Kisah Rebutan Drupadi di Relief Jajaghu

foto
Kisah kehidupan Pandawa tertera di relief Candi Jajaghu. Foto: Terakota.id.

Candi Jago terletak di desa Jago, Kec Tumpang, Kabupaten Malang, didirikan pada masa kerajaan Singhasari, yaitu sekitar abad ke-13 oleh raja Kertanegara untuk menghormati Ayahandanya Wisnuwardhana.

Candi Jajaghu atau Jago terdiri dari enam relief, meliputi relief tantri atau binatang, relief Aridarma atau Anglingdarma, relief Kunjarakarna, relief Arjunawiwaha, relief Krisnayana dan relief Parthayadnya atau Mahabarata.

Relief Parthayadnya di teras dua bidang pahat paling lebar, selebar tiga jengkal sedangkan relief lain hanya dua jengkal.

Relief Parthayadnya terlihat paling mencolok dipahat detail dengan gaya wayang seperti bentuk tokoh pewayangan.

Untuk membaca cerita relief candi yang berlokasi di Jalan Wisnuwardana Dusun Jago Desa Tumpang Kabupaten Malang harus berlawanan dengan arah jarum jam atau Pasawya.

Cerita relief Candi Jago merupakan salah satu dari 18 bagian atau hasta dasa parwa dalam kisah Mahabarata. Yakni cerita tentang kehidupan Pandawa di hutan atau wara parwa setelah terusir dari singgasananya. “Banyak seniman terinspirasi relief di Candi Jago,” kata Suryadi, juru pelihara Candi Jago kepada Terakota.id.

Cerita diawali adegan judi dadu yang antara Pandawa dengan Kurawa. Tampak Yudistira duduk bersimpuh menghadap dadu sedangkan Bima, Arjuna, Sakula atau Nakula dan Sadewa berdiri dalam sebuah bangunan terbuka. Mereka mempertaruhkan kekayaan, tapi dengan tipuan licik Sengkuni, Pandawa kalah.

Dalam memaknai harta, kata Suryadi, Kurawa menilai taruhannya meliputi istana beserta isinya, harta benda, serta wanita menjadi istri jarahan.

Kurawa tergoda Draupadi atau Drupadi yang cantik dan digambarkan memiliki kulit mengkilat seperti kaca, kaki halus, saat berjalan kerikil menyingkir. Sedangkan Pandawa tersinggung dan menolak, mereka dikenal sangat menyayangi dan melindungi Drupadi.

Arkeolog Universitas Negeri Malang Mudzakir Dwi Cahyono menjelaskan jika tokoh Drupadi hanya muncul dalam tiga panil dalam relief Parthayadnya. Yakni saat Dursasana menggelandang Drupadi, pakaian sarinya ditarik hingga berputar seperti gasing.

Pakaian sari terlepas, Drupadi telanjang. Drupadi merasa dipermalukan di depan umum. Drupadi menjaga kehormatannya dengan menutup aurat atau tubuh dengan rambutnya yang panjang dan tebal atau asinjang rambut (Berbusana rambut).

Busana, katanya, penting bukan hanya untuk tampil indah tapi juga untuk menjaga kehormatan. Meski tak berbusana lengkap, dengan berbusana rambut Drupadi tetap menjaga kehormatan. Drupadi bersumpah akan terus menggerai rambut untuk menutup tubuhnya sampai Darsasana terbunuh dan jamasi atau keramas darahnya.

Adegan kedua Drupadi muncul saat Pandawa membawa Drupadi meninggalkan istana. Perempuan berada di depan, Kunti disusul Drupadi. Sedangkan Pandawa berurutan berada di belakangnya diikuti Punakawan. Mereka masuk hutan atau wana parwa. Serta adegan ketiga Drupadi muncul saat meninggalkan Kadatwan atau Kedaton. “Tak ada cerita khusus Drupadi dalam relief tersebut,” kata Mudzakir Dwi Cahyono.

Sosok Drupadi, katanya, menjadi misterius karena hubungan terselubung. Sejumlah referensi menyebutkan jika Drupadi kekasih kelima tokoh Pandawa. Menurutnya, tokoh Drupadi merupakan tokoh penting dalam kaitan wanita dalam budaya. Drupadi, katanya, merupakan sosok perempuan yang lembut, welas asih, dan teguh menjaga kehormatan. “Tokoh Drupadi pantas dipentaskan dalam sebuah sendratari,” katanya.

Candi Jago, katanya, merupakan pandermaan Wisnuwardana raja keempat Singhasari. Selain pandermaan di Candi Jago, serta di Candi Mleri, Gunung Pegat, Srengat Kabupaten Blitar. Candi Jago dibangun pada masa pemerintahan Kertanegara untuk memberikan penghormatan kepada ayahnya Wisnuwardana. Sebutan Candi Jajaghu tertulis dalam kitab kuno Pararaton dan kitab sastra kuno Nagarakertagama.

Wisnuwardana, katanya, didarmakan sebagai sugata atau buddhis. Tampak di halaman candi seluas separuh lapangan sepak bola sebuah arca Buddhi Sattwa dalam bentuk Amoga Pasya dengan pengiring di empat penjuru mata angin.

