Patirtan Jolotundo, Konon Airnya Bikin Awet Muda

foto
Pengunjung mengambil air di Patirtan Jolotundo. Foto: Kompas.com/Achmad Faizal.

Tiga jeriken berkapasitas 10 liter air milik Suheri sudah penuh terisi. Merasa kurang, dia turun ke tempat pedagang di pintu masuk dan membeli 2 jeriken lagi dengan kapasitas yang sama.

“Mumpung lagi di sini, sekalian saja. Mumpung ada waktu ke sini,” kata warga Desa Wonokalang, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo itu kepada Kompas.com, akhir pekan lalu.

Sore itu, Suheri bersama kakaknya mengunjungi pemandian atau petirtaan Jolotundo, situs candi pemandian bersejarah yang sumber airnya dipercaya keramat dan memiliki khasiat.

Sebanyak 5 jeriken air yang diambil Suheri untuk mengobati sepupunya yang sedang sakit menahun. “Yang mengobati minta kakinya direndam air Jolotundo. Sebagian lagi diminum. Jadi saya siapkan,” ujarnya.

Suheri sendiri tidak terlalu sering pergi ke pemandian Jolotundo. Dia tidak tahu persis mengapa air sumber dari pemandian Jolotundo dianggap begitu keramat. Kepercayaan tentang khasiat air Jolotundo didapatnya dari informasi masyarakat dan kabar turun temurun dari nenek moyang.

Khasiat air pemandian Jolotundo juga diyakini Dewi Maharani. Ibu satu anak berusia 30 tahun asal Kota Pasuruan itu mengaku rutin pergi ke Jolotundo setahun sekali bahkan sampai 3 kali. Dia mempercayai, air Jolotundo bisa mengencangkan kulit dan membuat wanita semakin cantik. “Katanya sih biar awet muda kalau mandi di Jolotundo,” ucapnya.

Dewi bersama 2 orang temannya sore itu memang terlihat usai segar karena mandi di tempat khusus yang airnya bersumber dari lokasi pemandian Jolotundo. Tidak hanya mandi, Dewi juga membawa beberapa botol air mineral kosong untuk diisi dengan air Jolotundo sebagai oleh-oleh.

Tidak hanya Dewi dan Suheri saja yang memanfaatkan air dari Jolotundo sore itu. Ratusan pengunjung terlihat juga bergentian menadahkan botol atau tempat air lainnya dari sejumlah pipa kecil di situs Jolotundo.

Sebagian mereka juga menaruh sesaji dan membakar dupa tepat di samping kolam pemandian. Ritual itu dilakukan untuk maksud tujuan tertentu. Aroma menyengat dupa seakan menambah suasana mistis di sekitar kolam.

Pengunjung anak-anak nampak bermain air di kolam besar pemandian yang berisi banyak ikan. Sementara di bagian atas kolam ada kolam berukuran kecil yang kedalamannya 1,5 meter. Biasanya digunakan pengunjung dewasa untuk berendam secara bergantian.

Dikutip dari berbagai sumber catatan sejarah, Candi Jolotundo merupakan bangunan petirtaan peninggalan Raja Udayana dari Bali, diperuntukan bagi Raja Airlangga, puteranya, setelah dinobatkan menjadi Raja Sumedang Kahuripan.

Secara geografis Candi Jolotundo berada di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut tepatnya di bukit Bekel, lereng barat Gunung Penanggungan, gunung suci bagi umat Hindu aliran Siwa.

Dari gunung, air dialirkan melalui jaringan bawah tanah menuju Candi Jolotundo. Air menjadi salah satu bagian penting dalam ritual masyarakat saat itu, apalagi bersumber dari gunung yang dianggap suci.

Candi Jolotundo memiliki sendang atau tempat air berdindingkan batu, di sisi kiri dan sisi kanan, berukuran 2×2 meter menghadap ke Barat. Air sumber keluar dari lubang di tengah batu dinding di sisi timur.

Sementara di tengah ada kolam bertingkat, dan di bawahnya terdapat kolam berukuran sekitar 6×8 yang dipenuhi banyak ikan. Pada malam-malam tertentu, Candi Jolotundo banyak didatangi warga yang menggelar ritual-ritual dengan maksud dan tujuan tertentu.

Kepala Dinas Olahraga Dan Pariwisata Kabupaten Mojokerto, Djoko Wijayanto, mengatakan, situs Candi Jolotundo didesain untuk dikembangkan menjadi wisata religi, karena di situs tersebut memang memiliki nilai budaya yang cukup kental.

Pihak Pemkab Mojokerto kata dia sudah berkoordinasi dengan pihak PT Perhutani untuk mengembangkan dan memperluas kawasan wisata budaya tersebut menjadi 7,3 hektare dari 1,8 hektare luas saat ini. “Kita sedang ajukan kepada tim anggaran untuk memperluas lahan wisata Jolotundo,” ucapnya.

Sayangnya pihaknya belum bisa membocorkan rencana konsep pengembangan Candi Jolotundo kepada media termasuk rencana fasilitas apa saja yang akan dibangun.

Catatan pihaknya, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Candi Jolotundo terus meningkat setiap tahunnya. Tahun 2016, tercatat lebih dari 20.000 pengunjung yang datang ke Candi Jolotundo. Tahun sebelumnya tercatat hanya 17.000. “Sebagian besar wisatawan dalam negeri. Kalau wisatawan mancanegara masih sangat sedikit, belum sampai 5 persen,” tutupnya. (kmp)

Pentingnya Pelestarian Nilai Budaya Adiluhung

foto
Jokowi saat meresmikan Festival Keraton Nusantara XI di Istana Maimun, Medan, Minggu (26/11) malam. Foto: BPMI.

Presiden Joko Widodo mengajak para pemangku adat keraton nusantara untuk menjaga, merawat, dan melestarikan nilai-nilai budaya adiluhung yang telah membentuk karakter bangsa Indonesia menjadi sebuah bangsa yang besar.

Ajakan tersebut disampaikan Kepala Negara saat menghadiri Peresmian Pembukaan Festival Keraton Nusantara XI, yang digelar di Istana Maimun, Kota Medan, Provinsi Sumatra Utara, Minggu (26/11) malam.

