Meriahnya Gala Dinner 12 Tahun Singgasana Hotel

foto
Peringatan 12 tahun Hotel Singgasana Surabaya. Foto: Istimewa.

Singgasana Hotel Surabaya terus berkomitmen menjadi hotel pilihan bagi para tamu yang berkunjung ke Surabaya.

GM Singgasana, Budhy Guntur Iriansah pada puncak perayaan 12 tahun Singgasana Hotel Surabaya mengatakan dengan mengangkat tema Welcome Home, Singgasana bertekad untuk menciptakan suasana seperti dirumah.

“Kami berharap Singgasana Hotel Surabaya senantiasa menjadi hotel pilihan bagi para tamu yang berkunjung ke Surabaya dan segala sesuatunya di hotel Singgasana seperti kembali ke rumah sendiri bagi para tamu-tamunya,” katanya.

Pada puncak perayaan yang dihadiri relasi, media dan tamu hotel ini dilakukan pelepasan balón sejumlah 144 balon yang merupakan perkalian usia dari Singgasana Surabaya.

Pelepasan balón dilakukan Bapak I Nyoman Sarya selaku Vice President Operations dari Singgasana Hotels & Resorts bersama dengan jajaran Management dan para tamu.

“Pelepasan balon ini merupakan harapan semoga ditahun-tahun mendatang Singgasana semakin sukses dan menjadi hotel pilihan bagi para tamu,” tandasnya.

Tak hanya itu pada kesempatan ini mantan Kapolda Jatim, Anton Setiadji menyerahkan potongan kue kepada Budhy Guntur Iriansah dan I Nyoman Sarya.

Dengan harapan semoga ditahun-tahun mendatang mendapatkan hasil yang berlipat-lipat bagi Singgasana Hotel Surabaya.

“Semoga diusianya yang kedua belas ini Singgasana Surabaya semakin sukses dan menjadi hotel resort yang ‘it’s always good to come home’,” harapnya.

Rangkaian kegiatan acara ulang tahun telah dimulai sejak 17 Mei 2018 hingga puncak acara pada 3 Agustus 2018. Diawali dengan bagi-bagi takjil, buka bersama anak yatim, fun games – Corporate Gathering, Donor Darah dan ditutup dengan Gala Dinner. (ita)

Arti Linguistik Padi pada Masyarakat Sasak

foto
Bagi masyarakat Sasak, padi adalah berkah dari langit dan sekaligus bumi. Foto: Dilombok.com.

Padi dalam pandangan masyarakat modern biasanya dipahami sebagai sumber makanan pokok dan entitas fisik semata. Implikasinya, padi hanya dikaji dengan pendekatan inderawi seperti yang dilakukan oleh para ilmuwan dalam bidang ilmu biologi dan pertanian.

Sementara dalam masyarakat tradisional, padi adalah budaya material yang sangat penting sehingga diperlakukan sebagai tumbuhan istimewa. Bahkan, keistimewaan padi diinterpretasikan melalui kompleksitas bahasa yang melabelinya.

Dalam budaya masyarakat Sasak Lombok, padi biasa disebut dengan nama Pare. Bagi mereka padi adalah berkah dari langit sekaligus bumi. Ia bersifat transendental perwujudan dunia atas yang sakral dengan dunia bawah yang profan.

Banyaknya satuan kebahasaan leksikon padi yang dipakai untuk melabeli padi dalam bahasa Sasak menunjukkan bahwa padi merupakan spesies tumbuhan yang memiliki kekhususan sangat penting dalam budaya masyarakat Sasak-Lombok.

Penelitian kajian linguistik yang dilakukan oleh mahasiswa program doktoral Fakultas Ilmu Budaya UGM, Saharudin SS MA, ditemukan tiga fungsi padi dari sisi linguistik, yakni padi sebagai penghasil bahan makanan, padi untuk keperluan ritual, magis, penyembuhan dan kosmetik serta padi yang digunakan untuk aktivitas sosial keagamaan.

“Padi dalam pandangan masyarakat Sasak adalah diri. Selanjutnya ada tiga klasifikasi padi lokal yang dijadikan sebagai simbol,” katanya Saharudin dalam ujian terbuka promosi doktor di FIB UGM, beberapa waktu lalu seperti dirilis Humas UGM.

Ia menyebutkan klasifikasi padi dikelompokan lagi menjadi tiga, yakni pare beaq atau padi merah sebagai simbol ketinggian, pare puteq (padi putih) sebagai simbol kerendahan dan pare bireng atau padi hitam sebagai simbol perantara.

