Wisata Situs Purbakala Baru di Sidoarjo

foto
BPCB Jawa Timur memastikan situs di Desa Kedung Bocok, Sidoarjo bagian peradaban Majapahit. Foto: Detikcom/Suparno.

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo siap membuka situs purbakala di Desa Kedung Bocok sebagai destinasi wisata baru setelah mendapatkan izin dari instansi terkait lainnya.

“Asalkan sudah mendapatkan izin dari Balai Pelestarian Cagar Budaya seperti halnya situs sejarah lainnya di Sidoarjo, yakni Candi Pari dan Candi Pamotan,” kata Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Pemkab Sidoarjo, Djoko Supriyadi, awal pekan.

Djoko lanjut mengatakan sejak ditemukan pada awal Februari kemarin, hingga saat ini sejumlah penelitian masih terus dilakukan di sana.

“Sambil menunggu penelitian di sana usai dan pihak berwenang memberi izin, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo saat ini tengah berkonsentrasi untuk melakukan pembangunan destinasi wisata di kawasan Sidoarjo bagian Selatan,” ucap Djoko, dikutip CNN Indonesia.

Di lokasi tersebut, kata Djoko, terdapat beberapa tujuan wisata yang berpotensi dikembangkan seperti Lumpur Sidoarjo, Wisata Belanja Tanggulangin Sidoarjo dan Hutan Bakau Tlocor.

“Tlocor merupakan wisata khusus peminat saja, yang pasti wisata tersebut dikhususkan bagi mereka yang berminat untuk menggali informasi lebih jauh tentang bakau, karena lokasinya memang berada di muara Sungai Porong,” kata Djoko.

“Kami optimistis jika dikembangkan dengan baik, objek wisata ini akan banyak meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan di Sidoarjo yang selama ini masih belum tergarap secara maksimal,” pungkas Djoko.

Seorang warga Desa Kedung Bocok menemukan situs purbakala yang diduga peninggalan Kerajaan Majapahit itu saat sedang menggali tanah untuk menanam ketela.

Saat mengayunkan cangkul ke tanah, ia merasa cangkulnya mengenai benda keras, yang kemudian diketahui merupakan batu bata bersusunan rapi.

Kepala Seksi Perlindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Cagar Budaya BPCB Jawa Timur, Widodo, mengatakan kalau penelitian yang dilakukan untuk merunutkan masa kehidupan yang terjadi di situs purbakala tersebut. “Penelitian butuh waktu tersendiri, karena setiap 10 sentimeter harus dilakukan pencatatan lengkap,” kata Widodo. (ant)

Cerita Panji yang Jadi Warisan Budaya Dunia

foto
Drama tari bertajuk Labuh Tresno Sejati di TMII Jakarta. Foto: Beritasatu.com.

Kisah-kisah masa lalu dapat menjadi sumber informasi dan inspirasi, selain mengandung nilai sejarah, dan pesan moral. Apalagi Indonesia secara geografis luas, yang menyebabkan budaya masyarakatnya sangat beragam. Salah satu kisah masa lalu itu, adalah Cerita Panji yang cukup mendapat perhatian para ahli.

“Namun sayangnya, Cerita Panji ini banyak dilupakan,” ujar Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro, kepada wartawan, usai menyaksikan Pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Kota Kediri Jawa Timur, di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, beberapa waktu lalu, dikutip Beritasatu.com.

Organisasi Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (Unesco), secara resmi mencantumkan Cerita Panji adalah salah satu rangkaian cerita tentang karakter kesatria Raden Panji Asmorobangun yang berlatar di Jawa Timur, resmi sebagai ‘ingatan dunia’ atau disebut ‘Memory of the World’ (MoW). Usulan penetapan Cerita Panji sebagai MoW Unesco tersebut sudah dilakukan sejak 2016.

Acara apresiasi budaya yang rutin digelar setiap minggu oleh Badan Penghubung Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur ini, menampilkan drama tari bertajuk, ‘Labuh Tresno Sejati.’ Drama tari ini dibawakan oleh grup kesenian dari Kota Kediri, dan disutradarai Guntur Tri Kuncoro, dengan Penata Tari Yolanda Putri Probosekar.

