Sumenep Fokus Kembangkan ‘Desa Keris’

foto
Perajin keris di Desa Aeng Tong Tong, Kecamatan Saronggi, Sumenep. Foto: Istimewa.

Pemerintah Kabupaten Sumenep akan fokus mengembangkan Desa Aeng Tong Tong, Kecamatan Saronggi atau ‘Desa Keris’ sebagai objek wisata minat khusus.

“Desa Aeng Tong Tong memang akan diformat sebagai objek wisata minat khusus. Di desa ini terdapat ratusan perajin yang memproduksi keris setiap hari,” kata Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Sumenep, Sufiyanto di Sumenep, Selasa.

Aeng Tong Tong adalah salah satu desa di Sumenep yang selama ini terkenal sebagai sentra pembuatan atau produksi keris.

Sekitar 450 warga Desa Aeng Tong Tong menjadi perajin keris dan jumlahnya terbanyak di Sumenep dan Indonesia.

Aktivitas ratusan perajin keris di Desa Aeng Tong Tong itu merupakan pemandangan lazim sehari-hari dan sejak beberapa tahun lalu telah menjadi salah satu objek yang dikunjungi wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara.

Pemerintah daerah pun serius melirik potensi tersebut guna dikembangkan sebagai objek wisata minat khusus.

Pada 2017, Pemkab Sumenep memfasilitasi perajin dan warga setempat untuk menggelar jamas keris dan kirab pusaka keraton 2017.

Tahun ini, pemerintah daerah menetapkan Desa Aeng Tong Tong sebagai Desa Keris sebagai bentuk penghormatan sekaligus harapan agar semua elemen masyarakat setempat mempertahankan pelestarian keris.

Pemerintah daerah pun memfasilitasi terbentuknya kelompok sadar wisata (pokdarwis) di desa tersebut guna mempercepat tumbuhkembangnya kesadaran, pemahaman, dan budaya wisata bagi warga setempat.

Selama ini, warga Desa Aeng Tong Tong sudah terbiasa menerima atau melayani wisatawan yang datang ke desanya untuk melihat aktivitas pembuatan keris.

“Alhamdulillah, warga Desa Aeng Tong Tong memiliki pemahaman sama untuk mengembangkan potensi khas desanya sebagai objek wisata. Pokdarwis bisa menjadi tempat berhimpun mereka,” kata Sofi, sapaan Sufiyanto, menerangkan. (ant)

Arek Mojokerto Zaman Now Lestarikan Ludruk

foto
Ludruk Anak bertajuk ‘Legenda Watu Blorok’ pukau pengunjung TMII. Foto: Beritasatu.com.

Panggung Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur di TMII Jkaarta tampak berbeda dari biasanya. Sebab ajang apresiasi ini diisi para seniman muda.

Penonton terpukau dan terharu menyaksikan kreativitas anak-anak generasi gadget melek internet ini — melalui ungkapan (ekspresi), dan keunikan individu -dalam interaksi pentas Ludruk Anak, bertajuk ‘Legenda Watu Blorok’.

“Saya berharap kemampuan ini dapat menginspirasi anak-anak lain. Seni Ludruk lestari, bertahan, dan tetap ada. Tidak hanya dikenal dan berkembang di Mojokerto dan Jawa Timur. Tapi bisa mendunia seperti Kabuki, seni teater klasik Jepang,” ungkap inisiator pertunjukan, Kukun Triyoga, kepada BeritaSatu.com di Anjungan Jawa Timur, TMII, Jakarta, Minggu (08/04).

Di saat kesenian berpredikat warisan budaya bangsa ini dipandang miskin pewaris, justru sekelompok anak dari SD Negeri Gedongan 2 Kota Mojokerto, Jawa luar biasa memukau mementaskan Ludruk. Tak satu pun pemain orang dewasa. Dari mulai pelakonnya; aktor, aktris, pengrawit (pemusik), sinden (penyanyi), hingga pembawa acaranya semuanya anak-anak.

Menurut Kukun, tak banyak kelompok teater anak yang menekuni seni Ludruk. Di Mojokerto, di Jawa Timur atau di Indonesia, bahkan dunia, mungkin cuma ada satu grup yang ada di Mojokerto ini. “Kami berharap Pemerintah konsisten mendukung, agar kesenian Ludruk tidak punah, seperti nasib kesenian tradisional lainnya,” harap Kukun.

Sejarah menunjukkan, Ludruk menjadi alat perjuangan bangsa. Pada masanya Ludruk dijadikan sebagai alat perlawanan terhadap penjajah Belanda dan Jepang. Ludruk juga tak lepas dari perkembangan kondisi politik. Sarana menyampaikan kritik sosial.

Penampilan Ludruk Anak yang diusung Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Mojokerto ini, sekaligus menjawab bahwa kesenian Ludruk tidak akan pernah mati. Walau panggung atraksi untuk mereka sulit dicari. Para seniman bahkan mengaku kerap ‘ngos-ngosan’ mempertahankan warisan syarat nilai-nilai luhur ini.

“Alhamdulillah di Mojokerto masih ada Ludruk Arek (anak-anak). Kita memang tidak cukup mengatakan lestarikan-lestarikan, tapi harus berbuat. Kehadiran kami di Anjungan Jawa Timur TMII, sebagai bukti bahwa Pemerintah Daerah mendukung kesenian Ludruk,” ujar Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Mojokerto, Subambihanto.

