuban, dan Surabaya, yang telah banyak menganut Islam akan mendukungnya. Selain itu, daerah-daerah tersebut telah menjadi urat perdagangan di Nusantara sehingga perannya tidak dapat disepelekan.

Dalam buku bunga rampai yang ditulis bersama oleh Ayu Sutarto, Akhmad Sofyan, Sugeng Adipitoyo, Rokmat Djoko Prakoso, dan Ikwan Setiawan itu disebutkan bahwa Adipati Kediri berfikir tentang cara melakukan koalisi dengan wilayah-wilayah yang ada di sekitar pesisir utara Jawa.

Sampai suatu ketika dia mendengar kabar bahwa Adipati Lamongan saat itu Raden Panji Puspokusumo yang keturunan Raja Majapahit ke-14 Hayam Wuruk, memiliki dua orang putra kembar bernama Panji Laras dan Panji Liris.

Pun juga dengan Adipati Kediri juga memiliki dua orang putri kembar bernama Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi. Sehingga niatnya menjodohkan kedua putri kembarnya dengan kedua putra kembar Adipati Lamongan dapat digunakan sebagai langkah koalisi mengepung Majapahit dari dua sisi yaitu Kediri di Selatan dan Lamongan di Utara.

Adipati Lamongan merasa bimbang akan niat Adipati Kediri tersebut. Bila Raden Panji Puspokusumo menerimanya, dia takut pembalasan Majapahit kalau rencana kudeta bersama Kediri gagal total.

Namun bila menolaknya dan Kediri berhasil menggulingkan Majapahit, Kediri juga akan membalas penolakannya tersebut. Disamping itu, bila terjadi perang saudara lagi, ekonomi dan perdagangan yang saat itu dikuasai orang-orang pesisir utara Jawa nantinya pasti akan terganggu.

Merasa bingung memikirkan hal tersebut, maka sebelum dilakukan perjodohan, Adipati Lamongan mengajukan tiga persyaratan yang harus dipenuhi Adipati Kediri. Pertama, Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi harus mau memeluk Islam. Kedua, pihak keluarga mempelai perempuanlah yang harus melamar pihak pria. Ketiga, pihak mempelai perempuan harus datang dengan membawa hadiah berupa gentong air dan alas tikar yang terbuat dari batu.

Adipati Kediri bersedia memenuhi semua persyaratan yang diajukan. Maka Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi berangkat diiringi rombongan besar yang mengawal mereka ke Lamongan. Panji Laras dan Panji Liris diminta Raden Panji Puspokusumo menjemput iring-iringan tersebut di tapal batas Lamongan dengan ditemani Ki Patih Mbah Sabilan.

Pada saat itu Lamongan sedang mengalami Banjir akibat meluapnya Kali Lamong, sehingga Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi terpaksa mengangkat kainnya sampai paha agar kainnya tidak basah. Akibatnya Panji Laras dan Panji Liris bisa melihat kaki Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi ternyata berbulu lebat. Panji Laras dan Panji Liris menolak menikahi mereka serta meminta rencana pernikahannya dibatalkan.

Sontak Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi merasa terhina dan malu sehingga mereka melakukan bunuh diri saat itu juga dihadapan Panji Laras dan Panji Liris. Melihat junjungan mereka dihina dan dipermalukan hingga bunuh diri, orang-orang Kediri menjadi marah dan ingin membunuh Panji Laras dan Panji Liris. Akibatnya perang tak dapat dihindari.

Keadaan Panji Laras dan Panji Liris dalam bahaya. Ki Patih Mbah Sabilan berjuang melindungi mereka. Namun perjuangan tinggallah perjuangan, akhirnya Ki Patih Mbah Sabilan tewas dalam rangka melindungi nyawa Panji Laras dan Panji Liris.

Setelah patihnya tewas, orang-orang lamongan yang ikut rombongan penjemputan makin terdesak. Bahkan akhirnya Panji Laras dan Panji Liris ikut tewas dalam pertempuran.

Jenazah Mbah Sabilan dimakamkan di Kelurahan Tumenggungan, Kota Lamongan, sedangkan jenazah Panji Laras dan Panji Liris tidak diketahui lagi keberadaannya.

Orang-orang Kediri tidak puas hanya menewaskan Ki Patih Mbah Sabilan, Panji Laras, dan Panji Liris. Mereka terus merangsek hingga masuk ke pendopo Lamongan. Dalam pertempuran di pendopo kadipaten tersebut, Raden Panji Puspokusumo ikut pula gugur. Namun sebelum gugur beliau sempat berpesan agar kelak anak cucunya tidak ada yang menikah dengan orang Kediri.

Cerita rakyat inilah yang hingga kini melegitimasi pernikahan unik di Pesisir Utara Lamongan, dimana pihak perempuanlah yang akan melamar pihak laki-laki. Barulah setelah cocok mereka akan melangsungkan pernikahan.

Namun pesan Raden Panji Pusponegoro terhadap anak cucunya tidak lagi berlaku. Dimana hari ini tidak ada tradisi atau adat yang melarang pernikahan antara orang Lamongan dengan orang Kediri. (rba)

Penggalan Mesin Waktu di Penanggungan

foto
Patirtan Jolotundo di lereng Penanggungan. Foto: Jawapos.


LUKISAN
pagi itu tersaji di Selotapak, Trawas, Mojokerto. Benar-benar mengingatkan kita saat belajar menggambar panorama pada usia belia. Gunung membiru. Sawah hijau berundak. Surya yang bulat terbit kekuningan. Jalanan aspal hitam berkelok. Rumah-rumah kecokelatan.

Aroma dupa menyapa. Seikat dupa sisa bakaran semalam tertancap di punden di dekat sumber atau mata air. Masyarakat menamai punden itu dengan Sumbernongko. Sebab, konon sebelum punden didirikan, sebuah pohon nangka besar tumbuh di mata air tersebut.

Kala itu, Senin (26/12) pagi masih berada pada titik 05.43. Masih sepi. Rupanya masih terlalu dini untuk mengawali aktivitas bersawah. Baru pukul 06.17, seorang petani datang ke areal persawahan. Dia memakai batik cokelat lengan panjang plus celana pendek hitam. Namanya Djono. ”Kula diajari mbah-mbah kula (Saya diajari kakek-nenek saya, Red),” kata Djono soal keterampilannya bertani, seperti dikutip Jawapos.com.

