Tari Gandrung Banyuwangi Go International

foto
Tari Gandrung Banyuwangi diundang tampil di AS. Foto: Detikcom/Ardian Fanani.

Tarian khas Banyuwangi, Tari Gandrung, kembali mencuri perhatian dunia. Tari Gandrung mendapat kehormatan tampil di Chicago, Amerika Serikat (AS) pada 7 Juli mendatang.

Aksi tari itu bakal disaksikan 2.000 pengunjung dari kalangan pengusaha maupun masyarakat Chicago dan 13 negara bagian di wilayah kerja Konsulat Jenderal Republik Indonesia seperti Kentucky, Illinois, dan Minnesota.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, seperti dikutip Detikcom, bersyukur anak-anak muda pencinta seni-budaya terus mendapat kesempatan tampil di publik nasional dan internasional setelah geliat mereka didorong melalui beragam penyelenggaraan festival.

Sebelumnya, tarian khas ini telah berkali-kali diundang manggung dalam berbagai acara nasional dan internasional, antara lain dalam acara kenegaraan di Istana Negara dan acara kebudayaan di Jerman, Malaysia, Prancis, Hongkong, Brunei Darussalam, serta Jepang.

“Penampilan Tari Gandrung di Amerika Serikat adalah kehormatan dan kebanggaan bagi Banyuwangi. Ini merupakan apresiasi yang tinggi dari pemerintah pusat dan dunia terhadap seni-budaya Banyuwangi. Dan jadi pelecut semangat semua untuk terus menjaga dan mengeksplorasi potensi-potensi seni-budaya yang kita punya,” ujar Anas kepada wartawan, akhie pekan lalu.

Di AS, Tari Gandrung tampil di ajang Remarkable Indonesia Fair (RIF) 2018 di Chicago. Acara yang didukung Kementerian Luar Negeri itu digelar untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dan dunia usaha Amerika Serikat terhadap Indonesia.

“Ini merupakan momentum yang baik untuk memperkenalkan segala potensi Banyuwangi kepada publik Amerika Serikat. Selain ragam seni-budaya, kita juga akan semaksimal mungkin mempromosikan beragam produk unggulan, ada batik, handicraft, kuliner, dan pesona alam yang indah seperti fenomena api biru atau blue flames di Kawah Ijen,” ujarnya.

Selain itu, Banyuwangi bakal mempromosikan sejumlah atraksi wisata, mulai karnaval etnik, festival tari, dan sport tourism seperti selancar, trail run, hingga balap sepeda.

“Aksesibilitas ke Banyuwangi juga semakin nyaman. Hotel-hotel terus tumbuh. Semoga aksi Tari Gandrung bisa membawa berkah kunjungan turis AS ke Banyuwangi,” imbuhnya.

Tari Gandrung sendiri telah ditetapkan sebagai ‘Warisan Budaya Bukan Benda’ oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2013 lalu.

Untuk meregenerasi para pelaku seni Tari Gandrung sekaligus menjadikannya sebagai atraksi wisata, Pemkab Banyuwangi setiap tahun menggelar atraksi kolosal Festival Gandrung Sewu. Lebih dari seribu penari Gandrung tampil dalam acara yang selalu digelar di bibir pantai tersebut.

“Tahun ini Festival Gandrung Sewu akan digelar pada 20 Oktober. Aksi kolosal tari gandrung ini selalu ditunggu-tunggu wisatawan,” imbuh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi MY Bramuda. (dtc)

Mahasiswa Teliti Kerentanan Gempa Candi Borobudur

foto
Mahasiswa UGM meneliti kerentanan gempa pada Candi Borobudur. Foto: Humas UGM.

Tiga orang mahasiswa Geofisika UGM, yakni Reymon Agra Medika (Geofisika 2014), Zukhruf Delva Jannet (Geofisika 2014), dan Yosua Alfontius (Geofisika 2015) melaksanakan penelitian kerentanan gempa pada bangunan Candi Borobudur.

Proses akuisisi data pada bangunan Candi Borobudur dilakukan selama 5 hari, yaitu 3 – 7 Juni 2018, bekerja sama dengan Balai Konservasi Borobudur (BKB) Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Reymon selaku ketua tim PKM mengatakan penelitian ini merupakan salah satu upaya pelestarian Candi Borobudur yang merupakan situs warisan dunia.

Menurutnya, candi Borobudur terletak pada zona rawan gempa tektonik yang diakibatkan oleh subduksi lempeng Samudera Indo-Australia terhadap lempeng Benua Eurasia yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa.

“Terbentuknya struktur geologi yang berada di sekitar Candi Borobudur, seperti Sesar Progo yang merupakan sesar aktif dan dapat memberikan dampak buruk terhadap bangunan candi apabila terjadi pergeseran yang menimbulkan gempa bumi,” kata Reymon kepada wartawan, beberapa waktu lalu.

Menurut sejarah, kata Reymon, candi Borobudur telah beberapa kali mendapat dampak buruk dari gempa bumi yaitu berupa guncangan yang mengakibatkan runtuhnya beberapa bagian candi.

