Menelisik Kebudayaan Dangdut Koplo

foto
Beberapa video dangdut koplo di Youtube. Foto: Beritagar.id.

Lagu-lagu dangdut koplo seperti Ditinggal Rabi, Bojoku Galak, Jaran Goyang, Konco Mesra, terdengar di mana-mana. Tanggapan (konser) di pesta hajatan akrab dengan dangdut koplo.

Orkes kelas kampung pun laris manis menghibur tamu undangan di musim kawin. Di tempat-tempat umum, pom bensin, minimarket, terdengar alunan dangdut koplo.

Tema lagu dangdut koplo memang akrab dengan realitas masyarakat. Lagu Bojoku Galak menghasilkan idiom terkenal, kuat dilakoni nek ra kuat ditinggal ngopi (kuat dijalani kalau tidak kuat ditingal minum kopi).

Dangdut koplo sebagai sebuah genre musik memang menarik dan unik. Seperti Nusantara yang mampu mengakulturasi budaya luar, pun demikian dengan dangdut koplo. Semua lagu bisa dibikin koplo, meski lagu dengan irama lembut sekalipun.

Karena karakter ini dangdut koplo sesungguhnya miskin kreasi. Seringkali lagu-lagu pop sendu, pada bagian awal masih seperti lagu aslinya. Baru pada bagian selanjutnya tabuhan gendang masuk dan sahihlah musik pop sebagai dangdut koplo.

Lagu Menghitung Hari-nya Krisdayanti yang liris dan hanya diiringi piano pun, misal, bisa bikin goyang saat dikoplokan.

Fenomena Via Vallen dan Nella Kharisma, setelah sebelumnya demam Sagita dengan seri lagu Ngamen, grup Monata di Jawa Timur, Pantura di Jawa Tengah, memunculkan fenomena pentas dangdut yang selalu dinanti.

Perkembangan dangdut merentang dalam masa yang cukup panjang. Jika Dangdut pada dekade 1960-1970-an lekat dengan citra kampungan, lalu Rhoma Irama (waktu itu masih Oma Irama) memopulerkan dangdut yang tidak lagi berkiblat pada musik gambus dan gendang India.

Lagu-lagu Soneta Grup sendiri sesungguhnya adalah dangdut yang evergreen (abadi). Kejelian Rhoma Irama melintas berbagai tema: cinta, politik, sosial, ekonomi, agama, memang tiada duanya di jagad musik tanah air.

Rhoma Irama berhasil mencangkokkan melodi gitar model Deep Puple, Led Zeppelin, berpadu dengan suara gendang. Karena itu, perkembangan dangdut dapat dipandang sebagai indikator modernitas yang dicapai bangsa ini (Moh Soffa Ihsan, Ulumul Qur’an No 01/XXI/2012: 102).

Dangdut seolah musik yang ditakdirkan untuk adaptif terhadap jenis musik lain. Ketemu keroncong jadi campur sari. Ketemu pop jadi pop jawa a la Didi Kempot, ketemu hip hop jadi dangdut koplo hari ini. Irama dangdut juga tercangkok pada lagu-lagu kasidah, dan nadanya dipinjam untuk melantunkan salawat barzanji.

Dangdut koplo muncul di Jawa Timur pada 1996 di Jawa Timur. Popularitas dangut melesat saat Inul Daratista mencuri perhatian masyarakat dengan goyang ngebor-nya pada 2003.

Televisi swasta menggelar kontes dangdut untuk mengangkat dangdut. Kontes dangdut bahkan dilakukan dalam wilayah regional ASEAN, terutama negara-negara rumpun melayu. Penyanyi-penyanyi dangdut dari pantura berlomba untuk masuk industri televisi yang bergelimang rupiah.

Jika musik adalah cerminan sosiokultural masyarakat, maka dangdut koplo adalah bentuk realitas yang lain. Sebagaimana dikatakan NDX, bahwa patah hati tidak perlu ditangisi, cukup dinyanyikan saja.

Arsendo Atmowiloto (Kalam, edisi 7, 1996: 4) mendedahkan budaya dangdut sebagai “mewakili proses yang terus berlangsung…. memiliki ruh pada proses yang berinteraksi, selalu dinamis, dan karenanya tidak mengabdi pada seseorang atau lembaga… (karena itu) dangdut tidak diakui sebagai budaya yang resmi, yang baik dan yang benar karena menolak kuasa penciptaan selain pada dirinya.” Berbeda dengan kebudayaan wayang untuk menyebut budaya adiluhung, budaya dangdut menunjukkan gejala budaya yang banal.

Pentahbisan Rhoma Irama sebagai Raja Dangdut seolah “mengakhiri” perjalanan dangdut. Hal ini dibuktikan dengan “perseteruannya”dengan Inul Daratista pada 2003. Kubu Rhoma menolak dangdut yang dibawakan Inul dan kawan-kawan bukan termasuk dangdut. Seperti wayang, dangdut-nya Rhoma Irama berusaha membentuk narasi kuasa penciptaan.

Kebudayaan dangdut koplo mengafirmasi watak akulturatif-afirmatif kita pada entitas yang lain. Sekaligus pelan namun pasti menurunkan bendera hak cipta. Kita tidak peduli siapa pemilik signature lagu Ditinggal Rabi, Bojoku Galak.

Sesuai dengan namanya, dangdut koplo, efek yang ditimbulkan membuat orang tertarik untuk bergoyang. Yang malu-malu joged sering tidak sadar hanya menghentak-hentakkan kakinya pelan sambil tetap anteng duduk di kursi, atau bernyanyi-nyanyi kecil.

Proses pembudayaan dangdut koplo ini menggejala dalam ranah digital. Meme dengan caption tertentu, kalimat-kalimat bijak yang dinisbatkan pada tokoh tertentu, video rekaman ponsel pintar, bertebaran memenuhi memori gawai.

Tidak peduli siapa pencipta semua itu, karena kita hanya “peduli” dengan isinya: lucu, bijak, puitis, provokatif. Anasir-anasir yang membuat kita tergoda untuk ikut menyebarkannya di media sosial.

Fenomena dangdut koplo menyimpan moda kebudayaan kita hari ini. Yakni kebudayaan tanpa (tak peduli) pionir. Di media sosial kita akan dengan mudah menemukan pola copy paste dalam foto dan video yang dibuat meme dan diberi caption, -tanpa hak cipta. (ist/*)

*Ditulis oleh Junaidi Abdul Munif, pengurus Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Semarang) dan dimuat di Beritagar.id

Grebeg Bhinneka di Tulungagung Merawat Keberagaman

foto
Acara Grebeg Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar festival kebudayaan. Foto: Istimewa.

Tulungagung diyakini sebagai kota yang menyimpan jejak-jejak sejarah kegemilangan masa lalu Nusantara. Kota ini termasuk salah satu ‘surga’ arkeologi di Jawa Timur. Hal yang paling menonjol dari bukti-bukti arkeologis tersebut adalah, adanya sintesis-mistis antar-agama dari zaman ke zaman.

Sintesis-mistis itu dibuktikan oleh banyaknya candi dan warisan arkeologi lain yang memadukan simbol dan ornamen Hindu-Buddha. Bahkan, kehadiran Islam dianggap tidak mengusik warisan arkeologi yang ditinggalkan oleh dua agama pendahulu tersebut, tetapi merestorasinya.

Bukti-bukti tersebut juga menguatkan keyakinan bahwa, di masa lalu Tulungagung merupakan kawasan yang dibangun sebagai wilayah spiritual bagi banyak agama. Sebagian besar masyarakat Tulungagung meyakini bahwa pematangan ajaran Bhinneka Tunggal Ika di masa lalu, salah satunya, terjadi di kawasan ini.

Argumentasi ini juga dikaitkan dengan keberadaan pendharmaan Sri Gayatri Rajapatni di kawasan Boyolangu. Ratu Majapahit tersebut dianggap sebagai figur sentral yang menggali dan mewariskan ajaran spiritualitas bhinneka tunggal ika hingga masa kegemilangan Majapahit di tangan cucunya, Hayam Wuruk.

Keyakinan ini dilegitimasi oleh hasil penelitian Institute for Javanese Islam Research (IJIR) IAIN Tulungagung bertajuk, “Melacak Jejak Spiritualitas Bhinneka Tunggal Ika dan Visi Penyatuan Nusantara di Bumi Tulungagung”.