Pun dari kakek dan ayahnya, Djono diwarisi ilmu dan wejangan soal pentingnya menjaga harmoni dengan alam. Alam harus dijaga, tidak cuma dieksploitasi, apalagi dirusak.

Alam, kata Djono, ada yang wujud maupun maujud. Kepada dua alam tersebut, manusia harus bisa membuat keselarasan. Kepada sesama, relasi lebih gampang dijaga. Sedangkan kepada yang tak kasatmata, manusia pun harus berlaku sama dengan ketika mereka menghormati sesama manusia.

Nah, penghormatan kepada yang maujud itu terus dilestarikan dari generasi ke generasi. Ritual menjaga alam akan membuat dunia berusia lebih lama. Alam pun akan ramah kepada sekitarnya.

”Warga di sini kalau punya hajat atau slametan pasti memberikan sesaji ke punden Sumbernongko ini. Mendirikan rumah, punya anak, atau aktivitas lain pasti tak lupa mengantarkan sesaji ke punden ini,” jelas Djono.

Yang dilakukan Djono adalah satu di antara sekian potret akulturasi dan asimilasi masyarakat di lereng Gunung Penanggungan untuk terus menjaga tradisi dan harmoni dengan alam.

Lereng Gunung Penanggungan merupakan kawasan cagar budaya di level Jawa Timur. Itu dikuatkan dengan Surat Keputusan (SK) Gubernur Jatim No 188/18/KPTS/013/2015 yang ditandatangani Gubernur Jatim Soekarwo pada 14 Januari 2015. Berdasar SK tersebut, kawasan Cagar Budaya Penanggungan melingkupi dua kabupaten (Pasuruan dan Mojokerto). Juga tiga kecamatan (Trawas, Ngoro, dan Gempol). Sedangkan areal geografisnya mencapai luas 450 hektare.

SK itu juga menyebutkan 99 tinggalan kepurbakalaan hasil laporan pendataan Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) Jatim pada 1995, Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (2009), dan tim ekspedisi Penanggungan Universitas Surabaya.

Menurut Adrian Perkasa, sejarawan dan peneliti budaya dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, lereng Gunung Penanggungan adalah kawasan suci tertua di Jawa bagian timur.

Hal itu dikuatkan dengan adanya Patirtan (Petirtaan) Jolotundo di lereng barat Gunung Penanggungan. Tetenger yang terpahat di dinding kanan Patirtan Jolotundo tersebut menunjukkan angka tahun 899 Saka atau 977 Masehi.

Sementara itu, di dinding kiri terdapat tulisan gempeng. Dalam bahasa Jawa kuna, gempeng berarti hancur, luluh, atau remuk. Menurut buku karya Ninie Susanti dkk, ‘Patirtan Masa Lalu dan Masa Kini’, kata gempeng menyiratkan bahwa untuk membangun Jolotundo ini, sang pendiri harus menghancurkan bukit, baru bisa dilakukan pembangunan patirtan.

”Kemudian, ada juga di sisi timur Gunung Penanggungan peninggalan berupa patirtan lain. Yakni Belahan. Diperkirakan, patirtan itu dibangun pada abad kesepuluh atau tahun 929 Masehi,” papar Adrian.

Juru pelihara Jolotundo Puji Saputro menjelaskan, Jolotundo adalah semesta kecil bagi masyarakat lereng Gunung Penanggungan. Semua aktivitas berawal dan berakhir di petilasan Kerajaan Medang tersebut.

”Masyarakat lereng Gunung Penanggungan ini berdenyut seirama dengan Jolotundo. Setahun sekali diadakan perayaan gunungan sebagai tanda syukur dan berdoa senantiasa dianugerahi kehidupan yang lebih bagus di masa-masa selanjutnya,” ungkap Puji.

Bapak tiga anak itu menerangkan, setiap bulan Ruwah dalam kalender Jawa, dibangun gunungan yang disertai pengumpulan air dari mata air di sekitar Jolotundo. Air-air dari sumber tersebut dimasukkan ke dalam kendi, lalu dibawa ke Jolotundo. Setelah doa bersama digelar, air dalam kendi itu dibagikan kepada para pengunjung yang datang ke Jolotundo.

Senada dengan Puji, Kepala Dusun Penanggungan Jupri berkata bahwa Jolotundo adalah sumber penghidupan dan perlindungan bagi masyarakat sekitar. Bapak dua anak tersebut merasa berutang banyak kepada Jolotundo dan alamnya.

Meski memeluk agama Islam, Jupri masih melakukan serangkaian ritual peninggalan leluhur. Misalnya upacara bersih desa setiap akan melakukan tandur atau musim penanaman padi.

Soal saktinya air Jolotundo, Jupri pernah membuktikan sendiri. Percaya tak percaya, ketika dusunnya gagal panen gara-gara serangan hama tikus, Jupri diberi saran untuk mengitari areal persawahan masyarakatnya dengan air dari Jolotundo.

”Saya percaya saja. Saya wadahi air Jolotundo di jeriken yang saya beli di sekitar Jolotundo, lalu saya putari desa dengan air Jolotundo tanpa putus,” beber Jupri. ”Percaya atau tidak, musim-musim selanjutnya sampai hari ini, hama tak pernah balik lagi dan kami selalu sukses panen,” tambahnya.

Itulah sepotong kisah dari Patirtan Jolotundo yang memberikan penghidupan bagi masyarakat sekitar lereng Gunung Penanggungan. Jolotundo yang merupakan peninggalan era Hindu coba terus dirawat dan dijaga karena memberikan semesta kecil bagi warga. (ist/JP)

Shafira Juara Lomba Desain Pakaian Majapahit

foto
Shafira saat presentasi karyanya dihadapan juri. Foto: Disporabudpar Kab Mojokerto.

SHAFIRA Vina Karmila menjadi pemenang Lomba Desain Pakaian Majapahit yang digelar Disporabudpar Kabupaten Mojokerto dan berhak atas hadiah sebesar Rp 40 juta. Mengangkat Candi Wringin Lawang, desain Shafira mengalahkan puluhan desainer muda lain.

“Inspirasi saya dari Candi Wringin Lawang di Trowulan dan saya padupadankan, di lengan saya kombinasikan dengan menambah ciri khas Majapahit. Saya tidak menyangka bisa menang karena memang tujuan saya ikut lomba, bukan cari kemenangan tapi menambah ilmu, pengetahun dan teman,” ungkapnya, Jum’at (15/12) seperti dikutip BeritaJatim.com.

