Menggali Wacana Masyarakat Adat Samin

foto
Mbah Hardjo, keturunan keempat pendiri Samin bersama mahasiswa Unair. Foto: Humas Unair.

Mengajak mahasiswa untuk belajar di lapangan memang akan memberikan nilai lebih. Selain mengetahui kondisi yang sesungguhnya, teori yang diajarkan di ruang kelas pun dapat secara langsung dipahami.

Hal itulah yang dilakukan oleh Dr Sri Wiryanti Budi Utami MSi. Dosen Departemen Sastra Indonesia Unair tersebut mengajak mahasiswanya Praktik Kuliah Lapangan (PKL) ke masyarakat adat Samin.

Bertempat di masyarakat adat Samin yang ada di Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Bojonegoro, dosen yang mengampu mata kuliah Analisis Wacana tersebut mengajak mahasiswanya untuk menggali wacana lokal yang ada di masyarakat Samin Bojonegoro pada 3-4 Desember 2016.

“Di dusun ini, sudah banyak tamu asing yang datang ke sini, mulai Belanda, Jepang, dari Afrika juga. Makanya, kalian orang Indonesia harus menggali lebih dalam wacana Samin yang ada di sini,” terang Wiryanti saat memberikan sambutan pembukaan.

“Ini kita langsung datang ke sumber sejarah yang masih hidup, jadi maksimalkan kesempatan di sini,” tegasnya seperti dirilis Humas Unair.

Diterima di kediaman Harjo Kardi selaku keturunan keempat dari Samin Surosentiko, sang pendiri ajaran Samin, sebanyak 120 mahasiswa langsung disuguhkan film mengenai masyarakat Samin. Selain itu, Harjo Kardi yang akrab disapa mbah Harjo tersebut memberikan sedikit wawasan pembuka mengenai pola perilaku masyarakat Samin.

“Ini memang sudah menjadi kewajiban saya. Sudah banyak yang datang ke mari tanya-tanya mengenai Samin. Yang perlu diketahui bahwa Samin itu bukan tradisi, bukan agama, tapi perilaku,” paparnya. “Jika nanti dalam film yang diputar masih ada yang belum dipahami silakan tanya,” imbuhnya.

Tercatat masyarakat Samin tersebar di berbagai daerah perbatasan antara Provinsi Jawa Tengah dan JawaTimur, yakni meliputi wilayah Kabupaten Blora, Ngawi, Bojonegoro, bahkan hingga Kabupaten Pati.

Mbah Harjo dalam paparannya menjelaskan bahwa sejatinya Samin itu merupakan pola hidup yang diterapkan leluhurnya saat penjajahan Belanda. Namun, saat Indonesia sudah merdeka, nilai-nilai yang ada masih diteruskan hingga saat ini.

“Samin itu berarti sama-sama. Dulu para leluhur percaya bahwa kita sama-sama Jawa, sama-sama dijajah, ya harus sama-sama melawan dengan cara yang tidak menyakiti,” jelasnya.

Dalam pelaksanaan kuliah lapangan tersebut, mahasiswa juga ditugaskan untuk menggali beragam wacana yang ada di masyarakat Samin, mulai wacana politik, sikap berbahasa, demografi, hingga interaksi sosial. Wiryanti juga memberikan tantangan kepada mahasiswa untuk membuat kolosal tentang masyarakat Samin.

“Jika ada mahasiswa sastra yang mau mengkolosalkan, akan kami dukung. Jadi biar tahufalsafah dan tuturannya untuk apa saja. Semoga kuliah lapangan ini bisa menjadi bekal dan wawasan kalian ke depan sebagai mahasiswa sastra yang belajar bahasa dan budaya,” terangnya.(sak)

Festival Wayang ASEAN: Kolaborasi Budaya Serumpun

foto
Peserta Festival Wayang ASEAN usai pentas di Mojokerto. Foto: Tribunnews.com.

Dalam rangka memeriahkan ulang tahunnya ke-10, Asosiasi Wayang ASEAN (AWA) atau ASEAN Puppetry Association (APA) menggelar pentas kolaborasi wayang di Pesantren Tebuireng, Jombang, Senin (5/12/2016). Pentas kolaborasi dengan lakon Ramayana yang berlangsung selama hampir satu jam itu diikuti oleh grup wayang dari sembilan negara ASEAN.

“Kami juga menggelar sidang tahunan ketujuh dan festival wayang ASEAN. Kami tampilkan wayang ASEAN secara individual atau masing-masing negara, maupun pentas kolaborasi, yang salah satunya ditampilkan di sini,” ujar Sekretaris Jenderal AWA/APA Suparmin Sunjoyo.

Sebelum menggelar pentas kolaborasi di Pesantren Tebuireng, tambah Suparmin, pihaknya telah menggelar pentas serupa di Mojokerto. “Rangkaian kegiatan sidang tahunan APA dan festival wayang dipusatkan di Mojokerto sejak 30 November lalu,” katanya.

Pentas kolaborasi di lingkungan pesantren ini juga untuk mengingatkan bahwa penyebaran Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kesenian wayang.

“Kita semua tahu bahwa penyebaran Islam, khususnya di Jawa, antara lain dilakukan melalui wayang, karena itu, kami mengharapkan juga lulusan Pesantren Tebuireng nantinya ada yang turut mengembangkan wayang ASEAN,” harap Suparmin.

Di tempat sama, Sekretaris Utama Pesantren Tebuireng Abdul Ghofar menyambut baik pentas kolaborasi ini. “Harapan kita, pondok pesantren dan masyarakat Islam bisa meniru apa yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga dalam berdakwah untuk menyiarkan Islam dengan halus, toleran dan tidak menimbulkan konflik dalam masyarakat,” ungkapnya.

Menurut pria yang akrab dipanggil Gus Ghofar ini, dalam menyiarkan Islam, Sunan Kalijaga juga menciptakan karakter Punakawan. Dan karakter itu hanya ada dalam pewayangan Indonesia. “Tidak tertutup kemungkinan, di tempat lain juga ada kearifan lokal yang bisa diangkat dalam karakter pewayangan untuk menyiarkan Islam,” ungkapnya.

Pentas kolaborasi ini menampilkan para artis dari sembilan negara. Yaitu, Anucha Sumaman (Thailand), Pangna Phranakhone (Laos), Mann Kosal, dan Sang Thorn Chek (Kamboja), Kamarudin HJ Othman (Brunei Darussalam), Donarose Marzan, dan Kiarra Poblacion (Philippines).

