Dijamin ingat mati bila masuk museum ini. Foto: Hilda Meilisa Rinanda/Detikcom.
Memasuki museum ini, hawa seram akan langsung menyergap karena adanya berbagai jenis makam dan kerangka. Untuk menambah suasana, dupa pun dibakar hingga aromanya memenuhi ruangan.
Tak hanya itu, ada pula suara-suara hantu dan jangkrik yang bersahutan. Dijamin pengunjung akan mengingat kematian saat memasuki museum ini.
Ternyata ini adalah salah satu museum yang berada di dalam kawasan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, tepatnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang terletak di area kampus B.
Namun keberadaan museum yang dikelola Departemen Antropologi, Universitas Airlangga ini bukanlah untuk acara jurit malam semata tetapi untuk alasan ilmiah. Ini bisa terlihat dari namanya, Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian.
Hanya saja di mata publik, nama Museum Kematian lebih melekat dan lebih populer karena banyaknya replika makam lengkap dengan ‘penghuninya’ di sana.
Salah satu pengurus museum, Desi Bestiana mengatakan museum ini memperlihatkan berbagai replika bentuk makam yang ada di Indonesia. Misalnya makam Islam, makam Belanda, Tionghoa, Nasrani, sampai makam-makam khas beberapa suku di Toraja hingga Bali.
“Di sini ada makam Islam, Belanda, Tionghoa, Nasrani, Sulawesi Utara, Bali, Toraja,” kata Desi saat ditemui detikcom di lokasi, Selasa (4/9).
Namun ‘penghuni’ makam dijamin bukan replika lho, melainkan kerangka manusia betulan yang diperoleh pengelola dari kepolisian. Dengan kata lain, kerangka-kerangka itu adalah milik jenazah tanpa identitas.
Desi menegaskan, sejak awal didirikan di tahun 2006, museum ini memang bertujuan untuk media pembelajaran kepada mahasiswa. Maklum saja saat Praktek Kerja Lapangan (PKL), mahasiswa antropologi biasanya akan ke luar kota dan melihat berbagai kebudayaan, salah satunya budaya saat memakamkan jenazah.
Dari situlah muncul gagasan untuk merangkum budaya memakamkan jenazah yang unik-unik yang ada di penjuru Indonesia.
Akan tetapi Desi menambahkan, dengan adanya museum ini, mahasiswa bisa memahami bagaimana tubuh manusia saat meninggal nanti. Sebab menurutnya, kematian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Namun jika dipelajari, kematian bisa dihadapi dengan lebih enjoy.
“Jadi museum ini juga mengingatkan mahasiswa tentang kematian. Bagaimana tubuhnya nanti, dan diharapkan bisa menghadapi kematian dengan lebih enjoy ya,” harapnya. (dtc)
Pesarean Makam Eyang Kudo Kardono di Jalan Cempaka 25, Surabaya. Foto: Dhimas Prasaja/Liputan6.com.
Sudut di Jalan Cempaka 25, Kota Surabaya ternyata menjadi peristirahatan terakhir Eyang Kudo Kardono. Ia adalah Panglima Perang Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Raja Jayanegara atau Kalagemet.
Sri Poniati selaku juru kunci pesarean atau kompleks makam pun membenarkan bahwa Eyang Kudo Kardono adalah panglima perang di zaman Kerajaan Majapahit. Nama asli sang panglima adalah Raden Kudo Kardono.
“Panglima saat Majapahit diperintah Jayanegara, raja kedua setelah Raden Wijaya, pada masa tahun 1309-1328,” ucap Sri Poniati, saat ditemui Liputan6.com.
Menurut dia, Raden Kudo Kardono merupakan komandan perang kepercayaan Raja Jayanegara atau Kalagemet. Konon, Kudo Kardono merupakan saudara sepupu dari Mahapatih Majapahit, Gajah Mada.
Pada masa pemerintahan Jayanegara ini, sering terjadi pemberontakan di beberapa wilayah kekuasaan Majapahit. Tak ketinggalan di Surabaya, yakni pemberontakan Ra Kuti pada 1319 Masehi.
Jayanegara kemudian mengirim Pangeran Kudo Kardono untuk menumpas pemberontakan yang dipimpin Kuti. Adapun kawasan makam tersebut merupakan daerah di mana Panglima Perang Kerajaan Majapahit itu mendirikan pertahanan untuk melawan pemberontak.
Sementara, penyebutan Panglima Perang Eyang Yudho Kardono sendiri menurut Mbah Poniati adalah sebutan masyarakat setempat sejak pesarean dipugar dahulu pada 1960-an.
“Masyarakat ambil gampangnya, saat itu teringat perang besar yang disebut Bharata Yudha. Akhirnya, ya itu, nama eyang disebut di depannya, Yudho,” tutur Poniati.
Ia pun meyakini tempat yang disinggahi Kudo Kardono alias Yudho Kardono adalah berupa tanah tegal dan banyak tumbuhan gading putih yang dijadikan pertahanan saat perang Majapahit. “Menurut cerita turun-temurun orangtua saya, di sini banyak sekali tumbuh pohon juwet, sawo, dan gading putih kala itu,” katanya.
Hanya saja, seiring berjalannya waktu makam Panglima Perang Kerajaan Majapahit ini dipugar. “Sama Pak Soedjono Hoemardani, asisten Pak Soeharto pada tahun 1960,” ujar Poniati. (ist)
Akbar Wiyana, salah satu pendiri Byek memeriksa Instagramnya. Foto: Beritagar.id.
Jangan santen ono kemangine
Jagung bakar ono olese
Nahan kangen raino bengine
Bingung cupar nono putuse
Dalam bahasa Indonesianya kira-kira artinya begini:
Sayur bersantan dihiasi kemangi
jagung bakar diberi olesan
menanggung rindu setiap hari
dibakar cemburu tiada putusnya.
Basanan, salah satu jenis puisi tradisional berbahasa daerah Using itu diunggah oleh @Byekbanyuwangi di Instagram 10 Juni lalu.
Basanan itu memantik keriuhan warganet, disukai 1.771 akun dan dikomentari puluhan pengikutnya dengan bahasa daerah yang sama.
Sejak membuat akun di Instagram pada 2016, @Byekbanyuwangi seperti dilaporkan Beritagar.id, telah mengunggah 1.646 foto, gambar dan video yang bermuatan basanan dan keragaman budaya lokal.
Karena dikemas ringan dan visual menarik, Byek Banyuwangi cukup berhasil menarik minat generasi milenial. Pengikutnya yang menembus angka 47 ribuan, saling berbalas obrolan daring berbahasa Using dengan cair.
Byek adalah salah satu komunitas di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur yang aktif mempopulerkan bahasa lokal Using lewat media sosial.
