Cak Nur (Nurwiyatno), Cagub Jatim di kawasan Sunan Giri Gresik. Foto: Istimewa.
Dalam beberapa hari terakhir ini Cak Nur (Nurwiyatno), Calon Gubernur Jawa Timur 2018, mengunjungi wisata religi di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Timur. Wilayah Pantura merupakan wilayah yang menarik perhatian, lebih dari sekedar objek wisata religi.
Sebab di wilayah ini menyimpan banyak sejarah yang dapat dipelajari dari para wali sebagai penyebar agama Islam di Jawa Timur pada era abad 16. Juga potensi ekonomi yang masih bisa dikembangkan dalam rqngka peningkatan kesejahteraan perekonomian rakyat.
Hal inillah yang membuat Cak Nur mendatangi objek objek wisata religi seperti Sunan Ampel dan Sunan Bungkul (Surabaya), Maulana Malik Ibrahim, Sunan Giri, Makam Leran dan Bukit Surowiti (Gresik), serta Sunan Drajat (Lamongan) beberapa hari lalu.
Cak Nur melihat ada hal lebih yang bisa dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mengembangkan potensi wilayah Pantura kedepan.
Selain terdapat masyarakat yang berhubungan erat dengan pewaris budaya religi, di kawasan sekitar objek wisata, pemerintah daerah masih dapat berperan lebih untuk meningkatkan perekonomian rakyat. Beberapa program yang bisa dikerjakan, antara lain :
1.Pelatihan guide local, yakni sebuah pendidikan pemandu wisata bagi para pemuda-pemudi di sekitar wilayah pembahasan berupa kecakapan tata bahasa pendamping wisatawan, baik bahasa lokal daerah Jawa Timur, bahasa Indonesia maupun bahasa internasional. Sehingga pengelola bisnis traveling bisa bersinergi dengan pengelola guide local yang ada dalam satu atap.
2. Peningkatan home industry, berupa pelatihan terkait potensi lokal yang belum banyak dikembangkan oleh masyarakat sekitar, misalnya cetak sablon pakaian yang berisi kata-kata filosofi para tokoh religi.
3. Makanan khas lokal yang disajikan dalam model lebih menarik, dengan memberikan ruang keikutsertaan para chef (ahli masak) untuk membantu pelatihan penyajian makanan lokal dengan daya tarik model baru.
4. Pelatihan pembuatan miniatur bangunan cagar budaya yang ada dalam wisata religi tersebut. Misalnya berupa gapura makam, masjid atau keunikan lainnya dalam model mini handycraft.
5. Pelatihan pengembangan produk lokal yang ada, seperti kerajinan gerabah yang ada di wilayah Laren-Lamongan. Gerabah bisa diberi unsur seni sehingga masyarakat sekitar bisa diberi pelatihan pengembangan nilai-nilai seni untuk peningkatan nilai jual gerabah.
6. Serta peningkatan dan perluasan ruang informasi publik berkaitan dengan potensi wisata dan kekayaan budaya Pantura Jawa Timur. Peningkatan ruang informasi publik di tempat tempat istirahat dan parkir, juga dapat berfungsi sebagai peningkatan informasi sejarah beserta pengenalan produk lokal.
Cak Nur mengakui bahwa beberapa program diatas adalah hasil diskusi dirinya dengan beberapa teman alumni GMNI Jawa Timur, khususnya yang berlatar belakang pendidikan sejarah.
Namun demikian setiap hasil diskusi dengan tim pemenangannya, Cak Nur selalu mengujinya dengan turun lapang.
Tujuannya untuk lebih memahami realita dan potensinya, sehingga gagasan yang telah didiskusikan dengan tim pemenangannya dapat dirangkum dan dipertanggungjawabkannya sebagai visi misi Cak Nur kedepan. (oni)
Meski aturan dan aksesori tak beda jauh, tetap ada perbedaan karapan sapi Brujul. Foto: Dian K/Liputan6.com.
Kota Probolinggo Jawa Timur mempunyai tradisi dan budaya yang sangat unik, yakni karapan sapi Brujul. Tradisi lokal ini menjadi destinasi wisata budaya andalan Kota Probolinggo, karena perhelatannya selalu dibanjiri penonton.
Karapan sapi brujul adalah tradisi balapan sapi pembajak sawah para petani memasuki masa tanam. Karapan ini berbeda dengan karapan sapi merah di pulau Madura, karena menggunakan sapi pembajak sawah.
Perbedaan lainnya adalah arena balapan menggunakan tanah berlumpur. Sementara, peraturan dan aksesoris lainnya tidak beda dengan karapan sapi Madura.
“Seru karena arena yang dipergunakan dalam karapan sapi brujul menggunakan area persawahan yang berlumpur dan berair sebagai arena balapan. Sementara, karapan sapi Madura dilombakan di tanah lapang yang kering,” tutur Chintya Mahardika, penonton asal Surabaya kepada Detik.com.
Keunikan itu juga menjadi buruan sejumlah fotografer dari berbagai daerah. Mereka datang untuk memburu foto-foto unik, menarik dan eksotis dengan latar sawah berlumpur dan objek sapi pembajak sawah. “Bagi kami itu, memiliki nilai artistik yang sangat unik di dunia fotografi,” kata Mahdi, dari komunitas Prajurit Pecinta Photography (PPP).
