Upaya Ponpes Melestarikan Manuskrip Jawa Kuno

foto
Naskah-naskah kuno yang disimpan di Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan. Foto: Jawa Pos/Debora Danisa Sitanggang.

Di Pamekasan ternyata ‘tersimpan’ banyak naskah kuno. Anehnya, kebanyakan berhuruf pegon, Arab gundul dengan bahasa Jawa lama. Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan pun tergerak melestarikan ‘harta karun’ peninggalan nenek moyang ratusan tahun silam itu.

KITAB-KITAB itu sudah tidak keruan bentuknya. Sebagian sobek-sobek di bagian tepi, dimakan rayap. Bahkan, ada yang bolong di tengah. Ada juga yang lengket. Warnanya sudah lusuh, kuning kecokelatan. Mungkin dulu berwarna putih.

Untung, huruf-huruf di atasnya masih bisa terbaca dengan jelas Hanya, kebanyakan manuskrip ditulis dengan aksara Arab gundul (pegon), sebagian dalam huruf Jawa (hanacaraka). Juga, hampir semua berbahasa Jawa.

Karena itu, selain harus tahu sistem penulisan huruf pegon dan hanacaraka, pembacanya mesti menguasai bahasa Jawa bila ingin tahu makna manuskrip tersebut.

Itulah tantangan yang dihadapi para pengasuh dan santri Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, ponpes yang tergerak untuk menerjemahkan dan melestarikan naskah-naskah kuno tersebut.

Sebab, kebanyakan dari mereka tidak bisa berbahasa Jawa. Meski begitu, mereka mengaku ingin sekali mempelajari manuskrip yang belum diketahui tahun pembuatannya dan peninggalan siapa itu.

Naskah-naskah tersebut kini memang disimpan di salah satu sudut ponpes yang terletak di Desa Panaan, Palengaan, Pamekasan tersebut. Tak tanggung-tanggung, demi mengetahui makna naskah kuno itu, sebagian santri dikirim ke Indramayu, Jawa Barat.

“Karena di sana (Indramayu, Red) kami kenal dengan seorang ahli manuskrip Jawa kuno,” kata Kepala Pendidikan Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata Ahmadi saat ditemui di aula pesantren, akhir pekan lalu.

Ahli manuskrip itu bernama Ki Tarka Sutarahardja. Tarka diperkenalkan kepada pengurus ponpes oleh pemerhati manuskrip kuno di Pamekasan, KH Ilzamuddin. Tarka kemudian membantu Ilzam menerjemahkan naskah kuno yang dia simpan.

Tentu saja, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk bisa menerjemahkan naskah kuno. Menurut Ilzam, untuk bisa mengerti naskah kunonya secara utuh, biaya yang dikeluarkan bisa jutaan rupiah. Hitungannya per lembar.

“Tinggal dikalikan saja dengan jumlah lembarnya,” tutur Ilzam dikutip Jawapos.com sambil menunjukkan naskah terjemahannya yang sudah berbentuk buku ukuran A4. Buku setebal 90 halaman itu berjudul Hikmah yang Tersembunyi. Bukan hanya satu, melainkan dua jilid (buku).

Yang pertama merupakan penulisan ulang naskah dari huruf Jawa kuno Gagrak Surakarta di manuskrip aslinya ke huruf Latin. Sementara itu, buku kedua adalah terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Isinya dialog antara Samun Ibnu Salam dan Muhammad SAW. Naskah tersebut ditulis oleh Kiai Bendara Dellegan pada 1749.

Ilzam menjelaskan, usia manuskrip bisa dilihat dari jenis tulisan yang terpampang dan jenis media yang digunakan. Manuskrip dengan daun lontar sudah pasti berusia paling tua.

Manuskrip dengan bahan kulit kayu berusia lebih muda. Namun, untuk lebih pastinya, harus melalui penelitian lebih lanjut. “Biasanya, dilakukan uji karbon. Nah, itu biayanya tidak murah juga,” tuturnya.

Manuskrip-manuskrip tua yang kini disimpan di Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata umumnya didapat dari masyarakat. Menurut Ahmadi, sebenarnya banyak warga yang menyimpan manuskrip kuno itu. Ada yang mengaku warisan dari nenek moyang mereka, tapi ada juga yang hasil penemuan di gedung-gedung tua di Pamekasan.

Belum diketahui bagaimana bisa naskah-naskah kuno berbahasa Jawa tersebut sampai di tangan masyarakat Madura. Ahmadi sendiri menyatakan keheranannya.

Pengurus ponpes kemudian menunjukkan salah satu naskah dari daun lontar milik warga. Jumlahnya 72 lembar. Setiap lembarnya lalu difoto untuk dokumentasi. Bila ada yang ingin melihat atau meneliti, tinggal melihat di file foto.

Naskah aslinya masih tersimpan di rumah pemiliknya di Buju’ Gheru’, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan. Agak jauh dari lokasi pondok.

Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata sampai saat ini sudah berhasil mengumpulkan 33 manuskrip kuno. Semua disimpan di sebuah lemari kaca dan dipajang di depan ruang administrasi. “Beberapa waktu lalu, peneliti dari Malaysia dan Jepang sampai ke sini untuk melihat langsung naskah-naskah kuno ini,” terang Ahmadi.

Pihak pesantren melakukan perawatan semampunya pada manuskrip-manuskrip tersebut. Misalnya, seperti dituturkan Ahmadi, debu-debu di lembar naskah itu dibersihkan dengan kain. “Padahal, kalau orang luar, memperlakukan naskah lama itu sangat hati-hati,” ujarnya, lantas tertawa kecil.

Menurut Kepala Badan Otonom Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata Wahyudi Effendi, tingkat kesulitan membaca huruf Jawa kuno sangat tinggi. Karena itu, santri yang diberi kesempatan belajar hingga ke Indramayu harus santri yang ber-IQ tinggi.

Untuk saat ini, baru enam orang yang dikirim. “Anak-anak butuh waktu sebulan untuk menguasai cara membaca huruf Jawa kuno,” terang Wahyudi.

Metode belajarnya senyaman pribadi mereka masing-masing. Misalnya, Subyan, santri paling senior. Dia biasanya belajar membaca sejak pagi. “Kalau sudah pusing, berhenti dulu. Puyengnya hilang, belajar lagi sorenya,” tuturnya.