Komunitas itu digawangi empat pemuda berusia di bawah 30 tahun: Akbar Wiyana (25), Onky Reno (26), Aditya Catur Ginanjar (25) dan Holipah (23).
Keempatnya mewakili generasi milenial yang akrab dengan dunia digital, lulusan kampus ternama di sejumlah kota serta kini bekerja di berbagai bidang mulai jurnalis radio, desain grafis, pegawai pemerintah dan guru.
Keragaman latar belakang itu, kini disatukan oleh satu hal: tak ingin bahasa daerahnya terpuruk.
Bahasa Using dituturkan oleh kelompok etnis Using di kabupaten paling timur Pulau Jawa. Corak kebudayaan mereka adalah agraris yang memiliki adat, tradisi dan kesenian khas seperti gandrung, seblang, kebo-keboan, barong, angklung, hadrah kuntulan dan sebagainya.
Akbar Wiyana, salah satu pendiri Byek, menjelaskan, komunitasnya berawal dari keresahan setelah menyaksikan banyak generasi muda di daerahnya yang tidak lagi menggunakan bahasa Using untuk berkomunikasi.
Fenomena itu semakin nampak pada generasi muda Using yang sedang menempuh pendidikan ke luar kota. “Dulu saat kuliah di Malang, sering bertemu sesama anak Using, namun mereka tidak lagi memakai bahasa daerahnya. Mereka malu akan dianggap kampungan,” kata dia kepada Beritagar.id.
Byek sendiri berasal dari bahasa Using yang artinya “wah”. Menurut Akbar, mereka memilih Instagram karena sedang populer dan banyak dipakai anak muda —sesuai target utama yang ingin mereka bidik. Sebab, bahasa daerah hanya bisa berumur panjang apabila dituturkan oleh generasi muda.
Karena dikelola oleh generasi yang sezaman, maka Byek pun tak kesulitan memproduksi konten-konten berkarakter anak muda masa kini.
Hasilnya, lebih dari separuh pengikutnya (54 persen) berusia 18-24 tahun, dan 25 persen berusia 25-34 tahun. Followernya tak hanya tinggal di Banyuwangi, melainkan juga dari Surabaya, Jember, Denpasar, dan Malang.
Akbar mencatat banyak hal menggembirakan dari interaksi di Instagram itu. Generasi muda akhirnya dapat berekspresi menggunakan bahasa Using. Mereka juga belajar sejumlah kosakata yang sebelumnya asing.
Di jagat Facebook, grup paling awal terbentuk yakni Gesah Cara Using Banyuwangenan Aselai. Sejak dibuat tahun 2009, anggotanya hampir 16 ribuan.
Salah satu admin, Hasan Sentot, menjelaskan, penggagas grup tersebut sebelumnya intens berdiskusi via website http://www.lareosing.org. Namun karena anggota website tersebut terlalu umum, mereka kemudian membuat grup khusus di Facebook.
Menurut Hasan, Facebook dipilih karena saat itu sedang naik daun. Segmennya pun menjangkau lebih banyak kalangan, mulai anak muda, generasi tua hingga mereka di perantauan seperti tenaga kerja Indonesia.
“Mungkin saat tinggal di Banyuwangi, mereka malu berkomunikasi dengan bahasa Using. Tetapi saat melihat di Facebook, mereka mengaku senang dan mengobati rasa kangen dengan kampung halaman,” kata Hasan yang tinggal di Surabaya ini.
Berbeda dengan @Byekbanyuwangi yang riuh oleh generasi muda, anggota aktif grup Gesah Cara Using Banyuwangenan Aselai didominasi berusia di atas 30 tahun.
Menurut Hasan, anggota muda lebih pasif karena grup sering membahas topik-topik ‘berat’ seperti sejarah, budaya dan bahasa daerah. Sering pula berdiskusi ilmiah dengan sajian data dan literatur.
“Itulah yang membuat anak muda sering tidak nyambung dengan isi diskusi. Jadi grup kami terkesan eksklusif,” kata Hasan.
Menembus Banyak Hambatan
Antariksawan Jusuf, mengunggah gambar wadah nasi dari anyaman bambu ke grup Pelajaran Bahasa Using di Facebook, 4 Agustus 2018. Ia memberi keterangan, bahwa dalam bahasa Using, wadah nasi tersebut bernama kemarang.
Lain waktu, dia mengunggah perbedaan kata “reweg” dan “rewek”. Dalam bahasa Using, reweg berarti menggerai rambut. Sedangkan rewek berarti sibuk karena banyak anak.
Demikianlah cara Antariksawan Jusuf memperkenalkan kosakata bahasa Using kepada publik. Grup yang dibuat 2016 tersebut dikelola oleh paguyuban Sengker Kuwung Belambangan, komunitas penggiat Bahasa Using yang diketuai oleh Antariksawan, perantau yang kini tinggal di Jakarta.
Grup itu dibuat khusus bagi mereka yang ingin belajar bahasa Using sesuai kaidah yang baku. Termasuk pula sebagai tempat tanya jawab bagi siswa, wali murid, dan guru yang kesulitan dengan pelajaran Bahasa Using di sekolahnya.
Di Facebook, Sengker Kuwung Belambangan juga membuat grup Cerpen Using dan akun organisasi. Menurut Antariksawan, media sosial menjadi strategi mereka untuk menjangkau generasi milenial agar lebih akrab dengan bahasa daerahnya.
“Medsos sangat membantu kampanye kami terkait penggunaan bahasa tulis yang baku,” kata Antariksawan dalam surat elektroniknya.
Paguyuban Sengker berdiri 2013 dengan 14 anggota dari pelbagai usia dan profesi. Mereka tergerak membuat organisasi karena prihatin dengan bahasa daerahnya yang kian terpinggirkan di kampungnya sendiri.
Menurut Antariksawan, makin banyak keluarga yang meninggalkan bahasa Using untuk bercakap sehari-hari sehingga tidak terwariskan ke anak-anak.
Tak hanya aktif berkampanye di media sosial, Sengker Kuwung Belambangan juga telah menerbitkan 24 buku berbahasa Using berbagai genre mulai dari kumpulan cerpen, kumpulan cerita anak, kumpulan puisi, kumpulan artikel populer, buku musik, novel, penunjang pelajaran sekolah, dan permainan kuartet muatan lokal.
Bahkan salah satu novel bahasa Using yang mereka terbitkan, Agul-agul Belambangan, mendapatkan penghargaan Satra Rancage tahun 201. Meski dimasukkan ke kategori Bahasa Jawa, karya Mohammad Syaiful itu mengalahkan 19 karya sastra lainnya.