Selanjutnya, Sub Bidang Pengelolaan Anjungan Badan Penghubung Daerah Provinsi Jawa Timur, telah menyiapkan penampilan kesenian dari daerah lainnya. Tampil Duta Seni Budaya dari Pasuruan (15 April 2018) dan Bondowoso (22 April 2018). Selain itu, ada pergelaran paket khusus Tari Jawa Timuran ‘Sang Guru’ dalam rangka memperingati Hari Tari Dunia (28 April 2018), serta penampilan duta seni dari Tuban (29 April 2018) mendatang.

Pergelaran Ludruk Anak ‘Legenda Watu Blorok’ melibatkan lebih dari 50 anak-anak sekolah dasar. Ide cerita dan skenario, ditulis Agus dan Tanti. Penata Musik, Adang, Penata Tari Ari, Setting Panggung dan Artistik, Sasmito, dan Darmaji. Sementara penyutradaraan dipercayakan kepada Kukun Triyoga.

‘Legenda Watu Blorok’ menceritakan istri Sinuwun Brawijaya dari Kraton Majapahit, yang sedang hamil dan ‘ngidam’ hati Kijang Kencono. Raden Brawijaya selanjutnya mengutus Wiro Bastam untuk berburu mencari hati Kijang Kencono, dengan dibekali Pusaka Tombak Kiyai Gobang.

Malang bagi Wiro Bastam, tombak yang tertancap di tubuh Kijang justru terbawa lari karena hewan buruan tersebut tidak langsung mati. Akibatnya Wiro Bastam tidak berani kembali ke Kraton Majapahit.

Cerita ini sangat menarik ditampilkan dengan kemasan sendratari (seni drama, dan tari) dengan iringan musik dan lagu. Semua dilakukan pelajar kelas III hingga kelas VI SD Negeri Gedongan 2 Kota Mojokerto.

Penampilan mereka sekaligus membuktikan bahwa mereka bukanlah kids zaman now yang hanya hobi nyinyir, dan bersolek, atau sekadar narsis di media sosial. Mereka adalah generasi penyangga budaya, yang membuat kesenian Ludruk lebih fenomenal, sebagai kesenian Indonesia yang mendunia. (ist)

Puti: Dorong Wisata Candi, Manfaatkan Teknologi

foto
Puti Guntur Soekarno bersama warga saat mengunjungi Candi Pari di Sidoarjo. Foto: Istimewa.

Puti Guntur Soekarno yang berlaga di Pilgub Jawa Timur terus mendorong tumbuhnya desa wisata. Calon Wakil Gubernur nomor urut 2 itu mengajak generasi milenial mengangkat wisata yang berbasis situs masa lalu.

“Salah satunya candi atau bangunan pubakala lain. Jawa Timur menyimpan banyak situs sejarah, karena pada masa lalu di provinsi ini pernah berjaya kerajaan-kerajaan seperti Kahuripan, Singasari, Majapahit, Blambangan dan sebagainya,” kata Puti, Minggu (22/4)

Menurut dia, desa wisata biasanya diangkat dengan basis situs bangunan masa lalu, seni kebudayaan, kehidupan adat istiadat dan daya tarik alam. “Kemarin saya mengunjungi Candi Pari di Sidoarjo, peninggalan Majapahit di era Raja Hayam Wuruk. Kawasan itu bisa tumbuh menjadi desa wisata,” ujarnya, dikutip BeritaJatim.com.

Salah satu perhatian mantan anggota DPR RI Komisi membidangi Pariwisata ini, setiap kampanye ke daerah adalah mengenali potensi wisata. Ia juga aktif bertemu dengan kelompok-kelompok sadar wisata.

“Generasi milenial menyukai travelling, eksplorasi dan road trip. Candi-candi di Jatim bisa dirangkai menjadi paket perjalanan. Di Blitar ada Candi Penataran. Di Malang masih terawat sejumlah candi. Begitu pula di Trowulan Mojokerto, pusat Majapahit. Juga di beberapa daerah lain,” ungkapnya.

Dengan mengunjungi candi, kata Puti, generasi milenial dan masyarakat pada umumnya tidak hanya mengenang kejayaan masa lalu, tetapi juga mengenali falsafah, sejarah dan kebijaksanaan nenek moyang. “Karena candi di masa lalu dibangun oleh pemerintah kerajaan, dengan tujuan atau momentum tertentu, termasuk kepentingan spiritual,” tutur cucu Bung Karno ini.

Bersama Calon Gubernur Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Puti telah menyusun program kerja ‘Seribu Dewi’ atau Seribu Desa Wisata. Program ini disusun untuk mengangkat potensi wisata lokal dan mengungkit ekonomi baru di masyarakat.

“Salah satu isinya, kita bikin model gaya baru membantu pemasaran desa wisata. Misalnya candi, kita bisa manfaatkan teknologi augmented reality atau AR berbasis aplikasi interaktif, yang memadukan obyek virtual berupa teks, gambar, animasi ke dunia nyata. Ini mudah untuk menyasar kaum milenial. Bisa juga untuk pembelajaran di sekolah,” ujar dosen tamu di Kokushikan University Jepang ini.

Gus Ipul-Puti memimpikan desa-desa wisata akan terhubung dengan pusat-pusat ekonomi sekitarnya. Sejumlah desa wisata, misalnya, begitu areanya dibuka dan dipopulerkan, akan mengungkit pergerakan ekonomi warga setempat.

