Puti Guntur Soekarno bersama pemilik Warung Pecel Bu Yatin. Foto: Pdiperjuangan-jatim.com.
Calon Wakil Gubernur Jawa Timur Puti Guntur Soekarno menyempatkan diri menikmati pecel khas Ponorogo di Jalan Ketabangkali, Surabaya, Senin (22/01). Pecel ini lebih dikenal dengan sebutan Pecel Ketabangkali Bu Yatin.
Dengan antusias, cucu Bung Karno itu melahap pecel legendaris yang telah dikenal sejak 1950 tersebut. Puti pun mengangkat dua jempol sebagai tanda mengakui kelezatan pecel tersebut.
”Enak tenan. Rasanya khas, membuat lidah menari,” kata Puti yang tampak energik meski beberapa hari terakhir ini keliling ke berbagai daerah hingga dinihari.
Cucu Presiden pertama RI Ir Soekarno ini memilih paket sayuran lengkap, mulai bayam, kubis, sawi, kacang panjang, kembang turi, hingga kerahi rebus yang merupakan sayuran mirip mentimun. Tak ketinggalan, ada daun kemangi, biji lamtoro, dan peyek kacang.
”Aktivitas saya luar biasa padat, maka harus banyak makan sayur biar terus sehat,” kata Puti yang dikenal suka olahraga.
Dosen tamu di Kokushikan University Jepang itu memilih sambal pecel yang cukup pedas. ”Saya sebenarnya suka pedas, tapi kemarin makan bebek songkem Madura yang sangat pedas, jadi sekarang dikurangi sedikitlah pedasnya,” ujar ibu dua remaja, Rakyan Ratri Syandriasari Kameron dan Rakyan Daanu Syahandra Kameron, itu.
Puti mengaku kagum dengan kekayaan kuliner Jawa Timur yang luar biasa beragam. Dari dulu, dia menggemari sate Madura, bahkan Puti punya langganan soto lamongan di daerah Jakarta Selatan sejak zaman dia remaja.
Puti juga menggemari bumbu sambal khas Madura yang biasa dipadukan dengan bebek atau ayam goreng.
Kekayaan kuliner ini, imbuh Puti, kalau dioptimalkan, bisa menjadi bagian dari city branding yang kokoh. Menurutnya, yang paling pertama diingat orang dari suatu daerah itu hampir pasti kulinernya.
“Ingat Lamongan, orang ingat soto atau tahu campur. Ingat Madiun atau Ponorogo, ingat pecel. Ingat Madura, ingat sate. Ingat Banyuwangi, ingat rujak soto. Ingat Gresik, ingat nasi krawu. Dan seterusnya,” ujar Puti.
“Nah, tugas pemerintah provinsi ini untuk merajutnya menjadi satu kekuatan merek yang kuat bagi Jatim dan kabupaten/kota di dalamnya yang ujung-ujungnya adalah pergerakan ekonomi bagi masyarakat,” tuturnya. (sak)
Napak tilas sejarah kebangsaan dan religi dilakukan Calon Wakil Gubernur Jawa Timur Puti Guntur Soekarno dalam kunjungannya di Kota Pahlawan, Senin (22/01).
Usai mengunjungi rumah kelahiran Bung Karno dan rumah indekos yang tercatat sebagai kediaman pahlawan bangsa HOS Tjokroaminoto, Mbak Puti, sapaan akrab Puti Guntur Soekarno, ziarah ke makam Sunan Ampel, salah satu wali penyebar agama Islam di Nusantara.
Tiba di Ampel selepas shalat Ashar, Mbak Puti diterima langsung oleh Ketua Takmir Masjid Ampel Mohammad Azmi Nawawi dan sejumlah pengurus masjid. Mereka memanjatkan doa di pusara Sunan Ampel dipimpin langsung oleh Kyai Azmi.
Mbak Puti ditemui wartawan mengatakan, kunjungannya ke Ampel adalah untuk berziarah sekaligus menghormati peran para wali dalam penyebaran agama Islam di Surabaya dan Jawa Timur.
“Saya ke sini untuk ziarah. Berdoa pada Allah setiap saat dan waktu. Sekaligus untuk menghormati para wali. Bagaimanapun, para wali, sunan, adalah leluhur yang mempunyai keterikatan sejarah dengan Surabaya dan Jawa Timur,” kata Mbak Puti.
Kepada para pengurus masjid dan makam Ampel, Mbak Puti juga menanyakan kondisi masjid dan peziarah. “Alhamdulillah, hari ini tadi ada sepuluh ribuan peziarah,” kata cucu dari Bung Karno ini.
Menurut Kyai Azmi, jumlah peziarah akan bertambah banyak jumlahnya pada saat hari libur maupun hari besar keagamaan. Karena membeludaknya jumlah peziarah itu pula Kyai Aswi mengaku kurang bisa maksimal dalam melayani pengunjung.
“Kami sampaikan juga (kepada Mbak Puti) kadang-kadang kami merasa kurang maksimal dalam melayani para tamu. Sebab jumlahnya terus bertambah banyak,” kata Kyai Asmi. (sak)
Pengunjung minum air Sendang Agung yang diyakini peninggalan Majapahit. Foto: Jawapos/Ghoufur Eka.
Sidoarjo memiliki situs sendang yang layak dikembangkan menjadi tempat wisata. Situs Sendang Agung yang diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Majapahit itu ramai dikunjungi wisatawan domestik. Hanya, sarana dan prasarananya masih minim.
Sawah membentang di Kelurahan Urangagung, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo. Beberapa cekungan air terlihat berjajar di tengah areal persawahan. Semilir angin menggerakkan payet-payet yang tergantung di payung emas di sisi kanan dan kiri pintu masuk pendapa Situs Sendang Agung. Suasana sore ketika itu sangat pas untuk menikmati situs yang diyakini menjadi peninggalan Kerajaan Majapahit tersebut.
Sekilas, situs yang ditemukan pada 2015 itu terlihat tidak istimewa. Pendapanya hanya terbuat dari kayu dan seng yang dicat untuk memberikan kesan rapi. Kolam mata air hanya berpagar kayu. Kecuali situs utama yang ditemukan Sugiantono, juru kunci Sendang Agung, sudah dikelilingi bangunan permanen. Tujuannya, menjaga keamanan.
Pengelola situs Sendang Agung Ahmad Faroq menyatakan, saat ini ada lima titik situs dengan struktur batu bata khas Kerajaan Majapahit di Kelurahan Urangagung. Sumur dengan susunan batu bata kuno itu sudah digali sedalam 1,5 meter. “Prosesnya belum tuntas. Karena masih ada lagi batu bata kuno kalau diteruskan ke bawah,” kata Ahmad seperti dilaporkan Jawa Pos.
Di situs ketiga ditemukan uang koin kuno yang bertulisan Der Indie 1826 yang juga dipertontonkan. Dibalik uang tersebut terdapat gambar lambang Kerajaan Belanda. Di dekatnya, pengunjung bisa menuangkan segelas air sendang dari kendi yang sudah disiapkan. Jawa Pos langsung mencobanya saat bertandang ke sana. Air itu terasa segar dan melegakan.
Saat itu beberapa pemuda dari desa tetangga tampak berkunjung. Mereka meminta izin untuk menciduk sendiri air dari sendang.
