Mengenal Pawukon, Sistem Penanggalan Tradisional (1)

foto
Pawukon merupakan sistem penanggalan tradisional Indonesia yang mempunyai waktu terukur. Foto: Kebudayaan.kemdikbud.go.id.

Pawukon merupakan sistem penanggalan tradisional yang mempunyai waktu terukur, dan dipergunakan sebagai dasar penentuan segala aktifitas daur hidup dan kematian masyarakat Indonesia.

Pawukon menunjukan karifan lokal. Berdasarkan prasasti dan temuan-temuan arkeologis menunjukkan bahwa Pawukon merupakan budaya asli masyarakat Indonesia yang dipergunakan dan mengakar secara turun-temurun.

Pawukon sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2014 yang ditetapkan sebagai warisan budaya bersama oleh Banten, Jakarta, Jabar, Jateng, Jogja, Jatim, Bali dan NTB.

Hingga saat ini Pawukon masih relevan dipergunakan oleh masyarakat pendukungnya hampir di seluruh Indonesia terutama di sepanjang pulau Jawa, Madura, Bali, Lombok. Pawukon digunakan masyarakat Indonesia sebagai dasar perhitungan mengenai pranata mangsa (tata waktu). Pranata mangsa di Nusantara dibagi dalam dua belas mangsa.

Pranata mangsa dimulai dari mangsa kasa (musim pertama) yang dimulai pada tanggal 23 Juni dalam kalender masehi. Tiap-tiap mangsa menandai perubahan pembawaan iklim atau cuaca sehingga mempengaruhi aktifitas kehidupan sehari-hari.

Bahkan lebih mendalam lagi juga mempengaruhi sifat dan karakter bayi yang terlahir, perilaku fauna, pertumbuhan flora-fauna dan lain sebagainya. Keberadaan inilah yang kemudian Pawukon mendasari pranata mangsa yang menjadi pedoman dalam beratifitas hidup pada tiap-tiap mangsa.

Berdasarkan isi prasasti yang ditemukan di Indonesia pada umumnya selalu dituliskan mulai dari unsur-unsur penanggalan, manggala (puji-pujian pada Tuhan), raja yang mengeluarkan prasasti, pejabat yang mendapat tugas membuat prasasti, penetapan sima.

Juga sebab-sebab dipilihnya penetapan sebagai tanah sima, sesaji-sesaji pada saat pembuatan prasasti dan diakhiri perayaan upacara dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa penanggalan selalu ditulis paling awal dalam setiap prasasti-prasasti di Indonesia.

Manuskrip Serat Pawukan koleksi Museum Radyapustaka menjelaskan bahwa Pawukon sebagai penanggalan tradisional masyarakat Jawa menggunakan dasar perubahan rotasi yang terjadi dalam waktu setiap 7 hari (sapta wara) yang dimulai dari hari redite (minggu) sampai hari tumpak (sabtu).

Pawukon bersandar pada konsep astronomi dan membaginya menjadi 30 wuku. Tiap wuku bergeser tiap 7 hari sehingga dalam satu rotasi wuku terdiri dari 210 hari (7 hari x 30 wuku). Manuskrip Pawukon Jawi yang dibuat pada era Keraton Kartasura (abad XVII) yang dikoleksi Museum Brojobuwono memberikan penjelasan yang sama dan menambahkan dengan ilustrasi gambar tiap-tiap wuku dengan baik.

Tiap-tiap wuku disimbolkan pada figur keluarga Prabu Watu Gunung, yaitu: Prabu Watu Gunung sendiri, 2 orang istrinya (Sinta dan Landhep), beserta 27 putra-putranya yang bernama : Wukir, Kurantil, Tolu, Gumbreg, Warigalit, Warigagung, Julung Wangi, Sungsang, Galungan, Kuningan, Langkir, Mondosio, Julung Pujud, Pahang, Kuruwelud, Mrakeh, Tambir, Madangkungan, Maktal, Wuye, Manail, Prangbakat, Bala, Wayang, Wugu, Kulawu, dan Dukut.

Manuskrip Pawukon (koleksi Sasana Pustaka Karaton Surakarta Hadiningrat) telah memberikan penjelasan secara mendetail tiap-tiap wuku, demikian pula yang tertera dalam Kitab Centini yang dibuat pada era Susuhunan Paku Buwana IV menjelaskan bahwa tiap-tiap nama Pawukon memiliki tanda-tanda, sifat, dan makna tertentu yang disimbolkan melalui nama-nama dewa yang menaunginya.

Sifat-sifat dewa itulah yang digunakan sebagai dasar penentuan aktifitas daur hidup dan kematian masyarakat pendukungnya. Pawukon digunakan sebagai dasar dalam penentuan musim dengan bersandar pada tanda alam sehingga, Pawukon sebagai dasar musim tanam, musim panen dan jenis tanaman yang dipilih untuk ditanam para petani yang populer disebut “Pranatamangsa”.

Pawukon digunakan sebagai dasar menengarai perubahan cuaca (angin barat dan angin timur) untuk para nelayan, selain itu digunakan sebagai dasar musim ikan sebagai hasil tangkapan.

Lebih jauh Pawukon digunakan sebagai dasar setiap aktifitas daur hidup dari kelahiran, pernikahan, pendirian rumah, perayaan hari-hari besar, upacara adat dan upacara keagamaan, dan lain sebagainya hingga upacara kematian.

Masyarakat Nusantara memiliki pandangan bahwa pengaruh unsur-unsur yang diterima bumi oleh planet-planet lain juga akan berpengaruh pada kehidupan manusia. Bumi mendapat pengaruh dari planet-planet lainnya demikian pula halnya dengan diri manusia, sehingga menimbulkan sifat, perangai, dan nasib yang berlainan.

Hari pada saat seseorang lahir ke bumi mendapat pengaruh juga dari planet-planet yang mempengaruhi bumi. Memang pada dasarnya nasib manusia bergantung perbuatannya yang ditentukan Tuhan, tetapi dalam perjalanan hidupnya manusia dipengaruhi oleh kekuatan yang berasal pada planet-planet yang kebetulan sesuai dengan hari kelahirannya.

Oleh karena itu Pawukon secara personal juga dapat digunakan sebagai dasar penentuan kecenderungan karakter, sifat, perilaku, perawakan seseorang yang dilihat melalui wuku kelahirannya.