Meski sapi-sapi ini hanya pembajak sawah, sapi-sapi itu akan diperlakukan berbeda sebelum karapan digelar. Mereka akan diberi makan ekstra hingga pemberian jamu khusus hewan agar memiliki tenaga optimal.
“Sapi yang mengikuti perlombaan ini dipastikan memiliki kualitas yang cukup baik. Sebelum ikut lomba dilatih dan diberi jamu-jamuan,” ucap Edi Jembrot, salah satu pemilik sapi kerapan brujul.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kota Probolinggo Agus Efendi menuturkan mulanya karapan sapi brujul hanya dilakukan para petani secara sederhana. Yakni, aaat sedang membajak sawah pada waktu memasuki masa tanam.
Namun saat ini, karapan sapi brujul justru banyak dikenal masyarakat, karena telah mengikuti berbagai festival pada event budaya. “Kami rutin menggelar festival karapan sapi brujul, seperti dalam perhelatan event Semipro (Seminggu di Kota Probolinggo, red) tahun ini. Tujuannya untuk melestarikannya tradisi dan budaya petani ini,” tutur Agus. (dtc)
Dinilai melanggar UU Cagar Budaya, kerangka manusia peninggalkan Majapahit dikembalikan ke tempat semula. Foto: Jejakkasus.info.
Dewan Kesenian Jawa Timur bersama Komunitas Seni Budaya Sulud Sukma, akan berkolaborasi menggelar sebuah kegiatan refleksi kebhinekaan dengan tajuk East Java Art Roadshow, pada hari Minggu, tanggal 17 September, pukul 19.00 s/d 22.00.
Acara tersebut akan digelar di Kompleks Candi Simping, Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Candi Simping sendiri merupakan tempat abu jenazah Raden Wijaya, Proklamator Kerajaan Majapahit, disemayamkan.
Menurut Ketua Panitia kegiatan kegiatan ini, Rahmanto Adi, acara ini didedikasikan untuk mengenang proklamator Majapahit, Nararya Sanggramawijaya. Banyak orang tak tahu jika tempat perabuan Raja Pertama Majapahit tersebut ada di Candi Simping. “Padahal sangat jelas tertulis dalam Kitab Negarakertagama bahwa makam Raden Wijaya ada disitu,” ujarnya kepada Timurjawa.com.
Dalam kitab Negarakertagama, yang kini menjadi salah satu warisan budaya yang telah ditetapkan oleh UNESCO dalam Memori Dunia, disebutkan bahwa makam Raden Wijaya ada disitu. Berikut adalah petikan dari Kitab Negarakertagama Pupuh XLVII bagian ketiga :
… tahun Saka Surya mengitari bulan (1231 Saka atau 1309 M), Sang Prabu (Raden Wijaya) mangkat, ditanam di dalam pura Antahpura, begitu nama makam dia, dan di makam Simping ditegakkan arca Siwa…
Jadi sangatlah jelas jika makam atau tempat perabuan Raden Wijaya ada di Candi Simping.
Masih menurut Rahmanto Adi, acara ini adalah respon untuk mengenang produk Budaya Proklamator Majapahit yang ada di Blitar.
“Tanpa beliau tak akan ada konsep Nusantara, tanpa beliau tak akan ada semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Karenanya Pasca kegitan ini kita akan menggelar diskusi budaya rutin di Candi Simping, dengan harapan kita dapat memperkuat basis kebhinekaan yang akhir-akhir ini sering mendapat ujian,” paparnya.
Hadirnya Dewan Kesenian Jawa Timur dalam menyelenggarakan acara ini merupakan bentuk dari program East Java Art Roadshow yang memang difungsikan untuk berkolaborasi dengan komunitas kesenian di 38 kota/kabupaten di Jawa Timur. Sebelum di Blitar, Dewan Kesenian Jawa Timur telah menggelar kegiatan di Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Mojokerto, dan Kabupaten Lumajang.
Nantinya acara ini akan didukung oleh beberapa elemen seperti, Pemerintah Kabupaten Blitar, Graha Bangunan, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tunas Pratama, Kebun Kopi Karanganyar dan masih banyak lagi pendukung acara yang lain.
Menurut Rangga Bisma Aditya, pendukung kegiatan ini, sekaligus Ketua PKBM Tunas Pratama, acara seperti ini merupakan acara penting untuk diselenggarakan. “Selain untuk memperkuat basis sejarah dan kebudayaan bangsa, kegiatan seperti ini dapat menjadi wahana edukasi tersendiri bagi masyarakat akan pentingnya Bhineka Tunggal Ika,” ujarnya.
Adapun acara ini akan menghadirkan pertunjukan musik jimbe khas Blitar, kolaborasi tembang macapat oleh Budayawan Blitar dan para pelajar SD-SMP Kota dan Kabupaten Blitar, Tari Ritual Ngabekti, Doa Budaya, Orasi Budaya Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur Taufik Monyong dan ditutup dengan Penandatanganan Deklarasi Simping oleh Bupati Blitar. (ist)
Prasasti Kusambyan terletak di jalan setapak. Foto: Komunitas Tapak Jejak Kerajaan.
Bagian atas sebuah prasasti batu tampak tidak utuh lagi. Pecah berkeping-keping. Namun pecahan-pecahan besarnya masih bisa dikumpulkan. Hanya bagian-bagian kecil, mungkin sudah hilang. Saat ini pecahan-pecahan tersebut diletakkan di atas bagian yang masih utuh.
