Drama tari Sri Ratu Lowo di Anjungan Jatim di TMII Jakarta. Foto: Duta.co.
Dikisahkan di sebuah Desa bernama Terang Ing Galih yang berada di kawasan selatan, seorang bernama Joko Pangalasan sedang berburu hewan untuk dijadikan makanan. Ketika sedang berburu, Joko Pangalasan melihat hewan aneh berbentuk kelelawar berbulu emas dan bersinar ketika terkena cahaya matahari.
Hal ini disampaikan Joko Irianto, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, saat menggelar Drama Tari, Sri Ratu Lowo, yang merupakan sejarah adanya Goa Lowo Watulimo di Anjungan Jatim, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, akhir pekan lalu.
Dikatakannya, kisah ini mengilhami perjuangan dalam membangun Trenggalek ke depan. “Dengan cepat, Joko Pangalasan menyiapkan busur dan bersiap untuk melepaskan anah panahnya. Namun, seketika kelelawar itu meloncat dan terbang masuk ke dalam goa menghindari panah Joko Pangalasan,” ungkapnya, seperti dikutip Duta.co.
Ia mengisahkan, ketika Joko Pangalasan mengejar hendak masuk ke dalam goa, dirinya dihadang oleh prajurit Sri Ratu Lowo sehingga terjadilah pertarungan. Di tengah pertarungan tersebut, tiba-tiba Sri Ratu Lowo berubah menjadi putri yang cantik jelita.
“Goa itu ada di pesisir selatan, mungkin gambaran kita ada di Prigi Watulimo, tempat berdirinya destinasi wisata itu,” tuturnya.
Seketika itu pula, lanjutnya, hati Joko Pangalasan terpikat oleh paras cantik putri tersebut. Di Akhir cerita, akhirnya Joko Pangalasan menikah dengan putri cantik yang tak lain adalah Sri Ratu Lowo, dan kemudian bersama-sama menjaga bumi.
“Ya begitu cerita menarik dengan banyak gagasan dari pakar budaya di Trenggalek,” tandasnya.
Kisah tersebut berhasil disuguhkan dengan apik dan memukau pengunjung di Anjungan Jatim TMII Jakarta pada Festival Budaya Jawa Timur, yang dipentaskan dalam drama tari berjudul Babad Sri Ratu Lowo.
Kisah itu merupakan asal-usul salah satu lokasi wisata unggulan di Kabupaten Trenggalek, yaitu Goa Lowo yang merupakan goa terbesar dan terpanjang di Asia Tenggara. “Itu kisah yang lama digali dari peneliti sejarah Goa Lowo yang fonumental di Trenggalek,” pungkasnya. (ist)
Keindahan ‘blue fame’ di kawah Gunung Ijen Banyuwangi. Foto: Istimewa.com.
Gegap gempita kemeriahan Asean Games yang akan berlangsung di Jakarta dan Palembang pada 18 Agustus-2 September mendatang juga bakal dimeriahkan oleh Kabupaten Banyuwangi.
Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini menjadi salah satu daerah lintasan pawai obor (torch relay) Asian Games. Obor itu akan berada di Banyuwangi pada 21-22 Juli mendatang.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, kedatangan pawai obor Asian Games itu akan dijadikan bagian dari promosi pariwisata. Banyuwangi ikut merasa memiliki ajang tersebut, karena bangga Indonesia menjadi tuan rumah ajang terbesar se-Asia.
”Kami berterima kasih ke pemerintah pusat dan Panitia Penyelenggara Asian Games (INASGOC) yang telah memberi kepercayaan untuk menyambut obor Asian Games,” ujar Anas, Selasa (17/7).
Banyuwangi sudah menyiapkan serangkaian atraksi untuk memeriahkan kedatangan obor Asian Games yang mulai Minggu (15/7) lalu telah diberangkatkan dari India. Obor Asian Games tersebut akan dibawa ke puncak Gunung Ijen Banyuwangi, yang terkenal memiliki fenomena alam api biru (blue flame) yang langka di dunia.
Obor akan dibawa ke kaki Gunung Ijen pada 21 Juli pukul 19.00 WIB, lalu ada prosesi penyerahan obor kepada tim Banyuwangi. Selanjutnya Obor akan dibawa ke puncak Gunung Ijen.
