Mengangkat Cerita-Cerita Jawa Menjadi Film Pendek

foto
Tembang dolanan juga menjadi bagian dari film pendek berbahasa Jawa. Foto: Tribunnews.com.

Menyaksikan film yang diangkat dari novel best-seller merupakan hal yang biasa. Namun, bagaimana rasanya jika menonton film pendek yang diangkat dari cerita pendek berbahasa Jawa?

Di tangan dingin Danang Wijoyanto, dosen Karawitan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), cerita pendek berbahasa Jawa atau yang lebih akrab disebut cerita cekak (cerkak) dapat dinikmati dengan cara lain.

Ditengah maraknya perkembangan film Indonesia yang diangkat dari novel, Danang mencetuskan ide untuk mengangkat kisah dari cerkak sastra Jawa ke dalam film.

Dosen asal kota Trenggalek ini mengajak mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) menciptakan sesuatu yang baru. Mereka memilih cerkak karya Suharmono Kasiyun berjudul ‘Kakang Kawah Adhi Ari-Ari’.

“Saya sebagai dosen yang memiliki latar belakang bahasa daerah utamanya bahasa Jawa sangat tertarik melakukan proyek ini,” jelas alumnus Universitas Negeri Surabaya itu kepada Tribunnews.com, beberapa waktu lalu.

Pemilihan cerkak itu bukan tanpa alasan. Karya sastra Jawa itu telah menerima beberapa penghargaan bergengsi salah satunya penghargaan Karya Sastra Daerah Jawa Terbaik 2018 dari Yayasan Kebudayaan Rancage.

“Kami memutuskan memilih karya sastra milik Suharmono karena karya ini sangat lekat dengan kebudayaan masyarakat Jawa,” terang Danang.

Ada 12 film pendek diputar dalam festival film dalam Puncak Karawitan 2018. Film-film itu di antaranya Surup, Kembang, Mantu, Peteng sing Ireng, Wiramane Lagu Dhangdut, Sanip Tambak Oso, Gombak, Tamu, Sisihan, Kakang Kawah Adhi Ari-Ari, Ayomi Tyas, Wening, dan Bento.

Festival film itu diapresiasi seluruh mahasiswa PGSD UMM. Salah satunya Dian Armandha. Diakuinya, membuat film bagi mahasiswa PGSD merupakan hal yang baru, namun itu adalah tantangan yang menyenangkan.

“Membuat film itu bukan kebiasaan kami. Jadi memang agak sulit, tetapi tugas itu sangat menantang karena harus banyak melakukan riset,” tutur sutradara film Surup itu.

Dia menambahkan, membuat film adalah salah satu cara bagi mahasiswa PGSD untuk melestarikan budaya, utamanya yang ada di Jawa Timur. Sebagai salah satu program studi yang berfokus pada pengembangan pendidikan karakter, PGSD UMM terus melestarikan budaya Jawa melalui beberapa mata kuliah budaya Jawa seperti Bahasa Jawa dan Karawitan.

“Saya senang sekali bisa terlibat dalam tugas akhir ini, membuat film bisa membantu kami untuk mempromosikan budaya Jawa,” imbuh mahasiswa asal kota Reog Ponorogo tersebut.

Tidak hanya berkarya dalam pembuatan film, mahasiswa PGSD UMM juga dipacu untuk menciptakan tembang dolanan. Diciptakannya tembang dolanan ini salah satu upaya PGSD UMM untuk melestarikan budaya Jawa, utamanya dalam membentuk pendidikan karakter melalui kearifan lokal.

“Selain menyesuaikan dengan kebutuhan guru SD, kami juga memacu mahasiswa PGSD untuk mengajarkan pendidikan karakter melalui kearifan lokal,” papar Dadang.

Mahasiswa menciptakan dan mengaransemen 12 tembang dolanan. Muncullah judul-judul Bekelan, Gajah ing Kebun Binatang, Aku Due Truwelu, Pitik Jago, Kupu-Kupu, Kekancan, Semut, Ojo Lali Wektu, Kucing Lemu, Jambu Lemu, Ayo Konco, dan Gunung-Gunung. “Seluruh mahasiswa menciptakan dan mengaransemen semua tembang dolanan yang akan ditampilkan nanti,” ujar Dadang. (ist)

Arkeolog Temukan Denah Candi Kerajaan Kediri

foto
Situs Peninggalan Kerajaan Kediri. Foto: Merdeka.com/Imam Mubarok.

Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslitarkenas) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengakhiri ekskavasi tahap ketiga terhadap Situas Adan-Adan dan Situs Wonorejo di Kabupaten Kediri beberapa waktu lalu.

Puslitarkenas memastikan dua struktur batu dan bata di dua lokasi berbeda tersebut adalah bangunan candi dan petirtaan yang saling berkaitan pada era Kerajaan Kediri.

Pada ekskavasi tahap tiga ini Puslitarkenas Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan sudah berhasil membongkar denah Situs Adan-Adan Di Kecamatan Gurah dan Situs Wonorejo di Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri. Pada Situs Adan-Adan, tim peneliti menemukan struktur bangunan candi dari bahan batu dan bata dengan sudut berukuran 8×8 meter.

Ketua Tim Puslitarkenas Sukawati Susetyo, seperti dikutip Merdeka.com mengatakan, terbukanya denah bangunan candi diawali dari penemuan dua buah makara sudut sebagai titik awal pencarian. Temuan lain berupa kepala kala berukuran besar tetapi belum selesai proses pengerjaan atau unfinishing.

Sedangkan di Situs Wonorejo berupa struktur bangunan petirtaan dari bata yang ditengarai tersambung langsung dengan sungai yang ada di sekitarnya.

“Bangunan petirtaan yang disebut sebuah embung ini memiliki keterkaitan langsung dengan candi adan-adan yang letaknya tidak terpaut jauh. Kedua bangunan sejarah ini diyakini peninggalan zaman Kerajaan Kediri atau Mataram Kuno di Abad Ke-9,” kata Sukawati.

Untuk memastikan pereode tahun bangunan tim Puslitarkenas akan melakukan pemeriksaan melalui karbon dating terhadap bahan struktur batu maupun bata . Sementara itu ekskavasi tahap tiga ini dianggap selesai dan akan dilanjutkan pada pereode keempat yang diperkirakan pada bulan Oktober 2018 mendatang .

Fokus penelitian nantinya untuk melanjutkan pencarian denah guna mengungkap bangunan secara utuh, termasuk kemungkinan adanya bangunan wihara yang berada di sekitar candi dan petirtaan. (mer)

Falsafah ‘Guyub-Rukun’ pada Tarian dari Nganjuk

foto
Pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur dari Nganjuk di TMII. Foto: Galamedianews.com.

Terwujudnya masyarakat yang ‘guyub – rukun’ didasari oleh sikap saling menghormati; menghargai, empati, serta tepo seliro (tenggang rasa). Inilah salah satu warisan budaya yang sudah tertanam di dalam jiwa bangsa Indonesia selama ratusan tahun.

Demikian antara lain disampaikan Pj Bupati Nganjuk Drs H Sudjono MM dalam sambutan acara pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, pekan lalu.

Dalam konteks budaya kerja dan pelaksanaan program Pemerintahan, ujar Sudjono, guyub – rukun dapat mendorong rasa tanggung jawab, peningkatan kedisiplinan, dan kepatuhan pada aturan.

“Aparatur Negara harus rukun, guyub. Kerja secara normatif, jujur dan amanah. Terjalin komunikasi dan hubungan yang harmonis dengan semua tingkatan. Ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake: berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, bertindak benar tanpa merendahkan atau mempermalukan yang salah,” ujarnya, seperti dikutip Galamedianews.com.

Nilai-nilai inilah, kata Sudjono, menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan kita. Potensi Jawa Timur, dari 38 Kabupaten/Kota, dengan penduduk hampir 40 juta. Nganjuk, 20 Kecamatan, 284 Desa Kelurahan, dengan penduduknya lebih dari satu juta.

“Masing-masing punya karakter dan potensi yang berbeda-beda. Maka nilai-nilai budaya ‘guyub – rukun’ itulah yang menyatukan kita,” tuturnya.

Pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur kali ini, menampilkan paket kesenian daerah dari Kabupaten Nganjuk, dengan tema, ’Pesona Budaya Nganjuk, Nganjuk Sayuk, Anjuk Ladhang Tumandang, Nyawiji Hambangun Nagari’.

Menampilkan berbagai tari dan lagu daerah, yang dikemas dalam tiga segmen; tari ’Maeswara Swantantra Anjuk Ladhang’ , tari ’Gembyang’ dan seni drama tari ’Udaka Bayanaka Ring Cabean’.

