Ada Damar Kurung di Giri Kedaton Gresik

foto
Damar Kurung di Situs Giri Kedaton pada malam hari. Foto: Dok PKMM.

Pemasangan Damar Kurung di sekitar Gresik sebagai sebuah budaya lokal mulai banyak ditinggalkan generasi muda. Namun kehadiran mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) menumbuhkan lagi semangat pemuda Giri Kedaton mengenalkan Situs Giri Kedaton dengan pemasangan damar kurung, sebentuk lampion khas Gresik.

Mahasiswa Unair tersebut tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKMM). Mereka ada lima orang yaitu Muhammad Ainur Rofiq (FST) selaku ketua dengan anggota Ayu Ummi Maufiroh (FST), Ika Zulkafika Mahmudah (FKp), Muhamad Wahyu Hidayat (FISIP), dan Tia Eka Novianti (FKM).

Kelimanya membuat laporan berjudul “KERATON (Kultur Edukasi Giri Kedaton)” dan berhasil lolos seleksi pendanaan Kemenristek Dikti dalam program PKM 2018, dan membuat Karang Taruna “Sekar Kedaton” dan siswa-siswi MTs Ma’arif Sidomukti aktif ikut melakukan pemasangan damar kurung.

Inovasi pemasangan kembali Damar Kurung di Situs Giri Kedaton ini juga mendapat bantuan dari founder Damar Kurung Institute, Novan Afandi, untuk menyelenggarakan workshop tentang budaya lokal Damar Kurung.

Bahkan, Damar Kurung yang terpasang di Situs Giri Kedaton itu merupakan hasil karya pemuda Sekar Kedaton. Gambarnya menceritakan berbagai kisah kegiatan di bulan Ramadhan.

Pemasangan Damar Kurung ini juga tidak lepas dari usaha keras para kader KERATON yakni Kartar Sekar Kedaton dan siswa MTs. Ma’arif Sidomukti yang tergabung dalam Kelompok Pemuda Peduli Budaya.

“Mewakili Karang Taruna dan pihak MTs. Ma’arif Sidomukti saya sangat bersyukur dengan adanya program PKMM ini. Selain mengajarkan kembali kepada pemuda untuk mengenal sejarah dan budaya, juga mengasah kreatifitas pemuda dalam literasi dan karya seni,” kata Imam Fanani, ketua Kartar Sekar Kedaton yang juga guru di Mts. Ma’arif Sidomukti.

”Kami meresmikan pemasangan Damar Kurung itu pada Sabtu 2 Juni 2018 lalu, tepat pada malam ke-18 Ramadhan 1439-H, ditandai pemotongan pita oleh juru kunci Situs Giri Kedaton, Bapak Mukhtar, serta dihadiri Dosen Pembimbing kami, Ibu Harsasi Setyawati SSi MSi,” kata M Ainur Rofiq, seperti dikutip PIH Unair.

Damar Kurung itu dipasang di sepanjang anak tangga jalan menuju Situs Giri Kedaton. Keindahan Damar Kurung di malam hari dari atas bukit menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung dan wisatawan.

”Alhasil dengan pemasangan itu berhasil menjadikan Situs Giri Kedaton yang biasanya sepi, kini menjadi ramai pengunjung, terutama pada sore hingga malam hari dan Damar Kurung bisa dinikmati keindahannya,” tambah Rofiq.

Menurut Rofiq, berdasarkan hasil diskusi dengan kelompok peduli budaya di Gresik, pemasangan Damar Kurung selain selama bulan Ramadhan juga pada malam-malam tertentu untuk menumbuhkan ciri khas Damar Kurung sebagai daya tarik wisata sejarah.

“Dengan adanya Damar Kurung ini diharapkan dapat menarik pengunjung untuk datang ke Situs Giri Kedaton. Setelah Damar Kurung ini, akan ada launching buku yang berisi cerita dan informasi, buku itu karya Pemuda Kedaton serta display foto dan keterangan yang menjelaskan Situs Giri Kedaton,” tambah Ika, anggota Tim PKMM.

“Harapan kami, masyarakat yang datang kesini bukan hanya rekreasi dan untuk foto, tetapi juga dapat belajar tentang sejarah dan budaya,” kata Ika.

Disela peresmian juga dilanjutkan pemutaran video tembang dolanan peninggalan Sunan Giri dan dolanan tempo doloe yang dilantunkan H Oemar Zainuddin, budayawan Gresik. Diantara tembang dalam video itu adalah Barisan Terikan Tempe, Duh Sangang Sasi, Arek Cilik Diulang Ngaji, dll.

“Sebagai orang tua, saya berharap masih ada pemuda yang peduli terhadap budaya yang ada, bahkan agar tetap berkembang dan tidak punah. Orang asing saja mau mempelajari budaya kita, jangan sampai kita pemiliknya malah lalai,” kata budayawan yang akrab disapa Pak Noot itu.

Dalam sesi permainan dolanan tempo doloe itu diajarkan oleh pemuda Giri Kedaton kepada anak-anak pengunjung yang mulai ramai berdatangan hingga tengah malam. Dolanan yang dimainkan antara lain Cublak-Cublak Suweng dan Jamuran yang dulu pernah diajarkan oleh Sunan Giri. (ita)

Warga Mojokerto Temukan Benda Peninggalan Majapahit

foto
Warga menunjukkan benda yang diduga peninggalan Majapahit. Foto: Antaranews.com.

Warga Desa Tegalsari, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto menemukan benda-benda yang diduga sebagai benda purbakala peninggalan situs Kerajaan Majapahit, saat menggali tanah yang akan digunakan untuk resapan tanah.

Salah seorang warga Wahyudin seperti dikutip Antaranews mengatakan, saat itu dirinya akan menggali lubang yang akan digunakan untuk resapan air di depan rumahnya, tetapi pada kedalaman sekitar tiga meter dirinya menemukan benda-benda yang diduga sebagai peninggalan Kerajaan Majapahit.

“Saya sendiri kurang mengerti seperti fungsi benda tersebut. Bentuknya melingkar dengan diameter sekitar 75 centimeter dengan ketinggian sekitar 50 centimeter serta memiliki ketebalan sekitar 3 centimeter,” katanya saat dikonfirmasi di Mojokerto.

Wahyudin mengemukakan, benda-benda tersebut jumlahnya tidak satu karena setelah terus dilakukan penggalian kembali ditemukan benda sejenis yang berada di bawahnya.

“Kami meyakini di dalam lubang yang sedang digali itu masih banyak tersimpan benda-benda sejarah peninggalan Kerajaan Majapahit,” katanya.

Bahkan, kata dia, sejak semalam warga yang mulai berdatangan untuk melihat juga turut membantu untuk melakukan penggalian lagi di lubang yang sama.

“Dan memang terbukti, kami kembali menemukan kembali benda serupa sebanyak tiga buah. Namun, untuk yang kedua sampai keempat ketinggiannya hanya sekitar 30 centimeter, saja,” kata Wahyudin.

