Bicara Seni Mbak Puti Selalu Bersemangat

foto
Puti Guntur Soekarno menghadiri acara Formasi Jatim. Foto: PDI Perjuangan Jatim.

Calon Wakil Gubernur Jatim Puti Guntur Soekarno bertemu dengan kalangan seniman dan budayawan Jawa Timur di Hotel Ibis, Jl Basuki Rahmat Surabaya, Sabtu (24/2) lalu.

Dihadapan para seniman yang tergabung dalam Forum Masyarakat Seni Indonesia (Fomasi), Puti berbagi cerita tentang dunia kesenian. Turut hadir Ketua Fomasi Jatim, Nonot Sukasmono. “Kalau sudah bicara seni, saya selalu bersemangat,” kata Puti yang dikenal piawai melukis dan bermain piano ini.

Puti mengaku tak asing dengan dunia kesenian. Sejak kecil, dia sudah diperkenalkan dengan seni. Keluarga besar Presiden pertama Ir Soekarno (Bung Karno) memang dikenal menggandrungi dunia seni.

Puti mengatakan, Soekarno punya darah seni yang kuat. “Bagi beliau, kesenian adalah wujud adab manusia, respons penuh cita rasa manusia dalam menghargai ciptaan Yang Maha Kuasa. Dan kini seni harus menjadi jalan bagi kita untuk memuliakan peradaban,” ujar cucu Bung Karno tersebut.

Berkat kecintaan kepada seni, setiap anak Soekarno dan cucu-cucunya diwajibkan bisa menari, paling tidak satu tarian tradisional.

Puti mencontohkan sang ayah, Guntur Soekarno, yang piawai menari dengan memainkan peran sebagai tokoh Gatotkaca. Adapun Megawati luwes ketika memainkan tari Srimpi. Dan Sukmawati andal dalam tarian Bali.

“Semuanya wajib hafal satu tarian daerah. Tante dan om saya, punya keahlian minimal satu tarian. Apalagi Om Guruh Soekarnoputra, hafal hampir semua tari-tarian,” ujar Puti.

Puti sendiri hafal dengan tarian Jawa dan Tari Gambyong. Di akun Instagram-nya, @puti_soekarno, Puti kerap mengunggah saat memainkan tarian di masa kecilnya. Bahkan, ketika bertemu sejumlah komunitas seniman, Puti tak canggung menunjukkan keterampilannya.

Bagi Puti, kesenian dan budaya salah satu karakter yang bisa membangun peradaban. Jatim harus menjadi contoh provinsi dengan pembangunan berbasis kebudayaan. “Mari bangun Jawa Timur melalui kesenian dan kebudayaan.” ujarnya.

Puti berjanji akan membawa seni-budaya turut andil membangun Jawa Timur. Salah satunya, dengan merevitaisasi gedung-gedung kesenian. Dia dan Gus Ipul sepakat untuk merevitalisasi gedung kesenian yang ada di Jatim, agar menjadi ruang ekspresi yang haliki pelaku seni.

“Gedung kesenian sebagai jantung pengembangan nilai-nilai seni berbasis kearifan lokal,” ujar mantan anggota Komisi X DPR yang membidangi kebudayaan itu. Puti juga menyiapkan program pemberdayaan para pelaku seni, mulai dari pelatihan, beasiswa, ruang berekspresi yang luas, hingga asuransi bagi pelaku seni tradisi. (ist)

Kemeriahan Bolo Srewu Jaranan Barong Jember

foto
Performing Art Bolo Srewu Jaranan Barong di Pantai Payangan. Foto: Obsessionnews.com.

Puncak pertunjukan Bolo Srewu Jaranan Barong II (BSJB) di Pantai Panyangan (Teluk Love) Ambulu Jember pekan lalu, berjalan meriah.

Pertunjukan yang digelar Dewan Kesenian Jember (DKJ) dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dispemasdes) ini merupakan ajang kreativitas dan silaturahmi bagi para seniman jaranan, ta’-buta’an, barongsai, can-macanan kaduk, reog dan para seniman dari beberapa kabupaten di Jawa Timur.

Kesenian Jaranan dipilih sebagai kesenian ikonik yang jadi sentral dalam gelaran, karena kesenian ini merupakan salah satu kesenian tertua di Jatim dan Indonesia”, demikian disampaikan Ketua DKJ Jember, Eko Suwargono seperti dikutip Majalah Gempur.

“Sejumlah 750 penari yang mewarnai pagelaran Seni Budaya Bolo Srewu jaranan barong II dari berbagai daerah yang ada di Jawa Timur diantaranya dari Kabupaten Pasuruan, Malang, Banyuwangi dan dari Surabaya serta daerah lainya.” kata Eko Suwargono.

Hal senada disampaikan Sekretaris DKJ Iwan Kusuma bahwa Jaranan adalah kesenian yang bisa diterima oleh komunitas Jawa, Madura dan etnis-etnis lain.

Tidak salah jika kesenian jaranan dalam berragam bentuknya yang menjadi idola ini merupakan salah satu pembentuk budaya lokal Jawa Timur.

“Kesenian ini bisa memberikan warna dan kekuatan spiritual serta memperkuat lokalitas dan kedirian masyarakat di tengah-tengah proyek modernitas dan globalisasi dewasa ini,” kata pria yang akrab disapa Cak Endut ini.