Membaca huruf Jawa kuno juga cukup rumit menurut Mohammad Faizin, santri lain. Karena hurufnya ditulis tangan semua, tentu agak repot jika harus membaca gaya tulisan tangan yang berbeda-beda. “Karakternya itu lain-lain,” ujar Faizin.

Setelah enam santri itu pulang, rencananya Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata membuka semacam klub baru. Klub untuk belajar membaca naskah kuno.

Selama ini kelas khusus yang dimaksud itu lebih banyak mempelajari bahasa asing. Yakni, bahasa Inggris, Arab, Mandarin, Jepang, Jerman, hingga Mandarin.

Nah, kelas membaca naskah Jawa kuno tersebut akan menjadi kelas pertama yang mempelajari bahasa lokal. “Jadi, nanti para santri ini yang mengajar adik-adik kelas mereka cara membaca manuskrip Jawa kuno,” tandas Wahyudi. (jp)

Ini Daftar 19 Bangunan Kuno di Kota Madiun

foto
Gedung kompleks Bakorwil Madiun terlihat megah. Foto: Thecolourofindonesia.com.

Sebanyak 19 bangunan kuno peninggalan zaman penjajahan Belanda yang tersebar di Kota Madiun akan diusulkan sebagai benda cagar budaya. Dengan demikian, bangunan-bangunan tersebut akan terjaga keasliannya.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga Kota Madiun, Agus Purwowidagdo, mengatakan bangunan-bangunan kuno di Kota Madiun sebagian besar adalah peninggalan era kolonial. Bangunan itu mayoritas bercorak Eropa, Jawa, dan Tionghoa.

Menurut dia, bangunan-bangunan kuno tersebut bakal dirawat dan bisa menjadi daya tarik wisatawan. “Kota Madiun layak dijadikan destinasi wisata sejarah. Di sini banyak bangunan kuno,” jelas dia, dikutip Solopos.com

Belasan bangunan kuno tersebut tersebar di tiga kecamatan yang ada di Kota Madiun. Berikut 19 bangunan kuno yang akan diusulkan sebagai benda cagar budaya :

Kecamatan Manguharjo :
1. Gereja Protestan Indonesia Barat Gamaliel Madiun. Gereja ini beralamat di Jl Mawar 10, Kelurahan Madiun Lor. Bangunan yang berdiri di lahan seluas 643,4 meter persegi ini diperkirakan didirikan pada 30 Agustus 1908.

2. Kompleks Bakorwil Madiun. Bangunan ini berada di Jl Pahlawan, Kelurahan Madiun Lor. Pada masa Hindia Belanda, rumah megah bergaya Indische Empire tersebut menjadi rumah dinas Residen Madiun.

3. Kompleks Gereja Santo Cornelius. Bangunan ini berada di Jl Pahlawan, Kelurahan Pangongangan. Madiun merupakan salah satu kota di Jawa Timur yang sejak lama menjadi tempat bagi komunitas pemeluk Katolik. Pada tahun 1859, kota ini merupakan bagian dari stasi baru yang dibentuk di Ambarawa.

4. Kompleks Santo Bernardus. Berada di Jl Ahmad Yani No 7, Kelurahan Pangongangan. Keberadaan biara ini bermula pada tahun 1914. Saat itu seorang pastor bernama BG Schweitz SJ berkeliling dan membawa anak-anak telantar ke Madiun. Dia sana mereka ditempatkan dekat pastoran dan diasuh oleh Ny CH Van Zwieten dan Ny BD Haenens.

5. Rumah Kapitan Cina. Bangunan seluas 781,9 meter persegi ini berada di Jl Kolonel Marhadi, Kelurahan Nambangan Lor.

6. SDN 05 Madiun Lor. Bangunan ini berada di Jl Jawa No 20, Kelurahan Madiun Lor.

7. SMP 1 Kota Madiun. Bangunan seluas 6.660 meter persegi itu berada di Jl Mastrip No 19, Kelurahan Manguharjo.

8. SMP 3 Kota Madiun. Bangunan yang berdiri di lahan seluas 742,6 meter persegi ini ada di Jl RA Kartini No 6, Kelurahan Madiun Lor.

9. SMP 13 Kota Madiun. Bangunan di lahan seluas 7.365 meter persegi ini berada di Jl Sumatera No 13, Kelurahan Madiun Lor.

10. Stasiun Madiun. Bangunan ini berada di Jl Kompol Sunaryo, Kelurahan Madiun Lor.

Kecamatan Kartoharjo :
11. Balai Kota Madiun. Bangunan berdiri di lahan seluas 1.267,3 meter persegi di Jl Pahlawan No 37, Kelurahan Kartoharjo.

12. SDN 01 Kartoharjo, berdiri di lahan seluas 353,4 meter persegi dengan alamat Jl Jawa No 20, Kelurahan Kartoharjo.

13. SDN 02 Kartoharjo. Bangunan ini berdiri di lahan seluas 1.518 meter persegi di Jl Sulawesi No 20, Kelurahan Kartoharjo.

Kecamatan Taman:
14. Klenteng Hwie Ing Kiong. Bangunan yang berdiri di lahan seluas 372,2 meter persegi ini berada di Jl HOS Tjokroaminoto No 16, Kelurahan Kejuron.

15. Kompleks Pabrik Gula Rejoagung. Bangunan ini berada di Jl Yos Sudarso, Kelurahan Kepatihan.

16. Menara Air Sleko. Bangunan ini berada di Jl Kapuas No 62, Kelurahan Pandean.

17. Rumah Keluarga Andi Wibisono. Bangunan berdiri di lahan seluas 648,6 meter persegi di Jl Pandean, Kelurahan Taman.

18. Kompleks Rumah Dinas Pabrik Gula Rejoagung di Jl Yos Sudarso, Kelurahan Kepatihan. Di kompleks ini ada sembilan rumah dinas.

19. SMA 1 Kota Madiun berada di Jl Mastrip No 19, Kelurahan Mojorejo. (ist)

Galang Dana Kampanye, Pamerkan Lukisan Affandi

foto
Singky Suwaji (depan) bersama lukisan ‘Papua’ karya Affandi tahun 1974. Foto: Istimewa.

Sebagai wujud dukungan kepada pasangan calon gubernur-wakil gubernur Jatim pasangan nomer dua yakni Saifullah Yusuf dan Puti Guntur Soekarno, kelompok relawan Surabaya berencana menggalang dana kampanye dengan cara menggelar pameran lukisan.