Dipenghujung acara kelompok kesenian yang dipimpin langsung Pasiyan SH MM selaku Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Nganjuk ini, menggelar kesenian Langen Tayub.

Tari ’Maeswara Swantantra Anjuk Ladhang’ menggambarkan rasa syukur atas kejayaan masyarakat Bumi Anjuk Ladhang, mendapat anugerah tanah perdikan (wilayah kerajaan) pada masa Epu Sendok, raja Mataram Hindu yang terakhir.

Hal ini ditandai dengan berdirinya tugu kemenangan; ‘Jaya Stamba.’ ’Gembyang’ merupakan karya tari yang terinspirasi dari proses wisudaan Gembyangan Waranggono Langen Beksa, sebuah tradisi di Desa Ngrajek di Nganjuk.

Menggambarkan semangat Waranggono muda dalam meningkatkan kualitas profesi yang ditekuni.

Seni drama tari ’Udaka Bayanaka Ring Cabean’ menceritakan legenda rakyat ’Udaka Bayanaka’ (sumber mata air) di lereng gunung Pandan, Desa Cabean Ngluyu Kabupaten Nganjuk.

Menggambarkan perjalanan tokoh Raden Mas (RM) Suro Mangun Joyo membangun sumber mata air besar yang diharapkan dapat memberi penghidupan, kesejahteraan masyarakat di sekitar Argo Mulyo. Sehingga sumber mata air itu disebut Umbul Argomulyo. Sumber mata air tersebut menjadi tempat keramat.

Setiap tahun diadakan upacara adat Lebur, yang maknanya membersihkan sumber mata air, serta mengantar doa syukur atas berkah Tuhan Yang Maha Esa.

Kini sumber air tersebut dikelola PDAM Kabupaten Nganjuk dan sebagian dialirkan ke kota. Sumber air yang terletak 650 meter sebelum pintu masuk Goa Margo Tresno tersebut, kini menjadi tempat wisata bernama kolam renang Umbul Argomulyo.(sak)

ITS Bakal Hidupkan Budaya Maritim Nusantara

foto
Dr R Cecep Eka Permana saat menyampaikan perkembangan peradaban maritim Nusantara Pra Majapahit. Foto: Humas ITS.

Bermaksud merekonstruksi ulang kebudayaan maritim nusantara, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berencana dirikan Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUI) yang terkait dengan budaya kemaritiman Indonesia. Hal ini selaras dengan keinginan bangsa Indonesia untuk membangun kembali nilai kemaritiman.

Pembahasan ini sempat tercuat dalam Diskusi Peradaban Maritim Tepian Kali Brantas yang digelar oleh Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim (PSKBPI) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITS di Ruang Sidang Rektorat ITS, pekan lalu.

Sejak dahulu, Indonesia memang dikenal sebagai negara maritim yang hebat. Bahkan, transportasi air memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia pada masa tersebut.

Terkait hal tersebut, PSKBPI LPPM ITS sempat melakukan penelitian peninggalan kerajaan majapahit tentang budaya kemaritiman yang ditemukan di Sidoarjo. Penemuan ini berupa candi di tepian Kali Brantas.

Menurut Dr Ir Amien Widodo M Si, Ketua Kelompok Kajian Bencana PSKBPI, penelitian ini diharapkan dapat merekonstruksi ulang budaya maritim yang pernah ada di Indonesia, utamanya di tanah Jawa. “Untuk membangun Indonesia sebagai poros maritim dunia, Indonesia harus membangun budaya maritim ini,” tuturnya, seperti dilansir Humas ITS.

Tidak hanya di tepian kali Brantas, penelitian ini juga dilaksanakan di sepanjang tepian Kali Porong. Ia menuturkan, penelitian ini akan memberi gambaran besar budaya maritim yang ada di Indonesia pada jaman dahulu. Letak garis pantai, pelabuhan, dan bentuk kapal menjadi pokok bahasan yang nantinya akan dikembangkan.

“Penelitian yang ada tidak hanya sebatas Surabaya-Sidoarjo saja, persebarannya bahkan dapat mencapai Blitar, ujungnya di Wonorejo,” papar pria paruh baya ini. Harapannya, dengan mengetahui persebaran budaya maritim tersebut, ITS mampu membuat gambaran (virtualisasi) kebudayaan maritim yang pernah ada di Indonesia.

