Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih menyaksikan pesona batik Madura. Foto: Dok Kemenperin.
Kementerian Perindustrian memfasilitasi sejumlah pelaku industri kecil dan menengah (IKM) batik nasional untuk ikut serta dalam pameran internasional yang bertajuk “Indonesia Batik For The World” di UNESCO Headquarters, Paris, Perancis. Salah satu pesertanya adalah Batik Azmiah, IKM batik kelas premium berasal dari Provinsi Jambi yang telah mampu menembus pasar Eropa.
“Pameran yang berlangsung pada tanggal 6-12 Juni 2018 itu dalam rangka memperingati ke-9 tahun Kain Batik Indonesia masuk dalam daftar perwakilan warisan budaya sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO yang diakui sejak 2 Oktober 2009 lalu,” kata Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih di Jakarta, Senin (18/6).
Tujuan Indonesia Batik For The World digelar adalah untuk memperlihatkan kepada dunia terhadap kekayaan budaya batik nasional, kompetensi pengrajinnya, dan kelangsungan industri batik Indonesia. “Kini, batik Indonesia semakin menunjukkan jati dirinya di berbagai pameran dunia,” ungkap Gati.
Pada pameran tahun ini, terdapat 100 kain batik kualitas premium yang dipamerkan oleh para pengrajin IKM batik dari berbagai daerah. “Di tahun 2015, Kemenperin memberikan penghargaan One Village One Produk (OVOP) Bintang 3 Kategori Batik kepada Batik Azmiah,” imbuhnya.
Menurut Gati, Rumah Batik Azmiah merupakan IKM batik yang telah terkenal dengan penggunaan warna klasik dan corak yang unik.
“Beberapa motif yang diproduksi antara lain kapal sanggat, tampuk manggis, bungo keladi, serta merak ngeram,” ujarnya. Hal yang membedakan batik Azmiah dengan lainnya adalah proses membatik yang melalui lebih dari enam kali pewarnaan sehingga menghasilkan warna yang menarik.
Lebih lanjut, industri batik telah berperan penting bagi perekonomian nasional. Sebagai market leader, Indonesia telah menguasai pasar batik dunia serta telah menjadi penggerak perekonomian di regional dan nasional. Tak hanya itu, industri batik telah menyediakan ribuan lapangan kerja dan menyumbang devisa negara.
Kemenperin mencatat, nilai ekspor batik dan produk batik pada tahun 2017 mencapai USD 58,46 juta dengan pasar utama eskpor ke Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa. Ini menujukkan industri batik nasional memiliki daya saing komparatif dan kompetitif di pasar internasional.
Saat ini, industri batik didominasi oleh pelaku IKM yang tersebar di 101 sentra seluruh Indonesia. Jumlah tenaga kerja yang terserap di sentra IKM batik mencapai 15 ribu orang.
“Kami terus berupaya meningkatkan daya saing dan produktivitas industri batik nasional. Langkah strategis yang dilaksanakan, antara lain program peningkatan kompetensi SDM, pengembangaan kualitas produk, standardisasi, fasilitasi mesin dan peralatan serta promosi dan pameran,” paparnya. (sak)
Warga menunjukkan benda yang diduga peninggalan Majapahit. Foto: Antaranews.com.
Warga Desa Tegalsari, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto menemukan benda-benda yang diduga sebagai benda purbakala peninggalan situs Kerajaan Majapahit, saat menggali tanah yang akan digunakan untuk resapan tanah.
Salah seorang warga Wahyudin seperti dikutip Antaranews mengatakan, saat itu dirinya akan menggali lubang yang akan digunakan untuk resapan air di depan rumahnya, tetapi pada kedalaman sekitar tiga meter dirinya menemukan benda-benda yang diduga sebagai peninggalan Kerajaan Majapahit.
“Saya sendiri kurang mengerti seperti fungsi benda tersebut. Bentuknya melingkar dengan diameter sekitar 75 centimeter dengan ketinggian sekitar 50 centimeter serta memiliki ketebalan sekitar 3 centimeter,” katanya saat dikonfirmasi di Mojokerto.
Wahyudin mengemukakan, benda-benda tersebut jumlahnya tidak satu karena setelah terus dilakukan penggalian kembali ditemukan benda sejenis yang berada di bawahnya.
“Kami meyakini di dalam lubang yang sedang digali itu masih banyak tersimpan benda-benda sejarah peninggalan Kerajaan Majapahit,” katanya.
Bahkan, kata dia, sejak semalam warga yang mulai berdatangan untuk melihat juga turut membantu untuk melakukan penggalian lagi di lubang yang sama.
“Dan memang terbukti, kami kembali menemukan kembali benda serupa sebanyak tiga buah. Namun, untuk yang kedua sampai keempat ketinggiannya hanya sekitar 30 centimeter, saja,” kata Wahyudin.
Selama proses penggalian itu, lanjut dia, pihaknya juga menemukan beberapa serpihan batu yang mungkin juga masih manjadi satu rangkaian penemuan benda-benda purbakala itu.
“Kami juga melaporkan kejadian penemuan benda-benda ini kepada pihak pemerintah desa untuk selanjutnya dilaporkan kepada pihak lainnya,” katanya.
Saat ini, di lokasi penemuan sudah banyak didatangi warga yang ingin melihat dari dekat perihal penemuan benda-benda tersebut. (ant)
Prosesi Yadna kasada di Gunung Bromo. Foto: lampungpro.com.
Perayaan Yadnya Kasada tahun ini jatuh pada Sabtu (30/6) mendatang. Itu, sesuai dengan kalender masyarakat Hindu Suku Tengger.
Untuk tahun ini, Yadnya Kasada dipastikan bakal diwarnai prosesi pelantikan Dukun Tengger. Hal itu diungkapkan langsung oleh Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo Bambang S.
Menurut Bambang, pihaknya telah lama membuka pendaftaran calon dukun. “Tahun ini ada pelantikan dukun. Yang daftar masih satu orang,” ujarnya saat dikonfirmasi Jawapos.com, Jumat (8/6).
Bambang mengatakan, sejatinya pembukaan pendaftaran dukun telah dibuka sejak penetapan perayaan Yadnya Kasada. Namun, meskipun sejak lama sudah dibuka, masih sedikit yang mendaftar.
Hal itu bukan berarti tidak ada peminat untuk mendaftar. Namun, disebutkan Bambang, lebih dikarenakan dukun di daerahnya masih ada. Sehingga, tidak membutuhkan pengganti.
“Kalau satu itu, ya pasti di daerahnya tidak ada dukun yang akan diganti. Jadi, tidak memerlukan pendaftaran. Itu seperti tahun lalu, kan setiap desa masih memiliki dukun. Jadi, tidak ada pelantikan dukun pada Kasada tahun lalu,” tandasnya.
Lebih lanjut, untuk menjadi dukun salah satunya harus hafal terhadap sejumlah mantra. Itu, nanti akan diuji saat pelaksanaan Yadnya Kasada.