BSJB menjadi bagian dari Festival Berdesa, sebuah event besar dari bermacam rangkaian aktivitas kultural untuk mengembangkan dan memberdayakan kehidupan masyarakat desa. Festival Berdesa ini berimplikasi pada konsep acara yang semakin beragam dan meriah serta pelibatan banyak seniman dan warga.

Untuk itu acara ini digelar, disampaing untuk memberdayakan masyarakat desa juga untuk mempromosikan tempat wisata d Jember. “Guna mempopulerkan tempat wisata dan melestarikan budaya kesenian tradisional, dengan konsep hiburan rakyat dengan kolosal,” pungkasnya. (ist)

Pengalaman Duta Budaya Jatim Saat ke Jepang

foto
Abraham Deddy Gagola, Mahasiswa UB Delegasi Duta Budaya Raka-Raki Jatim ke Jepang. Foto: Istimewa.

Sudah mengikuti berbagai ajang kontes dan kompetisi berbakat, Abraham Deddy Gagola menyabet banyak prestasi. Terpilih sebagai 10 besar Raka-Raki Jawa Timur tahun 2014, mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang itu menjadi salah satu duta budaya yang dikirim ke Jepang. Seperti apa pengalamannya di Negeri Sakura?

Duta Brawijaya, finalis AFI, Duta Pangan Jatim, hingga Putra Batik Nasional adalah sebagian di antara ajang yang pernah dimenangi mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional UB ini. Piagam dan trofi pun disimpan rapi di rumahnya sebagai bagian dari ikhtiar untuk mengembangkan bakat-bakatnya.

”Mohon maaf saya masih di luar kota saat ini. Setelah pulang dari Jepang, kegiatan saya memang cukup padat,” ujar pemuda yang akrab disapa Bram itu yang ramah saat dihubungi RadarMalang via telepon .

Bram menceritakan, meski menjadi finalis Raka-Raki Jatim tahun 2014, dia terpilih menjadi salah satu duta budaya ke Tokyo, Jepang. Duta budaya ini mengikuti kegiatan malam Cinta Indonesia yang diadakan PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo.

”Jadi, kedutaan besar Republik Indonesia mengundang Raka-Raki Jawa Timur untuk mengikuti kegiatan pertukaran budaya di Tokyo selama 9 hari,” ucap pemenang Putra Batik Nasional 2017 ini.

Finalis AFI Junior 2005 itu terpilih menjadi perwakilan Raka-Raki Jawa Timur untuk memperkenalkan budaya Indonesia di event yang digelar dua tahun sekali oleh PPI.

”Saat seleksinya dulu, banyak mengulas wawasan budaya dan pariwisata. Kebetulan sekali saya juga sering mempromosikan pariwisata ke berbagai daerah,” imbuhnya.

Begitu mendapat kepastian bakal berangkat ke Jepang pada 31 Desember 2017, dia langsung menyiapkan semuanya. ”Termasuk nanti lagu apa yang akan saya nyanyikan saat di Tokyo,” terang ketua Bidang Sosial Raka-Raki Jawa Timur ini.

Selama mengikuti kegiatan di Tokyo, Bram mendapat banyak pengalaman baru yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Setelah menyanyikan tiga buah lagu dengan judul Lajeungan, Rek Ayo Rek, dan Dung Andung, Bram mendadak dihampiri produser Jepang yang menawarkannya untuk bergabung di perusahaan musiknya di Jepang.

”Habis saya perform itu langsung didatangi produser dari GKK Production InK Corperation Madam Coy Yamasaki. Dia datang bersama ajudan menghampiri saya dan menawari bergabung di manajemenya,” ucap first winner Duta Pangan Jawa Timur 2016 ini.

Bahkan, Bram juga langsung mendapatkan undangan untuk kembali lagi ke Tokyo Juli 2018. ”Saya diminta mengisi acara dalam rangka memperingati 60 tahun diplomasi Indonesia-Jepang,” papar runner-up Mister Teen Indonesia 2015 tersebut.

Tawaran bergabung dengan manajemen GKK Jepang tersebut cukup beralasan. Lantaran, Bram yang bakat menyanyinya sudah dipupuk sejak di bangku SD ini pernah mengikuti beragam kompetisi lokal hingga nasional. Bahkan, Bram juga menjadi salah satu finalis 12 besar AFI tahun 2005.

”Meskipun akhirnya harus tereliminasi, saya senang bisa tampil di televisi mengikuti ajang bergengsi saat itu,” ucap Duta Brawijaya 2013 ini.

Selain itu, dia memiliki pengalaman mendapatkan undangan mengisi acara pada HUT RI di Istana Negara. Saat itu, dia berduet dengan penyanyi beken.

”Waktu Presidennya Pak Susilo Bambang Yudhoyono, saya mendapat kesempatan bernyanyi di Istana Negara bareng Gita Gutawa,” imbuh winner Icon of Change Bandung Sport 2012 tersebut.

Saat ini, kesibukan pemuda kelahiran Blitar ini lebih banyak digunakan untuk menyelesaikan kuliahnya di UB. Rupanya, Bram mengaku bisa kuliah di UB juga karena prestasinya di ajang pencarian bakat.

”Jadi, waktu itu saya ikut ajang Pemilihan Duta Brawijaya pada 2013. Di situlah saya terpilih dan mendapatkan kesempatan kuliah bebas memilih jurusan dan dibebaskan dari pembayaran uang gedung dan lain-lain,” ucap peraih Putra Iptek Bahari Indonesia 2014 ini. (jpg)

Saat Puti Guntur Soekarno Baca Puisi

foto
Puti Guntur Soekarno, Calon Wagub Jatim. Foto: Istimewa.