Tak tanggung-tanggung, sepertinya acara ini bakal menjadi pameran lukisan paling spektakuler di tahun 2018, karena disamping menggelar hasil karya 30 pelukis ternama, panitia juga bakal memamerkan sekaligus melelang dua lukisan karya sang maestro Affandi Koesoema (alm).

“Sebenarnya ini ide dari Bang Saleh Ismail Mukadar dengan tujuan menggalang dana untuk kampanye pasangan calon nomer dua (Gus Ipul-Puti), sesuai rencana, pameran akan digelar pada Minggu 25 Maret di Hotel Bumi Surabaya,” ucap relawan Gus Ipul-Puti, Singky Soewadji saat berada di kereta api, dalam perjalanannya dari Jogja menuju Surabaya, pekan lalu dikutip SuaraPublikNews.

Singky menerangkan bahwa tujuannya ke Kota Gudeg untuk menemui keluarga sang Maestro Affandi, terkait rencana pameran lukisan yang bakal digelar untuk penggalangan dana kampanye paslon Gus Ipul-Puti.

“Alhamdulilah kami diterima langsung Ibu Kartika Affandi, dan yang paling menggembirakan, ternyata beliau merespon baik acara pameran ini. Karena bakal menurunkan 10 lukisan keluarga, dan 2 diantaranya adalah karya sang maestro Affandi,” terang pengusaha dan penggiat serta pecinta satwa ini.

Dua lukisan karya Affandi itu, lanuut Singky, yang satu dibuat tahun 19974 dan lainnya pada 1976, yakni lukisan berjudul ‘Petarung Sejati’ nilainya mencapai Rp 10 miliar dan lukisan berjudul ‘Papua’ nilainya sekitar Rp 25 miliar.

“Hasil perbincangan kami selama tiga jam, ternyata beliau sekelurga yakni istri anak dan cucu Affandi bersedia hadir langsung di lokasi pameran, yang nantinya juga disertai demo melukis oleh keluarga Affandi,” tuturnya.

Saleh Ismail Mukadar menambahkan munculnya ide pameran lukisan untuk tujuan penggalangan dana kampanye ini karena melihat potensi budaya bangsa yang sangat kuat, terutama di bidang seni lukis.

“Besarnya sebuah bangsa tergantung kekuatan budayanya, maka hal-hal yang seperti ini menyangkut karakter sebuah bangsa, karena kami ini kaum nasionalis yang pecinta seni, dan Bung karno juga menyukai seni terutama seni lukis, maka harus bisa menghargai sekaligus menghidupkan para seniman lukis, karena hasil karyanya tak ternilai harganya,” jelasnya.

Politisi PDI Perjuangan ini mengatakan bahwa seluruh hasil lelangnya akan disumbangkan seluruhnya kepada paslon Gus Ipul-Puti untuk dana kampanye. “Ini merupakan wujud keseriusan dukungan kami tidak lebih dan tidak mencari keuntungan, apalagi embel-embel lainnya,” pungkasnya.

Kini panitia yang terlibat pameran lukisan akbar ini semakin disibukkan dengan berbagai persiapan, karena menyangkut pengamanan dan tranportasi angkutan untuk beberapa lukisan maha karya Affandi dari Jogja, karena harus memberikan jaminan asuransi.

“Saat pameran nanti, kami tidak hanya mendatangkan pasangan calon Gus Ipul dan Mbak Puti, tetapi kami juga sedang berusaha untuk menghadirkan Ibu Megawati Soekarnoputri,” tutup Singky. (ita)

Menyingkap Misteri di Balik Wayang Potehi

foto
Wayang potehi merupakan budaya dari China. Foto: Liputan6.com/Yanuar H.

Wayang potehi identik dengan wayang khas warga Tionghoa yang kerap dimainkan saat perayaan hari besar Tiongkok, seperti Imlek dan Cap Go Meh. Namun, ada cerita tentang koleksi wayang potehi yang berumur ratusan tahun di Museum Wayang Potehi Gudo, Gudo, Jombang.

Soni Frans Asmara, salah satu penerjemah koleksi wayang potehi Museum Gudo mengatakan, setidaknya ada 200 wayang potehi yang berumur lebih dari 150 tahun saat ini. Wayang ini masih terjaga baik di Museum Gudo Jombang.

“Wayang itu asli dari zaman dahulu, terbuat dari kayu hanya 200 saja. Masih asli,” katanya saat ditemui di pameran wayang potehi PBTY, akhir pekan lalu, dikutip Liputan6.com.

Frans, yang juga dalang wayang potehi, mengaku pernah memiliki pengalaman yang mengejutkan selama hidupnya bersama wayang potehi. Ketika akan mengeluarkan dan memainkan salah satu koleksi wayang potehi terdengar suara petir menyambar pada siang bolong. Koleksi wayang potehi yang dikeluarkan itu adalah wayang dewa petir.

“Waktu itu saya tidak dalang hanya ikut. Pas dewa petir itu dikeluarkan langsung terdengar petir menyambar, padahal tidak mendung. Juru kunci langsung sembahyang, barangkali kurang sesaji. Itu pengalaman sekali selama hidup saya di kelenteng Tegal tahun 2003,” katanya.

Menurut dia, kejadian seperti itu bisa terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya, dalang tidak menyatu dengan wayang yang dimainkan. Sehingga saat pentas, dalang seolah tidak memiliki jiwa dalam memainkan wayang. “Mungkin sama bonekanya tidak in atau mainnya tidak tulus. Juga mungkin karena kurang uang emasnya,” katanya.

Saat bermain wayang potehi, setiap dalang memiliki kebiasaan masing-masing. Seperti dirinya, ia selalu melakukan ritual kecil sebelum dan sesudah acara. Kebiasaan ini tidak pernah ia tinggalkan.

“Biasanya bakar uang emas itu sebelum dan sesudah acara. Ya, istilahnya doa kepada leluhur. Kata bapak saya itu sebagai pesangon leluhur. Jadi kertas sin cua itu melambangkan uang emas agar nanti sampai ke sana,” katanya.

Ritual ini mungkin berbeda setiap dalang wayang potehi. Namun, kebiasaannya membakar uang emas sebelum dan sesudah acara ini juga diperuntukkan agar acara dapat berjalan lancar. “Selama saya dalang belum pernah kejadian macam-macam. Aman,” katanya.

Ia tidak menampik usia wayang potehi juga memengaruhi permainan saat mendalang. Sehingga kebiasaannya itu juga sebagai permintaan izin untuk memainkan wayang tersebut.