Penelitian yang mereka lakukan, tambah Reymon, dapat mengetahui nilai kerentanan gempa pada setiap lantai bangunan candi dengan menggunakan metode Mikroseismik. Metode ini mengukur getaran alami yang ada pada setiap lantai bangunan candi dengan alat seismometer.

“Data getaran dari metode ini kemudian dilakukan pengolahan untuk mendapatkan nilai amplifikasi dan frekuensi natural yang kemudian digunakan untuk analisis kerentanan gempa pada bangunan candi”, jelas Reymon, seperti dirilis Humas UGM..

Penelitian yang didanai oleh Direktorat Pendidikan Tinggi, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan untuk Program Kreativitas Mahasiswa (PKM-PE) ini diharapkan dalam waktu dekat dapat menghasilkan gambaran mengenai nilai kerentanan gempa pada masing-masing sisi bangunan candi.

“Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk tindak lanjut ke depan guna melakukan penguatan bangunan candi dengan analisis konstruksi bangunan candi,” katanya.

Selama melaksanakan proses penelitian, kata Reymon, mereka juga mendapat bantuan tim akuisisi data dari anggota tim Himpunan Mahasiswa Geofisika (HMGF UGM) beberapa diantaranya adalah Alan Yudha, Rahadi Selo, Oktavianus Eko, Jum Satriani, dan Ulya Habiburrahman. (ist)

Menebar Cinta Lewat Berbagai Kisah Panji

foto
Penari tengah menarikan kisah Panji. Foto: Galamedianews.com.

Inilah persahabatan antar Negara yang memberi warna dan menjadi inspirasi tanpa batas bagi para pelaku seni. Persahabatan indah penuh cinta, melalui kidung, tarian, dan cengkrama dengan kegembiraan hati.

Semiloka (Seminar Lokakarya) Festival International Panji (Inao) Indonesia 2018 memberi pesan ‘cinta.’ Cinta dalam konteks filosofis, yang mewarisi semua kebaikan; empati, dan kasih.

“Hari ini saya merasa berbangga. Sebab semua orang turut berpartisipasi. Sangat eager (berhasrat), sangat senang. Larut dalam emosi dan afeksi, melahirkan perenungan yang mendalam. Melalui kegiatan ini mudah-mudah kita dapat menunjukkan perasaan ”Love”; percintaan yang sesungguhnya,” ujar Prof Dr I Made Bandem MA kepada galamedianews.com, usai memberi materi pelatihan, di Gedung Ksirarnawa Art Center, Denpasar Bali, pekan lalu.

Semua ini terjadi, lanjut Bandem, didasarkan atas kesamaan budaya. Di Asia Tenggara ini, kesenian apapun, apalagi kesenian yang diikat dengan cerita Panji, memiliki persamaan. “Kita memiliki common ground; platform yang sama dalam soal ini. Termasuk juga berbagai aspek budaya lainnya,” papar seniman, budayawan, dan pengajar seni asal Bali ini,” katanya.

Seperti dilaporkan Galamedianews.com, selain Bandem, tampil nara sumber lain, yaitu Prof Dr I Wayan Dibia SST MA dan inisiator festival, Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro. Bertindak sebagai moderator Dr I Nyoman Astita MA dan Dr I Komang Sudirga MHum.

Semiloka atau workshop ini diikuti para penggiat budaya, seniman, guru, dosen, pelajar, mahasiswa, dan delegasikesenian dari tiga Negara; Indonesia, Thailand, dan Kamboja.

Turut serta juga Kasubdit Seni Pertunjukan Ditkes Ditjen Kebudayaan Kemdikbud, Edi Irawan dan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Drs Dewa Putu Beratha MSi serta pejabat lainnya.

Gelar karya para delegasi kesenian dari Indonesia, Thailand, dan Kamboja yang digelar malam sebelumnya, sangat menarik. Hal ini mendorong para pakar yang menjadi narasumber semiloka mendiskusikan pertunjukan tersebut. Filosofi gerak dan instrumen musik menjadi content paling banyak dipersoalkan.

Selain itu, menari bersama menjadi ritual paling menarik, yang diikuti semua delegasi dari tiga Negara. Bandem, antara lain mengutarakan apa yang dinamakan Ansambel Piphat di Thailand, memiliki instrumen serupa dengan Gamelan di Bali, Jawa dan Sunda.

“Bahkan sejarah Gamelan yang dinamakan Piphat itu, seperti The Ranat Ek dan Ranat Ek Lek dan Ranat Thum Lek, Khong Wong Lek and Khong Wong Yai, Taphon (Drumm), GrajaBpI dan Serunai (trompet), mereka mengatakan bahwa Gamelan seperti ini adalah pengaruh dari Jawa,” ujarnya.

Dalam perspektif lain, kata Bandem, ada juga yang mengatakan bahwa Gamelan (Gong) merupakan pengaruh budaya Melayu kuno. Tetapi kemudian karya ini lebih disempurnakan menjadi Gamelan yang lengkap di Jawa, Bali dan Sunda.