Kemampuan pidato Bung Karno yang ulung turun juga pada cucunya, yaitu Puti Guntur Soekarno. Pada pidato saat Rapat Pleno KPU dengan agenda pengundian dan pengumuman nomor urut pasangan calon pada Pilgub Jawa Timur 2018, pekan lalu, Puti menggubah puisi yang pernah dibaca dan ditulis Bung Karno dalam buku Sarinah.

Sebelumnya, Puti mengajak semua yang hadir dan mendengarkan pidatonya, untuk menyadari pentingnya arti persaudaraan yang mewariskan Indonesia yang besar.

Puti pun mengajak semua orang menyambut pesta demokrasi dengan politik beretika, politik berkeadaban, politik dengan moral, dan politik berkebudayaan.

“Karena kita berpolitik dengan berkebudayaan, dengan berbahagia, dengan bergembira,” ujarnya.

Puisi yang didendangkannya diambil dari buku Sarinah, yang di dalamnya mencerminkan persamaan antara perempuan dan laki-laki. Puti menegaskan komitmennya bersama Saifullah Yusuf untuk menjadi pengayom rakyat Jawa Timur.

Berikut Puisi yang diserukan oleh Puti;

Kami berdua, bagai kepak sayap burung garuda,

yang kanan dan yang kiri.

Ketika kami beruda mengepak dengan kuatnya,

maka kami bisa terbang setinggi-tingginya.

Menukik, menyentuh rakyat Jawa Timur.

Sayap kami berdua, akan mengayomi rakyat Jawa Timur

Sehingga kemenangan kami berdua,

kami yakinkan adalah kemenangan untuk seluruh rakyat Jawa Timur

Maka itu, kabeh sedulur kabeh makmur.

Pidato dan puisi Puti Guntur Soekarno yang mantap dan penuh ekspresi mendapat sambutan meriah dari pendukung serta semua yang hadir.

Usai berpidato, pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno disambut yel-yel pendukungnya. “Kabeh sedulur, sak Jawa Timur, kabeh sedulur, kabeh makmur,” seru pendukung pasangan nomor urut 2. (ist)

Peran Desa dan Vandalisme Situs Majapahit

foto
Perusakan di situs Kemitir Kabupaten Mojokerto. Foto: VIVA.co.id.

Belakangan ini, publik dihebohkan dengan insiden vandalisme situs Majapahit. Melalui media sosial, seorang warga Mojokerto mengunggah sebuah foto yang menunjukkan aktivitas penjarahan batu bata dari struktur bangunan bersejarah di Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.

Kegiatan destruktif ini merupakan pelanggaran hukum yang dapat dikenai sanksi pidana. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Pasal 66 Ayat (1), “Setiap orang dilarang merusak cagar budaya baik seluruh maupun bagian-bagiannya”.

Adapun Pasal 105 undang-undang ini menuturkan, “Pelaku perusakan terancam hukuman penjara paling singkat satu tahun dan paling lama 15 tahun dan/atau denda sebesar Rp 500 juta hingga Rp 5 miliar”.

Ironisnya, meski pengambilan batubata kuno secara ilegal telah berlangsung sejak lama, namun pemerintah setempat mengaku tidak mengetahuinya. Hal ini mengindikasikan bahwa perhatian terhadap keberadaan desa sangat rendah.

Padahal, rusaknya situs purbakala dalam suatu desa rentan meluluhlantakkan semangat hidup warga desa. Betapa warisan historis turut melekatkan identitas kultural bagi orang desa yang terkenal ulet dan tangguh.

Dari satu generasi ke generasi selanjutnya, situs purbakala mampu menularkan kepribadian dan keperkasaan para leluhur pada masa silam. Itulah mengapa, meski kerap terbelit dengan urusan perut, mereka tetap mampu menjalani hidup dengan tegar.

Kesadaran Berdesa
Saat Majapahit masih berjaya, pemerintah memiliki perhatian besar terhadap eksistensi desa beserta kekayaan kultural di dalamnya. Sikap ini berangkat dari fakta bahwa desa merupakan embrio negara.

Cikal-bakal Majapahit bermula dari sebuah desa di sebelah timur Sungai Brantas yang pada tahun 1292 mengalami pembangunan. Dengan pembukaan hutan Tarik oleh Nararya Sanggramawijaya, desa yang telah direnovasi diberi nama Majapahit.

Para penduduknya adalah orang-orang Madura dan Singasari yang menaruh simpati kepada Nararya Sanggramawijaya selaku kepala desa. Menurut Tafsir Sejarah Nagarakretagama, setelah nekat memecundangi Raja Jayakatwang serta berhasil mengusir tentara Tartar, Nararya Sanggramawijaya mengambil alih kekuasaan Kediri.

Ia kemudian mengatrol “status” Majapahit menjadi ibu kota kerajaan dengan terlebih dahulu memperluas wilayahnya. Pada saat inilah, Majapahit berubah dari desa menjadi negara sekaligus pusat kerajaan.

Kesadaran berdesa dipegang teguh oleh raja-raja Majapahit. Dengan mendaulat beberapa orang menjadi buyut, raja melimpahkan tanggung jawab penuh bagi para pemimpin lokal tersebut dalam mengurus kesejahteraan masyarakat di wilayah pedalaman. Undang-undang pratigundala dijadikan pedoman untuk mengatur pemerintahan dan kehidupan desa.

