Lakon Warianti tanding diusung, tentang kepahlawan ksatria perempuan. Foto: Istimewa.
Anggota Rampak Sarinah Kediri Komunitas Seni Budaya, Lilik Suharti melakukan terobosan menarik dalam melakukan kampanye kepemimpinan perempuan sekaligus sosialisasi tentang Puti Guntur Soekarno.
Rampak Sarinah Kediri menyelenggarakan pertunjukan ketoprak gratis pada Senin 12/6) malam di Dusun Tawang, Desa Sumber Bendo, Kec Pare, Kab Kediri.
Group Ketoprak Gajah Mada asal Jombang pimpinan Kang Jari mementaskan lakon serial Sudiro dengan judul WARIANTI TANDING. Cerita tentang kepahlawan seorang ksatria perempuan Warianti dalam membela negaranya dengan cara menumpas para penjahat yang merugikan negaranya.
Pertunjukan yang berlangsung santai dan interaktif tersebut dihadiri sekitar 500 orang dalam gedung sementara berdinding bambu sumbangan penduduk sekitar. Para pemain maupun penabuhnya sudah sepuh-sepuh bahkan pesinden utamanya berusia 70 tahun namun pengunjungnya para muda dan anak-anak yang antusias menunggu babak lawakan dengan tokohnya Budi Jambul.
Eva Sundari dengan didampingi pengurus Rampak Sarinah Kediri membuka pertunjukan dengan memberikan pidato pengantar. “Ini lakon asyik, sesuai trend jaman yaitu meningkatnya kepemimpinan perempuan seperti yang pernah Indonesia punya mulai Ratu Sima, Gayatri hingga Megawati. Kita harus lanjutkan dengan memenangkan Mbak Puti yang cucu Bung Karno demi memenangkan Jokowi,” kata anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan ini bersemangat.
Eva Sundari selanjutnya menandaskan bahwa berpolitik memang harusnya ada demensi budaya karena sebenarnya politik berisi nilai-nilai mulia. Dengan demikian politik bisa membawa kegembiraan dan perdamain.
“Kita dukung strategi berpolitik Rampak Sarinah yang mengintegrasikan seni budaya untuk memperhalus budi dan mencerdaskan jiwa”, kata Eva Sundari dalam sambutannya. Lilik Suharti menjelaskan bahwa pertunjukan tersebut juga dimaksudkan sebagai partisipasi Rampak Sarinah dalam mengisi Bulan Bung Karno. (ita)
Pemakaian sarung sa’be pada awak kapal Greenpeace saat tradisi penyambutan tamu. Foto: Antaranews/Aji Styawan.
Di daerah yang berbasis NU, pria mengenakan sarung merupakan pemandangan umum. Bukan hanya saat acara resmi, melainkan juga acara santai. Mulai salat di masjid hingga meronda di pos kamling, sarung tak pernah dilepas. Sebab, sarung multifungsi.
Apalagi jika kita berkunjung ke beberapa pesantren di sepanjang Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sarungan ibarat ‘pakaian adat’ dan identitas kebanggaan.
Namun, seperti ditulis di Beritatagar.id, sebenarnya tak hanya di lingkungan NU dan pesantren, masyarakat Indonesia pun sebagian besar akrab mengenakan sarung sebagai busana sehari-hari bukan hanya untuk beribadah.
Bahkan, sarung di luar kain sarung orang NU seperti kain sarung adat banyak digunakan di daerah-daerah luar Jawa seperti Bali, Sulawesi, Palembang, Padang, dan lainnya.
Tentu dalam bentuk sarung yang berbeda baik corak maupun desain. Di hampir setiap daerah memiliki kain sarung khas masing-masing.
Orang NU sendiri sangat akrab dengan kain sarung bahkan sudah identik dengan kain yang banyak diproduksi di Jatem dan Jatim. Kain sarung juga seperti sudah menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Itu artinya, sarung penting untuk dilestarikan. Jangan sampai tergeser oleh pakaian keagamaan dari budaya timur tengah seperti gamis atau jubah dan bahkan celana cingkrang yang akhir-akhir ini mulai banyak dipakai oleh generasi Islam.
Sebenarnya tidak ada yang buruk dari pakaian-pakaian itu. Toh itu hanya pakaian, hanya simbol dan ornamen lahir manusia. Yang lebih penting dari itu adalah pemaknaannya.
Namun demikian, kain sarung juga bukan sesuatu hal yang buruk semisal lantas perlu dibidahkan karena Rasulullah SAW tidak pernah memakai sarung.
Kita hanya menjaga kekayaan tradisi yang memberikan nilai khas tersendiri. Supaya identitas sebagai bangsa Indonesia yang mempresentasikan Islam Nusantara tidak luntur begitu saja.
Ya, kain sarung dan Islam Nusantara adalah bak dua variabel yang saling melengkapi. Mereka berkelindan mempromosikan keislaman yang menghargai tradisi dan ramah bak karakteristik orang desa.
Seperti kata Gus Dur bahwa Islam datang ke Indonesia bukan untuk mengubah budaya leluhur jadi budaya Arab. Bukan untuk ‘aku’ jadi ‘ana’, ‘sampeyan’ jadi ‘antum’, ‘sedulur’ jadi ‘akhi’. Kita pertahankan milik kita, kita harus serap ajarannya, tapi bukan budaya Arabnya.
Sarung itu tanpa karet, atau atribut resleting dan kancing. Kain sarung bentuknya sangat sederhana. Namun corak kain sarung sangat beragam dan detailnya apik.
Seperti seharusnya pemikiran dalam bersosialisasi di tengah masyarakat yang kompleks seperti corak sarung. Hanya perlu berbuat baik dengan memberi manfaat kepada sesama.
Digambarkan dengan tidak adanya atribut kancing dan ritsleting yang mengekang pergerakan badan. Memestinya bersikap fleksibel, tidak kaku dalam bergaul.
Kemudian adanya ruang ketika kain sarung dipakai adalah sebuah pengibaratan untuk menerima dengan lapang apa yang menjadi permasalahan umat untuk dirasai bersama. Gulungan kain diperut mengisyaratkan supaya tetap kuat menjaga silaturahmi antar sesama.
Filosofi sarung yang penuh makna itu bisa dijadikan kontemplasi akan kehidupan sosial yang makin hari makin gersang oleh kepentingan-kepentingan jangka pendek.