Jika calon dukun itu hafal melafalkan mantra secara fasih, maka akan diangkat menjadi dukun di daerahnya. “Untuk dukun itu ada ujiannya. Ujiannya salah satunya yaitu menghafal mantra pada saat pelaksanaan Kasada nanti,” terangnya.
Khusus calon dukun pandita juga harus memenuhi sejumlah kriteria. Di antaranya, harus lulus ujian dukun atau mulunen, punya guru nabe, mengusai mantra, serta beragama Hindu.
Sedangkan untuk syarat administrasi, yakni sehat jasmani, rohani, tidak sedang dicabut haknya. Serta tidak sedang berurusan dengan hukum. “Usia minimal 25 tahun dan yang terakhir tidak melakukan mo limo (perbuatan yang dilarang),” jelasnya. (jp)
Rangkaian Ritual Yadna Kasada 2018:
– 24 Juni – Nancep Karya
– 25 Juni – Semeninga Medhak Tirta (Goa Widodaren, Ranu Pani, Watu Klosot, Air Terjun Madakaripura)
– 26 Juni – Pemasangan Penjor dan Umbul-Umbul Upoacara – Ngaturi Suguhan di 25 Punden Utama Tengger
– 28 Juni – Pembejian (Melasti)
– 29 Juni – Piodalan / Pawedalan Pura Leluhur Poten Bromo – Resepsi Yadna Kasada di Pendopo Agung Desa Ngadisari Kec Sukapura Kab Probolinggo dan Pendopo Agung Desa Wonokitri Kec Tosari Kab Pasuruan
– 30 Juni – (Pukul 01.00 WIB ) Pemberangkatan Sesaji dan Ongkek dari 4 Pintu Masuk Laut Pasir Tengger yaitu Cemara Lawang (Prob), Pakis Bincil (Pas), Jemplang (Mlg) dan Puncak Sangalikur / Jantur (Lmj)
– 30 Juni – (Pukul 03.00 WIB) :
a. Puncak Karya Yadna Kasada di Utama Mandala Pura Luhur Poten Bromo
b. Puja Stuti Dukun Pandita Tengger
c. Pembacaan Sejarah oleh Lurah Dukun
d. Mulunen / Dhiksa Widhi
e. Mekakat
f. Melarung Sesaji Ongkek ke Kawah Gunung Bromo
g. Sukun Pandhita Tengger Melayani Umat
i. Pujan Kasada
Arief Yahya Hadiri Festival Barong Ider Bumi. Foto: Sekkab.go.id.
Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya bersama Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas menghadiri Festival Barong Ider Bumi yang diselenggarakan pada di Desa Kemiren, Banyuwangi, akhir pekan lalu.
Pada kesempatan tersebut, Menpar memberikan apresiasi untuk konsistensi Banyuwangi yang terus mengangkat tradisi budaya menjadi sebuah atraksi yang menarik.
Sebagai informasi, Barong Ider Bumi adalah sebuah ritual tolak bala yang dilakukan di Desa Kemiren setiap tahunnya. Konon, sejarah tradisi Barong Ider Bumi dimulai pada tahun 1840. Saat itu Desa Kemiren diserang wabah penyakit yang mengakibatkan banyak warga meninggal dan petani juga mengalami gagal panen.
Salah seorang sesepuh desa mendapat petunjuk, meminta petunjuk, warga diminta melakukan arak-arakan Barong sebagai bentuk tolak bala. Ritual tersebut pun dilakukan secara turun-temurun.
Festival Barong Ider Bumi ini ditandai dengan permainan angklung oleh para sesepuh di balai desa setempat. Lalu, Barong diarak keliling desa sambil diiringi nyanyian doa berbahasa Jawa. Nyanyian tersebut merupakan doa memohon keselamatan.
Arak-arakan dimulai dari gerbang hingga pintu keluar masuk desa. Selama proses pengarakan, tokoh adat akan melakukan “Sembur Utik-utik”. Yakni kegiatan menebarkan uang logam, beras kuning, dan bunga sebagai simbol tolak bala.
Setelah arak-arakan mencapai ujung desa, warga akan berebut memakan pisang yang dipajang. Prosesi berikutnya adalah selametan dengan makan Pecel Pitik secara bersama.
Pecel Pitik adalah makanan khas Banyuwangi. Kulinernya menggunakan bahan utama ayam kampung yang masih muda. Setelah disembelih, ayam kampung dibersihkan lalu dipanggang secara utuh di perapian.
Sedangkan bumbu yang digunakan sangat sederhana yaitu kemiri, cabai rawit, terasi, daun jeruk, dan gula. Setelah dihaluskan, bumbu dicampur dengan parutan kelapa muda.
“Yang dilakukan masyarakat Desa Kemiren dengan mengangkat tradisinya sebagai atraksi budaya sudah tepat untuk pengembangan pariwisata. Ini penting, karena wisatawan yang datang ke Indonesia, 60 persennya karena tertarik budaya,” sambung Menpar di sela-sela acara. Pada kesempatan itu, Menpar juga ikut melempar koin.
Menpar meneruskan, kegiatan ini harus dilestarikan karena merupakan salah satu syiar Budaya Banyuwangi untuk dunia. Barong Ider Bumi dilakukan setelah Hari Raya Idulfitri oleh Umat Islam.
Bupati Banyuwangi juga mengapresiasi kegiatan ini. Dia mengatakan, dampak ekonomi kegiatan festival budaya seperti itu sangat besar bagi Banyuwangi. Salah satunya, seluruh penginapan di sekitar lokasi penuh disewa para wisatawan.
“Homestay sekitar Kemiren jumlahnya ada 55. Ada yang dua kamar. Ada yang tiga kamar. Semua full, Hotel Sahid Osing Kemiren, Hotel Aston, Hotel Ikhtiar Surya, Hotel El Royale, Hotel Tanjung Asri hingga Desa Wisata Osing yang punya 10 villa juga full. Ini berkah besar buat Banyuwangi,” ucapnya.
Barong Ider Bumi disaksikan oleh sekitar 10 ribu wisatawan. Ada beberapa alasan mengapa para pengunjung rela berdesak-desakan menyaksikan ritual tersebut. Pertama, kegiatan tersebut menghadirkan story telling yang kuat. Barong dipercaya masyarakat Desa Kemiren sebagai makhluk mitologi yang menjaga desa.
Alasan berikutnya, ada arak-arakan budaya yang menarik. Barong yang memiliki sayap tersebut diarak warga Desa Kemiren menggunakan baju adat Osing yang dominan berwarna hitam. Sepanjang jalan, tokoh adat masyarakat Osing dan Menpar Arief Yahya menebarkan uang koin yang dicampur dengan beras kuning.
Uang koin yang disebar tersebut boleh diperebutkan oleh banyak orang terutama anak-anak. Maknanya, adalah shodaqoh masyarakat Kemiren kepada anak-anak. Membudayakan tradisi berbagi.