Juga ada Tin Tin Oo, Thet Thet Htwe Oo, dan Myint Mo (Myanmar), Suzlaifan Sulaimin (Singapore), Bui Duy Hieu, Nguyen Hong Phong, dan Nguyen Ngoc Triu (Vietnam), dan Wahyu Dunung Raharjo, Bimo Sinung Widagdo, dan Santi Dwisaputri (Indonesia).

Usai pementasan, seluruh delegasi AWA/APA juga diajak untuk melakukan ziarah ke makam Presiden ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Pentas di Mojokerto
Sebelumnya pada hari Jumat (2/12) di Pendopo Graha Majatama Pemkab Mojokerto, pertunjukan seni multiwarna negara-negara rumpun Asia Tenggara itu digelar. Acara ini membius para audience dengan aneka pertunjukan khas wayang negeri masing-masing.

Para delegasi wayang seperti duo Black Theatre (Filipina), Wayang Tali (Myanmar), Wayang Air (Vietnam), Wayang Golek Indonesia, berkolaborasi dengan tari khas Thailand, Khon. Suatu tari drama bertopeng yang diadaptasi dari epik Ramayana, lengkap dengan Shinta dan Hanuman.

“Festival Wayang ASEAN kita gelar mulai 30 November hingga 6 Desember 2016. Kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran identitas budaya. Kita juga menjaga kepercayaan dunia, yakni banyaknya budaya Asia Tenggara yang sudah diakui UNESCO,” ujar Suparmin Sunjoyo.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, Jarianto mewakili Gubernur dalam menjelaskan tentang perkembangan wayang di Indonesia dan menyebut perkembangan wayang paling baik di Indonesia bisa ditemukan di Jatim.

“Kabupaten Mojokerto sudah terkenal di dunia karena riwayat agung Kerajaan Majapahit. Event ini menjadi satu contoh jika kita mampu menjadi tuan rumah event budaya tingkat internasional,” tandasnya.

Wakil Bupati Mojokerto Pungkasiadi mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang mempercayakan Kabupaten Mojokerto sebagai tempat Festival Wayang ASEAN 2016.

“Bumi Majapahit yang kita huni ini merupakan tanah bersejarah, dimana 700 tahun lalu para leluhur kita berhasil menyatukan Nusantara hingga ke kawasan besar Asia Tenggara,” katanya.

Disebutkan bahwa di Mojokerto inilah cikal bakal persatuan Indonesia mulai dibicarakan dan direncanakan melalui Sumpah Palapa Patih Gajah Mada. “Atas nama pribadi dan Pemkab Mojokerto, terima kasih atas kepercayaan seluruh pihak penyelenggara, selamat datang dan menikmati keindahan Bumi Majapahit,” tutur Wakil Bupati. (ist)

Tandon Air Raksasa di Perut Gunung Penanggungan

foto
Sketsa tandon air raksasa di perut Gunung Penanggungan. Foto: Sketsa Nonot Sukrasmono.

Gunung Penanggungan, 1.653 meter dari permukaan laut (mdpl) yang terletak di Kabupaten Mojokerto sisi barat dan Kabupaten Pasuruan sisi timur memiliki ratusan peninggalan purbakala. Patirtan Jolotundo, sebagai salah satu situs peninggalan purbakala di gunung Penanggungan menurut beberapa pengunjung, memiliki kekuatan magis yang cukup besar.

Gunung Penanggungan atau Gunung Pawitra tergolong gunung yang memiliki bentuk yang unik. Keunikannya ditengarahi dengan adanya 8 bukit (anak gunung) yang keberadaannya melingkar dengan puncak Penanggungan ditengah–tengah.

Susunan lingkungan tertata berselang–seling, tinggi-rendah / besar dan kecil, sehingga penampang Gunung Penanggungan selalu nampak sama bila dipandang dari delapan penjuru mata angin.

Keberadaan Gunung Penanggunan yang demikian itu menurut konsep atau Doktrin Cosmogoni Brahman Hinduisme atau Jawaisme, merupakan MINIATUR JAGAD RAYA. Mandala di tengah– tengah dengan dikelilingi 7 Samudera dan 7 Benua.

Merupakan MAHA MERU dengan MANDALA ALAMI. Delapan bukit besar kecil secara berseling-seling tersebut adalah:
Empat Bukit tinggi:
– Bukit Bekel Bekel, berketinggian 1.260 mdpl
– Bukit Gajah Mungkur, berketinggian 1.089 mdpl
– Bukit Kemucup, berketinggian 1.238 mdpl
– Bukit Sarahklopo, berketinggian 1.235 mdpl

Empat Bukit kecil:
– Bukit Jambe, berketinggian 745 mdpl
– Bukit Gambir, berketinggian 588 mdpl
– Bukit Wangi, berketinggian 987 mdpl
– Bukit Bende, berketinggian 1.015 mdpl

Di kawasan hutan Gunung Penangungan, disamping tumbuh / ditanam pohon-pohon umum strandra Perhutani seperti pohon Jati, Mauni, Sono dan Sengon, juga tumbuh pohon-pohon khusus yang mungkin sebagian tidak ditemui di hutan lain.

Pohon-pohon tersebut sudah mulai langka, antara lain pohon Andi-Andi, pohon Kemloke, pohon Rawu, pohon Awar-Awar, pohon Kepi-Kepian, pohon Sambi Kelet, pohon Awisan, pohon Keposo, pohon Sambitan, pohon Badut, pohon Klakar, pohon Sambung Got, pohon Beendo, pohon Kopi, Lanang pohon Saratan, pohon Berasan, pohon Lantong.

Ada pohon Segawe, pohon Bondo, pohon Manisan, pohon Senu, pohon Bruyem, pohon Manisan, pohon Srigalak, pohon Buluh, pohon Manting, pohon Sriwil, pohon Gamal, pohon Marasan, pohon Suren, pohon Gembiril, pohon Mtosari, pohon Susen, pohon Glingsem, pohon Muring, pohon Trawasan, pohon Gondang, pohon Ngigas, pohon Truncum, pohon Grawang, pohon Nogosari, pohon Truncum Abang, pohon Jambe Wiji, pohon Oyot Got, pohon Truncum Prutih, pohon Jenglot, pohon Oyot Jelun, pohon Tutup Abang,

Juga pohon Jirak, pohon Oyot Putih Kulit, pohon Tutup Putih, pohon Kasian, pohon Pacar, pohon Tutup Putih, pohon Katil, pohon Pancal Kidang, pohon Walik Lar, pohon Kawang, pohon Peh Kecik, pohon Wangkal, pohon Kedutan, pohon Penjalinan, pohon Wineng, pohon Kelangan Gebang, pohon Purwosari, pohon Wiyu, pohon Kemiri, pohon Putihan, dll.

