Belajar Kesenian Juga Belajar Keberagaman

foto
Penari Didik Ninik Thowok bersama 15 peserta didiknya di Jogja. Foto: Kemendikbud.go.id.

Sebanyak lima belas siswa-siswi SMA/SMK peserta Belajar Bersama Maestro (BBM) tahun 2018 menggelar pertunjukan seni tari di Yogyakarta, pekan lalu.

Bertempat di Pendopo Kedaton, Hotel Royal Ambarrukmo, para siswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia tersebut menunjukkan kemampuannya setelah selama dua minggu belajar langsung dari salah satu maestro seni tari Indonesia, Didik Ninik Thowok.

Bagi salah satu peserta BBM, Firhan Nurhantiko, dari SMA Negeri 6 Surakarta, kesempatan belajar langsung dengan Didik Ninik Thowok merupakan suatu kebanggaan karena berhasil terpilih dari sekian ribu peminat.

“Sangat senang dan bangga bisa lolos dan mengikuti program BBM, karena kesempatan ini telah melalui perjuangan dan seleksi dari sekian ribu peminat, dan bisa belajar langsung bersama maestro,” ujar Firhan, dikutip laman Kemendikbud.go.id.

Tidak hanya memperoleh bekal ragam gerak yang berhubungan dengan olah tubuh, Firhan dan peserta BBM di bawah bimbingan Didik Ninik Thowok lainnya pun diajak berwisata edukasi, mengunjungi tempat bersejarah yang memiliki nilai seni.

“Karena siswa-siswi dasarnya bukan dari sekolah-sekolah penari semuanya, ada juga yang ingin menari tapi belum bisa menari, jadi kami juga membekali wisata edukasi ke tempat yang bersejarah dan mempunyai nilai seni, seperti ke museum dan candi, sehingga diharapkan mereka akan bangga dan cinta budaya, seni, dan benda bersejarah yang ada di Indonesia,” jelas Didik.

Bagi penari yang bernama asli Didik Hadiprayitno itu, tahun ini adalah kali kedua ia terlibat dalam program Belajar Bersama Maestro, setelah yang pertama pada tahun 2015. Melalui bidang seni dan budaya, ia ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya menghargai keberagaman.

“Saya mengenalkan seni melalui berbagai macam kostum tradisional dari berbagai daerah, sehingga diharapkan mereka akan bangga dengan bangsa kita yang luar biasa kaya, khususnya dalam bidang seni budaya, dan kalau kita tidak mengenalkan sangat dikhawatirkan mereka tidak akan mengerti tentang keberagaman,” jelas Didik.

Siswa-siswi peserta BBM di bawah bimbingan maestro tari Didik Ninik Thowok antara lain berasal dari Lampung, Padang, Sampit, Bone, Malang, Solo, Ponorogo, Brebes, Cirebon, dan Riau.

Didik meyakini, kesenian juga mengajarkan kepada para siswa tersebut apa yang disebut dalam istilah dalam bahasa Jawa, unggah-ungguh, atau cara bersikap terhadap orang lain yang berinteraksi dengan diri kita.

“Kesenian, dalam hal ini seni tari, tidak hanya tentang menguasai tarian saja, banyak hal-hal lain yang saling berhubungan dan positif, yang bisa kita dapatkan,” pungkas Didik usai pergelaran.

Dalam pergelaran tari tersebut, Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoto, turut hadir membuka acara. Masyarakat yang hadir menyaksikan pergelaran antara lain tokoh, pengamat seni, serta siswa-siswi pegiat seni di Yogyakarta. (sak)

Ini Pemenang Miss Grand Indonesia 2018

foto
Nadia Purwoko, Miss Grand Indonesia 2018 asal Bengkulu. Foto: Kemenpar.go.id.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengapresiasi penyelenggaraan Miss Grand Indonesia 2018. Tahun ini, Menpar didapuk sebagai juri kehormatan pada acara puncak yang dilaksanakan di Jakarta Convention Center akhir pekan lalu.

Acara tersebut mengangkat tema Beauty in Diversity, serta diikuti oleh 30 kontestan dari seluruh Indonesia yang mewakili provinsi masing-masing.

Finalis Miss Grand Indonesia mewakili wanita Indonesia yang modern dan mandiri. Memiliki jiwa sosial serta dapat berkontribusi diberbagai bidang baik sosial, pemberdayaan, pariwisata dan ekonomi.

Menpar mengucapkan selamat kepada para pemenang dan seluruh finalis, yang kedepannya diharapkan menjadi duta wisata bagi daerahnya masing-masing yang secara aktif mempromosikan pariwisata Indonesia.