“Ada wayang yang usianya 150 tahun ke atas yang original dari Tiongkok dan ini replika produksi dalam negeri kalau 200 biji umurnya 150 tahun lebih,” katanya.

Berbagai cara yang dilakukannya untuk mengenalkan wayang potehi ini kepada generasi selanjutnya. Sebab, budaya asli Tiongkok ini kini sudah tidak bisa ditemui lagi di Tiongkok dan justru hidup di Indonesia.

“Saat ini menurut dari sumber di Tiongkok tidak ada lagi yang ada Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Taiwan. Kita pernah diundang di Tiongkok mendapat predikat original wayang kita,” katanya.

Frans mengaku saat ini pemerintah mengapresiaasi wayang potehi yang merupakan akulturasi budaya Tiongkok Jawa. Frans mengaku merupakan pribumi asli, tetapi siap mempertahankan budaya ini sampai mati.

“Kita akan berjuang mempertahankan potehi. Pemerintah memberikan kesempatan main di kelenteng, mal, pondok pesantren, hingga gereja jadi sekarang sudah bagian dari budaya,” kata dia.

Frans mengaku masih optimistis selama museum wayang potehi masih menyimpan koleksi wayang potehi dari berbagai daerah di Indonesia. Wayang yang ada di Museum Wayang Potehi Gudo, Gudo, Jombang Jawa Timur ini merupakan koleksi langka. “Kebetulan yang punya museum itu cucu dari dalang wayang potehi. Kalau koleksinya ya ribuan produksi dari 2001 sampai sekarang,” katanya.

Museum Wayang Potehi juga membuat wayang potehi terbaru yang sesuai dengan replika dari Tiongkok. Bahkan, saat ini juga mulai banyak jenis tokohnya.

“Kalo kita pamerkan ini sekitar 60 karakter wayang potehi ada Pat Kay, Sun Go Kong, banyak. Kalau koleksi museum ya ribuan tapi memang ada beberapa yang masterpiece,” katanya.

Menurut Frans, wayang Potehi yang saat ini berusia ratusan tahun dan tersimpan di museum tidak ternilai harganya. Sebab, nilai sejarah dan kisah di balik wayang potehi tersebut sangat tinggi. “Wah sudah tidak ternilai dan tidak dijual,” katanya.

Terlebih, salah satu koleksi wayang potehi yang bernama Si Jin Kui, legenda panglima terkenal di Tionghoa. Karena istimewa, ia tidak dibawa saat pameran ataupun acara tertentu. “Dia masternya, bajunya itu istimewa, buatan tangan. Kalau sekarang tidak dibawa, hanya replika,” katanya.

Wayang potehi yang dibawanya tidak memiliki kesulitan saat bermain karena sangat mudah dimainkan. Namun, saat pentas, ia memiliki standar sendiri karena harus menggunakan bahasa Hokkian.

“Cara memainkannya masukan satu jari ke lubang leher kita masukkan jempol untuk tangan kanan dan tiga jari lainnya untuk tangan kiri,” kata Frans sambil menunjukkan cara memainkan wayang itu.

Menurut dia, tidak ada yang sulit untuk memainkan wayang potehi ini. Karena sangat mudah dan bisa digunakan untuk bermain di keluarga. “Ya mudah untuk belajar karena saya dulu juga autodidak, kok,” katanya.

Ia mengaku saat dia mendalang ada kesulitan dalam menggunakan bahasa Hokkian. Sebab, saat ini bahasa Hokkian tidak banyak diketahui, bahkan orang Tionghoa sekali pun. “Kayak bahasa Jawa halus-lah jadi kalau bukan orang China yang dulu pasti enggak tahu-lah,” ujarnya.

Saat ini, ia hanya menggunakan 2 persen saja bahasa Hokian untuk mementaskan wayang potehi. Selebihnya, menggunakan bahasa Jawa ataupun bahasa Indoensia.

“Ya kesulitan kita bahasa ya pakai bahasa Hokkian itu kan kuno. Ini untuk pakemnya padahal bahasa Hokkian itu bahasa halusnya China,” kata dia.

Dia menambahkan untuk mendatangkan wayang potehi dibutuhkan biaya setidaknya Rp 5 juta. Biaya ini tentu bertambah jika dipentaskan di luar kota Jombang.

“Kalau bikin wayang potehi 500 ribu sampai 1 juta. Seni ya tidak bilang bagus, tapi hidup dan bedanya di karakter itu ketika melihat wayang ini seolah berhadapan dengan orang kan,” jelasnya.

Pameran yang dibuat PBTY di Rumah Budaya Ketandan beberapa waktu lalu membuat beberapa pengunjung terkesan. Seperti Supripatmiayati warga Yogyakarta yang ikut dalam workshop mewarnai wayang potehi. “Ya senang, karena untuk melestarikan budaya Tionghoa. Jadi kami tertarik dan mengajari anak saya, tapi dia malu,” katanya.

Mewarnai kepala wayang potehi menurut dia sangat bagus karena mengajarkan anak-anaknya tentang budaya yang ada di Yogyakarta. Sebab, di kota ini tumbuh beragam budaya. “Manfaatnya banyak agar mengajarkan toleransi budaya itu penting,” dia mengatakan.

Ia mengaku baru kali pertama memegang wayang potehi ini. Menurut dia, wayang ini juga bisa disejajarkan dengan wayang lainnya. “Kami sangat mendukung pameran potehi ini,” ujarnya.

Ia mengakui sulit mewarnai kepala wayang potehi, meski terlihat sangat mudah. Namun, saat memulai mewarnainya justru sangat sukar dilakukan.

“Sukanya meramaikan gembira saja anak-anak bisa melihat keramaian ini. Sulitnya membuat lir-lir di mata, kalau tidak biasa kan susah. Kayak saya ini ya untuk remaja seperti ini bisa untuk refreshing,” dia menandaskan. (ist)

Rampak Sarinah Perjuangkan Hari Kebaya Nasional

foto
Gerakan Rampak Sarinah mendukung gagasan dan bekerjasama dengan komunitas perempuan lain. Foto: Istimewa.

Penutupan Pendidikan Kader Khusus Perempuan Nasional (PKKPN.1) ditandai dengan penandatanganan janji perjuangan menggerakan perempuan nasionalis untuk mewujudkan keadilan sosial, Senin (12/3).