“Tidak hanya dari kerajaan Majapahit saja, kerajaan lain seperti Medang, Kediri, Singosari juga akan ditelisik sejarahnya,” sambungnya. Amien menuturkan, ITS akan secara serius menggarap penelitian melalui terbentuknya PUI. Dengan adanya PUI tersebut, ITS berharap bisa membuat sebuah museum sebagai bahan edukasi bagi generasi saat ini.

Diskusi Peradaban Maritim Tepian Kali Brantas ini menghadirkan Staf Ahli Kemaritiman Sosio-Antropologi Dr Ir Tukul Rameyo MT, arkeolog dari Universitas Indonesia Dr Ir Cecep Eka Permana, arkeolog Universitas Negeri Malang Drs Dwi Cahyono M Si, wakil dari komunitas Laskar Nusantara 6 Tri Kiswono Hadi, dan dosen Teknik Geofisika ITS Firman Syaifuddin ST MT.

Amien menuturkan, narasumber dalam diskusi ini adalah komponen pendukung dalam penelitian yang berlangsung sejak tahun 2017. “Kami hanya mampu mempelajari bentuk fisiknya, untuk sejarahnya, butuh ahli arkeologi,” pungkasnya. Ia menganggap, penelitian perihal budaya memang butuh banyak sumber. (ita)

Kemendikbud Petakan 652 Bahasa Daerah di Indonesia

foto
Indonesia memiliki ratusan bahasa daerah. Foto: Istimewa.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Badan Bahasa Kemendikbud) telah memetakan dan memverifikasi 652 bahasa daerah di Indonesia. Jumlah tersebut tidak termasuk dialek dan subdialek.

“Dari tahun 1991 sampai 2017 kami telah memetakan dan memverifikasi bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Jumlahnya saat ini 652 bahasa daerah, yang tentunya bisa berubah seiring waktu,” kata Dadang Sunendar, dalam acara Lokakarya Pengelolaan Laman dan Media Sosial di Hotel Santika Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, Senin (23/7/2018).

Penghitungan jumlah itu diperoleh dari hasil verifikasi dan validasi data di 2.452 daerah pengamatan. Bahasa-bahasa di wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat belum semua teridentifikasi.

Dadang Sunendar seperti dikutip laman Kemendikbud.go.id, mengatakan salah satu tugas Badan Bahasa Kemendikbud adalah melindungi dan melestarikan bahasa-bahasa daerah tersebut.

Dikutip dari laman Badan Bahasa, beberapa lembaga internasional pun telah ikut memetakan bahasa di Indonesia.

Summer Institute of Linguistics (SIL) Internasional dengan proyek Ethnologue dan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (Unesco) dengan program Atlas of the World’s Languages in Danger adalah contohnya.

Namun, karena perbedaan metodologi, jumlah bahasa hasil pemetaan lembaga-lembaga itu pun berbeda-beda.

Summer Institute of Linguistics menyebut jumlah bahasa di Indonesia sebanyak 719 bahasa daerah dan 707 di antaranya masih aktif dituturkan. Sementara itu, Unesco baru mencatatkan 143 bahasa daerah di Indonesia berdasarkan status vitalitas atau daya hidup bahasa. (sak)

Pelajar Surabaya Usung Budaya ke Korea Selatan

foto
Pelajar Surabaya bersiap berangkat ke Busan Korea Selatan. Foto: Humas Pemkot Sby.

Pelajar dari Kota Surabaya membuktikan diri mampu sejajar dengan pelajar dari berbagai kota di dunia.

Kali ini, pelajar Kota Surabaya jenjang SMP turut berpartisipasi dalam kegiatan Asian Youth Education Forum 2018 di Kota Busan, Korea Selatan, yang berlangsung 24-26 Juli 2018.

Selain pelajar dari Surabaya, Asian Youth Education Forum 2018 juga diikuti pelajar dari China, Kamboja, Vietnam, dan Korea Selatan.

Secara berkelompok, perwakilan dari berbagai negara tersebut akan melakukan presentasi tentang keunggulan program pendidikan di masing-masing negara dan menampilkan pertunjukan seni budaya.

Delegasi dari Kota Surabaya sebanyak 18 orang. Terdiri atas 14 pelajar SMPN dan empat orang pendamping. Eko Widayani, selaku guru pendamping dari SMPN 26 Surabaya, mengatakan bahwa 14 pelajar yang berangkat ke Korea Selatan tersebut berasal dari pelajar gabungan beberapa SMP Negeri di Surabaya.

