Waranggono Tuban, Tak Cukup Hanya Modal Cantik

foto
Para seniman waranggono saat menuju ritual siraman di pemandian Bektiharjo. Foto: Tubankab.go.id/Nanang W.

Menjadi seorang pelaku seni tradisional, seperti waranggono (sinden) memang tak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Sebab, untuk bisa survive di kancah seni langen tayub tak cukup bermodal cantik dan bodi yang aduhai, serta punya suara yang merdu

Namun banyak sekali proses ritual yang sudah dipakemkan harus dilalui untuk bisa disebut sebagai waranggono sejati, seperti melakukan prosesi siraman.

Tahun ini sedikitnya ada 85 waranggono yang benar-benar bisa disebut tulen. Pasalnya, mereka telah menjalani prosesi wisuda di pemandian air Bektiharjo, Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Tuban, pagi pekan lalu.

Tak hanya para sinden, tetapi prosesi wisuda tersebut juga diikuti oleh 65 orang pramugari (pria pendamping waranggono yang mengenakan blankon) dan 47 pengrawit yang mengiringi prosesi.

Mereka berjalan mengelilingi pemandian air guna melakukan prosesi siraman dengan cara membasahi wajah dan kepalanya satu per satu dengan harapan mampu mempertontonkan kepiawaiannya menjadi waranggono semalam suntuk saat pentas. Selain itu, ritual dilakukan agar para seniman tayub terhindar dari musibah.

“Ini (prosesi siraman) kita lakukan secara sakral agar tidak ada peristiwa yang tidak kita inginkan. Tapi, yang jelas ini untuk mengakrabkan para seniman dan sebagai ajang silaturahmi,” tutur Indra, salah seorang seniman tayub seperti dilaporkan Humas Kab Tuban.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Tuban Drs Sulistyadi, agenda ini tidak hanya sebagai prosesi yang sakral bagi pegiat langen tayub, namun juga sebagai agenda wisata budaya Kabupaten Tuban.

Tak cukup itu, kata Didit, sapaan akrab Sulistyadi, tujuan dilaksanakannya siraman seniman langen tayub ini, yakni untuk mengembangkan potensi seni budaya Kabupaten Tuban sebagai salah satu aset terpenting dalam menyumbang pendapatan asli daerah.

“Selain itu, untuk meningkatkan kualitas pelaku seniman, khususnya seniman langen tayub dalam menunjang visi dan misi kepariwisataan Kabupaten Tuban. Dan juga sebagai sarana untuk memeriahkan Hari Jadi Tuban (HJT) yang ke-724,” cetus mantan Kepala Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Kabupaten Tuban ini.

Anita Fitria Erawati, salah seorang waranggono muda asal Jatirogo, Tuban ikut prosesi wisuda mengatakan dirinya merasa senang dan lega setelah diwisuda. Sebab, setelah 2 tahun menimba ilmu sebagai waranggono di Tuban semakin membuat dirinya terpacu untuk menjadi seniman langen tayub.

“Setelah diwisuda, rencananya ke depan akan terus meningkatkan kemampuan dan ilmu yang telah dipelajari, serta akan terus belajar dari waranggono senior terkait tembang dan tarinya,” ucap perempuan alumnus SMK Negeri 8 Surakarta, Jawa Tengah, jurusan Seni Karawitan tersebut.

Perempuan 20 tahun yang juga anak Mbarsih, waranggono senior di Kabupaten Tuban tersebut menegaskan, ritual siraman waranggono merupakan wujud regenerasi. Sebab, saat ini sulit mencari dan menemukan perempuan yang mau bergelut dengan profesi sebagai waranggono. (ist)

Parade Surabaya Juang di Hari Pahlawan

foto
Atraksi Parade Surabaya juang tahun 2016 lalu. Foto: Himas Pemkot Sby.

Jelang peringatan Hari Pahlawan, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggelar Parade Surabaya Juang, Minggu (5/11) pagi. Agenda tahunan yang memasuki tahun kesembilan ini akan dikemas berbeda dari penyelenggaraan tahun sebelumnya.

Di sepanjang jalan yang menjadi rute Parade Surabaya Juang, akan ditampilkan teatrikal perjuangan Arek-Arek Suroboyo kala melawan sekutu pada tahun 1945 silam.

Kabid Destinasi Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya, Retno Hariati menyampaikan, untuk tahun ini, Parade Surabaya Juang yang menempuh rute dari Jalan Pahlawan menuju kawasan Taman Bungkul, akan lebih banyak menampilkan aksi teatrikal. Sedikitnya ada 28 unsur komunitas yang akan ikut tampil dalam agenda ini.

“Untuk tahun ini, ada pengembangan dibanding tahun lalu. Diantaranya dengan memperbanyak aksi teatrikal. Nuansa kebangsaan yang diciptakan diupayakan lebih semarak,” ujar Retno Hariati di acara jumpa pers di kantor Bagian Humas Pemkot Surabaya, Rabu (1/11).

Menurut Retno, akan ada banyak elemen yang ikut memeriahkan Parade Surabaya Juang tahun ini. Seperti Forum Pimpinan Daerah (Forpimda), PNS Pemkot Surabaya, komunitas seni, mahasiswa/pelajar.