Masih kata Shafira, tingkat kesulitan dari desain yang dia buat ialah membuat pakaian dari desain yang ia buat. Lulusan Unesa jurusan Tata Busana ini mengaku, kesulitan di bordir dan pecah mode karena singkatnya pengerjaan yang hanya sekitar 9-10 hari saja. Namun untuk konsep yang akan dituangkan dalam desain, pemilik handmade pakain pesta anak ini, tidak mengalami kesulitan.

Saat final beragam desain dan inspirasi ditampilkan, seperti karya Shinning Sunrise Of Majapahit oleh Afidatul Musfiroh yang mengambil inspirasi dari batu bata merah dan wuwung rumah majapahit.

Lain halnya dengan Edy Susanto, yang melabeli karyanya dengan Exotica Wilwatikta dengan mengandung motif suluran Majapahit yang terdapat pada Candi Penataran dan motif Candi Bajang Ratu.

Sementara karya Purwanti mengandung unsur Batik tulis berupa ragam hias Majapahit berpadu dengan aksesoris deformasi Surya Majapahit diterapkan pada hiasan kepala perempuan, penutup kepala laki-laki, kalung, kancing baju, dan bross.

Buah Maja yang menjadi awal nama Majapahit juga menjadi inspirasi peserta, adalah Siti Sofia yang terinspirasi dari buah kebesaran Majapahit tersebut.

Sementara Titis Fauziah menampilkan karya bertajuk Black Gold Of Majapahit. Pakaian yang dominan hitam cukup elegan dengan motif kuning emas ditambah kain sembong bermotif bata candi.

Karya yang menarik perhatian juri adalah Golden Age Of Majapahit karya Safira. Hiasan yang digunakan dalam busana pria dan wanita dewasa ini menggunakan tempel serta bordir emas dengan motif candi Wringin Lawang pada bagian lengan serta motif sulur yang diambil dari bahan batik Surya Majapahit.

Dewan Juri yang beranggotakan Emran Nawawi, Anam Anis, Deddi Endarto akhirnya memilih karya Safira sebagai pemenang dalam lomba desain pakaian Majapahit 2016,

Emran Nawawi sebagai ketua Dewan Juri menyampaikan kriteria penilaian lomba kali ini, yakni unsur unsur majapahit yang kental, penggunaan material yang kental dengan content lokal dan yang terakhir adalah teknik desain. Emran juga menambahkan bahwa para desainer seolah lupa siapa yang akan memakai desainnya.

Kondisi itu yang membuat mereka akhirnya memilih jalur fashionnya lebih kuat ketimbang jalur budayanya. “Para peserta banyak yang lupa siapa yang memakai pakaian ini,” katanya.

Sehingga, lanjut desainer ini, banyak peserta yang menonjolkan jalur fashion daripada budaya. Desain Shafira yang dipilih tiga juri (Emran Nawawi desainer, Anam Anis dan Dedy Endarto budayawan), karena juri mempunyai pertimbangan. Kekuatan karakter desain Shafira dinilai lebih menonjol daripada enam peserta terbaik dari puluhan peserta.

“Shafira banyak mengambil poin dan batik. Di desain Shafira lebih detail. Namun masih butuh penyempurnaan khususnya pakain laki-laki. Karena yang memakai adalah figur maka seharusnya lebih menonjolkan karakteristik dan kewibawaan. Untuk pemilihan bahan, masuk dalam kategori menengah ke atas sehingga sudah cukup bagus,” jelasnya. Menurutnya, tugas juri dalam lomba tersebut tidak berhenti di pemenang lomba saja namun juri juga harus menyempurnakan desain pemenang.

Dalam Lomba Desain Pakaian Mojopahit tersebut, sekira 30 lebih desainer dari berbagai kota turut serta. Namun juri memilih enam desain terbaik untuk dibuat pakaian dan mencari satu terbaik yang nantinya digunakan sebagai pakaian resmi Kabupaten Mojokerto.

Sementara Kepala Disporabudpar Kabupaten Mojokerto, Ustazi Roiz mengatakan, jika desain pakaian khas Mojopahit yang menjadi pemenang dalam lomba tersebut akan digunakan sebagai pakaian khas Pemkab Mojokerto. “Ini nantinya akan diusulkan untuk mendapatkan SK Bupati, disosialisasikan dan dipakai sebagai khas Kabupaten Mojokerto,” ujarnya.

Rencananya, desain baju yang nantinya digunakan untuk kegiatan seremonial tersebut akan disempurnakan lagi dengan mendatangkan pakar. Karena, lanjut Roiz, selama ini belum ada pakaian khas Majapahif sehingga dengan lomba tersebut nantinya akan ada pakaian baku untuk Kabupaten Mojokerto dan pada 2017 mendatang sudah bisa gunakan. (ist)

Puluhan Situs di Probolinggo Tak Terurus

foto
Situs Kentrung di Desa Ketompen, Kecamatan Pajarakan kondisinya memprihatinkan. Foto: xxx.

Ratusan peninggalan bersejarah di Kabupaten Probolinggo, saat ini masih belum dikelola dengan baik. Pemkab setempat sejauh ini baru mengajukan ratusan benda bersejarah tersebut sebagai cagar budaya.

Saat ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) setempat mengestimasi ada 106 benda bersejarah yang diajukan jadi cagar budaya. Ratusan benda bersejarah itu diajukan sejak 2014 lalu ke pemerintah pusat. Namun, sejauh ini belum ada jawaban dari pemerintah pusat.

Kepala Disbudpar Kabupaten Probolinggo Anung Widiarto menyebut, 106 objek bersejarah yang diajukan sebagai cagar budaya itu terdiri atas empat kategori. Yakni, kategori benda, kategori bangunan, kategori struktur, dan kategori situs.

Rinciannya 2 bakalan arca, 15 umpak, 8 pilar, 30 batu candi bentuk polos dan 14 batu candi berpelipit. Lalu 1 batu bertulis, 1 fragmen arca Dwarapala, 1 batu Lumping, 2 kepala naga dan 3 batu candi berelief.

Kemudian 1 bagian pintu candi, 7 batu isian candi, 2 kala, 1 arca raksasa, 1 yoni, dan 1 fragmen kala. Serta tiga bangunan pabrik, 6 makam wali, 3 situs candi, dan 3 bangunan candi.