“Saya mengajak para raja, sultan, pangeran sebagai pemangku adat keraton-keraton nusantara untuk terus menjaga, merawat, melestarikan warisan nilai-nilai budaya adiluhung,” ujar Presiden.

Apalagi menurut Presiden, Indonesia dikenal dunia internasional sebagai negara yang memiliki jejak sejarah yang gemilang di masa lalu yang mencatat kebesaran kerajaan-kerajaan nusantara.

Sebagai bentuk penghargaan dan apresiasi, Presiden selalu menyempatkan diri untuk hadir dalam setiap festival keraton nusantara yang diadakan di seluruh Tanah Air.

“Ini merupakan bentuk penghargaan dan apresiasi saya, serta kecintaan dan kebanggaan kita semua pada seluruh warisan adat dan budaya bangsa kita yang memang sangat kaya, yang memang sangat beragam,” ungkap Kepala Negara.

Lebih lanjut, Presiden juga menyatakan kekagumannya terhadap beragam kebudayaan dan adat istiadat yang dimiliki bangsa Indonesia. Mengingat setiap prosesi adat terkandung pesan, filosofi, dan makna untuk saling menjunjung tinggi tata krama dan memperkuat tali persaudaraan.

“Saya semakin kagum dengan kekayaan budaya yang kita miliki karena di setiap prosesi bukan hanya memiliki keindahan estetika yang tinggi, tapi terkandung pesan-pesan simbolik, filosofi-filosofi yang sangat bermakna yang bisa menjadi landasan etik dalam kehidupan kita sehari-hari,” tutur Presiden.

Dalam sambutannya, Presiden juga mengingatkan kepada para pemangku adat keraton nusantara untuk menjadikan warisan kebudayaan Tanah Air sebagai modal untuk menghadapi tantangan di masa mendatang.

Guna mewujudkan hal tersebut, dalam waktu dekat Presiden akan mengundang para pemangku adat keraton nusantara untuk mendiskusikan masalah tersebut

“Nanti mungkin awal Desember atau pertengahan Desember, saya ingin mengundang tapi tidak semuanya untuk berbicara masalah keraton yang ada di nusantara,” ucap Presiden.

Terakhir, Presiden tak lupa menitipkan pesan kepada para pemangku adat keraton nusantara untuk bersama-sama dengan pemerintah menjaga persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia sebagaimana yang diamanahkan para raja terdahulu.

“Saya yakin para sultan, raja, pangeran, dan pemangku adat keraton mendapatkan amanah dari para pendahulu atau raja-raja terdahulu untuk menjadi pengayom bagi seluruh warga, penjaga kerukunan di tengah keragaman, dan perekat di tengah kebinekaan,” ujar Presiden. (sak)

Ini Pemenang Anugerah Wisata Jawa Timur 2017

foto
Sekda Prov Jatim memberikan penghargaan kepada yang terbaik. Foto: Kominfo Jatim.

Destinasi pariwisata dewasa ini memiliki arti strategis dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Sebagai industri telah mendorong sektor ini tumbuh dan berkembang menjadi andalan dalam menambah devisa negara.

Secara ekonomi, wisatawan mancanegara memiliki peran besar dalam menambah devisa negara dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi kerakyatan.

Mereka berkunjung ke Indonesia tidak hanya menikmati keindahan destinasi wisata di negeri ini, tetapi juga membeli produk souvenir, menyewa travel agent, menggunakan jasa perhotelan untuk akomodasi serta yang tidak kalah penting adalah kuliner, dimana semuanya itu disediakan oleh masyarakat.

Hal itu disampaikan Sekda Provinsi Jatim Dr H Akhmad Sukardi MM mewakili Gubernur Jatim pada malam Anugerah Wisata Jawa Timur di Surabaya, Senin (20/11) malam.

Sementara Kepala Disbudpar Jatim Dr H Jarianto MSi mengatakan, Anugerah Wisata Jatim untuk mendorong pemerintah Kabupaten/Kota mengelola daya tarik wisata dan komunitas pariwisata lainnya untuk terus menerus mengembangkan pariwisata berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, serta memberdayakan masyarakat setempat .

Anugerah Wisata Jatim diberikan kepada sembilan pengelola daya tarik wisata yang terdiri dari tiga kategori, yaitu daya tarik wisata alam, daya tarik wisata budaya dan daya tarik wisata buatan. Serta lima pemerintah daerah yang mempunyai komitmen dan kepedulain tinggi dalam mengembangkan sektor pariwisata.

Untuk kategori Pengelola Daya Tarik Wisata Alam, Terbaik I diraih Kab Malang (Ekowisata CMC Tiga Warna), Terbaik II Kab Sumenep (Pantai Sembilan Gili Genting), dan Terbaik III Kab Magetan (Mojosemi Forest Park).

Kategori Pengelola Daya Tarik Wisata Budaya, Terbaik I diraih Kab Jombang (Makam Gus Dur), Terbaik II Kab Jember (Kampung Wisata Belajar Tanoke) dan Terbaik III Kab Ngawi (Desa Wisata Grayudan).

Selanjutnya, kategori Daya Tarik Wisata Buatan Terbaik I diraih Kota Batu (Bukit Batu Flower Garden), Terbaik II Kab Pasuruan (Saygon Waterpark) dan Terbaik III Kab Madiun (Umbul Square).

Pemprov Jatim juga memberikan anugerah karya tulis jurnalistik untuk meningkatkan peran serta insan pers memotivasi pemerintah daerah/stake holder, mempromosikan dan mengangkat potensi pariwisata di Jatim melalui media cetak maupun online. (sak)

Jumlah kunjungan wisman ke Jatim 2016 mencapai 618.615 orang atau naik 1,01% dibanding 2015 sebanyak 612.412 orang.

Sedang pergerakan wisnus terus mengalami kenaikan, tahun 2015 mencapai 51.466.969 orang, dan tahun 2016 jumlah Wisnus mencapai 54.465.000 orang atau naik 6,02%.