‘Labuh Tresno Sejati’ yang ditulis Ety Kusumaningtyas merupakan representasi Cerita Panji, yang mengetengahkan tokoh-tokohnya, seperti Raden Inu Kertapati dan Panji Semirang. Atau Dewi Sekartaji, Klana Sewandana, Ragil Kuning / Dewi Onengan, Tumenggung Pakencanan, dan karakter peran lainnya.

Selain Wardiman Djojonegoro, ikut menyaksikan pertunjukan ini, Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Kediri Sunawan dan Kasubid Pengelolaan Anjungan Badan Penghubung Daerah (Bapenda) Jatim Samad Widodo.

Hadir di acara tersebut, Suryandoro (Praktisi dan Pengamat Seni Tradisi), Eddie Karsito (Wartawan, Penggiat Seni & Budaya), Munarno (Praktisi, Analis Kesenian dan Budaya Daerah Bapenda Jatim di Jakarta), serta Catur Yudianto (Kepala Bagian Pelestarian dan Pengembangan Bidang Budaya TMII).

Para budayawan ini secara rutin bertindak sebagai tim pengamat Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, yang digelar setiap hari Minggu, di Anjungan Jawa Timur TMII.

Menurut Wardiman, banyak orang tidak tahu bahwa Cerita Panji, adalah karya sastra dan budaya Indonesia, yang pengaruhnya hingga ke luar negeri. Cerita Panji memiliki banyak versi, dan telah menyebar ke seluruh jazirah Nusantara; Jawa, Bali, Kalimantan

“Saya minta ke Pemerintah Kota Kediri, agar anak-anak SMP dan SMA didorong mulai memviralkan cerita Panji, bisa melalui tulisan, lukisan atau kreasi kartun. Dengan begitu cerita Panji akan eksis, termasuk budaya lainnya,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Pembangunan IV pada masa Presiden Soeharto ini.

Sunawan menjelaskan, cerita Panji, adalah kumpulan cerita masa Jawa periode klasik, tepatnya dari era Kerajaan Kediri.

Isinya mengenai kepahlawanan dan cinta, terkait dengan tokoh utamanya, Raden Inu Kertapati (Panji Asmarabangun) dan Dewi Sekartaji (Galuh Candrakirana). Beberapa cerita rakyat seperti ‘Keong Mas’, ‘Ande-ande Lumut,, dan ‘Golek Kencana’ juga merupakan turunan dari cerita ini.

“Kita ingin terus menggali seni budaya Panji ini. Salah satu bukti cerita ini dapat dilihat di situs kuno peninggalan abad 14-15 Masehi di desa Gambyok, yang disebut-sebut sebagai awal naskah utuh asli Panji Sumirang,” terang Sunawan.

Selain itu, kata dia, Kediri juga memiliki khasanah budaya lain, di antaranya seni Jemblung, dan seni Jaranan. “Jemblung adalah kesenian tradisional sebagai sarana penyebaran Islam pada masa lalu. Kesenian Jemblung menampilkan musik gamelan Jawa yang diselingi dakwah Islam,” ujarnya.

Sementara Seni Jaranan, adalah tarian tradisional khas Kediri yang memiliki ciri tersendiri, baik dari tarian, pakaian yang dikenakan, serta irama musik yang mengiringi.

“Kami memandang seni Jaranan memerlukan kreator supaya dapat tampil lebih inovatif. Walau kota Kediri relatif kecil, namun potensi seni jaranan luar biasa. Ada sekitar 120 grup seni jaranan potensial yang belum sepenuhnya tergali dan dikembangkan,” ujar Sunawan. (ist)

Bangkalan Siapkan Paket Wisata Terintegrasi

foto
Tempat Pemandian Goa Pote di Bukit Jedih, Bangkalan. Foto: Antaranews/Abd Aziz.