“Hal ini sesuai pesan Ketum Megawati bahwa militansi perjuangan ideologis yang panjang akan mudah kita jalani bila kita ikhlas dan gembira,” kata Eva K Sundari, Sekretaris Badiklatpus DPP PDI Perjuangan.

Selanjutnya, para peserta melakukan joget bersama Maumere dan Jaran Goyang. Kegiatan joget diikuti 150 Sarinah peserta kaderisasi dan seluruh panitia termasuk Sri Rahayu, Ketua Bidang Kesehatan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DPP PDI Perjuangan dan Eva K Sundari sendiri.

“Semua menggunakan kebaya putih dan berkain Nusantara serta kerudung bu Fatmawati berwarna merah bagi yang muslim,” jelas Eva K sundari melalui rilisnya.

Rampak Sarinah memilih kebaya sebagai wujud atas amanah Trisakti ketiga yaitu Berkepribadian dalam Kebudayaan. Hasil riset menunjukkan bahwa sudah sejak dahulu kebaya adalah pakaian ibu-ibu berbagai suku di Nusantara.

Gerakan Rampak Sarinah mendukung gagasan dan bekerjasama dengan komunitas perempuan lain untuk mengusulkan kepada pemerintah untuk menetapkan Hari Ibu tanggal 22 Desember sekaligus sebagai Hari Berkebaya Nasional.

“Penetapan Hari Berkebaya Nasional ini akan menjadi salah satu alasan untuk mengusulkan Kebaya sebagai warisan budaya Nusantara/ Indonesia kepada Unesco,” kata anggota DPR RI tersebut.

Usulan tersebut disampaikan Sri Rahayu pada pidato penutupan PKKPN.1 di Kinasih Depok. Penutupan dilaksanakan Wasekjen DPP PDI Perjuangan, Utut Adianto.

“Rampak Sarinah mengajak semua perempuan untuk membangun gerakan perempuan berdasar ideologi negara yaitu Pancasila sekaligus menjalankan tugas peradaban sebagai pendidik pertama dan pembentuk karakter nasionalis kepada anak-anak dan keluarga,” kata Eva.

Sebagaimana pesan Sukarno, lanjutnya, perempuan harus mengatasi ketertinggalan mereka untuk menjadi sama kuat dengan laki-laki agar menjadi 2 sayap Garuda untuk terbang tinggi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (ist)

Kini Ada Kampung Parikan di Surabaya

foto
Hiasan tokoh ludruk dan tipografi parikan bikin warga terhibur. Foto: Surya/Nuraini Faiq.

Ada yang unik saat peluncuran Kampung Parikan di Kampung Bosem, Kelurahan Moro Krembangan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, pekan lalu.

Di ujung kampung sudah disapa Parikan lucu.

Sambel tempe lalap Pete
Lali rupane eleng rasane …

Parikan atau pantun ini sudah menyapa di muka kampung. Kampung berada di sepanjang Bosem (waduk) ini kini disulap jadi Kampung warna-warni berhias Parikan.

Parikan itu dituangkan dalam Tipografi di dinding pos kamling. Di mulut gang itu, tulisan Parikan bercat indah itu tidak saja bikin geli tapi juga mempercantik hiasan kampung. Sebab ditulis indah dan mencolok.

Ida Maulida, seorang warga RT 06 Moro Krembangan mengaku senang dan terhibur dengan hiasan Parikan di banyak dinding kampung. “Lucu dan mendidik,” ucap Ida, dikutip Tribunnews.com.

Tidak hanya parikan, rumah-rumah warga juga dicat cantik berhias parikan. Ada puluhan mural khas Suroboyo, tokoh ludruk, hingga deretan tipografi parikan di kampung berlokasi di sepanjang Bosem Surabaya itu.

Erwin Poedjiono, tim kreatif sekaligus kreator Kampung Parikan Surabaya menyebutkan bahwa kampung unik itu diinisiasi oleh lembaga Hot Line Surabaya. “Ada 30 Parikan dan mural,” katanya.

Kamis sore tadi Kampung Parikan itu diresmikan. Sayang, Wali Kota Tri Rismharini tidak jadi meresmikannya dan diwakilkan Kepala Dinas Pariwisata. Ini semacam kampung budaya pertama di Surabaya.

Erwin menyebut bahwa kampung itu bisa mejadi cikal bakal museum budaya khas Suroboyo. Nantinya kampung ini akan menjadi pelestari budaya khas Suroboyo. Akan ada pembelajaran untuk generasi muda dan anak-anak.

Tidak hanya deretan rumah yang dindingnya dihiasi parikan. Salah satu dinding rumah warga juga behias tokoh ludruk legendaris. Yakni Cak Bambang Gentolet, Cak Markeso, dan Cak Momon.

Diakui bahwa saat ini anak muda dan anak-anak di kampung tidak tahu siapa itu Bambang Gentolet. Mereka juga tak bisa membuat parikan. Di kampung unik ini akan diajari khusus membuat parikan. “Kami menjadi tertantang untuk melestarikan budaya Suroboyo,” kata Suyadi, tokoh budaya Kampung Bosem.

Parikan yang menjadi ciri khas Suroboyo akan mendapat tempat khusus dalam pembinaaan budaya. Puluhan Parikan itu kini menghiasi setiap sudut kampung Bosem.

Namun, parikan yang tertera harus menghibur tapi ada unsur mendidik. Berikut sejumlah parikan itu:

Mlaku mlaku tuku paku
Mampir pasar tuku tumbar
Yen konco nggoleki aku
Yo iki omahe di kembar

Tuku celono nang Cak Bowo
Tukune tekan Persia
Sing rukun Cino Jowo
Kerono kita Indonesia ..

Dalam pembukaan Kampung Parikan sore itu diawali denga perpaduan barongsai dan dorong tokoh punakawan Gareng Petruk semar. Ini menandakan Cino Jowo rukun.

Sementara itu, para pemuda kreatif kampung itu sore tadi juga dilibatkan dalam menuntaskan mural dan tipografi. Warga mengaku senang kampungnya bersih dan terdidik. (ist)

Perselisihan Sunda-Jawa 661 Tahun Berakhir

foto
Gubernur Jawa Timur, Jawa Barat dan DIY di acara ‘Harmoni Budaya Jawa-Sunda. Foto: Humas Pemprov Jatim.

