Dr R Cecep Eka Permana saat menyampaikan perkembangan peradaban maritim Nusantara Pra Majapahit. Foto: Humas ITS.
Bermaksud merekonstruksi ulang kebudayaan maritim nusantara, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berencana dirikan Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUI) yang terkait dengan budaya kemaritiman Indonesia. Hal ini selaras dengan keinginan bangsa Indonesia untuk membangun kembali nilai kemaritiman.
Pembahasan ini sempat tercuat dalam Diskusi Peradaban Maritim Tepian Kali Brantas yang digelar oleh Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim (PSKBPI) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITS di Ruang Sidang Rektorat ITS, pekan lalu.
Sejak dahulu, Indonesia memang dikenal sebagai negara maritim yang hebat. Bahkan, transportasi air memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia pada masa tersebut.
Terkait hal tersebut, PSKBPI LPPM ITS sempat melakukan penelitian peninggalan kerajaan majapahit tentang budaya kemaritiman yang ditemukan di Sidoarjo. Penemuan ini berupa candi di tepian Kali Brantas.
Menurut Dr Ir Amien Widodo M Si, Ketua Kelompok Kajian Bencana PSKBPI, penelitian ini diharapkan dapat merekonstruksi ulang budaya maritim yang pernah ada di Indonesia, utamanya di tanah Jawa. “Untuk membangun Indonesia sebagai poros maritim dunia, Indonesia harus membangun budaya maritim ini,” tuturnya, seperti dilansir Humas ITS.
Tidak hanya di tepian kali Brantas, penelitian ini juga dilaksanakan di sepanjang tepian Kali Porong. Ia menuturkan, penelitian ini akan memberi gambaran besar budaya maritim yang ada di Indonesia pada jaman dahulu. Letak garis pantai, pelabuhan, dan bentuk kapal menjadi pokok bahasan yang nantinya akan dikembangkan.
“Penelitian yang ada tidak hanya sebatas Surabaya-Sidoarjo saja, persebarannya bahkan dapat mencapai Blitar, ujungnya di Wonorejo,” papar pria paruh baya ini. Harapannya, dengan mengetahui persebaran budaya maritim tersebut, ITS mampu membuat gambaran (virtualisasi) kebudayaan maritim yang pernah ada di Indonesia.
“Tidak hanya dari kerajaan Majapahit saja, kerajaan lain seperti Medang, Kediri, Singosari juga akan ditelisik sejarahnya,” sambungnya. Amien menuturkan, ITS akan secara serius menggarap penelitian melalui terbentuknya PUI. Dengan adanya PUI tersebut, ITS berharap bisa membuat sebuah museum sebagai bahan edukasi bagi generasi saat ini.
Diskusi Peradaban Maritim Tepian Kali Brantas ini menghadirkan Staf Ahli Kemaritiman Sosio-Antropologi Dr Ir Tukul Rameyo MT, arkeolog dari Universitas Indonesia Dr Ir Cecep Eka Permana, arkeolog Universitas Negeri Malang Drs Dwi Cahyono M Si, wakil dari komunitas Laskar Nusantara 6 Tri Kiswono Hadi, dan dosen Teknik Geofisika ITS Firman Syaifuddin ST MT.
Amien menuturkan, narasumber dalam diskusi ini adalah komponen pendukung dalam penelitian yang berlangsung sejak tahun 2017. “Kami hanya mampu mempelajari bentuk fisiknya, untuk sejarahnya, butuh ahli arkeologi,” pungkasnya. Ia menganggap, penelitian perihal budaya memang butuh banyak sumber. (ita)
Diduga ada peninggalan Majapahit di Situs Ngrawan Madiun. Foto: Detikcom/Sugeng Harianto.
Tim arkeolog dari Balai Arkeologi Yogyakarta mendatangi Dusun Ngrawan, Desa Dolopo, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur untuk melakukan ekskavasi atau penggalian.
Penggalian ini dilakukan karena muncul dugaan terdapat situs peninggalan Kerajaan Majapahit di dusun tersebut.
“Kita datangkan tim Arkeolog Yogyakarta untuk melakukan penelitian di lokasi yang diduga ada peninggalan situs kerajaan Majapahit,” terang staf Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Saiful, kepada Detikcom di lokasi, akhir pekan lalu.
Total ada 10 orang tim arkeolog yang dikirim dari Yogyakarta untuk melakukan penggalian. Penggalian sendiri sudah dilaksanakan sejak 12 Juli silam hingga diperkirakan selesai pada 25 Juli mendatang.
