Remaja Putri ‘Penjaga’ Mata Air Jolotundo. Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan.
Sebanyak 33 remaja putri di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur berjalan kaki sejauh tiga kilometer menuju situs petirtaan Jolotundo. Mereka menggenggam erat kendi berisi air suci.
Terlihat, mereka juga diriingi oleh arak-arakan gunungan hasil bumi dan jajanan pasar yang digotong secara bergantian oleh ribuan warga setempat.
Siang itu, Kamis, 28 September 2017, warga Desa Seloliman menggelar ritual yang sudah turun temurun dari zaman nenek moyang, yakni ritual ruwat sumber mata air Jolotundo. Ritual ini, dilakukan dengan cara menyatukan 33 jenis air suci yang diambil dari empat penjuru mata angin di sekitar gunung Penanggungan.
“Setiap tahun di bulan Suro, ini dilakukan ritual Kebumi Sumber Suci Petirtaan Jolotundo,” tutur sesepuh Desa Seloliman Djari seperti dilaporkan Liputan6.com.
Dia menjelaskan, ritual ini harus tetap dilakukan agar sumber mata air di situs peninggalan Kerajaan Majapahit, serta sumber mata air di kecamatan Trawas tidak mengering. Pasalnya, warga sekitar pernah dilanda kekeringan pada tahun 2008 silam, tak terkecuali di sumber air Jolotundo.
“Pernah kejadian tahun 2008, seluruh sumber air mengering karena saat itu warga tidak melakukan ritual ruwat ini,” kata dia.
Dalam prosesi ruwat tersebut, sesepuh Desa Seloliman terlebih dahulu melakukan pengunduhan 33 jenis air suci yang tersebar di empat penjuru mata angin yang mengelilingi gunung Penagngungan. Pengunduhan air suci tersebut dilakukan saat malam satu Suro lalu. Kemudian air itu ditampung dalam wadah berupa kendi yang sudah didoakan.
Ke-33 air suci lantas dikumpulkan dan dibacakan doa di depan situs. Setelah selesai, semuanya langsung disatukan atau dicampur menjadi satu dengan air Jolotundo dalam gentong khusus. “Ritual ini harus terus dilakukan setiap bulan Suro agar bisa tetap memberi manfaat kepada masyarakat,” ucap Djari.
Ritual ditutup dengan rebutan hasil bumi dan jajanan pasar yang sebelumnya telah diarak. Ratusan wisatawan yang memadati area petirtaan pun rela berdesakan untuk ikut berebut.
Sementara itu, Camat Trawas M Iwan Abdillah menuturkan, sumber air di Petirtaan Jolotundo sempat dikaji oleh sejumlah ilmuwan. Penelitian itu menunjukkan, bahwa air tersebut menjadi sumber mata air terjernih nomor dua di dunia setelah air zam-zam di Arab Saudi.
Oleh karena itu, masyarakat harus melakukan perawatan dan pelestarian agar mata air ini tidak kering. “Kita tetap harus melestarikan budaya dan tradisi nenek moyang. Sebab, sumber air merupakan hal pokok yang ada dikehidupan kita,” katanya.
Iwan berharap, ritual yang dilakukan tersebut bukan hanya sebagai acara seremonial, melainkan juga dijadikan jati diri warga lokal. “Semoga ini menjadi langkah konkrit, untuk melestarikan tradisi dan menjaga sumber airnya,” ujarnya. (ist)
Hanya ditampilkan di bulan Suro, Wayang Gandrung menjadi unik dan bearoma mistis. Foto: Iiekafitri.blogspot.co.id.
Nama Wayang Gandrung bagi orang Kediri dan sekitarnya dianggap wayang mistis. Selain selalu dijamas dan hanya ditampilkan di bulan Suro atau kepentingan lain misalnya bagi mereka yang punya ujar (nazar).
Wayang Gandrung menurut kisahnya terlahir dari sebuah bongkahan kayu yang terdampar di sungai pada saat terjadi banjir di daerah Pagung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri sekitar abad 17.
Bahkan tentang keunikan wayang ini, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia di era SBY, Jero Wacik pernah memberikan penghargaan khusus kepada Mbah Kandar (almarhum) sang dalang, sebagai maestro seni tradisi.
Beberapa keunikan yang berhasil ditelusuri berdasarkan penuturan ahli warisnya antara lain, wayang ini terlahir dari bongkahan kayu jati yang hanyut saat terjadi banjir, seperti dituturkan secara turun temurun oleh Lamidi (60) sang pewaris ketujuh Wayang Gandrung dari kakek buyutnya Ki Demang Proyosono.
Kayu jati yang terdampar itu dibelah oleh orang misterius setelah penduduk Pagung, gagal membelahnya.
“Wayang ini adalah peninggalan kakek buyut saya yakni Demang Proyosono, tokoh spiritual dari Surakarta yang sedang topo (bertapa) di Gunung Wilis. Wayang ini hanya boleh dibuka saat pementasan saja selain itu tidak boleh,” tutur Lamidi, Senin (9/10) kepada beritajatim.com.