Melalui Pawukon inilah seseorang akan memahami kelebihan dan kekurangan yang ada dalam dirinya sehingga akan berusaha menyikapinya dengan baik. (ist/sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Tulisan kedua

dr Faida: Pelestarian Budaya Tanggung Jawab Bersama

foto
Ketoprak Humor oleh Himpuni usai pagelaran di Balai Budaya Surabaya. Foto: FB dr Faida MMR.

Bupati Jember dr Faida MMR menyatakan berbagai lapisan masyarakat perlu didorong untuk ikut melestarikan seni budaya karena pelestarian seni budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab seniman dan budayawan.

“Melestarikan seni budaya merupakan tanggung jawab semua pihak. Bukan semata tanggung jawab seniman dan budayawan saja,” katanya usai tampil dalam pentas Ketoprak Humor di Balai Budaya Surabaya, Jumat (25/11) lalu.

Ditemui usai ikut pentas ketoprak humor yang digelar Himpunan Alumni Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (Himpuni) ia menjelaskan bahwa dirinya sebagai kepala daerah juga termasuk ikut bertanggung jawab dalam melestarikan seni dan budaya.

Oleh karena itu, katanya, dirinya bersedia memerankan Anita Dewi dalam pementasan ketoprak humor itu.

“Termasuk kita sebagai kepala daerah. Apalagi kalau kita terlibat langsung main sendiri, otomatis akan memahami sejarah kerajaan-kerajaan di negeri kita. Supaya kebijakan-kebijakan kita nantinya tidak lepas dari adanya sejarah, tidak lepas dari dari pengembangan seni dan budaya,” tuturnya seperti dikutip Antara Jatim.

Dalam pementasan bersama rekan-rekannya di Himpuni malam itu, dalam lakon Ketoprak Humor berjudul “Menyatukan Kembali Nusantara”, alumnus Faktultas Kedokteran Unair tahun 1994 ini tampil pada sesi kedua.

Berseting tahun 1.000 Masehi, mengisahkan Kerajaan Medang Mataram yang dipimpin Prabu Airlangga, dalam upayanya menyatukan Dwipantara, yang pada kala itu terbagi atas kekuasaan Sriwijaya di wilayah barat dan Medang Mataram di wilayah timur.

Sosok Anita Dewi yang diperankan Faida merupakan permaisuri Prabu Airlangga (pada pementasan ini diperankan Rektor Unair Prof M Nasih), dikisahkan sangat berperan besar dalam keberhasilan menyatukan bumi nusantara di era sebelum Kerajaan Majapahit.

Menurut Faida, sebelum pementasan bersama Ketoprak Himpuni ini, pada masa kecilnya dulu sudah akrab dengan kesenian.

Putri ketiga dari lima bersaudara yang tumbuh sebagai keluarga dokter ini mengaku selama dua belas tahun sejak usia SD hingga SMA, yang kebanyakan dihabiskan di Banyuwangi dan Jember, telah aktif sebagai seniman karawitan.

Selain juga penari, keahliannya pada waktu itu bersama kelompok karawitannya adalah penabuh bonang babok, perangkat utama ‘ansamble’ pada alat musik gamelan.

“Tapi itu dulu, sudah lama sekali, lebih dari 30 tahun saya gak pernah pentas lagi,” ucapnya.

Faida mengenang, berbagai pementasan yang pernah dilakoninya semasa kecil dulu, termasuk yang terakhir bersama Kelompok Ketoprak Humor Himpuni, sebenarnya punya misi silaturahmi nasional.

“Dengan pertunjukan seni, persatuan bisa lebih kuat. Nyatanya pada pertunjukan ketoprak malam ini, penontonnya datang dari berbagai kota. Ini silahturahmi melalui ketoprak,” ujarnya. (ist)

Belanda Kembalikan 1.500 Artefak Indonesia

foto
PM Belanda saat menyerahkan keris kepada Presiden Jokowi. Foto: Biro Setpres Setkab.

Kedatangan Perdana Menteri Kerajaan Belanda Mark Rutte ke Indonesia beberapa waktu lalu tidak hanya untuk kunjungan kerja dan membahas kerja sama dengan Pemerintah Indonesia.

Dalam pertemuan dengan Presiden Joko Widodo, PM Rutte juga menyampaikan rencananya untuk mengembalikan ribuan benda-benda bersejarah Indonesia yang selama ini tersimpan di Belanda.

PM Rutte menjelaskan, ada 1.500 artefak di The Nusantara Collection yang berada di Delft Museum. Semuanya akan dikembalikan ke Indonesia.

Artefak-artefak itu memang tersimpan di Museum Nusantara di Delft, Belanda. Namun kabarnya Museum itu akan segera ditutup.

Mengawali penyerahan benda bersejarah ini, secara simbolis, dia memberikan sebuah keris berusia ratusan tahun kepada Jokowi.

“1.500 Artefak akan dikembalikan ke Indonesia. Keris ini adalah simbol pertama,” kata PM Mark Rutte saat konferensi bersama di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/11) lalu.

Sebelum Indonesia merdeka, Belanda sudah berada di Tanah Air selama 350 tahun. Makanya banyak peninggalan budaya nusantara yang diambil dan dibawa ke Negeri Kincir, termasuk 1.500 benda bersejarah Indonesia yang dipajang pada museum di Delft, Belanda.

Pengembalian ribuan artefak ini seakan memulihkan luka lama bangsa Indonesia yang selama ratusan tahun pernah berada di bawah kekuasaan Belanda. Langkah ini diharapkan bisa lebih memperkokoh hubungan kerja sama Indonesia dan Belanda ke depannya.

Mendikbud Muhadjir Effendi secara terpisah mengapresasi niat pemerintah Belanda mengembalikan artefak. Benda-benda tersebut memiliki nilai sejarah yang tinggi.

“Saya belum dapat info yang cukup, tapi itu suatu hal yang bagus, memang banyak artefak yang disimpan di sana,” kata Muhadjir.

Meski hal ini berkaitan dengan Ditjen Kebudayaan yang ada di bawah Kemdikbud, tetapi Muhadjir belum tahu bagaimana teknis nantinya. Dia akan melakukan kunjungan ke Belanda dahulu untuk pembahasan lebih lanjut.

“(Disimpan) di museum nantinya, museum yang sesuai dengan artefaknya. Misal di Perpustakaan Nasional kalau itu dalam bentuk buku-buku lama, kan banyak sekali dari Leiden segala itu,” kata Muhadjir.

