Peduli Pemajuan Kebudayaan di OMJ Blitar

foto
Acara Obralan Malam Jemuah di Dewan Kesenian Kabupaten Blitar. Foto: Istimewa.

Pasca terbitnya UU No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, hampir bisa dipastikan perspektif pembangunan kebudayaan di Indonesia akan makin berkembang.

Untuk mempersiapkannya butuh ekosistem kebudayaan yang melibatkan berbagai sektor masyarakat untuk membahas bagaimana peradaban masyarakat dapat terbangun secara terintegrasi.

Dewan Kesenian Kabupaten Blitar menginisiasi program baru dengan tajuk OMJ (Obrolan Malam Jemuah). Program tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem kebudayaan yang mampu mempertemukan lintas sektor dan lintas generasi.

Ketua Acara OMJ Rahmanto Adi menyatakan OMJ hadir dalam menjawab problem kenapa Kebudayaan di Kabupaten Blitar sulit berkembang. Ada Ritual Jamasan Gong Kyai Pradah, Reyog Bulkiyo, Larung Sesaji Desa Tambakrejo, dan masih banyak kebudayaan di Kabupaten Blitar yang hanya sekedar menjadi destinasi.

“Belum lagi problem lintas generasi, dimana anak-anak muda saat ini belum peduli dengan hadirnya kebudayaan sebagai bagian dari proses pembangunan. Semacam ada keterputusan antara generasi pewaris dengan generasi yang akan mewarisi kebudayaan tersebut. Untuk itulah OMJ hadir dengan format diskusi setiap satu bulan sekali di Sekretariat Dewan Kesenian Kabupaten Blitar ini,” kata Rahmanto Adi.

Dalam launching OMJ, hadir sebagai pemantik diskusi, Rangga Bisma Aditya, Direktur PKBM Tunas Pratama. Sekretaris Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJ) 2014-2016 ini memaparkan materi ‘Mau Kemana Kebudayaan Kita?’.

Dalam materinya, Rangga memaparkan tentang problem utama tantangan perubahan kebudayaan global yang memang mengerucutkan kepada kebutuhan terhadap Pokok Pemikiran Kebudayaan Derah di Kabupaten Blitar. “Salah satu amanah UU dalam memajukan kebudayaan daerah adalah dengan merumuskan Pokok Pemikiran Kebudayaan Daerah (PPKD),” tutur Rangga.

Kedepan menurut Rangga, PPKD inilah yang dijadikan acuan dalam merumuskan Strategi Kebudayaan Nasional dalam melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, objek kebudayaan serta membina SDM Kebudayaan. “Nantinya Strategi Kebudayaan Nasional dapat menciptakan ekosistem kebudayaan seperti di Korea Selatan dengan Korean Wave atau Amerika Serikat dengan Industri Budaya Pop-nya,” tegasnya.

Lebih lanjut Rangga menjelaskan bahwa Pemkab Blitar harus membentuk Tim Perumus PPKD, dimana tim tersebut harus melibatkan akademisi, budayawan, seniman, dewan kesenian, perwakilan komunitas dan organisasi seni budaya, pemangku adat, serta orang yang kompeten dalam kajian pemajuan kebudayaan.

“Karena hanya dengan hal tersebut, tantangan pembangunan kebudayaan di Kabupaten Blitar Dapat diwujudkan dengan beberapa gagasan seperti pembentukan desa budaya, perumusan teknis implementasi kurikulum berbasis kebudayaan masyarakat, hingga pembaharuan tampilan kebudayaan melalui paradigma millennial,” papar Rangga.

Acara yang digelar, Kamis (24/05) malam itu juga dihadiri Kepala Bidang Kebudayaan Disbudparpora Kabupaten Blitar Hartono, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar Wima Brahmantya, Ketua Umum ASIDEWI Andi Yuwono, serta beberapa komunitas lintas sektor.

Seperti D’Traveller, ICB Korwil Kanigoro, BPK OI Kabupaten Blitar, Komunitas Beatbox, Komunitas Pelestari Candi Mleri, Sanggar Teater Waseso Nugroho, dan UKM Teater Unisba Tali Usil.

Mayoritas para peserta mengapresiasi acara tersebut dan diharapkan dengan perumusan Pokok Pemikiran Kebudayaan Daerah akan mengurai problem utama kebudayaan kabupaten blitar seperti keterputusan antar generasi dapat menjadikan kebudayaan sebagai Way Of Life di lingkungan masyarakat. (ist)

Jejak Jepang di Makam Keramat di Bangkalan

foto
Komplek makam keramat Syeh Magribi di Bangkalan Madura. Foto: Liputan6.com/Musthofa Aldo.

Salah satu makam keramat di Kabupaten Bangkalan adalah makam Raden Jakandar. Letaknya di Desa Ujung Piring, sekitar 2 kilometer setelah Pasarean Syaikhona Cholil di Desa Martajesah.

Raden Jakandar dijuluki “Syekh Magribi’. Menurut Rofiqi, pemuda setempat, dijuluki begitu karena konon tiap waktu Magrib tiba, pusaranya memancarkan cahaya.