Pertunjukkan Wayang Mbah Gandrung digelar di Balai Desa Pagung, Kecamatan Semen. Agenda rutin setiap bulan Suro atau Muharram dalam kalender Islam dihadiri beberapa orang warga. Aparat keamanan juga hadir menyaksikan sekaligus menjaga keamanan.
Lamidi menambahkan, kemana saja ketika masih bisa dijangkau, mulai wayang, kenong, gong, rebab, kendang, gambang, dipikul/diangkut dengan jalan kaki. Pilihan dengan jalan kaki ini lantaran pernah pada suatu ketika peralatan pentas pagelaran wayang diangkut dengan gerobak, gerobaknya tidak bisa jalan. Demikian pula ketika diangkut mobil, mobil itu pun mogok.
Ketiga, saat penentuan alur cerita dalam pagelaran wayang, sang dalang seperti Mbah Kandar tidak memiliki otoritas menentukan lakon. Semua hanya berdasarkan wangsit yang diterima Lamidi, keturunannya, setelah dirinya melakukan laku ritual.
Peran kuat Lamidi dalam pengaturan proses ‘mungel’ (proses pementasan) merambah ke seluruh aspek aktualisasi Wayang Gandrung, baik fisik maupun psikis. Hal ini membangun kerangka mistik yang terstruktur bagi menguatnya mitos masyarakat terhadap Wayang Gandrung.
Wayang Gandrung kali pertama ditemukan di dalam kayu ada empat yakni Wayang Mbah Gandrung Kakung (Panji Asmorobangun), Wayang Mbah Gandrung Putri (Galuh Candrakirono), Wayang Joko Luwar dan Wayang Raden Sedono Popo, namun setelah disimpan dalam kotak keempat wayang tersebut membawa teman-temanya kurang lebih 40 buah.
Gamelan mulai ditabuh, pertanda pagelaran dimulai, dengan gendhing jejer (adegan yang mengawali pertunjukan wayang), sang dalang menundukkan kepala membaca mantra kemudian mulai melantunkan sulukan.
Sulukan yang dilantunkan bernada sangat miring bahkan sliring (sliring dalam pemahaman nada tembang di Jawa berarti tidak sesuai dengan nada gamelan) seperti pada lantunan kidung Bali.
Dalang memainkan gunungan dengan menggerakkan ke kiri dan ke kanan kemudian ke tengah, gunungan ditancapkan persis di tengah gawangan.
Kemudian dikeluarkan sosok wayang bercat hitam, profil tubuh dan wajahnya mirip tokoh Semar, gerakan yang dilakukan dalam memainkan tokoh ini berakar pada pola gerakan ulat-ulat dan tancepan dalam sabet wayang kulit. Tokoh ini hanya dimainkan sebentar kemudian dimasukkan kembali ke dalam sarung.
Adegan berikutnya adalah berdasarkan wangsit sang pewaris dalam setiap pertunjukan yang akan dilakoni oleh sang dalang. Dalam setiap pementasan lakon selalu berubah-ubah sesuai wangsit. Beberapa lakon tersebut antara lain Barong Skeder, Bagawan Mintuno, Kuda Sembrani, Naga dan lain sebagainya.
Estetika dan Etika
Pagelaran seni Wayang Gandrung, menurut laporan Merdeka.com sebenarnya mengajarkan manusia untuk memiliki rasa seni estetika dan etika serta mengandung ajaran moral. Dalam Wayang Gandrung tentunya banyak mengandung ajaran moral yang bisa kita terapkan dalam kehidupan normal biasa.
Ajaran moral Wayang Gandrung bisa dikupas secara sederhana dari kata gandrung itu sendiri. Gandrung dalam bahasa Jawa berarti senang, cinta atau suka. Orang yang mengalami gandrung bisa saja seperti orang yang lupa akan hal lain kecuali satu hal yakni yang dicintainya. Hal yang dicintai itu bisa seseorang, sesuatu ataupun perilaku kehidupan yang baik di dunia ini.
Menurut Lamidi, dalam perkembangannya untuk memberikan ajaran kepada anak cucunya, maka Ki Demang Raden Proyosono pertama memberikan sebutan ‘Gandrung’ berarti suka atau cinta untuk berbuat kebaikan dan suka menolong sesama umat manusia atau sesama makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Ungkapan senada juga disampaikan sang dalang Mbah Kandar, menurutnya sesuai pemberian nama oleh Ki Demang Raden Proyosono, kata gandrung di sini berarti suka akan menolong orang lain yang mengalami musibah atau segala permasalahan yang mereka hadapi. Sehingga Wayang Mbah Gandrung ini ada sebagai sarana untuk mengatasi segala kesulitan hidup.
Keberadaan Wayang Mbah Gandrung menjadi simbol atau ikon ‘Wayang Pangayoman’, karena wayang tersebut memiliki kekuatan magis yang dapat memberikan pemecahan dalam kehidupan warga Desa Pagung dan sekitarnya. Sehingga Wayang Gandrung bisa bertahan secara turun temurun hingga lebih dari 300 tahun sampai saat ini. (ist)
Arkeolog menemukan Arca Dwarapala di Kediri. Foto: Andhika Dwi/Detik.com.
Benda purbakala berupa arca Dwarapala ditemukan di area Candi Gempur, Desa Adan adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Arca setinggi 180 Cm itu diduga peninggalan Kerajaan Kadiri.