Tanpa dukungan media tulis, kata Antariksawan, bahasa tutur akan cepat memudar. Apalagi pelestarian bahasa Using memiliki banyak hambatan di ‘rumahnya’ sendiri, meski telah dilindungi melalui Perda No 5 Thn 2007 tentang Pembelajaran Bahasa Daerah pada Jenjang SD.
Lewat perda tersebut, bahasa Using sebelumnya wajib diajarkan sebagai muatan lokal di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.
Namun pengajaran di SMP terhenti setelah Pemerintah RI memberlakukan Kurikulum 2013, yang mewajibkan guru mengajar sesuai bidang keilmuannya. Sementara, belum ada guru sarjana Bahasa Using.
“Sehingga Bahasa Using saat ini hanya diajarkan di tingkat SD oleh guru kelasnya. Itupun tanpa didukung oleh ketersediaan buku baru sehingga siswa tidak memiliki buku pengayaan.”
Hambatan paling berat, kata dia, adalah terbitnya Pergub No 19 Thn 2014 tentang Mata Pelajaran Bahasa Daerah Sebagai Muatan Lokal Wajib di Sekolah/Madrasah.
Dalam Pergub tersebut, Pemerintah Provinsi hanya mengakui muatan lokal Bahasa Jawa dan Madura di sekolah.
Di tengah kurangnya dukungan pemerintah itulah, paguyuban Sengker Kuwung Belambangan, bergerak indie menggelar pelatihan menulis dan lomba. “Supaya pengajaran bahasa Using kepada anak-anak SD tidak mati sia-sia,” kata Antariksawan, berharap.
Dian Hariyono, guru kelas IV SDN IV Penganjuran Banyuwangi, mengatakan, dia sangat mengandalkan internet untuk memperkaya materi Bahasa Using di kelas.
Selama ini materi ajar muatan lokal Bahasa Using sangat kurang, karena hanya bersumber dari lembar kerja siswa.
“Sementara buku materi ajar yang diterbitkan tahun 2007 sudah rusak dan tidak ada terbitan baru. Jadi saya sering meminta siswa untuk mencari referensi di internet,” katanya yang sudah 12 tahun mengajar Bahasa Using.
Di tingkat SD, muatan lokal Bahasa Using diberikan di kelas 4,5 dan 6 dengan durasi 2 jam setiap pekan.
Peneliti Balai Bahasa Jawa Timur, Oktavia Vidiyanti, menuturkan, hadirnya internet sangat mendukung pelestarian bahasa daerah, karena dapat menjangkau generasi muda.
Melalui diskusi dan literasi yang intens di media sosial, kata dia, dengan sendirinya dapat mempertahankan eksistensi bahasa daerah. “Media sosial itu bisa membuat bahasa daerah bertahan,” kata dia.
Namun karena sifat media sosial yang terlalu bebas, kata dia, harus diimbangi oleh hadirnya komunitas-komunitas pengampu, seperti di Banyuwangi.
Komunitas pengampu itu yang harus melakukan edukasi bagaimana pemakaian bahasa daerah secara baku.
Balai Bahasa Jawa Timur mencatat ada empat bahasa daerah di Provinsi Jawa Timur yakni Jawa, Madura, Using dan Pendhalungan. Dari jumlah itu, bahasa Using dan Pendhalungan tergolong terpinggirkan.
Bahasa Using saat ini dituturkan oleh warga di 9 kecamatan dari total 25 kecamatan. Kondisinya pun, kata Okta, makin terdesak oleh bahasa daerah lain seperti Jawa dan Madura, terlebih setelah terbitnya Peraturan Gubernur Nomor 19 Tahun 2014.
Dalam penelitiannya, Vitalitas Bahasa Using Banyuwangi Berhadapan dengan Peraturan Gubernur Jawa Timur No 19 Tahun 2014: Kisah Penyudutan Bahasa Using Banyuwangi (2016), Okta menulis, bahwa pergub tersebut dapat memunculkan benih-benih persaingan linguistik di Banyuwangi.
Dampaknya, bahasa Jawa menjadi lebih dominan, sedangkan bahasa Using tersisihkan di tempatnya sendiri.
Padahal, dari hasil penelitian Okta tersebut, bahasa Using punya vitalitas lingusitik yang tinggi bagi para pemakainya serta memiliki kamus, ejaan, dan tata bahasa yang dilindungi melalui Perda Banyuwangi No 5 Thn 2007.
Maka, kata dia, pelestarian bahasa daerah seperti Using tidak cukup dilakukan oleh komunitas-komunitas di media sosial saja. Melainkan juga harus didukung oleh pemerintah daerah, salah satunya dengan meninjau ulang Pergub No 19 Thn 2014. (ist)
Makam Syaikh Syamsuddin Al-Wasil di Kediri. Foto: nu.or.id.
Keberadaan pemakaman kuno layaknya sebuah kode yang mengandung banyak informasi baru atau menyisakan sebuah misteri. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak penemuan baru terkait makam kuno, entah itu makam kuno dari pejabat penting, buruh, atau bayi.
Berikut deretan makam-makam kuno di Indonesia, seperti dilaporkan Sindonews.com, yang hingga detik ini masih menyimpan teka-teki.
Makam kuno sejarah Islam di Kudus
Makam kuno yang diperkirakan berusia ribuan tahun ditemukan di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus. Panjang kuburan itu masing-masing berukuran 1,5 x 2 meter, terbuat dari batu bata berbentuk kerucut.
Makam ini diperkirakan merupakan peninggalan sejarah Islam. Selain dari tumpukan batu batanya, model pengukubarannya dihadapkan ke barat atau arah kiblat.
Makam Syaikh Syamsuddin Al-Wasil
Makam ini berada di Kabupaten Kediri, tepatnya di komplek pemakaman Setana Gedong. Makam ini berada di sebelah barat laut Masjid Setana Gedong.
Menurut penelitian Prof Dr Habib Mustopo, guru besar UIN Malang mengatakan bahwa tokoh Syaikh Syamsuddin adalah seorang ulama besar yang hidup pada abad ke-12, yaitu pada masa kerajaan Kediri.
Makam Fatimah binti Maimun
Makam Fatimah binti Maimun binti Habatallah ini berada di Dusun Leran, Desa Pesucian, Kecamatan Manyar, Gresik. Pada batu nisannya menunjukkan angka 475 H/ 1082 M.
Makam kuno Kerajaan Islam Lamuri di Aceh
Ratusan makam kuno ditemukan di kawasan perbukitan Kreung Raya, Desa Lamreh, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Aceh.
Di perbukitan yang diduga sebagai pusat Kerajaan Islam Lamuri di masa lampau itu, para arkeolog menemukan sekitar 474 makam kuno dengan batu nisan berukir tulisan Arab Jawi.
