Lestarikan Budaya, Warga di Gresik Gelar ‘Udik-Udikan’

foto
Warga berebut uang koin saat ‘Udik-Udikan’ saat tradisi Sedekah Bumi. Foto: TIMES Indonesia/Akmal.

Ratusan masyarakat Desa Dukuhkembar, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik menggelar kegiatan Sedekah Bumi. Hal itu bertujuan untuk melestarikan budaya dan tradisi.

Sejak Kamis (3/5) pagi, warga sudah berkumpul di makam sesepuh desa, tua, muda, anak-anak berkumpul. Sebelum memulai tradisi, mereka menggelar tahlil dan mendoakan orang – orang yang sudah meninggal.

Masih di makam sesepuh desa yang juga tokoh agama, para warga berkumpul, mereka membawa ratusan jajanan dari rumah yang didoakan oleh tokoh agama desa. Setelah didoakan, mereka makan bersama.

Suasana akrab terjadi, mereka percaya, keberkahan akan selalu didapat usai mengikuti tradisi tersebut. Uniknya, diakhir kegiatan tersebut, mereka juga menggelar “Udik-Udikan” atau membagikan uang logam.

Menurut Kepala Desa (Kades), Dukuhkembar, Asikin mengatakan, kegiatan tersebut sudah dilakukan sejak berpuluh-puluh tahun silam. Hingga kata dia, para warga mempercayai bahwa Sedekah Bumi dapat mendatangkan keberkahan.

“Sudah bertahun-tahun. Ya, harus selalu diadakan, ini dilakukan untuk mengakrabkan warga sekaligus melestarikan adat istiadat,” katanya dikutip TIMESIndonesia.co.id, Kamis (3/5).

Asikin membeberkan, kegiatan tahunan itu tiap kali dilakukan saat satu bulan sebelum Bulan Ramadan. Dirinya berharap, tradisi ini tak pernah hilang dan tetap dilestarikan oleh warga.

Dikatakan dia, kegiatan ini juga sebagai sarana warga untuk berkumpul. “Ya, semua warga desa berkumpul. Bahkan yang merantau mereka pulang,” tutur dia.

Keunikan lain, jika biasanya juru masak adalah perempuan. Khusus dalam Sedekah Bumi, kaum hawa tak dilibatkan, semua urusan dapur dikerjakan oleh kaum adam.

Mulai dari memotong daging, memasak, hingga menyajikan semua dilakukan oleh kaum laki-laki. “Tak tahu persis alasanya apa, pokoknya kalau waktu Sedekah Bumi, yang memasak adalah laki-laki,” tambah juru masak, Mat Sukri (56).

Salah satu warga Sudiman mengaku, jika kegiatan Sedekah Bumi merupakan salah satu sarana untuk berkumpul dengan keluarga dan kerabat. Dia mengaku, mencari berkah. “Selalu ikut setiap tahunnya,” jelas dia. (ist)

Lewat Danglung, Zainul Inisiasi Desa Wisata

foto
Zainul Arifin, penerima program Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2016. Foto: Tempo.co.

“Jadilah orang Indonesia yang berkearifan lokal, sehingga Anda tahu bahwa nusantara memang benar-benar Bhinneka Tunggal Ika. Yang sama jangan dibedakan, yang beda jangan disamakan,” kata Zainul Arifin di masa penjurian program Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2016.

Zainul adalah salah satu penerima apresiasi SATU Indonesia Awards dalam upayanya menanam serta menumbuhkan rasa nasionalis dan cinta kekayaan bangsa melalui seni budaya serta kearifan lokal.

Pria muda asal Lumajang, Jawa Timur ini memiliki gagasan dalam sebuah program yang bertajuk “Pengenalan Pendidikan Kearifan Lokal melalui Sadar Wisata dan Musik Tradisional Daerah.”

Sejak tanggal 10 November 2007, ia bersama warga desa tempat kelahirannya membentuk program desa wisata. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana berbagi kearifan lokal, namun juga menumbuhkan usaha ekonomi baru dengan keterampilan yang dimiliki masyarakat sekitar.