“Selama mengikuti kegiatan tersebut, delegasi dari Kota Pahlawan akan melakukan presentasi dengan 2 topik bahasan, yaitu Education for Global Citizenship dan Young People in Global Citizenship,” kata Eko saat dikonfirmasi dari Surabaya, Selasa, (24/07).

Disamping itu, lanjut Eko, delegasi Kota Surabaya juga akan menampilkan tari Suramadu, Sparkling Nusantara, dan musik tradisional Angklung sebagai penampilan seni dan budaya.

“Presentasi ini nanti dikompetisikan dengan pelajar lain dari berbagai Negara. Tugas guru pendamping hanya membantu anak-anak untuk performa,” kata Eko.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya Surabaya Ikhsan berpesan kepada para siswa agar tetap selalu menjaga kesehatan sehingga dapat mengikuti rangkaian kegiatan yang telah dijadwalkan.

Menurutnya, pengalaman yang didapat para siswa selama mengikuti kegiatan, nantinya dapat diadopsi disesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing.

“Kami yakin anak Surabaya adalah anak-anak yang luar biasa, mereka tidak hanya sekedar multitalenta. Namun juga mampu mengharumkan nama Surabaya dikancah internasional pada setiap kesempatan,” jelas Ikhsan.

Salah satu perwakilan pelajar, Fadlyn Attina Jatmiko mengatakan, presentasi tentang pendidikan akan membahas tentang upaya anak muda atau tunas bangsa agar bisa mendunia.

Di Kota Surabaya, pendidikan telah didukung pemerintah dengan menyediakan rumah bahasa, perpustakaan, hingga upaya perlindungan anak. Selain itu, berbagai upaya dari Pemkot Surabaya untuk menjadikan kota layak anak juga akan dipresentasikan dihadapan forum internasional tersebut.

“Keunggulan-keunggulan ini akan kami sampaikan dalam presentasi dan kami hubungkan dengan masalah kewarganegaraan dan kemanusiaan,” ungkap siswa kelas 9 dari SMPN 26 ini.

Sementara itu, Andi Safa Afianzar menuturkan ada berbagai program sekolah yang akan menjadi topik bahasan dalam presentasi nanti, mulai dari konselor sebaya, adiwiyata, hingga berbagai wadah kegiatan yang bertujuan menggali bakat dan potensi siswa di Surabaya.

“Tak salah jika Surabaya menjadi sebuah kota yang aman, nyaman, dan ramah bagi warganya. Terutama kami para pelajar Surabaya, terima kasih Bu Risma,” ujar siswa asal SMPN 19 tersebut. (ita)

Ini Pemenang Miss Grand Indonesia 2018

foto
Nadia Purwoko, Miss Grand Indonesia 2018 asal Bengkulu. Foto: Kemenpar.go.id.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengapresiasi penyelenggaraan Miss Grand Indonesia 2018. Tahun ini, Menpar didapuk sebagai juri kehormatan pada acara puncak yang dilaksanakan di Jakarta Convention Center akhir pekan lalu.

Acara tersebut mengangkat tema Beauty in Diversity, serta diikuti oleh 30 kontestan dari seluruh Indonesia yang mewakili provinsi masing-masing.

Finalis Miss Grand Indonesia mewakili wanita Indonesia yang modern dan mandiri. Memiliki jiwa sosial serta dapat berkontribusi diberbagai bidang baik sosial, pemberdayaan, pariwisata dan ekonomi.

Menpar mengucapkan selamat kepada para pemenang dan seluruh finalis, yang kedepannya diharapkan menjadi duta wisata bagi daerahnya masing-masing yang secara aktif mempromosikan pariwisata Indonesia.

Terkait hal itu, Kementerian Pariwisata akan terus mengajak kerjasama berbagai pihak dengan tujuan untuk mempromosikan pariwisata Indonesia di kancah internasional, termasuk dalam memanfaatkan anak bangsa di ajang internasional sebagai endorser.

Miss Grand International adalah salah satu kontes kecantikan terbesar selain Miss Universe. Impact-nya juga besar. Kemajuan industri Pariwisata Indonesia pun salah satunya dari peran para endorser.

“Putri kecantikan Miss Grand Indonesia, nantinya harus memiliki misi sama dengan Kementerian Pariwisata, mempromosikan Pesona Indonesia dan Wonderful Indonesia di kancah dunia,” pungkas Arief.