“Selanjutnya menyebar ke Thailand, Kamboja, dan Negara Asia Tenggara lainnya. Bahkan masyarakat dunia sekarang terpengaruh oleh Gamelan kita,” ujar Bandem.

Saat ini di Amerika Serikat, kata Bandem, ada lebih dari 300 Gamelan Indonesia (baca: Jawa, Bali dan Sunda). Di Inggris juga ada lebih 100 Gamelan. Bahkan Gamelan Indonesia juga ada di Australia dan Jepang.

“Hal ini yang mengikat kita sebagai bangsa. Khususnya bangsa Asia Tenggara, satu rumpun budaya Melayu kuno. Maka itulah kita bangga sekali,” ujar Bandem.

Cerita Panji kini menjadi common heritage atau warisan bersama dari ASEAN. Cerita Panji muncul di Kediri Jawa Timur, seputar abad XIII, pada masa Kerajaan Singasari atau Kerajaan Majapahit. Sejak itu cerita Panji berkembang, menyebar ke berbagai daerah di Jawa dan luar Jawa, sampai ke wilayah-wilayah di semenanjung Asia Tenggara.

Cerita Panji di Thailand dan Kamboja banyak dipengaruhi berbagai cerita Panji berbasis karya sastra Melayu. Cerita Panji bukan cerita fiksi murni, tetapi juga terinspirasi berbagai peristiwa sejarah yang melibatkan para bangsawan di beberapa kerajaan sebelumnya. Cerita Panji sebagian dipengaruhi mitos dan legenda yang diyakini masyarakat pada masanya.

“Apapun versinya, cerita Panji mengandung berbagai pesan nilai (moral) dan potensi dramatik (seni). Menjadi sumber kreatif para seniman dalam berkarya, baik seni sastra maupun seni pertunjukan,” ujar Bandem. (ist)

Tari Seblang Olehsari Simbolisasi ’Dewi Kesuburan’

foto
Sebagian ritual dalam Tari Seblang Olehsari di Desa Olehsari, Glagah, Banyuwangi. Foto: Dok PKM-PSH.

Kabupaten Banyuwangi merupakan saksi bisu kejayaan bumi Blambangan yang terkenal dengan kesuburan tanah dan hasil bumi yang berlimpah.

Namun setelah ditelusuri berdasarkan data ketersediaan pangan di Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Banyuwangi, dari 24 kecamatan yang ada, terdapat dua kecamatan yang masuk dalam status waspada rawan pangan, yaitu: Kecamatan Kalibaru dan Kecamatan Glagah, yang rasio ketersediaan pangannya hanya berkisar 1,5% dari total kebutuhan.

Disisi lain, Banyuwangi dikenal sebagai daerah pariwisata dengan tradisi yang melimpah. Salah satu tradisi adat yang masih dipegang teguh dan dijaga kelestariannya adalah Tradisi Seblang. Berdasarkan pada lokasinya, Seblang dibagi menjadi dua jenis, Seblang Olehsari dan Seblang Bakungan. Keduanya masuk wilayah Kecamatan Glagah.

Seblang Olehsari diperankan oleh penari yang masih muda (remaja putri), sedangkan Seblang Bakungan diperankan oleh penari wanita yang sudah menginjak usia lanjut. Tradisi Seblang Olehsari merupakan tradisi yang berasal dari leluhur sebagai manifestasi rasa syukur atas hilangnya wabah pageblug di Desa Olehsari.

Pageblug dimaknai sebagai kejadian wabah penyakit diare dan muntah ganas. Adanya pageblug itu menjadikan pagi sakit, sore meninggal. Atau sore sakit, pagi meninggal. Selain itu juga gagal panen akibat serangan hama pertanian sehingga ketiadaan bahan pangan. Kondisi ini terjadi sekitar tahun 1930-an.

Kisah demikian menarik perhatian mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) untuk meneliti tradisi ini yang memiliki potensi sebagai wadah intervensi pencegahan kerawanan pangan.

Tetapi seiring modernisasi zaman, dimungkinkan terjadi perbedaan cara pandang antara generasi dahulu dan sekarang terhadap makna tradisi Seblang Olehsari, untuk itulah dibutuhkan penelitian awal untuk menentukan langkah intervensi yang tepat.

Dengan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Sosial Humaniora (PKM-PSH), Tim Prodi Kesehatan Masyarakat PSDKU Unair di Banyuwangi, berhasil menyusun penelitian berjudul “Studi Perubahan Cara Pandang Antargenerasi Masyarakat Olehsari dalam Melihat Tradisi Seblang Sebagai Upaya Pencegahan Kerawanan Pangan: Studi Awal Untuk Merancang Intervensi”.

Proposal tim yang diketuai Meirina Hapsah dengan anggota Siti Mufaidah dan Inriza Yuliandari ini berhasil lolos dan memperoleh pendanaan Kemenristekdikti dalam program PKM 2018.