Dari sebuah kain bahkan bisa belajar akan pentingnya menjaga silaturahmi antarsesama dengan sikap fleksibel. Sehingga memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.
Dengan penyiratan pesan bahwa mungkin kain sarung tidak semahal permata, namun di balik kain sarung tersimpan kekayaan Nusantara. Semoga tidak sampai lekang oleh zaman. (ist)
Inovasi bidang kesenian hingga menjadi unik, membuka potensi baru destinasi wisata budaya dan ekonomi masyarakat.
Jika selama ini kesenian reog identik dengan pakem laki-laki, tetapi dengan niatan memberdayakan perempuan yang selama ini dinilai belum berkontribusi secara total, di Desa Sawoo, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo berdiri kelompok kesenian reog perempuan bernama ‘Sardulo Nareswari’.
Fenomena tersebut menarik perhatian Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Sosial Humaniora (PKMP-SH) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.
Tim yang digawangi oleh Fajri Kurniararasanty, Gita Ayu Cahyaningrum, Isnaini Nur Amalina, semua mahasiswa jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Unair ini, ingin menguak lebih dalam tentang kesenian reog Ponorogo dari sisi yang lain, yaitu potensi perempuan.
Tim PKMP-SH yang diketuai Fajri Kurniararasanty ini menyusun dalam paparan berjudul ‘Paguyuban Sardulo Nareswari: Perempuan dalam Kesenian Reog Ponorogo Menari Diantara Dominasi dan Keberagaman’. Naskah ini berhasil lolos pendanaan dalam Program PKM Kemenristekdikti tahun 2018.
Berbicara kesenian reog, yang muncul dibenak masyarakat langsung tertuju pada Kabupaten Ponorogo. Dicatat oleh Fajri dkk, Ponorogo merupakan kota yang menyajikan suatu keunikan khas dalam seni pertunjukan. Apalagi reog menjadi salah satu warisan budaya yang telah diakui internasional dan menjadi ikon kota yang disebut ‘Bumi Reog’.
”Mengisahkan Reog Ponorogo rupanya tak pernah sepi dari pamrih oleh berbagai pihak demi kepentingan di luar kesenian itu sendiri. Dan reog berada dalam kompleksitas pertentangan di kalangan masyarakat Ponorogo,” tambah Fajri.
Seperti diketahui, pertunjukan reog disajikan dalam bentuk sendratari, suatu tarian dramatik yang tidak berdialog. Dari gerakan-gerakannya diharapkan tarian ini sudah cukup mewakili isi dan tema tarian tersebut.
Hanya, selama ini sajian reog diperankan oleh penari laki-laki kecuali tari jathilan yang dimainkan oleh perempuan.
Dalam sejarahnya, tari jathilan ini semula diperankan laki-laki yang busana perempuan. Ini merupakan penggambaran dari gemblak, laki-laki belasan tahun yang diasuh sang Warok sebagai kelangenan (kesukaannya), sebagai upaya menjaga kesaktiannya.
Namun karena sosok gemblak itu tidak sesuai dengan norma agama, Pemkab Ponorogo tahun 1985 membuat kebijakan dan mengubah tari jathilan oleh penari perempuan. Pergeseran penari jathil oleh perempuan itu bertahan hingga sekarang.
Adanya fenomena itu, Fajri dkk tertantang untuk menguak lebih jauh dari sisi kaum hawa. Selain itu tantangan budaya di masyarakat juga masih memposisikan perempuan berada dalam strata dibawah laki-laki.
”Kami ingin mengkaji kehidupan perempuan dalam dunia kesenian, sebab seni dan perempuan adalah sebuah ambivalensi yang menimbulkan dua pandangan berbeda di masyarakat. Satu sisi perempuan dianggap sebagai korban eksploitasi, disisi lain perempuan dalam seni tradisi diaggap sebagai pendobrak dominasi laki-laki,” kata Fajri melalui rilis PIH Unair.
Potensi Ekonomi & Wisata
Paguyuban seni reog perempuan ‘Sardulo Sareswari’ ini terbentuk dengan niatan untuk memberdayakan perempuan di Desa Sawoo. Menurut penuturan Heni Astuti, pendiri paguyuban reog perempuan ini karena pihaknya ingin membuat gebrakan baru dalam khasanah seni Reog Ponorogo.
Menurut Heni, nama ‘Sardulo Sareswari’ itu memiliki arti filosofis tersendiri. Sardulo berarti macan (harimau), sedang Nareswari berarti perempuan atau bidadari. Kalau selama ini pakem reog adalah laki-laki, dalam inovasi baru ini ingin ditunjukkan sisi yang berbeda dari pakem dominasinya (laki-laki), namun tetap dapat menunjukkan sisi keperempuannya.
Terbentuknya paguyuban ‘Sardulo Nareswari’ ini memberi dampak bagi perempuan Desa Sawoo dan masyarakat sekitarnya. Paguyuban ini telah beberapa kali melakukan pementasan di berbagai daerah, tidak hanya di Ponorogo, tetapi juga diluar Ponorogo.
Pementasan di luar wilayah domisilinya membuat para perempuan ini berani tampil di depan umum. Kontruksi masyarakat yang menyatakan perempuan hanya konco wingking (teman belakang) mampu dikikis dengan adanya kiprah reog perempuan ini.
Kemudian muncul pula nilai-nilai kemandirian dalam perempuan di Desa Sawoo. Ini dibuktikan dengan semakin bertambahnya perempuan berkontribusi dalam pekerjaan diluar sebagai ibu rumah tangga.
Menurut kajian Fajri dkk, keberadaan paguyuban ini jika dikembangkan lebih jauh akan dapat memberikan potensi wisata budaya baru bagi Kabupaten Ponorogo, khusunya Desa Sawoo.
Paguyuban reog perempuan ini mampu berkembang menjadi salah satu ikon baru dan identitas Ponorogo, terutama seni reog yang selama ini dipentaskan oleh laki-laki punya satu sisi unik yang dipentaskan oleh perempuan.
”Destinasi wisata budaya baru ini mampu menarik perhatian masyarakat karena memiliki sisi unik yang dikemas dalam sebuah seni pertunjukan. Terlebih lagi adanya pementasan reog perempuan ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di kalangan masyarakat dan meningkatkan pendapatan daerah Kabupaten Ponorogo,” demikian Fajri Kurniararasanty Dkk dalam kajian PKMP-SH-nya. (ist)
Komitmen pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur nomor urut 2, Gus Ipul-Mbak Puti untuk mengangkat budaya Jawa Timur tidak perlu dipertanyakan lagi. Komitmen itu bukan hanya sekedar klaim, janji ataupun pemanis belaka.