Adapun bentuk ritual adat yang dilakukan dengan mengaitkan tanaman padi, menurutnya, dilakukan dalam rangka untuk memperoleh keselamatan alamiah. Ritual yang dilakukan masyarakat Sasak juga dilakukan oleh suku bangsa lain di dunia yang menjadikan padi sebagai sumber makanan pokok dan dikenal sejak zaman nenek moyang.

“Mereka mengenal itu sejak lama dan melakukan beragam ritual terkait dengan padi,” kata Dosen Universitas Mataram (Unram) NTB ini.

Pandangan kesakralan akan padi di masyarakat tradisional menumbuhkan sosok yang muncul dalam cerita legenda yang dianggap berjasa menumbuhkan padi, seperti sosok Dewi Sri sebagai dewi padi yang ada dalam cerita masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur, Sanghyang Pohaci di Jawa Barat, Inak Sriti di Lombok, dan Sinang Sari di Minangkabau.

“Sosok yang dianggap berjasa ini biasa dipanggil dan disapa dalam upacara ritual untuk selalu menjaga dan mengaruniai manusia dengan limpahan padi,” katanya. (sak)

Hanya Ada Lima Dalang Wayang Timplong di Dunia

foto
Dalang Wayang Timplong di Nganjuk. Foto: Netralnews.com.

Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur, memiliki budaya yang kaya. Budaya tersebut lahir dari perjalanan sejarah, mulai dari zaman animisme-dinamisme, kerajaan Hindu-Budha, hingga Kesultanan Islam.

Sentuhan ketiga zaman tersebut masih bisa kita lihat dari sejumlah seni budaya yang hingga kini masih bertahan, salah satunya adalah Wayang Timplong. Namun, akibat derasnya kemajuan zaman, seni budaya tersebut seperti terseok dalam persaingan dunia hiburan.

Di satu sisi, ada perasaan menjerit jika melihat situasi tersebut. Ada kekhawatiran, apakah seni budaya warga Nganjuk yang sudah berumur lebih dari satu abad itu akan punah? Betapa tidak, dalam seni Wayang Templong diperkirakan hanya tinggal lima dalang yang berusaha mempertahankannya.

Syukurlah, pemerintah pusat tidak tinggal diam. Pada 2018 Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid berusaha mendorong agar seni daerah bangkit kembali. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk menyambut baik niat tersebut dan mengajak masyarakatnya untuk mencintai kesenian asli mereka.

Asal usul
Berdasarkan Prasasti Anjuk Ladang di Situs Candi Lor, disebutkan bahwa pada tahun 937 M, Raja Mataram-Hindu bernama Mpu Sindok memberikan ucapan terima kasih kepada rakyat Desa Anjuk Ladang. Ucapan itu diberikan karena rakyat Desa Anjuk telah membantu berperang menghadapi serangan dari pasukan Kerajaan Sriwijaya.

Atas jasa tersebut, Mpu Sindok memberi hadiah berupa tugu kemenangan dan sima atau status desa bebas pajak atau disebut juga sebagai daerah perdikan. Dalam kalender Masehi, hadiah itu diberikan pada 10 April 937. Tanggal itu kemudian dijadikan sebagai hari lahir Kabupaten Nganjuk.

Melalui kacamata sejarah, tergambar pula bahwa wilayah Kabupaten Nganjuk bukanlah wilayah Negara Agung atau berdekatan dengan pusat pemerintahan, baik era Hindu-Budha maupun era Kesultanan Islam. Maka, kehidupan sosial dan budaya masyarakat ini cenderung bersifat egaliter atau tidak terlalu hirarkis.

Dalam hal seni budaya, kesenian rakyat seperti Jaranan Pogog, Tayub, dan Wayang Timplong, pernah tumbuh subur dan digandrungi warga Nganjuk. Selain seni budaya tersebut, masyarakat Nganjuk juga sangat menghargai tradisi ritual berbau animisme-dinamisme seperti Nyadran (tolak bala atau bersih desa) dan Syu’roan (perayaan tahun baru Islam-Jawa).

Lalu, apa hubungannya antara kesenian rakyat dan tradisi ritual berbau animisme-dinamisme serta sekaligus Islami? Jawabannya adalah bahwa seni rakyat tersebut biasanya dilangsungkan bersamaan dengan tradisi tersebut. Jadi, Wayang Timplong merupakan bagian dari ritual dan sekaligus sebagai seni pertunjukan.

Berdasarkan hasil penelitian Anjar Mukti Wibowo dan Prisqa Putra Ardany yang berjudul “Sejarah Kesenian Wayang Timplong Kabupaten Nganjuk” (2013), disebutkan bahwa kesenian tersebut pertama kali diciptakan oleh Mbah Bancol sekitar tahun 1910.