Perhatian para pembesar kerajaan terhadap keamanan desa antara lain ditunjukkan oleh Hayam Wuruk yang percaya bahwa demi membentuk negara yang digdaya, kelestarian desa merupakan prasyarat utama. Lebih jauh, ia meyakini bahwa kerusakan desa berarti kerusakan negara.

Perjalanan Hayam Wuruk ke sejumlah daerah menggambarkan rasa simpati terhadap desa serta bangunan suci di dalamnya. Di samping memeriksa realisasi tugas pejabat pemerintahan pusat, lawatan sang prabu yang disambut hangat oleh para warga tersebut juga dimaksudkan untuk menyaksikan kondisi kehidupan rakyat di desa-desa kekuasaan Majapahit.

Tentu ia belum merasa puas dengan cukup mendengar laporan bawahannya tentang nasib wong cilik. Tujuan lain perjalanan Hayam Wuruk yaitu supaya semua durjana lenyap dari wilayah kerajaan.

Itulah sebabnya semua desa dikunjungi, ditelusuri, diteliti, meski berada di tepi pantai laut (Slamet Muljana, 2005: 96). Fakta ini menunjukkan, penguasa berupaya menjauhkan desa dari segala bentuk kriminalitas dan aksi vandalisme.

Primary Actor
Penyelamatan nasib desa beserta apa yang dikandungnya merupakan hal yang urgen dan mendesak. Insiden perusakan situs purbakala di Mojokerto harus segera ditangani secara serius.

Seiring dengan semakin tergerusnya bukti kebesaran nenek moyang, masa depan bangsa seolah tergadaikan. Guna mengatasi vandalisme batubata bersejarah, dua langkah berikut mesti segera ditempuh.

Pertama, aparat kepolisian bergerak cepat dengan mengusut tuntas insiden tersebut. Demi memberikan efek jera, mereka yang terbukti sebagai pelaku layak menerima hukuman setimpal.

Ringannya sanksi pidana hanya akan memancing tindakan serupa di masa mendatang. Apalagi, kasus semacam ini genap terjadi berulang kali. Betapa tahun demi tahun menjadi saksi atas keberingasan para penjarah benda-benda bernilai historis.

Pengusutan meniscayakan penggalian informasi secara mendalam terhadap kemungkinan adanya “otak” di balik tindakan perusakan situs kuno. Sehingga, sanksi hukum bukan saja menjerat oknum lokal, melainkan juga jaringan regional dan nasional.

Kedua, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur meminta bantuan pemerintah desa dalam upaya menguak vandalisme. Selama ini, muncul asumsi bahwa para elite lokal jarang dilibatkan dalam menyelesaikan kriminalitas dengan aset historis sebagai sasarannya.

Lemahnya pengawasan terhadap peninggalan purbakala antara lain dikarenakan minimnya kontribusi pemerintah desa. Padahal, semestinya mereka menjadi primary actor (aktor utama) yang senantiasa memelihara, mempertahankan, serta menjunjung tinggi warisan bersejarah.

Ketetapan mengenai hal ini terpampang dengan jelas dalam peraturan legislasi. Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 Pasal 26 Ayat (2) menyebutkan bahwa aparatur desa berwenang mengembangkan kehidupan sosial budaya masyarakat desa. (ditulis oleh: Riza Multazam Luthfy, Peneliti Desa. Mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum UII Yogyakarta. Dimuat di Harian Bhirawa)

The Waroeng, Paduan Budaya dan Kearifan Lokal

foto
Batik tulis merek Sumbersari hanya diproduksi satu buah setiap modelnya. Foto: Friska Kalia /Beritagar.id.

Apa yang terlintas dalam benak saat mendengar atau melihat kain batik? tentu saja Indonesia. Bukan menjadi hal baru bahwa batik merupakan salah satu budaya serta kekayaan bangsa Indonesia.

Keindahan yang terlukis dalam lembaran kain, membentuk sebuah harmoni indah yang menyatukan antar satu daerah dengan daerah lain. Batik merupakan sebuah mahakarya anak bangsa, yang menjelma menjadi identitas luhur yang dijaga hingga kini.

Berbicara tentang batik, kini ada beberapa tempat wisata yang menjadikan batik sebagai magnet utamanya, termasuk di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. The Waroeng namanya. Berlokasi tepatnya di Desa Sumbersari, Kecamatan Maesan.

Seperti dilaporkan Beritagar.id, objek wisata ini memadukan keindahan alam, batik, serta ragam kuliner tradisional khas Indonesia. mengusung konsep eduwisata batik dengan tatanan dan desain khas pedesaan, The Waroeng menjadi alternatif wisata murah meriah dan berkesan untuk dikunjungi.

Letaknya sekitar 15 km dari pusat kota Bondowoso, tepat di perbatasan antara Kabupaten Jember dan Bondowoso. Jika dari Jember bisa ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit dan dari kota Bondowoso sekitar 20 menit.

The Waroeng relatif mudah ditemui. Dari pusat kota Bondowoso ada beberapa alternatif transportasi yang bisa dicoba, di antaranya bus antar kota menuju Jember, angkutan kota menuju Kecamatan Maesan, serta ojek daring (online) yang kini telah menjamur.

Hal yang sama jika pelancong datang dari Kabupaten Jember. Ojek online sepertinya menjadi alternatif terbaik.