Komitmen untuk mengangkat budaya adiluhung yang ada di Jawa Timur itu dibuktikan dalam pagelaran Rampak Barong yang digelar di Stadion Menak Sompal Kabupaten Trenggalek pada Kamis (31/5). Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya pun mencapai 2.797 Rampak Barong.
Belum lagi, ribuan penonton yang hadir memenuhi dalam tribun dan luar stadion. Mereka tumplek blek untuk menyaksikan pagelaran Rampak Barong dari berbagai daerah di Jawa Timur yang diselenggarakan Taruna Merah Putih (TMP) Jawa Timur.
Acara yang dinobatkan masuk Museum Rekor Indonesia sekaligus dikukuhkan sebagai Rekor Dunia oleh MURI itu semakin meriah karena dihadiri langsung oleh Puti Guntur Soekarno, cucu sulung Presiden pertama RI, Soekarno.
Sambutan kehadiran calon wakil gubernur Jatim nomor urut dua pun riuh menggema di dalam dan luar stadion. Termasuk para pemain pun ikut menari berlenggak-lenggok memainkan Rampak Barong dengan diiringi jingle lagu ‘Kabeh Sedulur, Kabeh Makmur’.
Wasekjen DPP PDI P Ahmad Basarah, Ketua DPD PDI Jatim Kusnadi, Ketua TMP Jatim M Nur Arifin, tokoh masyarakat Trenggalek serta jajaran PDIP dan para kader hadir di acara yang menumbangkan rekor sebelumnya yang dipegang Kediri dengan 2.000 peserta.
Basarah mengajak agar masyarakat Jawa Timur memilih pemimpin yang peduli dan melestarikan budaya Indonesia. “Marilah kita mendukung cucu pertama Bung Karno, Mbak Puti Guntur Soekarno sebagai wakil gubernur Jawa Timur yang peduli dan melestarikan budaya,” ajaknya, seperti dikutip Merdeka.com.
“Jangan sampai salah memilih pemimpin. Pilihlah pemimpin yang nasionalis dan religius, dan itu ada di dalam sosok Gus Ipul dan Mbak Puti,” ungkapnya.
Piagam rekor Muri diserahkan Sri Widayati, perwakilan dari MURI kepada Ketua DPD Taruna Merah Putih Jawa Timur Mohammad Nur Arifin serta Calon Wakil Gubernur Jawa Timur Puti Guntur Soekarno.
Puti Guntur Soekarno berpesan, agar kecintaan terhadap budaya dan kesenian tradisional asli Indonesia harus tetap dijaga dan dilestarikan. Ia pun berkomitmen dengan Gus Ipul mempertahankan dan mengangkat potensi kesenian dan budaya di Jawa Timur.
“Potensi itu yang kemudian hari bisa menjadi potensi wisata. Kita harus mencintai dan melestarikan kebudayaan asli Indonesia,” ungkap dia. Selain pagelaran Rampak Barong, acara tersebut juga digelar pengajian dan aksi bagi takjil kepada 5.000 warga.
“Di sini kita sambil ngabuburit dengan menyaksikan pagelaran Rampak Barong,” kata Ketua TMP Jatim M Nur Arifin dengan berucap syukur pagelaran Rampak Barong sukses dan meriah digelar di Kabupaten Trenggalek. (ist)
Sendang Made, tempat meditasi Prabu Airlangga. Foto: Gapurajombang.wordpress.com.
Keberadaan Prabu Airlangga di Kabupaten Jombang pada zaman dahulu kala bukan hanya dongeng belaka. Ternyata, sesepuh para raja di tanah Jawa itu memang pernah berdiam cukup lama di daerah yang kini berjuluk Kota Santri.
Hal itu dibuktikan dengan keberadaan Sedang Made di Desa Made, Kecamatan Kudu, Jombang. Konon sendang ini merupakan peninggalan dan tempat peristirahatan Prabu Airlangga dan para raja di tanah Jawa.
Diantara sedikit obyek wisata di Kabupaten Jombang, menikmati sumber air Sendang Made di Desa Made, Kecamatan Kudu, bisa menjadi pilihan menarik untuk menghabiskan hari libur bersama keluarga. Sebab air sendang ini tak pernah kering, kendati musim kemarau.
Jangan heran, sebab, konon menurut sejarahnya sendang ini merupakan bekas peninggalan Prabu Airlangga. Selain Sendang Made masih ada kolam lain yang berukuran lebih kecil di sekitar lokasi. Misalnya Sendang Payung, Sendang Padusan, Sendang Sinden, Sendang Omben dan Sendang Drajat.
Juru kunci Sendang Made Sumono saat ditemui FaktualNews.co beberapa waktu lalu mengatakan, kolam ini merupakan peninggalan Airlangga yang dibuat sekitar tahun 1006 Masehi. Di tempat inilah sang prabu sering melakukan meditasi bersama istrinya Dewi Sekarwati yang juga putri dari Dharmawangsa, raja di Medang.
“Memang sejarahnya di sini merupakan tempat meditasi dan mandinya Prabu Airlangga dan Putri dari Raja Dharmawangsa, saat pelarian. Ketika itu beliau di kejar pasukan Prabu Wora Wari dari Tulungagung,” ujarnya.
Beruntung, Prabu Airlangga dan permaisurinya diselamatkan Prabu Narotama, sempat ke gunung Lawu dan berakhir di sebuah kolam dengan ditemani lima orang wanita dayang-dayang. Sejak saat itu Sendang Made berfungsi sebagai tempat menyepi atau meditasi Prabu Airlangga dan istrinya, sambil dijaga banyak wanita dayang-dayang dan pasukan.
Karena itulah sejak dulu Sendang Made ini menjadi lokasi pilihan bagi para sinden. Ia mengatakan, sebelum dinobatkan menjadi sinden, para perempuan itu harus menjalani wisuda terlebih dahulu.
Mereka melakukan kunkum dan mandi dilokasi sendang. “Ya memang sejak dulu, lokasi pemandian ini lah yang dijadikan tempat untuk wisuda para sinden,” tambahnya.