Khusus untuk peninggalan situs, tersebar di Candi Jabung, Desa Jabung Candi, Paiton; Situs Talkandang, Kecamatan Kotaanyar; Situs Candi Kedaton di Andungbiru, Kecamatan Tiris; dan situs Kentrung di Ketompen, Pajarakan.

Sejumlah peninggalan benda bersejarah itu kini sudah didaftarkan pada Balai Cagar Budaya di Trowulan, Mojokerto. “Pengajuannya dilakukan pada 2014 lalu,” terang Anung. Menurut Anung, ada beberapa pertimbangan yang menjadikan suatu objek atau bangunan menjadi cagar budaya.

Diantaranya, memiliki nilai budaya, sudah berumur lebih dari 50 tahun, dan adanya kisah turun temurun dari masyarakat setempat. “Pengajuan objek itu bertujuan untuk melestarikan bangunan yang memiliki nilai sejarah,” tambah Anung seperti dikutip Jawa Pos Radar Bromo.

Banyak yang tak terawat dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, kondisi sejumlah bangunan bersejarah itu tak semuanya terawat. Beberapa di antaranya kondisinya memprihatinkan. Misalnya, situs Kentrung di Dusun Kentrung, Desa Ketompen, Kecamatan Pajarakan.

Kondisi bebatuan yang oleh warga setempat disebut Candi Kentrung itu memprihatinkan. Solehuddin, warga setempat yang rumahnya paling dekat dengan kawasan candi menyebut jika bebatuan itu merupakan benda bersejarah.

“Kami meyakininya seperti itu, karena dulunya batu-batuan ini tersusun rapi seperti candi pada umumnya,” terangnya. Kala itu, pria yang bekerja sebagai ahli bangunan itu masih duduk di bangku SD.

Dari pantauan, lokasi candi tersebut sangat tidak terawat. Bahkan, untuk menuju lokasi tersebut warga harus melintasi kebun tebu dan sengon. Sangat berbeda jauh dengan candi-candi pada umumnya yang aksesnya lebih mudah.

Bahkan, orang yang belum mengetahui keberadaan candi itu tidak akan sadar bahwa di lokasi tersebut menyimpan benda-benda bersejarah. Ada 9 batu yang berserakan di lokasi tersebut. Dua diantaranya menyerupai relief kepala naga.

Lokasinya sudah terpisah. Bahkan, salah satunya sudah ada yang mengecat dengan warna putih. Posisinya tertanam miring dekat sungai yang melintasi kawasan tersebut. Sementara lainnya, ada yang berbentuk kotak seperti tubuh candi pada umumnya.

Paidi, 70, warga lainnya mengatakan. Di kawasan tersebut dulunya dijaga oleh sepasang suami istri. “Mereka seperti juru kunci,” katanya. Saat itu, kondisi candi lengkap seperti candi pada umumnya. Mulai dari batur, tubuh, sampai atap.

Di kawasan itu, juga ada sebuah kolam yang menjadi tempat main bagi anak-anak sekitar. Sepeninggal dua orang itulah, baru kondisi candi tak terawat. Bahkan, sekitar 1990-an silam, sebuah batu sempat raib dicuri orang. Beredar kabar, batu itu dijual seseorang ke kolektor yang ada di Bali dengan harga Rp 50 juta.

Meski batu itu sempat kembali karena dicari oleh warga, belakangan batu itu raib lagi. Kali ini selama-lamanya. “Waktu hilang banyak orang nyari. Mungkin karena dicari itu, pencurinya mengembalikan ke posisi semula. Tapi setelah itu hilang lagi dan warga tak lagi mencari,” timpal Solehuddin.

Kini kondisi candi sudah tak beraturan. Bahkan, di luar 9 bebatuan yang masih berkumpul, beberapa diantaranya dimanfaatkan warga sekitar untuk tempat pijakan di sungai. Satu di antaranya menurut Solehuddin, berbentuk batu dengan relief tangan memegang pentung.

Solehuddin mengaku, beberapa tahun silam ada sekumpulan mahasiswa yang melakukan penelitian arkeologi di lokasi tersebut. “Tapi setelah itu, tidak tahu lagi apa hasilnya,” katanya.

Ia juga mengaku pernah kedatangan wisatawan dari Asutralia yang juga tertarik mengunjungi candi tersebut. “Saya tahu karena saya sendiri yang mengantarkan wisatawan itu ke sini,” katanya. (ist)

Kisah Ramayana: Mitos atau Sejarah?

foto
Adegan perang antara Rama dan Laksamana melawan Rahwana pada dinding Candi Brahma di komplek Prambanan. Foto: Hurahura.wordpress.com.

NAMA Ramayana hampir selalu dikaitkan dengan dunia pewayangan dan kesenian. Nama ini sudah populer sejak lama. Dalam bahasa Sansekerta Rāma berarti Rama dan Ayaṇa berarti Perjalanan.

Kitab Ramayana berisi epos atau cerita kepahlawanan, berasal dari India, dan dikarang oleh Walmiki sekitar tahun 400 sebelum Masehi. Isi kitab terdiri atas tujuh jilid (kanda) dan digubah dalam bentuk syair sebanyak 24.000 seloka.

Ketujuh kanda itu adalah:
1. Bala-kanda, menceritakan tentang raja Dasaratha yang beranak Rama, Bharata, serta Laksmana dan Satrugna
2. Ayodhya-kanda, menceritakan perjalanan Rama, Sita (Sinta), dan Laksmana di hutan
3. Aranya-kanda, menceritakan penculikan Sita oleh raksasa jahat bernama Rahwana dan pertolongan burung garuda bernama Jatayu
4. Kiskindha-kanda, menceritakan penggempuran Kiskindha oleh Rama dan pasukan kera pimpinan Sugriwa
5. Sundara-kanda, menceritakan upaya Hanoman menemukan Sita
6. Yuddha-kanda, menceritakan pertempuran dahsyat Rama dengan Rahwana dan
7. Uttara-kanda, menceritakan lanjutan riwayat Rama dan kembalinya Rama ke kahyangan sebagai Wisnu.

Dalam agama Hindu, Wisnu adalah dewa yang memelihara dan melangsungkan alam semesta. Sebagai penyelenggara dan pelindung dunia, dia digambarkan setiap saat siap untuk memberantas semua bahaya yang mengancam keselamatan dunia.