“Sekaligus ini promosi pesona wisata Kawah Ijen yang memang ikonik dan cukup dikenal di mancanegara. Prosesi ini juga disebarluaskan media-media se-Asia,” ujar Anas. ”Pemerintah pusat memilih Gunung Ijen karena ingin menunjukkan bahwa Indonesia punya destinasi yang menawan dengan fenomena api biru.”
Setelah berada di puncak Ijen, obor akan diarak menuju Pendopo Banyuwangi melalui jalan-jalan utama kota. Nantinya api obor akan dibawa oleh atlet dan warga berprestasi Banyuwangi.
”Sepanjang jalan yang dilalui pawai obor akan kita tampilkan beragam kesenian Banyuwangi. Kita tunjukkan kepada negara-negara Asia kalau Banyuwangi adalah daerah yang kaya akan seni dan budaya,” ujar Anas.
Sejumlah atraksi seni yang akan memeriahkan pawai obor itu antara lain Tari Gandrung yang baru saja diundang manggung di Amerika Serikat, karnaval etnik Banyuwangi Ethno Carnival, hingga kesenian Barong.
”Pada saat bersamaan, di Banyuwangi juga digelar festival komoditas agrobisnis dan pentas musik Lalare Orchestra. Sehingga akan sangat meriah, karena kita ingin warga Banyuwangi demam Asian Games, mampu menyerap inspirasi dari perhelatan akbar ini. Jarang-jarang kan Indonesia jadi tuan rumah, jadi kita ikut bangga,” ujarnya. (sak)
Arzu Muradova, Jatuh Cinta pada Budaya Indonesia Sejak di Banyuwangi IDN Times/Vanny El Rahman.
Sudah tentu hal yang biasa bila anak muda asal Indonesia bermain gamelan dan menari khas Nusantara. Tapi bagaimana jika yang melakukan hal itu adalah seorang warga negara asing?
Bisa dikatakan, dia memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap Indonesia. Arzu Muradova salah satunya. Wanita berusia 23 tahun asal Azerbaijan ini merupakan peserta Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia.
Menetap selama tiga bulan di Banyuwangi, Jawa Timur, Muradova kepada IDN Times mengaku terkesan dengan kebudayaan Indonesia.
Siapapun yang bercengkrama dengannya pasti akan terkejut. Sebab, dia mampu berbahasa Indonesia dengan lancar.
“Sebelumnya, aku belajar bahasa Indonesia di Azerbaijan. Aku juga belajar Kajian Kawasan Indonesia. So, aku sangat jatuh cinta sama budaya Indonesia,” ujarnya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.
Selama di ujung pulau Jawa, banyak hal yang dipelajari oleh Muradova. Sebagai pecinta kebudayaan Nusantara, mempelajari tarian dan alat musiknya adalah kebanggaan tersendiri bagi wanita yang baru saja menuntaskan studi sarjananya itu.
“Di Banyuwangi aku belajar Tari Jejer Gandrung dan Gamelan. Kalau menarinya sih gampang ya, tapi gamelan agak susah,” terangnya dalam bahasa Indonesia yang begitu lancar.
Setelah mempelajari sekitar 90 hari lamanya, Muradova bersama 72 peserta BSBI dari 44 negara lainnya menampilkan tarian dengan alat musik secara kolosal. Terlihat jelas dari parasnya, betapa perasaan lega menyelimutinya setelah dia berhasil menuntaskan penampilannya.
Muradova juga menyukasi makanan khas Indonesia. Salah satu yang menjadi favoritnya adalah mi goreng, nasi goreng, pecel petik, dan dadar gulung. “Indonesia sangat menarik. Indonesia just amazing,” ungkapnya yang kala itu masih menggunakan pakaian adat khas Banyuwangi.
Selama berada di Bayuwangi, kedatangan Muradova bertepatan dengan diselenggarakannya Festival Seblang. Melalui festival tersebut, Muradova mengaku takut namun tertarik melihat wanita yang hilang kesadaran dalam keadaan menari.
“Di Banyuwangi ada Festival Seblang. Itu ada ritual, ruh masuk ke dalam tubuh cewek muda. Dia menari dan dia undang orang lain, jadi dia kesurupan. Itu menarik. Saya mau kembali ke Banyuwangi, tapi takut melihat festivalnya, hahaha,” ucapnya sembari melepas tawa.