Selama proses penggalian itu, lanjut dia, pihaknya juga menemukan beberapa serpihan batu yang mungkin juga masih manjadi satu rangkaian penemuan benda-benda purbakala itu.

“Kami juga melaporkan kejadian penemuan benda-benda ini kepada pihak pemerintah desa untuk selanjutnya dilaporkan kepada pihak lainnya,” katanya.

Saat ini, di lokasi penemuan sudah banyak didatangi warga yang ingin melihat dari dekat perihal penemuan benda-benda tersebut. (ant)

Sebulan Penuh Pesta Kesenian Bali ke-40 2018

foto
Presiden RI Joko Widodo dan Ibu Iriana menyaksikan pembukaan PKB 2018. Foto: Sekkab.go.id.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Ibu Negara Iriana menyaksikan pawai Pesta Kesenian Bali ke-40 tahun 2018, di depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, pada Sabtu (23/6) sore.

Dalam acara tersebut, Presiden Jokowi mengenakan baju tradisional Bali saat memukul gong menandai pelepasan peserta pawai Pesta Kesenian Bali (PKB).

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, pawai Pesta Kesenian Bali ke-40 tahun 2018 saya nyatakan dimulai,” kata Presiden sesaat sebelum memukul gong.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika, dalam sambutan, mengatakan bahwa Pawai Pesta Kesenian Bali ke-40 ini bertema Teja Dharmaning Kahuripan, yang bermakna api spirit penciptaan.

Lebih lanjut, Gubernur Bali menyampaikan bahwa Pesta Kesenian Bali merupakan agenda rutin tahunan yang menjadi puncak apresiasi bagi seniman dan budayawan Bali, yang akan berlangsung sebulan penuh, dan menampilkan seluruh cabang dan jenis kesenian yang ada di Pulau Bali.

“Kehadiran Bapak Presiden dan Ibu Negara memberikan dorongan moril kepada seluruh masyarakat Bali, khususnya para seniman dan budayawan untuk terus berkarya dan berkreasi dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah yang adiluhung,” ujar Gubernur Bali.

Peserta utama pawai adalah duta dari 9 Kabupaten/Kota di Bali, yaitu: Kota Denpasar, Kabupaten Bangli, Kabupaten Buleleng, Kabupaten Badung, Kabupaten Karangasem, Kabupaten Jembrana, Kabupaten Gianyar, Kabupaten Klungkung, dan Kabupaten Tabanan.

Sumber Inspirasi Pemersatu
Peradaban manusia berubah begitu cepat dan satu kata yang menjadi wajah baru dunia saat ini adalah kecepatan. “Internet of things, big data, artificial intelligence, dan virtual reality terus berkembang dengan cepat yang diaplikasikan dalam blockchains dan juga cryptocurrency, mata uang yang tanpa Bank Sentral,” ujar Jokowi saat menyampaikan contoh pada kuliah umum di hadapan civitas akademika Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Perkembangan yang lain, tambah Presiden, di antaranya bioteknologi, ilmu syaraf berbasis teknologi komputasi, yang mengubah cara beternak dan cara bertani dengan cara multilayer urban farming.

Kompetisi Global, menurut Presiden, berjalan sangat cepat sehingga yang bergerak pelan akan ditinggal.

“Sekarang bukan lagi negara kuat menguasai negara yang lemah, bukan lagi negara besar menguasai negara kecil, bukan itu. Yang akan terjadi adalah negara yang cepat akan menguasai negara yang lambat, negara yang cepat akan menguasai negara yang lambat,” ujar Presiden seraya menambahkan bahwa perubahan-perubahan terjadi begitu cepat, sehingga yang lambat beradaptasi akan tertinggal.

Pada bagian lain sambutan, Presiden juga memberikan contoh tentang Elan Musk yang mampu mendongkrak dinding-dinding penghambat perkembangan serta merombak pola pikir lama untuk melahirkan pemikiran-pemikiran dan karya-karya baru.

“Dibutuhkan kreativitas agar bisa beradaptasi dengan cepat dengan perubahan-perubahan yang ada, yang menghasilkan karya-karya yang mengakar pada kearifan lokal, yang sekaligus menjadi pondasi untuk membentuk masa depan yang baru,” tutur Presiden.

Disampaikan Kepala Negara, kekayaan bangsa Indonesia bukan lagi sumber daya alam melainkan seni dan budaya. “DNA kita adalah seni dan budaya, kita memiliki 714 suku dengan ciri khas budaya dan seni adat dan tradisi masing-masing,” kata Jokowi.

Kekayaan seni dan budaya bangsa yang sangat luar biasa tersebut, lanjut Presiden, adalah bahan baku dan sumber inspirasi dari proses industri kreatif yang melahirkan karya-karya yang bernilai tinggi.

“Saya yakin dengan modal budaya yang kita miliki, yang diikuti oleh proses kreativitas yang tinggi menjadi pondasi yang kuat untuk mengembangkan dan memajukan ekonomi kreatif di negara kita,” tutur Kepala Negara seraya mengapresiasi tumbuh serta berkembangnya kewirausahaan kreatif yang berbasis pada sastra, seni, dan budaya di Indonesia, khususnya di Bali.

Selain menemukan inspirasi dari kekayaan dan keragaman budaya lokal Indonesia, Presiden juga meminta para civitias akademika yang hadir untuk menjadikan karya seni mereka sebagai sumber inspirasi pemersatu bangsa dan suku-suku yang ada di Indonesia.

“Jadikan karya-karya seni sebagai sumber energi kemajuan peradaban bangsa Indonesia. Teruslah berprestasi, berkarya untuk bangsa,” pungkas Presiden seraya menyampaikan ucapan Selamat atas Dies Natalis ke-15 ISI Denpasar. (sak)

Ingat: 30 Juni Puncak Yadnya Kasada 2018

foto
Prosesi Yadna kasada di Gunung Bromo. Foto: lampungpro.com.

Perayaan Yadnya Kasada tahun ini jatuh pada Sabtu (30/6) mendatang. Itu, sesuai dengan kalender masyarakat Hindu Suku Tengger.

Untuk tahun ini, Yadnya Kasada dipastikan bakal diwarnai prosesi pelantikan Dukun Tengger. Hal itu diungkapkan langsung oleh Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo Bambang S.

Menurut Bambang, pihaknya telah lama membuka pendaftaran calon dukun. “Tahun ini ada pelantikan dukun. Yang daftar masih satu orang,” ujarnya saat dikonfirmasi Jawapos.com, Jumat (8/6).

Bambang mengatakan, sejatinya pembukaan pendaftaran dukun telah dibuka sejak penetapan perayaan Yadnya Kasada. Namun, meskipun sejak lama sudah dibuka, masih sedikit yang mendaftar.