Kontribusi pariwisata terhadap perekonomian nasional mengalami peningkatan dengan penghasilan devisa tahun 2015 489.07 juta USD, tahun 2016 513.84 juta USD meningkat 5,1 % dan kontribusi langsung terhadap PDRB ADHB 2015 Rp 92.683,27 miliar dan tahun 2016 Rp 106.274,57 miliar atau naik 14,66%. (ita)

DAFTAR PEMENANG

Pengelola Daya Tarik Wisata Alam:

1. Kab Malang (Ekowisata CMC Tiga Warna)
2. Kab Sumenep (Pantai Sembilan Gili Genting)
3. Kab Magetan (Mojosemi Forest Park)

Pengelola Daya Tarik Wisata Budaya:

1. Kab Jombang (Makam Gus Dur)
2. Kab Jember (Kampung Wisata Belajar Tanoke)
3. Kab Ngawi (Desa Wisata Grayudan)

Daya Tarik Wisata Buatan:
1. Kota Batu (Bukit Batu Flower Garden)
2. Kab Pasuruan (Saygon Waterpark)
3. Kab Madiun (Umbul Square)

PDIP Surabaya Targetkan Pilgub Menang 80 Persen

foto
Gus Ipul dan Mas Anas kompak hadiri Rakorcab DPC PDIP Surabaya. Foto: ngopiae.net.

Ketua DPC PDI Perjuangan Wisnu Sakti Buana dihadapan ratusan pengurus anak cabang dan ranting meminta kesiapan kembali untuk mengamankan suara PDI Perjuangan dalam Pilgub Jatim 2018 mendatang.

“Sebagai partai pemenang di Kota Surabaya, PDIP ingin mengulang kejayaannya di kontestasi Pilgub Jatim dengan target perolehan suara di atas 80 persen,” kata Wisnu saat acara seperti dikutip Ngopiae.net.

Wisnu juga mengatakan jika Rakorcab ini sebagai pemanasan awal setelah melakukan konsolidasi partai untuk menjaga suara kader tetap utuh dalam pemenangan Gus Ipul dan Anas pada pilgub Jatim 2018 mendatang.

“Bayangkan jika anak rating semua hadir, maka gedung ini tidak akan muat, hari ini sekitar 1500 pengurus anak rating hadir, ini sebagai bukti untuk memenangkan pemilu gubernur tahun depan, target kita menang besar lha, karena Surabaya menjadi barometer Jawa Timur, sejauh ini Surabaya menjadi kandangnya PDI Perjuangan,” ungkapnya.

Oleh karenanya, pada Pilgub Jatim 2018 mendatang, Wisnu mengaharapkan bisa mendulang suara sebanyak-banyak seperti pada pemilu 2014 dan pilwali 2015 lalu.

“Sebagai wujud kongkrit pemenangan kita akan bentuk tim bappilu dan bersama badan saksi akan bergerak, artinya dari struktur sudah dua kali kuota TPS, kita tidak akan kebingungan akan cari saksi serta penggerak, karena menggerakan pengurus itu lebih dari cukup, ditambah relawan-relawan dan simpul lainya sudah terbentuk,” ujarnya.

Sementara itu, Abdullah Azwar Anas mengatakan jika dirinya ingin menampilkan suasana kampanye yang menggembirakan dan tidak akan melakukan kampanye negatif, tetapi berusaha membangun politik dengan rasa gembira tanpa menyela siapapun termasuk lawan di Pilgub Jatim.

“Menjalankan masukan dari partai terkait langkah ke depan, kami juga ingin membangun politik dengan fun, tidak semata-mata fanatisme dukungan, karena dengan membangun politik dengan rasa gembira ini, maka kita akan senang mengerjakan, tidak ada kampanye yang menafikkan dan menjelekkan orang lain,” tandasnya.

Bahkan, Anas mengaku sudah mempraktekkan kampanye atau praktek politik dengan rasa gembira, terutama ketika dia keliling di Jawa Timur. “Saya sudah memulainya saat mengunjungi 32 kab/kota, alhamdulillah direspon dengan baik,” tuturnya. (ita)

Saat Seni Indonesia ke Pentas Dunia

foto
Wakil Kepala Bekraf Ricky Josep Pesik saat jumpa media di Jakarta. Foto: Bekraf.go.id.

Pameran seni rupa kontemporer Indonesia kini semakin berkembang. Di beberapa kota di Indonesia tiga biennale akan hadir dalam waktu berdekatan, Jakarta Biennale, Jogja Biennale, dan Makassar Biennale.

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mendukung hadirnya biennale ini di berbagai kota sebagai kesadaran pemerintah untuk mengangkat seni budaya kontemporer Indonesia di pentas dunia.

“Penyelenggara sepakat menyajikan acara ini secara simultan karena sangat efektif dan memudahkan Indonesia untuk menarik tamu-tamu internasional,” ujar Wakil Kepala Bekraf Ricky Josep Pesik di jumpa pers tiga kota biennale di Senayan City, Jakarta.

Menurut Ricky pameran ini penting dihadirkan ke publik untuk mengangkat peran seni kontemporer Indonesia di dalam konstelasi dunia seni rupa saat ini, hal ini senada dengan arahan Presiden Jokowi agar menyajikan Indonesia lebih komprehensif. Ia juga menambahkan jika acara ini sukses, maka hal yang sama dapat dijadikan agenda rutin dua tahunan.

Secara berurutan Jogja Biennale akan dibuka pada tanggal 2 November dengan melanjutkan seri “Equator”nya. Kali ini akan hadir Equator #4 dengan tema utama STAGE of HOPELESSNESS. Acara ini akan berlangsung hingga 10 Desember di Museum Nasional Jogja dan menghadirkan 27 seniman Indonesia yang telah dikurasi dan 12 seniman Brasil.

Sementara itu Jakarta Biennale akan dibuka pada tanggal 4 November-10 Desember dengan mengangkat tema “JIWA” yang akan berlangsung di tiga tempat yaitu Gudang Sarinah Ekosistem, Museum Seni Rupa dan Keramik dan Museum Sejarah Jakarta. Acara ini akan melibatkan 51 seniman Indonesia dan mancanegara.