Sesaat setelah memasuki lokasi wisata, pengunjung akan disambut dengan rimbunnya tumbuhan hijau di segala sisi, dengan beragam tanaman dan bunga indah di sepanjang taman. Serta ornamen khas Jawa Timuran seperti ukiran, wayang dan tentu saja kain batik.

Perhatian pengunjung akan langsung tertuju ke sebuah galeri batik yang terletak di lobi. Di pintu depan, pengunjung akan disambut beberapa pekerja yang tengah mengerjakan proses melukis batik tulis dengan canting yang khas.

Aroma malam basah, akan berpadu dengan suasana rindah serta sejuk di sekitar lokasi wisata. Masuk ke dalam, pengunjung akan melihat sejumlah saung yang bisa digunakan untuk beristirahat sembari menikmati berbagai menu makanan tradisional khas The Waroeng.

Ada beberapa saung yang bisa anda pilih. Saung yang langsung menghadap sawah, saung yang dibawahnya dialiri aliran air sungai, atau menuju ke saung yang dipenuhi dengan ukiran kayu.

Gemericik air, ditemani suasana tenang layaknya di pedesaan, akan menjadi paduan tepat untuk bersantai bersama keluarga. Taman dengan beragam bunga dan rumput hijau juga akan menyambut anda di sepanjang lokasi The Waroeng.

Yang juga menarik serta unik dari wisata ini adalah pengunjung bisa ikut dan turut serta melihat berbagai proses pembuatan kain batik dari awal proses hingga pengemasan.

Ada beberapa tahap yang bisa dilihat yakni proses menggambar, membatik dengan malam, mewarnai, mencuci hingga proses akhir di mana kain batik dikemas untuk dipajang di galeri. Semua bisa dinikmati secara gratis sembari anda menunggu kudapan yang dipesan datang.

Lokasi pembuatan batik letaknya sedikit ke belakang area taman. Para pekerja, berkumpul di satu tempat untuk mengerjakan beberapa proses. Ada yang membuat batik cap dan banyak juga batik tulis. Pengunjung bisa ikut mencoba proses melukis batik dengan canting disini.

Yang membedakan batik tulis dengan merek Sumbersari ini adalah desainnya yang unik dan hanya dibuat satu kali saja. Jadi setiap desain batik tulis hanya dibuat untuk satu kain. Sehingga, jika membeli batik disini, takkan mungkin ada desain serupa di pasaran.

Proses pembuatan batik di The Waroeng ini bisa dinikmati setiap hari Senin hingga Sabtu mulai pukul 07.00 hingga15.00 WIB.

Harga yang dibandrol untuk sehelai kain batik tulis Sumbersari berkisar antara Rp400 hingga jutaan rupiah. Selain kain, di galeri batik ini juga tersedia berbagai macam baju batik, tas kulit dengan ornamen batik serta produk hilir batik lainnya.

Untuk makanan, ada beberapa kudapan khas The Waroeng yang bisa dipesan. Jika datang bersama empat teman, ada paket Pandawa Lima seharga Rp270.000 yang bisa dicoba.

Isi paket tersebut meliputi gurami bakar madu, lele, garang asem ayam kampung, pepes peda, lodeh labu kepala ikan asin, tumis pokak ikan teri, tahu tempe kuah kuning, dilengkapi Sambal Terasi, Urap, dan Minuman Es Klamud.

Tak kalah menggoda adalah Paket Sego Sawah di mana nasi serta lauk pauknya, dibungkus daun pisang layaknya makanan tradisional petani. Cukup membayar Rp 75.000, bisa menikmati paket ini untuk 4 orang. Kudapan khas Bondowoso lain yang bisa dinikmati di sini tentu saja tape dan kopi arabika lereng Gunung Ijen. (ist)

Kepiawaian Mahasiswa STKW Pukau Penguji

foto
Mahasiswa jurusan karawitan STKW saat tampil pada sebuah acara. Foto: Dok STKW.

Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya telah melangsungkan ujian pembawaan bagi mahasiswa semester V jurusan Karawitan di kampus setempat. Berlokasi di pendapa kampus, beberapa waktu lalu, satu persatu mahasiswa diuji dan tampil dengan luar biasa.

Para mahasiswa yang sudah terbagi dalam satu kelompok untuk empat orang ini langsung menuju alat musik karawitan. Ketika memainkan musik karawitan ini, mereka juga dibantu seniman dari daerah.

Perpaduan harmonis dari gamelan dan merdunya suara sinden menyatu membentuk alunan indah, sesekali juga ada penari yang mengiring seperti tari topeng malangan. Apalagi ada musik karawitan rancak Banyuwangian.

Salah satu dosen penguji, Sabar MSn mengatakan, kepiawaian mahasiswa yang mengikuti ujian pembawaan sudah tidak.diragukan lagi. Apalagi rata-rata dari mereka juga pernah berpengalaman mengikuti event besar. “Namun kami berharap, ujian pembawaan ini tidak lagi ditempatkan di sekolah ini, namun bisa keliling ke daerah,” harapnya seperti dilaporkan Harian Bhirawa.

Dosen Pengajar Karawitan Suyadi MSn yang juga Wakil Ketua III STKW Surabaya didampingi Kajur Seni Karawitan Joko Susilo MSn mengatakan, mata kuliah pembawaan adalah salah satu mata kuliah praktek yang wajib ditempuh mahasiswa S1 termasuk berapa mata kuliah praktek yang telah ditempuh mulai dari semester 1 sampai semester 5.