Terkait hal itu, Kementerian Pariwisata akan terus mengajak kerjasama berbagai pihak dengan tujuan untuk mempromosikan pariwisata Indonesia di kancah internasional, termasuk dalam memanfaatkan anak bangsa di ajang internasional sebagai endorser.

Miss Grand International adalah salah satu kontes kecantikan terbesar selain Miss Universe. Impact-nya juga besar. Kemajuan industri Pariwisata Indonesia pun salah satunya dari peran para endorser.

“Putri kecantikan Miss Grand Indonesia, nantinya harus memiliki misi sama dengan Kementerian Pariwisata, mempromosikan Pesona Indonesia dan Wonderful Indonesia di kancah dunia,” pungkas Arief.

National Director of Miss Grand Indonesia, Dikna Faradiba mengatakan, para finalis sudah dipersiapkan mental dan wawasannya sehingga bisa memberikan penampilan terbaik pada malam Grand Final Miss Grand Indonesia 2018.

Dalam sambutannya, dia menambahkan bahwa pemenang akan mendapatkan hadiah utama berupa 1 unit apartemen dari Loftville dan mahkota istimewa seharga Rp 3 miliar.

“Pemenang Miss Grand Indonesia akan mewakili Indonesia di ajang Miss Grand International 2018 yang diadakan di Myanmar bulan Oktober mendatang,” imbuh Dikna.

Tahun ini, gelar Miss Grand Indonesia diraih oleh putri asal Bengkulu, Nadia Purwoko. Nadia mendapatkan piala kehormatan yang diberikan Menteri Pariwisata.

Sebagai Runner-Up I dan Runner-Up II yakni finalis asal Sumatera Utara, Vivi Wijaya dan finalis asal DKI Jakarta, Stephanie Cecilia Munthe.

Miss Grand Indonesia mengemban misi membawa nama bangsa Indonesia ke jenjang internasional melalui kontes kecantikan, sekaligus mempromosikan kebudayaan, keindahan dan wisata Indonesia.

Selain itu, Miss Grand Indonesia juga turut mendukung tujuan Miss Grand International, mengkampanyekan “STOP THE WAR AND VIOLENCE” bagi masyarakat Indonesia khususnya dan dunia umumnya.

Turut serta menjadi juri adalah Dirut Bank BCA Bapak Jahja Setiaatmadja, Jacky Mussry dari Markplus, Sophia Latjuba, Wulan Guritno, Ferry Salim, Dian Muljadi, Ivan Gunawan dan Dikna Faradiba sebagai ketua Yayasan Dharma Gantari.

Grand Final Miss Grand Indonesia ini turut dihadiri pula oleh pemilik lisensi Miss Grand International Nawat Itsaragrisil, Miss Grand International 2015 Claire Elizabeth Parker, Miss Grand International 2016 Ariska Putri Pertiwi, dan Miss Grand International 2017 Maria Jose Lora. (sak)

Atonoh Jukok, Tradisi Saat Panen Ikan Menurun

foto
Ibu-ibu di Mayangan Probolinggo menggelar Atonoh Jukok. Foto: Detikcom/M Rofiq.

Warga nelayan pesisir Mayangan, Kota Probolinggo punya cara berbeda untuk mengungkapkan rasa syukur kepada yang maha kuasa. Mereka menggelar Atonoh Jukok, tradisi untuk mengharap berkah yang maha kuasa.

Atonoh Jukok digelar saat hembusan angin kencang melanda wilayah kota setempat. Umumnya hembusan angin kencang tersebut kerap berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan nelayan di lautan yang menurun.

Warga nelayan Mayangan mempercayai, usai melakukan tradisi tersebut, hembusan angin kencang akan berangsur membaik dan membuat hasil tangkapan ikan di laut kembali normal.

Dalam Atonoh Jukok, seluruh warga nelayan Mayangan berkumpul di jalan ikan Kakap Kecamatan Mayangan, guna membakar ikan untuk dimakan bersama-sama.

Selain dimakan sendiri, sebagian ikan yang dibakar juga diberikan kepada warga luar kampung yang hadir dalam tradisi warga nelayan pesisir kota Mangga itu.

Diungkapkan Siti Fatonah, salah seorang istri nelayan setempat, seperti dikutip Detikcom, jika tradisi ini sudah ada sejak zaman nenek moyangnya. Tradisi itu merupakan bentuk mengharap berkah yang maha kuasa.