National Director of Miss Grand Indonesia, Dikna Faradiba mengatakan, para finalis sudah dipersiapkan mental dan wawasannya sehingga bisa memberikan penampilan terbaik pada malam Grand Final Miss Grand Indonesia 2018.

Dalam sambutannya, dia menambahkan bahwa pemenang akan mendapatkan hadiah utama berupa 1 unit apartemen dari Loftville dan mahkota istimewa seharga Rp 3 miliar.

“Pemenang Miss Grand Indonesia akan mewakili Indonesia di ajang Miss Grand International 2018 yang diadakan di Myanmar bulan Oktober mendatang,” imbuh Dikna.

Tahun ini, gelar Miss Grand Indonesia diraih oleh putri asal Bengkulu, Nadia Purwoko. Nadia mendapatkan piala kehormatan yang diberikan Menteri Pariwisata.

Sebagai Runner-Up I dan Runner-Up II yakni finalis asal Sumatera Utara, Vivi Wijaya dan finalis asal DKI Jakarta, Stephanie Cecilia Munthe.

Miss Grand Indonesia mengemban misi membawa nama bangsa Indonesia ke jenjang internasional melalui kontes kecantikan, sekaligus mempromosikan kebudayaan, keindahan dan wisata Indonesia.

Selain itu, Miss Grand Indonesia juga turut mendukung tujuan Miss Grand International, mengkampanyekan “STOP THE WAR AND VIOLENCE” bagi masyarakat Indonesia khususnya dan dunia umumnya.

Turut serta menjadi juri adalah Dirut Bank BCA Bapak Jahja Setiaatmadja, Jacky Mussry dari Markplus, Sophia Latjuba, Wulan Guritno, Ferry Salim, Dian Muljadi, Ivan Gunawan dan Dikna Faradiba sebagai ketua Yayasan Dharma Gantari.

Grand Final Miss Grand Indonesia ini turut dihadiri pula oleh pemilik lisensi Miss Grand International Nawat Itsaragrisil, Miss Grand International 2015 Claire Elizabeth Parker, Miss Grand International 2016 Ariska Putri Pertiwi, dan Miss Grand International 2017 Maria Jose Lora. (sak)

Atonoh Jukok, Tradisi Saat Panen Ikan Menurun

foto
Ibu-ibu di Mayangan Probolinggo menggelar Atonoh Jukok. Foto: Detikcom/M Rofiq.

Warga nelayan pesisir Mayangan, Kota Probolinggo punya cara berbeda untuk mengungkapkan rasa syukur kepada yang maha kuasa. Mereka menggelar Atonoh Jukok, tradisi untuk mengharap berkah yang maha kuasa.

Atonoh Jukok digelar saat hembusan angin kencang melanda wilayah kota setempat. Umumnya hembusan angin kencang tersebut kerap berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan nelayan di lautan yang menurun.

Warga nelayan Mayangan mempercayai, usai melakukan tradisi tersebut, hembusan angin kencang akan berangsur membaik dan membuat hasil tangkapan ikan di laut kembali normal.

Dalam Atonoh Jukok, seluruh warga nelayan Mayangan berkumpul di jalan ikan Kakap Kecamatan Mayangan, guna membakar ikan untuk dimakan bersama-sama.

Selain dimakan sendiri, sebagian ikan yang dibakar juga diberikan kepada warga luar kampung yang hadir dalam tradisi warga nelayan pesisir kota Mangga itu.

Diungkapkan Siti Fatonah, salah seorang istri nelayan setempat, seperti dikutip Detikcom, jika tradisi ini sudah ada sejak zaman nenek moyangnya. Tradisi itu merupakan bentuk mengharap berkah yang maha kuasa.

“Kalo sudah angin kencang gini, tangkapan ikan menurun, makanya ini sebagai wujud sedekah nelayan agar tangkapan ikan berkah,” ungkap Siti kepada wartawan, pekan lalu.

Hal senada disampaikan Hadi Zainal Abidin yang merupakan tokoh masyarakat Mayangan. Dengan adanya tradisi tersebut, warga bisa belajar saling berbagi dan gotong royong, agar selalu mendapat rahmat dan berkah dari yang maha kuasa.