Pada 1987 lalu, pemerintah Belanda pernah mengembalikan Patung Ken Dedes, yang ditemukan tahun 1818. Sososk Ken Dedes adalah tokoh penting bagi perjalanan bangsa ini. Tanpa dirinya, takkan lahir raja-raja besar yang memimpin kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Tapi masih banyak benda bersejarah lainnya yang tersimpan di museum Belanda. Selain patug, seperti patung Ganesha dan Anusupati, juga belasan prasasti penting dan bersejarah. Misalnya Prasati Sangsang dan Wujakana di Museum Tropen, Prasasti Guntur di Rotterdam, serta sekitar 6 buah lagi ada di Museum Leiden.

Selain ratusan keris dan senjata-senjata para raja, juga ada naskah kuno yang sangat penting bagi sejarah Indonesia. Sekitar dua tahun lalu, pemerintah kota Solo ingin Belanda mengembalikan beberapa peninggalan penting Keraton Kasunanan Surakarta. Salah satunya adalah naskah kuno yang isinya jejak-jejak para leluhur.

Naskah kuno dimaksud mendiami salah satu museum di Belanda. Tak hanya itu, ada satu barang penting Keraton Surakarta yang katanya juga dibawa Belanda. Benda ini adalah sebuah mobil kuno milik sang raja yang dikatakan sebagai mobil pertama yang ada di Indonesia. (sak)

Candi Penampihan, Barometer Air Bawah Pulau Jawa

foto
Candi Penampihan di Tulungagung disebut-sebut sebagai barometer air bawah Pulau Jawa. Foto: pesona-tulungagung.ga

TULUNGAGUNG – Satu lagi cagar budaya dalam bentuk candi dari ratusan candi yang tersebar di Jawa Timur menyimpan sebuah cerita, menarik untuk dieksplore, yaitu Candi Penampihan yang berada di lereng Gunung Wilis, tepatnya berada di Dusun Turi, Desa Geger, Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung.

Candi yang dibangun sebagai tempat pertemuan dan pemujaan kepada Sang Hyang Wenang ini memiliki beberapa keunikan seperti yang diceritakan oleh sang juru pelihara situs, Winarti.

Menurut Winarti, Candi Penampihan dibangun pada tahun 898 masehi yang artinya pada saat itu candi ini dibangun pada saat Kerajaan Kadiri belum berdiri, atau juga dapat dikatakan pada saat Mataram kuno berkuasa di era pemerintahan Dyah Balitung.

“Candi ini berdiri sudah melewati 4 kerajaan besar pulau Jawa, Mataram Kuno, Kediri, Singosari, hingga Majapahit, dan diperuntukkan sebagai tempat pemujaan. Sehingga Candi ini dapat dikatakan sebagai saksi bagaimana rumitnya perebutan kekuasaan pada saat itu,” lanjut juru pelihara yang sudah bekerja mulai tahun 1978 ini.

Masih menurut Winarti, salah satu yang menjadi pertanda hadirnya Candi Penampihan adanya Prasati Tinulat. Dalam prasasti itu disebutkan tentang Nama-nama raja Balitung, serta seorang yang bernama Mahesa Lalatan, dimana sejarah lisan maupun artefak belum bisa menguaknya.

“Selain itu di dalam prasati ini juga disebutkan tentang seorang putri yang bernama Putri Kilisuci dari Kerajaan Kediri,” katanya kepada timurjawa.com.

Uniknya selain menyebutkan kesejarahan, prasasti berangka tahun 1269 M ini juga memberikan informasi tentang Catur Asrama yaitu sistem sosial masyarakat era itu dimana pengklasifikasian masyarakat (stratifikasi) berdasarkan kasta dalam agama Hindu yaitu Brahmana, Satria, Vaisya dan Sudra.

Selain itu, dapat diketahui pula dalam prasarti ini, bahwa Candi Penampihan selalu dihubungkan dengan tokoh Kertanegara, yang pada zaman Kerajaan Kediri terdapat beberapa perubahan upacara keagamaan hingga segala upacara agama tentang makhluk yang mati akan dihidupkan kembali.

Kondisi Candi
Candi dengan corak Hindu ini memiliki 3 teras dengan posisi Candi utama terletak di bagian paling atas. Bentuknya seperti timbunan padi sebagai perlambang kemakmuran.

Candi lain bentuknya seperti kura-kura yang dikelilingi arca naga. Menurut Winarti, bentuk kura-kura adalah perlambangan wujud Dewa Wisnu, sebagai perwujudan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Namun sayangnya kini kondisi Candi Penampihan tampak tidak terawat. Awalnya di atas candi ada arca Bima namun kini sudah hilang. Dulunya juga ada arca Dwarapala namun arca tersebut juga hilang di tahun 2000-an.

Di sebelah utara dulu ada relief hewan-hewan yang hidup di daerah ini seperti kera, burung, ular, ayam hutan, babi hutan, hingga macan. Ada juga relief yang bercerita tentang tiga ekor gajah untuk membajak. Namun sekarang relief tersebut sudah dipindahkan di Musem Trowulan, Mojokerto, untuk keamanan.

“Mayoritas beberapa situs di sini sudah hilang dan yang lainnya dipindahkan ke musem Mojokerto agar aman”, ujar perempuan yang telah diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil pada tahun 1983 itu.

Barometer Air Pulau Jawa
Satu hal yang sangat unik dan tidak dimiliki candi manapun, di Candi Penampihan terdapat 2 kolam kecil yang bernama Samudera Mantana (pemutaran air samudera), di mana menurut pengamatan empiris selama berpuluh-puluh tahun oleh Winarti, kolam-kolam tersebut merupakan indikator barometer keadaan air di Pulau Jawa.

Dikatakan, kolam yang sebelah utara merupakan indikator keadaan air di Pulau Jawa bagian utara, dan kolam sebelah selatan merupakan indikator keadaan air di Pulau Jawa bagian selatan.

“Apabila sumber air di kedua kolam tersebut kering berarti keadaan air dibawah menderita kekeringan, sebaliknya bila kedua atau salah satu kolam tersebut penuh air berarti keadaan air di bawah sedang banjir,” jelas Winarti.