Lokasi penggaliannya sendiri berada di lahan seluas sekitar 1.400 meter milik Gatot Suhanto (50), warga RT 44 RW 13 Dusun Ngurawan. Lokasi galian berada di antara pohon sengon yang ditanam oleh Gatot sejak 3 tahun lalu.
Di lahan ini juga terdapat empat titik yang telah ditandai untuk dilakukan penggalian. “Untuk hasil nanti akan diumumkan oleh Tim Arkeolognya seperti apa yang sebenarnya. Apakah benar-benar situs berhubungan dengan kerajaan Majapahit atau tidak,” katanya.
Saiful menjelaskan penggalian ini merupakan lanjutan dari penelitian yang sudah dilakukan sejak tahun 2016 lalu.
Pada ekskavasi pertama di tahun 2016, tim sudah menggali di dua titik dengan kedalaman sekitar tiga meter. Hasilnya, ditemukan tumpukan batu bata seperti bangunan kuno. Batu bata tersebut berukuran sekitar 20 x 30 cm dengan tebal sekitar 6 cm.
Ditambahkan Ketua Tim Peneliti Arkeolog Yogyakarta Rita Istari, penggalian kali ini tidak hanya dilakukan untuk mengungkap adanya peninggalan lain, tetapi juga untuk mengetahui bentuk dan karakter tinggalan arkeologi di situs bersejarah tersebut.
“Tanggal 16 Juli 2018 nanti kita akan datangkan ahli sejarah dan ahli prasasti baca tulisan kuno dari Malang. Nantinya akan membantu pencarian data dan akhir Oktober 2018 rencana mau saya buatkan buku tentang situs yang ada di Dusun Ngrawan atau familiar disebut Ngurawan kalau orang Jawa,” ungkap Rita.
Di dusun yang terletak sekitar 25 Km di selatan pusat kota Madiun itu memang kerap ditemukan benda-benda peninggalan sejarah seperti arca dan batu berornamen yang menjadi bagian dari pemandian kuno.
Bahkan kabarnya sisa-sisa peninggalan bersejarah itu teronggok begitu saja dan tidak terawat hingga menjadi incaran banyak kolektor. (dtc)
BPCB melakukan penggalian tumpukan batu bata kuno di Situs Semanding, Kediri. Foto: Surya.co.id/Didik Mashudi.
Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) melakukan penggalian di lokasi penemuan struktur batu bata purbakala di Dusun Wonorejo, Desa Semanding, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, beberapa waktu lalu.
Lokasi penggalian di areal lahan seluas 5 x 7 meter yang saat ini ditanami kacang tanah. Lahan tempat ditemukannya struktur batu bata purbakala ini milik Zainudin (55) warga setempat.
Struktur batu bata kuno ini digali bagian tepinya dengan kedalaman sekitar satu meter. Penggali kemudian membersihkan tanah yang menutupi tumpukan batu bata yang kondisinya sudah tidak utuh lagi.
Tim penggali seperti dilaporkan Tribunnews kemudian melakukan penelitian struktur bangunan yang telah tertimbun tanah. Bangunan yang berupa tumpukan batu bata itu kondisinya tertimbun tanah dengan kedalaman lebih dari satu meter.
Nugroho arkelog dari BPCB menyebutkan, tujuan penggalian untuk melakukan studi kelayakan dan mengetahui keutuhan dari struktur bangunan batu bata merah. Dalam penggalian ini juga dihadiri perwakilan dari Dinas Pariwisata Pemkab Kediri dan Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan.
Kesimpulan sementara hasil penggalian batu bata merah purbakala strukturnya masih bagus. Bangunan purbakala ini diperkirakan bagian dari peninggalan masa kejayaan Kerajaan Kediri Dhoho Panjalu sekitar abad 12.
Sebelumnya struktur bangunan batu bata merah pernah diteliti Ahmad Khariri juga dari BPCB. Hasil kajiannya ukuran batu bata merah yang ditemukan di situs Semanding ukurannya identik dengan batu bata yang ditemukan di Trowulan, Mojokerto.
Batu bata kuno itu berukuran rata-rata panjang 40 cm, lebar 24 cm dan tebal 8 cm. Namun kondisinya sebagian sudah tidak utuh lagi dan pecahannya berserakan. Lokasi Situs Semanding berdekatan dengan Situs Adan-adan hanya berjarak sekitar 300 meter. Lokasi Situs Adan-adan telah dilakukan penelitian dengan eskavasi dan penggalian dari Puslit Arkenas. (ist)
Candi Tegowangi tegaskan Budaya Panji milik Kediri. Foto: Sureplus.id.