Arca Drawapala ditemukan Tim Penelitian Arkeologi Nasional, pada 22 September 2017 lalu. Saat ini tim melakukan ekskavasi di area Candi Gempur, setelah menemukan arca Dwarapala di kedalaman 80 Centimeter.
Kondisi Arca Dwarapala terlihat pada posisi rebahan. Adapun kerusakan tampak pada hidung, jari kelingking patah dan jempol tangan kiri patah.
Arca yang terbuat dari batu andesit ini sangat berbeda dengan arca Dwarapala yang ditemukan oleh tim Arkenas di daerah Jawa Tengah, pada lengan dan bahu arca ini terlihat membawa tali tambang.
Sayangnya, penggalian belum rampung sehingga membuat tangan kiri belum terlihat seluruhnya. Biasanya, pada tangan kiri arca Dwarapala membawa gada atau pentungan.
Dwarapala merupakan patung dengan ketinggian 180 centimeter, gambaran penjaga sebuah bangunan suci atau penting dimasa itu, atau bisa juga penjaga pintu masuk candi. Menurut petugas, arca ini merupakan peninggalan Kerajaan Kadiri yang berusia sekitar 650 tahun.
Melihat temuan itu tim puslit arkenas juga melakukan eskavasi di tanah sekitarnya. Hasilnya 10 meter ke arah selatan dari arca tersebut juga ditemukan lapik atau sebuah batu yang digunakan untuk meletakkan arca.
Sukmawati Susetyo, Ketua Tim Pusat Penelitian Arkenas mengatakan, patung Dwarapala di Kediri ini terbilang ukuran sedang, namun Makaranya, merupakan terbesar di Jawa Timur, 2,3 Meter.
Makara merupakan perpaduan sejumlah binatang mistis yang biasa berada di pinggir bibir tangga sebelum masuk candi. Makara ini sebelumnya ditemukan pada April 2016 kemarin oleh tim.
“Selain berbeda dengan Dwarapala lainnya, Makaranya terbilang cukup besar, paling besar malah di Jawa Timur semoga meskipun waktu kami terbatas, tapi dalam waktu dekat tim dapat segera mengungkap sejarah arca yang kami duga pada masa Hindu,” ucap perempuan yang sebelumnya juga melakukan ekskavasi pada tahun 2016 lalu saat ditemui Detikcom di lokasi situs.
Sementara itu pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan (BPCB) Jawa Timur akan berkoordinasi dengan pihak pemda setempat terkait pelestarian temuan dari para peneliti tersebut.
BPCB Trowulan berharap pemerintah Kabupaten Kediri dapat menyediakan tempat sementara untuk menyimpan temuan benda purbakala itu.
“Ini yang punya gawe tim puslit Arkenas, kalau kami BPCB nantinya bertugas melestarikan setelah diekspos, kami juga berharap peran pemerintah kabupaten agar juga menyediakan tempat untuk menyimpan dan merawat temuan ini,” jelas Andi Muhammad Said, kepala BPCB Jawa Timur, yang kebetulan datang dan melihat jalannya ekskavasi.
Ekskavasi yang dilakukan oleh tim puslit Arkenas rencananya akan berakhir pada tanggal 4 oktober mendatang. Tim akan kembali melakukan penelitian di lokasi tersebut pada tahun 2018 mendatang. (dtc)
Komunitas Pelaku Usaha Mojokerto kompak membuat 20.400 onde-onde. Foto: Dian Kurniawan/Liputan6.com.
Komunitas Pelaku Usaha Mojokerto (KPUM), Jawa Timur kompak membuat jajanan onde-onde sebanyak 20.400 buah. Mereka pun sukses mencatatkannya di buku Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan nama Sajian Onde-onde Terbanyak.
Sedikitnya 50 pelaku usaha terlibat dalam pembuatan jajanan khas Kota Mojokerto tersebut. Jumlah onde-onde yang mereka produksi melampaui target yang direncanakan yakni sebangak 20 ribu buah.
“Jumlah ini memecahkan rekor yang juga dibuat di Kota Mojokerto sebelumnya sebanyak 14.603 onde-onde pada 14 Februari 2010 lalu,” kata Senior Manager Muri Sri Widayati kepada Liputan6.com, Sabtu (30/9) lalu.
Sebelum MURi menghitung jumlahnya, seluruh onde-onde itu terlebih dulu diarak oleh panitia mengelilingi Kota Mojokerto. Hingga kemudian dikumpulkan dan menjadi rebutan warga di lapangan Raden Wijaya, jalan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon.
Sri menjelaskan, sebelum prestasi bernomor rekor 8116/R.MURI/IX/2017 itu tercapai, MURI telah beberapa kali mencatatkan pencapaian warga Mojokerto yang bertajuk onde-onde. Untuk rekor pertama pada tahun 2004, dengan kategori Sate Onde-onde terpanjang 491 meter dan penggorengan onde-onde sebanyak 464 wajan.
“Sebelum rekor ini, Mojokerto sudah beberapa kali membuat rekor unik berbagai kategori. Total keseluruhan sudah ada 11 rekor, termasuk saat ini,” katanya.