Begitulah kondisi sebuah prasasti batu yang terletak di Dusun Grogol, Desa Katemas, Kecamatan Kudu, Jombang. Prasasti Kusambyan, demikian namanya, sempat dikunjungi oleh Komunitas Tapak Jejak Kerajaan dari Sidoarjo. Komunitas ini memang rajin blusukan, termasuk menyelenggarakan Sinau Aksara Jawa Kuno.
Bagian atas prasasti pecah menjadi sembilan bagian karena ulah seseorang. Konon ia mendapat wangsit bahwa di dalam batu prasasti terdapat emas. Untuk mendapatkan emas, maka ia memecahkan prasasti tersebut sedikit demi sedikit. Rupanya yang bersangkutan tidak memakai nalar. Akibatnya peninggalan kuno tersebut rusak parah hingga sekarang. Demi mendapatkan emas, prasasti kuno dirusak.
Mengapa prasasti itu bisa dirusak? Mungkin karena terletak di alam terbuka. Sejak penemuan pertamanya, prasasti ini berada di kebun Bapak Wadiso. Dalam istilah arkeologi, prasasti ini insitu, atau di tempat aslinya. Saat dikunjungi tim komunitas, tampak kondisi prasasti mengkhawatirkan. Karena terletak di alam terbuka, prasasti ini selalu berganti-ganti menerima terpaan panas dan hujan, bahkan angin. Beberapa bagian prasasti tampak sudah berlumut.
Prasasti Kusambyan terpahatkan pada batu andesit. Pada bagian bawah terdapat sebuah lapik berpadma ganda. Prasasti ini beraksara dan berbahasa Kawi atau Jawa Kuno. Aksara-aksara kuno itu terdapat pada keempat sisinya.
Prasasti Kusambyan disebut juga Prasasti Grogol. Menurut Ninie Susanti dalam bukunya Airlangga, Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI (2010), prasasti ini dikeluarkan pada 959 Saka atau 1037 Masehi, berasal dari masa Raja Airlangga.
Soal mengapa diberi nama Kusambyan, ada beberapa patokan dalam arkeologi. Di antaranya berdasarkan nama tempat yang disebutkan dalam prasasti atau nama tempat penemuan prasasti tersebut. Pada prasasti ini disebutkan wilayah bernama Kusambyan (karaman i Kusambyan) yang dijadikan sima (tanah yang dicagarkan) oleh Sri Maharaja. Jadilah nama Kusambyan.
Yang menarik dari isi prasasti ini adalah disebutkannya nama tokoh Rahyang Iwak. Nama tokoh ini disebutkan berulang-ulang pada bagian depan prasasti. Tampaknya Rahyang Iwak merupakan tokoh yang sangat berpengaruh di Kusambyan.
Menurut penelitian Ninie Susanti, Raja Airlangga banyak mengeluarkan prasasti batu. Mungkin hal itu dimaksudkan untuk menegaskan daerah kekuasaan. Prasasti Raja Airlangga tersebar di beberapa tempat. Diperkirakan Desa Kesamben, berasal dari toponimi Kusambyan, merupakan rute perjalanan Raja Airlangga.
Saat ini kemungkinan besar masih banyak prasasti kuno belum ditemukan. Bisa jadi terpendam di dalam tanah atau tertutup hutan belukar. Sebagian, karena ketidaktahuan masyarakat, malah ada yang sudah dihancurkan. Dalam arkeologi prasasti merupakan sumber sejarah kuno bertanggal mutlak. Dengan demikian bisa untuk menanggali temuan-temuan arkeologis lain.
Semoga untuk masa sekarang dan masa kemudian, masyarakat tidak merasa aneh lagi dengan temuan batu-batu besar yang unik. Mungkin itu prasasti atau bahasa awamnya batu tertulis. Nah, laporkanlah pada instansi terdekat, seperti kantor kepolisian, kantor kepala desa, kantor dinas kebudayaan, atau kantor purbakala/arkeologi terdekat. Ini untuk memperkaya penulisan sejarah kejayaan Nusantara. (ist/Djulianto Susantio)
Pengajaran gamelan di Universitas Kingston Inggris. Foto: BBC.com.
Indonesia menggelar “International Gamelan Festival (IGF)” di dua kota di Inggris Raya, yaitu London dan di Glasgow Skotlandia, dengan acara puncak penampilan Setan Jawa film bisu karya Garin Nugroho yang diiringi dengan orkestra gamelan di bawah komposer Prof Rahayu Supanggah berlangsung dari 5- 15 September 2017.
International Gamelan Festival 2017 meliputi kegiatan seminar, workshop, kolaborasi, pemberian penghargaan, pertunjukan Setan Jawa karya Garin Nugroho. Penghargaan khusus oleh Kemdikbud atas nama Bangsa Indonesia, kepada tiga pelopor gamelan Inggris yaitu Alec Roth, Neill Sorrell dan Anne Hunt.
Seperti dilaporkan Lombokita.com, Kasubdit diplomasi budaya luar negeri direktorat warisan dan diplomasi budaya Kemdikbud, Ahmad Mahendra menyebutkan IGF bertujuan untuk melihat eksistensi gamelan dunia, sebagai bagian dari strategi diplomasi budaya Indonesia, dan dalam rangka pemetaan “membawa pulang kembali gamelan” ke Indonesia khususnya gamelan di Inggris.