Saat ditelisik, di batu nisan itu tertulis nama-nama tokoh penting pada Kerajaan Islam Lamuri masa lampau.
Makam Sultan Malikus Saleh
Di Aceh Utara terdapat sebuah peninggalan makam kuno yang bertanggalkan 696 H/1297 M. Nama sang empunya makam tersebut adalah Sultan Malikus Saleh.
Beliau adalah Raja Pasai pertama yang mempunyai peranan besar dalam pengembangan dakwah Islam di Nusantara.
Makam Syaikh Maulana Malik Ibrahim
Di Gresik terdapat salah satu makam Islam tertua di Indonesia, yaitu makam salah satu waliyullah yang dikenal dengan sebutan Walisongo.
Tepatnya di kampung Gapura di dalam Kota Gresik terdapat makam Syeikh Maulana Malik Ibrahim atau dikenal dengan nama Sunan Gresik. Makam ini bertuliskan angka 882 H/ 1419 M.
Makam kuno berusia 500 tahun di Sumenep
Sebanyak tujuh makam kuno yang diperkirakan berusia 500 tahun ditemukan di Dusun Kampung Baru, Desa Pandian, Sumenep Jawa Timur.
Di salah satu nisan makam kuno ditemukan tulisan dalam bahasa Arab yaitu Syeh Sayyid Abdullah, dia berjuluk Maha Pati Raja Anggadipa. Diperkirakan makam-makam tersebut terkait dengan makam raja-raja keraton Sumenep Asta Tinggi. (ist)
Penampilan Kahitna digelaran JTF sebelumnya. Foto: SS Media.
Pada 25 dan 26 Agustus 2018, lebih dari 400 musisi akan menampilkan lebih dari 50 pertunjukan musik terbaik di panggung Jazz Traffic Festival (JTF) 2018. Even digelar di Grand City Surabaya.
Mereka adalah musisi dari berbagai generasi yang akan tampil tidak hanya untuk menyapa dan menghibur pecinta musik jazz, tapi untuk semua pecinta musik di Tanah Air.
Errol Jonathans Chairman IndiHome Jazz Traffic Festival 2018 yang juga Direktur Utama Suara Surabaya (SS) Media, sebagai entitas penyelenggara JTF sejak 2011 silam, mengatakan, regenerasi musik jazz sedang terjadi.
“Saya menyebutnya, The Future is Now. Masa depan musik jazz dan masa depan JTF sebagai ajang musik jazz Tanah Air sudah terlihat dari sekarang,” ujarnya.
Ada Jazz Traffic All Stars berisi musisi-musisi senior seperti Indra Lesmana, Idang Rasjidi, Dewa Bujana, dan Syaharani, serta musisi muda seperti Sri Hanuraga, Indra Gupta, dan Sandy Winarta menampilkan pertunjukan “Tribute to Bubi Chen”.
“Ini akan menjadi momen spesial di JTF 2018. Bubi Chen adalah ikon jazz Tanah Air yang berperan besar mengasuh program Jazz Traffic di Radio Suara Surabaya selama kurang lebih 25 tahun,” ujarnya.
Sejak 1985 silam, Bubi Chen melalui salah satu program jazz di radio, yang tergolong paling konsisten di Tanah Air, memikirkan regenerasi musik jazz Tanah Air: Bagaimana mendekatkan jazz ke anak muda?
“Jazz Traffic berdiri sebagai bentuk konsistensi SS memilih musik bermutu. Tapi Bubi Chen pernah bilang, tidak ada musik bagus atau jelek. Yang ada musik yang kamu suka atau tidak kamu suka,” ujarnya.
Melalui jazz traffic, perjuangan Bubi Chen meregenerasi musik jazz cukup panjang. Edukasi dan sosialisasi dimulai dengan mengenalkan jazz rock dan fussion sebagai pendekatan kepada anak muda.
Pelan-pelan, program ini mulai mengenalkan apa itu jazz mainstream, jazz alternatif, serta genre-genre jazz yang bisa dikatakan lebih “serius”, dan mulai bisa diterima khalayak musik Surabaya.
Helatan JTF pertama kali pada 2011 lalu menjadi wujud mimpi Bubi Chen mengenalkan musik jazz kepada pecinta musik di Surabaya. Bahkan, almarhum, yang saat itu kondisi fisiknya mulai menurun, tampil untuk merayakannya.
“Waktu itu, saya ingat, Bubi Chen sudah sakit. Beliau tampil di panggung JTF pertama itu dengan kaki yang sudah diamputasi,” kata Errol membuka kembali sejarah JTF.
Jazz Traffic All Star tribute to Bubi Chen seolah menjadi perwujudan mimpi Bubi Chen untuk memunculkan generasi-generasi baru musik jazz di Tanah Air.
Tidak hanya tiga nama musisi muda yang sudah disebut di atas, bintang musisi jazz muda lainnya juga akan mewarnai panggung JTF kali ini. Dia adalah Barry Likumahuwa.
Pada JTF 2017 lalu, Barry tampil bersama Benny Likumahuwa ayahnya. Dua entitas mewakili dua zaman itu menjadi bukti, regenerasi musisi jazz tanah air memang sudah terjadi.
“Kali ini ada Shadu Rasjidi yang tampil dengan grupnya. Shadu itu anaknya Idang Rasjidi, musisi jazz senior. Jadi, regenerasi itu berjalan smooth, sangat alami,” kata Errol.
Sejumlah musisi muda lainnya akan tampil dalam Jazz Muda Indonesia. Musisi muda juga tergabung dalam band pemenang MLD Jazz Wanted 2018 yang akan mengiringi Abdul dan Marion Jola, dua penyanyi Indonesian Idol.
Errol Jonathans berpendapat, JTF telah berhasil menjadikan jazz sebagai Ikon Suara Surabaya dan menjadi salah satu ikon Kota Surabaya.
Dari program siaran ikonik Jazz Traffic, sampai perhelatan JTF yang sudah kedelapan kalinya akan digelar, Suara Surabaya dia anggap berhasil meyakinkan generasi muda bahwa jazz adalah sesuatu.
“Saya hanya berharap, lebih banyak musisi jazz Tanah Air yang mulai world wide, Go International. Dulu ada Bubi Chen yang secara mengejutkan tampil di Berlin Jazz Festival tahun 1965. Mustinya lebih banyak lagi,” ujarnya.
Ada grup Krakatau yang digawangi Gilang Ramadhan, Indra Lesmana, dan kawan-kawan, yang juga sudah melanglang buana. Sampai Joy Alexander musisi jazz belia peraih dua nominasi Grammy Award yang kini tinggal di Amerika Serikat.