Bahkan, sambung Retno, gaung agenda Parade Surabaya Juang ini sudah menasional. “Kami berupaya agendakan ini sebagai event nasional. Ini sudah dapat lisensi dari Kementerian Pariwisata,” jelas Retno.

Ketua Komunitas Surabaya Juang, Herry Lentho menyampaikan, Parade Surabaya Juang akan menempuh rute sejauh 6,5 kilometer dari Tugu Pahlawan dan berakhir di Taman Bungkul.

Menurutnya, parade akan diawali dengan teatrikal Sumpah Pregolan (sumpah merdeka atau mati). “Nanti ada yang memerankan tokoh Gubernur Suryo lau memberikan plakat (prasasti perang kemenangan perjuangan Surabaya) kepada Bu Wali,” ujarnya.

Selain di kawasan Tugu Pahlawan, teatrikal juga akan digelar di kawasan Siola, yakni perang TKR laut, kemudian teatrikal perobekan bendera belanda di Hotel Mojopahit yang dilanjutkan pembacaan puisi “Surabaya” karya KH Mustofa Bisri (Gus Mus).

Kemudian teatrikal perang 10 November di depan Grahadi, lalu di Tugu Bambu Runcing dan Polisi Istimewa-Santa Maria.

“Intinya, yang berbeda tahun ini, kalau dulu parade lebih banyak jalan, sekarang sosiodrama. Ada urutan cerita dari awal hingga akhir. Ada 350 pecinta sejarah yang akan ikut serta. Ada dari Kalimantan, Sulawesi. Ibaratnya, Parade Surabaya Juang ini merupakan hari raya nya pecinta sejarah,” sambung Herry Lentho.

Kepala Bidang Pengendalian dan Operasional Dishub Surabaya, Subagio Utomo menyampaikan, Dinas Perhubungan akan mengerahkan 75 personel untuk pengaturan lalu lintas karena sepanjang rute Parade Surabaya Juang tentunya akan ditutup untuk kendaraan.

Selain itu, Dishub juga mengerahkan 25 orang untuk penataan parkir. Serta, 150 palang kuda/barrier. “Kami akan bersinergi dengan Satlantas Polrestabes Surabaya. Kami juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat bila nantinya arus lalu lintas lebih padat dari biasanya,” ujarnya.

Bagus Supriadi Kasi Ketetiban Umum dan Ketentraman Masyarakat Satpol PP Kota Surabaya menyampaikan, akan ada 600 personel Satpol PP dan Linmas yang diterjunkan untuk membantu kelancaran agenda ini. “Kami akan sinergi dengan kepolisian. Harapannya selama acara, pengunjung tidak bercampur dengan peserta parade sehingga bisa lebih tertib,” ujar Bagus. (ita)

Kapal Padewakang Memiliki Jenis Kelamin

foto
Kapal Padewakang tengah dibuat. Foto: Kemdikbud.go.id.

Kapal itu setinggi hampir 3 orang laki-laki dewasa. Panjangnya mencapai 30 meter. Tampak 12 kayu penyangga kapal menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri, menjaga agar badan raksasanya tidak roboh.

Perlu usaha yang agak payah untuk naik menuju buritan kapal yang baru akan selesai dibuat 2 bulan lagi tersebut.

Diatas tampak 3 orang sedang membengkokkan kayu sepanjang 2 meter untuk dipasang di ujung haluan. Salah satu pekerja menjelaskan bahwa tim Kemdikbud.go.id tidak sedang berdiri di geladak utama.

Mengejutkan, rupanya kapal ini akan lebih tinggi lagi. Tempat yang tadinya kami kira geladak utama nantinya akan menjadi restoran di dalam kapal.

Kapal yang sedang digarap oleh Haji Muhammad Djafar dan anaknya ini adalah jenis Padewakang, salah satu model kapal khas Sulawesi Selatan selain Pinisi. Kapal Padewakang berusia lebih tua dari kapal Pinisi.

Haji Muhammad Djafar dijuluki “Panrita Lopi” yaitu tokoh adat yang ahli membuat perahu, di Kelurahan Tanah Beru, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Diperkirakan, kapal ini telah dipergunakan oleh orang Makassar pada abad ke-16 untuk mencapai benua Australia. Keunikan dari kapal padewakang adalah layarnya berbentuk segi empat. Bentuk kapal dengan layar seperti ini juga terdapat dalam relief kapal pada candi Borobudur.

Melihat pembuatan kapal tradisional disini cukup mengejutkan. Tidak seperti teknologi modern saat ini dalam membuat kapal, disini semua dilakukan dengan cara yang masih tradisional. Semua peralatan yang digunakan berasal dari kayu. Terlihat hanya sebuah bor dan las listrik alat modern yang digunakan.

Bagi seorang Panrita Lopi, ilmu pasti dalam pembuatan kapal tidak sepenuhnya berlaku. Mereka lebih mengandalkan pengalaman dan perasaan. Perahu yang sedang dibuat sekarang misalnya, Muhammad Djafar tidak membutuhkan design atau gambar.

Hanya mengandalkan perasaan. Demikianlah yang dilakukan nenek moyangnya selama berabad abad dan turun temurun. Kecuali jika ada permintaan design khusus dari si pemesan kapal.