Sementara itu, Tokoh KPUM Abdul Rachman menjelaskan, pihak yang terlibat dalam pembuatan jajanan berbentuk bulat kecil itu bukan hanya dari pelaku usaha saja, namun masyarakat umum khususnya ibu PKK juga ikut berpartisipasi.
“Karakter masyarakat Mojokerto tidak lepas dari DNA Majapahit. Mau tidak mau budaya yang tinggi itu akan selalu ada, seperti budaya gotong royong,” ucapnya.
Menurut Rachman, kebersamaan dan kekompakan yang tercermin dalam proses pembuatan onde-onde adalah representasi kondisi masyarakat yang guyub dan sejahtera. Untuk itu, kekompakan inilah yang menjadi rahasia kesuksesan setiap aktivitas masyarakat di Kota Mojokerto.
“Ini adalah bagian istimewa yang dipersembahkan masyarakat untuk kota tercinta, yakni pemecahan Rekor Muri Onde-onde terbanyak,” ujarnya. (ist)
Workshop Membatik di Hotel Aston Marina. Foto: Rieska Virdhani/JawaPos.com..
Masyarakat Indonesia harus bangga memakai kain batik. Rasa cinta terhadap kain Nusantara ini harus terus digelorakan dengan cara memadukannya di kegiatan sehari-hari.
Batik adalah sebuah teknik atau proses menuliskan atau menegaskan kain bergambar dengan menggunakan malam atau lilin yang pengolahannya diproses sehingga memiliki ciri khas.
Sejarah panjang perjalanan batik hingga kini akhirnya batik diakui organisasi dunia Unesco sebagai warisan budaya dunia pada 2 Oktober 2009.
Karena itulah, sejak saat itu, Indonesia memperingati hari batik nasional setiap 2 Oktober. Setiap sekolah, kelembagaan, dan perusahaan mewajibkan penggunaan pakaian batik satu hari dalam sepekan.
Sebetulnya proses meraih pengakuan itu bukan hal yang mudah. Semula perjuangan diawali karena perlawanan Indonesia karena tak mau batik diklaim oleh negera tetangga Malaysia.
Karena itu sejak tahun 2008, pemerintah Indonesia mendaftarkan batik ke dalam deretan representatif budaya tak benda warisan manusia Unesco atau Representative List of Intangible Cultural Heritage-Unesco. Kemudian diterima resmi oleh Unesco pada 9 Januari 2009 untuk diproses. Barulah pada 2 Oktober 2009 Unesco mengakui batik.
“Hampir semua provinsi, daerah di Indonesia punya batik. Karena batik itu adalah teknik atau proses. Awalnya batik diklaim punya Malaysia. Namun setelah diakui Unesco lalu perkembangan batik menjadi pesat saat ini,” kata Pengajar Teknik Batik di Museum Tekstil, Sugeng Riadi dalam workshop membatik di Hotel Aston Marina Jakarta seperti dikutip Jawapos.com, Minggu (1/10).
Dalam rangka memeringati Hari Batik Nasional, hotel Aston Marina Ancol menggelar workshop membatik kepada para pengunjung. Kegiatan itu tentu menjadi salah satu rangkaian pengenalan dan pelestarian terhadap batik, bahwa batik adalah warisan budaya yang sangat relevan diperkenalkan kepada generasi milenial.
“Kami juga merasa terpanggil untuk memperkenalkan warisan budaya batik kepada masyarakat dengan konsep yang berbeda namun tujuannya sama. Karena itu kami berkolaborasi dengan Museum Tekstil,” jelas Marketing Communication Hotel Aston Marina, Paundra Hanutama.
Dilansir dari laman Pemprov Jawa Barat resmi, sejarah perjalanan batik dari sebelum akhirnya diklaim Malaysia dan diakui Unesco, melalui proses yang sangat panjang. Dimulai sejak zaman kerajaan Majapahit, ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulungagung.
Mojokerto adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit.
Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan di daerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit.
Saat itu petugas-petugas tentara dan keluarga kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal diwilayah Bonorowo atau Tulungagung membawa kesenian membuat batik asli.
Daerah pembatikan sekarang di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Di luar daerah Kabupaten Mojokerto ialah di Jombang.
Pada akhir abad ke-XIX ada beberapa orang kerajinan batik yang dikenal di Mojokerto, bahan-bahan yang dipakai waktu itu kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi dan sebagainya.
Obat-obat luar negeri baru dikenal sesudah perang dunia kesatu yang dijual oleh pedagang-pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik dari luar negeri.
Cap dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya di pasar Porong Sidoarjo, Pasar Porong ini sebelum krisis ekonomi dunia dikenal sebagai pasar yang ramai, di mana hasil-hasil produksi batik Kedungcangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual.
Riwayat pembatikan di daerah Jawa Timur lainnya adalah di Ponorogo, yang kisahnya berkaitan dengan penyebaran ajaran Islam di daerah ini.
Daerah perbatikan lama yang bisa kita lihat sekarang adalah daerah Kauman yaitu Kepatihan Wetan sekarang dan dari sini meluas ke desa-desa Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut.