Dikatakannya, rangkaian kegiatan utama IGF 2017 adalah Workshop tentang bonang, rebab, gender, suling dan lain-lain, dengan narasumber pakar gamelan Prof Rahayu Supanggah, dan Prof Sumarsam, yang diadakan SOAS University of London juga ditampilkan pelatihan tentang Klenengan Provinsi Jawa Tengah, Banyuwangi dan Provinsi Jawa Timur.
Selain itu juga diadakan pementasan dadakan, kelompok gamelan dari Inggris Siswa Sukra pimpinan Peter Smith dan Kelompok Gamelan South Bank pimpinan John Pawson tampil utuh secara grup.
Acara workshop dilanjutkan dengan penampilan Masterclass oleh Prof Rahayu Supanggah serta Workshop gamelan Bali, film, gamelan aliran Isin, dan lain-lain. Serta tabuhan gamelan gaya Bali oleh Lila-Bhawa Lila Chita pimpinan Andy Channing, dan Kelompok Jagat Gamelan pimpinan Manuel Jiminez.
Dikatakannya pembukaan IGF 2017 secara baru akan dilakukan pada Minggu 10 September bertempat di Cadogan Hall London dengan pemberian penghargaan Dirjen Kebudayaan mewakili Kemdikbud kepada tiga pelopor gamelan Inggris: Alec Roth, Neill Sorrell, dan Anne Hunt.
Pada saat yang sama diadakan Pre-Launching IFG 2018 dan pendeklarasian ini penting sebagai sebuah momentum home-coming gamelan ke Indonesia. Semua rangkaian kegiatan ini adalah merupakan persiapan menuju IGF 2018, ujar Ahmad Mahendra Pementasan Setan Jawa Setan Jawa adalah sebuah film bisu karya Garin Nugroho yang diiringi dengan sebuah orkestra gamelan di bawah komposer Prof Rahayu Supanggah. (ist)
Pertarungan Sabet Rotan, Ojung, tradisi warga Tongas, Probolinggo meminta hujan. Foto: M Rofiq/Detik.com.
Musim kemarau yang melanda Kabupaten Probolinggo, khususnya Desa Curahtulis, Tongas, membuat warga sekitar menggelar tradisi tarung ojung. Tradisi tarung ojung kerap dilakukan warga untuk meminta hujan turun.
Tradisi tarung ojung ini digelar di lapangan setempat. Ojung sendiri merupakan pertarungan 2 orang dengan menggunakan 2 batang rotan. Mereka bertarung saling sabet dengan rotan tersebut. Namun kedua petarung tidak terluka, jika terkena sabet, peserta hanya mengalami luka memar saja.
Dalam pertarungan tarung ojung, peserta dituntut beradu keterampilan dan keberanian menyabetkan rotan ke pihak lawan secara bergantian. Peraturan tarung ojung cukup sederhana, yaitu peserta diharuskan membuka baju, dan secara bergantian menyabetkan rotan ke pihak lawan.
Perhitungan sabetan rotan dinilai jika rotan yang disabetkan mengenai punggung lawan, sedangkan jika sabetan berhasil ditangkis, maka sabetan tak dihitung. Jika sabetan rotan peserta telah 3 kali mengenai punggung lawan, maka dialah yang menjadi pemenang.
Saat pertarungan dimulai, iringan suara gendang ketipung membuat gelaran tarung ojung semakin khas mengentalkan budaya adat Jawa Timuran. Sejumlah peserta yang dipertandingan awal menjadi pemenang, akan diadu kembali, sebagai penentu calon juara.
Pertarungan tarung ojung kali ini diikuti sekitar 50 peserta dari berbagai Dusun di Kecamatan Tongas. Sugianto, salah satu peserta ojung mengatakan, sebelum mengikuti ojung ini ia tak memiliki persiapan khusus, dan ia mengikuti ojung ini hanya untuk meramaikan tradisi tarung ojung untuk meminta hujan, karena di Kabupaten Probolinggo, mengalami kekeringan.
“Kalau saya sebagai peserta hanya mengikuti keinginan warga. Dan ini sebuah tradisi warga Probolinggo untuk meminta turunnya hujan, dengan rida dari Allah SWT,” terang Sugianto kepada Detik.com, usai bertarung ojung, Senin (4/9).
Sementara Buradianto, ketua panitia mengatakan hal yang sama, bahwa tradisi ojung ini dimaksudkan untuk meminta hujan dan biasanya setelah tradisi ini dilaksanakan, hujan bakalan turun. Tradisi ini sudah dilakukan oleh nenek moyang hingga saat ini.
“Pertarungan ini dikemas dalam sebuah perlombaan, agar warga semakin semangat untuk menghidupkan tradisi ini. semoga Allah SWT juga mengabulkan permintaan kami,” tambahnya. (dtc)
DARI kanan Mohammad Faisal Hasan Mujaddin, Ikhsan Rosyid, dan Edy Budi Santoso di Museum Sejarah dan Budaya Unair. Foto: Helmy/PIH Unair.
Koleksi Museum Sejarah dan Budaya Universitas Airlangga bertambah. Museum ini mendapatkan sumbangan barang-barang antik sejak peradaban Cina Dinasti Ming, Jing, Sung, maupun Tang. Jumlah ini menambah barang-barang museum yang sebelumya hanya terbatas koleksi-koleksi dari dalam negeri.