Kesempatan di Banyuwangi tidak hanya digunakan untuk mempelajari budaya Indonesia. Muradova turut menikmati keindahan alam dari puncak Gunung Ijen.
Dari ketinggian 2.799 meter di atas permukaan laut, Muradova menyaksikan betapa indahnya matahari terbit dan fenomena api biru yang hanya ada di Banyuwangi dan Islandia.
“Iya, saya mendaki 12 kilometer. Susah banget, tapi bagus. Berangkat dari jam 12.00 sampainya jam 16.00. Lihat Blue Fire tapi cuma sedikit, kami juga liat sunrise, indah sekali,” ceritanya.
Selain Ijen, Banyuwangi juga terkenal dengan keindahan pantainya. Beruntung bagi Muradova, karena pesona pantai Banyuwangi menjadi tempat pertamanya untuk menikmati keindahan bawah laut.
“Pengalaman menarik aku di Banyuwangi itu pas snorkling. Aku belum pernah sebelumnya, jadi menarik sekali. Aku berenang sama baby shark, deket banget. Takut tapi menarik,” celotehnya.
Kecintaan Muradova terhadap Indonesia seakan menopang masa depannya. Setelah menunaikan studinya di Azerbaijan, Muradova tertarik mengambil program master di Indonesia.
“Aku rencananya mau ambil S2 di Bandung atau di Yogyakarta, di Surabaya juga bisa. Nanti mau ngambil hubungan intenasional, karena aku di Azerbaijan belajar itu juga. Aku rasanya gak ingin kembali ke negeriku,” ujarnya.
Sementara, Direktorat Diplomasi Publik Kemlu sebagai salah satu pihak penyelenggara, mengaku lega setelah menuntaskan kegiatan pertukaran pelajar dan budaya ini.
Direktur Diplomasi Publik Azis Nurwahyudi berharap, sekembalinya para peserta ke negaranya masing-masing, mereka akan menjadi duta Indonesia di tempat kelahiran mereka.
“Saya merasa bangga dengan hasil belajar teman-teman BSBI. Hasilnya luar biasa, mereka serius belajar apa yang bisa dipelajari di Indonesia. Saya bangga dengan mereka. Kami berharap mereka semua akan menjadi duta Indonesia di negaranya masing-masing,” kata dia. (ist)
Penanda makam Sawunggaling di Lakarsantri Surabaya. Foto: Ficcaayu.id.
Keberadaan makam Sawunggaling yang terletak di desa Lidah Wetan Kecamatan Lakarsantri Surabaya menjadi saksi sejarah kebesaran kerajaan Surabaya di eranya. Makam yang ditemukan oleh warga di tahun 1901 itu menandai keberadan tokoh yang sangat diagungkan sebagai pejuang Surabaya.
Pada komplek makam yang selalu ramai didatangi para petinggi Surabaya berisi beberapa nisan. Berhiaskan ubin keramik warna putih dengan kelambu warna senada, komplek makam terlihat bersih dan terawat.
Tampak lima deret makam yang berhias bunga segar tanda didatangi pengunjung. Pada masing-masing makam bertuliskan nama yagn terbuat dari kayu jati.
Pertama tampak makam Raden Karyo Sentono yang nama aslinya Wangsodrono. Kedua tertulis makam R Buyut Suruh. Ketiga tertulis makam Raden Ayu Dewi Sangkrah. Keempat makam bertuliskan Raden Sawunggaling. Kelima bertuliskan Raden Ayu Pandansari. Pada nisan kelima makam juga dibungkus kain warna putih yang tampak selalu dicuci.
Kelima makam ukurannya juga tidak umum. Lebih panjang dari makam kebanyakan. Pada masing-masing makam terdapat karpet warna hijau untuk pengunjung yang bertakjizah dan memanjatkan doa.
Tulus Warsito tokoh masyarakat desa Lidah Kulon mengatakan, pada hari Kamis malam Jumat, makam Sawunggaling didatangi warga dari berbagai penjuru kota. Namun, pada hari-hari terentu tokoh masyarakat Surabaya juga menyempatkan berkunjung. Terlebih jika pada masa pilihan legislatif hingga pilihan walikota.