“Sekarang dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, media sosial, social messenger, desa-desa wisata bisa cepat dikabarkan dan diketahui masyarakat luas. Tentu fasilitas dan kapasitas kelompok warga pengelolanya juga kita tingkatkan,” tegas putri tunggal Guntur Soekarnoputra ini.

Candi Pari yang dikunjungi Puti Guntur terletak di Porong, Sidoarjo. Candi ini peninggalan Hayam Wuruk, raja terbesar Majapahit. Bersama warga setempat, Puti mendiskusikan pengembangan Candi Pari sebagai destinasi wisata di Sidoarjo. “Bisa juga ditunjang dengan mengungkit tumbuhnya pelaku UMKM di sekitar sini, jika tingkat kunjungan masyarakat signifikan,” pungkasnya. (ist)

Seniman India Ramaikan Malang Artnival 2018

foto
Pembukaan Malang Artnival tahun 2017 lalu. Foto: Humas.malangkota.go.id.

Pemkot Malang kembali menggelar Malang Artnival. Acara kesenian yang menjadi wadah berbagai aliran kesenian itu bakal digelar 21 April mendatang. Tak hanya menampilkan kesenian lokal saja, penyelenggara kegiatan ini juga menghadirkan kesenian luar negeri.

Kabid Kebudayaan Disbudpar Kota Malang, Achmad Supriadi, SE MM mengatakan delegasi kesenian asal luar negeri yang sudah memastikan hadir yakni dari India.

“Kegiatan ini sudah digelar sebanyak tiga kali. Pada tahun 2016 gabungan seniman Thailand dan Jepang. Tahun 2017 seniman dari Cina,” jelasnya kepada Malang Post.

Sesuai tujuannya, Malang Artnival digelar sebagai bagian dari diplomasi budaya. Sehingga kebudayaan dan seni Malang dikenal hingga ke luar negeri.

Lantas mengapa India? Supriadi menjelaskan awal mulanya Kota Malang menerima undangan dari Kedubes India untuk mengirimkan perwakilannya ke India mempromosikan sektor pariwisata dan budaya. Ternyata mereka sangat tertarik dengan apa yang ditampilkan.

“Kemudian kita minta agar mereka (India) datang kesini menampilkan kebudayaannya dan ternyata disanggupi,” jelasnya.

Bahkan negara yang terkenal akan Taj Mahalersebut menjadikan kunjungan budayanya selama satu pekan.

“Oleh karenanya acara tersebut dinamai Pekan Budaya India,” ucapnya. Terkait kunjungan India, pihaknya tidak menggunakan anggaran dari APBD Kota Malang.

“Kita hanya fasilitasi untuk akomodasi dan penginapan saja bagi seniman yang turut serta pada 21 April, untuk di luar tanggal tersebut ditanggung India,” jelasnya.

Yang menarik adalah nantinya Malang Artnival 2018 akan diadakan di tempat yang berbeda. Yaitu di Simpang Balapan.

Pada tahun-tahun sebelumnya digelar di Taman Krida Budaya Jawa Timur dan depan Balai Kota Malang. “Kita ingin ada suasana baru,” katanya.

Pada acara tersebut rencananya seniman India dan seniman lokal Kota Malang akan berkolaborasi bersama. “Ada sekitar 12 hingga 15 seniman India dan 200 seniman lokal,” paparnya.

Untuk kolaborasinya, dia mengatakan tidak ada masalah. “Terkait permasalahan bahasa sudah diatasi karena mereka (India) juga membawa penerjemah,” tandas dia.

Ia mengajak masyarakat Kota Malang menyaksikan acara spektakuler tersebut. Acara yang sama pun baru akan digelar tahun depan. “Jadi sayang sekali untuk dilewatkan,” katanya. (mp)

Kuliner Khas Tengger dalam Menu Sehari-Hari

foto
Nasi Aron cocok bagi penderita diabetes. Foto: Timesindonesia.co.id.

Indonesia memiliki peluang besar dengan memperkuat masyarakat untuk mencintai kuliner lokal, sehingga dalam bersaing kuliner lokal bisa lebih siap dan setara di era global sekarang ini.

Selain berkontribusi memperkuat ketahanan pangan dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri, masa depan bisnis kuliner dengan menu-menu tradisi yang beragam dari seluruh wilayah Indonesia diprediksi terus berkembang, mampu bersaing dan cukup diminati oleh konsumen di pasar global.

Konsep kuliner tradisional atau kuliner lokal juga menunjukkan bahwa masyarakat adat memiliki kedaulatan pangan. Jadi ketika terjadi krisis pangan, masyarakat adat tidak merasakan itu karena mereka memiliki pangan khas untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

Melalui kuliner lokal, seperti dilaporkan Jawatimuran.net, masyarakat adat ingin meneguhkan pesan bahwa diversifikasi pangan menjadi bagian penting untuk menjamin kedaulatan pangan masyarakat adat.

Berkembangnya bisnis kuliner lokal di berbagai wilayah di Indonesia secara langsung dan tidak langsung menjadi pendorong terciptanya lapangan kerja yang pada akhirnya mendorong pula pertumbuhan ekonomi masyarakat dan akan berpengaruh pada ketahanan pangan masyarakat secara keseluruhan.