David Setya, anggota karang taruna Kelurahan Urangagung yang kala itu berjaga, lantas mempersilakan mereka untuk mengambil air. Meski begitu, David tetap mengawasi tingkah laku para pengunjung.
Suasana pun tetap kondusif. “Soalnya pernah ada yang nekat nyemplung. Dibawa ke rumah langsung sakit dan akhirnya meninggal,” ungkapnya.
Setelah kejadian itu, masyarakat semakin berhati-hati dalam mengelola berkah alam tersebut. Hal itu juga terlihat dari papan tata krama berperilaku yang terpampang di lokasi situs. Salah satunya, tidak merokok di wilayah bibir sendang. “Mas, hati-hati ya rokoknya!” kata David memperingatkan pengunjung.
Beberapa pemuda asal Kecamatan Tarik dan Sukodono pun melipir. “Justru saya ke sini karena dengar keunikan kayak begini,” ucap Dinda Miradea, pengunjung asal Desa Sebani, Tarik.
Beberapa peneliti yang datang ke lokasi sumur Sendang Agung, kata Ahmad, menyatakan bahwa kandungan air di dalamnya memiliki keunikan.
“PH air di atas normal sampai 7,8. Sudah begitu, katanya mudah tersulut api,” paparnya. “Sejak ditemukan situs ini, warga desa bergabung dalam Paguyuban Sendang Agung untuk mengelolanya secara kemasyarakatan,” lanjutnya. (jpg)
Ratu Rustuty Rumagesan mengenakan hiasan Burung Cendrawasih pada sebuah acara. Foto: Istimewa.
Tanah Papua punya sembilan kerajaan yang eksis hingga saat ini. Salah satunya Kerajaan Sekar. Di kerajaan itulah, Rustuty menjadi ratu. Hampir lima tahun dia mengayomi puluhan ribu warga di 23 kampung di wilayah Kerajaan Sekar.
“Mama mati baru anak-anak bisa jadi raja.” Pernyataan sikap warga Kerajaan Sekar pada 2013 itu membuat Rustuty Rumagesan terhenyak. Dia merasa tidak mungkin menjadi raja. Sebab, raja haruslah laki-laki.
Namun, warga tetap mendesak agar dia mau bertakhta. Rustuty tetap pada keputusannya Dia menolak menjadi ratu Kerajaan Sekar. Karena terus didesak, Rustuty akhirnya mengambil jalan tengah. Dia meminta dicarikan gelar baru.
Masyarakat akhirnya menyepakati Rustuty diberi gelar ratu petuanan tanah rata kokoda. Dia pun menerimanya. Sedangkan raja Kerajaan Sekar dipegang keponakannya.
Rustuty berbagi peran dengan keponakannya dalam mengelola kerajaan. Dengan kedudukan tersebut, dia menjadi ratu pertama dan satu-satunya di tanah Papua saat ini.
Dia menjadi representasi Kerajaan Sekar yang hadir dalam audiensi raja-raja Nusantara dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor. Mengenakan pakaian kebesaran plus mahkota cenderawasih, Rustuty hadir bersama 87 raja maupun sultan dari berbagai kerajaan di tanah air.
Rustuty merupakan putri Raja Al Alam Ugar Pik-Pik Sekar Kokas. Dia adalah anak tunggal. “Tapi, saudara satu ayah ada enam di atas saya (kakak). Saudara satu ibu ada enam di bawah saya (adik),” terangnya saat berbincang dengan Jawa Pos.
Dia menuturkan, sang ayah yang pada 1950-an datang ke Makassar bersama Presiden Soekarno disambut tari-tarian adat. Salah satu penarinya adalah ibunya, Janiba, yang saat itu masih berusia 17 tahun.
Raja Al Alam yang waktu itu sudah sepuh, sekitar 90 tahun, tertarik dan melamarnya. Saat Rustuty masih kanak-kanak, ayahnya menikahkan ibunya dengan laki-laki lain sehingga dia punya adik enam orang.
Kerajaan Sekar merupakan satu di antara sembilan kerajaan yang masih eksis di tanah Papua. Delapan kerajaan lainnya adalah Ati-Ati, Patipi, Rumbati, Papagar, Argumi, Wertuar, Namatota, dan Penisi. Kerajaan Sekar berkedudukan di Kecamatan Kokas, Kabupaten Fak-Fak, Papua Barat.
Meski lebih sering disebut entitas budaya, raja-raja di sembilan kerajaan tersebut tetap mendapatkan tempat di hati masyarakat. Mereka tetap mendapat penghormatan layaknya seorang raja meski tidak bisa sama dengan saat Indonesia belum merdeka.
Sebagai ratu, aktivitas Rustuty cukup banyak. Dia berkunjung ke kampung-kampung di wilayahnya, ke berbagai daerah, bahkan ke berbagai negara. Baik dalam rangka silaturahmi antar kerajaan maupun untuk pameran dan ekshibisi. Beberapa negara seperti Brunei Darussalam, Malaysia, hingga Prancis pernah dikunjungi ratu kelahiran 5 Mei 1953 itu.
“Kalau di luar, saya bawa hasil kerajinan tangan warga untuk dijual. Hasilnya saya serahkan tidak dalam bentuk uang, melainkan barang-barang yang mereka butuhkan,” tuturnya.
Di kerajaan, dia berlaku layaknya seorang pemimpin. Rustuty berupaya mendorong rakyatnya agar berdaya secara ekonomi. Tidak hanya mendorong, dia juga membantu mengupayakan permodalan dan pelatihan keterampilan.
Peran lain Rustuty adalah juru damai bila ada warganya yang berkonflik. Peran ayahnya dalam perebutan kembali Irian Barat dari tangan Belanda membuat Rustuty yakin bahwa Indonesia adalah takdir Kerajaan Sekar.
Karena itu, Rustuty aktif menyosialisasikan cara hidup ber-Pancasila kepada warganya. “Kalau mereka berkonflik, saya marah. Kalian itu tidak Pancasila. Jangan mau diadu domba,” tuturnya.
Suatu ketika dia mendapat kabar warganya diserang sejumlah orang dari Ambon dan hendak membalas serangan tersebut. Rustuty langsung mendatangi warganya dan melarang mereka untuk membalas. Dia memerintahkan, begitu ada niat untuk berperang, mereka harus kembali bertafakur sesuai agama dan keyakinan masing-masing.
Diharapkan, dengan bertafakur, niat berperang itu bisa hilang. Bila memang sudah terdesak, lebih baik menghubungi kepolisian. “Biar aparat yang selesaikan, jangan kalian,” lanjutnya.
Lewat perintah tersebut, Rustuty hendak mengajarkan bahwa Indonesia adalah negara hukum. Bila ada konflik, penyelesaiannya lewat jalur hukum, bukan dengan berperang atau main hakim sendiri. Sebab, bagaimanapun, yang diperangi adalah saudara sendiri.
Dengan cara tersebut, warga pun semakin menghargai tindakan-tindakan yang dilakukan Rustuty. Apalagi, dia kerap memotivasi warga agar melakukan apa pun yang mereka bisa untuk menopang ekonomi supaya dapur tetap mengepul.