“Kalo sudah angin kencang gini, tangkapan ikan menurun, makanya ini sebagai wujud sedekah nelayan agar tangkapan ikan berkah,” ungkap Siti kepada wartawan, pekan lalu.

Hal senada disampaikan Hadi Zainal Abidin yang merupakan tokoh masyarakat Mayangan. Dengan adanya tradisi tersebut, warga bisa belajar saling berbagi dan gotong royong, agar selalu mendapat rahmat dan berkah dari yang maha kuasa.

“Saya rasa tradisi ini cukup baik, dan perlu dilestarikan. Banyak nilai-nilai positif dari tradisi ini, selain menjaga budaya daerah, juga memperkuat tali silaturahmi antar nelayan.” (dtc)

Ningrum Pamer Tari Topeng Klana di Korea

foto
Peserta acara 4th International Cultural Exchange di Korea. Foto: PIH Unair.

Tak disangka, kecintaan pada seni membawa mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga ini terbang ke Korea Selatan. Ialah Anindya Endah Cahyaningrum atau yang akrab dengan sapaan Ningrum. Mahasiswa semester tujuh ini berkesempatan mengikuti program yang diselenggarakan oleh ISCEF (Indonesian Student Cultural and Eduaction Foundation), 10-14 Juli 2018 di Seoul National University.

Dalam acara kerjasama antara Indonesia dan Korea Selatan bertajuk 4th International Cultural Exchange : Immersing the Culture and Experiencing the Exchange ini, Ningrum membuktikan kepiawaiannya dalam menari. Menampilkan tari Topeng Klana asal Cirebon, gadis asli Surabaya ini membuat peserta terpukau dengan kebolehannya menari.

Selain Ningrum, ada 6 mahasiswa lain yang menjadi wakil dari Indonesia dalam acara ini. Dua mahasiswa asal Bali, empat mahasiswa asal Merauke, dan satu mahasiswa asal Surabaya yaitu Ningrum.

“Audience-nya sangat apresiatif. Mereka sangat memperhatikan penampilan yang disuguhkan di sana. Mereka sangat excited menyaksikan kesenian-kesenian tradisional Indonesia,” ungkapnya.

Tarian yang Ningrum bawakan menceritakan tentang amarah, keserakahan, dan keburukan-keburukan yang ada dalam diri manusia. Tarian ini merefleksikan kondisi manusia yang didominasi oleh sisi buruk yang ada dalam diri.

“Biasanya saya membawakan tarian yang menceritakan tentang keindahan atau kecantikan, seperti kecantikan perempuan atau keindahan alam. Tapi untuk kali ini, saya ingin menampilkan sesuatu yang lebih punya moral value yang bisa disampaikan kepada audience,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, delegasi Indonesia menampilkan kesenian tradisional Indonesia, story telling, puisi, dan tari tradisional. Acara ini disaksikan oleh mahasiswa dan dosen dari Departemen Musik, Seoul National University.

Usai penampilan kesenian Indonesia, dilanjutkan dengan penampilan kesenian musik tradisional oleh mahasiswa Seoul National University. Selain penampilan seni, dalam kegiatan ini juga dilakukan tour ke beberapa tempat ikonik serta mengenal budaya Seoul.

Meski terbiasa menari, Ningrum sempat nervous karena membawakan tarian yang mulanya tidak biasa ia bawakan. Kepiawaiannya berbuah manis karena mendapat respon positif dari mahasiswa-mahasiwa yang ada di sana.

Bagi Ningrum, pengalaman yang tak kalah menarik selama di Seoul adalah membawakan tarian Topeng Klana menggunakan topeng. Hal ini berlangsung sejak durasi pertengahan hingga menjelang akhir tarian, dari yang awalnya ditutupi kain , dan ketika dibuka audience kaget setelah melihat topeng dibalik kain yang ternyata menyeramkan.

Selain itu, di Seoul, Ningrum berkesempatan membagi ilmu tari nya pada wisatawan yang berkunjung ke sana.

“Sepulang dari Seoul, saya berharap semangat untuk belajar dan mendalami kesenian tradisional Indonesia semakin bertambah, memiliki kesempatan untuk membawa kesenian tradisional Indonesia ke negara lain, serta semakin banyak anak Indonesia yang mendalami kebudayaan Indonesia,” tambah Ningrum. (ita)

Kota Surabaya Raih ‘Best of the Best ‘ Awards

foto
Acara Yokatta Wonderful Indonesia Tourism Awards 2018. Foto: Kemenpar.go.id.

Deretan penghargaan yang diraih Pemerintah Kota Surabaya terus bertambah. Setelah sebelumnya berhasil meraih penghargaan Lee Kuan Yew World City Prize kategori Special Mention di Singapura, Senin (9/7/2018).