Hasil penelitian tersebut menegaskan bahwa, di masa lalu kota ini merupakan kawasan spiritual, tempat digali dan dimatangkan dua ajaran sekaligus, yakni ajaran Bhinneka Tunggal Ika dan Cakrawala Mandala Nusantara. Ajaran yang disebut kedua merupakan ajaran tentang penyatuan mandala-mandala di seluruh Nusantara.

Melalui berbagai kegiatan Sarasehan dan Diskusi, seluruh elemen masyarakat Tulungagung akhirnya berinisiatif untuk mewujudkan Grebeg Bhinneka Tunggal Ika. Grebeg bukan sekadar festival kebudayaan.

Tetapi juga cara masyarakat Tulungagung menandai dan meneguhkan identitas sebagai penyokong ajaran Bhinneka Tunggal Ika yang diwariskan dari zaman ke zaman. Melalui acara ini, mayarakat juga menyerukan spirit Bhinneka Tunggal Ika itu harus tetap menjadi identitas nasional Indonesia.

Ketua Panitia Grebeg Bhinneka Tunggal Ika, Akhol Firdaus menyebutkan kegiatan Grebeg Bhinneka Tunggal Ika yang dihelat pada Selasa (26/12) itu dikonsentrasikan di halaman kampus IAIN Tulungagung dan di lokasi Candi Gayatri Boyolangu. Acara dimulai dengan parade kesenian lokal dan orasi kebudayaan yang melibatkan tokoh-tokoh nasional.

“Puluhan organisasi lintas agama/keyakinan terlibat dalam acara ini. Puluhan kelompok kesenian tradisional juga menjadi bagian dari acara,” kata Ketua Pusat Studi Islam Jawa IAIN Tulungagung ini.

Orasi kebudayaan melibatkan Prof Dr Hariyono (UKP-PIP), Eva K Sundari (Kaukus Pancasila DPR RI), Dr Maftukhin (Rektor IAIN Tulungagung), Supriono (Ketua DPRD Tulungagung), Kusnadi (DPRD Jawa Timur), dan Naen Soeryono (Presidium Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia).

Agenda Grebeg diharapkan mampu menjadi saran untuk melestarikan wawasan Bhinneka Tunggal Ika sebagai ajaran yang diwariskan dari generasi ke generasi dan telah membuktikan dirinya sebagai pondasi kebangsaan Indonesia modern. “Juga memupuk kebanggaan dan rasa memiliki terhadap warisan sejarah Nusantara kepada masyarakat lintas generasi,” pungkas Akhol Firdaus. (sak)

Anugerah Sutasoma untuk Meditasi Kimchi

foto
Tengsoe Tjahjono penerima Anugerah Sutasoma. Foto: Jawapos.

KAU titipkan kepala pada pelukis wajah/petikan gitar mencuri senja abu-abu/di panggung-panggung kecil//Ayo menari, katamu//Ah, aku telah berubah jadi merpati/ di tangan pesulap tampan Kimchi.

Puisi berjudul ‘Hongdae Street’ itu adalah salah satu karya dalam kumpulan puisi Meditasi Kimchi. ”Kebetulan tentang Korea,” ujar Tengsoe Tjahjono, sang empunya karya.

Sudah hampir setahun Tengsoe Tjahjono balik ke tanah air. Dia kembali mengajar sastra di Universitas Negeri Surabaya. Selama tiga tahun, sejak 2014 hingga Januari 2017, Tengsoe mengajar di Korea.

Laki-laki kelahiran Jember itu mengajar di Hankuk University of Foreign Studies. Tepatnya di Department of Malay-Indonesian Studies. Tengsoe mengajar S-1 hingga S-3 ”Jadi dosen tamu. Rata-rata mahasiswa Korea,” katanya kepada Jawapos.

Kebetulan, universitas tersebut mencari tenaga pengajar sastra sekaligus native speaker. Nama Tengsoe pun direkomendasikan untuk bisa mengajar di universitas itu. ”Mereka lalu googling saya. Track record saya dilihat,” katanya.

Korea yang jauh dari kampung halaman Indonesia sempat menjadikan Tengsoe berpikir ulang untuk berangkat. ”Awang-awangen (bimbang, Red),” kenangnya. Namun, dari beberapa nama yang disodorkan, pihak kampus tetap meminta Tengsoe datang.

Tiga tahun berselang, Tengsoe merasa sudah saatnya kembali pulang. Dia memang tercatat sebagai dosen di Unesa. Semakin lama di negeri orang, tentu semakin lama dia meninggalkan tugas.

Menurut Tengsoe, para mahasiswa di Korea punya motivasi tinggi. Terutama untuk belajar tentang Indonesia. Sebab, era saat ini kian terbuka. Tidak tertutup kemungkinan kelak mereka ingin bekerja di Indonesia. ”Saya mengajar tiga kelas. Satu kelas bisa 45 mahasiswa,” jelasnya.

Mengajar di Korea adalah pengalaman tersendiri bagi Tengsoe. Dia bisa melihat dari sudut pandang positif. Mahasiswa Korea bisa mengenal budaya Indonesia. ”Kita juga tidak bisa menghindari untuk tidak bersinggungan dengan bangsa lain,” katanya.

Berinteraksi dengan orang asing, bahasa, budaya, dan alam di Korea membuat Tengsoe juga semakin memperkaya rasa. Di negara itu, dia hadir sebagai orang asing. Dia pun menjadi tahu bagaimana posisi bangsa Indonesia dari kacamata mereka.

Suami Sri Mumpuni itu menyebut, hidup di negeri empat musim tersebut menjadi pengalaman yang asyik. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia sastra, Tengsoe juga makin memperkaya rasa dan kosakata. Tak heran, 80 puisi pun lahir.

”Saya lebih banyak menerima pengalaman menarik daripada tidak menarik,” jelasnya. Puisi-puisi itu dikemas dalam buku berjudul Meditasi Kimchi.

Atas karyanya itulah, ayah tiga putri tersebut mendapat penghargaan Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Jawa Timur. Anugerah itu diterima ketika Bulan Bahasa Oktober 2017.

Meditasi Kimchi berisi pikiran kritis tentang Korea. Baik dari segi alam, sosial, maupun budaya. Di dunia puisi, Tengsoe tidak ingin menulis dengan teks yang biasa digunakan. Dia ingin menciptakan sesuatu yang baru meski tak benar-benar baru. Yakni, lebih naratif dan berkisah.

Sosialisasi Pentigraf
Tengsoe memang dikenal lewat puisi-puisinya. Namun, sebenarnya tak melulu puisi. Dia juga penggagas pentigraf alias cerpen tiga paragraf. Dia kini getol mengenalkan pentigraf kepada masyarakat.

Rangga segera mendorong pintu Coffee Bay. Ditutupnya payungnya lalu diletakkan di tempat yang tersedia di dekat pintu. Hujan mengguyur Seoul sejak tadi malam. Bahkan weather forecast dalam smartphone menunjukkan hujan bakal turun selama seminggu ini. Aneh, musim panas, namun hujan jatuh tiap hari.

Sambil menunggu Americano pesanannya, diambilnya posisi meja paling sudut. Dua orang mahasiswi Korea asyik berbincang. Mungkin saja mereka sedang mengerjakan tugas dari profesornya. Memandang gadis-gadis yang berambut pirang itu ia ingat Riou Seung Hee, gadis yang memikat hatinya. Gadis Korea yang sederhana yang tak tergoda untuk melakukan oplas di Gangnam. Namun, ingatannya bukan pada kebersahajaan Seung Hee. Ia tak bisa melupakan kata-kata Seung Hee seminggu lalu di kantin mahasiswa. ”Rangga, jika kamu bisa meyakinkan aku bahwa Tuhan itu sungguh ada, aku mau jadi pacarmu.” Hujan di luar, namun hujan yang lebih lebat sedang bergemuruh dalam dirinya.

”Sungguh, aku meyakini bahwa Tuhan itu ada. Aku sungguh mengalami penyertaan Tuhan dalam hidupku, tapi bagaimana aku menjelaskan konsep Tuhan kepada Seung Hee,” Rangga terpekur. Dipandangnya lagi gadis berambut pirang itu. Siapa yang membuat gadis itu berambut pirang. Tentu saja cat rambut. Siapa yang membuat cat rambut? Tentu pabrik-pabrik kosmetik. Siapa yang menciptakan kosmetik? Tentu saja orang-orang yang digerakkan oleh pikiran-pikirannya. Siapa yang menggerakkan pikiran orang-orang? Tiba-tiba Rangga berdiri. Bergegas menembus hujan. Menemui Seung Hee.