“JTF saya yakin juga berperan untuk ini. Pada Jazz Traffic berikutnya kami akan menyertakan lebih banyak lagi musisi-musisi internasional,” ujar Errol.
Namun, ada beberapa hal yang tidak dia harapkan terjadi di masa depan. Jazz jangan sampai menjadi sekadar brand atau status sosial seperti yang telah terjadi pada 1980-an silam.
Pada tahun 1980-an lalu, ada masa di mana orang menganggap jazz sebagai musik yang berkelas, tapi tidak tahu bagaimana cara mengapresiasinya.
“Istilahnya snob (sombong). Penikmat jazz saat itu menganggap musik lain selera rendah, tapi mereka tidak tahu apa itu jazz. Perkembangan pesat sekarang jangan sampai seperti itu,” ujarnya.
Maka misi JTF yang lain adalah membangun daya apresiasi masyarakat terhadap musik jazz. Seiring bergulirnya perhelatan JTF dari tahun ke tahun, Errol melihat daya apresiasi itu sudah mulai terbangun.
Tentang Jazz Traffic
Jazz Traffic adalah sebuah program siaran di Radio Suara Surabaya yang mengudara sejak tahun 1983. Adalah Bubi Chen sang virtuoso musik jazz internasional dari Surabaya pernah ikut mengasuh siaran Jazz Traffic sejak tahun 1985 sampai wafat pada tahun 2012. Om Bubi, sapaan Bubi Chen, diberi slot siaran program Jazz Traffic “Bubi Chen Show” seminggu sekali.
Siaran Jazz Traffic kini tidak hanya memperdengarkan komposisi-komposisi jazz, tapi juga mengapresiasi musisi dan mengenalkan sub genre Jazz Tradisional hingga Free Jazz dan Acid Jazz.
Selama 35 tahun mengudara, Jazz Traffic telah membentuk komunitas-komunitas jazz yang solid, tidak hanya di Kota Surabaya, tapi juga kota-kota lain di Indonesia.
Sementara itu event Jazz Traffic Festival (JTF) digelar Suara Surabaya sejak tahun 2011, berturut-turut setiap tahun hingga 2018 ini. (ita)
Artis di JTF 2018, 25 Agustus 2018:
Nayra Dharma – Bintang Indrianto – Dwiki Dharmawan feat Trisouls – Tom Grant – Idang Rasjidi – Kayoon – Sheryl Sheinafia – Metta Legita – Fussion Stuff – Ita Purnamasari – Rasvan Aoki meet Nelly Lawson – Pusakata – GAC – HiVi! – Barry Likumahuwa with Rima Funk – Via Vallen – Adhitia Sofyan – Gilang Ramadhan – MLD Jazz Wanted Winner – Isyana Sarasvati
Artis di JTF 2018, 26 Agustus 2018:
Jazz Muda Indonesia – Stars And Rabbit with String Quartet – Indra Lesmana Surya Sewana – Sandy Winarta – Sri Hanuraga – Jazz Traffic All Stars – Sentimental Moods – Saxx In The City – Rahmania Astrini – Syaharani – Reza Artamevia – Kunto Aji – Yura Yunita – Indihome – Tulus – Padi Reborn – Jaz – MLD Jazz Project Session 3 – ILP – Raisa.
Sidang penetapan WBTB Tahun 2018 di Jakarta. Foto: Wartabromo.com.
Sebanyak 8 (delapan) warisan karya budaya yang berasal dari Jawa Timur ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
Hal ini diputuskan dalam Sidang Penetapan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 2018 yang dilaksanakan di Hotel Millenium Sirih Jakarta, beberapa waktu lalu.
Sebelumnya masing-masing provinsi melakukan presentasi dihadapan dan dinilai oleh 15 Tim Ahli berbagai bidang dan 3 Narasumber yang dipimpin langsung oleh Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Dr Najamudin Ramli.
Acara yang digelar Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya tersebut diikuti oleh 31 dari 34 provinsi di Indonesia. Dalam keputusan sidang yang dibacakan oleh Ketua Tim Ahli WBTB Indonesia Pudentia MPSS, sebanyak 225 karya budaya berhasil ditetapkan dari 264 karya budaya yang lolos administrasi.
Sedangkan jumlah karya budaya yang diusulkan sebanyak 416 karya budaya.
Hasil penilaian ini setelah melewati tahap seleksi administrasi, rapat penilaian oleh Tim Ahli, kunjungan verifikasi ke daerah-daerah dan pemaparan oleh masing-masing provinsi.
Sedangkan 39 karya budaya yang tidak lolos atau ditangguhkan disebabkan tidak layak secara administrasi dan substansi serta perbaikan yang tidak tepat waktu.
Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid dalam sambutan penutupannya menyatakan bahwa jumlah penetapan karya budaya pada tahun ini mengalami peningkatan. Dengan hadirnya berbagai elemen dalam sidang penetapan ini menunjukkan bahwa hal ini semakin berwibawa.
“Penetapan ini bukan sekadar membuat daftar tetapi bagaimana tindak lanjutnya itu yang penting. Hasil-hasil penetapan ini akan menjadi dokumen penting untuk merumuskan strategi kebudayaan,” kata Hilmar Farid seperti dilaporkan Brangwetan.com.
Adapun 8 Warisan Budaya Tak Benda asal Jawa Timur tersebut adalah:
– Janger Banyuwangi
– Clurit (Are’) Madura
– Rawon Nguling Probolinggo
– Upacara Adat Manten Kucing Tulungagung
– Reog Cemandi Sidoarjo
– Sandur Bojonegoro – Tuban
– Wayang Thengul Bojonegoro
– Wayang Topeng Jatiduwur Jombang
Selama berlangsungnya sidang penetapan, Provinsi Jawa Timur diwakili Hari Tunariono (Kasi Pelestarian Tradisi Disbudpar Jatim), Sujito (Dinas Parporabud Kab Probolinggo) yang didampingi pemilik Rumah Makan Rawon Nguling, H Rofiq Ali Pribadi.
Juga hadir Kartini (Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab Sidoarjo), Suparno (Disbudpar Kab Jombang) yang mengajak Mochamad Ya’ud (dalang Wayang Topeng Jatiduwur), Susetyo dan Adi Sutarto (Disbudpar Kab Bojonegoro), Choliq Ridho (Disbudpar Kab Banyuwangi), Heru Santoso (Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab Tulungagung) yang didampingi Ariani (Kepala Bidang Nilai Budaya dan Kesenian Disbudpar) dan narasumber Muhamad Reyhan Florean.
Juga hadir Henri Nurcahyo, pengurus Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jawa Timur selaku stakeholder Disbudpar Jawa Timur. Disamping itu juga didampingi Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta, dimana Jatim, Jateng dan DIY berada dalam wilayah kerjanya.