Tidak mudah bagi Zainul untuk meyakinkan warga setempat tentang program yang ia miliki. Awalnya mengenalkan musik Danglung sebagai musik khas Lumajang sempat ditolak oleh warga karena dinilai sesat.

Perlahan tapi pasti, Zainul pun berhasil mendapatkan kepercayaan warga, bahkan banyak dari warga pun akhirnya mengikuti program gagasannya.

Setelah menerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2016, Zainul pun semakin jauh mengembangkan program ini. Ia memanfaatkan dana yang diberikan untuk pembinaan ke kelompok sadar wisata dan pembinaan masyarakat, serta pelestarian seni budaya.

Sejumlah kegiatan pun dilakukan oleh Zainul, antara lain Peluncuran Kampung Kreatif Dingklik Pasinan serta lomba yel budaya anti narkoba yang bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional di Lumajang dan sekitarnya.

Bahkan, Zainul pun melanjutkan kerjasama pengembangan dan pelestarian budaya dengan Raja Ubud Dr Ir Tjokorda Oka, yang telah terjalin sejak tahun 2013.

Kepedulian Zainul Arifin terhadap pengenalan budaya serta pemberdayaan masyarakat desa di tempat asalnya adalah satu di antara banyak cerita para penerima apresiasi SATU Indonesia Awards.

Pemuda pemudi seperti Zainul masih banyak lagi tersebar di seluruh pelosok tanah air Indonesia. Untuk mengetahui lebih lanjut lagi tentang generasi muda kreatif lain dalam program SATU Indonesia Awards, silakan kunjungi website http://www.satu-indonesia.com. (ist)

Tenda Rusak, Situs Pemukiman Majapahit Ditutup

foto
Tenda rusak membuat situs pemukiman Majapahit ditutup. Foto: Detikcom/Enggran Eko B.

Bangunan tenda raksasa yang menaungi situs pemukiman Majapahit di Museum Majapahit, Trowulan, Mojokerto rusak cukup parah. Akibatnya, para wisatawan tak bisa melihat situs tersebut.

Selain itu, struktur bata kuno di situs ini terancam rusak tergerus air hujan. Situs yang terletak di sisi selatan area Museum Majapahit ini dinaungi 5 tenda raksasa. Di setiap tenda terdapat tangga dari kayu dengan kerangka besi untuk wisatawan menuju ke lantai dua.

Lantai 2 merupakan balkon yang sengaja dibuat agar wisatawan lebih leluasa melihat situs pemukiman dari ketinggian, selain berfungsi sebagai pelindung situs dari panas dan hujan.

Namun, situs yang biasanya ramai dikunjungi itu kini sepi. Sebab tangga untuk melihat situs dari ketinggian di masing-masing tenda ditutup oleh pengelola Museum Majapahit karena banyaknya konstruksi tenda yang rusak.

Kondisi tangga dari kayu juga berlubang lantaran kayu pijakannya banyak yang lepas dan rapuh. Begitu juga kondisi lantai kayu di bagian atasnya. Kerusakan ini terjadi pada kelima tenda.

Atap salah satu tenda di situs pemukiman Majapahit telah terlepas sehingga struktur bata kuno di bawahnya tak terlindungi. Bahkan situs purbakala tersebut hanya ditutupi dengan lembaran seng seadanya.

Kepala Unit Pengelolaan Informasi Majapahit (PIM) Muhammad Ichwan mengatakan, kerusakan 5 tenda pelindung situs pemukiman Majapahit terjadi sejak awal 2017. Lepasnya pijakan kayu pada tangga maupun lantai dua terjadi akibat terpaan hujan dan panas matahari. Sementara lepasnya atap tenda akibat diterjang angin kencang.

“Kami tutup untuk keamanan wisatawan, selain kami tutup juga kami beri tulisan peringatan agar pengunjung tak nekat menerobos,” katanya kepada Detikcom.

Ichwan mengakui, lepasnya atap tenda berpotensi merusak struktur bata kuno situs pemukiman Majapahit. Untuk meminimalisir kerusakan, pihaknya saat ini hanya bisa menutup situs dengan lembaran seng. “Situs di bawahnya kami beri pengamanan sementara dengan seng. Kurang maksimal memang,” tambahnya.