Fauzi, seorang peziarah yang ditemui Liputan6.com usai berdoa, menuturkan konon makam syekh Magribi ditemukan orang buta. Lewat mata batinnya, orang tua buta itu kerap melihat cahaya di pesisir pantai Desa Ujung Piring.

Setelah ditengok oleh warga, ditemukanlah satu komplek pemakaman kuno dan salah satunya diyakini sebagai pusara Raden Jakandar yang juga disebut Sunan Bangkalan keturunan dari Kerajaan Pelajaran.

Kuburan ini menarik tidak hanya karena sosok Raden Jakandarnya, tetapi juga karena di sekeliling komplek makam terdapat bunker peninggalan zaman penjajahan Jepang.

Kodim 0829 Bangkalan mencatat total ada 20 bungker. Tersebar di lahan seluas 1 hektare sekitar makam. Kondisi bunker banyak yang rusak. Pintu besinya raib.

Satu bungker, kondisinya masih utuh, terletak dekat pintu masuk makam. Hanya 50 meter dari tempat parkir. Tertutup rimbun perdu, pohon pisang dan rumput gajah. Dari jauh hanya tampak atap saja, seolah menyembul dari gundukan tanah.

Pintu masuk bungker di sisi timur, baru terlihat setelah menyibak tanaman liar. Suasana gelap pekat, untuk masuk harus jongkok. Di langit-langit ada potongan besi tembus ke atas. Di satu dindingnya ada tulisan huruf Jepang.

“Bungker ini dulunya buat pembangkit listrik, pipa besi di atapnya itu berfungsi sebagai cerobong udara,” kata Teriyanto, seorang musafir yang bermukim di makam Raden Jakandar dan kerap menyepi dalam bungker itu.

Sekitar 500 meter dari bunker pertama, ada bungker lain, juga masih utuh. Bentuknya lebih besar, kemungkinan untuk penyimpanan senjata. Ada juga benteng, dengan lubang di tengahnya mengarah ke laut, diduga untuk lubang meriam.

Tak jauh dari benteng, ada bungker lain, kondisi hancur, hanya menyisakan fondasi saja, ada kubangan besar di tengahnya. Juga tampak lubang di dinding, seperti bekas tembakan. Menandakan pernah terjadi pertempuran sengit di situ.

Sayangnya, situs bersejarah ini tak terawat. Akses jalan menuju kawasan makam keramat itu ditumbuhi pohon liar. Padahal bunker merupakan situs penting, bisa dijadikan wisata edukasi sejarah perjuangan di Pulau Madura. (ist)

Ada Nuansa Majapahit Kuno di Jiwanggo Resto Jogja

foto
Jiwanggo Resto, sebuah rumah makan di Kalasan Jogja terinspirasi dari Majapahit Kuno. Foto: NusantaraNews.co/Romandhon.

Pulau Jawa pernah mencapai puncak kejayaannya ketika dua kerajaan besar yakni Mataram Kuno di Jawa Tengah dan Majapahit di Jawa Timur lahir. Kedua situs ini kini hanya tinggal menyisakan nama besarnya.

Namun ada sebuah rumah makan unik di Kalasan, Jogja yang menyuguhkan nuansa kuno ala kerajaan khas di Jawa. Tempat yang memiliki nama Jiwangga Resto ini sengaja didesain sang pemilik yakni Gayuh Handoko dengan memakai konsep bangunan Majapahit Kuno.

Karena terinspirasi dari nama besar Majapahit, maka banyak bangunan berupa rilief dan stupa yang menjadi khas kerajaan yang pernah menguasai Asia Tenggara itu terdapat di destinasi ini.

Rosalya Sri Wulandari, istri owner Jiwangga Resto mengatakan bahwa dipilihnya konsep kerajaan Majapahit Kuno ini tak lain karena memang kekagumannya terhadap sejarah kerajaan yang berpusat di Mojokerto tersebut.

Ia juga berharap dengan mengangkat konsep bangunan Majapahit Kuno bisa berdampak terhadap bisnis kuliner yang ia jalani sekarang. Ia ingin resto yang ia geluti bisa besar, laiknya Majapahit yang mampu merajai Asia Tenggara di masa lampau.

“Sebenarnya ini bermula dari hobi sih, karena kami sekeluarga sukanya makan, dan kebetulan kami mengagumi sejarah Majapahit,” kata Wulan sapaan Rosalya Sri Wulandari, seperti dilaporkan NusantaraNews.co di Jogja.

Rumah makan dengan luas mencapai 1,5 hektar itu mulanya dibangun untuk rumah tinggal biasa. Namun teman-teman yang pernah singgah ke tempatnya menyarankan untuk dijadikan rumah makan. Sehingga pada awal tahun 2017 lalu, lahirlah Jiwangga Resto.

Dengan konsep yang berbeda serta didukung lokasi yang masih asri di tepian Kali Kuning, resto satu ini berhasil menyita perhatian pengunjung. Banyak pengunjung yang bertandang ke tempat ini mengaku sekadar hanya untuk berburu view menarik di lokasi tersebut.

Menurut pengakuan Wulan, restoran gaya vintage ini sudah banyak dikunjungi para wisatawan asing dan tentu saja wisatawan lokal. Setiap weekend, lokasi ini dipadati para pengunjung.