Hal itu bukan berarti tidak ada peminat untuk mendaftar. Namun, disebutkan Bambang, lebih dikarenakan dukun di daerahnya masih ada. Sehingga, tidak membutuhkan pengganti.

“Kalau satu itu, ya pasti di daerahnya tidak ada dukun yang akan diganti. Jadi, tidak memerlukan pendaftaran. Itu seperti tahun lalu, kan setiap desa masih memiliki dukun. Jadi, tidak ada pelantikan dukun pada Kasada tahun lalu,” tandasnya.

Lebih lanjut, untuk menjadi dukun salah satunya harus hafal terhadap sejumlah mantra. Itu, nanti akan diuji saat pelaksanaan Yadnya Kasada.

Jika calon dukun itu hafal melafalkan mantra secara fasih, maka akan diangkat menjadi dukun di daerahnya. “Untuk dukun itu ada ujiannya. Ujiannya salah satunya yaitu menghafal mantra pada saat pelaksanaan Kasada nanti,” terangnya.

Khusus calon dukun pandita juga harus memenuhi sejumlah kriteria. Di antaranya, harus lulus ujian dukun atau mulunen, punya guru nabe, mengusai mantra, serta beragama Hindu.

Sedangkan untuk syarat administrasi, yakni sehat jasmani, rohani, tidak sedang dicabut haknya. Serta tidak sedang berurusan dengan hukum. “Usia minimal 25 tahun dan yang terakhir tidak melakukan mo limo (perbuatan yang dilarang),” jelasnya. (jp)

Rangkaian Ritual Yadna Kasada 2018:
– 24 Juni – Nancep Karya
– 25 Juni – Semeninga Medhak Tirta (Goa Widodaren, Ranu Pani, Watu Klosot, Air Terjun Madakaripura)
– 26 Juni – Pemasangan Penjor dan Umbul-Umbul Upoacara – Ngaturi Suguhan di 25 Punden Utama Tengger
– 28 Juni – Pembejian (Melasti)
– 29 Juni – Piodalan / Pawedalan Pura Leluhur Poten Bromo – Resepsi Yadna Kasada di Pendopo Agung Desa Ngadisari Kec Sukapura Kab Probolinggo dan Pendopo Agung Desa Wonokitri Kec Tosari Kab Pasuruan
– 30 Juni – (Pukul 01.00 WIB ) Pemberangkatan Sesaji dan Ongkek dari 4 Pintu Masuk Laut Pasir Tengger yaitu Cemara Lawang (Prob), Pakis Bincil (Pas), Jemplang (Mlg) dan Puncak Sangalikur / Jantur (Lmj)
– 30 Juni – (Pukul 03.00 WIB) :
a. Puncak Karya Yadna Kasada di Utama Mandala Pura Luhur Poten Bromo
b. Puja Stuti Dukun Pandita Tengger
c. Pembacaan Sejarah oleh Lurah Dukun
d. Mulunen / Dhiksa Widhi
e. Mekakat
f. Melarung Sesaji Ongkek ke Kawah Gunung Bromo
g. Sukun Pandhita Tengger Melayani Umat
i. Pujan Kasada

Menpar di Festival Barong Ider Bumi Banyuwangi

foto
Arief Yahya Hadiri Festival Barong Ider Bumi. Foto: Sekkab.go.id.

Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya bersama Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas menghadiri Festival Barong Ider Bumi yang diselenggarakan pada di Desa Kemiren, Banyuwangi, akhir pekan lalu.

Pada kesempatan tersebut, Menpar memberikan apresiasi untuk konsistensi Banyuwangi yang terus mengangkat tradisi budaya menjadi sebuah atraksi yang menarik.

Sebagai informasi, Barong Ider Bumi adalah sebuah ritual tolak bala yang dilakukan di Desa Kemiren setiap tahunnya. Konon, sejarah tradisi Barong Ider Bumi dimulai pada tahun 1840. Saat itu Desa Kemiren diserang wabah penyakit yang mengakibatkan banyak warga meninggal dan petani juga mengalami gagal panen.

Salah seorang sesepuh desa mendapat petunjuk, meminta petunjuk, warga diminta melakukan arak-arakan Barong sebagai bentuk tolak bala. Ritual tersebut pun dilakukan secara turun-temurun.

Festival Barong Ider Bumi ini ditandai dengan permainan angklung oleh para sesepuh di balai desa setempat. Lalu, Barong diarak keliling desa sambil diiringi nyanyian doa berbahasa Jawa. Nyanyian tersebut merupakan doa memohon keselamatan.

Arak-arakan dimulai dari gerbang hingga pintu keluar masuk desa. Selama proses pengarakan, tokoh adat akan melakukan “Sembur Utik-utik”. Yakni kegiatan menebarkan uang logam, beras kuning, dan bunga sebagai simbol tolak bala.

Setelah arak-arakan mencapai ujung desa, warga akan berebut memakan pisang yang dipajang. Prosesi berikutnya adalah selametan dengan makan Pecel Pitik secara bersama.

Pecel Pitik adalah makanan khas Banyuwangi. Kulinernya menggunakan bahan utama ayam kampung yang masih muda. Setelah disembelih, ayam kampung dibersihkan lalu dipanggang secara utuh di perapian.

Sedangkan bumbu yang digunakan sangat sederhana yaitu kemiri, cabai rawit, terasi, daun jeruk, dan gula. Setelah dihaluskan, bumbu dicampur dengan parutan kelapa muda.

“Yang dilakukan masyarakat Desa Kemiren dengan mengangkat tradisinya sebagai atraksi budaya sudah tepat untuk pengembangan pariwisata. Ini penting, karena wisatawan yang datang ke Indonesia, 60 persennya karena tertarik budaya,” sambung Menpar di sela-sela acara. Pada kesempatan itu, Menpar juga ikut melempar koin.

Menpar meneruskan, kegiatan ini harus dilestarikan karena merupakan salah satu syiar Budaya Banyuwangi untuk dunia. Barong Ider Bumi dilakukan setelah Hari Raya Idulfitri oleh Umat Islam.

Bupati Banyuwangi juga mengapresiasi kegiatan ini. Dia mengatakan, dampak ekonomi kegiatan festival budaya seperti itu sangat besar bagi Banyuwangi. Salah satunya, seluruh penginapan di sekitar lokasi penuh disewa para wisatawan.

“Homestay sekitar Kemiren jumlahnya ada 55. Ada yang dua kamar. Ada yang tiga kamar. Semua full, Hotel Sahid Osing Kemiren, Hotel Aston, Hotel Ikhtiar Surya, Hotel El Royale, Hotel Tanjung Asri hingga Desa Wisata Osing yang punya 10 villa juga full. Ini berkah besar buat Banyuwangi,” ucapnya.