“Seblang konon disingkat dari kata pating dan geblug yang berarti ‘banyak jatuh’. Tradisi ini merupakan bentuk upaya tradisional yang dilakukan masyarakat Desa Olehsari untuk mencegah terulangnya wabah pageblug tersebut,” ujar Meirina Hapsah, ketua Tim PKM-PSH dari PSDKU, melalui rilis PIH Unair.

Tradisi Seblang Olehsari sudah ada sebelum kerajaan Blambangan, yang sebelumnya bernama Sahyangwidari sebagai tradisi umat Hindu dalam melambangkan kesuburan, kemudian dikembangkan oleh Wali Songo menjadi tradisi bernama Seblang di Olehsari. Dan putri sayu, Wiwit, pahlawan Blambangan, selalu menari Seblang sebelum mengawali perang.

Penari Seblang Olehsari ini diwariskan turun temurun dari garis keturunan Ibu, ditunjuk oleh roh leluhur dan menari dalam keadaan tidak sadar (Trans) selama 7 hari di bulan Syawal.

Sebelum digelar Tradisi Seblang Olehsari, keluarga penari mengadakan selamatan dengan member sesaji di empat penjuru untuk mengundang leluhur agar hadir dalam perayaan Tradisi Seblang Olehsari. Gendhing musiknya menceritakan sejarah kerajaan Blambangan.

“Payung agung pada Tradisi Seblang Olehsari menggambarkan kebanggaan identitas, meskipun masyarakat (suku) Osing sudah tergeser ke gunung-gunung, namun masih berkuasa di bumi Blambangan,” tambah Meirina.

Kaitannya dengan kerawanan pangan, penari Seblang Olehsari merupakan penggambaran “Dewi Kesuburan” bagi masyarakat Desa Olehsari. Dalam kepercayaan mereka, dengan dilaksanakan tradisi seblang ini dapat memberikan rasa aman, keselamatan, perlindungan, kesehatan, rejeki, kesuburan dan hasil panen yang melimpah.

Dalam gendhing Tradisi Seblang Olehsari terdapat anjuran untuk bercocok tanam, digambarkan melalui lirik ”Lare angon, gumuk iku paculono, sun tanduri kacang lanjaran” yang artinya “Para penggembala, cangkullah bukit itu. Akan aku tanami kacang panjang (lanjaran).”

Parabungkil merupakan salah satu syarat yang harus ada dalam Tradisi Seblang Olehsari untuk menggambarkan hasil pertanian disana. Parabungkil itu terdiri dari berbagai macam buah, sayur dan ubi-ubian yang menggambarkan keanekaragaman pangan di desa Olehsari.

Kemudian juga Kembang mongso merupakan bagian dari kembang dirmo pada Tradisi Seblang Olehsari. Mongso artinya musim yang menggambarkan adanya anjuran untuk membaca musim sebelum bertani. “Studi ini masih akan berlanjut pada penelitian kuantitatif,” tambah Meirina. (ita)

Ditemukan Arca Dewa Brahma di Trenggalek

foto
Seorang warga Trenggalek temukan arca Dewa Brahma. Foto: Detikcom/Adhar Muttaqin.com.

Seorang warga di Trenggalek menemukan arca Dewa Brahma diduga peninggalan masa Kerajaan Majapahit yang tertanam di depan rumahnya. Selain arca, di sekitar lokasi juga banyak ditemukan tumpukan batu bata berukuran besar.

Warga yang menemukan arca adalah Saifudin (29) warga Desa Gondang, Kecamatan Tugu, Trenggalek. Arca yang terbuat dari batu padas memiliki tinggi 60 cm itu ditemukan secara tak sengaja, saat meratakan halaman.

“Niatnya itu saya mau meratakan halaman, karena banyak batu-batuan itu. Nah pada saat itu awalnya saya kira akar pohon, tapi setelah saya coba gali pakai linggis ternyata keras,” kata Saifudin kepada detikcom di rumahnya, beberapa waktu lalu.

Mengetahui hal tersebut dia melakukan penggalian hingga kedalaman 30 cm dari permukaan tanah. Dari situlah diketahui benda tersebut adalah sebuah arca yang masih relatif utuh, dengan posisi terbaring kearah barat dengan posisi kepala mengharap ke utara.

Temuan arca tersebut kini menjadi tontonan warga sekitar. Warga penasaran dengan penemuan benda yang diduga merupakan peninggalan msa kerajaan.

Sementara Kasi Pelestarian Sejarah Tradisi dan Cagar Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparibud) Trenggalek, Agus Prasmono, mengatakan dari pengamatan awal arca yang ditemukan Saifudin tersebut adalah jenis Dewa Brahma yang merupakan peninggalan masa Kerajaan Majapahit.

“Kalau sekilas kami amati, ini kemungkinan Dewa Brahma, tingginya 60 cm. Arca ini bentuknya masih cukup bagus dan reltif masih utuh,” kata Agus.

Menurutnya, keberadaan arca tersebut cukup mengejutkan, karena selama ini penemuan benda-benda peninggalan kerajaan itu rata-rata ditemukan di wilayah Kamulan dan sekitarnya. Sedangkan kali ini ditemukan di sisi barat Trenggalek atau Kecamatan Tugu.