Acara Festival Panji Internasional di Candi Tegowangi kemarin memang istimewa. Bukan hanya menjadi awal dari rangkaian Pekan budaya dan Pariwista Kabupaten Kediri yang pelaksanaannya hingga 14 Juli 2018.
Acara dibuka secara resmi melalui Parade Budaya dan Pawai Mobil Hias di kawasan SLG pada 8 Juli. Festival ini semakin istimewa karena juga diwarnai oleh seniman mancanegara. Baik penari mapun singer.
Bahkan, para seniman asing itu seperti memiliki pertautan dengan cerita panji. Naowarat misalnya, dia langsung teringat dengan satu tarian di negerinya saat melihat pertunjukan Panji.
Meskipun dia tak paham sepenuhnya ucapan sang dalang, dia langsung merasa cerita Panji juga familiar di negaranya. Berwujud pada tarian Inao. “So amazing Panji. I know that story,” ujarnya seperti dikutip Jawapos RadarKediri.
Yuli Marwanto mengatakan hal serupa. Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri itu menyebut ruwatan panji justru besar di negara-negara lain.
Mulai Thailand, Vietnam, Myanmar, hingga Filipina. Bahkan, sangat disakralkan. Seperti tarian Inao di Thailand yang masih berkaitan dengan cerita Panji. “Justru di masyarakat Thailand ini (hanya) bisa dilihat ketika ada hajatan saja,” ungkapnya.
Masih menurut Yuli, tarian Inao erat kaitannya dengan tarian Panji dengan Dewi Kilisuci atau Sekartaji. Secara garis besar Panji adalah seorang kesatria yang selalu kehilangan pasangan hidupnya. Sebelum akhirnya mendapatkannya kembali dengan perjuangan yang luar biasa.
Acara Ruwatan Panji di Candi Tegowangi merupakan rangkaian dari beragam acara Festival Panji Internasional. Rangkaian kegiatan seni sacral ini melibatkan banyak provinsi. Mulai Provinsi Bali, Jawa Timur, dan Jogjakarta.
Adapun pemilihan Candi Tegowangi sebagai lokasi karena tempat tersebut merupakan situs purbakala yang juga terdapat relief yang berkisah tentang Panji. “Panji ini cikal bakalnya dari Kediri,” ungkapnya.
Wahdan MY, penanggungjawab Festival Panji Internasional menyatakan bahwa dengan adanya festival Internasional ini harapannya agar Panji semakin populer. Tak hanya di kalangan orang manca negara. Justru pada generasi muda Indonesia. “Semua dunia tahu Panji milik Indonesia. Bahkan telah dicatat oleh UNESCO juga. Jadi generasi muda hendaknya malah lebih tahu,” paparnya.
Dalam serangkaian Festival Panji Internasional kemarin tak hanya menyajikan pagelaran wayang krucil saja. Juga ada acara penyucian diri atau ruwatan. Ruwatan langsung dipimpin oleh sang Dalang Harjito.
Prosesi ruwatan tak hanya diikuti oleh warga Kediri saja. Tapi juga oleh warga negara asing. Terutama para seniman yang akan tampil di rangkaian acara Festival Panji Internasional. Beberapa orang dari Thailand dan Vietnam terlihat diruwat.
“Ini sekaligus upaya penyucian kita berdoa bersama pada Tuhan Yang Maha Kuasa berharap perlindungan juga,” papar Harjito sebelum akhirnya membasuh kepala salah satu warga Thailand dengan siraman air bunga dan gelang genitri. (jpr)
Tiga orang mahasiswa Geofisika UGM, yakni Reymon Agra Medika (Geofisika 2014), Zukhruf Delva Jannet (Geofisika 2014), dan Yosua Alfontius (Geofisika 2015) melaksanakan penelitian kerentanan gempa pada bangunan Candi Borobudur.
Proses akuisisi data pada bangunan Candi Borobudur dilakukan selama 5 hari, yaitu 3 – 7 Juni 2018, bekerja sama dengan Balai Konservasi Borobudur (BKB) Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Reymon selaku ketua tim PKM mengatakan penelitian ini merupakan salah satu upaya pelestarian Candi Borobudur yang merupakan situs warisan dunia.