“Salah satu daya tariknya ya di sini. Karena setelah mangku barong mereka kembali lagi ke pintu masuk. Dan terakhir ditutup dengan selamatan makan bersama dengan menu pecel pitik,” jelas Suhaimi, Ketua Adat Desa Kemiren.
Dia melanjutkan, selain sebagai daya tarik budaya, arak-arakan Barong Ider Bumi juga dilakukan untuk menjaga kerukunan masyarakat sekitar. (sak)
Menteri Mitch Fified bersama Dubes RI untuk Australia Y Kristiarto S Legowo. Foto: Kedubes Australia.
Pemerintah Australia telah mengembalikan empat tengkorak bernilai budaya yang signifikan kepada Pemerintah Indonesia. Tengkorak tersebut diduga merupakan hasil perdagangan gelap.
Artefak yang berharga ini diserahkan oleh Menteri untuk Kesenian Australia, Senator Mitch Fified, kepada Duta Besar Indonesia untuk Australia, Yohanes Kristiarto Soeryo Legowo di Kedutaan Besar Republik Indonesia, Canberra.
Tengkorak dengan hiasan tradisional masing-masing diserahkan dalam satu kotak khusus yang dibuat oleh pakar konservator dari Museum Nasional Australia untuk memastikan keamanan transportasi artefak bersejarah ini.
Menteri Mitch Fified menegaskan pentingnya pengembalian kekayaan budaya ini. “Australia dan Indonesia memiliki pemahaman yang mendalam dan penghormatan yang sama akan budaya dan warisan budaya kedua negara, serta komitmen bersama untuk melindungi dan melestarikannya,” kata Menteri Fified, Rabu (30/5) lalu.
“Pemerintah Australia senang dapat mengembalikan tengkorak-tengkorak dari masyarakat Dayak dan Asmat yang memiliki nilai budaya sangat penting ke Indonesia, sebagai bagian dari upaya terus-menerus kita untuk memerangi perdagangan gelap benda-benda bernilai budaya,” kata Fified, seperti dikutip Merdeka.com.
Indonesia mengatakan pengembalian ini menjadi bukti dekatnya hubungan penegakan hukum dan budaya antara Indonesia dan Australia.
“Pengembalian benda budaya ini tidak hanya menjadi contoh nyata dari praktek terbaik kita, namun juga menunjukkan bahwa Indonesia dan Australia selalu menganggap penting perlindungan terhadap warisan budaya kita,” kata Duta Besar Kristiarto Legowo.
“Ada tren-tren global yang terus berkembang dalam penyelundupan dan penjualan benda-benda budaya akhir-akhir ini, pengembalian menjadi pendorong bagi kita untuk memperkuat kerja sama dalam menjaga kekayaan budaya dan menanggulangi kegiatan-kegiatan gelap semacam itu.”
Di banyak masyarakat kerangka manusia dengan hati-hati diawetkan dan dipajang di rumah adat atau di tempat keramat serta digunakan dalam upacara adat yang sangat mendetail.
Masyarakat Asmat dari Papua Barat menghiasi tengkorak dengan biji-bijian dan cincin-cincin cangkang kerang laut yang diukir, sementara masyarakat Dayak di Kalimantan menghiasi tengkorak dengan ukiran-ukiran yang rumit. “Kami akan memulangkan benda-benda budaya ini ke tempat asal mereka di Indonesia,” kata Kristiarto Legowo.
Pencegahan perdagangan gelap rangka manusia dan artefak budaya masih terus dilakukan di Australia sesuai dengan Protection of Movable Cultural Heritage Act 1986 (UU Tahun 1986 tentang Perlindungan Warisan Budaya Yang Bisa Dipindahkan). (mer)
Elgana bersama empat karya busananya. Foto: Istimewa.
Berbagai karya kriya tekstil dan keramik yang indah buah hasil usaha dan totalitas mahasiswa Prodi Kriya menghiasi Aula Timur Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Rabu (6/6).
Karya-karya tersebut merupakan tugas akhir yang menjadi prasyarat kelulusan untuk sekitar 30 mahasiswa Prodi Kriya. Setiap mahasiswa diberikan kesempatan untuk menjelaskan hasil karyanya kepada pengunjung yang datang ke booth seluas 3×3 meter persegi milik mereka sendiri.
Dikutip dari situs itb.ac.id, karya yang mendominasi adalah produk fashion. Salah satu karya yang memikat mata pengunjung pameran ini adalah karya milik Elgana.
Untuk tugas akhirnya yang berjudul “Pengembangan Kostum Karakter Epos Ramayana dengan Teknik Utama Reka Latar”, terdapat 4 buah kostum megah dan indah untuk menghidupkan 4 karakter yang paling kuat dan menonjol dalam Epos Ramayana.
Seluruh kostum menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh pewayangan dalam Epos Ramayana. Kostum milik Hanoman dibuat dengan warna putih untuk menggambarkan kesetiaan, kejujuran, dan keberanian.
Berbeda dengan kostum milik Dewi Shinta yang menceritakan tekanan yang dialami Dewi Shinta melalui pemilihan warna merah keunguan.
Sedangkan untuk kostum Rama, dipilih warna biru untuk memberikan kesan elegan, baik, jujur, dan pemimpin yang dingin.
Kostum yang terakhir, yaitu kostum Rahwana sang antagonis, memancarkan rasa mistik, haus akan kekuasaan, dan kemegahan dalam balutan warna gelap seperti hitam, merah tua, dan jubah keemasan.
Dalam proses pembuatan keempat kostum ini Elgana banyak melakukan riset, penggalian ide, pembuatan corak, dan eksplorasi sekitaran Bandung selama 6 bulan lamanya.
Kostum megah yang mengolaborasikan etnis dengan sentuhan futuristik ini tidak hanya indah dilihat, tetapi juga sangat memerhatikan kenyamanan penggunanya.
Elgana mendesain keempat kostum ini dengan baik sehingga kostum-kostum tersebut sangat mudah digunakan dan menggunakan bahan inner seperti katun untuk menghindari ketidaknyamanan pemakainya. Bahkan dalam proses produksinya, kostum-kostum tersebut menggunakan teknik yang sangat mudah sehingga tahap produksi tidak memakan waktu lama, sekitar 2 minggu.
Melalui karya ini Elgana berharap dapat mengubah visual ramayana yang terkesan kolot dan monoton dengan suasana yang baru sehingga meningkatkan minat anak muda terhadap budaya bangsa.
Elgana percaya bahwa terdapat banyak pelajaran yang bisa dipetik dalam kisah-kisah serupa Epos Ramayana untuk diterapkan pada hari ini dan di masa depan nanti.
Karya ini selanjutnya akan didaftarkan dalam lomba seperti karya lainnya dari Elgana yang pernah menjadi finalis 20 Besar pada Indonesia Fashion Week 2018. Adapun karya tersebut merupakan karya yang mengangkat tenun toraja yang terkesan kolot dan konvensional menjadi fashion item anak muda yang simple dan elegan. (sak)
Monumen Tugu, salah satu ikon Kota Jogja. Foto: Istimewa.