Kerusakan tenda ini, lanjut Ichwan, sudah disurvei dan didata untuk dilaporkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Namun sampai saat ini belum ada alokasi anggaran untuk perbaikan. “Sudah saya laporkan ke atasan saya. Insya Allah juga sudah dilaporkan ke pusat (Kemendikbud, red),” tandasnya. (dtc)

Ada Koin Dinasti Ming di Gunung Pananggungan

foto
Gunung Penanggungan dilihat dari Ubaya Traing Center. Foto: Istimewa

Segepok koin mata uang kuno Tiongkok jadi perhatian banyak orang. Puluhan koin yang masih menumpuk dan berbalut tanah liat tersebut tampak sudah kusam karena lama terpendam.

Puluhan koin mata uang Tiongkok ini ditemukan di salah satu sisi situs gunung Penanggungan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Setelah diteliti, koin mata uang tersebut berasal dari zaman Dinasti Ming saat pemerintahan kaisar Yongle di awal abad 15 masehi.

Koin mata uang ini diduga digunakan sebagai alat perdagangan antara pedagang Tiongkok dengan pribumi.

Selain koin mata uang, benda purbakala yang juga jadi perhatian adalah terakota atau gerabah yang merupakan miniatur sebuah bangunan atau orang.

Koin mata uang Tiongkok dan terakota itu merupakan dua dari banyak benda purbakala temuan tim ekspedisi Universitas Surabaya (Ubaya). Benda-benda tersebut dipamerkan dalam peresmian Ubaya Penanggungan Center (UPC).

UPC adalah lembaga milik Universitas Surabaya (Ubaya) yang bergerak di bidang informasi arkeologi khususnya situs gunung Penanggungan. UPC berada di kompleks Ubaya Training Center (UTC) Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Mojokerto.

Rektor Ubaya, Joniarto Parung mengatakan, UPC diharapkan jadi pusat informasi arkeologi dan sejarah bagi masyarakat khususnya situs Gunung Penanggungan yang kaya dengan temuan arkeologi.

Selain sebagai pusat informasi, UPC juga melakukan kajian atas temuan-temuan arkeologi di gunung Penanggungan.

Sementara itu, salah satu peneliti tim ekspedisi Ubaya, Hadi Sidomulyo, mengatakan sejak ekspedisi yang dilakukan tahun 2012 hingga sekarang sudah ditemukan lebih dari 100 situs.

Peneliti berkebangsaan Inggris bernama asli Nigel Bullough itu berpendapat situs gunung Penanggungan layak jadi situs warisan dunia karena banyak dan beragamnya temuan cagar budaya.

Gunung Penanggungan merupakan gunung suci bagi penganut agama Budha dan Hindu. Di gunung ini banyak ditemukan tempat-tempat pemujaan seperti candi kecil, punden berundak, goa pertapaan, gapura, petirtaan, dan sebagainya.

Situs tertua di Penanggungan adalah petirtaan Jolotundo yang berangka tahun 977 masehi atau abad ke-10.

Temuan mutakhir yang cukup fenomenal adalah jalur pendakian kuno dari tumpukan bebatuan pada 2016 lalu. Jalur atau jalan tersebut ada yang berbentuk melingkar mengitari badan gunung dan berbentuk zig zag menuju puncak gunung.

Jalur pendakian itu diduga sengaja dibangun untuk mempermudah orang yang akan melakukan ritual di beberapa lokasi pemujaan baik di badan maupun puncak gunung. (ist)

Ada Batu di Ponorogo Tak Bisa Dihancurkan

foto
Mbah Sikin memperlihatkan batu yang katanya tak bisa dihancurkan. Foto: Detikcom/Charolin Pebrianti.

Seorang kakek di Ponorogo menemukan batu yang tak lazim di pekarangan rumahnya. Siapa sangka, batu itu ternyata tak bisa dihancurkan. Batu itu ditemukan saat sang kakek yang bernama Mbah Sikin (75) akan membangun rumah. Saat meratakan tanah, ia menemukan sebuah batu.

“Awalnya saya kira batu biasa, tapi dihancurkan tidak bisa. Dilinggis pun tidak rusak, karena kuat saya simpan,” terang Mbah Sikin kepada detikcom saat dijumpai di rumahnya, Jumat (14/4).