Keluarga Aminuddin yang merupakan profesor peneliti dari Museum Nasional RI memberikan sumbangan barang-barang antik itu. Sang anak, Mohammad Faisal Hasan Mujaddin MA, menyerahkan secara simbolis barang-barang pada Senin, (28/8) di Museum Sejarah dan Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Unair.
Kepada Unair News, Faisal mengatakan bahwa koleksi itu berasal dari ribuan tahun yang lalu. “Jumlahnya ada 12, meliputi barang dari berbagai macam dinasti, Ming, Jing, Sung, maupun Tang. Semuanya sangat berharga dan masuk katalog cagar budaya,” ucap koordinator Museum Sejarah dan Budaya Unair Edy Budi Santoso SS MA.
Penambahan koleksi ini dikatakan Edy dapat menambah wawasan kepada mahasiswa maupun generasi muda lainnya. Pun memberi wawasan bahwa kini, warisan budaya bukan saja memiliki nilai historis yang tinggi namun juga memiliki nilai nominal yang tidak sedikit.
Benda-benda antik itu memiliki sejarah kepemilikan yang cukup tinggi. Oleh karenanya, jika dinominalkan setara dengan 750 ribu dolar Singapura. Benda-benda itu bisa saja dijual dengan harga murah. Namun karena memiliki keunikan sejarah yang tinggi, kolektor berlomba-lomba memilikinya.
“Barang-barang ini bisa saja murah. Bisa saja dijual hanya satu juta, tergantung keunikan dan sejarah kepemilikan barangnya,” ujar Faisal yang merupakan alumnus program Master of Art, Lasalle College of The Art, Singapore.
Mengapa kita bisa membeli barang-barang antik dengan harga murah sedangkan di luar negeri bisa dijual dengan harga mahal sekali? Itu karena keunikan dan histori yang memiliki peran sangat penting. Faktor historis itu meliputi kepemilikan serta bagaimana benda tersebut bisa ditemukan.
Di luar negeri, seperti di Amerika dan Hongkong misalnya, ada alat pendeteksi tanah yang dapat digunakan dalam memprakirakan umur semuah barang. Alat itu berfungsi untuk mendeteksi umur tanah. Selanjutnya, dari prakiraan umur yang didapat, dapat dilakukan riset mendalam mengenai sebuah benda bersejarah.
Sayangnya, Indonesia belum memiliki peralatan ini. Sehingga ada juga praktik pemalsuan barang antik yang tiruannya banyak beredar di pasaran. (sak)
Tradisi jamasan pusaka Kyai Pradah di Blitar. Foto: istimewa.
Setelah melalui seleksi ketat dan persidangan, Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) asal Jawa Timur ditetapkan sebagai WBTB Nasional dalam Sidang Penetapan WBTB Indonesia yang berlangsung di Hotel Millenium Sirih, Jakarta, pekan lalu.
Kelima WBTB Jatim tersebut adalah Sandur Manduro (Jombang), Ceprotan (Pacitan), Jamasan Pusaka Kyai Pradah (Blitar), Nyader (Sumenep) dan Damar Kurung (Gresik).
Acara tahunan ini seperti dikutip Brangwetan.wordpress.com diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sejak tahun 2013.
Pada mulanya penetapan WBTB Nasional dilakukan oleh Tim Ahli namun sejak tahun 2014 diberikan kesempatan kepada Dinas Kebudayaan masing-masing provinsi untuk mengajukan usulan, dan setelah lolos seleksi administratif kemudian dilakukan sidang terbuka.
Kali ini sidang terbuka diadakan 21-24 Agustus dan akan dilakukan penyerahan sertifikat WBTB Nasional pada Oktober oleh Mendikbud.
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, dalam sidang penetapan kali ini, masing-masing WBTB tersebut juga dipresentasikan langsung oleh wakil daerah masing-masing, baik dari Dinas Kebudayaan setempat maupun pelakunya langsung.
Sandur Manduro misalnya, langsung diwakili Warito, pimpinan Grup Sandur Gaya Rukun Jombang, didampingi Kabid Kebudayaan Disbudar Jombang. Sandur Manduro adalah sebuah seni pertunjukan berbentuk teater tradisional dimana pemainnya menggunakan topeng dalam dua jenis, yakni kedok (topeng) binatang dan kedok wajah tokoh manusia.
Pewarnaan yang mendominasi kedok Manduro yaitu warna hitam, merah, dan putih yang merupakan pencerminan dari karakter etnis Madura. Pertunjukan ini berisi banyak tarian yaitu Tari Bapang, Klana, Sapen, Punakawan, Gunungsari, Panji, jaranan, burung dan sebagainya.
Ceprotan adalah ritual tahunan masyarakat Desa Sekar Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, pada bulan Dzulqaidah (Longkang), pada hari Senin Kliwon untuk mengenang pendiri desa Sekar yaitu Dewi Sekartaji dan Panji Asmorobangun melalui kegiatan bersih desa.
Upacara ini diyakini dapat menjauhkan desa dari bencana dan memperlancar kegiatan pertanian. Dinamakan Ceprotan lantaran ada adegan saling melempar buah kelapa muda (cengkir) yang sudah lunak yang dilakukan dua kelompok.