Tetapi diantara Walikota Surabaya yang pernah menjabat, Sunarto Sumoprawiro merupakan walikota yang paling peduli dengan peninggalan sejarah. “Masa kepemimpinan Pak Narto makam diperbaiki dan kini dirawat seterusnya oleh warga,” kata Warsito seraya menyebutkan satu per satu tokoh Surabaya yang kerap ke makam pendiri kota Surabaya itu.
Bukan lantaran mengaku masih keturunan Sawunggaling jika Cak Narto rela membangun dan memperbaiki lokasi makam. Cak Narto sangat menggumi keberanian Sawunggaling terang-terangan berseberangan dengan penjajah Belanda.
Mengenai wisatawan, Warsito juga menyebut cukup banyak. Untuk menarik wisatawan acara tradisional seperti sedekah bumi dan Kemakmuran diselenggarakan secara rutin. “Upacara ini jadi desitinasi sejarah di wilayah kami. Juga selalu ada sedekah bumi dengan menghadirkan puluhan tumpeng yang dikeluarkan warga secara sukarela,” tambahnya. (ita)
Tokoh adat saat upacara adat Temanten Kopi di Blitar. Foto: Antara/Irfan Anshori.
Pemilik Kebun Kopi ‘Karanganjar’ di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, menggelar ritual ‘Manten Kopi’. Ritual sebagai tanda musim panen dan giling ini sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen yang melimpah serta kualitas hasil panen biji kopi yang baik.
“Kami menggelar kegiatan ini untuk melestarikan budaya leluhur, sekaligus sebagai permohonan agar panen kopi kali ini bisa melimpah,” kata Wima Bramantya, Pengelola Kebun Kopi ‘Karanganjar’ Kecamatan Nglegok, Blitar, Sabtu (7/7).
Wima Bramantya mengungkapkan, ritual ini sekaligus upaya untuk menarik kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Di tempat ini bukan hanya ada kebun kopi, tapi juga dilengkapi berbagai fasilitas termasuk tempat menginap.
Ritual untuk menandai masuknya musim panen dan giling biji kopi yang sudah dilakukan masyarakat lereng gunung Kelud sejak masa penjajahan kolonial Belanda tersebut sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen yang melimpah serta kualitas hasil panen biji kopi yang baik.
Ritual ini seperti dikutip Tagar.id, diawali dari depan wisma loji di area kebun. Rombongan pengiring manten membawa berbagai macam sesaji lengkap untuk ritual misalnya bunga.
Rombongan pengiring langsung menuju lokasi perkebunan. Setelah tiba, sesepuh desa meletakkan sesaji di bawah pohon kopi dan memanjatkan doa. Sesepuh desa membakar dupa dan kemenyan, sehingga aroma khas dupa dan kemenyan langsung semerbak ke sekitar lokasi.
Sesepuh desa kemudian memotong dahan kopi yang banyak berisi buah kopi, lalu dibungkus dengan kain berwarna putih. Selanjutnya, para pekerja langsung mengikuti sesepuh itu, saat proses ritual dengan memetik kopi masih berlangsung.
Kegiatan ritual memetik kopi bukan hanya diikuti para pekerja tapi juga wisatawan asing. Mereka tertarik dengan proses ritual yang mereka anggap unik. Bahkan, wisatawan asing sempat memetik kopi.
Seluruh hasil memetik kopi itu ditaruh ke dalam tempat yang terbuat dari bambu. Selanjutnya, kopi yang telah dipetik diarak menuju tempat pesanggrahan untuk diserahkan ke pengelola dan pemilik kebun, sebagai simbol panen raya kopi telah dimulai.
Para wisatawan yang memetik kopi mengaku mayoritas baru pertama kali ikut dan melihat ritual tersebut. Mereka merasa kagum dengan kebudayaan di Indonesia, sehingga sengaja datang untuk mengabadikan. “Ini menarik sekali, jadi saya sengaja datang ke kebun kopi. Saya juga senang minum kopi,” kata Alan Sage, seorang wisatawan asal Inggris.
Hasil petikan tersebut kemudian digiling, sebagai pertanda dimulainya proses penggilingan kopi. Perusahaan juga berterimakasih, sebab kegiatan ritual berjalan lancar.