Pemerintah Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, tahun ini menyiapkan paket wisata terintegrasi dengan tiga kabupaten di Pulau Madura, yakni Bangkalan, Pamekasan dan Sumenep, guna meningkatkan kunjungan wisatawan ke wilayah itu.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bangkalan Lily Setiawaty Mukti di Bangkalan, Sabtu, paket wisata integratif itu dilakukan, karena masing-masing kabupaten di Pulau Madura, memiliki potensi wisata yang berbeda.

“Kalau Sumenep, potensi wisata kuat di bidang maritim dan kelautan dengan banyaknya pulau-pulau kecil yang ada di sana, Pamekasan makanan khas, Sampang alam, dan Bangkalan juga kuat di alam dan situs sejarah,” katanya, dikutip Antara Jatim.

Jika potensi wisata di masing-masing kabupaten itu dipromosikan secara paket, ia yakin, wisatawan pasti akan banyak yang tertarik untuk datang ke Pulau Madura. Lily menjelaskan, program paket wisata terintegratif ini juga dimaksudkan untuk mendukung program kunjungan tahun wisata yang kini dicanangkan oleh Pemkab Sumenep.

“Harapannya, agar wisatawan yang datang ke Sumenep tidak hanya di sana, akan tetapi juga bisa menikmati tempat-tempat wisata lain yang ada di Pulau Madura, baik di Pamekasan, Sampang ataupun yang ada di Bangkalan ini,” katanya, menjelaskan.

Untuk Kabupaten Bangkalan, sambung Lily, nantinya akan memprioritaskan objek wisata di daerah pantai utara (pantura). Ia menjelaskan, penentuan rute paket wisata itu nantinya akan melibatkan instansi yang membidangi kepariwisataan di Madura. Pihaknya kini juga mempersiapkan wisata yang akan dimasukkan dalam rute paket tersebut.

“Sekitar April ini akan ditentukan rutenya. Kalau yang paket wisata Madura, kami ajukan wisata di pantura, seperti Siring Kemuning,” katanya, menjelaskan.

Khusus untuk paket wisata Bangkalan, Lily menyatakan, akan mempersiapkan pergelaran karapan sapi dengan sistem carter atau pesanan. Pergelaran kegiatan itu, kata dia, memang dikhususkan bagi kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik yang datang ke Bangkalan. “Paket wisata yang kami masukkan yakni wisata Guwa Pote Jaddih, Makam Aer Mata Ebu Arosbaya, dan beberapa objek yang lain,” ujar Lily. (ant)

Kompak Kenalkan Budaya Malangan pada Wisatawan

foto
Siswa SMK PGRI 3 Malang tengah membatik di lobi hotel Swiss-bel Inn. Foto: Antara Jatim.

Kristi Novita dan Ali Rezza, siswa kelas X SMK PGRI 3 Malang tengah asyik mewarnai topeng berkarakter Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji. Dua karakter yang lekat dengan topeng Malangan. Mereka berdua tengah mengikuti kegiatan Demonstrasi Kerajinan Tangan Batik dan Topeng Malang di lobby Hotel Swiss-belinn Malang.

Tak hanya mewarnai topeng, ada pula beberapa siswa yang tengah membatik dengan ragam hias Malangan. Dengan piawai, mereka melukiskan canting berisi lilin panas ke atas kain berpola. Juga ada beberapa siswa SMK Prajna Paramitha yang tengah unjuk kebolehan mengolah panganan ringan berjenis pastry.

Pembimbing pelatihan bidang wirausaha batik dan suvenir topeng SMK PGRI 3 Malang, Hiannanta mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut merupakan program terusan dari Dinas Pendidikan Jawa Timur. “Kegiatan ini rangkaian Program SMK Potensial untuk anak-anak latihan berwirausaha. Salah satu yang diberikan adalah latihan marketing,” ujar Hiannanta pekan lalu dikutip JATIMTimes.com.