Sedangkan Makassar Biennale akan hadir pada 8-28 November di Menara Pinisi, Makassar dengan menghadirkan tema “Maritim”. Seniman dari Aceh hingga Papua direncanakan akan berpartisipasi dalam acara yang digelar untuk kedua kalinya ini.

Anwar ‘Jimpe’ Rachman, selaku Direktur Makassar Biennale 2017 menjelaskan bahwa Makassar Biennale menetapkan Maritim sebagai tema abadi. “Ini ajang seni rupa kontemporer terbesar di Indonesia Timur, dan mungkin termasuk Biennale terbesar di dunia yang berbasis Maritim,” ujarnya.

Di dalamnya pula bukan hanya jaringan seni rupa nasional dan internasional yang mengemuka. Makassar Biennale membuka ruang bagi warga berjejaring dengan menampilkan dan memamerkan karya-karya UKM rintisan (maksimum berusia 2 tahun).

Ini menandakan bahwa bukan hanya antar seniman dan seniman yang “bertransaksi”, warga (yang ketika Biennale berakhir) pun akan terus bergeliat dengan usaha-usahanya.”

Biennale saat ini tampaknya menjadi sebuah prasyarat bagi negara mana pun yang ingin bergabung pada peta seni budaya kontemporer dunia. Indonesia, melalui ketiga Biennale yang hadir adalah salah satu peserta dunia yang penuh dengan rasa optimis untuk mensinyalkan kedatangannya di kancah seni budaya dunia. (sak)

Presiden Jokowi Minta ‘10 Bali Baru’ Dipercepat

foto
Presiden Jokowi memimpin rapat terbatas ‘Pengembangan 10 bali Baru’. Foto: Biro Setpres.

Presiden Joko Widodo mengemukakan, adanya pergeseran orang untuk tidak belanja barang, tidak belanja merk, tetapi senang traveling, senang wisata, senang mencoba restoran baru, senang mencoba Kafe, senang mencoba makanan-makanan yang khas.

“Ini sebuah kesempatan yang harus kita manfaatkan,” kata Presiden Jokowi saat menyampaikan pengantar pada Rapat Terbatas (Ratas) mengenai Pengembangan 10 Bali Baru, yang digelar di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat, Kamis (16/11) siang.

Kepala Negara juga menunjuk terjadinya lonjakan turis Tiongkok, dimana sesuai data terakhir adalah sebesar kurang lebih 125 juta, yang akan berkembang dalam lima tahun ini kemungkinan menjadi 180 juta, dan itu akan naik terus.

Itu, lanjut Presiden, hanya baru dari satu negara. Dari Tiongkok saja itu, menurut Presiden, hampir separuhnya masuk ke ASEAN. Separuh dari 125 juta, artinya 62 juta masuk ke ASEAN.

Presiden Jokowi meyakini, dari angka itu, kalau kita memiliki destinasi 10 Bali baru yang digarap secara cepat, disiapkan secara baik, tentu saja dengan diferensiasi yang berbeda antara destinasi satu dengan destinasi yang lain, maka ini akan menjadi sesuatu yang menarik.

“Sehingga orang datang ke Indonesia bisa datang karena ketertarikan keindahan pantainya, bisa juga karena keindahan budayanya misalnya Borobudur, bisa juga datang karena keindahan goanya, bisa datang karena keindahan geopark-nya, bisa datang karena keindahan danaunya yang sangat besar seperti Toba, bisa datang karena ingin diving dan surfing misalnya,” ujar Presiden.

Menurut Presiden, kira kita harus memiliki pembeda-pembeda seperti itu, sehingga diharapkan dari 62 juta yang hanya dari satu negara itu, misalnya separuh saja atau sepertiganya saja datang ke kita, berarti sudah 20 juta.

“Ini baru dari satu negara. Sehingga kalau target yang kita berikan kepada Menteri Pariwisata tahun 2019 itu angkanya adalah 20 juta, itu juga bukan sesuatu yang, menurut saya, bukan sesuatu yang amat sulit untuk kita capai,” tutur Presiden.

Untuk penuhi target itu, Presiden Jokowi menekankan, agar 10 Bali Baru ini harus cepat dirampungkan. Ia meminta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN, Kementerian Lingkungan Hidup, Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif), dan Kementerian Koperasi dan UKM, semuanya harus siap terintegrasi dalam sebuah program pengembangan yang sudah diputuskan.

Bangunan Adat
Kepala Negara memberikan contoh, misalnya kita ingin mengembangkan Mandalika atau Danau Toba, ya lingkungannya harus disiapkan. Ia menunjuk contoh misalnya Mandalika, bagaimana bukit-bukit yang ada di kanan kiri itu gundul semuanya segera ditanam. Kemudian bangunan-bangunan adat, jangan sampai di situ malah bangunan adatnya dihilangkan, diganti dengan arsitektur yang Spanyol atau Mediterania, misalnya.

“Bangunan adat ini harus betul-betul kita perhatikan,” tutur Kepala Negara.

Sementara di Danau Toba misalnya, Presiden mempertanyakan, kenapa rumah-rumah yang sangat bagus, warna warni seperti itu tidak dipakai menjadi sebuah brand untuk Danau Toba. Ia menunjuk contoh restoran misalnya, menurut Presiden, Bekraf bisa mengintervensi, atau Kementerian Pariwisata bisa mengintervensi, sehingga seperti di Toba restorannya bisa di-upgrade bersama-sama. Entah dari sisi desain, entah dari sisi fasad depan.

Kemudian juga lingkungannya, Presiden mengaku sudah menyampaikan ke Menteri PUPR misalnya, untuk pasar cenderamata, bisa Menteri Perdagangan atau Menteri PU, kawasan parkir, kawasan dekat pantai.

Sebab kalau tidak, menurut Presiden, nanti akan kedahuluan oleh pedagang-pedagang kaki lima yang bertebaran dimana-mana. “Kita siapkan satu tempat untuk mereka, sudah berjualan di situ, pasar cenderamata,” tutur Kepala Negara.

Untuk Mandalika, Presiden menyarankan untuk minta saja 2 hektar atau 3 hektar untuk pasar cenderamata, yang bangun bisa Kementerian Perdagangan bisa Kementerian PUPR, dengan desain-desain arsitektur lokal yang baik.