Mbah Bancol sebenarnya adalah pendatang dari Grobogan, Jawa Tengah, kemudian menetap di Desa Jetis, Kecamatan Pace. Mbah Bancol menciptakan Wayang Timplong karena terinspirasi oleh Wayang Krucil yang sangat ia sukai sejak kecil.

Namun saat ia dewasa, ia ingin menciptakan wayang yang berbeda dengan Wayang Krucil. Mbah Bancol memilih membuat wayang dari kayu pohon waru, mentaos, atau pinus yang dibuat menjadi pipih. Untuk musik iringannya, mulanya masih sederhana, yaitu terdiri dari gambang, ketuk kenong, kempul, dan kendang.

Suara yang dihasilkan dari alat musik tersebut, terdengar di telinga didominasi oleh bunyi, “Plong, plong, plong.” Oleh karena itu, masyarakatnya kemudian menyebutnya sebagai Wayang Timplong.

Wayang Timplong seringkali digolongkan sejenis dengan Wayang Krucil atau Wayang Klitik karena sama-sama terbut dari kayu. Namun, dalam Wayang Timplong, hanya ada 60 buah wayang untuk mewakili 60 tokoh yang terdiri dari orang, binatang, dan wujud senjata.

Sedangkan untuk kisah yang dimainkan oleh sang dalang, biasanya menggunakan kisah panji dan babad. Beberapa contoh judul kisah tersebut adalah “Babat Kediri”, “Asmoro Bangun”, “Panji Laras Miring”, Baru Klinthing”, dan “Damarwulan”.

Menggiatkan kembali

Dalam sebuah wawancara media di Jawa Timr pada 26 Oktober 2011, seorang dalang Wayang Timplong bernama Ki Gondo Maelan mengatakan, “Sekarang ini di Nganjuk, bahkan mungkin di seluruh dunia, hanya terdapat tidak kurang lima dalang Wayang Timplong, dan yang tertua adalah saya.”

Pernyataan Ki Gondo Maelan menjadi semacam peringatan bahwa Wayang Timplong mengalami ancaman kepunahan. Sementara itu, seorang dalang lainnya yang bernama Ki Talam mengatakan, “Ojo sampek ilang (jangan sampai hilang), Wayang Timplong itu wujudnya seperti itu.”

Pada tahun ini, harapan kedua dalang tersebut sepertinya mulai menampakan hasilnya. Direktorat Jenderal Kebudayaan menggalakkan setiap pemerintah daerah untuk menghidupkan dan menggiatkan seni daerah.

Menanggapi hal itu, Pemkab Nganjuk telah mengadakan sejumlah diskusi menggali permasalahan seputar Wayang Timplong serta menyusun program khusus yang kemudian dinamakan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Kabupaten Nganjuk Tahun 2018.

Dari hasil diskusi pleno tim penyusun PPKD, 3 Juli 2018, yang dihadiri pula oleh Solekan, seorang dalang Wayang Timplong, serta sejumlah anggota Persatuan Perdalangan Indonesia (Pepadi), dihasilkan sejumlah kesimpulan penting.

Kesimpulan itu memuat sejumlah pokok persoalan yang dihadapi Wayang Timplong, yaitu tidak adanya regenerasi pegiat Wayang Timplong, pertunjukannya kurang menarik, musiknya sangat sederhana, dan perlu adanya manajemen pemasaran.

Sementara beberapa program yang akan dijalankan Pemkab Nganjuk antara lain membuat narasi yang menarik, pertunjukan Wayang Timplong secara periodik, perlunya program wayang masuk sekolah, serta penguatan organisasi Pepadi, terutama dalam menjalankan manajemen pemasaran. (ist/Netralnews.com)

19 Bangunan Kuno Madiun Bakal Jadi Cagar Budaya

foto
Gedung Balai Kota Madiun. Foto: Madiunpos.com/Abdul Jalil.

Sebanyak 19 bangunan kuno di Kota Madiun mendapatkan rekomendasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai bangunan cagar budaya.

Kasi Pembinaan Sejarah, Nilai-nilai Tradisional, dan Cagar Budaya Diabudparpora Kota Madiun, Sumiati, mengatakan rekomendasi dari Pemprov Jatim terkait usulan 19 bangunan cagar budaya di Kota Madiun sudah turun awal Juli 2018. Dari 19 bangunan yang diusulkan, semuanya mendapatkan persetujuan dari Pemprov Jatim.