Untuk bisa mengetahui market atau pasar, pihak sekolah mengarahkan siswa menganalisa peluang pasar. Misalnya menyasar ke hotel dan instansi pemerintah maupun tempat pariwisata untuk menjual produknya. “Kebetulan ada peluang dipamerkan di sini. Hotel menyambut baik. Siswa mendapat tempat praktek sekaligus hotel bisa menambah daya tariknya,” papar guru mata pelajaran seni budaya itu.

Sementara itu, Assisten Sales Manager Swiss-Belinn Malang, Erwinda Moonica mengatakan bahwa saat ini industri perhotelan dituntut untuk semakin kreatif demi menarik minat kunjungan tamu. Tidak hanya terkait promo, namun kegiatan yang bisa menarik pengunjung pun diharapkan bisa dilakukan secara rutin.

Hal itu tidak lain bertujuan untuk meningkatkan revenue (pendapatan) hotel. “Dalam event kali ini kami menggandeng sektor pendidikan. Ada dua SMK yang kami ajak bekerja sama melakukan demo membatik, membuat suvenir topeng dan juga patissiere (membuat kue pastry),” ujar Winda, sappaan akrabnya.

Dia menerangkan, pihak hotel ingin menambah point of interesting dengan digelarnya acara ini. “Kan biasanya tamu hanya datang nginep terus keluar hotel. Nah, kami ingin memberikan kegiatan berbeda. Yakni dengan membatik dan lukis topeng,” ujarnya.

Selain itu, kegiatan tersebut sekaligus mengangkat budaya yang ada di Malang. “Kami ingin angkat budaya khas Malang seperti batik dan topeng. Tamu juga bisa tanya-tanya dan praktek langsung ” terangnya. Bahkan, hasil praktek tersebut juga bisa dijadikan souvenir untuk dibawa pulang.

Dia mengatakan, kegiatan ini diharapkan bisa menarik perhatian para tamu, khususnya tamu dari luar kota. “Biar menambah wawasan tamu yang datang,” imbuhnya.

Winda mengungkapkan, kegiatan ini akan dilakukan secara rutin, yakni setiap hari Sabtu sekitar pukul 14.00-18.00 berlokasi di area lobi hotel. Dia menyampaikan, dengan event ini diharapkan bisa menambah okupansi hotel. Jika pada hari biasa berada di angka 75 persen, diharapkan pada akhir pekan bisa mencapai 98 persen. (ist)

Petani Tulungagung Temukan Arca Dewa

foto
Warga menunjukkan situs arkeologi berbentuk arca di desa Ngrejo, Tanggunggunung, Tulungagung. Foto: Ist.

Seorang petani di Desa Ngrejo, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur tak sengaja menemukan benda bersejarah berbentuk arca dewa saat membersihkan ladang jagung miliknya di kawasan bekas hutan lindung yang sudah gundul.

Sebagaimana keterangan resmi Kasi Pelestarian Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung Winarto, arca berukuran 50 x 80 centimeter itu ditemukan Surani dalam kondisi terpendam dalam ranah.

“Pak Surani dan beberapa petani sedang duduk-duduk saat tak sengaja melihat ada struktur batu menyerupai kepala manusia tersembul di atas tanah,” kata Winarto menceritakan kronologi penemuan situs, akhir pekan lalu, dikutip Antara Jatim.

Tak menunggu lama, Surani dibantu beberapa petani lain kemudian melakukan penggalian dan mendapati struktur batu berbentuk patung arca dewa. Kabar temuan situs arkeologi itu dengan cepat beredar luas sehingga warga lain, termasuk penggiat Pokdarwis (kelompok sadar wisata) Ngrejo datang dan melakukan penyisiran area temuan benda purbakala itu.

Ada beberapa struktur batuan lain kemudian ditemukan tak jauh dari titik lokasi temuan arca, di antaranya berbentuk `umpak` (fondasi tiang bangunan), sumuran atau petirtan kecil serta sejumlah gerabah kuno. “Kemarin kami dari Dinas Budpar bersama bagian Litbang Bappeda Tulungagung melakukan verifikasi lapangan guna mendata awal temuan tersebut,” ujar Winarto.