Karya berjudul Hujan di Luar, Hujan di Dalam itu adalah salah satu karya pentigraf Tengsoe. Konsep pentigraf menjadi menarik karena bentuknya hanya tiga paragraf. Yang tidak bisa menulis pun jadi tertarik. Terutama ketika ada kerinduan dan keinginan menulis, namun tidak mampu menulis panjang. ”Dokter, ibu rumah tangga, pensiunan, semua bisa melakukannya,” ujar penulis kumpulan puisi Kisah Kopi yang Menunda Gerimis Reda itu.

Pada 2016, sudah dua antologi pentigraf yang diluncurkan. Yakni, Pedagang Jambu Biji dari Pnom Penh dan Dari Robot Sempurna sampai Alea Ingin ke Surga. ”Sekarang kami sedang menyiapkan konsep yang sama tahun ini,” katanya.

Tengsoe menyatakan, pentigraf bisa membangun budaya literasi. Mengajak masyarakat untuk membaca dan menulis. Pentigraf, kata dia, merupakan bagian dari cerpen pendek.

Sebenarnya, cerpen pendek lebih dahulu ada. Namun, polanya tidak tiga paragraf. ”Kalau tiga paragraf, memang pola yang saya gulirkan. Setengah prosa, setengah puisi. Masuk kategori flash fiction,” tuturnya.

Tentu saja, unsur-unsur narasi dalam pentigraf tetap ada. Ada alur, tokoh, latar, dan tema. Bersama komunitas digital di media sosial, Tengsoe menggagas Kampung Pentigraf Indonesia. Dalam komunitas itu, mereka belajar dan berkarya bersama. Kopi darat juga dilakukan.

Kini literasi melalui cerpen dan puisi terus berkembang. Tak melulu melalui kertas, tapi juga paperless melalui digital. Menurut dia, generasi muda memiliki semangat literasi tinggi.

Bagi laki-laki kelahiran 3 Oktober 1958 itu, menulis adalah rekreasi paling murah. ”Kalau sedang galau, larinya menulis. Daripada ke luar kota atau ke Korea lebih mahal lagi,” katanya.

Menulis juga membuat jiwa menjadi senang. Gembira. Kadang-kadang bisa jadi terapi jiwa. Itu membuat Tengsoe senang menulis. Dia juga jadi punya banyak teman dan jejaring.

Tengsoe tidak menulis puisi untuk komersial, cari uang, apalagi ketenaran. Dia hanya meyakini kalau puisi baik, puisi itu tidak akan lupa pada tuannya. ”Kalau saya dikenal orang, itu bukan saya. Tapi, puisi saya,” ujarnya. Karena itu, imbuh dia, tulislah puisi yang baik. Supaya puisi tersebut selalu ingat kamu.

Supaya baik, harus cinta dan setia. Ya, dua hal itu menjadi kunci menulis yang baik ala Tengsoe. Setiap saat sebaiknya tidak pernah capek menulis. ”Ini harus dijaga. Menumbuhkan kecintaan,” katanya. Dia mengibaratkan, orang yang sungguh-sungguh cinta tentu tidak akan menyerah untuk mendapatkannya.

Kalaupun ada yang bilang puisi Tengsoe jelek, ujar dia, itu tidak jadi masalah. Dia akan membuat lagi yang lebih baik. ”Kalau memang jelek, ya diperbaiki. Jadi santai. Tidak beban,” jelas laki-laki yang menekuni sastra sejak 1978 itu.

Tengsoe tentu mengajak para mahasiswanya menjadi sastrawan. Sebab, sastra itu pilihan. Namun, jika ada yang menjadi guru kelak, dia ingin mereka menjadi guru yang nyastra. Pun demikian insinyur, pengacara, dokter, dan sebagainya. Dokter yang bisa menulis sastra. ”Menyenangi sastra itu penting untuk menghaluskan rasa. Karena sastra itu ibarat cermin dan jendela,” ujarnya. (jpg)

Candi Kidal, Sumber Inspirasi Lahirnya Lambang Negara

foto
Candi Kidal yang terletak di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpan, Kabupaten Malang. Foto: Malangkab.go.id.

Candi Kidal yang terletak di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kab Malang merupakan candi tertua langgam Jawa Timuran yang berkesan ramping dan dinamis. Merupakan satu-satunya candi yang reliefnya khusus bercerita tentang kisah Garudeya serta memiliki gambaran struktural ikonik Garuda paling lengkap dibandingkan dengan candi-candi lainnya.

Keunikan Candi Kidal adalah adanya unsur ajaran Syiwa dan Wisnu sekaligus dalam satu candi. Di dalam candi terdapat lingga yoni sebagai penanda ajaran Syiwa sementara itu di dinding luar candi terdapat relief Garudeya sebagai penanda ajaran Waisnawa (pemuja Wisnu).

Dalam Negarakretagama pupuh 41 bait 1 disebutkan bahwa Anusapati kembali ke Siwabuddhaloka. Adanya istilah Buddha menandakan bahwa tempat pendarmaan Anusapati (Candi Kidal) juga mengayomi penganut ajaran Buddha.

Atap candi Kidal tidak dihias dengan ratna sebagai ciri khas dari candi Hindu serta tidak dihias pula dengan stupa sebagai ciri khas dari candi Buddha.

Jadi dapat ditafsirkan bahwa Candi Kidal berkarakter sinkretisme antara Syiwa-Wisnu yang dibangun sebagai monumen persatuan nasional serta simbol pengayoman terhadap segenap rakyat Singhasari termasuk para pemeluk ajaran Buddha. Candi Kidal merupakan monumen persatuan pada masa Singhasari.

Keunggulan Relief
Pada candi Kidal terdapat relief Garudeya pada ketiga sisi kaki candi. Ketiga relief tersebut adalah Garuda dan para naga, dimana ibu Garuda masih dalam perbudakan sang Kadru. Garuda membawa tirta amerta, air suci sebagai penebus kebebasan sang ibunda. Dan Garuda bersama ibunya yang telah terbebas dari perbudakan sang Kadru dan para naga.

Keunggulan relief Garudeya di Candi Kidal adalah Garudeya merupakan satu-satunya relief cerita di Candi Kidal, artinya candi Kidal adalah candi yang khusus dibuat untuk menggambarkan kisah Garudeya. Di candi-candi lainnya relief Garudeya bercampur dengan relief- relief cerita yang lain.

Tiga panil relief Garudeya di Candi Kidal merupakan panil-panil yang merupakan kunci cerita yang mampu mengungkapkan keseluruhan cerita secara utuh. Inti cerita jauh lebih jelas terbaca yakni kisah pembebasan ibunda Garuda dari belenggu perbudakan

Kualitas gambar masih sangat bagus hingga bisa menampilkan pahatan secara detail. Tiga panil relief menggambarkan cerita yang berurutan dengan menggunakan cara baca prasawya (berjalan berlawanan dengan arah jarum jam).

Pahatan relief lebih mengarah kepada bentuk tiga dimensional sehingga nampak lebih hidup. Merupakan relief paling lengkap tentang kisah Garudeya.

Pranata Hukum
Bung Karno membentuk Panitia Lencana Negara yang beranggotakan Muhamad Yamin, Moch Hatta, Sultan Hamid II, Ki Hajar Dewantara, MA Pelleupesy, Moh Natsir, RM Ng Poerbatjaraka dan Doellah. Semuanya memiliki peran dalam merumuskan Lambang Negara. Artinya Lambang Negara Garuda Pancasila diciptakan secara kolektif oleh Panitia Lencana Negara bentukan Presiden Soekarno.

Dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 66 Tahun 1951 tentang Lambang Negara menerangkan bahwa Garuda merupakan burung mitologi yang telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia, serta terdapat di berbagai candi di Indonesia termasuk di Candi Kidal Malang.

PP tersebut kemudian disempurnakan dengan UU No 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.

Dalam Keputusan Presiden Nomor 4 tahun 1993 tentang Flora dan Fauna Nasional, elang Jawa ditetapkan sebagai satwa nasional karena kemiripan bentuk tubuh elang Jawa dengan Lambang Negara Garuda Pancasila.
Masyarakat Nusantara juga menyebut elang Jawa dengan istilah burung Garuda atau burung rajawali. Elang merupakan jenis satwa yang menempati posisi tertinggi dalam daur rantai makanan.