Metode yang bertolak belakang dengan metode modern juga masih lekat dengan tradisi pembuatan kapal di wilayah Tanahberu ini. Bahkan, ritual-ritual khusus sebelum dan sesudah pembuatan masih dilakukan. Misalnya ritual Sambung Lunas, pelarungan lunas dan upacara Selamatan.

Menurut Rahma Djafar, anak keenam dari Muhammad Djafar, para Panrita Lopi memperlakukan sebuah kapal seperti tubuh manusia dan kadang meyakini sebuah kapal memiliki jenis kelamin.

“Berdasarkan perasaannya, seorang ahli kapal dapat mengatakan jenis kelamin sebuah kapal ketika sudah setengah jadi, apakah ini kapal laki-laki atau perempuan,” ujarnya.

Ahmad Abdul, Penyusun Dokumentasi dan Publikasi Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar, bahkan mengatakan dahulu seorang Panrita Lopi dapat mengetahui nasib kapal yang dibuatnya. ”Menurut cerita, mereka bisa tahu kapal yang dibuatnya akan tenggelam oleh apa atau karam dimana”. (ist)

Situs Sangiran, Dari Jawa Mengungkap Evolusi Dunia

foto
Homo erectus, manusia purba di Sangiran yang ditampilkan di Medan. Foto: Kompas.com/Mei Leandha.

Gustav Heinrich Ralp Von Koenigswald, seorang geolog dan paleontolog Jerman datang ke Sangiran di Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk melakukan survei dan penelitian berdasarkan peta geologis yang dibuat geolog asal Belanda, Jean Louis Chretien van Es.

Saat itu, tahun 1928, Jean bekerja di Jawatan Geologi Hindia Belanda di Bandung. Dia melakukan program pemetaan di Jawa untuk kebutuhan pertanian dan eksplorasi mineral Hindia Belanda yang targetnya selesai dalam 15 tahun.

Wilayah penelitian Jean meliputi 13 lapisan tanah di Jawa, sembilan di antaranya dilengkapi lampiran peta geologi, yaitu Baribis, Patiayam, Sangiran, Kaliuter Baringin, Lembah Sungai Bengawan Solo (Trinil), batas selatan dan utara Pengunungan Kendeng dan Gunung Pandan. Dibantu Gustav, Jean mengumpulkan data fosil spesies yang ditemukan dalam penelitiannya.

Di Sangiran, Gustav melakukan survei di Ngebung dan menemukan jejak-jejak keberadaan manusia purba. Di areal seluas 59,21 kilometer persegi pada 1934, dia kembali menemukan artefak hasil budaya manusia.

Puncaknya pada dua tahun kemudian, dia menemukan delapan individu manusia Homo erectus. Di sinilah dunia mencatat, Situs Sangiran di Sragen dan Karanganyar ditemukan pertama kali oleh Gustav.

“Sampai hari ini, sudah ditemukan 120 individu manusia purba Sangiran, atau 50 persen dari populasi Homo erectus di dunia,” kata Syukron Edi, Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran kepada Kompas.com di Medan bebeapa waktu lalu.

Dijelaskannya, temuan awal Gustav berupa alat dari batuan kalsedon dan jasper berukuran kecil. Ini menjadi indikasi kuat keberadaan manusia awal di Sangiran. Perkakas batu tersebut punya ukuran dan teknologi pengerjaan yang khas, Gustav menyebutnya sebagai Sangiran Flakes Industry dalam publikasi perdananya.

“Temuan ini langsung menjadi perhatian dunia. Dalam kurun waktu 1936 sampai 1941, sisa-sisa peninggalan manusia purba terus ditemukan. Sangiran menjadi salah satu situs hominid yang penting bagi dunia,” ucap Edi.

Potensi Situs Sangiran dinilai warga dunia penting untuk ilmu pengetahuan. Pada 1977 situs ini ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya. Dilanjut pada 1996, Situs Sangiran menjadi salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO dengan nomor C593.

Dipaparkan Edi, perbedaan situs Sangiran dengan situs-situs lain adalah, dalam lapisan tanahnya yang berusia 250.000 sampai 2 juta tahun tersimpan rekaman jejak manusia dan lingkungannya.

Kehadiran Homo erectus Sangiran ditemukan di lapisan tanah berusia antara 1,5 hingga 0,9 juta tahun silam. Lapisan tanah ini berupa endapan lempung hitam yang menunjukkan lingkungan rawa.

Ada empat evolusi yang terjadi di Sangiran, pertama adalah evolusi lingkungan tanpa terputus sejak 1,9 sampai 2,4 juta tahun. Masa itu Sangiran adalah laut dalam.

Kemudian pada 1,9 juta – 900.000 tahun, Sangiran sudah berubah dari laut dalam menjadi laut tangkal lalu rawa-rawa. Lalu 900.000 sampai saat ini, menjadi daratan. Evolusi kedua adalah manusia, dimulai sejak Homo erectus tipik hidup pada 800.000 tahun lalu dan Homo erectus progresif yang hidup sekitar 250.000 tahun lalu.

Evolusi ketiga adalah fauna. Terdapat tiga spesies gajah di Sangiran, yaitu mastodon yang hidup 1,5 juta tahun lalu, berevolusi menjadi Stegon trigonocephalus hingga terakhir menjadi Elephas namadicus.

