Puluhan Artefak Majapahit Ditaruh di Balai Desa

foto
Warga melihat tumpukan bata di Desa Kedung Bocok, Tarik, Sidoarjo. Foto: Antara.

Puluhan artefak dan cuilan gerabah peninggalan peradaban Kerajaan Majapahit saat ini masih disimpan secara darurat, sehingga belum bisa menjadi sarana edukasi.

Kepala Desa Kedung Bocok Mochamad Ali Ridho di Sidoarjo, mengatakan bahwa saat ini puluhan artefak dan cuilan gerabah itu disimpan di dalam salah satu ruangan balai desa setempat dan dijaga secara bergantian.

Sementara warga Desa Kedung Bocok, Sidoarjo, Jawa Timur, menginginkan adanya pembangunan museum situs Trik di desa setempat supaya bisa sebagai tempat wisata edukasi bagi pelajar di wilayah itu.

Mochamad Ali Ridho mengatakan telah ada rencana pembangunan museum tersebut, yang nantinya bisa dimanfaatkan para siswa untuk mempelajari asal mula berdirinya Kerajaan Majapahit yang berasal dari Desa Kedung Bocok.

“Rencananya pembangunan museum ini akan dibangun di sisi belakang Balai Desa, mengingat saat ini banyak ditemukan artefak dan juga cuilan gerabah penemuan awal peradaban Kerajaan Majapahit,” urainya kepada Tempo.co, beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, warga Desa Kedung Bocok menemukan sebuah susunan batu bata yang diduga sebagai situs purbakala peninggalan Kerajaan Majapahit. Mochamad Ali mengatakan bahwa penemuan situs tersebut sudah berlangsung sejak sepekan lalu saat ada warga yang akan menanam ketela.

“Saat itu Paiman, salah seorang warga kami, akan menggali tanah yang akan digunakan untuk menanam ketela. Namun, saat menggali tanah tersebut tiba-tiba cangkulnya mengenai batu bata. Setelah digali, ternyata berupa batu bata yang tersusun rapi,” ucapnya.

Pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur sudah melakukan peninjauan ke lokasi penemuan situs Trik dan menyatakan kalau di tempat tersebut memang ada peradaban manusia dan awal berdirinya Kerajaan Majapahit.

Penemuan peninggalan Kerajaan Majapahit itu mengundang banyak siswa dari beberapa sekolah yang ada di desa tersebut untuk melihat dari dekat lokasi penemuan situs Kerajaan Majapahit. “Mereka datang secara bergiliran dan juga berkelompok dengan temannya untuk melihat temuan itu,” ujarnya. (ist)

Pameran Koleksi Tentang GBK di Museum Balai Kirti

foto
Buku, arsip sejarah, dokumen, maket dan foto pembangunan Gelora Bung Karno dipamerkan. Foto: Kemdikbud.go.id.

Menyambut kemeriahan perhelatan olahraga akbar Asian Games yang jatuh pada Agustus mendatang, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti menggelar pameran temporer bertemakan “Dua Presiden RI Tuan Rumah Asian Games 1962-2018”.

Tidak tanggung-tanggung, museum yang berlokasi di kawasan Istana Bogor ini menghadirkan puluhan koleksi yang terdiri dari buku, arsip sejarah, dokumen, maket, foto-foto terkait pembangunan Gelora Bung Karno.

Kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi Museum Kepresidenan RI Balai Kirti dalam rangka menggelorakan kemeriahan Asian Games 2018, sekaligus memperingati empat tahun berdirinya museum pada Oktober mendatang.

Museum yang dikenal sebagai tempat menyimpan benda-benda bersejarah makin memperluas fungsinya sebagai tempat menimba ilmu ke masyarakat luas.

Oleh karena itulah, pameran temporer ini digelar agar masyarakat menjadikan museum sebagai sarana belajar yang menyenangkan.

Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan, melalui pameran ini setidaknya mampu menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap Asian Games yang pernah digelar di Indonesia pada tahun 1962.

“Bahwa ini memang upaya kecil dari Kemendikbud untuk menggemakan Asian Games 2018 ini. Dan pameran ini mengingatkan kembali di masa itu orang bergotong royong mempersiapkan Asian Games,” ujarnya saat memberikan sambutan.

Museum Kepresidenan RI Balai Kirti ingin terus mengedukasi para pengunjung dengan melihat langsung bagaimana proses kreatif Presiden Soekarno dan Presiden RI Joko Widodo dalam menyuguhkan sebuah karya seni yang apik di ajang olahraga bertaraf Internasional.

Pemikiran dua Presiden RI inilah yang menjadi objek pameran tersebut, tercermin dari desain-desain dan arsitektur yang dihadirkan.

Yuke Ardianti, Kurator Pameran Temporer Asian Games mengatakan, penampilan GBK saat ini sesuai arahan presiden yang dibuat lebih futuristik.

Sehingga memberi semangat baru GBK sebagai pusat stadion olahraga yang juga sebagai monumen nasional. Koleksi-koleksi proyek revitalisasi GBK pun dideskripsikan dalam bentuk gambar dan rekaman masa lalu.

Museum Kepresidenan RI Balai Kirti menampilkan berbagai koleksi-koleksi foto hingga arsip sejarah. Diantaranya foto, dokumen, patung, maket hingga buku-buku yang mengulas tentang Gelora Bung Karno.