Menurutnya, candi Borobudur terletak pada zona rawan gempa tektonik yang diakibatkan oleh subduksi lempeng Samudera Indo-Australia terhadap lempeng Benua Eurasia yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa.
“Terbentuknya struktur geologi yang berada di sekitar Candi Borobudur, seperti Sesar Progo yang merupakan sesar aktif dan dapat memberikan dampak buruk terhadap bangunan candi apabila terjadi pergeseran yang menimbulkan gempa bumi,” kata Reymon kepada wartawan, beberapa waktu lalu.
Menurut sejarah, kata Reymon, candi Borobudur telah beberapa kali mendapat dampak buruk dari gempa bumi yaitu berupa guncangan yang mengakibatkan runtuhnya beberapa bagian candi.
Penelitian yang mereka lakukan, tambah Reymon, dapat mengetahui nilai kerentanan gempa pada setiap lantai bangunan candi dengan menggunakan metode Mikroseismik. Metode ini mengukur getaran alami yang ada pada setiap lantai bangunan candi dengan alat seismometer.
“Data getaran dari metode ini kemudian dilakukan pengolahan untuk mendapatkan nilai amplifikasi dan frekuensi natural yang kemudian digunakan untuk analisis kerentanan gempa pada bangunan candi”, jelas Reymon, seperti dirilis Humas UGM..
Penelitian yang didanai oleh Direktorat Pendidikan Tinggi, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan untuk Program Kreativitas Mahasiswa (PKM-PE) ini diharapkan dalam waktu dekat dapat menghasilkan gambaran mengenai nilai kerentanan gempa pada masing-masing sisi bangunan candi.
“Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk tindak lanjut ke depan guna melakukan penguatan bangunan candi dengan analisis konstruksi bangunan candi,” katanya.
Selama melaksanakan proses penelitian, kata Reymon, mereka juga mendapat bantuan tim akuisisi data dari anggota tim Himpunan Mahasiswa Geofisika (HMGF UGM) beberapa diantaranya adalah Alan Yudha, Rahadi Selo, Oktavianus Eko, Jum Satriani, dan Ulya Habiburrahman. (ist)
Seorang warga Trenggalek temukan arca Dewa Brahma. Foto: Detikcom/Adhar Muttaqin.com.
Seorang warga di Trenggalek menemukan arca Dewa Brahma diduga peninggalan masa Kerajaan Majapahit yang tertanam di depan rumahnya. Selain arca, di sekitar lokasi juga banyak ditemukan tumpukan batu bata berukuran besar.
Warga yang menemukan arca adalah Saifudin (29) warga Desa Gondang, Kecamatan Tugu, Trenggalek. Arca yang terbuat dari batu padas memiliki tinggi 60 cm itu ditemukan secara tak sengaja, saat meratakan halaman.
“Niatnya itu saya mau meratakan halaman, karena banyak batu-batuan itu. Nah pada saat itu awalnya saya kira akar pohon, tapi setelah saya coba gali pakai linggis ternyata keras,” kata Saifudin kepada detikcom di rumahnya, beberapa waktu lalu.
Mengetahui hal tersebut dia melakukan penggalian hingga kedalaman 30 cm dari permukaan tanah. Dari situlah diketahui benda tersebut adalah sebuah arca yang masih relatif utuh, dengan posisi terbaring kearah barat dengan posisi kepala mengharap ke utara.
Temuan arca tersebut kini menjadi tontonan warga sekitar. Warga penasaran dengan penemuan benda yang diduga merupakan peninggalan msa kerajaan.
Sementara Kasi Pelestarian Sejarah Tradisi dan Cagar Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparibud) Trenggalek, Agus Prasmono, mengatakan dari pengamatan awal arca yang ditemukan Saifudin tersebut adalah jenis Dewa Brahma yang merupakan peninggalan masa Kerajaan Majapahit.
“Kalau sekilas kami amati, ini kemungkinan Dewa Brahma, tingginya 60 cm. Arca ini bentuknya masih cukup bagus dan reltif masih utuh,” kata Agus.
Menurutnya, keberadaan arca tersebut cukup mengejutkan, karena selama ini penemuan benda-benda peninggalan kerajaan itu rata-rata ditemukan di wilayah Kamulan dan sekitarnya. Sedangkan kali ini ditemukan di sisi barat Trenggalek atau Kecamatan Tugu.