Menurut pakar kuliner William Wongso tidak ada yang bernama makanan Indonesia, yang ada hanyalah masakan atau makanan daerah. Hal ini disebabkan tidak adanya makanan yang bisa dijadikan simbol kuliner Indonesia, karena perbedaan antara makanan di satu daerah dengan daerah lain begitu jauh. Adanya keberagaman itulah yang menjadi kekuatan khasanah kuliner Indonesia.

Salah satu kekuatan khasanah kuliner Indonesia adalah kuliner lokal yang ada di masyarakat etnis Tengger. Survei lapangan dilakukan tim Universitas Negeri Malang pada Februari-Mei 2017 di Desa Ngadas dan Gubugklakah (Malang), Desa Argosari dan Ranupani (Lumajang), Desa Ngadisari dan Wonokerto (Probolinggo) serta Desa Tosari dan Wonokitri (Pasuruan).

Beberapa kuliner lokal etnis Tengger berdasarkan klasifikasi makanan pokok, hidangan sayuran, lauk-pauk, kondimen, jajanan (snack) dan minuman ada sekitar 105 jenis masakan etnis Tengger. Terdiri atas 5 jenis makanan pokok, 29 jenis hidangan sayuran, 14 jenis lauk-pauk, 14 jenis kondimen (sambal), 37 jajanan, 2 sepinggan dan 4 minuman.

Nasi aron, gerit, gerit kering dan ampok/empok sebagai makanan pokok pada dasarnya merupakan istilah untuk produk-produk yang dihasilkan dari rangkaian proses pembuatan nasi aron.

Nasi Aron diolah dari jagung putih yang tumbuh di kawasan Bromo. Jagung ini panen 4-5 bulan sekali. Dibandingkan jagung lain yang berkisar tiga bulan, masa panen jagung putih ini lebih lama. Dalam proses pembuatannya, jagung putih ini dipipil terlebih dahulu. Kemudian ditumbuk sampai setengah halus dan direndam ke air selama kurang lebih empat hari, lalu dijemur hingga kering.

Selanjutnya, jagung itu ditumbuk lagi hingga halus dan disaring. Kemudian dikukus 30 menit, setelah itu diangkat dan disiram dengan air panas serta diuleni atau diaroni. Selesai diaroni, dikukus lagi tiga puluh menit lamanya hingga matang.

Nasi aron dapat berbentuk balok atau gumpalan padat dan dapat diiris untuk dimakan bersama-sama sayur semen (semian tanaman kubis setelah dipanen), ikan asin atau kulupan lainnya.

Sedangkan Gerit merupakan istilah untuk nasi aron yang telah diratakan (dipesar). Gerit biasanya dijual dalam bentuk kering dan dapat disimpan lama. Gerit kering yang dibasahi dengan air panas (didoni) kemudian dikukus disebut Ampok atau Empok yang berupa nasi halus atau nasi jagung.

Walaupun sebagai makanan pokok, nasi aron kering maupun gerit kering tidak selalu dibuat sendiri oleh masyarakat Tengger, tetapi dipasok dari daerah lain yang memproduksi secara komersial, seperti Desa Duwet, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Selain nasi aron, masyarakat Tengger juga mengonsumsi nasi dari beras, yang kadang-kadang sebagai campuran nasi ampok.

Pada saat paceklik, sebagian masyarakat Tengger juga memanfaatkan umbi-umbian sebagai makanan pokok, seperti misalnya nasi ganyong.

Hidangan sayuran masyarakat etnis Tengger didominasi oleh sayuran yang ada di lingkungan sekitar mereka. Salah satu sayuran yang cukup populer adalah sayur semen dengan berbagai variasinya mulai dari kulup semen (direbus saja), sayur bening sampai dibuat campuran sayur jawa (jangan jawa).

Demikian juga hidangan sayuran yang berbahan dasar kentang, kubis, labu siam, buncis (ucet) yang cukup bervariasi, walaupun tidak terlalu banyak ragam olahannya.

Bahkan ada beberapa jenis sayuran daun yang tidak ditemukan di daerah lain, tetapi menjadi menu makanan sehari-hari masyarakat Tengger antara lain hidangan sayuran dari daun ranti, daun ketirem, daun lobak, daun bekuka, daun lounghsiem. Jamur khas Tengger yang biasa dibuat hidangan sayuran adalah jamur grigit dan jamur pasang. (ist/Sumber: Buku Inovasi Belajar Responsif Budaya Lokal)

Agus Koecink Dorong ‘Konektivitas’ Seniman

foto
Agus Koecink bersama I Made Somadita di House of Sampoerna. Foto: Koleksi HoS.

Pelukis yang juga kurator seni rupa Agus Koecink Sukamto mendorong konektivitas antarseniman asal Jawa Timur dengan seniman dari daerah lain, sehingga selalu tercipta ide-ide baru dalam berkarya, yang nantinya terbuka akses berpameran ke luar negeri.

Pria kelahiran Tulungagung 1967 itu sedang menggelar pameran “The Color of Life” bersama pelukis asal Denpasar, Bali, I Made Somadita, di Galeri Seni House of Sampoerna Surabaya, 6 – 28 April 2018.

“Saya bertemu dengan Somadita saat pameran bersama di Korea beberapa tahun lalu dan sejak itu tertarik untuk mengagendakan pameran bersama di beberapa kota di Indonesia, yang dimulai dari Galeri House of Sampoerna Surabaya ini,” ujarnya saat ditemui Antara Jatim di sela mempersiapkan pamerannya di Galeri House of Sampoerna Surabaya.