Namun saat ini tradisi itu sudah mulai hilang. Sudah tidak banyak sinden yang melakukan ritual itu. Minimnya sinden dan semakin terpuruknya kesenian tradisional seperti ludruk, wayang dan lain sebagainya membuat sinden semakin jarang dijumpai. “Kalau sekarang sudah jarang dan hampir tidak ada. Terakhir kalau tidak salah tahun 2012,” tuturnya.
Kendati sudah berusia seribu tahun lebih, saat ini beberapa bangunan di sekitar Sendang Made masih terawat dengan baik. Di tempat ini juga terdapat sebuah ruangan yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan Prabu Brawijaya dan bala tentaranya pada jamannya.
Di dalam kompleks Sendang Made terdapat makam Dewi Pandansari yang konon masih ada keturunan dari Prabu Brawijaya. Makam Dewi Pandansari inilah yang menjadi tempat ziarah sejumlah orang. Pada hari-hari tertentu mereka membawa sesajen, bunga dan kemenyan untuk ditaruh ke dalam makam.
Untuk mencapai lokasi obyek wisata Sendang Made tidaklah sulit. Anda bisa menggunakan aneka jenis kendaraan darat untuk menuju ke lokasi. Saat ini akses menuju lokasi sudah lebih baik ketimbang dua tahun sebelumnya. Pemkab Jombang juga sudah mulai memperbaiki sarana dan prasarana pendukung ke lokasi tersebut.
Kini Sendang Made tak lagi sesunyi dahulu. Para wisatawan lokal sering menggunakan tempat ini untuk menghabiskan waktu libur akhir pekan. (ist)
Sebuah pentas ludruk di Balai Budaya Surabaya. Foto: Humas Pemkot Sby.
Para anggota kelompok ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara tengah berlatih di tobong di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya, dua pekan lalu. Kelompok ini merupakan satu dari sedikit kelompok ludruk di Surabaya yang masih rutin pentas.
Membahas nasib ludruk maupun kesenian lainnya di Surabaya tidak akan ada titik akhirnya. Rasanya sulit untuk menyatukan titik pandang, karena antara seniman dan budayawan yang terlibat memiliki sudut pandang yang berbeda.
Tapi dalam menyikapi perbedaan ini ada satu kepentingan yang sama, yakni keinginan untuk melestarikan budaya tersebut.
Esthi Susanti Hudiono bersama sejumlah rekannya seperti Sabrot Malioboro, Desembe Sagita dan banyak seniman lainnya menggagas Forum Budaya Surabaya pada September 2017 lalu.
Salah satu gagasan dari forum ini muncul harapan untuk kembali mengangkat kesenian ludruk, terutama yang ada di Surabaya, menjadi sebuah seni yang memiliki kekhasan dan ciri tersendiri.
Menurut Esthi kesenian ludruk adalah kesenian rakyat yang memiliki nilai nasionalisme. “Ludruk adalah kesenian rakyat warisan budaya nonbendawi,” katanya, seperti dikutip Tribunnews.com.
Di Surabaya seni ludruk ini dipentaskan sebagai bagian dari bentuk perlawanan melawan penjajah. Banyak budaya arek Suroboyo yang yang diwujudkan dalam seni ludruk. Tengok saja parikan yang disampaikan Cak Durasim, saat penjajahan Jepang. Ludruk juga dianggap sebagai salah satu alat pemersatu antarkampung.
Saat pentas ludruk, hampir banyak warga dari kampung-kampung yang datang menyaksikan dan ludruk adalah seni yang mudah diterima di berbagai kalangan di masyarakat. Cerita yang disampaikan juga membawa misi, misalnya perjuangan seorang wanita, orang miskin, seniman.
Bahkan mengenai ketidakadilan sosial yang terjadi di masyarakat. “Dari ludruk itu bisa membangun perdamaian dan keadilan sosial,” tukasnya.
Sebagai tempat perjuangan wanita, kata Esthi, bagaimana dalam sebuah ludruk seorang wanita bisa tampil di atas panggung memerankan seorang ibu ada sebuah kebahagiaan tersendiri saat itu. Karena saat itu wanita tidak banyak tampil di depan publik.
Dari gagasan forum ini, mereka yang terlibat di dalamnya bertekad akan mengupayakan agar seniman ini sejahtera dalam kondisi saat ini. Karena seniman adalah juga agen perubahan.
Untuk mengangkat kembali seni ludruk, Forum Budaya Surabaya sudah mengagendakan secara berkala grup ludruk di Surabaya untuk tampil.
“Nanti ada delapan grup ludruk yang siap tampil, sebagai bapak asuh dari semua grup adalah Ludruk Luntas dan Irama Budaya” jelas Esthi. Dalam waktu dekat akan jalan dulu empat grup hingga Agustus 2019. Selanjutnya secara bergantian grup lainnya.
Upaya para seniman ludruk untuk terus tampil di panggung bukan tanpa pengorbanan. Dulu, mereka bisa mendapat sejumput rupiah dari pertunjukan yang digelar. Tapi beberapa tahun belakangan, mereka harus bertahan dengan cara masing-masing. Dengan usaha sendiri-sendiri.
“Gambaran dulu, mereka dapat uang katakanlah Rp 100 dari pertunjukan. Tapi harga beras bisa sepersepuluhnya. Artinya mereka bisa membawa pulang salary dari malam itu. Kalau kemarin-kemarin? Buat naik bemo saja susah,” ungkap Meimura, Sekretaris Kelompok Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara.
Namun sejak tahun ini, kelompok ludruk itu mendapat dana dari pemerintah kota. Nilainya Rp 250 juta untuk 50 kali pertunjukan dalam setahun. Artinya, kelompok itu mendapat Rp 5 juta sekali pertunjukan.
Nilai yang tak besar tapi lumayan untuk menambah hasil penjualan tiket. “Setidaknya cukup untuk transport pemain,” tambahnya.
Sebelum adanya dana ini, para seniman harus banting tulang untuk berkesenian. Mereka mencari pendapatan dari ladang lain. Menurut Mei, tak sedikit pula yang rela keluar uang supaya pertunjukan rutin tetap berjalan.
Dari kerja keras itu, Irama Budaya masih bertahan hingga kini. Jumlah anggotanya pun tak sedikit: sekitar 70 orang. “Ada suatu militansi dari teman-teman untuk eksistensi ludruk. Boleh dibilang, ini spirit. Ludruk itu spirit hidup,” pungkasnya.