Bila warga hanya mampu membuat koteka, dia meyakinkan bahwa koteka itu bermanfaat. Setiap kali ada tamu datang, koteka akan laris. Saat tamu datang itu pula, dia meminta warganya menyambut secara adat. Itu dilakukan untuk memperkenalkan daerah tersebut sehingga makin banyak yang ingin berkunjung.
Untuk memberikan contoh, Rustuty pun hidup dari hasil usahanya sendiri. Itu sedikit berbeda dengan para raja lainnya yang masih mendapat bantuan dari pemerintah. Dia membuka salon, tempat menjahit, dan mengajari beberapa warganya untuk ikut berwirausaha. Meski, bukan perkara mudah membuat warga mau berwirausaha.
Saat ini Rustuty menyerahkan hidupnya secara total kepada warga. Empat anaknya sudah dewasa dan bekerja di luar kampung. Ada yang bekerja di perusahaan asal Jepang, di Pertamina Sorong, dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta, dan yang terakhir menjadi Kasatpolair Polres Raja Ampat. Dua laki-laki dan dua perempuan.
Sementara itu, sang suami Sri Harijanto Tjitro Soeksoro telah meninggal pada 2006. Rustuty punya kenangan tak terlupakan bersama suaminya, terutama mengenai asal usulnya.
Sebab, sejarah itulah yang membuat putra putri mereka saat ini bergelar raden mas dan raden ayu. Ya, sang suami merupakan keturunan raja di Jawa, Mangkunegara III. “Itu laki-laki Jawa yang paling berani,” kenangnya.
Sebelum menikah, Tjitro menyembunyikan identitasnya sebagai pangeran. Dia langsung jatuh cinta saat kali pertama bertemu dengan Rustuty. Awalnya, pihak keluarga Rustuty menolak karena terikat dengan aturan kerajaan.
Namun, perjuangan yang gigih dari seorang Tjitro meluluhkan hati Rustuty. Dia pun mengiyakan dengan syarat bercerai setelah setahun.
“Tapi, nggak jadi cerai karena begitu nikah, langsung hamil,” ucap perempuan kelahiran Makassar itu. Putra pertamanya baru berusia empat bulan, dia sudah hamil lagi, dan seterusnya.
Rustuty juga baru mengetahui bahwa Tjitro adalah bangsawan setelah datang ke Jawa. Saat itu dia sudah pasrah karena dalam bayangannya, ketika di Jawa, dia akan bertani sebagaimana umumnya masyarakat Jawa kala itu.
Ternyata, mereka disambut secara adat dengan begitu meriah. Marahlah Rustuty karena sang suami menyembunyikan identitasnya. Namun, di luar itu, bagi Rustuty, Tjitro adalah orang yang sangat sabar.
Rustuty punya harapan bagi kelangsungan kerajaan-kerajaan di Nusantara. “Budaya harus kita angkat kembali. Karena lewat budaya, etika akan terbangun kembali,” tuturnya.
Dengan begitu, generasi muda tidak sampai terbawa arus peradaban yang negatif. Mulai tawuran hingga korupsi. Dia yakin, praktik korupsi bisa hilang bila setiap orang mengingat kembali ajaran luhur budayanya.
Sebagai produk budaya, manusia akan berpikir ulang bila hendak berbuat buruk. Sebab, sejak kecil ditanamkan budaya yang luhur bahwa manusia tidak boleh melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan orang lain.
“Indonesia kaya akan budaya, dan itu indah, seperti terlihat tadi kita hadir semua,” ujarnya. Kekayaan itulah yang menjadi keunggulan Indonesia, dan harus dijaga.
Mendikbud Muhadjir Effendy menambahkan, sebelum raja-raja tersebut bertemu presiden, Kemendikbud berdialog dengan mereka. Mereka diharapkan bisa memberikan masukan kepada pemerintah tentang bagaimana membangun kebudayaan. “Insya Allah apa yang telah disampaikan kepada kami akan kami tindak lanjuti,” ucapnya. (jpg)
Suasana ibadah dulu di gereja GKJW Mojowarno yang di bangun pada 1845. Foto: gkjw.or.id.
Selalu ada sejarah yang mengikuti setiap peradaban. Baik yang terungkap maupun yang kian samar atau hilang dalam pengetahuan manusia. Salah satunya adalah mengenai permukiman umat Kristen khususnya di Jatim.
Permukiman atau pedukuhan umat Kristen ini walaupun minoritas di Jatim, tetapi secara usia cukup terbilang tua. Yaitu sejak zaman penjajahan Belanda dan bertahan sampai sekarang ini.
Pedukuhan Kristen ini kemudian dikenal sebagai sentra Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) dan tercatat berjumlah 41.
Lantas pedukuhan Kristen mana saja yang masih bertahan sampai saat ini di Jatim? MalangTIMES merangkumnya untuk Anda.
Pedukuhan Ngoro, Jombang
Hutan Ngoro dibuka tahun 1827 oleh Coenrad Laurens Coolen, seorang Bos Opzichter (Pengawas Penebangan Kayu) keturunan Rusia dari garis ayah dan ibunya adalah seorang putri keturunan Pangeran Kojaran dari keluarga bangsawan Mataram.
Ngoro sangat subur sehingga mengundang orang banyak untuk datang dan menjadi penggarap di sana. Di kesempatan itulah Coolen mengajak pembantunya dan sekelompok kecil masyarakat, setiap kali akan membuka hutan atau menggarap sawah, untuk meminta berkat Tuhan Yesus.
Ia kemudian mengadakan kebaktian Minggu dan bercerita tentang Tuhan Yesus. Lama kelamaan dia mengajarkan ajaran Kristen dan menghasilkan suatu jemaat Kristen yang khas yang disebutnya sebagai Kristen Jawa.
Pedukuhan Mojowarno, Jombang
Di Mojowarno berdiri Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) yang beraliran Calvinisme pada tanggal 3 Maret 1881. Ceritanya, suatu hari di pertengahan 1826, Midah seorang Madura yang buta huruf, melihat cetakan Injil Markus dalam huruf Jawa dan Arab.
Karena tak mampu membaca, Midah lalu mendatangi Dasimah, salah satu temannya di Wiyung. Dasimah kemudian berinisiatif mencari arti kutipan Injil tersebut. Bertahun-tahun dia bingung hingga pada 1836 ada orang yang memperkenalkannya dengan Coenraad Louren Coolen, seorang sinder blandhong (pengawas penebangan kayu) di daerah Ngoro. Setelah lima tahun mondar-mandir Wiyung-Ngoro, Dasimah akhirnya ingin dibaptis.
Keberadaan jemaat Gereja Mojowarno tak lepas dari peran Coolen yang memiliki dua orang kepercayaan. Namanya Kiai Ditotruno dan Kiai Singotruno. Kiai Ditotruno inilah yang akhirnya membuka hutan Keracil (babat alas) pada 1844 dan mengawali pembangunan Mojowarno.
Desa Peniwen, Kromengan, Malang
Termasuk 41 Desa Kristen yang ada di Jatim. Dikenal dengan sentra Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), yaitu gereja beraliran Protestan. Dibuka pada tahun 1880 oleh 20 orang yang dipimpin oleh Kiai Sakejus. Kemudian pada 1883, Pendeta Kremer mengunjungi kampung itu untuk mendoakan berdirinya kampung Kristen.