Untuk keperluan ini, Wisnu turun ke dunia dalam bentuk penjelmaan yang sesuai dengan macamnya bahaya. Penjelmaan Wisnu itu disebut awatara. Mula-mula jumlah awatara banyak sekali, namun kemudian menjadi sepuluh.

Sembilan di antaranya telah terjadi, sedangkan yang kesepuluh belum. Awatara Wisnu yang berhubungan dengan Ramayana adalah awatara ketujuh, yakni Rama-awatara.

Jawa Kuno
Kisah Ramayana muncul dalam banyak versi. Selain di Indonesia, kisah sejenis muncul di Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar, Cina, Filipina, dan Thailand. Di Indonesia kitab Ramayana telah disadur ke dalam bahasa Jawa kuno (Kawi) berbentuk kakawin. Kemungkinan besar dilakukan pada zaman Kerajaan Mataram kuno abad ke-9.

Berbagai cerita Ramayana di Indonesia diketahui bersumber pada Ramayana Walmiki. Para pengarang Indonesia memang sengaja membuat perbedaan agar cerita Ramayana cocok dengan alam pikiran dan tata nilai bangsa Indonesia.

Penyimpangan cerita Ramayana dalam kebudayaan tradisional Indonesia, khususnya di Jawa dan Bali, berkaitan dengan tradisi sanggit.

Sanggit adalah penyusunan suatu cerita yang telah dikenal secara khas, yang dilakukan oleh seorang seniman atas dasar pandangan hidup, pendirian, selera, maupun tujuan-tujuan tertentu yang mungkin dimiliki seniman tersebut dalam menampilkan suatu cerita (Moehkardi, 2011).

Kakawin Ramayana Jawa kuno hanya berakhir dengan kembalinya Rama dan Sita ke Ayodhya. Bagian-bagian selanjutnya dihilangkan oleh penyadurnya.

H Kern merupakan orang pertama yang menerbitkan kakawin Ramayana dalam aksara Jawa baru pada 1900. Selanjutnya HH Juynboll menerjemahkannya ke dalam bahasa Belanda. Setelah itu naskah Ramayana banyak ditelaah para pakar, antara lain WF Stutterheim RMNg Poerbatjaraka dan C Hooykaas.

Di mata para pakar, Ramayana sering dianggap sebagai salah satu sumber untuk mengetahui hubungan pertama India dengan Nusantara. Kitab itu menyebut nama Yawadwipa sebagai pulau emas dan perak. Mungkin mengacu kepada Pulau Jawa sekarang. Kitab itu juga menyebut Suwarnadwipa, yang berarti pulau emas, mungkin yang dimaksud Pulau Sumatera.

Cerita Ramayana versi Jawa yang paling populer di kalangan rakyat adalah Serat Rama karya Jasadipura I (1729-1802). Dia seorang pujangga istana Surakarta.

Sendratari Ramayana yang dikenal sekarang, menggunakan Serat Rama sebagai sumber cerita. Cerita Ramayana pernah diadaptasi ke dalam bahasa Melayu dengan judul Hikayat Seri Rama.

Relief Candi
Saking populernya, cerita Ramayana dipahatkan pada Candi Prambanan (abad ke-9) dan Candi Panataran (abad ke-14). Pada Candi Prambanan, relief Ramayana dipahatkan pada pagar langkan bagian dalam Candi Siwa dan Candi Brahma.

Relief tersebut terbagi dalam panel-panel, masing-masing 24 panel pada Candi Siwa dan 30 panel pada Candi Brahma. Setiap panel dipisahkan oleh pahatan pilaster. Kadang-kadang sebuah panel memuat lebih dari satu adegan.

Relief Ramayana dimulai dari Candi Siwa dengan urutan cerita berawal dari sebelah kiri pintu masuk sisi timur, berjalan searah jarum jam, dan berakhir di sebelah kanan pintu masuk sisi timur.

Dilanjutkan di Candi Brahma dengan dengan urutan seperti di Candi Siwa, mulai dari sebelah kiri pintu masuk dan berakhir di sebelah kanan pintu masuk (Moertjipto dkk, 1991). Relief pada Candi Panataran kurang begitu dikenal, mungkin karena candi itu terletak di Jawa Timur.

Presiden Soekarno pernah sangat terpesona oleh Ramayana, terutama dengan salah satu tokohnya, Jatayu. Beliau sangat mengagung-agungkan sosok berujud burung garuda itu.

Maka atas inspirasi Soekarno, perusahaan penerbangan pertama Indonesia diberi nama Garuda. Yang fenomenal tentu saja lambang negara Burung Garuda Pancasila. Lambang itu juga tercipta atas jasa Soekarno.

Dalam mitologi kuno, Garuda adalah lambang dunia atas, matahari, dan pengusir kegelapan. Tokoh Garuda memiliki arti simbolis, menggambarkan sifat ketangkasan, melayang tinggi, dan kedahsyatan.

Karena itu Garuda sering kali dihubungkan dengan berbagai prinsip keagamaan, sebagai kekuatan yang membawa hidup sekaligus mempertahankan hidup.

Mitos atau Sejarah?
Belum jelas benar apakah kitab Ramayana berisi hal-hal mitos ataukah informasi sejarah. Sejak beberapa tahun lalu beberapa arkeolog, termasuk arkeolog India, menelusuri nama-nama tempat yang disebutkan dalam kitab Ramayana, termasuk kitab Mahabharata yang juga berisi epos.

Penelitian juga pernah dilakukan arkeolog AS, Michael Cremo tahun 2003. Selama delapan tahun dia meneliti kitab suci Weda dan Jaina, yang ditulis pendeta Walmiki. Dia menemukan nama-nama yang tertera di kitab tersebut ada di India. Penelitian itu ditemani tim dan rekannya, Dr Rao, arkeolog India.

Dikabarkan telah ditemukan sebuah jembatan yang sangat unik di Selat Palk antara India dan Srilanka. Jembatan misterius itu menghubungkan dua daratan, yaitu antara Pulau Manand (Srilanka) dan Pulau Pamban (India).

Jembatan itu populer karena konon digunakan oleh tentara Hanoman untuk menyeberang ke Alengka dalam rangka membebaskan Sita dari penculikan Rahwana. Keberadaan jembatan itu tidak di darat, melainkan di bawah air laut sekitar 1,5 meter.

Konstruksi jembatan akan tampak lebih nyata bila dilihat dari udara. Jembatan tersebut panjangnya sekitar 30 kilometer, dengan lebar hampir 100 meter.