Lambang negara kita berbentuk Garuda Pancasila, kepalanya menoleh ke sebelah kanan dengan perisai berupa jantung yang digantung dengan rantai pada leher serta kaki yang mencengkeram erat sebuah pita bertuliskan sesanti Bhinneka Tunggal Ika.

Garuda Pancasila memiliki sayap yang masing-masing berbulu 17 helai, ekor berbulu 8 helai, pangkal ekor berbulu 19 helai dan leher berbulu 45 helai yang merupakan penanda dari hari kemerdekaan kita yaitu 17 Agustus 1945.

Dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 36 A menyatakan bahwa ‘Lambang Negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika’.

Sumber Inspirasi
Pada era Raja Dharmawangsa Teguh (991-1016) telah digubah beberapa bagian daripada kitab Mahabarata diantaranya adalah Adiparwa, Wirataparwa dan Bhismaparwa. Cerita Garudeya yang menokohkan sang Garuda terdapat dalam kitab Adiparwa.

Kisah heroik pembebasan Ibunda sang Garuda dari belenggu perbudakan sebangun dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam melepaskan Ibu Pertiwi dari belenggu perbudakan.

Dalam kisah mitologi Garuda merupakan wahana dari Dewa Wisnu, sinar Garuda sangat terang sehingga banyak yang mengiranya sebagai Dewa Agni penguasa api. Garuda dimaknai sebagai sang pembebas serta simbol spirit perjuangan yang tak kunjung padam.

Bentuk relief Garudeya di Candi Kidal memiliki banyak kemiripan dengan Garuda Pancasila. Berikut ini adalah beberapa kemiripan tersebut. Paruh sama-sama besar kuat, tajam dan terbuka. Lidah sama-sama melengkung ke atas.

Sama-sama memakai kalung, Garudeya berkalung ulur sedangkan Garuda Pancasila berkalung rantai dengan mata rantai berbentuk kotak dan bulat.

Sama-sama memakai hiasan di dada, Garudeya memakai selempang sedangkan Garuda Pancasila memakai perisai berbentuk jantung. Sama-sama memiliki cakar yang kuat dan besar. Memiliki bentuk sayap yang sangat mirip sekali. Arah muka sama-sama menengok lurus ke kanan.

Sama-sama membawa kain panjang, Garudeya mencengkeram kain selendang sebagai pengikat guci tirta amerta sedangkan Garuda Pancasila mencengkeram pita selendang bertuliskan sesanti Bhinneka Tunggal Ika.

Urutan arah membaca simbol dalam jantung perisai lambang negara sama dengan arah membaca relief Garudeya yaitu dengan cara prasawya.

Jejak Lambang Negara
Dari waktu ke waktu, burung Garuda seudah dipakai sebagai lambang negara (kerajaan). Era Mataram Kuno, pada masa Dharmawangsa Teguh Garudhamukha dijadikan sebagai cap stempel resmi negara.

Raja Kahuripan, Prabu Airlangga menjadikan Garudhamukha sebagai lambang negara. Airlangga digambarkan sebagai Wisnu yang mengendarai Garuda.

Jaman kerajaan Singhasari, relief Garudeya dipahatkan khusus pada candi resmi negara. Kidal termasuk dalam golongan tempat pendharmaan para raja (dharmahaji).

Raden Wijaya dan penerusnya di Kerajaan Majaphit menggunakan warna merah putih sebagai bendera nasional, dimana merah putih adalah warna kebesaran burung Garuda secara mitologis. Dan lambang Ngayogjakarta Hadiningrat / keraton Jogja menggunakan sayap Garuda.

Pada sketsa rancangan awal Panitia Lencana Negara gambar Garuda sangat mirip dengan relief Garuda di Candi Kidal. Yaitu sama-sama berambut ikal ngore gimbal, sama-sama berdiri di atas padma (bunga teratai), sama-sama menghadap ke kanan, sama-sama memiliki bahu, sama sama memiliki tangan, sama-sama memiliki sayap yang mirip sekali dengan penggambaran Garudeya di Candi Kidal.

Dari berbagai keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa relief Garudeya di Candi Kidal merupakan sumber inspirasi lahirnya Lambang Negara Garuda Pancasila.

Lambang Negara kita tidak menjiplak lambang dari negara lain, melainkan berasal dari akar jatidiri bangsa pada masa kerajaan Singhasari.

Pusparagam dalam kesatuan yang terdapat pada Candi Kidal juga menjadi sumber inspirasi adanya sesanti Bhinneka Tunggal Ika. Candi Kidal adalah mahakarya terbaik Singhasari untuk bangsa Indonesia. (ist/*)


* Disampaikan pada acara Seminar Literasi Singhasari II dengan tema “Kontribusi Konsepsi Kebhinnekaan dan Kesatuan Nusantara Kerajaan Singhasari bagi Konstruksi Negara dan Bangsa Indonesia” yang digelar oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Malang pada 13 Desember 2017 di Hotel Grage Singosari – Malang, oleh : Cokro Wibowo Sumarsono.

“Bandar Warisan Majapahit” di HoS Sampoerna

foto
Pengumuman kegiatan seni dan buadaya di House of Sampoerna, Surabaya. Foto: istimewa.

Pada abad 13 hingga 16, wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit di Nusantara berkembang meliputi Sumatera Utara hingga Maluku. Dengan armada laut yang kuat wilayah perniagaannya pun tidak terbatas di Nusantara saja, melainkan juga merambah hingga menuju Samudera Hindia.

Dominasi perdagangan Kerajaan Majapahit diberbagai daerah yang awalnya berada dikekuasaan Kerajaan Sriwijaya, berhasil menempatkan Kerajaan Majapahit sebagai pusat perdagangan baru.

Sejalan dengan perkembangan perdagangan antar Nusantara ini, lahir dan tumbuh beberapa bandar seperti Bandar Kambang Putih (di kota Tuban), dan Bandar Hujung Galuh (Surabaya).

Dalam upaya memperkenalkan kembali kejayaan kota bandar pada masa kerajaan Majapahit, House of Sampoerna (HoS) menggelar rangkaian program dengan tema “Bandar Warisan Majapahit” yang digelar sejak 5 Desember 2017 hingga 7 Januari 2018 mendatang.

Bandar Kambang Putih
Sebagai pusat perdagangan, Kambang Putih atau saat ini dikenal sebagai Kota Tuban, memiliki peranan penting bagi Kerajaan Majapahit yakni sebagai pusat pengumpulan komoditas dari sejumlah daerah di wilayah Nusantara, maupun komoditas yang dibawa masuk oleh pedagang asing.

Komoditas Nusantara yang menjadi daya tarik utama pedagang asing antara lain adalah pala, cengkeh, kayu manis dan lada.

Rempah-rempah yang berasal dari Nusantara bagian Timur ini masuk ke Kerajaan Majapahit dilakukan dengan cara tukar menukar dengan beras dan garam yang merupakan komoditas utama Jawa Timur.

Para pedagang asing ini mendapatkan rempahrempah dengan menukarnya dengan guci, mangkuk, dan piring keramik, kain sari dan dupa yang mereka bawa. Tidak hanya dengan tukar menukar, pedagang dari Cina telah menggunakan mata uang berupa uang Kepeng dalam proses jual beli.

Ramainya pertumbuhan perdagangan juga menumbuhkan masuknya berbagai budaya asing ke Nusantara, berbaur dengan budaya lokal. Interaksi yang terjadi antara masyarakat lokal dengan pedagang asing berdampak pada pembauran kedua budaya dalam kehidupan keseharian masyarakat.

Hal ini bisa ditemui pada motif Lokcan atau burung Hong dari Cina yang terdapat pada batik tenun Gedhog Tuban, maupun pada bentuk Kendi Susu Majapahit yang terinspirasi dari keramik yang dibawa pedagang Cina.

Sedangkan batu nisan dengan menggunakan huruf Arab yang banyak ditemukan di Tuban berasal dari pengaruh budaya Islam yang dibawa pedagang Gujarat India.

Dalam penyelenggaraan pameran museum ini HoS bekerjasama dengan UPTD Museum & Purbakala (Museum Kambang Putih) menghadirkan kurang lebih sekitar 15 koleksi yang diharapkan dapat memberikan gambaran akan kejayaan kota bandar Kambang Putih pada masa Kerajaan Majapahit atau yang saat ini dikenal dengan Kota Tuban.

Bandar di Timur Jawa
Pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, kondisi Kota Surabaya yang berperan sebagai jalur perdagangan sangat ramai hingga dijuluki sebagai “Kerajaan Niaga”. Sungai kalimas merupakan sebuah berkah yang menjadikan kota Surabaya berkembang pesat.