Pesona Jogja sudah tidak terbantahkan lagi. Bukan saja pesona alam dan budayanya, pesona kulinernya juga selalu menjadi pilihan wisatawan. Apalagi pada saat liburan Idul Fitri nanti. Beragam kuliner khas yang lezat siap memanjakan wisatawan yang mengunjungi Jogja.
“Jogja merupakan salah satu daerah yang menyimpan kekayaan kuliner. Makanya asik banget rasanya kalau berwisata kuliner di Jogja. Beragam makanan tradisional dan merakyat tersaji lengkap disini. Berwisata kuliner di Jogja selalu menyenangkan,” ujar Ketua GenPI Jogja Nunung Elisabet, pekan lalu.
Memang benar adanya, Jogja kota yang tak pernah mati untuk soal makanan, bahkan disaat lebaran tiba. Dari pagi sampai lewat tengah malam, banyak kuliner khas yang bisa kita nikmati. Jadi tidak perlu takut buat kehabisan stok makanan disini. Berikut #10TopPesonaKulinerLebaranJogja yang wajib dicicipi bila berwisata ke Jogja menurut situs perjalanan TripAdvisor. Yang menjadi #PesonaKulinerLebaran2018.
1. Gudeg
Kuliner yang satu ini merupakan pilihan utama jika berkunjung ke Jogja. Bahkan kuliner ini menjadi nama lain dari Jogja itu sendiri. Soal pilihan tidak perlu bersusah payah. Ada banyak nama Gudeg legendaris di Jogja.
Dari mulai Gudeg Yuk Djum, Gudeg Sagan hingga Gudeg Bromo di Jalan Gejayan siap menemami wisata kuliner wisatawan. “Bahkan jika tidak ingin bersusah payah, wisatawan dapat mengujungi sentra Gudeg di Wijilan. Tepatnya di sebelah timur Alun-Alun Utara Jogja,” gadis yang akrab disapa Elza itu.
2. Brongkos
Kuliner yang satu ini mempunyai rasa yang khas. Sehingga selalu dicari saat Lebaran tiba. Walau pun belum ada sejarah yang menceritakan secara runtut bagaimana brongkos bisa hadir di Jogja. Tapi yang jelas, masakan ini sudah menjadi menu sarapan orang-orang Jawa jaman dulu.
Sekilas, masakan ini memang mirip dengan rawon. Namun, ketika Anda memperhatikan dengan seksama, perbedaan keduanya cukup ketara. Walaupun kuahnya sama-sama cokelat, kuah brongkos akan nampak lebih kental dan rasanya pun lebih gurih. Ini karena brongkos menggunakan santan pada kuahnya.
Perlu dicatat, brongkos konon merupakan menjadi santapan kaum ningrat. Pasalnya bahan baku brongkos yang menggunakan daging sapi membuat hanya kaum darah biru saja yang dulu mampu menikmatinya. Namun seiring perkembangan jaman, saat ini telah banyak warung yang menyediakannya.
“Contohnya warung makan Bu Rini. Warung ini berada persis di sebelah timur Plaza Ngasem atau di Kampung Taman, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta. Warung makan ini telah ada sejak tahun 1973,” ucap Elza.
3. Soto Kadipiro
Kuliner legendaris Jogja ini menjadi makanan khas Jogja sejak tahun 1912. Sekarang ini Soto Kadipiro mempunyai 4 cabang yang tersebar di sepanjang Jalan Wates.
Soto Kadipiro didirikan Almarhum Karto Wijoyo pada tahun 1921. Kemudian usaha Soto Kadipiro dilanjutkan oleh generasi kedua yaitu Widadi Dirjo Utomo. Hingga sekarang Soto Kadipiro telah memiliki cabang di daerah Kalasan, Sleman, Kulonprogo dan Sentolo. Sensasi rasa soto ini ternyata banyak dicari orang.
“Rasanya lezat, segar dan gurih. Kelezatan masakan ini bukan hanya dari penyedap makanannya sendiri akan tetapi berasal dari racikan bumbu-bumbu tradisional hasil dari resep asli Almarhum Karto Wijoyo,” kata Elza.
4. Mie Lethek
Mie Lethek merupakan kuliner khas dari Bantul. Mie Lethek secara harfiah berarti mie ‘kotor.’ Penamaan ini merujuk pada tampilan mie yang tak secerah mie kering lain. Mie Lethek berwarna kecokelatan karena dibuat dari tepung singkong dan gaplek (singkong kering).
Mienya pun di olah secara tradisonal. Bahkan untuk proses penggilingannya juga masih menggunakan sapi sebagai tenaga penggerak gilingannya.
Mie Lethek enak diolah dengan cara direbus maupun digoreng. Umumnya memakai bumbu sederhana seperti bawang putih, kemiri, merica dan garam. Pelengkapnya juga istimewa berupa suwiran ayam kampung dan telur bebek. Walau pun hanya kuliner desa, soal cita rasa tidak perlu diragukan.
“Mie Letek merupakan kuliner favorit Mantan Presiden Amerika Barack Obama ketika berkunjung ke Jogjakarta loh. Yaitu di Warung Bumi, Imogiri, Mangunan, Bantul,” ujar Elza lagi.
5. Sate Klatak
Sate klatak juga merupakan kuliner khas daerah Bantul. Sate ini memiliki keunikan dan berbeda dengan sate biasa. Pada proses pembakaran sate klatak hanya dibumbui garam saja dan polos warnanya. Tidak seperti sate pada umumnya yang dibumbui lengkap dengan bumbu kacang atau kecap manis. Pemyajiannya pun unik, yaitu dengan kuah gule kambing yang kental.
“Kuliner ini banyak ditemui di daerah Bantul terutama yang di Jalan Imogiri Timur, Pleret, Bantul. Salah satu yang paling nge-hits adalah Warung Pak Pong,” ucap Elza.
6. Oseng-oseng Mercon
Bagi pencinta kuliner pedas, kuliner yang satu ini merupakan kuliner yang wajib dikunjungi. Nasi putih panas dipadu oseng-oseng super pedas meledak di mulut. Kelezatan kikil bercampur aneka bumbu dapur menggoyang lidah, menuntut kita untuk pantang berhenti menyuap.
Mercon, yang dalam Bahasa Indonesia adalah petasan menjadi nama kuliner bukan tanpa sebab. Buntelan mesiu yang sering dipakai dalam perayaan Imlek dan meramaikan Lebaran ini seolah meledakkan dirinya di mulut. Seperti pejuang berani mati yang mengantar bom ke sarang musuh.
“Begitulah oseng-oseng racikan Jogja meluluh lantakkan kita. Yang paling nge-hits tentunya Oseng-oseng Mercon Bu Narti di Jl. KH Ahmad Dahlan dekat RS PKU Muhammadiyah Jogjakarta,” terang Elza.