Selain arca Dewa Brahma, warga setempat juga menemukan potongan arca nandi atau sapi. Potongan tersebut ditemukan sejak beberapa tahun yang lalu, dengan lokasi yang tidak jauh dari lokasi penemuan arca Brahma.
Saat ini kedua arca tersebut diamankan di rumah warga, sambil menunggu proses penyelidikan dan penelitian lebih lanjut dari ahli benda-benda bersejarah. (dtc)
Model bangkai kapal laut Jawa dimasa kejayaannya. Foto: The Field Museum/John Weinstein.
Menurut sebuah penelitian baru dari sebuah bangkai kapal laut jawa yang ditemukan oleh nelayan pada tahun 1980-an adalah sebuah kapal dagang yang diduga telah tenggelam pada akhir tahun 1200-an lebih mungkin tenggelam pada paruh kedua tahun 1100-an.
Salah satu kunci yang menunjukkan bahwa bangkai kapal laut jawa tersebut berasal dari tahun tersebut adalah adanya tulisan dibagian bawah kotak keramik yang ditemukan di dalam reruntuhan.
Seperti ditulis Blog Mahessa83, prasasti itu menyebutkan Jianning Fu, sebuah wilayah administratif di China selatan yang hanya digunakan dari tahun 1162 hingga 1278 dan setelah tahun 1278, wilayah ini diubah menjadi Jianning Lu.
Sebuah mangkuk keramik berglasir memberikan petunjuk lain bahwa Bangkai Kapal Laut Jawa yang karam lebih awal dari yang diyakini sebelumnya. Mangkuk jenis ini juga ditemukan di Sarawak, Malaysia yang berasal dari suatu tempat dari abad ke-10 hingga abad ke-12.
Beberapa mangkuk keramik Cina dari Bangkai Kapal Laut Jawa kini telah dibersihkan dan dimiliki oleh Field Museum. Untuk langkah berikutnya para peneliti akan menganalisis unsur-unsur dalam keramik untuk membandingkannya dengan situs arkeologi di China.
Tujuannya adalah untuk mengetahui dimana keramik-keramik ini di produksi dan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang jaringan perdagangan yang menghubungkannya dengan Asia Tenggara pada tahun 1100-an.
Dengan menggunakan metode mutakhir, para peneliti radiokarbon yang dilakukan pada resin aromatik yang ditemukan di kargo kapal karam.
Ketika kulit luar yang mengkilap terkelupas, resin berwarna gelap ditemukan dibawahnya masih menyimpan bau yang samar bahkan setelah berabad-abad tenggelam. Penanggalan radiokarbon memberikan bukti lebih lanjut bahwa bangkai kapal laut Jawa tenggelam sebelum tahun 1200-an.
Diantara muatan yang terdapat di Bangkal Kapal Laut Jawa ini ada sekitar 16 buah gading gajah yang dua diantaranya telah di uji radiokarbon.
Tanggal-tanggal pada gading gajah ini juga menunjukkan waktu yang lebih awal untuk kapal yang karam ini. Para peneliti juga berencana akan menguji urutan DNA gading gajah untuk mencari tahu dari mana artefak ini berasal.
Beberapa dari banyak mangkuk keramik yang ditemukan di Bangkai Kapal Laut Jawa di foto di dasar lautan. Bangkai kapal ini diselamatkan pada tahun 1996 oleh perusahaan swasta Pasific Sea Resources.
Perusahaan di diwajibkan untuk menyerahkan setengah artefak yang terdapat pada bangkai kapal kepada pemerintah Indonesia. Sementara setengahnya lagi secara suka rela disumbangkan ke Chicago’s Field Museum untuk memberikan tampilan yang lebih lengkap pada kecelakaan dari era Asia Tenggara.
Sementara tempat penyimpanan yang ditemukan di Bangkai Kapal Laut Jawa seperti Guci pada gambar di atas, menyimpan barang-barang yang mudah rusak seperti acar sayuran, rempah-rempah, daun teh atau kecap ikan.
Selain keramik, barang tahan lama yang terdapat di bangkai kapal adalah gading gajah dan resin. Bangkai Kapal Laut Jawa juga membawa sekitar 200 ton barang besi cor. (ist)
Warga menunjukkan benda yang diduga peninggalan Majapahit. Foto: Antaranews.com.
Warga Desa Tegalsari, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto menemukan benda-benda yang diduga sebagai benda purbakala peninggalan situs Kerajaan Majapahit, saat menggali tanah yang akan digunakan untuk resapan tanah.