Sedangkan Jamasan atau Siraman Kyai Pradah adalah ritual memandikan benda pusaka berupa sebuah gong dengan menggunakan air kembang setaman. Upacara ini dimaksudkan sebagai sarana memohon berkah kepada kekuatan gaib atau roh leluhur yang ada di dalam Kyai Pradah. Masyaraat percaya bahwa air bekas siraman Kyai Pradah dapat membuat awet muda dan dapat menyembuhkan berbagai penyakit.
Sementara Nyader adalah ritual di Sumenep sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan dan menghormati para leluhurnya yang telah mengajarkan cara membuat garam. Masyarakat setempat yang pekerjaan utamanya sebagai petani garam melakukan hal ini di makam keramat yaitu Syekh Anggosuto dan di bekas rumahnya.
Ritual ini dilakukan tiga kali dalam setahun, yaitu bulan Juni menjelang panen garam, bulan Agustus ketika panen masih berlangsung dan bulan September pada masa akhir panen.
Dan yang terakhir, Damar Kurung digolongkan sebagai kemahiran tradisional yang khas Gresik berupa lampion dengan lukisan unik yang berasal dari tradisi Wayang Beber. Kesenian yang nyaris punah ini berhasil dipertahankan oleh perajin terakhir yaitu Mbah Masmundari yang menjelang kepergiannya (2005) mengalami perkembangan luar biasa menjadi seni rupa dua dimensi dan mendapatkan apresiasi masyarakat dan pemerintah daerah Gresik sehingga menjadi ikon Kabupaten Gresik. (hn)
Siswa Sukra sempat grogi saat main dihadapan para dosen ISI Surakarta. Foto: Jawapos.com.
Kombinasi tabuhan kendang, petikan siter, gesekan rebab, dan pukulan gong berpadu. Ditingkahi suara sinden yang melengking lembut. Menghanyutkan para penonton di Pendopo Agung ISI Surakarta pada beberapa waktu lalu. Tidak kurang dari seratus hadirin yang terdiri atas dosen, mahasiswa, dan warga sekitar memberikan aplaus meriah tiap kali satu repertoar selesai.
Padahal, di belakang panggung, para pemain sebenarnya mengaku grogi. ”Soalnya, ini tampil dihadapan para dosen ISI Surakarta, para ahlinya. Takut-takut ada yang salah, hehehe,” kata Peter Smith, pemimpin Siswa Sukra, kelompok yang bermain pada malam itu.
Siswa Sukra seperti dilaporkan Jawapos.com adalah kelompok gamelan asal Inggris. Mereka yang berada di belakang kendang, siter, rebab, bonang, saron, dan gong itu adalah para bule yang berasal dari berbagai negara. Dari berbagai latar belakang.
Malam itu mereka bertransformasi jadi Jawa tulen. Para pemain pria mengenakan kain, beskap dan blangkon. Sedangkan para pemain perempuannya tampil cantik dengan kain dan kebaya jumputan. Tidak ketinggalan sanggul berhias kembang melati. Sang Sinden, Cathy Eastburn, terlihat agak berbeda dengan kebaya brokat berwarna toska.
Sejak 5 Agustus lalu, Siswa Sukra menjalani tur Jawa mereka. Penampilan di Pendopo Agung malam lalu menjadi penampilan penutup tur mereka.
Pada malam itu, mereka juga mengiringi penampilan beberapa tarian. Di antaranya Tari Srimpi Sangupati yang dibawakan Komunitas Langen Mataya. Juga, Tari Gambyong Pareanom yang dibawakan Komunitas Langen Mataya serta Tari Driasmara yang dibawakan pasangan Dona Dhian Ginanjar dan Andreatiningsih.
“Ini pangggung terbesar yang pernah kami jajal. Bayangkan saja, kami sekelompok pemain gamelan amatir pentas di panggung sebesar ini,” tutur Peter dalam bahasa Inggris yang sesekali ditimpali bahasa Jawa.
Sehari-hari, di antara para pemain Suara Sukra, ada yang berprofesi guru SD, ahli hukum, dan ahli marketing hingga ibu rumah tangga dan kuli di gudang bir.
Sebagian di antara mereka berasal dari Kanada dan Amerika Serikat. Tapi, mayoritas anggota kelompok yang bermarkas di Southbank Center London tersebut berasal dari Inggris.
Adalah Peter yang mempersatukan mereka. Melatih mereka dan membawa mereka tur ke kampung halaman gamelan.
Semua berawal sekitar 30 tahun lalu. Kala itu, dia masih berstatus mahasiswa Universitas York. Seorang profesor di tempatnya kuliah mendapat kiriman satu set gamelan.
Peter lalu menawarkan bantuan untuk membuka paket paket tersebut. Saat melihat isinya, dia seolah menemukan harta karun. Satu per satu paket dibukanya. Semakin banyak paket yang sudah terbuka, Peter semakin terpesona.
Kilauan warna emas pada gamelan membuat Peter tersihir. Ukiran kayu mewah nan cantik makin membuat dia tertarik. Ukiran naga yang gagah membuat Peter melayang dalam angannya.
”Ini seperti masuk ke gua naga dimana ema-semas tersimpan. Cantik sekali. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama,” ungkap pria asal Oxford, Inggris itu.
Kekaguman Peter tidak berhenti sampai di situ. Begitu mendengar suaranya, Peter makin tersihir. Menurut dia, suara yang dihasilkan gamelan itu aneh. Tidak familiar di telinganya. Tapi, hal tersebut justru terdengar indah. “Saya seperti dirangkul suara itu. Saya merasakannya masuk ke tubuh saya,” cerita Peter.