Risma (25) salah seorang pengunjung yang datang ke Jiwangga Resto mengaku mendapat informasi dari Instagram. Ia tertarik dengan konsep bangunan yang disuguhkan di tempat ini.

Meski demikian, secara menu tempat ini bisa dibilang tak jauh berbeda dengan tempat-tempat kuliner lainnya. Tak ada pembeda mengenai suguhan menu. Hanya saja, yang membuat tempat ini terasa istimewa ada nuansa vintage yang kental sehingga orang tertarik untuk berburu foto di tempat ini. (ist)

Serial Film Grisse, Kolaborasi Timur dan Barat

foto
Salah satu adegan di film serial Grisse. Foto: Dok HBO Asia.

Berangkat dari sejarah Kota Gresik, serial Grisse menyelesaikan proses shooting di Infinite Studios, Batam. Serial ini menghadirkan ensambel pemain dari berbagai negara, antara lain Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Jepang. Dikemas dalam delapan episode, Grisse merupakan produksi orisinal HBO Asia. Direncanakan, Grisse akan tayang akhir 2018 nanti.

Sutradara dan showrunner Grisse Mike Wiluan di Infinite Studios, Senin 14 Mei 2018 mengungkapkan, serial ini tidak akan tercipta tanpa dukungan HBO. Lewat Grisse, Mike ingin mengkolaborasikan budaya barat dan timur.

Pasalnya hal ini berkaitan dengan perspektif global tentang sejarah Indonesia. Untuk Grisse, Mike juga menulis skenario bersama Rayya Makarim.

“Judul Grisse merupakan nama Kota Gresik, dekat Surabaya di Jawa Timur. Orang Belanda dulu menyebut Gresik dengan Grisse. Serial ini tentang gerakan revolusi lewat karakter perempuan yang kuat,” tutur Mike, seperti dikutip pikiran-rakyat.com.

Di Infinite Studios, tim produksi membangun set yang detail untuk Grisse. Selama enam minggu, mereka membuat suasana perkampungan Indonesia di era 1800-an. Tak hanya dalam bentuk bangunan, tapi juga kostum, dan unsur artistik lainnya.

Cerita Grisse berlatar belakang dari era 1800-an atau ketika masa kolonial Hindia Belanda. Serial ini berkisah tentang sekelompok masyarakat dalam penindasan yang memberontak melawan gubernur bengis. Mereka berhasil mengambil alih kendali di markas tentara Belanda bernama Grisse.

Didukung sejumlah karakter unik, mereka bersatu dengan latar belakang dan keyakinan berbeda. Tujuan mereka sama, yaitu untuk memperbaiki keadaan dan nasib mereka dari penjajahan.

Para pemain yang memperkuat Grisse di antaranya Adinia Wirasti, Marthino Lio, Michael Wahr, Edward Akbar, Jamie Aditya, Toshiji Takeshima, Joanne Kam, Zack Lee, Tom Dejong, Ully Triani, Rick Paul Van Mulligen, Alexandra Gottardo, Hossan Leong, dan Jimmy T.

Salah seorang aktor asal Jepang, Toshiji Takeshima yang berperan sebagai Ryuichi mengungkapkan, dia sangat antusias bisa terlibat dalam Grisse. Pasalnya, baru kali ini dia bekerja sama dengan aktor asal Indonesia.

Menurut Toshiji, salah satu alasan dia mau bergabung dengan Grisse adalah tim produksi dan pemain yang berasal dari berbagai bangsa. Hal ini membuat dia bisa mengenal aneka budaya. “Buat saya, kisah Grisse sangat kaya dan sarat konflik. Ini adalah sebuah cerita sejarah Indonesia. Saya belajar lagi sejarah Indonesia di era ini,” ungkap Toshiji.

Menurut Toshiji, karakter yang dia mainkan adalah seorang samurai yang sadis. Sebelum shooting, dia belajar intensif menggunakan pedang. Dia juga memasukan elemen Jepang pada karakter Ryuichi. “Selama shooting banyak hal yang tak terduga. Saya juga melakukan semua adegan tanpa stunt man,” ujar Toshiji.

Aktor asal Indonesia Marthino Lio yang berperan sebagai Maran mengaku, tidak menemukan kesulitan selama shooting. Dengan dasar taekwondo yang dia punya, Lio cepat berlatih koreografi laga untuk Grisse.

“Sosok Maran adalah seseorang yang nasionalis. Dia kaku dan menjadi pemimpin kelompok pemberontak. Menurut saya, cerita yang disajikan Grisse sangat relate dengan situasi Indonesia saat ini,” ujar Lio.

Sementara pemain asal Malaysia, Joanne Kam yang berperan Chi mengatakan, naskah sangat membantu dia untuk mengeksplorasi karakter. Menariknya, kata Joanne, sebagai pemain, dia juga harus mengerti karakter setiap lawan mainnya. Menurut Joanne, sangat menyenangkan bisa kolaborasi dengan aktris Indonesia, Adinia Wirasti.