Evolusi terakhir adalah budaya. Arkeolog menemukan alat serpih atau hasil budaya manusia purba berumur 1,2 juta tahun lalu di Situs Dayu.

Tokoh utama cerita Sangiran adalah Homo erectus yang ciri-ciri fisiknya masih primitif, kekar. Saat lingkungan Sangiran berubah menjadi daratan sejak 900.000 tahun lalu, Homo erectus Sangiran pun mengalami perubahan fisik menjadi lebih ramping.

Perubahan fisik menjadi lebih progresif setelah mereka berpindah ke sepanjang aliran Bengawan Solo, di luar daerah Sangiran. “Manusia dan budaya di Situs Sangiran, serta fosil-fosil faunanya yang tersebar di seluruh tingkatan stratigrafi ini yang kita pamerkan di Medan. Ini penting dan sumber ilmu pengetahuan, apalagi bagi para pelajar,” pungkasnya.

Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran melakukan pameran di lima kota besar di Indonesia, mulai dari Kota Medan, Pekanbaru, Jambi, Palembang dan Lampung.

Di Medan, acara dilaksanakan di Focal Point Mall di Jalan Gagak Hitam, Ringroad Medan mulai 18 sampai 22 Oktober 2017. Hasrul Sani dari Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara mengatakan, pameran memungkinkan pelajar di Sumatera Utara juga mengenal Sangiran. (kmp)

Menikmati Menu Khas Jawa Sambil Belajar Sejarah

foto
Suasana satu bagian Rumah Makan Inggil Malang. Foto: VIVA.co.id/ Lutfi Dwi Pujiastuti.

Saat tiba di depan rumah makan ini, suasana atmosfer serba Jawa begitu kental. Dari tulisan papan nama rumah makan, tertulis, Inggil, dengan gaya tulisan khas Jawa.

Ya, ini merupakan Rumah Makan Inggil yang terletak di kawasan Gajahmada No.4 Kiduldalem, Malang Jawa, Timur. Tidak mewah, namun saat menginjakkan kaki di teras rumah makan, akan disambut dengan ukiran hiasan khas Jawa dan ada mesin ketik tua.

Bukan hanya sekedar rumah makan, Inggil juga sekaligus sebagai museum mini Kota Malang tempo dulu. Meski tak besar, koleksi-koleksi benda-benda bersejarahnya cukup banyak.

Mulai dari kotak kaset zaman jadul, masuk ke dalam lagi, ada koleksi foto-foto penampakan Kota Malang tempo dulu, cerita-cerita sejarah kabupaten Malang, foto peresmian Tugu Malang 20 Mei 1953 hingga benda-benda bersejarah tua dan unik seperti pengeriting rambut zaman dahulu, radio tempo dulu, mesin jahit tua hingga jam-jam tua.

Saiful Djojosukarto, salah satu karyawan di rumah makan tersebut mengatakan, pemilik warung, Dwi Cahyono seorang sarjana ekonomi, memang suka mengoleksi benda-benda bersejarah.

Ia, bahkan yang memiliki konsep untuk membuat rumah makan dengan konsep Jawa dan sekaligus mengajak pengunjung mengenal sejarah Indonesia, khususnya sejarah kota Malang.

“Beliau ingin ada pelebaran sejarah. Gabungan kuliner dengan budaya. Pak Dwi Cahyono yang punya ya,” terangnya saat ditemui Viva.co.id di acara Jelajah Gizi 2017 bersama Nutricia di Kota Malang.

Saiful juga menjelaskan, benda-benda sejarah dan barang-barang tua yang ada di rumah makan tersebut merupakan koleksi sang pemilik, yang kebanyakan dia beli langsung atau hibah dari beberapa orang.

Setelah puas melihat koleksi-koleksi tua dan sedikit membaca penggalan cerita soal sejarah Malang, barulah Anda masuk ke ruang makan dengan meja yang panjang dengan kursi-kursi kayu panjang yang ditata saling berhadapan.

Mirip sekali dengan tempat makan orang Jawa. Atapnya masih terbuat dari bambu, langit-langitnya terlihat juga dari anyaman bambu. Berada di rumah makan ini, benar-benar terasa seperti di rumah orang Jawa tempo dulu.

Meski begitu, makanan di tempat ini, tidak semuanya memiliki rasa khas Jawa. Namun, ada satu menu yang istimewa, sambal terongnya. Meski menunya sederhana, namun sambal terong favorit warung ini memiliki cita rasa istimewa, diramu dengan cabai, bawang putih, bawang merah, layaknya sambal biasa. Tetapi, agar lebih istimewa, sambal terong ini ditambah dengan kencur dan santan. Benar-benar nikmat dan menambah selera makan Anda.

Jika menikmati santap makan malam di tempat ini, ada juga hiburannya. Tamu di warung ini, tiap malam dihibur musik keroncong dan ada juga nyanyian-nyanyian khas sinden Jawa. Penasaran? Warung ini buka mulai 10.00-22.00, alamatnya Jl Gajahmada No.4, Kiduldalem, Klojen, Kota Malang. (ist)

Karapan Sapi Piala Presiden Tetap Pakai “Rekeng”

foto
Joki memacu sapi kerapan perlombaan karapan sapi di Madura. Foto: Indonesia-tourism.com.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparibud) Pemkab Pamekasan, Jawa Timut Akhmad Sjaifuddin menyatakan, karapan sapi memperebutkan Piala Bergilir Presiden RI 2017 yang akan digelar di Stadion Soenarto Hadiwdjojo Pamekasan pada 29 Oktober 2017 tetap menggunakan pola kekerasan atau menggunakan alat “rekeng”.