Proses pertemuannya dengan I Made Somadita di Korea yang terus berlanjut sampai sekarang itulah yang dia sebut sebagai konektivitas antarseniman. Keduanya pun saat itu berpameran ke Korea atas ajakan dari seniman senior asal Ubud, Bali, Antonius Kho.

“Ada banyak seniman dari berbagai daerah di Indonesia yang waktu itu diajak Antonius Kho berpameran di Korea. Sampai sekarang dengan banyak seniman dari berbagai daerah itu kami masih terhubung satu sama lain,” ujarnya.

Bagi Agus Koecink, Korea adalah negara kedua dia berpameran, setelah sebelumnya juga pernah berpameran di Prancis atas koneksi dari Pusat Kebudayaan Prancis atau “Institut Francais d`Indonesie” (IFI) di Surabaya.

Sedangkan I Made Somadita telah mengikuti pameran bersama di banyak negara. Selain di Korea, pria kelahiran Tabanan, Bali, tahun 1982 itu, telah berpameran di Malaysia, Thailand, Filipina dan Jerman.

Somadita menilai ada kesamaan nasib antara seniman Bali dan Jawa Timur, yaitu sama-sama kesulitan akses untuk menggelar pameran di luar negeri.

“Beda dengan seniman Jogja dan Bandung yang telah terbentuk sistem sehingga terbuka akses yang lebih mudah untuk bepameran ke luar negeri,” katanya dikutip Antara Jatim.

Sedangkan seniman Bali, lanjut dia, diuntungkan dengan banyaknya turis asing. “Tinggal cara kita menggiring para turis asing untuk datang menyaksikan karya-karya kita yang tersimpan di studio. Kalau beruntung, terbukalah akses untuk berpameran ke luar negeri,” ujarnya.

Sepakat dengan Agus Koecink, Somadita menyebut intinya adalah memupuk konektivitas antarseniman dan dia meyakini dari situlah nantinya terbuka akses untuk berpameran di luar negeri.

Agus Koecink menandaskan, seniman memang tidak bisa berdiam diri di rumah. Dia harus bergaul dengan seniman lainnya dari berbagai daerah, berproses bersama-sama, dan menggalang pameran bersama.

Dosen seni rupa di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya ini menambahkan, yang jauh lebih penting dari itu adalah seniman harus berkarya.

“Karena tugas seniman adalah berkarya dan karyanya tidak boleh ikut-ikutan berpolitik. Seleksi untuk berpameran ke luar negeri salah satunya selalu dilihat dari karyanya terlebih dahulu,” tuturnya. (ant)

Puti dan Soimah Menari di Padepokan Seni Kirun

foto
Puti Guntur Soekarno bersama Soimah diatas panggung Padepokan Seni Kirun. Foto: Istimewa.

Acara mangayu bagyo di peringatan ulang tahun ke-32 Padepokan Seni Kirun (PadSKi), Rabu (5/4) malam, dimanfaatkan Cawagub Jatim Puti Guntur Soekarno untuk sejenak melepas kepenatan setelah seharian kampanye keliling Ponorogo.

Di acara yang dipadati ribuan warga Desa Bagi, Kecamatan Madiun, Kabupaten Madiun dan sekitarnya ini, Puti ikut berbaur dengan para maestro bintang panggung kesenian Jawa yang rata-rata telah berusia di atas 60 tahun, menari di atas panggung.

Saat sesi penampilan tari Gambyong dengan iringan lagu ‘Perahu Layar’ oleh para mantan primadona panggung, tuan rumah yakni pelawak kondang Kirun menjemput Puti Guntur yang duduk bersebelahan dengan Cagub Saifullah Yusuf.

Puti diminta untuk ikut menari tarian khas Jawa itu. Soimah yang juga hadir, diminta Kirun ikut menemani cucu Presiden pertama RI tersebut. Keduanya pun mengikuti alunan musik dengan gemulai menari bersama para maestro.

Tak pelak, tampilnya Puti disambut aplaus meriah dari undangan dan penonton yang hadir di gedung pentas seni yang cukup luas tersebut.

Selain lagu ‘Perahu Layar’ yang merupakan lagu kesukaan mantan anggota DPR RI dua periode itu, Puti dan Soimah serta para maestro masih melanjutkan tariannya dengan iringan tembang ‘Ojok Diplerok-i’ hingga usai.

Di saat tengah mereka menari, Gus Ipul diminta untuk naik ke panggung. “Saya senang sekali menari. Sejak kecil saya sudah bisa menari,” ucap Puti usai acara.

Baginya, ikut memeriahkan ultah padepokan milik Kirun yang juga dihadiri dalang Ki Manteb Sudarsono serta para pelawak kondang itu untuk sejenak melepas kepenatan. “Malam ini buat rileks dulu, setelah mulai pagi sampai sore aktivitas padat,” ujarnya.

Kehadiran Puti Guntur menemani Gus Ipul di tengah itu menjadi pusat perhatian ribuan warga yang hadir. Puti datang didampingi Bupati Ngawi Budi ‘Kanang’ Sulistyono, Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jatim Sri Untari, serta Cabup Magetan Miratul Mukminin.

Pada acara ini sejumlah seniman senior juga hadir. Seperti Marwoto, Cak Yudho, Sasmitho, Cak Hunter dan beberapa seniman ludruk lainnya. Juga ada beberapa seniwati berskala nasional, mulai dari Yati Pesek hingga Soimah.