Kini, Surabaya kembali meraih penghargaan, yaitu Yokatta Wonderful Indonesia Tourism Awards 2018. Bahkan, dalam penghargaan ini, Kota Surabaya berhasil meraih kategori best of the best diantara semua daerah di Indonesia.

Penghargaan ini pun diberikan langsung Menteri Pariwisata (Menpar) RI Arief Yahya kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, pada Jumat (20/7/2018) malam.

Yokatta Wonderful Indonesia Tourism Awards 2018 merupakan bentuk penghargaan kepada Kabupaten atau Kota yang memiliki komitmen, performansi, inovasi, kreasi dan leadership dalam membangun pariwisata daerah. Award ini merupakan apresiasi bagi Pemerintah Daerah yang memiliki peran yang sangat besar untuk mengembangkan pariwisata daerahnya.

Dengan diterimanya penghargaan ini, maka berarti Kota Pahlawan berhasil mengalahkan Kota Denpasar (Bali) yang berada di posisi kedua dan Bandung (Jawa Barat) yang berada di posisi ketiga dari 34 Kota atau Kabupaten Provinsi yang ada di Indonesia.

“Selamat kepada para pemenang, terutama Surabaya yang size dan pertumbuhan tertinggi di atas 40 persen performancy-nya,” kata Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya saat malam penganugerahan itu.

Menurut Menteri Arief, penghargaan itu sangat penting jika ingin menjadi pemain dunia dan harus menggunakan global standart. Sebab, penghargaan atau award itu memiliki unsur 3C yakni; calibration (kalibrasi), confidence (kepercayaan diri), credibility (kredibilitas).

Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa kesuksesan suatu daerah itu karena unsur 3 A (Atraksi, Aksestabilitas dan Amenitas). Makanya, tidak berarti nanti apabila pemerintah daerah itu tidak komitmen untuk mengembangkan pariwisata.

“Yang lebih penting dari 3A adalah CEO commitment atau komitmen kepala daerah. Karena kalau CEOnya tidak komitmen hal itu tidak akan tercapai. Pariwisata itu paling mudah dan Paling murah, sayang sekali jika rekan-rekan tidak memanfaatkanya,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Menpar Arief juga memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Yokatta Wonderful Indonesia Tourism Awards 2018. Sebab, penghargaan ini mengapresiasi potensi pariwisata di Indonesia. Selain itu, penghargaan ini juga untuk memicu para pegiat dan pelaku pariwisata di Indonesia untuk senantiasa melakukan pembaruan dalam kemajuan bersama sektor pariwisata di Indonesia.

Menteri Arief juga menambahkan bahwa kampanye branding Wonderful Indonesia telah meningkatkan performance Indonesia. “Hal ini terlihat dari popolaritas Wonderful Indonesia melonjak dari status tidak tercatat menjadi ranking 47 dunia, sedangkan Truly Asia (Malaysia) dan Amazing (Thailand) masing-masing berada di posisi 83 dan 97 dunia,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Juri Yokatta Wonderful Indonesia Tourism Award 2018 Didien Junaedi mengatakan, ada 4 indikator penting yang mempengaruhi penilaian dalam penghargaan ini, yaitu Pertama, kinerja usaha pariwisata (akomodasi dan makan minum): PDRB dan tenagakerja, dampak/outcome, serta (Data Statistik BPS) dengan bobot 40%.

Kedua, Indeks Pariwisata Indonesia: daya sain 30%. Ketiga, Indonesia’s Attractiveness Award: dimensi pariwisata 15%, dan Keempat; Penghargaan Internasional dan Nasional (Kementerian/Lembaga) 15%. “Jadi, penilaiannya sangat komplek dan komplit,” tegas Didien.

Didien menjelaskan, awalnya hanya dipilih top-10 kota terbaik, top-10 kabupaten terbaik, dan top-1 dari masing-masing provinsi di Indonesia. Hasilnya, 10 Kabupaten terbaik itu adalah Kabupaten Badung, Kabupaten Sleman, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Bogor, Kabupaten Buleleng, Kabupaten Gianyar, Kabupaten Klungkung, Kabupaten Bantul, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Bandung.