Kemudian tempat pemberhentian bus dan lain-lain atau restoran-restoran kecil milik masyarakat, Presiden menyarankan untuk disiapkan. Jangan sampai dibiarkan masyarakat secara sendiri-sendiri membikin sehingga yang terjadi adalah PKL (pedagang kaki lima) yang bertebaran dimana-mana.

“Penghijauan, saya harapkan, misalnya di Toba, di Mandalika, betul-betul digarap secara baik sehingga benar-benar lingkungan yang ada itu sebuah lingkungan yang baik, tidak gundul,” kata Presiden.

Inilah, tutur Kepala Negara, yang menarik untuk segera dikerjakan. Kepala Negara mengingatkan, ini memerlukan kecepatan dalam merespon perkembangan pariwisata global yang begitu sangat cepatnya. (sak)

Keteguhan Harmony Boen Bio di Jalur Musik Religi

foto
Anggota Harmony, grup musik Boen Bio, setelah berlatih di ruang musik kelenteng. Foto: Salman Muhiddin/Jawa Pos.

SPIRIT Wong Feihung, tokoh legendaris bela diri, ulama, sekaligus tabib, asal Tiongkok, merebak di Kelenteng Boen Bio, Minggu (5/11). Semangat itu menggelora dari ruangan sempit, berukuran 2 x 5 meter, di belakang kelenteng.

Nan er dang zi qiang, lagu tema film Once Upon a Time in China sedang dimainkan grup musik Harmony. Film yang dibintangi Jet Li tersebut memang tontonan populer pada tahun 90-an. Filmnya legendaris, lagu temanya juga legendaris. Mendengarkannya seperti bernostalgia.

Siang itu, sejumlah umat kelenteng belum pulang. Ada arisan. Mereka yang belum pulang mendekat seperti terseret magnet. Dentuman floor tom drum dan suara pecah simbal yang digebuk Lim Tiong bikin merinding. “Ciamik,” ujar salah seorang perempuan lanjut usia sambil manggut-manggut.

Penonton dadakan itu mengintip dari pintu dan jendela ruang musik tersebut. Sengaja tidak disebut studio musik. Sebab, setengah ruangan itu adalah gudang. Lemari penyimpanan dan perkakas di dalam kardus harus berdesak-desakan dengan alat musik beserta pemainnya.

Di dalamnya ada sembilan pemain musik yang ditemani dua kipas angin. Mereka berpeluh, tapi tidak mengeluh. Yang ada malah raut gembira karena bisa berkumpul dan berlatih.

Saat itu vokalis yang datang hanya satu. Yakni, Jefferson. Vokalis perempuan berhalangan hadir untuk latihan. ”Enggak masalah. Saya bisa suara laki-laki dan perempuan,” ucap pria yang mampu menyanyikan lagu-lagu dengan nada tinggi tersebut setengah berkelakar.

Di dalam ruangan itu, ada pemain drum, keyboard, gitar, dan bas. Ada juga empat pemain alat musik tradisional Tionghoa. Alat musik modern berpadu dengan tradisional.

Alat musik paling besar, yangqin, dimainkan Chung Hian. Alat musik yang punya banyak dawai itu dimainkan dengan cara dipukul secara lemah lembut. Alat pemukulnya terbuat dari bambu tipis dengan ujung berlapis karet.

Indira Agustin memainkan guzheng. Kotak cembung dengan 21 dawai itu dimainkan dengan cara dipetik. Dawai-dawai tersebut disetel pada nada pentatonis yang terdiri atas do, re, mi, sol, dan la. Sudah ada empat kuku palsu yang terpasang di jemari arsitek perempuan itu.

Djin Meng menjadi tukang tiup. Dia adalah pemain dizi, seruling tradisional Tionghoa yang mengisi nuansa romantis dan kalem. Sebelum dimainkan, dia sibuk memasang membran tipis di salah satu lubang dizi. Sangat tipis. Setipis kulit ari buah salak. Tersenggol sedikit bisa robek.

Yang terakhir adalah erhu. Hampir sama dengan biola. Bedanya, alat musik gesek tersebut hanya memiliki dua senar. Sedangkan biola punya empat. ”Kalau di sini kayak yang dipakai tukang arum manis. Tapi, mereka pakai kaleng susu,” ujar Bing Slamet Wijaya, pencetus grup musik Boen Bio kepada Koran Jawa Pos.

Erhu yang dia pakai menggunakan tabung kayu. Di bagian depan terdapat sisik ular yang berfungsi menyalurkan getaran dari senar erhu. Semakin besar sisik ular itu, semakin merdu suara yang dihasilkan. Sisik besar biasanya diambil dari bagian kepala ular.

Lagu-lagu pop memang sering digunakan untuk latihan. Namun, yang terpenting pada latihan setiap pekan adalah mematangkan lagu-lagu rohani. Misalnya, lagu Sinar Pancaran atau Doaku yang biasa dimainkan sebelum doa. Beberapa lagu pujian baru juga harus dimatangkan.

Setelah berlatih, para pemain menyantap gorengan tahu isi dan es blewah. Mereka mengisi kembali tenaga setelah dua setengah jam berlatih. Sambil duduk di lorong gedung di belakang kelenteng, Bing menceritakan kisah terbentuknya grup musik.

Menurut dia, musik adalah elemen penting ritual umat Khonghucu. Nabi Kongzi sangat suka dengan musik. Karena itu, lagu-lagu pujian selalu dilantunkan ketika beribadah. Terutama saat hari-hari besar keagamaan Khonghucu.

Namun, Kelenteng Boen Bio tidak memiliki grup musik hingga awal 1980-an. Pada 1981, Bing menginisiatori terbentuknya grup musik untuk peringatan hari lahir (harlah) Nabi Kongzi.

”Saya bikin drum dari timba,” ujarnya sambil terus meringis karena mengingat peristiwa itu. Karena keterbatasan, drum pun tidak terbeli. Simbalnya dari seng bekas yang digunting. Hi-hat drum diganti tamborin alias icik-icik. Pemukul bas drum yang diinjak dia bikin sendiri dari kayu dan pegas. Kreatif. Kepepet.