Oleh karena itu, perkaya pengetahuan sejarah dengan datang langsung ke pameran yang dilaksanakan sejak Mei hingga 31 Agustus 2018. (ist)

Pemprov Jatim Beri Apresiasi 500 Seniman

foto
Gubernur Jatim di panggung bersama perwakilan seniman. Foto: Humas Pemprov Jatim.

Sebagai wujud terimakasih dan bentuk kepedulian, Gubernur Jatim Dr H Soekarwo MHum kembali memberikan apresiasi kepada 500 seniman dan budayawan Jatim berprestasi.

Pemberian apresiasi pada seniman dan budayawan berprestasi dari berbagai daerah di Jatim, dilaksanakan di Graha Wisata, Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim, Selasa (5/6) pagi.

“Para budayawan dan seniman telah banyak memberikan kontribusi dalam mengembangkan seni budaya di Jatim secara luar biasa. Mereka inilah yang membuat Jatim selama hampir 10 tahun saya memimpin, menjadi tenang, aman dan nyaman,” terang Dr H Soekarwo MHum.

Menurutnya, kebudayaan memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Budaya mampu membuat manusia berbeda dari makhluk yang lain, budaya mampu menghaluskan sesuatu yang kasar, serta budaya mampu membangun peradaban.

“Seorang ahli mengatakan bila suatu negara ingin makmur dan maju maka basis pembangunanya adalah kebudayaan. Maka basis pembangunan Jatim selain spiritual adalah budaya yang menghaluskan peradaban,” kata Pakde Karwo, sapaan lekatnya.

Tidak hanya itu, kebudayaan juga mampu menjadi alat penangkal atau solusi terhadap kekerasan, termasuk masalah terorisme. Masalah terorisme ini harus terus dilawan salah satunya melalui pendekatan budaya dan pendekatan hati.

“Banyak orang-orang yang merasa sepi di tempat ramai, kelihatannya banyak orang tapi mereka disingkirkan dari komunitas. Disingkirkan karena lemahnya budaya dan peradaban. Orang-orang seperti inilah yang harusnya dirangkul,” tegasnya.

Dalam kesempatan sama, Soekarwo juga menyinggung terorisme atau ekstrimisme, yang disebutnya sebagai subyektifitas sangat berlebihan menganggap orang lain sangat ekstrim.

“Disinilah ciri budaya yakni merangkul kemudian menyapa. Ada sentuhan, pundaknya ditepuk-tepuk, hatinya yang disapa. Bila ingin Jatim lebih damai maka doronglah seniman dan budayawan untuk terus berkarya,” katanya disambut tepuk tangan hadirin.

Ditambahkannya, budaya juga mampu membuat perilaku menjadi egaliter. Kebudayaan pula yang membuat suasana lebih damai dan saling menghargai, dimana kritikan disampaikan lebih lunak.

“Tidak sopo siro sopo ingsun, tapi membuat orang merasa sama. Seperti nonton wayang semua orang sama-sama duduk sehingga tidak emosional,” katanya.

Di akhir sambutannya, Gubernur Jatim berpamitan karena masa jabatannya akan berakhir pada Februari 2019 mendatang.

“Saya menyampaikan maaf dan juga terimakasih kepada bapak ibu semua. Semoga Bulan Ramadhan ini membawa keberkahan untuk kita semua,” pungkasnya.

Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Jatim Dr H Jarianto MSi mengatakan, acara pemberian apresiasi ini rutin dilakukan setiap tahun, untuk membangun tali silaturahmi pemerintah dengan seniman dan budayawan, mendorong semangat dan motivasi seniman untuk terus berkarya dan melestarikan seni budaya.

Serta sebagai wujud penghargaan atas dedikasi dan loyalitas para seniman dan budayawan yang telah mengembangkan seni budaya di Jatim.

“Ini hanya salah satu acara, masih ada penghargaan-penghargaan lain yang diberikan terhadap seniman. Pak Gubernur sendiri selalu memberi apresiasi tinggi terhadap teman-teman seniman di Jatim,” katanya.

Dalam acara ini Pakde Karwo secara simbolis memberikan tali asih berupa uang pembinaan dan sembako kepada 10 orang perwakilan seniman dan budayawan berprestasi.

Kesepuluh seniman berprestasi tersebut diantaranya Dian Nova Saputra dari Trenggalek (seni tari), Martina Saraswati dari Banyuwangi (teater) dan Nihayah dari Ponorogo (reog). (ita)

Mahasiswa Dokumentasikan Reog Tertua di Surabaya

foto
Reog, kesenian tradisional asli Indonesia yang harus dilestarikan. Foto: Istimewa.

Kesenian Reog Ponorogo merupakan warisan leluhur yang sudah sepantasnya dilestarikan. Masyarakat memiliki kewajiban untuk menjaga dan melestarikan warisan kebudayaan Indonesia, khususnya kesenian Reog Ponorogo.

Mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Universitas Trunojoyo Madura mengadakan penelitian sekaligus pembuatan film dokumenter tentang kesenian Reog Ponorogo. Yang diteliti Sanggar Paguyuban Reog Singo Mangkujoyo tepatnya di Jl Kertajaya V, Gubeng, Surabaya, pekan lalu

Penelitian sekaligus pembuatan film dokumenter dilaksanakan oleh kelompok budaya yang terdiri atas Aditya Ramadhani Pratama, Ahmad Ali Haidir, Choirul Yahya, Mamnu’atus Syafa’ah, Vera Fadila dan Siti Mariya Ulfa. Agenda ini dilaksanakan untuk pemenuhan sosialisasi kepada anak muda melalui film yang dikemas dalam mata kuliah Sosiologi.