Sementara 10 Kota terbaik ditempati Kota Surabaya, Kota Denpasar, Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Batam, Kota Yogyakarta, Kota Padang, Kota Makassar, Kota Balikpapan, Kota Palembang. “Sementara untuk best of the best-nya jatuh ke Kota Surabaya dengan skor 7,36, terpaut 0,32 poin dari posisi kedua Provinsi Bali dengan Kota Denpasar,” ujar Didien.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengucapkan terimakasih kepada warga Surabaya dan semua pihak yang telah bekerja keras demi membangun Kota Surabaya. Namun, perjuangan belum usai, Wali Kota Risma dan jajarannya masih akan terus memperbaiki dan mempercantik Surabaya ke depannya. “Perjuangan kita bersama belum selesai. Mari kita terus bersama-sama membangun Kota Surabaya,” kata Risma. (ita)

Tim Arkeolog Gali Situs Ngrawan di Madiun

foto
Diduga ada peninggalan Majapahit di Situs Ngrawan Madiun. Foto: Detikcom/Sugeng Harianto.

Tim arkeolog dari Balai Arkeologi Yogyakarta mendatangi Dusun Ngrawan, Desa Dolopo, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur untuk melakukan ekskavasi atau penggalian.

Penggalian ini dilakukan karena muncul dugaan terdapat situs peninggalan Kerajaan Majapahit di dusun tersebut.

“Kita datangkan tim Arkeolog Yogyakarta untuk melakukan penelitian di lokasi yang diduga ada peninggalan situs kerajaan Majapahit,” terang staf Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Saiful, kepada Detikcom di lokasi, akhir pekan lalu.

Total ada 10 orang tim arkeolog yang dikirim dari Yogyakarta untuk melakukan penggalian. Penggalian sendiri sudah dilaksanakan sejak 12 Juli silam hingga diperkirakan selesai pada 25 Juli mendatang.

Lokasi penggaliannya sendiri berada di lahan seluas sekitar 1.400 meter milik Gatot Suhanto (50), warga RT 44 RW 13 Dusun Ngurawan. Lokasi galian berada di antara pohon sengon yang ditanam oleh Gatot sejak 3 tahun lalu.

Di lahan ini juga terdapat empat titik yang telah ditandai untuk dilakukan penggalian. “Untuk hasil nanti akan diumumkan oleh Tim Arkeolognya seperti apa yang sebenarnya. Apakah benar-benar situs berhubungan dengan kerajaan Majapahit atau tidak,” katanya.

Saiful menjelaskan penggalian ini merupakan lanjutan dari penelitian yang sudah dilakukan sejak tahun 2016 lalu.

Pada ekskavasi pertama di tahun 2016, tim sudah menggali di dua titik dengan kedalaman sekitar tiga meter. Hasilnya, ditemukan tumpukan batu bata seperti bangunan kuno. Batu bata tersebut berukuran sekitar 20 x 30 cm dengan tebal sekitar 6 cm.

Ditambahkan Ketua Tim Peneliti Arkeolog Yogyakarta Rita Istari, penggalian kali ini tidak hanya dilakukan untuk mengungkap adanya peninggalan lain, tetapi juga untuk mengetahui bentuk dan karakter tinggalan arkeologi di situs bersejarah tersebut.

“Tanggal 16 Juli 2018 nanti kita akan datangkan ahli sejarah dan ahli prasasti baca tulisan kuno dari Malang. Nantinya akan membantu pencarian data dan akhir Oktober 2018 rencana mau saya buatkan buku tentang situs yang ada di Dusun Ngrawan atau familiar disebut Ngurawan kalau orang Jawa,” ungkap Rita.

Di dusun yang terletak sekitar 25 Km di selatan pusat kota Madiun itu memang kerap ditemukan benda-benda peninggalan sejarah seperti arca dan batu berornamen yang menjadi bagian dari pemandian kuno.

Bahkan kabarnya sisa-sisa peninggalan bersejarah itu teronggok begitu saja dan tidak terawat hingga menjadi incaran banyak kolektor. (dtc)

Mengusir Seram di Museum Mpu Purwa Malang

foto
Museum Mpu Purwa dilengkapi teknologi QR Code. Foto: Liputan6.com/Zainul Arifin.

Museum dengan sebagian besar koleksinya berupa artefak maupun arca tak selalu tampak suram. Museum bisa dikemas lebih milenial, dilengkapi teknologi modern. Penampilan seperti itulah yang kini bisa dijumpai di Museum Mpu Purwa di Kota Malang, Jawa Timur.

Salah satu museum di Kota Malang ini terlihat cerah dengan tata cahaya, memupus kesan suram. Museum Mpu Purwa mengoleksi 136 artefak sampai arca. Meski hanya 56 koleksi masterpiece yang dipajang. Koleksi itu peninggalan masa Kerajaan Kanjuruhan hingga Majapahit.