Namun ia belum memastikan jenis maupun usia arca yang kini disimpan di rumah Surani di Desa Ngrejo, Kecamatan Tanggunggunung tersebut. Pihak Pemkab Tulungagung masih akan berkoordinasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan guna meneliti lebih lanjut arca dewa itu, sekaligus melakukan eskavasi di sekitar lokasi temuan.

“Semula kami menduga ini jenis arca agastya (dewa agastya) karena strukturnya mirip. Tapi setelah kami diskusikan dengan teman-teman arkeologi, dugaan awal mengerucut ke arca Nandiswara,” kata staf BPCB Trowulan yang bertugas sebagai pengelola Museum Wajakensis Tulungagung, Hariyadi.

Namun ia menegaskan kesimpulan tersebut masih bersifat dugaan awal. Kepastian mengenai jenis arca dan apakah ada situs lain di sekitar lokasi akan diteliti lebih lanjut oleh tim ahli arkeologi dari BPCB Trowulan, seperti sudah dikoordinasikan oleh pihak Pemkab Tulungagung melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat.

“Sementara menunggu tim BPCB Trowulan ini kami, melalui dinas pariwisata dan pemerintah desa telah meminta Pokdarwis dan warga Desa Ngrejo untuk membantu pengamanan lokasi dari kemungkinan terjadi perusakan ataupun penjarahan benda purbakala yang masih tertinggal,” kata Hariyadi.

Tim pelestari benda Cagar Budaya Kabupaten Tulungagung akhirnya mengevakuasi patung kuno berbentuk menyerupai arca Nandiswara tersebut. Menurut Kasi Pelestarian Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung Winarto, penyerahan situs arca dewa itu dilakukan secara sukarela.

Surani selaku pihak penemu arca mempercayakan penyimpanan patung bersejarah diduga peninggalan zaman Kerajaan Majapahit itu ke Museum Wajakensis, Tulungagung.

Sebelum dievakuasi, Surani dan perwakilan dinas kebudayaan dan pariwisata lebih dulu menandatangani surat pernyataan bermaterai. Dalam surat itu, Surani menyatakan sukarela menyerahkan benda purbakala hasil temuannya itu ke pihak museum.

“Namun nantinya pemerintah daerah akan tetap memberikan kompensasi atas jasa Pak Surani menemukan benda purbakala ini, jika arca itu asli,” kata Winarto. (ant)

Khofifah Napak Tilas di Pertapaan Ken Arok

foto
Khofifah napak tilas di pertapaan Ken Arok. Foto: Merdeka.com/Mochammad Andriansyah.

Calon Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa napak tilas ke Patirtan Taman Pasupati, Malang yang merupakan pura peninggalan Ken Arok, pendiri Kerajaan Singasari. Cagub nomor urut 1 ini ingin cagar budaya yang menjadi kekayaan Jawa Timur tetap lestari.

Ken Arok atau ditulis Ken Angrok dengan gelar Sri Rajasa San Amurwabhumi, memerintah Singasari di tahun 1222 hingga 1227. Dari Ken Arok inilah lahir raja-raja besar di Nusantara. Salah satu keturunan Ken Arok yang terkenal adalah pendiri Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya dengan gelar Naraya Sanggramawijaya Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardhana.

“Siapa saja yang datang ke sini (Patirtan Taman Pasupati), pasti sukses. Sudah banyak yang datang ke sini dan sukses. Ibu (Khofifah) di Pilgub ini kalau tidak ada sesuatu akan berhasil,” ucap juru kunci pura, Romo Irwai dikutip dari rilis tim Khofifah-Emil, pekan lalu dikutip Merdeka.com.

Sebelum napak tilas ke pura peninggalan suami Ratu Ken Dedes itu, Khofifah lebih dulu menyapa warga di sejumlah tempat di Malang. Kemudian blusukan ke Desa Jenglong, dan napak tilas ke salah satu cagar budaya di kaki Gunung Kawi pada malam harinya.