Luas Kebun Kopi “Karanganjar” di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar itu mencapai 206 hektare. Rata-rata dari hasil kopi yang ditanam perusahaan, bisa menghasilkan hingga 100 ton kopi. Untuk penjualan, selain memenuhi pasar dalam dan luar negeri, juga dikemas sendiri, dijual ke wisatawan yang berkunjung ke kebun kopi. (ist)
Pameran ‘No Limit No Fear’ di House of Sampoerna. Foto: Dok HoS.
Dengan semangat bebas berekspresi dalam menciptakan karya seni, para seniman muda yang tergabung dalam Forum Aliansi berupaya untuk terus mengasah kreatifitas, menghasilkan karya-karya menarik dengan menggunakan beragam media.
Keberanian untuk keluar dari batasan-batasan dalam berkarya tampak pada gelaran karya bertajuk “No Limit No Fear” yang diselenggarakan di Galeri Paviliun House of Sampoerna pada tanggal 13 Juli – 11 Agustus 2018.
Sebanyak 31 karya baik berbentuk 2 maupun 3 dimensi diciptakan untuk merespon tema “No Limit No Fear” yang tersaji secara apik dengan keunikan cerita di baliknya.
Para seniman muda yang turut serta dalam pameran ini menerjemahkan pemahaman akan keberanian melalui beragam cara, seperti menggambarkannya langsung kedalam karya atau dengan cara keluar dari pakem yang selama ini mereka anut.
Yakni pakem menggunakan media selain kanvas dan bereksperimen dengan warna serta teknik yang tidak biasa.
Seperti karya dari Zulfikar Risky dengan karya berjudul “Arena Tinju Pemuja Batu” yang merespon tema pameran ini dengan mengibaratkan seorang seniman sebagai seorang petinju berkepala macan.
Yakni seorang petarung yang harus rutin berlatih dan siap bertempur di medan perang dalam kondisi apapun.
Lain halnya dengan Raka Valdiansyah yang berjudul “Penyet-Penyetan”, baginya berkarya itu bukan melulu hanya soal melukis, melainkan bermain-main dengan media lainpun juga bisa dianggap berkarya.
Karya Raka terbilang sangat unik karena menggunakan media seng, stiker yang dikombinasikan dengan drawing sehingga menghasilkan karya yang bahkan tidak terpikirkan oleh orang lain.
Keunikan karya serta cerita dari masing-masing anggota Forum Aliansi inilah yang diharapkan akan menjadi inspirasi dan menumbuhkan jiwa seni pada masyarakat untuk turut ikut berkarya.
Forum Aliansi, yang terbentuk 2017 atas dorongan House of Sampoerna (HoS), awalnya merupakan sekumpulan anggota alumni SMSR yang secara aktif berkegiatan seni.
Kedepannya Forum Aliansi diharapkan menjadi wadah yang membuka kesempatan seluas-luasnya bagi semua seniman Surabaya yang ingin bergabung dan berkarya bersama.
“Dengan terselenggaranya pameran ini kami ingin silaturahmi antar anggota alumni tetap terjalin sehingga tujuan utama kami untuk terus menanamkan nilai-nilai seni di jiwa masyarakat dapat terwujud,” ujar Miftahul Khoir, Ketua Forum Aliansi saat memberikan ulasannya.
Pameran “No Limit No Fear” juga menjadi pameran pertama yang digelar di Galeri Paviliun, yakni ruang galeri baru yang menempati bangunan paviliun Rumah Barat.
Serta memiliki misi pendidikan dalam memperkenalkan seni, budaya dan sejarah dalam berbagai program pameran yang digelar setiap bulannya, dengan melibatkan seniman dari berbagai latar belakang, kolektor, komunitas, institusi pendidikan dan budaya dari dalam maupun luar negeri, yang memiliki kepedulian yang sama dalam perkembangan dan pelestarian seni dan budaya. (ita)
BPCB melakukan penggalian tumpukan batu bata kuno di Situs Semanding, Kediri. Foto: Surya.co.id/Didik Mashudi.
Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) melakukan penggalian di lokasi penemuan struktur batu bata purbakala di Dusun Wonorejo, Desa Semanding, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, beberapa waktu lalu.