Adapun ujian pembawaan ini di dalamnya ada praktek karawitan Jawa Timur, praktek karawitan Madura, karawitan Banyuwangi dan praktek karawitan dari Jawa Timur. Pada prosesnya ujian pembawaan melalui beberapa tahapan yaitu satu evaluasi dosen pembimbing, di mana mahasiswa peserta uji diwajibkan menguasai 8 materi yang diambil dari masing-masing mata kuliah.

Pada tahap ini tuntutan materi difokuskan pada tingkat hafalan dan penguasaan pada instrumen pokok mahasiswa peserta uji melakukan proses pelatihan dengan didampingi oleh dosen pembimbing.

Berikutnya masing-masing materi diuji oleh masing-masing dosen pembimbing dan bisa mengerjakan pada tahap berikutnya. Bila materi ujian telah dinyatakan 10 titik lulus. Tahap tes awal tes jurusan mahasiswa peserta uji ini menyajikan empat material dari evaluasi dosen pembimbing. Tuntutan penguasaan pada tahap ini yakni, pada kualitas dan totalitas penyajian dari tiap-tiap materi uji.

Atas pertimbangan dewan penguji dan persetujuan dosen pembimbing dari masing-masing mahasiswa menyajikan 2 materi yang diujikan di hadapan tim penguji yang ditentukan oleh jurusan.

Tes tahapan penentuan setelah peserta dinyatakan lulus pada tahap awal, mahasiswa masing-masing peserta uji mempersiapkan dua materi uji untuk dipergelarkan dihadapan tim penguji. Tuntutan penguasaan pada tahap ini yakni pada kualitas dan totalitas penyajian dari tiap-tiap materi uji.

Sebelumnya, materi sajian yang ditampilkan para mahasiswa tersebut yaitu Gendhing Semarangan Slendro Pathet 8, Gendhing Puspa Slendro Pather sembilan koma Tari Topeng Ragil Kuning, Arasemen Lagi Gerajagan Banyuwangi, Gendhing Tallang Slendro Pathet 9, Karawitan Tari Topeng Patih,Gendhing Sekar Cindhe Slendro Pathet 8, dan Arrasemen Lagu Tanah Kelahiran.

Selaku dosen penguji ada Sabar MSn, Drs Suwarmin MSn, Joko Susilo MSn, Drs Sunarto MSn, Suwandi Widianto MSn, Hari Wirawan MSn, dan Yuddan Fijar Sugma MSn.

Kepala UPT Lembaga Seni “Wilwatikta”, Drs Arif Rofiq MSn mengatakan, kegiatan ujian pembawaan ini memang sudah lama dan penting untuk diikuti. “Dalam ujian pembawaan ini, turut mengundang kehadiran orang tua untuk mengetahui progress pendidikan anak mereka,” katanya.

Turut hadir Kepala UPT Taman Budaya Jawa Timur, Sukatno SSn MM yang mengapresiasi kepiawaian masing masing mahasiswa yang tengah mengikuti ujian pembawaan. “Tidak perlu diragukan lagi, karawitan di STKW ini lebih maju dan luar biasa bagi mahasiswa yang bisa mempelajarinya. Belajar karawitan memang tidak gampang,” katanya. (ist)

Perjuangan Kukuh Lestarikan Jaran Kepang

foto
Kukuh Santoso tetap setia sebagai pengrajin perlengkapan pentas jaran kepang. Foto: BisnisKini/Ayu Citra SR.

Kesenian jaran kepang atau sering disebut warga Kediri dan sekitarnya, kuda lumping memang tak pernah lekang oleh waktu. Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa maupun lanjut usia kerapkali gemar menonton warisan budaya leluhur itu.

Untuk menangkap besarnya potensi inilah, Kukuh Santoso, warga Dusun Sentul, Desa Karangrejo, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri tetap setia sebagai pengrajin produk perlengkapan pentas jaran kepang.

Usaha ini dimulainya sejak tahun 1997. Pekerjaan itu dilakoninya, setelah dia merasa bahwa mata pencaharian pertamanya yakni bertani kurang menghasilkan pundi-pundi keuangan yang cukup bagi keluarganya.

“Awalnya dulu hanya mencari orderan saja, lalu pekerjaan dibagi-bagi ke para pengrajin lain. Tapi karena produk yang dihasilkan kurang sama, akhirnya saya kerjakan sendiri sehingga ada kesamaan antara produk satu dan lainnya,” kata Kukuh Santoso seperti dilaporkan bisniskini.com.

Pria ulet ini mengaku, permintaan pasar terhadap produk kuda lumping tersebut tak pernah sepi. Bahkan dalam satu bulan, pihaknya bisa membuat hingga 5.000 buah kuda lumping berbagai ukuran.

Dari usahanya inilah, Kukuh berhasil mempekerjakan tujuh karyawan yang dengan setia ikut melestarikan budaya lewat tangan-tangan kreatif mereka. Alhasil, sampai sekarang hasil inovasi mereka sukses dikirim ke beragam penjuru Nusantara.

“Mulai dari Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Kabupaten Tulungagung, dan berbagai daerah lain di Provinsi Jawa Timur. Kemudian, juga kami kirim ke Semarang, Kudus, Palembang, Jambi, hingga ke Papua,” katanya.

Ketertarikan para pembeli, mayoritas dikarenakan produk jaran kepang kreasi Kukuh Santoso memiliki keunikan tersendiri. Bahkan dari sisi harga juga relatif terjangkau.