Mantan Menteri Sosial ini kemudian menuju tempat hening di lereng Gunung Kawi. Untuk mencapai tempat pertapaan Ken Arok, Khofifah masih harus berjalan menyusuri jalan setapak. Sampai di Pura Patirtan Taman Pasupati, ketua umum PP Muslimat NU ini disambut si juru kunci pura, Romo Irwai.

Pura tempat pengasingan Ken Arok sebelum mendirikan Kerajaan Singasari ini, terdapat candi yang diapit patung khas Hindu. Candi ini bernama Candi Bentar yang lekat dengan warna hitam. Di sisi kanan candi terdapat kolam dan Patung Dewi Sarasvati dengan balutan warna putih.

Melihat keindahan cagar budaya ini, Khofifah mengaku kagum. “Ini berada di hutan, sangat hening dan masih terjaga keorisinilanya,” kata Khofifah penuh kekaguman. (ita)

Maret-Juni, Bandara Juanda jadi Etalase Seni Budaya

foto
Tarian asal Sumenep manggung di Bandara Juanda. Foto: Juanda-airpport.com.

Selama bulan Maret-Juni 2018 ini Terminal 1 Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur akan dihiasi sejumlah lukisan yang bertema budaya dan kegiatan seni, panorama laut, pantai, hingga air terjun di Jawa Timur.

Salah satu fotografer yang karyanya dipajang, Kang Mahdi, menjelaskan dalam pameran foto yang diselenggarakan oleh Prajurit Pencinta Fotografi dan PT Angkasa Pura I ini bisa menjadi galeri bagi para penumpang yang mendarat di Bandara Juanda untuk mengetahui seperti apa keindahan destinasi wisata yang ada Indonesia, terutama di wilayah Jawa Timur.

“Begitu mereka turun mereka disuguhkan pada banyak sekali tawaran destinasi wisata yang indahnya luar biasa,” ungkap Mahdi, Selasa (13/3), dikutip Jatim Newsroom.

Lebih lanjut ia memastikan jika karya-karya fotografi yang ditampilkan dalam pameran tersebut merupakan karya terbaik dan bisa sekaligus menginformasikan pada masyarakat terkait tempat-tempat yang belum banyak diketahui sebelumnya. “Banyak tempat dengan keindahannya yang mungkin tidak banyak kita tahu, jadi menambah pilihan berwisata bareng keluarga,” jelasnya.

“Foto-foto ini menjadi wakil atas eksploitasi kami mengabadikan keindahan alam Indonesia. Semoga masyarakat makin cinta dengan kekayaan wisata dan budaya bangsanya sendiri. itu yang jadi tujuan kami,” sambung Mahdi.

Bandara Juanda sendiri terus berbenah agar semakin meningkatkan pelayanannya terhadap para pengguna jasa. Terbukti, belum lama ini Bandara Juanda juga meraih prestasi tingkat dunia dalam ajang ASQ Awards 2018 yang diselenggarakan oleh Airport Council International (ACI).

Dalam ajang bergengsi ini Bandara Juanda meraih peringkat ke-3 Best Airport atau Bandara Terbaik pada kategori bandara dengan jumlah penumpang 15-25 juta orang per tahun. (ist)

Kekayaan Tradisi, Sumber Inspirasi Tiada Henti

foto
Adegan di film ‘Tledhek’ karya Vicky Hendri Kurniawan. Foto: Istimewa.

Sebagai negara besar yang menaungi lebih dari 700 suku dimana masing-masing etnis memiliki kultur, budaya dan kesenian tradisi yang spesifik seharusnya menjadi lahan subur bagi pegiat film.

Menggali kekayaan tradisi sebagai sumber garapan menjanjikan para kreator Indonesia bisa memperoleh ruang kompetisi di kelas dunia.

Pemikiran tersebut akan disuguhkan pada para peserta seminar ‘Merayakan Seni Tradisi dalam Film Nasional’ di Hotel Garden Palace, jalan Yos Sudarso, dalam mewarnai Hari Film Nasional, akhir pekan lalu.