Barong Ider Bumi disaksikan oleh sekitar 10 ribu wisatawan. Ada beberapa alasan mengapa para pengunjung rela berdesak-desakan menyaksikan ritual tersebut. Pertama, kegiatan tersebut menghadirkan story telling yang kuat. Barong dipercaya masyarakat Desa Kemiren sebagai makhluk mitologi yang menjaga desa.

Alasan berikutnya, ada arak-arakan budaya yang menarik. Barong yang memiliki sayap tersebut diarak warga Desa Kemiren menggunakan baju adat Osing yang dominan berwarna hitam. Sepanjang jalan, tokoh adat masyarakat Osing dan Menpar Arief Yahya menebarkan uang koin yang dicampur dengan beras kuning.

Uang koin yang disebar tersebut boleh diperebutkan oleh banyak orang terutama anak-anak. Maknanya, adalah shodaqoh masyarakat Kemiren kepada anak-anak. Membudayakan tradisi berbagi.

“Salah satu daya tariknya ya di sini. Karena setelah mangku barong mereka kembali lagi ke pintu masuk. Dan terakhir ditutup dengan selamatan makan bersama dengan menu pecel pitik,” jelas Suhaimi, Ketua Adat Desa Kemiren.

Dia melanjutkan, selain sebagai daya tarik budaya, arak-arakan Barong Ider Bumi juga dilakukan untuk menjaga kerukunan masyarakat sekitar. (sak)

Ada Indonesian Islamic Art Museum di Lamongan

foto
Suasana dalam Indonesian Islamic Art Museum di Lamongan. Foto: Fajar.co.id.

Ingin belajar tentang sejarah Islam? Atau ingin ngabuburit sambil mengetahui kebesaran Islam di masa lalu? Indonesian Islamic Art Museum atau Museum Islam adalah tempat yang tepat. Berada di Wisata Bahari Lamongan (WBL), Jl Paciran, Lamongan, museum ini berisi sejarah kebesaran Islam di seluruh dunia.

“Museum ini menjadi penting, karena pengunjung setelah masuk ke museum menjadi lebih tahu sejarah the glory of Islam,” jelas Pengembang Indonesian Islamic Art Museum, Reno Halsamer, beberapa waktu lalu.

Indonesian Islamic Art Museum dibuka mulai 28 Desember 2016. Museum ini dibagi menjadi tiga zona. Zona utama, yaitu zona audio visual, zona galeri peninggalan kerajaan Islam dunia dan zona diorama.

Di zona audio visual, pengunjung disuguhkan pemutaran film pendek berdurasi 15 tentang sejarah peradaban Islam dunia. Mulai dari gambaran jazirah Arab di masa lalu, kedatangan Nabi Muhammad SAW, masa kekhalifahan, hingga penyebaran Islam ke penjuru dunia.

“Sedangkan zona galeri peninggalan kerajaan Islam, dibagi ke dalam tujuh galeri utama, museum Islam menyuguhkan koleksi benda-benda bersejarah dari berbagai penjuru dunia,” ungkap Reno, seperti dikutip Fajar.co.id.

Koleksi benda-benda bersejarah mulai dari galeri peninggalan kerajaan Ottoman Turki, Mughal India, Dinasti China, Samudra Pasai Sumatera, Aceh, Mataram Islam dan rekam jejak Wali Songo di Pulau Jawa.

“Di zona dua masuk ‘the glory of Islam’. Di sana kita menceritakan bagaimana perjalanan muslim itu sendiri menjadi sangat besar masuk ke Eropa Timur, salah satu kerajaan yang kita ambil adalah kerajaan Ottoman Turki, Ottoman salah satu kerajaan Islam terbesar karena lebih dari 600 tahun menguasai beberapa tempat, ini bisa menjadi sebuah contoh perkembangan Islam,” terang Reno.

Museum ini juga menyajikan artefak-artefak dari berbagai kerajaan yang ada di luar negeri. Seperti Ottoman Turki, Mughal India (Taj Mahal) dan masa kedinastian China. Seperti pedang Zulfikar Shamsir, baju perang Turki atau baju zirah, manuskrip Al-qur’an dan masih banyak lainnya.

Ada pula ratusan koleksi keramik dari dinasti Tang, Song, Yuan, Qing dan kerajaan Champa hingga beberapa kain gujarat dari India. Tidak ketinggalan, di zona ini juga menyajikan benda-benda bersejarah dari kerajaan Islam Indonesia.

“Pada zona yang terakhir, zona Diorama atau biasanya disebut dengan area photo spot, terdapat berbagai miniatur tiga dimensi. Seperti Masjid dan Kapal Cheng Ho, Masjid Agung Banten, Toko Persia dan gambaran perdagangan di masa penyebaran Islam di Indonesia,” sebutnya.

Untuk bisa menambah pengetahuan tentang sejarah peradaban Islam di Museum Islam ini, pengunjung hanya perlu mengeluarkan uang sebesar Rp 10.000 saat hari biasa (Senin-Kamis) dan Rp 15.000 untuk weekend (Jumat-Minggu) sebagai biaya tiket masuk.

“Kita punya ratusan koleksi, koleksi dari luar negeri juga ada. Kelebihan lain dari Indonesian Islamic Art Museum ini menjadi satu-satunya museum di Indonesia yang sudah berbasis teknologi informasi modern Augmented Reality (AR),” tambah Reno.

Dengan mendownload aplikasi AR Indonesian Islamic Art di Playstore, pengunjung bisa men-scan gambar-gambar yang ada di museum yang nantinya akan tampil dalam bentuk tiga dimensi.

Menteri Pariwisata Arief Yahya memuji langkah Museum Islam yang mampu menghadirkan nuansa pariwisata berbasis religi. Hebatnya lagi dibalut digital.

Menteri Arief mengatakan, digitalisasi arsip sejarah Islam yang ada di museum ini membuat nyaman para pengunjung yang datang untuk menginternalisasi nilai sejarah. “Sangat unik, Indonesian Islamic Art Museum berani melakukan terobosan ini, bagus,” ungkap Arief Yahya.

Situasi kepariwisataan semacam ini, menurut Arief, tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kepemimpinan yang kuat dan komitmen tinggi dalam pengelolaan dan usaha memperkenalkan wilayah.

Dalam rangka mendorong tingkat kunjungan ke tempat wisata Museum Islam ini, Menpar Arief Yahya mengusulkan agar kabupaten Lamongan meningkatkan networking sebagai media promosi.

Ia meyakini, jika networking diperkuat, maka Lamongan akan dikenal sebagai pusat informasi sejarah Islam Indonesia. “Hanya begini saran saya, networking harus diperkuat untuk memperkenalkan ini semua,” ucap Menpar Arief Yahya. (ist)

Upacara Unan-Unan, Toleransi Ala Suku Tengger

foto
Masyarakat memanggul sesaji terdiri dari kerbau, sate kerbau, dan jajan pasar. Foto: BBC Indonesia/Eko Widianto.