Peran pemerintah
Para seniman ludruk beranggapan perlu peran pemerintah untuk menghidupkan ludruk sebagai kesenian khas Jawa Timur. Selama ini, para seniman sudah mencoba untuk mengangkat pamor ludruk. Tapi hasilnya dirasa belum signifikan.
Menghidupkan pamor ludruk bukan hanya mengenalkan ulang ludruk ke khalayak. Tapi juga mengajak generasi muda untuk mencintai dan mau melestarikan kesenian tersebut. Bagi para seniman, ini tantangan yang terus dihadapi ke depan.
“Sampai detik ini, saya masih bermain di panggung ludruk. Usia saya sudah 56 tahun. Dan saya masih menjadi pemeran sentral (di beberapa pentas). Bagi saya pribadi, saya sadar saya sudah waktunya bukan menjadi tokoh sentral lagi,” kata Hengki Kusuma, pemain ludruk di Surabaya.
Hengki kadang sempat terpikir, masih ada atau tidak generasi muda yang berniat untuk melestarikan kesenian itu. Pasalnya, sepengetahuan dia, anak muda sering memilih-milih jika ingin menonton ludruk. Terutama memilih lakon yang dipentaskan.
“Anak muda yang datang ke sini kebanyakan yang punya kepentingan. Bukan anak muda yang penggemar atau mencintai kesenian tradisional,” kata dia, ditemui di tobong Irama Budaya Sinar Nusantara, Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya.
Para seniman ludruk mengaku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghidupkan kesenian tersebut. Hengki menyebut, perjuangan tersebut sudah berdarah-darah. Maka, ia menyebut, peran pemerintah penting untuk membantu para seniman mendorong anak muda menggemari ludruk.
Pemerintah, baik Kota Surabaya maupun Provinsi Jawa Timur, menurut Hengki, dapat berperan mempromosikan secara maksimal setiap kegiatan ludruk digelar.
“Tentu butuh pembinaan ekstra. Saya sering terlibat diskusi dengan pemerintahan. Tapi cara yang mereka lakukan belum maksimal,” ungkap Hengki. Bila pemerintah mau berperan maksimal, ia yakin ludruk masih punya kesempatan untuk kembali besar.
Sabil Lukito (51), pemain ludruk lain menjelaskan, sudah banyak usaha yang seniman lakukan untuk regenerasi. Ia memberi contoh, pembinaan anak-anak hingga remaja untuk berlatih di tabong Irama Budaya Sinar Nusantara di THR. Ia bilang, ada sekitar 15 anak yang bergabung.
“Ada jadwalnya. Seminggu dua kali untuk latihan anak-anak. Jumat dan Minggu. Kalau latihan untuk dewasa, di hari Jumat. Saya ikut juga melatih anak-anak bersama teman-teman yang lain,” katanya.
Untuk anak-anak, lakon ludruk yang dikenalkan dan diajarkan berbeda dengan untuk dewasa. Sabil bilang, lakon yang diangkat untuk mereka meliputi cerita kerajaan burung-burung dan kisah-kisah yang berbau lingkungan.
“Sehingga anak-anak tidak dipaksa untuk berpikir dewasa. Tentunya juga untuk menarik agar anak-anak lainnya mau datang untuk melihat pentas,” ungkapnya.
Pemberian pemahaman bahwa ludruk adalah budaya milik warga Jawa Timur juga harus ditanamkan. Sementara ha-hal yang bersifat teknis bisa menyusul belakangan.
Menurut dia, pemahaman seperti itu lebih mampu memompa semangat. Meski begitu, upaya mengajak anak-anak belajar mengenai ludruk tak bisa dilepaskan dengan kesadaran orangtuanya. Maka pendekatan terbaik, menurut Sabil, adalah lewat orang tua.
“Kalau kita tes dari apa yang sudah kita lakukan, antusiasmennya lumayan. Desember tahun lalu kita pernah mencoba menggelar pentas ludruk untuk anak-anak di Balai Budaya. Dan full 700 anak-anak yang nonton,” kisahnya. (ist)
Kawasan makam Sunan Giri, terkait perkembangan Islam di Malang. Foto: Republika.co.id.
Di antara kota dan kabupaten di Jawa Timur, Malang Raya disebut sebagai salah satu pedalaman mengingat letak geografisnya. Kawasan ini dikelilingi beberapa gunung, seperti Semeru, Bromo, Arjuno, Kawi dan sebagainya. Karena faktor ini, Malang Raya terkenal lebih lamban penyebaran Islamnya dibandingkan daerah-daerah pesisir.
Seperti diketahui, Islam masuk ke Nusantara melalui para pedagang dari wilayah Timur Tengah. Perkembangan yang paling cepat terjadi berada di kawasan pesisir terutama di Pantura.
“Tapi, kalau pantai paling selatan agak akhir sebarannya karena pendaratan para pedagang lebih sering terjadi di pesisir utara,” kata sejarawan dari Universitas Negeri Malang (UM), Dwi Cahyono saat ditemui wartawan Republika.co.id di kediamannya di Malang.
Sementara ihwal penyebaran Islam di Malang Raya, Dwi mengaku, datanya lebih pada tradisi lisan. Sejauh ini, para sejarawan Malang Raya masih belum mampu mendapati data tekstual terkait perkembangan awal Islam di Malang Raya.
Jikalau merujuk pada tradisi lisan, islamisasi di Malang Raya berpusat pada tokoh Gribig atau Gidibig. Adapula yang berpusat pada kerajaan otonom yang sempat berkembang di Malang Raya, Sengguruh atau Tanjung Sengguruh.
“Dan tradisi lisan ini sudah dihimpun dalam literatur yang ditulis oleh Piguet sekitar 1960-an. Piguet memuat berbagai tradisi lisan yang ada di Jawa termasuk di Malang Raya berkenaan tentang Gribig dan Sengguruh,” ujarnya.
Menurut Dwi, tokoh Gribig di sini bukan Ki Ageng Gribig yang dikenal masyarakat Malang saat ini. Tokoh ini lebih dulu muncul meski memiliki nama sama dengan Ki Ageng Gribig. Oleh sebab itu, dia membedakan keduanya dengan sebutan Gribig senior dan junior.