7. Tengkleng Gajah Jakal
Tengkleng Gajah sudah pasti masuk kedalam daftar wisata kuliner Anda. Tengkleng Gajah merupakan olahan kambing dalam porsi “gajah” alias potongan tulangnya berukuran jumbo.
Tengkleng yang diolah dengan bumbu dan rempah-rempah khusus sehingga menciptakan citarasa yang khas. Rasanya maknyus. Warung Tengkleng Gajah ini terletak di Dusun Bulurejo, Minomartani, Ngaglik, Sleman.
“Bukan hanya Tengkleng loh yang bisa dinikmati di warung inj. Ada juga sate, tongseng, dan nasi goreng kambing. Total ada 11 menu olahan daging kambing dapat Anda cicipi disini,” ucap Elza lagi.
8. Walang Goreng
Kuliner yang satu ini menambah perbendaharaan kuliner khas Jogja. Apalagi kuliner ini cukup unik, yaitu kuliner ekstrim belalang atau walang goreng. Rasanya gurih dan renyah.
Terlebih lagi, kandungan gizi yang terdapat dalam belalang ternyata tidak kalah dibandingkan dengan sumber protein lainnya, seperti daging sapi.
“Walang Goreng merupakan sensasi lain yang ditawarkan kuliner Jogja. Penjual Walang Goreng banyak dijumpai di sepanjang perjalanan menuju tempat-tempat wisata di Gunung Kidul,” kata Elza.
9. Angkringan Lik Man, Kopi Jos
Belum lengkap, kalau ke Jogja tanpa menikmati malam sambil nyeruput kopi jos di Angkringan Lik Man yang tersohor. Angkringan Lik Man menawarkan suasana Jogja yang kental, sekental kopi jos racikannya.
Kopi jos sendiri adalah sajian minuman kopi dengan tambahan arang yang masih membara yang dimasukkan langsung kedalam kopi. Rasa sangit dari arang bercampur dengan aroma kopi membuat sensasi ngopi anda menjadi tidak biasa.
Selain kopi joss, minuman lain seperti teh nasgithel, jahe hangat, susu jahe hingga minuman tape ketan juga layak Anda coba. Sajian makanan angkringan ini juga beragam.
Dari mulai nasi kucing, sate kerang, sate usus, sate telur dan beragam kuliner khas angkringan ada disana. “Pokoknya belum ke Jogja kalau belum ngangkring,” imbuh Elza
10. Bapia
Kuliner yang satu ini tentu sudah tidak asing lagi. Bapia adalah kuliner yang menjadi oleh-oleh wajib jika berkunjung ke Jogja. Bakpia sebetulnya adalah kue yang terbuat dari campuran kacang hijau dan gula, dibalut dengan kulit yang terbuat dari tepung kemudian dipanggang. Tapi kini telah banyak di olah dengan beragam isian lain yang tidak kalah lezatnya.
Kampung Pathuk adalah salah satu sentra Bapia tertua di Jogja. Bermacam merek bapia legendaris berasal dari kampung ini. Ada Bakpia Pathok 25, Bakpia Patuk 75 merupakan legenda dari kampung ini.
“Kini pun banyak Bapia lainnya yang dapat anda beli untuk dijadikan oleh-oleh khas Jogja. Tampilan serta rasanya pun lebih kekinian. Tinggal pilih sesuai selera Anda,” pungka Elza.
Menteri Pariwisata Arief Yahya pun sumringah ketika ditanya mengenai kuliner khas dari Jogja. Menurutnya lezatnya kuliner Jogja merupakan salah satu jaring yang membuat wisatawan mengunjungi Jogja.
“Kuliner di Jogja itu luar biasa. Semua enak-enak. Harganya juga murah-murah. Apalagi Jogja yang juga sudah masuk kedalam destinasi kuliner tingkat dunia yang sudah disertifikasi United Nations World Tourism Organization (UNWTO). Jadi silahkan datang dan nikmati lezatnya kuliner Jogja. Salam #Genpi #PesonaIndonesia,” kata Menpar Arief Yahya. (ist)
Ramadan, momentum silaturahmi dan untuk saling memaafkan. Foto: Antaranews/Septianda Perdana.
Halal bi halal hampir menjadi kegiatan wajib masyarakat Indonesia, khususnya umat Muslim, yang dilakukan pada bulan Syawal. Istilah itu sendiri merujuk pada kegiatan dimana masyarakat saling mengajukan maaf dan turut memberikan maaf.
Bentuknya cenderung berbeda di setiap daerah. Ada warga yang singgah dari satu rumah ke rumah lainnya dan ada pula yang dikumpulkan di satu tempat, biasanya disebut open house.
Bertolak dari sejarah, seperti ditulis idntimes.com, sebenarnya halal bi halal adalah bentuk kepentingan politik Soekarno untuk mencegah perpecahan bangsa. Seiring berjalannya waktu, halal bi halal telah menjadi budaya khas Indonesia. Kini, halal bi halal dilakukan oleh setiap elemen masyarakat tanpa mengenal strata sosial, suku, ras, dan agama.
Lantas, bagaimana sesungguhnya gagasan halal bi halal pertama kali muncul di Indonesia? Kemudian, bagaimana halal bi halal yang berawal dari kepentingan elit politik menjadi tradisi unik bangsa Indonesia?
Dilansir dari http://www.nu.or.id, istilah halal bi halal pertama kali digagas oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Sekitar tahun 1948, disintegrasi bangsa menjadi ancaman terbesar Indonesia. Elite politik saling bertengkar, pemberontakan menjamur di banyak daerah, hingga ancaman ideologi komunis. Lebih buruknya, para pemangku kekuasaa yang memiliki beda pandangan enggan duduk bersama di satu forum diskusi.
Pada tahun 1948, bertepatan dengan bulan Ramadan, bapak proklamator bangsa itu memanggil Kiai Wahab ke istana. Sang pemuka agama dimintai pendapat soal cara yang efektif untuk mengatasi situasi bangsa yang tidak kondusif.
Alhasil, ulama kelahiran Jawa Timur itu menyarankan Bung Karno untuk menggelar silaturahmi. Mendengar saran tersebut, Soekarno menjawab “Silaturahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain.”
Mendengar jawaban Soekarno, Kiai Wahab membalas, “Begini, para elite politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturahmi nanti kita pakai istilah halal bi halal.”
Setelah mendengar saran tersebut, bersamaan dengan merayakan Idul Fitri, Bung Karno menggelar halal bi halal untuk mengkumpulkan seluruh elite politik. Dan benar saja, setelah berkumpulnya seluruh pemangku kebijakan, babak baru integrasi bangsa dimulai.
Selepas itu, berbagai instansi pemerintahan yang notabennya diisi oleh pendukung Soekarno turut melakukan hal yang sama. Halal bi halal mulai menjadi tradisi bagi pemerintah. Peran Kiai Wahab tidak berhenti sampai di situ. Halal bi hala juga dia terapkan di kalangan masyarakat. Buntutnya, masyarakat muslim di pulau Jawa turut meniru hal yang dilakukan oleh ulama-ulamanya.
