Teater Sanggar Lidi mementaskan lakon ‘Aktivsm’ di Cak Durasim Surabaya. Foto: Antara Jatim/Didik Suhartono.
Kelompok teater Sanggar Lidi asal Kota Surabaya mementaskan lakon berjudul ‘Aktivsm’ di Gedung Kesenian Cak Durasim Jalan Gentengkali Surabaya, pekan lalu.
Pementasan tersebut diawali dengan adegan yang memaksa penonton mengenang berbagai pergerakan yang pernah terjadi di tanah air.
Mulai dari pergerakan menentang pembunuhan massal yang terjadi di era 1965 – 1966, demonstrasi Malari 1974, hingga terakhir aksi reformasi yang berhasil menggulingkan pemerintahan Orde Baru di era Presiden Soeharto tahun 1998. Adegan selanjutnya menggambarkan pergerakan di Indonesia yang stagnan di era kini.
“Naskah Aktivsm berangkat dari berbagai pergerakan dari masa ke masa yang pernah terjadi di Indonesia hingga masa sekarang pasca reformasi,” ujar penulis naskah yang juga sutradara Sanggar Lidi, Totenk Mahdasi Tatang Rusmawan kepada wartawan usai pementasan, seperti dikutip Antara Jatim.
Dia menilai banyak aktivis yang di masa lalu berhasil memperjuangkan kepentingan rakyat Indonesia, di era sekarang justru menjual idealismenya kepada penguasa yang memiliki kepentingan tertentu.
“Meski ada juga aktivis yang sampai sekarang masih mempertahankan ideologinya namun nasibnya justru penuh dengan kesengsaraan. Untuk menghidupi keluarganya saja susah,” ucap pegiat teater asal Bandung itu.
Pementasan lakon ‘Aktivsm’ ini, lanjut pria yang telah banyak menimba ilmu dari Bengkel Teater asuhan mendiang dramawan WS Rendra itu, merupakan ungkapan epilog darinya untuk masyarakat secara luas.
Kelompok teater Sanggar Lidi terbentuk sejak 12 Oktober 2012, yang digagas oleh Totenk bersama sejumlah seniman senior di Surabaya, yaitu Ndindy Indiati dan almarhum Wiek Herwiyatmo.
Para aktornya banyak melibatkan para mahasiswa dan pelajar dari berbagai sekolah dan kampus di Kota Surabaya. Lakon ‘Aktivsm’ merupakan produksi pementasan teater ke- 11 dari Sanggar Lidi Surabaya. (ant)
Pengobatan dengan suwuk di Desa Jatiarjo, Pasuruan. Foto: Prasetya.ub.ac.id.
Masyarakat di Desa Jatiarjo, Pasuruan, Jawa Timur, masih menggunakan suwuk sebagai salah satu pilihan pengobatan. Padahal, di desa dimana Taman Safari II berada ini, fasilitas kesehatan serta tenaga medis telah memadai.
Suwuk merupakan pengobatan tradisional dengan menggunakan mantra dan rapalan doa-doa dari dukun yang diletakkan di air putih maupun ramuan dari tumbuh-tumbuhan. Suwuk tidak hanya digunakan untuk mengobati manusia, bahkan benda-benda seperti undangan pernikahan hingga surat lamaran pekerjaan pun dapat disuwuk.
Fenomena tersebut menarik perhatian kelima mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB-UB) yang diketuai Miftakhul Iftita, dengan anggota Hanifati Alifa Radhia, Annise Sri Maftuchin, Helmawati dan Luaiyibni Fatimatus Zuhra untuk meneliti suwuk melalui perspektif ilmu Antropologi.
Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Sosial Humaniora (PKM-PSH) dibawah bimbingan Siti Zurinani MA ini melakukan penelitian lapangan selama kurang lebih dua bulan.
Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara, pengobatan tradisional suwuk di Jatiarjo dilakukan melalui dua tahap. Pertama-tama, dukun akan memeriksa penyakit si pasien melalui beberapa teknik deteksi.
Teknik tersebut meliputi pijatan diruas-ruas jari kaki dan tangan, penggunaan pusaka (misal keris), analisis riwayat kesehatan sebelumnya dari penuturan pasien, hingga komunikasi batin antara dukun dengan penunggu desa tempat pasien berasal.
Setelah dilakukan teknik deteksi, tahap selanjutnya adalah penerapan dari metode pengobatan suwuk. Pengobatan suwuk di Jatiarjo dilakukan dengan kombinasi teknik pengobatan lain seperti pijat dan pemberian ramuan herbal. Setelah diketahui penyakit yang diderita, pasien dapat disembuhkan melalui teknik pijat dengan menggunakan minyak whisik.