Untuk kuda lumping ukuran kecil biasanya dijual seharga Rp 100.000 per kodi atau 20 buah. Lalu ukuran sedang seharga Rp 125.000 per kodi sedangkan ukuran besar dijual dengan harga Rp 190.000 per kodi.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Karena dukungan dan bantuan Pemda setempat, jangkauan pemasaran produk ini semakin meluas,” katanya.

Hal ini, lanjut dia, juga terlihat ketika Pemkab Kediri menggelar Festival 1.000 Jaranan tahun 2013. Saat perhelatan Hari Jadi Kabupaten Kediri, maka pihaknya memperoleh pesanan 1.000 buah kuda lumping.

“Kami berharap, ke depan terus mendapatkan dukungan dari Pemda setempat serta masyarakat di seluruh Indonesia. Dengan demikian, warisan budaya leluhur tetap bertahan sampai kapan pun,” katanya. (ist)

Kunjungi Osing, Puti Ingin Jatim Berbudaya

foto
Puti terlihat luwes mengikuti gerakan penari Gandrung. Foto: Liputan6.com.

Puti Guntur Soekarno yang maju Calon Wakil Gubernur Jawa Timur, disambut meriah di kampung adat suku Osing, di Desa Kemiren, Glagah, Banyuwangi. Ia bahkan tertarik ikut menari Gandrung.

“Selamat datang Mbak Puti di kampung kami. Kami senang dikunjungi. Semoga selalu ingat dengan kami,” kata tetua kampung menyambut, akhir Januari lalu.

Banyuwangi memang memelihara kampung adat Osing. Pemerintah Daerah setempat membantu anggaran pada warga yang mempertahankan model rumah adat.

“Nanti kalau Gus Ipul dan Mbak Puti terpilih, saya harap ada dukungan anggaran Pemprov Jawa Timur untuk pelestarian budaya,” kata Made Cahyana, Ketua DPRD Banyuwangi, yang mengiringi Puti, seperti dilaporkan Liputan6.com.

Saat tiba, Cucu Bung Karno itu disambut ramah. Gamelan khas Banyuwangi pun ditabuh meriah. Mereka juga dijamu dengan makanan khas kampung adat, yang disajikan berjejer di atas tikar di tengah jalan.

Pasangan Calon Gubernur Saifullah Yusuf itu juga berkesempatan untuk melihat kehidupan di kampung Osing, Jawa Timur. Beberapa peralatan tradisional tersedia di tempat itu, seperti lesung alat penumbuk padi, untuk menyambut tamu.

Beberapa penari cantik ke luar dan memainkan tarian Gandrung, diiringi irama gamelan dan lagu ‘Umbul-Umbul Blambangan’.

Puti pun tak tahan, ia ikut nimbrung menari. Berbaur dengan penari, Puti menggerak-gerakkan tangan dengan selendang. Kelihatan luwes. Tepuk tangan pun meriah.

“Kita harus bangga dengan kepribadian kita, Bangsa Indonesia. Sebagai angkatan muda, saya tidak ingin meninggalkan adat tradisi dan kebudayaan kita sendiri. Dalam kebudayaan bangsa Indonesia itu, Bung Karno menggali dasar negara kita, Pancasila,” tutur Puti.

Puti menyampaikan, semua punya tugas untuk melestarikan budaya, yang menjadi bagian jiwa Indonesia. “Seperti tertulis dalam lagu nasional kita ‘Indonesia Raya’: bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Saya ingin masyarakat Jawa Timur hidup bahagia dengan budayanya,” kata Puti

Puti mengutip ajaran Trisakti, yang diwariskan Bung Karno, kakeknya. “Yakni, berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian dalam bidang kebudayaan,” ujar Puti. (ist)

10 Festival Budaya Nasional Sepanjang 2018

foto
Peserta berkostum Sriwijaya di Jember Fashion Carnaval ke-16 di Jember. Foto: Antara Foto/Seno.

Di awal tahun 2018 ini, ada beberapa agenda nasional yang bisa dicatat bagi Anda yang ingin melewatkan liburan di acara festival budaya dari berbagai daerah di Nusantara.

Sepanjang tahun 2018 diperkirakan tiga ribu even diselenggarakan, yang dikelola oleh berbagai kalangan, menurut Menteri Pariwisata RI Arief Yahya dalam sambutannya di buku “100 Wonder Calender of Event”.

“Seratus Wonder Event serta sepuluh top even yang diseleksi oleh tim kurator, telah ditentukan sebagai event pilihan tahun ini. Wisatawan dapat menggunakan sebagai rujukan, sementara para pemangku kepentingan dapat menggunakan sebagai panduan untuk menyusun program,” jelasnya seperti dikutip tirto.id.

Selain itu, tahun 2018 ditetapkan sebagai Tahun Visit Wondefull Indonesia. Dengan terbitnya 100 Wonder Calender of Event ini merupakan undangan terbuka untuk Visit Wonderfull Indonesia 2018.

Berikut 10 festival budaya nasional yang akan digelar sepanjang 2018 dari seluruh penjuru tanah air, dikutip dari buku “100 Wonder Calender of Event”:

Java Jazz
Java Jazz bisa dikatakan salah satu festival musik jazz terbesar di Indonesia yang digelar di JI Expo Kemayoran, Jakarta. Dihadiri oleh berbagai genre musik berbalut jazz, festival ini senantiasa menampilkan para legenda, pemula hingga bintang yang sedang bersinar.