Dengan kata lain, peran Bung Karno dan Kiai Wahab dalam menyelanggarakan halal bi halal berhasil menyentuh seluruh elemen masyarakat. Sehingga, dampaknya yang dirasa positif menjadikan halal bi halal sebagai tradisi bangsa Indonesia yang dilakukan bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri hingga saat ini.
Kegiatan halal bi halal, secara substansinya, telah ada sejak zaman Pangeran Sambernyawa pada abad ke-18. Kala itu, halal bi halal masih dikenal dengan istlah sungkeman. Sebab, pada masa itu, Idul Fitri dirayakan dengan pertemuan antar prajurit dengan raja di balai istana.
Setiap prajurit secara tertib melakukan sungkem atau meminta dukungan dari para raja dan permaisuri.Tradisi yang dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa menggambarkan bahwa esensi halal bi halal sudah ada jauh sebelum masa Soekarno.
Ada dua argumentasi yang digunakan oleh Kiai Wahab untuk memperkenalkan istilah halal bi halal kepada Soekarno. Pertama, dia meyakini bahwa mencari penyelesaian masalah harus diawali dengan cara mengampuni kesalahan atau dalam bahasa Arab dibaca thalabu halal bi thariqin halal.
Kedua, Kiai Wahab meyakinkan Bung Karno bahwa pembebasan kesalahan harus dibalas cara saling memaafkan. Dalam bahasa Arab dibaca halal yujza’u” bi hall.
Meski hukum halal bi halal masih diperdebatkan di kalangan ulama karena tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad semasa hidupnya (bid’ah). Halal bi halal dianggap sebagai momentum yang baik agar setiap muslim saling memaafkan. (ist)
Kota Solo memiliki banyak kuliner yang direkomendasi. Foto: Istimewa.
Kota Solo, tanah kelahiran Presiden Joko Widodo dikenal memiliki banyak kuliner lezat. Saking lezatnya, banyak tempat kuliner yang membuat wisatawan harus rela antri selama berjam-berjam.
Tidak ada yang bisa membantah, jika Solo itu Kota Kuliner! Kota ini kaya akan formasi makanan yang setengah mati susahnya kalau dicari di kota lain. Kalaupun ada, sensasi rasanya hambar, seperti ada setitik bumbu yang alpa. Seperti beda tangan, beda rasa, beda selera.
“Karena itu, mumpung mudik ke Solo, jangan sampai kehilangan momentum! Buru 10 kuliner paling khas di Kota Bengawan ini!” kata Menpar Arief Yahya.
Bagi Anda yang asli Solo, lalu pindah ke kota lain, sekalipun di Jakarta, memang sangat terasa ada degradasi rasa yang amat mengganggu ujung lidah.
Wajar, ketika mudik Lebaran, semua restoran dan warung makan ini diserbu orang-orang berlogat “lu-gue” dan berpelat mobil “B”. Apa yang mereka cari? Sampai rela antere lama? Berpanas-panas dan mandi peluh?
Tidak lain, karena rindu akan rasa khas masakan Solo. Itulah mengapa, kuliner dimasukkan dalam kategori karya budaya, cultural value, bersama shopping and fashion, heritage dan seni.
“Kuliner tradisional itu dibuat secara turun temurun. Komposisi bumbu, lama menanak, besaran api, alat masak, sampai derajad kematangan, itu diatur dengan rasa, tidak cukup dengan pikiran di otak kiri,” jelas Arief Yahya.
Traveler boleh penasaran, juga boleh tidak percaya. Langsung datang dan buktikan sendiri. Mulut bisa salah ucap, tapi lidah tak pernah bohong. Rasa tidak bisa ditipu, juga tidak pernah bisa menoleransi.
“Karena produk budaya, maka kekuatan Solo sebagai Kota Pariwisata adalah karya budayanya. Dan kuliner adalah salah satu produknya,” kata Mantan Dirut PT Telkom itu.
Silakan mencoba, bagi yang belum pernah dan silakan bernostalgia, bagi yang sudah familiar dengan. Berikut 10 warung makan yang wajib Anda kunjungi selama libur Lebaran di Solo. Selain juga kerap jadi langganan Prseiden Jokowi, warung makan ini mendapat respon bagus di situs wisata TripAdvisor, yang ditulis di website Kemenpar.
1. Sate Buntel Mbok Galak
Sate buntel ini merupakan olahan daging kambing muda yang dicincang, lalu dililit pada sebilah bambu seperti sate lilit Bali. Dagingnya terasa empuk dan gurih, karena di bagian luarnya dibungkus lemak daging.
Rasanya yahud. Sate Buntel Bu Galak berada tak jauh dari kediaman masa kecil Presiden Jokowi, di Jalan Mangun Sarkoro Nomor 122.
2. Timlo Sastro
Timlo, sup khas Solo ini berisi irisan ati ampela ayam, irisan dadar gulung, irisan, bihun, telur pindang, dan suwiran ayam goreng.
Salah satu tempat untuk menikmati kelezatan hidangan ini terletak di Jalan Kapten Mulyadi Nomor 8, Sudiroprajan. Rumah makan ini merupakan kedai timlo yang terkenal dan pernah dikunjungi Presiden Jokowi lho.
3. Selat Solo Mbak Lies
Selat Solo merupakan makanan adaptasi dari budaya Barat, yakni salad. Hanya saja, rasanya disesuaikan dengan cita rasa tanah air. Makanan ini terdiri dari daging sapi yang direbus dalam kuah encer yang terbuat dari bawang putih, cuka, kecap manis, kecap Inggris, air serta dibumbui dengan pala dan merica.
Kuliner khas Solo yang satu ini terletak di Jalan Yudhistira, Serengan, buka pukul 09.00 sampai 17.30 WIB.
4. Es Dawet Telasih Bu Darmi
Tersembunyi di dalam Pasar Gede Solo Hardjonagoro, hidangan penutup ini begitu segar diminum pada siang hari. Es dawet ini spesial, karena menggunakan biji telasih (selasih), dawet ketan hitam, tape ketan, jenang sumsum, cairan gula Jawa, dan santan dengan tambahan es batu.
Di Pasar Gede Solo, salah satu tempat yang legendaris dan terkenal, yakni Warung Es Dawet Bu Dermi.
5. Nasi Liwet Bu Wongso Lemu
Tak akan lengkap rasanya kunjungan Anda ke Kota Keraton ini tanpa pernah mencicipi kuliner Solo paling khas, yaitu nasi liwet. Hidangan berupa nasi putih gurih dengan tambahan telur rebus, sayur labu, dan suwiran ayam ini adalah kuliner paling favorit masyarakat setempat.