Selain arca Dewa Brahma, warga setempat juga menemukan potongan arca nandi atau sapi. Potongan tersebut ditemukan sejak beberapa tahun yang lalu, dengan lokasi yang tidak jauh dari lokasi penemuan arca Brahma.

Saat ini kedua arca tersebut diamankan di rumah warga, sambil menunggu proses penyelidikan dan penelitian lebih lanjut dari ahli benda-benda bersejarah. (dtc)

Empat Tarian Indonesia Ikut Festival di Inggris

foto
Gelar Pamit “SMA Al- Izhar Goes to International Folklore Competition. Foto: Istimewa.

Tim misi budaya Al-Izhar Pondok Labu Jakarta, yang didukung Kementerian Pariwisata, akan menampilkan empat tarian di ajang festival budaya antar bangsa Llagollen International Musical Eisteddfod di Wales, Inggris pada 3-8 Juli 2018 mendatang.

Empat tarian yang ditampilkan adalah Tari Kipah dari Aceh, Tari Belibis dari Bali, Tari Muda Mudi dari Papua, dan Tari Nagekeo Bangkit dari Flores- Nusa Tenggara Timur.

Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata, Guntur Sakti mengatakan dipilihnya empat tarian ini untuk dilombakan bukan tanpa alasan. Apalagi, ajang festival budaya ini akan diikuti lebih dari 5.000 penyanyi, penari, dan pemusik dari sekitar 50 negara.

“Untuk berkompetisi di tingkat global, tim Al-Izhar sudah mempersiapkan semuanya sesuai standar global. Tim ini sudah terkurasi dengan baik, dari kostumnya, koreografinya, musiknya, dan kerja sama dalam penampilan di event nanti,” kata Guntur Sakti dalam sambutannya pada Gelar Pamit “SMA Al- Izhar Goes to International Folklore Competition di Jakarta, Sabtu (23/6).

Untuk kategori tari tradisional pihak Llagollen International Musical Eisteddfod memberikan sejumlah ketentuan antara lain orisinalitas, koreografi tidak boleh jauh dari budaya asli, serta ada lagu yang dinyanyikan oleh penari.

Tari Kipah dari Aceh yang menggambarkan kerja sama dalam masyarakat ini, memiliki gerakan dinamis serta menggunakan kipas sebagai properti untuk menghasilkan suara-suara unik dalam penampilannya.

Tari Belibis dari Bali mengisahkan Prabu Angling Drama yang dikutuk menjadi burung Belibis. Tarian Belibis menampilkan gerakan yang dinamis dan harmonis dengan gamelan sebagai pengiring.

Tarian Muda-Mudi Papua yang menjadi salah satu unggulan dalam festival nanti merupakan tarian kelompok yang menggambarkan persahabatan, khususnya di kalangan remaja laki-laki dan perempuan.

Tarian Nagekeo Bangkit dari Flores NTT menampilkan gerakan feminin dan dinamis, serta menceritakan tentang solidaritas dan persatuan.

Penata tari dari Sanggar Gema Citra Nusantara, Mira Arismunandar mengatakan pemilihan lima tarian ini berdasarkan riset dan konsultasi sebelumnya dengan para pakar.

“Tarian ini dibuat tidak dikarang atau dibuat asal-asalan. Sebelum diajarkan kepada para siswa Al-Izhar, kami melakukan riset terlebih dahulu dan mengkonsultasikan gerakan bersama pakarnya,” ujar Mira Arismunandar.

Direktur Utama Al Izhar, Aniyani Arifin menjelaskan keberangkatan tim yang terdiri dari siswa ini ke festival budaya antarbangsa Llagollen International Musical Eisteddfod bukan hanya untuk berlomba tetapi juga merupakan penanaman kecintaan terhadap budaya nusantara.

“Lewat pegelaran tari tersebut, siswa-siswi akan membawa harum nama Indonesia ke luar,” kata Arniyani.

Diharapkan keterlibatan Indonesia dalam festival dunia ini akan memberi dampak yang baik untuk semua sektor, termasuk pariwisata. Dimana budaya Indonesia dapat semakin mendunia dan dikenal sehingga menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia. (sak)

Artefak Menakjubkan dari Bangkai Kapal Laut Jawa

foto
Model bangkai kapal laut Jawa dimasa kejayaannya. Foto: The Field Museum/John Weinstein.

Menurut sebuah penelitian baru dari sebuah bangkai kapal laut jawa yang ditemukan oleh nelayan pada tahun 1980-an adalah sebuah kapal dagang yang diduga telah tenggelam pada akhir tahun 1200-an lebih mungkin tenggelam pada paruh kedua tahun 1100-an.

Salah satu kunci yang menunjukkan bahwa bangkai kapal laut jawa tersebut berasal dari tahun tersebut adalah adanya tulisan dibagian bawah kotak keramik yang ditemukan di dalam reruntuhan.

Seperti ditulis Blog Mahessa83, prasasti itu menyebutkan Jianning Fu, sebuah wilayah administratif di China selatan yang hanya digunakan dari tahun 1162 hingga 1278 dan setelah tahun 1278, wilayah ini diubah menjadi Jianning Lu.