Banyak koleksi bernilai sejarah tinggi yang hanya bisa dijumpai di Museum Mpu Purwa. Misalnya, sebuah arca ganesha mengendarai tikus. Arca berukuran sekitar 40 cm x 60 cm ini hanya satu–satunya yang ditemukan di Indonesia. Hanya di India arca serupa bisa dijumpai.

Pengunjung, seperti dilaporkan Liputan6.com, dimudahkan untuk mendapat informasi tiap koleksi itu meski tanpa pemandu. Sebab museum menggunakan teknologi QR Code atau sistem scaning. Pengunjung bisa mendapat informasi berbentuk digital sekaligus langsung mengunduhnya di telepon cerdas miliknya.

Di dalam museum seluas 1.200 meter persegi ini juga terdapat ruang multi media. Pengunjung bisa menikmati film tentang sejarah Kerajaan Singasari yang diputar di ruangan ini. Seluruh fasilitas itu disediakan agar kita bisa menikmati museum dengan cara berbeda.

“Museum ini sangat bagus untuk sarana pendidikan dan rekreasi. Bisa mengembangkan imajisasi dan kreatifitas pengunjung,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendi saat meresmikan Museum Mpu Purwa di Malang, Sabtu (18/7) lalu.

Keberadaan museum ini cukup penting. Apalagi di Malang kerap ditemukan berbagai peninggalan purbakala. Dengan segala kekayaan sejarah masa lalu, masih banyak peninggalan purbakala yang belum dieksplorasi di wilayah ini.

Sejak 1980-2000, Gedung Balai Penyelamatan Benda Purbakala Mpu Purwa berpindah-pindah tempat. Dari Kantor DPU Jl. Halmahera, Tawira, Rumah Makan Cahyaningrat hingga Perpustakaan Umum Kota Malang.

Tahun 2000 Perpustakaan Umum direnovasi, dan Pemkot Malang memberikan gedung bekas SDN 2 Mojolangu sebagai tempat penyimpanan benda cagar budaya dengan nama Balai Penyelamatan Cagar Budaya.

Pegiat seni dan budaya di Kota Malang diharapkan juga memanfaatkan museum ini untuk berbagai kepentingan. Mulai kegiatan ilmiah hingga pertunjukan untuk promosi seni dan budaya. Agar semua produk budaya tak hanya tersimpan di museum atau jadi dokumen semata.

“Ke depan harus banyak museum yang ditata dengan tema tertentu. Akan ada alokasi anggaran khusus untuk museum, apalagi sekarang sudah ada perundangan kemajuan budaya,” ujar Muhadjir. (ist)

Babad Sejarah Goa Lowo Watulimo Trenggalek

foto
Drama tari Sri Ratu Lowo di Anjungan Jatim di TMII Jakarta. Foto: Duta.co.

Dikisahkan di sebuah Desa bernama Terang Ing Galih yang berada di kawasan selatan, seorang bernama Joko Pangalasan sedang berburu hewan untuk dijadikan makanan. Ketika sedang berburu, Joko Pangalasan melihat hewan aneh berbentuk kelelawar berbulu emas dan bersinar ketika terkena cahaya matahari.

Hal ini disampaikan Joko Irianto, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, saat menggelar Drama Tari, Sri Ratu Lowo, yang merupakan sejarah adanya Goa Lowo Watulimo di Anjungan Jatim, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, akhir pekan lalu.

Dikatakannya, kisah ini mengilhami perjuangan dalam membangun Trenggalek ke depan. “Dengan cepat, Joko Pangalasan menyiapkan busur dan bersiap untuk melepaskan anah panahnya. Namun, seketika kelelawar itu meloncat dan terbang masuk ke dalam goa menghindari panah Joko Pangalasan,” ungkapnya, seperti dikutip Duta.co.

Ia mengisahkan, ketika Joko Pangalasan mengejar hendak masuk ke dalam goa, dirinya dihadang oleh prajurit Sri Ratu Lowo sehingga terjadilah pertarungan. Di tengah pertarungan tersebut, tiba-tiba Sri Ratu Lowo berubah menjadi putri yang cantik jelita.

“Goa itu ada di pesisir selatan, mungkin gambaran kita ada di Prigi Watulimo, tempat berdirinya destinasi wisata itu,” tuturnya.

Seketika itu pula, lanjutnya, hati Joko Pangalasan terpikat oleh paras cantik putri tersebut. Di Akhir cerita, akhirnya Joko Pangalasan menikah dengan putri cantik yang tak lain adalah Sri Ratu Lowo, dan kemudian bersama-sama menjaga bumi.