Diselenggarakan secara rutin pada minggu pertama Maret, festival ini menjadi perayaan musik jazz para pecintanya lintas generasi. Di tahun 2018 ini, Java Jazz akan digelar pada 2 Maret 2018, bagi Anda yang berminat bisa menyiapkan diri, untuk info lebih lanjut tentang even ini bisa dilihat di http://www.jakarta-tourism.go.id.

Pesta Kesenian Bali

Pesta Kesenian Bali sering disebut sebagai festival seni terlama, terpanjang dan paling meriah dalam tradisi festival di Indonesia. Berlangsung selama sebulan penuh, melibatkan ribuan seniman dari seluruh penjuru Bali.

Berjenjang melalui kecamatan, kabupaten hingga propinsi. kompetisi tingkat desa, festival ini terkenal dengan karnaval pembukaan yang megah. Selama empat puluh tahun selalu dihadiri oleh Presiden RI. Tahun ini, Pesta Kesenian Bali akan digelar pada 16 Juni nanti yang mewakili puncak kerja seni sepanjang tahun.

Jember Fashion Carnaval
Jember Fashion Carnaval (JFC) terkenal sebagai jawaban terhadap festival dunia, baik Rio Carnaval, Noting Hill dan Venesia. Acara berlangsung empat hari dengan kategori anak, beragam adat, pameran dan konvensi fashion.

Dirintis oleh Dynand Fariz, seorang seniman dan pendidik yang menginspirasi munculnya gelombang karnaval di berbagai kota di Indonesia. JFC akan digelar pada 7 Agustus 2018 nanti sebagai ajang Fashion Extravagansa yang ditampilkan sepanjang lebih dari tiga kilometer. Berkat JFC, kota tenang Jember di Jawa Timur ini masuk dalam peta kota karnaval dunia.

Iron Man 70.3 Bintan
Diselenggarakan di Bintan, Ironman 70.3 adalah lomba berlari, berenang dan bersepeda sambil menjelajah keindahan alam daerah itu. Acara yang digelar pada 19 Agustus 2018 ini secara regular diikuti oleh atlet dunia dan telah masuk kualifikasi tingkat dunia.

Festival Payung Indonesia
Festival ini menampilkan para maestro pengrajin dari desa payung Indonesia, pameran lukisan payung, rajut payung kreatif, fashion wastra nusantara hingga bazar seni payung. Karya instalasi dan arsitektur bercitra payung, menghiasi arena festival dan memindahkannya kehebohan di instagram dan sosial media.

Dipamerkan secara reguler delegasi tradisi payung dari beberapa negara Asia seperti Thailand, Jepang, Brunei, Malaysia dan Cina.

Di bawah tema Sepayung Indonesia, pertunjukan ikonik dari para maestro tari ditampilkan bersamaan dengan karya kontemporer seniman muda pada 20 Agustus hingga 8 September 2018.

Sanur Village Festival
Sanur Village Festival mem-branding “village” menjadi acuan dari kegiatan. Ini yang menjadi daya tarik bahwa Sanur Village Festival memiliki nilai lebih untuk dikunjungi sebagai festival yang berbeda dengan daerah lainnya.

Village Festival terus tumbuh dan berkembang dengan meletakkan pondasi kuat “the new spirit of heritage” sebagai jati dirinya. Acara ini akan digelar di Desa Sanur, Kota Denpasar pada 24-28 Agustus 2018.

Karnaval Kemerdekaan
Karnaval Kemerdekaan adalah parade budaya tahunan yang diselenggarakan secara bergilir di kota dan atau destinasi terpilih di Indonesia. Pontianak (2015), Danau Toba (2016) dan Bandung (2017). Selama sepuluh tahun pertama sejak 2005 diselenggarakan secara tetap di depan Istana Negara, Jakarta.

Festival ini digelar pada 25 Agustus 2018 memamerkan kekayaan budaya visual dan busana Nusantara yang megah dan semarak, selalu dirangkaikan dengan perayaan Kemerdekaan Indonesia.

Grand Karnaval Indonesia
Karnaval puncak yang menghimpun berbagai ragam karnaval di Indonesia, yang di koordinasi oleh JFC. Diselenggarakan setiap tiga tahun sekali dengan tempat yang berpindah pindah dengan tematik pilihan.

Untuk pertama kalinya diselenggarakan di Jakarta berkenaan dengan penyelenggaraan ASIAN Games 18 pada Agustus 2018. Grand Karnaval ini akan digelar di Jakarta pada 27 Agustus 2018.

Banyuwangi Ethno Carnival
Karnaval etnik ini digelar di Sunrise of Java, menyajikan keanggunan busana etnik nusantara. Etnik Jawa, Madura, Padalungan, Bali dan Osing berkolaborasi menyusun ekspresi seni yang unik. Dengan alunan suara dan gerak Gandrung Sewu, yang menjadi ikon Banyuwangi, karnaval mengalir di sepanjang jalan. Karnaval ini akan digelar 10 November 2018.

Borobudur Marathon
Berlari melewati desa tradisi dan hutan lokal, sambil mengelilingi Borobudur, menjadikan Borobudur Marathon memori tak terlupakan bagi para pesertanya. Jalur yang dipilih tidak linear tetapi sirkular dengan tujuan agar peserta mengikuti maraton yang menghormati raga dan memuliakan rasa. Festival ini digelar pada 18 November 2018 di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. (ist)