Salah seorang warga Wahyudin seperti dikutip Antaranews mengatakan, saat itu dirinya akan menggali lubang yang akan digunakan untuk resapan air di depan rumahnya, tetapi pada kedalaman sekitar tiga meter dirinya menemukan benda-benda yang diduga sebagai peninggalan Kerajaan Majapahit.
“Saya sendiri kurang mengerti seperti fungsi benda tersebut. Bentuknya melingkar dengan diameter sekitar 75 centimeter dengan ketinggian sekitar 50 centimeter serta memiliki ketebalan sekitar 3 centimeter,” katanya saat dikonfirmasi di Mojokerto.
Wahyudin mengemukakan, benda-benda tersebut jumlahnya tidak satu karena setelah terus dilakukan penggalian kembali ditemukan benda sejenis yang berada di bawahnya.
“Kami meyakini di dalam lubang yang sedang digali itu masih banyak tersimpan benda-benda sejarah peninggalan Kerajaan Majapahit,” katanya.
Bahkan, kata dia, sejak semalam warga yang mulai berdatangan untuk melihat juga turut membantu untuk melakukan penggalian lagi di lubang yang sama.
“Dan memang terbukti, kami kembali menemukan kembali benda serupa sebanyak tiga buah. Namun, untuk yang kedua sampai keempat ketinggiannya hanya sekitar 30 centimeter, saja,” kata Wahyudin.
Selama proses penggalian itu, lanjut dia, pihaknya juga menemukan beberapa serpihan batu yang mungkin juga masih manjadi satu rangkaian penemuan benda-benda purbakala itu.
“Kami juga melaporkan kejadian penemuan benda-benda ini kepada pihak pemerintah desa untuk selanjutnya dilaporkan kepada pihak lainnya,” katanya.
Saat ini, di lokasi penemuan sudah banyak didatangi warga yang ingin melihat dari dekat perihal penemuan benda-benda tersebut. (ant)
Menteri Mitch Fified bersama Dubes RI untuk Australia Y Kristiarto S Legowo. Foto: Kedubes Australia.
Pemerintah Australia telah mengembalikan empat tengkorak bernilai budaya yang signifikan kepada Pemerintah Indonesia. Tengkorak tersebut diduga merupakan hasil perdagangan gelap.
Artefak yang berharga ini diserahkan oleh Menteri untuk Kesenian Australia, Senator Mitch Fified, kepada Duta Besar Indonesia untuk Australia, Yohanes Kristiarto Soeryo Legowo di Kedutaan Besar Republik Indonesia, Canberra.
Tengkorak dengan hiasan tradisional masing-masing diserahkan dalam satu kotak khusus yang dibuat oleh pakar konservator dari Museum Nasional Australia untuk memastikan keamanan transportasi artefak bersejarah ini.
Menteri Mitch Fified menegaskan pentingnya pengembalian kekayaan budaya ini. “Australia dan Indonesia memiliki pemahaman yang mendalam dan penghormatan yang sama akan budaya dan warisan budaya kedua negara, serta komitmen bersama untuk melindungi dan melestarikannya,” kata Menteri Fified, Rabu (30/5) lalu.
“Pemerintah Australia senang dapat mengembalikan tengkorak-tengkorak dari masyarakat Dayak dan Asmat yang memiliki nilai budaya sangat penting ke Indonesia, sebagai bagian dari upaya terus-menerus kita untuk memerangi perdagangan gelap benda-benda bernilai budaya,” kata Fified, seperti dikutip Merdeka.com.
Indonesia mengatakan pengembalian ini menjadi bukti dekatnya hubungan penegakan hukum dan budaya antara Indonesia dan Australia.
“Pengembalian benda budaya ini tidak hanya menjadi contoh nyata dari praktek terbaik kita, namun juga menunjukkan bahwa Indonesia dan Australia selalu menganggap penting perlindungan terhadap warisan budaya kita,” kata Duta Besar Kristiarto Legowo.
“Ada tren-tren global yang terus berkembang dalam penyelundupan dan penjualan benda-benda budaya akhir-akhir ini, pengembalian menjadi pendorong bagi kita untuk memperkuat kerja sama dalam menjaga kekayaan budaya dan menanggulangi kegiatan-kegiatan gelap semacam itu.”
Di banyak masyarakat kerangka manusia dengan hati-hati diawetkan dan dipajang di rumah adat atau di tempat keramat serta digunakan dalam upacara adat yang sangat mendetail.