Lokasi penggalian di areal lahan seluas 5 x 7 meter yang saat ini ditanami kacang tanah. Lahan tempat ditemukannya struktur batu bata purbakala ini milik Zainudin (55) warga setempat.
Struktur batu bata kuno ini digali bagian tepinya dengan kedalaman sekitar satu meter. Penggali kemudian membersihkan tanah yang menutupi tumpukan batu bata yang kondisinya sudah tidak utuh lagi.
Tim penggali seperti dilaporkan Tribunnews kemudian melakukan penelitian struktur bangunan yang telah tertimbun tanah. Bangunan yang berupa tumpukan batu bata itu kondisinya tertimbun tanah dengan kedalaman lebih dari satu meter.
Nugroho arkelog dari BPCB menyebutkan, tujuan penggalian untuk melakukan studi kelayakan dan mengetahui keutuhan dari struktur bangunan batu bata merah. Dalam penggalian ini juga dihadiri perwakilan dari Dinas Pariwisata Pemkab Kediri dan Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan.
Kesimpulan sementara hasil penggalian batu bata merah purbakala strukturnya masih bagus. Bangunan purbakala ini diperkirakan bagian dari peninggalan masa kejayaan Kerajaan Kediri Dhoho Panjalu sekitar abad 12.
Sebelumnya struktur bangunan batu bata merah pernah diteliti Ahmad Khariri juga dari BPCB. Hasil kajiannya ukuran batu bata merah yang ditemukan di situs Semanding ukurannya identik dengan batu bata yang ditemukan di Trowulan, Mojokerto.
Batu bata kuno itu berukuran rata-rata panjang 40 cm, lebar 24 cm dan tebal 8 cm. Namun kondisinya sebagian sudah tidak utuh lagi dan pecahannya berserakan. Lokasi Situs Semanding berdekatan dengan Situs Adan-adan hanya berjarak sekitar 300 meter. Lokasi Situs Adan-adan telah dilakukan penelitian dengan eskavasi dan penggalian dari Puslit Arkenas. (ist)
Penandatanganan nota kesepahaman untuk pendampingan festival budaya 2018. Foto: Medcom.id/Intan Yunelia.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun ini akan menggelar 13 Festival Budaya sepanjang tahun 2018. Acara tersebut digelar di 9 daerah di tanah air.
“Hari ini para wakil Pemerintah Daerah, para Bupati bertemu dengan bapak Dirjen Kebudayaan untuk bersama menandatangani nota kesepahaman (MOU – Memorandum of Understanding) untuk pendampingan festival,” kata Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid di kantor Kemendikbud, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, pekan lalu.
Kemendikbud melalui Dirjen Kebudayaan membentuk platform pengembangan tim Indonesiana. Tim ini yang merumuskan kegiatan festival kebudayaan pada tingkat nasional dan daerah, serta pada tataran tata kelola dan penyelenggaraan.
“Setelah melalui proses yang panjang, forum diskusi, timbang pandang dan perumusan bersama antara Kemendikbud melalui Tim Indonesiana, pemerintah daerah dan komunitas, maka untuk tahun 2018 diputuskan akan digelar 13 festival dari 9 wilayah,” jelasnya seperti dilansir Medcom.id.
Menurut Farid, festival budaya berpotensi menjadi ajang untuk menguatkan karakter bangsa. Festival-festival budaya juga dapat menjadi wahana untuk menumbuh kembangkan identitas warga, agar tercipta kepercayaan diri bangsa dan sifat saling menghargai untuk menguatkan persatuan-kesatuan bangsa.
“Selain itu festival budaya memiliki potensi bukan hanya mengangkat keunikan daerah, melainkan juga ketersambungan daerah,” ucapnya.