Hasta Brata
Banyak teladan atau pesan moral diselipkan para penyadur Ramayana, terlebih ucapan bijak Rama kepada adik-adiknya. Di dalam bagian yang berisikan uraian tentang rajadharmma (tugas kewajiban seorang raja), dijumpai ajaran tentang hasta brata atau asthabrata (hasta = delapan, brata = pedoman).

Astabratha merupakan petunjuk Sri Rama kepada adiknya, Bharata yang akan dinobatkan menjadi Raja Ayodhya. Astabratha disimbolkan dengan sifat-sifat mulia dari alam semesta yang patut dijadikan pedoman bagi setiap pemimpin.

Dalam naskah lain, Rama menghibur Wibisana yang akan diangkat menjadi Raja Alengka menggantikan Rahwana. Rama berpesan agar seorang raja yang bijaksana harus mengikuti delapan sifat dewa, yaitu sebagai Indra, Yama, Surya, Soma, Bayu, Kuwera, Waruna, dan Agni.

Sebagai Indra (Dewa Hujan), raja hendaknya menghujankan anugerah kepada rakyatnya. Sebagai Yama (Dewa Maut), dia harus menghukum para pencuri dan semua penjahat. Sebagai Surya (Dewa Matahari), yang senantiasa menghisap air secara perlahan-lahan, raja hendaknya menarik pajak dari rakyatnya sedikit demi sedikit sehingga tidak memberatkan.

Sebagai Soma (Dewa Bulan), dia harus membuat bahagia seluruh dunia dengan senyumnya. Sebagai Wayu (Dewa Angin), yang dapat menyelusup ke tempat-tempat yang tersembunyi, raja harus senantiasa mengetahui hal ikhwal rakyatnya dan semua gejolak di kalangan masyarakat.

Sebagai Kuwera (Dewa Kekayaan), raja hendaknya menikmati kekayaan duniawi secara wajar; sebagai Waruna (Dewa Laut), yang bersenjatakan jerat, raja haruslah menjerat semua penjahat. Dan sebagai Agni (Dewa Api), dia harus membasmi musuhnya dengan segera. (Djulianto Susantio, Majalah Arkeologi Indonesia)

Proyek Rumah ala Majapahit Tak Optimal

foto
Desa Bejijong di Kab Mojokerto yang rumah-rumah di kawasannya didesain sesuai jaman Kerajaan Majapahit. Foto: Humas Pemprov Jatim.

Ratusan rumah di kawasan Kampung Majapahit di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, disalahgunakan pemanfaatannya.

Rumah-rumah yang didesain dengan arsitektur khas rumah zaman Kerajaan Majapahit itu seharusnya menjadi tempat tinggal wisatawan atau menjual barang atau suvenir khas Majapahit.

Namun sebagian besar dimanfaatkan untuk kepentingan usaha, seperti warung, toko kelontong, hingga salon.

Sejak awal 2015 telah dibangun 296 rumah khas Majapahit di tiga desa di Kawasan Cagar Budaya Nasional Trowulan, yakni Desa Bejijong, Jatipasar, dan Sentonorejo. Pembangunannya dibiayai dari APBD Pemprov Jatim dan Pemkab Mojokerto.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kabupaten Mojokerto Ustadzi Rois mengakui masih sedikit rumah di Kampung Majapahit yang dijadikan homestay wisatawan. Di Desa Bejijong, misalnya, baru sekitar 30 rumah yang dijadikan homestay.

Rois mengatakan tidak bisa melarang warga yang memanfaatkannya untuk kegiatan usaha, termasuk toko atau warung. “Kami akan melakukan pendataan sesuai keinginan warga,” katanya seperti dikutip Tempo.co.id.

Sebelumnya, saat mengunjungi Kampung Majapahit Januari 2016 lalu Gubernur jatim Soekarwo menginginkan agar rumah-rumah khas Majapahit dijadikan sebagai homestay wisatawan, sentra kuliner, dan souvenir khas Majapahit. Namun keinginan itu tak sesuai kondisi di lapangan.

Mayarakat setempat mengaku belum mendapat pelatihan yang dijanjikan pemerintah dalam memanfaatkan rumah yang sudah didesain khas rumah Majapahit itu. “Hanya pernah disampaikan, rumah itu bebas mau dipakai usaha apapun,” ujar Kristanti, pemilik rumah khas Majapahit di Desa Bejijong.

Kristanti memanfaatkan ruangan 4 X 3 meter dari rumahnya sebagai toko dan warung kopi. Hingga saat ini ia tidak pernah mendapat pengarahan dari dinas terkait ihwal pemanfaatakan rumahnya yang sudah didesain khas rumah Majapahit itu.

Pemilik rumah di Dusun Kedaton, Desa Sentonorejo, Kustilah, juga mengatakan belum mendapatkan pelatihan dan pembinaan dari instansi terkait ihwal pemanfaatannya. “Saya manfaatkan sebagai ruang tamu,” ucapnya.

Kustilah mengatakan, hanya sekali ada wisatawan dari luar kota yang menginap di rumahnya. Namun ia tak begitu tahu bagaimana mengelola rumahnya menjadi homestay bagi wisatawan. “Saya tidak pernah diberi pelatihan cara mengelola homestay,” tuturnya.

Selain pemanfaatan yang kurang tepat, desain rumah khas Majapahit itu juga ada yang berubah dari yang sudah diatur dalam perjanjian antara pemerintah dengan masyarakat.

Seharusnya warga pemilik rumah tidak boleh mengubah desain, baik atap maupun dinding batu bata. Namun sejumlah rumah, seperti di Desa Sentonorejo sudah berubah.

Dinding rumah dari batu bata merah sudah dilapisi dengan semen dan cat yang tidak mencerminkan ciri khas rumah Majapahit.

Saat meninjau Rumah Majapahit, Gubernur Jatim Soekarwo mengatakan pembangunan tersebut sebagai bentuk restorasi Majapahit yang menjadi kekayaan cultural yang menjadi Destinasi yang baru adalah natural destinasi dan budaya ini harus dibangun yaitu cultural Majapahit.

Sebagai langkah awal, Pemprov Jatim telah membangun rumah warga dengan model bangunan jaman majapahit 194 unit rumah di Desa Bejijong yang pembangunannnya dilakukan dua tahap.

Tahap pertama tahun 2014 sebanyak 94 unit rumah dengan dana Rp 4,98 miliar. Tahap kedua tahun 2015 sebanyak 100 unit rumah dengan dana Rp 5,7 miliar.