Konon, di dalam Perut gunung Penanggungan terdapat sumber mata air purba yang tidak dapat dideteksi ujung pangkalnya. Dan di sela sela kedelapan bukit di Gunung Penanggungan sepanjang musim penghujan merupakan area resapan yang menarik air di permukaan masuk ke dalam perut gunung.

Proses yang berlangsung selama ribuan tahun ini telah membentuk tandon air raksasa yang merupakan percampran sumber air purba dan resapan dari air hujan yang memasok air ke Patirtan Jolotundo.

Salah satu pelukis Jawa Timur, Nonot Sukrasmono mengatakan bahwa bentuk tandon air di perut Gunung Penanggungan tersebut nampak seperti “cawang”.

Setelah menggunakan penerawangan lewat mata batinnya, Nonot menggoreskan pensil dalam kertas putihnya saat dilaksanakan kegiatan pembuatan film dokumenter Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo oleh Dewan Kesenian Jawa Timur, Agustus 2016 lalu.

Menurut Gatot Hartoyo, penulis buku Patirtan Jolotundo, pohon-pohon yang tumbuh menyebar di hutan lindung, hutan preduktif dan pategalan, akarnya menghujam masuk dalam tanah menyentuh air di jalur-jalur resapan dan gorong-gorong, menyatu dengan air tandon perut gunung, keluar di sumber-sumber, termasuk sumber Patirtan Jolotundo.

Dan Dari hasil penelitian para ahli tentang air di Partitan Jolotundo disimpulkan bahwa ‘Air Patirtan Jolotundo’ memiliki kualitas yang sangat baik dan berbeda dengan sumber sumber mata air lainnya, bahkan beberapa orang menyatakan sumber mata air di Patirtan Jolotundo merupakan sumber mata air terbaik di dunia. (ist)

Dari Desa di Madiun: Meruwat Diri, Merawat Negeri

foto
Ruwatan massal digelar di Padepokan Seni Kirun di Desa Bagi, Madiun. Foto: Kebudayaan.kemdikbud.go.id.

Tiga ratus sukerta (orang yang akan diruwat) melapisi tubuh mereka dengan kain mori putih. Bersama rombongan kesenian dongkrek dan sesepuh masyarakat, para sukerta melakukan kirab budaya menuju lokasi prosesi ruwatan. Jaraknya sekitar 500 meter. Dalang ruwat telah menunggu, siap menyuguhkan Ruwatan Murwakala.

Ruwatan massal ini digelar oleh Padepokan Seni Kirun (Padski) milik seniman dan pelawak Syakirun atau Kirun, di Desa Bagi, Madiun, Jawa Timur. Kegiatan diadakan lewat kerjasama dengan Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Masa Esa dan Tradisi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dung, dung, dung… suara beduk memecah suasana pagi, mengundang warga kampung bergabung. Krek, krek, krek… suara korek menyahut riuh. Korek adalah sejenis alat musik kayu yang diputar-putar dan melahirkan bunyi “krek” sangat keras. Bebunyian lain seperti saron, kenong, dan gong membuat pertunjukan makin meriah.

Dongkrek tak sekadar pelengkap, tetapi menyatu dalam prosesi ruwatan karena kesenian itu dipahami sebagai pengusir kejahatan, kemungkaran, dan hal-hal buruk lainnya. Dongkrek, dari kata dong dan krek, merujuk pada bunyi dung pada beduk dan krek pada korek.

Bebunyian dongkrek mengiringi gerakan empat orang yang mengenakan topeng buto, perlambang angkara murka. Dongkrek juga mengiringi tarian topeng orang tua, lambang pemimpin bijaksana. Ada pula topeng perempuan menggendong anak atau nenek, perlambang kasih sayang dan bakti.

Ruwatan tersebut merupakan bagian dari hajatan Gelar Budaya Purnama Sura, yang juga menyuguhkan pertunjukan dongkrek serta wayang kulit semalam suntuk dengan lakon Wiratha Parwa, Sabtu (22/10) lalu.

Adapun acara yang diselenggarakan secara lengkap meliputi Kirab Budaya, sungkeman, pasrah (penyerahan sukerto), prosesi ruwatan yang diiring dengan pagelaran wayang kulit, potong rambut dan siraman, larung sukerto dan pada malam harinya pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

Kegiatan diawali Kirab Budaya dengan membawa gunungan berupa sesaji dari jalan utama menunju Padepokan Seni Kirun, kemudian prosesi penyerahan dan diterima secara langsung Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Kemdikbud, Sri Hartini.

Rambut dipotong
Prosesi ruwatan dimulai dari wayang ruwat Murwakala selama tiga jam dengan dalang Ki Gutoyo Cermo Sudarmo. Setelah itu, para sukerta sungkem kepada orangtua masing-masing, rambut mereka dipotong sebagian, lalu dimandikan. Memotong sebagian rambut mengingatkan pada kelahiran, sedangkan memakai mori putih mengingatkan pada kematian.

Ruwatan Murwakala dipahami sebagai ritual untuk menghilangkan pengaruh negatif dalam diri yang mungkin terbawa saat lahir, atau karena perilaku keliru, yang menyebabkan rasa waswas, gelisah, dan tak percaya diri.

Dua remaja, lulusan D-3 dan SMA, ingin diruwat demi meraih masa depan yang cerah, mendapat pekerjaan layak, serta dijauhkan dari kesialan.

Ruwatan telah menjadi tradisi yang dipraktikkan secara turun-temurun di Jawa. Di dalamnya, terkandung petuah dan harapan untuk menjadi seorang yang lebih baik.

Ajaran warisan leluhur di daerah-daerah sebetulnya bisa diterapkan di mana saja. “Kearifan di Jawa, bukan hanya untuk Jawa, tetapi bahkan bisa untuk dunia,” tutur G Hardjito, pengurus Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan YME Kabupaten Madiun.

Kegiatan tradisi yang bersifat renungan seperti ruwatan ini juga menjadi momen untuk mengevaluasi hidup. “Eling lan waspodo. Waspodo itu terjaga, cermat, awas terhadap godaan yang menyesatkan,” kata Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Tradisi Sri Hartini.

Sri Hartini menyampaikan bahwa peserta yang datang dan mengikuti ruwatan sudah mengetahui tentang nilai makna kehidupan dari tradisi ruwatan itu sendiri. Dikatakan tradisi Sukerto ini adalah untuk membersihkan diri dari hal-hal atau sesuatu yang menghambat dalam kehidupan secara pribadi dan nilai yang paling tinggi dari ruwatan adalah membersihkan diri dari sukerto.