Drum bikinan sendiri itu diiringi musik gitar dan organ. Jemaat kelenteng yang melihat saat itu kaget. Namun, Bing dan kawan-kawannya cuek saja. Yang penting, tujuan dan niatnya mulia. Tentu Tuhan tidak mempermasalahkan cara umatnya beribadah meski dalam keterbatasan.

Pertolongan lalu datang secepat kilat. Salah seorang jemaat yang melihatnya merasa iba. Dia memberikan sejumlah uang untuk membeli drum buat kelenteng. ”Untuk beli drum butuh berapa?” ujar Bing yang menirukan salah seorang pengusaha dermawan itu.

Bing menyebut Rp 50 ribu. Itu sudah sangat banyak. Bing lantas pergi ke Praban, pusat alat musik paling lengkap pada zaman itu. Ternyata harga drum cuma Rp 35 ribu. Susuknya (uang kembalian) Rp 15 ribu dia gunakan untuk membeli gitar dan kabel-kabel untuk pertunjukan selanjutnya. Gairah bermusik pun semakin berkobar.

Di grup musik tersebut, Bing dianggap sebagai nyawanya. Sebab, Bing bisa segala alat musik. Dia juga merekrut pemain-pemain baru dan mengajari mereka.

Di antara seluruh personel grup musik itu, hanya Bing yang berprofesi sebagai guru musik. ”Saya tekuni gitar. Alat musik lainnya sekadar bisa lah, ” ujar pria asal Sidoarjo tersebut merendah.

Bing mengabdikan sebagian waktunya untuk grup musik kelenteng. Hidupnya memang dari musik. Kisah masa kecilnya mirip film August Rush. August, seorang bocah yang tiba-tiba mahir bermain musik dan menjadi komposer genius.

Saat Bing duduk di bangku TK nol besar, dia bisa menirukan permainan piano gurunya. Gurunya kaget karena Bing belum pernah belajar piano sebelumnya. Di rumah, kemampuan bermusiknya diasah dengan seruling Jawa dan harmonika.

Saat kelas I SD, penglihatannya menurun. Setelah diperiksakan ke dokter mata, kondisinya bertambah parah. Sebab, dokter salah memberi dia kacamata. Namun, di tengah keterbatasan melihat, kemampuan mendengar Bing semakin terasah.

Saat itu suasana politik sedang genting. Bing yang masih SD terpaksa putus sekolah. Memang, ketika itu pemerintahan Orde Baru membatasi praktik budaya Tionghoa. Sekolah-sekolah Mandarin pun ditutup.

Lagi-lagi, ada hikmahnya. Bing lebih fokus belajar musik di rumah. Hingga kini dia bisa memainkan lebih dari 12 alat musik. Dia juga memiliki kemampuan sebagai komposer lagu. Mengingat sulitnya kehidupan saat itu, dia miris melihat minimnya minat penerus grup musik kelenteng.

Padahal, saat ini sudah 17 tahun etnis dan budaya Tionghoa diakui negara. Dahulu, jangankan bergabung di grup musik kelenteng, beribadah saja dibatasi. Pertunjukan musik Tionghoa tidak boleh secara terang-terangan atau ditampilkan di muka umum.

Saat ini hak-hak warga Tionghoa telah dikembalikan. Namun, para pemuda masih ogah melirik hal-hal yang berbau tradisional. ”Malah orang Jawa yang suka saat lihat kami tampil,” jelas Bing.

Secercah harapan muncul setelah Doni, 15, dan Erwin Suwanto, 13, bergabung. Keduanya adalah murid les Bing. Dua kakak adik tersebut mengisi posisi drum dan keyboard di grup musik Harmony. Sudah diajak manggung bareng. Memang, selain di kelenteng, Harmony sering menerima undangan untuk tampil di berbagai tempat.

Dua remaja tersebut juga terus berlatih alat-alat musik tradisional. Mereka tidak terlihat canggung saat berlatih. ”Awalnya memang minder karena yang main senior-senior,” jelas Doni, putra Candra Suwanto.

Doni kini belajar erhu dan guzheng. Begitu pula adiknya. Dia mengaku tertarik dengan musik tradisional karena keunikannya. Selain itu, di Indonesia pemain musik tradisional Tionghoa belum banyak.

Doni pernah mengajak teman-temannya untuk bergabung. Ada yang mau. Tapi, di tengah perjalanan, mereka memutuskan untuk keluar. Alasannya, tugas sekolah menumpuk. Siswa kelas XI SMK St Louis Surabaya itu juga punya banyak tugas. Agar bisa berlatih di Boen Bio, dia harus menuntaskan seluruh PR-nya pada Sabtu.

Seluruh pemain musik di grup itu memang harus punya komitmen saat berlatih atau tampil. Yang sekolah harus menyelesaikan PR, yang bekerja sebagai pedagang harus meninggalkan dagangannya, dan yang bekerja di perusahaan harus izin ke bos.

Sebelum mengakhiri pertemuan sore itu, pemain yangqin, Chung Hian, menitipkan pengumuman untuk dikorankan. Maklum, sangat susah mencari peminat alat musik tersebut.

Di Kelenteng Boen Bio, hanya dia yang bisa. ”Dicari pemain yangqin, nanti ada hadiah menarik. Kira-kira begitu bunyi pengumumannya,” jelas pria yang pandai melawak itu. (jpg)

Kisah Garudeya Menyelamatkan Ibu Pertiwi

foto
Corak keramik bersumber dari relief Candi Kidal karya Ponimin. Foto: Liputan6.com/Zainul Arifin.

Sedikitnya 40 keramik berderetan rapi terpajang di dalam Gedung Dewan Kesenian Kota Malang, Jawa Timur. Keramik berbentuk dasar kendi (gerabah tempat air minum) dihiasi lilitan garis sampai tempelan figur manusia dan binatang.

Seluruh keramik itu karya Ponimin, keramikus yang juga Dosen Seni Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Ia tengah menggelar pameran tunggal bertema ‘Kendi Patirtan Kehidupan’ akhir Oktober lalu di Gedung Dewan Kesenian Kota Malang.