Sembilan belas bangunan cagar budaya itu antara lain bangunan Balai Kota Madiun, SDN 01 Kartoharjo, SDN 02 Kartoharjo, Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Gamaliel, Gereja Santo Cornelius, Gereja Santo Bernardus, Bakorwil.

Juga rumah kapiten Cina, SDN 05 Madiun Lor, SMPN 1 Kota Madiun, SMPN 3 Kota Madiun, SMPN 13 Kota Madiun, Stasiun Madiun, Komplek Klenteng, Pabrik Gula Redjo Agung dan rumah dinasnya, menara air Sleko, rumah Andi Wibisono, dan SMAN 1 Kota Madiun. Daftar lengkapnya bisa dilihat disini.

Setelah rekomendasi ini turun, selanjutnya Pemkot Madiun akan membuat SK Wali Kota mengenai benda cagar budaya ini. “SK ini wajib melalui evaluasi bagian hukum terlebih dahulu sebelum ke meja wali kota,” kata Sumiati, seperti dikutip Madiunpos.com, beberapa waktu lalu.

Dia menuturkan pembuatan SK ini juga membutuhkan waktu karena bangunan cagar budaya yang diusulkan cukup banyak. Selain itu, ada satu bangunan yang masih bermasalah mengenai kepemililan yaitu rumah Andi Wibisono di Jl. Kutai. Permasalahan ini terkait sengketa di antara keluarga pemilik.

“Kemungkinan besar hanya 18 bangunan yang akan mendapatkan SK. Tetapi ini masih menunggu perkembangan dari keluarga pemilik,” jelas dia yang dikutip dari siaran pers.

Menurut dia, pemberian status cagar budata tidak bisa sembarangan. Pemberian status ini juga harus melalui persetujuan dari pemilik. Terutama apabila bangunan itu milik pribadi.

Sumiati menyampaikan cagar budaya ini bukan hanya status. Melainkan ada hak dan kewajiban yang melekat setelahnya. Pemilik bangunan akan mendapat reward dari pemerintah. Biasanya, reward tersebut berupa anggaran perawatan hingga pembebasan pajak tahunan.

Dengan status cagar budaya itu, pemilik tidak boleh sembarangan mengubah bentuk bangunan mulai menambah maupun mengurangi. Apabila ada perubahan harus melalui rekomendasi tim ahli. Pemilik harus melapor terlebih dahulu hingga mendapatkan persetujuan.

“Pada prinsipnya boleh mengubah. Tetapi prosesnya menjadi sedikit agak panjang dan belum tentu disetujui,” terangnya.

Lebih lanjut, kata Sumiati, pemilik juga wajib terbuka kepada masyarakat yang ingin melihat atau belajar. Status cagar budaya memberikan kelonggaran bagi yang ingin belajar mengenai bangunan bersejarah. Namun dengan alasan yang wajar dan bisa diterima. (ist)

Mengangkat Cerita-Cerita Jawa Menjadi Film Pendek

foto
Tembang dolanan juga menjadi bagian dari film pendek berbahasa Jawa. Foto: Tribunnews.com.

Menyaksikan film yang diangkat dari novel best-seller merupakan hal yang biasa. Namun, bagaimana rasanya jika menonton film pendek yang diangkat dari cerita pendek berbahasa Jawa?

Di tangan dingin Danang Wijoyanto, dosen Karawitan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), cerita pendek berbahasa Jawa atau yang lebih akrab disebut cerita cekak (cerkak) dapat dinikmati dengan cara lain.

Ditengah maraknya perkembangan film Indonesia yang diangkat dari novel, Danang mencetuskan ide untuk mengangkat kisah dari cerkak sastra Jawa ke dalam film.

Dosen asal kota Trenggalek ini mengajak mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) menciptakan sesuatu yang baru. Mereka memilih cerkak karya Suharmono Kasiyun berjudul ‘Kakang Kawah Adhi Ari-Ari’.

“Saya sebagai dosen yang memiliki latar belakang bahasa daerah utamanya bahasa Jawa sangat tertarik melakukan proyek ini,” jelas alumnus Universitas Negeri Surabaya itu kepada Tribunnews.com, beberapa waktu lalu.

Pemilihan cerkak itu bukan tanpa alasan. Karya sastra Jawa itu telah menerima beberapa penghargaan bergengsi salah satunya penghargaan Karya Sastra Daerah Jawa Terbaik 2018 dari Yayasan Kebudayaan Rancage.

“Kami memutuskan memilih karya sastra milik Suharmono karena karya ini sangat lekat dengan kebudayaan masyarakat Jawa,” terang Danang.