Pada 10 Oktober mendatang hasil penetapan kali ini akan dikukuhkan di Gedung Kesenian Jakarta secara formal oleh Mendikbud.
Penetapan 8 warisan budaya asal Jatim ini melengkapi daftar WBTB Jatim yang sudah diakui secara nasional sejak 2013, sehingga berjumlah total 36 karya budaya. (ist)
Pintu masuk ke kota Lumajang tempo dulu. Foto: Jawatimuran.wordpress.com.
Secara kultural Jawa Timur merupakan sebuah mozaik kebudayaan dengan subkultur yang sangat beragam. Namun justru dengan adanya keberagaman tersebut yang menjadi tali pengikat adanya jiwa persatuan.
Buktinya Jawa Timur adalah satu-satunya propinsi yang belum pernah memekarkan diri sejak masa awal kemerdekaan. Hal ini dapat terjadi karena kematangan budaya yang sudah mengakar kuat di relung hati masyarakat Jawa Timur.
Sejarah mencatat bahwa pendirian Kerajaan Majapahit dilakukan secara bersama-sama oleh suku Jawa subkultur Jenggala-Singhasari di bawah kepemimpinan Raden Wijaya yang dibantu oleh masyarakat Jawa subkultur Panjalu-Kadiri dan suku Madura dibawah pimpinan Aria Wiraraja.
Tiga kekuatan utama di Jawa Timur tersebut memiliki saham yang sama dalam proses pendirian Majapahit. Perselisihan berkepanjangan antara pewaris klan Jenggala dan klan Panjalu yang diteruskan oleh klan Kadiri dengan klan Singhasari berhasil dipersatukan oleh Raden Wijaya dalam sistem tatanegara baru bernama Majapahit.
Suku Madura yang sebelumnya kurang mendapatkan peran, pada masa awal Majapahit mendapatkan kepercayaan yang sangat besar dari Negara. Patih Nambi dan Menteri Mancanagari Ranggalawe menempati posisi kunci dalam pemerintahan.
Sedangkan Aria Wiraraja memimpin daerah otonom luas di wilayah Tapal Kuda yang disebut dengan tlatah Lamajang Tigang Juru yang berpusat di Tempuran Kali, Bondoyudo Lumajang.
Persatuan antar subkultur tersebut dipupuk sejak Raja Kertanegara Singhasari mencanangkan konsepsi Cakramandala Dwipantara. Sebuah doktrin persatuan nasional dalam menyatukan pulau-pulau di Nusantara guna menghadapi ancaman nyata kekuatan Tartar Mongol yang ketika itu telah menguasai separuh belahan dunia.
Persatuan antar subkultur tersebut dipupuk semakin hebat lagi dengan digalakkannya tradisi Panji, yaitu wiracarita asli Jawa Timur yang menceritakan kisah romantika dan perjuangan Raden Panji Asmorobangun dengan Dewi Sekartaji Candrakirana dengan latar belakang dinamika pasang surut hubungan antara Jenggala dan Panjalu beserta kerajaan-kerajaan lainnya di Jawa Timur.
Saat itu wiracarita Panji mengalahkan kepopuleran Ramayana dan Mahabarata, menyebar hingga ke seluruh penjuru Asia Tenggara.
Hingga saat ini wiracarita Panji telah bermetamorfosis menjadi banyak ragam kesenian tradisi seperti Wayang Topeng Dalang Malang, Wayang Beber Pacitan, Wayang Krucil, Wayang Gedhog serta puluhan cerita rakyat.
Persatuan antar subkultur tersebut terus berlanjut pada saat pusat kuasa bergeser ke tengah pulau Jawa hingga melahirkan istilah Bang Wetan atau Brang Wetan untuk menandai masyarakat Jawa Timuran.
Pada masa kolonialisme persatuan antara subkultur kembali mengerucut. Trunojoyo dan Untung Suropati berhasil menyatukan etnis Jawa dan Madura guna melawan Belanda.
Selanjutnya Jawa Timur selatan mulai dari Pacitan hingga Banyuwangi dipenuhi oleh sisa-sisa pejuang Diponegaran paska berakhirnya Perang Jawa tahun 1830 M.
Mereka mendirikan ratusan perkampungan baru di daerah-daerah terpencil untuk menghindari kejaran tentara Belanda yang ditopang oleh infrastruktur modern yaitu jalan raya pos Anyer-Panarukan di sepanjang pantai utara pulau Jawa.
Dalam formasi pasukan Diponegoro terdapat ratusan Kyai, puluhan haji belasan penghulu serta banyak guru ngaji yang ikut bertempur melawan Belanda.
Rajutan antara sisa-sisa kekuatan Laskar Diponegaran dengan pesantren-pesantren kuno yang dipelopori oleh Gebang Tinatar Tegalsari Ponorogo menghasilkan sebuah pola perjuangan berbasis pesantren.
Mengubah strategi perjuangan bersenjata menjadi perjuangan pendidikan karakter, moral dan agama sekaligus.
Spirit religiusitas ditanamkan secara bersamaan dengan nilai-nilai patriotisme yang kelak memunculkan gagasan national staat (negara bangsa) secara massal di kalangan pesantren.
Meledak secara heroik pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya paska diumumkannya fatwa Resolusi Jihad oleh Hadratussyaikh Hasyim Asyari. Sekali lagi persatuan antar subkultur di Jawa Timur kembali dibuktikan secara nyata di lapangan.
Subkultur Panjalu untuk selanjutnya bermetamorfosis menjadi subkultur Mataraman, yaitu daerah yang dipengaruhi secara kuat oleh kultur budaya Mataram Islam.
Daerah ini merupakan daerah terluas yang meliputi wilayah eks Karesidenan Madiun dan Kadiri serta daerah-daerah di pesisir selatan Jawa basis pertahanan Laskar Diponegaran.
Subkultur Jenggala untuk selanjutnya bermetamorfosis menjadi subkultur Arek, meliputi bekas wilayah inti Panjalu dan Singhasari yaitu wilayah Malang Raya, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto dan sekitarnya. Disebut subkultur Arek karena masyarakat di daerah ini menggunakan istilah arek guna menyebut istilah bocah.
Subkultur Pendalungan menempati daerah bekas wilayah kekuasaan Lamajang Tigang Juru dan Blambangan. Merupakan daerah percampuran antara etnis Jawa dan Madura yang melahirkan corak kebudayaannya sendiri.
Menempati wilayah ujung timur Jawa Timur, sering diistilahkan dengan daerah Tapal Kuda karena jika dilihat dari atas wilayah di sebelah timur kawasan Bromo Tengger Semeru ini mirip dengan ladam tapal kuda.