Karya itu bergaya deformatif figurative dan bercerita tentang kehidupan manusia dan alam sekitar. Ia membuat keramik dengan teknik pinching atau pijat dan tempel dengan dua kali proses pembakaran.

Pewarnaan dengan teknik lelehan glasir yang tebal tak beraturan. “Membuat keramiknya itu mudah, paling sulit adalah mencari ide untuk konsep keramik,” kata Ponimin kepada Liputan6.com di Malang.

Tema pameran ‘Kendi Patirtan Kehidupan’ itu bersumber dari relief Garudeya di Candi Kidal. Relief menggambarkan seekor garuda menyangga kendi berisi air suci (tirta amerta). Menurut mitos, itu menceritakan seorang anak yang berusaha menyelamatkan ibunya dari perbudakan.

Kisah itu diibaratkan penyelamatan ibu pertiwi sekaligus menyelamatkan sumber kehidupan. Keramik karya Ponimin itu diberi beragam judul seputar air dan kehidupan. Misalnya, ‘Menggapai Patirtan Suci’, ‘Siklus Patirtan Kehidupan’ sampai ‘Elang Kembar Penjaga Keagungan Patirtan’.

“Air dalam kendi sebagai simbol kehidupan. Ada banyak kebudayaan kita yang bisa menjadi sumber inspirasi dalam berkarya,” ujar Ponimin.

Keramik berbentuk dasar kendi itu sekaligus bentuk keprihatinan dengan semakin tergerusnya budaya lokal berupa kendi itu. Masyarakat Indonesia kalah dengan masyarakat Tiongkok maupun Jepang yang masih merawat budaya minum teh dengan teko untuk penyajiannya. “Secara tak langsung, tradisi di Tiongkok dan Jepang itu turut melestarikan perajin keramik,” ucap Ponimin.

Indonesia memiliki budaya lokal ngunjuk tuyo wening atau minum air bening dengan kendi sebagai wadahnya. Tapi, tradisi itu kalah dengan kehidupan modern yang meminum air dari gelas atau wadah berbahan plastik dan kaca. Minum air dari kendi diyakini lebih menyehatkan. “Kendi punya pori–pori yang bisa menyerap racun, menghigieniskan air tanpa perlu dimasak,” kata Ponimin. (ist)

Lima Kesenian Jawa yang Dinilai Berbau Mistis

foto
Kesenian Kuda Lumping disertai atraksi yang nyaris tak masuk akal. Foto: Cahayailmuku1315.blogspot.co.id.

Indonesia merupakan negara yang kaya akan seni dan budaya warisan nenek moyang. Hingga saat ini, hal itu masih terus dilestarikan dan sering ditampilkan dalam berbagai kesempatan. Salah satunya kesenian Jawa yang sangat khas pada budaya dan adat istiadatnya.

Selain itu, kesenian Jawa juga terkenal berbau mistis, hal ini tidak lepas dari kepercayaan animisme dan dinamisme nenek moyang. Bentuknya tergambar dari setiap pertunjukan kesenian itu sendiri. Seperti dilaporkan PortalMadura.com, berikut lima kesenian Jawa yang dinilai berbau mistis:

Kesenian Tari Ronggeng
Tari yang berasal dari Jawa Barat ini disebut-sebut memiliki kemistisan tarian, karena digunakan untuk membalas dendam, sehingga berhubungan dengan kematian.

Salah satu versi cerita mengenai awal mula Tari Ronggeng berkisah tentang seorang puteri yang ditinggal mati oleh kekasihnya. Sang puteri pun meratapi kematian orang yang dicintainya itu setiap hari, hingga jenasah kekasihnya itupun mulai membusuk dan menyebarkan bau menyengat. Untuk menghibur sang putri, beberapa orang pun menari mengelilinginya sambil menutup hidung karena bau busuk mayat.

Karena terbawa nada yang melankolis, sang puteri pun kemudian terbawa suasana, hingga kemudian ikut menari dan menyanyi dengan suara yang menyayat hati. Dalam Tari Ronggeng ini, biasanya memang diperagakan oleh seorang perempuan sebagai penari utama, dengan diiringi oleh gamelan dan kawih pengiring.

Kesenian Debus
Kesenian ini terkenal dengan beragam atraksinya yang berbahaya, seperti mengiris tangan atau tubuh dengan golok, menusuk perut dengan tombak, menusukkan jarum kawat ke kulit hingga tembus, berguling di atas beling, membakar tubuh, dan memakan api. Hebatnya, semua itu dilakukan tanpa terluka atau berdarah sedikit pun.

Menurut kepercayan masyarakat, itu semua bisa dilakukan karena ada bantuan dari dunia gaib seperti jin. Atraksi kesenian yang mempertunjukkan kemampuan kekebalan tubuh ini diperkirakan mulai muncul sejak abad ke-16, yang saat itu menjadi ajang memompa semangat juang rakyat Banten.

Hingga sekarang, kesenian ini terus dipertontonkan, seperti dalam acara kebudayaan atau upacara adat. Bahkan kesenian debus ini juga menjadi salah satu daya tarik wisata di Banten, sehingga ditonton banyak orang, hingga para turis asing sekalipun.

Kesenian Kuda Lumping
Kesenian Kuda Lumping atau disebut juga jathilan ini mengisahkan tentang prajurit. Kisah warok pada zaman dahulu tersebut menggambarkan kehidupan yang mencari makan dengan cara berburu.

Diceritakan, seseorang pergi berburu babi hutan bersama anjing peliharaan. Tanpa disadarinya, prajurit itu tiba-tiba terperosok ke dalam kubangan lumpur, bersama anjing dan babi hutan yang sedang dikejarnya, sehingga mereka pun bertarung di sana. Dalam kesenian Kuda Lumping sendiri, juga terdapat kubangan lumpur untuk para penari yang bermain dalam kesenian ini.

Dalam penampilannya, semua penari itu pun kemudian mengalami kesurupan dan bergulat di dalam kubangan lumpur. Makanya, wajar saja jika yang banyak orang menganggap kesenian ini mengandung hal-hal mistis, yang menyatu antara tarian tradisional dengan hal gaib, sehingga para penari mengalami kesurupan.