“Saat mendengar suaranya, saya seperti berenang di danau pekat yang berisi suara-suara gamelan. Suling, siter, sinden dan yang lain,” tambahnya.
Hal lain yang membuat Peter begitu tertarik pada gamelan adalah cara memainkannya. Peter seorang pianis. Tanpa adanya instrumen musik lain, piano bisa berjalan sendiri. Sementara itu, instrumen gamelan tidak bisa. Gamelan harus dimainkan secara berkelompok.
”Gamelan itu tentang bagaimana kamu berada di dalam sebuah grup. Ini sangat penting,” tegasnya.
Semenjak itu, Peter bertekad mendalami gamelan. Pada 1992, dia mendapat beasiswa Darmasiswa untuk belajar gamelan di ISI Surakarta.
Awalnya dia hanya ingin setahun di Solo. Tapi malah molor hingga tiga tahun lamanya. Selama tinggal di Surakarta, Peter tak hanya belajar gamelan. Dia juga belajar bahasa Jawa. Dari sana pula dia mendapat panggilan Mas Parto.
”Saya hanya berbicara deugan bahasa lnggris dan bahasa Jawa. Tapi tidak bisa bahasa lndonesia, hanya sedikit-sedikit,” ungkap Peter yang sesekali mengeluarkan celetukan dalam bahasa Jawa.
Setelah kembali ke Inggris, Peter memperkenalkan gamelan ke masyarakat di sana. Dia juga mengajar kelas gamelan advance di Soothbank Center. Kelas yang dibuka setiap Kamis malam itulah yang kemudian menjadi Siswa Sukra.
Dari sana pula nama Siswa Sukra berasal. Sukra diambil dari bahasa Jawa yang berarti Jumat. Nakna bebasnya ”malam Jumuah” yang merupakan waktu berlatih mereka.
”Awalnya tidak ada nama. Tapi, kepikiran golek judul rombongan opo, nama yang kami pakai untuk pentas,” ungkap Peter.
Menjalani tur Jawa merupakan tantangan terbesar mereka. Kendati mereka sudah berlatih secara rutin di London, tetap saja ada faktor yang membuat mereka sulit bermain sempurna disini.
Salah satunya adalah faktor cuaca yang membuat mereka cepat kelelahan dan kehilangan konsentrasi. Maklum, temperatur di sini jauh lebih tinggi daripada di Inggris.
Disana, mereka bisa melakukan banyak kegiatan dalam sehari tanpa merasa kelelahan. Tapi, disini sebaliknya. Baru sebentar saja berkegiatan, tubuh rasanya sudah capek.
Sebelum pentas di Pendopo Agung, Siswa Sukra melakukan beberapa kali pertunjukan. Misalnya, di Museum Wayang Jakarta (6/8) dan Festival Kesenian Jogjakarta (9/8).
Para personel Siswa Sukra juga mengikuti beberapa kelas dari dosen di ISI Surakarta. Mereka sempat pula mampir ke Desa Wirun dan Desa Jatitekan di Sukoharjo.
Dua desa tersebut dikenal sebagai pusat pembuatan gamelan. Gamelan dari desa itu juga banyak diekspor ke luar negeri. Salah satunya ke Inggris, negara asal para anggota Siswa Sukra.
”Saya ingin mengajak mereka (para pemain gamelan) menyaksikan sendiri bagaimana gamelan yang mereka mainkan di Inggris dibuat,” ujar Peter.
Disana, Siswa Sukra juga sempat melakukan pertunjukan singkat. Peter menuturkan, dirinya ingin menunjukkan kepada para perajin gamelan bahwa gamelan karya mereka diapresiasi baik di luar negeri.
Siswa Sukra ikut pula meramaikan car free day pada Minggu (20/8) lalu. Penampilan bule pala pemain Siswa Sukra cukup membuat warga yang datang ke CFD penasaran. Tidak sedikit juga yang meminta foto bersama Siswa Sukra. ”Penontone okeh banget,” ujar Peter.
Selain penampilan fisiknya yang tidak seperti orang Jawa, cara bermain Siswa Sukra agak berbeda dari kelompok gamelan pada umumnya. Setiap selesai memainkan repertoar, mereka sibuk berpindah posisi.
Dari satu instrumen ke instrumen lain. Menurut Peter, hal tersebut memang jadi kekhasan kelompok yang dipimpinnya.
Sebenarnya, kekhasan itu bukan sesuatu yang disengaja_ Di Siswa Sukra, dan kebanyakan kelompok gamelan di Inggris, setiap orang punya keinginan untuk bisa memainkan beragam instrumen. Mereka tidak puas hanya dengan bisa memainkan satu instrumen.
“Aku durung ngerti iki, aku pindah nang iki. Itulah orang Inggris. Kami ingin mempelajari setiap instrumen,” ungkap Peter.
Namun, hal tersebut jadi agak susah dilakukan saat mereka melakoni pentas di Jawa. Terutama saat mereka tampil dengan menggunakan busana Jawa lengkap seperti pada pentas malam itu.
”Angel nganggo kejawen (baju adat Jawa, Red) pindah-pindah,” tutur Peter lalu tertawa.