Sedang tahap berikutnya, yakni tahap ketiga tahun 2015 dibangun 300 unit rumah di tiga tempat yakni sekitaran Segaran, Candi Tikus dan Candi Bajang Ratu.

Untuk pembangunan rumah dianggarkan dana Rp 50-60 juta per unit, dengan ukuran 3X5 atau 4X4 meter. Sedamngkan Pemkab Mojokoerto mebantu anggaran pembuatan/pembangunan pagarnya.

Pengembangan wisata Destinasi Majapahit ini sangat baik untuk kedepannya. Sebab, Mojokerto selain sebagai tempat kerajaan majapahit, wisata alamnya juga bagus dan mendukung.

Seperti Gunung Penanggungan merupakan gunung satu-satunya di dunia yang memiliki/tempat ditemukannya 222 candi yang masih asli dan kondidsinya masih bagus.

“Ini adalah tempat yang harus dijaga kasriannya dan dikembangkan sebagai tempat wisata, karena merupakan potensi yang luar biasa di Jawa Timur dan khususnya Mojokerto,” tegas Soekarwo kala itu. (sak)

Kunjungan ke Museum Wajakensis Naik

foto
Pelajar di Museum Wajakensis Tulungagung. Foto: AntaraJatim.

KUNJUNGAN ke Museum Wajakensis di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, meningkat selama musim libur Natal dan Tahun Baru 2017 dengan volume kenaikan mencapai 40 persen dibanding hari libur biasa.

“Ada kenaikan volume kunjungan dari kalangan pelajar selama liburan kemarin,” kata pengelola museum Wajakensis Hariyadi di Tulungagung, Senin (2/1).

Ia mengatakan, pada hari biasa atau libur biasa volume kunjungan hanya di kisaran 300-an orang per hari.

Namun sejak libur sekolah akhir pertengahan Desember 2016 atau selama libur Natal hingga Tahun Baru 2017 volume kunjungan meningkat hingga 500-an per hari.

“Selain ingin mengenal peninggalan bersejarah, sebagian pelajar yang datang mendapat pekerjaam rumah dari guru sekolah masing-masing,” katanya seperti dikutip AntaraJatim.

Hariyadi mengatakan, peningkatan kunjungan pelajar ke museum menjadi pertanda positif bagi perkembangan sejarah budaya di Tulungagung.

Sebab, kata dia, banyaknya kunjungan pelajar bisa menjadi indikator peningkatan kepedulian kalangan dunia pendidikan terhadap peninggalan sejarah dan kebudayaan manusia dari masa lalu.

“Apapun latar belakangnya, tren ini positif dan harus terus dibudayakan,” ujarnya.

Pada hari terakhir libur sekolah, pengunjung silih berganti datang ke museum dengan aneka kendaraan.

Sebagian mereka bahkan ada yang datang berombongan naik bus, lalu melakukan studi benda-benda purbakala di dalam museum.

“Kebanyakan siswa SD. Selain dari seputar Tulungagung, beberapa rombongan datang dari luar kota seperti Trenggalek, Kediri, Nganjuk dan Blitar,” papar Hariyadi.

Museum Wajakensis yang didirikan sejak 1996 kondisi bangunannya kecil dan hanya berukuran sekitar 8 x 15 meter menyebabkan tempat penyimpanan benda arkeologi dan cagar budaya itu kini penuh sesak.

“Sudah ada rencana penambahan bangunan. Tanahnya sudah disediakan daerah, tinggal pembangunan menunggu dari pusat,” kata Bupati Tulungagung Syahri Mulyo.

Idealnya, kapasitas tampung museum tidak lebih dari 200 koleksi dengan berbagai ukuran yang ada. Kenyataannya saat ini koleksi museum mencapai 247 dari sebelumnya 245.

Jumlah koleksi tersebut terdiri atas 133 koleksi etnografi, seperti mainan anak-anak, alat pertanian dan perikanan zaman sejarah/kuno serta 114 koleksi arkeologi yang terdiri atas arca, batu candi, prasasti dan sebagainya.

Termasuk dua koleksi benda arkeologi yang diterima dari Situs Pulotondo di Desa Pulotondo yang diikuti penemuan kerangka manusia zaman sejarah, beberapa waktu lalu.

Dua koleksi dari Situs Pulotondo berupa dua buah batu bekas ambang pintu atau meja sesaji pada masa Kerajaan Kadiri dibawah kepemimpinan raja Jayabaya itu adalah benda purbakala yang terpaksa ditaruh di luar gedung.

Ukuran benda arkeologi yang cukup besar, panjang sekitar 1,5 meter dan lebar sekitar 0,5 meter, membuat benda bersejarah yang ditemukan di sekitar bantaran Sungai Brantas di Desa Pulotondo itu tidak bisa ditaruh di dalam karena volume koleksi sudah berlebih. (ant)

Situs Kuno Mirip Pemandian di Jombang

foto
Situs kuno mirip kolam pemandian ditemukan warga di Jombang. Foto: Detik.com.

Bangunan kuno yang diduga merupakan situs peninggalan sejarah ditemukan warga di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngoro, Jombang. Bangunan itu menyerupai bangunan bekas kolam atau pemandian besar. Untuk mengungkap keberadaan situs tersebut, pihak desa sudah melaporkan ke Pemkab Jombang.

Di lokasi bangunan kuno yang diduga sebagai bekas pemandian zaman kuno itu, seperti dikutip Surya.co.id, terdapat struktur bangunan batu bata merah berukuran lumayan besar. Batu bata ini tersusun rapi di pinggir bekas pertambangan bahan pasir, tanah, dan batu.

Adapun sebagian bangunan kuno sudah rusak, tercecer dari susunan bangunan. Meski demikian, struktur bangunan yang ditemukan sejak dua bulan lalu masih bisa terlihat, dan menyerupai lokasi pemandian atau kolam besar. Sebelumnya, sudah ditemukan pula bangunan yang menyerupai gapura di sekitar lokasi tersebut.

Kepala Desa Sugihwaras, Feri Mulyatno menyatakan, adalah warga yang menemukan situs tersebut. Saat itu, warga sedang menggali tanah pada bekas pertambangan bahan galian C.

“Kami sudah melaporkan temuan tersebut ke pemerintah setempat dan katanya akan diteruskan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan Mojokerto untuk di teliti lebih lanjut,” kata Feri Mulyatno kepada wartawan, Minggu (1/1).