Arsitektur candi mengalami perombakan besar-besaran pada jaman Majapahit saat pemerintahan Hayam Wuruk. Renovasi dipimpin Adityawarman pada 1350 an. Sehingga tampak jelas jika seni pahat dalam relief bergaya wayang merupakan gaya masa kerajaan Majapahit yang dipengaruhi agama Hindu.

“Renovasi juga dilakukan terhadap 25 candi di Jawa Timur untuk menghormati leluhurnya,” kata Dwi. Hanya satu relief di Candi Jago yang dipengaruhi Buddhis. Sebagian pahatan di relief masih terjaga apik, tapi sejumlah relief lapuk dimakan zaman. Sehingga sulit untuk membaca relief di badan Candi Jago. (ist)

Disini Ken Arok Suka Mengintip Ken Dedes

foto
Petirtaan Watugede, konon disini Ken Arok suka mengintip Ken Dedes. Foto: Liputan6.com.

Semilir angin nan sejuk seakan menyambut siapa pun yang bertandang ke Petirtaan Watugede di Desa Watugede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Petirtaan atau kolam pemandian ini adalah satu di antara sejumlah petirtaan yang bertebaran di daerah Singosari. Namun, ada sebuah cerita di Petirtaan Watugede yang membuatnya sangat istimewa.

Di tempat itu Ken Arok kali pertama bertemu Ken Dedes, yang dianggap sebagai perempuan yang melahirkan raja-raja besar di Tanah Jawa, khususnya Kerajaan Singasari dan Majapahit dari Dinasti Rajasa.

Sejarawan Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono kepada Liputan6.com mengatakan, Petirtaan Watugede pada masa lampau dalam Kitab Pararaton disebut dengan Petirtaan Baboji dan dipercaya sebagai Tamansari Ken Dedes.

“Ini petirtaan khusus untuk mandi Ken Dedes dengan ditemani para dayang. Di petirtaan ini pula kali pertama terjadi perjumpaan Ken Arok dan Ken Dedes,” kata Dwi Cahyono.

Dwi menceritakan, suatu hari Akuwu Tunggul Ametung dan Ken Dedes yang hamil muda datang ke petirtaan tersebut naik pedati. Ken Arok saat itu adalah seorang prajurit yang berjaga di petirtaan.

Saat turun dari pedati, Ken Dedes menjulurkan kaki lebih dahulu dan membuat kain wiru atau belahan kainnya tersingkap. Saat itulah tersingkap rahsanya atau dalam istilah lain disebut wawati atau organ kewanitaan Ken Dedes. Ken Arok juga melihat itu sebagai mudyar hamurup atau pancaran cahaya.

Karena terpesona dengan kecantikan sekaligus penasaran dengan Ken Dedes, Ken Arok lalu membunuh Akuwu Tunggul Ametung dan memperistri Ken Dedes untuk kemudian mendirikan Kerajaan Singasari.

“Petirtaan Watugede ini situs penting dan sakral. Dahulu, berderet arca yang mengalirkan air dari sumber ke dalam petirtaan. Tapi kini hanya sisa sebuah arca saja,” Dwi Cahyono menandaskan.

Pemandian ini pertama kali ditemukan tahun 1925 oleh Arkeolog Belanda, berlokasi sekitar 2 km dari Candi Singosari. Melongok ke dalam pemandian, ada kolam kuno berbentuk persegi panjang. Dinding-dinding kolam terbuat dari batu bata kuno tersusun rapi dan kuat. Pondasi dinding yang kokoh dengan kondisi sebagian sudah tak utuh seolah-olah mengentalkan kesan kuno kolam ini.

Tepi kolam dihiasi dengan beberapa patung kecil yang menjadi pintu keluar air yang nantinya akan mengisi kolam. Uniknya, air yang keluar dari mulut arca ini tak pernah berhenti, meskipun pada musim kemarau. Kolam ini memiliki sebuah tangga batu yang memudahkan pengunjung masuk ke dalam kolam.

Uniknya, salah satu batu pada tangga memiliki permukaan yang berlubang-lubang, dengan jarak lubang yang beraturan. Konon, lubang pada batu tersebut menjadi penunjuk waktu bagi putri-putri raja yang sedang mandi di kolam tersebut. Batu tangga yang berlubang tersebut dikenal dengan nama Watu Dakon.

Tak jauh dari kolam, terdapat sebuah sumur yang seringkali dijadikan sebagai tempat meletakkan sesaji. Di sekitaran sumur juga terdapat tiga buah batu yang konon sering dijadikan sebagai batu pengasah pedang. Pedang yang diasah tersebut merupakan senjata yang digunakan untuk melaksanakan hukuman pancung.

Hukuman pancung tersebut diberikan kepada lelaki yang nekat menyusup ke dalam area pemandian. Pasalnya, pemandian ini hanya boleh dikunjungi oleh putri Raja beserta dayang-dayangnya. Tak hanya itu, di dekat sumur juga terdapat gua yang berfungsi sebagai tempat berlindung bagi para putri saat bahaya mendekat. Sayangnya, gua ini sekarang telah berada dalam kondisi tertutup.

Air di Petirtaan Watugede berasal dari sumber air yang ada di bawah sebuah pohon besar di salah satu sudut petirtaan itu. Air kemudian dialirkan ke dalam kolam melalui arca. Di dasar kolam diperkirakan masih ada relief padma, lambang para dewa. (sak)