“Ya begitu cerita menarik dengan banyak gagasan dari pakar budaya di Trenggalek,” tandasnya.

Kisah tersebut berhasil disuguhkan dengan apik dan memukau pengunjung di Anjungan Jatim TMII Jakarta pada Festival Budaya Jawa Timur, yang dipentaskan dalam drama tari berjudul Babad Sri Ratu Lowo.

Kisah itu merupakan asal-usul salah satu lokasi wisata unggulan di Kabupaten Trenggalek, yaitu Goa Lowo yang merupakan goa terbesar dan terpanjang di Asia Tenggara. “Itu kisah yang lama digali dari peneliti sejarah Goa Lowo yang fonumental di Trenggalek,” pungkasnya. (ist)

Obor Asian Games Dibawa ke Kawah Ijen

foto
Keindahan ‘blue fame’ di kawah Gunung Ijen Banyuwangi. Foto: Istimewa.com.

Gegap gempita kemeriahan Asean Games yang akan berlangsung di Jakarta dan Palembang pada 18 Agustus-2 September mendatang juga bakal dimeriahkan oleh Kabupaten Banyuwangi.

Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini menjadi salah satu daerah lintasan pawai obor (torch relay) Asian Games. Obor itu akan berada di Banyuwangi pada 21-22 Juli mendatang.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, kedatangan pawai obor Asian Games itu akan dijadikan bagian dari promosi pariwisata. Banyuwangi ikut merasa memiliki ajang tersebut, karena bangga Indonesia menjadi tuan rumah ajang terbesar se-Asia.

”Kami berterima kasih ke pemerintah pusat dan Panitia Penyelenggara Asian Games (INASGOC) yang telah memberi kepercayaan untuk menyambut obor Asian Games,” ujar Anas, Selasa (17/7).

Banyuwangi sudah menyiapkan serangkaian atraksi untuk memeriahkan kedatangan obor Asian Games yang mulai Minggu (15/7) lalu telah diberangkatkan dari India. Obor Asian Games tersebut akan dibawa ke puncak Gunung Ijen Banyuwangi, yang terkenal memiliki fenomena alam api biru (blue flame) yang langka di dunia.

Obor akan dibawa ke kaki Gunung Ijen pada 21 Juli pukul 19.00 WIB, lalu ada prosesi penyerahan obor kepada tim Banyuwangi. Selanjutnya Obor akan dibawa ke puncak Gunung Ijen.

“Sekaligus ini promosi pesona wisata Kawah Ijen yang memang ikonik dan cukup dikenal di mancanegara. Prosesi ini juga disebarluaskan media-media se-Asia,” ujar Anas. ”Pemerintah pusat memilih Gunung Ijen karena ingin menunjukkan bahwa Indonesia punya destinasi yang menawan dengan fenomena api biru.”

Setelah berada di puncak Ijen, obor akan diarak menuju Pendopo Banyuwangi melalui jalan-jalan utama kota. Nantinya api obor akan dibawa oleh atlet dan warga berprestasi Banyuwangi.

”Sepanjang jalan yang dilalui pawai obor akan kita tampilkan beragam kesenian Banyuwangi. Kita tunjukkan kepada negara-negara Asia kalau Banyuwangi adalah daerah yang kaya akan seni dan budaya,” ujar Anas.

Sejumlah atraksi seni yang akan memeriahkan pawai obor itu antara lain Tari Gandrung yang baru saja diundang manggung di Amerika Serikat, karnaval etnik Banyuwangi Ethno Carnival, hingga kesenian Barong.

”Pada saat bersamaan, di Banyuwangi juga digelar festival komoditas agrobisnis dan pentas musik Lalare Orchestra. Sehingga akan sangat meriah, karena kita ingin warga Banyuwangi demam Asian Games, mampu menyerap inspirasi dari perhelatan akbar ini. Jarang-jarang kan Indonesia jadi tuan rumah, jadi kita ikut bangga,” ujarnya. (sak)

Arzu Muradova, Jatuh Cinta pada Budaya Indonesia

foto
Arzu Muradova, Jatuh Cinta pada Budaya Indonesia Sejak di Banyuwangi IDN Times/Vanny El Rahman.

Sudah tentu hal yang biasa bila anak muda asal Indonesia bermain gamelan dan menari khas Nusantara. Tapi bagaimana jika yang melakukan hal itu adalah seorang warga negara asing?

Bisa dikatakan, dia memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap Indonesia. Arzu Muradova salah satunya. Wanita berusia 23 tahun asal Azerbaijan ini merupakan peserta Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia.