Ada 12 film pendek diputar dalam festival film dalam Puncak Karawitan 2018. Film-film itu di antaranya Surup, Kembang, Mantu, Peteng sing Ireng, Wiramane Lagu Dhangdut, Sanip Tambak Oso, Gombak, Tamu, Sisihan, Kakang Kawah Adhi Ari-Ari, Ayomi Tyas, Wening, dan Bento.

Festival film itu diapresiasi seluruh mahasiswa PGSD UMM. Salah satunya Dian Armandha. Diakuinya, membuat film bagi mahasiswa PGSD merupakan hal yang baru, namun itu adalah tantangan yang menyenangkan.

“Membuat film itu bukan kebiasaan kami. Jadi memang agak sulit, tetapi tugas itu sangat menantang karena harus banyak melakukan riset,” tutur sutradara film Surup itu.

Dia menambahkan, membuat film adalah salah satu cara bagi mahasiswa PGSD untuk melestarikan budaya, utamanya yang ada di Jawa Timur. Sebagai salah satu program studi yang berfokus pada pengembangan pendidikan karakter, PGSD UMM terus melestarikan budaya Jawa melalui beberapa mata kuliah budaya Jawa seperti Bahasa Jawa dan Karawitan.

“Saya senang sekali bisa terlibat dalam tugas akhir ini, membuat film bisa membantu kami untuk mempromosikan budaya Jawa,” imbuh mahasiswa asal kota Reog Ponorogo tersebut.

Tidak hanya berkarya dalam pembuatan film, mahasiswa PGSD UMM juga dipacu untuk menciptakan tembang dolanan. Diciptakannya tembang dolanan ini salah satu upaya PGSD UMM untuk melestarikan budaya Jawa, utamanya dalam membentuk pendidikan karakter melalui kearifan lokal.

“Selain menyesuaikan dengan kebutuhan guru SD, kami juga memacu mahasiswa PGSD untuk mengajarkan pendidikan karakter melalui kearifan lokal,” papar Dadang.

Mahasiswa menciptakan dan mengaransemen 12 tembang dolanan. Muncullah judul-judul Bekelan, Gajah ing Kebun Binatang, Aku Due Truwelu, Pitik Jago, Kupu-Kupu, Kekancan, Semut, Ojo Lali Wektu, Kucing Lemu, Jambu Lemu, Ayo Konco, dan Gunung-Gunung. “Seluruh mahasiswa menciptakan dan mengaransemen semua tembang dolanan yang akan ditampilkan nanti,” ujar Dadang. (ist)

Arkeolog Temukan Denah Candi Kerajaan Kediri

foto
Situs Peninggalan Kerajaan Kediri. Foto: Merdeka.com/Imam Mubarok.

Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslitarkenas) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengakhiri ekskavasi tahap ketiga terhadap Situas Adan-Adan dan Situs Wonorejo di Kabupaten Kediri beberapa waktu lalu.

Puslitarkenas memastikan dua struktur batu dan bata di dua lokasi berbeda tersebut adalah bangunan candi dan petirtaan yang saling berkaitan pada era Kerajaan Kediri.

Pada ekskavasi tahap tiga ini Puslitarkenas Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan sudah berhasil membongkar denah Situs Adan-Adan Di Kecamatan Gurah dan Situs Wonorejo di Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri. Pada Situs Adan-Adan, tim peneliti menemukan struktur bangunan candi dari bahan batu dan bata dengan sudut berukuran 8×8 meter.

Ketua Tim Puslitarkenas Sukawati Susetyo, seperti dikutip Merdeka.com mengatakan, terbukanya denah bangunan candi diawali dari penemuan dua buah makara sudut sebagai titik awal pencarian. Temuan lain berupa kepala kala berukuran besar tetapi belum selesai proses pengerjaan atau unfinishing.

Sedangkan di Situs Wonorejo berupa struktur bangunan petirtaan dari bata yang ditengarai tersambung langsung dengan sungai yang ada di sekitarnya.

“Bangunan petirtaan yang disebut sebuah embung ini memiliki keterkaitan langsung dengan candi adan-adan yang letaknya tidak terpaut jauh. Kedua bangunan sejarah ini diyakini peninggalan zaman Kerajaan Kediri atau Mataram Kuno di Abad Ke-9,” kata Sukawati.

Untuk memastikan pereode tahun bangunan tim Puslitarkenas akan melakukan pemeriksaan melalui karbon dating terhadap bahan struktur batu maupun bata . Sementara itu ekskavasi tahap tiga ini dianggap selesai dan akan dilanjutkan pada pereode keempat yang diperkirakan pada bulan Oktober 2018 mendatang .