Warung Nasi Liwet Wongso Lemu adalah salah satu penjual nasi liwet terenak yang harus Anda coba di Kota Solo. Selain rasanya yang begitu enak, warung ini ternyata telah dikelola secara turun-temurun sejak tahun 1950 silam.
Bu Wongso Lemu adalah sang pemilik warung nasi liwet yang berlokasi di Jl. Teuku Umar, Keprabon, Solo ini. Kini, warung yang buka setiap hari mulai pukul 16.00 hingga 01.00 dini hari ini dikelola oleh Mbak Ati yang merupakan cucu dari Bu Wongso Lemu. Bermodal Rp10.000 hingga Rp17.000 saja, sepiring nasi liwet komplit siap menggoyang lidah Anda.
6. Serabi Solo Notokusuman
Kudapan yang satu ini adalah kuliner Solo yang paling dicari, terlebih oleh wisatawan. Tak seperti serabi pada umumnya, kelezatan Serabi Notosuman ini memang tak ada duanya. Paduan santan, susu, dan gulanya memberikan cita rasa manis yang begitu khas, terlebih jika disantap selagi hangat. Serabi Notosuman hadir dalam dua varian rasa, yaitu original dan cokelat.
Cara pembuatan serabi ini pun masih amat tradisional, dengan menggunakan tungku-tungku yang dipanaskan dengan api dari arang. Satu porsi serabi notosuman berisi 10 gulung, harganya mulai dari Rp20.000 tergantung dari varian rasa yang Anda pilih. Gerai serabi ini bisa Anda jumpai di Jl. Mohammad Yamin No.28.
7. Gudeg Ceker Bu Kasno
Lapar tengah malam? Tak perlu bingung, karena Anda bisa bertandang ke warung gedeg ceker milik Bu Kasno. Lokasinya ada di Jl. Monginsidi, Solo, tepatnya di bagian barat gedung SMA Negeri 1 Solo. Meskipun merupakan salah satu kuliner khas Jogja, warung gudeg yang telah ada sejak tahun 1970 silam ini tetap mampu menyihir lidah para pengunjung karena kelezatannya, lho.
Gudeg Ceker Bu Kasno
Warung Gudeg Ceker Bu Kasno buka setiap hari mulai pukul 01.00 hingga 04.00 dini hari. Cukup membayar seharga Rp22.000 saja, Anda sudah bisa mencicipi enaknya sepiring nasi gudeg lengkap dengan ceker, siraman kuah opor ayam, dan telur. Murah dan pastinya mengenyangkan!
8. Soto Gading
Soto ayam layak jadi pilihan sarapan pagimu saat berada di Solo. Dari sekian warung soto yang tersohor, Soto Gading merupakan soto yang paling hits di Solo. Lokasinya berada di Jalan Brigadir Jenderal Sudiarto No. 75 Pasar Kliwon. Atau tepatnya di sekitaran alun-alun selatan Keraton Solo bisa jadi pilihan tepat. Nasi dengan mie soon dan suwiran daging ayam yang disiram kuah bening kaya aroma rempah ini dijamin akan membuat pagi harimu lebih bersemangat.
Telur puyuh, sosis, tempe goreng, jeroan sapi, perkedel kentang, sate uritan, bakwan; berbagai lauk-pauk yang tersaji di meja menjadikan momen sarapan sotomu jadi lebih meriah. Warung Soto Gading sudah ramai pembeli sejak buka jam 6 pagi. Warung ini juga jadi langganan pejabat lho. Beberapa yang pernah mampir antara lain: Joko Widodo, Megawati, Agum Gumelar, dan Mari Elka Pangestu.
9. Warung Pecel Bu Kis
Sekilas Warung Pecel Bu Kis nampak seperti warung-warung pecel lainnya. Namun, warung pecel ini punya satu menu andalan yaitu sambel tumpang. Punya cita rasa gurih, manis, dan sedikit pedas. Sambal tumpang nikmat disantap dengan nasi hangat atau bubur beras yang ditambah bayam segar dan tauge. Paduan irisan tahu putih, tahu goreng, krecek, rempah-rempah dan ‘tempe busuk’ sebagai bumbu memang luar biasa sedap.
Warung Pecel Bu Kis buka setiap hari mulai jam 7 pagi hingga jam 2 siang. Letaknya tepat di belakang Pengadilan Negeri Solo dan dekat dengan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah.
10. Sumber Bestik Pak Darmo
Makanan yang diadaptasi dari kuliner Belanda ini selalu bikin kangen. Olahan ‘biefstuk’ gaya Jawa ini melestarikan citarasa kolonial yang lezat
Bestik lidahnya disajikan lebih dulu, panas mengepul, berisi irisan lidah sapi rebus dengan genangan kuah kecokelatan encer. Ada sedikit jejak manis kecap manis, sedikit pala dan merica. Karena hanya ditumis maka bumbu tidak meresap ke dalam lidah sapi.
Lidah sapinya empuk lembut dengan rasa gurih. Ditambah dengan acar mentimun rasanya jadi manis, asam segar. Pas buat penghangat badan di malam hari.
Kalau mau mmapir ke warung Sumber Bestik Pak Darmo ini gampang sekali karena di Solo ada 5 cabang, yaitu Jl Dr Rajiman 209, Jl Honggowongso No 94 Serengan, Jl Sri Rejeki Dalam 7, Kompleks Stadion Sriwedari dan Jl Perintis Kemerdekaan. Sementara itu ada juga cabang di Sukoharjo, Semarang, Bandung, Jakarta hingga Denpasar, Bali.
Menpar Arief Yahya paham, masih ada 1001 macam jenis masakan Solo yang tidak masuk dalam 10 top kuliner ini. Tetapi, 10 rekomendasi ini layak Anda coba ketika menikmati liburan ke Solo. Selamat berlibur, Selamat berwisata kuliner! Salam #Genpi #PesonaIndonesia #PesonaKulinerLebaran2018 #10TopPesonaKulinerLebaranSolo. (ist)
Rektor Ubaya Prof Joniarto Parung PhD saat peresmian Museum Temporary of Ubaya. Foto: Suarasurabaya.net.
Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2018 lalu, Universitas Surabaya (Ubaya) meresmikan museum temporary of Ubaya yang bekerjasama dengan Museum Gubug Wayang Yensen di gedung Perpustakaan Ubaya.
Mengusung konsep ‘Spirit of Majapahit’, Museum Temporary of Ubaya ingin mengajak kembali masyarakat maupun mahasiswa untuk melihat peradaban Indonesia yang pernah berjaya pada masa kerajaan Majapahit dengan multikultural yang tumbuh dalam kerajaan tersebut.
Diungkapkan Direktur Museum Gubug Wayang Yensen Project Indonesia Cyntia Handy bahwa Kerajaan Majapahit dulunya dikenal sebagai kerajaan yang menyatukan Nusantara. Pihaknya menilai jika sudah seharusnya generasi muda maupun masyarakat luas belajar dari nenek moyang yang sudah memiliki keberagaman budaya maupun agama sejak dulu.