Dimana sukerto dianggap bahwa seorang anak yang baru lahir masih ada sukertonya sehingga harus diruwat atau dibersihkan sehingga akan mendatangkan nilai kehidupan yang baik dalam kehidupan yang akan datang.

Sri Hartini juga menambahkan bahwa masyarakat bisa menilai sendiri, apakah perlu mengikuti ruwatan atau tidak. Pemerintah dan negara diharapkan turut hadir dalam rangka ikut serta melaksanakan proses pelestarian nilai-nilai tradisi lewat tradisi ruwatan.

Soal tradisi dan agama, Sri Hartini mengatakan tidak perlu dipersoalkan karena tradisi sudah ada sejak nenek moyang. Tradisi dan budaya tidak boleh disamakan dengan agama, tetapi ada benang merah antara keduanya yaitu bagaimana transformasi nilai-nilai yang baik antara tradisi dan agama yang menjadi modal dasar dalam kehidupan.

Sri Hartini berharap kegiatan ruwatan para sukerto atau peserta yang mengikuti ruwatan mendapat ridho dari Tuhan yang Maha Kuasa, sehingga apa yang mereka harapkan dalam kehidupan dapat terwujud.

Merawat negeri
Pada malam hari digelar wayang kulit semalam suntuk. Mendikbud Muhadjir Effendy menghadiri pagelaran bersama Bupati Madiun Muhtarom dan Bupati Ngawi Budi Sulistyono, beserta staf serta pelawak-pelawak kawakan tanah air seperti Gogon, Marwoto dan Yati Pesek.

Mendikbud menyampaikan bahwa ruwatan diri juga merupakan simbolisasi dari ruwatan negeri. Ruwatan ini menjadi pernyataan simbolik dari tradisi yang kita warisi secara turun menurun. “Tradisi adalah bagian dari kebudayaan yang harus kita lestarikan,” kata Muhadjir Effendy.

Mendikbud juga menyinggung pentingnya pelestarian tradisi seperti ruwatan. Lebih lanjut, Mendikbud mengajak masyarakat mengembangkan agar tradisi yang dijalankan dapat menggairahkan ekonomi misalnya dengan meningkatkan pariwisata. Jadi, pelestarian tradisi akan berdampak positif ke segala arah.

Ruwatan sejatinya adalah simbol agar manusia selalu mawas diri, membersihkan diri dari keburukan. Jika setiap orang sadar untuk mawas diri, kehidupan berbangsa dan bernegara akan tenteram.

“Tiap hari sebetulnya kita meruwat negara, menyelesaikan masalah- masalah kenegaraan. Ruwatan jadi pernyataan simbolik, sekaligus bagian dari tradisi secara turun-temurun,” kata Muhadjir. (sak/sumber: Kompas)

Pertama Digelar, Kirab Sasaji Meruwat Kota Malang

foto
Walikota Malang melepas burung dara sebagai simbol penolak bala. Foto: MalangKota.go.id.

Walikota Malang H Moch Anton mengapresiasi penuh acara Kirab Sesaji dalam rangka Ruwatan Kota Malang yang dilakukan, di Alun-alun Merdeka, Kota Malang.

Menurut Abah Anton, sapaan akrabnya, acara Kirab Sesaji yang ini sebagai bentuk dan cara pemerintah menjaga dan melestarikan seni dan budaya di Kota Malang, karena, jika dua hal itu diabaikan, maka warga akan kehilangan jati diri.

“Seni dan budaya ini adalah peninggalan nenek moyang, karena itu kita harus uri-uri budaya sebagai cara menjaga warisan itu,” kata Abah Anton, saat memberi sambutan pada pembukaan acara Kirab Sesaji Ruwatan Kota Malang, Senin (17/10) lalu.

Sebelum peserta Kirab Sesaji sampai di Alun-alun Merdeka, mereka menjalani proses pemberangkatan di depan Kantor Balai Kota Malang.

Beberapa peserta ada yang membawa gunungan, bermain Reog, Kuda Lumping hingga aksi sapu lantai yang merupakan makna simbolis dari ruwatan yang tujuannya membersihkan kota dari ‘Bathoro Kolo’ sosok yang dapat menjerumuskan umat manusia.

Arak-arakkan Kirab semakin meriah saat berada di Alun-alun Merdeka, berbagai seniman dan budayawan berkumpul bersama menyambut baik acara ruwatan tersebut. Bahkan, sebagai puncak acara, juga akan digelar wayang semalam suntuk di lokasi Alun-alun Merdeka.

“Kirab Budaya yang kita lakukan tiap tahun dengan menitikberatkan pada seni dan budaya ini adalah bentuk dan cara kita meningkatkan pariwisata, karena acara ini sudah menjadi wisata alternatif even yang mampu menarik wisatawan,” beber Abah Anton.

Mengapresiasi seni dan budaya, lanjut Abah Anton, juga berkaitan dengan upaya meningkatkan sektor industri kreatif, dimana kesenian masuk dalam salah satu dari enam belas subsektor industri kreatif sebagaimana amanat Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Sementara Ki Wahyu Widayat, Pamengku pedepokan Eyang Panji di Kecamatan Sukun, yang turut hadir menambahkan, ritual ini harus diadakan setiap tahun.

“Banyak doa yang dipanjatkan dalam ritual Ruwatan. Atau istilahnya sedekah bumi. Agar dalam setahun ke depan, warga Kota Malang ini selalu bersih dan hidup damai. Juga untuk pemimpin Kota Malang agar bisa memimpin diperiode selanjutnya,” ungkap dia.

Kirab Budaya Ruwatan Kota Malang ini menampilkan sebuah ritual Jawa yakni, Rajah Kalacakra. Ritual ini diadakan dengan tujuan mengusir atau tolak bala terhadap hal-hal yang buruk untuk pemimpin Kota Malang.

Ki Sapari Anom Carito sebagai dalang wayang yang juga mengikuti ritual jawa mengatakan, ritual jawa Rajah Kalacakra ini pertama dilakukan oleh Raja Kediri bernama Sri Prabu Aji Jayabaya.

“Sri Prabu Aji Jayabaya ini pemimpin kerajaan yang bisa mengetahui kejadian sebelum terjadi. Oleh karena itu, dengan mengadopsi ritual itu di Kota Malang akan menjadi tolak bala,” tuturnya seusai ritual.

Terlihat, dalam ritual ini juga melepaskan tujuh burung dara dan tujuh ikan lele di Sungai Berantas. Ada pun menaruh Ubo Rampe sebagai tanda penolak bala.

Ruwatan Kota Malang berlangsung sampai malam, dengan hiburan wayang dan penampilan budaya. Pagelaran wayang menceritakan Murwokolo dan Babat Wonomarto, kisah awal mula berdirinya kerajaan Pendawa.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni, menambahkan, upaya menjaga seni dan budaya terus dilakukan melalui berbagai program, salah satunya yakni mendukung penuh acara ruwatan ini.