Bukan hanya pria berusia 75 tahun itu saja yang dibuat kebingungan. Suatu ketika, ada tetangga yang bermaksud mengambil batu bata itu.

“Dulu ada tetangga yang ingin mengambil batu bata ini, tapi malah sekeluarga sakit. Saat dikembalikan ke tempatnya, keluarganya sembuh,” papar Mbah Sikin.

Tidak hanya itu, bapak dua anak ini mengaku 8 ternaknya mati secara mendadak. Kata Mbah Sikin, ada 8 ekor sapi miliknya yang mati tanpa diduga-duga.

“Kata orang sepuh (tua, red) karena saya bakar batu bata menghadap ke tumpukan batu yang tadi, jadinya sapi saya yang mati,” lanjutnya.

Akibat kejadian aneh tersebut, Mbah Sikin dan warga sekitar pun tak berani mengutak-atik tumpukan batu bata sekaligus batu yang ditemukan pria ini. Bahkan mereka menganggap benda-benda itu keramat.

Mbah Sikin mengaku menemukannya sejak tahun 1968. Namun karena tak bisa dihancurkan itulah, ia hanya menyimpan batu berbentuk kubus berukuran 40 cm x 40 cm x40 cm itu di rumahnya.

Selama itu pula batu ini dijadikan sebagai penyangga tempat penampungan air oleh warga warga Dusun Tumpuk, Desa Kemiri, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo tersebut.

Tak hanya itu, bapak dua anak ini juga mengungkapkan di sekitar tempat penemuan batu tersebut juga ada tumpukan batu bata. Mbah Sikin dan warga sempat menduga jika tumpukan batu bata adalah bebatuan dari zaman kerajaan.

Hal ini juga terlihat dari bentuknya yang tampak berbeda dari batu bata masa kini karena batunya lebih besar dan tebal.

Namun tumpukan batu bata itu kini juga hanya dibiarkan begitu saja di halaman rumah Mbah Sikin. Sejak ditemukan, baik Mbah Sikin maupun warga di sekitarnya memang tak berani mengutak-atik batu-batu itu karena sama-sama tak bisa dihancurkan.

Sejak saat itu Mbah Sikin menjadikannya penyangga tempat penampungan air. Hingga sekitar sepekan yang lalu, ada seorang pemerhati sejarah dari Madiun bernama Anto Purbo yang mendatangi rumahnya.

Anto mengungkapkan jika batu yang disimpan Mbah Sikin selama bertahun-tahun sebenarnya adalah batu Yoni, salah satu simbol kesuburan pada era kerajaan Hindu kuno.

Anto memaklumi jika Mbah Sikin tak tahu sama sekali jika itu adalah batu bersejarah. “Karena ketidaktahuan Mbah Sikin ini, makanya batunya hanya disimpan begitu saja. Padahal ini batu sejarah,” tandas Anto.

Namun semenjak pertemuan itu, Anto meminta agar Mbah Sikin merawat dan membersihkan batu berbentuk kubus dengan ukuran 40 cm x 40 cm x 40 cm tersebut.

“Setelah didatangi mas Anto itu, saya akhirnya membersihkan batu yoni ini. Tidak saya pakai untuk menyangga tempat air lagi,” tutur Mbah Sikin.

Salah satu petugas dari Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto, Wicaksono Dwi Nugroho ketika dimintai pendapatnya juga meyakini bahwa benda tersebut adalah batu Yoni.

Kendati belum melihat secara langsung, namun ia meyakini hal itu sebab sebelum ini timnya pernah menemukan sebuah prasasti di Desa Jenangan, Kecamatan Jenangan. “Kalau nggak salah didirikan lagi (prasastinya, red) tahun lalu,” pungkasnya. (dtc)

Festival Karya Tari Jatim, Mengembalikan Jatidiri

foto
Sekdaprov Jatim membuka Festival Karya Tari Jawa Timur. Foto: Humas Pemprov Jatim.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus berupaya meningkatkan pembangunan seni budaya bangsa dengan cara bergandeng tangan membangun gerakan penyadaran akan arti penting pembangunan kebudayaan bagi kemajuan dan kelangsungan bangsa.