Waktu itu obat-obat yang dipakai dalam pembatikan ialah buatan dalam negeri sendiri dari kayu-kayuan antara lain pohon tom, mengkudu, kayu tinggi. Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah perang dunia pertama yang dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng dari Banyumas.
“Saat ini, lilin atau malamnya hanya bisa dibeli di daerah Pekalongan atau Solo dan Jogjakarta. Sejarah batik begitu panjang, dan hal itu akan mempengaruhi setiap tekniknya. Setiap daerah saat ini membuat batik. Proses membatiknya sama. Pewarnaannya sama. Tapi tiap daerah punya ciri sendiri dan yang membedakan adalah keindahan motifnya,” tutup Pengajar Teknik Batik Museum Tekstil, Sugeng Riadi. (jpg)
Tari Remo adalah salah satu tarian khas Jawa Timur. Foto: VOA/Petrus Riski.
Alunan musik mengiringi gerakan rancak yang ditarikan oleh belasan anak usia Sekolah Dasar, yang sedang berlatih tari Remo di Laboratorium Remo, Taman Budaya Jawa Timur, di Surabaya. Sesekali teriakan memberi aba-aba dari sang pelatih membimbing anak-anak untuk bergerak secara benar sesuai pakem tarian.
Tari Remo adalah salah satu tarian khas Jawa Timur, yang berkembang di beberapa kota seperti Surabaya, Mojokerto, dan Jombang. Tarian ini pada awal mulanya merupakan bagian pembuka dari pertunjukan seni tradisional Ludruk, yang berisi parikan dan kidungan, serta seni peran rakyat kelas bawah.
Remo dan Ludruk sudah dikenal sejak jaman perjuangan kemerdekaan, yang digunakan sebagai sarana memompa semangat perlawanan rakyat terhadap penjajah.
Menurut pegiat seni sekaligus pelatih tari Remo di Sanggar Laboratorium Remo Surabaya, Dini Ariati, semangat juang yang tidak kenal menyerah merupakan nilai yang menjadi inti dari tari Remo.
“Ya itu merupakan ciri atau karakter dari anak Surabaya, arek Suroboyo sendiri, yang dinamis, yang lugas. Tari ini termasuk tari kepahlawanan, tari heroik. Jadi di sini yang bisa kita ambil semangatnya, semangat juangnya,” papar Dini seperti dikutip VOA Indonesia.
Dini Ariati yang menekuni tari Remo selama kurang lebih 20 tahun, merasakan perjuangan mengangkat tari Remo agar semakin disukai banyak orang. Dukungan dari pemerintah menjadi kunci utama seni tradisional ini tetap bertahan, dan semakin diminati oleh masyarakat umum maupun pelaku seni. Banyaknya kegiatan yang menghadirkan seni tradisional diyakini akan semakin memperkokoh posisi tari Remo.
“Untuk lima tahun terakhir ini, karena memang banyak event-event pemerintahan yang melibatkan anak-anak ya, anak-anak usia sokolah terutama ya. Jadi semisal untuk HUT Surabaya itu ditampilkan kolosal tari Remo. Jadi dengan begitu kan menambah minat anak untuk, kok iso nari Remo yo, nari ndok endi (kok bisa menari Remo ya, menari di mana). Jadi kalau pun ada kegiatan yang seperti sister city, dengan Jepang atau yang lain, jadi budaya kita jangan sampai tergerus, tetap harus kita junjung. (Kalau tidak), sayang kan?,” imbuhnya.
Selain dukungan pemerintah, Dini juga berharap masyarakat luas khususnya orang tua, bersedia memperkenalkan budaya tradisional kepada anak-anak mereka. Pengenalan sejak dini kesenian tradisional pada anak akan menjadi fondasi yang kuat dari orang tua untuk mengajarkan anaknya mencintai seni budaya tanah air.
“Saya berharap juga peran serta wali murid atau orang tua untuk menumbuhkan ya, menumbuhkan minat itu dengan mengajak putera-puterinya, entah jalan-jalan ke sanggar, atau memperlihatkan lebih apresiatif menikmati seni-seni yang ada di Surabaya ini, karena memang banyak pagelaran-pagelaran seni yang memang sudah digelar tanpa ada tiket. Jadi harapan saya semoga para orang tua, masyarakat juga, lebih mencintai budaya tradisional, dan akhirnya putera-puterinya juga akan tumbuh perasaan mencintai,” harap Dini.
Meski peminat tari Remo semakin bertambah, jumlah sanggar tari Remo khusus anak di Surabaya baru ada empat, sehingga masih perlu ditambah untuk semakin mengenalkan tari khas Jawa Timur ini kepada anak-anak.
Penari muda sekaligus pelatih remo, Aprilia Rahma Putri mengatakan, dukungan pemerintah yang memberikan ruang dan kesempatan tari Remo untuk ditampilkan harus dimanfaatkan dengan baik. Generasi muda dan anak-anak, harus mau mengangkat tari tradisional dengan mempelajarinya, dibandingkan mempelajari tarian dari negara lain.