Penuturan Winarti tersebut bukan tanpa alasan, dijadikannya kolam di Candi Penampihan sebagai barometer air Pulau Jawa sebagaimana tertulis dalam prasasti, dimana pada saat itu terjadi peristiwa pemutaran air yang juga menyebabkan Gunung Wilis yang dulunya adalah gunung aktif, sekarang menjadi tidak aktif lagi akibat diredam oleh air laut akibat peristiwa Samudra Mantana yang diabadikan menjadi nama kolam di Candi Penampihan. (bra)

Mengenal Desa Adat Kemiren di Banyuwangi

foto
Tradisi Mepe Kasur hingga kini masih dilakukan warga Desa Kemiren. Foto: Humas Pemkab Banyuwangi

Kemiren adalah nama sebuah desa di Kecasmatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Dimana desa ini sudah dijadikan Desa Adat Wisata oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

Memiliki luas 177.052 hektare dengan penduduk sekitar 3.000 orang, Kemiren merupakan kepanjangan dari Kemronyok Mikul Rencana Nyata, artinya prinsipnya yaitu bersama–sama dan gotong royong). Hal ini dicetuskan Pokdarwis atau kelompok sadar wisata desa Kemiren.

Sedangakan Kemiren sendiri berasal dari nama KEMIRIAN artinya banyak pohon kemiri, duren dan aren. Dan masyarakat setempat menyebutnya daerah tersebut KEMIREN, maka nama daerah tersebut disebut Kemiren hingga saat ini.

Dijadikannya desa adat wisata dikarenakan Kemiren memiliki berbagai keunikan mulai dari adat, tradisi, kesenian, kuliner serta pola hidup masyarakatnya masih menjaga tradisi yang ada sejak dulu.

Suku Using adalah suku asli Banyuwangi, dimana suku ini mayoritas tinggal di desa Kemiren tersebut.

Berbagai macam kesenian masih bisa dijumpai di desa ini seperti seni Barong, Kuntulan, Jaran Kincak (kuda menari), Mocopatan (membaca lontar kuno) serta Gandrung yang mayoritas penari Gandrung terkenal berasal dari Desa Kemiren.

Keunikan lain dari Desa Kemiren, mayoritas penduduk Kemiren memiliki Kasur (tempat tidur) dengan motif dan warna yang sama yaitu hitam di bagian atas dan bawah, merah pada tepinya. Kasur ini akan dimiliki oleh pasangan pengantin dari orangtuanya.

Hal ini memiliki filosofi tersendiri, warna merah yang berarti sebagai penolak balak dan hitam melambangkan kelanggengan dalam rumah tangga. Pada satu momen seluruh masyarakat Desa Kemiren mengeluarkan Kasur tersebut untuk dijemur di sepanjang jalan desa.

Tradisi ini dinamakan Mepe Kasur, menurut tetua adat setempat tradisi ini dilakukan karena sumber segala penyakit berasal dari tempat tidur. Hal ini dilakukan untuk mengusir segala macam penyakit. Tradisi tersebut merupakan satu rangkaian dari tradisi Tumpeng Sewu, ritual bersih desa yang dilaksanakan pada bulan Dhulhijjah.

Crocogan, Tikel/Baresan, Tikel Balung dan Serangan adalah jenis rumah adat suku Using, dimana keempat macam rumah adat ini masih bisa ditemui di Desa Kemiren.

Salah satunya di Sanggar Genjah Arum milik salah satu budayawan Banyuwangi. Bangunan–bangunan ini berusia hingga ratusan tahun. Bangunan ini dirancang tahan gempa, dengan struktur utama susunan 4 tiang saka (kayu) balok dengan sistem tanding tanpa paku (knockdown) tetapi menggunakan paju (pasak pipih).

Setiap jenis atap memiliki makna dan keistimewaan yang berbeda. Perbedaan atap rumah adat Using juga memiliki status sosial yang berbeda pula.

Mayoritas suku Using bermata pencaharian sebagai petani, alasan ini karena sumber air yang melimpah dan mereka juga menjaga alam. Terbukti sistem pengairan dan terbentang sawah di sepanjang perjalanan menuju Desa Kemiren.

Sistem pengolahan sawah juga masih banyak menggunakan media konvensional. Setiap musim panen tiba, mereka melakukan upacara tradisi dengan memainkan musik khas suku Using.

Sajian Pecel pithik kuliner khas suku Using dengan alunan musik angklung paglak mengiringi petani saat memanen padi. Persawahan suku Using memiliki ciri khas seperti pondok di tengah/pinggir sawah dengan 4 tiang penyangga utama dari bambu.

Pada pondok terdapat alat musik berupa angklung berukuran kecil, alat musik ini dikenal dengan sebutan angklung paglak. Selain itu terdapat sebuah baling–baling dari bambu yang disebut keling. Hal ini bertujuan untuk menentramkan petani, serta untuk mengusir hama.

Keistimewaan Desa Adat Kemiren, masih menjaga tradisi–tradisi yang sudah ada sejak nenek moyang mereka. Barong Ider Bumi, Tumpeng Sewu, Arak–arakan dan Seni Barong. Hidup berdampingan dengan jiwa gotong-royong, tradisi musyawarah yang terus terjaga. (sak)

Memahami Budaya Panji, Budaya Asli Jawa Timur

foto
Memahami Budaya Panji sebagai budaya asli Jawa Timur. Foto: BudayaPanji.com

BLITAR – Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Blitar bekerjasama dengan Dewan Kesenian Kota Blitar kembali menyelenggarakan bedah buku pada 18 November 2016 lalu. Buku yang dibedah karya budayawan Jawa Timur, Henri Nurcahyo, berjudul ‘Memahami Budaya Panji’.

Buku hasil terbitan Pusat Konservasi Budaya Panji tersebut merupakan deskripsi lengkap yang memuat dasar-dasar masyarakat untuk mengetahui apa itu Budaya Panji yang sempat diajukan menjadi ikon pembangunan Provinsi Jawa Timur.

Setelah sukses dibedah di Semeru Art Gallery Malang, Rumah Budaya Pecantingan Sidoarjo, TVRI Jawa Timur, serta kota-kota lain seperti Kediri, Tulungagung, Jogja, Palembang, Bandung, serta Jombang, giliran Kota Blitar menjadi tuan rumah. Buku yang laris manis dikalangan pecinta seni, sejarah dan budaya Indonesia ini telah cetak dua kali. Cetakan pertama November 2015 dan kedua Juni 2016.