Tokoh Gribig, memiliki peranan penting dalam menyebarkan Islam terutama di Malang bagian Timur. Berdasarkan legenda di masyarakat, tokoh Gribig merupakan murid dari Syekh Manganti. Syekh Manganti dikenal sebagai tokoh Muslim yang berada di Surabaya bagian selatan.
“Dan berdasarkan sumber tradisi yang berkembang di daerah Surabaya dan Gresik, itu masih ada makam kuno beliau. Beliau merupakan paman dari Giri,” ujarnya.
Dwi berpendapat, masa hidup Syekh Manganti belum tentu di masa Sunan Giri yang dikenal sebagai Walisongo. Giri di sini bisa jadi keturunan Walisongo Sunan Giri atau Sunan Prapen. Sebab di era tersebut, Giri bukan lagi pesantren, tapi pusat pemerintahan berkekuatan politik dengan latar keislaman.
Dia menilai, tokoh Syekh Manganti di sini dapat dipastikan hidup setelah masa Sunan Giri yang dikenal sebagai Walisongo. Lalu apa hubungannya Manganti dengan Gribig?
“Gribig itu muridnya yang ditempatkan di Malang dengan mengambil posisi yang sekarang di Kota Malang bagian timur. Dan untuk apa di Malang?” tegas Dwi.
Penempatan Gribig di Malang memiliki dua tujuan. Pertama, untuk mengislamkan daerah pedalaman seperti Malang Raya. Jika legenda ini benar, maka dapat dipastikan asal muasal keislaman di Malang berasal dari Surabaya – Gresik.
Kemudian tujuan penempatan Gribig berikutnya lebih pada masalah politik. Gribig ditugaskan untuk mengontrol Kerajaan Sengguruh yang saat itu masih beragama Hindu. Keberadaan Sengguruh termasuk luar biasa mengingat beberapa tempat di Jatim sudah diislamkan, termasuk Majapahit.
Kerajaan Sengguruh telah berkembang sebelum Majapahit mengalami keruntuhan. Kerajaan otonom ini hadir di masa yang sama dengan Majapahit era Girindrawardhana Wangsa. Dengan kata lain, kerajaan Sengguruh muncul di akhir abad 15 dengan status otonom.
“Statusnya kerajaan otonom walaupun Raja Pramana memiliki kekerabatan dengan raja terakhir Majapahit di Kediri, Patih Udara,” tambah dia.
Dengan kemampuannya, Raja Pramana mampu mengembangkan Sengguruh tanpa harus meminta persetujuan dari Majapahit. Sengguruh berhasil menjadi kerajaan kuat meski berada di lokasi terpencil. Lokasinya, berada di Malang selatan atau saat ini disebut sebagai wilayah Kepanjen di Kabupaten Malang.
Menurut Dwi, Kerajaan Sengguruh tepat berada di pertemuan antara Sungai Brantas dan Kali Metro. Ditambah lagi, lokasinya dikelilingi bukit-bukit kecil sehingga tampak terisolasi. Karena letak ini, Kerajaan Sengguruh tidak mudah ditaklukkan oleh lawan.
Bukan hanya sulit ditaklukkan, Kerajaan Sengguruh juga disebut kuat karena sempat menduduki kesultanan Giri.
“Cuma beberapa lama dan baru berakhir sekitar 1530-an. Ini berakhir karena Pasuruan yang merupakan jalur antara Malang dengan Gresik berhasil dipotong Kerajaan Demak. Karena Pasuruan ditaklukan Kerajaan Demak, pendudukan Giri pun ditarik,” tegasnya.
Dibandingkan kerajaan lainnya di Jatim, Sengguruh disebut sebagai wilayah terakhir yang berhasil ditaklukkan Demak. Pusat Majapahit di Kediri berhasil dikuasai Demak sekitar 1517 sedangkan Pasuruan pada 1530-an.
Sementara Kerajaan Sengguruh berhasil dikuasai sekitar 1545. “Ini petunjuk bahwa kerajaan Sengguruh cukup kuat,” kata dia.
Dari hal ini, Dwi berpendapat, ekspansi Demak ke Sengguruh jelas membutuhkan tim intelijen untuk mengawasi apa yang terjadi di Malang Selatan.
Tokoh Gribig bukan semata-mata menyiarkan Islam tapi juga memiliki maksud politis di dalamnya. Dia diminta Kerajaan Demak yang bekerjasama dengan Giri untuk mengawasi Sengguruh. “Bantuan untuk Demak karena sesama penguasa Islam dan balas dendam juga dari Giri saat penaklukan dulu,” tambah dia.
Dengan adanya penaklukan ini, Sengguruh sudah mulai memasuki babak awal perkembangan Islam. Seluruh kerajaan yang di bawah kekuasan Demak berubah dengan latar Islam termasuk Sengguruh. Dari sini, Ki Ageng Sengguruh menjadi penguasa Islam pertama setelah Raden Pramana.
Di antara berbagai area Malang, Dwi mengungkapkan, bagian barat yang paling terakhir perkembangan Islamnya. Islam berkembang di sana baru terjadi abad 17, itu berarti satu abad berikutnya setelah penaklukan Kerajaan Sengguruh. “Wilayah ini memang lebih pedalaman lagi,” ujar Dwi.
Islamisasi di Malang barat tak lepas dari sosok Raden Trunojoyo yang membangun benteng di Ngantang, Kabupaten Malang. Bersama tokoh handal militer dari Kerajaan Gowa, Karaeng Galesong, mereka bersama-sama melawan Belanda dan Kesultanan Mataram. Dengan mendirikan benteng di atas bukit tinggi Ngantang, mereka dapat memonitor pergerakan lawan dari atas.
Namun sayangnya pada 1679, pertahanan Trunojoyo berhasil dikalahkan Belanda dan Kesultanan Mataram. Trunojoyo ditangkap dan dibunuh oleh Sultan Mataram sekitar 1680.
Sementara Karaeng Galesong mengalami sakit, entah sejak setelah atau sebelum perang terjadi. “Dan tokoh yang terkenal di Gowa ini makamnya ada di pedalaman Malang, Ngantang,” ujarnya.
Setelah digempur Belanda dan Kesultanan Mataram, para laskar Trunojoyo berpencar mencari perlindungan. Hampir sebagian besar termasuk tokoh pentingnya lari ke berbagai desa di Malang barat, termasuk ke Ngantang, Pujon dan beberapa wilayah di Kota Batu.