Sementara itu pulau Madura tetap menjadi basis tradisional berkembangnya budaya asli Madura. Di kawasan Bromo berdiam subkultur Tengger, pewaris tradisi Majapahitan yang masih eksis dengan segala ritual adatnya.
Di bekas wilayah Jipang Panolan, tepatnya di tapal batas Jawa Tengah dengan Jawa Timur bagian utara berdiam subkultur Samin atau Sedulur Sikep. Di pantai utara berdiam subkultur Jawa Pesisiran yang banyak bekerja sebagai nelayan dan petani tambak.
Keberagaman subkultur tersebut telah ada sejak lama, hidup rukun berdampingan hingga saat ini. Tumbuh berkembangnya beragam seni tradisi bisa menjadi penanda cakupan luasan persebaran subkultur di era modern.
Daerah-daerah yang masih gemar menggelar pertunjukan wayang kulit gagrak Mataraman (Jogja-Solo) merupakan daerah persebaran subkultur Mataraman.
Daerah-daerah yang masih gemar menanggap pagelaran Wayang Kulit gaya Jawa Timuran merupakan daerah persebaran subkultur Arek. Kekhasan dialek dan logat bahasa juga menjadi penanda yang paling mudah bagi para penutur bahasa masing-masing pendukung subkultur yang ada.
Wong Mataraman menjunjung etika sopan santun dan sering menggunakan bahasa simbolik dalam menyampaikan maksudnya, menjalankan ritual keagamaan dengan balutan tradisi Jawa yang unik.
Subkultur Arek terkenal dengan sifat keterbukaan dan kedinamisan geraknya. Subkultur Pendalungan terkenal dengan budaya santri dan kecepatannya dalam beradaptasi dengan lingkungan. Subkultur Tengger dan Samin terkenal sebagai penjaga kelestarian adat dan tradisi asli.
Masyarakat Madura terkenal dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, selain sebagai santri yang taat dalam menjalankan syariat agama. Sedangkan subkultur Jawa Pesisiran memiliki karakter terbuka dan mampu beradaptasi dengan perubahan dari luar secara cepat.
Pemetaan budaya diperlukan sebagai landasan awal bagi perumusan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah Propinsi Jawa Timur sebagai langkah kongkrit dalam melaksanakan amanat UU No 5 Thn 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan serta menjalankan Perpres No 65 Thn 2018 tentang Tata Cara Penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah dan Strategi Kebudayaan yang baru diundangkan pada 14 Agustus 2018 kemarin.
Semoga Perpres tersebut dapat menjadi kado istimewa bagi segenap anak bangsa yang gandrung akan bangkitnya Kebudayaan Nasional di tengah-tengah peringatan Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang ke-73. Dirgahayu Indonesia ! (ist/ditulis Cokro Wibowo Sumarsono)
Pemerintah bakal mengajukan gamelan sebagai warisan budaya tak benda dari Indonesia untuk dunia. Hal itu diungkapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy saat membuka Internasional Gamelan Festival (IGF) 2018 di Benteng Vastenburg Solo beberapa waktu lalu.
Muhadjir mengatakan rencana gamelan sebagai warisan budaya tak benda akan diajukan ke Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan dunia (UNESCO) tahun depan.
“Kemendikbud dan tim penilai untuk pengusulan warisan budaya tak benda indonesia ke UNESCO telah menetapkan gamelan untuk diajukan sebagai nominasi indonesia yang akan dikirim ke sekretariatan UNSECO pada maret 2019 dan nantinya akan dibahas tahun 2021,” kata Muhadjir, seperti dikutip Republika.co.id.
Ia pun meminta dukungan pada seluruh komunitas gamelan agar penyusunan naskah nominasi tersebut bisa diterima UNESCO. Sehingga, kesenian gamelan dapat masuk menjadi daftar representatif warisan budaya tak benda untuk kemanusiaan.
Sementara itu mengangkat tema homecoming, pembukaan IGF 2018 berlangsung meriah. Tiga komposer tanah air Rahayu Supanggah (Solo), I Wayan Gede Yudane (Bali), dan Taufiq Adam (Jakarta) sukses memukau penonton dengan sajian musik gamelan yang dipadukan dengan penampilan tari sesuai corak khasnya masing-masing.
Muhadjir mengatakan event yang berlangsung hingga 16 Agustus tersebut menjadi momentum silaturahmi para seniman gamelan dari berbagai penjuru tanah air bahkan dari luar negeri. Tak kurang dari 265 pengembang gamelan luar negeri dan 950 pengembang gamelan dalam negeri menjadi peserta IGF tahun ini.
“Saya beri apresiasi yang besar kepada maestro dan penggiat gamelan yang mengabdikan dirinya untuk terus berkarya dan mengembangkan kultur gamelan baik dari dalam maupun dari luar negeri. Festival ini memberikan ruang interaksi untuk dialog antar budaya tentang bagaimana spirit gamelan telah beresonansi melewati batas ilmu wilayah geografis maupun kelompok sosial,” katanya. (ist)
Candi Tikus peninggalan Majapahit di Trowulan Mojokerto. Foto: Istimewa.
Mandala Majapahit UGM (ManMa UGM) adalah salah satu unit kajian berupa tempat pusat informasi terkait Majapahit. Didirikan atas kerja sama Yayasan Arsari Djojohadikusumo dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada yang dikoordinasikan oleh Departemen Arkeologi FIB UGM.
Pada tahun 2018, ManMa UGM akan melakukan kegiatan penerbitan buku seri “Inspirasi Majapahit” dengan tema “Pengelolaan Warisan Budaya Majapahit dalam Perspektif Lingkungan”.
Peluncuran buku direncanakan akan dilakukan bersamaan dengan agenda Seminar Nasional 725 Tahun Majapahit di Universitas Gadjah Mada pada 27 November 2018.
Kegiatan ini dikelola ManMa UGM dibawah tanggung jawab Departemen Arkeologi FIB UGM. Informasi detail bisa dilihat ditautan: http://ugm.id/Bmjp.
Penulisan Buku
Citra Majapahit sebagai pemersatu Nusantara ini telah mengangkat kerajaan ini menjadi inspirasi bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Oleh karena itu Kerajaan Majapahit merupakan salah satu ‘ikon’ penting sejarah dan budaya bangsa Indonesia.
Kesadaran terhadap nilai penting warisan budaya Majapahit harus menjadi agenda pelestarian dan menjadi tanggung jawab setiap anak bangsa.
Pelestarian terhadap warisan budaya Majapahit telah berlangsung sejak beberapa dekade, baik dalam bentuk pelindungan, pengembangan, maupun pemanfaatannya.
Usaha-usaha maupun apresiasi terhadap bentuk-bentuk pelestarian ini telah melibatkan para stakeholders yang terdiri atas golongan masyarakat, pemerintah, dan akademisi.