Henri Nurcahyo, sang penulis buku Memahami Budaya Panji mengatakan awal mula menulis tentang Panji adalah saat masih aktif dalam kepengurusan Dewan Kesenian Jawa Timur. Kala ditunjuk sebagai koordinator program konservasi budaya Panji pada 2008.

“Hingga akhirnya dapat menyelesaikan sebuah buku tentang Konservasi Budaya Panji pada 2009 yang berisi tentang makalah dan prosiding seminar kebudayaan Panji. Setelah itu secara mandiri, saya terlibat dalam aktivitas budaya Panji hingga kini,” paparnya.

Dituturkan, pada awalnya dirinya hampir sama dengan para audience yang hadir ketika memaknai Panji hanya sebagai sebuah cerita atau kisah percintaan antara Dewi Sekartaji dengan Raden Panji Asmorobangun.

Namun setelah mengikuti pesamuan budaya Panji pada 2008, akhirnya memahami bahwa Panji bukan hanya sekedar cerita, namun lebih dari itu. Panji merupakan sebuah budaya yang membumi di masyarakat karena mengandung hubungan filosofis manusia.

“Bahkan dalam banyak keistimewaannya salah satu yang patut dibanggakan Cerita Panji merupakan cerita asli Jawa yang dapat disejajarkan dengan kisah serapan seperti Mahabarata atau Ramayana,” jelas Henri kepada TimurJawa.com.

Cerita Panji Mendunia
Budaya Panji sendiri sebenarnya sudah cukup lama berkembang di masyarakat. Tidak hanya sekedar berupa sastra lisan, Panji-pun menjelma dalam naskah kuno, prasasti, relief candi, karya seni, dongeng, hingga kebudayaan masyarakat.

Berawal dari Cerita Panji yang dimulai pada zaman Kerajaan Kediri, Cerita Panji berlanjut di zaman Kerajaan Majapahit dan menjelma sebagai alat diplomasi budaya Majapahit yang hingga kini persebaran Cerita Panji telah ada di beberapa tempat di Jawa, Bali, Kalimantan, Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar dan Filipina.

Bahkan pada tahun 2013, Thailand menjadi tuan rumah Festival Panji Internasional yang didalamnya menyajikan kesenian berlatar Cerita Panji dari negara-negara dunia.

Dalam bedah buku tersebut, Henri menjelaskan tentang apa itu budaya Panji. “Budaya Panji adalah segala produk manusia yang dibuat berdasarkan Cerita Panji. Ada dongeng Ande-Ande Lumut dan Timun Mas,” jelasnya.

Ada relief yang berkisahkan tentang panji di belasan candi yang tersebar di Jawa Timur. Ada komik RA Kosasih tentang Panji Semirang, ada Topeng Panji, ada Tari Panji, ada berbagai versi cerita tentang Panji seperti Panji Laras dan Panji Asmarabangun.

“Hingga nilai-nilai budaya yang muncul dari Cerita Panji, seperti kehormatan, kepahlawanan, pengabdian, hingga kesetiaan,” ungkap Henri.

Memory Of the World
Dalam bedah buku tersebut juga dibahas perihal peluang besar Indonesia untuk mendaftarkan Cerita Panji sebagai Memory Of the World (MOW), setelah La Galigo, Negarakretagama, dan Babad Diponegoro yang telah diakui UNESCO sebagai MOW terlebih dulu.

Pasalnya Indonesia kini telah memiliki 80 naskah kuno Cerita Panji di Perpustakaan Nasional, meskipun kondisi 40 naskah tersebut dalam keadannya rusak. Selain itu, lebih dari 200 naskah Cerita Panji tersimpan rapi di Belanda.

Salah satu naskah Cerita Panji yang dimiliki Indonesia dan yang didaftarkan dalam MOW adalah Cerita Panji Anggraeni. Namun Indonesia tidak sendiri, terdapat Malaysia juga mendaftarkan Cerita Panji Melayu. Adapun syarat sebuah dokumen bisa masuk MOW adalah asli, memiliki dampak dalam negeri dan memiliki dampak internasional.

Selain penulis buku, bedah buku di Kota Blitar itu juga menghadirkan Dr Subardi Agan MSi, sejarawan asal Kota Kediri yang bertindak sebagai pembedah.

Kepada TimurJawa.com, beliau menjelaskan, membahas tentang memahami budaya Panji, ada baiknya tidak hanya sekedar berhenti dalam membedah buku saja. “Namun pasca itu apa yang harus dilakukan agar budaya Panji tetap berkembang setelah kita mengetahui apa itu budaya Panji dari buku gaya jurnalisme yang ditulis Mas Henri ini.”

Aktualisasi budaya Panji, menurut Dr Subardi, dapat dilakukan dalam bentuk pertunjukan, film, festival, sarasehan, seminar, diskusi, atau yang lebih bagus lagi memasukkannya dalam dunia pendidikan. Sebab dalam buku memahami budaya Panji sudah sangat jelas, apa itu budaya Panji.

“Tinggal bagaimana kita merespon warisan budaya leluhur kita tersebut agar tidak hilang ditelan zaman,“ lanjut pengajar di Universitas Nursantara PGRI Kediri ini.

Selain para guru sejarah se-Kota Blitar, seniman, wartawan dan budayawan tampak hadir dalam bedah buku tersebut. Tampak pula hadir budayawan senior Kota Blitar seperti Lik Hir, Mardiono Gudel, hingga Ketua Dewan Kesenian Kota Blitar Andreas Edison yang nampak serius menindaklanjuti hasil bedah buku tersebut untuk membuat kegiatan dengan tajuk Budaya Panji. (rba)

Wima Brahmantya dan Purnama Seruling Penataran

foto
Wima Brahmantya, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar sukses menggelar PSP. Foto: Wikipedia

BLITAR – Menghidupkan kembali suasana kerajaan-kerajaan di zaman keemasan Nusantara terdengar sangat mustahil dilakukan pada saat ini. Namun ditangan Wima Brahmantya, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar (DKKB), agaknya hal tersebut tak mustahil dilakukan.

Melalui sebuah pagelaran budaya bertajuk Purnama Seruling Penataran (PSP), Wima Brahmantya bersama seluruh pengurus DKKB berhasil mendapatkan apresiasi masyarakat internasional karena dianggap mampu menghidupkan kembali warisan leluhur.