Umat Hindu, Buddha dan Islam di kaki Gunung Bromo, Jatim, menempatkan agama sebagai keyakinan individu, tetapi mereka aktif bersama dalam melestarikan adat budayanya.

Sutomo, dukun Sepuh suku Tengger di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang menuntun seekor kerbau, diiringi bocah desa setempat, Rabu (30/05).

Sementara, pemuda dan orang tua menyiapkan tempat penyembelihan kerbau untuk sesaji. Mereka tengah menyiapkan sesaji untuk upacara Unan-Unan, sebuah upacara yang digelar lima tahun sekali.

Usai kerbau disembelih, daging diolah untuk sesaji di rumah Kepala Desa Mujianto. Lalu giliran ibu-ibu yang bekerja mengolah daging kerbau dan menyiapkan aneka sesaji yang akan persembahkan dalam upacara Unan-Unan.

Terdiri dari 100 tusuk sate daging kerbau, 100 jajanan pasar dan 100 tumpeng, sementara kepala, kulit dan kaki dibiarkan utuh. Semua sesaji dihias dengan bunga di atas ancak atau keranda bambu.

“Umat Islam ya tetap puasa saat ini,” kata Dukun Utomo seperti dilaporkan BBC Indonesia, beberapa waktu lalu.

Suku Tengger menetap dan tinggal secara turun temurun di sekitar kaki Gunung Bromo yang wilayahnya berada di Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Probolinggo.

Beranjak siang, sejumlah umat Hindu mengenakan pakaian rapi. Kaum pria mengenakan kain, berkemeja dan udeng. Sedangkan perempuan mengenakan kain jarik, dan berkebaya. Sembari membawa membawa sesaji aneka buah di dalam nampam. Mereka melintas di jalan utama desa setempat menuju Pura Sapto Argo.

Jumlah umat Hindu di Ngadas sebanyak 144 jiwa atau sekitar 10 persen dari populasi penduduk sebanyak 2013. Sedangkan 50 persen umat Buddha dan 40 persen beragama Islam.

Umat hindu duduk bersimpuh di depan pura, mereka khusuk beribadah hari raya galungan. Ritual persembahyangan dipimpin pemuka agama Hindu setempat.

Sementara tidak jauh dari Pura, umat Buddha Jawa Sanyata tengah menyiapkan sembahyang Reboan setiap hari Rabu di Vihara setempat. Sedangkan umat Islam tengah beribadah puasa dan salat zuhur di musala dan masjid setempat.

“Toleransi sudah mendarah daging, alami. Mengikuti pesan leluhur, orang tua secara turun temurun. Pesan orang tua lebih tinggi nilainya dibandingkan guru spiritual,” kata Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Ngasa, Timbul Oerip. Pesan leluhur melekat, dijaga dan diamalkan sampai sekarang.

“Hari ini istimewa,” kata Timbul, lantaran ketiga umat Hindu merayakan Galungan, Buddha merayakan Waisak dan umat Islam tengah beribadah puasa. “Galungan, Waisak dan puasa berurutan. Dilanjutkan semua umat mengikuti upacara Unan-Unan untuk memuja Tuhan meminta keselamatan.”

Ketiga umat, lanjutnya, juga bergotong-royong membantu proses pembangunan masing-masing tempat ibadah. Vihara dibangun 1985, disusul Pura pada 1986 dan masjid dibangun 1987. Semua umat berbaur, bersama-sama membantu pembangunan sarana ibadah tersebut. Mereka mengikuti pesan orang tua untuk menjaga hubungan lintas iman dan hidup rukun.

Sedangkan upacara adat sekaligus menjadi perekat ketiga agama. Upacara tersebut meliputi Karo, Unan-Unan, Barikan, dan Yadnya Kasada.

Adat Jadi Perekat
Pemuka agama Buddha di Ngadas, Ponadi menjelaskan kerukunan umat beragama tak terlepas dari peran kepala desa, Mujianto, yang juga berperan sebagai Kepala Adat.

Agama ditempatkan sebagai keyakinan setiap individu, namun seluruh masyarakat suku Tengger harus terlibat dan aktif dalam melestarikan adat budaya. Terutama upacara adat yang rutin diselenggarakan suku Tengger di lereng Gunung Bromo.

“Masing-masing agama punya tuntutan sendiri. Kenapa bertengkar? Kenapa gegeran?” kata Ponadi. Setiap umat, katanya, bebas beribadah sesuai keyakinan dan umat lain ikut menghormatinya. Sedangkan saat upacara adat, semua tokoh agama berkumpul.

“Di Ngadas semua adalah keluarga, semua saudara. Tetap tentram dan rukun. Tak ada masalah agama,” ujarnya.

Kepala Desa Mujianto menjelaskan jika secara legalitas, kata Timbul, suku Tengger di Ngadas memeluk agama Hindu, Buddha dan Islam sejak 1970-an. Setelah pemerintah menetapkan lima agama yang diakui pemerintah. Sementara keyakinan masyarakat setempat sebagai agama lokal tak diakui. “Ada yang memeluk Buddha, Hindu dan Islam,” ujarnya.

Namun, selama ini tetap berdampingan dan hidup rukun. Tak pernah ada konflik agama. Lantaran orang tua selalu berpetuah dan ditanamkan sejak dini di keluarga untuk menjaga kerukunan dan keharmonisan. Ia tinggal bersama serumah dengan Ibunya yang memeluk Buddha dan mertuanya yang beragama Hindu.

Sesepuh adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat bersama masyarakat Ngadas mengarak sesaji menuju Pura Pamujan.

“Berurutan Ibunya melaksanakan Waisak, mertuanya beribadah galungan dengan menyiapkan sesaji. Sementara saya, anak dan istri tetap melaksanakan puasa,” ujarnya. Selama ini, katanya, tetap saling menghormati ibadah dan tak mempermasalahkan keyakinan masing-masing.

Malam hari usai umat Islam menjalankan salat tarawih, seluruh tokoh adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat berkumpul di rumah Mujianto.

Mereka duduk meriung di depan sebuah meja berisi aneka makanan dan kudapan. Ini adalah upacara mepek, artinya melengkapi aneka kebutuhan upacara Unan-Unan. Dukun muda Senetran memimpin doa, dia merapal mantra berbahasa Tengger.

“Berdoa berharap agar diberi keselamatan sampai selesai hajatan,” kata Senetran. Usai mepek, mereka makan bersama aneka makanan yang dihidangkan. Sementara istri mereka tengah berkutat di dapur memasak daging kerbau, makanan dan kudapan untuk upacara Unan-Unan. Termasuk menyiapkan aneka sesaji untuk upacara.

Kerbau sebagai kurban, katanya, karena orang Tengger mempercayai kerbau merupakan hewan yang pertama muncul di Bumi. Masyarakat Tengger bergotong-royong menyiapkan upacara sakral ini.