Kesenian Reog Ponorogo
Kesenian yang berasal dari Ponorogo, Jawa Timur ini menjadi salah satu yang paling mistis di Indonesia. Reog biasanya dipentaskan dalam upacara adat dan acara pernikahan, dengan dua atau tiga tarian.

Tarian utamanya adalah penampilan penari yang memakai topeng kepala singa seberat 50-60 kilogram. Meski berat, tapi penarinya terlihat enteng membawanya. Pada adegan inilah diyakini terdapat peran “makhluk halus” yang memberikan kekuatan tambahan.

Kesenian Tari Sintren
Kesenian Jawa lainnya yang berbau mistis adalah tari tradisional masyarakat pesisir utara Pulau Jawa. Aroma magis dalam Tari Sintren ini bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dengan Sulandono.

Sintren sendiri diperankan seorang gadis. Dalam penampilannya, tidak jarang si penari mengundang roh Dewi Lanjar untuk masuk ke dalam tubuhnya, agar terlihat lebih cantik dan bisa membawakan tarian yang mempesona. (ist)

Orang Jawa Memiliki Banyak Leluhur

foto
Orang Jawa disebut-sebut memiliki banyak leluhur. Foto: ist.

Membahas asal-usul suku-suku di Indonesia selalu menarik, termasuk Jawa. Akibat modernisasi sulit melihat perbedaan antara orang Jawa dan suku lain.

Buku Asal-usul dan Sejarah Orang Jawa mencoba menjawab siapa orang Jawa. Buku ini ditulis Sri Wintala Achmad. Buku setebal 264 halaman ini diterbitkan Araska pada tahun ini dan mendapat nomor ISBN: 978-602-300-386-0.

Didalamnya juga ditulis berbagai budaya Jawa yang sarat falsafah hidup. Hal ini sebagai pijakan dan bekal orang Jawa mengarungi kehidupan.

Banyak pandangan tentang asal-usul orang Jawa. Para sejarawan mengatakan, sejak 3.000 sebelum Kristus hingga era kerajaan-kerajaan Jawa, orang Jawa bukan hanya penduduk lama yang tinggal di tanah Jawa, tetapi juga para pendatang dari suku Lingga, Tiongkok Daratan, Yunan atau Funan.

Ada juga dari Kasi (India Selatan), Dinasti Kusana (India), keturunan Thailand (Siam), Turki, Arab, dan Campa. Dalam perjalanannya, orang-orang Jawa didominasi keturunan Tiongkok dan India.

Pendapat ini bisa dibuktikan secara ilmiah dari tes deoxyribonucleic acid (DNA). Di mana DNA orang Jawa tidak jauh berbeda dengan DNA orang Tiongkok dan India (hal 19-22).

Selain itu, meskipun masih dalam perdebatan, definisi orang Jawa tidak terbatas hanya pada orang yang lahir dan bertempat tinggal di Pulau Jawa, khususnya Provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur yang senantiasa berbahasa, berbudaya, berfilsafat, dan berkepribadian Jawa.

Seseorang berkelahiran di Jawa atau keturunan orang Jawa, namun tinggal di luar wilayah Jawa tetap dianggap orang Jawa. Asalkan, orang tersebut memiliki kepribadian Jawa, yang senantiasa menerapkan bahasa, budaya, dan filsafat Jawa.

Namun, orang yang sekadar lahir dan bertempat tinggal di wilayah Jawa, tetapi tidak berkepribadian Jawa dianggap bukan orang Jawa sesungguhnya (hal 9).

Bila menilik sejarah, orang-orang Jawa tidak hanya berasal dari satu wilayah, bahkan negara, sehingga menghasilkan salah satu ciri kepribadian orang Jawa bisa berbaur dengan orang-orang dan bangsa lain, tanpa memerhatikan suku, agama, dan ras. Contoh, dari kepribadian ini salah satunya dapat ditemukan di Yogyakarta.

Di wilayah yang dikenal sebagai miniatur Indonesia itu, orang Jawa dapat berbaur dan bersaudara dengan orang-orang dari Jawa Timur, Jawa Barat, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan lain-lain. Bahkan, orang-orang Jawa bisa bergaul dengan para pelancong mancanegara (hal 42).

Budaya Jawa warisan para leluhur, tidak bersifat menggurui. Sebab budaya Jawa mengandung banyak tanda penuh makna yang menggambarkan pandangan hidup. Hal itu dapat ditemukan antara lain dalam kesenian, seperti pertunjukan tari serimpi yang dimainkan empat wanita.

Secara filosofis, jumlah empat penari wanita dalam tarian ini melambangkan empat arah mata angin: utara, timur, selatan, dan barat. Selain itu, juga melambangkan empat unsur alam: api, udara, air, dan tanah (hal 170).

Sajian kuliner pun tak lepas dari simbol yang memberikan pengajaran hidup, salah satu contohnya jajanan pasar, lemper. Lemper hampir selalu ada dalam setiap acara besar, mulai dari resepsi pernikahan, khitanan, hingga pengajian.

Oleh masyarakat Jawa, lemper dimaknai yen dialem atimu aja memper (kalau dipuji, kau jangan sombong). Dengan demikian, lemper memiliki ajaran kepada setiap manusia agar tidak mudah sombong saat dipuji orang lain (Hal 201).

Selain makna yang terkandung dalam kesenian dan kuliner, buku ini menjabarkan bermacam-macam makna di balik kesusastraan, peribahasa, aliran kepercayaan, bahasa, upacara adat, arsitektur, busana adat, dan lain-lain.

Penjelasan dalam buku ini, tidak bermaksud mengkotak-kotakan antara suku Jawa dengan suku lainnya, sebab negara ini dibangun dari persatuan seluruh suku bangsa yang ada di Indonesia, yang saling melengkapi untuk mencapai tujuan yang sama. (Resensi oleh Yatni Setianingsih, lulusan Institut Seni Budaya Indonesia Bandung dan sudah dipublikasikan di Koran Jakarta)