Upaya tersebut dilakukan mengingat pada dekade pasca reformasi masalah budaya dan kebudayaan merupakan salah satu hal yang mengemuka diberbagai kesempatan. Termasuk masalah politik dan persoalan lain yang menyelimuti perjalanan bangsa.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Dr H Akhmad Sukardi MM saat membuka Festival Karya Tari Jawa Timur Tahun 2108 di Gedung Cak Durasim Taman Budaya Jl. Gentengkali 85 Surabaya, Jumat (27/4) malam.

“Panggung kehidupan kita berada di kegamangan yang diakibatkan oleh perubahan berbagai aspek kehidupan yang sangat cepat dan radikal,” ungkapnya.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, budaya merupakan perajut dan penyelaras kehidupan dalam masyarakat. Namun, kini kalah cepat inkubasinya dibandingkan dengan sambaran globalisasi, tsunami ambisi dan emosi serta gelombang liberalisasi.

Bangsa Indonesia yang dulu dikenal santun, ramah, sabar, toleran, berjiwa gotong-royong dan suka menolong, kini menjadi bangsa yang pemarah, individual, dan bahkan vulgar.

“Generasi muda dan remaja kita sebagian besar sudah masuk dalam jaringan yang terbiasa berkomunikasi secara cepat dan instan melalui internet, facebook, twitter, blackberry messenger, whats up dan media sosial lainnya yang berdampak pada kecenderungan berperilaku kurang sabar, kurang ulet, kurang teliti dan kurang siap kerja keras,” ungkapnya.

Untuk menghadapi dan meredam kondisi yang sedemikian itu, Pemprov Jawa Timur mendorong dan memfasilitasi para seniman untuk meningkatkan kemampuan diri.

Mulai dari cara berpikir, berimajinasi, berkreatifitas, menghayati, bereksplorasi dan berekspresi melalui karya-karyanya dengan menghadirkan karya-karya seni yang memiliki kedalaman nilai, mencerahkan dan menginspirasi kehidupan agar lebih bermakna, beretika dan bermartabat.

Sukardi menggambarkan pula sisi positip dari era globalisasi. Yaitu, apabila dicermati bersama sesungguhnya dapat membuka peluang seluas-luasnya bagi pengembangan produk budaya. Oleh karena itu, perlu diberdayakan secara optimal sehingga menjadi salah satu kekuatan budaya yang handal.

“Festival Karya Tari Jawa Timur mempunyai nilai yang sangat strategis di era global, karena merupakan wahana untuk menyuguhkan kembali sifat-sifat pluralistik masyarakat Jawa Timur yang multikultural dan pencitraan kembali kekuatan kebudayaan sebagai aset bangsa yang harus ditangani secara serius,” ujarnya.

Selain itu, dapat pula sebagai upaya untuk memanfaatkan kekuatan dan kekayaan seni budaya bagi peningkatan kesejahteraan pelaku dan masyarakatnya, serta menciptakan peluang untuk dapat bersaing baik di forum nasional maupun internasional.

Sukardi sangat berharap Festival Karya Tari Jawa Timur melahirkan karya-karya seni baru dengan pendekatan kearifan lokal dan kebhinekaan sebagai penyeimbang terhadap hiruk-pikuk dan anomali yang terjadi di negeri ini. “Saya mengajak semua yang hadir untuk mengawal, mencintai dan menghargai kebudayaan kita sendiri, karena jika bukan kita, lalu siapa lagi?” pungkasnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur Dr H Jarianto MSi mengatakan, Festival Karya Tari Jawa Timur diadakan setiap tahun. Tujuannya untuk melestarikan, mengembangkan dan pemanfaatan serta bagian dari program pengelolaan keragaman seni budaya di Jawa Timur.

Festival Karya Tari Jawa Timur diikuti 28 utusan dari kabupaten/kota se Jawa Timur. Mereka menyuguhkan tari garapan baru yang berpijak pada seni tradisi dengan tema yang bersumber pada kreatifitas adat dan tari kerakyatan. (ita)

Kota Surabaya Bakal Miliki Wisata Bunker

foto
Benteng Kedung Cowek dalam kondisi masih tak terurus. Foto: Humas Pemkot Surabaya.