Mereka mengesampingkan perbedaan agama, adat menjadi pemersatu dan menjaga kerukunan antaragama Semua antusias, katanya, termasuk umat Islam yang tengah berpuasa.

“Adat terjaga karena kekuatan masyarakat yang mencintai adat. Masih berpegang teguh adat istiadat. Tak peduli siapapun kepala desa dan dukunnya.

Unan-Unan dilangsungkan untuk menetralisir energi negatif di bumi. Lantaran menurut penanggalan Tengger, setiap dua bulan ada satu hari yang hilang. Sehingga selama lima tahun genap 30 hari atau sebulan yang hilang. Unan-Unan berasal dari bahasa Tengger, yaitu nguna, yang artinya menarik atau melengkapi bulan yang hilang agar kembali utuh.

Unan-Unan digelar agar desa dan masyarakat terjaga keselamatan, dan dijauhkan dari malapetaka. Jika tak dilengkapi akan menimbulkan energi negatif. Unan-Unan merupakan adat yang menjadi kepercayaan. Sehingga tak ada wabah penyakit, kriminalitas maupun kejahatan yang lain.

Upacara Unan-Unan dilangsungkan Kamis 31 Mei 2018. Ribuan masyarakat berkumpul di depan rumah Kepala Desa Ngadas. Sebuah ancak berisi kepala kerbau dilengkapi dengan sate, jajanan pasar dan tumpeng ditandu. Sebagian masyarakat mengenakan pakaian adat, bercelana hitam, kemeja hitam dan udeng penutup kepala khas Tengger.

Sesaji dibawa dengan arak-arakan masyarakat setempat. Para pemangku adat, kepala desa dan tokoh agama berada di barisan terdepan. Setiap langkah arak-arakan pembawa sesaji diiringi alunan musik tradisional tengger. Perpaduan bunyi seruling, gong dan kendang, sementara sesaji diarak menuju Pura Pamujan.

Semua sesaji di letakkan di sebuah altar, sementara pemangku adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat duduk meriung bersimpuh beralas karpet. Dukun Sepuh, Sutomo merapal mantra. Khidmat semua mendengarkan mantra atau doa yang dipanjatkan Sutomo.

Sedangkan masyarakat berdiri, berdesak-desakan melihat dari dekat prosesi ritual. Usai Dukun Sepuh Utomo merapal mantra, seluruh warga suku Tengger di Ngadas berebut sesaji. Mereka berharap sesaji tersebut membawa keberkahan dan keselamatan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Made Arya menilai rirual adat Tengger selalu menarik wisatawan. Berpotensi menjadi tujuan wisata terutama wisatawan mancanegara sehingga harus dijaga dan dilestarikan. “Upacara adat ini diwariskan turun temurun harus dilestarikan,” ujarnya.

Selain itu, juga bisa menjadi wisata religi dan pengunjung bisa belajar kisah toleransi di Desa Ngadas. Meski berbeda agama tetapi tetap rukun dan tak pernah ada konflik antaragama. (ist/Eko Widianto untuk BBC News Indonesia)

Australia Kembalikan Tengkorak Bersejarah

foto
Menteri Mitch Fified bersama Dubes RI untuk Australia Y Kristiarto S Legowo. Foto: Kedubes Australia.

Pemerintah Australia telah mengembalikan empat tengkorak bernilai budaya yang signifikan kepada Pemerintah Indonesia. Tengkorak tersebut diduga merupakan hasil perdagangan gelap.

Artefak yang berharga ini diserahkan oleh Menteri untuk Kesenian Australia, Senator Mitch Fified, kepada Duta Besar Indonesia untuk Australia, Yohanes Kristiarto Soeryo Legowo di Kedutaan Besar Republik Indonesia, Canberra.

Tengkorak dengan hiasan tradisional masing-masing diserahkan dalam satu kotak khusus yang dibuat oleh pakar konservator dari Museum Nasional Australia untuk memastikan keamanan transportasi artefak bersejarah ini.

Menteri Mitch Fified menegaskan pentingnya pengembalian kekayaan budaya ini. “Australia dan Indonesia memiliki pemahaman yang mendalam dan penghormatan yang sama akan budaya dan warisan budaya kedua negara, serta komitmen bersama untuk melindungi dan melestarikannya,” kata Menteri Fified, Rabu (30/5) lalu.

“Pemerintah Australia senang dapat mengembalikan tengkorak-tengkorak dari masyarakat Dayak dan Asmat yang memiliki nilai budaya sangat penting ke Indonesia, sebagai bagian dari upaya terus-menerus kita untuk memerangi perdagangan gelap benda-benda bernilai budaya,” kata Fified, seperti dikutip Merdeka.com.

Indonesia mengatakan pengembalian ini menjadi bukti dekatnya hubungan penegakan hukum dan budaya antara Indonesia dan Australia.

“Pengembalian benda budaya ini tidak hanya menjadi contoh nyata dari praktek terbaik kita, namun juga menunjukkan bahwa Indonesia dan Australia selalu menganggap penting perlindungan terhadap warisan budaya kita,” kata Duta Besar Kristiarto Legowo.

“Ada tren-tren global yang terus berkembang dalam penyelundupan dan penjualan benda-benda budaya akhir-akhir ini, pengembalian menjadi pendorong bagi kita untuk memperkuat kerja sama dalam menjaga kekayaan budaya dan menanggulangi kegiatan-kegiatan gelap semacam itu.”

Di banyak masyarakat kerangka manusia dengan hati-hati diawetkan dan dipajang di rumah adat atau di tempat keramat serta digunakan dalam upacara adat yang sangat mendetail.

Masyarakat Asmat dari Papua Barat menghiasi tengkorak dengan biji-bijian dan cincin-cincin cangkang kerang laut yang diukir, sementara masyarakat Dayak di Kalimantan menghiasi tengkorak dengan ukiran-ukiran yang rumit. “Kami akan memulangkan benda-benda budaya ini ke tempat asal mereka di Indonesia,” kata Kristiarto Legowo.

Pencegahan perdagangan gelap rangka manusia dan artefak budaya masih terus dilakukan di Australia sesuai dengan Protection of Movable Cultural Heritage Act 1986 (UU Tahun 1986 tentang Perlindungan Warisan Budaya Yang Bisa Dipindahkan). (mer)

Epos Ramayana Lewat Busana Etnik Futuristik

foto
Elgana bersama empat karya busananya. Foto: Istimewa.

Berbagai karya kriya tekstil dan keramik yang indah buah hasil usaha dan totalitas mahasiswa Prodi Kriya menghiasi Aula Timur Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Rabu (6/6).

Karya-karya tersebut merupakan tugas akhir yang menjadi prasyarat kelulusan untuk sekitar 30 mahasiswa Prodi Kriya. Setiap mahasiswa diberikan kesempatan untuk menjelaskan hasil karyanya kepada pengunjung yang datang ke booth seluas 3×3 meter persegi milik mereka sendiri.