“Rekeng” menupakan Bahasa Madura, yakni sebuah alat berupa tongkat kecil yang dipasangi paku, kemudian digarukkan ke pantat sapi agar larinya lebih kencang.

“Tapi alat rekeng untuk karapan sapi kali ini, disediakan oleh panitia, dan ukurannya sama antara satu pasangan sapi dengan pasangan sapi lainnya, bukan olah masing-masing pemilih sapi karapan,” ujar Sjaifuddin kepada Antara Jatim di Pamekasan.

Ukuran, alat ini, sambung dia, lebih pendek dari alat rekeng yang digunakan pada tahun-tahun sebelumnya, sehingga dipastikan tidak akan menimbulkan luka parah di pantat sapi.

Ia menjelaskan, pihak panitia penyelenggara karapan sapi Piala Bergilir Presiden RI 2017 tetap menetapkan kebijakan memperbolehkan para pemilik sapi karapan menggunakan sistem kekerasan, karena sudah menjadi kesepakatan para pemilik sapi karapan. “Jadi, meskipun tetap menggunakan ‘rekeng’ runcing pakunya tidak begitu panjang,” kata Akhmad Sjaifuddin, menerangkan.

Festival Karapan Sapi yang memperebutkan Piala Bergilir Presiden RI atau yang disebut “Karapan Sapi Gubheng” itu, akan digelar 29 Oktober 2017. Tahapan seleksi pasangan sapi karapan telah dilakukan di berbagai kecamatan di empat kabupaten di Pulau Madura sejak 29 Agustus 2017.

Di Bangkalan seleksi dilakukan di empat kecamatan, yakni Kecamatan Tanah Merah, Blega, Sepuluh, Kecamatan Socah dan Kecamatan Arosbaya.

Di Kabupaten Sampang seleksi di empat kecamatan, yakni Torjun, Kedungdung, Ketapang dan Kecamatan Kota, Sampang. Di Pamekasan juga di empat kecamatan, yakni Kecamatan Waru, Pegantenan, Kecamatan Galis dan Kecamatan Kota, Pamekasan.

Sedangkan di Kabupaten Sumenep, seleksi pasangan sapi kerap di tingkat kecamatan digelar di enam kecamatan, yakni Kecamatan Bluto, Batuputih, Pasongsongan, Guluk-guluk, Kecamatan Gayam dan Kecamatan Kota, Sumenep. Seleksi pasangan sapi kerap di tingkat kabupaten, menurut Akhmad Sjaifuddin, telah digelar serentak 15 Oktober 2017 lalu. (ant)

Jatim Dukung Usulan Cagar Alam Geologi Bojonegoro

foto
Situs Banyu Kuning di Gondang Bojonegoro bisa menjadi obyek wisata. Foto: Wisatabojonegoro.com.

Gubernur Jawa Timur, Soekarwo mendukung Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro yang mengusulkan penetapan sejumlah geosite sebagai cagar alam geologi berdasarkan kajian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNV) Yogyakarta.

Kepala Badan ESDM Pemkab Bojonegoro Darmawan, di Bojonegoro kepada Antara Jatim menjelaskan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo sudah mengirimkan surat permohonan kepada Menteri ESDM terkait usulan penetapan sejumlah geosite di daerahnya sebagai cagar alam geologi.

“Pemkab sudah berkoordinasi dengan Badan Geologi dan pihak UPNV Yogyakarta, karena Gubernur Jatim, Soekarwo kepada Menteri ESDM,” kata dia menegaskan.

Di dalam surat Gubernur Jatim, Soekarwo, tertanggal 13 Oktober 2017 itu, lanjut dia, menindaklanjuti surat yang disampaikan Bupati Bojonegoro Suyoto tertanggal 27 April 2017 yang berisi usulan penetapan kawasan cagar alam geologi di daerahnya.

Surat yang disampaikan kepada Menteri ESDM itu, tebusannya juga disampaikan kepada Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Menteri Dalam Negeri, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Menteri Agratia dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional.

Di dalam surat itu juga disebutkan bahwa dalam lampiran UU No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, sub urusan geologi, kewenangan Penetapan Kawasan Lindung Geologi dan warisan geologi (geo-heritage) adalah kewenangan Kementerian ESDM.

Sesuai Pertauran Menteri ESDM No. 32 tahun 2016 tentang Pedoman Penetapan Kawasan Cagar Alam Geologi (KCAG), Pemkab Bojonegoro bekerjsama dengan UPNV Yogyakarta dan telah berkoordinasi dengan Badan Gologi Kementerian ESDM melakukan kajian bersama tentang KCAG atau “geoheritage” Bojonegoro.

Sesuai data geosite yang diusulkan masuk cagar alam geologi dan “petroleum geopark yaitu “petroleum geoheritage” Wonocolo di Kecamatan Kedewan, geosite “antiklin” Kawengan, juga di Kecamatan Kedewan dan geosite Kahyangan Api di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem.