Pemkot Surabaya melalui Dinas Pariwisata Kota Surabaya terus menggali potensi destinasi wisata baru di Kota Surabaya. Bahkan, Pemkot Surabaya berencana menggandeng Kodam V Brawijaya mengembangkan dan menghidupkan Wisata Bunker atau Benteng Kedung Cowek atau disebut pula bekas gudang peluru Kedung Cowek.

Setidaknya, ada 9 benteng atau bunker di Kelurahan Kedung Cowek yang merupakan bekas peninggalan Belanda. Benteng itu masih terlihat kokoh dengan bangunan cor yang tebal.

Lumutnya yang mulai menghitam juga menghiasi bangunan tersebut. Coretan tulisan yang dilakukan oleh warga yang tidak bertanggung jawab, juga banyak terlihat di benteng bersejarah itu.

Benteng yang berada di pinggir pantai itu seakan tak terawat, karena tumbuh-tumbuhan menjalar seakan menyelimuti benteng itu. Bahkan, pohon-pohon yang menjulang tinggi juga tumbuh di kawasan itu, sehingga daerah itu seperti hutan yang masih hijau. Namun, panorama laut dan indahnya Jembatan Suramadu, masih terlihat jelas dari kawasan itu.

Memasuki beberapa benteng itu perlu hati-hati, sebab beberapa ruangan sangat gelap gulita meskipun siang hari. Di beberapa ruangan juga ada kelelawar yang menghuni benteng tersebut.

Beberapa ruangan benteng berbentuk lingkaran, segiempat dan ada pula yang memanjang. Di ruangan itulah, dulu berbagai peluru TNI disimpan.

Plt Kepala Dinas Pariwisata Irvan Widyanto mengatakan jika flashback, sebenarnya sebagian besar warga Surabaya sudah tahu kalau di daerah Kedung Cowek itu ada benteng atau gudang penyimpanan peluru. Namun, dulu tidak bisa masuk karena dijaga oleh TNI, sehingga tidak semua orang bisa memasuki benteng itu.

“Namun, bagaimana itu nanti bisa menjadi destinasi wisata baru di Surabaya, itu perlu dipikirkan bersama-sama. Sebab, ini bukan hanya tugas Dinas Pariwisata, tapi juga tugas semua stakeholder,” kata Irvan yang juga menjabat sebagai Kasatpol PP ini.

Irvan juga berencana membawa pemikiran itu di tingkat kota, sehingga semua dinas bisa bersinergi untuk sama-sama menghidupkan destinasi ini. Irvan juga mengaku akan berusaha menggandeng Kodam V Brawijaya selaku pemilik lahan di kawasan benteng-benteng itu.

“Saat ini kami memang tengah fokus untuk menggali potensi destinasi wisata baru di Surabaya, jika sudah ada gambaran, maka akan dikoordinasikan untuk sama-sama membangun atau menghidupkannya,” kata dia.

Irvan menambahkan, langkah awal untuk menghidupkan benteng di Kedung Cowek itu harus betul-betul ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya yang harus dilestarikan.

Selanjutnya, kawasan itu harus dibersihkan dengan mengkoordinasikan kepada semua stakeholder. “Baru selanjutnya bisa dilakukan pembenahan infrastrukturnya,” tegasnya.

Namun begitu, Irvan mengaku masih akan meminta petunjuk dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini untuk langkah-langkah selanjutnya yang harus dilakukan. Tapi yang pasti, ketika dia bersama tim cagar budaya meninjau lokasi, sudah dipastikan bahwa benteng-benteng itu sangat layak untuk dijadikan cagar budaya dan layak dijadikan destinasi wisata baru di Surabaya.