Penelitian berlangsung pada awal Maret dan Mei 2018 dengan agenda pembuatan film dokumenter tentang hasil penelitian kelompok budaya. Pembuatan film dokumenter dilakukan sejak pukul 09.00-15.00 di lingkungan Kertajaya V.

Seperti dilaporkan Tribunnews.com, tim pembuatan film bekerja sama dengan beberapa pihak, salah satunya adalah Sugianto, pimpinan sekaligus budayawan reog di Surabaya.

Film dokumenter dibuat atas dasar pengulasan tentang hasil penelitian yang berjudul “Peran Modal Sosial dalam Meningkatkan Strategi Bertahan Hidup Paguyuban Reog Singo Mangkujoyo di Kota Surabaya”.

Paguyuban Reog Singo Mangkujoyo merupakan paguyuban reog tertua di Surabaya. Pada 1951 paguyuban didirikan dan tahun ini paguyuban dikelola generasi ketiga.

“Sudah saatnya generasi muda melestarikan reog. Mahasiswa harus bisa menjadi pelopor dan penggerak pemuda Indonesia untuk mencintai budaya sendiri, agar reog ini tidak diklaim lagi oleh negara lain,” tutur Sugianto.

Film itu dikemas menarik untuk memperlihatkan uniknya reog. Ahmad Ali Haidir, salah satu tim peneliti mengatakan, ia akan memperlihatkan kepada mahasiswa dan anak muda di Jawa Timur agar tergerak dan mencintai reog. (sur)

Cerita Jam Kuno di Atas Kantor Gubernur Jatim

foto
Menara jam kuno di atas kantor Gubernur Jatim Jl Pahlawan Surabaya. Foto: Detikcom/Ongq Rifaldy Litualy.

Kantor Gubernur Jawa Timur di Surabaya merupakan salah satu cagar budaya yang dibangun sejak tahun 1929. Dengan kata lain gedung ini merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda.

Namun gedung ini tentu menyimpan banyak cerita sejarah. Menurut Kepala Bagian Aset dan Rumah Tangga Kantor Gubernur Jatim, Abdul Rozak (57), gedungnya sendiri dibangun oleh arsitek Belanda dengan mengadopsi gaya bangunan di Eropa pada masa itu.

“Jika dilihat sekilas dari depan bakal mirip kapal dari Eropa,” ungkap Abdul saat berbincang dengan detikcom, pekan lalu.

Ditambahkan Abdul, menurut sejarawan, dahulu gedung ini merupakan gedung tertinggi di Surabaya. Rupanya gedung ini memang sengaja dibangun setinggi mungkin agar dapat melihat daerah lain yang letaknya jauh.

Konon orang Belanda suka memperhatikan Pelabuhan Tanjung Perak dari atas kantor gubernur. “Iya ini dulu ceritanya kolonial Belanda itu suka naik duduk di atas sambil lihat kapal-kapal sandar di Tanjung Perak. Wah, jangan salah, dari atas gedung itu bisa lihat Pelabuhan Perak itu,” terang Abdul.

Detikcom pun berkesempatan untuk naik dan menengok bagian atas kantor gubernur. Ternyata bukan perkara mudah sebab untuk mencapai lantai menara jam, pengunjung harus menaiki tangga yang cukup curam.

Namun begitu sampai di atas, pemandangan seperti Pelabuhan Tanjung Perak dan Jembatan Nasional Suramadu dapat dilihat dengan jelas dari atas menara.

Hal menarik lainnya yang ditemukan di atas menara itu adalah ada jam kuno yang ternyata masih berfungsi hingga saat ini. Menara jam ini bukan hiasan, melainkan berperan penting, setidaknya bagi orang Belanda saat itu.

Abdul menjelaskan, menara jam itu dimanfaatkan untuk memantau atau mencatat jam berapa saja kapal-kapal masuk. Tak hanya itu, ada pula sebuah lonceng besar yang akan dinyalakan ketika kapal masuk ke Pelabuhan Tanjung Perak.

Suara dentang jam kuno ini pun bisa terdengar dari kejauhan. Seperti halnya jam-jam dinding di zaman modern, jam kuno ini juga berdentang sekali di pukul satu, dan 12 kali di pukul 12. “Jam di atas kantor gubernur juga jadi patokan untuk memulai kegiatan misalnya pawai kebudayaan. Kan start pawai biasa dari sini juga,” paparnya.

Ketika ditanya tentang bagaimana merawat jam yang sudah menjadi sejarah dari gedung ini, Abdul mengaku biaya yang dikeluarkan memang tidak sedikit. Sebab bila terjadi kerusakan maka dibutuhkan teknisi ahli, bahkan tak jarang mereka harus memanggil teknisi khusus dari luar Indonesia.

“Seperti rantai dan mesinnya ini loh. Ini kan mesin Ducati rantai Ducati ini,” jelas Abdul sembari menunjuk mesin penggerak jam di menara jam gedung gubernur jawa timur.

Bagi Abdul, menara jam ini bukan sekadar pengingat bahwa orang Belanda sangat disiplin jika berbicara soal waktu, tetapi lebih dari itu, keberadaan menara ini seharusnya juga mengingatkan kita bahwa waktu adalah salah satu harta yang berharga. (dtc)

Mengenang Tradisi Blanggur Saat Ramadhan

foto
Tradisi blanggur alias mercon bumbung sudah mulai menghilang. Foto: Gresikpedia.blogspot.co.id.