Di acara itu, Kirun menyatakan dukungannya terhadap pasangan Gus Ipul-Mbak Puti. Menurut seniman yang memiliki nama asli Muhammad Syakirun ini, Gus Ipul telah dianggap sebagai sahabat oleh para seniman Jawa Timur.

Dia optimistis, pasangan nomor urut dua ini dapat membawa kemakmuran untuk rakyat Jawa Timur. “Yen seduluran karo Gus Ipul, Insya Allah tentrem uripe, Jawa Timur makmur apa-apane. (Kalau mau bersahabat dengan Gus Ipul, tentram hidupnya, makmur semuanya),” ujar Kirun. (ist)

Sumur Ambles dan Mitos Kutukan Lembu Sura

foto
Salah satu sumur milik warga yang ambles di Kediri. Foto: Jatim Newsroom.

PUKUL 02.00 DINI HARI, tidur Sunarti dikejutkan oleh gemuruh suara dari sumur di bagian belakang rumahnya. Begitu diperiksa, alangkah kagetnya, air bercampur lumpur tiba-tiba naik dari dalam sumur. Dinding sumur yang terbuat dari batu bata pun serentak runtuh. Bersamaan dengan itu, dinding rumah retak.

Peristiwa aneh itu tidak hanya dialami keluarga Sunarti. Dalam rentang seminggu terakhir, sejak 24 April 2017, ada 152 sumur yang tiba-tiba ambles di Desa Manggis Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri. Warga tidak tahu penyebabnya. Pun tidak ada gejala aneh sebelumnya. Sumur begitu saja ambles.

Kepala Desa Manggis Mujiran mengatakan bahwa jumlah sumur di Desa Manggis yang terbagi di 5 dusun, yakni Dusun Nanas, Jambean, Dorok, Manggis dan Ringinbagus. Dari 5 dusun terdapat sebanyak 1.198 sumur. Dari jumlah tersebut terdapat 957 sumur yang berkondisi normal dan 110 sumur keruh.

Sebagai orang Jawa, amblesnya sumur yang secara tiba-tiba dan dalam jumlah yang banyak, itu dipahami sebagai tanda. Ketika hal-hal aneh terjadi dan sulit diterima oleh nalar manusia, ingatan dan bayangan pun melambung ke irasionalitas. Tentang mitos, tentang kegaiban, dan tentang kehendak Allah SWT.

Kediri. Masa silam wilayah ini lekat dengan keberadaan Raja Jayabaya yeng memerintah kerajaan Kadiri alias Daha. Seorang raja waskita yang menelurkan banyak ramalan. Beragam ramalan yang masih sering dipakai untuk menjelaskan berbagai peristiwa puluhan atau bahkan ratusan tahun setelahnya, bahkan sampai saat ini.

Kediri juga mengingatkan pada akhir dari petualangan sosok Lembu Sura. Konon, jasad Lumbu Sura dibuang ke kawah gunung Kelud. Dan sebelum meninggal, Lembu Sura mengeluarkan kutukan dahsyat: Yoh, Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping-kaping, yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, lan Tulungagung dadi kedung.

Dalam versi yang lain, kutukan dari Lembu Sura berbunyi seperti ini: Seksenono yo, para danyang sing mbaurekso gunung Kelud, iki yen Kelud njeblug, Blitar bakale dadi latar, Tulungagung bakale dadi kedung, Kediri bakale dadi kali, Sidokare (Sidoarjo) bakale dadi rawa, lan Ujung Galuh (Surabaya) mbalik nyang asale.

Riwayat Lembu Sura memang kental dengan kisah tentang perjuangan, pengkhianatan, cinta, dan putus asa. Kesemuanya lantas terkubur dalam mistis gunung Kelud.

Satu versi mengisahkan bahwa Lembu Sura adalah salah satu pengikut setia Raden Wijaya yang turut serta berjibaku mendirikan kerajaan Majapahit. Suatu ketika, oleh sebab ketidakpuasan, Lumbu Sura memberontak. Dia dihadapi oleh mahapatih Gajahmada.

Pasukan Majapahit yang dipimpin Gajahmada mengejar Lembu Sura sampai ke lereng gunung Kelud. Konon, kehebatan pertempuran antara Gajahmada dengan Lembu Sura ini sampai menggegerkan alam manusia dan alam lelembut. Akhirnya Lembu Sura tewas oleh tikaman keris Gajahmada. Dan, kutukan pun diikrarkan.

Pada versi yang lain, Lembu Sura digambarkan sebagai sosok setengah manusia setengah makhluk halus. Badannya manusia tetapi kepalanya lembu, maka bernama Lembu Sura.

Kisah bermula dari keinginan Lembu Sura melamar wanita cantik bernama Dewi Kilisuci putri dari Jenggolo Manik. Ada pula yang menyebut, Lembu Sura melamar wanita cantik bernama Dyah Ayu Pusparani, putri dari Raja Brawijaya. Intinya, lamaran Lembu Sura sebenarnya hendak ditolak namun dengan cara tidak langsung.

Lembu Sura boleh memperistri wanita pujaannya asalkan bisa membuat sumur sangat dalam di gunung Kelud. Waktunya dibatasi hanya semalam. Lembu Sura menyanggupi.

Semalaman Lembu Sura mengeduk tanah menggali sumur. Begitu sumur telah sangat dalam dan hampir selesai, sang raja ternyata memerintahkan para prajurit untuk melemparkan batu-batu ke dalam sumur. Padahal di dalam sumur, Lembu Sura masih berpeluh keringat dan terus menggali.