Baik itu benda peninggalan cagar budaya maupun tak benda, produk kebudayaan, seni, cerita dan spirit kebangkitan, yang tertimbun ratusan tahun lamanya.

Menurut Wima kepada TimurJawa.com, ide penyelenggaraan PSP ini berawal dari obrolan ringan bersama Ray Sahetapy di Candi Panataran.

“Waktu itu Ray sedang gandrungnya main seruling, dan kemana-mana bawa seruling bambu. Dari situ muncul gagasan pagelaran budaya di Candi Panataran dengan meniup seruling di malam purnama,” papar Wima.

Enam bulan kemudian pagelaran budaya pertama diadakan dengan nama Purnama Seribu Seruling dengan keberadaan 1.000 pelajar yang meniup seruling bersamaan sebagai simbol bangkitnya spirit kenusantaraan, tepatny apa di bulan Oktober 2010, imbuhnya.

Penyelenggaraan PSP ini mengingatkan kembali kita pada tradisi masyarakat Indonesia kuno yang seringkali berkumpul setiap malam purnama. Beberapa dari mereka biasanya mengisi malam purnama tersebut dengan bermain seruling bambu.

Menurut Wima, secara filosofis PSP merupakan sebuah persembahan kepada Sang Pencipta sebagai ungkapan rasa syukur. Salah satu wujud rasa syukur tersebut adalah dengan memelihara bumi ini sebaik-baiknya.

“Itulah akhirnya muncul slogan Purnama Seruling Penataran sebagai Panggung Persaudaraan dan Perdamaian Dunia,” jelasnya.

Ditambahkan, tujuan penyelenggaraan PSP tak lain agar masyarakat Indonesia bisa mengenal kembali budayanya, kemudian mencintainya, kemudian melestarikannya, dan kemudian mengembangkannya.

“Selain itu, dengan PSP kita mampu membangkitkan spirit sebagai bangsa besar yang akan selalu terdepan dalam mewujudkan persaudaraan dan perdamaian dunia,” lanjut penerima penghargaan Person of The Year dari JawaPos 2012 ini.

Masih menurut Wima, dipilihnya Candi Penataran s bagai lokasi penyelenggaraan PSP bukanlah tanpa alasan. “Candi Panataran dipilih karena popularitasnya yang melebihi puluhan candi lainnya di Blitar, sehingga tidak terlalu sulit untuk mengangkatnya,” katanya.

Selain itu Candi Penataran merupakan sebuah pusat spiritual kerajaan-kerajaan Jawa Kuno yang seringkali dijadikan sebagai tempat pendharmaan raja-raja besar Nusantara. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan dibumikannya jasad raja-raja Nusantara seperti Ken Arok, Anusapati, Ranggawuni, RadenWijaya, hingga Presiden Sukarno yang didharmakan di seluruh penjuru Blitar, imbuhnya.

Candi “Palah” Penataran
Prasasti Palah yang terdapat di area Candi Penataran mengabarkan bahwa candi ini mulai dibangun sekitar tahun 1194, pada masa pemerintahan raja Syrenggra atau yang dikenal dengan nama Kertajaya yang memerintah kerajaan Kadiri mulai tahun 1194-1222.

Candi yang memiliki nama asli Candi Palahini, telah melewati masa tiga kerajaan besar Nusantara yaitu Kadiri, Singasari dan Majapahit.

Hal tersebut dibuktikan dengan dijadikannya tempat itu sebagai tempat pendharmaan Ken Arok, pendiri Kerajaan Singosari pertama dan pemujaan kepada Sang Hyang Acapat (perwujudan Dewa Siwa) oleh Hayam Wuruk yang dituliskan Mpu Prapanca dalam kitab Negarakertagama.

Candi Penataran memegang peranan cukup penting bagi kerajaan-kerajaan tersebut, yaitu sebagai tempat pengangkatan para raja dan tempat untuk upacara pemujaan terhadap Sang Pencipta.

Masih dalam kitab yang sama, yaitu Negarakertagama, dijelaskan bahwa Candi Penataran sangat dihormati oleh para raja serta petinggi kerajaan besar di Jawa Timur.

Candi Penataran pernah menyimpan abu dari Raja Kertarajasa Jaya wardhana (Raden Wijaya) pendiri kerajaan Majapahit.
Bahkan konon, menurut legenda rakyat setempat, sumpah sakral Mahapatih Gajah Mada untuk menyatukan seluruh Nusantara dalam kekuasaan Majapahit, yang dikenal dengan nama ‘Sumpah Amukti Palapa’, diucapkan di kompleks area CandiPenataran.

Selain itu, Candi Penataran merupakan salah satu candi di Indonesia yang kaya dengan corak relief, arca dan struktur bangunan yang bergaya Hindu.

Adanya pahatan Kala (raksasa), arca Ganesha (dewa ilmu pengetahuan dalam mitologi Hindu), arca Dwarapala (patung raksasa penjaga pintu gerbang), dan juga relief Ramayana adalah bukti tidak terbantahkan bahwa Candi Penataran adalah candi sakral Hindu yang seringkali digunakan untuk ritual penguasa kerajaan-kerajaan Nusantara.

Pagelaran Seni
Dalam penyajian pagelaran seni, PSP memiliki komposisi tetap dalam menampilkan pertunjukkan seperti halnya kesenian Blitar, kesenian Nusantara, kesenian Internasional, dan sendratari persembahan DKKB sendiri.

Bahkan seringkali dalam penyajian pertunjukkan, PSP mengangkat kisah pada relief-relief di Candi Panataran seperti kisah Panji, Bubhuksah dan Gagang Aking, atau Sri Tanjung.

Namun agar setiap pertunjukan memiliki spirtit dan kesan tersendiri, variabel tema yang ditampilkan dalam PSP selalu berbeda. Sehingga banyak dari penikmat PSP enggan melewatkan pertunjukan yang diselenggarakan secara periodik setiap triwulan ini.

Menurut Wima, tema yang ditampilkan dalam PSP sangat beragam. Kadangkala menampilkan pertunjukan secara tematik seperti ‘Garudayana’ dalam memperingati 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila, sebagai Dasar Negara Indonesia Merdeka.
Bahkan mereka tak jarang menciptakan branding tersendiri seperti pertunjukan dengan tema ‘Bhumi Laya IkaTantra Adi Raja’ yang memiliki arti ‘Bumi Persemayaman Raja-Raja Merdeka’.