Dikutip dari situs itb.ac.id, karya yang mendominasi adalah produk fashion. Salah satu karya yang memikat mata pengunjung pameran ini adalah karya milik Elgana.

Untuk tugas akhirnya yang berjudul “Pengembangan Kostum Karakter Epos Ramayana dengan Teknik Utama Reka Latar”, terdapat 4 buah kostum megah dan indah untuk menghidupkan 4 karakter yang paling kuat dan menonjol dalam Epos Ramayana.

Seluruh kostum menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh pewayangan dalam Epos Ramayana. Kostum milik Hanoman dibuat dengan warna putih untuk menggambarkan kesetiaan, kejujuran, dan keberanian.

Berbeda dengan kostum milik Dewi Shinta yang menceritakan tekanan yang dialami Dewi Shinta melalui pemilihan warna merah keunguan.

Sedangkan untuk kostum Rama, dipilih warna biru untuk memberikan kesan elegan, baik, jujur, dan pemimpin yang dingin.

Kostum yang terakhir, yaitu kostum Rahwana sang antagonis, memancarkan rasa mistik, haus akan kekuasaan, dan kemegahan dalam balutan warna gelap seperti hitam, merah tua, dan jubah keemasan.

Dalam proses pembuatan keempat kostum ini Elgana banyak melakukan riset, penggalian ide, pembuatan corak, dan eksplorasi sekitaran Bandung selama 6 bulan lamanya.

Kostum megah yang mengolaborasikan etnis dengan sentuhan futuristik ini tidak hanya indah dilihat, tetapi juga sangat memerhatikan kenyamanan penggunanya.

Elgana mendesain keempat kostum ini dengan baik sehingga kostum-kostum tersebut sangat mudah digunakan dan menggunakan bahan inner seperti katun untuk menghindari ketidaknyamanan pemakainya. Bahkan dalam proses produksinya, kostum-kostum tersebut menggunakan teknik yang sangat mudah sehingga tahap produksi tidak memakan waktu lama, sekitar 2 minggu.

Melalui karya ini Elgana berharap dapat mengubah visual ramayana yang terkesan kolot dan monoton dengan suasana yang baru sehingga meningkatkan minat anak muda terhadap budaya bangsa.

Elgana percaya bahwa terdapat banyak pelajaran yang bisa dipetik dalam kisah-kisah serupa Epos Ramayana untuk diterapkan pada hari ini dan di masa depan nanti.

Karya ini selanjutnya akan didaftarkan dalam lomba seperti karya lainnya dari Elgana yang pernah menjadi finalis 20 Besar pada Indonesia Fashion Week 2018. Adapun karya tersebut merupakan karya yang mengangkat tenun toraja yang terkesan kolot dan konvensional menjadi fashion item anak muda yang simple dan elegan. (sak)

Ini Dia 10 Kuliner Jogja yang Wajib Dinikmati

foto
Monumen Tugu, salah satu ikon Kota Jogja. Foto: Istimewa.

Pesona Jogja sudah tidak terbantahkan lagi. Bukan saja pesona alam dan budayanya, pesona kulinernya juga selalu menjadi pilihan wisatawan. Apalagi pada saat liburan Idul Fitri nanti. Beragam kuliner khas yang lezat siap memanjakan wisatawan yang mengunjungi Jogja.

“Jogja merupakan salah satu daerah yang menyimpan kekayaan kuliner. Makanya asik banget rasanya kalau berwisata kuliner di Jogja. Beragam makanan tradisional dan merakyat tersaji lengkap disini. Berwisata kuliner di Jogja selalu menyenangkan,” ujar Ketua GenPI Jogja Nunung Elisabet, pekan lalu.

Memang benar adanya, Jogja kota yang tak pernah mati untuk soal makanan, bahkan disaat lebaran tiba. Dari pagi sampai lewat tengah malam, banyak kuliner khas yang bisa kita nikmati. Jadi tidak perlu takut buat kehabisan stok makanan disini. Berikut #10TopPesonaKulinerLebaranJogja yang wajib dicicipi bila berwisata ke Jogja menurut situs perjalanan TripAdvisor. Yang menjadi #PesonaKulinerLebaran2018.

1. Gudeg
Kuliner yang satu ini merupakan pilihan utama jika berkunjung ke Jogja. Bahkan kuliner ini menjadi nama lain dari Jogja itu sendiri. Soal pilihan tidak perlu bersusah payah. Ada banyak nama Gudeg legendaris di Jogja.

Dari mulai Gudeg Yuk Djum, Gudeg Sagan hingga Gudeg Bromo di Jalan Gejayan siap menemami wisata kuliner wisatawan. “Bahkan jika tidak ingin bersusah payah, wisatawan dapat mengujungi sentra Gudeg di Wijilan. Tepatnya di sebelah timur Alun-Alun Utara Jogja,” gadis yang akrab disapa Elza itu.

2. Brongkos
Kuliner yang satu ini mempunyai rasa yang khas. Sehingga selalu dicari saat Lebaran tiba. Walau pun belum ada sejarah yang menceritakan secara runtut bagaimana brongkos bisa hadir di Jogja. Tapi yang jelas, masakan ini sudah menjadi menu sarapan orang-orang Jawa jaman dulu.

Sekilas, masakan ini memang mirip dengan rawon. Namun, ketika Anda memperhatikan dengan seksama, perbedaan keduanya cukup ketara. Walaupun kuahnya sama-sama cokelat, kuah brongkos akan nampak lebih kental dan rasanya pun lebih gurih. Ini karena brongkos menggunakan santan pada kuahnya.

Perlu dicatat, brongkos konon merupakan menjadi santapan kaum ningrat. Pasalnya bahan baku brongkos yang menggunakan daging sapi membuat hanya kaum darah biru saja yang dulu mampu menikmatinya. Namun seiring perkembangan jaman, saat ini telah banyak warung yang menyediakannya.

“Contohnya warung makan Bu Rini. Warung ini berada persis di sebelah timur Plaza Ngasem atau di Kampung Taman, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta. Warung makan ini telah ada sejak tahun 1973,” ucap Elza.

3. Soto Kadipiro
Kuliner legendaris Jogja ini menjadi makanan khas Jogja sejak tahun 1912. Sekarang ini Soto Kadipiro mempunyai 4 cabang yang tersebar di sepanjang Jalan Wates.

Soto Kadipiro didirikan Almarhum Karto Wijoyo pada tahun 1921. Kemudian usaha Soto Kadipiro dilanjutkan oleh generasi kedua yaitu Widadi Dirjo Utomo. Hingga sekarang Soto Kadipiro telah memiliki cabang di daerah Kalasan, Sleman, Kulonprogo dan Sentolo. Sensasi rasa soto ini ternyata banyak dicari orang.

“Rasanya lezat, segar dan gurih. Kelezatan masakan ini bukan hanya dari penyedap makanannya sendiri akan tetapi berasal dari racikan bumbu-bumbu tradisional hasil dari resep asli Almarhum Karto Wijoyo,” kata Elza.