Selain di Desa Peniwen, Kromengan pergerakan ajaran Yesus Kristus ini juga sampai di Desa Suwaru, Sitiarjo, Rowotrate, Tambakasri, Pujiharjo.
Di tahun 1900-an, pergerakan agama Kristen Jawi Wetan menyebar ke Kabupaten Lumajang (Tempursari), Jember (kampung Sidomulyo, Sidoreno, Sidorejo, dan Rejoagung), Banyuwangi, Situbondo (Desa Purwodadi, Purwosari, Tulungrejo, Wonorejo, dan Ranurejo).
Di Jombang muncul pedukuhan kristiani yaitu di Kertorejo dan Bongsorejo. Di Sidoarjo ada dua gereja tua, yakni GKJW Mlaten dan GKJW Luwung.
Para leluhur GKJW juga babat alas di Maron (Blitar), Tumpuk (Tulungagung), Segaran, Sindurejo, Sidorejo, Sambirejo, Tunglur, Jatiwringin, Wonoasri (Kediri), Aditoya (Nganjuk), Ketanggung, dan Wotgalih (Ngawi). (ist)
Cucu Presiden RI Pertama Ir Soekarno, Hj Puti Guntur Soekarno SPol resmi menjadi calon wakil gubernur Jawa Timur berpasangan dengan Drs H Saifullah Yusuf. Resmi dicalonkan PKB, PDI Perjuangan, PKS dan Gerindra untuk Pilkada 2018, sosok putri sulung Guntur Soekarnoputra ini kurang dikenal masyarakat Jawa Timur. Siapa Puti Guntur Soekarno?
Puti saat ini sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dari Daerah Pemilihan Jawa Barat X yang meliputi (Kabupaten Kuningan, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Pangandaran dan Kota Banjar) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
Sebelum memasuki kancah politik nasional, Puti aktif belajar dan menjadi relawan budaya melalui Kelompok Swara Mahardhikka serta peduli pada aktifitas pendidikan bagi generasi muda melalui Yayasan Fatmawati Soekarno, bidang-bidang yang saat ini terus diperjuangkannya melalui Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan dan kebudayaan serta pemuda dan olah raga, pariwisata, ekonomi kreatif serta perpustakaan.
Bagi penikmat dan penggiat lukisan, tari dan musik ini aktif berpolitik di kancah publik tak harus meninggalkan kodratnya sebagai perempuan Indonesia, tetap menjaga harmoni keluarga juga silaturahmi dengan teman dalam persaudaraan demikian ia tak pernah melupakan darimana ia berasal dan apa yang diperjuangkannya.
Berjiwa Muda & Mandiri
Puti tumbuh dalam keluarga terpandang di Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Ayahnya adalah Guntur Soekarno putra sulung pendiri negara sekaligus presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno.
Meski tumbuh sebagai cucu presiden pertama Puti diajarkan hidup sederhana dan mandiri sejak kecil. Misalnya untuk kegemarannya membaca buku ia harus menabung dari uang jajan dan membeli buku.
Guntur Soekarno sangat peduli pada nasib dan eksistensi kaum muda dalam berpolitik, meski ia sendiri pada akhirnya tidak dapat terus berpolitik karena keadaan yang membuatnya demikian. Kesadaran untuk pendidikan dan egaliter menghargai kaum muda untuk maju tertanam dalam diri Puti.
Hidup Guyup Rukun
Kelembutan bertutur dan menghormati sikap hidup guyup rukun menjadi ciri khas budaya masyarakat Sunda yang diajarkan kepadanya oleh ibunya Henny Guntur (Henny Emilia Handayani) yang sempat menjadi Ratu Kebaya pada jamannya mewakili Jawa Barat.
Latar belakang tersebut turut membentuk karakternya yang sangat menghargai seni dan tradisi Sunda. Berkepribadian budaya nasional menjadi kepedulian perjuangannya.
Selalu Bersyukur
Masa kecil Puti cukup dekat dengan Ibu Fatmawati Soekarno yang selalu mengajarinya mengaji dan agar jangan meninggalkan sholat fardhu sebagai seorang muslimah. Ibu Fatmawati pintar mengaji. Ia memanggil Sang Nenek dengan panggilan Mbu (baca: embu). Menurutnya suara lantunan saat mengaji Ibu Fat begitu merdu ia selalu menyimaknya saat Magrib tiba.
Dari Sang Nenek ia diajarkan hidup sederhana dan pintar mensyukuri nikmat Allah SWT agar hidup senantiasa bahagia. Neneknya memang berangkat dari keluarga besar Muhammadiyah di Bengkulu, bahkan konon diberikan kehormatan sebagai Anggota Kehormatan KOHATI (Korps HMI-Wati seumur hidup).
Mengabdi Untuk Rakyat
Bagi Puti, berpolitik harus punya prinsip. Prinsip politiknya adalah ideologi dari Bung Karno untuk memperjuangkan masyarakat kecil yaitu sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Di dalam praktek politik bernegara harus berpegang pada ideologi negara sekaligus Dasar Negara Pancasila.
Terkait pemikiran Bung Karno ia dapatkan langsung dari ayahnya Guntur Soekarno dan kadang juga teman-teman ayahnya sesama alumni GMNI (Gerakan mahasiswa nasional Indonesia). Ayahnya Guntur Soekarno adalah mentor ideologinya.
Apresiasi Terhadap Seni
Sejak SMP perempuan yang memiliki nama lengkap Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarnoputri aktif mengikuti kegiatan kesenian dan budaya termasuk mementaskan tari-tarian. Ia juga seringkali mengiringi paduan suara di SMA 1 Budi Utomo Jakarta dengan memainkan piano. Melukis juga merupakan kegiatan yang disukainya.
Dukungan Keluarga
Usai menyelesaikan kuliahnya di Universitas Indonesia jurusan Administrasi Negara tahun 1994, Puti menikah dengan Joy Kameron pria yang hobi fotografi yang kini menjadi ayah dari kedua anaknya yaitu Rakyan Ratri Syandriasari Kameron dan adiknya Rakyan Danu Syahandra Kameron.
Dukungan keluarga sangat penting dalam politik. Ia sangat peduli pada keluarga dan anak-anak. Hal yang membuatnya semakin bersemangat melakukan perjuangan politik bahwa politik bukan semata diwakili hal-hal besar tetapi keluarga sebagai unsur terkecil politik juga penting.
Pendidikan anak dan kaum perempuan
Ia meyakini pendidikan adalah jembatan untuk membangun manusia Indonesia sebagai modal utama investasi pembangunan Bangsa Indonesia. Untuk itu ia selalu memperhatikan pendidikan anak dan khususnya perempuan di daerah pemilihannya. Keberpihakan pada perempuan dan anak-anak menjadi bumbu penyedap perjuangan politiknya.
Ia selalu bersemangat diantara kaum perempuan dan anak. Baginya perempuan Indonesia bisa memiliki peran perjuangan politik tanpa harus meninggalkan kodratnya, itulah feminisme Indonesia yang ia fahami dari Buku Sarinah karya kakeknya.