Banyak tradisi yang dialakukan oleh masyarakat Indonesia dari berbagai daerah saat bulan Ramadhan. Tradisi ini biasanya sudah dilakukan turun temurun. Di Jawa Timur, ada tradisi unik menjelang berbuka puasa. Namanya, Blanggur.

Blanggur seperti ditulis Kompas.com, merupakan sebuah bambu sepanjang kurang lebih 1,5 meter, bergaris tengah 15 cm , memiliki berat kira-kira 8 ons, dan diisi dengan obat peledak.

Nama Blanggur berasal dari suara yang dikeluarkan. Ketika bambu terpental ke atas sekitar 300 meter terdengar bunyi “blaang”, kemudian terdengar suara ledakan “gluur”. Akhirnya, sebutan Blanggur kental dengan tradisi tersebut.

Mercon Blanggur di Jawa Timur dibunyikan sebanyak 40 buah setiap bulan Ramadhan. Tiga buah dibunyikan pada malam pertama menjelang Ramadhan, 30 buah setiap sore selama sebulan, dan tiga buah pada malam terakhir puasa. Sisanya, pada saat selesai salat Ied.

Tradisi Blanggur disaksikan dan dihadiri pengunjung yang menunggu waktu berbuka di Alun-Alun Kota. Seiring bunyi ledakan yang mampu menembus angkasa sejauh radius sekitar 300 meter sebagai isyarat bagi semua langgar, surau, dan masjid untuk menabuh beduk sebagai pertanda masuk waktu untuk Magrib.

Tradisi ini sudah ada sejak zaman Belanda. Perkembangan Blanggur dalam perkembanganya mulai ditinggalkan. Tradisi ini semakin menghilang karena sudah ada media yang menjadi pengingat tibanya waktu buka puasa yang lebih memadai.

Selain itu, adanya imbauan dari kepala daerah dan pemuka agama bahwa blanggur berisiko, maka lama kelamaan tidak lagi dilakukan. Blanggur yang menghempas ke udara seringkali tidak dibarengi dengan ledakan. Akibatnya, ledakan terjadi ketika sudah jatuh ke tanah dan bisa menciderai warga yang melihatnya.

Selain faktor keselamatan, biaya juga menjadi pertimbangan. Saat itu, pembuatan Blanggur dinilai tak lagi murah. Penanda berbuka puasa pun beralih melalui media televisi, radio, serta beduk dan kentungan di berbagai masjid. (ist)

Artefak Kalpataru Sunan Bonang, Simbol Kurukunan

foto
Kalpataru peninggalan Sunan Bonang yang berada di Museum Kembang Putih. Foto: SuaraBanyuurip.com/Ali Imron.

Raden Maulana Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang, bukanlah sosok ulama biasa. Pada masa hidupnya, Sunan Bonang dikenal sebagai pecinta seluruh umat. Tidak hanya dari kaumnya, melain juga mereka yang berbeda keyakinan dengannya.

Sunan Bonang merupakan putra dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila, yang dilahirkan pada tahun 1465 Masehi. Salah satu peninggalan yang tak patut lagi diragukan keabsahannya yakni keberadaan Kalpataru. Benda ini menujukan keberagaman yang diajarkan selama hidupnya.

Artefak ini menjadi bukti sejarah yang sudah pernah diuji dengan Karbon-14. Kayu berukir dengan empat cabang pohon ini terbukti dibuat pada masa kehidupan Sunan Bonang, pada rentang waktu 1445 sampai 1525. Benda tersebut kini disimpan di Museum Kambang Putih Tuban.

Secara harfiah Kalpataru berarti pohon keinginan atau pengharapan. Bisa juga Kalpataru diartikan sebagai pohon yang dapat mengabulkan segala keinginan manusia yang memujanya.

Pohon berukir ini merupakan penggambaran kerukunan umat beragama pada masa kehidupan sang wali. Islam, Hindu, Budha, dan Kristen, hidup dalam satu lingkungan damai. Tetap memiliki satu tujuan utama yang sama, yaitu menyembah dzat yang satu, Tuhan Maha Esa.

Pengunjung memadati makam waliullah yang hidup pada masa 1445-an, siang itu. Makam yang dilindungi cungkup kayu berukir itu, menjadi magnet bagi pengunjung. Tak jarang dari mereka yang berasal dari Jawa Timur bahkan luar pulau Jawa.

Sunan Bonang, begitu para peziarah mengenalnya. Salah satu dari sembilan wali Allah yang diperintah untuk menyebarkan syiar Islam di bumi Ronggolawe.

Nuansa multi kultural jelas terlihat sejak pertama kali memasuki area makam. Arsitektur yang digunakan dalam pembangunan makam, seperti halnya pembangunan pura atau tempat peribadatan agama Hindu.

Bangunan ini memiliki tiga halaman utama, dan masing-masing halaman dipisahkan gapura Paduraksa. Bangunan yang menyerupai candi ini merupakan ciri khas bangunan lama pada masa Hindu-Budha.

Sementara pada halaman kedua terletak Masjid Astana dan dipisahkan oleh gapura serupa. Bedanya, pada gapura III yang memisahkan halaman kedua dan halaman ketiga terdapat hiasan dinding berupa keramik.

Keramik yang menempel di dinding ini diperkirakan benda peninggalan jauh setelah masa Sunan Bonang, atau pada masa kependudukan Inggris di tanah di Jawa. Tidak ada catatan pasti siapa yang menempel keramik tersebut di dinding gapura III.