Masyarakat Asmat dari Papua Barat menghiasi tengkorak dengan biji-bijian dan cincin-cincin cangkang kerang laut yang diukir, sementara masyarakat Dayak di Kalimantan menghiasi tengkorak dengan ukiran-ukiran yang rumit. “Kami akan memulangkan benda-benda budaya ini ke tempat asal mereka di Indonesia,” kata Kristiarto Legowo.
Pencegahan perdagangan gelap rangka manusia dan artefak budaya masih terus dilakukan di Australia sesuai dengan Protection of Movable Cultural Heritage Act 1986 (UU Tahun 1986 tentang Perlindungan Warisan Budaya Yang Bisa Dipindahkan). (mer)
Rektor Ubaya Prof Joniarto Parung PhD saat peresmian Museum Temporary of Ubaya. Foto: Suarasurabaya.net.
Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2018 lalu, Universitas Surabaya (Ubaya) meresmikan museum temporary of Ubaya yang bekerjasama dengan Museum Gubug Wayang Yensen di gedung Perpustakaan Ubaya.
Mengusung konsep ‘Spirit of Majapahit’, Museum Temporary of Ubaya ingin mengajak kembali masyarakat maupun mahasiswa untuk melihat peradaban Indonesia yang pernah berjaya pada masa kerajaan Majapahit dengan multikultural yang tumbuh dalam kerajaan tersebut.
Diungkapkan Direktur Museum Gubug Wayang Yensen Project Indonesia Cyntia Handy bahwa Kerajaan Majapahit dulunya dikenal sebagai kerajaan yang menyatukan Nusantara. Pihaknya menilai jika sudah seharusnya generasi muda maupun masyarakat luas belajar dari nenek moyang yang sudah memiliki keberagaman budaya maupun agama sejak dulu.
“Kerajaan Majapahit banyak sekali keberagamannya mulai dari India, China, Persia bahkan percampuran yang akhirnya membentuk suatu identitas itu. Mereka bahkan memiliki jangkauan wilayah lebih luas karena mereka memiliki ‘Spirit of Majapahit’ yaitu berbudaya, berbangsa dan beragama,” paparnya, seperti dikutip Harian Bhirawa.
Sehingga, lanjut dia mereka memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi sekaligus tentu saja mereka mempunyai arahan dari Tuhan yang Maha Esa.
Cynthia Handy yang juga Mahasiswa Psikologi Ubaya ini juga menilai jika apa yang dijaga kerajaan Majapahit waktu itu, sangat linier dengan visi misi Ubaya saat ini. Hal tersebut bisa terlihat dari tag line Ubaya yang sangat menjaga multikultural.
“Dengan adanya Spirit of Majapahit dengan berbagai keberagaman dari Ubaya ini tentu menjadi ikatan yang kuat bagi warga Ubaya,” imbuhnya
Selain itu, tambahnya pihaknya juga ingin mengajak mahasiswa mempunyai spirit kesatuan dan persatuan yang tinggi sehingga bersinergi untuk berinovasi dan berkreasi untuk kedepannya.
Dalam Museum Temporary of Ubaya, mereka menampilkan sebanyak 774 koleksi terakota dari masa Kerajaan Majapahit. Terakota yang terpajang menurut panitia berusia 500 hingga 700 tahun. Selain itu, terakota tersebut di temukan sekitar abad ke 14 dan 15.
“Kenapa terakota? Karena ini adalah pondasi awal mula kita menyelamatkan terakota tertua peninggalan Majapahit. Setelah itu kita akan bergerak ke arah selanjutnya, yaitu wayang, topeng dan sebagainya,” urai Direktur Museum Gubug Wayang Yensen Project Indonesia.
Ia berharap dengan adanya museum temporary of Ubaya yang mengusung ‘Spirit of Majapahit’ bisa menjadi e-memory bagi generasi muda bangsa maupun masyarakat, untum menjaga keharmonisan dan kesatuan NKRI. “Dengan multikultural yang dimiliki Ubaya salah satunya, saya berharap Ubaya bisa menjadi batu oenhuru untuk menjaga multikuktural bangsa,” pungkasnya.
Ditemui di tempat yang sama, Rektor Ubaya Prof Joniarto Parung PhD menuturkan jika peresmian museum temporary of Ubaya sebagai bentuk dari kebijakan pemerintah tentang Pengembangan karakter pendidikan.