Menetap selama tiga bulan di Banyuwangi, Jawa Timur, Muradova kepada IDN Times mengaku terkesan dengan kebudayaan Indonesia.

Siapapun yang bercengkrama dengannya pasti akan terkejut. Sebab, dia mampu berbahasa Indonesia dengan lancar.

“Sebelumnya, aku belajar bahasa Indonesia di Azerbaijan. Aku juga belajar Kajian Kawasan Indonesia. So, aku sangat jatuh cinta sama budaya Indonesia,” ujarnya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Selama di ujung pulau Jawa, banyak hal yang dipelajari oleh Muradova. Sebagai pecinta kebudayaan Nusantara, mempelajari tarian dan alat musiknya adalah kebanggaan tersendiri bagi wanita yang baru saja menuntaskan studi sarjananya itu.

“Di Banyuwangi aku belajar Tari Jejer Gandrung dan Gamelan. Kalau menarinya sih gampang ya, tapi gamelan agak susah,” terangnya dalam bahasa Indonesia yang begitu lancar.

Setelah mempelajari sekitar 90 hari lamanya, Muradova bersama 72 peserta BSBI dari 44 negara lainnya menampilkan tarian dengan alat musik secara kolosal. Terlihat jelas dari parasnya, betapa perasaan lega menyelimutinya setelah dia berhasil menuntaskan penampilannya.

Muradova juga menyukasi makanan khas Indonesia. Salah satu yang menjadi favoritnya adalah mi goreng, nasi goreng, pecel petik, dan dadar gulung. “Indonesia sangat menarik. Indonesia just amazing,” ungkapnya yang kala itu masih menggunakan pakaian adat khas Banyuwangi.

Selama berada di Bayuwangi, kedatangan Muradova bertepatan dengan diselenggarakannya Festival Seblang. Melalui festival tersebut, Muradova mengaku takut namun tertarik melihat wanita yang hilang kesadaran dalam keadaan menari.

“Di Banyuwangi ada Festival Seblang. Itu ada ritual, ruh masuk ke dalam tubuh cewek muda. Dia menari dan dia undang orang lain, jadi dia kesurupan. Itu menarik. Saya mau kembali ke Banyuwangi, tapi takut melihat festivalnya, hahaha,” ucapnya sembari melepas tawa.

Kesempatan di Banyuwangi tidak hanya digunakan untuk mempelajari budaya Indonesia. Muradova turut menikmati keindahan alam dari puncak Gunung Ijen.

Dari ketinggian 2.799 meter di atas permukaan laut, Muradova menyaksikan betapa indahnya matahari terbit dan fenomena api biru yang hanya ada di Banyuwangi dan Islandia.

“Iya, saya mendaki 12 kilometer. Susah banget, tapi bagus. Berangkat dari jam 12.00 sampainya jam 16.00. Lihat Blue Fire tapi cuma sedikit, kami juga liat sunrise, indah sekali,” ceritanya.

Selain Ijen, Banyuwangi juga terkenal dengan keindahan pantainya. Beruntung bagi Muradova, karena pesona pantai Banyuwangi menjadi tempat pertamanya untuk menikmati keindahan bawah laut.

“Pengalaman menarik aku di Banyuwangi itu pas snorkling. Aku belum pernah sebelumnya, jadi menarik sekali. Aku berenang sama baby shark, deket banget. Takut tapi menarik,” celotehnya.

Kecintaan Muradova terhadap Indonesia seakan menopang masa depannya. Setelah menunaikan studinya di Azerbaijan, Muradova tertarik mengambil program master di Indonesia.

“Aku rencananya mau ambil S2 di Bandung atau di Yogyakarta, di Surabaya juga bisa. Nanti mau ngambil hubungan intenasional, karena aku di Azerbaijan belajar itu juga. Aku rasanya gak ingin kembali ke negeriku,” ujarnya.

Sementara, Direktorat Diplomasi Publik Kemlu sebagai salah satu pihak penyelenggara, mengaku lega setelah menuntaskan kegiatan pertukaran pelajar dan budaya ini.

Direktur Diplomasi Publik Azis Nurwahyudi berharap, sekembalinya para peserta ke negaranya masing-masing, mereka akan menjadi duta Indonesia di tempat kelahiran mereka.

“Saya merasa bangga dengan hasil belajar teman-teman BSBI. Hasilnya luar biasa, mereka serius belajar apa yang bisa dipelajari di Indonesia. Saya bangga dengan mereka. Kami berharap mereka semua akan menjadi duta Indonesia di negaranya masing-masing,” kata dia. (ist)