Pada Gapura III pun terdapat Rana yang berfungsi sebagai penghalang pandang. Bangunan semacam ini semakin mencolok mengadopsi bangunan pura.

Pada halaman terakhir, makam sang Wali Allah megah berdiri didampingi empat makam pemangku tahta Kabupaten Tuban pada masa itu. Mereka adalah Adipati Kyai Ageng Gegilang, Adipati Kyai Ageng Botoabang, Adipati Kyai Ageng Ngraseh, dan Adipati Balewod.

Selain itu, benda-benda yang ditemukan di sekitar makam, semakin menguatkan multi kultural di atas tanah yang diberkati sang Wali Allah ini.

Seperti dilaporkan Kumparan.com, Koordinator Juru Pelihara (Jupel) Badan Pelindungan Cagar Budaya (BPCB), Endang Sri Wuryani, saat dijumpai di kantornya, menjelaskan banyak benda-benda cagar budaya yang ditemukan di sekitar area makam.

Beberapa benda ditemukan di sekitar makam yang masuk dalam lindungan BPCB antara lain Rana Gapura III, Gapura III, Pendapa rante barat, Pendapa Rante Timur, Gapura II, Pendapa Barat, Pendapa Timur, dan Gapura I.

Terkait temuan lepas di komplek makam meliputi, Lapik Arca, Batu Dakon, dan dua buah Lingga tanpa pasangannya. Ketiga benda ini tentu merupakan bagian dari alat upacara.

Ada pula 20 fragmen bangunan berbeda, fragmen bangunan berelief, fragmen batu bergores kompleks, dan umpak. Terkahir ditemukan sebuah bak sebagai wadah air.

Sekian banyak artefak yang ditemukan di area makam menunjukkan betapa Sunan Bonang mau menerima perbedaan antar sesama dalam memeluk keyakinan, namun hanya Kalpataru lah satu-satunya benda yang menguatkan keberagaman yang diajarkan oleh Sunan Bonang.

Di lain sisi, bagian Bimbingan dan Edukasi Museum Kambang Putih, Rony Firman Firdaus, mengatakan, tidak semua benda yang ditemukan di sekitar area adalah peninggalan SunanBonang.

Beberapa benda yang ditemukan di area makam memang jauh sebelum ataupun sesudah masa kehidupan sang wali. Justru inilah yang memunculkan warna historis yang indah dalam keberagaman dalam ajaran beliau.

Seperti halnya Lingga-Yoni yang ditemukan di area makam. Kalau benda tersebut dianggap peninggalan Sunan Bonang tentu salah kaprah. Dalam agama Hindu, Lingga yang menyerupai alat kelamin lelaki itu merupakan perwujudan dari Dewa Siwa.

Sementara pasangannya, Yoni adalah bentuk perwujudan Dewi Pavarti atau lebih dikenal dengan sebutan Dewi Sati. “Sebagai tradisi dalam agama tersebut Lingga-Yoni digunakan sebagai tempat menaruh sesaji pada acara keagamaan,” ungkap pria yang hobi membaca buku ini.

Menurut angka tahunnya, setelah dites Karbon 14 kalpatarulah yang mendekati masa hidup beliau. Jadi bisa dipastikan peninggalan Sunan Bonang adalah pohon harapan.

Melalui keberagaman yang ditemukan di area makam Sunan Bonang, dapat dikatakan jika beliau adalah seorang ulama yang pluralis. Artinya orang yang mau menerima keberadan yang lainnya. (aim)

Petilasan Sang Ratu Banyak Dikunjungi Orang Penting

foto
Petilasan Ratu Majapahit di Sooko Mojokerto. Foto: Detikcom/Enggran Eko Budianto.

Dibalik fakta sejarahnya, situs Yoni Klinterejo atau Petilasan Tribhuwana Tunggadewi menyimpan segudang misteri. Tak hanya orang biasa, kalangan pengusaha hingga pejabat di negeri ini disebut-sebut pernah berkunjung ke tempat ini.

Situs purbakala ini terletak di tengah persawahan Desa Klinterejo, Sooko, Kabupaten Mojokerto. Di dalamnya terdapat beberpa bagian terpisah.

Antara lain tempat bersemedi putri Raden Wijaya yang juga raja ke tiga Majapahit Tribhuwana Tunggadewi, petilasan Sabdo Palon dan Naya Genggong yang merupakan guru Damar Wulan, serta petilasan pendeta zaman Majapahit Maha Resi Maudoro.

Sementara bangunan utama berupa Yoni atau tempat pemujaan umat Hindu Siwa zaman Majapahit. Bangunan dari batu berbentuk persegi ini dihiasi ukiran berbentuk kepala naga bermahkota. Di sekelilingnya terdapat parit yang disebut sumber panguripan. Air yang keluar di tempat ini konon mempunyai banyak khasiat.

Juru Kunci situs Yoni Klinterejo Muhammad Zainuri mengetakan, tempat ini tak pernah sepi pengunjung. Para pengunjung datang dari berbagai daerah. Mulai dari Surabaya, Bojonegoro, Probolinggo, Pasuruan, hingga Bali dan Jakarta.

“Pengunjung menggelar ritual di sini dengan berbagai tujuan. Ada yang minta jodoh, mengharap kesembuhan, ada juga yang ingin naik pangkat. Kalangan pengusaha juga sering ke sini,” kata Zainuri kepada Detikcom di situs Yoni Klinterejo.