“Kerajaan Majapahit banyak sekali keberagamannya mulai dari India, China, Persia bahkan percampuran yang akhirnya membentuk suatu identitas itu. Mereka bahkan memiliki jangkauan wilayah lebih luas karena mereka memiliki ‘Spirit of Majapahit’ yaitu berbudaya, berbangsa dan beragama,” paparnya, seperti dikutip Harian Bhirawa.
Sehingga, lanjut dia mereka memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi sekaligus tentu saja mereka mempunyai arahan dari Tuhan yang Maha Esa.
Cynthia Handy yang juga Mahasiswa Psikologi Ubaya ini juga menilai jika apa yang dijaga kerajaan Majapahit waktu itu, sangat linier dengan visi misi Ubaya saat ini. Hal tersebut bisa terlihat dari tag line Ubaya yang sangat menjaga multikultural.
“Dengan adanya Spirit of Majapahit dengan berbagai keberagaman dari Ubaya ini tentu menjadi ikatan yang kuat bagi warga Ubaya,” imbuhnya
Selain itu, tambahnya pihaknya juga ingin mengajak mahasiswa mempunyai spirit kesatuan dan persatuan yang tinggi sehingga bersinergi untuk berinovasi dan berkreasi untuk kedepannya.
Dalam Museum Temporary of Ubaya, mereka menampilkan sebanyak 774 koleksi terakota dari masa Kerajaan Majapahit. Terakota yang terpajang menurut panitia berusia 500 hingga 700 tahun. Selain itu, terakota tersebut di temukan sekitar abad ke 14 dan 15.
“Kenapa terakota? Karena ini adalah pondasi awal mula kita menyelamatkan terakota tertua peninggalan Majapahit. Setelah itu kita akan bergerak ke arah selanjutnya, yaitu wayang, topeng dan sebagainya,” urai Direktur Museum Gubug Wayang Yensen Project Indonesia.
Ia berharap dengan adanya museum temporary of Ubaya yang mengusung ‘Spirit of Majapahit’ bisa menjadi e-memory bagi generasi muda bangsa maupun masyarakat, untum menjaga keharmonisan dan kesatuan NKRI. “Dengan multikultural yang dimiliki Ubaya salah satunya, saya berharap Ubaya bisa menjadi batu oenhuru untuk menjaga multikuktural bangsa,” pungkasnya.
Ditemui di tempat yang sama, Rektor Ubaya Prof Joniarto Parung PhD menuturkan jika peresmian museum temporary of Ubaya sebagai bentuk dari kebijakan pemerintah tentang Pengembangan karakter pendidikan.
“Salah satu upaya yang kita lakukan adalah dengan mempelajari budaya asli bangsa Indonesia. Kita bisa belajar dari sejarah bangsa dalam pengembangan karakter ini,” sahutnya.
Prof Joniarto Parung berpesan bahwa setiap masyarakat dari berbagai kalangan harus menghargai budaya asli bangsa Indonesia.
Pihaknya menghimbau agar masyarakat juga belajar mengenai apa yang diperolehnya saat ini yang merupakan hasil dari alkulturasi berbagai budaya yang dimiliki bangsa.
“Jaman dulu bangsa kita aktif berinteraksi dengan berbagai bangsa yang ada di dunia. Kita harus terbuka, hati dan pikiran kita untuk melihat perubahan dunia dan menjalin kerjasama dengan mereka,” tandasnya.
Secara keseluruhan terdapat 774 terakota yang ada di Museum Temporary of Ubaya. Sebanyak 767 terakota asli berasal dari zaman Kerajaan Majapahit.
Sedangkan 7 terakota merupakan hasil replika. Meskipun hanya sebuah replika, namun proses pembuatannya dibuat sama persis oleh pengrajin batu bara yang disebut Linggan dengan terakota yang asli.
Selain menampilkan berbagai artefak, museum temporary of Ubaya juga mendatangkan para Linggan asal Trowulan yang disebut merupakan pusat Kerajaan Majapahit pada zaman dahulu.
Pada Museum temporary of Ubaya, para Linggan menunjukkan keahliannya sebagai pengarajin batu bara dalam mengukir logo Universitas Surabaya (Ubaya)
Adapun berbagai bentuk terakota yang pajang dalam museum temporary of Ubaya adalah kendi air, celengan babi, koin-koin, pondasi sumur, tungku, gerabah, candi, hiasan rumah dan lainnya.
“Harapan saya, museum ini kan seperti media bagi kita untuk refleksi, bagaimana sih keadaan yang terjadi saat masa lalu. Melalui ini kita bisa belajar bersama dan kemudian melestarikan sejarah yang ada. Ubaya sebagai bagian dari Bangsa Indonesia sama-sama mencari jati diri kita dahulu seperti apa,” ulas Ketua Departemen Mata Kuliah Umum (MKU) Ubaya Aluisius Hery.
Rajut Kembali Multikultural
Kondisi Indonesia yang sedang diguncang isu multikultural secara terus menerus, dinilai beberapa kalangan mengalami penurunan dalam peradaban bangsa.
Penilaian tersebut salah satunya datang dari ketua tim arkeolog Gubug Wayang Yensen Project Indonesia Christiawan. Menurut Christiawan peradaban bangsa saat ini mengalami penurunan dari berbagai aspek. Misalnya dalam kehidupan beragama, sosial masyarakat, sosial politik dan sebagainya
“Kalau kita membangun mental kita, dan merubah paradigma kita dalam menerima keadaan multikultural bangsa dan mau belajar tentang peradaban bangsa waktu itu, perubahan akan terjadi,” ungkapnya.
Di mana, lanjut dia peradaban bangsa pada masa itu sangat menjaga keseimbangan antar manusia dengan alam.
“Prinsip mengelola alam dan prinsip peradaban sangat dijunjung pada waktu itu. Konteksnya selalu dikembalikan ke alam. Bagaimana ada prosesi yang diperuntukkan oleh alam. Oleh karenanya keseimbangan antara manusia dengan alam, itu yang perlu kita tanamkan pada generasi saat ini,” imbuhnya.
Salah satu media tersebut, katanya adalah artefak. Di mana dalam sebuah artefak masyarakat bisa belajar dan memahami tentang keberagaman bangsa Indonesia pada waktu peradaban kerajaan maupun manusia purba.
Christiawan menjelaskan bahwa banyak hal yang diambil dari sebuah artefak, baik dari sisi sejarah maupun arsitektural. “Beberapa artefak justru menunjukkan harmoni pada abad itu,” tambahnya.
Sebagai arkeolog Christiawan menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia perlu belajar dari ‘Spirit Majapahit’ untuk mengembalikan multikultural yang sudah mulai hilang dalam kehidupan masyarakat.
“Kita bisa belajar dari spirit Majapahit yang menunjukkan semangat dan energi multikultural pada zaman dulu yang cukup substansi dan sederhana terutama dalam perbedaan beragama,” pungkasnya. (bhi)