Malam harinya digelar pementasan ludruk di Gedung Kebudayaan Balai Pemuda Surabaya oleh Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara menyajikan lakon ‘Guruku Tersayang’, disutradarai oleh Meimura yang mengadaptasi naskah teater ‘Bui’ karya Akhudiat. Format pertunjukkannya, memadukan seni ludruk dengan media film.

Program perayaan Hari Film Nasional 2018 ini dibesut bareng-bareng antara Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara bersama Docnet (Documentary Networking), BanyuCindih Creative Banyuwangi serta Rumah Imaji Surabaya.

Sebagai ponsori adalah Pusat Pengembangan Perfilman Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Sementara tempat pertunjukkan ludruk film difasilitasi oleh Pemerintah Kota Surabaya.

Sebanyak 250 undangan diberikan pada komunitas film, mahasiswa dan siswa sekolah kejuruan. “Melalui momen ini kami ingin memberi referensi kreatif dan dinamis tentang perancangan dan pelaksanaan produksi film seni tradisi bagi komunitas dan pegiat film dokumenter Jawa Timur,” tutur narasumber Vicky Hendri Kurniawan menambahan bahwa seni tradisi merupakan sumber garapan film yang tiada habis.

Sebagai pegiat film, Vicky telah menandai prestasinya sebagai sutradara film dokumenter yang beberapa karyanya berhasil mengail penghargaan.

Satu diantaranya adalah film ‘Tledhek’, mendapat penghargaan khusus-penyutradaraan terbaik Denpasar Film Festival 2016 serta 5 Film Dokumenter Terbaik Apresiasi Film Indonesia 2016.

Pada acara yang dimoderatori Yuslifar ‘Ujang’ M Junus, juga menghadirkan narasumber lainnya, Heru Purwanto yang menggunakan nama popular, Heirosay.

Dari fotografer dia beralih ke sinematografi dan telah melahirkan banyak karya, diantaranya ‘The People of Ludruk’ (2016). Karyanya ‘Menunggu’ berhasil meraih sinematografi terbaik pada Festival Film Jawa Timur 2012.

Berdasar pengalamannya menggarap banyak film dokumenter berlatar seni tradisi, Heirosay akan menggugah paramuda untuk memproduksi film bertema seni tradisi. Di sisi seminar juga ditayangkan karya-karya film berbasis seni tradisi yang diolah filmmaker Jawa Timur. (sak)

Lesbumi Jombang Latih 30 Relawan Budaya

foto
Focus group discussion yang diselenggarakan di Bappeda Jombang. Foto: NU Online.

Pimpinan Cabang Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Kabupaten Jombang bersama berbagai pihak melatih sebanyak 30 relawan budaya. Sejumlah pihak yang dimaksud di antaranya 30 kepala desa di Jombang, 30 pengelola Bumdes, serta SKPD, dan beberapa pihak dari kecamatan.

Pelatihan terhadap 30 relawan budaya ini tercermin dalam FGD (focus group discussion) yang diselenggarakan di Ruang Pertemuan Bappeda Jombang, pekan lalu. Dilatihnya sejumlah relawan budaya tersebut untuk mencatat data potensi budaya dan pariwisata, serta mengembangkan data menjadi desain pengembangan potensi budaya dan pariwisata.

“Alhamdulillah, telah dilaksanakan kegiatan pelatihan 30 relawan budaya bisa bersinergi dengan 30 kepala desa 30 pengelola Bumdes serta SKPD dan perwakilan dari kecamatan dalam FGD pemetaan potensi budaya dan pariwisata,” kata Ketua PC Lesbumi Jombang Inswiardi, dikutip NU Online.

Ia berharap, 30 relawan budaya yang sebagian terdiri dari kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) ini dapat memaksimalkan peran dan fungsinya di lapangan nantinya.