Fokus penelitian nantinya untuk melanjutkan pencarian denah guna mengungkap bangunan secara utuh, termasuk kemungkinan adanya bangunan wihara yang berada di sekitar candi dan petirtaan. (mer)

Falsafah ‘Guyub-Rukun’ pada Tarian dari Nganjuk

foto
Pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur dari Nganjuk di TMII. Foto: Galamedianews.com.

Terwujudnya masyarakat yang ‘guyub – rukun’ didasari oleh sikap saling menghormati; menghargai, empati, serta tepo seliro (tenggang rasa). Inilah salah satu warisan budaya yang sudah tertanam di dalam jiwa bangsa Indonesia selama ratusan tahun.

Demikian antara lain disampaikan Pj Bupati Nganjuk Drs H Sudjono MM dalam sambutan acara pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, pekan lalu.

Dalam konteks budaya kerja dan pelaksanaan program Pemerintahan, ujar Sudjono, guyub – rukun dapat mendorong rasa tanggung jawab, peningkatan kedisiplinan, dan kepatuhan pada aturan.

“Aparatur Negara harus rukun, guyub. Kerja secara normatif, jujur dan amanah. Terjalin komunikasi dan hubungan yang harmonis dengan semua tingkatan. Ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake: berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, bertindak benar tanpa merendahkan atau mempermalukan yang salah,” ujarnya, seperti dikutip Galamedianews.com.

Nilai-nilai inilah, kata Sudjono, menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan kita. Potensi Jawa Timur, dari 38 Kabupaten/Kota, dengan penduduk hampir 40 juta. Nganjuk, 20 Kecamatan, 284 Desa Kelurahan, dengan penduduknya lebih dari satu juta.

“Masing-masing punya karakter dan potensi yang berbeda-beda. Maka nilai-nilai budaya ‘guyub – rukun’ itulah yang menyatukan kita,” tuturnya.

Pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur kali ini, menampilkan paket kesenian daerah dari Kabupaten Nganjuk, dengan tema, ’Pesona Budaya Nganjuk, Nganjuk Sayuk, Anjuk Ladhang Tumandang, Nyawiji Hambangun Nagari’.

Menampilkan berbagai tari dan lagu daerah, yang dikemas dalam tiga segmen; tari ’Maeswara Swantantra Anjuk Ladhang’ , tari ’Gembyang’ dan seni drama tari ’Udaka Bayanaka Ring Cabean’.

Dipenghujung acara kelompok kesenian yang dipimpin langsung Pasiyan SH MM selaku Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Nganjuk ini, menggelar kesenian Langen Tayub.

Tari ’Maeswara Swantantra Anjuk Ladhang’ menggambarkan rasa syukur atas kejayaan masyarakat Bumi Anjuk Ladhang, mendapat anugerah tanah perdikan (wilayah kerajaan) pada masa Epu Sendok, raja Mataram Hindu yang terakhir.

Hal ini ditandai dengan berdirinya tugu kemenangan; ‘Jaya Stamba.’ ’Gembyang’ merupakan karya tari yang terinspirasi dari proses wisudaan Gembyangan Waranggono Langen Beksa, sebuah tradisi di Desa Ngrajek di Nganjuk.

Menggambarkan semangat Waranggono muda dalam meningkatkan kualitas profesi yang ditekuni.

Seni drama tari ’Udaka Bayanaka Ring Cabean’ menceritakan legenda rakyat ’Udaka Bayanaka’ (sumber mata air) di lereng gunung Pandan, Desa Cabean Ngluyu Kabupaten Nganjuk.

Menggambarkan perjalanan tokoh Raden Mas (RM) Suro Mangun Joyo membangun sumber mata air besar yang diharapkan dapat memberi penghidupan, kesejahteraan masyarakat di sekitar Argo Mulyo. Sehingga sumber mata air itu disebut Umbul Argomulyo. Sumber mata air tersebut menjadi tempat keramat.

Setiap tahun diadakan upacara adat Lebur, yang maknanya membersihkan sumber mata air, serta mengantar doa syukur atas berkah Tuhan Yang Maha Esa.

Kini sumber air tersebut dikelola PDAM Kabupaten Nganjuk dan sebagian dialirkan ke kota. Sumber air yang terletak 650 meter sebelum pintu masuk Goa Margo Tresno tersebut, kini menjadi tempat wisata bernama kolam renang Umbul Argomulyo.(sak)

ITS Bakal Hidupkan Budaya Maritim Nusantara

foto
Dr R Cecep Eka Permana saat menyampaikan perkembangan peradaban maritim Nusantara Pra Majapahit. Foto: Humas ITS.