Kegemarannya banyak membaca buku membuatnya familiar dengan tokoh-tokoh pemimpin perempuan seperti Ratu Sima, Dyah Pitaloka, Tri Buana Tunggadewi, Indira Gandhi, Aung San Suu Kyi, Bunda Teresa, Siti Khadijah, RA Kartini, Dewi Sartika, hingga sosok politik kontempores seperti Angela Merkel dan Megawati Sukarno Putri bibinya. Penggemar film India ini juga mencermati perkembangan sastra di tanah air.
Tak segan ia tampil dalam sebuah perhelatan membawakan musik regae atau The Beatles yang disukai anak muda. Sosoknya luwes dan ramah bergaul kepada siapapun. (sumber: putiguntursoekarno.org)
Saat Presiden Jokowi mengunjungi objek wisata Candi Borobudur di Magelang. Foto: Setkab.go.id.
Pada 2017, sebanyak tiga warisan dokumenter Indonesia yakni arsip konservasi Borobudur, arsip tsunami Samudra Hindia serta naskah Cerita Panji telah diakui sebagai ingatan kolektif dunia (Memory of the World/MoW) oleh UNESCO.
Warisan dokumenter ini seperti ditulis Antaranews.com sebagai catatan Akhir Tahun Arsip Nasional RI (ANRI), menjadi bukti penting dalam sejarah umat manusia, dokumen-dokumen yang diajukan adalah sebagai warisan budaya yang bersifat global dan memiliki keterkaitan dengan bangsa lain.
Arsip konservasi Borobudur digagas oleh Balai Konservasi Borobudur di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Alasan Balai Konservasi Borobudur mengajukan arsip konservasi Borobudur tersebut karena itu merupakan proyek konservasi terbesar pada abad 20 yang didanai dunia internasional dan merupakan proyek pertama yang menggunakan teknik modern untuk konservasi monumen.
Pengakuan internasional terhadap arsip konservasi Borobudur ini mempunyai peranan penting bagi pengembangan ilmu konservasi terkini dan dapat digunakan untuk menemukan solusi bagi permasalahan konservasi yang ada.
Sementara itu naskah cerita Panji diusulkan oleh Perpustakaan Nasional RI secara nominasi bersama dengan negara Malaysia, Kamboja, Belanda dan Inggris.
Cerita Panji merupakan karya sastra dari abad ke-13 dan menjadi salah satu perkembangan sastra Jawa tanpa dibayangi oleh epos India Ramayana dan Mahabharata.
Kemudian arsip tsunami Samudera Hindia diusulkan oleh Arsip Nasional RI sebagai nominasi bersama dengan Sri Lanka.
Warisan dokumenter ini terdiri atas satu set arsip dalam berbagai media yang mencatat kejadian tsunami Samudra Hindia, tanggap bencana serta sebagian besar tentang rehabilitasi dan rekonstruksi.
Sejauh ini Indonesia telah memiliki beberapa warisan documenter yang diakui internasional sebagai ingatan dunia antara lain naskah La Galigo pada 2011, naskah Nagarakertagama pada 2013, naskah Babad Diponegoro pada 2013 dan arsip Konferensi Asia Afrika pada 2015.
Dokumen-dokumen yang telah diakui tersebut akan dijaga kelestariannya serta dilakukan alih media dan disebarluaskan kepada publik.
Renacananya tahun depan Indonesia akan mengajukan dua dokumen yang memiliki nilai sebagai ingatan dunia, yaitu arsip Gerakan Non Blok dan dokumen Sukarno.
Pengajuan dokumen tersebut digagas oleh ANRI, lembaga tersebut menilai dokumen Sukarno karena pemikiran-pemikirannya yang luas terkait internasionalisme, kemanusiaan dan juga ideologi bangsa, itu sangat penting dan harus diketahui masyarakat, tidak hanya masyarakat Indonesia tetapi juga masyarakat internasional.
Saat ini ANRI bersama beberapa pakar dan sejarawan sedang menyusun dokumen-dokumen apa saja yang akan disertakan dalam Sukarno Papers tersebut. Selain itu, ANRI juga akan menelusuri arsip-arsip mengenai Sukarno ke beberapa negara seperti Serbia, Amerika dan Aljazair.
ANRI optimistis dokumen tersebut dapat diterima sebagai ingatan kolektif dunia. Selain dokumen Sukarno, Indonesia juga akan mengajukan kembali arsip Gerakan Non Blok (GNB) yang sebelumnya telah diajukan namun belum berhasil mendapat pengakuan.
Gerakan Non Blok adalah lanjutan dari Konferensi Asia Afrika, arsip Konferensi Asia Afrika sudah mendapatkan pengakuan sebagai ingatan kolektif dunia. Oleh sebab itu Indonesia berupaya arsip agar Gerakan Non-Blok juga mendapat pengakuan dari UNESCO.
Gerakan Non Blok dibentuk di Yugoslavia (sekarang Serbia) oleh lima pemimpin dunia pada 1961, salah satunya presiden pertama Indonesia Sukarno. Agar dokumen ini diterima oleh UNESCO, Indonesia berencana melengkapi arsip-arsip yang akan diajukan, sebelumnya arsip Gerakan Non-Blok hanya diajukan oleh Indonesia dan Serbia.
ANRI akan berupaya mencari dokumen-dokumen pendukung dari negara-negara lain. Kesulitannya adalah arsip-arsip tersebut tidak disimpan di arsip nasional mereka, tetapi di simpan di Kementerian Luar Negeri negara tersebut.
Jika cara itu tidak berhasil, Indonesia dan Serbia tetap akan mengajukan dokumen Gerakan Non Blok tersebut hanya pada periode awal terbentuknya Gerakan Non-Blok saja.
Selain dokumen-dokumen yang diakui sebagai ingatan dunia tersebut, pada tahun ini Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa Bidang Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan (UNESCO) menetapkan Pinisi, seni pembuatan perahu di Sulawesi Selatan (Art of boatbuilding in South Sulawesi) sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO melalui Sidang ke-12 Komite Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage-ICH) UNESCO di Pulau Jeju, Korea Selatan.
Warisan Budaya Tak Benda Indonesia juga sudah banyak yang diakui UNESCO, mulai dari wayang, keris, batik, pelatihan batik, angklung, noken Papua, hingga tari Saman dan Tari Bali. Secara nasional Indonesia telah mencatat hampir 600 warisan budaya tak benda yang dimiliki negara ini.
CHEADSEA, lembaga pusat evolusi
Badan PBB untuk Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan (UN for Educational, Scientific and Cultural Organization/UNESCO) mengesahkan pendirian pusat kategori 2, Pusat untuk Evolusi, Adaptasi dan Penyebaran Manusia di Asia Tenggara (Center for Human Evolution, Adaptation and Dispersal in South-East Asia/CHEADSEA) dalam salah satu acara di Sidang Umum ke-39 UNESCO.
CHEADSEA telah diusulkan Indonesia sejak 2014, namun baru dapat disahkan di tahun ini. CHEADSEA tersebut akan berdiri di bawa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang akan menjadi wadah kerja sama antara peneliti di dunia di bidang evolusi.
Lembaga itu nantinya akan memuat berbagai kegiatan seperti pertukaran ahli, penelitian, publikasi , konferensi dan lainnya, sehingga para ahli evolusi manusia dari berbagai disiplin ilmu dapat bertemu.