“Kalau di Surabaya alhamdulillah sedang banyak yang minat karena memang di Surabaya sedang digalakkan seni budayanya, lagi diangkat. Ya saya harap, anak-anak yang masih kecil, anak-anak yang masih muda-muda itu mengangkat budaya kita sendiri, bukan budayanya orang (bangsa) lain, seperti belajar tari (modern) dance, yang dipelajari sebetulnya tari tradisi dulu supaya tarinya kita tidak hilang diambil oleh orang (bangsa) lain,” tutur Aprilia.
Sementara itu, Maureen Fausta, siswi kelas 1 SDK St. Aloysius Surabaya mengatakan, kegemarannya pada tari Remo bertujuan untuk melestarikan tari tradisional ini hingga dikenal di dunia internasional. “Memang saya suka tari Remo, dan itu tarian tradisional Jawa Timur. Jadi saya ingin melestarikannya,” tandas Maureen. (ist)
Keinginan Cak Nur (Nurwiyatno) untuk melestarikan tradisi Jawa tidak bisa dicegah. Upaya pelestarian budaya bangsa demi tegaknya NKRI, membuat Cak Nur menghadiri undangan masyarakat dalam kegiatan ‘Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo’.
Kegiatan ini, merupakan kegiatan rutin suroan, masyarakat Dusun Biting Desa Adat Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto yang jatuh pada hari Kamis Legi, 7 Suro atau 28 September 2017.
Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo adalah doa yang ditujukan kepada Tuhan YME agar sumber mata air di Desa Seloliman tetap lancar dan bisa menghidupi seluruh warganya. Setiap tahunnya masyarakat Dusun Biting Desa Seloliman mengadakan ruwat sumber sebelum tanggal 10 bulan Suro (pengkalenderan Jawa).
Kegiatan yang dulunya hanya dilakukan oleh masyarakat Dusun Biting, kini telah berkembang menjadi kegiatan rutin Desa Seloliman dan diakui hingga tingkat nasional sebagai salah satu bentuk tradisi, kearifan lokal dalam menjaga pelestarian lingkungan.
Cak Nur (Nurwiyatno) meyakini kegiatan semacam ini harus dijaga kelestariannya karena telah terbukti kemanfaatannya bagi masyarakat luas. Menurut pemahaman Cak Nur, ruwat adalah cara masyarakat Jawa dalam berdoa kepada Tuhan YME (untuk tujuan tertentu) yang dalam prosesinya terdapat beberapa hal (ubo rampe) dan simbol-simbol nilai luhur kehidupan seperti yang telah dilakukan masyarakat Dusun Biting tersebut.
“Seperti yang kita ketahui bahwa, tradisi ruwatan ini bisa ditujukan untuk kepentingan seseorang, kelompok masyarakat maupun lingkungan dan kegiatan Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo ini, dapat kita kategorikan sebagai salah bentuk kegiatan, ruwat lingkungan,” kata Cak Nur kepada TimurJawa.com.
Tradisi (upacara/ritual) ruwatan hingga kini masih dipergunakan orang Jawa, sebagai sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosa/kesalahannya yang akan berdampak pada kesialan di dalam hidupnya.
Ruwatan di Jawa awalnya diperkirakan berkembang di dalam cerita Jawa kuno, yang isi pokoknya memuat masalah penyucian, yaitu agar menjadi suci kembali, atau meruwat berarti: mengatasi (terhindar) dari kesusahan (masalah) dengan cara doa dan mengadakan pertunjukan/ritual dengan media wayang yang mengambil tema (cerita) Murwakala.
Ruwat Sumber di Desa seloliman ini ditujukan agar sumber mata air yang berada di sekitar dusun atau desa tersebut tetap lancar dan terus menghidupi masyarakat baik melalui pertanian maupun kebutuhan sehari-hari utamanya untuk minum dan makanan.
Dengan tempat prosesi ruwat sumber yang diadakan di Patirtan Jolotundo, membuat kegiatan ruwat sumber masyarakat Dusun Biting ini lebih dikenal masyarakat luas dengan ‘Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo’.
Sumber mata air di Patirtan Jolotundo selain dipercaya memiliki kekuatan (kemanfaatan tertentu) bagi para pengunjungnya, juga merupakan sember mata air terbesar di areal Gunung Penanggungan dengan kualitas air yang luar biasa. Hal inilah yang menyebabkan hingga saat ini Patirtan Jolotundo ramai dikunjungi baik turis lokal maupun manca negara. (oni)
Ludruk adalah kesenian tradisional asli Jawa Timur. Merupakan drama tradisional yang dipergelarkan dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari serta cerita perjuangan rakyat Jawa Timur yang terkadang tidak tercatat di dalam buku buku sejarah Nasional Indonesia.
Ludruk yang diawali dengan Tari Remo dan tokoh yang memerankan lakon serta diselingi lawakan dan diiringi musik gamelan ini membuat, seni tradisional ini makin menarik untuk disajikan pada jaman yang serba ‘modern’ seperti sekarang ini.
Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa, menggunakan bahasa khas “Arek” (Jawa Timuran). Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk, membuat ludruk mudah diserap oleh kalangan masyarakat bawah.
Beberapa faktor inilah yang membuat Cak Nur (Nurwiyatno) Calon Gubernur Jawa Timur tertarik dan memberi perhatian pada pelestarian Ludruk di Jawa Timur.