Melihat batu-batu jatuh dari atas dan bahkan mengenai tubuhnya, Lembu Sura menyadari kalau dia telah tertipu. Tapi apa daya. Dia terlanjur terjebak di dalam sumur. Dan batu-batu terus berjatuhan. Menjelang tewas, dalam amarahnya, Lembu Sura pun mengeluarkan kutukan.

Apakah fenomena 152 ambles berkaitan dengan kutukan Lembu Sura? Tidak ada yang bisa memastikan. Mitos hadir seperti bayang-bayang. Lain orang lain pula bayangannya. Beda arah cahaya berbeda pula wujudnya. Ketika cahaya datang dari segala penjuru, bayang-bayang justru sirna.

Lepas dari benar tidaknya, mitos senantiasa bergelibat dalam 3 dimensi sekaligus. Dimensi sosial, transendental, dan ekologi. Mitos bermanfaat untuk menjaga kerukunan di masyarakat. Mitos mengingatkan manusia akan kebesaran Sang Pencipta. Mitos juga mengajari manusia untuk selalu merawat lingkungan.

Tetapi sebagai makhluk Tuhan yang dianugerahi akal budi pekerti, manusia tentu saja tidak berhenti begitu saja mempercayai mitos secara apa adanya. Fenomena sumur ambles di Kediri saat ini sedang dalam penelitian Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung. Penelitian dilakukan bersama Ahli Tanah dari Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) Surabaya dan Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur.

Tim Tanggap Darurat Pergerakan Tanah PVMBG melakukan penelitian terhadap permukaan air, struktur tanah, amblesan dan busa yang ditimbulkan. Dari pengamatan sementara PVMBg, fenomena alam ini biasa terjadi di daerah vulkanik sekitar gunung. Hal ini sesuai karena Kecamatan Puncu, berada di Lereng Gunung Kelud.

PVMBG meneliti lapisan tanah untuk mengetahui seberapa besar rongganya. Kemudian bersama Tim Hydrogeologi, tim akan mengkaji seberapa besar aliran air di dalam tanah. Seluruh sumur ambles akan didata dan dipetakan. Kemudian dianalisis dan dimodelkan. (ist/sumber: Beritajatim.com)

Wayang Kulit Kekinian, Menyesuaikan Zaman Now

foto
Heppy menunjukkan wayang kulit kreasinya menyesuaikan zaman. Foto: Radar Jember/Dwi Siswanto.

Ternyata, di Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan Jember ada perajin wayang kulit yang kerap menerima pesanan dari dalang top. Inovasi baru Heppy Firman Handika inilah yang membuat wayang ‘kekinian’ ciptaannya itu mendapatkan hati dari para pemesannya.

Nama perajin wayang kulit ini adalah Heppy Firman Handika. Usianya baru 26 tahun, namun inovasinya dalam dunia pewayangan tak diragukan lagi.

Pria ini biasa membuat wayang di samping rumahnya. Bangunan sederhana itu sengaja dipakai sebagai ‘pabrik wayang’ oleh pemiliknya. Sekaligus, sebagai tempatnya menyimpan semua koleksinya. ”Saya hampir tiap hari ada di bengkel wayang ini,” seloroh laki-laki berperawakan tinggi besar ini, dikutip Jawapos.com.

Saat ditemui, laki-laki yang akrab disapa Heppy ini kebetulan sedang mengerjakan kerajinan wayang. Beberapa di antaranya sudah rampung. Namun, masih banyak tumpukan wayang setengah jadi yang belum dia apa-apakan. ”Alhamdulillah, sekarang lagi kebanjiran pesanan,” jelasnya.

Saat ini, dia memang sedang mendapat pesanan wayang dari salah satu dalang terkemuka di Jawa Tengah. Dia enggan menyebutkan namanya. “Tidak boleh disebut mas,” katanya sembari membereskan wadah cat yang sebelumnya dia gunakan untuk mewarnai wayang hasil kreasinya itu.

Namun yang berbeda, wayang kulit bikinannya tidak seperti wayang umumnya yang lebih menonjolkan tokoh pewayangan pada zaman kerajaan dulu. Wayang ciptaan Heppy lebih ke karakter zaman now yang ada di lingkungan sekitar.

Seperti tokoh Pak Haji, Satpam, sampai figur ibu-ibu rumah tangga. Wayang ini lebih mencolok dengan corak pakaian seperti yang digunakan manusia pada umumnya. Heppy menyebut, wayangnya itu adalah wayang kontemporer.

“Ini gaya kontemporer. Saya buat sesuai dengan apa yang diminta pemesan,” ujarnya. Beberapa memang sengaja dimodifikasi sendiri. Seperti tokoh pemuda desa yang dia buat seperti karakter seorang santri yang lengkap dengan sarung dan kopiah.

Selain karakter itu, rupanya Heppy pernah menciptakan wayang kulit berbeda lainnya. Seperti menaruh wajah si pemesan dalam karakter wayang. Bukan hanya ditempel, namun wajah si pemesan juga diukir menjadi karakter wayang. Semisal, dipasang di badannya Gatot Kaca.

”Konsep itu bisa dikatakan konsep kekinian,” selorohnya. Namun, belakangan Heppy jarang memproduksi wayang jenis itu. Alasannya, butuh waktu lebih lama. Apalagi, sekarang dia lebih konsentrasi pada wayang kulit kontemporer dan wayang kulit kreasi. ”Wayang kulit kreasi itu sama seperti wayang kulit pada umumnya, hanya saja dikreasikan dengan banyak warna,” jelasnya.