Hal ini dirasakan hingga masa pemerintahan kolonial Belanda. Untuk lebih mengenal peran Surabaya sebagai kota bandar serta gerbang utama Kerajaan Majapahit dan collecting center dimasa kolonial Belanda, House of Sampoerna mengajak masyarakat untuk mengenal sejarah bandar dan perkebunan di Surabaya.

Serta mengeksplorasi berbagai lokasi melalui program tematik tur Surabaya Heritage Track (SHT) ’Bandar di Timur Jawa’ yang diadakan setiap hari Selasa – Kamis.

Pada tematik tur ini, trackers akan diajak mengunjungi kawasan Kalimas Barat yang menjadi saksi kejayaan Kota Surabaya sebagai kota bandar Kerajaan Majapahit hingga terbentuknya Kota Surabaya sebagai Collecting Center di masa pemerintahan kolonial Belanda.

Fungsi Kota Surabaya sebagai pusat pengumpulan hasil bumi dan komoditas dari berbagai daerah, membuat Surabaya dipenuhi dengan berbagai macam kantor perkebunan, bandar, pabrik, gudang, sarana transportasi baik darat maupun laut.

Selain itu di kawasan Kalimas Barat trackers dapat pula melihat gudang penyimpanan milik Borsumij (Borneo Sumatra Maatschapij), dan Jembatan Petekan yang membantu masuknya kapal – kapal ke Surabaya.

Perjalanan trackers berlanjut ke kantor PTPN XI yang merupakan salah satu kantor perkebunan terbesar di masa kolonial Belanda yang dikenal dengan nama Handels Vereeniging Amsterdam (HVA). HVA mengurusi segala komoditi perkebunan dari berbagai macam daerah yang diterima di Surabaya. (ita)

Temenggungan, Pusat Batik Sejak Penjajahan

foto
Batik koleksi galeri Sayu Wiwid di Banyuwangi. Foto: Kontan.co.id.

Batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia. Perajinnya pun sudah tersebar di banyak wilayah, terutama di wilayah Pulau Jawa. Uniknya, setiap lokasi mempunyai motif berbeda-beda sesuai dengan adatnya.

Di Banyuwangi, Jawa Timur misalnya. Batiknya memakai motif flora dan fauna, gajah oleng, uler buntung, sekar jagad, kangkung setingkes, dan lainnya. Kelirnya khas, yakni menggunakan warna menyala seperti merah, hijau dan lainnya.

Kampung Temenggungan yang berada tak jauh dari pusat kota Banyuwangi ini dikenal sebagai pusat produksi batik. Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi ataupun transportasi umum untuk menuju Temenggungan. Dari bandara Blimbingsari. lokasi itu bisa ditempuh dalam waktu 30 menit dengan kendaraan pribadi.

Saat KONTAN menyambangi Temenggungan pada September lalu, terlihat deretan bangunan rumah tua yang menjadi penanda keberadaan pusat batik itu. Pemukiman ini merupakan kampung pertama yang dibangun, saat pemindahan pusat pemerintahan Kadipaten Blambangan dari Ulupampang ke hutan Tirtaganda (saat ini menjadi wilayah Kota Banyuwangi), pada era Bupati Mas Alit, tahun 1774.

Sampai sekarang, rumah-rumah kuno peninggalan jaman penjajagan serta kediaman Bupati ke-5 Raden Temenggung Pringgokusumo masih kokoh berdiri. Alhasil, selain menjumpai perajin batik, para pengunjung juga dapat menikmati suasana atau sekedar jeprat-jepret mengabadikan diri dengan latar bangunan bersejarah.

Meski dikenal sebagai pusat produksi, tak terlihat suasana sibuk para perajin. Lantaran, pembuatan batik dikerjakan didalam atau dihalaman belakang rumah.

Perajin batik Temenggungaan didominasi oleh orang-orang dewasa dan tua. Ada lebih dari 10 perajin batik. Kebanyakan mereka yang bertahan saat ini adalah para generasi kedua.

Kulsum, pembatik senior di pusat batik itu menceritakan, bila tempatnya sudah dikenal sebagai sentra batik sejak jaman penjajahan Jepang. Dia sendiri, sudah menjalani profesi tersebut sejak kelas lima Sekolah Dasar.

“Dulu, duduk di kelas lima sudah dianggap besar, saya diminta berhenti sekolah untuk membatik. Orang tua dan seluruh saudara saya juga pembatik,” katanya.

Meski kini usianya sudah lanjut, perempuan yang lebih akrab disapa Mak Kulsum ini tetap setia menggambar kain lembaran kain putih dengan malam. Dalam sehari dia bisa menyelesaikan satu lembar penuh kain batik.

Untuk desainnya, dia hanya membuat motif kuno seperti uler buntung, sekar jagad, dan lainnya. Seakan tak kenal lelah, dia melakukan semua tahapan dari desain hingga pewarnaan seorang diri.

Pembatik lainnya adalah Fonny Meilyasari pemilik galeri batik Sayu Wiwid. Usaha batik ini dia dapatkan dari almarhum ayahnya. Sejak tahun 2010 dia resmi menjalankan bisnis tersebut.

Berbeda dengan sebelumnya, dia tidak hanya membuat batik tulis tapi juga batik cap, serta batik kombinasi cap dan tulis dengan motif kontemporer. Dia mengaku melakukan pengembangan motif untuk mengundang minat pasar dan memperkaya koleksinya.

Membatik telah menjadi salah satu pencaharian bagi sebagian warga Kampung Temenggungan, Banyuwangi. Kebanyakan yang menekuni pekerjaan ini adalah kaum perempuan. Maklum, menggoreskan canting berisi malam diatas kain memang membutuhkan kesabaran.

Fonny Meilyasari, pemilik batik Sayu Wiwid mengatakan, membatik butuh mood yang baik. Makanya, dia hanya memberlakukan jam kerja mulai pukul 08.00-13.00 WIB. Alasannya, agar para perajin tidak lelah, hingga hasil akhir tidak sempurna.

Seringkali, bagi perajin yang mau, bisa meneruskan pekerjaannya dirumah, sembari menjaga anaknya. Saat ini, Onny, panggilan Fonny mempekerjakan 20 orang untuk membantunya ditahap produksi.

Saban bulan, Onny bisa memproduksi 100-150 lembar kain batik baik, tulis, cap, dan campuran. Seluruh hasilnya, dipasarkan sendiri melalui butiknya yang berada tidak jauh dari tempat produksi.

Sebagian besar batiknya diborong oleh warga lokal. Selain itu, banyak pula pelancong yang menentengnya sebagai oleh-oleh saat berkunjung ke Banyuwangi. Tidak hanya itu, dia juga sering mendapatkan pesanan dari instansi pemerintah dan swasta setempat.

Onny membanderol kain batiknya mulai dari Rp 80.000-Rp 1,5 juta per lembar. Dalam sebulan, dia bisa menjual lebih dari 100 lembar kain batik.

Momen hari besar seperti, hari raya Idul Fitri, menjadi waktu panen para pembatik. Pasalnya, jumlah permintaan pun bakal meningkat sekitar 30% dari biasanya.

“Kebanyakan membeli sebagai oleh-oleh atau menjadi pelangkap bingkisan bagi karyawan,” kata Onny kepada KONTAN, Rabu (15/11). Untuk menjaga persediaan tetap aman pada momen tersebut, dia mengatakan tidak menghentikan proses produksi.

Bahan baku yang dibutuhkan untuk produksi batik, Onny pasok dari wilayah Solo, Jawa Tengah dan Malang, Jawa Timur. Tak langsung datang ke sana, Onny cukup bertransaksi melalui sambungan telepon. Dia sudah punya langganan pemasok bahan baku.

Dia mengaku tidak pernah ada masalah dengan belanja bahan baku. Karena, kepercayaan dengan penjual bahan baku sudah terjalin sejak almarhum ayahnya menjalankan usaha batik ini. Usaha yang dijalankan Onny memang warisan dari sang ayah.

Berbeda dengan Onny, Kulsum, perajin batik lainnya belanja bahan baku dari toko-toko yang ada disekitar Kota Banyuwangi. Bila sedang tidak sibuk, dia memilih untuk berbelanja sendiri. Tidak jarang pula dia meminta sang cucu untuk berbelanja bila sedang sibuk membatik.

Dalam sebulan, perempuan yang nampak anggun dengan rambut putihnya ini bisa menghabiskan sekitar 5 kilogram (kg) malam. Total produksinya mencapai 30 lembar batik tulis per bulan.