Kehadirannya di gedung kesenian Cak Durasim, Jl Gentengkali, Surabaya, Rabu (26/09) malam adalah untuk melihat Festival Ludruk Jawa Timur 2017 yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya DIY yang bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemprov Jawa Timur.
Dalam kesempatan ini, Cak Nur juga menemui grup kesenian ludruk yang sedang pentas mengikuti festival Festival Ludruk Jawa Timur 2017 ini.
Cak Nur tertarik dengan kesenian Ludruk karena Ludruk menceritakan cerita hidup sehari-hari kalangan wong cilik yang selalu mengingatkan dirinya untuk peduli dan mencari solusi atas problem yang dihadapi wong cilik.
Di UPT Taman Budaya Jawa Timur (Gedung Cak Durasim) Cak Nur menyempatkan bertemu Kepala UPT dan beberapa staf untuk menggali informasi tentang program pemerintah provinsi yang berkaitan dengan pelestarian seni-budaya Jawa Timur.
Beberapa hari lalu, Cak Nur juga menyempatkan diri datang di Javanologi dan Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) yang juga berkator di salah satu ruangan gedung Cak Durasim ini.
Dengan pengelola Javanologi Cak Nur mendapat penjelasan tentang program kegiatan Javanologi dalam pelestarian budaya Jawa melalui penyebaran informasi dan pengetahuan tentang budaya Jawa di Jawa Timur.
Dan di kantor DKJT, Cak Nur bertemu pengurus DKJT serta berdiskusi dengan para seniman dan budayawan perwakilan kota/kabupaten se jawa timur seputar pelestarian seni dan tradisi Jawa Timur.
Bukan hanya itu, Cak Nur sebagai Calon Gubernur Jawa Timur, sering menghadiri undangan kegiatan masyarakat pelestari adat budaya di Jawa Timur, termasuk diantaranya kegiatan “Ruwat Sumber Jolotundo” yang akan diselenggarakan Kamis (28/9) oleh masyarakat desa adat Seloliman Kec Trawas Kabupaten Mojokerto.
“Hal ini penting terus dilakukan karena budaya Jawa adalah salah satu akar budaya nasional yang harus terjaga kelestariannya,” kata Cak Nur kepada media.
Komitmen Cak Nur (Nurwiyatno) dalam perjuangan pelestarian seni budaya di Jawa Timur semakin hari semakin menguat karena salah satu pokok pikirannya selaku Calon Gubernur Jawa Timur adalah menjaga keutuhan dan tetap tegaknya NKRI melalui pelestarian seni dan budaya Jawa Timur. (oni)
Kegiatan East Java Art Roadshow, di Candi Simping Blitar. Foto: Beritajatim.com.
Kolaborasi Komunitas Budaya Sulud Sukma bersama Dewan Kesenian Jawa Timur, pekan lalu, berhasil menyulap reruntuhan Candi Simping menjadi sebuah monumen penanda bangkitnya Proklamator Majapahit di Blitar.
Melalui kegiatan East Java Art Roadshow, sebuah kegiatan dengan tajuk Getih-Getah Gulo Klopo Candi Simping, berhasil memukau 500 penonton dan 100 tamu undangan yang hadir.
Kegiatan ini, seperti dilaporkan Beritajatim.com, diawali dari menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 Stanza yang dipandu Duta Pariwisata Kabupaten Blitar, dilanjutkan dengan pertunjukan Musik Perkusi Jimbe, yang menggambarkan situasi peperangan antara Raden Wijaya yang memukul mundur tentara tar-tar pulang kembali ke negaranya.
Setelah itu terdapat Doa Budaya yang dibacakan dengan khidmat oleh Seniman Blitar, Redy Wisono, serta tari ritual ngabekti yang diiringi 12 orang penembang macapat lintas generasi yang menggambarkan pengabdian 4 istri Raden Wijaya dalam menginspirasi Raden Wijaya untuk mendirikan dan membesarkan kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Luhur Sejati, dalam sambutannya mewakili Bupati Blitar, menyatakan, Candi Simping menyimpan nilai budaya dan sejarah yang sangat besar, utamanya menyangkut didharmakannya abu proklamator majapahit di lokasi ini.
“Kedepan Blitar akan menjadikan Candi Simping sebagai tonggak kebangkitan bangsa, dimana akan ada event nasional pada 6, 7, dan 8 Desember 2017 dari Kemenpora dengan tajuk Kirab Pemuda Nusantara yang titik nol nya akan ditempatkan di lokasi ini. Selain itu kami berharap ada arsitek yang mampu merekonstruksi reruntuhan candi ini agar tampak megah kembali,” katanya.
Luhur Sejati dalam sambutannya juga mengapresiasi kemauan anak-anak muda yang tergabung dalam Komunitas Sulud Sukma dalam menggali nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika dan Gotong Royong. Menurut Luhur.
“Kesadaran untuk membangkitkan nilai budaya, harus diawali sejak dini. Tanpa adanya regenerasi, nilai sejarah dan budaya yang merupakan warisan leluhur kita pasti akan punah. Untuk itu kami akan selalu mendukung kegiatan seperti ini,” kata Luhur.