Lebih jauh, festival budaya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat, peningkatan kemampuan dan profesionalisme tingkat individu, aspirasi yang terpenuhi di tingkat komunitas, dan kohesi sosial di tingkat daerah. “Serta pemerataan kesempatan memperoleh pendapatan di tingkat masyarakat, juga perkembangan kebudayaan yang seimbang antara pelestarian dan pemajuan,” pungkasnya. (ist)
Daftar 9 Wilayah Festival Budaya 2018 :
1. Festival Fulan Fehan & Foho Rai: 3 Juli – Oktober 2018 – Belu NTT
2. Festival Budaya Saman: 4 September – 24 November 2018 – Gayo Lues Aceh
3. International Gamelan Festival: 9 – 16 Agustus 2018 – Solo s/d Blora Jateng
4. Bebunyian Sintuvu: 10 Agustus – Oktober 2018 – Sigi s/d Palu Sulawesi Tengah
5. Festival Seni Multatuli: 6 – 9 September 2018 – Lebak Banten
6. Silek Arts Festival: 7 Sept – 30 Nov 2018 – Padang s/d Pesisir Selatan Sumbar
7. Festival Folklor: 12 – 15 September 2018 – Blora Jateng
8. Amboina International Bamboowind Music Festival: 23 – 27 Oktober 2018 – Ambon Maluku.
9. Indonesia Weaving Festival: 14 – 17 Oktober 2018 – Tapanuli Utara Sumut
Dosen Unhasy Agus Sulton menunjukkan manuskrip Alquran di Ponpes Tebuireng, Jombang. Foto: Republika.co.id.
Aceh merupakan tempat lahirnya pujangga penulis naskah-naskah keagamaan. Nama-nama besar seperti Hamzah al-Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin Ar-Raniri, dan Abdurrauf al-Singkili merupakan tokoh-tokoh yang lahir dan bermukim di Aceh.
Karya-karya tokoh tersebut menginspirasi para ulama di Nusantara. Bahkan karya-karyanya mengininspirasi para ulama di Asia Tenggara. Karya para tokoh tersebut tidak sedikit yang menjadi referensi ulama Hijaz Timur Tengah.
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Badang Penelitian, Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan dari Kemenag RI, Dr Muhammad Zain mengatakan, ironis karya-karya besar para tokoh sebagian besar masih tersimpan dan berserakan di masyarakat.
Ia menyampaikan, bersama tim dari Puslitbang LKKMO pada April 2018 mengunjungi tempat-tempat penyimpanan manuskrip keagamaan di Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh. Tim mengunjungi seorang pemuda yang menyimpan 400 manuskrip.
Manuskrip yang dikoleksinya berjenis mushaf Alquran dari abad ke-16 masehi dan kitab-kitab ilmu pengetahuan agama. Seperti kitab fiqih, tasawuf, ilmu falaq, ilmu tajwid, sejarah Aceh, obat-obatan dan azimat serta tabir gempa. Tapi manuskrip-manuskrip tersebut belum dikatalogisasi dan digitalisasi.
“Pada umumnya naskah-naskah (manuskrip) tersebut diproduksi antara abad ke-17 sampai 19 masehi, kondisi naskah-naskah ini masih belum mendapatkan perawatan yang baik, keadanannya sudah rusak bahkan terpisah dari jilidan dan koyak-koyak,” ujarnya kepada Republika.co.id.
Dr Zain melanjutkan, kemudian tim menemui seseorang yang memiliki 600 manuskrip. Orang tersebut menyimpan sejumlah karya-karya besar dan penting seperti karya Abdurrauf al-Singkili, Miratut Tullab dan karya-karya pertama Nuruddin Ar-Raniri. Selain itu banyak juga kitab-kitab penting lainnya.
Ia menjelaskan, kondisi manuskrip tersebut sebagian sudah disortir, tapi belum membuat katalog dan didigitalisasi. Meski demikian orang tersebut menjaga baik manuskrip-manuskrip itu. Juga terbuka memberikan kesempatan kepada pengkaji dan penelaah manuskrip. Orang itu juga membuka pintu kerjasama penyelamatan manuskrip dengan lembaga Pemerintah Indonesia.
“Namun dia tidak memberikan fisik atau kopi digital manuskripnya kepada lembaga-lembaga dari luar negeri, baik dalam bentuk kerjasama, menjual menyimpan di lembaga-lembaga tertentu di luar negeri,” jelasnya.
Dr Zain menegaskan, langkah konkret yang mendesak dan harus dilaksanakan segera adalah katalogisasi dan digitalisasi manuskrip. Supaya penyelematan dapat dilakukan setahap demi setahap. Berikutnya melakukan kerjasama dengan lembaga restorasi seperti Perpustakaan Nasional. Kemudian melakukan kajian untuk menelaah isi manuskrip dan melahirkan buku-buku.