Bermaksud merekonstruksi ulang kebudayaan maritim nusantara, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berencana dirikan Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUI) yang terkait dengan budaya kemaritiman Indonesia. Hal ini selaras dengan keinginan bangsa Indonesia untuk membangun kembali nilai kemaritiman.

Pembahasan ini sempat tercuat dalam Diskusi Peradaban Maritim Tepian Kali Brantas yang digelar oleh Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim (PSKBPI) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITS di Ruang Sidang Rektorat ITS, pekan lalu.

Sejak dahulu, Indonesia memang dikenal sebagai negara maritim yang hebat. Bahkan, transportasi air memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia pada masa tersebut.

Terkait hal tersebut, PSKBPI LPPM ITS sempat melakukan penelitian peninggalan kerajaan majapahit tentang budaya kemaritiman yang ditemukan di Sidoarjo. Penemuan ini berupa candi di tepian Kali Brantas.

Menurut Dr Ir Amien Widodo M Si, Ketua Kelompok Kajian Bencana PSKBPI, penelitian ini diharapkan dapat merekonstruksi ulang budaya maritim yang pernah ada di Indonesia, utamanya di tanah Jawa. “Untuk membangun Indonesia sebagai poros maritim dunia, Indonesia harus membangun budaya maritim ini,” tuturnya, seperti dilansir Humas ITS.

Tidak hanya di tepian kali Brantas, penelitian ini juga dilaksanakan di sepanjang tepian Kali Porong. Ia menuturkan, penelitian ini akan memberi gambaran besar budaya maritim yang ada di Indonesia pada jaman dahulu. Letak garis pantai, pelabuhan, dan bentuk kapal menjadi pokok bahasan yang nantinya akan dikembangkan.

“Penelitian yang ada tidak hanya sebatas Surabaya-Sidoarjo saja, persebarannya bahkan dapat mencapai Blitar, ujungnya di Wonorejo,” papar pria paruh baya ini. Harapannya, dengan mengetahui persebaran budaya maritim tersebut, ITS mampu membuat gambaran (virtualisasi) kebudayaan maritim yang pernah ada di Indonesia.

“Tidak hanya dari kerajaan Majapahit saja, kerajaan lain seperti Medang, Kediri, Singosari juga akan ditelisik sejarahnya,” sambungnya. Amien menuturkan, ITS akan secara serius menggarap penelitian melalui terbentuknya PUI. Dengan adanya PUI tersebut, ITS berharap bisa membuat sebuah museum sebagai bahan edukasi bagi generasi saat ini.

Diskusi Peradaban Maritim Tepian Kali Brantas ini menghadirkan Staf Ahli Kemaritiman Sosio-Antropologi Dr Ir Tukul Rameyo MT, arkeolog dari Universitas Indonesia Dr Ir Cecep Eka Permana, arkeolog Universitas Negeri Malang Drs Dwi Cahyono M Si, wakil dari komunitas Laskar Nusantara 6 Tri Kiswono Hadi, dan dosen Teknik Geofisika ITS Firman Syaifuddin ST MT.

Amien menuturkan, narasumber dalam diskusi ini adalah komponen pendukung dalam penelitian yang berlangsung sejak tahun 2017. “Kami hanya mampu mempelajari bentuk fisiknya, untuk sejarahnya, butuh ahli arkeologi,” pungkasnya. Ia menganggap, penelitian perihal budaya memang butuh banyak sumber. (ita)

Kemendikbud Petakan 652 Bahasa Daerah di Indonesia

foto
Indonesia memiliki ratusan bahasa daerah. Foto: Istimewa.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Badan Bahasa Kemendikbud) telah memetakan dan memverifikasi 652 bahasa daerah di Indonesia. Jumlah tersebut tidak termasuk dialek dan subdialek.

“Dari tahun 1991 sampai 2017 kami telah memetakan dan memverifikasi bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Jumlahnya saat ini 652 bahasa daerah, yang tentunya bisa berubah seiring waktu,” kata Dadang Sunendar, dalam acara Lokakarya Pengelolaan Laman dan Media Sosial di Hotel Santika Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, Senin (23/7/2018).

Penghitungan jumlah itu diperoleh dari hasil verifikasi dan validasi data di 2.452 daerah pengamatan. Bahasa-bahasa di wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat belum semua teridentifikasi.

Dadang Sunendar seperti dikutip laman Kemendikbud.go.id, mengatakan salah satu tugas Badan Bahasa Kemendikbud adalah melindungi dan melestarikan bahasa-bahasa daerah tersebut.

Dikutip dari laman Badan Bahasa, beberapa lembaga internasional pun telah ikut memetakan bahasa di Indonesia.