“Ada pula pasien yang diberi ramuan berbahan tumbuhan obat yang diracik si dukun maupun diracik sendiri. Selain ramuan herbal tersebut dikonsumsi oleh pasien, ramuan tersebut juga dapat diusapkan (bobok) dibagian tubuh yang sakit. Seluruh proses pengobatan baik pijat maupun pemberian ramuan berbahan alami tersebut dilakukan sembari ditiupkan rapalan doa-doa oleh sang dukun. Rapalan doa-doa pun juga diberikan pada pasien dalam bentuk fisik yakni berupa tulisan-tulisan arab yang ditulis dilembaran kertas,” papar Miftakhul Iftita.
Ia melanjutkan, pengobatan tradisional suwuk yang masih bertahan di Jatiarjo ini terjadi disebabkan beberapa faktor sosial-budaya. Kepercayaan masyarakat pada hal-hal magis, mempengaruhi adanya penyakit-penyakit tidak wajar serta tidak dapat disembuhkan melalui pengobatan medis.
“Adanya kepercayaan akan penyakit tidak wajar inilah yang menjadikan suwuk masih digunakan sebagai metode penyembuhan masyarakat Jatiarjo,” katanya.
Selain itu, faktor lain yang membuat pengobatan suwuk tetap bertahan di Jatiarjo adalah akibat pola pengobatan masyarakat yang lebih bersifat turun temurun serta pencarian pengobatan yang bersifat cocok-cocokan.
“Penjabaran mengenai faktor sosial budaya tersebut menjelaskan bahwa metode penyembuhan suwuk di Desa Jatiarjo, Prigen, Pasuruan masih bertahan ditengah era modern, meskipun pengobatan medis sudah cukup memadai,” pungkas Miftakhul. (sumber)
Lampu dengan budaya lokal pada kemasannya. Foto: Renesola.
Menjadi negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia tentunya memiliki keanekaragaman kultur dan budaya. Indonesia juga memiliki berbagai suku bangsa yang membawa keberagaman adat, budaya, hingga bahasa daerah. Sebagian besar masyarakat di dunia juga telah mengetahui Indonesia memiliki kebudayaan yang beragam.
Bicara mengenai budaya, Renesola sebagai merek global mengangkat budaya-budaya lokal yang ada di Indonesia. Citarasa lokal Renesola selain diimplentasikan dalam bentuk Kemasan lampu yang menggambarkan kearifan budaya lokal dengan motif batik parang, adalah juga menunjukkan bahwa produk-produk Renesola secara spesifikasi teknisnya disesuaikan dengan kondisi di Indonesia.
Citarasa lokal Renesola tersebut ditandai dengan diluncurkannya tiga Jenis lampu hemat energi (LHE) yang mewakili tiga daerah yang berbeda di Jawa Timur, yaitu Malang, Ponorogo dan Madura. Peluncuran lampu Malang, Ponorogo dan Madura tersebut dilakukan di tiga tempat sekaligus yaitu di Malang, Surabaya, dan Madiun.
Lokasi peluncuran produk ini sengaja dilakukan langsung di area pusat penjualan lampu di wilayah tersebut. Untuk area Malang dipusatkan di Toko Hwatt/Surya Citra Elektronik, pada 28 Maret 2018 lalu.
Turut hadir Noor Miftah Bakry selaku Country Director Renesola Indonesia, Eko Pujiono selaku owner Distributor area Malang Raya, dan Karniawan Afandi selaku Sales Manager Indonesia Timur. Adapun untuk Surabaya dilakukan di Toko Heri elektrik dan di Madiun di Toko Sumber Subur Jaya (SSJ).
Menurut Miftah, lampu bercitarasa budaya lokal di ketiga kota tersebut awal dari langkah Renesola untuk mewujudkan visi dari Renesola untuk menjadi lampunya orang Indonesia, setelah menggunakan tambahan motif batik parang di produk sebelumnya.
Seperti di Jawa Timur, khususnya di Banyuwangi, Renesola sudah memiliki posisi yang kuat di pasar. Lampu hemat energi (LHE) dengan produk Full Spiral berwarna kuning (warm white) yang digunakan masyarakat untuk pencahayaan perkebunan buah naga, dan sudah terbukti mampu untuk meningkatkan produktifitas perkebunan buah naga di Banyuwangi. Dengan peluncuran LHE bercitarasa lokal di 3 kota tersebut diharapkan mampu untuk lebih memperkuat posisi Renesola di Jawa Timur.