“Salah satu upaya yang kita lakukan adalah dengan mempelajari budaya asli bangsa Indonesia. Kita bisa belajar dari sejarah bangsa dalam pengembangan karakter ini,” sahutnya.
Prof Joniarto Parung berpesan bahwa setiap masyarakat dari berbagai kalangan harus menghargai budaya asli bangsa Indonesia.
Pihaknya menghimbau agar masyarakat juga belajar mengenai apa yang diperolehnya saat ini yang merupakan hasil dari alkulturasi berbagai budaya yang dimiliki bangsa.
“Jaman dulu bangsa kita aktif berinteraksi dengan berbagai bangsa yang ada di dunia. Kita harus terbuka, hati dan pikiran kita untuk melihat perubahan dunia dan menjalin kerjasama dengan mereka,” tandasnya.
Secara keseluruhan terdapat 774 terakota yang ada di Museum Temporary of Ubaya. Sebanyak 767 terakota asli berasal dari zaman Kerajaan Majapahit.
Sedangkan 7 terakota merupakan hasil replika. Meskipun hanya sebuah replika, namun proses pembuatannya dibuat sama persis oleh pengrajin batu bara yang disebut Linggan dengan terakota yang asli.
Selain menampilkan berbagai artefak, museum temporary of Ubaya juga mendatangkan para Linggan asal Trowulan yang disebut merupakan pusat Kerajaan Majapahit pada zaman dahulu.
Pada Museum temporary of Ubaya, para Linggan menunjukkan keahliannya sebagai pengarajin batu bara dalam mengukir logo Universitas Surabaya (Ubaya)
Adapun berbagai bentuk terakota yang pajang dalam museum temporary of Ubaya adalah kendi air, celengan babi, koin-koin, pondasi sumur, tungku, gerabah, candi, hiasan rumah dan lainnya.
“Harapan saya, museum ini kan seperti media bagi kita untuk refleksi, bagaimana sih keadaan yang terjadi saat masa lalu. Melalui ini kita bisa belajar bersama dan kemudian melestarikan sejarah yang ada. Ubaya sebagai bagian dari Bangsa Indonesia sama-sama mencari jati diri kita dahulu seperti apa,” ulas Ketua Departemen Mata Kuliah Umum (MKU) Ubaya Aluisius Hery.
Rajut Kembali Multikultural
Kondisi Indonesia yang sedang diguncang isu multikultural secara terus menerus, dinilai beberapa kalangan mengalami penurunan dalam peradaban bangsa.
Penilaian tersebut salah satunya datang dari ketua tim arkeolog Gubug Wayang Yensen Project Indonesia Christiawan. Menurut Christiawan peradaban bangsa saat ini mengalami penurunan dari berbagai aspek. Misalnya dalam kehidupan beragama, sosial masyarakat, sosial politik dan sebagainya
“Kalau kita membangun mental kita, dan merubah paradigma kita dalam menerima keadaan multikultural bangsa dan mau belajar tentang peradaban bangsa waktu itu, perubahan akan terjadi,” ungkapnya.
Di mana, lanjut dia peradaban bangsa pada masa itu sangat menjaga keseimbangan antar manusia dengan alam.
“Prinsip mengelola alam dan prinsip peradaban sangat dijunjung pada waktu itu. Konteksnya selalu dikembalikan ke alam. Bagaimana ada prosesi yang diperuntukkan oleh alam. Oleh karenanya keseimbangan antara manusia dengan alam, itu yang perlu kita tanamkan pada generasi saat ini,” imbuhnya.
Salah satu media tersebut, katanya adalah artefak. Di mana dalam sebuah artefak masyarakat bisa belajar dan memahami tentang keberagaman bangsa Indonesia pada waktu peradaban kerajaan maupun manusia purba.
Christiawan menjelaskan bahwa banyak hal yang diambil dari sebuah artefak, baik dari sisi sejarah maupun arsitektural. “Beberapa artefak justru menunjukkan harmoni pada abad itu,” tambahnya.
Sebagai arkeolog Christiawan menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia perlu belajar dari ‘Spirit Majapahit’ untuk mengembalikan multikultural yang sudah mulai hilang dalam kehidupan masyarakat.
“Kita bisa belajar dari spirit Majapahit yang menunjukkan semangat dan energi multikultural pada zaman dulu yang cukup substansi dan sederhana terutama dalam perbedaan beragama,” pungkasnya. (bhi)