Sekedar info, perempuan yang lebih akrab disapa Mak Kulsum ini membatik tanpa menggambar desain terlebih dahulu. Canting pun digoreskan langsung diatas kain putih polos. Dia mengaku tak lagi menggambar menggunakan pensil karena sudah hafal dengan motif, sehingga proses menjadi lebih cepat.

Untuk harganya dipatok Rp 300.000 per lembar. Selain melayani pembelian ritel, dia juga banyak mendapatkan pesanan dari pemasok batik yang berasal dari Banyuwangi atau luar kota seperti Jakarta.

Selain sabar dan telaten, membatik juga butuh ketrampilan dalam menggambar aneka motif. Pembatik pun harus terus berlatih supaya tangan bisa luwes menggambar pola motif dalam secarik kain.

Namun, lantaran ketrampilan inilah, banyak anak muda di Kampung Temenggungan, enggan menjadi pembatik. Selain rumit, mereka menganggap bayarannya kurang menarik.

Kondisi ini banyak dikeluhkan oleh perajin. Fonny Meilyasari, pemilik galeri Sayu Wiwid pun mengalami kesulitan mengajak anak muda bergabung dengannya. Padahal, dia sudah menyediakan ruang belajar secara cuma-cuma untuk mereka.

Kendala lainnya yang kerap dia temui adalah tak stabilnya harga bahan baku. Perempuan yang lebih akrab disapa Onny ini kepada KONTAN mengaku meski tak pernah terjadi kekosongan barang, namun adakalanya harga melonjak naik tanpa ada penyebab pasti.

Onny pun terpaksa memangkas margin, lantaran biaya produksi meningkat. Dia memang tak mau mengerek harga jual supaya konsumen tak kecewa.

Untuk mendukung penjualan tetap tinggi, dia mulai menggunakan media sosial untuk mempromosikan produknya. Selain itu, Onny juga rajin mengikuti pameran agar lebih dekat dengan konsumen.

Meski makin banyak bermunculan penjual batik, dia tidak khawatir. “Memang ada yang harga jualnya lebih murah, tapi tidak membuat sampai perang harga,” tegasnya.

Supaya pelanggan tetap bertahan, Onny rajin meluncurkan desain baru. Selain membuat batik dengan motif pakem Banyuwangi, Onny juga memproduksi batik kontemporer.

Idenya pun banyak terinpirasi dari batik-batik asal daerah lainnya seperti Solo, Yogyakarta dan lainnya. Selain itu, dia selalu mengikuti tren fesyen melalui media digital.

Kulsum, perajin batik lainnya, justru tak menemui kendala dalam tahap produksi. Karena, pekerjaan ini sudah dilakukannya sejak puluhan tahun lalu.

Hanya, dia mengeluhkan para generasi muda yang tidak mau membatik. “Daripada menganggur di rumah, kan lebih baik membatik. Tapi, mereka bilang menbatik itu capek dan sulit,” tuturnya.

Kulsum pun tak terlalu risai dengan persaingan yang terjadi dipasaran saat ini. Dia mengaku hanya memberikan harga murah kepada supplier agar seluruh hasil karyanya cepat terserap pasar.

Lainnya, seluruh pembatik disana masih menggunakan pewarnaan sistetis untuk membuat kainnya tampak menarik. Agar tidak mencemari lingkungan, Onny mengaku telah membuat tangki pembuangan khusus untuk menampung limbah air pewarnaan.

Di penampungan itu, dia melakukan pemrosesan sehingga air yang dikeluarkan dari tangki ke parit-parit sudah dalam kondisi aman dan berwarna bening. (ktn)

Merekonstruksi Kejayaan Kerajaan Pemersatu Nusantara

foto
Bangsa Indonesia masih jauh dari pengetahuan masa lalu. Foto: Koran Jakarta/Eko S Putro.

Sejumlah bukti visual kejayaan Kerajaan Majapahit yang berupa foto, replika, bahkan puing pondasi Kerajaan Majapahit. Kerajaan besar pemersatu Nusantara, seperti kehilangan esensi dan masa lalunya.

Untuk itu melalui seminar yang bertema 724 tahun Majapahit, para sejarawan, arkeolog, praktisi cagar budaya, maupun spiritual, berkumpul untuk merumuskan esensi Kerajaan Majapahit.

Studi sejarah maupun arkeologi mengenai bagaimana kita hidup dan mencapai kejayaan di masa lalu, memang sudah banyak dikaji sejarawan, terutama asing. Namun jumlah yang tampaknya banyak itu pun ternyata masih sangat jauh dari yang diperlukan untuk menyusun kembali dan mengambil pelajaran dari masa lalu.

Demikian sedikit yang terungkap dalam Seminar Peringatan 724 Tahun Majapahit yang diselenggarakan Mandala Majapahit di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM), pekan lalu.

Forum seminar yang dipandu Djoko Dwianto seperti dilaporkan Koran Jakarta, menghadirkan narasumber Direktur Eksekutif Yayasan Arsari Djojohadikudumo (YAD) Catrini Pratihari Kubontubuh dan dosen Arkeologi FIB UGM J Susetyo Edy Yuwono, pada sesi pertama, serta tiga narasumber di sesi kedua, yaitu Fahmi Prihantoro, Tjahjono Prasodjo, keduanya dosen Departemen Arkeologi FIB UGM, dan mantan Kepala Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur M Romli. Forum dihadiri arkeolog, sejarawan, praktisi cagar budaya, maupun spiritualis dari seluruh Indonesia.

Pada sesi pertama, Susetyo Edy Yuwono mengatakan betapa masih sangat terbatasnya penelitian mengenai situs Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur yang menjadi ibu kota Majapahit yang didirikan pada 1293 atau 724 tahun lalu.

Selama ini, menurut Susetyo, penelitian mengenai Majapahit terutama berfokus hanya pada temuan-temuan gerabah yang sangat susah untuk menjangkau pengetahuan mengenai bagaimana kehidupan di era itu diselenggarakan.

Menurutnya, selama ini kita terjebak pada rutinitas penelitian gerabah dan melupakan pendekatan makro seperti kanal-kanal yang ditemukan sejak 1983 oleh seorang peneliti.

“Kita perlu merancang ulang strategi penelitian arkeologis atas seluruh masa lalu kita. Terutama karena penelitian gerabah sangat terbatas jangkauan penglihatannya dan juga perubahan lanskap Trowulan secara keseluruhan yang menyulitkan untuk merekonstruksi pusat peradaban Majapahit,” katanya.

Pada sesi kedua, M Romli mengungkapkan keprihatinan senada. Saat ia menjabat pada 1988, usaha untuk menyelamatkan batu bata berserakan di Trowulan mulai disusun dan ditandai. Namun, awal 2000-an saat ia kembali ke Trowulan, batu bata kuno peninggalan Majapahit mayoritas sudah hilang dan seluruh situsnya tak tersisa lagi.

“Trowulan ini memang sangat sulit karena peninggalannya memakai batu bata dan sekarang juga sudah padat penduduknya. Perlu usaha sangat besar dari negara untuk melacak semuanya atau minimal mempertahankan sisa-sisa peninggalan yang masih ada,” katanya.

Sementara Catrini mengatakan memang masalah utama Trowulan sebagai cagar budaya adalah kepemilikan lahan pemerintah yang sempit. Dalam studi dan pelestarian cagar budaya, dunia barat berkonsentrasi pada pengembalian situs secara fisik dan visual secara lengkap karena surplus ekonominya memungkinkan. Sementara di negara berkembang dengan dana terbatas, perlu mengembangkan strategi yang lain.

“Misalnya rekonstruksi nilai. Bagaimana dengan seluruh resource yang ada fokus pada rekonstruksi nilai peninggalan peradaban yang jejaknya ada pada manusianya, ekspresi budayanya, atau melihat pola hubungan dengan daerah lain seperti Trowulan-Bali misalnya,” papar Catrini.


Perlindungan Cagar Budaya
Trowulan sebagai cagar budaya baru ditetapkan Pemerintah pada 2013. Maka dari itu regulasi yang mengatur mengenai itu masih sangat terbatas. Catrini mengharapkan regulasi yang mengatur upaya pelestarian benda atau kawasan cagar budaya bisa terus diperbaiki Pemerintah.

Sebab, pemahaman UNESCO mengenai cagar budaya pun juga terus berkembang, dari single objek menjadi kawasan, pemahaman situs dari struktur situs atau usia, dan juga pemahaman signifikansinya di tingkat nasional.