4. Mie Lethek

Mie Lethek merupakan kuliner khas dari Bantul. Mie Lethek secara harfiah berarti mie ‘kotor.’ Penamaan ini merujuk pada tampilan mie yang tak secerah mie kering lain. Mie Lethek berwarna kecokelatan karena dibuat dari tepung singkong dan gaplek (singkong kering).

Mienya pun di olah secara tradisonal. Bahkan untuk proses penggilingannya juga masih menggunakan sapi sebagai tenaga penggerak gilingannya.

Mie Lethek enak diolah dengan cara direbus maupun digoreng. Umumnya memakai bumbu sederhana seperti bawang putih, kemiri, merica dan garam. Pelengkapnya juga istimewa berupa suwiran ayam kampung dan telur bebek. Walau pun hanya kuliner desa, soal cita rasa tidak perlu diragukan.

“Mie Letek merupakan kuliner favorit Mantan Presiden Amerika Barack Obama ketika berkunjung ke Jogjakarta loh. Yaitu di Warung Bumi, Imogiri, Mangunan, Bantul,” ujar Elza lagi.

5. Sate Klatak

Sate klatak juga merupakan kuliner khas daerah Bantul. Sate ini memiliki keunikan dan berbeda dengan sate biasa. Pada proses pembakaran sate klatak hanya dibumbui garam saja dan polos warnanya. Tidak seperti sate pada umumnya yang dibumbui lengkap dengan bumbu kacang atau kecap manis. Pemyajiannya pun unik, yaitu dengan kuah gule kambing yang kental.

“Kuliner ini banyak ditemui di daerah Bantul terutama yang di Jalan Imogiri Timur, Pleret, Bantul. Salah satu yang paling nge-hits adalah Warung Pak Pong,” ucap Elza.

6. Oseng-oseng Mercon
Bagi pencinta kuliner pedas, kuliner yang satu ini merupakan kuliner yang wajib dikunjungi. Nasi putih panas dipadu oseng-oseng super pedas meledak di mulut. Kelezatan kikil bercampur aneka bumbu dapur menggoyang lidah, menuntut kita untuk pantang berhenti menyuap.

Mercon, yang dalam Bahasa Indonesia adalah petasan menjadi nama kuliner bukan tanpa sebab. Buntelan mesiu yang sering dipakai dalam perayaan Imlek dan meramaikan Lebaran ini seolah meledakkan dirinya di mulut. Seperti pejuang berani mati yang mengantar bom ke sarang musuh.

“Begitulah oseng-oseng racikan Jogja meluluh lantakkan kita. Yang paling nge-hits tentunya Oseng-oseng Mercon Bu Narti di Jl. KH Ahmad Dahlan dekat RS PKU Muhammadiyah Jogjakarta,” terang Elza.

7. Tengkleng Gajah Jakal
Tengkleng Gajah sudah pasti masuk kedalam daftar wisata kuliner Anda. Tengkleng Gajah merupakan olahan kambing dalam porsi “gajah” alias potongan tulangnya berukuran jumbo.

Tengkleng yang diolah dengan bumbu dan rempah-rempah khusus sehingga menciptakan citarasa yang khas. Rasanya maknyus. Warung Tengkleng Gajah ini terletak di Dusun Bulurejo, Minomartani, Ngaglik, Sleman.

“Bukan hanya Tengkleng loh yang bisa dinikmati di warung inj. Ada juga sate, tongseng, dan nasi goreng kambing. Total ada 11 menu olahan daging kambing dapat Anda cicipi disini,” ucap Elza lagi.

8. Walang Goreng
Kuliner yang satu ini menambah perbendaharaan kuliner khas Jogja. Apalagi kuliner ini cukup unik, yaitu kuliner ekstrim belalang atau walang goreng. Rasanya gurih dan renyah.

Terlebih lagi, kandungan gizi yang terdapat dalam belalang ternyata tidak kalah dibandingkan dengan sumber protein lainnya, seperti daging sapi.

“Walang Goreng merupakan sensasi lain yang ditawarkan kuliner Jogja. Penjual Walang Goreng banyak dijumpai di sepanjang perjalanan menuju tempat-tempat wisata di Gunung Kidul,” kata Elza.

9. Angkringan Lik Man, Kopi Jos
Belum lengkap, kalau ke Jogja tanpa menikmati malam sambil nyeruput kopi jos di Angkringan Lik Man yang tersohor. Angkringan Lik Man menawarkan suasana Jogja yang kental, sekental kopi jos racikannya.

Kopi jos sendiri adalah sajian minuman kopi dengan tambahan arang yang masih membara yang dimasukkan langsung kedalam kopi. Rasa sangit dari arang bercampur dengan aroma kopi membuat sensasi ngopi anda menjadi tidak biasa.

Selain kopi joss, minuman lain seperti teh nasgithel, jahe hangat, susu jahe hingga minuman tape ketan juga layak Anda coba. Sajian makanan angkringan ini juga beragam.

Dari mulai nasi kucing, sate kerang, sate usus, sate telur dan beragam kuliner khas angkringan ada disana. “Pokoknya belum ke Jogja kalau belum ngangkring,” imbuh Elza

10. Bapia
Kuliner yang satu ini tentu sudah tidak asing lagi. Bapia adalah kuliner yang menjadi oleh-oleh wajib jika berkunjung ke Jogja. Bakpia sebetulnya adalah kue yang terbuat dari campuran kacang hijau dan gula, dibalut dengan kulit yang terbuat dari tepung kemudian dipanggang. Tapi kini telah banyak di olah dengan beragam isian lain yang tidak kalah lezatnya.

Kampung Pathuk adalah salah satu sentra Bapia tertua di Jogja. Bermacam merek bapia legendaris berasal dari kampung ini. Ada Bakpia Pathok 25, Bakpia Patuk 75 merupakan legenda dari kampung ini.

“Kini pun banyak Bapia lainnya yang dapat anda beli untuk dijadikan oleh-oleh khas Jogja. Tampilan serta rasanya pun lebih kekinian. Tinggal pilih sesuai selera Anda,” pungka Elza.

Menteri Pariwisata Arief Yahya pun sumringah ketika ditanya mengenai kuliner khas dari Jogja. Menurutnya lezatnya kuliner Jogja merupakan salah satu jaring yang membuat wisatawan mengunjungi Jogja.

“Kuliner di Jogja itu luar biasa. Semua enak-enak. Harganya juga murah-murah. Apalagi Jogja yang juga sudah masuk kedalam destinasi kuliner tingkat dunia yang sudah disertifikasi United Nations World Tourism Organization (UNWTO). Jadi silahkan datang dan nikmati lezatnya kuliner Jogja. Salam #Genpi #PesonaIndonesia,” kata Menpar Arief Yahya. (ist)