“Hingga kini berhasil menjadi ikon dari spirit pembangunan pemerintah Kabupaten Blitar,” jelas penerima penghargaan International Tour film Academy Award 2015 di Polandia ini.

Layaknya zaman kerajaan di masa lalu, pertunjukan di pelataran Candi Penataran ini juga menampilkan berbagai kesenian yang dibawakan seniman negara-negara sahabat.

Nama-nama seperti Rodrigo Parejo (Spanyol), Tony Yap (Australia), Ronnarang Khampa (Thailand), Khuan Nam (Malaysia), Mazurka (Polandia), Tanieco (Slovakia), Kanoko (Jepang), Victor (Mexico), Charlotte Simmonuti (Perancis) dan Aron (Mozambique), adalah sedikit nama seniman dari enam benua yang pernah menampilkan kesenian asli mereka di PSP.

Selain itu, berbagai kesenian Nusantara juga pernah ditampilkan dalam PSP. Kesenian Sasan do Flobamora (NTT), Seruling Sakuhaci (Makassar), Musik Sahala Medan (Tapanuli), Tari Saman (Aceh) dan Tari Ampus Kauma (Kalimantan Barat), adalah sedikit pula kesenian Nusantara yang dipertunjukkan dalam pertunjukan yang telah berlangsung selama 6 tahun terakhir itu.

PSP dapat dikatakan sebagai etalase mini peradaban dunia. Pesan persaudaraan dan perdamaian dunia disuarakan dari Blitar, sebuah wilayah kecil di ujung selatan Jawa Timur, terwujud dalam sajian PSP.

Hal ini makin menunjukkan jika pengaruh kekuasaan kerajaan di Indonesia seperti halnya Kerajaan Majapahit yang menguasai hamper sebagian wilayah Asia-Afrika-Australia diwujudkan dalam bentuk damai, tidak melalui jalan perang.

Mereka beramai-ramai menaklukkan diri mereka untuk tunduk dibawah konstitusi Kerajaan Majapahit yang terkenal mampu membawa dunia ke jalan persaudaraan, kesejahteraan dan perdamaian. (rba)

Mengenal Wayang Jawa Timuran

foto
Wayang Wetan mengambil dasar budaya yang berasal dari masyarakat. Foto: Kemdikbud.go.id

Lampu temaram yang berasal dari lentera sederhana menyinari sosok yang memainkan boneka-boneka tipis dengan aneka bentuk dan warna.

Sang dalang mengeluarkan beraneka macam jenis suara yang menggambarkan karakter dari tokoh pewayangan yang dimainkan.

Dengan bahasa Jawa Kawi yang rumit, dalang mengucapkan dialog-dialog yang menceritakan tentang lakon wayang yang disuguhkan

Wayang, yang artinya bayang, merupakan kesenian legendaris Indonesia. Kesenian yang sudah ditetapkan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO ini sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia.

Hampir di seluruh bagian di Indonesia memiliki ciri Wayang sesuai dengan budaya setempat. Di Pulau Jawa sendiri terdapat banyak gaya Wayang yang berbeda-beda.

Dan tahukah kamu perbedaan antara Wayang Kulon (Jawa Tengahan) dan Wayang Wetan (Jawa Timuran)? Berikut ulasan tentang perbedaan Wayang dari dua daerah tersebut.

Wayang Jawa Timuran
Jika kita lihat secara sekilas, tidak ada perbedaan antara Wayang Kulon dan Wayang Wetan. Namun jika dilihat lebih seksama, terdapat perbedaan bentuk, teknik sabetan, dan karakter Wayang yang dimainkan.

Perbedaan tersebut terjadi karena dasar budaya asal dalang dan Wayang yang dimainkan. Wayang Kulon mengambil dasar budaya keratonan, baik dalam cerita maupun bahasa yang dilafalkan oleh dalang.

Berbeda dengan Wayang Kulon, Wayang Wetan atau Wayang Jawa Timuran mengambil dasar budaya yang berasal dari masyarakat, sehingga dari cerita, sabetan, dan juga bahasa, Wayang Wetan lebih kasar dibandingkan Wayang Kulon.

Gatotkaca Lair
Sebagai contoh, dalam lakon Gatotkaca Lair yang dapat dimainkan dalam gaya Wayangan manapun, cara dalang Wayang Wetan melafalkan cerita akan terdengar lebih kasar dibandingkan dengan dalang Wayang Kulon.

Selain itu, warna dari tokoh Wayang Gatotkaca juga nampak berbeda. Dalam Wayang Kulon, Gatotkaca berrwarna hitam sedangkan dalam Wayang Wetan, warna merah akan menjadi warna wajah Gatotkaca.

Wayang Wetan yang merupakan Wayang Jawa Timuran ini memilik 4 gaya pewayangan yang berbeda, yaitu gaya Trowulan, gaya Ngawi-Nganjuk, gaya Banyuwangi, dan gaya Surabaya-Jombang-Mojokerto.

Keempat gaya ini pada dasarnya hampir sama satu sama lain, namun memiliki sedikit perbedaan pada cara dalang memainkan dan menceritakan lakon.

Wayang tidak hanya menjadi identitas masyarakat Jawa, namun juga sudah menjadi identitas masyarakat Indonesia. Selain di Jawa, Wayang juga tersebar di provinsi lain di Indonesia, seperti Menak Sasak dari NTB, Wayang Banjar dari Kalimantan, dan Wayang Betawi dari DKI Jakarta. (ist/sumber kemdikbud.go.id)

Candi Boyolangu Era Majapahit di Tulungagung

foto
Candi Boyolangu di Dukuh Dadapan, Desa Boyolangu Tulungagung. Foto: Siwisangnusantara.web.id

Sangat mudah untuk mencapai lokasi candi yang berada di tengah pemukiman penduduk ini. Dari Museum Wajakensis Tulungagung berjalan ke arah selatan kurang lebih 2 kilometer, kemudian belok ke kanan (barat) melewati jalan desa sejauh kurang lebih 500 meter.

Selanjutnya terdapat gapura masuk menuju lokasi candi, yang secara administratif berada di Dukuh Dadapan, Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung.

Candi ini ditemukan kembali oleh masyarakat pada tahun 1914 dalam timbunan tanah, menurut informasi sejarah candi ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350–1289M).

Sumber lain menyebutkan bahwa candi ini merupakan tempat penyimpanan abu jenazah Ratu Majapahit yang bernama Gayatri atau Rajapatni, bergelar Tribhuana Tunggadewi.