Sementara di Malang, kemasan lampu sangat bercitarasa lokal dengan gambar bertuliskan “Kera Ngalam”, yang berarti adalah Arek Malang, lampu Ponorogo dengan reog Ponorogonya dan lampu Madura dengan karapan sapinya.
Saat ini, kondisi kelistrikan di Indonesia saat ini relatif masing sering terjadi lonjakan fluktuasi tegangan, dan di daerah-daerah juga banyak yang masing memiliki kecenderungan listrik dengan tegangan yang rendah.
LHE Renesola pada umumnya memiliki ketahanan yang sangat baik terhadap lonjakan tegangan listrik, dan dalam kondisi tegangan rendah (di bawah 100 volt) masih bisa menyala dengan terang yang optimal, dan tentunya tetap aman dan juga hemat listrik.
Keunggulan lainnya dari lampu hemat energi (LHE) yang berbentuk Spiral ini adalah memiliki distribusi cahaya yang lebih baik, karena spiralnya Renesola adalah “Full Spiral”, sedangkan kebanyakan adalah “Half Spiral”. Selain Distribusi cahaya yang lebih baik, dengan full Spiral akan lebih hemat listrik dan juga lebih terang. Maka tak heran jika dikatakan lampu hemat energi (LHE) Renesola “Full Spiralnya – Full Terangnya”. (sumber)
Spanduk pementasan 10 dalang wayang Thengul di jalan masuk objek wisata Kayangan Api. Foto: Antara.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, Jawa Timur, akan menggelar workshop atau lokakarya dan pergelaran Wayang Thengul yang diikuti 10 dalang untuk meningkatkan kemampuannya dalam menggelar pementasan, pada 13-15 April.
Kepala Bidang Budaya Disbupar Bojonegoro Taufiq Amrullah, di Bojonegoro menjelaskan workshop dan pergelaran Wayang Thengul akan diikuti 10 dalang dengan mendatangkan nara sumber dosen pedalangan asal Surabaya Darmono.
Dalam workshop, lanjut dia, nara sumber akan memberikan materi terkait pengembangan mendalang agar bisa semakin menarik masyarakat. “Usai acara akan dilanjutkan pergelaran bersama 10 dalang Wayang Thengul selama dua hari di objek wisata Kayangan Api,” jelas Taufiq Amrullah pekan lalu, dikutip Antara Jatim.
Hanya saja, kata dia, pementasan bersama itu waktunya dibatasi untuk seorang dalang masing-masing 1 jam dengan mengacu pementasan perkeliran padat.
Sesuai daftar 10 dalang Wayang Thengul yang mengikuti workshop dan pergelaran yaitu Sudarno, Dasari, Ponidi, Suntoro, Parwito, Suwarno, Sutopo, Santoso, Lasmijan, dan Sumardji.
“Jumlah dalang Wayang Thengul cukup banyak, tetapi yang menekuni dan sering pentas di masyarakat sekitar enam dalang. Dalang yang paling laris Mardji Marto Deglek, selain Sudarno, Ponidi dan Suntoro,” ucapnya menjelaskan.
Ia menambahkan adanya workshop dan pergelaran bersama itu akan semakin menambah wawasan dalang Wayang Thengul di daerahnya, sehingga semakin diminati masyarakat. “Saat ini minat masyarakat menanggap pergelaran Wayang Thengul terus meningkat,” ucapnya menegaskan.
Dalang Wayang Thengul di Bojonegoro Mardji Marto Deglek, menjelaskan pesanan pentas ditanggap masyarakat rata-rata dalam sebulan sekitar delapan kali, dengan penanggap tidak hanya lokal, tapi juga luar daerah.
“Biaya menanggap Wayang Thengul lengkap, mulai perlengkapan Wayang Thengul, gamelan juga penabuhnya berkisar Rp 5-Rp 7 juta/semalam,” ucap dalang lainnya Ponidi, dibenarkan Mardji Marto Deglek.
Kisah cerita Wayang Thengul, yang diminati masyarakat, antara lain, sejarah Kerajaan Majapahit, sejarah Minak, juga masuknya Agama Islam ke Tanah Jawa. “Kebanyakan masyarakat menanggap Wayang Thengul untuk ‘ruwatan’, karena memiliki anak satu,” ucap Mardji menambahkan. (ant)
Presiden Joko Widodo bersama budayawan di Istana Merdeka. Foto: Setkab.go.id.