“Saya rasa tradisi ini cukup baik, dan perlu dilestarikan. Banyak nilai-nilai positif dari tradisi ini, selain menjaga budaya daerah, juga memperkuat tali silaturahmi antar nelayan.” (dtc)

Kota Surabaya Raih ‘Best of the Best ‘ Awards

foto
Acara Yokatta Wonderful Indonesia Tourism Awards 2018. Foto: Kemenpar.go.id.

Deretan penghargaan yang diraih Pemerintah Kota Surabaya terus bertambah. Setelah sebelumnya berhasil meraih penghargaan Lee Kuan Yew World City Prize kategori Special Mention di Singapura, Senin (9/7/2018).

Kini, Surabaya kembali meraih penghargaan, yaitu Yokatta Wonderful Indonesia Tourism Awards 2018. Bahkan, dalam penghargaan ini, Kota Surabaya berhasil meraih kategori best of the best diantara semua daerah di Indonesia.

Penghargaan ini pun diberikan langsung Menteri Pariwisata (Menpar) RI Arief Yahya kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, pada Jumat (20/7/2018) malam.

Yokatta Wonderful Indonesia Tourism Awards 2018 merupakan bentuk penghargaan kepada Kabupaten atau Kota yang memiliki komitmen, performansi, inovasi, kreasi dan leadership dalam membangun pariwisata daerah. Award ini merupakan apresiasi bagi Pemerintah Daerah yang memiliki peran yang sangat besar untuk mengembangkan pariwisata daerahnya.

Dengan diterimanya penghargaan ini, maka berarti Kota Pahlawan berhasil mengalahkan Kota Denpasar (Bali) yang berada di posisi kedua dan Bandung (Jawa Barat) yang berada di posisi ketiga dari 34 Kota atau Kabupaten Provinsi yang ada di Indonesia.

“Selamat kepada para pemenang, terutama Surabaya yang size dan pertumbuhan tertinggi di atas 40 persen performancy-nya,” kata Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya saat malam penganugerahan itu.

Menurut Menteri Arief, penghargaan itu sangat penting jika ingin menjadi pemain dunia dan harus menggunakan global standart. Sebab, penghargaan atau award itu memiliki unsur 3C yakni; calibration (kalibrasi), confidence (kepercayaan diri), credibility (kredibilitas).

Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa kesuksesan suatu daerah itu karena unsur 3 A (Atraksi, Aksestabilitas dan Amenitas). Makanya, tidak berarti nanti apabila pemerintah daerah itu tidak komitmen untuk mengembangkan pariwisata.

“Yang lebih penting dari 3A adalah CEO commitment atau komitmen kepala daerah. Karena kalau CEOnya tidak komitmen hal itu tidak akan tercapai. Pariwisata itu paling mudah dan Paling murah, sayang sekali jika rekan-rekan tidak memanfaatkanya,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Menpar Arief juga memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Yokatta Wonderful Indonesia Tourism Awards 2018. Sebab, penghargaan ini mengapresiasi potensi pariwisata di Indonesia. Selain itu, penghargaan ini juga untuk memicu para pegiat dan pelaku pariwisata di Indonesia untuk senantiasa melakukan pembaruan dalam kemajuan bersama sektor pariwisata di Indonesia.

Menteri Arief juga menambahkan bahwa kampanye branding Wonderful Indonesia telah meningkatkan performance Indonesia. “Hal ini terlihat dari popolaritas Wonderful Indonesia melonjak dari status tidak tercatat menjadi ranking 47 dunia, sedangkan Truly Asia (Malaysia) dan Amazing (Thailand) masing-masing berada di posisi 83 dan 97 dunia,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Juri Yokatta Wonderful Indonesia Tourism Award 2018 Didien Junaedi mengatakan, ada 4 indikator penting yang mempengaruhi penilaian dalam penghargaan ini, yaitu Pertama, kinerja usaha pariwisata (akomodasi dan makan minum): PDRB dan tenagakerja, dampak/outcome, serta (Data Statistik BPS) dengan bobot 40%.

Kedua, Indeks Pariwisata Indonesia: daya sain 30%. Ketiga, Indonesia’s Attractiveness Award: dimensi pariwisata 15%, dan Keempat; Penghargaan Internasional dan Nasional (Kementerian/Lembaga) 15%. “Jadi, penilaiannya sangat komplek dan komplit,” tegas Didien.