Selain itu, geosite Kedungmaor, di Kecamatan Temayang, geosite Kedung Lantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, geosite gigi hiu, dan geosite undak Bengawan Solo.

Lainnya geosite Gunung Watu, Watu Gandul, Selo Gajah dan Banyu Kuning, semuanya di Kecamatan Gondang, sedangkan yang masuk “geopark” yaitu Sendang Gong di Desa Gunung Sari, Kecamatan Baureno, Gunung Pegat, Gua Soka, dan makam orang Kalang.

“Badan Geologi Nasional sudah sepakat, bahkan sudah ke lokasi geosite di Bojonegoro yang akan diusulkan untuk ditetapkan sebagai cagar alam geologi,” ucap Peneliti UPNV Yogyakarta Dr. Jatmika Setiawan, menambahkan. (sak)

Satria: Masa Penjajahan, Budaya Baca Lebih Baik

foto
Satria Dharma, Ketua Forum Pengembangan Budaya Literasi Surabaya. Foto: Merdeka.com.

Dua dekade lalu, sastrawan Taufik Ismail pernah diminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Wardiman Djojonegoro meneliti kewajiban membaca siswa-siswa sekolah setingkat SMA di 13 negara dunia. Hasilnya, setiap negara mewajibkan siswanya membaca buku sastra selama tiga tahun masa pendidikan.

Dimulai dari yang terbanyak, Amerika Serikat. Negeri Paman Sam itu mewajibkan siswa SMA membaca 32 judul buku selama tiga tahun.

Berikutnya Belanda dan Perancis sebanyak 30 judul, Jerman Barat sebanyak 22 judul, Swiss dan Jepang sebanyak 15 judul. Sementara Indonesia berada di urutan paling buncit, sebab sama sekali tidak mewajibkan muridnya membaca buku sastra.

Bahkan, menurut Ketua Forum Pengembangan Budaya Literasi Surabaya, Satria Dharma, kondisi yang demikian rupanya sudah terjadi sejak 1943. Lalu terus terjadi puluhan tahun setelahnya. “Sebenarnya Indonesia pernah ada kewajiban membaca itu. Tepatnya, pada masa penjajahan Belanda,” kata Satria kepada Merdeka.com beberapa waktu lalu.

Pada zaman malaise itu, dia menjelaskan, para pelajar di negeri jajahan Belanda pernah diwajibkan membaca buku-buku. Misalnya bagi murid-murid Algemeene Middelbare School (AMS) Hindia Belanda Yogyakarta (25 judul) dan AMS Hindia Belanda Malang (15 judul).

Latar belakang sejarah literasi di Indonesia yang seperti itu, menurut Satria, berakibat pada menurunnya budaya membaca generasi milenial sekarang ini. “Karena kita tidak mengajarkan kebiasaan membaca kepada anak-anak,” ujar Satria.

Gerakan Indonesia Membaca

Berangkat dari keprihatinan itu, Satria lantas terjun menggeluti dunia literasi, salah satunya mendirikan Gerakan Literasi Sekolah. Disusul gerakan berikutnya, ‘Gerakan Indonesia Membaca’. Gerakan-gerakan itu dijalankan bersama kawan-kawannya selama beberapa tahun.

Gerakan literasi ini baru benar-benar terasa saat Menteri Pendidikan dijabat oleh Anies Baswedan. Singkat cerita, Satria dikenalkan temannya kepada Anies Baswedan. Ketika Anies diangkat menjadi Menteri Pendidikan, ide dan gagasannya tentang literasi diakomodir dan dijadikan sebuah gerakan oleh kementerian; Gerakan Literasi Sekolah.

Gerakan tersebut dituangkan dalam Permendikbud No 23 Tahun 2015. Dalam Permen itu setiap sekolah diwajibkan mengalokasikan waktu 15 menit untuk para siswanya membaca buku (selain buku pelajaran) tiap harinya sebelum jam pelajaran pertama. “Sekarang malah dinaikkan menjadi Gerakan Literasi Nasional,” ujarnya.

Masalahnya sekarang, dia melanjutkan, tidak semua Dinas Pendidikan di setiap daerah peduli dengan kewajiban ini. “Juga Kemendikbud, belum punya tim monitoring dan evaluasi untuk program ini,” katanya menambahkan.

Terlebih, sampai sekarang masih banyak pemimpin bangsa yang belum paham betapa pentingnya budaya membaca bagi bangsa. “Ketika pemimpin-pemimpin itu ditanya apakah budaya membaca itu penting? Jawabannya, pasti penting. Tapi, ketika ditanya apa yang Anda lakukan? Ya, tidak ada. Jadi menurut saya karena mereka tidak benar-benar paham,” katanya.

Contoh lainnya soal penghargaan kepada penulis buku. Baru beberapa saat ini dua penulis Indonesia, Tere Liye dan Dee Lestari, memprotes keras tarif pajak royalti yang diminta pemerintah sebesar 15 persen kepada penulis.

Padahal, royalti yang diberikan penerbit ke penulis cuma 10 persen dari penjualan buku. “Ini juga merupakan salah satu bentuk ketidakpahaman para pemimpin,” ujarnya.