“Saat pertama datang ke lokasi shooting, hanya ada saya dan Zack Lee. Kami langsung menyelesaikan adegan laga selama tiga jam. Ini berat untuk saya, tapi saya berusaha profesional dan tak ingin menyerah,” ujar Joanne. (ist)

Jejak Masa Muda Ken Arok di Situs Karuman

foto
Arca Lembu Nandi di Situs Karuman yang dibangun atas perintah Ken Arok. Foto: Liputan6.com/Zainul Arifin.

Sore di sudut kampung Tlogomas, Kota Malang. Tembok setinggi 1 meter mengelilingi sepetak lahan. Rimbun pepohonan dengan dedaunan rontok berserakan di tempat yang mirip pekuburan itu. Kampung hanya berjarak puluhan meter dari Sungai Brantas.

Warga setempat lebih mengenal tempat itu sebagai Punden Karuman. Beruntung ada sebuah papan informasi dipasang Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang. Papan itu menjelaskan bahwa itu adalah Situs Karuman, sebuah situs purbakala penting bernilai sejarah tinggi.

Arkeolog Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, mengatakan situs itu sekaligus menjadi penegas bahwa kawasan itu merupakan desa kuno yang sudah ada sejak masa Kerajaan Kanjuruhan di abad VIII.

“Kawasan ini juga tempat bersejarah, keberadaannya dicatat dalam Kitab Pararaton,” kata Dwi Cahyono di Malang, seperti dilaporkan Liputan6.com.

Nama Karuman disebut beberapa kali dalam Kitab Pararaton, sebuah kitab yang mengisahkan Ken Arok sebagai pendiri Kerajaan Singasari. Menjadi tempat tinggal Ken Arok semasa kecil hingga tumbuh remaja saat tinggal bersama ayah angkatnya yang kedua, yakni Bango Samparan.

“Pergilah Bango Samparan dari Rabut Jalu, berjalan pada waktu malam, akhirnya menjumpai seorang anak. Dicocokkannya anak itu dengan petunjuk Hyang, sungguhlah itu Ken Angrok. Dibawa pulang ke Karuman, diakui anak oleh Bango Samparan,” demikian bunyi kutipan Kitab Pararaton.

Usia Ken Arok saat itu sebaya anak gembala. Ia ikut Bango Samparan hingga tumbuh remaja. Arok meninggalkan rumah, saat mulai tak cocok dengan anak–anak ayah angkatnya. Pergi berkelana, ia menjadi berandalan hingga mengabdi pada Akuwu Tumapel Tunggul Ametung.

Kitab Pararaton juga menuliskan, di sela masa pengabdiannya pada Tumapel, Ken Arok kembali pulang ke Karuman. Meminta pertimbangan Bango Samparan saat hendak membunuh sang akuwu dari kekuasaannya sekaligus memperistri Ken Dedes. Melalui ayah angkatnya itu pula, Ken Arok tahu tentang Mpu Gandring dan memesan senjata untuk mengkudeta Tunggul Ametung.

Kampung Tlogomas Kota Malang merupakan desa kuno sejak masa Hindu–Buddha abad VIII hingga era Kesultanan Mataram Islam abad XVII. Maka, di kampung ini selain ada situs Karuman juga ada Makam Mbah Aruman, seorang penyebar Islam dari Mataram.

Situs Karuman itu sendiri bukan punden biasa. Sebenarnya situs itu adalah sebuah candi yang dibangun atas perintah Ken Arok di awal berdirinya Kerajaan Singasari. Sebagai balas budi terhadap Bango Samparan, sekaligus menetapkan statusnya sebagai desa sima atau bebas pajak. “Karena itulah kuat dugaan masih banyak peninggalan arkeologis yang terpendam di dalam tanah di kawasan ini,” kata Dwi Cahyono.

Sedangkan bukti artefak yang masih bisa dilihat di kawasan ini adalah fragmen arca Durga dan arca Siwa yang sudah hilang bagian kepalanya. Ada pula batu sima, penanda penetapan status desa bebas pajak. Benda purbakala itu diletakkan di areal Makam Mbah Aruman

Sedangkan di Situs Karuman sendiri ada arca Lembu Nandi yang sudah pecah bagian kepalanya, yoni dan lingga berbeda ukuran. Ada pula beberapa balok batu dan bata kuno. Tak jauh dari situs ini, dekat Sungai Brantas pernah ada sebuah patirtan atau taman pemandian kuno.

Di sekitar patirtan itu dahulu ada beberapa jaladwara berbahan batu andesit yang berfungsi sebagai pancuran. Air mengalir dari arung atau saluran bawah tanah melalui jaladwara dan ditampung dalam patirtan. Sayangnya, jaladwara maupun patirtan sudah lenyap tak tersisa.

Hanya aliran air dari arung yang masih bisa dijumpai. Di bekas lokasi patirtan itu kini hanya berdiri tempat pemandian umum untuk warga. Sedangkan air juga diambil sebuah kolam pemandian wisata dengan jumlah besar. “Patirtan jadi tempat penyucian diri sebelum melakukan pemujaan di candi. Menunjukkan betapa pentingnya kawasan ini,” ujar Dwi Cahyono.