Acara ini dilanjutkan dengan Orasi Kebudayaan Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur dan diakhiri dengan pembacaan serta penandatanganan Deklarasi Simping yang berisikan komitmen untuk mengawal Kebhineka Tunggal Ika-an sebagai dasar persatuan bangsa, pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal, serta keberpihakan arah program kebijakan pada nilai budaya, sejarah, dan kesenian bangsa.
“Kami berterima kasih atas gotong royong dari semua pihak atas suksesnya kegiatan ini. Namun yang perlu diingat adalah komitmen mendatang untuk menjadikan candi simping tidak hanya sekedar bangunan cagar budaya. Namun juga sebagai tempat untuk menggali ide, menggali inspirasi, serta menggali ilmu pengetahuan tentang nusantara, khususnya tentang nilai-nilai kebangsaan, nilai kebhinekaan, serta nilai gotong royong yang mulai memudar, harus terwujud,” tutur salah satu penyelenggara kegiatan sekaligus anggota Komunitas Sulud Sukma, Rangga Bisma Aditya.
Tampak hadir dalam kegiatan ini, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kota dan Kabupaten Blitar, Kepala Dinas Pendidikan Kota Blitar, Perwakilan dari 6 pemuka agama dan aliran kepercayaan, Balai Pelestari Cagar Budaya Blitar, Dewan Kesenian Kota dan Kabupaten Blitar, Kepala Desa Sumberjati, Camat Kademangan, serta para budayawan senior Blitar. (ist)
Kawasan Batu Dodol kini menjadi bersih dan semakin indah. Foto: Banyuwangikab.go.id.
Kabupaten Banyuwangi ditunjuk Kementerian Pariwisata untuk mewakili Indonesia dalam kompetisi Kota Wisata Bersih tingkat ASEAN (ASEAN Clean Tourist City Award – ACTC) 2017.
Dalam kompetisi tersebut, destinasi wisata Banyuwangi akan bersaing dengan kota lain di Asia Tenggara untuk meraih penghargaan tertinggi bidang pariwisata di tingkat ASEAN tersebut.
“Ini kebanggaan sekaligus tugas berat bagi kami sebagai salah satu wakil Indonesia dalam kompetisi wisata bersih se-Asia Tenggara. Meskipun tergolong pemain baru di bidang pariwisata, kami terus berupaya membenahi destinasi wisata kami, terutama kebersihannya,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi.
Ia mengatakan Banyuwangi terpilih sebagai nominator kota wisata bersih karena sektor pariwisata di kabupaten berjuluk “The Sunrise of Java” itu terus bergeliat dengan mengusung konsep ekoturisme.
Banyuwangi berhasil mengembangkan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, pemberdayaan sosial budaya, dan ekonomi masyarakat lokal.
Selain itu, lanjutnya, Banyuwangi lima kali berturut-turut meraih Adipura, lambang supremasi kebersihan kota di Indonesia karena pariwisata tidak dapat dipisahkan dari faktor kebersihan lingkungan.
“Kalau lingkungan kotor, mustahil wisatawan akan masuk, sehingga kami selalu mendorong masyarakat untuk menjaga kebersihan, termasuk di tempat-tempat wisata. Bahkan tiga tahun terakhir, kami terus menggelar festival toilet bersih sebagai bentuk kampanye kebersihan kami,” tuturnya.
Sementara Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Pariwisata MY. Bramuda mengatakan sejumlah objek wisata Banyuwangi akan bersaing dengan ratusan objek wisata lain di Asia Tenggara, sehingga wisata bahari Bangsring Undewater di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo dan Grand New Watudodol (GWD), Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro yang dipilih untuk mengikuti kompetisi ACTC Award 2017.
“Dua objek itu kami pilih karena pengelolanya memiliki visi yang sama dalam masalah kebersihan. Contohnya wisata Bangsring, secara periodik mereka mengajak masyarakat di sekitar lokasinya untuk kerja bakti membersihkan sampah lewat pengeras suara, terutama saat pengunjung ramai. Ini juga sebagai edukasi ke pengunjung agar tidak membuang sampah sembarangan,” tuturnya.
Pengelola wisata Bangsring Underwater yang tergabung dalam Kelompok Nelayan Samudra Bhakti pada tahun 2017 berhasil meraih penghargaan Kalpataru bidang penyelamat lingkungan karena kelompok nelayan itu dinilai sebagai pelopor dalam konvervasi laut, kemudian berhasil mengubah perilaku dan budaya tangkap ikan para nelayan.
“Saat ini, kawasan perairan Pantai Bangsring yang menjadi basis kelompok nelayan itu telah menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Banyuwangi,” katanya.
Ia mengatakan penilaian kota wisata bersih itu didasarkan pada tujuh indikator yakni pengelolaan lingkungan, kebersihan, pengelolaan limbah, dan pembangunan kesadaran mengenai perlindungan lingkungan dan kebersihan, kemudian tersedianya ruang hijau, keselamatan, kesehatan, dan keamanan perkotaan, serta infrastruktur dan fasilitas pariwisata.
“Lomba kota wisata bersih ASEAN tidak hanya fokus pada masalah sampah, namun juga masalah penunjang wisata lainnya di antaranya tata ruang kota yang rapi, pencegahan polusi, serta bebas dari gelandangan/pengemis,” ujarnya, menambahkan. (ist)