Dia menyatakan, yang dilakukan kelompoknya tesebut memang tidak lazim di Indonesia. Di sini, satu pemain biasanya akan terus memainkan instrumen yang sama. Karena itu juga, hampir di setiap pentas yang mereka lakukan, selalu ada yang mengomentari hal tersebut.
”Ini apa pindah-pindah? Yang seperti ini yang memang tidak ada di Jawa,” tutur Peter.
Meski demikian, tur Jawa tetap sangat berkesan bagi Siswa Sukra. Selain ilmu baru tentang gamelan dan pengalaman pentas, mereka jadi punya kesempatan mencicipi beragam kuliner Nusantara meski sebenarnya kurang cocok di lidah.
“Bagi orang Inggris, (masakan) pedas itu sulit, begitu juga dengan masakan manis. Padahal, di Solo ini eneke pedes karo legi thok, hehehe,” cerita Peter. (jpg)
Aneka jenang alias bubur pada Festival Jenang Solo 2017. Foto: Soloevent.id.
Bubur ternyata tidak hanya sebuah kuliner biasa. Dalam masyarakat Jawa, bubur yang juga disebut jenang merupakan makanan yang memiliki banyak doa dan pengharapan mulia.
“Bubur terbagi jadi dua jenis, untuk konsumsi sehari-hari dan untuk keperluan ritual adat,” ujar Murdijati Gardjito (75), Guru Besar dan peneliti pangan di UGM saat dihubungi KompasTravel, beberapa waktu lalu.
Dalam kebudayaan masyarakat Jawa yang tersebar dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur, bubur atau yang juga disebut jenang untuk keperluan ritual budaya terdapat tujuh macam.
“Karena bahasa Jawa tujuh itu pitu, buat orang Jawa singkatan dari pitulungan, minta permohonan kepada Tuhan, minta pertolongan kepada Tuhan agar hajatnya dikabulkan,” kata Gardjito.
Ketujuh bubur beserta tradisinya tersebut terdiri dari dua corak yaitu bubur merah dan bubur putih, yang mengalami perpaduan. Ketujuh bubur ini adalah:
Bubur putih
Bubur ini hanya memakai garam, santan, dan daun salam. Disajikan kepada masyarakat seusai berkegiatan bersama. Sensasi wangi utamanya dari daun salam dan rasa gurihnya dari santan.
Bubur merah
Bubur merah di sini merupakan bubur yang diberi gula palma, yaitu gula yang terbuat dari tanaman palma seperti kelapa, siwalat, atau yang populer dari aren. Manis dan wanginya aren tentu akan menggoda siapa pun yang menyantapnya.
Jenang slewah dan pliringan
Keduanya merupakan campuran bubur merah dan putih sebelumnya. Bubur slewah sebagian sisinya puth, sebagian lagi merah. Sedangkan bubur pliringan menempatkan bubur putih di tengah bubur merah.
Filosofi dari keduanya ialah sebagai keseimbangan, ada siang ada malam, kadang senang kadang sudah, ada siang ada malam.
“Bubur putih itu simbol dari kekuatan atau simbol dari ayah. Merah simbol ibu atau darah saat melahirkan. Jadi itu mengingatkan kita akan kelahiran ke dunia, dikehandaki oleh Tuhan, melawati kedua orangtua,” kata Murdijati.
Jenang palang
Lalu ada yang bubur yang membentuk palang putih di antara bubur merah, seperti lambang Palang Merah Indonesia (PMI).
“Ini melambangkan hidup itu penuh dengan masalah, jadi supaya disadari, masalah itu untuk diselesaikan bukan untuk dihindari,” kata Guru Besar yang masih aktif menerbitkan buku-buku khasanah kuliner Indonesia ini.
Jenang baro-baro
Jenang atau bubur ini merupakan bubur merah yang di atasnya diberi parutan kelapa dan diberi sisiran atau parutan gula palma yang berwarna kemerahan.
Jenang manggul
Bubur ini berwujud putih, ditaburi kacang-kacangan seperti kedelai hitam goreng, kacang tanah goreng, lalu irisan telur, abon, dan sambal goreng tempe. Bubur ini bisa ditemukan setiap menjelang satu Muharam penanggalan hijriyah.
Mengandung filosofi yang dalam yaitu dari kata “manggul” yang berarti memanggul beban. Mengingatkan kepada anak dalam satu keluarga agar selalu memanggul atau menjunjung tinggi kehormatan orangtua.
“Makanya membawa panggul/manggul itu membawa tapi di atas panggul. Jadi setiap tahun itu ada peringatan, anak itu harus mikul nduwur mendem jero. Artinya menjunjung tinggi dan menjaga keamanan serta kehormatan keluarganya,” kata Murdijati.
Bubur sumsum
Terakhir yang paling populer ialah bubur sumsum yang biasa dikonsumsi sehari-hari. Ternyata bubur ini fungsinya mengembalikan stamina setelah lelah menyelenggarakan hajat atau perayaan adat, seperti pernikahan.
Bubur yang mengandung karbohidrat dan cairan kinca atau gula palma cair itu dibagikan pada semua yang membantu terselenggaranya acara. Sebagai rasa syukur, ucapan terima kasih dan pemulihan tenaga.
Bubur ini juga memiliki nama lain bubur lemu di Solo, sementara nama bubur sumsum lebih terkenal di Yogyakarta dan daerah lainnya. (ist)