Warga Tlogomas sendiri masih sering menemukan sisa batu bata kuno saat menggali tanah sekitar. Termasuk di bekas lokasi patirtan yang kini jadi tempat pemandian umum. Mereka juga memanfaatkan bata kuno temuan itu untuk pemugaran jalan di pemandian umum itu.

“Kata kakek saya, dulu juga sering menemukan arca saat menggali tanah. Karena takut, ditanam lagi ke dalam tanah,” kata Imam Musyafak, Ketua RT 4 RW 5 Tlogomas, Kota Malang.

Perlahan tapi pasti, warga mulai sadar menyelamatkan temuan-temuan itu. Tembok di Situs Karuman, misalnya, baru dibangun warga di awal tahun 2000-an. Dahulu, cagar budaya itu dibiarkan dalam ruang terbuka. Situs kini dianggap memiliki nilai penting untuk sejarah desa. “Kalau pemerintah hanya pasang papan informasi itu. Perawatan dan pemeliharaan situs sehari-hari ya dari warga,” ujar Imam.

Warga juga ada keinginan membongkar kolam pemandian dan memindahkannya. Di tempat itu ingin dibangun patirtan tiruan, setidaknya mengingatkan warga bahwa kampung mereka adalah desa kuno. Air yang keluar dari arung juga akan dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Mikro Hidro (PLTMH). “Kami tak ingin memutus sejarah kawasan ini dan juga memanfaatkan airnya agar ada nilai lebih untuk warga,” ucap Imam. (ist)

Motif Batik ‘Jonegoroan’ Diperagakan di China

foto
Batik “Jonegoroan” ditampilkan dalam peragaan di Beijing, China, Kamis (17/5). Foto: Istimewa.

Empat motif batik “Jonegoroan” Bojonegoro, Jawa Timur, yaitu motif Surya salak Kartika, Pari Sumilak, Rancak Thengul dan Sekar Rosela, produksi Marely Jaya mengikuti peragaan batik bersama sejumlah negara di Beijing, China.

Desainer asal Jakarta Martini Suarsa, dari Beijing, Kamis, menjelaskan peragaan batik di Beijing yang diselenggarakan “United Nation Association Of Asian Culture Artist” dalam acara “The 21th Beijing Internasional Science and Technology Expo” berlangsung sejak 16 Mei. “Acara berakhir hari ini dengan diikuti peserta dari China, Sri Lanka, Singapura, India, Vietnam,” tuturnya, seperti dikutip Antaranews Jatim.

Dalam peragaan di acara itu melibatkan tiga modeling asal Bojonegoro yaitu Regina Aprillya Febrianda (duta wisata Bojonegoro 2018), Regita Wardani (Putra Putri Batik Bojonegoro 2018) dan Alma Alyzia Yasmin (Putra Putri Batik Bojonegoro 2018). “Mereka menampilkan karya busana berbahan batik Bojonegoro dan “Painting” Bojonegoro karya Zahida dari ‘MS Collection’,” kata dia, menjelaskan.

Ia mengharapkan dengan kegiatan peragaan batik “Jonegoroan” di Beijing itu, agar negara lain tahu tidak hanya batik Indonesia, tapi juga dengan keberagamannya sesuai ciri khas daerah masing-masing.

Selain itu, ia juga meminta bagi para penggiat batik yang menyuarakan batik Indonesia bukan hanya mengambil dari sisi fashion semata, tapi juga harus bisa mengedepankan warisan budaya Bangsa untuk dibanggakan di luar Indonesia. “Semoga setelah acara ini masyarakat makin berani menunjukkan eksistensinya di manca negara dengan memamerkan budaya kita,” ucapnya menegaskan.

Menurut dia, China bukan negara pertama untuk mempromosikan batik “Jonegoroan”, karena sebelumnya juga pernah digelar pameran di ajang Internasional “Fashion Week Malaysia dan Singapore pada 2017.

Kepala Bidang Pengembangan Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia (SDM) Disbudpar Bojonegoro Enggarini Mukti, di Bojonegoro, yang dimintai konfirmasi membenarkan empat motif “Jonegoroan” mengikuti pameran modeling di Beijing. “Ajang promosi di Beijing itu karena kecintaan desainer asal Jakarta Martini Suarsa kepada batik “Jonegoroan”,” ucapnya menegaskan.

Dalam acara itu Martini Suara bekerja sama dengan Disbudpar Bojonegoro, dan “WIldazzling Scholl”-Sekolah Modelling Bojonegoro yang dipimpin Wilda Wahyu dan perajin batik “Jonegoroan” Bojonegoro Marely Jaya yang dipimpin Ny. Pudji Rahayu. (ant)

Cerita Tugu Nol Kilometer Surabaya yang Terlupakan

foto
Tugu Nol Kilometer Kota Surabaya yang terlupakan. Foto: Detik.com/Ongq Rifaldy Litualy.

Titik nol kilometer merupakan titik awal pengukuran antara kota yang satu dengan kota yang lain. Biasanya titik ini ditandai dengan sebuah monumen yang dijadikan kebanggaan bagi warga. Lalu bagaimana dengan Surabaya?

Titik nol kilometer (titik nol) Kota Surabaya terletak di halaman depan gedung kantor Gubernur Jawa Timur. Monumennya diletakkan di bawah pepohonan rindang di depan kantor orang nomor satu di Jawa Timur tersebut.