Presiden Joko Widodo bersilaturahmi dengan sejumlah budayawan di beranda Istana Merdeka, Jakarta, pada Jumat (6/4) sore. Tampak di antara para budayawan tersebut ialah Radhar Panca Dahana, Butet Kertaradjasa, Toety Herati N Rooseno, Mohammad Sobary dan pelukis Nasirun.
Di beranda itu, Presiden sempat menuliskan “Indonesia Maju” pada sebuah kanvas yang disediakan di sana. Tulisan Presiden itu selanjutnya diselesaikan Nasirun dan juga Wayan Kun Adnyana hingga tampak apik. Juga terlihat hadir Putu Wijaya, Nasirun, Lesik Keti Ara, Olga Lidya, dan Olivia Zalianty.
Ramah tamah antara Presiden dengan para budayawan dilanjutkan di taman yang berada di halaman tengah Kompleks Istana Kepresidenan. Dalam kesempatan tersebut, Presiden menyampaikan pentingnya upaya pelestarian seni budaya Tanah Air sebagai investasi sumber daya manusia di masa mendatang.
Menurut Presiden, kebudayaan menjadi fondasi sebuah bangsa yang ikut menentukan daya saing dan kompetisi yang dimiliki sebuah negara. Hal tersebut sejalan dengan pemikiran yang disampaikan oleh salah satu budayawan Indonesia, Radhar Panca Dahana, seperti dikutip dari rilis Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin.
“Artinya nilai-nilai yang kita miliki ini akan menentukan bangsa ini bisa berkompetisi, bisa bersaing dengan negara lain atau tidak,” ujar Presiden.
Presiden juga menyampaikan pemikirannya terkait revolusi mental. Sejalan dengan budayawan Putu Wijaya, Presiden mengajak para budayawan untuk memberikan contoh yang baik kepada masyarakat terkait nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.
“Revolusi mental itu bukan jargon yang saya kira kayak masa-masa lalu yang perlu diteriak-teriakan terus atau perlu diiklan-iklankan terus, saya kira bukan itu. Saya kira contoh lebih baik dari pada kita berteriak. Memberikan contoh adalah lebih baik daripada kita berteriak,” ucap Presiden.
Sore itu Presiden juga mendapat hadiah berupa pembacaan puisi dari seorang budayawan Aceh, Lesik Keti Ara. Puisi ini berisi tentang ucapan terima kasih karena Jokowi telah membangun Bandara Rembele di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. “Sebagai ucapan terima kasih kami orang Gayo, terhadap peluncuran (bandara) Rembele, saya akan bacakan puisi pendek,” kata Lesik Keti Ara.
Bandara Rembele untuk Jokowi
Kepakkan sayapmu lalu terbanglah, katanya
Orang-orang memandang ke tubuhnya yang dibalut kopo ulen-ulen, kain adat Gayo
Orang-orang juga memandang senyumnya yang tulus
Hari ini ku resmikan Bandara Rembele, katanya
Itulah tanda cinta pada kampung kedua
Orang-orang rindu pada ucapan itu karena telah lama terasa dipinggirkan, bahkan diabaikan
Buka mata dan layangkan pandang ke tempat paling jauh ke wilayah tak tersentuh
Di sana kita bertemu, memadu cinta untuk negeri tercinta
Pada kesempatan tersebut Jokowi menyampaikan pentingnya pembangunan infrastruktur yang dalam 3,5 tahun ini dilakukan oleh pemerintah. “Karena kita ini sebagai negara besar sudah terlalu jauh ditinggal oleh kanan kiri kita, sehingga ini yang perlu dikejar terlebih,” katanya.
Setelah fokus pembangunan infrastruktur, Jokowi meyakinkan bahwa pada tahapan besar yang kedua akan masuk ke tahapan investasi di bidang sumber daya manusia yang didalamnya sebagaimana telah disampaikan oleh Radhar Panca Dahana, bahwa kebudayaan itu menjadi sebuah pondasi.
“Artinya, nilai-nilai yang kita miliki ini akan menentukan bangsa ini bisa berkompetisi, bisa bersaing dengan negara lain atau tidak. Baik yang berkaitan dengan nilai-nilai budaya, baik yang berkaitan dengan nilai-nilai karakter yang kita miliki, nilai-nilai budi pekerti yang kita miliki,” kata Jokowi.
Kemudian, lanjut Jokowi, juga berkaitan dengan etos kerja, yang berkaitan dengan produktivitas, yang berkaitan dengan integritas. “Saya kira larinya nanti akan ke sana,” tegasnya.
Karena itu, Presiden Jokowi mengutip pendapat penyair Putu Wijaya, bahwa memang revolusi mental itu bukan jargon yang seperti masa-masa lalu yang perlu diteriak-teriakkan terus atau perlu diiklan-iklan terus.