“Jika ini bisa direalisasikan, maka akan menjadi wisata bunker pertama di Indonesia dan akan menambah destinasi wisata baru di Surabaya, sehingga di pesisir Surabaya ternyata tidak hanya ada wisata pantainya, tapi ada satu lagi potensi wisata bunker atau benteng yang viewnya langsung laut. Semoga bisa terealisasi,” harapnya. (ita)

Boyongan, Tradisi Mengenang Kejayaan Nganjuk

foto
Plt Bupati Nganjuk KH Abdul Wachid Badrus menyerahkan pusaka tombak di prosesi Boyongan. Foto: BangsaOnline/Bambang.

Guna mengingat kembali dan mengenang kejayaan Kabupaten Nganjuk, Pemkab setempat menggelar tradisi boyongan. Acara ini sekaligus dalam rangka memperingati hari kelahiran Nganjuk yang saat ini sudah menginjak usia ke-1081 tahun.

Budaya boyongan, seperti dilaporkan BangsaOnline, menjadi bukti sejarah dan berdirinya pemerintahan Kabupaten Nganjuk. Di mana sebelumnya berada di Kecamatan Berbek, kemudian beralih atau pindah di Kecamatan Nganjuk sebagai kota pemerintahan.

Proses pemindahan dari Berbek ke Nganjuk dan masih terjaga kelestarian hingga saat ini, yaitu iring-iringan gunungan berupa nasi dan lauk pauk, diikuti dengan berbagai hasil bumi berupa palawija dan sayuran dalam satu rangkaian.

“Jaman sekarang sudah jaman berubah, saya pesan tiga hal yang harus dilakukan, yaitu bagaimana melakukan pemerintahan yang bersih dan berwibawa dengan menghilangkan bentuk korupsi, kolusi, dan nepotisme,” kata Plt Bupati Nganjuk KH Abdul Wachid Badrus.

Tiga hal ini menurut Abdul Wachid, yang perlu diingat agar di usia yang ke 1081 Nganjuk menjadi panutan dan contoh yang lebih baik. “Pemindahan dari Berbek ke Nganjuk tidak hanya pindah begitu saja, tapi itu menjadi gagasan dan pemikiran para pemimpin terdahulu,” ujarnya. (ist)

Suku Tengger Ritual Grebeg Tirto Aji di Wendit

foto
Tradisi Ritual Grebeg Tengger Tirtoaji di mata air Widodaren, Wendit, Malang. Foto: Antara Jatim/Ari Bowo Sucipto.

Selain upacara Kasada dan Upacara Adat Karo yang selama ini lekat dengan masyarakat Suku Tengger, juga terdapat Upacara Tirto Aji. Upacara Grebeg Tirto Aji merupakan upacara pengambilan air suci yang dilaksanakan masyarakat Suku Tengger di Sendang Widodaren di Wendit, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Sendang itu berada di komplek Taman Wisata Air Wendit yang berada di Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai Sumber Air Mbah Kabul dan Mbah Gimbal.

Tradisi tahunan tersebut dihadiri kurang lebih 500 orang perwakilan dari suku Tengger dari tujuh desa. Mereka terlihat sejak pagi sudah berbondong-bondong memenuhi pemandian Wendit dengan mengenakan pakian adat berwarna hitam dan batik, yang menjadi ciri khas Suku ini.

Acara pada Kamis (12/4) lalu itu diawali dengan pemakaian selendang adat, yang dilakukan pemangku adat kepada Wakil Bupati Malang HM Sanusi yang selanjutnya diiringi masyarakat Suku Tengger dengan membawa puluhan sesaji berjalan menuju Pendopo Pemandian Wendit.

Dalam sambutannya, HM Sanusi mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang memiliki tekad menjadikan kekayaan budaya yang dimiliki ini tidak hanya lestari namun juga menjadi produk pusaka yang akan menjadi kekuatan riil dalam memberikan kemakmuran rakyat.

Sebab, industri kepariwisataan merupakan salah satu sektor yang dinamis dan cukup strategis dalam menciptakan multiplier effect atau efek ganda dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di era globalisasi budaya asing dan persaingan dunia wisata yang sangat ketat.

“Tradisi masyarakat Tengger secara nasional terkenal memiliki daya tarik tersendiri. Dengan acara hari ini diharapkan mampu memperkuat image adat suku Tengger yang memberikan kontribusi maksimal kepada masyarakat Kabupaten Malang,” tegas Sanusi, dikutip MalangVoice.