Ia merujuk ke pemerintahan India. Di sana, buku sangat murah lantaran disubsidi. Buku dibuat sangat murah. Pemerintahnya bekerja sama dengan penerbitnya. Semisal, mencetak sendiri dengan kertas yang lebih murah. Sehingga, harga buku lebih murah. “Karena pemerintah ikut campur. (Penulis buku) kita bukannya malah disubsidi, malah dipajaki. Ini kan aneh,” katanya.

Dia juga menceritakan rencana besar Uni Emirat Arab (UEA) terhadap literasi. Negeri padang pasir itu akan mengeluarkan UU yang akan memaksa warganya membaca. Dan ini merupakan proyek jangka panjang. Targetnya 10 tahun kemudian warga UEA akan memiliki budaya baca tinggi.

“Seluruh sarana dan prasarana yang merangsang budaya membaca diberi kemudahan,” ujarnya. Satria lalu mengakhiri perbincangan, “Kalau tidak membaca, mau tidak mau kita akan ketinggalan.” (mdk)

Jalan Kaki Keliling Kampung, Jaga Bulir Padi Keramat

foto
Ritual adat di Banyuwangi, ada peran kerbau dan petani. Foto: Detik.com.

Suasana Dusun Krajan, Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, pagi itu tidak seperti biasa. Seluruh sudut kampung itu dibanjiri ribuan manusia yang akan menyaksikan upacara adat yang rutin digelar setiap tahun saat Suro (dalam kalender Jawa).

Ribuan warga berlalu-lalang memenuhi hampir di setiap jalanan dan sudut dusun. Suasana pecah dan berubah menjadi riuh tatkala rombongan upacara ritual adat kebo-keboan mulai berjalan.

Kondisi jalan mulai basah dan dibanjiri air dari arah selokan. Puluhan pasang kerbau jadi-jadian (kebo-keboan) yang diperankan warga setempat tampak mengamuk dan terkendali. Mereka seolah mengamuk dan menyeruduk setiap penonton yang menyaksikan ritual adat tersebut.

Setelah gerombolan kebo-keboan berjalan, di belakangnya disusul kereta kencana yang diiringi puluhan petani laki-laki dan perempuan. Para petani laki-laki membawa cangkul dengan berpakaian serbahitam. Sedangkan petani perempuan menggendong wadah berisi tangkai padi yang sudah diikat.

Ikatan tangkai bulir padi itu dianggap sakral dan selalu ditunggu masyarakat untuk diperebutkan dalam setiap ritual kebo-keboan. ”Bulir padi ini harus dijaga, tidak boleh diambil sebelum benarbenar ditebar Dewi Sri,” ungkap Untung, 55, salah seorang pemeran petani kepada Koran Jawa Pos.

Masyarakat yang menyaksikan ritual adat tersebut tidak hanya datang dan menonton. Mereka mengharap berkah dalam ritual adat yang digelar setiap Suro itu.

Biasanya, bagi yang meyakini, mereka dipastikan akan menunggu waktu hingga ritual ngurit dan menyebar benih padi. Penonton harus rela belepotan lumpur hingga berkejar-kejaran dengan kebo-keboan demi mendapatkan bulir padi keramat.

Betapa tidak, bagi mereka yang meyakini, bulir padi tersebut akan mendatangkan keberkahan. Salah satunya jika bulir padi itu dicampur dengan bulir padi saat musim tanam. Hasil panen tanaman padi akan melimpah dan terhindar dari serangan hama penyakit.

”Kalau zaman dulu, di era 1980 sampai 1990, yang berebut bulir padi kebanyakan asli petani dari desa sekitar Alasmalang,” ujar Untung.

Perbedaannya, pada era 1980 hingga 1990, bulir padi yang diperebutkan adalah jenis padi unggul. Yakni, padi jenis Jawa Genjah Arum. Namun, karena saat ini varietas padi tersebut jarang ditemukan, jenisnya diganti dengan bulir padi berkualitas bagus dan unggul.

Bukan hanya bulir padi yang disemai pemeran Dewi Sri yang sakral dan kerap menjadi rebutan penonton dalam ritual adat kebo-keboan tersebut. Beras Kuning pitung tawar yang dibawa rombongan petani itu juga menjadi buruan penonton.

Beras kuning pitung tawar tersebut diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Tidak sedikit penonton yang menyaksikan langsung membawa wadah dan mengambil beras kuning pitung tawar tersebut. (jpg)

Mereka Saling Sabet Demi Turunnya Hujan

foto
Penari ujung berupaya saling menyabet punggung lawannya. Foto: Koran Jawa Pos.

Muali sudah menunggu kami di halaman Balai Desa Tarik. Kakek berusia 99 tahun itu duduk di dipan. Bersebelahan dengan sepeda kayuhnya. Begitu melihat kami memasuki gerbang balai desa, dia langsung menyapa dan bersalaman.

“Mulai jam empat (16.00 Red) saya di sini,” ujarnya kepada Koran Jawa Pos. Kami pun menceritakan hambatan yang membuat kami tiba di Balai Desa Tarik pukul 17.00. Padahal, jaraknya hanya sekitar 15 kilometer dari Bendungan Lengkong Baru, titik kami berangkat.

Mobil yang kami tumpangi harus berputar dua kali untuk mencari jalan alternatif menuju balai desa. Sebab, ada pesta pernikahan warga yang menutup jalan.