Indonesia mengusulkan untuk membangun CHEADSEA karena negara ini memiliki potensi luar biasa sebagai tempat yang memiliki situs-situs evolusi manusia seperti di Sangiran. Indonesia pun menjalin kerja sama dengan beberapa negara seperti Georgia di bidang evolusi manusia.
Tahun ini Indonesia-Georgia menggelar pameran bersama yaitu “Prehistoric Heritage” yang menampilkan Homo Erectus dari Dminasi, Georgia dan fosil Indonesia yang berasal Sangiran, Trinil, Ngandong serta Mojokerto.
Tak hanya menggelar pameran kedua negara berencana saling bertukar duplikasi manusia purba, dan berencana akan mengadakan pertukaran peneliti dibidang evolusi manusia. (ant)
Salah satu panel relief di Candi Borobudur. Foto: borobudurculturalfeast.com.
Nusantara sejak dulu kala memiliki akar yang kuat terkait keberagaman, termasuk di dalamnya keberagam religiositas atau keyakinan spiritualitas. Keberagaman dalam religiositas dan keyakinan ini sesuatu yang niscaya yang memunculkan karakter religiositas sebagai ciri karakter Indonesia.
Jauh sebelum Sutasoma menyebut bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa pada era Majapahit, di candi Borobudur telah bergaung mitreka satata yang melukiskan toleransi antarumat beragama di Nusantara.
Religiositas dan keyakinan sipiritualitas yang lahir di bumi Nusantara ini muncul dalam bentuk agama-agama lokal. Agama-agama lokal tersebut merupakan ungkapan kerinduan kepada Sang Pencipta, Sang Awal, semesta, penyadaran akan kefanaan, sekaligus menjadi tuntunan dalam interaksi sosial, baik dengan sesama maupun dengan semesta, mikrokosmos dan makrokosmos.
Nusantara sebagai entitas budaya memiliki kekayaan yang beragam berkait dengan pandangan dan laku spiritual ini. Sungguhpun demikian keberagaman ini mengalir pada muara yang sama yaitu esensi pencarian dan penghayatan atas Tuhan.
Keberagaman ini pula sejak dulu kala sudah menjadi dasar sebagai dialog, perjumpaan agama-agama lokal dengan agama-agama global dari daratan Hindia, Eropa, dan Timur Tengah.
Islam Nusaantra menjadi contoh paling nyata perjumpaan mesra itu yang tak hanya menggugah aspek spiritual namun juga menciptakan nuansa kultural yang berbasis religi.
Perjumpaan mesra ini juga muncul jauh hari sebelum itu, yaitu perjumpaan spiritual Buddha dengan agama-agama lokal, spiritual Hindu dengan religi lokal, agama Nasrani dan Katolik dengan sipritual lokal, bahkan kelak perjumpaan antaragama global itu, misalnya dialog mesra Hindu dengan Buddha, Buddha dengan Katolik (Nasrani), Islam dengan Katolik, Buddha, Hindu, Konghucu.
Mesra dan Dialog
Perjumpaan mesra dan dialog mesra ini dimungkinkan tanpa harus mencampuradukkan karena semua religi memiliki benang merah yang sama. Terkait dengan konsep-konsep spiritual, Nusantara sebagai etintas budaya yang berkarakter religi memiliki kekayaan yang berlimpah ruah.
Laku-laku tersebut bisa dilihat pada, misalnya, Parmalim di Batak, Sunda Wiwitan di Jawa Barat (Sunda), berbagai variasi aliran kejawen dari Jawa (misalnya, Pangestu, Sumarah, Sapta Darma, Samin Sedhulur Sikep, dan lain-lain), Kaharingan di Suku Dayak Kalimantan, Lamaholot di Flores, Marapu di Nusa Tenggara Timur, Ugamo Bangso Batek di suku Batak, Mapurondo di Sulawesi Barat, dan masih banyak lagi.
Semua laku tersebut memiliki dua dimensi, yaitu dimensi rohaniah dan dimensi sosial. Agama-agama lokal di Indonesia merupakan sistem keyakinan sipiritual yang dianut, dihayati, dan dijalankan secara turun-temurun oleh masyarakat Nusantara jauh sebelum datangnya agama-agama global, baik dari Hindia, Eropa, maupun Timur Tengah.
Rahmat Subagya (1981) menyebut sebagai agama asli, yaitu sistem sipiritualitas asli yang tidak bercampur dengan agama-agama lain yang datang ke Nusantara kemudian. Secara sosiologis, konsep agama asli adalah realitas spiritualitas yang ditemukan di tengah-tengah masyarakat, hidup dan berkembang di dalamanya secara individual maupun komunal.
Keyakinan dan spiritulitas tersebut diyakini secara turun-temurun oleh masyarakat Nusantara jauh sebelum agama-agama yang datang kemudian. Kedatangan agama-agama besar lainnya dari India, Eropa dan Timur Tengah semakin menyemarakan kebinekaan religiositas dan spiritualitas Nusantara.
Kemudahan dan kelenturan dalam beradaptasi dengan budaya baru menjadikan tanah Nusantara lahan subur bagi penyerbukan silang budaya. Yudi Latif (2011) menjelaskan ciri khas suku bangsa Nusantara adalah kemampuan dan kesanggupan menerima, mengadopsi, dan menumbuhkan budaya, ideologi, dan religiositas apa pun sejauh dapat dicerna oleh sistem sosial dan nilai-nilai setempat.
Hal ini menunjukan salah satu inklusivitas yang utama pada masyarakat Nusantara adalah kesediaan menerima agama-agama yang datang kemudian karena masyakat Nusantara memiliki karakter religius. Paparan ini menunjukan pula bahwa karakter religius masyarakat Nusantara berkait erat dengan sistem sosial dan nilai-nilai masyarakat Nusantara.
Bagian Penting
Religi menjadi salah satu bagian penting pada suatu komunitas sosial yang berfungsi membentuk sistem ideologi (Leslie dalam Radam; 2001). Religi memiliki dua dimensi, yaitu dimensi individual yang transendental dan dimensi sosial yang horizontal. Setiap religiositas dan sipiritualitas selalu menyakini Zat yang Adi Kodrati. Kehadiran religiositas dan agama-agama pada sebuah komunitas sosial berangkat dari kesadaran bahwa pada kodratnya manusia itu lemah.
Pada situasi semacam itulah mereka secara intuitif mencari sandaran vertikal yang dapat menumbuhkan harapan pertolongan atau perlindungan terhadap kondisi lemah tersebut. Penghayatan atas spiritualitas dan religiositas tertentu bisa memunculkan pengalaman spiritulitas yang berupa pengalaman yang numenous, khusus, dan mysterium tremensdum yang dicitrakan oleh Rudolf Otto dalam buku The Idea of the Holy (dalam Radam; 2001) sebagai pengalaman tentang yang adikodrati, pengalaman yang misterius namun sesuatu yang sakral dan dirindukan.
Dalam penghayatan yang sakral itu mereka menuju dan menemu Zat yang Tertinggi untuk diimani dan dirasakan walau dengan berbagai penyebutan berbeda. Di Jawa digambarkan sebagai tan kena tinaya, tan kena winirasa (sesuatu yang tak bisa dibayangkan, sesuatu yang tak bisa dirasakan) dengan sebutan Hyang Murbeng Dumadi, Hyang Wenang.