Menurut Feri, di sekitar lokasi, selain pernah ditemukan bangunan gapura kuno, juga ditemukan banyak uang logam kuno. “Tapi kalau arca memang tidak ditemukan. Hanya pecahan genting, pondasi batu bata dan uang logam,” ujar Feri.

Situs kuno yang berada di bekas tambang bahan galian C yang saat ini dalam proses reklamasi itu diyakini warga setempat sebagai pemandian atau kolam zaman Majapahit.

“Karakter bata merah yang berukuran besar, memang mirip dengan struktur pada candi peninggalan zaman Majapahit yang banyak ditemukan di Mojokerto,” jelas Feri.

Lebih-lebih, sambungnya, berdasarkan cerita turun-temurun yang dipercaya warga setempat, di lokasi penemuan situs kuno itu dipercaya sebagai Kedaton. “Namun, memang belum ada bukti kuat yang menunjang cerita rakyat tersebut. Belum ditemukan prasasti. Entah kalau digali lebih dalam lagi,” tutur Feri.

Untuk mengungkap sejarah di balik dugaan situs kuno ini, Feri sudah melapor ke Pemkab Jombang, dan berharap peneliti dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur di Trowulan segera turun tangan.

Sayangnya, tak ada pengamanan pada situs kuno ini, sehingga berpotensi kian rusak. Sebab, banyak orang berdatangan ingin menonton situs tersebut dari dekat. (ist)

Umpak Songo, Saksi Bisu Kerajaan Blambangan

foto
Situs Umpak Songo di Tembokrejo, Kec Muncar Banyuwangi. Foto: AmboyIndonesia.blogspot.co.id.

SEMBILAN batu besar yang menyerupai bentuk kubus dengan lubang di bagian tengah itu tertata di sebuah pekarangan dengan pembatas pagar tembok setinggi satu meter.

Beberapa pohon tumbuh di sekitar bebatuan itu. Jika tidak ada papan bercat putih dengan tulisan Situs Umpak Songo, bisa jadi lokasi ini tidak banyak dikenal masyarakat. Padahal, lokasi ini menjadi salah satu perjalanan penting Kerajaan Blambangan dalam peperangan melawan pasukan VOC Belanda.

Umpak Songo adalah tumpukan batu berlubang mirip penyangga tiang bangunan yang berjumlah sembilan. Umpak berarti tangga dan Songo berarti sembilan. Situs terletak di Tembokrejo, Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi.

Ini adalah sisa-sisa Kerajaan Blambangan ketika ibukota kerajaan pindah ke Ulupampang (kini Muncar) setelah Blambangan dipecah menjadi dua yakni Blambangan barat dan Blambangan timur pasca pemberontakan Jagapati terhadap VOC pada Oktober 1772.

Situs Umpak Songo adalah runtuhan bangunan yang menyisakan 49 batu besar dengan sembilan batu di antaranya memiliki lubang pada bagian tengah yang diduga berfungsi sebagai penyangga atau umpak.

Situs ini diduga bekas balai pertemuan antara Bupati Blambangan, Mas Alit (Raden Tumenggung Wiraguna) dengan bawahannya. “Situs ini bagian penting Kerajaan Blambangan,” kata sejarawan UGM, Sri Margana seperti dikutip AmboyIndonesia.blogspot.co.id.

Balai pertemuan ini terbengkalai sejak Mas Alit memindahkan ibukota Blambangan ke lokasi yang kini menjadi pendopo Kabupaten Banyuwangi pada 20 November 1774.

Reruntuhan balai ini ditemukan kembali oleh Mbah Nadi Gede, warga Bantul, Jogja pada 1916 saat membuka hutan dalam kondisi tertimbun tanah. Ketika tanah digali, bentuk reruntuhan ini lebih menyerupai sebuah candi. “Kakek tidak tahu fungsi batu-batu ini,” kata Soimin, cucu Nadi Gede yang menjadi juru kunci Umpak Songo.

Teka-teki reruntuhan bangunan itu terjawab setelah seorang raja dari Surakarta, Mangkubumi IX mengunjungi situs ini pada tahun 1928. “Sejak itu kakek kami tahu kalau di sini lokasi ibukota Kerajaan Blambangan,” katanya. Sang raja menjelaskan, situs itu merupakan peninggalan Kerajaan Belambangan, tepatnya bekas pendopo kadipaten Belambangan.

Situs ini sekarang berada dibawah naungan dan tanggung jawab Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Banyuwangi. Karena pada akhir 70an mengalami kerusakan pada kondisi tanah dimana tempat batu-batu terletak, sehingga pada tahun 1982 pemerintah melakukan renovasi.

“Pada tahun 1982, pemerintah melakukan renovasi karena tanahnya rusak, termasuk menata kembali beberapa batu yang tergeletak, dan memasang pagar pembatas di sekeliling situs,” pungkasnya.

Sayang, beberapa peninggalan penting dari situs ini sudah tidak ada di tempatnya lagi. Yang tersisa sekarang hanya sembilan batu besar dengan lubang di bagian tengah dan beberapa batu kecil di sekitarnya. Situs ini berada di tanah pribadi milik keturunan Nadi Gede yang didiami sekitar 20 keluarga.

Meski demikian, Umpak Songo memiliki daya tarik tersendiri bagi pemeluk Hindu dan penganut aliran. Pada malam Sabtu Pahing dalam penanggalan Jawa, penganut aliran menggelar ritual tirakatan semalam penuh.

Puncak keramaian Umpak Songo terjadi pada hari raya Kuningan bagi umat Hindu, termasuk pemeluk Hindu Bali. Apalagi tidak jauh dari Situs Umpak Songo ada Pura Agung Blambangan, pura terbesar di Banyuwangi. “Biasanya mereka sembahyang ketika hari raya Kuningan,” katanya.

Selain Umpak Songo, bekas peninggalan Kerajaan Blambangan di sekitar Ulupampang adalah Situs Setinggil di Dusun Kalimati, Muncar. Lokasinya sekitar 4 kilometer arah timur dari Situs Umpak Songo dan menghadap pantai.

Setinggil berarti tanah yang menjulang tinggi menyerupai sebuah bukit. Lokasi in diyakini sebagai tempat bekas menara pengintai Kerajaan Blambangan untuk memantai lalu lintas selat Bali yang ramai oleh kapal-kapal perdagangan. (ist)