Apalagi, pada tahun depan Disbudpar gencar meningkatkan wisata even yang serasi dengan Rencana Induk Pariwisata Daerah (RIPDA) Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang menitik beratkan pada even sebagai daya tarik wisata disamping wisata alam. (sak/sumber: suryamalang.com)

Menyelami Sosok Ken Dedes dari Sebuah Tarian

foto
Tari Bedhaya Ken Dedes saat ditampilkan di acara Pekan Budaya Indonesia, September 2016 lalu. Foto: Kebudayaan.kemdikbud.go.id.

Sekelompok penari berbalut busana kuning emas lengkap dengan aksesorisnya berjalan perlahan memasuki panggung pembukaan Pekan Budaya Indonesia di Malang. Di sisi kiri para pengrawit dengan khusyuk memainkan gamelan mengiringi gemulai lembut gerak sang penari.

Seniman yang terdiri dari Komunitas Penari dan Pemusik Malang ini menyajikan sebuah pertunjukan yang bernama Tari Bedhaya Ken Dedes. Tarian ini diciptakan pada 2013 atas permintaan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang.

“Saat itu Disbudpar Kabupaten Malang yang dipimpin Bu Ratna meminta saya membuat tarian. Ikon Kabupaten Malang Beautiful of Ken Dedes, sehingga itulah saya coba menerjemahkan sosok Ken Dedes,” ujar Tri Wahyuningtyas, pencipta Tari Bedhaya Ken Dedes saat ditemui di belakang panggung, awal September lalu.

Berbeda dengan tari Bedhaya khas Mataram yang memiliki bermacam-macam syarat untuk para penari saat tampil, tarian khas Malang ini hanya mensyaratkan kepekaan rasa para penari.

“Hubungan dengan rasa, unsur penjiwaan, unsur bagaimana dia menangkap sosok Ken Dedes seperti apa, baik berupa fisik, raga, maupun spiritual itu yang sangat penting,” jelas sang koreografer.

Dipilihnya sosok Ken Dedes bukan hanya karena ikon Malang. Ken Dedes adalah perempuan yang diberi anugerah dewata sebagai nareswari. Ia dianggap istimewa karena telah menurunkan raja-raja Nusantara. Hal tersebut membuktikan bahwa perempuan dapat setara dengan laki-laki.

Ken Dedes sebagai putri seorang bathara tentu memiliki kepekaan spiritual cukup tinggi. Konsep Manunggaling Kawula Gusti yang artinya menyatunya manusia dengan Sang Maha Pencipta senantiasa diusungnya.

Sehingga sebagai manusia harus sadar bahwa masih ada yang menciptakan. Dalam tari Bedhaya Ken Dedes, hal tersebut digambarkan dari bentuk pola lantainya.

Saat tampil, formasi penari membentuk poros papat kiblat lima pancer dengan satu orang berada di tengah dan penari lain membentuk empat poros.

Empat poros melambangkan kekuatan dunia yakni api, air, udara, bumi, sedangkan satu orang di tengah sebagai pancer melambangkan bahwa sumber seluruh kekuatan berasal dari Pencipta.

Dari konsep bentuk ini, Ken Dedes dianggap cocok menjadi panutan para perempuan. Meskipun secantik dan semolek apapun ia tetap rendah diri dihadapan Sang Pencipta, namun dapat melahirkan pemimpin-pemimpin kerajaan. (sak/sumber: Kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Dibuka, Museum Sejarah & Budaya Unair

foto
Universitas Airlangga kini memiliki Musem Sejarah & Budaya. Foto: Unair News.

Museum Sejarah & Budaya Universitas Airlangga (Unair) Surabaya secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor III Prof Ir Moch Amin Alamsjah MSi PhD dan Direktur Sumber Daya Manusia Dr Purnawan Basundoro MHum, Kamis (1/12).

Diresmikannya Museum Sejarah & Budaya Unair ini menambah daftar museum yang ada di Unair. Museum Sejarah & Budaya Unair ini dikelola Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unair sebagai bagian dari pembelajaran akademik sekaligus wisata museum.

Nama ‘Museum Sejarah & Budaya’ seperti dirilis Unair News, diambil karena sebagai identitas sekaligus mewakili koleksi-koleksi yang ada di dalam museum yang merupakan warisan benda-benda sejarah dan budaya.

Dalam sambutanya, Prof Amin mengutip kata-kata Bung Karno ‘Jasmerah, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah’. Karena di dalam sejarah, terdapat peristiwa masa lalu yang dapat diterapkan sebagai pembelajaran di masa kini.

“Peresmian Museum Sejarah & Budaya ini mengingatkan kembali urgensi perkataan Presiden pertama RI Ir Soekarno yaitu Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah atau disingkat Jas Merah,” kata Prof Amin.

“Pembelajaran dari sejarah masa lalu salah satunya diwakili dengan keberadaan museum. Oleh karena itu harapannya, museum ini dapat menjadi media pembelajaran kita bersama untuk menjadi manusia yang lebih baik,” tambahnya.

Museum ini dibagi menjadi dua ruangan. Ruangan pertama berisi berbagai buku kuno dan arsip-arsip penting dalam penelitian sejarah. Bagian kedua berisi benda dan foto-foto lama yang merepresentasikan kegiatan sehari-hari manusia pada masa lalu, seperti proyektor kuno, keris, pedang, tombak, dan wayang.

Sebagian besar koleksi disumbangkan oleh pengelola Museum Kesehatan Surabaya dr Haryadi Suparto secara bertahap sejak tahun 2007.

Museum yang terletak bersebelahan dengan ruang Departemen Ilmu Sejarah ini memiliki total koleksi benda kuno sekitar 102 buah, arsip lebih dari 200 buah, dan beberapa jurnal serta majalah lama.

Peresmian museum juga dihadiri segenap pimpinan dekanat, kasubbag, ketua prodi dan sekretaris prodi di lingkungan FIB. Dengan hadirnya Museum Sejarah & Budaya di FIB ini, sekaligus sebagai media pembelajaran utama mata kuliah Museologi.

Sebelumnya di Unair, beberapa museum sudah lebih dulu berdiri, seperti Museum Etnografi (FISIP) dan Museum Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran (FK).

Museum Sejarah & Budaya ini terbuka untuk umum, khususnya mahasiswa Unair sebagai media belajar alternatif selain dari perpustakaan dan ruang koleksi yang terdapat di setiap fakultas dan prodi. (sak)

Sang Ksatrya Mahapurusha, Juara Naskah Wayang Airlangga

foto
Kisah Prabu Airlangga kini bisa disampaikan melalui wayang setelah ada lomba penulisan naskah wayang Airlangga. Foto: Humas Unair.