Didien menjelaskan, awalnya hanya dipilih top-10 kota terbaik, top-10 kabupaten terbaik, dan top-1 dari masing-masing provinsi di Indonesia. Hasilnya, 10 Kabupaten terbaik itu adalah Kabupaten Badung, Kabupaten Sleman, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Bogor, Kabupaten Buleleng, Kabupaten Gianyar, Kabupaten Klungkung, Kabupaten Bantul, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Bandung.

Sementara 10 Kota terbaik ditempati Kota Surabaya, Kota Denpasar, Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Batam, Kota Yogyakarta, Kota Padang, Kota Makassar, Kota Balikpapan, Kota Palembang. “Sementara untuk best of the best-nya jatuh ke Kota Surabaya dengan skor 7,36, terpaut 0,32 poin dari posisi kedua Provinsi Bali dengan Kota Denpasar,” ujar Didien.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengucapkan terimakasih kepada warga Surabaya dan semua pihak yang telah bekerja keras demi membangun Kota Surabaya. Namun, perjuangan belum usai, Wali Kota Risma dan jajarannya masih akan terus memperbaiki dan mempercantik Surabaya ke depannya. “Perjuangan kita bersama belum selesai. Mari kita terus bersama-sama membangun Kota Surabaya,” kata Risma. (ita)

Tim Arkeolog Gali Situs Ngrawan di Madiun

foto
Diduga ada peninggalan Majapahit di Situs Ngrawan Madiun. Foto: Detikcom/Sugeng Harianto.

Tim arkeolog dari Balai Arkeologi Yogyakarta mendatangi Dusun Ngrawan, Desa Dolopo, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur untuk melakukan ekskavasi atau penggalian.

Penggalian ini dilakukan karena muncul dugaan terdapat situs peninggalan Kerajaan Majapahit di dusun tersebut.

“Kita datangkan tim Arkeolog Yogyakarta untuk melakukan penelitian di lokasi yang diduga ada peninggalan situs kerajaan Majapahit,” terang staf Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Saiful, kepada Detikcom di lokasi, akhir pekan lalu.

Total ada 10 orang tim arkeolog yang dikirim dari Yogyakarta untuk melakukan penggalian. Penggalian sendiri sudah dilaksanakan sejak 12 Juli silam hingga diperkirakan selesai pada 25 Juli mendatang.

Lokasi penggaliannya sendiri berada di lahan seluas sekitar 1.400 meter milik Gatot Suhanto (50), warga RT 44 RW 13 Dusun Ngurawan. Lokasi galian berada di antara pohon sengon yang ditanam oleh Gatot sejak 3 tahun lalu.

Di lahan ini juga terdapat empat titik yang telah ditandai untuk dilakukan penggalian. “Untuk hasil nanti akan diumumkan oleh Tim Arkeolognya seperti apa yang sebenarnya. Apakah benar-benar situs berhubungan dengan kerajaan Majapahit atau tidak,” katanya.

Saiful menjelaskan penggalian ini merupakan lanjutan dari penelitian yang sudah dilakukan sejak tahun 2016 lalu.

Pada ekskavasi pertama di tahun 2016, tim sudah menggali di dua titik dengan kedalaman sekitar tiga meter. Hasilnya, ditemukan tumpukan batu bata seperti bangunan kuno. Batu bata tersebut berukuran sekitar 20 x 30 cm dengan tebal sekitar 6 cm.

Ditambahkan Ketua Tim Peneliti Arkeolog Yogyakarta Rita Istari, penggalian kali ini tidak hanya dilakukan untuk mengungkap adanya peninggalan lain, tetapi juga untuk mengetahui bentuk dan karakter tinggalan arkeologi di situs bersejarah tersebut.

“Tanggal 16 Juli 2018 nanti kita akan datangkan ahli sejarah dan ahli prasasti baca tulisan kuno dari Malang. Nantinya akan membantu pencarian data dan akhir Oktober 2018 rencana mau saya buatkan buku tentang situs yang ada di Dusun Ngrawan atau familiar disebut Ngurawan kalau orang Jawa,” ungkap Rita.

Di dusun yang terletak sekitar 25 Km di selatan pusat kota Madiun itu memang kerap ditemukan benda-benda peninggalan sejarah seperti arca dan batu berornamen yang menjadi bagian dari pemandian kuno.

Bahkan kabarnya sisa-sisa peninggalan bersejarah itu teronggok begitu saja dan tidak terawat hingga menjadi incaran banyak kolektor. (dtc)