Sehingga hadirnya mereka dalam proses assesment data, proses komunikasi dengan pelaksana sistem dan proses menyusun desain pengembangan potensi budaya dan pariwisata juga bisa dirasakan masyarakat Jombang. “Semoga jejaring ini bisa menguatkan peran masyarakat dalam pengabdian dan dedikasi,” ucapnya sembari berharap.

Dalam FGD ini, hadir juga dari perwakilan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, H Muslimin Abdilla. Di awal forum diskusi tersebut, ia juga menyampaikan materi terkait.

Inswiardi menambahkan, FGD kali ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya dengan Bapedda, IPNU, DPMPD serta Disbudpar.

Sesuai kesepakatan saat itu, pada Maret ini relawan budaya akan turun lapangan melakukan assesment data sekaligus merancang desain pengembangan potensi budaya dan pariwisata.

Selanjutnya pada April mendatang, relawan budaya akan melakukan presentasi hasil pendataan dan rancangan desain mereka di kecamatan masing-masing.

“Dalam proses presentasi ini akan disiapkan dewan kurator untuk menilai desain pengembangan budaya yang terbaik. Desain terbaik akan didorong menjadi pilot project penguatan roadmap SIDA di Salam Baraja Digda, dengan didukung beberapa SKPD terkait dan disinergikan dengan program desa,” jelas dia. (ist)

Pameran Japanese Art di House of Sampoerna

foto
Workshop Mitate Brooch di House of Sampoerna. Foto: Dok HoS.

Walau dikenal sebagai negara maju, Jepang tetap dapat mempertahankan tradisinya hingga kini. Salah satunya tampak dari berbagai karya seni yang walau memiliki tampilan kekinian, namun dibuat dengan teknik yang telah dipergunakan dan tetap terpelihara selama ratusan tahun, dan telah diwariskan secara turun-temurun.

House of Sampoerna (HoS) menjalin kerjasama dengan seniman dari Jepang dalam menggelar pameran bertajuk ‘Japanese Beautiful Art’ yang diselenggarakan di Galeri House of Sampoerna (HoS) pada 9-31 Maret 2018.

Pameran yang menampilkan 35 karya seni khas negeri sakura ini melibatkan 5 seniman dengan latar belakang kesenian yang berbeda. Soho Konishi misalnya, adalah generasi ke empat dari Miyabi School yang terus berupaya aktif mengembangkan Oshie.

Oshie adalah seni tradisional tiga dimensi khas Jepang yang sudah ada sejak jaman Edo (1603-1867), dan terbuat dari hasil penyatuan bahan kimono dan chiyogami (kertas Jepang) yang diisi dengan kapas atau spons.

Seperti halnya Soho, Mikiko Shimizu mempersembahkan jenis kesenian Ikebana, yakni seni merangkai bunga yang berkembang di Jepang sejak abad ke-6. Sedangkan Daiki Matsunaga, pria lulusan Fakultas Seni dari Universitas Kyoto Seika mengangkat Chookoku yaitu seni pahat khas Jepang melalui karyanya yang sangat unik.

Tidak hanya menggambarkan makhluk hidup disekitarnya, karya pahat ciptaannya juga berbentuk figur imajiner, bahkan juga terinspirasi oleh cerita-cerita khayalan negeri dongeng seperti cerita peri yang tinggal jauh di dalam hutan pada karyanya yang berjudul ‘Listen to the trees voices’.

Dengan kekuatan goresan tangan dan fude pen (brush pen), Yuri Fujita menghasilkan karya lukis minimalis berbentuk wajah, seperti pada karya berjudul ‘Tobu’ (terbang).

Dan Guy Hirose, yang mengawali karir sebagai seorang pematung, justru mempersembahkan instalasi yang mengekspos tentang Surabaya dengan judul ‘Surabaya Artiques’ sebagai bentuk apresiasi kepada masyarakat Surabaya.

“Harapan saya pameran ini dapat dinikmati serta diapresiasi oleh masyarakat luas khususnya masyarakat Surabaya. Sehingga masyarakat dapat mengenal lebih jauh kesenian asli Jepang,” ujar Soho Konishi peserta sekaligus koordinator pameran. (ita)