“Saya kira bukan itu. Saya kira contoh lebih baik daripada kita berteriak. Memberikan contoh akan lebih baik daripada kita berteriak. Bagaimana bekerja yang baik, bagaimana integritas yang baik, bagaimana nilai etos kerja yang baik saya kira itu yang nanti ke depan akan kita gerakan,” tutur Jokowi.
Dalam kesempatan itu, Jokowi menyampaikan kesediaannya untuk bertemu dengan para budayawan secara rutin setiap 3-4 bulan sekali. (sak)
Paket wisata serunya sehari menjadi peternak sapi perah di Kampung Susu Kalipucang. Foto: Detik.com/Muhajir Arifin.
Sekitar 28 km arah selatan dari pusat Kabupaten Pasuruan, ada sebuah desa yang menyimpan banyak potensi, baik pertanian, peternakan hingga keindahan alam. Namanya Desa Kalipucang.
Desa yang terletak di Kecamatan Tutur ini tak hanya menghasilkan kopi, cengkeh tetapi juga susu sapi. Potensi ini kemudian terangkum dalam eduwisata Kampung Susu Kalipucang.
Eduwisata Kampung Susu Kalipucang memfokuskan pada edukasi sapi perah dari hulu ke hilir. Tiap pengunjung akan diajak merasakan menjadi peternak sapi perah dalam sehari, mulai dari merawat sapi, memerah susu, mengolah susu plus menikmati susu segar.
Namun tak hanya itu, pengunjung juga bisa menikmati wisata alam di kampung ini. Kebun kopi dan cengkeh, bahkan kebun bunga krisan yang menjadi komoditas kampung ini akan memberikan sensasi wisata yang berbeda.
Setelah lelah menyusuri kebun kopi, cengkeh dan krisan, pengunjung juga bisa memanjakan diri di air terjun Sumber Nyonya dan air terjun Sumber Telogo. Mau berenang boleh atau sekadar bermain air juga tak jadi soal.
Masih ada lagi. Pengunjung yang hobi hiking bisa melanjutkan petualangan naik ke Bukit Tumang. Lokasi bukit ini berjarak 2 km dari pusat desa.
“Bukit Tumang kami gadang-gadang bisa saingi Bukit Paralayang di Batu. Sama-sama berada di ketinggian tapi bukit ini masih alami, udaranya segar dan murni,” kata Kepala Desa Kalipucang Hariono, Rabu (28/3), dikutip Detik.com.
Untuk mencapai Bukit Tumang, pengunjung dapat menempuh dengan kendaraan roda dua atau memanfaatkan ojek setempat. Setelah sampai di lokasi, pengunjung harus berjalan kaki untuk bisa sampai ke puncak bukit.
Selain dapat menikmati pemandangan Kabupaten Pasuruan dari atas ketinggian, ada juga taman bunga dan beberapa tempat istirahat yang menambah semarak suasana. “Bukit Tumang ini masih dalam pengembangan. Pemdes rencananya membangun wisata flying fox,” tambahnya.
Hariono memastikan, pengunjung yang datang ke Kampung Susu Kalipucang dijamin puas karena banyaknya destinasi yang bisa dinikmati. “Perpaduan antara eduwisata sapi perah dan wisata alam jadi unggulan desa kami. Pengujung pasti ketagihan,” seloroh Hariono. Anda penasaran? (dtc)
Spot Sumenep sebagai Kota Keris. Foto: MediaMadura.com.
Julukan untuk Kabupaten Sumenep kian bertambah banyak, mulai dari Kota Batik, Kota Ukir, Kota Sumekar sampai yang terbaru Kota Keris. Julukan yang terakhir tentu tidak lepas dari diresmikannya Desa Aeng Tong-Tong, Kecamatan Saronggi sebagai Desa Keris beberapa waktu lalu.
Konon, di Kabupaten memiliki empu atau pengrajin keris sebanyak 640 orang dan Sumenep juga udah mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai daerah pemilik pengrajin keris terbanyak di dunia.
“Dari jumlah tersebut, memang paling banyak berada di Desa Aeng Tong-Tong Saronggi ini,” terang Bupati Sumenep, Busyro Karim, Selasa (27/3), dikutip MediaMadura.com.
Menurut Busyro, hal itu patut dibanggakan, namun tantangan bagaimana semua pihak mampu memanfaatkan keunggulan di bidang keris. Karena eksistensi keris tidak hanya diakui di nusantara, tetapi juga di dunia. “Pada tahun 2005 lalu, PBB telah menetapkan keris sebagai salah satu benda pusaka warisan dunia kategori non bendawi,” ungkapnya.