Penguatan ajaran Islam semakin besar ketika eks laskar Untung Suropati dan Pangeran Diponegoro lari ke Malang Raya. Sekitar 1750-an, mereka memasuki Malang dan memberikan dampak yang kuat pada pemahaman Islam warga setempat. Hal ini lebih tepatnya terjadi di Malang tengah dan selatan.
Seiring perkembangan waktu, Islam pun terus berkembang di Malang Raya. Namun sayangnya, Islam di Jawa lebih kental dengan pengaruh budaya Jawa atau Islam Kejawen. “Itu wajar karena ajarannya dibawa oleh para eks laskar tersebut,” tambah dia.
Gerakan memurnikan Islam di Malang Raya lebih mendapatkan pengaruh dari Bangil dibandingkan Ampel karena kedekatan wilayah. Kemudian semakin kuat saat terjadinya gelombang migrasi besar-besaran dari Yaman ke Asia Tenggara termasuk Indonesia dan Malang sekitar 1850-
an. Hal ini terlihat jelas dengan adanya kampung Arab di beberapa titik di Malang, seperti di sekitar Masjid Jamik atau Alun-alun Kota Malang. “Dan di sana terlihat warna Islamnya agak berbeda,” tegasnya. (ist)
Puti Guntur Soekarno saat mengunjungi kawasan Trowulan di Kabupaten Mojokerto. Foto: Istimewa.
Calon Wakil Gubernur Jawa Timur, Puti Guntur Soekarno napak tilas di Mojokerto. Cucu Soekarno ini mengingatkan supaya generasi muda tidak lupa terhadap sejarah-sejarah yang ada di Indonesia.
“Saya selalu ingat kata-kata Bung Karno, Jas Merah ‘jangan sekali-kali meninggalkan sejarah’. Itulah pesan beliau,” kata Puti dalam kunjungannya ke Mojokerto bersama rombongan, Minggu (27/5).
Puti menuturkan, dalam kunjungan ke Mojokerto memilik kesempatan untuk jalan-jalan melihat situs-situs Majapahit. Hal ini dilakukan sembari menunggu buka puasa yang dilakukan di Mojokerto.
Bagi Puti, Mojokerto memiliki nilai historis yang sangat luar biasa menuju berdirinya Indonesia. Negara Indonesia, ujar Puti merupakan negara yang unik dengan berbagai suku, etnis, bahasa yang merupakan tarikan kesejarahan yang tidak bisa dilupakan dahulu kala.
Nusantara Majapahit telah menancapkan dasar negara dengan adanya ‘sumpah amukti palapa’ yang diucapkan Gajah Mada. Sebuah sumpah kesetiaan yang dimiliki Gajah Mada untuk kerajaan Majapahit kala itu.
Dari sebuah sejarah itu, Bung Karno menarik ke dalam sebuah negara ke dalam Negara Indonesia. Keberadaan simbol-simbol Indonesia dan nilai-nlai yang terkandung didalam Pancasila sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu, Majapahit.
Dimana nilai-nilai sudah tertuang dan tertulis didalam kitab ‘negarakertagama’. “Masa lalu merupakan kaca benggala masa depan. Indonesia mempunyai peradaban tinggi, buktinya Majapahit,” ujar Puti.
Majapahit, lanjut dia, merupakan negara maritim yang menguasai wilayah kelautan. Fakta ini kembali akan diwujudkan dengan menghidupkan Negara Indonesia sebagai negara Maritim. Kemaritiman ini nantinya akan membuat Indonesia semakin jaya, dan disegani negara-negara lain.
Indonesia ungkap Puti bak negara terpendam, ketika dipoles dengan baik maka negara ini akan bergeliat menjadi negara besar. Karena sejarah membuktikan bagaimana Majapahit mampu menjadi kerajaan besar yang sudah menguasai nusantara. “Seni dan budaya Indonesia juga sangat luar biasa. Tinggal bagaimana kita mempertahankan dan melestarikan seni dan budaya itu,” tuturnya.
Untuk itu, sebagai bentuk tanggung jawab bersama, para seniman dan tokoh budaya harus berupaya untuk terus melestarikan kebudayaan yang dimiliki Indonesia. Karena seni dan kebudayaan merupakan warisan leluhur yang harus dipertahankan hingga penghabisan.
“Maka adalah tanggung jawab kewajiban kita semua para tokoh, seniman dalam menjaga seni budaya lokal dan kearifan. Ini pencerminan trisakti Bung Karno ke dalam tiga pembangunan karakter yang didasari kebudayaan Bangsa Indonesia,” ucap Puti. (arf)
Acara Obralan Malam Jemuah di Dewan Kesenian Kabupaten Blitar. Foto: Istimewa.
Pasca terbitnya UU No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, hampir bisa dipastikan perspektif pembangunan kebudayaan di Indonesia akan makin berkembang.
Untuk mempersiapkannya butuh ekosistem kebudayaan yang melibatkan berbagai sektor masyarakat untuk membahas bagaimana peradaban masyarakat dapat terbangun secara terintegrasi.
Dewan Kesenian Kabupaten Blitar menginisiasi program baru dengan tajuk OMJ (Obrolan Malam Jemuah). Program tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem kebudayaan yang mampu mempertemukan lintas sektor dan lintas generasi.
Ketua Acara OMJ Rahmanto Adi menyatakan OMJ hadir dalam menjawab problem kenapa Kebudayaan di Kabupaten Blitar sulit berkembang. Ada Ritual Jamasan Gong Kyai Pradah, Reyog Bulkiyo, Larung Sesaji Desa Tambakrejo, dan masih banyak kebudayaan di Kabupaten Blitar yang hanya sekedar menjadi destinasi.
“Belum lagi problem lintas generasi, dimana anak-anak muda saat ini belum peduli dengan hadirnya kebudayaan sebagai bagian dari proses pembangunan. Semacam ada keterputusan antara generasi pewaris dengan generasi yang akan mewarisi kebudayaan tersebut. Untuk itulah OMJ hadir dengan format diskusi setiap satu bulan sekali di Sekretariat Dewan Kesenian Kabupaten Blitar ini,” kata Rahmanto Adi.
Dalam launching OMJ, hadir sebagai pemantik diskusi, Rangga Bisma Aditya, Direktur PKBM Tunas Pratama. Sekretaris Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJ) 2014-2016 ini memaparkan materi ‘Mau Kemana Kebudayaan Kita?’.