Tak hanya masyarakat biasa dan kalangan pebisnis, lanjut Zainuri, sejumlah pejabat juga pernah mengunjungi petilasan Ratu Tribhuwana Tunggadewi ini. Salah satunya Presiden pertama RI, Soekarno.

Menurut dia, pada masa pra kemerdekaan, sang proklamator pernah bermeditasi di petilasan Sabdo Palon, Naya Genggo, petilasan Tribhuwana Tunggadewi dan petilasan Maha Resi Maudoro.

“Selain itu Guntur Soekarno Putra, Puan Maharani (Putri Megawati) dan Pak Permadi juga pernah ke sini. Juga Gubernur Jatim Imam Utomo, Pakde Karwo (Soekarwo) sebelum jadi gubernur juga pernah ke sini. Bupati Buleleng dan Denpasar juga. Masing-masing punya tujuan sendiri-sendiri,” ujarnya.

Kisah misteri
Di balik megahnya situs yang ada saat ini, kata Zainuri, peninggalan purbakala ini banyak menyimpan kisah mistis. Pengalaman itu juga pernah dia alami sendiri. Penampakan itu muncul di bawah pohon besar persis di sisi timur petilasan Sabdo Palon dan Naya Genggong.

“Saya sedang tidur di pendapa sebelah petilasan, tiba-tiba seperti ada yang membangunkan. Saya lihat ternyata sosok orang besar setinggi dua meter memakai pakaian Majapahitan, saya langsung pulang karena saat itu masih belum berani,” ungkapnya.

Penampakan berupa cahaya warna merah dan biru juga kerap dia lihat keluar dari petilasan Maha Resi Maudoro yang pernah digunakan meditasi Presiden Soekarno. Tak hanya itu, pengalaman gaib juga beberapa kali mengganggu warga sekitar situs.

Menurut dia, pada suatu malam seorang petugas pengairan Desa Klinterejo pernah melihat penampakan ular raksasak sebesar pohon kelapa. Namun, sosok ular itu tak pernah nampak kepala dan ekornya.

“Warga sekitar ada yang pernah mencuri bata situs di sisi barat petilasan Tribhuwana Tunggadewi untuk dijual. Dia langsung sakit seperti ditampar orang, mukanya penyok. Setelah bata-bata itu dikembalikan, dia bisa pulih,” terangnya. (dtc)

Menelusuri Perkembangan Awal Islam di Malang Raya

foto
Kawasan makam Sunan Giri, terkait perkembangan Islam di Malang. Foto: Republika.co.id.

Di antara kota dan kabupaten di Jawa Timur, Malang Raya disebut sebagai salah satu pedalaman mengingat letak geografisnya. Kawasan ini dikelilingi beberapa gunung, seperti Semeru, Bromo, Arjuno, Kawi dan sebagainya. Karena faktor ini, Malang Raya terkenal lebih lamban penyebaran Islamnya dibandingkan daerah-daerah pesisir.

Seperti diketahui, Islam masuk ke Nusantara melalui para pedagang dari wilayah Timur Tengah. Perkembangan yang paling cepat terjadi berada di kawasan pesisir terutama di Pantura.

“Tapi, kalau pantai paling selatan agak akhir sebarannya karena pendaratan para pedagang lebih sering terjadi di pesisir utara,” kata sejarawan dari Universitas Negeri Malang (UM), Dwi Cahyono saat ditemui wartawan Republika.co.id di kediamannya di Malang.

Sementara ihwal penyebaran Islam di Malang Raya, Dwi mengaku, datanya lebih pada tradisi lisan. Sejauh ini, para sejarawan Malang Raya masih belum mampu mendapati data tekstual terkait perkembangan awal Islam di Malang Raya.

Jikalau merujuk pada tradisi lisan, islamisasi di Malang Raya berpusat pada tokoh Gribig atau Gidibig. Adapula yang berpusat pada kerajaan otonom yang sempat berkembang di Malang Raya, Sengguruh atau Tanjung Sengguruh.

“Dan tradisi lisan ini sudah dihimpun dalam literatur yang ditulis oleh Piguet sekitar 1960-an. Piguet memuat berbagai tradisi lisan yang ada di Jawa termasuk di Malang Raya berkenaan tentang Gribig dan Sengguruh,” ujarnya.

Menurut Dwi, tokoh Gribig di sini bukan Ki Ageng Gribig yang dikenal masyarakat Malang saat ini. Tokoh ini lebih dulu muncul meski memiliki nama sama dengan Ki Ageng Gribig. Oleh sebab itu, dia membedakan keduanya dengan sebutan Gribig senior dan junior.

Tokoh Gribig, memiliki peranan penting dalam menyebarkan Islam terutama di Malang bagian Timur. Berdasarkan legenda di masyarakat, tokoh Gribig merupakan murid dari Syekh Manganti. Syekh Manganti dikenal sebagai tokoh Muslim yang berada di Surabaya bagian selatan.

“Dan berdasarkan sumber tradisi yang berkembang di daerah Surabaya dan Gresik, itu masih ada makam kuno beliau. Beliau merupakan paman dari Giri,” ujarnya.

Dwi berpendapat, masa hidup Syekh Manganti belum tentu di masa Sunan Giri yang dikenal sebagai Walisongo. Giri di sini bisa jadi keturunan Walisongo Sunan Giri atau Sunan Prapen. Sebab di era tersebut, Giri bukan lagi pesantren, tapi pusat pemerintahan berkekuatan politik dengan latar keislaman.