Sebuah mangkuk keramik berglasir memberikan petunjuk lain bahwa Bangkai Kapal Laut Jawa yang karam lebih awal dari yang diyakini sebelumnya. Mangkuk jenis ini juga ditemukan di Sarawak, Malaysia yang berasal dari suatu tempat dari abad ke-10 hingga abad ke-12.

Beberapa mangkuk keramik Cina dari Bangkai Kapal Laut Jawa kini telah dibersihkan dan dimiliki oleh Field Museum. Untuk langkah berikutnya para peneliti akan menganalisis unsur-unsur dalam keramik untuk membandingkannya dengan situs arkeologi di China.

Tujuannya adalah untuk mengetahui dimana keramik-keramik ini di produksi dan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang jaringan perdagangan yang menghubungkannya dengan Asia Tenggara pada tahun 1100-an.

Dengan menggunakan metode mutakhir, para peneliti radiokarbon yang dilakukan pada resin aromatik yang ditemukan di kargo kapal karam.

Ketika kulit luar yang mengkilap terkelupas, resin berwarna gelap ditemukan dibawahnya masih menyimpan bau yang samar bahkan setelah berabad-abad tenggelam. Penanggalan radiokarbon memberikan bukti lebih lanjut bahwa bangkai kapal laut Jawa tenggelam sebelum tahun 1200-an.

Diantara muatan yang terdapat di Bangkal Kapal Laut Jawa ini ada sekitar 16 buah gading gajah yang dua diantaranya telah di uji radiokarbon.

Tanggal-tanggal pada gading gajah ini juga menunjukkan waktu yang lebih awal untuk kapal yang karam ini. Para peneliti juga berencana akan menguji urutan DNA gading gajah untuk mencari tahu dari mana artefak ini berasal.

Beberapa dari banyak mangkuk keramik yang ditemukan di Bangkai Kapal Laut Jawa di foto di dasar lautan. Bangkai kapal ini diselamatkan pada tahun 1996 oleh perusahaan swasta Pasific Sea Resources.

Perusahaan di diwajibkan untuk menyerahkan setengah artefak yang terdapat pada bangkai kapal kepada pemerintah Indonesia. Sementara setengahnya lagi secara suka rela disumbangkan ke Chicago’s Field Museum untuk memberikan tampilan yang lebih lengkap pada kecelakaan dari era Asia Tenggara.

Sementara tempat penyimpanan yang ditemukan di Bangkai Kapal Laut Jawa seperti Guci pada gambar di atas, menyimpan barang-barang yang mudah rusak seperti acar sayuran, rempah-rempah, daun teh atau kecap ikan.

Selain keramik, barang tahan lama yang terdapat di bangkai kapal adalah gading gajah dan resin. Bangkai Kapal Laut Jawa juga membawa sekitar 200 ton barang besi cor. (ist)

Festival Panji Jelajahi Delapan Kota

foto
Lakon Panji versi luar tengah dimainnkan. Foto: Istimewa.

Festival Panji Internasional yang berlangsung 27 Juni hingga 13 Juli 2018, akan keliling di delapan kota Jawa dan Bali dengan melibatkan peserta mancanegara.

Direktur Kesenian Dirjenbud Kemendikbud RI, Restu Gunawan mengatakan, acara ini merupakan kerja bareng Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Pemerintah Provinsi Bali, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan tema “Menggugah Warisan- Bersama Sastra dan Budaya Panji”.

Festival akan dimulai di Denpasar Bali 27-30 Juni bersamaan dengan Pesta Kesenian Bali, festival ini berlanjut ke Taman Candrawilwatikta Pandaan 1 Juli, Kota Malang 2 Juli, Kabupaten Blitar 3 Juli, Tulungagung 4 Juli, Kediri 5 Juli, diteruskan ke Yogyakarta 6-8 Juli dan Jakarta 9-13 Juli.

Khusus di Jawa Timur, festival dibarengkan dengan Festival Panji Nusantara yang dikelola Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur.

Bentuk Kegiatan pada Festival Panji Internasional 2018 ini meliputi: Pergelaran kesenian, Workshop/Seminar, Peningkatan Apresiasi (Lomba-lomba bagi pelajar /umum), Kunjungan/Wisata Budaya, Pameran (naskah kuno, lukisan, topeng dan berbagai ekspresi benda seni bertema Panji), Penerbitan Buku dan Pemutaran Film/Animasi.

Sementara peserta mancanegara yang menyajikan pergelaran kesenian berbasis Cerita Panji adalah dari Thailand dan Kamboja, sedangkan sebagai narasumber seminar dari Jerman, Thailand, Malaysia dan Belanda disamping dari Indonesia sendiri.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur Jarianto seperti dikutip Jatim Newroom, mengatakan Festival Panji Nusantara nantinya akan diselenggarakan secara berkala di kota-kota Jatim secara bergantian.