Terkait regulasi yang sudah ada, Undang-Undang (UU) No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, masih banyak bias dalam implementasinya yang disebabkan ketiadaan Peraturan Pemerintah (PP) untuk menjalankan UU tersebut.

Sehingga, selama tujuh tahun terakhir sejak diberlakukannya UU tersebut, implementasinya masih merujuk pada PP No. 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan UU No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya yang diturunkan dari UU sebelumnya, yaitu UU No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

“Penelitian menjadi terhambat karena tidak ada PP baru. Jadi, selama tujuh tahun komunitas, masyarakat, dan akademisi selalu mengingatkan. Tapi, pemerintah mungkin banyak PR lain, misalnya dengan kelahiran UU Pemajuan Kebudayaan. Itu masalah pertimbangan atau prioritas di pemerintah, makanya kita musti terus ingatkan bahwa ini juga penting,” pungkas Catrini.


Kajian Konsep Nilai
Dalam sesi kedua, Tjahjono Prasodjo menawarkan pendekatan Perspektif Transregional untuk membaca Majapahit. Kajian transregional akan membantu misalnya bagaimana melihat ekspresi kekuasaan Majapahit maupun pola hubungan dengan kawasan.

Sebab, penguasaan Majapahit atas seluruh wilayah Nusantara seperti yang kita yakini selama ini sebenarnya sampai saat ini belum diketahui benar bagaimana pola kekuasaannya dibentuk.

Tjahjono mengatakan awal abad 10 hingga pertengahan abad 13 terjadi booming perdagangan di wilayah Samudra Indonesia dan Laut China Selatan dengan jalur perdagangan utama menghubungkan India – Asia Tenggara – Tiongkok.

Pelacakan Majapahit bisa didorong melalui kajian-kajian kerajaan di sekitar era itu di seluruh kawasan sehingga banyak bahan yang bisa dilalui untuk mendekati kenyataan Majapahit.

“Seberapa jauh pendekatan ini dapat dilakukan tentu bisa didiskusikan atau diuji dalam praktik penelitian. Yang jelas kita tidak bisa lagi terus menerus fokus penelitian pada situs dan artefak, karena Majapahit ini situs dan artefaknya memakai batu bata dan sudah sangat sulit untuk membayangkan Trowulan saat ini, dulu pernah menjadi ibu kota kerajaan terbesar di Asia Tenggara,” jelasnya.

Sementara itu, salah seorang peserta seminar Arkeolog UGM, Profesor Timbul Haryono mengatakan pentingnya mengkaji konsep- konsep nilai atau ideologis melalui naskah-naskah sastra di era Majapahit. Karena menurutnya, penelitian selama ini hanya membatasi pada tindakan dan hasil tindakan seperti gerabah, kanal, maupun hal-hal lainnya.

“Padahal itu kan ekspresi saja dari konsep atau ideologi yang menjadi dasar dari seluruh tindakannya kemudian. Konsep Dewa Raja misalnya, konsep Mandala, itu semua juga belum banyak dikaji,” katanya.

Baik pembicara maupun peserta, diantara banyak perbedaan pandangan dan skala prioritas sama-sama menyepakati bahwa ada kebutuhan makin penting untuk memahami masa lalu kita.

Sebab, dunia modern yang salah satunya ditandai rusaknya alam dan kekayaan dunia yang dimiliki, hanya sebagai kecil populasi memerlukan masa lalu umat manusia sebagai tempat berkaca. Adakah peradaban hari ini telah melaju ke jalan yang semestinya? (ist)

Jaran Goyang, Dari Mantra Menjadi Tari dan Lagu

foto
Penari Jaran Goyang saat tampil di pembukaan cafe di Banyuwangi beberapa waktu lalu. Foto: Kompas.com/Ira Rachmawati.

Apa salah dan dosaku, sayang. Cinta suciku kau buang-buang. Lihat jurus yang kan kuberikan. Jaran goyang, jaran goyang…“Lirik lagu Jaran Goyang yang dibawakan oleh penyanyi dangdut Nella Karisma sangat populer di kalangan masyarakat.

Lagu itu bukan hanya diputar di radio dan televisi namun juga menjadi lagu yang wajib dinyanyikan di acara hajatan. Namun tidak banyak yang mengetahui jika Jaran Goyang adalah salah satu nama mantra pengasihan yang berasal dari Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Hasnan Singodimayan (86), budayawan Banyuwangi kepada Kompas.com, Senin (27/11) menjelaskan jika nama Jaran Goyang adalah mantra yang menjadi bagian dari sastra lisan yang dimiliki oleh masyarakat Suku Osing Banyuwangi.

Menurut laki-laki kelahiran Banyuwangi, 17 Oktober 1931, berbeda dengan masyarakat Jawa lainnya yang hanya mempercayai ilmu hitam untuk menyakiti dan ilmu putih untuk menyembuhkan, masyarakat Osing mempercayai adanya empat ilmu yaitu, ilmu merah, ilmu kuning, ilmu hitam, da ilmu putih.

“Ilmu merah ini berkaitan dengan perasaan cinta, ilmu kuning tentang jabatan, ilmu hitam untuk menyakiti dan ilmu putih untuk menyembuhkan. Nah Jaran Goyang ini masuk dalam kategori ilmu merah atau dikenal dengan santet,” jelas Hasnan.

Hasnan dengan tegas mengatakan santet bukanlah ilmu yang menyakiti atau membunuh tapi merupakan akronim dari “mesisan gantet” yang berarti sekalian bersatu atau bisa juga “mesisan bantet” atau sekalian rusak.

Hal ini merujuk dari fungsi sosial mantra santet Jaran Goyang untuk menyatukan dua orang agar bisa menikah atau memisahkan kedua orang yang mencintai agar bisa menikah dengan pasangan pilihan keluarganya.

“Saat Kerajaan Blambangan diambang kehancuran, rakyatnya terpisah dan agar keturunan mereka tidak tercampur, mereka menikah dengan dasar kekerabatan. Biasanya kan ada yang saling suka tapi ternyata nggak disetujui oleh orang tua. Nah di sini fungsi mantra Jaran Goyang untuk menyatukan mereka. Niatnya baik. Bukan untuk hal-hal yang nggak jelas. Ini adalah ilmu pengasihan,” ungkap penulis buku novel “Kerudung Santet Gandrung” tersebut.

Selain Jaran Goyang, ada beberapa mantra lain yang berkaitan dengan hubungan asmara seperti Kucing Gorang dan kebo bodoh. Nama-nama mantra ilmu merah yang berkaitan dengan asmara, memang paling banyak menggunakan binatang liar yang menjadi peliharaan.

Namun, menurut Hasnan, di antara banyaknya mantra pengasihan, mantra Jaran Goyang yang paling ampuh. “Nggak perlu waktu lama, kalau sudah dirapalkan bisa langsung jatuh cinta,” katanya sambil tersenyum.

Ia juga menjelaskan nama Jaran Goyang diambil dari perilaku kuda yang sulit dijinakkan, namun jika sudah jinak maka kuda sangat mudah dikendalikan.

“Sama dengan perasaan cinta. Awalnya susah dikendalikan tapi kalau sudah jatuh cinta bisa bisa semua baju miliknya dibawa pulang ke rumah pasangannya seperti orang gila dan memang korban terbanyak adalah perempuan walaupun tidak menutup kemungkinan laki-laki juga bisa terkena santet Jaran Goyang,” kata Hasnan.

Ia menambahkan masyarakat Banyuwangi khususnya Using sangat terbuka dan tidak menutup diri. Budaya yang masuk akan diserap dan dikawinkan dengan budaya asli sehingga melahirkan budaya baru.

Selain menjadi tarian, Jaran Goyang juga menginspirasi sebuah lagu dalam bahasa Osing yang berjudul Jaran Goyang yang sempat populer pada tahun 2000-an dan dinyanyikan oleh penyanyi Banyuwangi Adistya Mayasari.

“Saat itu lagu Jaran Goyang juga populer dinyanyikan di mana-mana sampai sekarang tapi menggunakan bahasa daerah Using,” kata Hasnan.

Dengan berjalannya waktu, terinspirasi dari Santet Jaran Goyang, maka terciptalah tari Jaran Goyang. Slamet Menur (75), seniman tari Banyuwangi kepada Kompas.com beberapa waktu lalu menjelaskan Jaran Goyang pertama kali ditarikan pada 1966 oleh penari bernama Darji dan Parmi dari Lembaga Kesenian Nasional (LKN) milik Partai Nasional Indonesia yang saat itu ada di wilayah Kecamatan Genteng Banyuwangi.