Naskah wayang berjudul “Sang Ksatrya Mahapurusa” karya Amri Bayu Saputra SSn terpilih sebagai yang terbaik atau juara I dalam Sayembara Penulisan Naskah Wayang Lakon Airlangga.

Sayembara terkait kisah Prabu Airlangga, Raja Kerajaan Kahuripan yang memerintah tahun 1009-1042 itu dilaksanakan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dalam memeriahkan peringatan Dies Natalis ke-62.

Pengumuman pemenang bersamaan dengan pementasan wayang kulit Airlangga dengan lakon “Airlangga Sumbaga Wiratama”, di halaman parkir Kampus B, Sabtu (19/11) malam.

Seperti dirilis Humas Unair, sayembara penulisan naskah wayang Airlangga dilaksanakan dalam rangkaian Festival Wayang Airlangga, dalam rangka Dies Natalis ke-62 Unair. Pagi hari sebelumnya diadakan seminar bertajuk ”Wayang Airlangga: Varian Baru dalam Jagat Pewayangan Indonesia” di Aula Siti Parwati FIB Unair.

Karena itu, sebelum pementasan “Airlangga Sumbaga Wiratama”, Rektor Unair Prof Dr Mohammad Nasih, SE MT Ak CMA langsung menyampaikan hadiah-hadiahnya kepada para pemenang sayembara penulisan naskah. Juara I sayembara ini memperoleh hadiah uang sebesar Rp 12 juta.

Dalam penilaian Dewan Juri yang diketuai Dr Sri Teddy Rusdy SH MHum antara nilai juara I dengan juara II hanya terpaut selisih nilai tipis sekali. Ini menunjukkan adanya kompetisi visi yang ketat.

Dari lima orang juri, Juara I mengumpulkan nilai 1.185. Sedangkan Juara II yang dimenangkan oleh Aneng Kiswantoro MSn memperoleh nilai 1180. Hanya berselisih 5 (lima) poin. Aneng Kiswantoro menulis naskah berjudul ”Sumilaking Medang Kahuripan”. Sedangkan juara III dimenangkan oleh Tatag Taufani Anwar dengan karya naskah berjudul “Airlangga Nurapati”.

Dengan demikian Amri, Juara I asal Kabupaten Sidoarjo ini, berhak atas hadiah uang sebesar Rp 12 juta. Sedangkan Juara II meraih hadiah uang sebesar Rp 10 juta, kemudian juara III menerima hadiah sebesar Rp 8 juta.

Menurut anggota dewan juri Dra Adi Setijowati MHum, yang juga Ketua Panitia Sayembara Penulisan Wayang Lakon Airlangga ini, sayembara ini diikuti 12 peserta dari berbagai daerah. Diantara peserta sayembara tersebut ada yang berprofessi sebagai dalang, seniman, sastrawan Jawa, serta peminat wayang.

Menurut kajian tim juri yang dipimpin Dr Sri Teddy Rusdy, keunggulan naskah Amri Bayu Saputra sebegai juara I karena beberapa pertimbangan. Misalnya, garapannya sederhana dan bertumpu pada pakeliran tradisi, kemudian ia menyertakan garapan sulukan wayang secara lengkap dengan partitur notasinya.

Amri juga menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Ia bahkan juga menyertakan gendhing-gendhing iringan wayang.

”Dengan dasar garapan tradisi tersebut memudahkan bagi siapapun pengrawit (niyaga) untuk dapat mengiringi bentuk pakeliran, selain itu garapan tradisi secara pakem jangkep juga memudahkan bagi siapapun untuk mempergelarkannya lakon ini,” demikian kesimpulan dewan juri.

Seperti diketahui, sebelum diadakan sayembara penulisan naskah wayang lakon Airlangga ini, panitia juga telah menyelenggarakan diskusi. Wacana dalam diskusi ini dimaksudkan untuk membekali para calon peserta sayembara dalam menuliskan naskahnya. Dalam diskusi itu menghadirkan arkeolog dan sejarawan dari UI dan Unair.

Peran Dalang Menentukan
Sebelumnya dalam seminar dengan tema “Wayang Airlangga: Varian Baru Dalam Jagat Pewayangan Indonesia” dibahas kisah Prabu Airlangga yang akan dimunculkan untuk mengisi jagat pewayangan tanah air. Selain Airlangga merupakan raja pembaharu yang mashur di abad 12, lakonnya diharapkan bisa memberikan pelajaran bagi generasi sekarang. Melalui seminar diharapkan generasi muda akan lebih memahami dunia pewayangan dan menghargai kesenian tradisi.

Pembuat Wayang Airlangga Dr Sri Teddy Rusdy, yang juga Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) DKI Jakarta itu mengungkapkan, selama ini, pewayangan Indonesia masih berkiblat pada kisah Ramayana. Hal itulah yang kemudian menjadi alasan baginya untuk memilih lakon Airlangga.

“Saya mulai berpikir, bahwa Indonesia ini luas dan memiliki banyak jagat lakon peradaban. Karena kecintaan pada almamater pertama saya, maka saya gunakan lakon Airlangga. Meski demikian lakon Airlangga ini untuk semua bangsa Indonesia,” jelasnya.

Hadir sebagai pembicara pertama, dalang kondang Sujiwo Tejo menjelaskan terkait fenomena generasi muda yang meninggalkan wayang. Baginya, bukan salah pemuda yang meninggalkan wayang, tapi peran dalanglah yang menjadi penentu wayang bisa diterima generasi muda.

Prof Kasidi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta lebih menyoroti beragam varian wayang yang telah meramaikan jagat nusantara. “Wayang itu diikuti oleh siklusnya. Varian baru itu muncul mengacu bahwa sebelumnya telah beredar wayang-wayang lainnya,” jelasnya.

Pemerhati keris dan batik Prof Bambang Tjahjadi memaparkan materi terkait keberlangsungan wayang Airlangga di masa mendatang. Baginya, keberlangsungan wayang Airlangga juga harus didukung banyak pihak, termasuk sivitas akademika Unair.

“Inti dari pelestarian adalah membangun komunitas. Kita harus bangun paguyuban. Kita lihat saja, kalau paguyuban jalan, wayang ini bakal lestari,” tegasnya. (ist)

Apakah Warisan Budaya Takbenda Itu?

foto
Kesenian Reog asal Ponorogo sudah menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang diakui UNESCO. Foto: Ponorogo.go.id.