Di Sumba Barat disebut sebagai ndapa teki tamo numa ngara (yang tak diberi nama dan tak diberi gelar). Di Tanah Batak disebut sebagai Ompu, Tuan Muala Jadi Nabolon. Di Nias disebut sebagai Lowalangi. Do Bali disebut Hyang Tunggal. Di Sulawesi yang sakral itu disebut sebagai Puang Motoa. Di beberapa suku di Kalimantan disebut sebagai Pahotara, Jubata, atau Mahatala.
Nusantara sebagai bumi yang memiliki karakter religius menyambut kedatangan agama-agama global dari Hindia, Eropa, dan Timur Tengah dengan baik. Terjadi perjumpaan dengan toleransi yang mesra, proses saling belajar dan saling mengisi, yang kesemuanya semakin memperkukuh Nusantara sebagai bangsa yang berkarakter religius. Keberagaman dan semangat pencarian spiritualitas dan religiositas Nusantara tercermin dalam relief-relief Gandawyuha di Candi Borobudur lorong dua, tiga, dan empat yang mencakup 460 panel.
Candi Borobudur
Relief Gandawyuha dianggap puncak nilai-nilai di Candi Borobudur. Relief Gandawyuha merupakan relief-relief yang berdasar pada teks Sutra Gandavyuha pada abad ke-2 Masehi. Disebut juga sebagai Dharmadhatupravesana-parivatra atau Acintavimoksa yang mengisahkan perjalanan Sudhana dalam pengembaraan mencari ilmu pencarian ilmu kebenaran (the ultimate truth).
Pengembaraan Sudhana dalam pencarian ilmu itu melewati 110 kota dan menemui 110 Kalyanamitra atau guru, di antaranya ada 54 guru dengan latar belakang berbeda, antara lain biksu, biksuni, perumah tangga (ratnacuda), pedagang, brahmana, raja (anala), anak laki-laki, anak perempuan, pelaut, perempuan penghibur, tukang emas, dewa-dewi, ratri, dan juga buddhis.
Relief naratif Gandawyuha yang berkisah perjalanan Sudhana ini merefleksikan nilai-nilai religiositas, metta (cinta kasih), karuna (kasih sayang), mudita (simpati), bebas dari belenggu ketamakan, arhat (pemadaman nafsu).
Nilai-nilai yang menonjol adalah semangat belajar tanpa kenal lelah, sikap keterbukaan dalam mencari ilmu dengan berbagai sumber tanpa pandang bulu kedudukan sumber tersebut di masyarakat, dan sikap toleran dalam belajar sipiritualitas.
Sampailah kita pada sebuah kesepakatan bahwa melalui penghikmatan Gandawyuha kita menghayati kembali berbagai ragam religiositas Nusantara untuk merawat Indonesia agar lebih toleran, menghormati pluralisme, dan damai.
Menjadi tugas kita bersama untuk menjadikan nilai-nilai religiositas dan spiritualitas yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara ini menjadi milik bersama yang mengukuhkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berkarakter religius. (ist)
*) Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (21/12/2017). Esai ini karya Tjahjono Widarmanto, sastrawan dan dosen di STKIP PGRI, Ngawi, Jawa Timur. Penulis menjadi peserta Borobudur Writers & Cultural 2017. Alamat e-mail penulis adalah cahyont@yahoo.co.id.
Kalimat Bhinneka Tunggal Ika pada lambang negara Garuda Pancasila. Foto: Kemdikbud.go.id.
Sesanti Bhinneka Tunggal Ika diambil dari karya sastra klasik Jawa Kuno Kakawin Sutasoma. Kakawin ini merupakan karya Mpu Tantular yang digubah pada sekitar abad ke-14, tepatnya pada masa Majapahit di bawah kepemimpinan dwitunggal Hayam Wuruk-Gajah Mada.
Ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dengan ragam puisi jenis metrum. Terdiri atas 148 pupuh (bab) dan 1209 bait. Kakawin ini digubah dengan mengemban misi persatuan nasional rakyat Nusantara di bawah kepemimpinan Majapahit, dimana pada saat itu mayoritas warga menganut ajaran Siwa dan Buddha.
Sutasoma merupakan karya monumental yang melampaui zamannya, berisi ajaran moral guna memperkaya khasanah ruang bathin bangsa kita. Guna membedah sesanti Bhinneka Tunggal Ika yang sesuai dengan hal ihwal kelahirannya, kita harus membaca tuntas jalinan aksara sebelum dan sesudah rangkaian kata mutiara tersebut ditulis.
Dalam pupuh 139 bab 4 baris terakhir dituliskan sebagai berikut: “Hyang Buddha tan pahi lawan Siwa rajadewa” (Tidak ada perbedaan antara Hyang Buddha dan Hyang Siwa, raja para dewa).
Dilanjutkan mutiara kata dalam pupuh 139 bait ke 5 sebagai berikut: “Rwaneka datu winuwus wara Buddha Wiswa, Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangkang Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa”
(Konon dikatakan bahwa wujud Buddha dan Siwa itu berbeda. Mereka memang berbeda, namun bagaimana kita mengenali perbedaannya dalam selintas pandang. Karena kebenaran yang diajarkan Buddha dan Siwa itu sesungguhnya satu jua. Mereka memang berbeda-beda, namun pada hakikatnya sama. Karena tidak ada kebenaran yang mendua)
Dilanjutkan dengan pupuh 139 bait ke 6 sebagai berikut: “Aksobhya tatwa kitang Iswara dewa dibya, Hyang Ratnasambhawa sireki bhatara Datta, Sang Hyang Mahamara sirastam ikamithaba, Sryamoghasiddhi sira Wisnu mahadhikara”
(Hakikat Akshobya tidak berbeda dengan hakikat sebagai dewa agung Iswara. Ratnasambhawa tidaklah berbeda hakikatnya dengan Bhatara Datta. Mahamara tidaklah berbeda dengan Amitabha. Sri Amoghasiddhi dengan dewa Wisnu yang unggul).
Berdasarkan untaian kalimat di atas bisa dimaknai bahwa sesanti Bhinneka Tunggal Ika digali pada saat yang tepat, yaitu pada masa Majapahit sedang giat-giatnya menyatukan dan membangun peradaban Nusantara. Seperti yang kita ketahui bersama, Majapahit adalah sistem tata negara terbesar yang pernah ada di Nusantara. Meliputi wilayah Indonesia dan sekitarnya dengan berpusatkan di Jawa Timur.
Dipilihnya semboyan resmi negara dari sastra klasik era tersebut dimaksudkan guna menyerap energi peradaban besar Majapahit agar mempengaruhi romantika sejarah perjuangan anak bangsa.
Bahwa kita harus bisa kembali menjadi bangsa yang besar seperti saat Majapahit mengendalikan samudera raya beserta gugusan kepulauan yang ada diantaranya. Bahwa kita harus bangkit kembali meskipun telah berkali-kali ditempa oleh beragam gemblengan hingga hampir hancur lebur.