Dalam materinya, Rangga memaparkan tentang problem utama tantangan perubahan kebudayaan global yang memang mengerucutkan kepada kebutuhan terhadap Pokok Pemikiran Kebudayaan Derah di Kabupaten Blitar. “Salah satu amanah UU dalam memajukan kebudayaan daerah adalah dengan merumuskan Pokok Pemikiran Kebudayaan Daerah (PPKD),” tutur Rangga.
Kedepan menurut Rangga, PPKD inilah yang dijadikan acuan dalam merumuskan Strategi Kebudayaan Nasional dalam melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, objek kebudayaan serta membina SDM Kebudayaan. “Nantinya Strategi Kebudayaan Nasional dapat menciptakan ekosistem kebudayaan seperti di Korea Selatan dengan Korean Wave atau Amerika Serikat dengan Industri Budaya Pop-nya,” tegasnya.
Lebih lanjut Rangga menjelaskan bahwa Pemkab Blitar harus membentuk Tim Perumus PPKD, dimana tim tersebut harus melibatkan akademisi, budayawan, seniman, dewan kesenian, perwakilan komunitas dan organisasi seni budaya, pemangku adat, serta orang yang kompeten dalam kajian pemajuan kebudayaan.
“Karena hanya dengan hal tersebut, tantangan pembangunan kebudayaan di Kabupaten Blitar Dapat diwujudkan dengan beberapa gagasan seperti pembentukan desa budaya, perumusan teknis implementasi kurikulum berbasis kebudayaan masyarakat, hingga pembaharuan tampilan kebudayaan melalui paradigma millennial,” papar Rangga.
Acara yang digelar, Kamis (24/05) malam itu juga dihadiri Kepala Bidang Kebudayaan Disbudparpora Kabupaten Blitar Hartono, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar Wima Brahmantya, Ketua Umum ASIDEWI Andi Yuwono, serta beberapa komunitas lintas sektor.
Seperti D’Traveller, ICB Korwil Kanigoro, BPK OI Kabupaten Blitar, Komunitas Beatbox, Komunitas Pelestari Candi Mleri, Sanggar Teater Waseso Nugroho, dan UKM Teater Unisba Tali Usil.
Mayoritas para peserta mengapresiasi acara tersebut dan diharapkan dengan perumusan Pokok Pemikiran Kebudayaan Daerah akan mengurai problem utama kebudayaan kabupaten blitar seperti keterputusan antar generasi dapat menjadikan kebudayaan sebagai Way Of Life di lingkungan masyarakat. (ist)
Puti menyaksikan lukisan dirinya pada sebuah pameran lukisan di Surabaya. Foto: Istimewa.
Calon Wakil Gubernur Jawa Timur, Puti Guntur Soekarno mewarisi darah sang kakek, Soekarno sebagai seniman. Puti ketagihan untuk melukis didepan seniman-seniman lukis Jawa Timur.
Keahlian Puti dalam melukis terlihat dalam pameran dan lelang lukisan Perjuangan Jawa Timur pada event di Hotel Bumi Surabaya. Puti sangat menikmati menuangkan ide melalui lukisan diatas kanvas putih yang telah disediakan.
Pelan tapi pasti, goresan tinta diatas kanvas terus melaju, hingga jadilah lukisan yang menarik. Hasil lukisan Puti langsung mendapatkan sambutan hangat dari seniman Jawa Timur, mereka terkagum-kagum dan tidak menyangka bisa melihat ketrampilan Puti dalam melukis.
“Kami ingin Mbak Puti kembali melukis untuk menunjukan keahliannya,” kata Heri Purwanto, Koordinator Relawan Bakti Puti Jawa Timur, seperti dikutip Merdeka.com.
Heri mengatakan, relawan Bakti Puti melihat, Puti merupakan sosok mutitalenta dalam kesenian. Cucu Bung Karno itu akan melukis, menari, bermain musik dan menyanyi.
Acara bertajuk kesenian ini akan dilakukan dalam sebuah acara bernama ‘Gelar Ragam Ekspresi Seni’ di Pendopo Agung Trowulan Mojokerto, Sabtu (26/5) mulai pukul 14.30 WIB.
Dalam acara yang diselenggarakan oleh Relawan Bakti Puti Jawa Timur ini melibatkan seniman dari kota Gresik, Sidoarjo, Mojokerto dan Jombang.
Mereka akan melukis bersama, menyajikan karya tari dan juga pertunjukan musik, semua acara nantinya akan melibatkan sosok Puti.
“Kita bukan kampanye, karena Mbak Puti pada dasarnya memang seniman multitalenta, kami hanya mempertemukan Mbak Puti dengan komunitas seniman agar dia dapat berinteraksi dengan bahasa seni-budaya,” jelas Heri.
Untuk itu, Heri meminta supaya masyarakat yang ingin melihat kemampuan Puti dalam hal kesenian tidak diperkenankan memakai atribut partai. Hal ini bertujuan untuk menjaga marwah acara seni budaya.
Dalam acara nanti, Sutradara acara dipercayakan kepada Nugrah Wijaya alumni ISK Jogjakarta, penata tari Triyas Kustanto, musik oleh Pathak Warak Kustik, dan sebanyak 45 pelukis akan melukis on the spot.
“Selain semua atraksi kesenian itu, Mbak Puti juga akan menyampaikan pokok-pokok pikirannya mengenai seni budaya dalam sebuah orasi budaya, dan diakhiri dengan berbuka bersama,” ujarnya.
Bukan hanya itu, untuk menunjukkan komitmennya yang kongkrit dalam seni budaya, Puti juga akan memberikan apresiasi kepada sejumlah seniman dan pelestari seni tradisi. Hal ini semakin mengokohkan kalau Puti benar-benar mewarisi darah Soekarno sebagai sosok yang memakai kebudayaan untuk pendekatan politik.
Pendamping Gus Ipul ini meyakini kalau kebudayaan mampu menyatukan orang-orang dengan caranya sendiri.
“Bicara seni lukis, terus terang saya bukan kolektor. Tapi saya tahu dan selalu melihat koleksi lukisan dari kakek saya (Bung Karno) yang ada di istana di Indonesia. Dari cerita ayah saya bahwa memang Bung Karno sering mengundang seniman makan pagi di istana untuk berdiskusi,” kata Puti. (ist)