Indonesia telah meratifikasi Convention for the Safeguarding of Intangible Cultural Heritage tahun 2003, yang disahkan melalui Peraturan Presiden No 78 Tahun 2007 tentang Pengesahan Convention for the Safeguarding of Intangible Cultural Heritage alias Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda.

Maka selain unsur budaya Indonesia dicatatkan maka perlu dilakukan penetapan. Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia adalah pemberian status Budaya Takbenda menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia Menteri Pendidikan dan Kebudayaan berdasarkan rekomendasi Tim Ahli Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Kegiatan penetapan ini dilakukan sebagai upaya melindungi Budaya Takbenda yang ada di wilayah Indonesia. Kegiatan penetapan melibatkan semua pihak seperti Pemerintah, Pemerintah Daerah, BPNB, dan stakeholder. Dengan demikian diharapkan kepedulian masyarakat akan pentingnya Pelestarian Warisan Budaya Takbenda Indonesia akan semakin meningkat.

Budaya Takbenda yang ditetapkan adalah yang ada di wilayah Indonesia sesuai Konvensi UNESCO Tahun 2003, yaitu tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda, yaitu seni pertunjukan; adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan; pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta; dan kemahiran kerajinan tradisional.

Pada kegiatan tahun 2016, pemerintah menaikkan target dari 120 karya budaya pada tahun 2015 menjadi 150 karya budaya untuk ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2016. Hasilnya pada tahun 2016 telah ditetapkan sebanyak 150 karya budaya menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Dalam Proses Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia dibentuk Tim Ahli Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang terdiri atas 15 orang yang ahli di bidang kebudayaan. Tim Ahli Warisan Budaya Takbenda Indonesia dibentuk dan ditetapkan Direktur Jenderal Kebudayaan.

Wewenang dari Tim Ahli Warisan Budaya Takbenda Indonesia antara lain melakukan kajian atas berkas yang diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat.

Kemudian menyusun dan menetapkan mekanisme kerja serta melakukan klasifikasi atas kriteria Warisan Budaya Takbenda Indonesia sesuai dengan pedoman pemerintah.

Juga meminta keterangan dari Balai Pelestarian Nilai Budaya, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat yang mendaftarkan budaya takbenda. Dan melakukan verifikasi budaya takbenda yang akan diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Terakhir merekomendasikan budaya takbenda yang memenuhi kriteria sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia kepada pejabat yang berwenang. Rekomendasi tersebut berpedoman pada sejumlah kriteria yang digunakan sebagai acuan dalam menetapkan suatu karya budaya menjadi warisan budaya takbenda, yaitu:

1. Merupakan identitas budaya dari satu atau lebih komunitas budaya.
2. Memiliki nilai-nilai budaya yang dapat meningkatkan kesadaran jatidiri dan persatuan bangsa.
3. Memiliki kekhasan/keunikan/langka dari suatu suku bangsa yang memperkuat jatidiri bangsa Indonesia dan merupakan bagian dari komunitas.
4. Merupakan living tradition dan memory collective berkaitan pelestarian alam, lingkungan dan berguna bagi manusia dan kehidupan.
5. Memberikan dampak sosial ekonomi dan budaya (multiplier effect).
6. Mendesak untuk dilestarikan (unsur/karya budaya dan pelaku) karena perisitwa alam, bencana alam, krisis sosial, krisis politik dan krisis ekonomi.
7. Menjadi sarana pembangunan berkelanjutan; menjadi penjamin untuk sustainable development.
8. Keberadaannya terancam punah.
9. Diprioritaskan di wilayah perbatasan dengan negara lain.
10. Rentan terhadap klaim Negara lain.
11. Sudah diwariskan lebih dari satu generasi.
12. Dimiliki seluas komunitas tertentu.
13. Tidak bertentangan dengan HAM dan konvensi-konvensi yang ada di dunia dan juga peraturan perundang-undangan Indonesia.
14. Mendukung keberagaman budaya dan lingkungan alam.
15. Berkaitan dengan konteks. (sak/sumber: Kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Warisan Budaya Takbenda Indonesia asal Jatim:

2013
Reog
Karapan Sapi
Sapi Sonok
Tari Gandrung
Tari Kentrung

2014
Wayang Topeng
Tumpeng Sewu
Syi’ir Madura
Kasada
Ludruk
Jaran Bodhag
Dongkrek

2015
Larung Sembonyo
Singo Ulung
Wayang Beber
Tanean Lanjang

2016
Entas-Entas Tengger
Keboan-Aliyan Osing
Mecak-Tengger
Jaran Kecak
Wayang Krucil
Lodho

Sejarah Pawukon, Sistem Penanggalan Tradisional (2)

foto
Pawukon dikenal di Indonesia sebelum pengaruh dari budaya dan agama. Foto: Kebudayaan.kemdikbud.go.id.

Para pakar Pawukon menjelaskan bahwa Pawukon dikenal di Indonesia semenjak era kabuyutan atau sebelum pengaruh dari budaya dan agama yang datang dari luar. Data-data arkeologis menunjukkan bahwa Pawukon telah dipergunakan oleh masyarakat Indonesia pada abad ke IX yang sebagaimana termuat dalam prasasti Lintakan.

Selain data-data arkeologis, Pawukon juga dijumpai pada sungging (seni lukis tradisional), seni pahat (arca dan ukiran), seni sastra, dan lain sebagainya. Pustaka Raja Parwa dengan jelas memaparkan bahwa dasar penentuan Pawukon merujuk pada “Bintang Banyak Angrem” (Scorpio) yang disimbolkan Angsa, dan “Bintang Wedus Pedro” (Aries) yang disimbolkan Domba.

Penenentuan dasarini dapat dibaca dari kiasan “Dewi Sinta” (simbol bumi) yang keluar dari tanah agar dapat bertemu dengan Begawan Wrahaspati (simbol Yupiter) dengan cara memasak mencampurkan (mengandung makna pertemuan) daging Wedus Pedro (Domba=Taurus) dan daging Banyak Angrem (Angsa=Aries).

Pertemuan dua rasi bintang tersebut dapat terjadi setelah melalui tujuh rasi atau ruangan dimana setiap ruangan memiliki sudut 30 derajat dan setiap ruangan memiliki usia 2156 tahun. Oleh karena itu pertemuan tersebut hanya terjadi selama 2156 tahun x 7 ruangan yaitu: 15092 tahun sekali.

Dalam peristiwa pertemuan dua rasi Bintang Banyak Angrem (Scorpio) dan Bintang Wedus Pedro (Aries) telah terjadi pada tahun 108 sebelum masehi.