Ia menceritakan, pada saat itu, ada lima karya budaya Indonesia yang mendapat pengakuan sebagai warisan budaya Dunia dari UNESCO, yaitu wayang, keris, angklung, batik, dan tari saman gayo. “Nah, konsekuensi dari pengakuan UNESCO tersebut, kita memiliki kewajiban melestarikan dan mengembangkan keris agar tetap lestari,” imbuhnya.
Busyro berujar, dari lima karya budaya tersebut, keris adalah warisan budaya paling sulit dipertahankan kelestariannya. Berbeda dengan batik, wayang angklung maupun tari.
Keris memiliki nilau luar biasa sebagai karya agung ciptaan manusia. Selain berakar dalam dalam tradisi budaya dan sejarah masyarakat Indonesia, keris juga memiliki filosofi dan makna kejayaan, keuletan kesabaran keberanian dan keluhuran budi. “Filosofi semacam ini masih sangat relevan diterapkan dalan kehidupan berbangsa saat ini,” tandasnya. (ist)
Mari belajar bahasa Jawa Kuno dengan Komunitas Sutasoma. Foto: Ist.
Tak banyak komunitas berbasis budaya yang tumbuh dan berkembang meneguhkan kembali budaya leluhur. Salah satu komunitas yang tak banyak adalah komunitas Sutasoma.
Sesuai namanya yang diambil dari pujangga lama, komunitas Sutasoma bergerak di bidang pembelajaran budaya, khususnya bahasa Jawa Kuno.
Komunitas Sutasoma yang berdiri sejak 2012 ini menitikberatkan pada pembelajaran bahasa Jawa Kuno yang kini mulai pudar dan teramat jarang diajarkan di bangku-bangku sekolah.
“Komunitas Sutasoma ini berdiri pada 2012 karena prihatin dengan kondisi bahasa Jawa Kuno yang banyak dipelajari oleh warga asing, sementara warga kita sendiri tidak pernah tahu atau bisa membacanya,” kata A’ang Pambudi Nugroho dari komunitas Sutasoma yang ditemui Detik.com saat mengajar membaca bahasa Jawa kuno di Lamongan di acara Jambore Komunitas Seni dan Budaya se-Jatim di Gedung Handayani, Disparbud Lamongan.
A’ang menuturkan, banyak prasasti yang ditemukan di Indonesia menggunakan bahasa Jawa kuno, tapi masyarakat sendiri tidak paham apa dan bagaimana membaca tulisan-tulisan yang terpahat di banyak prasasti tersebut. Di sekolah pun, kata A’ang, belum ada pelajaran Jawa kuno ini.
“Kami lebih banyak menggali atau membaca naskah sebuah prasasti untuk menggali nilai-nilai budayanya untuk ditanamkan di jaman sekarang, jadi tidak hanya untuk sekedar dibaca atau ditulis saja,” tutur A’ang.
A’ang mengaku proses pembelajaran yang mereka lakukan selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Komunitas yang berasal dari Kediri ini mengaku selalu berpindah tempat mengajar sesuai jadwal yang ada atau memang ada panggilan untuk belajar di tempat-tempat lainnya.
“Kami selalu berpindah-pindah, sesuai kebutuhan,” tutur A’ang yang memiliki mimpi untuk bisa memasukkan bahasa Jawa kuno ke dalam mata pelajaran sekolah ini.
Siapa saja siswa pembelajaran membaca dan menulis huruf Jawa kuno ini? A’ang menuturkan jika siswanya berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah, mahasiswa, bahkan guru dan dosen juga menjadi siswa komunitas ini.
Bahkan, komunitas ini sekarang juga menjalin kerjasama dengan sebuah perguruan tinggi di Ponorogo untuk mengajarkan bahasa Jawa kuno yang diambil dari prasasti kuno untuk diambil nilai-nilai budayanya.
“Yang paling berkesan selama mengajarkan membaca dan menulis huruf Jawa kuno saya dapatkan ketika menterjemahkan prasasti yang ada di Ampelgading Malang, karena di prasasti dari abad 15-an ini lengkap mengajarkan tentang darma dan ganjaran setiap perbuatan manusia,” akunya.
A’ang menuturkan, anggota komunitasnya memang tak banyak, yaitu hanya 10 orang. Namun, dari 10 orang ini selalu menjalin kerjasama dengan komunitas-komunitas lain yang bergerak di bidang budaya yang ada di seluruh Indonesia untuk mengajarkan membaca dan menulis Jawa kuno ini.