Dari balai desa, kami langsung menuju ke rumah Sudjari, 64, di RT 7, RW 2, Dusun Balongmacekan, Desa Tarik, Kecamatan Tarik. Kabupaten Sidoarjo. Muali sudah mengatur tempat untuk bertemu dengan seniman tari ujung.

Sudjari adalah koordinator Padepokan Tari Ujung Tarik. Menurut penuturan petugas kecamatan dan warga sebelumnya, hanya ada satu Padepokan Tari Ujung di Kecamatan Tarik. Nah, padepokan itulah yang kami datangi. Pembesarnya saat ini adalah Sudjari dan Muali.

Sudjari tidak sendiri saat kami jumpai di rumahnya. Ada Abas, 60, penari ujung lainnya. Kami sangat beruntung. Mereka berkenan menampilkan tari ujung. Seni tari itu mereka geluti sejak anak-anak. Sore itu Sudjari dan Abas yang tampil. Muali memilih istirahat di sekitar kediaman Sudjari.

Ikut menyimak
Langit mulai berwarna keemasan saat Sudjari dan Abas memperagakannya. Mengenakan celana panjang hitam dan udeng di kepala, masing-masing memegang kayu menjalin (rotan). Tarian tersebut dibuka dengan serangkaian gerakan. Lebih mirip gerakan melemaskan otototot. Terutama pada pergelangan tangan, bahu, dan pundak.

Sejurus kemudian, Sudjari mulai mencambukkan kayu menjalin itu pada Abas. Mereka berjibaku. Namun, Abas menangkisnya dengan memblokade pukulan tersebut. Dua kayu menjalin yang mereka pegang beradu. “Plas”. Terdengar suara yang nyaring.

Sesaat kemudian, giliran Abas yang memukul. Dia, tampaknya, mengincar bagian pundak Sudjari. Dengan gesitnya, Abas meloncat sembari mencambukkan kayu menjalin itu. Meski sudah berupaya menangkis cambukan itu dengan kayu menjalin-nya, Sudjari masih terkena.

Belasan kali mereka saling bergantian memukul. Pundak dan punggung keduanya sudah banyak balur yang memerah. Ketika terdengar lamat-lamat suara azan magrib, mereka menyudahi pertempuran itu.

Menurut Sudjari, untuk menampilkan tari ujung secara komplet, diperlukan beberapa persyaratan. Salah satunya, ada penengah atau wasit. Fungsinya membagi pukulan setiap penari. Jika satu penari selesai memukul, kesempatan memukul selanjutnya diberikan pada penari lain. Wasit pula yang membatasi jam menari.

Syarat berikutnya adalah hadirnya lebih dari dua penari. Idealnya, tari ujung dipertontonkan sekitar 15 menit. Para penari yang terlibat di dalamnya akan saling memukul. Tentu butuh waktu untuk istirahat sebelum kembali berjibaku.

Perlengkapan lainnya adalah iringan musik gamelan, beras kuning, kemenyan, dan pisang hijau. Gamelan akan memeriahkan suasana tari. Beras kuning mewakili harapan pada Yang Mahakuasa agar para penari dan masyarakat di sekitarnya makmur.

Kemenyan berfungsi untuk menghormati roh leluhur yang hadir menyaksikan pementasan tari tersebut. Sementara itu, pisang hijau berfungsi sebagai penghilang luka atau lecet pada kulit.

Muali merupakan mantan Kasun di era 80-an. Menurut dia, dulu banyak remaja yang mempraktikkan tradisi ujung. Kini hanya segelintir orang yang masih mau melakoninya. Dia mengetahui tari itu dari gurunya, sesepuh desa setempat. Bagi Muali, tradisi tersebut harus dilestarikan sekalipun ayah dan ibunya bukan penari ujung.

Menurut Sudjari, tarian itu dipentaskan sebagai bentuk pengharapan agar hujan turun. Meski Tarik dilewati Kali Porong, wilayah itu tidak sepanjang waktu cukup air. Adakalanya terjadi kemarau panjang. Pada saat itulah leluhur mereka akan menari ujung. Dengan begitu, sumur serta ladang akan teraliri banyak air.

Seiring berjalannya waktu, tari ujung juga menjadi sebuah kesenian. Para penarinya sering tampil dalam beberapa acara. Misalnya, peringatan HUT kemerdekaan atau menyambut tamu yang datang ke Tarik. Bahkan, kini mereka lebih sering menari dalam sebuah pementasan seni daripada menari sebagai upaya mendatangkan hujan.

Tidak setiap tahun mereka menari untuk mendatangkan hujan. Namun, permasalahan seriusnya adalah penerus. Tidak banyak anak muda di sekitar Tarik yang mau melanjutkan kesenian tersebut.

Dari empat anak Sudjari, hanya satu yang mau. Bahkan, keturunan Muali dan Abas memilih total di dunia usaha. Sudjari menuturkan, dirinya terakhir menari untuk mendatangkan hujan sekitar dua tahun lalu.

Saat itu terjadi kemarau panjang. Begitu panas. Orang-orang sekitar memintanya untuk menari dan mendatangkan hujan. “Langsung hujan hari ke-2 setelah menari,” kata petani itu. (jpg)