Berdasarkan angka tahun pada umpak-umpak, menunjukkan berasal dari masa Majapahit. Angka tahun tersebut adalah 1291 Saka, yang merupakan masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk yaitu sekitar pertengahan abad XIV.

Pembangunannya dikaitkan dengan tokoh wanita yang diduga Gayatri, isteri Raden Wijaya yang keempat yang menjadi biarawati Budha dan menguasakan kekuasaannya kepada anaknya, Ratu Tribhuana Tunggadwi.

Di atas batur dijumpai arca batu yang besar, melukiskan Prajnaparamita, tetapi kepalanya sudah hilang (Sulaeman, 1981: 45). Menurut kitab Negarakrtagama, bangunan ini didirikan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dengan nama Prajnaparamitapuri (Slamet Mulyana, 1979).

Ahli sejarah yang pernah meneliti Candi Boyolangu adalah NJ Krom pada tahun 1915 dan 1923, PV Stein Callenfels pada tahun 1916, dan Haase pada tahun 1916.

Nama lain dari Candi Boyolangu adalah Candi Gayatri (Satari, 1980: 17), sedangkan penduduk setempat menyebutnya sebagai Punden Gilang (Magetsari, 1979: 35).

Nama Boyolangu disebut dalam kitab Negarakrtagama, tetapi apakah yang dimaksud dalam kitab ini Boyolangu di Tulungagung? Sebab di Kabupaten Pasuruan juga terdapat tempat yang bernama Boyolangu.

Teka-teki ini sebenarnya masih belum dapat dipecahkan, namun banyak para sarjana asing yang menduga bahwa Boyolangu di Tulungagung inilah yang dimaksud dalam kitab Negarakrtagama (Brandes, 1902).

Apabila dugaan ini benar bahwa Boyolangu yang dimaksudkan sama dengan yang ada di Tulungagung, tentunya candi ini berasal dari masa Majapahit. (ist/sumber: Kemdikbud.go.id)

Sejarah Gapura Plumbangan di Blitar

foto
Gapura Plumbangan di Desa Plumbangan, Desa Doko, Kabupaten Blitar. Foto: Kekunaan.blogspot.co.id

Lokasi Gapura Plumbangan cukup mudah dijangkau dari jalan raya kawedanan Wlingi. Secara administratif terletak di Desa Plumbangan, Desa Doko, Kabupaten Blitar.

Para ahli mengatakan Gapura Plumbangan telah menjadi tempat suci sejak jaman Kediri. Hal ini dibuktikan dengan adanya prasasti berangka tahun 1042 Saka (1120 Masehi) yaitu prasasti Panumbangan. Isi prasasti tersebut bahwa Desa Panumbangan menjadi milik umat Budha. Dari nama panumbangan itulah nama Desa Plumbangan sekarang ini berasal.

Prasasti dari Raja Bhameswara memuat cap kerajaan berupa tengkorak yang berhiaskan bulan sabit. …mangkara rasa sang hyang raja nugraha irikang rama lima duwan I dalm thani penumbangan pinratisthaken rilinggopala tinanda candrakapala…(Brandes, 1913: 162).

Dalam prasasti Panumbangan disebutkan bahwa Raja Bhameswara sebagai Raja Kediri, pada bulan srawana paro terang, tahun saka 1042 bertepatan dengan tanggal 2 Agustus 1120 M, memberikan hadiah kepada penduduk desa Panumbangan (Plumbangan) berstatus swatantra.

Penetapan tersebut berdasarkan keputusan raja yang pernah diberikan kepada warga desa Panumbangan serta desa-desa sekitarnya. Ketetapan raja itu diperkuat dengan ancaman kutukan bagi siapapun yang melanggar keputusan itu (Tim Penggali dan Perumus Hari Jadi Kabupaten Blitar: 1976: 24-27).

Prasasti berkenaan dengan penetapan kembali anugerah haji dewata sang lumah ri gajapada. Hak-hak istimewa bahkan ditambahkan pula berhubungan dengan kebaktian rakyat Panumbangan terhadap raja.

Dalam Nagarakrtagama pupuh LXXVII bait 1 dan 2 menyebutkan nahan muwah kasugatan/kabajradaran akrameka wuwusen, i sakabajra ri nadi tada mwan i mukuh ri samban I tajun, lawan tan amrtasabha ri banbaniri boddi (125b) mula waharu, tampak/duri pareuha tandare kuudaratna nandinagara. Len tan wunanjaya palandit ankil asah in samicyapitahen, nairanjane wijayawaktra magnen I poyahan/bala masin, ri krat lemah tulis I ratnapankaja panumbanan kahuripan, mwan ketaki talaga jambale junul I wisnuwala pameweh (Pigeaud, 1960: 59).

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut : …selanjutnya tersebut berturut-turut ikut kebudaan bajradara Isanabajra, Naditata, Mukuh, Sambang, Tajung, Amretasaba, Bangbang, Bondimula, Waharu tampak dari Puruhan dan Tadara. Tiada terlupakanlah Kumuda, Ratna serta Nandinagara, Wungajaya, Balandi, Tangkil, Asahing, Samici dengan Acitahen Nairanjana, Wijayawaktra, Mageneng, Poyahan dan Balamasin, Krat, Lemah Tulis, Ratnapangkaja, Panumbangan serta Kahuripan Ketaki, Telaga Jambala, Junggul ditambah lagi Wisnuwala (Slamet Mulyana, 2007: 392).

Penyebutan tersebut menunjukkan bahwa Plumbangan termasuk daerah perdikan bagi golongan penganut agama Budha yang sudah kemasukan unsur-unsur bajradhara yakni golongan pendetanya tetap hidup berumah tangga dan beranak pinak.

Apabila kenyataan ini dihubungkan dengan prasasti Plumbangan ataupun prasasti-prasasti lain yang menyebutkan Desa Plumbangan, maka uraian Prapanca memberi petunjuk bahwa Desa Plumbangan bukan hanya dikenal sebagai tanah perdikan dengan bangunan-bangunan Siwaistis, tapi juga dihubungkan dengan tempat pendeta-pendeta Budha dari kalangan kebajradaran. (Tim Penggali dan Perumus Hari Jadi Kabupaten Blitar: 1976: 27). (ist/sumber: kemdikbud.go.id)