“Anggota kami menyebar dan anggota komunitas lain juga menjadi anggota komunitas kami, kami tidak membatasi anggota untuk harus di komunitas kami saja,” ujar A’ang yang menyebut hal ini dilakukan untuk lebih menyebarkan Jawa Kuno di banyak tempat.
Banyaknya bahan terjemahan bahasa Jawa kuno, membuat komunitas Sutasoma ini juga berniat untuk membukukannya menjadi sebuah karya. Namun karena terkendala waktu, selama ini mereka hanya bisa menuliskan di sejumlah jurnal budaya.
“Untuk saat ini, kami sedang menyiapkan silabus pembelajaran di kampus dan juga tengah melakukan penelitian sebuah prasasti di Madiun,” paparnya.
Untuk Lamongan, A’ang mengaku antusiasme mereka cukup tinggi. Pasalnya, saat proses pembelajaran ini dilakukan, ternyata tidak hanya orang dewasa dan mahasiswa, tapi pelajar juga tertarik untuk belajar bahasa jawa kuno. Saat di Lamongan, komunitas Sutasoma ini belajar membaca sebuah prasasti yang terpahat pada sebuah lonceng kuno.
“Secara sekilas, ini menceritakan tentang lonceng yang dibuat pada tahun 1277 yang diperdagangkan dan dipesan khusus oleh seseorang,” jelas A’ang menjelaskan lonceng yang tertera huruf dan kata-kata dalam bahasa Jawa Kuno. (dtc)
Batu oktagonal yang ditemukan di Semanding, Kecamatan Pagu, Kediri. Foto: Kompas.com/M.Agus Fauzul Hakim.
Benda purbakala yang diduga struktur candi ditemukan di Kediri, Jawa Timur. Temuan tersebut dianggap tidak lazim karena benda itu bentuknya oktagonal atau segi delapan. Benda tersebut terbuat dari batu andesit dengan lubang pada bagian tengahnya.
Ada 2 batu dengan model sejenis namun berbeda ukuran. Masing-masing batu itu mempunyai ukuran tinggi 53 centimeter, lebar bawah 44 centimeter, lebar atas 35 centimeter, diameter lubang bawah 21 centimeter, kedalaman lubang bawah 12 centimeter, serta diameter lubang atas 13 centimeter.
Sedangkan batu ke dua berukuran tinggi 57 centimeter, lebar bawah 35 centimeter, lebar atas 33 centimeter, kedalaman lubang bawah 13 centimeter, diameter lubang atas 11 centimeter, kedalaman lubang atas 10 centimeter, serta diameter lubang bawah 13 cenimeter.
Kepala Seksi Museum dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri, Eko Priatna mengaku baru pertama kalinya mengetahui adanya benda berbentuk oktagonal itu meski sudah kerapkali di Kediri ditemukan benda purbakala. “Kalau untuk jenis purbakala bentuk oktagon ini saya belum ada referensi,” ujar Eko Priatna saat ditemui Kompas.com, awal pekan.
Lebih jauh Eko mengatakan, pihaknya sudah berupaya mengontak beberapa koleganya yang berkecimpung di bidang arkeologi dan kepurbakalaan, namun juga belum ada kesamaan identifikasi. Beberapa menurutnya berspekulasi sebagai batu umpak penyangga tiang hingga doorpel atau ambang pintu.
Oleh sebab itu, dia menunggu tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Mojokerto untuk penelitian lebih lanjut. Penelitian itu diharapkan dapat mengungkap fungsi dan latar belakang fase sejarah penggunaan benda tersebut. “Tim BPCB besok datang ke Kediri,” imbuhnya.
Batu berbentuk oktagonal itu ditemukan bersama beberapa benda purbakala lainnya. Diantaranya batu balok andesit berelief dengan ukuran panjang 80 centimeter x lebar 42 centimeter serta tebal 21 centimeter.
Penemuan itu terjadi saat para pekerja melakukan pengerukan tanah sawah seluas sekitar 1 hektar milik Zainudin, warga setempat. Penggalian yang berlangsung dalam sebulan ini bukan bagian dari ekskavasi benda purbakala, melainkan keperluan pengambilan tanah bahan bangunan.
Ironisnya, penggalian itu menyebabkan batu bata kuno menjadi banyak yang rusak, bahkan serpihannya berserakan. Ini diduga karena ketidaktahuan mereka atas penanganan benda purbakala itu.