Rekonsiliasi budaya yang diprakarsai Gubernur Jawa Timur Dr H Soekarwo dan Gubernur Jawa Barat Dr H Ahmad Heryawan, menandai berakhirnya 661 tahun permasalahan antara etnis Sunda dengan etnis Jawa pasca tragedi Pasunda Bubat yang terjadi pada tahun 1357 Masehi.

Rekonsiliasi ini diwujudkan melalui penggantian dua jalan arteri di Kota Surabaya dengan menggunakan nama yang menyimbolkan kesundaan. Yakni, Jl Prabu Siliwangi menggantikan Jl Gunungsari, dan Jl Sunda menggantikan Jl Dinoyo. Penggantian nama jalan tersebut menjadikan Jalan Prabu Siliwangi berdampingan dengan Jalan Gajah Mada, sementara Jalan Sunda berdampingan dengan Jalan Majapahit.

“Lewat peristiwa ini, permasalahan antara etnis Jawa dan Sunda yang terjadi sejak 661 tahun lalu, selesai hari ini. Alhamdulillah, baik saya dan Pak Aher akhirnya bisa menemukan satu titik kesamaan” kata Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Jatim pada acara Rekonsiliasi Budaya Harmoni Budaya Sunda-Jawa di Hotel Bumi Surabaya, Selasa (6/3).

Pakde Karwo mengatakan rekonsiliasi ini penting untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, khususnya antara etnis Sunda dan Jawa. Pasalnya, akibat tragedi Pasunda Bubat, kedua etnis ini kerap berselisih dalam berbagai hal yang menyangkut hubungan kemanusiaan, seperti perkawinan, pendidikan dasar, dan lainnya.

Tragedi Pasunda Bubat, lanjut Pakde Karwo, adalah perang antara kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda yang terjadi pada abad ke-14 tepatnya pada tahun 1357.

Terjadi akibat kesalahpahaman antara Gajah Mada sebagai patih Kerajaan Majapahit dan Anepaken sebagai patih Kerajaan Sunda dalam mengartikan sebuah pertemuan persuntingan putri kerajaan Sunda, Diah Pitaloka oleh Raja Majapahit, Hayam Wuruk. Kesalahpengertian ini mengakibatkan peperangan, yang mengakibatkan raja sunda, isterinya, serta putri Diah Pitaloka dan pasukannya meninggal.

“Jauhnya jarak antara peristiwa perang Bubat dengan munculnya beberapa naskah kuno hingga 200 tahun berikutnya, seperti kidung sundayana ditengarai sebagai upaya divide et impera oleh penjajah,” ujar Pakde Karwo.

Oleh karena itu, lanjutnya, penting bagi generasi masa kini untuk mendudukkan tragedi Perang Bubat sebagai peristiwa kebudayaan, dan untuk melenyapkan masalah ini diperlukan terobosan-terobosan kebudayaan antara masyarakat Sunda dan Jawa, salah satunya lewat rekonsiliasi harmoni budaya sunda-Jawa ini.

Ditambahkan Pakde Karwo, rekonsiliasi ini akan merekatkan bangsa Indonesia melalui simpul-simpul yang memberikan orientasi nilai perjuangan dan persatuan, dengan bingkai dan landasan keragaman budaya, sebagai sumber kekuatan bangsa Indonesia.

Sambut Baik Rekonsiliasi
Dalam orasinya, Gubernur Jawa Barat, Dr H Ahmad Heryawan menyambut baik rekonsiliasi Sunda dan Jawa yang diwujudkan melalui hadirnya simbul Sunda pada dua ruas jalan di Jawa Timur, tepatnya di Kota Surabaya. Untuk itu, Kang Aher, sapaan akrab Gubernur Jabar ini juga akan melakukan hal serupa di Jabar, tepatnya di Kota Bandung, dengan membuat Jalan Majapahit dan Jalan Hayam Wuruk di Bandung.

“Nama Jalan Majapahit akan menggantikan Jalan Gasibu di tengah kota, kemudian Jalan Kopo diganti Jalan Hayam Wuruk. Estimasinya, penggantian kedua jalan ini dilakukan pada April atau awal Mei 2018 mendatang” katanya.

Senada dengan Pakde Karwo, Kang Aher sepakat rekonsiliasi ini menjadi bagian penting untuk mempererat hubungan antara etnis Sunda dengan Jawa. “Sampai saat ini, ada orang Sunda yang tidak mau disebut orang Jawa, padahal mereka tinggalnya di Pulau Jawa. Nantinya, disebut orang Jawa berbahasa Sunda. Rekonsiliasi ini akan membawa dampak psikologis untuk merekatkan kita,” katanya.

Ditambahkan, rekonsiliasi ini turut menjadi sejarah dan terobosan yang tepat untuk menyatukan Indonesia. Pasalnya, jumlah etnis Jawa mencapai 42% dari seluruh etnis di Indonesia, sedangkan etnis Sunda mencapai 14%.

Jika digabungkan, jumlahnya mencapai 56% atau separuh lebih dari seluruh etnis di Indonesia. “Artinya jika masalah Jawa dan Sunda selesai, maka perkara-perkara besar di Indonesia juga selesai” ujarnya.

Rekatkan Sunda dan Jawa
Dalam orasinya, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X yang disebut Pakde Karwo sebagai Pengageng Budaya Jawa mengungkapkan bahwa pemberian nama-nama jalan ini diharapkan memutus sejarah kelam 661 tahun lalu atas tragedi Bubat yang meretakkan hubungan antara etnik Sunda dengan Jawa.

“DIY telah meletakkan nama Jalan Siliwangi, Pajajaran dan Majapahit menjadi satu kesatuan jalan dalam satu jalur, dari ruas simpang Pelemgurih ke Jombor, diteruskan sampai di simpang tiga Maguwoharjo, dan dilanjutkan lagi hingga simpang Jalan Wonosari,” katanya.

Ditambahkan, penamaan jalan hari ini juga menjadi tonggak awal sejarah baru rekonsiliasi etnik Sunda-Jawa. Demikian pula, kehadiran Kang Aher sebagai representasi rakyat Sunda di Jawa Barat dan Pakde Karwo mewakili rakyat Jawa di Jatim diharapkan semakin memulihkan tali persaudaraan untuk menjadi satu bangsa Indonesia yang bermartabat.

“Dalam agama apa pun kita tidak pernah mengenal adanya dosa turunan. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa berkenan menunjukkan jalan lurus-Nya, sehingga kita menjadi lebih utuh sebagai satu bangsa,” pungkas Sri Sultan.