Berbeda dengan tari Jaran Goyang saat ini yang ditarikan oleh dua orang yaitu laki-laki dan perempuan, pada masa itu Jaran Goyang ditarikan banyak orang walaupun ada dua penari utama.

“Tari Jaran Goyang adalah tari pergaulan yang menceritakan seorang pria yang mencintai seorang gadis, namun ditolak. Akhirnya sang pria merapalkan mantra jaran Goyang lalu melempar bunga kepada sang gadis hingga dia jatuh cinta dan tergila-gila pada sang pria,” cerita Slamet Menur.

Menurutnya, tari tersebut muncul dari fenomena mantra Jaran Goyang yang tumbuh subur di kalangan masyarakat Suku Osing saat itu.

Tarian tersebut sempat dipentaskan di luar Kota Banyuwangi beberapa kali oleh LKN kemudian disempurnakan kembali gerakannya oleh pencipta tari Banyuwangi Sumitro Hadi dan dikembangkan oleh pencipta tari Subari Sofyan.

“Pada tahun 1966, saya sudah jadi pelatih tari termasuk yang melatih Darji dan Parmi. Sayangnya saya sudah tidak pernah bertemu lagi dengan mereka. Kabar terakhir saya dengar mereka menikah. Itu pasangan yang pertama kali menarikan tari Jaran Goyang,” kata Slamet Menur.

Hingga saat ini, mantra Jaran Goyang yang menjadi bagian dari sastra lisan masih memiliki fungsi sosial di lingkungan masyarakat Banyuwangi khususnya Suku Osing. Termasuk juga tari Jaran Goyang yang masih sering ditampilkan di pementasan kesenian di Kabupaten Banyuwangi. (kmp)

Batik Tulis Bikin SMP di Batu Jadi Rujukan

foto
Perwakilan Cak dan Ning SMP Negeri 1 Kota Batu memamerkan hasil karya batik tulis sekolahnya. Foto: Malangtoday.net.

Penerapan sistem Full Day School di SMP Negeri 1 Kota Batu mengantarkan namanya di seantero Jawa Timur. Pasalnya, melalui ekstrakurikuler batik tulis, sekolah ini lantas dinobatkan menjadi salah satu sekolah rujukan mewakili Kota Batu.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu Dra Mistin mengatakan bahwa sekolah rujukan (SMPN 1 Kota Batu) ditunjuk langsung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk mewakili Kota Batu.

“Adanya sekolah rujukan ini dalam rangka program penguatan karakter sehingga bisa dijadikan contoh bagi sekolah lain terpicu menerapkan ekosistem pendidikan yang baik,” ungkapnya seperti dikutip Malangtoday.net.

Kembali soal batik tulis, buah tangan anak-anak SMPN 1 ini memiliki tema motif ikon karakter khas Kota Batu, yakni motif apel dan banteng.

“Ini merupakan karya anak-anak ekstrakurikuler batik di sekolah kami ini sempat menjadi juara di even nasional, Mas,” ungkap salah satu perwakilan siswa SMPN 1, Rendi Purnawan.

Sementara, Kepala Sekolah SMPN 1 Kota Batu Bambang Irawan mengatakan bahwa kreativitas akademik dan juga non akademik para siswa ini diharapkan bisa menginspirasi sekolah lain di Kota Batu.

“Ya itu salah satu tugas kami di Kota Batu bisa menjadi inspirasi dan rujukan sekolah lain. Jadi gak hanya akademik, tapi juga non akademik. Salah satunya ya melalui karya seni ini kita bisa jadi jua nasional. Tujuannya ya biar semua sekolah di Jatim bisa sama-sama maju,” ujarnya.

Perlu diketahui, SMPN 1 Kota Batu ini juga didapuk menjadi tuan rumah dalam Gebyar Karya Sekolah Rujukan se-Jatim 2017. Merupakan ajang showcase (pameran) karya ilmiah maupun non ilmiah dari 38 sekolah rujukan terpilih di Kota/Kabupaten se-Jatim.

Adanya sekolah rujukan merupakan satuan pendidikan yang memiliki akreditas A dengan berbagai program penguatan karakter, budaya mutu dan penumpuan budi pekerti yang bisa dijadikan rujukan sekolah lain di sekitarnya. (mtd)

Filosofi Serba Hitam di Hari Jadi Kabupaten Malang

foto
Tampilan busana adat Malangan yang dikenakan Bupati Malang aat Upacara Hari Jadi Ke-1257 Kabupaten Malang. Foto: Humas for MalangTIMES.

Jangan kaget apabila di Hari Jadi Kabupaten Malang, seluruh aparat sipil negara (ASN) mengenakan busana warna hitam setiap tahunnya. Warna yang identik dan dikesankan sebagai perwakilan suasana muram dan duka oleh sebagian orang.

Padahal, pemaknaan warna hitam yang disimbolisasikan sebagai lambang dari tanah tidak sekedar dilihat dari permukaannya saja.

Tapi, di tingkat filosofinya warna hitam merupakan warna yang diidentikkan dengan lambang kebijaksanaan. Serupa tanah yang tabah dengan kesadaran memangku segala beban yang dianugerahkannya.

“Karena itu busana adat Malangan lebih didominasi warna hitam. Warna kebijaksanaan yang diharapkan menjadi bagian pribadi seluruh masyarakat di Kabupaten Malang,” kata Bupati Malang Dr H Rendra Kresna, yang mengenakan busana adat Malangan warna hitam dengan motif bunga kuning emas yang tersemat dari bagian kerah sampai bawah, Selasa (28/11) setelah acara upacara Hari Jadi Ke-1257 Kabupaten Malang.

Baju adat Malangan berwarna hitam merupakan bagian dari nilai-nilai budaya masa lalu yang kini dipertahankan sampai kini. Sebagaimana diketahui bahwa dalam rentang sejarah Jawa Timur (Jatim), riwayat kesejarahannya didominasi oleh tiga kerajaan besar. Yaitu Kerajaan Kediri, Kerajaan Singosari, dan Kerajaan Majapahit.

Barulah pada era Jawa Baru, masuklah pengaruh budaya dari Kerajaan Mataram Islam dari Jawa Tengah. Proses akulturasi budaya dalam berbusana inilah yang kini terlihat dari busana adat Malangan yang tiap tahun dikenakan oleh seluruh pejabat Pemerintahan Kabupaten Malang.

“Pemakaian baju adat dalam berbagai perayaan ini bukan untuk memperlihatkan strata, tapi malah sebaliknya. Seluruh dari kita menjadi satu dalam warna yang satu. Tidak ada strata dalam kebijaksanaan. Inilah filosofi dari baju adat yang kita kenakan,” terang Rendra kepada Jatimtimes.com.

Selain baju adat warna hitam, baik berkerah maupun tidak, biasanya juga dilengkapi dengan blangkon atau udeng. Di Malang sendiri, udeng khas Malangan adalah udeng kemplengan.

Walaupun tentunya saat ini banyak sekali modifikasi terhadap penutup kepala ini. Tapi, secara umum ada empat filosofis dari udeng Malangan ini. Yaitu gunungan, jeprakan, puteran dan tali wangsul.

Dari berbagai sumber yang ada, gunungan yang terdapat pada bagian belakang udeng melambangkan kekuatan rakyat Jawa yang kukuh bagai gunung dan juga merupakan lambang harapan yang tinggi.

Sedangkan jeprakan yang pada sisi kanan dan kiri memiliki tinggi yang sama, melambangkan keseimbangan pada hidup. “Yang berarti kita harus adil atau seimbang dalam melakukan sesuatu,” ujar Rendra yang juga sangat fasih dalam persoalan budaya jawa ini.

Puteran pada bagian depan melambangkan keterkaitan pada hal-hal yang berkebalikan itu tidak bisa dipisahkan. Misalnya siang-malam, baik-buruk, tua-muda, dan lainnya. Sedangkan tali wangsul adalah lambang orang Jawa yang saat meninggal nanti akan wangsul atau pulang ke Sang Pencipta.

Ikatan yang dihadapkan ke atas juga bermakna harus ingat kepada Tuhan. “Begitu dalamnya nilai filosofi dari sebuah busana masa lalu. Karena itu, kita terus lestarikan dalam kehidupan saat ini,” pungkas Rendra. (sak)