Summer Institute of Linguistics (SIL) Internasional dengan proyek Ethnologue dan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (Unesco) dengan program Atlas of the World’s Languages in Danger adalah contohnya.

Namun, karena perbedaan metodologi, jumlah bahasa hasil pemetaan lembaga-lembaga itu pun berbeda-beda.

Summer Institute of Linguistics menyebut jumlah bahasa di Indonesia sebanyak 719 bahasa daerah dan 707 di antaranya masih aktif dituturkan. Sementara itu, Unesco baru mencatatkan 143 bahasa daerah di Indonesia berdasarkan status vitalitas atau daya hidup bahasa. (sak)

Pelajar Surabaya Usung Budaya ke Korea Selatan

foto
Pelajar Surabaya bersiap berangkat ke Busan Korea Selatan. Foto: Humas Pemkot Sby.

Pelajar dari Kota Surabaya membuktikan diri mampu sejajar dengan pelajar dari berbagai kota di dunia.

Kali ini, pelajar Kota Surabaya jenjang SMP turut berpartisipasi dalam kegiatan Asian Youth Education Forum 2018 di Kota Busan, Korea Selatan, yang berlangsung 24-26 Juli 2018.

Selain pelajar dari Surabaya, Asian Youth Education Forum 2018 juga diikuti pelajar dari China, Kamboja, Vietnam, dan Korea Selatan.

Secara berkelompok, perwakilan dari berbagai negara tersebut akan melakukan presentasi tentang keunggulan program pendidikan di masing-masing negara dan menampilkan pertunjukan seni budaya.

Delegasi dari Kota Surabaya sebanyak 18 orang. Terdiri atas 14 pelajar SMPN dan empat orang pendamping. Eko Widayani, selaku guru pendamping dari SMPN 26 Surabaya, mengatakan bahwa 14 pelajar yang berangkat ke Korea Selatan tersebut berasal dari pelajar gabungan beberapa SMP Negeri di Surabaya.

“Selama mengikuti kegiatan tersebut, delegasi dari Kota Pahlawan akan melakukan presentasi dengan 2 topik bahasan, yaitu Education for Global Citizenship dan Young People in Global Citizenship,” kata Eko saat dikonfirmasi dari Surabaya, Selasa, (24/07).

Disamping itu, lanjut Eko, delegasi Kota Surabaya juga akan menampilkan tari Suramadu, Sparkling Nusantara, dan musik tradisional Angklung sebagai penampilan seni dan budaya.

“Presentasi ini nanti dikompetisikan dengan pelajar lain dari berbagai Negara. Tugas guru pendamping hanya membantu anak-anak untuk performa,” kata Eko.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya Surabaya Ikhsan berpesan kepada para siswa agar tetap selalu menjaga kesehatan sehingga dapat mengikuti rangkaian kegiatan yang telah dijadwalkan.

Menurutnya, pengalaman yang didapat para siswa selama mengikuti kegiatan, nantinya dapat diadopsi disesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing.

“Kami yakin anak Surabaya adalah anak-anak yang luar biasa, mereka tidak hanya sekedar multitalenta. Namun juga mampu mengharumkan nama Surabaya dikancah internasional pada setiap kesempatan,” jelas Ikhsan.

Salah satu perwakilan pelajar, Fadlyn Attina Jatmiko mengatakan, presentasi tentang pendidikan akan membahas tentang upaya anak muda atau tunas bangsa agar bisa mendunia.

Di Kota Surabaya, pendidikan telah didukung pemerintah dengan menyediakan rumah bahasa, perpustakaan, hingga upaya perlindungan anak. Selain itu, berbagai upaya dari Pemkot Surabaya untuk menjadikan kota layak anak juga akan dipresentasikan dihadapan forum internasional tersebut.

“Keunggulan-keunggulan ini akan kami sampaikan dalam presentasi dan kami hubungkan dengan masalah kewarganegaraan dan kemanusiaan,” ungkap siswa kelas 9 dari SMPN 26 ini.

Sementara itu, Andi Safa Afianzar menuturkan ada berbagai program sekolah yang akan menjadi topik bahasan dalam presentasi nanti, mulai dari konselor sebaya, adiwiyata, hingga berbagai wadah kegiatan yang bertujuan menggali bakat dan potensi siswa di Surabaya.

“Tak salah jika Surabaya menjadi sebuah kota yang aman, nyaman, dan ramah bagi warganya. Terutama kami para pelajar Surabaya, terima kasih Bu Risma,” ujar siswa asal SMPN 19 tersebut. (ita)