Terpisah, Kepala Desa Ngadas, Mujianto mengatakan upacara adat Grebeg Tirto Aji memiliki banyak makna sesuai dengan pemahaman dan keyakinan Suku Tengger, diantaranya untuk penyembuhan, penanggulangan hama dan penyubur tanaman.

Selain itu juga bertujuan memupuk rasa persaudaraan di antara pemeluk agama dan melestarikan adat Tengger yang sudah dikenal sampai mancanegara.

Masyarakat suku Tengger meyakini sumber air Sumber Air Mbah Kabul dan Mbah Gimbal yang berada di tempat wisata pemandian Wendit ini dapat membawa berkah dan manfaat untuk bercocok tanam dalam kehidupan masyarakat Tengger.

“Selain itu juga merupakan proses awal dari rangkaian Upacara Yadnya Kasada yang akan dilaksanakan pada tanggal 14 Kasada atau saat bulan purnama (purnamasidhi),” pungkas Mujianto.

Upacara Tengger Tirto Aji, biasanya diadakan di Goa Gunung Widodaren yang berada sekitar 1 km dari Gunung Bromo. Namun pada tahun 2013 ini sesuai dengan kesepakatan para sesepuh masyarakat Suku Tengger, diadakan di sumber mata air atau Sendang Widodaren yang berada di Taman Rekreasi Wendit.

Masyarakat suku Tengger biasanya mengambil air dari Sumber Air Mbah Kabul ini, dibawa pulang dengan kepercayaan yang sama seperti di Pulau Sempu, yaitu untuk kesembuhan dan kesehatan. Menurut mereka khasiatnya sama dengan Air Widodaren dari Gunung Bromo yang merembes ke arah Wendit. (sak)

24 Anak Adu Terampil Memainkan Wayang

foto
Pembukaan festival dalang bocah di Surabaya. Foto: Istimewa.

Festival Dalang Bocah se-Jawa Timur 2018 kembali berlangsung 10-12 April lalu di Pendopo Jayengrono Taman Budaya, Jl Genteng Kali Surabaya.

Sebanyak 24 peserta turut serta dalam festival tersebut. Di antaranya dari Surabaya, Ponorogo, Kediri, Pacitan, Ngawi, Malang, Trenggalek, Madiun, Jember, Mojokerto, Tulungagung, Gresik dan Batu.

“Peserta tiap tahun memang kita batasi, antara 24 sampai 25 peserta. Maksimal kabupaten kota bisa mengirimkan dua delegasinya,” kata Kepala UPT Laboratorium Pelatihan dan Pengembangan Kesenian, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbupar) Jawa Timur Efie Widjajanti, dikutip TribunNews.

Hasil Festival Dalang Bocah:

Dalang Hangabehi: Gandang Gondo W (Pacitan, Yudakala Tresna)
Penyaji Mumpuni: Muhammad Rafi N (Tulungagung, Aji Narantaka)

Dalang Greget Terbaik: Ataina Rusyda Fauziyah (Surabaya), Galang Pramu Sadewo (Kota Kediri), Faisal Mauliddurohman (Surabaya)

Dalang Sabet Terbaik: Gandang Gondo W (Pacitan), Ahmad Novan Setiyono (Trenggalek), Nabil Ekri Rasfadillah H (Kota Madiun), Revangga Trirezaldi (Madiun), Damar Jati Kisworo (Gresik)

Dalang Catur Terbaik: Septian Nugraha P (Ponorogo), Rico Eka Saputra (Ngawi), Mohamad Siswoyo (Mojokerto), Rizki Tri Fitrianto (Mojokerto), Rafiddias Alfa (Batu)

Grup Penyaji Terbaik: Ponorogo (Dalang Selvira Angelina Rifean), Ngawi (Laudza Naufal), Kota Malang (M Seno Adji), Kota Madiun (Daffa Sakrisna Prasetya), Jember (Angga Cahya Gunawan), Mojokerto (Sri Bawana Kusdi W), Kota Kediri (Doni Santosa), Madiun (Maharesi Anggaranaya), Tulungagung (Wahyu Bagus Setyawan), Surabaya (M Alif Satria D). (sak)