Namun nyatanya, banyak orang yang tidak tahu-menahu tentang keberadaan monumen ini. Salah satunya Dinda, warga Kota Surabaya. Ketika ditanya dimana letak titik nol, dara berusia 26 tahun ini justru menyebut Tugu Pahlawan sebagai titik nol kota.

Warga lain yang ditanya menyebut letak titik nol Kota Surabaya berada di Gedung Balaikota, bahkan ada juga yang mengatakan titik nol itu berada di Bundaran Waru.

Mantan Kepala bagian Aset dan Pemeliharaan Kantor Gubernur, Supardi mengatakan bahwa Tugu Titik Nol Kilometer adalah salah satu cagar budaya Kota Surabaya yang penting.

“Titik nol itu ya sesuatu yang penting, sebagai penanda di mana sebuah kota memulai perkembangannya,” terang Supardi kepada Detikcom.

Ditambahkan Supardi, letak titik nol itu sudah ada sejak zaman pendudukan Belanda. “Itu sejak zaman Belanda patokan itu, misalnya Wonokromo Surabaya Tujuh, makin kesini Surabaya ke Enam, Surabaya ke Lima dan nolnya itu ya disini Mas dan itu sejak dulu,” paparnya.

Sayangnya menurut Supardi, letak monumen yang berada di bawah pepohonan, membuatnya tak mudah terlihat dari luar. Selain itu, bila warga ingin melihat monumen tersebut, mereka harus meminta izin agar bisa masuk ke halaman kantor Gubernur yang dijaga ketat.

“Saya itu sempat ada keinginan bagaimana jika kita masukkan pagar itu ke dalam, agar Nol Kilometer itu di luar sendiri kemudian dibangun tetenger yang bagus agar dikenali masyarakat,” tandasnya.

Bahkan Supardi mengungkapkan, rencana untuk membuatkan spot tersendiri bagi monumen itu agar tidak menyatu dengan halaman gedung kantor Gubernur itu pernah digaungkan bersama. Namun sejumlah kendala pun menghadang upaya ini.

Sebab untuk merealisasikannya, harus ada pembicaraan dengan banyak pihak seperti ahli sejarah serta Pemkot Surabaya.

“Pembicaraan itu juga batal dilakukan karena saya dipindah,” tutur pria yang saat ini menjabat sebagai Kepala Bagian Kearsipan Kantor Gubernur Jawa Timur tersebut.

Rio (21), salah satu pengunjung Titik Nol Kilometer mengatakan seandainya monumen tersebut berada di luar halaman kantor, pasti lebih indah dilihat ketimbang tersembunyi di halaman kantor Gubernur Jawa Timur.

“Iya Mas, jika dibuatkan di luar halaman kantor ini saya setuju, akan sangat bagus mas untuk dikenali, saya setuju mas,” ujar Rio.

Senada dengan Rio, Sumanto (29) penjual bakso yang biasa mangkal di seputaran kantor Gubernur Jawa Timur sering melihat warga berfoto bersama Tugu Titik Nol Kilometer, terutama anak muda. Namun Sumanto menyayangkan karena tugu tersebut cenderung tertutup pepohonan.

“Banyak didatangi masyarakat untuk berfoto, namun kelihatannya tidak terurus mas. Soalnya tertutup pepohonan jadinya tidak dihiraukan masyarakat jadinya,” papar Sumanto.

Sebagai warga asli Surabaya, Supardi berharap Tugu Titik Nol Kota Surabaya dibangun dengan baik dan menjadi kebanggaan warga, apalagi jika bisa dijadikan bahan pembelajaran sejarah, baik oleh warga Surabaya sendiri maupun wisatawan yang tertarik dengan sejarah Surabaya.

Terlepas dari itu, penelantaran Tugu Titik Nol Kota Surabaya ini juga dipicu oleh kurangnya wawasan masyarakat tentang keberadaan tugu ini sendiri.

“Titik nol merupakan simbol sejarah yang seringkali dilupakan melihat kurangnya pengetahuan masyarakat tentang history dan tata letak Nol Kilometer Surabaya,” pungkasnya. (dtc)

Harmoni Budaya Mampu Rukunkan Jawa-Sunda

foto
Gubernur Jatim dan Jabar pada acara Harmoni Budaya di Bandung. Foto: Humas Pemprov Jatim.

Gubernur Jatim Dr H Soekarwo optimis pendekatan budaya mampu mengakhiri permasalahan Jawa-Sunda yang terjadi sejak 661 tahun lalu pasca tragedi Pasunda Bubat.

Oleh sebab itu Pakde Karwo sapan akrab Gubernur Jatim bersama Gubernur DIY Sri Sultan HamengkuBuwono X, dan Gubernur Jawa Barat Dr H Ahmad Heryawan menggagas rekonsiliasi budaya untuk menghilangkan sekat-sekat antara Jawa dan Sunda.

“Budayalah yang bisa menjernihkan dan membersihkan yang kotor. Lewat pendekatan budaya maka tidak akan yang terluka dan merasa benar atau salah,” ungkap Pakde Karwo pada acara Harmoni Budaya Jawa-Sunda dan Peresmian Jalan Majapahit dan Hayam Wuruk, di Gedung Sate, Jl. Diponegoro No. 22, Bandung, akhir pekan lalu.