Hadir dalam kesempatan ini, Sekdaprov Jatim Dr H Akhmad Sukardi, Pangdam V/Brawijaya, Wakapolda Jatim, bupati walikota se-Jatim, bupati walikota eks Padjajaran, jajaran Komandan Kodim, jajaran Polda Jatim, para Kapolres se-Jatim, Kepala Disbudpar Prov Jatim dan Jabar, tokoh budayawan Jabar dan Jatim, mahasiswa, dan awak media.

Dalam rekonsiliasi ini juga diadakan diskusi panel narasumber berkompeten, yakni Prof Dr Agus Aris Munandar MHum dari UI Jakarta dengan pokok bahasan ‘Bukti-bukti Perekat Sejarah antara Dua Etnik di Masa Silam’, Prof Dr Haryono dari Univ Negeri Malang dengan pokok bahasan ‘Hikmah yang Dapat Diambil dari Pasundan Bubat Menuju Kehidupan Masa Kini’.

Juga ada Dr Undang Ahmad Darsa dari Univ Pajajaran Bandung dengan pokok bahassan ‘Bukti-Bukti Perekat di Budaya Sunda’ , serta Prof Aminudin Kasdi dari Univ Negeri Surabaya dengan pokok bahasan ‘Peran Majapahit di Nusantara’. (ist)

Blitar Dorong Keroncong Masuk Sekolah

foto
Di Kabupaten Blitar, musik keroncong juga dimintai remaja. Foto: JatimTimes.com.

Musik keroncong yang perlahan menjadi ikon kesenian di Jawa Timur akan diusulkan masuk dalam kurikulum muatan lokal (Mulok) di sekolah-sekolah di Kabupaten Blitar.

Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Blitar, Luhur Sejati, mengatakan sebagai kesenian yang asli berasal dari Indonesia, musik keroncong harus terus dikembangkan, dan diajarkan kepada generasi muda melalui pelajaran-pelajaran muatan lokal dan ekstrakurikuler di sekolah.

“Kami akan berupaya kerjasama dengan Dinas Pendidikan, minimal keroncong masuk ekstrakurikuler dulu. sehingga music keroncong bisa dikenal oleh anak-anak,” kata Luhur Sejati kepada BlitarTimes.

Ditegaskan, Pemkab Blitar melalui Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga berkomitmen mendukung upaya pengembangan dan pelestarian musik keroncong di Kabupaten Blitar. Selain mendorong musik keroncong masuk ke sekolah, pihaknya juga memberikan pelatihan gratis musik keroncong kepada masyarakat yang ingin belajar.

“Kita gencar lakukan pembinaan. Kami akan fasilitasi tempat untuk latihan di Aula Disparbudpora ini. Dan nanti menunggu petunjuk Pak Bupati dan Wakil Bupati kita akan membelikan alat musik keroncong yang bisa mereka gunakan untuk latihan,” tukasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, keroncong tengah menggeliat di Jawa Timur. Kemajuan dibuktikan Jawa Timur dengan menggeser Jawa Tengah sebagai propinsi di Indonesia dengan perkembangan keroncong paling maju. Saat ini di Jawa Timur tercatat ada 167 grup musik keroncong.

“Tentunya kita tak mau ketinggalan. Salah satu kunci memajukan music keroncong adalah dengan mengenalkannya kepada anak-anak sejak dini. Maka mutlak keroncong harus masuk ke sekolah-sekolah,” tuntasnya. (jtm)

Ada Sertifikasi Guide pada Program Seribu Dewi

foto
Puti Guntur Soekarno bersama Pokdarwis di Tulungagung. Foto: PDI Perjuangan Jatim.

Sertifikasi pemandu wisata menjadi bagian dari program Seribu Dewi (Desa Wisata) pasangan calon gubernur-wakil gubernur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) – Puti Guntur Soekarno (Mbak Puti).

Menurut Puti, pemberian sertifikat bagi pemandu wisata, termasuk untuk pemandu wisata di tempat-tempat wisata berbasis desa, bakal dilakukan setelah dia bersama Gus Ipul dipercaya memimpin Provinsi Jawa Timur.

Rencana pemberian sertifikat ini pun dimasukkan dalam langkah kerja program Seribu Dewi. Komitmen pasangan cagub-cawagub Jatim nomor urut dua ini disampaikan, setelah mendengar keluhan dari kelompok sadar wisata (pokdarwis)

“Kami tengah merancang program, bagaimana guide di tempat-tempat wisata berbasis kemasyarakatan itu juga mendapat sertifikat,” kata Puti Guntur, pekan lalu di Tulungagung.

Sehingga, lanjut Puti, nantinya Jawa Timur akan memiliki guide berkualitas yang bisa menjadi pemandu bukan hanya untuk turis lokal, namun juga mancanegara.

“Tantangan ke depan, memang setelah mengenalkan kepada dunia, tugas kita adalah memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan,” urai mantan anggota Komisi X DPR RI yang di antaranya membidangi sektor wisata ini.

Seiring dengan sertifikasi pemandu wisata, pihaknya juga menyiapkan pelatihan kepada masyarakat, khususnya anak-anak muda yang terlibat dalam kepariwisataan di daerahnya. Langkah itu juga sebagai salah satu upaya meningkatkan kualitas pariwisata di Jawa Timur.

Puti menambahkan, sektor pariwisata memang termasuk salah satu program yang akan menjadi fokus pengembangannya. Untuk program ini, Gus Ipul sudah mempercayakan kepada dirinya terkait pengembangan sektor wisata.

Menurutnya, pengembangan pariwisata di Jawa Timur selama ini belum menjangkau dua hal. Yakni, membangun pariwisata berbasis desa serta meningkatkan kualitas kreasi melalui pemberdayaan masyarakat.

Tak hanya itu, dia juga menyiapkan penguatan modal hingga promosi lewat digital. “Sehingga, nantinya bukan hanya menjadi konsumsi internal dalam negeri, namun juga hingga luar negeri,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Pokdarwis Tulungagung, Karsi Nero Sutamprin mengatakan, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) untuk sadar wisata sangat diperlukan. Terutama dalam hal memperbanyak pemandu wisata.

Hal ini dia sampaikan di acara pertemuan 40 pokdarwis se-Kabupaten Tulungagung dengan Cawagub Puti Guntur Soekarno di tempat wisata Gunung Budheg, Tulungagung.