“Naskah-naskah yang berbentuk petuah dan sejarah perlu dicetak ulang dan dikemas secara sederhana dan menarik untuk dipersembahkan kepada masyarakat, agar mereka paham dan melek sejarah kekayaan leluhurnya,” ujarnya.
Menurutnya, manuskrip-manuskrip warisan bangsa tersebut perlu menjadi bahan kurikulum muatan lokal di sekolah. Supaya generasi sekarang dan akan datang dapat melek sejarah dan paham pengetahuan masa lampau. (rep)
Candi Tegowangi tegaskan Budaya Panji milik Kediri. Foto: Sureplus.id.
Acara Festival Panji Internasional di Candi Tegowangi kemarin memang istimewa. Bukan hanya menjadi awal dari rangkaian Pekan budaya dan Pariwista Kabupaten Kediri yang pelaksanaannya hingga 14 Juli 2018.
Acara dibuka secara resmi melalui Parade Budaya dan Pawai Mobil Hias di kawasan SLG pada 8 Juli. Festival ini semakin istimewa karena juga diwarnai oleh seniman mancanegara. Baik penari mapun singer.
Bahkan, para seniman asing itu seperti memiliki pertautan dengan cerita panji. Naowarat misalnya, dia langsung teringat dengan satu tarian di negerinya saat melihat pertunjukan Panji.
Meskipun dia tak paham sepenuhnya ucapan sang dalang, dia langsung merasa cerita Panji juga familiar di negaranya. Berwujud pada tarian Inao. “So amazing Panji. I know that story,” ujarnya seperti dikutip Jawapos RadarKediri.
Yuli Marwanto mengatakan hal serupa. Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri itu menyebut ruwatan panji justru besar di negara-negara lain.
Mulai Thailand, Vietnam, Myanmar, hingga Filipina. Bahkan, sangat disakralkan. Seperti tarian Inao di Thailand yang masih berkaitan dengan cerita Panji. “Justru di masyarakat Thailand ini (hanya) bisa dilihat ketika ada hajatan saja,” ungkapnya.
Masih menurut Yuli, tarian Inao erat kaitannya dengan tarian Panji dengan Dewi Kilisuci atau Sekartaji. Secara garis besar Panji adalah seorang kesatria yang selalu kehilangan pasangan hidupnya. Sebelum akhirnya mendapatkannya kembali dengan perjuangan yang luar biasa.
Acara Ruwatan Panji di Candi Tegowangi merupakan rangkaian dari beragam acara Festival Panji Internasional. Rangkaian kegiatan seni sacral ini melibatkan banyak provinsi. Mulai Provinsi Bali, Jawa Timur, dan Jogjakarta.
Adapun pemilihan Candi Tegowangi sebagai lokasi karena tempat tersebut merupakan situs purbakala yang juga terdapat relief yang berkisah tentang Panji. “Panji ini cikal bakalnya dari Kediri,” ungkapnya.
Wahdan MY, penanggungjawab Festival Panji Internasional menyatakan bahwa dengan adanya festival Internasional ini harapannya agar Panji semakin populer. Tak hanya di kalangan orang manca negara. Justru pada generasi muda Indonesia. “Semua dunia tahu Panji milik Indonesia. Bahkan telah dicatat oleh UNESCO juga. Jadi generasi muda hendaknya malah lebih tahu,” paparnya.
Dalam serangkaian Festival Panji Internasional kemarin tak hanya menyajikan pagelaran wayang krucil saja. Juga ada acara penyucian diri atau ruwatan. Ruwatan langsung dipimpin oleh sang Dalang Harjito.
Prosesi ruwatan tak hanya diikuti oleh warga Kediri saja. Tapi juga oleh warga negara asing. Terutama para seniman yang akan tampil di rangkaian acara Festival Panji Internasional. Beberapa orang dari Thailand dan Vietnam terlihat diruwat.
“Ini sekaligus upaya penyucian kita berdoa bersama pada Tuhan Yang Maha Kuasa berharap perlindungan juga,” papar Harjito sebelum akhirnya membasuh kepala salah satu warga Thailand dengan siraman air bunga dan gelang genitri. (jpr)