Menurut Pakde Karwo, jauhnya jarak terjadinya Pasunda Bubat dengan munculnya berbagai cerita yang ada di buku-buku merupakan upaya divide et impera oleh penjajah. Karenanya, para tokoh meliputi budayawan, sejarawan, akademisi dan pemerintah sepakat untuk meluruskan hal itu, sehingga tidak menjadi konflik yang berkepanjangan.

“Dengan harmoni budaya ini maka akan bisa menjadikan Jawa-Sunda ini bersatu dan memperkokoh NKRI seperti yang dicita-citakan para pendiri republik,” jelasnya.

Pakde Karwo menambahkan, bersatunya Jawa-Sunda memberikan kontribusi ekonomi nasional mencapai hampir 40 persen. Hal ini tentunya akan memberi dampak yang luar biasa pada kesejahteraan masyarakat.

Oleh sebab itu, harmoni budaya ini akan ditinjaklanjuti dengan berbagai kerjasama baik di bidang pariwisata, perdagangan, ekonomi maupun politik.

“Banyak hal yang bisa ditumpangkan pada pertemuan budaya kali ini. Saya kira ini pintu yang sangat bagus serta halus untuk pertumbuhan bersama,” tukasnya.

Terkait peresmiaan Jl. Majapahit dan Hayam Wuruk, Pakde Karwo mewakili masyarakat Jatim merasa senang dan bangga. Ini penting karena penamaan jalan selain simbolik, dan tempat berlangsungnya transportasi orang, barang dan jasa juga menyimpan nilai sejarah.

“Posisi Jalan ini sangat bagus dan cukup strategis, namun sebenarnya substansi utamanya yakni bahwa ini merupakan sumbangan besar bahwa budaya solusi atas berbagai konflik,” pungkasnya.

Sementara Gubernur Jabar Dr H Ahmad Heryawan selaku tuan rumah menyampaikan, harmoni budaya akan bisa menghadirkan persatuan dan kesatuan. Selain itu, senada dengan yang disampaikan Pakde Karwo budaya bisa menjernihkan yang kotor, mengindahkan yang belum indah, serta merapikan semuanya.

“Lewat kegiatan harmoni budaya pada hari ini, mari kita ciptakan cara pandang yang sama, tidak perlu mempermasalahkan lagi siapa yang salah dan benar,” ujar Kang Aher sapaan akrab Gubernur Jabar.

Kang Aher menegaskan, bahwa harmoni budaya ini turut menjadi sejarah dan terobosan yang tepat untuk menyatukan Indonesia.Pasalnya, jumlah etnis Jawa mencapai 42% dari eluruh etnis di Indonesia, sedangkan etnis Sunda mencapai 14%.

Jika digabungkan, jumlahnya mencapai 56% atau separuh lebih dari seluruh etnis di Indonesia.“Artinya jika masalah Jawa dan Sunda selesai, maka perkara-perkara besar di Indonesia juga selesai” imbuhnya.

Ditambahkan, kegiatan ini merupakan kelanjutan dari rekonsiliasi budaya Sunda-Jawa yang digelar di Surabaya pada Maret lalu. Pada waktu itu ditandai dengan digantinya nama dua jalan arteri di Surabaya dengan simbol kesundaan yakni Jl. Prabu Siliwangi menggantikan Jl Gunungsari, dan Jl Sunda menggantikan Jl Dinoyo sisi utara.Sedangkan untuk penamaan Jl Majapahit di Bandung menggantikan Jl Gasibu dan Jl Hayam Wuruk menggantikan Jl Cimandiri.

“Saat di Surabaya maupun DIY judul besarnya yakni rekonsiliasi budaya Sunda-Jawa, namun disini kami mengangkat tema harmoni budaya Jawa-Sunda. Ini merupakan bentuk saling penghormatan diantara kami,” tukasnya.

Kang Aher menjelaskan, bahwa penamaan jalan ini sudah melewati musyawarah dan diskusi dengan berbagai pihak mencakup sejarawan, budayawan, dan akademisi.

Pihaknya juga akan segera melakukan sosialisasi kepada masyarakat Bandung sehingga tidak akan ada masalah kedepannya. “Mari kita membangun harmoni secara bersama-sama, sehingga secara psikologis akan menghilangkan sekat antara Jawa dan Sunda,” harapnya. (ita)

Terjunkan Arkeolog Teliti Batu Neolithikum di Banyuwangi

foto
Tim BKX mengecek Watu Lumpang di Desa Aliyan, Banyuwangi. Foto: BKX for TIMES Indonesia.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur akan segera menerjunkan arkeolog dan tim cagar budaya ke lokasi penemuan batu Neolithikum berupa Watu Gong dan Watu Lumpang.

“Ya. Kita akan menurunkan tim cagar budaya dan arkeolog staf bidang kebudayaan untuk menindaklanjuti temuan batu tersebut. Apakah memang benar keberadaannya, dan akan menentukan langkah selanjutnya,” kata Sekretaris Disbudpar Banyuwangi, Choliqul Ridho dikutip TIMESIndonesia.co.id, Senin (30/4).