“Memang harus ada standarisasi di segala bidang, terutama SDM-nya. Apalagi, saat ini Tulungagung sudah dilirik baik wisatawan nasional maupun internasional,” kata Karsi.

Pihaknya mendukung program Gus Ipul-Mbak Puti yang berfokus dalam penguatan SDM serta standarisasi guiding. “Satu destinasi wisata idealnya memiliki dua guide bersertifikat,” sebutnya. (sak)

Pentingnya Rekonsiliasi Jawa-Sunda untuk Kebhinnekaan

foto
Perlu tafsir ulang atas Perang Bubat. Foto: sportourism.id.

Gubernur Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kembali melakukan inovasi dalam memperkuat kebhinekaan Indonesia. Satu demi satu Warisan Kolonial Belanda yang melemahkan dan memecah belah Indonesia direkonstruksi dan diruntuhkan keberadaannya.

Sebelumnya telah berhasil melakukan tafsir ulang cerita kepahlawanan dalam setiap lakon yang dipentaskan dalam kesenian ludruk, ketoprak dan drama. Dalam setiap ceritanya berujung pada kemenangan tokoh pahlawan seperti Sarip Tambak Oso, Untung Surapati, Cak Durasim dan Supriyadi yang pada akhirnya menang melawan kolonialisme Belanda dan Jepang.

Kini Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, akan menggelar rekonsiliasi Jawa dan Sunda pasca Perang Bubat yang memiliki kecenderungan memecah kebhinekaan bangsa.

Perang Bubat adalah perang antara kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda yang terjadi pada abad ke-14 tepatnya pada tahun 1357 yang diakibatkan kesalahpahaman antara Gajah Mada (Patih Majapahit) dan Raja Linggabuana (Raja Sunda) dalam mengartikan sebuah pertemuan.

Dalam sejarah yang ditulis dalam Kitab Pararaton dan Kidung Sunda, Hayam Wuruk (Raja Majapahit) ingin mempersunting Diah Pitaloka (Putri Kerajaan Sunda) untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda yang tidak masuk dalam wilayah Majapahit.

Gajah Mada menghadang utusan Raja Linggabuana di wilayah Bubat demi menaklukkan Nusantara yang didengungkan melalui Sumpah Palapa untuk menyatakan tunduknya Kerajaan Sunda dibawah Kerajaan Majapahit.

Raja Sunda menolak, dan alhasil iring-iringan yang saat itu juga membawa Diah Pitaloka gugur ditangan Gajah Mada.

Sejak saat itulah muncul mitos bahwa tidak boleh orang Sunda menikah dengan orang Jawa. Meskipun mitos tersebut sudah tidak lagi menjadi bagian besar dari masyarakat, namun kepercayaan tersebut masih saja muncul di kalangan masyarakat tradisi dan budayawan.

Begitupula dalam aspek pembangunan hingga 2017, tidak ada nama Jalan Hayam Wuruk, Jalan Majapahit dan Jalan Gajah Mada di Jawa Barat dan tidak ada nama Jalan Siliwangi dan Jalan Pajajaran di Jawa Timur.

Menurut Rangga Bisma Aditya, budayawan asal Blitar, narasi perang Bubat yang menyesatkan ini harus segera dihentikan. Hal ini tidak sejalan dengan semangat Bhineka Tunggal Ika yang kita dengung-dengungkan Pemerintah Indonesia.

“Mempercayai narasi perang bubat akan membuat kita tenggelam dalam sejarah kelam bangsa, dimana saat itu Pemerintah Kolonial Belanda-lah yang memunculkan isu perpecahan ini,” katanya kepada TimurJawa.com.

Hal ini menurut Rangga, didasarkan pada tidak adanya prasasti atau relief sebagai sumber data sejarah primer yang memuat cerita Perang Bubat. Bahkan dapat dikatakan bahwa cerita Perang Bubat yang terkandung dalam Kitab Pararaton dan Kidung Sunda adalah cerita fiktif yang diciptakan untuk memecah belah Nusantara.

“Kitab Pararaton baru ditulis pada abad ke-15, tepatnya 117 tahun setelah peristiwa perang Bubat. Begitupula Kidung Sunda yang baru ditulis pada abad-19 oleh Sejarawan Belanda CC Berg. Tidak mungkin sebuah cerita akan ditulis secara detail, jauh setelah peristiwa itu terjadi. Pasti terdapat motif dibalik maksud dan tujuan agar Jawa dan Sunda tidak dapat bersatu,” imbuh rangga.

Rangga menambahkan, motif munculnya Kidung Sunda yang ditulis CC Berg pada tahun 1927 dan dan terjemahan Bahasa Belandanya di tahun 1928 misalnya, sangat dekat dengan momentum Sumpah Pemuda yang disinyalir agar Bangsa Indonesia tidak bersatu.

“Terlebih lagi Kidung Sunda pernah menjadi bahan ajar wajib di sekolah-sekolah Belanda seperti Algemeene Middelbare School (AMS). Hal ini mengindikasikan memang belanda menjadikan peristiwa Perang Bubat sebagai politik de vide at impera alias politik adu domba bangsa Indonesia,” ujar Rangga.

Kini komitmen untuk mengupayakan rekonsiliasi sejarah perpecahan Jawa dan Sunda berlanjut dipundak Gubernur Jawa Timur yang akrab disapa Pakde Karwo.

Melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, dan Gubernur Jogjakarta, Sultan Hamengkubuwono X akan melakukan rekonsiliasi kebudayaan yang akan digelar 6 Maret 2018 di Surabaya.

Rekonsiliasi ini nantinya akan melibatkan Prof Dr Agus Aris Munandar dari UI Jakarta, Prof Dr Hariono dari UM Malang, Dr Undang Ahmad dari Unpad Bandung serta Prof Dr Aminudin Kasdi dari Surabaya.

Memang rekonsiliasi ini bukan yang pertama kali digelar, Oktober 2017 Gubernur DIY, Sultan Hamengkubuwono X telah meresmikan Jalan Ring Road Utara, Selatan dan Barat Jogjakarta dengan nama Jalan Siliwangi, Jalan Hayam Wuruk, Jalan Pajajaran dan Jalan Brawijaya.

Selain itu di Bandung, Jawa Barat pada tahun 2018 ini akan dipersiapkan perubahan nama dari Jalan Kopo menjadi Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Sentot Alibasya akan diganti dengan nama Jalan Majapahit. (ist)