Pihak-pihak ini kemudian tampil sebagai pengelola, pelestari, pemerhati, atau sebagai pihak yang memiliki kepentingan terhadap warisan budaya Majapahit.
Disadari pula bahwa aspek lingkungan memiliki peran yang sangat penting dan berpengaruh dalam usaha-usaha pelestarian warisan budaya Majapahit.
Perspektif lingkungan yang dipahami meliputi aspek yang luas, baik berupa fisik maupun non fisik, dapat pula berupa aspek alam, manusia, bahkan budayanya.
Cara pandang, fokus, dasar pragmatis yang berbeda dari aspek lingkungan tersebut diyakini berpengaruh penting pada usaha pelestarian warisan budaya Majapahit baik yang telah lampau, saat ini, maupun proyeksi rencana yang akan datang.
Penulisan buku mengenai pengelolaan warisan budaya Majapahit dalam perspektif lingkungan ini diharapkan dapat melaporkan, mengulas, dan/atau menawarkan gagasan terhadap upaya pelestarian.
Diharapkan pula pengayaan khazanah Warisan Budaya Majapahit ini dapat diperoleh tidak hanya di Situs Trowulan, Mojokerto dan sekitarnya, melainkan dari seluruh tempat di Nusantara.
Buku ini merupakan pengembangan dari tema buku “Inspirasi Majapahit” (2014) yang mengangkat kemampuan nilai-nilai warisan budaya Majapahit yang dapat menginspirasi masa kini dan mendatang terhadap jati diri bangsa, aspek sosial budaya, serta aspek penciptaan budaya bendawi yang mampu menyejahterakan. (sak)
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip), terus melakukan observasi mendalam untuk menggali nilai-nilai sejarah keberadaan Benteng Kedung Cowek.
Bahkan, dalam menggali informasi, Pemkot menggandeng komunitas pemerhati sejarah agar bisa didapatkan data yang akurat.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip) Kota Surabaya Musdiq Ali Suhudi mengatakan, Kota Surabaya tumbuh dan berkembang tidak dengan sendirinya, pastinya tidak lepas dari masa lalu dan sejarah.
Terkait dengan adanya benteng ini, salah satu hal yang menunjukkan masyarakat Surabaya bertempur melawan penjajah. “Keberadaan benteng yang berada di pesisir laut, mencerminkan Surabaya selain dikenal sebagai Kota Pahlawan juga maritim (kelautan),” kata dia, Rabu (01/08).
Disampaikan Musdiq, terkait dengan perkembangan ke depan, benteng kedung cowek bisa menjadi salah satu spot destinasi wisata yang unik. Yakni, perpaduan antara wisata dan sejarah.
Bahkan menurutnya, Benteng Kedung Cowek ini bisa menjadi salah satu dari rangkaian wisata Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya).
Mulai dari timur yakni, Mangrove Gunung Anyar, Mangrove Wonorejo, Pantai Ria Kenjeran, THP Kenjeran, Jembatan Suroboyo, Sentra Ikan Bulak, Cable Card, Lapangan Tembak, Benteng Kedung Cowek dan megastruktur Jembatan Suromadu.
“Kalau obyek-obyek ini bisa saling diintegrasikan, ini akan menjadi salah satu obyek wisata yang kompleks dan orang yang berkunjung ke Surabaya akan mengalami irama yang berbeda-beda,” terangnya.
Menurut Musdiq, dari seluruh obyek tersebut, memang yang perlu penanganan khusus adalah benteng. Karena kondisinya sebagian besar masih tertutup dengan pepohonan.
Selain keberadaan benteng, di area ini juga terdapat sebuah sumber air yang menjadi salah satu bukti otentik digunakannya benteng pada peristiwa perang 10 November.
“Nanti mungkin kedepan akan kita koordinasikan bagaimana benteng ini bisa menjadi obyek wisata yang menarik,” imbuhnya.
Penggalian informasi benteng tidak hanya di lokasi, bahkan Dispursip juga menelusuri beberapa tempat yang ada kaitannya dengan Benteng Kedung Cowek. Kendati demikian, Dispursip masih terus melakukan penelusuran peta yang lama. Pastinya, kata Musdiq, keberadaaan benteng ini ada rangkaiannya dengan bangunan-bangunan di lokasi lain.
“Ini akan kita coba telusuri lebih lanjut, agar obyek ini betul-betul lengkaplah kalau kita pasarkan menjadi sebuah destinasi wisata,” ujar mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya ini.
Sementara itu, salah satu pendiri komunitas pemerhati sejarah, Roode Brug Soerabaia, Ady Setyawan mengungkapkan Benteng Kedung Cowek ini punya peranan penting dalam peristiwa pertempuran 10 November 1945.
Bukti begitu dahsyatnya pertempuran Surabaya masih terlihat jelas dari bekas bangunan benteng yang rusak imbas dari tembakan senjata. Bahkan dari hasil penelusuran di lokasi, ditemukan beberapa peluru yang masih bersarang di tembok benteng.
“Benteng ini pada perang 10 November, digunakan oleh bekas pasukan Heiho bentukan Jepang, merupakan orang-orang yang berasal dari Sumatera,” ungkap pria yang pernah menulis buku benteng-benteng Surabaya ini.
Bekas pasukan Heiho ini, lanjut ia, sebelumnya bertempur di Pulau Morotai dengan kondisi kalah perang. Ketika pasukan ini sampai di Surabaya, oleh Kolonel Wiliater Hutagalung mereka diminta untuk kembali membantu melawan sekutu.
Dinilai dari sisi lain, benteng ini menjadi salah satu bukti kuat bahwa tahun 1945, rasa satu nusa, satu bangsa, untuk berjuang bersama mempertahankan Indonesia dari para penjajah sudah kuat.
“Tanpa memikirkan berasal dari suku mana, mereka rela berkorban ikut berjuang bertempur di Kota Surabaya,” imbuh Ady.
Ady menambahkan keberadaan dua aset besar di Surabaya, juga menjadi alasan kuat para pejuang dari seluruh pelosok nusantara rela mati-matian mempertahankan Kota Surabaya.
Dua aset tersebut yakni pelabuhan Surabaya, tempat akses keluar dua-pertiga pabrik gula terbesar se Jawa, dan yang kedua yakni keberadaan pangkalan angkatan laut terbesar se Hindia-Belanda.
“Dua aset itu yang menjadi alasan Surabaya dipertahankan oleh deretan perbentengan yang memanjang dari Surabaya, Gresik, dan Bangkalan. Benteng Kedung Cowek ini, yang paling besar dari deretan perbentengan itu,” pungkasnya. (ita)