Heppy mengaku, tidak terkonsentrasi pada seni wayangnya saja. Dia lebih tertarik pada seni ukir dan menggambar karakter wayang itu sendiri. “Sebenarnya ketertarikan saya pada wayang itu ada pada seni ukir dan pewarnaan. Karena selain membuat wayang saya juga hobi melukis,” akunya. Tidak heran jika wayang kulit buatannya terlihat lebih berwarna.

Heppy mengakui, perkembangan zaman saat ini memang cenderung meninggalkan budaya wayang. Minimnya anak muda yang intensif mempelajari wayang juga jadi penyebabnya. Hanya sepersekian persen saja yang mau melestarikan wayang. Apalagi, di Kabupaten Jember hampir bisa dibilang tidak ada penerus perajin wayang kulit yang sedianya menekuni wayang dari hulu sampai ke hilirnya.

Bahkan, beberapa di antaranya hanya mengetahui secuil saja tentang seni membuat wayang. “Istilahnya hanya gaya-gaya saja,” ungkapnya.

Membuat wayang kulit tidak bisa dilakukan asal jadi saja. Perlu teknis khusus untuk mengukir dan memberi warna pada wayang itu sendiri. “Apalagi jika membuat wayang klasik, semua dilakukan dengan sangat detail,” tambahnya.

Baginya, wayang kulit saat ini sudah banyak mengalami perubahan. Para Dalang sekalipun sudah banyak berubah. Mereka menginginkan karakter wayang yang diterima oleh banyak kalangan. Sehingga, perajin seperti dirinya harus berani berubah agar tidak termakan zaman.

“Kalau persaingan sih minim ya. Tapi perajin wayang seperti saya ini perlu melakukan inovasi baru agar wayangnya tetap diminati oleh masyarakat,” ungkapnya. (jpr)

Ketika Komunitas dan Pegiat Budaya Berkumpul

foto
Ketika Komunitas dan Pegiat Budaya Berkumpul di Lamongan. Foto: Detik.com/Eko Sudjarwo.

Beberapa koleksi artefak cagar budaya ditampilkan di ruang pameran. Yoni, genta dan uang gobok, serta potongan candi dan juga foto situs dipamerkan puluhan komunitas pegiat sejarah dan budaya se-Jatim.

Kegiatan bertajuk ‘Jambore Komunitas Pelestari Sejarah Budaya Jawa Timur’ di Lamongan ini menelurkan sejumlah deklarasi kebudayaan Jatim. Apa isinya?

Para pegiat budaya dan sejarah se-Jatim ini selama 2 hari ini membicarakan sejarah dan budaya sebagai wujud kepedulian, keprihatinan serta perjuangan budaya Jawa Timur.

“Kami berasal dari lebih dari 20 komunitas di Jatim, jadi yang berkumpul di sini lebih dari 140 pegiat budaya dan sejarah dari seluruh Jatim,” kata Supriyo, panitia lokal dari Lamongan yang juga menyebut pertemuan ini agenda rutin tahunan pegiat budaya Jatim, awal pelan.

Priyo mengatakan pegiat budaya ini juga berkumpul untuk membangun sinergi dan langkah konkret dalam perjuangan melestarikan cagar budaya Jawa Timur yang masih terserak.

“Kegiatan ini untuk merumuskan konsep advokasi dan mendorong pelestarian Cagar Budaya di Jatim,” tuturnya, dikutip Detik.com.

Dalam kegiatan ini, lanjut Priyo, untuk Lamongan didukung oleh sejumlah pihak. Beberapa pihak diantaranya LPAPS, Pikulan, Laskar Airlangga dan Dahanapura serta Pemkab Lamongan.

Bahkan, selain diskusi mengenai sejarah dan budaya, lokasi acara yang berada di gedung Sasana Budaya Lamongan juga dijadikan tempat pameran sekaligus tempat Lokakarya dan Seminar.

“Beberapa koleksi artefak cagar budaya kami tampilkan di ruang pameran, ada yoni, genta dan uang gobok, serta potongan candi dan juga foto situs di Lamongan dan beberapa kota lain,” kata Priyo sambil menunjukkan kalau mereka juga memamerkan tosan aji atau keris dari berbagai daerah.

Sementara isi deklarasi di antaranya pegiat budaya dan sejarah siap melestarikan warisan budaya dan berkomitmen membangun sinergitas antara pemerintah dan masyarakat dalam pelestarian cagar budaya.

“Ini adalah berkumpulnya pegiat budaya dari generasi jaman old dan zaman now, guyup rukun dan berbekal semangat yang sama datang dari seluruh penjuru Jawa Timur,” tukasnya.

Sementara salah seorang pesrta, Nafis mengungkapkan, kegiatan ini untuk merumuskan konsep advokasi dan mendorong pelestarian cagar budaya. Nafis yang menjadi ketua panitia jambore ini mengaku diupayakan jambore ini menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang akan disampaikan ke pusat.

“Kerelaan menyisihkan waktu, tenaga, pikiran bahkan dana, mereka secara konsisten telah bekerja baik sendiri-sendiri maupun bersama komunitasnya untuk berkomitmen melestarikan cagar budaya,” pungkas Nafis. (dtc)