Bahwa hukum dialektika perjuangan harus dipenuhi oleh segenap anak bangsa yang memang secara nashnya telah ginaris dilahirkan secara berdarah-darah di tengah hantaman palu godamnya perjuangan melawan anasir penjajahan.
Bahwa sesanti itu telah terbukti mampu menyatukan fitrah perbedaan menjadi satu kekuatan yang sangat dahsyat. Kekuatan yang bersumberkan pada pemahaman kesatuan hakikat ajaran pengabdian total kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kekuatan yang bermuarakan pada kesetiaan dan kerja keras kolektif untuk kejayaan sebuah bangsa dan negara.
Sesanti tersebut tidak terhenti di kata bhinneka saja tanpa adanya tunggal ika. Tidak berhenti pada sekedar menghargai adanya perbedaan saja, karena itu akan sama halnya dengan ideom pluralisme yang cenderung statis dan mengagungkan kebebasan. Bhinneka Tunggal Ika jauh lebih dinamis dari sekedar pluralisme. Karena dalam sesanti ini mengandung elan romantika kejayaan masa lalu.
Selain itu juga mengandung spirit dasar persatuan guna mencapai cita-cita nasional bersama. Sesanti ini mengandung adanya keberagaman yang diikat oleh kerja perjuangan bersama. Oleh karena itu sesanti tersebut harus dituliskan secara lengkap sebagai Bhinneka Tunggal Ika, karena memang kita sudah selesai dalam frame pemahaman akan adanya perbedaan.
Kita sudah tuntas dalam pengalaman hidup berdampingan yang telah teruji selama ribuan tahun. Yang kita perlukan adalah menjadikan potensi perbedaan tersebut dalam sebuah kesatuan gerak lahir bathin guna melangkah, bekerja dan berjuang bersama.
Pemahaman sesanti yang sesuai dengan kitab Sutasoma mengandung nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Istilah bhinneka mengandung spirit sila kedua dan keempat Pancasila. Peri kemanusiaan mencintai adanya sebuah perbedaan. Adanya perbedaan tersebut diselesaikan dengan konklusi musyawarah mufakat seperti amanat dari sila keempat Pancasila. Istilah tunggal ika mengandung spirit sila ketiga persatuan nasional. Sedangkan tujuan dari sesanti tersebut adalah seperti prinsip kelima kita yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Semoga sesanti tersebut tidak lagi mengalami reduksi makna, apalagi reduksi kata-kata. Karena di tiap aksaranya terdapat spirit pusparagam dalam persatuan nasional. Jangan gunakan perbedaan sebagai pintu masuk memecah-belah persatuan.
Sebaliknya jangan gunakan pula keberagaman sebagai acuan landasan kebebasan tanpa batas moral ala ideom impor kaum liberal. Mari bersama kita kembalikan spirit Bhinneka Tunggal Ika kepada khittahnya yang asli. Bersatu dan berjuang guna meraih kemenangan bersama ! (ditulis: Cokro Wibowo Sumarsono)
Widji Utami, sang pelatih tari di Sidoarjo. Foto: Jawapos.
Gending Jawa Timuran memenuhi seisi aula SD Hang Tuah 10. Alunan langgamnya halus. Saat itu terdapat sembilan anak mulai kelas IV hingga VI menari dengan luwesnya. Tangan mereka bergerak gemulai. Mereka menirukan gerakan sang pelatih, Widji Utami.
“Ayo, mendak yang cantik. Kalau jelek, tidak dipakai lagi lho,” ucap Widji memberikan arahan. Para penari pun berupaya menyuguhkan aksi terbaiknya ketika membawakan tari Wasis. Tari karya Widji yang bermakna pintar itu berisi ajakan agar anakanak rajin belajar. “Latar ceritanya tentang sekolah, ya keseharian anakanak lah,” lanjut dia kepada Jawapos.
Tari itulah yang dalam event Sidoarjo Education Expo (Siedex) lalu menyabet juara I kategori Tari Tradisional Tingkat SD. Kemahiran Widji dalam menciptakan tari sudah tidak diragukan lagi. “Berapa ya, sudah lebih dari 50 (tari) mungkin,” katanya.
Lingkungan keluarga sebagai pengelola sanggar seni membuat Widji tidak asing lagi dengan aktivitas mencipta tari. “Saya cuma lulusan SMA. Tetapi, sejak kecil saya ikut Ibu (Muntiana, Red) menari. Jadi, waktu SD ya sudah mengajar buat teman seumuran,” terangnya. Sedangkan sang ayah, Bambang Sumitra, pengelola Sanggar Seni Patrialoka di Blitar.
Bahkan, berkat menari juga, Widji bertemu dengan lelaki yang kini menjadi suaminya, Sapto Hari Utomo. Laki-laki 51 tahun tersebut melatih karawitan di SD Hang Tuah 10.
Bisa dibilang mereka sepaket, satu tim soal mengajar seni. Berawal dari melatih di sanggar swasta sejak 1966, keduanya dipercaya memegang kelas seni untuk sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Hang Tuah di wilayah Sidoarjo. Itu berlangsung sejak 2008.
Prestasi seni di sekolah tersebut melesat. Sebut saja di SD Hang Tuah 10. Dalam berbagai kejuaraan tari, karawitan, dan campur sari, tim dari sekolah tersebut meraih juara.
Misalnya, juara 1 Lomba Tari Kreasi Baru Tingkat Provinsi Jawa Timur 2015 serta juara Lomba Karya Seni Paguyuban Peminat Seni Tradisi (PPST) Tingkat SD-MI pada 2016.
Saking seringnya ikut lomba dan menang, Widji pernah diprotes oleh koleganya sesama pelatih. “Pernah ada lomba, saya tidak diberi tahu. Padahal, kalau ikut lomba, pesertanya bukan itu-itu saja,” lanjutnya.
Dedikasi pasutri yang menikah pada 1997 itu tidak hanya di sekolah. Mereka juga melatih tari untuk anakanak suku Tengger. Permintaan tersebut datang dari teman kuliah Sapto. “Medannya memang susah. Apalagi, tidak ada bayarannya,” kata Widji. “Tetapi, melihat antusiasme anak-anak berlatih, kami terpanggil untuk melatih,” imbuhnya.
Ada seratus anak yang dilatih. Semua masih kaku. Tidak bisa menari atau karawitan sama sekali. “Kuncinya, telaten,” ungkap ibu empat anak itu.
Dua tahun dia melatih, Pemkab Pasuruan lantas memberikan dukungan penuh. Mereka sama sekali tidak berbakat. Namun, Widji berhasil menggembleng mereka hingga meraih juara tari terbaik dalam event Peningkatan Prestasi Apresiasi Seni (PSST) Jawa Timur 2015.
Cerita legenda asal muasal suku Tengger dibawakan mereka dalam judul tarian Sang Kusuma. Dari event tersebut, terpilih 25 penari terbaik yang dikirim ke Lampung untuk tampil di acara Duta Seni Pelajar Nasional pada tahun yang sama. Berkolaborasi dengan SMPN 6 Kediri, mereka menampilkan drama tari Sangga Langit Patemboyo.
“Itu kali pertama anak-anak Tengger naik pesawat. Mereka takut banget sampai berkali-kali tukar tempat duduk,” kisah Widji, lantas tertawa mengingat memori paling berkesan itu. (jpg)