Beragam acara yang disajikan berupa pameran lukisan dan kerajinan dari bambu, parade musik bambu, kesenian bantengan, musik tradisi, seni pertunjukan Ronteg Singo Ulung, sajian tari kolosal delegasi Panji Nusantara dari STKW Surabaya, pameran seni rupa instalasi benda kuno dan Wayang Panji, dan Lomba Lukis Hari Anak serta pemutaran film dokumenter dan dialog seni. (jnr)

Budaya Makan ’Ampo’ di Tuban yang Terlupakan

foto
AMPO yang sudah jadi, ditampung dalam suatu cawan. Foto: Dok PKM-PSH.

Mengangkat kembali budaya lama yang semakin dilupakan, yakni geofagi, yaitu kebiasaan masyarakat dan atau hewan di pedesaan daerah tropis untuk makan tanah di Kabupaten Tuban, Jatim, menarik perhatian Kemenristekdikti untuk memberikan dana hibah penelitian dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2018 kepada tim terdiri tiga mahasiswa Universitas Airlangga (Unair).

Tim PKM Penelitian Sosial Humaniora (PKM-PSH) Unair itu seperti dirilis PIH Unair adalah Hendra Setiawan (ketua), Calvin Nathan Wijaya, dan Lia Agustina Subagyo, dari Prodi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair.

Mereka menyusun penelitian dengan judul ”Fenomena Unik Geofagi pada Masyarakat di Dusun Trowulan, Desa Bektiharjo, Kabupaten Tuban”.

Dijelaskan oleh Hendra Setiawan, kebiasaan geofagi itu umumnya ditemukan pada masyarakat pedesaan di daerah tropis. Di Jawa Timur antara lain bisa ditemukan di Dusun Trowulan, Desa Bektiharjo, Kabupaten Tuban. Disini, kebiasaan makan tanah yang disebut ampo itu dilakukan oleh beberapa masyarakat.

Menurut masyarakat setempat, memakan tanah liat yang diolah menjadi ampo, memiliki efek membuat perut menjadi nyaman (rasa enak), dan biasanya wanita yang sedang hamil selalu mencari ampo untuk memenuhi hasrat nyidam-nya.

Dihimpun dari berbagai kisah di masyarakat setempat, awal mula kebiasaan makan ampo pada masyarakat Trowulan di Kab. Tuban ini karena keadaan yang sulit pada kolonial Belanda.

Awalnya Tuban sebagai kota pelabuhan merupakan daerah yang sangat kaya. Disini menjadi salah satu jalur pedangangan yang penting pada masa itu. Pedagang dari berbagai penjuru dunia, termasuk Eropa dan Tiongkok, datang di Tuban.

Penjajahan itu kemudian membawa Tuban menjadi daerah yang sangat sulit akibat sistem tanam paksa (cultuurstelsel). Masyarakat menjadi hidup dalam garis kemiskinan, kesulitan pangan dan masalah kelaparan.

Akhirnya perdagangan dikuasai oleh elit-elit asing, yang tidak jarang menerapkan harga barang sangat mahal, khususnya beras. Keadaan itu membuat masyarakat harus memutar otak dan mencari cara agar dapat bertahan hidup.

Alternatif itu adalah ampo. Ampo pada awalnya dibuat dari endapan lumpur dari air di tepi sungai Bengawan Solo. Endapan lumpur itu merupakan tanah aluvial yang berbahan lempung. Sehingga endapan lumpur halus itu ditunggu dahulu hingga mengering untuk dapat dimakan.

Namun lambat laun masyarakat disini menemukan tiruan ampo yang dibuat dari endapan air tanah sawah dengan bahan dasar lempung di Desa Bektiharjo. Perbedaannya, tanah lempung yang sudah dikumpulkan itu diolah dahulu dengan cara diasapkan (dengan api).

Hingga saat ini di Tuban tinggal seorang saja produsen ampo yang masih aktif berproduksi, yaitu bernama Sarpik. Ia membuat ampo di Dusun Trowulan, Desa Bektiharjo. Sehari-hari ia membuat ampo dan menjualnya ke pasar.

Menurut Sarpik, ampo memiliki banyak kegunaan, yaitu bisa untuk obati sakit maag, melancarkan pencernaan, untuk wanita hamil yang sedang nyidam, untuk menghilangkan rasa pahit pada daun pepaya, dan untuk sekedar camilan sebagai teman minum kopi.

Selain dikonsumsi, ampo digunakan oleh masyarakat Tuban sebagai salah satu unsur dalam cok bakal yang biasa digunakan sebagai sesajen bagi leluhur dalam perayaan-perayaan tertentu. Ampo dimasukkan dalam salah satu unsur cok bakal karena masyarakat Tuban percaya bahwa para leluhur dahulu juga suka makan ampo.

Proses Pembuatan
Cara membuat ampo itu diawali dengan menyiapkan berbagai alat dan bahan yang diperlukan. Peralatan itu antara lain ganden (pemukul), seseh (pengikis), obongan (tungku), hirik (tempat mengasapkan bahan ampo), glangsing (alas yang digunakan untuk membentuk ampo), arit (penggali tanah), jarik (tempat membawa tanah dari sawah).