Tim cagar budaya dan arkeolog, kata Ridho, dijadwalkan dalam beberapa hari ke depan akan segera datang ke Desa Wonosobo, Kecamatan Srono dan Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, tempat ditemukannya dua batu tersebut oleh tim Blambangan Kingdom X-plorer.

Secara khusus, Disbudpar mengapresiasi semangat komunitas pecinta sejarah Blambangan, BKX yang telah peduli terhadap pelestarian benda-benda atau situs peninggalan sejarah.

Seperti diberitakan sebelumnya, komunitas pegiat sejarah Blambangan Kingdom X-plorer (BKX) melakukan ekspedisi di wilayah peradaban kuno di Dusun Watugong, Desa Wonosobo, Kecamatan Srono dan di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, pada Minggu (22/4) lalu.

Komunitas yang aktif melakukan penelitian sejarah di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur ini sebelumnya telah mendapat informasi tentang keberadaan situs batu Neolithikum di dua desa tersebut. (ist)

Candi Badut ‘Lepas’ dari Pemkab Malang

foto
Candi Badut menjadi cagar budaya peringkat provinsi, kewenangannya kini berada di Pemprov Jatim. Foto: Ist.

Candi Badut yang terletak di Desa Karangbesuki, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, secara resmi beralih status sejak dikeluarkannya Keputusan Gubernur Jawa Timur (Jatim) Nomor 188/734/KPTS/013/2017 yang menetapkannya sebagai cagar budaya peringkat provinsi.

Keputusan gubernur Jatim ini ditindaklanjuti dengan surat dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim kepada bupati Malang tertanggal 11 April 2018.

Beralihnya status Candi Badut yang awalnya berada dalam pengelolaan Pemkab Malang melalui Perda No 11 Tahun 2011 tentang Cagar Budaya tentu juga berdampak pada proses pengelolaannya sejak ada Keputusan Gubernur Jatim. Pengelolaan beralih dari tingkat pemerintah daerah ke pemerintah provinsi.

Dalam Perda No 11 Thn 2011 Pasal 75 dan 76 mengenai pendanaan dan pengawasan Candi Badut yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah beralih ke pemerintah provinsi.

Seperti tercatat dalam Peraturan Gubernur Nomor 66 tahun 2015 tentang Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Timur, khususnya di pasal 3 tentang tugas dan wewenang.

Salah satu poinnya menyatakan, pemerintah provinsi memiliki kewenangan untuk melakukan pengawasan, pemantauan, dan evaluasi terhadap pelestarian cagar budaya. Serta, diikuti dengan frasa lain di poin (h) mengenai pengalokasian dana bagi kepentingan pelestarian cagar budaya.

Peralihan pengelolaan Candi Badut dari cagar budaya peringkat kabupaten menjadi provinsi diharapkan mampu menjadikan berbagai nilai yang terkandung menjadi semakin tersampaikan kepada khalayak umum secara utuh.

Baik mengenai sejarah, struktur candi yang diperkirakan ditemukan oleh pakar arkeologi tahun 1923 tersebut serta hal lainnya. Selain tentunya keberadaan fisik candi yang juga disebut Candi Liswa ini semakin terjaga.

“Untuk mencapai hal itu, tentunya membutuhkan sumber daya manusia yang benar memahami hal tersebut. Terutama di tataran juru kunci candi yang secara regenerasi belum terlihat ada pergerakan masif. Ini yang kita harapkan kepada pemerintah provinsi setelah Candi Badut menjadi cagar budaya peringkat provinsi,” kata Made Arya Wedanthara, Kadisparbud Kabupaten Malang dikutip MalangTimes.com.

Made Arya melanjutkan, juru kunci candi memiliki peran vital dalam pelestarian cagar budaya, khususnya yang ada di Kabupaten Malang.

Dengan adanya peralihan status tersebut, pihaknya berharap banyak adanya berbagai program dari pemerintah provinsi dalam meningkatkan SDM dan hal lainnya berkaitan dengan situs tersebut.

“Kita mengetahui juru kunci candi sudah sepuh-sepuh (tua, red). Sedangkan geliat pariwisata trennya semakin meningkat. Tentunya membutuhkan anak muda yang memahami dan mampu menyampaikan sejarah serta hal lainnya secara lengkap kepada masyarakat atau wisatawan nantinya,” ujarnya.

Candi Badut menempati luas lahan sekitar 52,4 x 52,4 meter. Ukuran bangunan panjang dan lebar 11 m dan tingginya 3,62 m. Untuk deskripsinya, Candi Badut terdiri dari tiga halaman, yaitu halaman inti yang masuk sebagai tempat cagar budaya, serta halaman II dan III.

Berbahan dasar batu andesit dan menghadap ke barat yang ditandai dengan pintu masuk pada sisi barat bagian candi. Sedangkan untuk bagian tubuh candi terdapat relung-relung sebagai tempat arca yang kini hanya berisi arca Durga Mahasasuramardini di relung sebelah utara. Pada bilik candi terdapat lingga yang masih utuh, sedangkan yoni sudah rusak. (ist)