Keberadaan penanggalan di Indonesia sudah sangat tua dan telah berkembang pada era Prasejarah dimana dapat dilihat dari berdirinya batu-batu menhir sebagai penentu arah angin dan penentuan musim.

Data cukup jelas tentang keberadaan Pawukon telah berkembang dengan baik pada era Mataram Kuna. Prasasti Lintakan yang berangka tahun 841 Saka (919 Masehi) menerangkan pada waktu itu Pawukon sebagai penanggalan telah digunakan sebagai dasar perhitungan waktu penyelengaraan upacara ruwatan (upacara penolak bala) para raja.

Pawukon juga dijumpai pada prasasti Wanua (abad ke-9); prasasti Watu Kura di Prambanan Jawa Tengah (abad ke-10); prasasti Sirah Keteng di Wengker Jawa Timur (abad ke-12).

Data arkeologis yang dengan jelas yang menunjukkan keberadaan Pawukon digunakan sebagai dasar penanggalan untuk penentuan hari upacara kematian terdapat pada Prasasti yang ditemukan di situs percandi Singosari (abad ke-XIII) yang kini tersimpan di Museum Nasional dengan nomer registrasi D.111 yang berisi:

Isaka 1213 diestamangsa irakata diwasane kamoktan Paduka Batara San Lumah Siwah Budha, Swasti Sri Sakawarsatita 1273 waisaka mangsa titi pratipa de suklopaksa ha pa ba wara tolu…… Irakata diwasane Sang Maha Mantri Mukya Rakyan Mapatih Mpu Mada Saksat pranalakta de Batara sapta Prabu makadi Sri Tri Buawana Tungga Dewi Maharajasa Jayawisnuwardani.

Yang artinya: Pada tahun 1213 Saka bulan ke sebelas pada waktu itu moksanya batara (Kertanegara) yang dimakamkan di Siwah Buda (pecandian). Selamat, nyatanya pada tahun 1273 Saka hari Rabu Pon Wuku Tolu, posisi wuku ada di barat daya Sang Batara di Candikan……..Pada saat upacara itu Sang Perdana Menteri Rakyan Mahapatih Mpu Mada bagaikan mandhala Dewa Siwa yang menguasai keagungan sebagaimana ditampakkan pada Sri Tri Buawana Tungga Dewi Maharajasa Jaya Wisnu Wardani.

Prasasti tersebut dengan jelas menerangkan tentang keberadaan Pawukon sebagai penanggalan untuk menandai suatu peristiwa upacara perabuan raja, yaitu pada hari Rabu Pon Wuku Tolu.

Ritus-ritus penerapan Pawukon juga tertera pada relief-relief candi, antara lain pada relief Candi Sukuh (abad XIII). Relief Candi Sukuh menceritakan tentang kisah Sudamala yang inti ceritanya berupa upacara ruwatan untuk penolak bala.

Konsep ruwatan Sudamala merujuk pada perhitungan pancasuda atau watak yang melekat pada seseorang semenjak lahir yang tertera dengan jelas dalam perhitungan Pawukon.

Dikisahkan Dewi Kunthi kerawuhan (dirasuki) Batari Durga (Simbol perusak/kejahatan), sehingga untuk mendapatkan kesuciannya kemudian diruwat oleh Raden Sahadewa. Dalam mensucikan Dewi Kunthi dari pengaruh Betari Durga tersebut, Raden Sahadewa membacakan mantra “Kala Cakra atau Satra Binedati”.

Mantra yang isinya menjaga keselarasan alam semesta, penolak bala, dan diantaranya juga menyebutkan kedudukan arah wuku, yaitu delapan arah mata angin yang merupakan formasi pensucian Prabu Watugunung, sehingga tidak dapat ditembus oleh Sang Kala atau segala keburukan dan marabahaya.

Dimana tujuan ruwatan didalam relief candi tersebut untuk menjaga segala keselarasan hidup di alam semesta (baik yang tampak ataupun yang tidak tampak) dan menjauhkan dari segala bala. Mantra-mantra ruwatan antara lain Kala Cakra disebut di dalam prasasti Kala Mercu (abad X).

Profesi juru ruwat atau ahli meruwat sebagai dasar bahwa Pawukon telah dipergunakan secara populer pada era Mataram Kuna, terbukti keberadaan ahli ruwat Pawukon telah tertera dalam prasasti Lintakan yang berangka tahun 841 Saka (919 Masehi) yang disebutkan “Juruning maruwat aji” yang artinya seorang juru ruwat raja atau pemimpin.

Selain kisah Sudamala, pada sisi barat relief Candi Sukuh juga menampilan kisah Bima Suci. Cerita Bima Suci menisahkan perjuangan Bima dalam membebaskan orang tuanya, yaitu Prabu Pandu Dewanata dari siksa Kawah Candradimuka (Yamani) yang mencerminkan simbol penyiksaan di alam Karmapala.

Kisah pensucian melalui ruwatan yang mengacu pada Pawukon juga dijumpai pada cerita Bima Suci yang tertera pada relief Candi Cetha di lereng barat Gunung Lawu. Dikisahkan Bima mencari tirta (air suci) guna membebaskan dirinya dari kebodohan tentang pemahaman ketuhanan.

Dalam perjalanannya ditengah samudera Bima bertemu Dewa Ruci (simbol guru sejati) sehingga dapat memeperoleh pencerahan pemahaman ilmu spiritual mengenai sangkan paraning dumadidan manunggaling kawula gusti (dari mana dan akankemana kita kembali, serta menyatunya hamba dan Tuhannya).

Selain itu ruwatan juga dijumpai pada relief candi Panataran. Relief kisah Garudeya yang membebaskan Dewi Kadru dari perbudakan ular-ular putra Dewi Tara. Kisah pembebasan perbudakan Dewi Kadru ini juga mencerminkan pensucian melalui ruwatan yang mengacu pada Pawukon.

Pustaka Raja Parwa dan Suluk Tambang Raras (abad XVIII) menjelaskan bahwa Pawukon juga digunakan sebagaidasar perhitungan mengenai pranata mangsa. Pranata mangsa di Jawa-Bali dibagi dalam dua belas mangsa. Pranata mangsa kasa atau mangsa pertama dimulai pada tanggal 23 Juni dalam kalender masehi.

Tiap-tiap mangsa menandai perubahan pembawaan iklim atau cuaca sehingga mempengaruhi aktifitas kehidupan sehari-hari, sifat dan karakter bayi yang terlahir, perilaku fauna, pertumbuhan flora dan lain sebagainya. Keberadaan inilah yang kemudian menjadi pranata mangsa menjadi dasar dalam beratifitas hidup pada tiap-tiap mangsa. (ist/sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Tulisan pertama