Dia menilai, tokoh Syekh Manganti di sini dapat dipastikan hidup setelah masa Sunan Giri yang dikenal sebagai Walisongo. Lalu apa hubungannya Manganti dengan Gribig?

“Gribig itu muridnya yang ditempatkan di Malang dengan mengambil posisi yang sekarang di Kota Malang bagian timur. Dan untuk apa di Malang?” tegas Dwi.

Penempatan Gribig di Malang memiliki dua tujuan. Pertama, untuk mengislamkan daerah pedalaman seperti Malang Raya. Jika legenda ini benar, maka dapat dipastikan asal muasal keislaman di Malang berasal dari Surabaya – Gresik.

Kemudian tujuan penempatan Gribig berikutnya lebih pada masalah politik. Gribig ditugaskan untuk mengontrol Kerajaan Sengguruh yang saat itu masih beragama Hindu. Keberadaan Sengguruh termasuk luar biasa mengingat beberapa tempat di Jatim sudah diislamkan, termasuk Majapahit.

Kerajaan Sengguruh telah berkembang sebelum Majapahit mengalami keruntuhan. Kerajaan otonom ini hadir di masa yang sama dengan Majapahit era Girindrawardhana Wangsa. Dengan kata lain, kerajaan Sengguruh muncul di akhir abad 15 dengan status otonom.

“Statusnya kerajaan otonom walaupun Raja Pramana memiliki kekerabatan dengan raja terakhir Majapahit di Kediri, Patih Udara,” tambah dia.

Dengan kemampuannya, Raja Pramana mampu mengembangkan Sengguruh tanpa harus meminta persetujuan dari Majapahit. Sengguruh berhasil menjadi kerajaan kuat meski berada di lokasi terpencil. Lokasinya, berada di Malang selatan atau saat ini disebut sebagai wilayah Kepanjen di Kabupaten Malang.

Menurut Dwi, Kerajaan Sengguruh tepat berada di pertemuan antara Sungai Brantas dan Kali Metro. Ditambah lagi, lokasinya dikelilingi bukit-bukit kecil sehingga tampak terisolasi. Karena letak ini, Kerajaan Sengguruh tidak mudah ditaklukkan oleh lawan.

Bukan hanya sulit ditaklukkan, Kerajaan Sengguruh juga disebut kuat karena sempat menduduki kesultanan Giri.

“Cuma beberapa lama dan baru berakhir sekitar 1530-an. Ini berakhir karena Pasuruan yang merupakan jalur antara Malang dengan Gresik berhasil dipotong Kerajaan Demak. Karena Pasuruan ditaklukan Kerajaan Demak, pendudukan Giri pun ditarik,” tegasnya.

Dibandingkan kerajaan lainnya di Jatim, Sengguruh disebut sebagai wilayah terakhir yang berhasil ditaklukkan Demak. Pusat Majapahit di Kediri berhasil dikuasai Demak sekitar 1517 sedangkan Pasuruan pada 1530-an.

Sementara Kerajaan Sengguruh berhasil dikuasai sekitar 1545. “Ini petunjuk bahwa kerajaan Sengguruh cukup kuat,” kata dia.

Dari hal ini, Dwi berpendapat, ekspansi Demak ke Sengguruh jelas membutuhkan tim intelijen untuk mengawasi apa yang terjadi di Malang Selatan.

Tokoh Gribig bukan semata-mata menyiarkan Islam tapi juga memiliki maksud politis di dalamnya. Dia diminta Kerajaan Demak yang bekerjasama dengan Giri untuk mengawasi Sengguruh. “Bantuan untuk Demak karena sesama penguasa Islam dan balas dendam juga dari Giri saat penaklukan dulu,” tambah dia.

Dengan adanya penaklukan ini, Sengguruh sudah mulai memasuki babak awal perkembangan Islam. Seluruh kerajaan yang di bawah kekuasan Demak berubah dengan latar Islam termasuk Sengguruh. Dari sini, Ki Ageng Sengguruh menjadi penguasa Islam pertama setelah Raden Pramana.

Di antara berbagai area Malang, Dwi mengungkapkan, bagian barat yang paling terakhir perkembangan Islamnya. Islam berkembang di sana baru terjadi abad 17, itu berarti satu abad berikutnya setelah penaklukan Kerajaan Sengguruh. “Wilayah ini memang lebih pedalaman lagi,” ujar Dwi.

Islamisasi di Malang barat tak lepas dari sosok Raden Trunojoyo yang membangun benteng di Ngantang, Kabupaten Malang. Bersama tokoh handal militer dari Kerajaan Gowa, Karaeng Galesong, mereka bersama-sama melawan Belanda dan Kesultanan Mataram. Dengan mendirikan benteng di atas bukit tinggi Ngantang, mereka dapat memonitor pergerakan lawan dari atas.

Namun sayangnya pada 1679, pertahanan Trunojoyo berhasil dikalahkan Belanda dan Kesultanan Mataram. Trunojoyo ditangkap dan dibunuh oleh Sultan Mataram sekitar 1680.

Sementara Karaeng Galesong mengalami sakit, entah sejak setelah atau sebelum perang terjadi. “Dan tokoh yang terkenal di Gowa ini makamnya ada di pedalaman Malang, Ngantang,” ujarnya.

Setelah digempur Belanda dan Kesultanan Mataram, para laskar Trunojoyo berpencar mencari perlindungan. Hampir sebagian besar termasuk tokoh pentingnya lari ke berbagai desa di Malang barat, termasuk ke Ngantang, Pujon dan beberapa wilayah di Kota Batu.