Bahan dasar ampo itu diambil dari tanah sawah hasil galian dengan kedalaman sekitar 20 cm menggunakan arit. Lalu tanah yang didapat dimasukkan ke dalam jarik.

Tanah sawah tersebut kemudian digelar di sebuah glangsing. Tanah harus dalam kondisi lembab. Jadi bila tanah terlalu kering maka harus diberi air, dan jika terlalu basah harus dijemur.

Tanah yang lembab itu kemudian dibentuk hingga berbentuk kotak dan dihaluskan dengan cara dipukul menggunakan ganden. Kemudian tanah yang sudah berbentuk kotak itu didiamkan minimal sehari dan dibungkus plastik agar kelembabannya terjaga.

Setelah didiamkan, tanah berbentuk kotak itu dikikis menggunakan seseh, sehingga berbentuk gulungan. Hasil tanah yang sudah dikikis itu kemudian dimasukkan dalam hirik untuk diasapkan diatas obongan.

Pengasapan itu menggunakan api dari kayu bakar selama kurang lebih satu jam. Barulah ampo siap untuk digunakan, baik konsumsi maupun keperluan ritual.

Saat ini banyak generasi muda di Tuban yang sudah tidak mengenali ampo, karena kebiasaan lama ini sudah banyak ditinggalkan. Dalam bertahan hidup masyarakat tidak perlu lagi harus makan tanah (ampo), karena bahan pangan sudah kembali berlimpah.

Namun, tentu sangat sayang apabila fenomena yang membudaya ini menjadi punah, sebab ampo sudah menjadi ciri khas bagi masyarakat Tuban, terutama Desa Bektiharjo. Sehingga sudah seharusnya Pemerintah Kabupaten Tuban memberikan perhatian lebih untuk melestarikan budaya tersebut agar tidak punah ditelan kemajuan. (ita)

Batik Indonesia Menebar Pesona di Paris

foto
Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih menyaksikan pesona batik Madura. Foto: Dok Kemenperin.

Kementerian Perindustrian memfasilitasi sejumlah pelaku industri kecil dan menengah (IKM) batik nasional untuk ikut serta dalam pameran internasional yang bertajuk “Indonesia Batik For The World” di UNESCO Headquarters, Paris, Perancis. Salah satu pesertanya adalah Batik Azmiah, IKM batik kelas premium berasal dari Provinsi Jambi yang telah mampu menembus pasar Eropa.

“Pameran yang berlangsung pada tanggal 6-12 Juni 2018 itu dalam rangka memperingati ke-9 tahun Kain Batik Indonesia masuk dalam daftar perwakilan warisan budaya sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO yang diakui sejak 2 Oktober 2009 lalu,” kata Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih di Jakarta, Senin (18/6).

Tujuan Indonesia Batik For The World digelar adalah untuk memperlihatkan kepada dunia terhadap kekayaan budaya batik nasional, kompetensi pengrajinnya, dan kelangsungan industri batik Indonesia. “Kini, batik Indonesia semakin menunjukkan jati dirinya di berbagai pameran dunia,” ungkap Gati.

Pada pameran tahun ini, terdapat 100 kain batik kualitas premium yang dipamerkan oleh para pengrajin IKM batik dari berbagai daerah. “Di tahun 2015, Kemenperin memberikan penghargaan One Village One Produk (OVOP) Bintang 3 Kategori Batik kepada Batik Azmiah,” imbuhnya.

Menurut Gati, Rumah Batik Azmiah merupakan IKM batik yang telah terkenal dengan penggunaan warna klasik dan corak yang unik.

“Beberapa motif yang diproduksi antara lain kapal sanggat, tampuk manggis, bungo keladi, serta merak ngeram,” ujarnya. Hal yang membedakan batik Azmiah dengan lainnya adalah proses membatik yang melalui lebih dari enam kali pewarnaan sehingga menghasilkan warna yang menarik.

Lebih lanjut, industri batik telah berperan penting bagi perekonomian nasional. Sebagai market leader, Indonesia telah menguasai pasar batik dunia serta telah menjadi penggerak perekonomian di regional dan nasional. Tak hanya itu, industri batik telah menyediakan ribuan lapangan kerja dan menyumbang devisa negara.

Kemenperin mencatat, nilai ekspor batik dan produk batik pada tahun 2017 mencapai USD 58,46 juta dengan pasar utama eskpor ke Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa. Ini menujukkan industri batik nasional memiliki daya saing komparatif dan kompetitif di pasar internasional.

Saat ini, industri batik didominasi oleh pelaku IKM yang tersebar di 101 sentra seluruh Indonesia. Jumlah tenaga kerja yang terserap di sentra IKM batik mencapai 15 ribu orang.

“Kami terus berupaya meningkatkan daya saing dan produktivitas industri batik nasional. Langkah strategis yang dilaksanakan, antara lain program peningkatan kompetensi SDM, pengembangaan kualitas produk, standardisasi, fasilitasi mesin dan peralatan serta promosi dan pameran,” paparnya. (sak)