Pengungkapan benda tersebut, menurut Eko, memerlukan penelitian lebih lanjut yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Mojokerto. Dari penelitian itu juga nantinya akan turun rekomendasi-rekomendasi yang diperlukan terhadap kawasan temuan dan benda purbakala itu.
Di Kediri, terutama di Kecamatan Pagu dan Kecamatan Gurah, kerap ditemukan penemuan benda purbakala. Itu tidak lepas dari sejarah panjang Kediri yang dikenal sebagai bekas wilayah kerajaan tua. Hingga saat ini, hampir setiap tahun, ada eskavasi yang dilakukan oleh para ahli untuk meneliti situs-situs tersebut.
Hanya saja, kalau dilihat dari konteks lokasi, lanjut dia, kebetulan di wilayah Kecamatan Pagu dan Kecamatan Gurah kerap ditemukan benda purbakala. Di wilayah itu pula terdapat dua situs besar yang telah ditemukan lebih dulu, yaitu situs Adan-adan dan Tondowongso.
Situs Tondowongso yang berisi struktur bangunan suci berjarak sekitar 10 kilometer dari lokasi penemuan benda purbakala itu. Situs tersebut terhampar luas sekitar 12 kilometer yang diyakini sebagai kompleks permukiman Hindu kuno yang diduga pada masa kekuasaan Sindok (929 M) hingga Kertajaya (1222 M).
Situs Tondowongso yang ditemukan pada 2006 dan situs Adan-adan yang diekskavasi pada 2016 hingga saat ini masih kerap dijadikan obyek penelitian oleh para ahli. “Sehingga, diduga kuat temuan tersebut berkaitan dengan struktur dua situs besar itu,” tambah Eko. (kmp)
Acara ‘Pentas Budaya Jawa Timur’ di Bumiaji Kota Batu. Foto: Malangpost.com.
Hari Teater sedunia diperingati dengan antusias oleh puluhan seniman dan dikemas dalam ‘Pentas Budaya Jawa Timur’ di Dusun Tlogorejo Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji Kota Batu, pekan lalu.
Musik tradisi kotekan sore dan tari dolanan disajikan secara apik oleh anak-anak yang tergabung dalam Sanggar Seni Krama Wijaya dari Dusun Banaran Kecamatan Bumiaji.
Terdengar irama musik mulai dimainkan secara serempak. Begitu juga dengan tari dolanan yang diperagakan secara serasi oleh para pemuda itu mendapat applause meriah dari tamu undangan dan masyarakat yang menjubeli gedung seluas 30 meter persegi.
Kepala Desa Bumiaji Edy Suyanto menjelaskan, penampilan kesenian ini merupakan potensi yang dimiliki oleh masyarakat Bumiaji yang harus terus dilestarikan dan dikembangkan. Sehingga kebudayaan yang telah diwariskan secara turun menurun kepada anak cucu tetap terjaga.
“Dengan diadakannya kirab budaya dan seremonial pentas budaya ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita semua. Pasalnya saat ini untuk tetap menjaga warisan budaya tidaklah mudah. Terlebih dengan masuknya kebudayan dari luar,” ujar Edy Suyanto, dikutip Malang Post.
Ditegaskannya, dengan tetap melestarikan kebudayaan tersebut identitas suatu daerah dan bangsa akan tetap terjaga. “Selain tetap melestarikan kebudayaan, dengan menjaga tradisi secara tidak langsung, kesenian dan budaya tetap terjaga di Bumiaji, juga akan menarik wisatawan dan menjadikan desa wisata,” bebernya.
Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Imam Suryono yang hadir dalam pembukaan mengatakan, pentas budaya yang terlaksana sesuai dengan visi misi Wali Kota Batu.
“Desa berdaya adalah awal dari pembangunan dari berbagai bidang. Apakah itu wisata, kesenian hingga budaya. Karenanya harus ditingkatkan melalui potensi setiap desa. Salah satunya di Dusun Tlogorejo yang bertemakan seni. Ini yang harus digalakkan budayanya,” bebernya.
Dengan teman yang dimiliki tiap desa, lanjut Imam harus dikembangkan lagi melalui digital tourism. Yang dimaksud adalah melakukan promosi secara masif di dunia maya. Sehingga akan banyak wisatawan, tidak hanya domestik tetapi mancanegara yang akan berkunjung ke Dusun Tlogorejo.
“Bumiaji harus tumbuh menjadi desa mandiri dan maju. Maka dari itu, dengan potensi yang telah dimiliki harus terus dikembangkan. Untuk pengembangan tersebut juga dibutuhkan kemitraan, agar target menjadi desa budaya bisa dicapai,” pungkasnya. (mp)