Penguatan ajaran Islam semakin besar ketika eks laskar Untung Suropati dan Pangeran Diponegoro lari ke Malang Raya. Sekitar 1750-an, mereka memasuki Malang dan memberikan dampak yang kuat pada pemahaman Islam warga setempat. Hal ini lebih tepatnya terjadi di Malang tengah dan selatan.

Seiring perkembangan waktu, Islam pun terus berkembang di Malang Raya. Namun sayangnya, Islam di Jawa lebih kental dengan pengaruh budaya Jawa atau Islam Kejawen. “Itu wajar karena ajarannya dibawa oleh para eks laskar tersebut,” tambah dia.

Gerakan memurnikan Islam di Malang Raya lebih mendapatkan pengaruh dari Bangil dibandingkan Ampel karena kedekatan wilayah. Kemudian semakin kuat saat terjadinya gelombang migrasi besar-besaran dari Yaman ke Asia Tenggara termasuk Indonesia dan Malang sekitar 1850-

an. Hal ini terlihat jelas dengan adanya kampung Arab di beberapa titik di Malang, seperti di sekitar Masjid Jamik atau Alun-alun Kota Malang. “Dan di sana terlihat warna Islamnya agak berbeda,” tegasnya. (ist)

Bondowoso Punya Musik Tradisional ‘Tong-Tong’

foto
Grup musik ‘Tong-Tong’ asal Bondowoso saat pentas di TMII Jakarta. Foto: Galamedianews.com/Eddie Karsito.

Apa sebenarnya yang menjadi sense (rasa) dari dinamika musik? Setidaknya banyak aspek bernilai estetis dari musik. Mulai dari kontur (naik turun melodi), timbre (warna suara), reverberasi (akustik ruang), irama, hingga style (gaya), dan sebagainya.

Ada hal menarik dari musik ‘Tong-Tong’ yang dipergelarkan di acara Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, di Anjungan Jawa Timur Taman Mini Indonesia Indah (TMII), beberapa waktu lalu.

Grup musik ‘Tong-Tong’ ini hadir memperkuat pertunjukan seni drama tari bertajuk ‘Legenda Gunung Putri’ dan tarian ‘Molong Kopi,’ yang dipersembahkan kelompok duta seni dari Bondowoso, Jawa Timur. ‘Tong-Tong’ tampil inspiratif dan berhasil memadukan harmoni sekaligus menguatkan tematika cerita yang dibawakan.

Musik ‘Tong-Tong’ sebenarnya tak beda dengan musik ‘Patrol’, yang juga berkembang di sejumlah daerah di Jawa Timur. Seperti Jember, Banyuwangi, Jombang dan kota-kota lainnya.

Namun kelompok seniman dari Bondowoso ini, tidak menyebut olah keseniannya sebagai musik ‘Patrol’. “Kalau Patrol sudah identik dengan daerah lain, seperti Jember. Kami ingin Bondowoso juga punya musik tradisional yang khas, yaitu ‘Tong-Tong,” ujar Endah Listyorini SSn, sutradara pertunjukan ini sekaligus wakil seniman dari Kabupaten Bondowoso, seperti dikutip Galamedianews.com.

Musik ‘Tong-Tong’ menggunakan alat musik sederhana berupa kentongan. Terbuat dari kayu dan bambu dengan berbagai skala ukuran, yang menimbulkan beragam bunyi-bunyian. Semua jenis kentongan ini dikolaborasikan menjadi satu sajian suara yang indah dan enak didengar.

Keindahan musik ‘Tong-Tong’ Bondowoso, menciptakan berbagai sensasi nada. Membawa penikmatnya seakan-akan menyatu dengan alam. Musik ini memiliki nilai-nilai filosofis ke-alam-an dalam setiap dentuman bunyinya. Memberi ruang penyadaran, bahwa manusia dan alam adalah satu dan bersifat mutualisme.

“Keduanya memiliki kesamaan yang padu. Hubungan manusia dengan alam harus seimbang. Artinya, manusia tidak boleh merusak alam jika tidak ingin dirusak oleh alam,” kata Ryan, penata musik pertunjukan ini.

Seni drama tari ‘Legenda Gunung Putri’ mengisahkan cerita rakyat dari daerah Bondowoso. Sebagian masyarakat meyakini tentang adanya seorang putri yang bertapa di sebuah gunung tertelak di Desa Pelinggihan Wringin. Dalam pertapaannya, sang putri akhirnya tertidur selamanya. Sejak itu hingga kini gunung tersebut diberi nama ‘Gunung Putri.’

Cerita lakon ini ditulis Junaidi, dan disutradarai sekaligus penata tari, Endah Listyorini SSn. Musik digarap Ryan dan Kelompok Musik Tong-Tong. Kemudian tata panggung dan property dipercayakan kepada Em Syahri dan Emi Puji Astuti.

Di kabupaten Bondowoso ada belasan situs Megalitik, antara lain; Dolmen (batu sesaji), Punden berundak (tempat pemujaan), Sarkofagus (penyimpan jenazah/kubur batu), batu Menhir, batu Kenong, Pelinggih dan Stunchambers (batu ruang).

Ada juga Goa Buto, Ekopak, Abris Sous Roche (goa ceruk batu karang), dan kekayaan alam lain, yang merupakan potensi destinasi pariwisata Bondowoso. Kekayaan alam ini juga dipresentasikan dan menjadi bagian dari pertunjukan yang mereka tampilkan melalui empat pelawak pemain ‘Kentrung.’ (ist)